Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Memoar_Quraish_Shihab_MBM_20150712

411 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Memoar_Quraish_Shihab_MBM_20150712

  1. 1. RAMBUTNYAdisisirkelimiskekanan.Iatampakber- beda dengan sosoknya saat tampil di layar kaca. Sore itu, di rumahnya di kawasan Cilandak Timur, Jakar- ta Selatan, Muhammad Quraish Shihab, 71 tahun, me- ngenakan kemeja cokelat, terlihat lebih besar. ”Kame- ra televisinya itu yang salah,” kata Quraish terkekeh. Jangan tertipu oleh gaya serius dia di televisi. Tema pembuka obrolan: sepak bola. ”Walau tanpa Neymar (kapten Brasil), Brasil menang 2-1 (melawan Venezue- la dalam Copa America 2015),” ujarnya Senin dua pe- kan lalu. Quraish penggemar berat Brasil. Wartawan Tempo Heru Triyono dan fotografer Nur- diansyah kemudian memintanya menceritakan per- jalanan hidup awalnya. Rayuan pertama gagal de- ngan alasan ia tidak suka berkisah tentang diri sen- diri. Bahkan ia bertanya, ”Rubrik Memoar bukannya untuk orang yang sudah meninggal?” Demikian can- danya. Quraish Shihab sampai kini telah menulis sekitar 30 judul buku, termasuk Tafsir al-Misbah, yang terdi- riatas15volumedandiakerjakandalamempattahun. Di luar itu, ia pernah menerima amanah di beberapa posisijabatan.MengajarlalumenjadirektordiUniver- sitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia, Menteri Agama, hingga duta besar. Beberapa kali Quraish tersandung kontroversi. Dia dituding sebagai penganut Syiah, juga pernah diang- gap melecehkan Nabi Muhammad. Bukan hanya itu, dia sempat membuat gusar banyak muslim konserva- tif karena pandangannya tentang jilbab. Kepada Tem- po, Quraish berbicara panjang-lebar tentang masa ke- cil, keluarga, pemikiran, sepak bola, sampai hubung- an dekatnya dengan presiden kedua Soeharto. PERJALANAN SANG AHLI TAFSIR KONTEMPORER MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
  2. 2. TEMPO/NURDIANSYAH
  3. 3. RUANG tamu beratap tinggi itu dihiasi satu set meja-kursi berwarna emas. Yang mencolokadalahbingkaifotokeluargaukur- an 1,5 x 1 meter yang terpajang di dinding. Quraish Shihab terlihat bersama istri (Fat- mawati), anak, dan cucu. Kata Quraish, foto itu dibuat lima tahun lalu. Quraish memiliki lima anak. Empat wanita dan satu pria. Se- muanamaputrinyadiawalidenganhurufN, yakni Najla, Najwa, Naswa, dan Nahla. Se- dangkanyangputradiberinamaAhmad. Kenapa N? Menurut Quraish, karena Tu- han bersumpah di Al-Quran tentang budi pekerti Nabi Muhammad dengan huruf N. ”Nuun, wal qolami wa maa yasthuruun,” katanya. N, demi pena dan segala sesuatu yangdituliskannya.DikosakataArab,iame- nambahkan, N melambangkan hal positif. Misalnya Naswa, yang tafsirnya berarti ke- gembiraan. Ketertarikan Quraish terhadap tafsir Al- Quran memang wajar. Sejak kecil ia dididik dengan Al-Quran karena ayahnya, Abdur- rahman Shihab, adalah pakar Al-Quran dan tafsir.IamengikutipengajianAl-Quranyang diadakan ayahnya. Selain menyuruh Qura- ish giat membaca Al-Quran, ayahnya meng- uraikan kisah-kisah dalam Al-Quran. Dari situlah benih ketertarikan Quraish kepada Al-Qurantumbuh. S AYA terlahir dengan nama Muhammad Quraish Shihab di Lotassalo, Rappang, Ka- bupatenSidenrengRappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Dalam bahasa Arab, qura- ish berarti ikan hiu kecil. Rappang adalah kampung ibu saya. Namanya Asma Aburi- sy. Saya memanggilnya Emma (panggilan dalam dialek Bugis karena sang ibu orang Bugis). Meski hanya lima tahun di sana, saya tak bisa melupakan Rappang, khususnya Su- ngai Salo Karaja. Sungai itu dekat rumah orang tua, tempat masyarakat mandi dan mencuci baju. Pernah ketika sedang ikut Zahrah, nenek saya, mencuci pakaian di pinggir sungai, saya terpeleset dan terse- ret arus. Beruntung seorang ibu menyela- matkan saya. Airnya begitu deras. Kejadi- an tersebut saya masih ingat, meski ketika itu masih berusia empat tahun. Saat kecil, saya dipanggil Bang Odes. Alasannya, lidah saya cadel untuk menye- but nama sendiri: Quraish, tapi jadi terde- ngar Odes. Ayah (Abdurrah- man Shihab) dan kakak-ka- kak panggil saya Quraish, tapi para adik memanggil Abang Odes, sampai sekarang. Saya adalah anak keempat dari 12 bersaudara. Setelah kelahiran Alwi Shi- hab (adik saya), Ayah memba- wa keluarga ke Makassar, di Jalan Sulawesi. Di kota ini bis- nis Ayah semakin maju, de- ngan memiliki toko bernama Toko Raya. Di toko ini, Ayah menjual batik dan barang ke- butuhan rumah tangga atau apa saja. Umar Shihab, kakak, dan saya berbagi tugas menjaga toko. Namanya remaja, saya kadang nakal. Saya suka diam-diam me- nontonfilmdibioskop,yangtidakjauhdari toko. Saya mengatur strategi dengan Umar. KetikaUmarmenjagatoko,sayadiam-diam menonton film. Demikian sebaliknya. Kalau minta izin nonton ke orang tua be- lum tentu dikasih. Apalagi nonton itu perlu duit. Zaman dulu nonton masih hitungan perak, sebelum 1950. DALAM buku Cahaya, Cin- ta dan Canda: Sisi Lain M. Qu- raish Shihab disebutkanbahwa Quraish gemar menonton film. Selain menyenangi film yang di- bintangi aktor P.Ramlee, iame- nyukai film India. Film-film ini diputardibioskop”Indonesia”. Suatu hari, gedung bioskop yang berjarak 15 menit dari ru- mahnya itu terbakar. Panik bi- oskop kesayangannya terbakar, Quraish spontan berteriak sambil berlari di jalan raya, ”Hancur Indonesia! Hancur Indone- sia!”Wargayangtakmengetahuiduduksoal- nyapunterheran-heran. Pada masa itu P. Ramlee, aktor dan mu- sikus Malaysia, jadi pujaan banyak orang, termasuk saya. Karena sangat mengido- 1. QURAISH SHIHAB (KIRI) DAN ALWI SHIHAB DI ASRAMA DI MESIR. 2. QURASIH SHIHAB (KETIGA DARI KIRI) BERSAMA KELUARGA BESAR ABDURRAHMAN SHIHAB. DOK.PRIBADI ( 1 ) 50 | | 12 JULI 2015
  4. 4. ingin tampil apa adanya. Tidak usah mem- buat imitasi, apalagi pakai lipstik segala di televisi. Sikapmoderasisayaberasaldarididikan Aba, yang menekankan pentingnya men- cari titik temu. Bukan hanya antarkelom- pok umat Islam, melainkan juga dengan nonmuslim. Sahabat Aba beragam. Malah ada orang Cina yang sering ke rumah bela- jar bahasa Arab. Saya pun selalu konsisten berada di te- ngah, dan memilih organisasi yang lebih menyatukan umat. Saya bukan Nahdla- tul Ulama, Muhammadiyah, Sunni, atau Syiah. Saya pilih menjadi pengurus Maje- lis Ulama Indonesia, juga Ikatan Cendekia- wan Muslim Indonesia (ICMI). Aba kerap menyampaikan pentingnya meraih pendidikan tinggi. Saya didoktrin untuk meraih gelar doktor ketika masih di sekolah menengah pertama. Pilihan saya memilih bidang tafsir juga tak lepas dari petuah-petuah yang dita- namkan Aba. Saya selalu ingat pesan dia saat pengajian bakda salat magrib. Dia me- ngatakan, ”Rasakan keagungan Al-Quran sebelum engkau menyentuhnya dengan nalarmu.” Saya sendiri begitu senang merantau ke Malang untuk masuk Pesantren Dar al-Ha- DOK.PRIBADI lakannya, saya pernah meniru gaya ram- but ikalnya. Bahkan, sewaktu sekolah da- sar, saya pernah ikut lomba menyanyi lagu P. Ramlee, tapi tidak jadi juara. Selain Ram- lee, penyanyi favorit saya adalah Ummu Kultsum (penyanyi Mesir). Dari hobi menyanyi itu, saya pun diang- gap sebagai penghibur di keluarga. Dalam setiap acara kumpul keluarga, saya selalu menguasai mikrofon untuk bernyanyi. Meskipenuhkeceriaan,keluargasayadi- didikdisiplinolehEmmadanAba—panggil- anuntukayahsaya.Setiapanakwajibmen- cucipakaiandanmenyetrikasendiri.Kami diberi tugas harian membersihkan rumah. Saya kebagian tugas mengepel lantai. Pernah saya ketahuan bolos sekolah. Emma menghukum saya. Saya disuruh berdiri di meja, dengan satu kaki diangkat. Tangan kanan saya digantung pada ikat- an kain. Ketika itu, hampir setiap rumah di Makassar terdapat kain yang digantung di langit-langit untuk ayunan bayi. Emmamemangsangatbersihdandetail, bahkansampaisayasudahmenikah.Kalau datang ke rumah, Emma akan melakukan inspeksi ke kolong-kolong bangku untuk melihat berdebu atau tidak. Emma yang membentuk saya jadi lelaki apa adanya. Saya dilarang berutang, uang ataupun barang. Efeknya, setiap membe- ri tausiah, ada syarat dari saya, saya tidak mau mengenakan baju sponsor. Apa un- tungnya? Kalaupun iya, saya akan memin- ta baju itu sebagai hak milik, untuk kemu- dian saya kasih ke orang lain. Saya cuma ”SAYA BERKEYAKINAN TUHAN TIDAK BERTANYA ͦ + ͦ BERAPA. YANG TUHAN TANYA ADALAH ͪ ITU BERAPA TAMBAH BERAPA. JADI, KALAU SAYA BERKATA ͪ, BISA JADI ITU PENJUMLAHAN DARI BILANGAN ͩ + ͣ, ATAU BISA JUGA DARI ͨ + ͤ, JADI SEMUANYA SAMA.” ( 2 ) 12 JULI 2015 | | 51 MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
  5. 5. dits al-Faqihiyah. Sejak itu, bakat menyanyisayahilangkarenater- sihir sosok karismatis Habib Ab- dul Qadir Bilfaqih—ahli hadis se- kaligus pemimpin pesantren— yang mengajari saya banyak ten- tang Al-Quran. DALAM buku Cahaya, Cinta dan Canda: Sisi Lain M. Quraish Shihabdiketahui,meskipun mon- dok sambil sekolah, dengan cepat Quraish menguasai beragam ma- teri pelajaran pesantren. Tahun pertama di Al-Faqihiyah, ia su- dah hafal lebih dari seribu hadis. Quraish tidak hanya rajin menca- tat,tapijugamampumenjelaskan kandungan kitab-kitab kuning yangdipelajarinya. Merujuk pada kandungan ki- tab kuning yang usianya sudah berabad abad itu, Quraish piawai memberi contoh dan analogi yang selaras dengan konteks kekinian. Karenaitulahiataksekadarmem- peroleh hak istimewa sekolah di luar pesantren. Ia pun kerap di- ajak Habib mendampinginya ber- dakwah di luar lingkungan Al-Fa- qihiyah.Quraishhanyaduatahun nyantridiAl-Faqihiyah. DEMI meraih pendidikan tinggi, saya tak pernah dihambat Aba pergi ke luar kota, bahkan luar negeri. Alwi justru lebih dulu nyantri di Pesantren Dar an-Nasyi’in, Lawang, Malang, saat usianya belum 9 ta- hun. Setelah dua tahun mondok sekaligus melanjutkan pendidikan SMP di Malang, saya merantau ke Mesir bersama Alwi pada November 1958. Usia saya masih 14 dan Alwi 12 tahun. Setelah9tahundirantauorang,sayame- raih sarjana tafsir dan hadis. Alhamdulil- lah, hanya dua tahun saya sudah meraih gelar masterofarts (MA) pada jurusan yang sama. Pada 1980, saya kembali ke Mesir untuk memenuhi doktrin Aba meraih gelar dok- torbidangilmuAl-Quran.Titelitubisasaya raih dalam waktu dua tahun, dengan nilai summacumlaude. Mesir membekali saya dengan apa yang dinamakan dengan wasathiyyah (modera- si). Saya beranggapan bahwa perbedaan itu lumrah. Saya rasa tidak apa-apa kalau kita berbeda. Saya ber- keyakinanTuhantidak bertanya 4 + 4 berapa? Yang Tuhan tanya ada- lah 8 itu berapa tam- bah berapa? Jadi, ka- lau saya berkata 8, bisa jadi itu penjumlahan dari bilangan 7 + 1, atau bisa juga dari 6 + 2, se- muanya sama. Jadi kita menghormati semua pendapat, tapi bukan berarti kita menerima pendapat itu. Sama halnya dengan berjilbab. Karena pandangan ini saya dikritik. Saya berang- gapan jilbab baik, tapi jangan paksakan orang mengenakan jilbab, karena ada ula- ma yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib. Memang semua ulama berpendapat menutup aurat itu hukumnya wajib. Tapi mereka berbeda pendapat tentang batas- an aurat itu. UNTUK menegaskan pendapatnya, Qu- raish menulis buku Jilbab, Pakaian Wani- ta Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendekiawan Kon- temporer, yang diterbitkan Lente- ra Hati pada 2004. Ia merasa per- lu menulis buku itu karena masih banyak yang salah paham terha- dappandangannyaseputarjilbab. SAMPAI saat ini saya berpen- dapat yang tak berjilbab tapi ber- pakaian terhormat belum tentu salah. Tapi, kalau mau dijamin, pakailah jilbab. Tapi jangan ang- gap wanita tak berjilbab itu bu- kan muslimah. Bukan soal jilbab saja saya dikritik. Tudingan Syiah terha- dap saya juga deras. Saya kata- kan terhadap pihak yang me- nuduh itu untuk menunjukkan bukti dari buku-buku saya, kalau terbuktisayaSyiah,silakanambil royaltinya. Secara simbol, mudah meli- hat tanda Syiah atau bukan. Lihat saja,sewaktusayaberibadahhaji, apakah saya naik bus mengguna- kan atap terbuka seperti yang di- lakukan jemaah haji Syiah. Kalau saya salat, apakah menggunakan batu Karbala di tempat sujud? Ka- lau saya berbuka puasa, apakah menundanya 10-15 menit seperti orang Syiah? Saya mengira dugaan orang menilai saya Syiah disebabkan oleh sejumlah ceramah atau kar- ya tulis saya yang kentara menya- takan cinta saya ke keluarga Nabi Muhammad dan keturunannya dari Fathimah dan Ali bin Abi Thalib. Saya memang cinta Ahlul Bait karena saya punya hubung- an darah dengan mereka, jadi cinta saya berlipat. DALAM buku Cahaya, Cinta dan Can- da: Sisi Lain M. Quraish Shihab disebutkan bahwa Quraish tak tahu kapan persisnya tu- dingan Syiah muncul pertama kali. Seingat dia, cap Syiah mulai berembus ketika ia me- luncurkan edisi percobaan Ensiklopedia Al- Qur’an pada 1997. Quraishlah yang mengga- gas sekaligus memimpin penyusunannya se- jak 1992, melibatkan puluhan dosen dan ma- hasiswa pascasarjana Universitas Islam Ne- geriJakarta. DOK.PRIBADI QURAISH SHIHAB (KANAN) DAN ALWI SHIHAB (KIRI) BERSAMA KEDUA ORANG TUANYA DI KAIRO. 52 | | 12 JULI 2015 MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
  6. 6. 54 | | 12 JULI 2015 SOAL SOEHARTOIS DAN JABATAN MENTERI QURAISH SHIHAB (KANAN), SOEHARTO, DAN FATMAWATI SHIHAB. ”Meski dekat, saya tidak mau disebut sebagai sahabatnya. Saya hanya salah seorang warga negara yang jelas menikmati sebagian perjuangan Pak Harto. Dia memang bukan orang suci, tapi semua orang tidak lepas dari kesalahan.” KEDATANGAN Bacharuddin Jusuf Ha- bibie tidak diketahui wartawan yang sejak sore berjaga di pintu masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, 15 Janua- ri 2008. Pukul 21.30, Habibie ke luar ruang- andanmemberipernyataanpers.”Sayadan istri datang langsung dari Jerman, menuju RSPPuntukmenjengukPakHarto.” Habibie mengaku bersama anak-anak Soeharto memanjatkan doa di ruangan se- belah Soeharto dirawat. Itu yang tergambar dalam buku Mereka Mengkhianati Saya (Si- kap Anak-Anak Emas Soeharto di Penghu- jung Orde Baru). Pengakuan Habibie berbeda dengan pen- jelasantimdokterkepresidenandanQuraish Shihab.QuraishmengatakanHabibiedanis- triberdoadikamaryangberbedadenganka- maranak-anakSoehartoberada.”Sayasam- paikan ke Pak Habibie, lebih baik jangan me- nemui Pak Harto karena kondisinya tidak stabil,”kataQuraishmengenang. Quraish memang mendampingi hari-hari terakhirSoeharto.Iamulaidekatdengannya sejak Siti Hartinah alias Tien Soeharto me- ninggal pada April 1996. Hampir saban ma- lam, setelah memberi ceramah di Jalan Cen- dana, ia menemui sang Presiden. Sejak itu, Quraish dianggap sebagai guru spiritual Soeharto—kemudian dicap Soehartois, bah- kanpenjilat. S AYA mengenal Pak Harto sebelum Ibu Tien wafat. Ke- tika itu saya adalah anggo- ta MPR (Majelis Permusya- waratan Rakyat), yang me- wakili utusan golongan dari ulama—bersamaMuntahaAlHafiz,jugaKH Zainuddin M.Z. Di MPR, saya sudah kenal Bambang (Tri- hatmodjo) dan Tutut (Siti Hardijanti Ruk- mana). Utusan golongan itu berafiliasi de- ngan Golongan Karya, sehingga saya se- ring berkomunikasi dengan mereka. Saya beberapa kali diundang menjadi DOK.PRIBADI
  7. 7. 12 JULI 2015 | | 55 MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TEMPO/IMAMSUKAMTO penceramah di pengajian rutin yang dige- lar istri Bambang, Halimah, dan menjadi pembimbing biro perjalanan umrah dan haji milik mereka. Lewat Bambang, saya jadi kenal Pak Harto. Pak Harto yang saya kenal itu adalah orang Jawa yang bijak. Kalau menjamu ma- kan, dia seperti bukan lagi jadi presiden, justru dia yang melayani. Saya kenal Pak Harto dari dalam (menunjuk dada), ketika dia di dalam rumah dan memakai sarung, bukan sebagai presiden. Meski dekat, saya tidak mau disebut se- bagai sahabatnya. Saya hanya salah se- orang warga negara yang jelas menikmati sebagian perjuangan Pak Harto. Sebagai muslim, saya merasa terselamatkan dari komunis, yang ditumpas Pak Harto. Dalam sebuah obrolan di Cendana, saya pernah bertanya kepada Pak Harto ten- tang apa yang menyebabkan dia memutus- kan mengambil alih komando setelah Pe- ristiwa G-30-S. Saat itu dia tersenyum, dan menjawab spontan ndilalah (arti ndilalah secara umum adalah memahami sesuatu atas sesuatu). Pak Harto bilang ada dorongan yang be- gitu kuat dari dalam hati untuk melakukan itu. Ia juga tidak mengetahui benar bagai- mana kemudian bisa muncul ke permuka- an. Saya anggap itu adalah dorongan dari Tuhan kepada Pak Harto untuk menyela- matkan bangsa. Ketika itu kami mengobrol sambil duduk bersila, setelah pengajian. Pertanyaan itu tidak membuatnya terke- jut, apalagi marah. Saya tidak pernah meli- hat dia marah, tapi jarang juga saya dengar dia tertawa, sering kali hanya tersenyum. Dari apa yang saya pahami, Pak Harto adalah orang yang berjasa untuk Indone- sia. Ia bisa menumpas komunis, kemudi- an juga membangun seribu masjid. Dia me- mang bukan orang suci, tapi semua orang tidak lepas dari kesalahan. Begitu juga Ibu Tien. DALAM ceramah di acara peringatan 40 hari wafatnya Ibu Tien, Quraish mengung- kapkan kebaikan dan jasa almarhumah, termasuk mendirikan Taman Mini Indone- sia Indah, Rumah Sakit Dharmais, dan Per- pustakaan Nasional. Quraish mengatakan kebaikan itu bisa mengantar almarhumah kesurga. Pernyataan itu oleh sebagian kalangan di- anggap berlebihan, dan banyak yang meni- laiQuraishtengahmenjilat.SaatituPemilih- an Umum 1997 tinggal berbilang bulan dan suhu politik memanas (buku Cahaya, Cinta dan Canda: Sisi Lain M. Quraish Shihab). KETIKA peringatan malam ke-40 wa- fatnya Ibu Tien, saya bertanya kepada Pak Harto perlunya menuliskan isi ceramah atau tidak. Pak Harto justru bilang tidak usah, bicara saja apa adanya. Pak Harto mungkin sudah percaya saya, setelah me- nyimak isi ceramah saya beberapa kali. Apa yang kemudian saya sampaikan da- lam acara itu merupakan hadis Nabi. Tentu motif saya adalah ingin menghibur keluar- ganya. Nabi mengajarkan agar kita menye- but kebaikan yang wafat. Dalam konteks Ibu Tien, siapa pun tahu jasanya. Saya cukup heran kenapa orang selalu punya persepsi bahwa orang yang dekat dengan Cendana atau Pak Harto itu men- jilat. Tapi saya tidak peduli, dan demi Tu- han kedekatan itu tidak pernah saya guna- kan untuk mendapatkan jabatan. Saya ja- min saya tidak mendapat sepeser pun dari Pak Harto. Kalau orang bilang saya sabar jika ditu- duh Soehartois atau penjilat, sebenarnya tidak juga. Saya bisa juga marah. Tapi lebih baik tanya ke Ibu (Fatmawati), saya sering marah atau tidak, he-he-he.... Seandainya saya kembali pada waktu itu dan diberi ke- sempatan berubah, saya akan memilih ja- lan saya ini (menjadi ulama saja). Mungkin saya menjadi Menteri Agama itu sudah suratan takdir. Saya sendiri tidak pernah bermimpi jadi menteri. Malah ter- kejut ketika ditelepon Pak Harto. Telepon itu tidak lebih dari lima menit. Awalnya saya tolak, tapi tidak bisa karena Pak Har- to tetap meminta. Sebagai menteri di pengujung kekuasa- an Pak Harto, saya berperan sebagai peng- hubung antara Presiden dan tokoh mus- lim, seperti Nurcholish Madjid, Abdurrah- man Wahid, dan Emha Ainun Nadjib, yang dengan derasnya menuntut mundur Pak Harto. Ketika itu Pak Harto sempat mena- warkan reshuffle kabinet dan membentuk komite reformasi, tapi ditolak. Pak Harto ingin menunjuk Cak Nur se- bagai ketua komite reformasi. Dia memin- ta saya untuk membujuk Cak Nur, tapi Cak Nur merasa tidak enak menerima amanah itu karena masyarakat menuntut Pak Har- to mundur. PADA 20 Mei 1998, Soeharto menerima suratdaripimpinanDewanPerwakilanRak- yat. Isinya hasil kesepakatan pimpinan DPR QURAISH SHIHAB (KIRI), B.J. HABIBIE DAN ASRI AINUN HABIBIE SETELAH MENJENGUK SOEHARTO DI RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA, JAKARTA, 15 JANUARI 2008.
  8. 8. 56 | | 12 JULI 2015 dengan pimpinan demonstran, menyatakan agar Presiden Soe- hartomengundurkandiriselam- batnyahariJumat,22Mei.Kalau sampai hari itu tidak juga mun- dur, pimpinan DPR/MPR akan menggelar Sidang Istimewa pada 25 Mei. Ini adalah surat ke- dua dari pimpinan Dewan yang terang-terangan meminta Soe- hartomundur. Soeharto sendiri sebenar- nya masih berharap Nurcholish Madjid bersedia memimpin Ko- mite Reformasi. Tapi, pada pu- kul 20.00 WIB, Nurcholish dihu- bungi Menteri Agama Quraish Shihab dan telah memberikan kepastian tidak bersedia. Qura- ish lalu menghubungi Presiden Soeharto dan memberitahukan hal itu. Soeharto kemudian ber- ujar kepada Quraish, ”Ya sudah, saya akan mundur saja.” ”Meng- apa?”tanyaQuraish.”KalauCak Nur saja yang moderat sudah ti- dak mau, tak ada pilihan lain ke- cualisayamundur,”ujarSoehar- to (buku Krisis Masa Kini dan Orde Baru). Pak Harto tidak marah ka- rena saya tidak bisa membu- juk Cak Nur. Sikap Pak Harto itu, menurut saya, jadi pelajaran bagi para pemimpin di Timur Tengah—untuk lego- wo mundur jika masyarakat sudah tidak menginginkan. Setelah lengser, Pak Harto banyak berbi- cara tentang ibadah dan masjid. Saya meli- hat religiositas Pak Harto semakin kental. Hampir setiap pagi, sebelum subuh, Pak Harto bangun untuk salat tahajud. Tidak ada canda. Kalaupun ada, porsinya amat sedikit. Saat itu saya merasa terpanggil untuk te- tap mendampinginya. Sekali lagi, saya ti- dak peduli orang akan mencap saya Soe- hartois. Itu sekaligus membuktikan bah- wa saya tak berharap keuntungan apa-apa. Pada akhirnya, saya pun bersyukur hanya menjabat Menteri Agama dua bulan. Ka- lau sampai setahun, saya mungkin korup- si juga, ha-ha-ha.... Menjadi menteri juga menjadi jalan saya untuk bisa produktif dalam menulis. Ini adalah jalan Tuhan agar saya bisa menjadi duta besar di Me- sir, kemudian menulis (Taf- sir al-Misbah). Kalau saya tidak jadi menteri, Pak Habibie tidak akan mengangkat saya jadi du- bes saat itu, walaupun awalnya saya tolak. Saya katakan ke Pak Habibie bahwa saya bukan diplomat. Tapi beliau bilang diplomat itu tidak bisa jadi guru besar, tapi guru besar bisa jadi diplomat. Sebenarnya saya tidak ingin berangkat karena tidak ingin meninggalkan Pak Harto. Saya melihat hampir semua teman- nya meninggalkan dia, itu amat tidak etis. Saya kemudian bercerita ke- pada Pak Harto soal pengang- katan saya jadi dubes. Pak Har- to malah bilang saya harus be- rangkat. Dia malah mengata- kan jangan pernah membangkang terha- dap pimpinan. Dan saya pun berangkat. Padahari-hariterakhirnya,PakHartote- russayadampingi.Sayalihatdiaikhlasdan siap menghadapi kematian. Malah jauh- jauh hari Pak Harto sudah berpesan ten- tang mekanisme penguburannya. Bila wa- fat sebelum zuhur, ia minta jenazahnya di- terbangkan ke Astana Giribangun hari itu juga.Namun,jikaberpulangsetelahzuhur, Pak Harto meminta jasadnya diinapkan le- bih dulu di Jalan Cendana. Tidak ada pesan terakhir Soeharto ke- pada saya. Pada saat-saat ajal menjemput, beliau sudah susah bicara. Tidak semua orang bisa masuk ruangan. Saya salah se- orang yang diizinkan masuk. Jika sadar, ia akan menjabat tangan dan mengangguk. MINGGU, 27 Januari 2008, Soeharto wa- fat sesudah waktu zuhur dan jenazahnya diinapkan di kediamannya, Jalan Cenda- na—sebelum diberangkatkan ke Astana Gi- ”KALAU ORANG BILANG SAYA SABAR JIKA DITUDUH SOEHARTOIS ATAU PENJILAT, SEBENARNYA TIDAK JUGA. SAYA BISA JUGA MARAH. TAPI LEBIH BAIK TANYA KE IBU ȍFATMAWATIȎ, SAYA SERING MARAH ATAU TIDAK, HEǧHEǧHE....” QURAISH SHIHAB DALAM ACARA SARASEHAN IMAN DAN ILMU, JAKARTA, 1988. DOK.TEMPO/RINIPRAPTIW.ISMAIL
  9. 9. 12 JULI 2015 | | 57 MUHAMMAD QURAISH SHIHAB DALAM buku Cahaya, Cinta dan Canda: Sisi Lain M. Quraish Shihabdisebutkanbah- wa Quraish bersama rombongan pemuda SulawesiyangdikirimGubernurAndiPange- ran menuntut ilmu agama ke Mesir. Selain Quraish dan Alwi, ada Musytari Yusuf, Haf- sahIntan,TitinKahar,Muzakkar,danpemu- dalain. D I Mesir saya masuk seko- lah Al-Azhar. Saya diteri- ma di kelas II i’dadiyah, setara dengan sekolah menengah pertama atau tsanawiyah di Indonesia. Saya tinggal di asrama Madinah al-Bu’uts, yang banyak dihuni pelajar luar negeri. Pe- lajarlokalbermukimdiMa’hadal-Qahirah. Tiappelajarmenempatikamarmasing-ma- sing, tapi tanpa pintu. Kalau libur, saya suka mengunjungi klub Himpunan Pemuda Pelajar Indonesia (HPPI) di Bab al-Luq. Di situ saya bertemu dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), penggerak organisasi mahasiswa Indone- sia.SayapunakhirnyaaktifdiHPPI,meme- gang bidang olahraga. Di Mesir, saya mulai aktif bermain bola. Saya tidak tahu darah olahraga ini turun dari Aba atau Emma. Sebab, saya tidak per- nah melihat Aba berolahraga. Paling jalan kaki jauh sekali, dari rumah ke kantor. Dengan Alwi, saya gagas klub bola ber- namaBu’uts.Pemainnyapenghuniasrama Madinah al-Bu’uts. Di klub ini, ada juga Gus Mus (Achmad Mustofa Bisri) dan Abdullah Syukri Zarkasyi (kini pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor). Tidak hanya di Bu’uts, saya juga terdaf- tar di tim junior Zamalek, klub berjulukan Benteng Sungai Nil. Hingga kini, Zama- lek menjadi klub yang bersaing dengan Al- Ahly di Liga Mesir, seperti persaingan Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol. Saya tidak ikut akademi sekolah bola- nya di Zamalek. Saya cuma tercatat di klub. Saya tidak sanggup membagi waktu anta- ra sekolah dan bola. Latihan pun bukan de- ngan tim utama, melainkan dengan yang sebaya. Namun, saat latihan, saya bisa me- lihat pemain favorit saya berlatih. Di anta- ranya striker Ali Muhsin asal Yaman. Di Zamalek Junior, saya bermain di posi- si bek. Karakter saya amat lugas. Saya diju- luki kereta, yang kalau lari begitu kencang tapi terkadang tidak bisa menahan lari, se- hingga menabrak lawan. Pokoknya tak ada kompromi.Penyakitpunggungsayamung- kin berawal dari kerasnya permainan saya di lapangan. Dokter yang memeriksa saya menduga penyakit punggung itu karena dulu saya kerap jatuh dan berbenturan. Saya ingat, saat ulang tahun, Zama- lek mengundang klub pujaan saya, Real Madrid. Tentu saja saya senang. Siapa pun tahu Alfredo Di Stéfano, pemain terbaik dunia1957dan1959,bermaindisana.Jauh- jauh hari saya menyisihkan uang untuk ti- ketyangharganya5poundsterling,semen- tara uang beasiswa saya hanya 7 pound sterling. Saya harus mengatur uang seca- ra ketat. Apalagi saya hidup di Mesir tanpa biaya dari orang tua. Strateginya ketika itu adalah diet. Jadi, jika saya makan roti yang berisi gula, sepa- ruhnyasayamakansaatsiang,sisanyasaya simpan untuk makan malam. Sayangnya, roti murah itu cepat keras. Maka, sebelum roti dimakan saat malam, saya mengendap ke ruang cuci dan menyetrika rotinya biar lembut kembali. Dan gulanya pun meleleh kena panas setrika. Enak. Pada hari pertandingan Madrid mela- wan Zamalek, saya, Alwi, dan beberapa te- man menuju Stadion Nasional Mesir. Kami berjalan kaki kira-kira dari Jalan Jeruk Pu- rut ke Senayan. Waktu itu Zamalek kalah denganskortipis.Madriddatangbukanun- tuk mempermalukan tuan rumah. Mereka bermain cantik saja, untuk menghibur. Dari pengalaman menonton itu, saya se- ring menceritakan nama-nama Alfredo, Pele, atau Ali Muhsin—yang pernah saya li- hat langsung dalam bermain—ke anak dan cucu saya. Tapi khusus untuk dua cucu saya: Fathi dan Izzat, saya memunculkan nama pemain lain. Dialah Qreschev. Pemain ini bermain di Zamalek, sebagai bek dan punya keterampilan bagus dalam olah bola, juga fisik. Ini membuat dua cucu saya bersemangat untuk bermain bola di sekolah bola Liverpool dan Arsenal. Pada- hal Qreschev adalah sosok imajiner, pele- setan dari nama saya Quraish Shihab. Bagisaya,sepakbolaitucantikdanmemi- liki nilai seni. Dari bola, saya banyak belajar tentangkesabaran,disiplin,kerjasama,dan bagaimana melakukan manuver. Tapi, kalau orang bertanya hiburan saya apa,yangpertamaituadalahmenulis.Yang kedua berenang dengan cucu dan yang ke- tiga nonton sepak bola. ● QRESCHEV, SI KERETA PENABRAK LAWAN Quraish dan Alwi Shihab berangkat ke Mesir pada ͣͫͧͪ dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta—dengan kapal Neptunia. Untuk sampai di Mesir, dia harus merasakan ditimang-timang ombak di laut selama ͣͨ hari. DOK.PRIBADI QURAISH SHIHAB (BERKACAMATA), MUSTOFA BISRI (BAWAH, KETIGA DARI KIRI), ABDULLAH SYUKRI ZARKASYI (ATAS, KANAN), DAN ANGGOTA TIM OLAHRAGA PERSATUAN PELAJAR INDONESIA DI MESIR.

×