Feasibility+rokok1

3,091 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,091
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
40
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Feasibility+rokok1

  1. 1. I. EXECUTIVE SUMMARY Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang apa saja yang harus dipertimbangkan layak atau tidak layaknya PT.X kedepan dengan aspek dalam studi kelayakan bisnis. Industri rokok di Indonesia merupakan industri yang layak untuk investasi. Hal ini dikarenakan banyaknya konsumen rokok yang cukup banyak dan menjajikan di Indonesia hal ini terbukti dari pasar yang terus kian meningkat dari tahun ke tahunnya dengan pertumbuhan sebesar 4% sampai dengan 8,3% per tahunnya. Pada saat ini pabrik rokok ini mempunyai kapasitas sebesar >2 miliar pack per tahun. Dengan kapasitas sebesar ini maka perusahaan ini mampu memenuhi permintaan pasar pada saat ini yang mencapai 1,5-1,9 miliar pack per tahun . Proses yang ada dalam pabrik ini menggunakan mode operasi kontinyu. Berdasarkan perhitungan ekonomi, PT. X ini mempunyai nilai NPV untuk proyek ini sekitar 31 Trilyun, IRR sebesar 23,18%. Dari segi suplai dan bahan baku PT. X didukung banyak sumber bahan baku dari seluruh penjuru pulau jawa sehingga untuk kebutuhan bahan baku sebesar 14-19 ton per tahun sangat mudah diperoleh karena mengingat kapasitas suplai bahan baku dari luar sebesar 7 – 8 kali lipat. Serta di dukung dengan program safety stock untuk kebutuhan lainnya suplai didapatkan dari daerah sekitar yang cukup potensial sehingga untuk kebutuhan bahan baku dan suplai untuk kebutuhan ke depan tidak menjadi masalah. dari aspek pemasaran dan pendistribusian PT. X bekerja sama dengan perusahaan cargo yaitu PT. Handal logistik Nusantara untuk pendistribusian barang jadi. Dari segi lokasi, lokasi yang ada saat ini adalah lokasi kawasan industri. Yang tentunya sudah dirancang oleh pemerintah daerah setempat sebagai pusat industri. Sampai saat ini lokasi ini sangat cocok karena fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dijamin ketersediaannya serta lokasi yang bebas macet dan jauh dari penduduk sehingga tidak menimbulkan dampak langsung ke masyarakat. 1
  2. 2. II. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN Uang dan modal ternyata bukanlah satu-satunya kunci sukses untuk melakukan kegiatan usaha. Kreativitas, kemampuan menangkap peluang usaha, dan keuletan adalah kunci yang lebih utama. Sebab kreativitas mampu melahirkan berbagai alternatif yang tidak terpikirkan oleh mereka yang tidak kreatif. Kemampuan menangkap peluang usaha dapat menghasilkan uang dan tawaran modal dari pihak lain. Keduanya menjadi lengkap apabila disertai dengan keuletan. Mereka yang ulet biasanya akan tampil sebagai pemenang. Seorang wirausaha yang ulet dan pantang mundur, walaupun hanya memiliki kecakapan dan dana yang relatif terbatas akan dapat mengalahkan orang lain yang memiliki dana dan kecakapan yang lebih baik, tapi tidak ulet. Banyak contoh membuktikan bahwa hanya pengusaha yang uletlah yang dapat bertahan dalam menghadapi tantangan. Untuk memulai kegiatan usaha, seseorang perlu melakukan perencanaan danperhitungan dengan melakukan evaluasi terhadap kelayakan usaha. Kelayakan usaha mencakup perkiraan laba rugi perusahaan, perkiraan arus kas dan analisanya yang dibuat sebagai alat untuk memutuskan apakah suatu rencana usaha atau investasi usaha akan dilanjutkan atau dihentikan. Menghitung kelayakan usaha juga penting sebagai pertimbangan pihakpenyandang dana atau Bank untuk menilai layak tidaknya diberikan pinjaman dana atas usaha yang akan didirikan. Materi dari suatu kelayakan usaha pada prinsipnya memuat empat aspek, yaitu aspek pemasaran, aspek teknis, aspek yuridis, dan aspek keuangan. 1. Sejarah Perusahaan PT. X merupakan salah satu afiliasi dari Philip Morris International. PT. X memulai bisnis di Indonesia pada bulan April 1984, pada saat memulai bisnis di Indonesia PT X memproduksi dan mendistribusikan produk dengan menggunakan Third Party yang memakai lisensi. PT X. Sampai pada akhirnya pada tahun 2006 memulai kegiatan manufaktur sendiri di Bekasi, Jawa Barat pada Mei 2006. Saat ini, PT X - Bekasi Manufaktur Center memproduksi rokok,. Pada bulan Mei 2005, PT X, berhasil memperoleh mayoritas PT HM Sampoerna Tbk. saham. Sampai saat ini, PT X memiliki 98,18% dari PT HM Sampoerna Tbk. saham. 2
  3. 3. Setelah mengkauisisi Sampoerna, PT. X menjadi leader dalam market share rokok di Indonesia, menguasai 29,9% market di Indonesia mengungguli perusahaan besar lainnya seperti PT.Gudang Garam, tbk dan PT.Djarum Tbk. Untuk produk Marlboro sendiri yang diproduksi di Indonesia, mampu menguasai 5.2% market share Indonesia, dan untuk penjualan rokok dengan kategori khususnya rokok putih produk Marlboro menguasai kurang lebih 90% market disusul dengan British Asian tobacco di posisi kedua dengan 7% market. PT X Internasional adalah perusahaan induk PT. HM Sampoerna yang berkantor pusat di Lausanne Swiss, dan merupakan perusahaan rokok terbesar di dunia: 1. PT. X Internasional memproduksi sejumlah merek rokok terlaris di dunia, termasuk merek rokok nomor satu di dunia. 2. Merek-merek PT. X diproduksi di 51 pabrik di dunia dan dijual di lebih dari 160 negara. 3. Sejak berdiri pada abad ke-19, PT. X Internasional telah tumbuh menjadi organisasi yang mendunia; kini memiliki 75 ribu karyawan. Antara tahun 1970 dan 2007, PT. X Internasional mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Volume meningkat dari 87 juta batang menjadi 850 miliar batang. Pertumbuhan volume ini disertai dengan peningkatan pendapatan yang mengagumkan, yaitu dari $425 juta menjadi lebih dari $55 miliar dalam periode yang sama. Pada tahun 2007, PT. X Internasional meraih laba usaha sebesar $8,9 miliar, atau meningkat lebih dari seratus kali lipat dibandingkan tahun 1970. Melalui penilaian kinerja keuangan, perusahaan dapat memilih strategi dan struktur keuangannya, menentukan phase out terhadap unit-unit bisnis. yang tidak produktif, menentukan balas jasa internal dan menentukan harga saham secara wajar, sehingga perusahaan memiliki kinerja yang baik. 3
  4. 4. III. ANALISA PASAR DAN KONSEP PEMASARAN Indonesia merupakan negara terbesar ketiga pengguna rokok, dengan jumlah perokok sekitar 250 juta jiwa. Sebagai salah satu sumber penerimaan negara, cukai mempunyai konstribusi yang sangat penting dalam APBN khususnya dalam kelompok Penerimaan Dalam Negeri. Penerimaan cukai dipungut dari 3 (tiga) jenis barang yaitu; etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan hasil tembakau terhadap penerimaan negara yang tercermin pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun anggaran 1990/1991, penerimaan cukai hanya sebesar Rp. 1,8 triliun atau memberikan kontribusi sekitar 4 persen dari penerimaan dalam negeri, pada tahun anggaran 1999/2000 jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp. 10,4 triliun atau menyumbang sebesar 7,3 persen dari penerimaan dalam negeri. Pada tahun anggaran 2003, penerimaan cukai ditetapkan sebesar Rp. 27,9 triliun atau sebesar 8,3 persen dari penerimaan dalam negeri. Hal ini berarti kontribusi penerimaan cukai terhadap penerimaan dalam negeri selama kurun waktu 1 dasawarsa, telah meningkat sekitar 100 persen. Dari penerimaan cukai tersebut, 95 persen berasal dari cukai hasil tembakau yang diperoleh dari jenis hasil tembakau (JHT) berupa rokok sigaret kretek mesin, rokok sigaret tangan dan rokok sigaret putih mesin, yang dihasilkan oleh industri rokok. A. Pemasaran Peranan industri rokok dalam perekonomian Indonesia saat ini terlihat semakin besar, selain sebagai motor penggerak ekonomi juga menyerap banyak tenaga kerja. Industri rokok mengalami pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari kurun waktu 20052009, pertumbuhan industri rokok sebesar 17,53% jauh melampaui pertumbuhan penduduk yang hanya 4,59% 4
  5. 5. 1. Deskripsi Produk Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok berdasarkan proses pembuatannya: Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana. Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai delapan ribu batang 5
  6. 6. rokok per menit. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Rokok Berdasarkan Filter : Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus. Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus. Rokok yang dihasilkan oleh PT. Philip Morris adalah Rokok Putih yang menggunakan Filter dan Diproses dengan menggunakan mesin sigaret kretek. 2. Input Produksi (Bahan Baku) Rokok dibuat dari ramuan dan perpaduan berbagai jenis tembakau, cengkeh, saus dan bahan-bahan pembantu pilihan lainnya. Proses pembelian tembakau menuntut ketelitian yang tinggi dan penghayatan yang mendalam dari para ahli tembakau (grader), baik tentang aroma, rasa maupun ciri-ciri fisiknya. Daun tembakau kering, sebelum siap untuk dijadikan bahan baku rokok, memerlukan proses pengolahan yang panjang dan rumit, yaitu dimulai dari pemisahan gagang-gagang, pembersihan benda-benda asing, perajangan, untuk menjaga aspek hygienisnya hingga akhirnya dikemas dalam kemasan khusus untuk disimpan dalam gudang dengan suhu dan kelembaban tertentu. Cengkeh yang mempunyai nama latin "Eugenia Caryophyllus" (Eugenia aromatica O.K.) sebagai bahan utama bagi rokok kretek seperti halnya tembakau, 6
  7. 7. juga memerlukan teknik pemilihan, pemrosesan dan penyimpanan yang rumit. Sejak tahap pembelian masalah pengendalian mutu sudah merupakan bagian yang penting. Cengkeh dengan kualitas tinggi yang dibeli akan mengalami proses pembersihan, perajangan dan pengeringan terlebih dahulu sebelum disimpan dalam silo-silo stainless demi menjaga aspek hygienisnya. Bahan pembantu yang digunakan filter dan kertas sigaret (ambri). 3. Proses Pembuatan Rokok Dalam garis besarnya, proses produksi rokok dibagi dalam 3 (tiga) tahap kegiatan utama, yaitu : 1. Pra-produksi Setelah melalui proses seleksi yang ketat pada saat pembelian, Bahan baku utama yang telah diproses kemudian dicampur dengan saus hingga siap dibuat menjadi rokok. 2. Produksi Rokok yang dihasilkan ada tiga jenis utama, yaitu klobot dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebagai hasil kreasi pekerja yang trampil dengan menggunakan alat giling dari kayu serta Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang diproses dengan mesin-mesin otomatis berkecepatan tinggi. 3. Pengepakan Batangan-batangan rokok yang telah jadi, membutuhkan beberapa lapis kemasan dengan berbagai ukuran sesuai jenis produk, isi serta keperluan distribusinya. Fungsi pengemasan di sini selain berguna untuk mempertahankan mutu rokok, juga untuk memberikan citra terhadap produk. Proses pengepakan rokok menjalani beberapa tahap pengemasan secara berlapis. Kemasan lapisan pertama adalah kertas kaca untuk jenis rokok SKT dan kertas yang berlapis alluminium foil untuk jenis rokok SKM. Lapisan kedua adalah pembungkus (etiket) yang telah mengalami proses cetak terlebih dahulu. Pengemasan ketiga dalam bentuk press atau slof, kemasan keempat dalam bentuk bal (corrugated). 7
  8. 8. B. Perkembangan Pasar Perkembangan pasar rokok di Indonesia mulai kurun waktu tahun 1981 sampai tahun 2002, secara rata-rata berdasarkan jenis hasil tembakau (JHT) paling tinggi adalah Sigaret Kretek Mesin (SKM), dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 11,08 persen. Pertumbuhan tertinggi berikutnya adalah Sigaret Putih Mesin (SPM), dengan pertumbuhan 6,70 persen, diikuti oleh Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 4,19 persen, dan rokok Klobot (KLB) sebesar 3,04 persen. Tabel 3.1 Pertumbuhan Pasar 8
  9. 9. Gambar 3.1. Grafik Perkembangan Produksi Rokok Dilihat dari pangsa pasar rokok berdasarkan JHT, Sigaret Kretek Mesin (SKM) menduduki peringkat tertinggi. Selama kurun waktu tersebut, SKM mampu meraih pangsa rata-rata sebesar 44,83 persen, diikuti oleh Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 33,85 persen, serta Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 20,62 persen. Rokok Klobot (KLB) dan Klembak (KLM) hanya mempunyai pangsa sebesar 0,70 persen. Tabel 3.2 Rata-rata pertumbuhan dan pangsa JHT Dilihat dari total produksi secara keseluruhan JHT, produksi rokok mencapai puncaknya pada tahun 1998 dengan total produksi sebanyak 269,85 miliar batang dengan nilai sebesar Rp. 22, 09 Triliun. Setelah tahun tersebut, total kemudian mengalami penurunan, tahun 1999 sebesar 254,17 miliar batang dengan nilai sebesar Rp. 30,32 Triliun. Walaupun secara produksi sampai tahun 2001 terus mengalami penurunan, tetapi secara nilai pada tahun 2001 masih menunjukkan peningkatan dengan nilai sebesar Rp. 54,79 Triliun. Berdasarkan 9
  10. 10. estimasi BPS, produksi rokok tahun 2002 sebesar 207,6 miliar batang, dengan nilai produksi sebesar Rp. 51,90 Triliun. Grafik 3.2. Perkembangan Produksi dan Nilai Rokok Tabel 3.3. Total Produksi dan Nilai Industri Rokok Produksi rokok kretek di Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat Indonesia saja, tetapi sudah diekspor ke mancanegara. Ekspor rokok 10
  11. 11. khususnya rokok kretek Indonesia sudah mencapai berbagai negara tujuan. Negara yang paling besar menjadi tujuan ekspor rokok kretek Indonesia adalah Malaysia dengan volume 5.041.217 kg dengan nilai US$ 61.184.464. dan beberapa negara di kawasan Asia, di antaranya adalah Thailand, Kamboja dan Jordan. Tabel 3.4. Perkembangan Ekspor Rokok di Indonesia Grafik 3.3 Perkembangan Ekspor Rokok di Indonesia C. Strategi Permasaran Membangun ekuitas merek yang kuat adalah isu utama bagi pihak top manajemen karena hal tersebut ikut menentukan nilai dari sebuah perusahaan. Salah satu contoh efek dari ekuitas merek yang kuat adalah meningkatnya nilai harga saham di pasar uang. Transaksi penjualan saham PT Handjaja Mandala Sampoerna Tbk senilai Rp 18,58 triliun oleh PT. X Tbk merupakan salah satu contoh nyata. (KOMPAS, 19 Maret 2005) Menurut Angky Camaro, CEO Bisnis Lokal PT. X menyatakan bahwa yang sebenarnya dibeli oleh PT. X adalah kultur yang termasuk bagian dari ekuitas merek Sampoerna sebesar US$ 4 Milliar sedangkan nilai buku aset 11
  12. 12. Sampoerna seperti mesin, gedung, dan sebagainya hanya dihargai sekitar US$ 1 Miliar. (SWAsembada, Juli 2005) Jika suatu produk telah memiliki ekuitas merek yang kuat, maka dengan mudahnya mereka dapat mengembangkan mereknya melalui berbagai macam strategi seperti co-branding, brand extention, line extension serta beberapa strategi pengembangan merek lainnya. Perluasan merek atau brand extension dewasa ini lazim digunakan oleh perusahaan – perusahaan di Indonesia sejak adanya krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997. Menurut Yadi Budhisetiawan, Managing Director Force One ”Selling & Distribution Consultant menyatakan bahwa untuk membangun brand awareness produk baru dibutuhkan biaya iklan rata - rata Rp 2 – 3 Miliar, sedangkan setelah biaya iklan yang dibutuhkan meningkat menjadi rata – rata Rp 6 – 8 Miliar. Kondisi ini tentunya membuat perusahaan berpikir dua kali dalam meluncurkan produk baru dengan menggunakan merek yang benar – benar baru. Sehingga strategi perluasan merek merupakan salah satu alternatif di dalam mensiasati kondisi tersebut. D. Konsep Pemasaran Konsep pemasaran sangat erat kaitannya dengan manajemen pemasaran. Manajemem pemasaran mempunyai tugas mempengaruhi tingkat, waktu, dan komposisi permintaan dengan cara membantu organisasi mencapai tujuannya. Manajemen Pemasaran pada dasarnya adalah manajemen pemenuhan permintaan. manajemen Pemasaran mengelola permintaan dengan melakukan riset pemasaran, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian. Dalam perencanaan pemasaran, pemasar harus membuat keputusan pada target pasar, posisi pasar, pengembangan produk, harga, saluran distribusi, distribusi fisik, komunikasi, dan promosi. Pemasaran bekerja di pasar konsumen secara formal dilakukan oleh manajer penjualan, tenaga penjualan, periklanan dan promosi mengelola, peneliti pemasaran, manajer layanan pelanggan, manajer produk dan merek, pengelola pasar dan industri, dan wakil presiden pemasaran. Konsep pemasaran menyatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi menjadi lebih efektif daripada 12
  13. 13. pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran adalah menentukan dan memenuhi kebutuhan dan keinginan target pasar. Konsep Pemasaran yang dimiliki PT. X bersandar pada empat pilar yakni : Target Pasar, Costomer needs, Integrated marketing dan profitabilitas. Pada Target pasar PT. X menargetkan pasar pada seluruh wilayah indonesia yang tentunya target pasar tersebut ditujukan pada orang – orang yang sudah cukup umur atau kategori dewasa. Untuk Customer needs, kebutuhan masyarakat indonesia akan kebutuhan rokok cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tabel diatas. Ketika semua departemen perusahaan bekerja sama untuk melayani kepentingan pelanggan, hasilnya adalah pemasaran terpadu (Integrated Marketing). Pemasaran terpadu mengambil dua aspek. Pertama, berbagai tenaga dan fungsi pemasaran, penjualan, iklan, manajemen produk, riset pemasaran, dan sebagainya harus bekerja sama. Kedua harus terkoordinasi pada departemen yang lain. Untuk mendorong kerja sama antara semua departemen, perusahaan melakukan pemasaran internal maupun pemasaran eksternal pemasaran. Pemasaran eksternal adalah pemasaran diarahkan pada orang-orang luar perusahaan. pemasaran internal adalah bertugas mempekerjakan, pelatihan, dan memotivasi karyawan yang ingin melayani pelanggan dengan baik. Bahkan pemasaran internal harus mendahului pemasaran eksternal. Tidak masuk akal untuk menjanjikan pelayanan prima sebelum staf perusahaan siap untuk memberikan pelayanan prima. Yang terakhir adalah profitability, Tujuan akhir dari konsep pemasaran adalah membantu organisasi mencapai tujuan mereka, tujuan utama PT. X adalah keuntungan. Manajer Pemasaran harus memberikan nilai kepada pelanggan dan keuntungan bagi organisasi. Manajer pemasaran beserta jajaran petinggi harus mengevaluasi profitabilitas semua strategi pemasaran dan memilih keputusan alternatif yang paling menguntungkan untuk kelangsungan hidup jangka panjang dan pertumbuhan perusahaan. 1. Strategi 1.1 Segmentasi PT.X membagi masyarakat kedalam segmen masyarakat terdidik yang mengerti benar akan bahaya merokok tetapi tetap memilih untuk merokok. Pada segmen masyarakat terdidik, terdapat konsumen yang sangat potensial bagi 13
  14. 14. produsen rokok, yaitu kalangan anak muda terdidik yang mengetahui dampak rokok, tetapi mengambil resiko untuk merokok. Nantinya dapat menjadi konsumen jangka panjang bagi perusahaan, karena rokok dapat menimbulkan keterikatan. Apabila konsumen anak muda terikat, maka perusahaan akan memiliki potensi konsumen yang akan loyal dalam jangka panjang. 1.2 Targeting PT.X sendiri menetapkan target konsumennya pada perokok muda dewasa dengan rentang usia 18-50 tahun. Pria dewasa. 1.3 Positioning Tema merupakan introduction theme, karena saat itu rokok putih merupakan kategori produk yang baru bagi pasar Indonesia. Dengan iklan televisi (TVC) yang begitu unik yaitu animasi icon-icon yang bercita rasa country dan enteng. Jelas bahwa pesan positioning yang ingin disampaikan adalah bahwa PT.X memiliki kandungan tar dan nikotin yang paling rendah serta eksklusif dibanding brand lain. Rupanya konsumen rokok Indonesia mulai sedikit demi sedikit teredukasi dengan tema ini. Hal ini terbukti dengan penetrasi produk ini yang mulai berjalan. Lalu positioning ” ini berusaha diperkuat lagi dengan promosi lainnya. PT.X sebagai sebuah brand mulai memainkan teknik yang saya sebut sebagai parallel positioning. Seluruh eksekusi dari TVC maupun print ad begitu jauhnya, bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan atribut produk PT.X sendiri. Masih banyak lagi berbagai eksekusi iklan bertema ini yang membuat audiens iklan, baik mereka yang paham marketing dan advertising maupun konsumen awan, bertanya-tanya dan membuat penasaran hingga ingin mencoba bahkan beralih ke produk ini. Seiring dengan mulai membesarnya segmen pasar perokok yang dibuka jalannya oleh PT.X, PT.X sempat berusaha keluar sebentar dari parallel positioning dan kembali ke tema ”konvensional”, dalam arti tema yang lebih mudah dicerna oleh audiens iklan. Iklan ini ingin mengatakan bahwa PT.X tidak bisa dibantah adalah rokok PT.X yang pertama, sekaligus dengan market share dan mind share terbesar. Eksekusinya antara lain adalah animasi 3 dimensi. Yang mengingatkan kita bahwa iklan ini tetap iklan komersial adalah adanya logo PT.X 14
  15. 15. dan peringatan pemerintah akan bahaya merokok yang selalu muncul di akhir iklan. Beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari evolusi positioning PT.X adalah bahwa sebuah brand selalu memerlukan cara baru untuk berkomunikasi, karena pasar adalah sebuah kelompok manusia yang dinamis. Brand juga hidup dalam persaingan di mana untuk membedakan diri dengan pesaing memerlukan kreativitas tinggi, sehingga brand performance yang diukur dari pertumbuhan penjualan dapat terus terjaga. Jelas bahwa kekuatan finansial untuk membentuk sebuah brand adalah baru setengah dari cerita, karena bukan frekuensi iklan saja yang penting, akan tetapi tema iklan juga sangat penting, kalau tidak bisa dibilang lebih menentukan. 2 Tactic 2.1 Differentiation PT.X merupakan hasil sebuah keseimbangan perpaduan antara tembakau amerika dan bahan berkualitas lainnya. Rasa dan aroma produk ini adalah hasil dari persembahan tersendiri dari tembakau alam terbaik. Selain itu diferensiasi yang terdapat pada PT.X juga terletak pada image yang tergambarkan pada produk PT.X itu sendiri, yaitu menggambarkan pribadi yang berjiwa muda, menyukai music, entertainment dan sport. 2.2 Marketing Mix (4P) 2.2.1 Product PT.X adalah rokok yang rendah kadartar dannikotin nya. Secara resmi, produk PT.X mempunyai kandungan 14 mg tar dan 1.0 mg nikotin per pak-nya. PT.X juga merupakan rokok pertama yang mendobrak pasar Indonesia dengan penampilannya yang unik, yakni dengan ukuran keliling lingkaran rokok 22 mm dan panjang rokok 90 mm. Produk ini sangat sukses di pasaran karena dapat memenuhi keinginan perokok yang ingin menerapkan pola hidup sehat. Produk PT.X sendiri terdapat dua jenis yang sama-sama memiliki kadar rendah nikotin dan tar. Dua jenis tersebut dapat dibedakan dari kemasannya. Yang pertama yaitu PT.X dengan kemasan warna hijau yang membawa pada kesan alami dari rasa menthol- nya dan kedua yaitu kemasan merah dengan rasa premium 15
  16. 16. 2.2.2 Price Dari konteks harga, PT.X terbilang menengah, dengan membandrol harga bagi konsumen akhir sebesar Rp. 8.500,- untuk setiap packnya. Harga tersebut bila dilihat dari pendapatan masyarakat Indonesia pada umumnya jumlah tersebut pastinya bukan jumlah uang yang kecil untuk hanya dapat menikmati rokok, akan tetapi PT.X memang diperuntukkan bagi masyarakat golongan menengah keatas yang lebih mempertimbangkan nilai prestisiusnya. Selain dengan menawarkan keistimewaan dari produk, PT.X menawarkan isi yang lebih banyak dari produk rokok lainnya dalam tiap packnya. 2.2.3 Promotion Beberapa bentuk promosi utama yang dilakukan oleh PT.X untuk konsumen akhir adalah event atau sponsorship. Beberapa bentuk event atau sponsorship yang dilakukan oleh PT.X memang diakui sebagai bentuk promosi yang menarik banyak perhatian misalnya saja kampanye iklan yang berkali-kali meraih penghargaan bergengsi pada skala nasional sebagai iklan terbaik dan event atau sponsorship besar beskala nasional dengan kemasan yang unik dan menarik. 2.2.4 Place Strategi distribusi yang digunakan oleh dalam mendistribusikan rokoknya menggunakan distributor tunggal,. Sedangkan dalam tingkatan saluran distribusi, menggunakan saluran distribusi tiga tingkat, dimana distributor tunggalnya menyalurkannya ke dua perantara lain, yaitu agen dan pengecer yang didistribusikan ke semua wilayah di Indonesia, bahkan sampai ke daerah-daerah maupun pedesaan. 2.3 Selling Strategi Penjualan / Selling yang digunakan oleh PT.X dalam menjual produk PT.X melalui 2 cara, yaitu melalui Wholesaler, dan Retail.Wholesaler adalah agen penjual yang membeli rokok dari PT.X dalam jumlah yang besar, sedang kan Retail adalah penjual rokok yang membeli rokok dari Wholesaler. 3. Value 3.1 Brand 16
  17. 17. PT.X meluncurkan suatu produk dalam mengembangkan jajaran merek rokok dengan yang ditandai dengan peluncuran sebagai rokok yang berkadar tar dan nicotine rendah (LTLN). III.3.2 Service Salah satu nilai dari value yaitu service yang dilakukan adalah direct selling yang dilakukan di café-café terkemuka di Jakarta. Bentuk direct selling yang dilakukan oleh pemasar ditujukan untuk memberikan service excellent bagi perokok produk PT.X ataupun bukan perokok produk PT.X agar beralih ke produk PT.X. III.5 Market Share Di bisnis rokok Indonesia, PT.X merupakan pionir rokok rendah tar dan nikotin di Indonesia yang menjadi pemimpin pasar (market leader) rokok jenism ild dengan penguasaan pasar lebih dari 70% pada produk sejenis yang dikeluarkan perusahaan lain. Dalam kontek pemasaran PT.X telah meraih equitas merek dalam pandangan masyarakat kita. PT.X meraih equitas merek tersebut karena keberhasilannya dalam memadukan konten, konteks dan infrastruktur yang dimiliki, mendapatkan mind share, heart share dan market share pada masyarakat. Ketiga hal yang didapatkan tersebut pada akhirnya membawa PT.X mencapai pada equitas merek. Dalam pencapaian tersebut PT.X juga tidak terlepas dari saluran komunikasi yang selalu tampil nyleneh namun terbukti sangat efektif, kekreatifan dan keinovatifan yang selalu dihadirkan menjadi ciri khas tersendiri, baik dari iklan yang ditampilkan di media E. Biaya Pemasaran dan Pendapatan. Menurut Yadi Budhisetiawan, Managing Director Force One ”Selling & Distribution Consultant menyatakan bahwa untuk membangun brand awareness produk baru sebelum krisis moneter dibutuhkan biaya iklan rata - rata Rp 2 – 3 Miliar, sedangkan setelah krisis biaya iklan yang dibutuhkan meningkat menjadi rata – rata Rp 6 – 8 Miliar. Kondisi ini tentunya membuat perusahaan berpikir dua kali dalam meluncurkan produk baru dengan menggunakan merek yang benar – benar baru. Sehingga 17
  18. 18. strategi perluasan merek merupakan salah satu alternatif di dalam mensiasati kondisi tersebut. Tabel 3.5. Jumlah Rokok Yang Terjual Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Penjualan 2.076.081.647 2.901.180.941 3.475.892.118 3.504.438.235 4.080.052.353 1.071.469.176 1.221.298.706 Tabel 3.6. Forecast Demand Rokok 5 Tahun Kedepan Tahun Penjualan 2011 1.438.823.529 2012 1.273.183.529 2013 1.479.650.706 2014 1.585.269.176 2015 1.941.106.435 Tabel 3.7. Proyeksi Biaya Pemasaran 5 Tahun Kedepan Tahun Penjualan 2011 872.954.000.000 2012 945.791.000.000 2013 1.237.152.000.000 2014 1.544.338.000.000 2015 1.465.045.000.000 Tabel Proyeksi Pendapatan Laba Bersih 5 Tahun Ke Depan Tahun Laba Bersih 2011 2.636.460.400.000 2012 2.308.620.000.000 2013 2.883.789.000.000 2014 2.469.571.000.000 2015 1.784.906.700.000 18
  19. 19. Proyeksi Laba bersih Dan Biaya Pemasaran 3,500,000,000,000 3,000,000,000,000 2,500,000,000,000 2,000,000,000,000 Biaya Pemasaran 1,500,000,000,000 Laba Bersih 1,000,000,000,000 500,000,000,000 0 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.4. Grafik Proyeksi Laba Bersih dan Biaya Pemasaran 19
  20. 20. IV. ASPEK BAHAN BAKU DAN SUPLAI I. Gambaran Umum Proses Procurement Di PT. Philip Morris 1. Bagian Pengadaan Barang menerima laporan stok barang dari bagian Gudang. Jika stok barang yang ada di gudang sudah mendekati stok aman, maka bagian Pengadaan Barang akan membuat permintaan pembelian sebanyak 2 rangkap. Rangkap 1 diarsipkan dan rangkap 2 diserahkan ke bagian Pembelian. 2. Setelah menerima permintaan pembelian dari bagian Pengadaan Barang, bagian Pembelian kemudian membuat order pembelian sebanyak 3 rangkap. Rangkap 1 diserahkan ke Suplier, rangkap 2 diserahkan ke bagian keuangan dan rangkap 3 diarsipkan. 3. Bagian Gudang kemudian akan memeriksa barang dan surat jalan beli yang diterima dari Suplier. Jika barang tersebut ada cacat maka bagian Gudang akan membuat nota retur beli sebanyak 2 rangkap. Rangkap 1 diserahkan ke Suplier sedangkan rangkap 2 diarsipkan. Tetapi jika barang tersebut tidak ada cacat, maka bagian Gudang akan membuat laporan penerimaan barang sebanyak 2 rangkap, rangkap 1 diserahkan ke bagian Pembelian dan rangkap ke 2 diarsipkan. Kemudian bagian pembelian akan mendapat faktur beli dari Suplier. 4. Berdasarkan order pembelian yang diterima dari bagian Pembelian, bagian Keuangan akan mencetak kontra Bon sebanyak 3 rangkap. Rangkap 2 diserahkan kepada Suplier rangkap 3 diarsipkan dan rangkap 1 digunakan untuk melakukan pembayaran. Setelah bagian Keuangan melakukan pembayaran, maka akan dihasilkan kwitansi sebanyak 2 rangkap. Rangkap 1 diserahkan kepada Suplier dan rangkap 2 diarsipkan. 5. Faktur beli dari Suplier dan laporan penerimaan barang kemudian akan menjadi dasar dalam pembuatan laporan pembelian. Bagian Pembelian akan membuat laporan pembelian sebanyak 2 rangkap, rangkap 1 diserahkan kepada General Manager dan rangkap 2 diarsipkan. 20
  21. 21. A. Klasifikasi Bahan Baku dan Suplai Bahan baku rokok dari perusahaan PT. X Adalah Tembakau, Tembakau didatangkan langsung dari petani di kawasan, Jawa Barat, jawa tengah, Jawa Timur, Madura dan dikirim langsung menggunakan truk yang datang setiap hari setelah melalui beberapa proses dari petani. Untuk mencapai tujuan ini, kami merancang program yang dikembangkan oleh Perusahaan Induk kami, PT. X International, yang dinamakan ”Good Agricultural Practices” atau Program Kemitraan Pertanian Tembakau. Dengan berkoordinasi dengan pemasok tembakau kami, program tersebut bertujuan untuk membantu para petani mengembangkan usaha pertanian tembakau berkualitas yang berkesinambungan. Hasilnya, para pemasok dan petani yang menjadi mitra telah senantiasa sanggup memasok tembakau yang berkualitas bagi fasilitas produksi kami. Hingga kini, progra m tersebut telah menjangkau lebih dari lima ribu petani tembakau di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, DI Jogjakarta dan Jawa Tengah. Karena bahan baku tersebut dipasok setiap hari maka produksi rokok tetap terjamin prosesnya. Untuk bahan baku di luar tembakau atau bahan baku pendukung seperti kemasan, saus, kertas pavir dan lain – lain. Sebagian besar dipasok oleh agen yang diangkut menggunakan mobil box yang berada di sekitar pabrik. Sehingga keseluruhan bahan baku utama dan pendukungnya. a. Tembakau b. Kertas pembungkus rokok c. Kertas pembungkus filter d. Filter e. Alumunium Foil f. Plastik pembungkus g. Kardus PT. X membeli bahan baku Kardus dari suplier – suplier yang berada di sekitar kawasan jababeka dan cibitung maupuan daerah kawasan industri pulo gadung. 21
  22. 22. Tabel Harga Bahan Baku Nama Bahan a. Tembakau b. Kertas pembungkus rokok c. Kertas pembungkus filter e. Filter f. Alumunium Foil g. Plastik pembungkus i. Kardus Harga 2000 / Kg 200 / Lembar 800 / Lembar 400 /Filter 1200 / Lembar 100 / Plastik 300 / Kardus a. Jumlah kardus yang dibutuhkan 1273183529 Unit – 1941106435 Unit produksi per tahun b. Harga Kardus per lipat (10 kardus) Rp. 300 (termasuk biaya transport) c. Pasokan dilakukan 1 hari sekali dengan disertai label yang telah ditentukan oleh perusahaan d. Pembayaran dilakukan 1 bulan sekali pada akhir bulan e. Apabila terjadi kerusakan resiko ditanggung oleh pemasok B. Spesifikasi Bahan Baku 1. Tembakau - Kelembapan Air Tidak Lebih dari 5% Dari Penjemuran - Berbau Khas Agak Menyengat - Daunnya Berwarna Coklat - Bebas Dari Jamur 2. Kertas pembungkus rokok - Dengan Ukuran Pemakaian 120 mm x 20 mm Per Batang Rokok - Memiliki Ketebalan 2 mm 3. Kertas pembungkus filter - Ukuran Dengan Ukuran Panjang 30 mm ( Per Batang Rokok ) - Tidak Mudah Basah - Tidak Mudah Berjamur 4. Filter 22
  23. 23. - Berwarna Putih Polos - Panjang 30 mm Dengan diameter 10 mm ( Perbatang Rokok ) - Lapisan Busa - Tidak Mudah Berjamur 5. Alumunium Foil - Berwarna Abu – Abu Dengan Pelapisan Kertas Pada Bagian Belakang 6. Plastik pembungkus - Berwarna Transparan - Mempunyai Ketebalan 1 mm - Mempunyai Warna Dan Logo Yang Sudah Ditetapkan Oleh 7. Kardus Perusahaan - Mempunyai Ketebalan 3 mm - Permukaan Dilapisi Dengan Bahan Tahan Air C. Ketersediaan dan Suplai Pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan ini dilakukan dengan cara memantau persediaan bahan baku setiap bulan. Pembelian tembakau yang dilakukan perusahaan, baik jumlah setiap pemesanan maupun frekuensinya, tidak tetap setiap tahun. Jumlah tembakau yang dibeli ditentukan berdasarkan peramalan pemakaian tembakau selama 3 bulan. Mutu tembakau mempengaruhi ketersediaan tembakau, sehingga diawasi dengan ketat melalui uji fisik dan uji laboratorium. Untuk menjaga mutu tembakau yang disimpan di gudang dilakukan pemeliharaan berupa fumigasi dan pebingasapan serta pembalikan tumpukan tembakau.. Hasil analisis demand dan produksi menunjukkan bahwa pada tahun 2009 jumlah setiap pemesanan sebesar 3.551 kg untuk Januari sampai februari, 2.793 untuk Maret sampai April , 3.093 untuk Mei sampai Juni. 4.236 kg, 3.049 kg untuk Juli sampai Agustus, dan 3.679 kg untuk September sampai Oktober. Mengingat tingginya demand dan meningkatnya produktivitas maka Frekuensi pemesanan pada tahun 2010 dan setrusnya diperkirakan meningkat sebanyak 13 kali sampai 15 kali pemesanan dalam setahun, yang biasanya hanya 11 kali pesan per tahun.. PT. X menerapkan Safety Stock sebesar 2,5 bulan pemakaian. 23
  24. 24. D. Suplai Pemasaran dan Suplai Program PT. X adalah salah satu perusahaan rokok nasional yang menguasai hampir 90 % pangsa pasar. PT. X sebagai produsen rokok tentunya tidak kalah dalam berinovasi mencipatakan rokok yang sesuai dengan citra rasa dan iklim dimana rokok tersebut akan dipasarkan. Dalam menguasai pangsa pasar PT. X menggunakan saluran distribusi melalui agen-agen yang tersebar diwilayah tertentu yang telah ditetapkan dan ditentukan pihak manajemen sebagai area pemasaran. Faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan saluran distribusi pada perusahaan PT. X adalah yakni sistem penjualan dilakukan secara langsung dan tunai kepada para agen. Atau melalui mekanisme tempo bagi para agen atau distributor yang telah bekerjasama lama dengan PT. X sehingga dapat menghindari kemacetan penjualan yang disebabkan karena tidak mampu bayarnya agen atau distributor terhadap pembayaran rokok dan juga sebagai upaya yang dilakukan untuk pembelian yang tidak berkali-kali yang menyebabkan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh PT. X. Model saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan menggunakan model saluran distribusi panjang. Keterkaitan antara saluran distribusi dengan volume penjualan pada PT.X dipergunakan sebagai suatu strategi distribusi yang dipilih dan di pergunakan dalam perusahaan sebab hal ini sangat berkenan erat dengan penentuan dan manajemen saluran distribusi yang dipergunakan oleh perusahaan tersebut untuk memasarkan barang dan jasanya, sehingga produk tersebut dapat sampai ditangan konsumen sasaran dalam jumlah dan jenis yang dibutuhkan, pada waktu yang diperlukan, dan tempat yang tepat untuk mendistribusikan barang dari produsen ke konsumen, alternatif yang dipilih dapat berupa distribusi langsung (direct channel) atau distribusi tidak langsung (indirect channel). E. Biaya Bahan Baku dan Perbekalan PT. X mempunyai banyak gudang distribusi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Khusunya di pulau jawa PT. X mempunyai sekitar 3059 Retailer dan 187 Wholesaler. PT X juga mempunyai sebanyak 30 gudang penyimpanan dan distribusi yang tersebar di pulau jawa. Untuk pendistribusian, 24
  25. 25. PT. X mempunyai armada angkutan darat tersendiri untuk mendistribusikan seluruh rokok ke pulau jawa. Tabel 4.1 Proyeksi Jumlah Kebutuhan Bahan Baku Sampai 5 Tahun Ke Depan Nama Bahan 2011 2012 2013 2014 2015 a. Tembakau 14389 Kg 12732 Kg 14797 Kg 15853 Kg 19412 Kg b. Kertas pembungkus rokok 71941177 Lembar 63659177 Lembar 73982536 Lembar 79263459 Lembar 97055322 Lembar c. Kertas pembungkus filter 71941177 Lembar 63659177 Lembar 73982536 Lembar 79263459 Lembar 97055322 Lembar e. Filter 719411765 Filter 636591765 Filter 739825353 Filter 792634589 Filter 970553218 Filter f. Alumunium Foil 287764706 Foil 254636706 Foil 295930142 Foil 317053836 Foil 388221288 Foil g. Plastik pembungkus 143882353 Plastik 127318353 Plastik 147965071 Plastik 158526918 Plastik 194110644 Plastik i. Kardus 1438823530 Kardus 1273183530 Kardus 1479650706 Kardus 1585269177 kardus 1941106436 Kardus Tabel 4.1 Proyeksi Ketersediaan Bahan Baku Sampai 5 Tahun Ke Depan Nama Bahan 2011 2012 2013 2014 2015 115112 Kg 575529416 Lembar 575529416 Lembar 101856 Kg 118376 Kg 126824 Kg 509273416 Lembar 591860288 Lembar 634107672 Lembar 509273416 Lembar 591860288 Lembar 634107672 Lembar 155296 Kg 776442576 Lembar 776442576 Lembar 7764425744 Filter 3105770304 Foil 1552885152 Plastik 15528851488 Kardus a. Tembakau b. Kertas pembungkus rokok c. Kertas pembungkus filter e. Filter 5755294120 Filter 5092734120 Filter 5918602824 Filter 6341076712 Filter f. Alumunium Foil 2037093648 Foil g. Plastik pembungkus i. Kardus 2302117648 Foil 1151058824 Plastik 11510588240 Kardus 2367441136 Foil 1183720568 Plastik 11837205648 Kardus 2536430688 Foil 1268215344 Plastik 12682153416 Kardus 1018546824 Plastik 10185468240 Kardus Tabel 4.2 Proyeksi Biaya Kebutuhan Bahan Baku Sampai 5 Tahun Ke Depan Nama Bahan 2011 2012 2013 2014 2015 Rp31.655.800 Rp28.010.400 Rp32.553.400 Rp34.876.600 Rp42.706.400 a. Tembakau b. Kertas pembungkus rokok Rp14.388.235.400 Rp12.731.835.400 Rp14.796.507.200 Rp15.852.691.800 Rp19.411.064.400 c. Kertas pembungkus filter Rp57.552.941.600 Rp50.927.341.600 Rp59.186.028.800 Rp63.410.767.200 Rp77.644.257.600 e. Filter Rp287.764.706.000 Rp254.636.706.000 Rp295.930.141.200 Rp317.053.835.600 Rp388.221.287.200 f. Alumunium Foil Rp287.764.706.000 Rp254.636.706.000 Rp295.930.142.000 Rp317.053.836.000 Rp388.221.288.000 g. Plastik pembungkus Rp14.388.235.300 Rp12.731.835.300 Rp14.796.507.100 Rp15.852.691.800 Rp19.411.064.400 i. Kardus Rp431.647.059.000 Rp381.955.059.000 Rp443.895.211.800 Rp475.580.753.100 Rp582.331.930.800 Rp1.093.537.539.100 Rp967.647.493.700 Rp1.124.567.091.500 Rp1.204.839.452.100 Rp1.475.283.598.800 Total Biaya 25
  26. 26. 3,500,000,000,000 3,000,000,000,000 2,500,000,000,000 2,000,000,000,000 Laba Bersih 1,500,000,000,000 Total Biaya Bahan Baku 1,000,000,000,000 500,000,000,000 0 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 4.1 Grafik Proyeksi Total Biaya Bahan Baku dan Laba Bersih 26
  27. 27. V. ASPEK LOKASI DAN LINGKUNGAN A. Pemilihan Lokasi Saat ini PT. X beroperasi di MM2100 Cibitung alasan pemilihan lokasi operasi disini adalah: 1. Kemudahan untuk mendapatkan akses bahan baku dan bahan pendukung lainnya. 2. Jauh dari penduduk sehingga, tidak menimbulkan dampak lingkungan ke penduduk. Untuk karyawan yang berada diluar lokasi ini, disediakan bus karyawan di lokasi tertentu sebagai sarana angkutan untuk menuju ke lokasi pekerjaan 3. Bebas macet, lokasi yang ada saat ini hanya khusus untuk kawasan industri dan tidak adanya pusat bisnis disini. Sehingga kawasan ini cocok untuk kegiatan distribusi B. Lingkungan Alam Kota Cibitung merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat, yang terletak di lingkungan megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota besar kelima di Indonesia. Kota cibitung merupakan tempat tinggal kaum urban dan saat ini berkembang menjadi kawasan sentra industri. Secara geografis kota cibitung berada pada ketinggian 19 m diatas permukaan laut. Kota ini terletak di sebelah timur Jakarta; berbatasan dengan Jakarta Timur di barat, kabupaten Bekasi di utara dan timur, kabupaten Bogor di selatan, serta kota Depok di sebelah barat daya. Untuk melayani warga kota, tersedia bus antar kota dan dalam kota yang mengangkut penumpang ke berbagai jurusan, seperti jurusan Blok M, Rambutan, Tanjung Priok, Grogol, Kali Deres, Pulo Gadung, Lebak Bulus (Dalam Kota), Bandung, Merak, Tasikmalaya, Cirebon, dan kota-kota di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Kereta komuter KRL Jabotabek jurusan Bekasi-Jakarta Kota/Tanah Abang/Tanjung Priok mengangkut warga kota yang bekerja di Jakarta. Selain itu tersedia pula bus pengumpan TransJakarta dari Kemang Pratama, Galaxi City, dan Harapan Indah. 27
  28. 28. C. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan 1. Aspek Medis Rokok secara teroritik medis memang berbahaya tapi beberapa kasus menunjukan beberapa individu tetap sehat dan berumur panjang. Dari pernyataan di atas ada maksud bahwa usaha tani tembakau dan industri rokok tembakau masih cukup relevan sebagai sumber penghasilan masyarakat, cukai dan menunjang aspek sosial lain yang menguntungkan. Dengan catatan tembakau yang dikembangkan jenis tembakau yang memiliki kadar nikotin yang sangat rendah. 2. Aspek Pengolahan Limbah Secara Operasional, Limbah yang dihasikan PT. X tidak mengganggu lingkungan yang berada di sekitar. Karena limbah yang dihasilkan dari awal proses pembuatan rokok bersifat alam dan sangat ramah lingkungan. Dan proses limbah operasional rokok ini, ternyata juga dapat dijual kepada vendor lain. Sehingga pengolahan limbahnya tidak memakan proses yang rumit. Proses pengolahan limbahnya hanya ditumpuk di dalam gudang khusus penimbunan barang sisa kemudian dijual kepada vendor lain. Sehingga limbah yang dihasilkan tentunya juga menambah aspek ekonomis D. Aspek Sosial Ekonomi 1. Bentuk Badan Usaha Dalam kepemilikan perusahaan terdapat beberapa bentuk badan hukum yang dapat dipilih oleh si pendiri perusahaan. Pemilihan bentuk perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran besar kecilnya perusahaan, jenis perusahaan, pembagian laba yang diinginkan oleh pemiliknya, resiko yang dapat ditangung oleh para pemilik dan pembagian pengawasan dan aturan penguasaan perusahaan. Berdasarkan pertimbangan diatas, maka bentuk perusahaan yang sesuai untuk X ini adalah Perseroan Terbatas. Pemilihan ini dilakukan dengan alasan modal investasi yang dibutuhkan relatif cukup besar dan jenis industri yang didirikan termasuk industri yang mempunyai resiko cukup tinggi sehingga tidak mungkin untuk ditanggung beberapa orang saja. 28
  29. 29. Disamping itu, keuntungan dari bentuk perusahaan seperti itu antara lain adalah jumlah modal yang dapat dikumpulkan jauh lebih besar dibandingkan perusahaan dalam bentuk Persekutuan Komanditer (CV), serta resiko yang tidak dibebankan kepada satu orang saja, melainkan kepada seluruh orang yang mempunyai saham dalam perusahaan. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya bergantung kepada satu orang saja, melainkan pada beberapa orang. 2. Perizinan Untuk mendirikan satu industri, minimal diperlukan izin-izin dan persyaratan sebagai berikut: - Persetujuan prinsip mendirikan industri - Surat Izin Umum Perusahaan (SIUP) - Tanda Daftar Perusahaan (TDP) - Akta Pendirian Perusahaan Berdasarkan keputusan Presiden No. 97 Tahun 1993 tentang tata cara penanaman modal bahwa permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dapat diajukan oleh Perseroan Terbatas (PT), Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), Firma atau Perusahaan Perseorangan. Persetujuan dan Izin Pelaksanaan Penanaman Modal dan Instansi Tingkat Pusat terdiri dari: 3. Persetujuan pemberian fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk atas pengimpor barang modal. Persetujuan ini dikeluarkan oleh Ketua BKPM atas nama menteri keuangan. 4. Pesetujuan pemberian fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk atas pengimpor bahan baku atau badan penolong. Persetujuan ini dikeluarkan oleh Ketua BKPM atas nama Menteri Keuangan yang diperlukan oleh proyek penanaman modal yang telah memperoleh persetujuan pemerintah untuk kebutuhan dua tahun produksi bagi proyek baru. 5. Persetujuan penangguhan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan atau Pajak Penjualan Barang Mewah. 29
  30. 30. Permohonan penanaman modal baru diajukan secara tertulis ditujukan kepada Ketua BKPM dengan tembusan Ketua BKPM setempat, yang dilengkapi dengan: 1. Rekaman akte pendirian perusahaan untuk PT, BUMN/BUMD atau Firma. 2. Surat Kuasa apabila penandatanganan permohonan bukan dilakukan oleh pemohon sendiri. 3. Rekaman Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pemohon. 4. Uraian proses produksi yang dilengkapi dengan bagan alir proses, serta mencantumkan jenis bahan baku/penolong, bagi industri pengolahan. Selain itu, Keputusan Menteri Negara Pengerak Dana Investasi / Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 15 / SK / 1993 tentang tata cara permohonan penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing. Bab IV pasal 11 menyatakan bahwa perusahaan penanaman modal wajib memiliki Izin Usaha Tetap (IUT) untuk dapat memulai pelaksanaan kegiatan produksi komersial. Izin Usaha Tetap (IUT) tersebut harus dilengkapi dengan: - Rekaman Izin Lokasi - Rekaman Izin Mendirikan Bangunan (IMB) - Hak atas tanah - Laporan kegiatan Penanaman Modal (LKPM) - Surat pernyataan siap berproduksi komersial Sedangkan untuk memperoleh ijin lokasi pemohon menyampaikan permohonan secara tertulis kepada Gubernur Kepala Daerah melalui Kepala Kanwil BPN dengan dilengkapi: - Rekomendasi Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah - Akte Pendirian Perusahaan bagi Perusahaan yang berbadan hukum atau Surat Izin Usaha bagi Perusahaan Perorangan. - Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) - Lay Out Proyek - Garis besar uraian proyek - Pernyataan kesanggupan memberikan ganti rugi dan atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik tanah. 30
  31. 31. - Surat Persetujuan Penananaman Modal bagi Perusahaan yang menggunakan fasilitas Penanaman Modal. - Konfirmasi Pencadangan Tanah dari Gubernur Kepala Daerah, khusus bagi Perusahaan PMA/PMDN - Pertimbangan Aspek Penatagunaan Tanah. - Peta Rencana Tata Ruang (RUTD/RUTR) lokasi yang bersangkutan. Dewasa ini, pemerintah masih membuka kesempatan lebar-lebar bagi perusahaan yang bermaksud mendirikan industri yang dapat meningkatkan pada bahan baku, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan daerah serta menunjang pembangunan pada sektor non migas. Oleh karena itu, selama persyaratan yang dibutuhkan dapat terpenuhi, maka tidak ada kesulitan untuk memperoleh perizinan tersebut. 3. Pajak Semua Industri yang berorientasi pada profit tidak terlepas dari kewajiban terhadap pajak yang dibebankan, sesuai dengan Undang-Undang No.7 tahun 1994 tentang pajak penghasilan yang menyatakan bahwa yang menjadi subyek pajak adalah badan yang terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, BUMN dan BUMD, perseroan / perkumpulan lainnya, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan/Lembga, dan bentuk usaha tetap. Pajak keuntungan yang diberlakukan berdasarkan Undang-Undang Perpajakan tahun 1994 adalah 10 persen untuk keuntungan sampai Rp. 25 juta, 15 persen untuk keuntungan Rp. 25 juta sampai 50 juta dan 30 persen untuk keuntungan selebihnya. 1. Undang-undang kawasan tanpa rokok Pembatasan merokok di tempat-tempat umum mencegah “bukan perokok dari paparan asap tembakau lingkungan” (perokok pasif). Tempat-tempat umum tersebut meliputi baik tempat kerja pribadi, bangunan kantor, restoran, kendaraan umum, lift, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan sarana rekreasi, tempat perbelanjaan, warung-warung maupun tempat-tempat lainnya dimana orang berada dalam ruangan. 31
  32. 32. 2. Pembatasan promosi industri tembakau untuk anak dan remaja Makin dini seseorang mulai merokok, makin besar kemungkinannya untuk mempertahankan kebiasaan tersebut selama hidup. Usia rata-rata mulai merokok di Indonesia menurun dari 18,8 tahun (1995) menjadi 18,3 tahun (2001). Industri tembakau memandang remaja sebagai target utama untuk memperluas pasarnya dan secara aktif mempromosikan penggunaan tembakau diantara anak-anak dan remaja. 3. Kemasan dan pelabelan Ruangan yang terbatas untuk penempatan label pada produk tembakau mengakomodir dua kepentingan yang bersaingan. Dua kepentingan yang dapat diakomodir dalam ruang untuk pelabelan adalah: a) untuk mempromosikan merk dan pernyataan pabrik; b) menyediakan ruang bagi peringatan kesehatan, informasi konsumen, dan pita cukai. 4. Peringatan kesehatan. Peringatan kesehatan pada bungkus rokok, produk tembakau lain dan iklan rokok membantu memberikan informasi pada konsumen tentang dampak negatif penggunaan tembakau pada kesehatan. Efektivitas peringatan kesehatan tergantung pada ukuran pesan, warna, bentuk huruf dan gambar; serta apakah pesan tersebut selalu sama atau berubah-ubah. 5. Tuntutan hukum Litigasi mulai menjadi perhatian para pendukung penanggulangan tembakau karena besarnya dan berhasilnya tuntutan terhadap industri tembakau di Amerika Serikat baru-baru ini. Sukses dari perjuangan hukum di Amerika menunjukkan pentingnya untuk memfokuskan pada perilaku yang salah dari industri tembakau. Hubungan antara penyakit dan merokok telah diketahui sejak tahun 1950-an. Tetapi dari tahun 1954 hingga tahun 1980an, industri tembakau berhasil memenangkan ratusan kasus hukum. Pertama, industri tembakau menyangkal bahwa tembakau menyebabkan penyakit dan kematian. Kemudian mereka juga berargumentasi bahwa, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa rokok menyebabkan penyakit dan karena itu para perokok tahu resiko kesehatan. 32
  33. 33. 4. Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau Di Indonesia Pemerintah memutuskan kenaikan cukai hasil tembakau sebesar 7% yang dilaksanakan pada 1 Februari 2009 untuk mengendalikan konsumsi rokok dan mencapai target penerimaan cukai senilai Rp. 53.30 triliun. Kenaikan setoran Industri Hasil Tembakau ini harus dibarengi penurunan konsumsi rokok. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan menekan pertumbuhan konsumsi rokok di level 5% dengan menaikkan beban cukai rokok rata-rata sebesar 7% per tahun. E. Kondisi Infrastruktur Dengan penjualan rokok yang mencapai 1,4 Milyar batang untuk untuk tahun 2009. Kesuksesan tersebut tentunya tidak luput dari adanya kecukupan dan kesiapan fasilitas yang dimiliki oleh PT. X. Berikut adalah beberapa penjelasan Fasilias yang dimiliki oleh PT. X Ruangan yang dibutuhkan oleh PT. X terdiri atas ruangan produksi dan ruangan penunjang produksi dan ruangan non produksi. Ruangan produksi adalah ruangan tempat dilakukannya proses pengolahan bahan baku menjadi produk akhir, dan ruangan non produksi adalah ruangan untuk aktifitas yang mendukung kegiatan produksi. 1. Ruangan Produksi Ruangan ini Digunakan untuk melakukan proses pembuatan rokok, Berikut adalah Spesifikasi dari ruangan Produksi yang ada di PT. X 1). PT. X mempunyai Ruang areal produksi seluas 6000m persegi 2). PT. X saat ini mempunyai 6 Mesin Maker dan 6 mesin packer yaitu Machine Maker di PT. X ada 3 jenis yaitu, 3 buah Protos 100, 2 buah Protos 70 dan 1 buah Protos 80, dan Machine packer di Philip Morris ada 3 jenis yaitu, 3 buah Focke 550, 2 buah GDX-2 dan 1 buah Focke 350 3). PT. X mempunyai ruang operator. Ruang operator adalah ruang yang berfungsi untuk.memantau produksi, luas ruang operator ini adalah10 meter persegi Areal penumpukan 33
  34. 34. Fasilitas lainnya di ruangan produksi. Selain ruangan produksi utama, fasilitas lainnya yang digunakan untuk memperlancar arus produksi adalah : Ban Berjalan Ban Berjalan di ruangan produksi digunakan untuk pergerakan material rokok. Dimana prosesnya secara otomatis Forklift Forklift yang digunakan di ruangan produksi adalah forklift bertenaga listrik. Keunggulan forklift bertenaga listrik ini selain hemat bahan bakar, juga tidak menimbulkan polusi di dalam. Forklift digunakan untuk mengangkut produk yang sudah jadi ke gudang penumpukan barang jadi. 2. Ruangan Penunjang Produksi Sebagai penunjang dari kegiatan produksi tentunya kegiatan tersebut tidak luput dari ruangan oenunjang produksi. Ruangan ini berfungsi untuk melancarkan ruangan produksi. Ruangan ini terdiri atas gudang bahan baku, gudang produk jadi, pengawasan mutu, workshop,dan lain – lain. 1). Gudang Bahan Baku Ruangan ini digunakan untuk menyimpan bahan Tembakau, kardus dan bahan – bahan baku lainnya untuk kegiatan produksi selanjutnya, luas ruangan ini adalah400.meter persegi dan mampu menampung hingga 10 ton tembakau 2). Gudang Produk Jadi Ruangan ini digunakan untuk menyimpan produk akhir rokok marlboro untuk selanjutnya akan didistribusikan ke retailer, wholesaler dan gudang distribusi milik PT. X sendiri. Luas Ruang Gudang Produk jadi saat ini adalah 400 meter persegi dan mampu menampung lebih kurang 5000 pallet rokok Marlboro 3). Gudang Distribusi PT. X saat ini hanya mempunyai 2 pabrik yang beroperasi Di Bekasi dan di daerah surabaya tepatnya di Jalan Rungkut Industri raya. Untuk menjaga pasokan rokok marlboro tetap terjaga khususnya di pulau jawa maka PT. X membangun 30 Gudang distribusi yang tersebar di beberapa daerah pulau jawa. Gudang Distribusi ini digunakan untuk menampung produk jadi dari 2 pabrik tersebut, untuk kemudian disalurkan ke retailer dan wholesaler yang selanjutnya 34
  35. 35. akan didistribusikan ke konsumen langsung. Gudang distribusi ini sangat penting sekali untuk menunjang proses produksi dan pemasaran. 4). Quality Control Quality Control bertugas untuk melakukan uji mutu produk, DI PT. X khususnya departemen Quality Control dibagi menjadi 2 divisi yaitu : Divisi pengujian bahan baku dan divisi pengujian produk jadi. Divisi pengujian bahan baku bertugas untuk menguji mutu produk bahan baku yang diperoleh dari pemasok. Divisi pengujian produk jadi bertugas untuk menguji produk yang sudah jadi, dengan cara mengambil sample produk jadi. Biasanya sampel yang diambil berjumlah 10 sloft. Dengan adanya fasilitas quality control, maka produk yang beredar dipasaran tetap terjaga mutunya. 5). Workshop Sebagai salah satu fasilitas yang cukup mempunyai andil di bagian penunjang produksi adalah workshop, ruangan ini digunakan untuk menyimpan peralatan dan mesin cadangan bila ada, serta tempat untuk memperbaiki peralatan dan mesin yang tidak dapat diperbaiki di ruangan produksi. Luas ruangan ini sebesar 50 m2. 3. Ruangan Non Produksi 1). Masjid Masjid ini digunakan sebagai tempat beribadah umat islam dan juga sebagai pusat kegiatan kerohanian umat muslim. Di dalam masjid ini juga ada beberapa fasilitas penunjang seperti toilet yang berjumlah 3 toilet pria dan 3 toilet wanita, serta mempunyai 12 tempat wudhu untuk pria dan 12 untuk wanita. Luas masjid ini sekitar 200 meter persegi. 2). Klinik Klinik ini dugunakan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan bagi karyawan yang sakit. Ruangan ini diperkirakan seluas 50 m2. 3). Kantin Kantin ini sebagai tempat makan bagi para karyawan. Luas ruangan ini diperkirakan seluas 150 m2. 35
  36. 36. 4). Pos Satpam Pos Satpam sebagai pos keamanan penjagaan pabrik, letaknya di dekat pintu masuk pabrik. Diperkirakan luas pos keamanan seluas 10 m2. 5). Penampungan Limbah Pembuangan limbah dari hasil produk “coco drink” di tempatkan di belakang pabrik. Dengan mempunyai luas 5 m2 dan dalamnya kolam 3 m2 6). Bangunan penunjang Tempat istirahat karyawan pada saat jam istirahat dengan mempunyai luas 12 m2. 7). Kantor Ruangan ini dipergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan administratif, yang meliputi ruang staf, ruang tamu, ruang rapat, mushola, kamar kecil (WC) serta dapur. Luas ruangan ini diperkirakan sebesar 250 m2. 36
  37. 37. VI. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI A. Production Programme And Plant Capacity Unit bagian produksi akan memproduksi rokok berdasarkan beberapa parametet. Yaitu parameter kebutuhan pasar, parameter kapasitas mesin dan ketersediaan bahan baku di gudang bahan baku. Tabel 6.1 Proyeksi Penjualan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Penjualan 1.438.823.529 1.273.183.529 1.479.650.706 1.585.269.176 1.941.106.435 Berdsarkan Tabel diatas maka perusahaan akan memproduksi sebanyak 10 % dari ramalan penjualan untuk menjaga ketersediaan di pasar. Tabel 6.2 Proyeksi Program Produksi Rokok Selama 5 Tahun Ke Depan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Dalam 1 Hari PT. X Jumlah Produksi 1.582.705.882 1.400.501.882 1.627.615.777 1.743.796.094 1.955.217.079 Mampu memproduksi kurang lebih 36.000.000 batang rokok. Dalam 1 Hari PT. X Mampu memproduksi kurang lebih 5.400.000 pack rokok. Sehingga dalam 1 tahun PT. X Mampu memproduksi sebanyak 1.971.000.000 Pack Rokok. Sehingga untuk memproduksi kebutuhan rokok sampai 5 tahun ke depan masih mencukupi. Tabel 6.3 Kapasitas Produksi Tahun Kapasitas Produksi 2011 1.971.000.000 2012 1.971.000.000 2013 1.971.000.000 2014 1.971.000.000 2015 1.971.000.000 37
  38. 38. 2,500,000,000 2,000,000,000 1,500,000,000 Kapasitas Pabrik 1,000,000,000 Rencana Produksi 500,000,000 0 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 6.1 Grafik Proyeksi Kapasitas Pabrik dan Rencana Produksi Tabel 6.4 kapasitas produksi selama 5 tahun ke depan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Kapasitas Produksi 1.971.000.000 3.942.000.000 5.913.000.000 7.884.000.000 9.855.000.000 Tabel 6.5. Rekapitulasi Perencanaan Produksi Selama 5 Tahun Ke Depan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Rencana Produksi 1.582.705.882 2.983.207.764 4.610.823.541 6.354.619.635 8.309.836.714 38
  39. 39. 12,000,000,000 10,000,000,000 8,000,000,000 Total Kapasitas Produksi 5 Tahun Ke depan 6,000,000,000 Total Perencanaan Produksi Selama 5 Tahun Ke depan 4,000,000,000 2,000,000,000 0 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar. 6.2. Grafik Proyeksi Total Kapasitas Produksi dan Total Perencanaan Produksi I. Proses Pembuatan Rokok Dalam garis besarnya, proses produksi rokok dibagi dalam 3 (tiga ) tahap kegiatan utama, yaitu : 1. Pra-produksi Tahap ini adalah proses inspeksi bahan baku. Bahan baku yang dikirim melalui truk kemudian disimpan di dalam gudang penyimpanan bahan baku untuk selanjutnya di inspeksi. Tujuan dari tahap pra produksi ini adalah untuk menjamin bahan baku yang akan diproses tetap terjaga mutunya sesuai dengan spesifikasi perusahaan. Spesifikasi tembakau tersebut antara lain : a. Tembakau Virginia b. Filter c. Ramuan saus ( Tidak dapat disebutkan karena rahasia perusahaan ) Setelah melalui proses seleksi yang ketat pada saat pembelian, Bahan baku utama yang telah diproses kemudian dicampur dengan saus hingga siap dibuat menjadi rokok. 2. Produksi ada tiga jenis utama Rokok, yaitu Filter, filter kretek dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebagai hasil kreasi pekerja yang trampil dengan menggunakan 39
  40. 40. alat giling dari kayu serta Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang diproses dengan mesin-mesin otomatis berkecepatan tinggi. Namun pada perusahaan philip morris rokok yang dihasilkan hanya 1 jenis yaitu rokok filter. Contoh dari rokok Jenis Filter adalah Marlboro. Produk Ini berciri khas mempunyai busa, disisi salah satu ujungnya, dan filternya tidak mempunyai rasa ( tawar ). Serta rokok ini sangat enteng untuk dihisap serta mempunyai kadar tar dan nikotin yang rendah.. II.Proses produksi pembuatan rokok Jenis Filter Pada proses pembuatan rokok, proses ini menggunakan 1 line produksi. Proses pertama adalah pengeringan tembakau menggunakan semacam oven, proses ini digunakan untuk mengurangi kadar air yang ada di dalam tembakau, setelah proses pengeringan ini selesai maka proses selanjutnya adalah proses pencacahan tembakau, tembakau dicacah menjadi kecil – kecil untuk proses pencampuran tembakau dengan ramuan – ramuan yang sudah disiapkan sebelumnya. Proses Pertama adalah, setelah melalui tahap inspeksi kemudian kertas dipotong sesuai ukuran ( 120 mm ), setelah kertas pavir dipotong sesuai ukuran, langkah selanjutnya adalah mengisi tembakau dan memadatkan tembakau di dalam kertas pavir pada kertas pavir kemudian digulung agar tembakau tidak tercerai berai. Proses selanjutnya adalah menggabungkan dengan filter yang sudah disiapkan sebelumnya. Pada Proses Produksinya PT. X mempunyai 6 mesin maker (pembuat rokok) dan 6 mesin packer (pengepakan rokok). Machine Maker di PT. X ada 3 jenis yaitu, 3 buah Protos 100, 2 buah Protos 70 dan 1 buah Protos 80, yang secara spesifikasinya sebagai berikut: 1. Nama mesin: Protos 100 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 10.000 batang per menit 40
  41. 41. 2. Nama: Protos 70 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 7000 batang per menit 3. Nama: Protos 80 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 8000 batang per menit Dalam 1 Hari PT. X Mampu memproduksi kurang lebih 36.000.000 batang rokok. 3. Pengepakan Batangan-batangan rokok yang telah jadi, membutuhkan beberapa lapis kemasan dengan berbagai ukuran sesuai jenis produk, isi serta keperluan 41
  42. 42. distribusinya. Fungsi pengemasan di sini selain berguna untuk mempertahankan mutu rokok, juga untuk memberikan citra terhadap produk. Proses pengepakan rokok menjalani beberapa tahap pengemasan secara berlapis. Kemasan lapisan pertama adalah kertas yang berlapis alluminium foil. Lapisan kedua adalah pembungkus (etiket) yang telah mengalami proses cetak terlebih dahulu. Pengemasan ketiga dalam bentuk press atau slof, kemasan keempat dalam bentuk bal (corrugated). Machine Packer di PT. X ada 3 jenis yaitu, 3 buah Focke 550, 2 buah GDX-2 dan 1 buah Focke 350, yang secara spesifikasinya sebagai berikut: 1. Nama: Focke 550 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 500 pack per menit 2. Nama: GDX-2 Asal Mesin: Italy Kapasitas Produksi: 350 pack per menit 3. Nama: Protos Focke 350 Asal Mesin: Germany 42
  43. 43. Kapasitas Produksi: 350 pack per menit Untuk menjamin ketersediaan rokok marlboro dipasaran khususnya pulau jawa, maka PT. X membangun pabrik di daerah Surabaya. Dalam 1 Hari PT. X Mampu memproduksi kurang lebih 5.400.000 pack rokok. B. Pemilihan Teknologi Pada Proses Produksinya PT. X mempunyai 6 mesin maker (pembuat rokok) dan 6 mesin packer (pengepakan rokok). Machine Maker di Philip Morris ada 3 jenis yaitu, 3 buah Protos 100, 2 buah Protos 70 dan 1 buah Protos 80, yang secara spesifikasinya sebagai berikut: 1. Nama mesin: Protos 100 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 10.000 batang per menit 2. Nama: Protos 70 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 7000 batang per menit 43
  44. 44. 3. Nama: Protos 80 Asal Mesin: Germany Kapasitas Produksi: 8000 batang per menit Untuk menjamin ketersediaan rokok marlboro dipasaran khususnya pulau jawa, maka PT. X membangun pabrik di daerah surabaya. C. Technology Acquisition and Transfer PT X membentuk tim yang terdir dari para professional di bidang sistem informasi, Penjualan dan operasional untuk menentukan sistem yang dapat meningkatkan efisiensi operasional. Setelah melakukan studi banding, sistem iSMS direkomendasikan sebagai pilihan terbaik. iSMS telah digunakan oleh sejumlah afiliasi PMIlainnya.Tim proyek iSMS berhasil melakukan persiapan atas seluruh infrastruktur TI yang dibutuhkan serta membuat strategi implementasi dan pelatihan yang segera dilaksanakan ketika sistem telah diaktifkan. Kami berhasil melaksanakan implementasi iSMS di kantor-kantor penjualan dengan 4 komponen berikut ini: 1. Aplikasi handheld iSMS untuk digunakan oleh tenaga penjual 44
  45. 45. 2. Aplikasi back office iSMS untuk digunakan pada komputer desktop di kantor penjualan 3. Aplikasi Front Office Reporting Tool (FORT) untuk digunakan oleh para supervisor penjualan 4. Aplikasi Back Office Reporting & Analysis (BORA) untuk para manajer area dan manajemen. Implementasi iSMS telah memberikan sejumlah manfaat dalam meningkatkan efisiensi transaksi penjualan dan pengendalian terhadap pekerjaan administratif, serta yang juga penting, meningkatkan akurasi dan kualitas informasi penjualan untuk membantu pembuatan keputusan D. Detailed Plant Layout And Basic Engineering 45
  46. 46. Tabel 6.6 Proyeksi Biaya Perawatan Selama 5 Tahun Ke Depan Tahun 2011 2012 2013 2014 Rp18.420.309.000 Rp11.769.813.000 Rp10.970.379.000 Rp11.705.160.000 Rp9.970.293.000 Gudang Bahan Baku Rp12.013.245.000 Rp7.675.965.000 Rp7.154.595.000 Rp7.633.800.000 Rp6.502.365.000 Gudang Produk Jadi Rp12.013.245.000 Rp7.675.965.000 Rp7.154.595.000 Rp7.633.800.000 Rp6.502.365.000 Gudang Distribusi Rp6.407.064.000 Rp4.093.848.000 Rp3.815.784.000 Rp4.071.360.000 Rp3.467.928.000 Quality Control Rp4.004.415.000 Rp2.558.655.000 Rp2.384.865.000 Rp2.544.600.000 Rp2.167.455.000 Workshop Rp4.004.415.000 Rp2.558.655.000 Rp2.384.865.000 Rp2.544.600.000 Rp2.167.455.000 Masjid Rp400.441.500 Rp255.865.500 Rp238.486.500 Rp254.460.000 Rp216.745.500 Klinik Rp400.441.500 Rp255.865.500 Rp238.486.500 Rp254.460.000 Rp216.745.500 Kantin Rp400.441.500 Rp255.865.500 Rp238.486.500 Rp254.460.000 Rp216.745.500 Pos Satpam Rp400.441.500 Rp255.865.500 Rp238.486.500 Rp254.460.000 Rp216.745.500 Penampungan Limbah Rp8.008.830.000 Rp5.117.310.000 Rp4.769.730.000 Rp5.089.200.000 Rp4.334.910.000 Bangunan Penunjang Rp5.606.181.000 Rp3.582.117.000 Rp3.338.811.000 Rp3.562.440.000 Rp3.034.437.000 Kantor Rp8.008.830.000 Rp5.117.310.000 Rp4.769.730.000 Rp5.089.200.000 Rp4.334.910.000 Rp80.088.300.000 Rp51.173.100.000 Rp47.697.300.000 Rp50.892.000.000 Rp43.349.100.000 Ruangan Produksi 2015 Ruangan Penunjang Produksi Ruangan non produksi Total Biaya Maintenance Biaya Maintenance Rp90,000,000,000 Rp80,000,000,000 Rp70,000,000,000 Rp60,000,000,000 Rp50,000,000,000 Biaya Maintenance Rp40,000,000,000 Rp30,000,000,000 Rp20,000,000,000 Rp10,000,000,000 Rp0 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 6.3 Grafik Biaya Maintenance 46
  47. 47. VII. ASPEK ORGANISASI DAN OVERHEAD COST A. Struktur Organisasi Pelaksanaan kegiatan setiap hari PT. Philip Morris dipimpin oleh seorang Direktur yang membawahi empat orang manajer, yang terdiri dari Manajer Distribusi dan Pemasaran, Manajer Pabrik, Manajer Administrasi dan Keuangan, dan Manajer Teknis. Deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing jabatan adalah sebagai berikut: 1. General Manager General manager merupakan penanggung jawab tertinggi kegiatan harian perusahaan. General manager bertanggung jawab terhadap semua paaksanaan kegiatan di abrik, baik kelancaran produksi, urusan keuangan dan sebagainya serta mewakili perusahaan untuk kegiatan keluar perusahaan baik dengan aparat setempat, pemerintah, lingkungan setempat atau antar perusahaan. 2. Manager pemasaran dan distribusi Manager pemasaran bertanggung jawab melakukan kegiatan promosi pemasaran produk, mencari relasi baru dan memelihara daerah pemasaran produk. Divisi pemasaran merupakan bagian yang strategis dalam perusahaan. Kepala divisi pemasaran harus mampu manciptakan sasaran dan strategi pemasaran yang jitu, serta harus mampu memanfaatkan dan menciptakan peluang pasar. Betanggung jawab kepada General Manager terhadap keberhasilan kegiatan pemasaran perusahaan baik volume dan nilai pemasaran produk. 3. Manager Pabrik Manager pabrik bertugas dan bertanggung jawab dalam mengawasi segala kegiatan yang berkaitan dengan produksi, melakuan perecanaan produksi, mengawasi kondisi gudang, mengawasi berbgai hal yang berkaitan 47
  48. 48. dengan kondisi produksi terutama bahan baku, bahan penolong, kemasan produk serta kondisi dan peralatan yang digunakan. 4. Manager Finansial dan Administrasi Manager finansial dan administrasi bertanggung jawab menyusun budget penerimaan dan pengeluaran perusahaan untuk periode waktu mendatang, kemudian meganalisa perbedaan antara angka anggaran dengan kenyataannya, mencatat semua transaksi yang berkaitan dengan perusahaan dan melakukan pengawasan terhadap budget yang dianggarkan dan membuat langkah perbaikannya. 5. Manager Operasi Manager Operasi bertugas dan bertanggung jawab mengawasi kesiapan penggunaan mesin dan peralatan produksi serta operasionalnya. 6. Manager R&D Manager R&D melakukan perencanan kegiatan penelitian dan pengemangan terhadap produk baru agar memperoleh keunggulan dalam peesaingan produk di pasaran, melakukan kegiatan pemasaran mutu terhadap bahan baku sebelum diolah dan produk, begiti pula hasil penelitian dan pengembangan berupa formula baru dalam mengolah produk. 7. Kepala Divisi Pemasaran Kepala Divisi pemasaran bertugas melakukan pengawasan terhadap pemasaran hasil produksi baik produk yang masuk maupun yang keluar, mendayagunakan potensi produksi menjadi kekuatan potensial dalam pemasaran hasil produksi. 8. Kepala Divisi Distribusi Manager distribusi bertanggung jawab terhadap kelancaran kegiatan distribusi. 48
  49. 49. 9. Manager Produksi Manager produksi bertugas merencanakan jadwal produksi, mengawasi dan mengendalikan produksi, menekan dan mengurangi kerusakan produk, mendukung kebijakan peruahaan dalam bidang produksi sehinghga tujuan perusahaan tercapai. 10. Manager QA Manager QA bertugas melakukan koreksi terhadap terhadap penyimpanan proses produksi mengontrol mutu produk, melakukan pengontrolan mutu/kualitas pada seluruh bahan kemasam dan bahan tambahan/pembantu, mengatasi masalah yang menyangkut mutu atau produk. 11. Supervisor QC Supervisor QC bertugas Memberikan perintah kerja kepada masing-masing kepala kelompok, memeriksa laporan harian yang dibuat oleh staff QC, mengontrol tahapan proses terutama pada titik kritis dan waktu kritis. 49
  50. 50. B. Organizational Design Tabel. 7.1 Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Tak Langsung Jenis Pekerjaan Jumlah Tenaga Kerja Direktur Utama 1 Direktur Operasional 4 Direktur Teknik 1 Direktur Pemasaran 1 General Manajer 1 Manajer 6 Kepala Divisi 8 Engineering 4 Staff 20 Satpam 2 Office Boy 45 Sopir 5 Kenek 3 Jumlah tenaga kerja tak langsung 103 Tabel. 7.2 Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Langsung Jenis Pekerjaan Jumlah Tenaga Kerja Penerimaan bahan 5 Pra pengolahan bahan baku 9 Proses pengolahan utama ( Produksi ) 20 Pengisian bahan 1 Pengemasan / Pengepakan 6 Gudang produk 2 Gudang bahan pembantu dan kemasan 2 Laboratorium 4 Sumber energi 3 Teknisi 8 Jumlah tenaga kerja langsung 60 50
  51. 51. C. Biaya Overhead Tabel 7.3 Total Biaya Overhead Tahun Jumlah Tenaga Kerja Langsung Jumlah Tenaga Kerja tak Langsung Total Biaya Overhead 2011 2012 2013 2014 2015 Rp28.030.905.000 Rp28.030.905.000 Rp28.030.905.000 Rp28.030.905.000 Rp28.030.905.000 Rp13.615.011.000 Rp13.615.011.000 Rp13.615.011.000 Rp13.615.011.000 Rp13.615.011.000 Rp41.645.916.000 Rp41.645.916.000 Rp41.645.916.000 Rp41.645.916.000 Rp41.645.916.000 51
  52. 52. VIII. HUMAN RESOURCES A. Kategori Dan Fungsi 1. Kualifikasi Tenaga Kerja Untuk menentukan kualifikasi tenaga kerja harus diperhatikan tanggung jawab yang dibebankan pada suatu posisi sehingga diharapkan orang yang memegangnya dapat melakukan tugas dengan baik. Tenaga kerja yang dibutuhkan pada industri pengolahan yoghurt ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu tenaga kerja yang membutuhkan kualifikasi khusus dan tenaga kerja yang tidak membutuhkan kualifikasi khusus. 2. Tenaga Kerja Yang Memerlukan Kualifikasi Khusus a. Direktur Seorang direktur yang dibutuhkan dalam industri rokok adalah yang memiliki kemampuan dalam bidang manajemen dan teknik industri, dengan kualifikasi sebagai berikut: Berlatar pendidikan sarjana Teknologi Industri Pertanian Berpengalaman minimal 5 tahun dalam bidangnya. Memiliki kemampuan memimpin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan. b. Manager Kualifikasi yang dibutuhkan seorang manajer antara lain: Berlatar belakang pendidikan sarjana atau diploma pada disiplin ilmu yang sesuai dengan bagiannya. Berpengalaman minimal 3 tahun dibidangnya. Memiliki kemampuan memimpin dan mau bekerja keras. c. Staff Staff bertanggung jawab terhadap tugas atau pekerjaan yang terdapat di bagiannya masing-masing. Kualifikasi yang dibutuhkan antara lain: 52
  53. 53. Berlatarbelakang pendidikan Politeknik atau Diploma yang sesuai dengan bidangnya. Berpengalaman minimal 3 tahun dibidangnya. Memiliki kemampuan memimpin dan mau bekerja keras. 3. Tenaga Kerja Yang Tidak Memerlukan Kualifikasi Khusus a. Teknisi Yang dimaksud dengan teknisi adlah tenaga kerja yang bekerja untuk membantu kelancaran mesin dan operasi produksi. Latar belakang yang dibutuhkan oleh teknisi adalah minimal SMA/STM. b. Operator Yang dimaksud dengan operator adalah tenaga kerja yang bertugas dalam mengoperasikan mesin atau alat. Sedangkan tenaga pelaksana lainnya meliputi tenaga penggerak, sopir, satpam, dan lainlain. Latar belakang pendidikan yang dibutuhkan untuk operator dan tenaga pelaksana lainnya adalah SMP. 4. Kebutuhan Tenaga Kerja Kebutuhan tenaga kerja untuk PT. X terdiri dari tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung. Tenaga kerja tak langsung berjumlah sebanyak 103 orang. Tenaga kerja bagian produksi atau tenaga kerja langsung dapat dipenuhi oleh penduduk di daerah sekitar pabrik atau industri tersebut dengan kualifikasi yang tidak terlalu tinggi karena sebelum mulai bekerja akan diadakan pelatihan bagi tenaga kerja bagian produksi. Jumlah tenaga kerja langsung keseluruhan adalah 163 orang. 53
  54. 54. Tabel 8.1 Kebutuhan Tenaga Kerja Tak Langsung Jenis Pekerjaan Jumlah Tenaga Kerja Direktur Utama 1 Direktur Operasional 4 Direktur Teknik 1 Direktur Pemasaran 1 General Manajer 1 Manajer 6 Kepala Divisi 8 Engineering 4 Staff 20 Satpam 4 Office Boy 45 Sopir 5 Kenek 5 Jumlah tenaga kerja tak langsung 105 Tabel 8.2 Kebutuhan Tenaga Kerja Langsung Akivitas Jumlah Tenaga Kerja Penerimaan bahan 5 Pra pengolahan bahan baku 9 Proses pengolahan utama ( Produksi ) 20 Pengisian bahan 5 Pengemasan / Pengepakan 6 Gudang produk 6 Gudang bahan pembantu dan kemasan 6 Laboratorium 4 Sumber energi 6 Teknisi 8 Jumlah tenaga kerja langsung 75 54
  55. 55. B. Socio Economic And Cultural Environtment Berikut adalah beberapa dampak pendirian pabrik rokok terhadap lingkungan masyarakat sekitar diantaranya: 1. Pemasukan Keuangan Negara Semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis di Indonesia mendorong banyak perusahaan untuk lebih berpikir ke depan guna menjalankan strategi yang terbaik bagi perusahaannya. Persaingan ini khususnya pada bisnis rokok yang semakin mendapatkan tekanan dari pemerintah dan lembaga lainnya yang peduli pada masalah kesehatan. Tekanan tersebut meningkat pada tahun 2006,pemerintah kembali menaikan target cukai menjadi 36,5 trilyun rupiah. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 75 Tahun 2005 atau Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok (KDM). Undang-undang kawasan bebas rokok ini berlaku secara efektif pada tanggal 4 Februari 2006. Peraturan kawasan bebas rokok tersebut tentu merugikan bagi perusahaan rokok, karena dapat menurunkan volume penjualan rokok yang disebabkan oleh keterbatasan tempat merokok. Salah satu perusahaan rokok tersebut adalah PT. HM Sampoerna TBk. yang telah diakuisisi oleh PT. X. Pada Tahun 2005, PMI telah menyelesaikan akuisisi terbesar dalam sejarah korporasi Indonesia dengan memiliki 98% saham Sampoerna. Tanggal 18 Mei 2005 tersebut menandai dimulainya era baru dalam sejarah perusahaan rokok yang telah berdiri di Kota Surabaya sejak Tahun 1913 ini. 2. Program CSR Melalui profil program CSR Sampoerna dapat dilihat bahwa program CSR yang telah dilakukan oleh Sampoerna meliputi berbagai sektor kehidupan di dalam masyarakat, yakni: pendidikan, pemanfaatan potensi dan sumber daya masyarakat sekitar, kesehatan, sosial dan budaya, pengembangan infrastruktur, dan aspek strategis lainnya. Program CSR Sampoerna dibagi menjadi beberapa program utama, yaitu: Sampoerna goes to campus, pendidikan, community development, lingkungan, sosial, dan employee. 55
  56. 56. Gambar 8.1. Hubungan Perusahaan dengan Masyarakat sekitar 3. Program Bimbingan Anak (PBA) PBA merupakan perwujudan dari kepekaan PT.X akan pentingnya masa depan anak-anak Indonesia. Sampoerna yakin, masa depan Indonesia dan generasi penerus bangsa bergantung pada apa yang dilakukan orang tua pada saat ini kepada anak-anaknya. Dari keyakinan tersebut, PBA menanamkan konsep bahwa anak-anak perlu diberi pengertian yang kuat sejak dini bahwa apa yang terjadi pada negeri ini di masa datang adalah tanggung jawab bersama. Orang tua perlu memberikan bimbingan kepada anak-anak agar mereka dapat mengembangkan dirinya untuk menjawab tantangan di masa depan. Oleh karena itu munculah pesan inti PBA: ’Bimbingan masa depan mereka’ 5. Program pustaka Program pustaka Sampoerna mendorong kegemaran membaca di kalangan anak-anak melalui berbagai kegiatan seperti pengelolaan perpustakaan, pengoperasian mobil pustaka, serta beragam kegiatan lain yang tak selalu terkait dengan medium buku, namun melalui komik dan dongeng, misalnya. Dalam pustaka Sampoerna ini, 2 unit mobil pustaka yang diluncurkan sejak tahun 2003, terus beroperasi mengunjungi 22 SD dan Marsadah Ibtida’iyah di kecamatan Rungkut dan Pabean Cantikan di Jawa Timur. Program ini berupaya mendekatkan anak-anak dengan dunia pustaka sejak dini. Lalu pada bulan April 2005, Pustaka Sampoerna menggelar pelatihan mengelola yang diikuti 40 siswa dan 20 guru 56
  57. 57. sekolah di wilayah Jabodetabek. Kemudian mengadakan kegiatan ’how to use the library’ di lima perpusatakaan umum di Jakarta, dengan 500 siswa dari 50 sekolah dasar di Jakarta. Seluruh sekolah dasar yang berpartisipasi juga mendapatkan rak buku dan buku-buku untuk mengisi perpustakaannya. Gambar 8.2 Perpustakaan Keliling 6. Bantuan Pendidikan Pendidikan memainkan peran yang pentingdalam masyarakat, sehingga melakukaninvestasi dalam pendidikan merupakan suatukeharusan, tidak hanya bagi masyarakatIndonesia, namun juga merupakan strategi penting untuk memastikan tersedianya sumber daya manusiaberkualitas dan berbakat bagi kelangsungan bisnis Perseroan. Pada bulan Mei Perseroan melaksanakan Indonesia Best Students 2007. Pada kegiatan tersebut, 92 siswa terbaik dari 18 universitas di Indonesia selama lima hari melakukan berbagai kegiatanseperti mengunjungi kantor dan fasilitas produksi, berdiskusi dengan anggota manajemen dan staff Perseroan, serta mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan.Selain dukungan Perseroan terhadap kegiatannya pada sektor pendidikan,kegiatan kemasyarakatan Perseroan juga meliputi berbagai bentuk bantuan pendidikan. Pada bulan Juni, Perseroan meluncurkan model baru program “Pustaka keliling”. Dengan wilayah layanan yang lebih luas, perpustakaan keliling Pustaka kini dapat menyediakan buku-buku bacaan bagi masyarakat di sekitar Surabaya dan Pandaan. Selain itu, Perseroan juga melaksanakan lomba menulis untuk mengumpulkan cerita-cerita rakyat dari Kabupaten Pasuruan. Kemudian ceritaceritaterpilih dari lomba tersebut dikumpulkan dan diluncurkan dalam sebuah buku pada bulan Desember. Pada tahun 2007, Perseroan meneruskan dukungan terhadap komunitas kampus di nusantara melalui Program Kampus. Perseroan 57
  58. 58. memberikan dukungan kepada Twilite Orchestra dalam menyelenggarakan konser simfonik Musicademia di 3 universitas di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Akhirnya pada bulan Desember, Perseroan kembali menunjukkan komitmen dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia dengan mengadakan program bea siswa di Kabupaten Pasuruan untuk menjawabkebutuhan bagi dukungan pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitar lokasi Perseroan. D. Proyek Related Requirement Kegiatan yang masih berkaitan dengan perencanaan SDM adalah perekrutan atau pengadaan tenaga kerja. Setelah organisasi / perusahaan menetapkan karakteristik atau ciri-ciri karyawan yang diperlukan serta jumlahnya masing-masing, maka kegiatan selanjutnya adalah upaya mendapatkan tenaga kerja yang diperlukannya tersebut. Idealnya upaya pengadaan tenaga kerja ini untuk memastikan bahwa tenaga kerja yang direkrut dan ditempatkan nantinya adalah the right people in the right position. Pengadaan tenaga kerja itu sendiri adalah suatu proses untuk mendapatkan tenaga yang berkualitas dan memberikan harapan yang baik pada calon tenaga kerja tersebut untuk membuat lamaran kerja guna bekerja pada instansi/perusahaan tersebut. Khusus bagi organisasi/perusahaan yang besar, pengadaan tenaga kerja merupakan proses yang terus berlangsung dan kompleks dan menuntut perencanaan dan upaya yang ekstensif. Proses perekrutan dimulai dari mencari dan menarik pelamar yang mampu melakukan suatu pekerjaan sampai adanya lamaran masuk. 1. Tujuan Perekrutan • Menyediakan sekumpulan calon tenaga kerja/karyawan yang memenuhi syarat; • Agar konsisten dengan strategi, wawasan dan nilai perusahaan; • Untuk membantu mengurangi kemungkinan keluarnya karyawan yang belum lama bekerja; • Untuk mengkoordinasikan upaya perekrutan dengan program seleksi dan pelatihan; • Untuk memenuhi tanggungjawab perusahaan dalam upaya menciptakan kesempatan kerja yang adil. 58
  59. 59. 2. Sumber Perekrutan Calon tenaga kerja yang akan direkrut dapat diambil dari internal organisasi maupun eksternal organisasi. Perekrutan tenaga kerja dari dalam biasanya dilakukan oleh organisasi/perusahaan yang telah lama berjalan dan memiliki sistem karier yang baik. Perekrutan tenaga kerja dari dalam memiliki keuntungan, diantaranya adalah tidak mahal, promosi dari dalam dapat memelihara loyalitas dan dedikasi pegawai, dan tidak diperlukan masa adaptasi yang terlalu lama, karena sudah terbiasa dengan suasana yang ada. Namun demikian perekrutan dari dalam juga berarti terjadinya pembatasan terhadap bakat yang sebenarnya tersedia bagi organisasi dan mengurangi peluang masuknya pemikiran baru. (1) Eksternal Seringkali organisasi/perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan syarat-syarat tertentu yang tidak dimiliki oleh SDM yang ada. Untuk itu perekrutan calon tenaga kerja akan diambil dari luar organisasi. Beberapa sumber yang dapat digunakan dalam perekrutan eksternal seperti : a. Lembaga pendidikan Perekrutan calon tenaga kerja dilakukan biasanya bila organisai/perusahaan memerlukan jenis pendidikan tertentu tanpa memperdulikan 59
  60. 60. pengalaman kerja. Melalui cara perekrutan ini, diharapkan dapat dibentuk karyawan sesuai yang diinginkan organisasi/perusahaan. b. Teman/anggota keluarga karyawan Organisasi/perusahaan dapat meminta jasa karyawan lama untuk mencarikan calon tenaga kerja. Umumnya karyawan yang dimintai tolong akan menyambut gembira, meskipun untuk tugas tersebut mereka tidak mendapatkan imbalan dalam bentuk materi. Lebih-lebih dalam kondisi sulitnya lapangan kerja seperti saat ini, karyawan akan gembira untuk menyodorkan informasi calon pegawai seperti saudara/teman/tetangga dan sebagainya. c. Lamaran terdahulu yang telah masuk Perekrutan juga dapat diambil dari lamaran terdahulu yang telah masuk. Melalui pembukaan arsip atau file lamaran yang belum diterima, diharapkan akan didapat calon pegawai yang memiliki persyaratan sebagaimana yang diharapkan. d. Agen tenaga kerja Cara ini boleh dibilang relatif sangat baru dan belum populer di Indonesia. Agen tenaga kerja adalah perusahaan swasta yang kegiatan utamanya adalah mencari dan menyalurkan tenaga kerja. e. Karyawan perusahaan lain Perekrutan calon karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lain dapat dilakukan secara legal maupun illegal. Yang dimaksud legal disini adalah perusahaan yang ingin merekrut harus mengeluarkan sejumlah biaya yang akan dibayarkan kepada perusahaan tempat calon pegawai tersebut bekerja. Perekrutan model ini lebih dikenal dengan sebutan transfer. Sedangkan perekrutan secara illegal lebih dikenal dengan pembajakan. Kelebihan dari perekrutan ini adalah : pengalaman terjamin; training/latihan diperlukan sekadarnya; kemungkinan mendapatkan ide-ide baru besar. Namun juga terdapat kelemahan dalam cara ini, yaitu : loyalitas kurang, terjamin, dan calon mungkin memiliki kebiasaan yang kurang sesuai dengan iklim organisasi. 60
  61. 61. f. Asosiasi profesi Perekrutan dilakukan melalui asosiasi suatu profesi sebagai mediator penyedia tenaga kerja profesional bagi perusahaan, seperti di Indonesia terdapat KADIN, IWAPI, HIPMI, IAI, dsb. g. Outsourcing Terkadang perusahaan juga perlu melakukan efisiensi, beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa harus mengangkat tenaga kerja tetap dapat menggunakan tenaga kerja kontrak (outsourcing). Metode perekrutan karyawan dengan sumber dari luar perusahaan, dapat dilakukan : (2) Internal Melalui iklan atau adventensi diharapkan perusahan dapat merekrut calon tenaga kerja dengan spesifikasi tertentu dan dengan pengalaman kerja tertentu. Perekrutan melalui iklan ini biasanya disertai dengan suatu janji yang menarik, misalnya gaji yang besar, masa depan yang menarik dan sebagainya. Kebaikan perekrutan dengan menggunakan iklan adalah ; • Dapat mencapai sasaran yang cukup luas. • Hubungan langsung antarorganisasi/perusahaan dengan pelamar. • Cara yang dianggap praktis. • Kemungkinan besar mendapatkan calon yang berbobot (berkualitas). • Efektif untuk mendapatkan calon tenaga kerja yang tidak terpusat. Kelemahan pengadaan tenaga kerja melalui iklan adalah : • Memerlukan biaya yang cukup mahal. •Kemungkinan pelamar yang datang cukup banyak sehingga menyulitkan penyelesaian. Open house Untuk menjaring lebih banyak tenaga potensial secara umum, perusahaan dapat melakukan open house di sejumlah kalangan yang diprediksikan dapat menarik calon tenaga kerja potensial, seperti di perguruan tinggi, even-even tertentu. Menyewa konsultan perekrutan Terkadang untuk mencari dan merekrut tenaga kerja profesional dibutuhkan konsultan yang mampu mencari tenaga tersebut, 61
  62. 62. dengan demikian ada jaminan melalui konsultan perekrutan perusahaan tidak perlu membuang waktu untuk mencari tenaga kerja yang sesuai. Beberapa alternatif perekrutan dari dalam organisasi melalui : a. Promosi Perekrutan internal yang paling banyak dilakukan adalah promosi untuk mengisi kekosongan pada jabatan yang lebih tinggi yang diambil dari pekerja yang jabatannya lebih rendah. b. Transfer/Rotasi Di samping itu terdapat pula kegiatannya dalam bentuk memindahkan pekerja dari satu jabatan ke jabatan lain yang sama jenjangnya. Dengan kata lain promosi bersifat vertikal, sedang pemindahan berifat horizontal (rotasi). c. Pengkaryaan Kembali Berlaku untuk karyawan yang diberhentikan sementara dan dipanggil kembali ketika ada jabatan yang kosong. d. Kelompok Pekerja Sementara / Kontrak Kerja Kelompok pekerja sementara (temporer) adalah sejumlah tenaga kerja yang dipekerjakan dan diupah menurut keperluan, dengan memperhitungkan jumlah jam atau hari kerja. Namun mereka dapat menjadi pekerja tetap, jika sesuai dengan persyaratan. Perekrutan internal sebagaimana diuraikan di atas memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya : (1) Pembiayaannya relatif murah, karena tidak memerlukan proses seleksi seperti dilakukan pada perekrutan eksternal. (2) Organisasi mengetahui secara tepat pekerja yang berkemampuan tinggi dan kualifaid untuk mengisi jabatan yang kosong. (3) Pekerja memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi. (4) Mencegah tenaga kerja yang baik dan kompetitif pindah keluar dari organisasi/perusahaan, karena pengembangan kariernya jelas. (5) Para pekerja telah memahami secara baik kebijaksanaan, prosedurprosedur, ketentuan-ketentuan dan kebiasaan organisasi/perusahaan. Keburukan perekrutan internal adalah : 62
  63. 63. (1) Mengurangi motivasi kerja dan tidak memberikan perpektif baru, bagi pekerja yang kurang kompetitif atau merasa dirinya tidak berpeluang untuk mengisi setiap jabatan yang kosong. (2) Pekerja yang dipromosikan untuk jabatan yag lebih tinggi cenderung tidak dapat menjalankan kekuasaan dan kewenangannya, karena sudah sangat akrab dengan bawahannya. Beberapa metode perekrutan internal antara lain dengan : a. Rencana Suksesi/ Succeesion Planning Perekrutan ini merupakan kegiatan yang difokuskan pada usaha pekerja yang mempersiapkan pekerja untuk mengisi posisi-posisi eksekutif b. Penawaran Terbuka untuk suatu Jabatan (Job Posting) Perekrutan terbuka ini merupakan sistem mencari berkemampuan tinggi untuk mengisi jabatan yang kosong, dengan memberikan kesempatan pada semua pekerja yang berminat. Untuk itu setiap ada jabatan kosong diumumkan melalui media intern, bulletin perusahaan, papan bulletin/pengumuman, sarana telepon atau sistem komputer. E. AVAILABILITY AND RECRUITMENT PT. X Incorporated pertama kali memasuki pasar Indonesia pada tahun 1984, melalui perjanjian lisensi dengan perusahaan lokal untuk memproduksi merk PT X . PT X Indonesia, salah satu afiliasi PT X International (PMI), kemudian didirikan pada tahun 1998. Pada tahun 2005, PMI menjadi pemegang saham mayoritas (98%) PT HM Sampoerna Tbk., Di Indonesia perusahaan rokok terbesar ketiga, sesuai dengan tahun 2004, pangsa pasar.Beberapa orang Indonesia memiliki kesempatan karir di departemen seperti keuangan, penjualan dan distribusi, pemasaran, sumber daya manusia dan operasi. Proses perekrutan dapat diterapkan pada lowongan tertentu, dengan memilih pekerjaan yang menarik minat Anda pada website oline perusahaan rokok ini.Jika Anda adalah seorang calon baru, Anda akan perlu membuat sebuah profil pribadi untuk melamar pekerjaan tersebut. Anda akan dapat menggunakan username dan password yang sama jika Anda ingin melamar pekerjaan lain atau 63
  64. 64. memperbarui profil Anda di masa depan. Account Anda akan tetap aktif hingga 36 bulan dari kunjungan terakhir Anda. Aplikasi spontan yaitu Jika tidak ada posisi yang sesuai dengan kriteria Anda, Anda selalu dapat mengirimkan aplikasi spontan. Profil Anda akan disimpan di database kami di mana ia akan tetap aktif hingga 36 bulan dari kunjungan terakhir Anda. Jika Anda kemudian melamar posisi formulir aplikasi akan menjadi pra-diisi dengan informasi pribadi Anda. Proses seleksi yaitu Proses rekrutmen bervariasi dari satu negara ke negara, tetapi kami selalu akan memproses aplikasi anda terjamin kerahasiaannya. Jika cocok, kami akan menghubungi Anda menggunakan rincian disediakan Anda. F. TRAINING PLAN 1. Program Entrepreneurship Training Center (PETC) Pada tahun 2006, Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PETC) membuka pintunya pada lahan seluas 10 hektar Perusahaan di sekitar fasilitas SKM kami di Desa Gunting di Wilayah Pasuruan. The SETC adalah realisasi komitmen perusahaan kami untuk mengembangkan usaha kecil-menengah, dan untuk memfasilitasi munculnya bisnis baru yang dapat memberikan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi lokal. The SETC adalah suatu fasilitas yang terpadu, yang meliputi ruang kelas, bengkel teknis dan pertanian eksperimental dan daerah pertanian. Ini merupakan eksperimen unik untuk memberikan pra-pensiun kami karyawan dan penduduk desa di wilayah fasilitas SKM kami dengan pelatihan 64
  65. 65. praktis dan keterampilan kerja, yang kemudian dapat digunakan untuk memulai bisnis baru atau meningkatkan usaha yang ada.Untuk lebih mendukung lulusan dalam memulai, Perusahaan kami juga menerapkan bisnis-mikro program bergulir dana yang dikelola bersama-sama dengan Universitas Brawijaya Malang. Dalam rangka untuk membuat SETC sukses, kita telah terlibat dari mitra yang kompeten dan kredibel awal, termasuk Institut Pertanian Bogor, baik dalam perencanaan dan dalam mengorganisir fasilitas, dan memberikan instruksi. Pada tahun 2006, lebih dari 130 desa dan 30 karyawan lulus dari SETC, dan, setelah sepenuhnya operasional SETC diharapkan untuk melatih lebih dari 600 orang setiap tahunnya. 2. Dunamis Foundation Dunamis Foundation telah resmi setuju untuk bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation dalam bentuk pelatihan dan program sertifikasi "7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif ®" diberikan kepada Guardian Nilai Tim Sampoerna Academy. Realisasi kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Andiral Purnomo, Kepala Dunamis Foundation dan Eddy Henry, Direktur Program Pendidikan, Putera Sampoerna Foundation. Sejak berdirinya di tahun 1991, Dunamis adalah mitra berlisensi dari Franklin Covey - sebuah organisasi global yang memberikan pelatihan dalam pengembangan kepemimpinan dan eksekusi. Dengan memiliki misi yang sama dengan Putera Sampoerna Foundation, Dunamis Foundation telah setuju untuk bergabung dalam kemitraan dengan Putera Sampoerna Foundation dengan memberikan pelatihan tentang "7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif", sebuah program pendampingan Nilai Guardian Tim Sampoerna Academy. Selain pelatihan tentang "7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif ®" Nilai Guardian Tim, Sampoerna Academy juga akan berpartisipasi dalam program sertifikasi Dunamis melalui Kereta The Trainer for "7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif ®" dan "Pemimpin di dalam Aku (Visi & Implementasi Hari ® ") pelatihan. Setelah mendapatkan sertifikat ini, Tim Nilai Guardian, Sampoerna Academy diharapkan untuk terus memberikan pelatihan kepemimpinan ke Akademi Sampoerna guru, karyawan dan mahasiswa. Eddy Henry, Direktur 65
  66. 66. Program Pendidikan, Putera Sampoerna Foundation, mengatakan, "Mengikuti moto 'Hari Belajar, Lead Besok', Sampoerna Academy akan membentuk karakter pemimpin masa depan Indonesia yang akan menjadi orang yang kompeten, memiliki wawasan global, dan kepedulian denganmengembangkan komunitas mereka. Bersama dengan Dunamis Foundation sebagai mitra berlisensi resmi dari Covey Leadership Center, Putera Sampoerna Foundation akan memberikan pelatihan kepemimpinan siswa berdasarkan "7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif ®" dan "Pemimpin di dalam Aku - Visi & Pelaksanaan Hari ®". Berpartisipasi dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia sebagai pemimpin masa depan bangsa, Dunamis Foundation dan Putera Sampoerna Foundation menyiapkan tiga tahap utama dalam program-program pelatihan dan sertifikasi untuk Nilai Guardian Tim, Sampoerna Academy, yang akan dimulai dari Oktober 2010 hingga Juni 2011. Pada tahap pertama, Dunamis Foundation akan memberikan pelatihan dan pengembangan untuk Nilai Guardian Tim, Sampoerna Academy serta menyediakan buku-buku dan perangkat guru belajar. Pada tahap kedua, persiapan penyelarasan sistem, kurikulum, dan fasilitas pendidikan yang didasarkan pada kepemimpinan akan dilaksanakan bagi guru Academy Sampoerna dan staf yang akan dilaksanakan langsung oleh Tim Nilai Guardian, Sampoerna Academy yang akan didampingi oleh wakil Dunamis Yayasan. Pada tahap akhir, pelaksanaan bahan ajar berdasarkan "7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif ®" kurikulum akan dilakukan pada siswa Akademi Sampoerna oleh para guru yang telah menyelesaikan Kereta Program sertifikasi Trainer dengan menggunakan membimbing siswa asli yang diberikan oleh Dunamis Foundation untuk masingmasing siswa. "Program Kepemimpinan Pemuda merupakan pilar utama dari seluruh program dan inti dari keseluruhan silabus kami. Kami percaya kepemimpinan yang tidak dapat diperoleh dari teori atau kerja di satu semester tetapi merupakan hasil dari proses yang membutuhkan tahun investasi dan dedikasi, "diungkapkan Eddy Henry. Dunamis Foundation adalah bagian dari perwujudan misi PT.X Foundation dalam menciptakan pemimpin yang berkualitas baik di masa depan melalui pendidikan sehingga mereka bisa menghadapi tantangan 66
  67. 67. global.Mengintegrasikan kurikulum dari Universitas Cambridge (IGCSE) dengan standar nasional yang diterapkan dalam sistem pendidikan sekolah asrama, Sampoerna Academy bertujuan untuk mengembangkan kemampuan akademik serta keterampilan siswa dan untuk membentuk karakter pemimpin masa depan Indonesia yang akan memiliki kaliber internasional. Dipandu oleh slogan Putera Sampoerna Foundation yang "Bersama Kita Bisa Membuat Perbedaan" dan dengan kerjasama dari dua organisasi yang sangat prihatin tentang perkembangan sumber daya di Indonesia, bersama-sama kami berharap bahwa Indonesia dapat membuat lebih banyak pemimpin masa depan yang memiliki karakter dan telah memenuhi syarat dalam membuat perubahan bagi masyarakat dan bangsa. G. COST ESTIMATES Tabel. 8.3 Estimasi Proyeksi Biaya Human Resources and Social Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 Biaya Perekrutan Media Televisi Rp3.075.390.720 Rp1.965.047.040 Rp1.831.576.320 Rp1.954.252.800 Rp1.664.605.440 Media Cetak Rp1.922.119.200 Rp1.228.154.400 Rp1.144.735.200 Rp1.221.408.000 Rp1.040.378.400 Pelatihan Teknis Rp3.075.390.720 Rp1.965.047.040 Rp1.831.576.320 Rp1.954.252.800 Rp1.664.605.440 Pelatihan Administrasi Rp2.690.966.880 Rp1.719.416.160 Rp1.602.629.280 Rp1.709.971.200 Rp1.456.529.760 Pelatihan Kewirausahaan Rp5.766.357.600 Rp3.684.463.200 Rp3.434.205.600 Rp3.664.224.000 Rp3.121.135.200 Pelatihan Keterampilan Rp3.844.238.400 Rp2.456.308.800 Rp2.289.470.400 Rp2.442.816.000 Rp2.080.756.800 Program CSR Rp7.688.476.800 Rp4.912.617.600 Rp4.578.940.800 Rp4.885.632.000 Rp4.161.513.600 Program Bimbingan Anak Rp5.766.357.600 Rp3.684.463.200 Rp3.434.205.600 Rp3.664.224.000 Rp3.121.135.200 Program Pustaka Rp4.613.086.080 Rp2.947.570.560 Rp2.747.364.480 Rp2.931.379.200 Rp2.496.908.160 Rp38.442.384.000 Rp24.563.088.000 Rp22.894.704.000 Rp24.428.160.000 Rp20.807.568.000 Pelatihan Biaya Sosial Total Biaya Estimasi 67
  68. 68. IX. IMPLEMENTATION PLANNING AND BUDGETING A. Objectives of implementation planning Perencanaan kedepan, PT. X mempunyai perencanaan untuk membuka perkebunan tembakau di indonesia. Dengan tujuan pangsa pasar ekspor. PT. X berencana untuk membuka perkebunan tembakau di daerah makassar tepatnya di daerah mamuju dengan luas 2011 hektar dan diharapkan dapat menghasilkan 1654 ton dalam sekali panen. Alasan utama dipilihnya daerah ini adalah tanahnya yang relatif subur dan harga tanhnya masih relatif tidak terlalu mahal ( Berkisar antara Rp100.000 – Rp300.000 m2) serta kemudahan akses untuk mendapatkan tenaga kerja dan curah hujan turun lebih banyak. Musim hujan yang lebih panjang disertai sinar matahari yang terik hal ini akan membuat kualitas tembakau lebih baik. Untuk perencanaan implementasi perkebunan tembakau ke depan, PT. X bekerja sama dengan pemerintah daerah sulawesi selatan dan merekrut para penduduk untuk dijadikan sebagai tenaga kerja. Dan untuk pengembangan riset serta tenaga ahli, PT. X berencana untuk bekerja sama dengan pihak institusi pendidikan terkait, serta mendatangkan tenaga ahli dan pekerja ahli dari dalam dan luar sulawesi selatan. Visi dan misi serta tujuan permbukaan perkebunan tembakau di masa mendatang akan dijelaskan dibawah ini : Visi Dengan mengacu kepada kondisi perkebunan saat ini, dinamika lingkungan strategis baik domestik maupun internasional, REPENAS, dan visi pembangunan pertanian maka visi pembangunan perkebunan adalah terwujudnya masyarakat perkebunan yang sejahtera melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis perkebunan yang berdaya saing, berkeadilan, berkerakyatan, terdesentralisasi dan berbasis pada pengelolaan SDA yang lestari sesuai fungsinya pada Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN). Misi Adapun Misi pembangunan perkebunan yang ditetapkan berdasarkan visi tersebut diatas, adalah : (1) mengembangkan prasarana dan sarana perkebunan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan SDA sesuai fungsinya. 68

×