Diktat Materi SMAGAPALA

35,181 views

Published on

DIKTAT MATERI SMAGAPALA: ALAM DAN MANFAATNYA; PENGENALAN DASAR MOUNTAINEERING; TALI TEMALI & SIMPUL (ROPE HANDLING & KNOTS); PERENCANAAN PERJALANAN DI ALAM BEBAS; KEORGANISASIAN; PENGENALAN DASAR NAVIGASI DARAT; SURVIVAL; PERTOLONGAN PERTAMA PADA GAWAT DARURAT (PPGD); PENGENALAN DASAR ROCK CLIMBING; PENGENALAN SAR (SEARCH & RESCUE); PENGENALAN DASAR ARUNG JERAM (RAFTING); PENGENALAN DASAR MENYELAM (DIVING); PENGENALAN DASAR PENELUSURAN GUA (CAVING).

Published in: Education
2 Comments
32 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
35,181
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
35
Actions
Shares
0
Downloads
9,386
Comments
2
Likes
32
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Diktat Materi SMAGAPALA

  1. 1. BUKU PANDUAN (DIKTAT MATERI) S M A G A PA L A(PECINTA ALAM SMA NEGERI 3 SURABAYA) EDISI 2011
  2. 2. TIM PENYUSUN1. Cak Tun (Pendiri & Angkatan 0)2. Cak Opik (Instruktur Sangga Bhuwana)3. Cak Aan (Angkatan II)4. Cak Yayak/Hari (Angkatan IV)5. Cak Qomar (Angkatan IV)6. Cak Eko Teyeng (Angkatan VI)7. Cak Yoyok/Cahyo (Angkatan XII)Buku Materi Panduan ini Diterbitkan & Diedarkan Secara Terbatas untuk KalanganSMAGAPALAKritik & Saran harap dilayangkan melalui email:carztenz@yahoo.comatau kunjungi website:http://www.facebook.com/groups/smagapala/EDISI 2011 DILARANG KERAS MENGUTIP, MENGCOPY, DAN ATAU MENGGANDAKAN SEBAGIAN ATAU SELURUH BAGIAN DARI BUKU PANDUAN INI DALAM BENTUK APAPUN TANPA IZIN TERTULIS DARI SMAGAPALAUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -2-
  3. 3. PENGANTARSALAM RIMBA,Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga penyusunan bukumateri panduan ini dapat kami selesaikan dengan baik. Terima kasih kami ucapkan kepadarekan-rekan semuanya yang mendukung dan memberikan sumbangan baik berupa modulmateri, kritik, komentar, dan sebagainya sehingga buku ini dapat kami susun danterbitkan.Buku ini merupakan panduan materi teori dan acuan dalam pelaksanaan kegiatan latihanmaupun dasar-dasar yang diperuntukan dalam PRA-DIKLAT (Pra Pendidikan Latihan)maupun DIKLATSAR (Pendidikan Latihan Dasar) Kepecinta-alaman SMAGAPALA (PecintaAlam SMA Negeri 3 Surabaya).Materi yang terdapat di buku ini diperoleh dari berbagai sumber bacaan, artikel, majalah,dan pengalaman para anggota senior SMAGAPALA sendiri kemudian kami kumpulkan, editdan tulis sedemikian rupa sehingga menjadi satu buku panduan.Kami menyadari beberapa pokok bahasan materi dalam buku ini belum bisa diajarkansepenuhnya di lapangan (seperti; menyelam /diving, penelusuran gua /caving, SAR, dll)dikarenakan saat ini terdapat keterbatasan resources dan peralatan yang dimiliki, namuntidak menutup kemungkinan dalam perkembangannya materi tersebut akan dapatdiajarkan secara menyeluruh di lapangan.Buku materi panduan ini diharapkan dapat menjadi landasan teori dasar-dasar ilmukepecinta-alaman, hutan & gunung, serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kegiatan alambebas yang nantinya dapat dikembangkan sendiri oleh para anggota baik dengan caramengikuti pelatihan tambahan dari luar atau institusi/organisasi lain maupun kegiatankegiatan alam bebas yang menunjang berkembangnya ilmu kepecinta-alaman.Tidak ada gading yang tak retak begitu kata pepatah, untuk itu kami yakin bahwa dalampenulisan buku panduan ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan ataukesalahan baik dalam penyajian maupun isi materinya, berangkat dari itu kamimenginginkan kritik dan saran sekaligus sumbangsih dalam perbaikan buku panduan iniagar dapat diperbaiki kekurangan dan kelengkapan materi yang disajikan. Kritik, saran,maupun revisinya agar dapat dilayangkan melalui email kami carztenz@yahoo.com untukpenyempurnaan buku materi ini.Akhir kata, kami berharap agar buku panduan ini dapat memberikan pencerahan,manfaat, dan nilai tambah bagi seluruh anggota SMAGAPALA sebagai insan pecinta alam. SMAGAPALA Jaya, Tim PenyusunUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -3-
  4. 4. KODE ETIK PEMUDA PECINTA ALAM SE-INDONESIAKode Etik Pecinta Alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional PecintaAlam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974.Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagaiperkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut: Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air. Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan: 1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya 3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air 4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya 5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam 6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air 7. Selesai Disyahkan bersama dalam Gladian Nasiona ke-4 Ujung Pandang, 1974UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -4-
  5. 5. TENTANG SMAGAPALAPada awalnya SMAGAPALA merupakan wadah bagi kelompok kecil siswa SMA Negeri 3Surabaya yang mempunyai hobby atau pun ketertarikan yang sama terhadap kegiatanalam bebas. Ketika itu Cak Tun, Cak Abidin, dan beberaapa siswa lainnya kemudianmengembangkan ketertarikan dan hobinya pada kegiatan alam bebas untukmenjadikannya dalam suatu organisasi kegiatan alam bebas dan kepecinta-alaman danselanjutnya menamakan diri dengan nama SMAGAPALA (Pecinta Alam SMA Negeri 3Surabaya).SMAGAPALA didirikan pada tanggal 5 Desember 1984, dan kemudian diresmikan padatanggal 18 Desember 1984. Tujuan didirikan organisasi ini adalah sebagai wadah dalampengembangan kegiatan alam bebas, petualangan, konservasi alam yang memiliki hakikatsebagai insan yang mencintai alam dan sekaligus memberikan kesadaran pentingnya alam,hutan, dan seisinya untuk terus dilestarikan bagi kelangsungan kehidupan.SMAGAPALA mempunyai semboyan Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama, memberikan artitidak hanya pentingnya untuk mewujudkan kecintaan dan kelestarian alam tetapi jugaperlunya hubungan antar manusia yang saling mencintai dan menghargai satu denganlainnya.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -5-
  6. 6. ANGGARAN DASAR SMAGAPALA MukadimahPerkembangan kegiatan pecinta-alaman di Indonesia adalah merupakan perwujudan yangnyata dari dinamika pemuda yang sadar menghimpun dirinya dalam organisasi dan induk kepecinta-alaman dengan jenis dan fungsinya dengan tujuan akhir mencapai cita-cita berlandaskan falsafah negara Pancasila. Hal ini terjadi pula di Sekolah Menengah Atas Negeri Tiga (SMAN 3) Surabaya, yang bertujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang mampu berkarya di dalam pembangunan nasional dan berprestasi di bidang-bidang kepecinta-alaman. BAB I Nama, Bentuk dan Sifat Organisasi Pasal 1 Nama Organisasi ini bernama Pecinta Alam SMA Negeri 3 dan dalam pemakaiannya bisa digunakan dengan nama SMAGAPALA Pasal 2 Bentuk Organisasi ini berbentuk demokrasi yang mewadai kegiatan kepecinta-alaman di lingkungan SMAN 3 Surabaya Pasal 3 Sifat Organisasi ini bersifat terbuka untuk mengkoordinasikan dan mengembangkan segala kegiatan kepecinta-alaman di lingkungan SMAN 3 Surabaya BAB II Kedudukan dan Sejarah Pasal 4 Kedudukan SMAGAPALA berkedudukan di SMAN 3 Surabaya Pasal 5 SejarahSMAGAPALA didirikan tanggal 5 Desember 1984 dan diresmikan pada tanggal 18 Desember 1984 di Surabaya untuk jangka waktu tak terbatas BAB III Azas, Dasar dan TujuanUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -6-
  7. 7. Pasal 6 Azas SMAGAPALA berazaskan Pancasila Pasal 7 Dasar SMAGAPALA berdasarkan kepada Tri Dharma Pasal 8 Tujuan SMAGAPALA bertujuan sebagai wadah dalam pengembangan olahraga prestasi, petualangan, dan konservasi dengan semboyan Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama BAB IV Bendera, Lambang dan Atribut Pasal 9 BenderaBendera SMAGAPALA berwarna biru dan kuning yang di tengahnya bertuliskan SMAGAPALA berwarna merah Pasal 10 Lambang Lambang SMAGAPALA berupa segitiga yang bergambar didalamnya dua buah tali yang terikat dan lingkaran yang didalamnya terdapat tulisan Pasal 11 Atribut1. Atribut organisasi berupa bendera, lambang, pakaian seragam, scraft orange, scraft merah, dan NIPA (Nomor Induk Pecinta Alam)2. Tata cara penempatan dan ketentuan yang tercantum pada pasal 11 ayat 1 ini diatur oleh pengurus SMAGAPALA BAB V Ruang Lingkup, Kewajiban dan Usaha Pasal 12 SMAGAPALA mempunyai ruang lingkup sebagai berikut:1. Pengembangan keorganisasian2. Pembinaan anggota3. Sosialisasi kegiatan kepecinta-alaman4. Latihan kegiatan rutinUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -7-
  8. 8. 5. Hal-hal yang berkaitan dengan kepecinta-alaman Pasal 13 Kewajiban dan Usaha1. Mengkoordinasikan dan membina kegiatan kepecinta-alaman di SMAN 3 Surabaya dengan merencanakan pembinaan dan peningkatan prestasi kegiatan kepecinta- alaman tahap demi tahap2. Membina dan mengarahkan perkembangan siswa yang menjadi anggota SMAGAPALA agar nantinya dapat berprestasi di bidang kepecinta-alaman sehingga dapat mengharumkan nama SMAN 3 Surabaya3. Mengadakan kegiatan konservasi alam, ekpedisi, pendakian gunung, panjat tebing, dan kegiatan lainnya dalam lingkup kepecinta-alaman yang sanggup dilaksanakan dan tidak bertentanga dengan peraturan di SMAN 3 Surabaya4. Mengawasi dan ikut serta menegakkan keamanan dan keselamatan bagi seluruh anggota SMAGAPALA5. Memupuk dan membina persahabatan dan persaudaraan baik di dalam organisasi maupun antar organisasi lainnya6. Membina usaha lain yang sah dan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku BAB VI Keanggotaan Pasal 14 Anggota1. Anggota pecinta alam SMAGAPALA adalah siswa SMAN 3 Surabaya yang aktif belajar dan atau telah lulus sekolah yang sanggup memenuhi peraturan, tata tertib dan persyaratan yang berlaku dan ditetapkan2. Keanggotaan SMAGAPALA yang dimaksud dalam pasal 14 ayat 1 ini diperoleh dengan cara seleksi Pasal 15 Hak dan Kewajiban1. Anggota SMAGAPALA memiliki hak: a. Partisipasi b. Bicara c. Dipilih d. Menggunakan fasilitas organisasi sesuai ketentuan e. Mendapatkan pelatihan2. Anggota SMAGAPALA memiliki kewajiban a. Menjaga nama baik organisasi b. Menaati AD/ART c. Aktif dalam kegiatan yang ditentukan pengurus d. Menyumbangkan dan mengembangkan ilmu e. Menaati peraturan yang dibuat oleh organisasi Pasal 16 Jenis KeanggotaanUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -8-
  9. 9. SMAGAPALA memiliki 4 (empat) jenis keanggotaan, yaitu: 1. Calon Anggota 2. Anggota Muda 3. Anggota Tetap 4. Anggota Kehormatan Pasal 17 Sanksi – Sanksi Anggota SMAGAPALA dapat dikenakan sanksi apabila melanggar aturan organisasi dimana sanksi bisa ditentukan oleh musyawarah anggota dan pengurus. Sanksi terberat adalah diberhentikannya sebagai aggota SMAGAPALA Pasal 18 Kehilangan Status Keanggotaan 1. Mengundurkan diri 2. Diberhentikan dari organisasi 3. Organisasi telah dibubarkan atau membubarkan diri BAB VII Organisasi Pasal 19 Struktur Organisasi Pembina Alumni Ketua Umum Instruktur Wakil Ketua Umum Sekretaris Bendahara Sie Sie Sie Pelatihan & Divisi Hutan & DivisiDokumentasi Perlengkapan Pengembangan Gunung Rock Climbing Keterangan: Garis Kordinasi Garis Komando UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA -9-
  10. 10. Pasal 20 Pengurus OrganisasiPengurus SMAGAPALA terdiri dari:1. Ketua Umum2. Wakil Ketua Umum3. Sekretaris4. Bendahara5. Seksi atau koordinator bidang BAB VIII Musyawarah Pasal 21 Musyawarah Anggota Musyawarah anggota merupakan kekuasaan tertinggi SMAGAPALA yang diselenggarakan sekali dalam setahun Pasal 22 Rapat Anggota Dalam rangka mengkoordinasikan kegiatan dan yang terkait maka diselenggarakan rapat anggota BAB IX Sistem Pendidikan dan Pelatihan Pasal 23 Sistem Pendidikan SMAGAPALA memiliki sistem pendidikan dan pelatihan kepecinta-alaman sebagai berikut:1. Pendidikan dan Pelatihan dalam ruang kelas2. Pendidikan dan Pelatihan praktek di luar kelas3. Pra-Diklat (Pra Pendidikan Latihan) untuk calon anggota4. DIKLATSAR (Pendidikan Latihan Dasar) kepecinta-alaman secara menyeluruh5. Kegiatan Ekspedisi6. Kenaikan scarf anggota BAB X Pendanaan dan Kekayaan Organisasi Pasal 24 Pendanaan Pendanaan SMAGAPALA diperoleh dari1. Iuran anggota2. Bantuan dari sekolah3. Donatur dan atau sumbangan yang tidak mengikatUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 10 -
  11. 11. 4. Sponsorship5. Usaha usaha lain yang sah dan yang tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku Pasal 25 Kekayaan Organisasi1. Kekayaan SMAGAPALA adalah harta organisasi yang bersifat tetap atau tidak tetap yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan, dan usaha lainnya yang sah2. Kekayaan SMAGAPALA digunakan untuk pengembangan organisasi dan kesejahteraan anggota BAB XI Perubahan Anggaran Dasar dan Ketentuan Lain Pasal 26 Perubahan Anggaran Dasar1. Apabila dianggap perlu maka perubahan Anggaran Dasar (AD) dapat dilaksanakan melalui forum musyawarah besar2. Forum musyawarah besar yang dimaksud pada pasal 26 ayat 1 tersebut harus dihadiri minimal 2/3 dari seluruh anggota aktif SMAGAPALA Pasal 27 Ketentuan Lain Pasal – pasal dalam Anggaran Dasar ini dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan atau ketentuan lain yang disepakati oleh anggota dan pengurus SMAGAPALAUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 11 -
  12. 12. BENDERA DAN LOGO SMAGAPALA BENDERABendera SMAGAPALA berwarna biru-kuning-biru yang mengandung arti: keagungan,kebesaran, dan kebanggaan.Di tengah warna kuning bendera tertulis SMAGAPALA dengan warna merah yangmelambangkan keberanian. LOGOPada logo SMAGAPALA terdapat:1. Tiga (3) puncak gunung, artinya: puncak prestasi diraih di SMA 3 Surabaya.2. Arah kompas, artinya: anggota SMAGAPALA menjadi panduan dan panutan bagi orang lain.3. Dua (2) pohon kelapa disisi kanan dan kiri, artinya: anggota SMAGAPALA terdiri dari putra dan putri.4. Bunga teratai berwarna putih, artinya: sebagai pendidikan yang suci.5. Bingkai yang melingkar diatas bertuliskan CINTA ALAM DAN KASIH SAYANG SESAMA melambangkan cinta kasih dan persaudaraan di antara manusia dan sesama makhluk ciptaan Tuhan YME.6. Simpul tali yang mengikat melambangkan ikatan kuat untuk tetap setia kepada SMAGAPALA.7. Bingkai dibawah bertuliskan DIVISI PECINTA ALAM SMA NEGERI 3 SURABAYAUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 12 -
  13. 13. DAFTAR ISITIM PENYUSUN 2PENGANTAR 3KODE ETIK PEMUDA PECINTA ALAM SE-INDONESIA 4TENTANG SMAGAPALA 5ANGGARAN DASAR SMAGAPALA 6BENDERA DAN LOGO SMAGAPALA 12DAFTAR ISI 13BAB 1 ALAM DAN MANFAATNYA 181.1 PENGERTIAN HUTAN DAN MANFAATNYA 181.2 ANATOMI HUTAN 191.3 KEHIDUPAN FLORA DAN FAUNA 191.4 TIPE, STRUKTUR DAN JENIS HUTAN 191.4.1 TIPE HUTAN 261.4.2 STRUKTUR HUTAN 261.4.3 MACAM HUTAN 261.5 ALAM DAN HUTAN INDONESIA 221.6 SEJARAH SINGKAT PENGELOLAAN HUTAN INDONESIA 231.7 KERUSAKAN HUTAN INDONESIA 23BAB 2 PENGENALAN DASAR MOUNTAINEERING 252.1 PENDAHULUAN 252.2 PERSIAPAN PENDAKIAN GUNUNG 262.2.1 PENGENALAN MEDAN 262.2.2 PERSIAPAN FISIK 262.2.3 PERSIAPAN TIM 262.2.4 PERBEKALAN DAN PERALATAN 262.3 LANGKAH DAN PROSEDUR PENDAKIAN 272.3.1 PERSIAPAN 272.3.2 PELAKSANAAN 272.3.3 EVALUASI 272.4 FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN 272.4.1 KONSEKUENSI PENURUNAN SUHU 272.4.2 KONSEKUENSI PENURUNAN JUMLAH OKSIGEN 272.4.3 KESEGARAN JASMANI 282.5 PENGETAHUAN DASAR MOUNTAINEERING 292.5.1 ORIENTASI MEDAN 292.5.1.1 MENENTUKAN ARAH PERJALANAN DAN POSISI PADA PETA 292.5.1.2 MENGGUNAKAN KOMPAS 292.5.1.3 PETA DALAM PERJALANAN 292.5.2 MEMBACA KEADAAAN ALAM 302.5.2.1 KEADAAN UDARA 302.5.2.2 MEMBACA SANDI-SANDI YANG DITERAPKAN ATAU DISEPAKATI 302.6 TINGKATAN DALAM PENDAKIAN 30BAB 3 TALI TEMALI & SIMPUL (ROPE HANDLING & KNOTS) 333.1 PENDAHULUAN 333.2 SIMPUL ALPINE BUTTERFLY (KUPU-KUPU) 343.3 SIMPUL BACK SPLICE (SAMBATAN BALIK) 343.4 SIMPUL BOWLINE 353.5 SIMPUL CLOVE HITCH 353.6 SIMPUL CONSTRICTOR 36UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 13 -
  14. 14. 3.7 SIMPUL FIGURE OF EIGHT & DOUBLE FIGURE OF EIGHT 363.8 SIMPUL DOUBLE FISHERMAN 373.9 SIMPUL DOUBLE OVERHAND 373.10 SIMPUL SHEET BEND (ANYAM GANDA) 383.11 SIMPUL EYE SPLICE 383.12 SIMPUL HUNTER’S BEND 393.13 SIMPUL MUNTER / ITALIAN HITCH 393.14 SIMPUL OVERHAND 403.15 SIMPUL PRUSIK 403.16 SIMPUL REEF 413.17 SIMPUL ROLLING HITCH 413.18 SIMPUL ROUND TURN & TWO HALF HITCHES 423.19 SIMPUL SHEEPSHANK 423.20 SIMPUL SHEET BEND 433.21 SIMPUL SHORT SPLICE 433.22 SIMPUL WHIPPING 443.23 SIMPUL SURGEON 443.24 SIMPUL TAPE / WEBBING 453.21 SIMPUL TRUCKER’S HITCH 45BAB 4 PERENCANAAN PERJALANAN DI ALAM BEBAS 474.1 PERENCANAAN DAN PERSIAPAN 474.1.1 TUJUAN 474.1.2 WAKTU 474.1.3 PERSERTA 474.1.4 ANGGARAN 474.1.5 PERIJINAN 484.1.6 PEMBUKUAN PERJALANAN 484.1.7 PUBLIKASI DAN SPONSOR 484.1.8 SURVEY 484.1.9 PERENCANAAN DI LAPANGAN 484.1.10 BRIEFING 484.1.11 CHECK KESEHATAN 494.1.12 PELAKSANAAN DI LAPANGAN 494.1.13 SETELAH PERJALANAN 494.2 PERLENGKAPAN DAN PERBEKALAN 494.3 PERLENGKAPAN DASAR 494.3.1 SEPATU 494.3.2 KAOS KAKI 504.3.3 CELANA 504.3.4 BAJU 504.3.5 RANSEL / BACKPACK / CARRIER 504.3.6 PERALATAN NAVIGASI 504.3.7 OBAT-OBATAN DAN SURVIVAL KITS 504.3.8 LAMPU SENTER & LENTERA 504.3.9 PERLENGKAPAN MASAK 504.3.10 PERLENGKAPAN TIDUR 504.3.11 TOPI ATAU TUTUP KEPALA 514.3.12 SYAL/SLAYER, SARUNG TANGAN, IKAT PINGGANG 514.4 PACKING (TEKNIK PENGEPAKAN) 514.5 MEMILIH DAN MENEMPATKAN BARANG 52BAB 5 KEORGANISASIAN 545.1 PENDAHULUAN 545.2 TIPE-TIPE ORGANISASI 555.2.1 ORGANISASI LINI (GARIS) 555.2.2 ORGANISASI LINI DAN STAF 555.2.3 ORGANISASI FUNGSIONAL 555.2.4 ORGANISASI PANITIA 555.3 PENGELOLAAN ORGANISASI 55UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 14 -
  15. 15. 5.3.1 DASAR-DASAR PENGELOLAAN ORGANISASI 555.3.2 PEMBUATAN PROPOSAL 555.3.3 PENJADWALAN KEGIATAN 565.3.4 PEMBUATAN LAPORAN KEGIATAN 565.4 RAPAT DAN DISKUSI 565.4.1 PENYAMPAIAN PENDAPAT 575.4.2 MEMIMPIN FORUM DISKUSI 575.4.3 ETIKA RAPAT DAN DISKUSI 575.4.4 PROSEDUR RAPAT 585.4.5 TEKNIK RAPAT DAN PROSES RAPAT BERJALAN 585.5 TEKNIK PENGUASAAN LAPANGAN DALAM ORGANISASI 585.5.1 PERSIAPAN FISIK 595.5.2 PENGENDALIAN MASSA DALAM ORGANISASI 595.6 KEORGANISASIAN DALAM SMAGAPALA 595.6.1 AD/ART SMAGAPALA 605.6.2 KONVENSI (PERATURAN TIDAK TERTULIS) 605.6.3 STRUKTUR ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA 60BAB 6 PENGENALAN DASAR NAVIGASI DARAT 626.1 PENDAHULUAN 626.2 PETA TOPOGRAFI 626.3 KORDINAT 636.4 ANALISA PETA 646.5 KOMPAS 646.6 ORIENTASI PETA 656.7 GARIS KONTUR DAN GARIS KETINGGIAN 666.8 TITIK TRIANGULASI 676.9 RESECTION 676.10 INTERSECTION 686.11 AZIMUTH – BACK AZIMUTH 666.12 SIMBOL-SIMBOL UMUM (LEGENDA) PETA 696.13 MERENCANAKAN JALUR LINTASAN 706.14 PENAMPANG LINTASASAN 716.15 PEMAHAMAN PETA TOPOGRAFI 726.15.1 MEMBACA GARIS KONTURI 726.15.2 MENGHITUNG INTERVAL KONTUR 726.15.3 UTARA PETA 726.15.4 MENGENAL TANDA MEDAN 726.15.5 MENGGUNAKAN PETA 736.15.6 MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA 736.15.7 MEMBACA KORDINAT 746.15.8 SUDUT PETA 746.15.9 TEKNIK MEMBACA PETA 74BAB 7 SURVIVAL 787.1 PENDAHULUAN 787.2 KONDISI DAN KEADAAN SUATU SURVIVAL 787.3 HAL-HAL YANG HARUS DIMILIKI SURVIVOR 797.4 BAHAYA-BAHAYA DALAM SURVIVAL 807.5 PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN DALAM SURVIVAL 817.5.1 CARA MEMBUAT BIVOUAC/SHELTER 817.5.2 MENGATASI GANGGUAN BINATANG 847.5.3 MEMBACA JEJAK 847.5.4 KEBUTUHAN DALAM SURVIVAL 847.5.5 MEMASANG PERANGKAP (TRAP) 89BAB 8 PERTOLONGAN PERTAMA PADA GAWAT DARURAT (PPGD) 988.1 LATAR BELAKANG 988.2 ALOGARITHMA DASAR PPGD 988.3 NAFAS BANTUAN 104UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 15 -
  16. 16. 8.4 NAFAS BUATAN 1058.5 PIJAT JANTUNG 105BAB 9 PENGENALAN DASAR ROCK CLIMBING 1079.1 PENDAHULUAN 1079.2 SEJARAH ROCK CLIMBING 1079.3 PERLENGKAPAN ROCK CLIMBING 1079.4 PENGGUNAAN DAN PERAWATAN ALAT 1239.5 KOMPONEN DASAR PANJAT TEBING 1259.6 PROSEDUR PEMANJATAN 1269.7 STYLE / TIPE PEMANJATAN 1279.8 TEKNIK DASAR PEMANJATAN 1279.9 PERAWATAN PERALATAN ROCK CLIMBING 136BAB 10 PENGENALAN SAR (SEARCH & RESCUE) 13910.1 PENGERTIAN SAR 13910.2 SISTEM SAR 13910.3 POLA-POLA PENCARIAN 140BAB 11 PENGENALAN DASAR ARUNG JERAM (RAFTING) 14211.1 PENDAHULUAN 14211.2 PERALATAN DAN PERLENGKAPAN 14211.3 SUNGAI 14411.4 PENGETAHUAN DASAR BERARUNG-JERAM 148BAB 12 PENGENALAN DASAR MENYELAM (DIVING) 15312.1 PENDAHULUAN 15312.2 STANDAR JENJANG OLAHRAGA PENYELAMAN 15412.3 PENGETAHUAN DASAR PENYELAMAN 140BAB 13 PENGENALAN DASAR PENELUSURAN GUA (CAVING) 16613.1 DEFINISI TELUSUR GUA 16613.2 SEJARAH PENELUSURAN GUA 16613.3 TERJADINYA GUA DAN JENISNYA 16713.4 ETIKA DALAM PENELUSURAN GUA 16913.5 TEKNIK DALAM PENELUSURAN GUA 169DAFTAR PUSTAKA 176UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 16 -
  17. 17. Tidak terlalu sulit untuk mengerti, mengapa sepanjang jaman orang yang mencari arti hidup mencoba hidup sedekat mungkin dengan alam. -Henry J. M. Nouwen- Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan “rendah hati”. -Albert Einstein- Alam bukan untuk ditaklukkan, tapi kita yang harus bisa menaklukkan ketakutan, kengerian, kegamangan untuk mempelejari sifat-sifat alam. –Norman Edwin-UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 17 -
  18. 18. BAB 1 ALAM DAN MANFAATNYA1.1 Pengertian Hutan dan Manfaatnya Hutan merupakan persekutuan hidup (ekosistem) yang didalamnya terdapat interaksi antara faktor hidup (biotik) yang terdiri atas tumbuhan (flora) dan hewan (fauna) dengan faktor lingkungan abiotik (tanah, air, udara, cahaya matahari. Belantara rimba memberikan kenyamanan bagi kehidupan berbagai jenis makhluk hidup, khususnya hutan tropik di sepanjang garis khatulistiwa. Hutan tropic memiliki sistem pengaturan udara yang canggih sehingga suasananya akan menjadi hangat dan lembab setiap saat, dan secara umum hutan memberikan manfaat sbb: Penghasil oksigen terbesar; yaitu didapat karena terdiri dari tumbuhan yang melakukan proses fotosintesis yang memberi manfaat pada tumbuhan itu sendiri dan manusia disekitarnya. Pengendali fungsi hidrologi; hutan mempunyai fungsi penting dalam mengatur besarnya air permukaan. Dengan adanya resapan di lantai hutan, tanah menjadi gembur dan air hujan dapat mudah meresap ke dalam tanah disbanding dengan tanah yang tidak tertutup hutan. Air larian berkurang sehingga mengurangi resiko banjir. Fungsi perlindungan tanah dari erosi sebenarnya bukan dilakukan oleh pohon melainkan ekosistem yang ada dibawahnya. Penyimpan plasma nuftah atau bank gen; didalam hutan Indonesia terdapat sekitar 25.000 jenis fauna dan 400.000 jenis flora. Hal ini jelas bahwa peran hutan sebagai tempat hidup (habitat) bagi ratusan ribu flora dan faunanya sangatlah besar. Dapat kita bayangkan apabilasatu jenis flora saja yang punah, maka beberapa fauna yang tergantung padanya akan turut punah juga. Pengendali iklim; selain penghasil oksigen, hutan merupakan penyeimbang kadar CO2 dari hasil respirasi. Pemanasan global saat ini merupakan adanya peningkatan kadar CO2. Hutan menyediakan O2 sebagai penyeimbangnya sehingga pemanasan bumi dapat dikurangi. Produk hutan yang dapat dimanfaatkan; mulai dari kebutuhan yang sangat sederhana yaitu baker sampai dengan produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti hasil kayu rotan, jati, ramin, tengkawang, dan cendana. Akan tetapi eksploitasi kayu hutanUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 18 -
  19. 19. secara besar-besaran atau deforestasi dan merusak lingkungan akan mengakibatkan bencana di alam bumi.1.2 Anatomi Hutan Hutan tersusun dari beberapa lapisan horizontal, yang berdasarkan atas tinggi rendahnya pohon yang bergantung pada umur dan jenis masing-masing tumbuhan:  Lapisan A, tingginya 35-42 m dan kadang-kadang diselingi oleh pohon-pohon yang mencapai 80m, disebut lapisan penembus (emergent) dengan ciri khas yang mempunyai tajuk berbentuk payung. Lapisan B, tingginya rata-rata 20 m, bertajuk lebat dan kurang lebar namun lebih rapat daripada lapisan A. Lapisan C, tingginya 4-15 m, memiliki dahan, ranting, dan daun yang lebih lebat daripada lapisan A dan B. Lapisan D, tingginya rata-rata 1 m, merupakan lapisan semak dan anakan pohon1.3 Kehidupan Flora dan FaunaFlora (tumbuhan) dipandang sebagai tulang punggung ekosistem hutan dan digolongkanmenjadi dua, yaitu tumbuhan yang mampu mendapatkan energi matahari tanpa bantuantumbuhan lain dan tumbuhan yang secara mekanis membutuhkan topangan dari tumbuhanlain untuk mendapatkan energi matahari.Setiap tumbuhan yang hidup dalam suatu kawasan hutan saling berhubungan erat danharmonis dengan tumbuhan yang lain. Pohon-pohon besar atau raksasa melindungitumbuhan dibawahnya yang tidak tahan terhadap matahari. Tumbuhan dibawahnyatersebut adalah cendawan dan tumbuhan pengurai memanfaatkan sisa-sisa tanaman yangmati untuk hidupnya dan menjadikan humus serta zat-zat anorganik yang kemudianbermanfaat tumbuhan besar dan atau lainnya sehingga suatu lingkaran kehidupan.Beberapa satwa memiliki habitat yang terbatas, beberapa satwa yang lain memilik habitatyang sangat luas seperti burung yang mampu berpindah tempat sampai ribuan kilometre.Satwa-satwa tersebut mempunyai peranan yang penting dalam membantu penyebarangeografis tumbuhan dan memperlancar peredaran unsur hara dalam ekosistem.1.4 Tipe, Struktur dan Jenis HutanUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 19 -
  20. 20. Variasi hutan cukup banyak, sesuai dengan faktor-faktor yang dimilikinya terutama iklim,ketinggian, dan jenis tananhnya.1.4.1 Tipe HutanPada tempat yang memiliki perbedaan bulan kering dan bulan basah cukup menyolokseperti di Jawa Tengah, Jawa Timur dan kepulauan Nusa Tenggara, terdapat hutan/pohonyang daunnya di musim kemarau. Tipe hutan ini disebut DECIDEOUS.Sedangkan kebalikannya adalah hutan yang sepanjang tahun selalu kelihatan hijau(evergreen) yang banyak dijumpai di daerah yang curah hujannya cukup tinggi. Hutanseperti ini termasuk tipe hutan Tropik cukup tinggi, tipe hutan seperti ini termasuk hutanTROPIK.1.4.2 Struktur HutanStruktur hutan menurut terjadinya dibedakan atas:  Hutan Primer, disebut juga hutan inti. Hutan ini tidak dapat berdiri sendiri tetapi selalu dikelilingi pelindungnya. Adapun ciri-cirinya antara lain, memiliki kerapatan tumbuhan yang relative tinggi, bentuk fisik tumbuhannya didominasi oleh pepohonan yang besar dan tinggi, tingkat kerusakannya oleh manusia sangat kecil dan terbentuk secara alami.  Hutan Sekunder, atau hutan penyangga, mempunyai ciri-ciri antara lain kerapatan pohonnya relative rendah, di dominasi oleh tumbuhan yang relatif muda umurnya, tingkat kerusakan non alamiah cukup besar dan dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan.1.4.3 Macam HutanMacam hutan berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi:  Hutan Lindung, yaitu kawasan hutan yang khas keadaan sifat alaminya diperuntukkan guna mengatur tata air, mencegah bencana banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Apabila hutan ini terganggu maka akan kehilangan fungsinya sebagai pelindung bahkan akn menimbulkan bencana alam seperti banjir dan erosi.  Hutan Produksi, yaitu kawasan hutan yang memiliki produksi hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat umumnya dan khususnya untuk pembangunan, industri dan keperluan ekspor.  Hutan Suaka Alam, yaitu kawasan hutan yang sifatnya khas diperuntukkan secara khusus untuk perlindungan alam hayati dan manfaat-manfaat lainnya. Hutan suaka alam terbagi atas CAGAR ALAM yang berhubungan dengan keadaan alaminya yang khusus termasuk hewani dan nabati, serta SUAKA MARGASATWA yang ditetapkan sebagai tempat hidup margasatwa yang mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.  Hutan Wisata, yaitu kawasan hutan yang diperuntukkan ecara khusus untuk dibina dan dipelihara guna kepentingan pariwisata, terbagi atas TAMAN WISATA yang mempunyai keindahan alam nabati, hewani maupun keindahan alamnya sendiri yang mempunyai corak khas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan rekreasi , sertaUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 20 -
  21. 21. TAMAN BURU yang didalamnya terdapat satwa buru yang memungkinkan diselenggarakan perburuan dengan teratur, teroganisir yang baik untuk kepentingan rekreasi.Macam hutan berdasarkan letak geogrfisnya dibedakan atas:  Hutan Tropik, termasuk hutan Indonesia memiliki lapisan horizontal hutan  Hutan Sub-Tropik, ditandai dengan hutan peluruh karena pengaruh empat musim maka pada musim gugur tampak daunnya berguguran.  Hutan Runjung, di daerah mendekati mendekati kutub bumi, ditandai dengan tumbuhan Coniferae seperti tusam dan eru.  Hutan Rumput Tundra, di daerah kutub bumi yang selalu diliputi salju, hanya mampu ditumbuhi lumut daun, lumut kerak dan tundra.Menurut iklim dan keadaan alam temperaturnya, hutan-hutan di Indonesia dapatdibedakan menjadi:  Hutan Tropik, terdapat di daerah-daerah yang mempunyai curah hujan dan temperatur udara yang tinggi di sepanjang tahun. Hutan tropic umumnya lebat, pohonnya relatif tinggi dan banyak jenisnya. Makin tinggi letaknya dari permukaan laut, jenis pohon besarnya makin berkurang, sedangkan pakis dan palem makin banyak.  Hutan Musim, dipengaruhi iklim musim, jenis tumbuhannya tidak sebanyak hutan tropik, kelebatannya juga berkurang. Pada musim kemarau tumbuh-tumbuhan meranggas, sebaliknya pada musim hujan berdaun lebat, misalnya hutan jati.  Sabana dan Stepa, didaerah yang curah hujannya rendah (daerah kering seperti Nusa Tenggara) pohon-pohonnya semakin berkurang. Yang ada daerah padang rumput hijau diselingi rumput kering, ilalang atau sabana. Daerah ini cocok untuk peternakan luas.  Hutan Bakau (Mangrove) terdapat di daerah pantai terbentuk karena pengaruh pasang surut air laut dan berkembang di daerah berlumpur maka Rhizopora, Avicennia, Sonneratia, Ceriops, Xylocarpus dan Lumnitzera banyak kita jumpai. Indonesia merupakan tempat komunitas bakau terbaik dan terluas didunia lebih kurang 3,7 juta ha atau 21,8 dari luas bakau di dunia (17 juta ha). Luas hutan bakau Indonesia terdiri atas propinsi Papua (35%), Kalimantan Timur (20,6%), Sumatra Selatan (9,6%), dan propinsi lainnya kurang dari (6%).Menurut jenis tumbuhannya, hutan dapat dibedakan 2 jenis:  Hutan Homogen, sesuai namanya hanya ada satu jenis tumbuhan, misalnya hutan jati, hutan pinus.  Hutan Heterogen, terdiri dari berbagai macam jenis tumbuhan atau pohon. Pada umumnya hutan alam Indonesia adalah hutan heterogen.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 21 -
  22. 22. 1.5 Alam dan Hutan Indonesia Seiring dengan semakin menguatnya kesadaran akan perubahan iklim, keberadaan hutan menjadi semakin sering diperbincangkan. Perubahan iklim yang disebabkan efek gas rumah kaca berdasarkan banyak kajian dan analisa memberikan ancaman masa depan yang suram bagi bumi dan kehidupan manusia. Ancaman ketahanan pangan, penyebaran penyakit malaria, tenggelamnya banyak daerah pesisir dan bahaya kekeringan membuat dunia saat ini mulai merancang-rancang dan mencari cara untuk mengurangi efek rumah kaca tersebut.Secara alami gas rumah kaca telah eksis di atmosfer. Keberadaan gas-gas seperti CO2,Methana, N2O, Ozon, uap air dan lainnya secara alami justru menguntungkan kehidupanmanusia. Panas dari matahari yang diperangkap oleh gas-gas tersebut mampu membuatbumi menjadi hangat hingga cukup nyaman untuk ditinggali. Tanpa keberadaan gas-gastersebut bumi diperkirakan lebih dingin 330 C.Namun semuanya menjadi berbeda ketika aktivitas manusia menyebabkan konsentrasigas-gas tersebut semakin pekat. Pembakaran bahan bakar fosil, kegiatan industri yangmassif, produksi BBM di kilang-kilang, pembakaran hutan dan sebagainya telahmenyebakan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer semakin tinggi, terutama CO2.Menurut IPCC konsentrasi karbondioksida di atmosfer saat ini, menurut pengukuran padaudara yang terperangkap pada inti es, jauh lebih besar dibandingkan dengan 650.000tahun terakhir.Disini kemudian peran hutan menjadi salah satu isu sentral dalam upaya mereduksikonsentrasi gas karbondioksida di atmosfer. Tegakan hutan dan tumbuhan hijau lainnyamenyerap CO2 dari atmosfer pada masa pertumbuhannya melalui proses fotosintesis. Iniakan membantu mengurangi konsentrasi karbondioksida di udara dan berdampak pulapada pengurangan efek rumah kaca. Selama tegakan hutan mengalami pertumbuhanberarti proses penyerapan karbondioksida akan terus berlangsung, model seperti ini seringdisebut juga sebagai carbon sink. Jumlah karbondioksida yang mampu diserap olehtegakan hutan akan dipengaruhi oleh kondisi tempat tumbuh hutan tersebut seperti iklim,topografi dan kondisi tanah. Selain itu karakter pohon yang tumbuh dan pola manajemenpengelolaan hutanpun akan mempengaruhi tingkat penyerapan karbondioksida.Indonesia adalah salah satu pemilik kawasan hutan tropis utama di dunia. Sehinggasemestinya Indonesia dapat berkontribusi dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca,terutama karbondioksida. Namun semua menjadi kurang meyakinkan ketika melihatbagaimana hutan Indonesia dikelola.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 22 -
  23. 23. 1.6 Sejarah Singkat Pengelolaan Hutan IndonesiaPengelolaan hutan di Indonesia mulai memasuki masa ekploitasi sistematis pada zamanorde baru. Target utama dari pengelolaan pada masa awal-awal orde baru adalah untukpemulihan ekonomi. Sehingga pola-pola sustainable management tidak menjadi perhatiansaat itu. Sektor kehutanan diharapkan pada saat itu karena sektor-sektor lain tidakmampu memberikan kontribusi yang memuaskan. Sektor industri sulit berkembangdisebabkan sejak pertengahan 1965 hingga awal 1966 terjadi hiperinflasi. Begitu jugasektor perkebunan, tingkat produksi dan investasi di berbagai komoditas utama sepertikopra, teh, karet dan kopi merosot sejak 1950. Pada tahun 1965 defisit anggaran belanjamencapai 248 juta dollar. Tahun berikutnya defisit mencapai dua kali lipatnya.Menghadapi hal ini pemerintahan Orde Baru menjadikan pemulihan ekonomi sebagaiprogram utama, dimana peningkatan produksi pangan dan sektor industri terutamasandang dan pengelohan sumber daya alam (pertambangan dan hasil hutan). Pada fase-fase awal ini dimulai berbagai kebijakan yang mendukung program tersebut, pada sektorpertanian misalnya seiring dengan revolusi hijau dimulailah era penggunaan pupukanorganik dan alam mekanisasi pertanian.Sejak diberlakukannya UU Pokok Kehutanan tahun 1967 permintaan untuk mendapatkanHPH meningkat pesat. Hingga menjelang 1970 jumlah pemegang HPH tercatat 64perusahaan dengan meliputi luasan 8 juta hektar. Hingga sekarang dengan dikeluarkannyaUU No. 41 tahun 1999 pengusahaan hutan oleh investor perorangan dan badan usaha tetapberlaku. Kalau dulu dikenal dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) sekarang disebutsebagai Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu.1.7 Kerusakan Hutan IndonesiaBerdasarkan data-data dari berbagai pihak yang berkompeten, diketahui hutan Indonesiamengalami kerusakan yang cukup mengkhawatirkan. Kerusakan itu diakibatkan oleh lajudeforestasi yang tinggi. Tahun 1997 saja menurut World Resource Institute sebagaimanayang dikutip Walhi, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya seluas 72 persen. Lajukerusakan hutan pada periode 1985-1997 sebesar 1,6 juta hektar pertahun, dan padaperiode 1997-2000 laju kerusakan hutan sebesar 3,8 juta hektar pertahun.Apa penyebab utamanya? Beberapa faktor dapat dapat diklasifikasikan sebagai penyebabutama yaitu penebangan oleh HPH (legal dan illegal), konversi ke lahan perkebunan(terutama sawit), kebakaran hutan serta proyek transmigrasi. Beberapa pihakmenyertakan peladang berpindah sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan. Namunberbagai pihak pula terutama kalangan akademisi dan NGO menyangkal hal ini, karenakemampuan yang dimiliki oleh para peladang berpindah baik potensi SDM yang sedikitmaupun peralatan yang digunakan mustahil mampu melakukan kerusakan hutan yangdemikian luas.Penebangan yang dilakukan oleh HPH banyak disorot oleh berbagai kalangan sebagaipenyebab paling utama kerusakan hutan. Ini tidak mengherankan karena beberapa HPHbesar memegang konsesi yang sangat besar, sampai tiga juta hektar lebih. Memangpemerintah telah menetapkan berbagai sistem penebangan dan silvikultur yang harusdiadopsi oleh pemegang HPH yang diharapkan mampu mengendalikan deforestasi danmemperbaiki hutan seperti sistem Tebang Pilih Indonesia (TPI) dan Tebang Pilih TanamIndonesia (TPTI). Namun dalam prakteknya banyak operator HPH yang tidakUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 23 -
  24. 24. mempedulikan sistem tersebut. Tebang Pilih yang menetapkan seleksi terhadap pohonyang akan ditebang yaitu yang berdiameter 50 cm keatas, sering tidak diindahkan. Banyakkayu-kayu yang berdiameter 30-an cm bahkan lebih kecil juga ditebang. Belum lagiperilaku HPH yang menebang pohon pada zona terlarang seperti sempadan sungai danlereng bukit. Pemegang HPH juga sering abai terhadap kewajiban mereka untukmelakukan penanaman kemabli di area/blok bekas tebangan. Luas konsesi yangsedemikian besar menyebabkan ketiadaan fungsi kontrol dari pemerintah yang selaludirundung keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan. Atas hal inilah, menurutLembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), pada tahun 1985 Bank Dunia menyebutkan ”dalam 40 tahun Indonesia akan menjadi tandus. Faktor penyebabnya praktek penebangankayu (logging) tanpa perhatian.Selain kegiatan logging oleh HPH, konversi hutan menjadi lahan perkebunan, terutamasawit, juga memberikan andil yang tidak sedikit bagi kerusakan hutan. Pada data tahun1998 saja menurut Paul K. Gelen, sebagaimana yang dikutip LATIN, telah terjadi konversilahan hutan alam yang dicadangkan untuk hutan produksi ke perkebunan sawit seluas2.721.428 Hektar dan telah disetujui untuk dikonversi berikutnya seluas 3.504.084 hektar.Kecenderungan konversi ini dari tahun ke tahun semakin meningkat, mengingat hargaproduk sawit seperti crude palm oil (CPO) juga cenderung terus naik dari tahun ke tahun.Bukan cuma lahan hutan, bahkan banyak lahan persawahan pun terutama di Sumatera danKalimantan juga dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan sawit. Selain pengaruhlangsung dari konversi lahan hutan, perkebunan sawit ditengarai juga berperan bagikebakaran hutan besar-besaran yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Memang harusdicatat kebakaran hutan bukan hanya disebabkan oleh pengusaha perkebunan kelapasawit, land clearing dengan metode bakar yang dilakukan oleh pengusaha HTI jugamemberikan sumbangan bagi luasnya lahan hutan yang terbakar. Kebakaran hutan hebatyang terjadi 1997 telah mengakibatkan hutan terbakar seluas 102.431,36 hektar di pulauSumatera. Pada dekade sebelumnya di Kalimantan kebakaran hebat terjadi tahun 1982/83dimana diperkirakan tidak kurang dari 3,5 juta hektar hutan Kalimantan Timur habisterbakar.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 24 -
  25. 25. BAB 2 PENGENALAN DASAR MOUNTAINEERING2.1 PendahuluanBagi orang awam, kegiatan petualangan seperti mendaki gunung selalu mengundangpertanyaan klise “mau apa sih kesana?” atau pertanyaan lainnya “memang ada apa sih digunung?” Pertanyaan sederhana tapi sering membuat bingung yang ditanya atau bahkanmengundang rasa kesal. George F. Mallory, seorang pendaki Inggris menjawab pertanyaantersebut “because it is there”. Mallory bersama rekannya menghilang di Everest tahun1924. Soe Hook Gie (Mapala UI) menulis dalam puisi “Aku Cinta Pangarango; karena akumencintai kebenaran hidup”, tetapi dalam perjalanan hidupnya dia tewas tercekik gasberacun di puncak Mahameru pada tanggal 16 Desember 1969.Mountaineering, berasal dari kata ‘mountain’ yang berarti gunung. Mountaineering adalahkegiatan mendaki gunung yang terdiri dari tiga1. Hill Walking. Merupakan perjalanan pendakian bukit-bukit yang landai, tidak mempergunakan peralatan dan teknis pendakian.2. Scrambling, Merupakan pendakian pada tebing batu yang tidak terlalu terjal, tangan hanya digunakan sebagai keseimbangan.3. Climbing, adalah: a. Rock climbing, yaitu pendakian dan atau pemanjatan pada tebing batu b. Ice & Snow climbing, yaitu merupakan pendakian pada es dan saljuDalam mountaineering atau kegiatan pendakian gunung terdapat 2 (dua) tipe atau sistempendakian yaitu:1. Himalayan Style adalah system pendakian dengan rute yang panjang, biasanya pendaki terdiri dari beberapa kelompok, dalam sistem ini apabila hanya terdapat satu atau beberapa orang saja yang berhasil mencapai puncak maka sudah dianggap mewakili peserta pendaki yang lain atau dinyatakan bahwa pendakian ekspedisinya berhasil. Sistem ini biasanya digunakan untuk ekspedisi atau suatu misi tertentu, seperti pengibaran bendera merah putih di puncak himalaya,dsb.2. Alpine Style adalah sistem pendakian dianggap berhasil apabila seluruh peserta anggota mencapai puncak gunung. Sistem ini dlakukan biasanya untuk kegiatan kenaikan tingkat bagi anggota baru, yang mensyaratkan tiap anggota apabila telah mencapai puncak maka bisa dinaikan tingkat keanggotaannya.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 25 -
  26. 26. 2.2 Persiapan Pendakian GunungMendaki gunung diperlukan persiapan yang cukup. Seringkali kegiatan latihan fisik tidakdisiapkan dengan baik. Dalam mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern danintern. Kebugaran fisik mutlak diperlukan. Pendaki gunung legendaris asal Inggris, SirGeorge Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu “tergila-gila” naik gunung. “Because it is there,” ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapaluas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang.Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahayasubyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atautenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin. Tidak bisa ditawar,mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah halmutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot kakidan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan(endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hinggahitungan hari untuk bisa tiba di puncak. Bila tidak biasa berolahraga, calon pendakisebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tigaminggu sebelum pendakian.2.2.1 Pengenalan MedanUntuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harusmenguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompasserta altimeter. Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk mengetahuimedan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang yang pernahmendaki gunungtersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut sertakan orangyang pernah mendaki gunung tersebut bersama kita.2.2.2 Persiapan FisikPersiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup persiapan olahraga fisiktermasuk lari, senam aerobik dan kekuatan kelenturan otot. Kesegaran jasmani akanmempengaruhi transport oksigen melelui peredaran darah ke otot-otot badan, dan inipenting karena semakin tinggi suatu daerah semakin rendah kadar oksigennya.2.2.3 Persiapan TimMenentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya danmerencanakan semua yang berkaitan dengan pendakian.2.2.4 Perbekalan dan PeralatanPersiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapanmendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindungkeselamatan pendaki itu sendiri. Namun perlengkapan tersebut tidak sepenuhnya mahaldan harus kita beli, karena kita bisa menyiasatinya dengan membeli bahan sendiri lalukemudian bisa kita buat atau kita bawa ke pembuat yang sudah biasa menerima orderdari para pendaki. Jadi banyak banyaklah berdiskusi dengan para senior yang telahterbiasa dan berpengalaman untuk menyiasatinya.Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita yang terbiasa hidup didaerah yang lebih rendah. Karena itu diperlukan perlengkapan yang memadai agarpendaki mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru itu. Seperti sepatu, ransel,pakaian, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan masak, makanan, obat-obatan danlain-lainUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 26 -
  27. 27. Persiapan dan perencanaan pendakian dibahas serta disajikan materinya secara detilpada Bab 4 Perencanaan Perjalanan di Alam Bebas, dalam buku materi panduan ini.2.3 Langkah dan Prosedur PendakianUmumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alamdalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu:2.3.1 PersiapanYang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah menentukan pengurus panitiapendakian, yang akan bekerja mengurus : Perijinan pendakian, perhitungan anggaranbiaya, penentuan jadwal pendakian, persiapan perlengkapan/transportasi dan segalamacam urusan lainnya yang berkaitan dengan pendakian.Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan berolahragasecara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan ketahanan nafas.Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-carapencegahan/pemecahannya.2.3.2 PelaksanaanBila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawaguide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunungtersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tigakelompok, yaitu:1. Kelompok pelopor2. Kelompok inti3. Kelompok penyapuMasing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan(penanggungjawab koordinasi). Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yangtersedia di setiap base camp pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau jurukunci gunung tersebut. Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu:Pelopor di depan (disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team penyapu dibelakang. Jangan sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggarperaturan ini. Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelahtiba di puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu adayang tertinggal.2.3.3 EvaluasiBiasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena denganevaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini menujuperbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).2.4 Fisiologi Tubuh di PegununganMendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dansegala konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisilingkunganpun jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelasUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 27 -
  28. 28. bila dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakinbertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara jugasemakin berkurang.2.4.1 Konsekuensi Penurunan SuhuManusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian manusiamemiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhutubuhterhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapatmembahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akanterangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuhinternal(mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kitaperlu banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumberenergi dan tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.2.4.2 Konsekuensi Penurunan Jumlah OksigenOksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untukmenjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuhbiasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasihaemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasiHaemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu untukmengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan aerobic,karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga merangsangmemacusintesis sel-sel darah merah.2.4.3 Kesegaran JasmaniKesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpentingyangditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare danneuromusculare. Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalamihal-hal yang kurang enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), inidisebut penyakit gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secaramenyolokpada ketinggian 2000 meter, sementara kapasitas kerja aerobic akan menurun(dengan membawa beban 15 Kg) dan juga derajat aklimasi tubuh akan lambat.Mountain sickness ditandai dengan timbulnya gejala-gejala:1. Merasakan sakit kepala atau pusing-pusing2. Sukar atau tidak dapat tidur3. Kehilangan control emosi atau lekas marah4. Bernafas agak berat/susah5. Sering terjadi penyimpangan interpretasi/keinginannya aneh-aneh, bersikap semaunya dan bisa mengarah kepenyimpangan mental.6. Biasanya terasa mual bahkan kadang-kadang sampai muntah, bila ini terjadi maka orang ini harus segera ditolong dengan memberi makanan/minuman untuk mencegah kekosongan perut.Gejala-gejala ini biasanya akan lebih parah di pagi hari, dan akan mencapai puncaknyapada hari kedua. Apabila diantara peserta pendakian mengalami gejala ini, maka perlusecara diniditangani/diberi obat penenang atau dicegah untuk naik lebih tinggi.Bilamana sudah terlanjur parah dengan emosi dan kelakuan yang aneh-aneh serta tidakpedulilagi nasehat (keras kepala), maka jalan terbaik adalah membuatnya pingsan.Pada ketinggian lebih dari 3000 m.dpl, hipoksea cerebral dapat menyebabkankemampuan untuk mengambil keputusan dan penalarannya menurun. Dapat pula timbulrasapercaya diri yang keliru, pengurangan ketajaman penglihtan dan gangguan padaUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 28 -
  29. 29. koordinasi gerak lengan dan kaki. Pada ketinggian 5000 m.dpl, hipoksea semakin nyatadan pada ketinggian 6000 m.dpl kesadarannya dapat hilang sama sekali.2.5 Pengetahuan Dasar Mountaineering2.5.1 Orientasi Medan2.5.1.1 Menentukan Arah Perjalanan dan Posisi Pada PetaDengan dua titik di medan yang dapat diidentifikasikan pada gambar di peta. Denganmenggunakan perhitungan teknik/azimuth, tariklah garis pada kedua titik diidentifikasitersebut di dalam peta. Garis perpotongan satu titik yaitu posisi kita pada peta.Bila diketahui satu titik identifikasi. Ada beberapa cara yang dapat dicapai:1. Kalau kita berada di jalan setapak atau sungai yang tertera pada peta, maka perpotongan garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan jalan setapak atau sungai adalah kedudukan kita.2. Menggunakan altimeter. Perpotongan antara garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan kontur pada titik ketinggian sesuai dengan angka pada altimeter adalah kedudukan kita.3. Dilakukan secara kira-kira saja. Apabila kita sedang mendaki gunung, kemudian titik yang berhasil yang diperoleh adalah puncaknya, maka tarik garis dari titik identifikasi itu, lalu perkirakanlah berapa bagian dari gunung itu yang telah kita daki.2.5.1.2 Menggunakan KompasUntuk membaca peta sangat dibutuhkan banyak bermacam kompas yang dapat dipakaidalam satu perjalanan atau pendakian, yaitu tipe silva, prisma dan lensa. Materipenggunaan kompas ini dibahas secara menyeluruh di bab 6 Pengenalan Dasar NavigasiDarat, dalam buku materi panduan ini.2.5.1.3 Peta Dalam PerjalananDengan mempelajari peta, kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilaluiatau dijelajahi. Penggunaan peta dan kompas memang ideal, tetapi sering dalampraktek sangat sukar dalam menerapkannya di gunung-gunung di Indonesia. Hutan yangsangat lebat atau kabut yang sangat tebal acap kali menyulitkan orientasi.Penanggulangan dari kemungkinan ini seharusnya dimulai dari awal perjalanan, yaitudengan mengetahui dan mengenali secara teliti tempat pertama yang menjadi awalperjalanan.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 29 -
  30. 30. Gerak yang teliti dan cermat sangat dibutuhkan dalam situasi seperi di atas. Adabaiknya tanda alam sepanjang jalan yang kita lalui diperhatikan dan dihafal, mungkinakan sangat bermanfaat kalau kita kehilangan arah dan terpaksa kembali ketempatsemula. Dari pengalaman terutama di hutan dan di gunung tropis kepekaan terhadaplingkungan alam yang dilalui lebih menentukan dari pada kita mengandalkan alat-alatseperti kompas tersebut. Hanya sering dengan berlatih dan melakukan perjalanankepekaan itu bisa diperoleh.2.5.2 Membaca Keadaaan Alam2.5.2.1 Keadaan UdaraSinar merah pada waktu Matahari akan terbenam. Sinar merah pada langit yang tidakberawan mengakibatkan esok harinya cuaca baik. Sinar merah pada waktu Matahariterbit sering mengakibatkan hari tetap bercuaca buruk.Perbedaan yang besar antara temperature siang hari dan malam hari. Apabila tidakangin gunung atau angin lembab atau pagi-pagi berhembus angin panas, makadiramalkan adanya udara yang buruk. Hal ini berlaku sebaliknya.Awan putih berbentuk seperti bulu kambing. Apabila awan ini hilang atau hanya lewatsaja berarti cuaca baik. Sebaliknya apabila awan ini berkelompok seperti selimut putihmaka datanglah cuaca buruk.2.5.2.2 Membaca Sandi-Sandi Yang Diterapkan atau DisepakatiMenggunakan bahan-bahan dari alam, seperti :1. Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk2. Sandi dari batang/ranting yang dipatahkan/dibengkokkan3. Sandi dari rumput/semak yang diikatTujuan dari penggunaan sandi-sandi ini apabila kita kehilangan arah dan perlu kembalike tempat semula atau pulang.2.6 Tingkatan Dalam PendakianAgar setiap orang mengetahui apakah lintasan yang akan ditempuhnya sulit ataumudah, maka dalam olahraga mendaki gunung dibuat penggolongan tingkat kesulitansetiap medan atau lintasan gunung. Penggolongan ini tergantung pada karakter tebingatau gunungnya, temperamen dan penampilan fisik si pendaki, cuaca, kuat danrapuhnya batuan di tebing, dan macam-macam variabel lainnya.1. Kelas 1: Berjalan (trail hikes). Tidak memerlukan peralatan dan teknik khusus.2. Kelas 2: Merangkak (scrambling). Dianjurkan untuk memakai sepatu yang layak. Penggunaan tangan mungkin diperlukan untuk membantu.3. Kelas 3: Memanjat (climbing). Tali diperlukan bagi pendaki yang belum berpengalaman.4. Kelas 4: Memanjat dengan tali dan belaying (semi-technical climbing). Anchor dan peralatan carabiner lainnya untuk belaying mungkin diperlukan.5. Kelas 5: Memanjat bebas dengan penggunaan tali belaying dan runner (technical climbing). Menurut Yosemite Decimal System, kelas 5 ini dibagi lagi menjadi 14 tingkatan (5.1 sampai 5.14), di mana semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 30 -
  31. 31.  5.1 s/d 5.4 Terdapat tumpuan dua tangan dan dua kaki.  5.5 s/d 5.6 Terdapat tumpuan dua tangan bagi yang berpengalaman, untuk sulit menemukan tumpuan dua tangan  5.7 Gerakan kehilangan satu pegangan/tumpuan/pijakan kaki.  5.8 Kehilangan dua tumpuan dari keempat tumpuan atau kehilanan satu tumpuan tapi cukup berat.  5.9 Hanya ada satu tumpuan yang pasti untuk kaki dan tangan.  5.10 Tebing tidak memiliki tumpuan, namun masih dapat dipanjat. Berdoa atau pulang kerumah  5.11 Tebing benar-benar tidak memungkinkan untuk dipanjat, namun beberapa orang yang benar-benar terlatih dapat memanjatnya.  5.12 Dinding vertikal tegak lurus dengan permukaan licin seperti gelas.  5.13 Dinding mengantung (overhang) dengan permukaan licin seperti gelas.6. Kelas 6 [Kelas A]: Pemanjatan artificial (artificial climbing). Tali dan anchor digunakan untuk gerakan naik. Kelas ini sering disebut kelas A. Dalam kelas A ini untuk menambah ketinggian pendaki harus menggunakan alat. Kelas A di bagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contohnya: tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2. Tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 - A.2Klasifikasi pendakian berdasarkan penempatan peralatan pengamanan yang digunakan:1. G – Good. Penempatan peralatan pengamanan benar-benar dapat melindungi dengan baik.2. PG – Pretty Good. Peralatan pengaman cukup dapat melindungi pemanjat.3. PG13 – OK Protection. Penempatan peralatan cukup baik. Jika jatuh tidak menyebabkan masalah serius.4. R – Runout. Peralatan pengaman berjarak cukup jauh, jika jatuh kemungkinan dapatmenimbulkan masalah serius.5. X – No protection. Berbahaya, jika jatuh dapat menyebabkan kematian.Klasifikasi pendakian medan es berdasarkan skala numerikal M:1. M1- M3 Pendakian tebing mudah, biasanya tanpa membutuhkan peralatan.2. M4 Tebing cukup curam sampai vertikal, membutuhkan peralatan.3. M5 Pendakian tebing harus didukung peralatan.4. M6 Tebing vertikal sampai overhang.5. M7 Tebing overhang.6. M8 Tebing hampir horizontal overhang, yang membutuhkan ketrampilan dan peralatan.7. M9 Tebing overhang dengan jarak dua sampai tiga panjang tubuh pemanjat.8. M10 Tebing overhang lebih dari 10 meter.9. M11 Tebing overhang lebih dari 15 meter.10. M12 Sama dengan M11 namun dengan terdapat penghalang yang membutuhkan teknik khusus dalam bergerak.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 31 -
  32. 32. Foto: Cemoro Tunggal, jalan menuju puncak MahameruUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 32 -
  33. 33. BAB 3 TALI TEMALI & SIMPUL (ROPE HANDLING & KNOTS)3.1 PendahuluanSimpul adalah ikatan pada tali atau tambang yang dibuat dengan sengaja untukkeperluan tertentu. Ikatan itu sendiri, khususnya yang digunakan pada saat PanjatTebing, dan atau kegiatan mountaineering serta alam bebas lainnya itu sendiri. PERINGATAN! Semua materi pembuatan Tali Temali & Simpul dan Mekanisme Teknis Panjat Memanjat tidak bisa dipelajari dari sekedar membaca buku panduan ini saja. Harus dipelajari langsung dari instruktur dan atau yang ahli karena kesalahan dalam pembuatan dan penggunaan bisa berakibat FATALUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 33 -
  34. 34. 3.2 Simpul Alpine Butterfly (Kupu-Kupu)Simpul ini umumnya dianggap sebagai salah satu simpul yang paling kuat, aman danmudah terikat. Dapat terikat di tengah sebuah tali bila anda tidak memiliki tambatanakhir. Dapat diambil dalam dua atau tiga arah tanpa distorting, dan dapat digunakanuntuk memperkuat tali yang rusak dengan mengisolasi area yang rusak. Hal inimembuat Alpine Butterfly sangat fleksibel dan perlu kita ketahui. Jika anda ikatkanAlpine Butterfly di ujung tali, anda dapat mengikat sebuah stopper knot bebas ke ujungtali untuk keamanan.3.3 Simpul Back Splice (Sambatan Balik)Simpul ini umumnya digunakan untuk mencegah ujung tali agar tidak terurai. Untukmembuat simpul ini ujung kepala lalat dililitkan kemudian membuat anyaman balik.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 34 -
  35. 35. 3.4 Simpul BowlineSimpul Bowline ini mudah berubah dan mudah untuk membukanya ketika tidak adabeban (terutama di beberapa tali sintetis), apabila salah membuatnya dapatmembahayakan. Dalam membuat simpul ini, penting untuk membuat simpul kancingandi ujung bebas untuk menjaga kemungkinan simpul ini terbuka.3.5 Simpul Clove HitchSimpul Clove Hitch merupakan simpul yang mudah untuk mengikat, dan merupakansalah satu simpul yang paling sering digunakan terutama sebagai jangkar dan simpul dibelay-up. Jangan membuat simpul dua atau lebih ke satu Carabiner. Cara yang benaruntuk klip pada simpul adalah dengan beban tali terdekat dari belakang Carabiner.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 35 -
  36. 36. 3.6 Simpul ConstrictorSimpul Constrictor salah satu simpul baru yang berguna untuk cavers maupun climberspada sat ini. Di beri nama constrictor karena sangat besar tahan terhadap gesekan,serta dapat digunakan untuk Clamp/penahan suatu object.3.7 Simpul Figure of Eight & Double Figure of EightSimpul Figure of Eight (berbentuk angka 8) adalah simpul yg sangat bermanfaat, cukupmudah untuk membuat, dan mudah untuk membuka setelah memberatkan, dan strestali rendah waktu ikat dgn kencang. Sedangkan simpul Double Figure of Eight padaprinsipnya adalah sama hanya saja simpulnya double (ganda).UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 36 -
  37. 37. 3.8 Simpul Double FishermanSimpul standar untuk tying /mengikat dua simpul tali bersama. Jika digunakan ditengah sebuah pitch, satu lingkaran simpul seperti Figure-of-Eight harus terikat menjadisalah satu ekor dari simpul untuk keamanan selama simpul lulus. Dua knot yangmenenangkan ganda nelayan tidak boleh mirror gambar dari satu sama lain (yaitumereka yang sama harus memiliki hati) jika mereka tidak akan susunan benar.3.9 Simpul Double OverhandSimpul penggabungan antara Overhand Knot, Double Overhand Knot lebih baikdigunakan sebagai simpul pengunci karena sulit untuk membuka. Hal ini kadang-kadangdiikat dengan simpul lain untuk keamanan.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 37 -
  38. 38. 3.10 Simpul Double Sheet Bend (Anyam Ganda)Simpul Double Sheet Bend berguna untuk menyambung dua tali dan efektif untukmenyambung dua tali yang berbeda ukuran.3.11 Simpul Eye SpliceSimpul ini digunakan untuk menyambung atau membuat mata tali (eye splice).UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 38 -
  39. 39. 3.12 Simpul Hunter’s Bend3.13 Simpul Munter / Italian HitchSimpul Italian Hitch adalah simpul yang sangat berguna karena dapat digunakan untukBelaying, Bar, dan tali-temali yang bergesekan, biasanya Carabiner, sehingga pada saatturun dapat dikontrol dalam mekanisme belay. Italia Hitch hanya digunakan sebagaicadangan atau untuk situasi darurat. Sebagai simpul belaying, hal ini memungkinkanfleksibilitas besar dalam desain dan sistem operasi. Simpul yang dikendalikan daridepan, karena bertentangan dengan belay plate yang harus dikontrol dari belakang.Maksimum yang diperbolehkan tidak melebihi tali paralel di samping beban carabiner.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 39 -
  40. 40. 3.14 Simpul OverhandSimpul ini biasanya digunakan sebagai simpul pengunci dan juga merupakan dasar daribeberapa simpul lainnya yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungandengan memanjat.3.15 Simpul PrusikSimpul Prusik biasanya digunakan dalam sebuah tali atau tambatan pada batang. Simpulini juga berguna dalam menambat tali arah vertikal dan hauling atas beban ataupendaki lain.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 40 -
  41. 41. 3.16 Simpul ReefSimpul Reef ini digunakan untuk menggabungkan dua buah tali, Gambar di bawah inimenunjukkan tahapan cara membuat Simpul Reef. Menunjukkan urutan caramembuatnya dan pada langkah akhir simpul ini dikencangkan dengan dua buah simpulpada akhir talinya.3.17 Simpul Rolling HitchSimpul Rolling Hitch ini biasanya dipergunakan untuk mengencangkan dan dipasangpada pasak, seperti misalnya pada sebuah tenda. Simpul ini dapat mengalami slidingsepanjang standing part. Saat dilepaskan, tegangan pada standing part makinmengeratkan lilitan dalam knot, penambahan friksi yang mana mempertahankan simpulpada tempat karena bekerjanya tegangan.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 41 -
  42. 42. 3.18 Simpul Round Turn & Two Half HitchesSimpul ini berguna untuk mengikatkan dan menguatkan ikatan pada benda-benda bulatseperti tiang sebagai ikatan diujungnya.3.19 Simpul SheepshankSimpul Sheepshank atau simpul erat biasanya digunakan sebagai simpul untukmemendekkan tali tanpa harus memotong tali tersebut.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 42 -
  43. 43. 3.20 Simpul Sheet BendSimpul Sheet Bend dipergunakan untuk tujuan yang sama dengan simpul Rolling Hitch,tetapi dengan sentakan yang kuat pada ujung, maka akan terlepas begitu saja. Iniadalah keuntungan saat menggunakan sarung tangan atau karena kedinginan, jari-jarikaku. Lebih jauh lagi, tidak seperti Rolling Hitch, Sheet Bend dapat dikunci disuatutempat untuk mencegah dari sliding. Dapat juga tidak dikunci untuk membuatnya dapatdiatur lagi.3.21 Simpul Short SpliceSimpul Short Splice biasanya digunakan untuk menyambung dua tali dengan ikatan yangkuat.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 43 -
  44. 44. 3.22 Simpul Simple WhippingSimpul ini digunakan untuk menganyam tali yang terurai agar dapat dipergunakankembali.3.23 Simpul SurgeonSimpul Surgeon digunakan untuk menyambung dua tali dimana dengan diameter taliyang berbeda.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 44 -
  45. 45. 3.24 Simpul Tape / WebbingSimpul ini digunakan untuk mengikat webing menjadi slings untuk caving atau panjattebing. Ujung webbing muncul dari simpul harus diamankan ke webbing menggunakansetengah lingkaran hitches atau insulating tape. Simpul ini terikat sehingga bebanbearing tape muncul dari sisi berlawanan dari simpul sehingga secara alami akankencang bila terbebani.3.25 Simpul Trucker’s HitchPenggunaan simpul Trucker’s Hitch atau simpul pangkal ini adalah untuk memulaiikatan, setiap kali akan membuat ikatan apa pun yang menghubungkan tali dengansebuah benda.Ada 2 Cara untuk membuat simpul Trucker’s Hitch:UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 45 -
  46. 46. 3.25.1 Simpul Trucker’s Hitch 13.25.2 Simpul Trucker’s Hitch 2UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 46 -
  47. 47. BAB 4 PERENCANAAN PERJALANAN DI ALAM BEBAS4.1 Perencanaan dan PersiapanDorongan untuk melakukan petualangan di alam bebas menyebabkan para penggiatnyamelakukan berbagai kegiatan perjalanan, mulai dari pendakian gunung, penyusuranpantai, pengarungan sungai berarus deras, dll. Perjalanan tsb dilakukan denganberbagai tujuan mulai dari eksplorasi, survey maupun hanya untuk berjalan-jalan.Semua perjalanan tsb memerlukan persiapan yang baik, mengingat kegiatan di alambebas seperti ini menghadapkan kita pada berbagai kondisi alam yang apabila tidak kitaketahui dengan baik akan menghadapkan kita pada keadaan yang dapat membahayakanjiwa kita, dan sebaliknya bila kita pahami akan memberikan kenikmatan berpetualangpada penggiatnya.Agar perjalanan di alam bebas dapat berjalan sesuai dengan rencanakita, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.4.1.1 TujuanMerumuskan suatu tujuan haruslah berdasarkan realita, tidak boleh terlalu ambisius.Tujuan haruslah disesuaikan dana yang telah tersedia, kemampuan anggota, dan waktu.Setiap anggota harus mengetahui dengan jelas tujuan perjalanannya, hal ini untukmenghindari kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi.4.1.2 WaktuApakah waktu yang ditetapkan bisa diikuti oleh semua anggota? Perencanaanperjalanan alam bebas harus pula memperhitungkan kalender kuliah atau pekerjaananggota-anggotanya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah musim pada saatpelaksanaan perjalanan alam bebas tsb.4.1.3 PesertaJumlah anggota yang ikut haruslah ditetapkan dengan beberapa pertimbangan, berapaorang yang dapat dilibatkan dengan fasilitas transportasi yang ada? berapa orang yangdibutuhkan untuk melaksanakan tujuan berdasarkan keahlian, pengalaman dan minatpeserta bekerjasama eegentk sesuai dengan ae iitanuyan iklnpdnlak k untukmenentukan itu semua maka seleksi haruslah dilakukan. Tentukan koordinatorperjalanan (leader), bidang-bidang koordinasi, subkoordinasi, seperti bidang dana,publikasi dan dokumentasi, perlengkapan akomodasi, logistik, medis dll. Koordinatorperjalanan haruslah dipilih dari orang-orang yang berwibawa dan punya pengalamansebagai pemimpin. Dia tidak harus seorang pendaki yang hebat, tetapi yang lebihpenting lagi adalah yang mampu mengkoordinasi pendakian tsb.4.1.4 AnggaranDalam menyusun keuangan, beberapa hal harus diperhitungkan, antara lainkemungkinan situasi ekonomi negara kita, seperti inflasi, perubahan kurs mata uangasing. Sebagai contoh ekspedisi Indonesia ke Himalaya beberapa tahun yang lalu tidakjadi berangkat hanya beberapa hari sebelum pemberangkatan karena terjadi inflasi.Kemungkinan lain adalah tidak tercapainya dana yang dibutuhkan.Alokasi dana atau perjalanan harus tepat dan masuk akal. Buatlah anggaran yangterperinci untuk setiap bidang. Pengeluaran dan pemasukan uang hanya berhakdilakukan oleh satu orang, mis bendahara atau pemimpin perjalanan.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 47 -
  48. 48. 4.1.5 PerijinanSetiap daerah atau negara mempunyai peraturan perijinan yang berbeda. Izin initergantung juga pada sifat ekspedisi yang akan dilakukan; untuk penelitian, wisata,pembuatan film, atau petualangan. Demikian pula apabila perjalanan itu gabungandengan pihak luar negeri, prosedur perijinan dan administrasi harus dilakukan.4.1.6 Pembukuan PerjalananPembukuan sebaiknya dilakukan secepatnya, kalau perjalanan itu dilakukan pada masaliburan mis, pembukuan harus dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum kehabisan tiket .Kalau suatu lembaga memastikan akan memberikan bantuan transportasi tentulah kitatidak akan kesulitan , tinggal menentukan tanggal keberangkatan yang pasti.4.1.7 Publikasi dan SponsorAdakalanya pencantuman seorang penasehat atau pelindung dalam organisasiperjalanan dilakukan dengan pertimbangan diplomatis, yaitu untuk mendukungorganisasi itu dalam usaha untuk mencari kemudahan fasilitas atau lainnya.Publikasi di media massa seringkali penting dan berkaitan erat dengan usahapengumpulan dana. Seorang yang bertanggung jawab atas publikasi perlu ditunjuk. Diaharus pandai berhubungan dengan pihak luar dan menarik minat pers untuk menyiarkanekspedisi ini baik di koran, majalah, radio maupun televisi. Siaran pers harus disiapkansecara menarik lengkap dengan foto atau gambar.4.1.8 SurveyPerencanaan terperinci harus dilakukan oleh setiap bidang. Kalau memangmemungkinkan ada baiknya mengirimkan satu kelompok pendahulu untuk dilakukansurvey lokasi, yang bertugas mencari informasi tentang lokasi. Tinggi gunung, tumbuh-tumbuhan yang ada, arus sungai, temperatur, adat istiadat penduduk setempat, semuainformasi tsb haruslah diketahui. Team survey harus juga mencari informasi tentangcamp induk yang akan didirikan dan untuk melapor pada pejabat setempat, tidak lupamenghubungi puskesmas atau dokter setempat (untuk bekerja sama apabila adakecelakaan dalam perjalanan). Bila survey tidak bisa dilaksanakan pencarian informasibila dilakukan dengan bertanya kepada orang yang sudah pernah berekspedisi ke sana,membaca buku atau mempelajari peta. Dengan terkumpulnya seluruh informasi kita dapat merencanakan perjalanan sematang mungkin. Lakukanlah pengecekan dan konfirmasi seluruh informasi apa yang telah masuk. Checklist perlengkapan disesuaikan dengan kondisi lokasi, buatlah daftar peralatan yang harus dibawa oleh individu atau kelompok. Pastikan tiap anggotamembawa P3K dan obat-obatan pribadi.4.1.9 Perencanaan di LapanganKegiatan di lapangan harus sudah jauh-jauh hari disiapkan. Dirumuskan secaraterperinci dalam schedule. Susunlah rencana itu dalam suatu jadwal khusus hari perhari. Tetapkanlah waktu yang diperlukan untuk mencapai target/ tujuan perjalanan,serta strategi yang akan digunakan dan rute yang akan ditempuh, serta tempatmenginap/ bivoak.4.1.10 BriefingUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 48 -
  49. 49. Seluruh anggota perjalanan akhirnya dikumpulkan untuk menerima briefing. Padakesempatan ini, pimpinan perjalanan menjelaskan segala sesuatu yang berkenaandengan perjalanan antara lain : tujuan, lokasi, kemungkinan-kemungkinan yang akanterjadi, metode dan strategi di lapangan dsb, kalau perlu dalam kesempatan inidiadakan pula ceramah oleh para ahli untuk menjelaskan tentang lokasi dari segigeologi atau antropologi. Kesempatan ini juga dapat dilaksanakan untuk mengenal danmengadakan latihan pemakaian peralatan baru.4.1.11 Check KesehatanPastikan semua anggota telah melakukan check kesehatan. Usahakan semua anggotatelah mendapatkan mendapat vaksinasi apabila diperlukan untuk mencegah demam,tuberculoses, serta anti tetanus.4.1.12 Pelaksanaan di LapanganDalam tahap ini pemimpin perjalanan langsung menangani pelaksanaan perjalanan.Pimpinan harus pandai menekankan kepada anggota-anggotanya bahwa keberhasilansuatu perjalanan ditentukan oleh kemampuan setiap anggota untuk belajar tinggal danbekerjasama sebagai suatu kelompok yang utuh, pada setiap kesempatan lakukanlahpertemuan untuk mengadakan evaluasi dan diskusi mengenai masalah-masalah yangdihadapi. Berilah kesempatan setiap bidang untuk melaporkan setiap kegiatan yangtelah dan akan dilaksanakan, sehingga setiap anggota akan dapat mengetahuinya.4.1.13 Setelah PerjalananTahap ini adalah anti klimaks, sehingga kegiatannya seringkali terulur-ulur, bahkan takjarang dilupakan. Baiknya membuat laporan perjalanan. Kalau memungkinkankirimkanlah ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaranperjalanan.4.2 Perlengkapan dan PerbekalanKeberhasilan suatu perjalanan di alam bebas ditentukan juga oleh perencanaanperlengkapan dan perbekalan yang tepat. Beberapa hal yang harus diperhatikan antaralain; Tujuan, Jenis Medan, Lama Perjalanan, Keterbatasan kemampuan membawa,Perlengkapan & Obat-obatan pribadi.Setelah mengetahui hal-hal tsb, maka kita dapat memilih perlengkapan dan perbekalanyang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi bebannya tidak melebihi kemampuanmembawanya. Perhitungan beban total untuk perorangan tidak boleh melebihisepertiga berat badan (sekitar 15 – 20 kg).4.3 Perlengkapan DasarPerlengkapan jalan khususnya yang dipergunakan untuk medan hutan gunung:4.3.1 Sepatu Melindungi tapak kaki sampai mata kaki Kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. Keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. Bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kakuUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 49 -
  50. 50. 4.3.2 Kaos Kaki Menyerap keringat Menghindari lecet pada kaki4.3.3 Celana Kuat, lembut, ringan, praktis Tidak menggangu gerakan kaki Terbuat dari bahan yang menyerap keringat Mudah kering, bila basah tidak menambah berat4.3.4 Baju Melindungi tubuh dari kondisi sekitar Kuat, ringan, tidak menggangu pergerakan Terbuat dari bahan yang menyerap keringat Praktis, mudah kering4.3.5 Ransel / Backpack/ Carrier Mampu menampung perlengkapan sesuai kebutuhan Ringan, kuat, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan medan, nyaman dipakai dan praktis Gunakan carrier yang ramping/proporsional walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah4.3.6 Peralatan Navigasi Kompas Peta Topografi (Peta Rupa Bumi) Busur Derajat, Penggaris kecil, Pensil, dll.4.3.7 Obat-Obatan dan Survival Kits Obat-obatan Pribadi Pisau Serbaguna, Pisau Tebas Peluit Korek Api Jarum & Benang4.3.8 Lampu Senter & Lentera Water proof dan dilapisi karet Cadangan Bohlam & Battery Lentera bisa menggunakan battery atau dari minyak tanah4.3.9 Perlengkapan Masak Alat Masak Lapangan (nesting/panic serbaguna) Alat Bantu Makan (sendok, piring, gelas plastik) Tempat Air (Vedples, Jerigen Lipat, dll) Kompor Lapangan (berbahan; Propane Gas, Spiritus, Parafin, dll)4.3.10 Perlengkapan Tidur Satu set pakaian tidur Kaus kaki untuk tidur Sleeping bag Matras Tenda/ ponco/ plastik untuk bivakUNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 50 -
  51. 51. 4.3.11 Topi atau Tutup Kepala Melindungi kepala dari kemungkinan cidera akibat duri Melindungi kepala dari curahan hujan, terutama kepala bagian belakang Kuat dan tidak mudah robek4.3.12 Syal/Slayer, Sarung Tangan, Ikat Pinggang Warna syal yang menyolok, bahan kuat & cepat menyerap air Terbuat dari kulit, tidak kaku dan tidak menghalangi pergerakanTerbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tapi teguh.Kegunaan ikat pinggang selain menjaga agar celana tidak melorot juga untukmeletakkan alat-alat yang perlu cepat dijangkau , seperti pisau pinggang, tempat airminum dll.4.4 Packing (Teknik Pengepakan) Dalam penyusunan, yang menjadi dasar adalah keseimbangan beban, bagaimana kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja secara efisien. Dalam batas-batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih menyenangkan saat menggendong beban. Namun bagaimanapun desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila anda tidak mampu menyusun barang-barang anda dengan baik.Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatandan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempackingbarang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikanperjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan. Prinsip dasar yangmutlak dalam mempacking adalah: Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat: Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung. Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti: meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya. Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal: alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik. Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal: beras dan telur. Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier. Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA - 51 -

×