UAS MATA KULIAH : PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN
1. Bagaimana guru itu dididik / dilatih agar menjadi guru profesional dan...
1. Guru dididik/dilatih agar menjadi profesional melalui tahapan-tahapan : perencanaan,
pengorganisasian, pengerakan, peng...
b. Kompetensi Personal, adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif, dan berwibawa, menjadi teladan bag...
Seorang guru yang benar-benar mengabdi, maka akan diperlakukan baik oleh
masyarakat, seperti kewajiban kita untuk berniat ...
Dengan adanya kebijakan tersebut maka pengelolaan pendidikan dilakukan secara otonom
yaitu dengan model manajemen berbasis...
4. Perilaku Pemimpin :
a.

Tipe – tipe kepemimpinan :
1.

2.

3.

4.

Model Otokratis, disini seorang kepala sekolah menen...
Sidiq/Jujur
Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana
dengan fakta. Di antarany...
Amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah adalah
pemimpin yang bertangggung jawab. Dalam perspektif...
c. Konsepsi Kepemimpinan Transformasional :
Dari beberapa pengertian, kepemimpinan transformasional merupakan gaya
kepemim...
seperti kemerdekaan, keadilan, dan bukan didasarkan atas emosi kemanusiaan,
keserakahan, kecemburuan, atau kebencian.
Ting...
d. Kearifan Lokal dalam Kepemimpinan :
1. Sifat Kepemimpinan Budaya Sunda
Seorang pemimpin Sunda harus memiliki etos/ wata...
3. Sifat Kepemimpinan Budaya Jawa
Konsep Kepemimpinan Jawa hasthabrata muncul dalam cerita pewayangan
Jawa dengan lakon 'I...
h. Brata yang kedelapan adalah SAMODRA, yang berarti lautan atau
samudra. Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan da...
4. Sifat Kepemimpinan Budaya Aceh
Suku aceh adalah salah satu yang memperkenakan criteria untuk
kepemimpinan . Menurut suk...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Uas mata kuliah perbandingan pendidikan share okt 2013

1,311 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,311
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Uas mata kuliah perbandingan pendidikan share okt 2013

  1. 1. UAS MATA KULIAH : PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN 1. Bagaimana guru itu dididik / dilatih agar menjadi guru profesional dan guru seperti apa yang disebut guru profesional ? Berikan penjelasan dan berikan contohnya. 2. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap profesi guru. Persepsi orang tua terhadap guru dan bagaimana persepsi siswa terhadap guru? Berikan penjelasan dan berikan contohnya. 3. Anda memahami manajemen berbasis sekolah, bagaimana MBS dibangun agar benarbenar menjadi sekolah yang mandiri? Bagaimana penjelasan Saudara? 4. Bagaimana sebaiknya perilaku seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya dengan memperhatikan : a. Tipe-tipe kepemimpinan, beri penjelasan. b. Bagaimana kepemimpinan cara Islam, jelaskan. c. Bagaimana kearifan lokal dalam kepemimpinan, jelaskan. d. Bagaimana seharusnya bagi seorang pemimpin dalam mengatasi stress. 1
  2. 2. 1. Guru dididik/dilatih agar menjadi profesional melalui tahapan-tahapan : perencanaan, pengorganisasian, pengerakan, pengawasan dan evaluasi guru yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga tercapai profesionalisme guru . Bagaimana guru dididik / dilatih menjadi profesional adalah melalui Penilaian Kinerja Berkelanjutan (PKB). Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru. Dengan demikian, guru dapat memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan dan keterampilannya untuk melaksanakan proses pembelajaran secara profesional. Pembelajaran yang berkualitas diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik. Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai perwujudan hasil penilaian kinerja guru dan didukung dengan hasil evaluasi diri. Apabila hasil penilaian kinerja guru masih berada di bawah standar kompetensi yang dipersyaratkan dalam penilaian kinerja guru, maka guru diwajibkan untuk mengikuti program pengembangan keprofesian berkelanjutan yang diorientasikan sebagai pembinaan dalam pencapaian standar kompetensi guru. Sementara itu, guru yang hasil penilaian kinerjanya telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan dalam penilaian kinerja guru, kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan diarahkan kepada pengembangan kompetensi untuk memenuhi layanan pembelajaran berkualitas dan peningkatan karir guru. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku; Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk memfasilitasi proses pembelajaran peserta didik; Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional; Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru; Meningkatkan citra, harkat, da martabat profesi guru di masyarakat; Menunjang pengembangan karir guru. Guru Profesional adalah guru yang memiliki standar kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam Peratran Menteri Nomor 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru : a. Kompetensi Paedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. (Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir a). Artinya guru harus mampu mengelola kegiatan pembelajaran, mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Guru harus menguasi manajemen kurikulum, mulai dari merencanakan perangkat kurikulum, melaksanakan kurikulum, dan mengevaluasi kurikulum, serta memiliki pemahaman tentang psikologi pendidikan, terutama terhadap kebutuhan dan perkembangan peserta didik agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan berhasil guna. 2
  3. 3. b. Kompetensi Personal, adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir b). Artinya guru memiliki sikap kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Dengan kata lain, guru harus memiliki kepribadian yang patut diteladani, sehingga mampu melaksanakan tri-pusat yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. (di depan guru member teladan/contoh, di tengah memberikan karsa, dan di belakang memberikan dorongan/motivasi). c. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir c). Artinya guru harus memiliki pengetahuan yang luas berkenaan dengan bidang studi atau subjek matter yang akan diajarkan serta penguasaan didaktik metodik dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoretis, mampu memilih model, strategi, dan metode yang tepat serta mampu menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang kurikulum, dan landasan kependidikan. d. Kompetensi Sosial, adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir d). Artinya ia menunjukkan kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama teman guru, dengan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas. 2.Persepsi Masyarakat , orang tua dan siswa terhadap profesi guru ; Persepsi Masyarakat : Pandangan setiap masyarakat terhadapat sosok seorang guru, akan berbedabeda tergantung, dari mana kita mengambil sudut, dan latar belakang kita sendiri, yang dipaparkan diatas merupakan pandangan masyarakat modern, dimana memandang guru memiliki multifungsi untuk mengembangkan kecerdasan anak mereka, sehingga dalam masyarakat modern ini, banyak orang tua yang lupa akan pentingnya, pendidikan anak dalam keluarga, namun karena kesibukan mereka, mereka akan sepenuhnya memberikan kepercayaan terhadap bimbingan seorang guru dan pendidikan mereka di sekolah. Penghormatan kepada seorang guru akan berbeda, ketika kita berada di suatu tempat tertentu, dan di suatu tempat lainnya, ada kelompok yang benar-benar menghormati profesi ini, ada pula yang bahkan menghinakan nya, hal ini terjadi karena prilaku guru itu sendiri. Tentu dimana ada akibat pasti ada sebab kenapa mereka melakukan hal itu, tidak mungkin kan seorang murid mengaacuhkan seorang guru yang baik hati dan pengertian terhadap muridnya, adanya timbal balik. 3
  4. 4. Seorang guru yang benar-benar mengabdi, maka akan diperlakukan baik oleh masyarakat, seperti kewajiban kita untuk berniat sebelum berbuat, karena itu akan menjadi dasar perjalanan kita dan mempengaruhi setiap celah kesempatan. Coba kita renungkan, apa kah ada seorang guru yang benar-benar ikhlas mengabdi mendapat perlakuan jelek muridnya dan cemoohan masyarakat sekitar? Tentu tidak kan?! Bahkan sebalinya, mereka akan dikagumi dan dihormati oleh masyarakat, dan pandangan masyarakat terhadap guru yang seperti ini pun akan baik dan lebihnya lagi mendapat kepercayaan lebih dari masyarakat serta menjadi teladan untuk orangorang disekitarnya Persepsi orang tua siswa : Di negara kita, guru sangat dihormati oleh masyarakat karena dapat mengajar dan mendidik generasi penerus. Pada hakekatnya, seorang guru sangat dipercaya oleh orang tua peserta didik untuk memikul sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Dalam pandangan masyarakat umum, guru adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat tempat tertentu, baik pada lembaga pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Persepsi siswa : Guru ideal adalah merupakan sosok seorang guru yang senantiasa menjadi dambaan para peserta didik, selalu memberikan keteladanan dan menjadi panutan. Guru ideal ialah yang menguasai ilmu – ilmunya dengan baik sehingga mampu dalam mengelola pembelajaran yang bermakna. Dia disukai oleh anak didiknya karena dalam cara mengajarnya pun mudah dipahami dan menarik. Dia juga terbuka untuk menerima kritikan dari anak didiknya, karena dari kritikan itulah dia belajar dari para peserta didiknya. Dari mereka seorang guru bisa mengetahui kekurangan dalam cara mengajarnya, dan feedback (melakukan umpan balik). 3.Membangun Manajemen Berbasis Sekolah agar menjadi sekolah yang mandiri . Lahirnya UU. No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, serta UU. No. 25 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah yang membawa konsekuensi terhadap bidangbidang kewenangan daerah sehingga lebih otonom termasuk dalam bidang pendidikan. Sehingga penyelenggaraan yang bersifat terpusat atau sentralis berganti ke arah desentralisasi. Pengelolaan pendidikan yang diarahkan pada desentralisasi menuntut partisipasi masyarakat secara aktif untuk merealisasikan otonomi daerah. Karena itu memerlukan kesiapan sekolah sebagai ujung tombak operasional pendidikan pada level bawah. Pendidikan yang selama ini dikelola terpusat (sentral) harus diubah sesuai dengan perkembangan sistem yang ada yaitu sistem desentraliasi. Otonomi daerah sebagai kebijakan politik makro akan memberi imbas terhadap otonomi sekolah sebagai sub sistem pendidikan. 4
  5. 5. Dengan adanya kebijakan tersebut maka pengelolaan pendidikan dilakukan secara otonom yaitu dengan model manajemen berbasis sekolah atau school based management. Manajemen berbasis sekolah sendiri merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintah. Untuk menjadikan sekolah agar mandiri, diperlukan : a. Memantapkan komitmen dan meningkatkan kinerja kepala sekolah dan segenap jajaran pimpinan sekolah (Wakil Kepala Sekolah dan Wali Kelas). b. Meningkatkan dan memantapkan visi bersama dalam rangka memajukan sekolah. c. Membangun kolegialitas di antara para guru dan pembina peserta didik dalam berbagai aktivitas kurikuler, kokurikuler dan ekstra kurikuler. d. Menetapkan ekspektasi tinggi bagi peserta didik dengan tetap memperhatikan potensi dan kondisinya. e. Meningkatkan kualitas dan kompetensi Sumber Daya Manusia secara terus menerus sehingga dapat menjamin profesionalisme kinerjanya. f. Menetapkan dan mengembangkan program pengajaran pengayaan dan remedial secara dinamis dan kontekstual. g. Menciptakan lingkungan sosial dan fisik yang kondusif bagi terselenggaranya aktivitas pendidikan baik di kelas maupun di lingkungan sekolah. h. Mendorong keterlibatan yang lebih fungsional dari komite sekolah dan orangtua untuk mendukung terselenggaranya program menuju Sekolah Kategori Mandiri. i. Membangun kultur sekolah yang lebih sehat bagi terselenggaranya proses pendidikan yang bermutu j. Membangun jaringan dengan berbagai stakeholders dan pihak lain yang terkait dengan upaya Sekolah Kategori Mandiri. k. Mengupayakan dana pendidikan yang mencukupi dari berbagai sumber yang halal dan tak mengikat dengan menggunakannya secara efisien, transfaran dan akuntabel. l. Mengadakan, memelihara, dan meanfaatkan fasilitas pendidikan yang memenuhi standar nasional, sehingga dapat mendukung proses pendidikan secara optimal. m. Mendorong semua guru dan siswa untuk menghasilkan karya-karya inovatif. n. Melakukan pendalian mutu secara internaldan eksternal, sehingga dapat memberikan jaminan akuntabilitas bagi publik. o. Membangun image Sekolah secara sehat yang dilandasi dengan kesadaran kolektif. 5
  6. 6. 4. Perilaku Pemimpin : a. Tipe – tipe kepemimpinan : 1. 2. 3. 4. Model Otokratis, disini seorang kepala sekolah menentukan sendirikebijakan sekolah dan menugaskannya kepda staf tanpa berkonsultasi dengan mereka, kepala sekolah mengarahkan secara rinci dan harus dilaksanakan tanpa pertanyaan. Dengan model kepemimpinan ini seorang kepala sekolah biasanya selalu percaya diri, tahu persis apa yang harus dilakukan dan memiliki sumber pengaruh yang cukup untuk menggerakkan orang-orangnya. Namun model ini biasanya selalu mengekang staf baik tata laksana maupun dewan guru. Model Permisif, kepala sekolah beranggapan bahwa semua orang pada prinsipnya terlahir bertanggungjawab dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kewajibannya. Kepala sekolah membiarkan stafnya untuk melakukan pekerjaannya sendiri tapi jika digunakan tanpa aturan akan timbul ketidak seimbanagan yang tidak kondusif di sekolah tersebut. Sisi baiknya setiap staf dipacu untuk berinisiatif dan berkarya sendiri tanpa campur tangan kepala sekolah. Namun hal ini tidak semua benar dan hanya berlaku bagi guru yang berpengalaman dan profesional. Model Partisipatif, kepala sekolah selalu melibatkan stafnya dalam memutuskan suatu perencanaan, semua keputusan telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bahkan siswapun diajak turut serta. Kebaikan dari sifat ini, jika terjadi kegagalan bukan sepenuhnya ditanggung pimpinan, naumun ditanggung bersama, namun sistem ini agak lama dan tidak cepat. Bahkan dalam satu masalah bisa saja tidak dapat dioputuskan. Model Situasional, seorang kepala sekolah dalam model ini, harus melihat situasi dan kondisi waktu sebuah keputusan harus diambil. Model i ni dapat dikataakan memadukan dari model-model sebelumnya. Jika diterapkan pada kondisi yang tepat maka dapat memotivasi bawahannya untuk bekerja keras untuk mencapau suatu tujua b. Kepemimpinan Pendidikan cara Islam : Karakteristik Pemimpin Ideal Menurut Islam Berbicara masalah pemimpin ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat. 6
  7. 7. Sidiq/Jujur Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur).Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenarkan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Masyarakat akan menaruh respek kepada pemimpin apabila dia diketahui dan juga terbukti memiliki kwalitas kejujuran yang tinggi. Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka sangat sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh dirinya memperoleh kepercayaan dari pengikutnya.Seorang pemimpin yang sidiq atau bahasa lainnya honest akan mudah diterima di hati masyarakat, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya. Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar sahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan cirrikeimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapajujur dia akan beruntung.” Amanah/Terpercaya Amanah merupakan kwalitas wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama. Terjadinya banyak kasus korupsi di negara kita, merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia miskin pemimpin yang amanah. Para pemimpin dari mulai tingkat desa sampai negara telah terbiasa mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan cara memanfaatkan jabatan sebagai jalan pintas untuk memperkaya diri. Pemimpin semacam ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai pemimpin, mereka merupakan para perampok yang berkedok. Mengenai nilai amanah, ciri orang yang memiliki sifat tersebut. Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnia/kejujuran) Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. 7
  8. 8. Amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertangggung jawab. Dalam perspektif Islam pemimpin bukanlah raja yang harus selalu dilayani dan diikuti segala macam keinginannya, akan tetapi pemimpin sebagai seorang pembantu yang harus merelakan waktu. Tenaga dan pikiran untuk melayani rakyatnya. Pemimpin dituntut untuk melepaskan sifat individualis yang hanya mementingkan diri sendiri. Ketika menjadi pemimpin maka dia adalah kakitangan rakyat yang senantiasa harus melakukan segala macam pekerjaan untuk kemakmuran dan keamanan rakyatnya. Tablig/Komunikatif Kemampuan berkomunikasi merupakan kualitas ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpi sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindah sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat manusia yang memiliki beragam kecenderungan. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci terjainnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin dituntut untuk membuka diri kepada rakyatnya, sehingga mendapat simpati dan Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan kebenaran meskipun konsekwensinya berat. Tablig juga dapat diartikan sebagai akuntabel, atau terbuka untuk dinilai. Akuntabilitas berkaitan dengan sikap keterbukaan (transparansi) dala kaitannya dengan cara kita mempertanggungkawabkan sesuatu di hadapan orang lain. Sehingga, akuntabilitas merupakan bagian melekat dari kredibilitas. Bertambah baik dan benar akuntabilitas yang kita miliki, bertambah besar tabungan kredibilitas sebagai hasil dari setoran kepercayaan orang-orang kepada kita. Fathonah/Cerdas Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dia dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin yang cerdas tidak mudah frustasi menghadapai problema, karena dengan kecerdasannya dia akan mampu mencari solusi. Pemimpin yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu. Kecerdasan pemimpin tentunya ditopang dengan keilmuan yang mumpuni. Ilmu bagi pemimpin yang cerdas merupakan bahan bakar untuk terus melaju di atas roda kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas selalu haus akan ilmu, karena baginya hanya dengan keimanan dan keilmuan dia akan memiliki derajat tinggi di mata manusia dan juga pencipta. 8
  9. 9. c. Konsepsi Kepemimpinan Transformasional : Dari beberapa pengertian, kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya diantara anggota organisasi. Seorang pemimpin dikatakan bergaya transformasional apabila dapat mengubah situasi, mengubah apa yang biasa dilakukan, bicara tentang tujuan yang luhur, memiliki acuan nilai kebebasan, keadilan dan kesamaan. Pemimpin yang transformasional akan membuat bawahan melihat bahwa tujuan yang mau dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya. Sedangkan menurut Yukl kepemimpinan transformasional dapat dilihat dari tingginya komitmen, motivasi dan kepercayaan bawahan sehingga melihat tujuan organisasi yang ingin dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya. Kepemimpinan transformasional secara khusus berhubungan dengan gagasan perbaikan. Bass menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional akan tampak apabila seorang pemimpin itu mempunyai kemampuan untuk: 1) Menstimulasi semangat para kolega dan pengikutnya untuk melihat pekerjaan mereka dari beberapa perspektif baru. 2) Menurunkan visi dan misi kepada tim dan organisasinya. 3) Mengembangkan kolega dan pengikutnya pada tingkat kemampuan dan potensial yang lebih tinggi. 4) Memotivasi kolega dan pengikutnya untuk melihat pada kepentingannya masing-masing, sehingga dapat bermanfaat bagi kepentingan organisasinya. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Devanna dan Tichy karakteristik dari pemimpin transformasional dapat dilihat dari cara pemimpin mengidentifikasikan dirinya sebagai agen perubahan, mendorong keberanian dan pengambilan resiko, percaya pada orang-orang, sebagai pembelajar seumur hidup, memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian, juga seorang pemimpin yang visioner. kepemimpinan transformasional (transformational leadership) istilah transformasional berinduk dari kata to transform, yang bermakna mentransformasilkan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Seorang pemimpin transgformasional harus mampu mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target yang telah ditentukan. Sumber daya dimaksud bias berupa SDM, Fasilitas, dana, dan factor eksternal organisasi. Dilembaga sekolah SDM yang dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga ahli, guru, kepala sekolah, dan siswa. Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional ini dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses di mana pimpinan dan para bawahannya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menentukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nlai moral 9
  10. 10. seperti kemerdekaan, keadilan, dan bukan didasarkan atas emosi kemanusiaan, keserakahan, kecemburuan, atau kebencian. Tingkat sejauhmana seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat kepada pememimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan terhadap mereka. Adapun, karakteristik kepemimpinan transformasional adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimppinan. Dalam bentuk konkrit, kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional menjadi role model yang dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya. Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin yang mampu menerapkan standar yang tinngi akan tetapi sekaligus mampu mendorong bawahan untuk mencapai standar tersebut. Karakter seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan antusiasme yang tinggi dari pawa bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional senantiasa memberikan inspirasi dan memotivasi bawahannya. Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin transformasional yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Selain itu, karakter ini mendorong para bawahan untuk menemukan cara baru yang lbih efektif dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu kreatif dan inovatif. Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin yang mampu memahami perbedaan individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau dan mampu untuk mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan. Selain itu, seorang pemimpin transformasional mampu melihat potensi prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu memahami dan menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan berprestas dan berkembang para bawahan. 10
  11. 11. d. Kearifan Lokal dalam Kepemimpinan : 1. Sifat Kepemimpinan Budaya Sunda Seorang pemimpin Sunda harus memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (terampil), dan pinter (pandai/ cerdas) Seorang pemimpin Sunda harus “ati-ati, surti, weruh, sadurung pinara” yang bila diartikan pemimpin itu harus hati-hati, bijaksana, dan melihat ke depan apayang mungkin terjadi (forecasting) merupakan pedoman dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Beberapaperilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai berikut:  Handap asor, yang artinya rendah hati dan tidak sombong  Ulah getas harupateun, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan atau tindakan.  Landing kandungan, laer aisan, leuleus jeujeur liat tali, yang artinya fleksibel dalam bertindak.  Nete taraje, nincak hambalan, yang artinya bekerja secara sistematis.  Jangan seperti monyet (kera) menunjukan watak serakah, jangan seperti keledai (malas).  Harus berparilaku seperti nyiruan (lebah), artinya jangan senang yang kotor-kotor, sebab lebah selalu hinggap di tempat yang bersih seperti bunga yang diambilsrinya yang kemudian menjadi madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Hal ini menginagtkan bahwa pemimpin harus banyak member manfaat bagi orang lain. 2. Sifat Kepemimpinan Budaya Minang Falsafah kepemimpinan : Adat Basanding Syara, Syara Basandi Kitabullah artinya adat harus berdasarkan agama, dan agama harus berdasarkan kitab Allah. Organisasi luar dan kepemimpinan dalam mengelola rumah makan dengan berfalsafah pada budaya orang Minang dahulu yaitu: adat basanding sara, sara basanding kitabullah yang artinya adat harus berdasarkan agama dan agama harus berdasarkan kitab Allah (Al-qur’an). Pemimpin rumah makan padang selalu memperhatikan keluarga seperti falsafah “anak dipangku, kemenakan dibimbing, Bandai taulan dipatenggangkan” yang artinya anggota keluarga serta kerabat dipersilahkan bekerja di restoran padang dengan harus berperilaku jujur, menjalankan syariat agama islam, Serta mau belajar secara bertahap dari mulai tukang cuci piring sampai, pegang khas. Sampai menjadi pemilik warung atau kedai. Pegawai yang sudah cukup berpengalaman di persilahkan untuk membuka usaha warung nasi di tempat lain dengan di bantu modal dan di bimbing oleh majikan atau seniornya. Pemilik restoran atau pemimpin tidak merasa tersaingi bila mantan anak buahnya berhasil dalam mengembangkan usaha rumah makan. 11
  12. 12. 3. Sifat Kepemimpinan Budaya Jawa Konsep Kepemimpinan Jawa hasthabrata muncul dalam cerita pewayangan Jawa dengan lakon 'Iwahyu Makutharama' yang mengisahkan tentang pemberian wejangan (fatwa) seorang Pandita bernama Wiswamitra yang ditujukan kepada Sri Rama yang akan dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya. Ajaran hasthabrata tersebut selalu dipedomani untuk dijadikan fatwa terhadapputra mahkota yang akan dinobatkan menjadi raja-raja Jawa. Hasthabrata terdiri dari kata hastha yang berarti delapan dan kata brata yang berarti sifat baik. a. Brata yang pertama adalah SURYA yang berarti matahari. Sifat menerangi yang dimiliki oleh matahari dalam bahasa jawa dimaknai sebagai 'gawe pepadang marang ruwet rentenging liyan' yang berarti harus mampu membantu mengatasi kesulitan atau memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh anak buahnya. b. Brata yang kedua adalah BAWANA yang berarti bumi. Bumi diibaratkan sebagai ibu pertiwi. Sebagai ibu pertiwi, bumi memiliki peran sebagai ibu, yang memiliki sifat keibuan, yang harus memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah kalau sanggup menjadi pemimpin harus mampu mengayomidan melindungi anak buahnya. c. Brata yang ketiga adalah CANDRA yang berarti bulan. Implementasinya bagi pemimpin ialah pemimpin dalam memperlakukan anak buahnya harus dilandasi oleh aspek-aspek sosioemosional. Pemimpin harus memperhatikan harkat dan mertabat pengikutnya sebagai sesama. Terhadap pengikutnya harus menghormati sebagai sesama manusia. Dalam konsep Jawa hal ini disebut 'nguwongke'. d. Brata keempat adalah KARTIKA yang berarti bintang. Bintang dapat menggambarkan dambaan cita-cita, tumpuan harapan, sumber inspirasi. Seorang pemimpin harus memiliki cita-cita yang tinggi, berpandangan jauh kedepan, pemberi arah, sumber inspirasi, dan tumpuan harapan. e. Brata yang kelima adalah TIRTA yang berarti air. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya (adaptif). Air selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya, bukan mengikuti kebutuhan atasannya. f. Brata yang keenam adalah MARUTA, yang berarti angin. Secara alami angin memiliki sifat menyejukkan, angin membuat segar bagi orang yang kepanasan. Angin sifatnya sangat lembut. Seorang pemimpin harus bisa membuat suasana kepemimpinan sejuk, harmonis, dan menyegarkan. g. Brata yang ketujuh adalah DAHANA, yang berarti api. Secara alami, api memiliki sifat panas, dan dapat membakar. Seorang pemimpim memiliki sifat pembakar semangat, pengobar semangat, dan memiliki peran sebagai motivator dan inovator bagi pengikutnya. 12
  13. 13. h. Brata yang kedelapan adalah SAMODRA, yang berarti lautan atau samudra. Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam samudra. Samudra juga bersifat menampung seluruh air dan benda-benda yang mengalir kearah laut. Seorang pemimpin harus memiliki sifat menampung semua kebutuhan, kepentingan, dan isi hati dari pengikutnya, serta pemimpin harus bersifat aspiratif. Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai, agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : 1. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada artinya pemimpin harus mawas diri, selalu ingat dan waspada. 2. Andap asor artinya merendahkan diri. 3. Tumindak kantbi duga lan prayoga artinya bila bertindak harus di pikirkan dan di pertimbangkan 4. Mandur kebencikan artinya selalu menanam kebaikan. 5. Wedi ing luput wedi ing bener artinya takut berbuat salah dan berani berbuat bener. 6. Ojo lali piwulang kang becik artinya jangan suka membuat perselisihan. 7. Ojo aja seneng gawe gendra artinya jangan suka membuat perselisihan. 8. Ojo emberu aleman artinya jangan ingin di puji-puji 9. Ojo selingkub artinya tidak berbuat serong dan tidak jujur. 10. Ojo seneng maido artinya jangan suka membantah. 11. Ojo dadi wong pinter kablinger artinya jangan sampai menjadi orang pandai yang salah jalan. 12. Ojo dumeb artinya jangan mentang-mentang kuasa. 13. Ojo bosenan artinya jangan menjadi pembosan. 14. Ojo degsura artinya jangan kurang ajar. 15. Ojo seneng royal artinya jangan menjadi pemboros. 16. Ojo nyenyamab wong tua artinya jangan menghina orang tua. 17. Ojo pisan nacat inglian artinya jangan mencela orang lain. 18. Ojo gawe serilung atining lian artinya jangan menyakiti hati orang lain . 19. Ojo gelek mengasub artinya jangan mencari musuh . 20. Ojo mung rumangsa bias, nangis ora bias rumangsa artinya jangan hanya merasa pandai tapi tidak pandai merasa. 13
  14. 14. 4. Sifat Kepemimpinan Budaya Aceh Suku aceh adalah salah satu yang memperkenakan criteria untuk kepemimpinan . Menurut suku aceh , pemimpin itu harus menekankan sifatsifat 5 P , dalam rangka pengambilan keputusan , yaitu : peusiap ( persiapan ) pengumpulan data dan perbandingan , peubanding ( telaahan dan pembahasan ) , peunilai ( mengadakan penilaian ) , peutunyok , ( memohon petunjuk pada allah S.W.T .), dan peupatah ( mengambil keputusan ). Dari conto-conto tersebut di atas, dapat di jelaskan bahwa yang dapat menunjukan cirri-ciri seorang pemimpin yaitu , telah memiliki pembawaan dan sifat-sifat yang mendukung bagi seorang pemimpin sifat-sifat itu sebagian bisa di pelajari dan di peroleh dalam kehidupan. Sedangkan kebahagiaan memang telah ada sejak lahir . kebenaran tentang teori itu , dalam kaitannya ada hubungan antara sifat-sifat seseorang dengan kapasitas kepemimpinannya secara efektif dan sistematis , selalu di pertanyakan oleh para sarjana yang menekuni bidang kepemimpinan. 14

×