Analisis Studi Kasus Metode Ilmu Politik Kualitatif

5,212 views

Published on

Metode Penelitian Kualitatif

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,212
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
91
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analisis Studi Kasus Metode Ilmu Politik Kualitatif

  1. 1. ANALISIS STUDI KASUS Oleh Novi Hendra (novi_hendra24@yahoo.co.id) Ex-mahasiswa ilmu Politik Universitas Andalas Padang
  2. 2.  Analisis bukti (data) studi kasus terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, atau pun pengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposisi awal suatu penelitian Menganalisis data studi kasus adalah suatu pekerjaan yang sulit karena strategi dan tekniknya belum teridentifikasikan secara memadai di masa lalu TIGA TEKNIK ANALISIS STUDI KASUS YANG MENENTUKAN: Penjodohan Pola, Pembuatan Penjelasan, dan Analisis deret waktu
  3. 3. STRATEGI-STRATEGI UMUM ANALISIS Analisis bukti studi kasus merupakan salah satu aspek yang paling kurang berkembang dan paling sulit dalam pelaksanaan studi kasus Strategi analisis bukti studi kasus dibutuhkan untuk menganalisis studi kasus yang menjadi bahan penelitian Pendekatan untuk analisis bukti studi kasus dapat dilakukan melalui analisis statistik dan campuran dari berbagai teknik analisis
  4. 4.  Dari pendekatan tersebut didapati sebuah strategi umum yang dimasudkan agar peneliti dapat memperlakukan bukti secara wajar, menghasilkan konklusi analisis yang mendukung, dan menetapkan alternatif interpretasi Peran strategi umum tersebut adalah membantu peneliti untuk menetapkan pilihan di antara berbagai teknik dan memenuhi langkah analisis penelitiannya secara efektif
  5. 5. Dua Strategi Umum Mendasarkan pada Proposisi teoritis – Strategi pertama dan lebih disukai adalah mengikuti proposisi teoritis yang menuntut studi kasus. Tujuan dan desain asal dari studi kasus diperkirakan berdasar atas proposisi yang dilanjutkan dengan mencerminkan serangkaian pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka, dan pemahaman-pemahaman baru
  6. 6.  Mengembangkan Deskripsi Kasus – Strategi umum yang kedua adalah mengembangkan suatu kerangka kerja deskriptif untuk mengorganisasikan studi kasus. Strategi ini kurang disukai ketimbang penggunaan proposisi teorits tetapi bisa menjadi alternatif bilamana proposisi teoritis tidak ada – Tujuan asal studi kasus bisa deskriptif. Pendekatan deskriptif mungkin membantu pengidentifikasian keterkaitan timbal balik yang tepat yang seharusnya dianalisis – bahkan mungkin secara kuantitatif – Pemahaman deskriptif menuntun ke arah penghitungan, pentabulasian, dan karenanya pengkuantifikasian berbagai keputusan – Pendekatan deskriptif digunakan untuk mengidentifikasikan: (a) Tipe peristiwa yang dapat dikuantifikasikan dan (b) suatu keseluruhan pola kompleksitas yang pada akhirnya dipergunakan di dalam pengertian kausal untuk ”menjelaskan” mengapa suatu implementasi telah gagal
  7. 7. Penjodohan Pola: Memperbandingkan suatu pola yang didasarkan atas empirik dengan pola yang diprediksikan. Jika kedua pola tersebut ada persamaan maka hasilnya dapat empirik dengan pola yang diprediksikan. Jika kedua pola tersebut ada persamaan maka hasilnya dapat menguatkan validitas internal studi kasus yang bersangkutan
  8. 8.  Variabel-Variabel Non-Equivalen Sebagai Pola – Pola variabel dependen bisa berasal dari salah satu desain penelitian kuasi eksperimen yang lebih potensial, yang disebut ”desain variabel non-equivalen yang dependen – suatu eksperimen atau kuasi eksperimen bisa mempunyai banyak variabel dependen – yaitu, keanekaragaman hasil – mengidentifikasi semua ancaman yang beralasan terhadap validitas dan menyelenggarakan perbandingan yang berulang, yang menunjukkan bagaimana ancaman-ancaman seperti itu tidak dapat mempertanggungjawabkan pola-pola ganda di dalam hipotesis
  9. 9.  Penjelasan Tandingan Sebagai Pola – Tipe penjodohan pola kedua adalah untuk variabel- variabel independen. Dapat dikerjakan pada kasus tunggal maupun multi kasus – Menuntut pengembangan proposisi-proposisi teoritis tandingan, yang terartikulasikan di dalam istilah-istilah yang operasional – masing-masing mencakup pola variabel independen yang terungkap seperti: Jika sebuah penjelasan valid, maka yang lain tidak valid
  10. 10.  Variabel-variabel independen bisa meliputi beberapa atau banyak tipe karakteristik ataupun peristiwa yang masing-masing dilacak dengan ukuran dan perangkat yang berbeda Dalam kasus tunggal, penjodohan pola yang berhasil terhadap salah satu penjelasan tandingan akan merupakan bukti-bukti bagi penarikan konklusi bahwa penjelasan yang bersangkutan merupakan penjelasan yang benar
  11. 11.  Pola-Pola Yang Lebih Sederhana – Apabila hanya terdapat dua variabel dependen (atau independen) yang berbeda, penjodohan pola juga dimungkinkan sepanjang pola yang berbeda untuk kedua variabel tersebut telah ditetapkan – Ketepatan Penjodohan Pola. Prosedur penjodohan pola sesungguhnya tak mempunyai satupun perbandingan yang tepat. Apakah seseorang memprediksikan pola variabel dependen yang non-equivalen, pola yang didasarkan atas penjelasan tandingan atau pola yang lebih sederhana, perbandingan yang mendasar antara pola yang diprediksi dan pola aktual bisa tak mencakup kriteria kuantitatif atau statistik
  12. 12. Pembuatan Penjelasan Strategi analisis yang kedua ini pada dasarnya merupakan tipe khusus penjodohan pola, tetapi prosedurnya lebih sulit dan karenanya patut mendapat perhatian tersendiri Tujuannya adalah menganalisis data studi kasus dengan cara membuat suatu penjelasan tentang kasus yang bersangkutan Tujuannya adalah menganalisis data studi kasus dengan cara membuat suatu penjelasan tentang kasus yang bersangkutan Prosedur ini pada dasarnya relevan untuk studi kasus eksplanatoris. Prosedur tersebut, bagi studi kasus eksploratoris, umumnya dipandang sebagai bagian dari proses pengembangan hipotesis, namun tujuannya untuk mengembangkan gagasan-gagasan untuk penelitian selanjutnya
  13. 13.  Unsur-Unsur Penjelasan – ”Menjelaskan” suatu fenomena berarti menetapkan serangkaian keterkaitan timbal- balik mengenai fenomena tersebut. Kaitan timbal-balik ini sama dengan variabel-variabel independen dalam penggunaan penjelasan tandingan yang telah dideskripsikan sebelumnya
  14. 14. Hakikat Perulangan dalam Pembuatan Penjelasan Membuat suatu pernyataan teoritis awal atau proposisi awal tentang kebijakan atau perilaku sosial Membandingkan temuan-temuan kasus awal dengan pernyataan atau proposisi tadi Memperbaiki pernyataan atau proposisi Membandingkan rincian-rincian kasus lainnya dalam rangka perbaikan tersebut Memperbaiki lagi pernyataan atau proposisi Membandingkan perbaikan tersebut dengan fakta- fakta dari kasus kedua, ketiga, atau lebih; dan Mengulangi proses ini sebanyak mungkin sebagaimana diperlukan
  15. 15. Persoalan-Persoalan Potensialdalam Pengembangan Penjelasan Diperlukan ketelitian dan kecerdasan peneliti dalam pembuatan penjelasan Acuan hendaknya tetap diletakkan pada tujuan asal inkuiri tersebut dan penjelasan-penjelasan alternatif yang mungkin bisa membantu mengurangi persoalan ini Pengamanan-pengamanan yang dapat dilakukan antara lain: penggunaan berkas studi kasus, penetapan data dasar untuk setiap kasus, rangkaian bukti selanjutnya
  16. 16. Analisis Deret Waktu menyelenggarakan analisis deret waktu, yang secara langsung analog dengan analisis deret waktu yang diselenggarakan dalam eksperimen dan kuasi eksperimena. Deret Waktu Sederhana dimungkinkan hanya ada variabel tunggal dependen atau independen
  17. 17.  Logika esensial yang mendasari deret waktu ialah pasangan antara kecenderungan butir-butir data dalam perbandingannya dengan – Kecenderungan yang signifikan secara teoritis yang ditentukan sebelum permulaan penelitian yang bersangkutan, dalam perbedaannya dengan – Beberapa kecenderungan tandingan, yang juga ditetapkan sebelumnya, dibedakan dengan – Kecenderungan yang didasarkan atas beberapa perangkat atau ancaman terhadap validitas internal
  18. 18. Deret Waktu Yang Kompleks Desain-desain deret waktu bisa menjadi lebih kompleks bila kecenderungan dalam suatu kasusnya dipostulasikan lebih kompleks Kelebihan dari strategi ini tidak hanya dalam mengevaluasi tipe deret waktu ini, melainkan juga dalam mengembangkan penjelasan yang kaya bagi pola hasil yang kompleks serta dalam membandingkan penjelasan hasil yang bersangkutan Pola deret waktu yang diprediksi dan aktual, bilamana keduanya sama-sama kompleks, akan menghasilkan bukti yang kuat untuk suatu proposisi teoretis awal
  19. 19. Kronologis Analisis peristiwa-peristiwa kronologis merupakan suatu teknik yang sering digunakan dalam studi kasus dan bisa dipandang sebagai bentuk khusus dari analisis deret waktu Analisis kronologis mencakup berbagai tipe variabel dan tak terbatas pada suatu variabel tunggal dan ganda saja Maksud analisis tersebut adalah membandingkan kronologi tersebut dengan kronologi yang diprediksikan oleh beberapa teori eksplanatoris – di mana teori tersebut mempunyai satu atau lebih jenis keadaan tertentu sebagai berikut
  20. 20.  Beberapa peristiwa harus selalu terjadi sebelum peristiwa yang lain, di mana urutannya kebalikannya tak mungkin terjadi Beberapa kejadian harus selalu diikuti oleh kejadian yang lain atas dasar kontingensi Beberapa peristiwa hanya bisa mengikuti peristiwa lain setelah suatu lintasan waktu yang diprediksi Periode-periode waktu tertentu dalam suatu studi kasus mungkin ditandai oleh beberapa kelompok kejadian yang berbeda secara substansial dari kejadian pada periode waktu lainnya
  21. 21. Kondisi-Kondisi Untuk Analisis Deret Waktu

×