Modul konservasi tanah

8,570 views

Published on

Oleh KKP IPB di Desa Batulawang Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur

Published in: Education, Sports
  • Be the first to comment

Modul konservasi tanah

  1. 1. KONSERVASI TANAH DAN AIR PENDAHULUAN Tanah sebagai medium bagi pertumbuhan tanaman harus dapat menyediakanunsur hara, air, dan udara yang dapat dimanfaatkan akar untuk memenuhi kebutuhantanaman. Untuk menyediakan kondisi yang baik bagi perkembangan akar di dalam tanah,diperlukan sistem pori yang mudah ditembus oleh akar tanaman, mampu meresapkan airdan pertukaran udara ke dalam tanah; tetapi harus juga mampu menahan air yang cukupuntuk mengimbangi kebutuhan evapotranspirasi tanah dan tanaman. Pada saat tanah ditumbuhi vegetasi alami keadaan keseimbangan persediaan unsurhara, air dan udara di dalam tanah dapat dipelihara. Vegetasi mengambil unsur hara danair dari dalam tanah serta CO2 dari atmosfir untuk mensintesa bahan organik melaluifotosintesis. Hasil fotosintesis sebagian dikeluarkan melalui akar untuk memberikanmakanan pada mikroorganisme yang hidup disekitar rhizosphere. Jaringan akar hidupdan senyawa polisakarida yang dikeluarkan oleh mikroorganisme dapat memelihara danmemperbaiki kemantapan agregat. Tajuk tanaman yang berkembang dapat menutupi danmeredam energi tumbukan air hujan yang dapat merusakkan agregat tanah. Serasahtanaman yang jatuh di atas permukaan tanah merupakan sumber energi bagi berbagaijenis organisme tanah termasuk fauna tanah yang dapat mencampur bahan organikdengan bahan mineral membentuk agregat mantap. Biopori (biopore) yang dibentuk olehfauna tanah dan akar yang melapuk merupakan pori mantap yang berbentuk silindrismampu menyalurkan pergerakan air dan oksigen ke dalam tanah serta mudah dilewatioleh CO2 yang dihasilkan oleh respirasi akar keluar daerah perakaran. Dengan demikiansiklus air, energi, dan unsur hara dapat menjamin kelestarian ekosistem. Konversi vegetasi alami dengan tanaman pertanian mengakibatkan keseimbanganekologik terganggu. Pembukaan lahan membuka permukaan lahan bagi tumbukan airhujan yang dapat merusakkan agregat dan sistem pori yang dapat mengurangi daya resap
  2. 2. air ke dalam tanah (infiltrasi). Kehilangan bahan organik tanah dipercepat olehmeningkatnya dekomposisi akibat peningkatan fluktuasi suhu tanah. Hal ini akanmenurunkan kemantapan agregat tanah, kapasitas infiltrasi, kapasitas menahan air,kapasitas tukar kation, daya sangga (buffering capacity) tanah terhadap perubahan reaksitanah, cadangan unsur hara, dan sumber energi bagi aktivitas biologis yang membantupemulihan kondisi fisik dan kimiawi tanah. Pada pertanian sederhana seperti sistem perladangan berpindah, keadaankerusakan lahan tersebut dicerminkan oleh penurunan produksi tanaman yang kemudianditinggalkan sampai tercapainya pemulihan keseimbangan ekologik baru. Pada pertanianmenetap usaha pemulihan kondisi fisik diusahakan dengan pengolahan tanah, sertakehilangan unsur hara melalui hasil yang dipanen diimbangi dengan pemupukan.Cepatnya daya tanggap perbaikan pertumbuhan tanaman terhadap pemberian pupukbuatan telah mengesampingkan pentingnya penambahan bahan organik untukmengimbangi kehilangan bahan organik tanah yang dipercepat oleh pengolahan tanahyang makin sering dilakukan. Pada pertanian lahan kering cepatnya penurunan kandungan bahan organik tanahmengakibatkan berkurangnya kemantapan agregat yang dicerminkan oleh mudahmemadatnya tanah setelah pengolahan tanah, sehingga pengolahan tanah makin seringdilakukan. Selain biaya pengolahan tanah menjadi semakin mahal pengolahan tanah yangmakin intensif makin mempercepat kehilangan bahan organik tanah, serta menurunkankemantapan agregat, biopore, dan pori makro di antara agregat tanah. Laju peresapan airhujan ke dalam tanah menjadi berkurang dan kelebihan air yang tidak dapat meresap kedalam tanah akan mengakibatkan genangan di atas permukaan tanah yang datarmemperburuk aerasi; atau kelebihan air tanah tersebut akan mengalir sebagai aliranpermukaan mengikuti kemiringan lereng sambil mengangkut partikel liat dan bahanorganik serta unsur hara yang terlarut. Keadaan tersebut makin lama dirasakan makin
  3. 3. mempersulit petani yang harus mengeluarkan biaya pengolahan tanah dan pemupukanyang makin mahal. Makin mahalnya ongkos tenaga kerja dan harga pupuk makin memperkeciltingkat keuntungan yang dapat diperoleh dari produksi tanaman yang dihasilkan. Hal inisangat dirasakan oleh petani miskin dengan luas garapan sempit. Makin berkurangnyapendapatan petani akan mengurangi kemampuan petani untuk membiayai usahapemeliharaan tingkat kesuburan tanah sehingga makin memerosotkan produktivitas lahan.Kerusakan lahan pertanian berlereng curam akan lebih dipercepat oleh terjadinya erosiyang mengakibatkan kerugian baik pada lahan itu sendiri (on site) dan lingkungansekitarnya (off site). Perluasan lahan pertanian pada lahan yang tidak sesuai untuk pertanian tersebutseringkali dilakukan pada kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai daerahtangkapan air (catchment) untuk pengisian air bawah tanah. Rusaknya fungsi hidrologikkawasan ini akan mengurangi sumber air untuk pengairan, pembangkit tenaga listrik, airminum, dan penyangga intrusi air laut. Kerusakan lahan dilaporkan terus terjadi dan mengakibatkan meluasnya lahankritis baik di daerah berpenduduk padat seperti pulau Jawa maupun di luar pulau Jawayang berpenduduk jarang. Berbagai usaha rehabilitasi lahan telah diusahakan denganberbagai proyek konservasi tanah dan air yang dilakukan pada lahan kritis maupun lahanyang masih digarap untuk pertanian. Tingkat keberhasilan usaha tersebut sangatditentukan oleh partisipasi para penggarap lahan untuk mulai dan meneruskan penerapantindakan konservasi tanah dan air secara berkelanjutan. Mengingat keterbatasan tingkatpendidikan, keterampilan, peralatan, dan sumber dana yang dimiliki oleh petani, makateknik konservasi tanah dan air yang perlu diperkenalkan untuk diterapkan sebaiknyateknik yang bersifat tepat guna dalam arti mudah dan murah namun cukup efektif.
  4. 4. I. PEMBUATAN DAN PEMAKAIAN RANGKA-A (A-FRAME) UNTUK PEMBUATAN KONTUR DI LAPANGANPendahuluan Rangka-A (A-Frame) adalah alat berbentuk huruf A kapital yang digunakan untukmenentukan titik-titik yang mempunyai ketinggian (elevasi) yang sama pada permukaanlahan yang miring, sehingga dapat ditarik garis kontur di lapangan. Pembuatan gariskontur pada lahan miring sangat penting untuk menentukan arah bangunan konservasiseperti saluran, guludan, teras, strip-strip dan barisan tanaman memotong lereng; sehinggadapat mengurangi laju aliran permukaan dan erosi yang mungkin terjadi. Dibandingkan alat bantu pembuatan kontur di lapangan lainnya seperti T0, AbneyLevel, dan selang air; Rangka-A lebih mudah dibuat dengan menggunakan bahan yangmudah dijumpai di lapang serta dapat digunakan seorang diri tanpa bantuan orang lain.Prinsip dan Cara Pembuatan Rangka-A Bentuk huruf A kapital baik yang simetris maupun tidak merupakan bentuksegitiga. Garis tinggi yang ditarik dari titik puncak segitiga adalah garis tegak lurusterhadap garis alas segitiga (garis yang menghubungkan kedua titik kaki rangka-A. Apabila garis tinggi ini berimpit dengan garis vertikal, berarti garis alas segitigamerupakan garis horizontal, yang berarti titik kaki rangka-A mempunyai elevasi yangsama. Garis vertikal dapat dibentuk dengan seutas tali dipasang pada titik puncak huruf Ayang diregangkan oleh pemberat karena tarikan gaya gravitasi seperti terlihat padaGambar 1. Gambar 1. Berbagai Bentuk Rangka-A
  5. 5. Sembarang bentuk Rangka-A dapat dibuat dari 3 potong batang kayu atau bambu kecil menyerupai huruf A kapital dengan memakukan atau mengikatkan satu sama lain sedemikian rupa sehingga setiap sudutnya tidak dapat berubah. Setiap titik silang potongan dibuat bidang singgung yang rata dan dipaku dengan 2 buah paku. Bila kayu tidak dapat dipaku dilakukan pengikatan, sebagai siku penguat dapat digunakan potongan cabang ranting kayu. Seutas benang dengan pemberat diikatkan pada titik silang puncak Rangka-A. Untuk memberi tanda titik singgung garis tinggi dengan garis datar, Rangka-A diberdirikan pada permukaan horizontal, misalnya kedua kakinya disentuhkan pada lantai atau permukaan air yang tenang. Tunggu sampai pemberat setimbang (berhenti berayun), titik singgung benang dengan garis datar (titik A) diberi tanda yang jelas dan tidak mudah hilang. Cara Pembuatan Kontur Dengan Rangka-A1. Pasang patok 1 sebagai titik awal.2. Letakkan salah satu kaki Rangka-A pada titik awal (patok 1), geserkan kaki yang lainnya pada permukaan lahan sehingga benang berimpit pada titik A, tancapkan Patok 2. Patok 1 mempunyai elevasi yang sama dengan Patok 2 (Gambar 2).3. Teruskan seperti langkah 2 untuk memasang Patok 3, 4 dan seterusnya yang mempunyai elevasi yang sama, sehingga dapat dihubung-kan sebagai garis kontur.
  6. 6. Gambar 2. Membuat Garis Kontur dengan Rangka-A II. PEMBUATAN TERAS GULUD Pendahuluan Teras gulud adalah teras yang dibuat dengan menggali saluran dan membuat guludan menurut kontur. Saluran dan guludan berfungsi untuk menampung dan menghambat aliran permukaan, sehingga dapat mengurangi erosi pada pertanian lahan kering bertopografi miring. Teras gulud pada umumnya dibangun pada lahan dengan kemiringan lereng < 15 %. Dengan waktu, saluran akan terisi sedimen, sehingga efektivitas untuk menampung dan menghambat aliran permukaan berkurang. Bila aliran permukaan melimpah di atas guludan (overtopping), guludan akan rusak. Namun pe- meliharaan saluran teras gulud cukup sulit dilakukan karena saluran cepat penuh terisi oleh longsornya dinding saluran dan sedimen halus yang terangkut oleh aliran permukaan. Pemanfaatan sisa tanaman sebagai mulsa vertikal untuk mengisi saluran teras gulud dapat mempunyai manfaat ganda, antara lain:1. mencegah longsornya dinding saluran serta melindungi permukaan resapan dari tumbukan air hujan dan penyumbatan pori oleh sedimen halus,2. dapat menghindari kemungkinan penularan hama dan penyakit tanaman yang ada pada sisa tanaman,3. aktivitas organisme yang membantu proses pelapukan sisa tanaman bahkan dapat memperbaiki kondisi fisik tanah sekitar saluran dan meningkatkan laju peresapan air dalam saluran melalui biopori yang dibentuk oleh fauna tanah (terutama cacing tanah),4. campuran kompos dan sedimen yang tertampung dalam saluran cukup gembur sehingga mudah diangkat dari saluran untuk dikembalikan ke bidang pertanaman setelah panen, dan
  7. 7. 5. saluran yang sudah dikosongkan dapat digunakan untuk mengumpulkan dan mengomposkan sisa tanaman, sehingga dapat memudahkan persiapan lahan untuk musim tanam berikutnya. Dibandingkan cara pengomposan konvensional, pengomposan melalui mulsa vertikal lebih mudah dilakukan karena pengumpulan sisa tanaman dan pengembalian kompos yang dihasilkan cukup dekat dengan bidang pertanaman. Kelembaban dan suhu selama pengomposan dapat diatur secara alami oleh perubahan kelembaban tanah di sekitar saluran. Unsur hara dan mikroba yang terangkut dari bidang pertanaman dapat memperkaya unsur hara dan inokula mikroba yang diperlukan untuk mempercepat proses pengomposan. Cara pembuatan Setelah lahan dibersihkan dengan menebas gulma dan sisa tanaman, dilakukan:1. pemasangan ajir/patok kontur dengan menggunakan alat Rangka A (A frame),2. membuat batas saluran selebar 30 cm mengikuti ajir/patok kontur,3. menggali saluran sedalam 30 cm, tanah galian ditumpukkan membentuk guludan di sisi bawah/hilir saluran, dan4. mengumpulkan sisa tanaman dan gulma ke dalam saluran sebagai mulsa vertikal (Gambar 3). Gambar 3. Membuat Teras Gulud
  8. 8. Bidang olah dapat segera dipersiapkan untuk pertanaman, sebaiknya dilakukanpengolahan tanah konservasi yaitu pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah(TOT). Pengolahan tanah minimum dilakukan untuk mencampiurkan pupuk/kapur yangditaburkan pada baris tanaman yang direncanakan; sedangkan TOT dilakukan denganhanya membersihkan alur baris tanaman (Gambar 4). Gambar 4. Pengaturan Baris Tanaman Menurut KonturPemeliharaan Pemeliharaan saluran dan guludan dilakukan setelah tanaman dipanen. Campurankompos dan sedimen dikeluarkan dari dalam saluran dengan cangkul untuk dikembalikanpada bidang pertanaman di bagian hulu/atas saluran dari mana sisa tanaman dan sedimenberasal. Pemeliharaan saluran lebih mudah dilakukan karena campuran kompos dansedimen cukup gembur, sehingga sangat mudah diangkat untuk dikembalikan padabidang pertanaman. Guludan yang rusak diperbaiki, rumput penguat guludan dipangkas(tidak perlu dimatikan). Saluran yang telah dikosongkan siap diisi dengan sisa tanaman dan gulma yangtelah ditebas dari bidang pertanaman dan guludan. Dengan demikian pengumpulan danpengomposan sisa tanaman dipermudah dan tidak perlu diangkut terlalu jauh keluarlahan; serta persiapan pertanaman berikutnya tidak terganggu oleh adanya sisa tanaman.
  9. 9. Kemiringan lahan dapat dipelihara dengan pengembalian kompos dan sedimen,sehingga memungkinkan berlangsungnya proses drainase secara alami mengikutikemiringan lereng. Luas bidang pertanaman tidak berkurang serta sifat fisik, kimia danbiologi tanah secara berangsur diperbaiki dengan pengembalian kompos yangberkesinambungan. III. PEMBUATAN TERAS KREDITPendahuluan Teras kredit adalah teras yang dibangun dengan membuat guludan menurut konturdari tanah galian saluran di sisi bawahnya (hilir). Guludan berfungsi untuk menghambataliran permukaan dan menampung sedimen yang terangkut dari bidang pertanaman.Aliran permukaan yang melimpah di atas guludan (overtopping), akan tertampung dandiresapkan pada saluran di bawahnya, sehingga tidak meningkatkan erosi pada petakan dibawahnya. Setiap akhir musim pertanaman guludan diperbaiki dan ditinggikan denganmengangkat tanah dari saluran, sehingga akan terjadi teras bangku secara berangangsurkarena pengikisan dan pengendapan oleh aliran permukaan. Teras bangku yang terbentukakan lebih mantap dan pengurangan luas bidang pertanaman terjadi secara bertahap. Teras kredit dapat dibangun pada lahan dengan kemiringan lereng >15%. Untukmempermudah pemeliharaan dan meningkatkan laju peresapan air saluran teras kredit,saluran dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan sisa tanaman sebagai mulsa vertikal.Dengan demikian saluran akan dapat meresapkan limpahan aliran permukaan daripetakan di atasnya, sehingga dapat mengurangi resiko erosi pada petakan di bawahnya.Pemanfaatan sisa tanaman sebagai mulsa vertikal untuk mengisi saluran teras kredit jugadapat mempermudah pengumpulan dan pengomposan sisa tanaman, meningkatkan lajuperesapan air ke dalam tanah, serta memudahkan pengembalian campuran kompos dansedimen untuk memperbaiki kondisi petakan yang tererosi.
  10. 10. Cara pembuatan Setelah lahan dibersihkan dengan menebas gulma dan sisa tanaman, dilakukanpengukuran sudut kemiringan lereng, untuk menetapkan jarak antar saluran/guludan yangakan dibuat sesuai dengan tinggi tampingan teras (vertical interval) yang diinginkan.Tinggi tampingan teras tidak boleh melebihi kedalaman lapisan tanah yang tidak dapatditumbuhi oleh tanaman seperti lapisan padas, batu, atau bahan induk tanah. Pembuatan kontur dengan alat Rangka A (A frame) dan batas saluran, dilakukanseperti pada pembuatan teras gulud. Tetapi tanah galian hasil penggalian saluran,ditumpukkan ke atas untuk membentuk guludan di sisi sebelah atas/hulu saluran (Gambar5). Gambar 5. Pembuatan Saluran dan Guludan Teras Kredit Guludan perlu diperkuat dengan tanaman pagar atau rerumputan yang berperakarankuat serta dapat bertahan bila ditimbun tanah pada saat guludan ditinggikan. Sisa tanamandan gulma dikumpulkan ke dalam saluran sebagai mulsa vertikal untuk menahanlongsornya dinding saluran dan guludan, serta meningkatkan laju peresapan air. Bila lajuperesapan air di saluran lambat, perlu dibuat lubang resapan biopori (LRB) di dasarsaluran setiap jarak 1 – 2 m (Bab ).Pemeliharaan
  11. 11. Setiap akhir musim pertanaman, kompos dalam saluran diangkat dan disebarkan kebidang olah (Gambar 6). ! Gambar 6. Teras Kredit dengan Pengurangan Kemiringan Lereng Secara Berangsur. Guludan ditinggikan dengan mengangkat tanah dari saluran, sehingga akan terjaditeras bangku secara berangangsur karena pengikisan dan pengendapan oleh aliranpermukaan (Gambar 7). Teras bangku yang terbentuk secara berangsur lebih mantapdibandingkan dengan teras bangku yang dibangun melalui penggalian dan penimbunansekaligus. Gambar 7. Teras Bangku yang Terbentuk Secara Berangsung
  12. 12. IV. BUDIDAYA LORONGPendahuluan Budidaya lorong (alley cropping) merupakan salah satu bentuk wana tani(agroforestry) yang memadukan budidaya tanaman pangan (tanaman semusim) denganbudidaya tanaman pepohonan (tanaman tahunan). Pada sistem budidaya lorong, tanamanpangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar (hedge rows). Efektivitas budidaya lorong pada lahan pertanian berlereng miring untukpengendalian aliran permukaan dan erosi ditentukan oleh perkembangan barisan tanamanpagar, serta jarak antar barisan tanaman pagar. Pada awal penerapan budidaya lorongaliran permukaan dan erosi dapat menerobos di antara tanaman pagar yang baru mulaiditanam dan belum tumbuh merapat, meskipun ditanam lebih dari satu baris tanaman. Aliran permukaan dan erosi yang terjadi dapat menghambat pertumbuhan tanamanpagar yang belum kuat menahan aliran permukaan. Setelah tanaman pagar sudah tumbuhbesarpun aliran permukaan masih dapat lolos menerobos barisan tanaman pagar. Tanpaadanya pembatas, akar tanaman pagar yang telah berkembang dapat menimbulkanpersaingan penyerapan air dan unsur hara antara tanaman pagar dengan tanaman budidayayang dapat mengurangi produksi tanaman pangan yang dibudidayakan. Untuk meningkatkan efektivitas budidaya lorong dalam pengendalian aliranpermukaan dan erosi serta mengurangi dampak negatif persaingan air, hara dan sinarmatahari; diperlukan usaha penyempurnaan dengan membuat saluran dan guludanmengikuti kontur seperti pada teras gulud atau teras kredit. Kemudian saluran diisi sisatanaman sebagai mulsa vertikal. Saluran bermulsa sangat penting untuk menangkap,menampung dan meresapkan air aliran permukaan, sekaligus dapat membatasi persainganpenyerapan air dan unsur hara oleh perkembangan akar tanaman pagar ke bidangpertanaman budidaya (Gambar 8).
  13. 13. Gambar 8. Mulsa Vertikal pada Budidaya Lorong Saluran juga berfungsi untuk mengumpulkan sisa tanaman dan pangkasan tanamanpagar untuk mempermudah pengelolaan sisa tanaman melalui proses pengomposansetempat (in situ). Tanaman pagar yang ditanam pada guludan berfungsi untukmemperkuat guludan sebagai penghambat aliran permukaan. Untuk peningkatan pendapatan petani, dapat ditanam tanaman pagar berupa striptanaman buah-buahan tahunan (pepohonan/perdu). Diantara tanaman pepohonan dapatditumpang-sarikan dengan tanaman obat-obatan atau tanaman umbi-umbian tahannaungan. Penanaman strip tanaman pohonan merupakan upaya penting untuk menjagakelestarian dan kenyamanan lingkungan. Strip tanaman pepohonan dapat berfungsisebagai penghambat kecepatan angin (wind break) yang dapat mengurangi kehilangan airmelalui penguapan. Tanaman pepohonan mempunyai sistem perakaran yang dalam sehingga dapatmengambil air dan unsur hara yang meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam; sehinggatidak dapat diambil oleh perakaran tanaman pangan yang relatif lebih dangkal. Air danunsur hara yang diserap perakaran tanaman pagar kemudian dapat dikembalikan kelapisan atas melalui pengembalian hasil pangkasan tanaman pagar ke dalam tanah.Perakaran tanaman pagar juga dapat menangkap unsur hara yang tercuci ke bawah
  14. 14. Dengan demikian pendaurulangan unsur hara yang efisien dari lapisan tanah yang dalamke lapisan atas melalui bantuan tanaman pepohonan (Gambar 9). Gambar 9. Strip Tanaman Budidaya di Lorong Strip Tanaman Pagar. Strip permanen tanaman pepohonan juga dapat merupakan habitat burung yangmenjadi predator berbagai macam serangga hama tanaman. Untuk supaya strip tanamanpepohonan ini dapat dipelihara dengan baik oleh petani, perlu dipilih tanaman yangmempunyai nilai ekonomis, sebagai sumber tambahan pendapatan petani. Selain tanamanpagar legum penghasil kayu bakar dan bahan organik seperti Turi (Sesbania sp.),Kaliandra (Calliandra calothyrsus), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Gamal(Gliricidia sepium); penanaman pohon buah-buahan yang bernilai ekonomis dapatdilakukan dalam strip tanaman pagar yang lebih luas. V. PENGOLAHAN TANAH KONSERVASIPendahuluan Masalah utama yang sering dijumpai pada pertanian lahan kering adalah penurunankandungan bahan organik tanah yang cepat dan ketersediaan air yang tergantung padacurah hujan (tadah hujan). Karena suhu dan kelembaban yang tinggi, secara alami lajupenurunan kandungan bahan organik di daerah tropika diperkirakan 4 kali lebih cepat
  15. 15. dibandingkan dengan yang terjadi di daerah beriklim sedang. Laju penurunan bahanorganik tanah lebih dipercepat lagi oleh pengolahan tanah yang intensif, adanyapengangkutan dan pembakaran sisa tanaman, dan pengangkutan oleh erosi pada pertanianlahan kering berlereng. Pada pertanian lahan kering cepatnya penurunan kandungan bahan organik tanahmengakibatkan berkurangnya kemantapan agregat tanah yang dicerminkan oleh mudahmemadatnya tanah setelah pengolahan tanah, sehingga pengolahan tanah makin seringdilakukan. Selain biaya pengolahan tanah menjadi semakin mahal pengolahan tanah yangmakin intensif dapat mempercepat kehilangan bahan organik tanah, menurunkankemantapan agregat, merusak biopori (lubang yang dibuat oleh cacing dan akar) dan porimakro di antara agregat tanah, membunuh fauna tanah serta mengurangi populasi danaktivitas mikroba. Peresapan air hujan ke dalam tanah berkurang dan kelebihan air yangtidak dapat meresap ke dalam tanah akan mengakibatkan aliran permukaan mengikutikemiringan lereng sambil mengangkut partikel liat dan bahan organik serta unsur harayang terlarut. Keadaan tersebut mendorong terjadinya proses pemiskinan tanah yangmakin lama makin memperberat petani petani miskin untuk mengeluarkan tambahanbiaya pengolahan tanah dan pemupukan. Pengolahan tanah konvensional merupakan aktivitas budidaya pertanian yangmemerlukan korbanan waktu, tenaga dan biaya yang cukup tinggi. Dengan jumlah tenagakerja keluarga yang terbatas kegiatan pengolahan tanah konvensional mengakibatkantertundanya waktu tanam, sehingga kesempatan untuk memanfaatkan ketersediaan airmenjadi berkurang. Untuk mengurangi resiko dampak negatif pengolahan tanah konvensional, perludilakukan pengolahan tanah konservasi, yaitu dengan pengolahan tanah minimum(minimum tillage) atau tanpa olah tanah (zero/no tillage). Pada pengolahan tanahminimum, pengolahan tanah hanya dilakukan dengan mengolah tanah pada calon barisan
  16. 16. tanaman. Pada lahan miring, barisan tanaman dibuat mengikuti kontur. Sebelumdilakukan pengolahan tanah minimum, sisa tanaman ditebas, gulma dimatikan denganpenebasan atau penyemprotan dengan herbisida. Sisa tanaman sebaiknya dimanfaatkansebagai mulsa vertikal. Kontur saluran mulsa vertikal dapat dipakai sebagai pedomanuntuk penaburan pupuk dan kapur pada barisan tanaman yang direncanakan. Pengolahantanah dilakukan sambil mencampurkan masukan kapur dan pupuk ke dalam tanahsehingga tidak mudah dihanyutkan oleh aliran permukaan. Pencampuran pupuk dan kapur ke dalam tanah pada calon barisan tanaman jugapenting dalam usaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemakaian pupuk dan kapurdekat daerah perakaran tanaman. Dengan cara ini diharapkan kebutuhan pupuk dan kapurdapat ditekan (Gambar 10). Gambar 10. Pengolahan Tanah Minimum Mengikuti Kontur. Untuk menanam tanaman dengan jarak tanam yang rapat, perlu dilakukanmodifikasi pengturan jarak tanam; yaitu dengan sistem baris tanam ganda (double/tripplerows = tandur jajar legowo), dimana jarak antar baris di dalam baris ganda hampir samadengan jarak dalam barisan, sehingga untuk memperoleh populasi (jumlah) tanamanpersatuan luas didapatkan jarak antar baris ganda (gawangan) yang cukup lebar.Pengolahan tanah dilakukan untuk menggemburkan tanah pada calon baris ganda,
  17. 17. sedangkan gawangannya dibiarkan tidak diolah, dan dapat leluasa dilewati untukmelakukan penanaman, pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Untuk meningkatkanintensitas penanaman, gawangan dapat dipersiapkan untuk penanaman tanaman keduasebelum tanaman pertama dipanen (relay intercropping). Pada tanpa olah tanah, sisa tanaman dan gulma dimatikan dengan herbisida. Sisatanaman dan gulma yang sudah mati dan mengering dirobohkan, disisihkan dari calonbarisan tanaman. Benih tanaman langsung ditugalkan pada barisan tanaman yangdirencanakan. Pupuk/kapur diberikan dalam alur yang dibuat di samping barisan tanamanatau ditugalkan di samping tanam-an. Penggemburan tanah baru dilakukan setelahtanaman tumbuh, sambil melakukan penyiangan gulma dan pembumbunan pada masapemeliharaan tanaman. Dengan demikian pengolahan tanah konservasi dapatmenghindari tertundanya penanaman untuk dapat memanfaatkan ketersediaan airseefisien mungkin, mengurangi pemborosan tenaga dan biaya pengolahan tanah, sertamenyebarkan ketersediaan tenaga secara merata sepanjang musim pertanaman. VI. PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORIPendahuluan Lubang resapan biopori (LRB) adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanahdengan diameter 10 – 30 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melebihi kedalamanmuka air tanah. Lubang diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori.Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas faunatanah atau akar tanaman. LRB adalah teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk meningkatkan lajuperesapan air hujan dan memanfaatkan sampah organik ke dalam tanah. Manfaat LRB:(1) memelihara cadangan air tanah, (2) mencegah terjadinya keamblesan (subsidence) dankeretakan tanah, (3) menghambat intrusi air laut, (4 )mengubah sampah organik menjadi
  18. 18. kompos, (5) meningkatkan kesuburan tanah, (6) menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, (7) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah dsb., (8) mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan (9) mengurang emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), (10) mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan Cara pembuatan 1. Lokasi Pembuatan LRB: LRB dapat dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan (Gambar 11), di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon (Gambar 12) atau batas taman (Gambar 13).1. Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat. Jarak antar lubang 50-100 cm.2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm, setebal 2 cm disekeliling mulut lubang.3. Segera isi lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur.4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang menyusut karena proses pelapukan.5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang. 3. Jumlah LRB yang Perlu Dibuat: Banyaknya lubang yang perlu dibuat dapat dihitung menggunakan persamaan: Jumlah LRB: Intensitas hujan (mm/jam) x Luas bidang kedap (m2)
  19. 19. Laju peresapan air perlubang (liter/jam) Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat),dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidangkedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang. Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm kedalaman 100 cm, setiap lubang dapatmenampung 7,8 liter sampah organik, berarti tiap lubang dapat diisi sampah organikdapur 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yangdihasilkan selama 56 – 84 hari, dimana dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisikembali.

×