Successfully reported this slideshow.

Identifikasi dan pengkajian potensi dan sumber kebutuhan korban bencana

3,268 views

Published on

http://taganasukabumi.blogspot.com/

Published in: Education
  • Be the first to comment

Identifikasi dan pengkajian potensi dan sumber kebutuhan korban bencana

  1. 1. IDENTIFIKASI DAN PENGKAJIAN POTENSI DAN SUMBERKEBUTUHAN KORBAN BENCANAOleh : Tukino *)A. LATAR BELAKANGIndonesia merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas kejadian bencana cukuptinggi baik bencana alam, non alam maupun bencana sosial. Akibat bencana yang terjaditelah menimbulkan korban jiwa, kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak saranadan prasarana publik yang ada, terjadniya pengungsian, ketidaknormalan kehidupan danpenghidupan masyarakat serta terganggunya pelaksanaan pembangunan.Permasalahan yang dialami korban bencana antara lain meliputi :1. Kondisi dalam pengungsian, seperti kematian di tempat penampungan karena diare akutdan infeksi saluran pernafasan, sebagai tanda nyata buruknya kondisi sanitasi.2. Terceraiberainya tatanan keluarga, baik selama proses pelarian maupun pengungsian.Dukungan sosial tradisional (kearifan lokal) dalam unit keluarga dan masyarakatmendadak berantakan.3. Melemahnya semangat kemasyarakatan karena padatnya kampung-kampungpengungsian.4. Deprivasi dan keterbatasan akses, karena pengungsi datang dengan pakaian, harta, danmakanan seadanya untuk mempertahankan hidup, status sosial ekonomi menjadi tidakberlaku lagi, mata pencaharian terhenti dan sangat sulit memenuhi kebutuhan.Sementara itu sumber, fasilitas dan pelayanan setempat yang tidak dirancang untukdiberi beban tambahan mengalami beban berlebihan (overload), akses juga terbatasi olehperbedaan bahasa dan adat serta stigma yang melekat pada status pengungsi.5. Jika mereka dalam jumlah yang besar berada di daerah lain dalam kurun waktu yangrelatif lama, maka berpotensi untuk bersaing dalam mendapatkan akses denganmasyarakat setempat dibanding mereka yang menumpang di sanak keluarga. Kondisi inisangat dimungkinkan terjadinya benturan nilai dengan masyarakat di daerahpengungsian. Situasi persaingan ini dapat memicu antagonisme dan konflik antaramasyarakat pengungsi dengan masyarakat setempat.6. Dalam suasana darurat pengungsi tidak membawa dokumen-dokumen penting sepertiAkte Kelahiran, Sertifikat Tanah, Kartu Tanda Penduduk, dan lain-lain sebagai salah satu
  2. 2. kelengkapan untuk memperoleh perlindungan hukum. Sistem perlindungan di tempat asaltidak berlaku lagi, sementara sistem setempat tidak sampai pada tempat pengungsian.7. Mereka tinggal relatif lama di lokasi pengungsian. Sementara rumah, sawah, ladang,ternak dan sebagainya semakin rusak dan terlantar sehingga makin menyulitkanpemulihan kembali kehidupan.8. Adanya trauma sosial psikologis karena ketidakberdayaan secara fisik, ekonomi, maupunsosial yang dialami sendiri atau orang-orang terdekat selama proses penyelamatan diridalam pengungsian dan mungkin meninggalkan bekas yang mendalam dan berpengaruhpada suasana batin secara perorangan, keluarga dan masyarakat.9. Ketidakpastian akhir dari pengungsian menyebabkan segala macam perencanaankeluarga menjadi tidak relevan.Ketika terjadi bencana, masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan daripihak luar. Namun terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepadakorban bencana dapat menimbulkan masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yangdiberikan dengan kebutuhan korban bencana ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil.Guna membantu korban bencana secara komprehensif, maka diperlukan adanya identifikasidan pengkajian potensi dan sumber-sumber yang dapat digunakan dalam membantu korbanbencana tersebut. Identifikasi merupakan kegiatan untuk mengetahui atau mengenal lebihlanjut korban bencana. Potensi adalah kekuatan atau kemampuan yang belumdimanfaatkan. Sumber-sumber disini dapat diartikan sebagai aset-aset yang ada ataudimiliki yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan mendukung keberfungsian sosial korban bencana. Korban bencana adalahorang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.Keberfungsian sosial korban bencana akan terlihat dari 3 aspek, yaitu; mampu memenuhikebutuhan hidupnya, mampu memecahkan masalah yang dihadapi, dan mampumenjalankan perannya dalam kehidupan masyarakat.
  3. 3. B. IDENTIFIKASI DAN PENGKAJIAN POTENSI DAN SUMBER1. Identifikasi Korban Bencanaa. Korban Bencana yang Terkena Dampak1) Primary Victim: Survivor / penyintas à mereka yang langsung mengalami dan berhasilselamat dalam peristiwa bencana2) Secondary Victims: keluarga /orang terdekat dari primary victims3) Tertiary Victims: orang-orang yang karena pekerjaannya atau secara sukarelaberhubungan langsung dengan penanganan dampak bencana (misal relawan)4) Quarternary Victims: anggota masyarakat umum diluar area bencana yang pedulib. Jenis-jenis Dampak Psikologis dari Bencana1) Extreme peritraumatic stress reactions (< 2 hari)Symptom – symptom yang muncul segera setelah bencana, a.l:● Dissosiasi (depersonalisasi, derelisasi, amnesia)● Menghindar (menarik diri dari situasi sosial)● Kecemasan (cemas berlebihan, nervous, gugup, merasa tidak berdaya)● Intrusive re-experiencing (flashback, mimpi buruk)2) Acute stress disorder (2 hari – 4 minggu)• Individu mengalami peristiwa traumatik yang mengancam jiwa diri sendiri maupunorang lain, atau menimbulkan kengerian luar biasa bagi dirinya (horor)• Peningkatan keterbangkitan psikologis, misalnya: kewaspadaan tinggi, mudahkaget, sulit konsentrasi, sulit tidur, mudah tersinggung, gelisah• Gangguan efektifitas diri diarea sosial dan pekerjaan.3) Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD ( >1 bulan )• Gangguan ini muncul akibat suatu peristiwa hebat yang mengejutkan, bahkan seringtidak terduga dan akibatnya pun tidak tertahankan oleh orang yang mengalaminya.• Terulangnya bayangan mental akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami.• Ketidak berdayaan/ ke-”tumpul”an emosional dan “menarik diri”• Terlalu siaga/ waspada yang disertai ketergugahan/ keterbangkitan secara kronis• Terjadi gangguan yang menyebabkan kegagalan untuk berfungsi secara efektifdalam kehidupan sosial (pekerjaan, rumah tangga, pendidikan, dll)
  4. 4. c. Reaksi Stres terhadap Bencana1) Berbagai masalah psikologis yang mungkin akan dialami seseorang setelahmengalami peristiwa traumatis2) Reaksi – reaksi normal dan wajar (normal stress reaction) yang biasa ditampilkan/dialami seseorang beberapa saat setelah mengalami peristiwa traumatis3) Jenis-jenis reaksi stress akibat bencana• Reaksi Fisik:▫ Tegang▫ Cepat lelah▫ Sulit tidur▫ Nyeri pada tubuh/ kepala▫ Mudah terkejut▫ Jantung berdebar-debar▫ Mual-mual dan pusing▫ Selera makan menurun▫ Gairah seksual menurun• Reaksi Emosional:▫ Shock▫ Takut▫ Marah, Berduka/ sedih▫ Merasa bersalah (karena selamat, karena sampai terluka)▫ Tidak berdaya▫ Tidak dapat merasakan apapun (tidak dapat merasakan kasih sayang,kehilangan minat melakukan kegiatan yang sebelumnya disukai)▫ Depresi (sedih yang mendalam, banyak menangis, kehilangan tujuan hidup,ingin mati, menyakiti diri)• Reaksi Kognitif▫ Kebingungan, ragu – ragu▫ Kehilangan orientasi▫ Sulit membuat keputusan▫ Khawatir▫ Tidak dapat konsentrasi▫ Lupa▫ Mengingat kembali pengalaman traumatis tersebut (mimpi buruk, flashback)▫ Tempat, waktu, bau, suara tertentu yang mengingatkan pada peristiwa traumatistersebut
  5. 5. • Reaksi Spiritual:▫ Kehilangan iman terhadap Tuhan▫ Percaya bahwa ia dikutuk Tuhan▫ Menunjukkan sinisme terhadap agama▫ Kehilangan makna hidup• Reaksi Interpersonal▫ Sulit mempercayai orang lain▫ Mudah terganggu / teriritasi▫ Tidak sabar▫ Mudah terlibat konflik▫ Menarik diri, menjauhi orang lain▫ Merasa ditolak/ ditinggalkanHasil identifikasi, selanjutnya dilaporkan oleh petugas kepada pimpinan lembaga yangberwenang memberikan bantuan. Lembaga yang berwenang kemudian memilikikewajiban melakukan verifikasi terhadap kebenaran laporan petugas identifikasi.Verifikasi dilakukan dengan cara mendatangi pihak-pihak yang memiliki hubungandengan korban bencana calon penerima bantuan, untuk mengecek kebenaran data daninformasi yang dibuat petugas identifikasi. Petugas verifikasi dapat menghubungilangsung orang-orang yang termasuk keluarga korban, saudara, kerabat atau pemukamasyarakat, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengobservasi, mencatat danmendokumentasikan bukti-bukti kebenaran data dan informasi tentang korban yangsudah dimiliki sebelumnya.2.Identifikasi dan Pengkajian Sumbera. Jenis-jenis SumberSumber-sumber merupakan semua aset yang ada di suatu masyarakat baik sumbermanusiawi, alam maupun sosial, yang dapat digali dan didayagunakan untuk menanganimasalah yang dialami korban bencana. Siporin (1975) menyebutkan setidaknya ada 5(lima) jenis sumber dalam kesejahteraan sosial, yaitu :1) Sumber internal dan eksternal.Sumber internal meliputi ; kecerdasan, imajinasi, kreativitas, sensitivitas, motivasi,keberanian, karakter moral, kekuatan fisik, keyakinan agama, pengetahuan dankemampuan khusus lainnya. Sedangkan sumber eksternal bisa meliputi; harta
  6. 6. kekayaan, prestise, pekerjaan, kerabat yang mampu/kaya, teman yang memilikipengaruh, program jaminan pensiun.2) Sumber formal dan offisial serta sumber informal dan non-offisial.Sumber formal dan offisial adalah organisasi-organisasi yang mewakili kepentinganmasyarakat (korban bencana), seperti; Pekerja Sosial Profesional, Lembaga-lembagaKonseling, dan lembaga-lembaga lain yang memberikan pelayanan sosial terhadapkorban bencana. Sedangkan sumber informal dan non-offisial seperti dukungan sosialdari kerabat, tetangga yang memberikan bantuan makanan, pakaian, tempat tinggal,uang atau dukungan moral yang diberikan selama korban bencana menghadapikesulitan. Sumber-sumber non offsial ini merupakan bagian dari sistem sumberpertolongan alamiah.3) Sumber-sumber simbolik-partikularistik dan konkrit universalistik dan exchange values.Sumber-sumber simbolik-partikularistik misalnya status dan informasi, pelayanan danbarang, cinta dan uang. Sumber-sumber konkrit mencakup sumber-sumber alamiahyang berkaitan dengan alam dan yang dihasilkan oleh alam, misalnya lahan untukberkebun, barang tambang, serta kekayaan alam lainnya. Sedangkan kategoriexchange values merupakan sesuatu yang dimiliki manusia yang memiliki nilai yangdapat dipertukarkan, seperti bakat seni, daya tahan terhadap tekanan, dan sebagainya.4) Sumber-sumber yang dapat menjadi kekuatan atau kekuasaan, seperti ilmupengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki manusia.5) Sumber-sumber berupa fasilitas, cara-cara untuk menyelesaikan tugas-tugas dan tujuanhidup, serta cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan.Sedangkan Pincus & Minahan (1973) menyebutkan ada 3 (tiga) jenis Sumber dalampekerjaan sosial, yaitu :1) Sistem Sumber Informal atau Alamiah.Sistem sumber informal atau alamiah merupakan segala bentuk dukungan, bantuan danpelayanan yang dapat digali dan dimanfaatkan dari lingkungan terdekat, sepertikeluarga, teman, kerabat ataupun tetangga. Bentuknya dapat berupa dukunganemosional, kasih sayang, perhatian, nasihat, informasi, serta bantuan-bantuan konkrit
  7. 7. seperti bantuan makanan, pakaian ataupun uang. Sistem sumber ini dapat puladijadikan jalan bagi pemanfaatan system sumber lainnya.2) Sistem Sumber FormalSistem sumber formal merupakan sistem sumber yang dapat memberikan bantuan,dukungan atau pelayanan bagi para anggotanya melalui suatu wadah organisasi yangsifatnya formal, seperti; serikat pekerja, perhimpunan orang tua yang memiliki anak-anakberkecerdasan dibawah normal, persatuan orang tua murid, maupun organisasi-organisasi professional. Keberadaan sistem sumber ini dapat pula digunakan dandimanfaatkan sebagai jalan bagi akses terhadap sumber-sumber lainnya.3) Sistem Sumber KemasyarakatanSistem sumber kemasyarakatan adalah lembaga-lembaga yang didirikan olehpemerintah maupun swasta yang memberikan pelayanan kepada semua orang,misalnya; sekolah, rumah sakit, lembaga bantuan hokum, serta badan-badan sosial bagiperawatan anak, adopsi anak, lembaga pelatihan dan penempatan tenaga kerja, tempat-tempat rekreasi, dan fasilitas social lainnya. Orang-orang umumnya terkait dengan salahsatu atau bahkan beberapa sistem sumber kemasyarakatan.b. Keterbatasan Sistem SumberKeberadaan sistem sumber tersebut di atas merupakan sesuatu yang potensial, artinyaharus digali secara efektif. Oleh karenanya para penyelenggara program bantuan bagikorban bencana diharapkan mampu menggali berbagai sistem sumber tersebut, karenadengan sistem sumber dapat membantu orang melaksanakan tugas-tugas kehidupannya,memecahkan masalah maupun memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Namunseringkali sistem sumber tersebut tidak dapat dimanfaatkan karena adanya keterbatasanatau tidak memadai.Beberapa kekurangan/kelemahan dai sistem sumber adalah sebagai berikut :1) Informal:(1) Tidak terkaitArtinya bahwa seseorang tidak terkait pada suatu sistem sumber informal, misalnyakarena tidak lagi memiliki sanak keluarga atau kerabat, baru pindah ke lingkunganbaru, belum mengenal tetangga dengan baik dan sebagainya.
  8. 8. (2) Perasaan SungkanDalam hal ini seseorang merasa enggan atau sungkan untuk meminta bantuankepada keluarga, kerabat, teman ataupun tetangga.(3) Sistem sumber informal tidak dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan olehseseorang, atau bantuan tersebut tidak efektif atau sulit diterima oleh orang yangmembutuhkan.2) Formal:(1) Organisasi-organisasi formal memang tidak terdapat di lingkungannya(2) Orang enggan atau tidak mau memasuki atau menjadi anggota suatu organisasiformal yang ada.(3) Orang mungkin tidak mengetahui adanya sistem sumber formal di lingkunganmereka.(4) Sistem sumber yang ada tidak menyediakan sumber-sumber yang dibutuhkan ataukurang mempunyai pengaruh yang dapat diberikan kepada anggotanya, serta kurangberhubungan dengan sistem sumber formal.3) Kemasyarakatan:(1) Tidak tersedia atau tersedia tetapi jumlahnya kurang memadai(2) Memadai tetapi secara geografis, psikologis dan kultural tidak dapat digunakan(3) Tidak tahu ada badan sosial atau tidak memahami cara menggunakan sumber daribadan sosial tersebut(4) Tujuan dan cara dari setiap badan sosial berbeda, sehingga membingungkan.C. PENGEMBANGAN JEJARING KERJA DALAM PENGGALIAN POTENSI DAN SUMBERKEBUTUHAN KORBAN BENCANAJejaring kerja dapat diartikan sebagai semua hubungan dengan orang atau lembaga lainyang memungkinkan pengatasan masalah dapat berjalan secara efektif dan efisien. Mediayang paling ampuh untuk membuka jejaring adalah dengan melakukan pergaulan. Olehkarena itu lembagaorganisasi yang menangani korban bencana sedapat mungkin menjalinjejaring kerja dengan berbagai organisasi/lembaga yang ada di daerahnya.Jejaring kerja yang diperlukan dalam penanganan korban bencana adalah sebagai berikut:
  9. 9. 1. Jejaring kerja antar keluarga korban bencana.Penanganan korban bencana memerlukan kegiatan-kegiatan yang bersifatpengumpulan informasi, penyadaran umum, pembentukan kelompok inti, mobilisasi, dankegiatan-kegiatan bersama lainnya. Jejaring kerja diperlukan agar kegiatan-kegiatanbersama antar keluarga korban bencana dapat dilakukan dan tercapai. Petugasberperan mendorong para korban bencana membentuk jejaring diantara mereka sendiri.Para anggota jejaring juga menentukan bagaimana mereka akan bekerja, bertemu, danmenentukan mekanisme dan proses-proses dalam jejaring tersebut.2. Jejaring kerja pelayanan kesejahteraan sosialJejaring kerja pelayanan kesejahteraan sosial ditujukan untuk memenuhi berbagaikebutuhan korban bencana. Jejaring kerja ini dikembangkan berbasis masyarakat, yaitumengembangkan jejaring diantara berbagai organisasi berbasis masyarakat sepertiPKK, orsos, dasa wisma, dan sebagainya. Jejaring kerja berbasis masyarakatmendayagunakan sistem nilai dan sumber yang ada di masyarakat itu sendiri untukmemenuhi kebutuhan para korban bencana.Jejaring kerja berbasis kelembagaan diperlukan untuk mendukung berbagai kebutuhankorban bencana yang tidak dapat dipenuhi oleh jejaring kerja berbasis masyarakat.Jejaring kerja kelembagaan mencakup organisasi pemerintah dan non pemerintah yangbergerak dibidang kesejahteraan sosial. Sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya,dinas/instansi sosial setempat merupakan simpul untuk jejaring kerja kelembagaan ini.Sebagai simpul, Dinas, Instansi Sosial mendorong dinas-dinas lainnya untuk memenuhikebutuhan korban bencana.3. Jejaring kerja pelayanan kesehatan.Jejaring kerja pelayanan kesehatan diperlukan dalam penanganan korban bencana.Jejaring pelayanan kesehatan ditujukan untuk membantu para korban bencanamengakses pelayanan kesehatan secara lebih mudah. Jejaring ini bertumpu padalembaga pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Petugas dapatberperan sebagai advokat sosial yang mendorong diberlakukannya peraturan RumahSakit yang lebih dapat menerima keluarga-keluarga korban bencana yang bermasalahsecara lebih terbuka.
  10. 10. 4. Jejaring kerja dunia usahaDunia Usaha berperan penting dalam mendukung penanganan korban bencana,berupa:a. Membentuk jejaring perusahaan yang berkomitmen untukmembantu mengatasi permasalahan yang dialami korban bencana;b. Menciptakan mekanisme pembelajaran bagi perusahaanmelalui workshop dan berbagai event terkait dengan permasalahan yang dialamikorban bencana;c. Memfasilitasi Public-Private Partnership antara perusahaandan pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung penanganan korbanbencana.5. Jejaring kerja dunia pendidikan.Dunia pendidikan berperan sentral dalam penanganan korban bencana. Lembaga-lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab moral dalam menggali danmengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung penanganan korbanbencana. Petugas dapat berperan sebagai pendidik sosial yang memperkuatpengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam penanganan korban bencana.6. Jejaring kerja media massa.Fungsi Pers: sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial, lembagaekonomi. Pers dengan fungsi informasi, edukasi dan kontrol sosial, selayaknyamenyampaikan hal-hal yang bersifat promotif dan preventif dalam penanganan korbanbencana.____________________________Referensi:Cohen,E Raquel and Frederick L Ahearn. 1980. Mental Health Care for Disaster Victims. TheJohns Hopkins University PressPincus, A. and A.Minahan.1973.Social Work Practice : Model and Method. Itasca Illionis: F.E.Peacock Publishers.IncSri Rahayu Astuti.2009. Dampak Psikologis dari Bencana. Fakultas Psikologi UNPAD
  11. 11. Zastrow, Charles.1982. Introduction to Social Welfare Institutions : Social Problem, Servicesand Current Issues. Illionis : The Dorsey Press.Buku-buku Lainnya :Anonim. 2001. Buku Pegangan Kedaruratan. Jakarta : UNHCR______. 2001. Prinsip-prinsip Panduan Bagi Pengungsian Internal. Jakarta : UN-OCHA______. 2000. Proyek Sphere : Piagam Kemanusiaan dan Standar-standar Minimum dalamPenanggulangan Bencana. Jakarta : Oxfam Publishing.*) Tukino, dilahirkan di Ciamis, 13 Desember 1959. Menyelesaikan pendidikan S-1 di FISIP – Jurusan KesejahteraanSosial Universitas Padjadjaran Bandung tahun 1985, S-2 Psikologi Perkembangan di Unpad Bandung tahun2000, dan S3 Ilmu Sosial-Ilmu Komunikasi di Unpad Bandung tahun 2008. Penulis adalah staf pengajar padaSekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Sekretaris Forum Perguruan Tinggi untuk PenguranganRisiko Bencana (FPT PRB) dan aktif di Pusat Kajian Bencana dan Pengungsi (PUSKASI) STKS.
  12. 12. Lampiran 1Format PendataanNo Nama L/ P UsiaAlamatTempatTinggalKondisi KorbanBencana1 2 3 4 5 6Dst.....................,...................Petugas Pendataan______________Petunjuk Pengisian :• Kolom 1 berisi nomor urut yang keseluruhannya berfungsi untuk mengetahui jumlah korbanbencana yang dicatat.• Kolom 2 berisi nama korban yang diupayakan sebisa mungkin lengkap keterkaitannyadengan nama orangtua. Misalnya A bin B atau C binti D.• Kolom 3 berisi keterangan tentang jenis kelamin apakah laki-laki (L) atau perempuan (P).• Kolom 4 berisi keterangan tentang usia• Kolom 5 berisi keterangan tentang alamat korban yang sebisa mungkin lengkap dengannama jalan, nomor rumah, RT/RW, Kelurahan/ Desa, Kecamatan dan Kota/ Kabupaten.• Kolom 6 berisi kondisi korban bencana (misal; luka berat, luka ringan, PTSD, dll).
  13. 13. Lampiran 2Format Identifikasi• Nama korban : .........................................................• Jenis Kelamin : .........................................................• Umur/ tempat dan tgl. Lahir : .........................................................• Agama : .........................................................• Alamat : .........................................................• Status Korban : Kawin/Belum Kawin/Janda/Duda *)• Kondisi Korban : Luka ringan/ lukat sedang/luka berat *)• Pendidikan : ............................................................• Pekerjaan : ............................................................• Penghasilan per bulan : ............................................................• Latar Belakang Keluarga*) :No Nama L/P UsiaHubunganKeluargaPendidikan Pekerjaan Keterangan1 2 3 4 5 6 7 8Dst• Riwayat singkat kondisi korban bencanaPada bagian ini petugas bisa memaparkan secara singkat (1) kondisi korban, seperti mengalamicacat karena bencana gempa, banjir, tanah longsor, dan lain-lain; (2) ciri-ciri masalah korban,misalnya korban dalam keadaan luka ringan, sedang atau berat seperti kehilangan sebelahtangan, kaki, hilang ingatan, dan lain-lain; (3) lokasi mengalami luka-luka, misalnya korbanmengalami luka berat di tempat kejadian bencana, luka berat di tempat penampungan, cacatsetelah diamputasi di rumah sakit, dan lain-lain.• Rekomendasi petugasPetugas identifikasi dapat merekomendasikan bantuan bagi korban atau keluarganya yang palingbertanggungjawab terhadap kelangsungan keluarga korban tersebut.*) penerima bantuan ketika korban tidak dapat berkomunikasi karena mengalami gangguanmental.…………….., ……………… ...…(tempat), (tanggal, bulan, tahun)Petugas Identifikasi,__________________________Nama lengkap dan tanda tangan
  14. 14. *) coret yang tidak perlu

×