Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

46296936 kimia-farma

8,882 views

Published on

HVH

Published in: Sports, Business
  • Be the first to comment

46296936 kimia-farma

  1. 1. eTiKa ProFeSi - PT.kimia Farma KASUS PT. KIMIA FARMALatar BelakangPT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Padaaudit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersihsebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa(HTM).Akan tetapi, Kementrian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalubesar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukankesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yangdisajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau24,7% dari laba awal yang dilaporkan.Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstatedpenjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaanbarang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstatedpersediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.PermasalahanKesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalamdaftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksinya,menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasarpenilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001.Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannyapencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yangtidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi.Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporankeuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagalmendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantumanajemen melakukan kecurangan tersebut.Sebagai akibat dari kejadiannya, ini maka PT Kimia Farma dikenakan denda sebesar Rp 500juta, direksi lama PT Kimia Farma terkena denda Rp 1 miliar, serta partner HTM yangmengaudit Kimia Farma didenda sebesar 100 juta rupiah. Kesalahan yang dilakukan olehpartner HTM tersebut adalah bahwa ia tidak berhasil mengatasi risiko audit dalammendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan PT Kimia Farma, walaupun iatelah menjalankan audit sesuai SPAP.Daftar PustakaBapepam, Kasus PT Kimia Farma Tbk, Siaran Pers Bapepam, 27 Desember 2002Bapepam, Peraturan No VIII.A.2 tentang Independensi Akuntan Yang Memberikan jasaAudit di Pasar ModalImam Sjahputra Tunggal dan Amin Widjaja Tungga, Memahami Sarbanes-Oxley Act (SOX)2002, Harvarindo, 2005
  2. 2. KMK NO 423/kmk.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik Tempo Interaktif, Kimia Farma Lakukan Kesalahan Pencatatan Laporan Keuangan, 3 Oktober 2002 Tempo Interaktif, Hasil Audit Kimia Farma akan Selesai Akhir September, 19 September 2002 Tempo Interaktif, Bapepam Larang Peran Ganda Akuntan Publik, 4 November 2002 You might also like:y eTiKa pRoFEsi - PT. ANEKA TAMBANGy Etika pRofesi ± di PAPUAy etika pRofesi - Kasus BLBIy Penyimpangan profesi akuntansi-profesi bisnis kasus pelanggaran audit oleh PT kimia farma 0047jurnal Tbk 7 PT Fortune Mate Indonesia Tbk 8 PT Kimia Farma laporan keuangan menunjukkan adanya pelanggaran standar audit yang dilakukan oleh Auditor Independen (Suatu Studi Kasus atas akuntansi keuangan Pemeriksaan Akuntansi (Auditing) Perpajakan Efisiensi Alokasi Dana (Studi Kasus Pada PT. Kimia Farma keputusan Pemberian Kredit (Studi Kasus Pemberian Kredit Oleh Bank X Kepada PT agung praptapa » blog archive » ppak 2008 case of ethics oleh PT.Kimia Farma tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit kasus pelanggaran terhadap standar akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan rekanan Andersen, yang lolos audit siaran pers badan pengawas pasar modal beberapa kasus pelanggaran KASUS PT KIMIA FARMA Tbk 1. Kasus ini atas resiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma korantempo lt;bgt;kesalahan pencatatan laporan kimia farma 2001 keuangan PT Kimia Farma Tapi dalam kasus Kimia Farma melakukan audit sesuai dengan standar profesional akuntan publik. "Kami juga telah melaporkan kesalahan itu kepada Kimia Farma powered by google Hal ini dapat disebabkan karena kekurangcermatan serta kurangnya kompetensi auditor dalam mengaudit laporan keuangan kliennya. Contoh kasus nyata yang terjadi adalah seperti yang terjadi pada PT KIMIA FARMA pada tahun 2002. milik pemerintah di Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma
  3. 3. melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan ters ebut di audit oleh HansTuanakotta & Mu`stofa (HTM). Akan tetapi, Kementrian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalubesar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporankeuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yangcukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan.Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualansebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliardan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar. Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalamdaftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksnya, imenerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari 2002.Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaianpersediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannyapencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unitunit yang tidak -disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Jadi, pada kasus ini, manajemen PT. KIMIA FARMA terbukti menyalahi etika dalam pelaporankeuangannya karena telah melakukan fraud, sedangkan auditornya (HTM) kurang profesional karenatidak sanggup mendeteksi adanya fraud yang dilakukan kliennya sehingga tidak berhasil mengatasirisiko audit dalam mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan PT KIMIA FARMA,walaupun ia telah menjalankan audit sesuai SPAP dan tidak terlibat dalam fraud tersebut. Olehkarena itu, PT KIMIA FARMA didenda besar Rp 500 juta, direksi lama PT KIMIA FARMA terkena dendaRp 1 miliar, serta HTM yang selaku auditor didenda sebesar 100 juta rupiah yang otomatis juga akanmenurunkan kredibilitasnya sebagai akuntan publik atau auditor yang profesional.Diposkan oleh DwiMaulidDiana blog di 01.40Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz0 komentar:Poskan KomentarSkandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia Farma Tbk.Oleh davidparsaoranPermasalahan
  4. 4. PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Padaaudit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersihsebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa(HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebutterlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telahditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntunganyang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau24,7% dari laba awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Bakuyaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentralberupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang BesarFarmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesarRp 10,7 miliar.Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalamdaftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksinya,menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasarpenilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Sedangkankesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya pencatatanganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidakdisampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikanBapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telahmengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selainitu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut.Selanjutnya diikuti dengan pemberitaan di harian Kontan yang menyatakan bahwaKementerian BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik Pemerintah diPT KAEF setelah melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan (overstated) dalamlaporan keuangan pada semester I tahun 2002. Dimana tindakan ini terbukti melanggarPeraturan Bapepam No.VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan poin 2 ±Khusus huruf m ± Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar poin 3) KesalahanMendasar, sebagai berikut:³Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahandalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan ataukelalaian.Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar harusdiperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian kembali (restatement) untukperiode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelumperiode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualiandilakukan apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masatransisi penerapan standar akuntansi keuangan baru´.Sanksi dan DendaSehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang Nomor8 tahun 1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 joPasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di
  5. 5. Bidang Pasar Modal maka PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakan sanksi administratifberupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka: 1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 ʹ Juni 2002 diwajibkan membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan atas laporan keuangan per 31 Desember 2001. 2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor PT Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM tetap diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan Persyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 ʹ Tanggung Jawab & Fungsi Auditor Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai auditor independen.Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk.Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan pemeriksaan atau penyidikan baik atasmanajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap akuntan publik HansTuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans Tuanakotta dan Mustofa) harusbertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang mengaudit Kimia Farma tahun buku31 Desember 2001 dan dengan yang interim 30 Juni tahun 2002.Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan pencatatan ataslaporan keuangan. Tapi setelah audit interim 2002 akuntan publik Hans Tuanakotta Mustofa(HTM) menemukan kesalahan pencatatan alas laporan keuangan. Sehingga Bapepam sebagailembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan Direktorat Akuntansi dan Jasa PenilaiDirektorat Jenderal Lembaga Keuangan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasipara akuntan publik untuk mencari bukti-bukti atas keterlibatan akuntan publik dalamkesalahan pencatatan laporan keuangan pada PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku 2001.Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen karena merekaadalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya ketidakwajaran dalampencatatan laporan keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995 disebutkan apabila di temukanadanya kesalahan, selambat-lambamya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus sudahmelaporkannya ke Bapepam. Dan apabila temuannya tersebut tidak dilaporkan maka auditortersebut dapat dikenai pidana, karena ada ketentuan yang mengatur bahwa setiap profesiakuntan itu wajib melaporkan temuan kalau ada emiten yang melakukan pelanggaranperaturan pasar modal. Sehingga perlu dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT.Kimia Farma Tbk. dikarenakan adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapikebanyakan auditor mengatakan bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan standarprofesional akuntan publik. Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam
  6. 6. manipulasi laporan keuangan, karena sebagai auditor independen akuntan publik HansTuanakotta & Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya ituapakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.Keterkaitan Manajemen Terhadap Skandal PT Kimia Farma TbkMantan direksi PT Kimia Farma Tbk. Telah terbukti melakukan pelanggaran dalam kasusdugaan penggelembungan (mark up) laba bersih di laporan keuangan perusahaan miliknegara untuk tahun buku 2001. Kantor Menteri BUMN meminta agar kantor akuntan itumenyatakan kembali (restated) hasil sesungguhnya dari laporan keuangan Kimia Farmatahun buku 2001. Sementara itu, direksi lama yang terlibat akan dimintapertanggungjawabannya. Seperti diketahui, perusahaan farmasi terbesar di Indonesia itu telahmencatatkan laba bersih 2001 sebesar Rp 132,3 miliar. Namun kemudian Badan PengawasPasar Modal (Bapepam) menilai, pencatatan tersebut mengandung unsur rekayasa dan telahterjadi penggelembungan. Terbukti setelah dilakukan audit ulang, laba bersih 2001seharusnya hanya sekitar Rp 100 miliar. Sehingga diperlukan lagi audit ulang laporankeuangan per 31 Desember 2001 dan laporan keuangan per 30 Juni 2002 yang nantinya akandipublikasikan kepada publik.Setelah hasil audit selesai dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakotta &Mustafa, akan segera dilaporkan ke Bapepam. Dan Kimia Farma juga siap melakukan revisidan menyajikan kembali laporan keuangan 2001, jika nanti ternyata ditemukan kesalahandalam pencatatan. Untuk itu, perlu dilaksanakan rapat umum pemegang saham luar biasasebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada publik. Meskipun nantinya lababersih Kimia Farma hanya tercantum sebesar Rp 100 miliar, investor akan tetap menilaibagus laporan keuangan. Dalam persoalan Kimia Farma, sudah jelas yang bertanggung jawabatas terjadinya kesalahan pencatatan laporan keuangan yang menyebabkan laba terlihat di-mark up ini, merupakan kesalahan manajemen lama.Kesalahan Pencatatan Laporan Keuangan Kimia Farma Tahun 2001Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai kesalahan pencatatan dalam laporankeuangan PT Kimia Farma Tbk. tahun buku 2001 dapat dikategorikan sebagai tindak pidanadi pasar modal. Kesalahan pencatatan itu terkait dengan adanya rekayasa keuangan danmenimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Bukti-bukti tersebut antara lain adalah kesalahan pencatatan apakah dilakukan secara tidak sengajaatau memang sengaja diniatkan. Tapi bagaimana pun, pelanggarannya tetap ada karenalaporan keuangan itu telah dipakai investor untuk bertransaksi. Seperti diketahui, perusahaanfarmasi itu sempat melansir laba bersih sebesar Rp 132 miliar dalam laporan keuangan tahunbuku 2001. Namun, kementerian Badan Usaha Milik Negara selaku pemegang sahammayoritas mengetahui adanya ketidakberesan laporan keuangan tersebut. Sehingga memintaakuntan publik Kimia Farma, yaitu Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) menyajikan kembali(restated) laporan keuangan Kimia Farma 2001. HTM sendiri telah mengoreksi laba bersihKimia Farma tahun buku 2001 menjadi Rp 99 milliar. Koreksi ini dalam bentuk penyajiankembali laporan keuangan itu telah disepakati para pemegang saham Kimia Farma dalamrapat umum pemegang saham luar biasa. Dalam rapat tersebut, akhirnya pemegang sahamKimia Farma secara aklamasi menyetujui tidak memakai lagi jasa HTM sebagai akuntanpublik.Dampak Terhadap Profesi Akuntan
  7. 7. Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen tidak terlepasdari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan informasi yangmenyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi yang fair. Akuntan sudahmelanggar etika profesinya. Kejadian manipulasi pencatatan laporan keuangan yangmenyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair membuatpemerintah campur tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur profesi akuntandengan maksud mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar etika oleh paraakuntan publik.PEMBAHASANKeterkaitan Manajemen Risiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh KAP HTMselaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien (PT Kimia Farma Tbk.)dan pemberian opini atas laporan keuangan klien.Dalam kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stakeholder mana ditinjaudari segi kepentingan stakeholder adalah:1. Klien atau PT Kimia Farma Tbk.2. Pemegang saham3. Masyarakat luasDalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan dihentikannya jasaaudit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM semata yang tidak mampumelakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan keuangan, tetapi lebih karenakesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi manipulasi denganpenggelembungan nilai persediaan.Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah risiko inheren dari dijalankannya suatu tugasaudit. Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar akan adarisiko manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP HTM adalahKAP yang telah berdiri cukup lama. Risiko ini berdampak pada reputasi HTM dimatapemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi konsekuensi risikoseperti hilangnya kepercayaan publik dan pemerintah akan kemampuan HTM, penurunanpendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah kemungkinan di tutupnya KantorAkuntan Publik tersebut.Diluar risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada kemungkinandilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam manipulasi laporankeuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat dalam kasus manipulasitersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.Sesuai dengan teori yang telah di paparkan diatas, manajemen risiko yang dapat diterapkanoleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi dan menilai risiko etika, sertamenerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stakeholder.1. Mengidentifikasi dan menilai risiko etika
  8. 8. Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, pengidentifikasian dan penilaian risikoetika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:A.) Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder HTMHTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder yangberkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui siapa saja para stakeholder danapa kepentingannya serta harapan mereka, maka KAP HTM dapat melakukan penilaiandalam pemenuhan harapan stakeholder melalui pembekalan kepada para auditor senior danjunior sebelum melakukan audit pada Kimia Farma.B) Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder, danmenilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam menjalankan tugas audit.C) Mengutamakan reputasi KAP HTMYaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran, kredibilitas,reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangka kerja dalammelakukan perbandingan.Tiga tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan pimpinan KAP HTM dapatmengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untukmenghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambilkeuntungan dari kesempatan tersebut.2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis denganstakeholderKAP HTM dapat melakukan pengelompokan stakeholder dan meratingnya dari segikepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stakeholder yangdapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi harapan parastakeholder HTM.Tulisan ini dikirim pada pada November 4, 2009 10:00 am dan di isikan dibawah Uncategorized. Anda dapatmeneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dariwebsite anda.

×