Pusat Sumber Belajar

5,063 views

Published on

Pusat

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,063
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
152
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pusat Sumber Belajar

  1. 1. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal Dan Informal Penulis: Abdul Muis, S.Sos.,M.Pd. Drs. Dadang Sudarman Agus Gunawan., M.M.Pd. Karlan, SH, M.Pd. Dede Suherman, S.Pd. Abang Eddy Adriansyah, S.IP. DR. Yosal Iriantara Editor: Ir. Djajeng Baskoro., M.Pdii
  2. 2. Kata Pengantar Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal(PP PAUDNI) Regional I Bandung, merupakan salah satu Unit Pelaksana TeknisKementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana amanat PermendikbudNomor 18 Tahun 2012 mempunyai tugas Melaksanakan Pemetaan MutuPendidikan, Pengembangan Program dan Model Pendidikan, Supervisi, Fasilitasi,Penyusunan dan Pelaksanaan Program, Penerapan Model, dan PengembanganSumberdaya serta Kemitraan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini, PendidikanNonformal, dan Pendidikan Informal. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal yangdilaksanakan oleh PP PAUDNI esensinya adalah upaya meningkatkan mutusumberdaya manusia agar setiap insan Indonesia beriman, cerdas, profesionaldan berdaya saing agar cita-cita kemerdekaan bangsa tercapai guna mewujudkanbangsa Indonesia yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan. Sebagai institusi pendidikan berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsamelalui pendayagunaan sumberdaya pendidikan baik melalui jalur pendidikanformal, nonformal, dan informal. Pada jalur pendidikan nonformal dan informaltersedia layanan pendidikan melalui pendidikan konvensional maupun nonkonvensional agar setiap warga negara secara demokratis dapat memilih carabelajar yang sesuai dengan karakteristik dan harapannya untuk meningkatkanmutu kehidupan yang lebih baik. Pengadaan berbagai media pembelajaran baik tertulis maupun elektronikoleh PP PAUDNI Regional I Bandung dimaksudkan untuk menyediakan bahanpembelajaran bermutu, konstektual dan memotivasi setiap pembaca untukmeningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untukmemperluas wawasan, meningkatkan harkat dan martabat serta profesionalitassebagai warga negara Indonesia. Kami atas nama peminpin dan karyawan PP PAUDNI Regional I Bandungmengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah sudi menyumbangkanbuah pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan sebuah harapan masyarakatdengan menyediakan bahan-bahan pembelajaran dan informasi yang bermutu. Kepala PP PAUDNI Regional I Bandung, Band Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd. j j g , NIP. 196306251990021001 iii
  3. 3. Daftar IsiKata Pengantar ................................................................................................................ iiiDaftar Isi ........................................................................................................................... ivBAB 1 Pendahuluan ...................................................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Dasar ........................................................................................................... 5 C. Tujuan Penulisan ......................................................................................... 5 D. Sasaran Pengguna ...................................................................................... 5 E. Sistematika Penulisan ................................................................................. 6BAB 2 Kebijakan dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal ............................................. 7 A. Kebijakan .................................................................................................... 7 B. Program PAUDNI ......................................................................................... 9 C. Arah Pengembangan dan Pemanfaatan TIK ............................................... 11BAB 3 Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal ...................................................................................... 17 A. Pengertian Pusat Sumber Belajar ............................................................... 17 B. Fungsi dan Peran Pusat Sumber Belajar .................................................... 22 C. Tujuan Pusat Sumber Belajar ..................................................................... 23 D. Kelembagaan Pusat Sumber Belajar .......................................................... 24BAB 4 Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI ......................................................... 27 A. Penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis TIK ............................................ 28 B. Inovasi Pembelajaran dan Media Pembelajaran ......................................... 42BAB 5 Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI ............................... 53 A. Perubahan Lingkungan dan Kebutuhan Belajar .......................................... 54 B. Mengembangkan Etos Belajar ..................................................................... 59 C. Pembentukan Komunitas Pembelajar .......................................................... 63 D. Mengakrabi Teknologi Mutakhir ................................................................... 65 E. Komponen PSB PAUDNI ............................................................................. 67BAB 6 Manajemen PSB PAUDNI .................................................................................. 77 A. Manajemen PSB .......................................................................................... 80 B. Manajemen PSB PAUDNI ........................................................................... 93Daftar Pustaka ................................................................................................................. 104Biodata ............................................................................................................................ 106iv
  4. 4. BAB 1PendahuluanA. Latar Belakang Pendidikan Nonformal dan Informal sebagai subsistem pendidikan nasionalbertujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh berkembang sedinimungkin dan sepanjang hayatnya, guna meningkatkan martabat dan kualitaskehidupannya. Secara spesifik subsistem ini bertujuan membina warga belajaragar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untukmengembangkan diri, menjadi manusia, hingga melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PP PAUDNI) Regional IBandung merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Pusat, yang mengembantugas merumuskan kebijakan teknis bidang PAUDNI di wilayah koordinasi kerja,melakukan pengkajian dan pengembangan program dan model PAUDNI sebagaibahan masukan perumusan kebijakan dalam bidang PAUDNI, memfasilitasipengembangan sumberdaya bidang PAUDNI sesuai kebutuhan daerah, melakukanpemberian bimbingan dan evaluasi pelaksanaan program PAUDNI, melakukanpengembangan dan pengelolaan sistem informasi bidang PAUDNI di wilayahkoordinasi kerjanya maupun UPT di daerah seperti BPKB/SKB. UPTD BPKB/SKBsebagai unit pelaksana teknis dinas pendidikan yang berada di tingkat provinsi/kabupaten/kota inilah yang dimaksudkan sebagai lembaga mitra PP PAUDNIRegional 1 Bandung. Salah satu kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan nonformal daninformal adalah meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis satuan dan Pendahuluan 1
  5. 5. program termasuk di dalamnya Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di daerah.Pendidikan bermutu merupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pendidikanbermutu menjadi prasyarat untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitasyang mampu bersaing pada tataran global. Untuk mewujudkan pendidikan bermutudiperlukan strategi dan langkah yang konkret dan operasional yang dilakukansecara berkesinambungan. Salah satu langkah konkret itu adalah penguatanUPTD. Diharapkan UPTD ini kelak mampu berperan sebagai subjek penyelenggarapendidikan, yang mempunyai kewenangan penuh dan peran luas dalam perancangandan pelaksanaan program pendidikan nonformal dan informal bagi warga belajar,sesuai potensi dan kondisi masing-masing wilayah, dengan mengacu pada StandarPendidikan Nasional. Sumber: Dokumentasi PP PNFI Reg.1 Bandung BPKB merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan SuratKeputusan Gubernur. Merujuk pada Surat Keputusan Mendikbud Nomor253/O/1997, BPKB mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan,bimbingan dan uji coba program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahragaberdasarkan kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda danOlahraga. Adapun fungsi BPKB terdiri dari: (a) pembuatan dan penyusunan modeldan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga; (b) pelaksanaan ujicoba model dan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga yangdikembangkan menurut kondisi daerah setempat; (c) penyebarluasan model danpengembangan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga hasil ujicoba ke daerah yang sesuai; (d) pemberian penyuluhan proses belajar mengajardan penilaian dalam rangka pengembangan program pendidikan luar sekolah, Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,2 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  6. 6. pemuda dan olahraga; (e) pengembangan dan pelaksanaan uji coba model saranabelajar muatan lokal untuk mendukung program kegiatan belajar pendidian luarsekolah, pemuda dan olahraga (f) pelaksanaan bimbingan teknis kepada SKB ; (g)dan pengelolaan urusan tata usaha Balai. SKB merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan SuratKeputusan Bupati/Walikota. Merujuk pada Surat Keputusan Mendikbud Nomor 023/O/1997, SKB ini mempunyai tugas pokok melaksanakan program percontohan danpengendalian mutu program PAUDNI berdasarkan kebijakan Ditjen PAUDNI. SKBsecara teknis maupun administratif bertanggung jawab dan dibina langsung olehDinas Pendidikan Kabupaten/Kota, sedang menurut kedudukannya SKB berada ditingkat kabupaten/kota dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah kabupaten/kota. Dengan melihat kebutuhannya, satu kabupaten/kota memungkinkan untukmempunyai lebih dari satu SKB. Dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagaimana tercantum dalam SuratKeputusan Mendikbud Nomor 023/O/1997, SKB memiliki fungsi sebagai : (a)pembangkitan dan penumbuhan kemauan belajar masyarakat dalam rangkaterciptanya masyarakat gemar belajar; (b) pemberian motivasi dan pembinaanmasyarakat agar mau dan mampu menjadi tenaga pendidik dalam pelaksanaanazas saling membelajarkan; (c) pemberian pelayanan informasi kegiatan pendidikannonformal; (d) pembuatan percontohan berbagai program dan pengendalianmutu pelaksanaan program PNF; (e) penyusunan dan pengadaan sarana belajarmuatan lokal; (f) penyediaan sarana dan fasilitas belajar; (g) pengintegrasian danpenyinkronisasian kegiatan sektoral dalam PNF; (h) pelaksanaan pendidikan danpelatihan tenaga pelaksana PNF; dan (i) pengelolaan urusan tata usaha Sanggar.Disamping tugas pokok dan fungsi tersebut, SKB memiliki tugas tambahan seiringdengan dicanangkannya otonomi daerah. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadapdaya dukung pemerintah daerah pada lembaga SKB. Kualitas pembelajaran pada setiap satuan maupun program PAUDNI dimasyarakat, sangat ditentukan oleh kualitas pendidik dan sumber belajar yangada di BPKB/SKB. Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionalpembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses interaksi antara peserta didikdengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menyimakdefinisi itu tampak jelas bahwasanya peran pendidik merupakan faktor utama yangmenentukan peningkatan mutu pembelajaran. Untuk pengoptimalisasian peranpendidik tersebut, maka pendidik harus diberi ruang untuk berkreasi, berinovasi danberkolaborasi dalam rangka melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Diperlukansumber belajar, baik berupa orang, data maupun benda yang telah dikemassedemikian rupa sehingga bisa menjadi bahan yang berguna dalam mendukungpengoptimalisasian peran dan kualitas pendidik, yang pada akhirnya diharapkanberbanding lurus dengan pencapaian kompetensi warga belajar yang dididiknya. Selain pendidik ataupun benda-benda sebagai sumber belajar lainnya,lingkungan belajar merupakan faktor lainnya yang berpengaruh terhadap mutupembelajaran PAUDNI di BPKB/SKB. Hal ini menandaskan bahwasannya, peserta Pendahuluan 3
  7. 7. didik hendaknya tidak hanya belajar dari para pendidiknya saja, melainkan dapatpula belajar dari berbagai sumber belajar yang tersedia pada lingkungannya. Denganmemanfaatkan apa-apa yang tersedia pada lingkungannya sebagai sumber belajar,kelak para peserta didik akan mampu mengangkat potensi-potensi lokal di daerahatau lingkungannya menjadi suatu produk unggulan yang mengandung nilai benefitdan nilai profit, bagi dirinya maupun lingkungan dimana ia bertinggal. Sumber: Dokumen Seksi Sarpras PP PNFI Reg.1 Bandung Untuk mendorong para pendidik dan para peserta didik bermampuan menggalidan mengangkat potensi-potensi lokalnya, maka dibutuhkan Pusat Sumber Belajar(PSB) yang berkualitas. Sumber belajar yang bermutu dalam pembelajaran kinimemang menuntut perhatian lebih demi kesuksesan pembelajaran pada BPKB/SKBpada masa yang akan datang, terutama dalam mendukung proses pembelajaranantara pendidik dan peserta didik untuk menggali dan mengangkat potensi lokalmenjadi produk unggulan daerah. Peran PSB pada BPKB/SKB demikian penting dan utama dalam prosespembelajaran dan transformasi ilmu pengetahuan pada unit-unit pelaksana teknisdaerah tersebut. Ironisnya, selama ini sumber-sumber belajar yang ada di setiapUPT belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Kendala yang dihadapi dalampemanfaatan sumber-sumber belajar selama ini adalah karena masih beragamnyapemahaman dan kemampuan para pendidik dalam mengelola sumber belajar. Oleh karena itu, diperlukan pemberdayaan setiap UPT Pusat maupun UPTdaerah, dalam rangka meningkatkan fungsinya sebagai Pusat Sumber Belajarbagi masyarakat melalui program-program unggulan berbasis kewilayahan. Untukmendukung pemberdayaan setiap UPT Pusat maupun UPT Daerah sebagaimanadipaparkan di atas disusun Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar (PSB). Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,4 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  8. 8. B. Dasar Dasar penyusunan penulisan Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar iniadalah sebagai berikut:1. Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.2. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah.3. Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan.4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.5. Program Kerja Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (PP PAUDNI) Regional I Bandung Tahun 2011.C. Tujuan Penulisan Penulisan Standar Pusat Sumber Belajar ini dimaksudkan sebagai acuanbagi pembina dan penanggung jawab program PSB dalam memberikan bantuanteknis pada penyelenggara program PSB; menjadi penysusunan perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi penyelenggaraan PSB bagi calon penyelenggara PSB;dan acuan bagi pihak lain yang terkait. Sedangkan Tujuan Penulisan Standar PusatSumber Belajar untuk UPTD BPKB/SKB adalah sebagai panduan bagi:1. Memberikan pemahaman bagi pengelola tentang pengertian, tujuan dan fungsi PSB BPKB/SKB;2. Memberikan gambaran secara menyeluruh tentang penyelenggaraan PSB BPKB/SKB yang meliputi proses, pengorganisasian, tugas dan tanggung jawab, dan mekanisme penyelenggaraan;D. Sasaran Pengguna Pengguna Penulisan Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar ini adalahsebagai berikut:1. Lembaga penyelenggara Pusat Sumber Belajar (PSB) program PAUDNI Unggulan berbasis potensi lokal di UPTD BPKB/SKB.2. Dinas Pendidikan Tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan serta Mitra terkait. Pendahuluan 5
  9. 9. E. Sistematika Penulisan Penulisan ini memuat beberapa bagian. Bagian pertama yang terdiri atas Bab IPendahuluan, Bab II Kebijakan dan Program Pusat Sumber Belajar untuk PAUDNI,dan Bab III membahas konsep Pusat Sumber Belajar. Bagian kedua yang terdiriatas Bab IV yang membahas Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI, dan BAB VImplementasi PSB untuk peningkatan mutu PTK PAUDNI. Bagian ketiga yang berisiBab VI tentang manajemen PSB. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,6 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  10. 10. BAB 2Kebijakan dan Program PusatSumber Belajar Untuk PendidikanAnak Usia Dini, Nonformal & InformalA. Kebijakan Pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB) untuk Pendidikan Anak UsiaDini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) merupakan implementasi RencanaStrategis Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menjabarkan RencanaPembangunan Jangka Panjang. Sebagai rencana strategis, tentu memperhitungkanberbagai aspek termasuk perkembangan dan perubahan yang terjadi padalingkungan pendidikan. Dalam konteks perkembangan ilmu dan teknologi, khususnyaperkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) semua bidang dipengaruhiperkembangan ini dan berusaha memanfaatkannya. Dalam Renstra Kemendikbud dinyatakan, “Kondisi teknologi yang mempengaruhi pembangunan pendidikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang antara lain adalah (1) kesenjangan literasi TIK antarwilayah, (2) kebutuhan akan penguasaan dan penerapan iptek dalam rangka menghadapi tuntutan global, (3) terjadinya kesenjangan antara perkembangan teknologi dan penguasaan iptek di lembaga pendidikan, (4) semakin meningkatnya peranan TIK dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, (5) semakin meningkatnya kebutuhan untuk melakukan berbagi pengetahuan dengan memanfaatkan TIK, (6) perkembangan internet Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 7
  11. 11. yang menghilangkan atas wilayah dan waktu untuk melakukan komunikasi dan akses terhadap informasi, dan (7) perkembangan internet yang juga membawa dampak negatif terhadap nilai dan norma masyarakat serta memberikan peluang munculnya plagiarisme dan pelanggaran HAKI.” Sumber: http://csrsemengresik.com/wp-content/uploads/2011/11/2-paud-640x4271.jpg Akan halnya PAUDNI, ditetapkan ada sejumlah tujuan strategis yang haruisdicapai. Tujuan strategis untuk bidang PAUD adalah “tersedia dan terjangkaunyalayanan PAUD bermutu dan berkesetaraan di semua provinsi, kabupaten dan kota”.Sedangkan strategi pencapaiannya adalah sebagai berikut:1. Penyediaan pendidik PAUD berkompeten yang merata di seluruh provinsi, kabupaten/kota yang meliputi pemenuhan guru TK/TKLB berkompeten dan penyediaan tutor PAUD nonformal berkompeten;2. Penyediaan manajemen PAUD berkompeten yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan kepala satuan pendidikan, pengawas, dan tenaga administrasi;3. Penyediaan dan pengembangan sistem pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD;4. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana untuk penerapan sistem pembelajaran TK/TKLB berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota;5. Penyediaan subsidi untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan TK/TKLB berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota;6. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran PAUD Nonformal berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,8 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  12. 12. Sedangkan untuk pendidikan orang dewasa berkelanjutan, tujuan strategisnyaadalah “tersedia dan terjangkaunya layanan pendidikan orang dewasa berkelanjutanyang berkesetaraan, bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat”. Strategipencapaian tujuan tersebut adalah dengan:1. Penyediaan tutor berkompeten yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan tutor keaksaraan fungsional dan pendidikan kecakapan hidup;2. Penyediaan dan pengembangan sistem pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu pendidikan keaksaraan fungsional, pendidikan kecakapan hidup, homeschooling dan parenting education serta keterlaksanaan akreditasi satuan pendidikan penyelenggara pendidikan orang dewasa;3. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran pendidikan orang dewasa berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota.B. Program PAUDNI Program PAUDNI ada dua hal yang menjadi titik perhatian yaitu penguatandan peluasan pendidikan nonformal dan informal serta penyelenggaraan programpendidikan nonformal dan informal untuk melayani kebutuhan pendidikan wargamasyarakat. Dalam penyelenggaraan program pendidikan nonformal dan informal ini,pendekatan perbaikan dan peningkatan mutu menjadi perhatian dan strategi untukpencapaian tujuan. Dengan demikian, pendekatan dan strategi yang dipergunakanadalah strategi mutu. Ada pun program yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.1. Penguatan dan Perluasan Pendidikan Nonformal dan Informal Program pendidikan nonformal dan informal sangat strategis dalam upayauntuk menurunkan buta aksara dan meningkatkan kecakapan hidup masyarakatberkesetaraan gender. Hal ini sejalan dengan komitmen internasional dalampemberantasan buta aksara. Selain itu, dalam upaya mewujudkan masyarakatberbasis pengetahuan perlu ditingkatkan budaya baca masyarakat. Penguatan danperluasan ini dilaksanakan antara lain melalui kebijakan-kebijakan sebagai berikut.a. Penguatan dan perluasan program pembelajaran langsung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM);b. Penguatan dan perluasan pendidikan kecakapan hidup untuk warga negara usia sekolah yang putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah dan bagi warga usia dewasa;c. Penguatan dan perluasan budaya baca melalui penyediaan taman bacaan, bahan bacaan dan sumber informasi lain yang mudah, murah, dan merata serta sarana pendukungnya; Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 9
  13. 13. d. Penguatan dan perluasan pendidikan nonformal dan informal untuk mengurangi disparitas antargender; e. Pemberian fasilitasi pelaksanaan peningkatan pengetahuan dan kecakapan keorangtuaan (parenting education) dan homeschooling. Sumber: Dokumen PP PNFI Regional I Bandung 2. Program Pendidikan Nonformal dan Informal Program ini dilakukan untuk mendukung tujuan sebagai berikut. a. Tersedia dan terjangkaunya layanan PAUD bermutu dan berkesetaraan di semua provinsi, kabupaten dan kota; b. Terjaminnya Kepastian Memperoleh Layanan Pendidikan Dasar Bermutu dan Berkesetaraan di Semua Provinsi, Kabupaten dan Kota; c. Tersedia dan Terjangkaunya Layanan Pendidikan Menengah yang Bermutu dan Relevan dan Berkesetaraan di Semua Provinsi, Kabupaten dan Kota; d. Tersedia dan Terjangkaunya Layanan Pendidikan Orang Dewasa Berkelanjutan yang Bermutu dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat. Dalam melaksanakan program ini, digunakan strategi sebagai berikut. a. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran PAUD Nonformal bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; b. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran Paket A dan B bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; c. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran Paket C bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; d. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran pendidikan orang dewasa bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,10 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  14. 14. C. Arah Pengembangan dan Pemanfaatan TIK Mengacu pada Permendiknas No. 38/2008 tentang Pengelolaan TeknologiInformasi dan Komunikasi di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional,dinyatakan aplikasi dan konten yang dikembangkan melalui TIK di lingkunganKementerian. Aplikasi yang dipergunakan adalah aplikasi-aplikasi untuk administrasi,konten pembelajaran, dan aplikasi informasi dan kebijakan pendidikan. Sedangkanuntuk jenis konten yang dikembangkan adalah konten administrasi (e-administrasi),konten pembelajaran (e-pembelajaran) serta konten informasi dan kebijakanpendidikan. Khusus untuk konten pembelajaran, Permendiknas itu menyebutkan duajenis konten pembelajaran yaitu bahan belajar berbasis kurikulum dan bahanbelajar untuk pengayaan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Khususuntuk konten pembelajaran berbasis kurikulum untuk satuan pendidikan dasardan menengah, konten pembelajarannya harus mendapatkan penilaian kelayakansebelumnya dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Sedangan untuk bidang sistem dan teknologi informasi, Renstra Kemendikbudyang mendasarkan diri pada Kemendiknas tadi, dikemukakan pengembangansistem dan teknologi informasi terpadu, yang menyatakan: “Dalam rangka mendukung tercapainya pemerataan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik, diperlukan sistem dan teknologi informasi secara terpadu yang mampu meningkatkan pelayanan dan mendukung penyediaan informasi dan pelaporan bagi penentu kebijakan pendidikan dan pemangku kepentingan serta penyelenggaraan pembelajaran secara tepat, transparan, akuntabel, dan efisien.” Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 11
  15. 15. Menteri 12 Sistem Pendukung Keputusan Kemendiknas P j b t Pejabat Eselon Satu P j b t Pejabat Eselon Dua Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-pembelajaran Pengawasan Kepegawaian Manajemen Dikti Aplikasi Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-knowledge Manajemen Keuangan Manajemen Asset Litbang sharing Dikdasmen Unit Kerja Aplikasi Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-sumber Kemendiknas Perencanaan Kesekretariatan Manajemen PNFI Manajemen PMPTK belajarPendidikan Nonformal Dan Informal Terkait Aplikasi Non Kependidikan (e-manajemen e-layanan, e-pelaporan) Aplikasi plik (e-manajemen, e-layanan e-pelaporan) ma lap Aplikasi Kependidikan JARDIKNAS Data Data Data Data Data Data Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen PAUD Dikdas Dikmen Dikti Dikdewasa AssetPengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Data Data ata N an Pangkalan Data Non Kependidikan Kependidikan Warehousing Data Data Data Data Data Data Perencanaan Kepegawaian n Keuangan Kesekretariatan an Pengawasan n Litbang P Pangkalan k l Data Kependidikan Sumber: Renstra Kemendiknas 2010 - 2014 Gambar 2.1 Arsitektur Sistem dan Teknologi Informasi Terpadu
  16. 16. Untuk mengimplementasikan pengembangan Sistem danTeknologi InformasiTerpadu di lingkungan Kemendiknas perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:1. Strategi Pengembangan Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus selaras dengan Visi dan Misi Kemendiknas2. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mampu mendukung manajemen Kemendiknas dalam mengambil keputusan secara cepat,efisien dan efektif termasuk mengatur wewenang pendistribusian informasi.3. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus fleksibel untuk mengantisipasi berbagai perubahan termasuk dilakukannya reformasibirokrasi dan organisasi.4. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus menjamin keamanan dan kesahihan data serta menjamin efisiensi pengelolaan pangkalan data sehingga tidak terjadidata redundancy.5. Sistemdan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mampu menjadi sarana untuk mendukung pemberian layanan pendidikan termasuk e-pembelajaran,e- knowledge sharing dan e-sumber belajar6. Sistemdan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mendukung tercapainya Sistem Tata Kelola Kemendiknas termasuk sistem pengawasan dan evaluasi, pelaporan yang handal,efektifdan efisien;7. Guna menjamin keterpaduan perlu dilakukan terlebih dahulu pembuatan Master Plan Sistem dan Teknologi Informasi Terpadu Kemendiknas yang selaras dengan Rencana Strategis Kemendiknas. Sedangkan pada tataran operasional yang dilaksanakan di wilayah kerja PPPAUDNI Regional I Jayagiri, implementasi TIK untuk meningkatkan mutu PAUDNIdilakukan dengan membangun PSB di UPTD/SKB. Pada tahun 2012 direncanakanterbentuk 20 PSB, pada tahun 2013 direncanakan terbangun 30 PSB dan pada tahun2014 sudah terbangun 46 PSB. Sejalan dengan pengembangan PSB itu, dilakukanpeningkatan mutu PAUDNI yang ditandai dengan jumlah lembaga PAUDNI yangterakreditasi dan PTK PAUDNI yang tersertifikasi. Perkembangan dan penetapansasaran tahunan tersebut divisualisasikan pada gambar berikut. Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 13
  17. 17. Thn. 2014 75% akreditasi & Thn. 2013 20% sertifikasi 50% akreditasi & 8 TUK, 46 PSB 15% sertifikasi 5 TUK, 30 PSB Thn. 2012 25% akreditasi & 10% sertifikasi 2 TUK, 20 PSB Gambar 2.2. Rencana Kerja Akreditasi Program, Sertifikasi PTK & TUK/PSB UPTD 2012 - 2014 Sejalan dengan itu, dilakukan juga upaya revitalisasi fungsi kelembagaan UPTD SKB sehingga SKB memainkan peran dalam upaya peningkatan mutu layanan PAUDNI. PSB menjadi wahana penting dalam upaya peningkatan mutu tersebut, karena dapat menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kompetensi PTK PAUDNI. Peningkatan mutu PTK PAUDNI ini merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu layanan PAUDNI. Mengingat peningkatan mutu pendidikan bagaimana pun tidak akan bisa dilepaskan dari membaiknya mutu PTK PAUDNI sendiri. Peran dan revitalisasi fungsi kelembagaan UPTD/SKB itu divisualisasikan seperti berikut: SKB Penjaminan PKBM LKP Percontohan (2195) (3650) Pusat TBM PAUD (564) (17054) Gambar 2.3. Revitalisasi Fungsi Kelembagaan UPTD SKB 2011-2014 Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,14 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  18. 18. Akan halnya penyelenggaraan pelatihan yang berbasis TIK akan menjadi bagianpenting dalam ikhtiar peningkatan mutu tersebut. Pelatihan yang diselenggarakantidak lagi hanya berbasis pelatihan konvensional yang mengharuskan pesertapelatihan meninggalkan tugasnya dan datang ke satu tempat kegiatan pelatihan,melainkan bisa dilakukan dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Tingginyafleksibilitas tersebut, karena e-pelatihan memungkinkan peserta pelatihan tidakperlu meninggalkan lokasi tempatnya bekerja dan bisa memanfaatkan perangkatteknologi yang dimilikinya. Selain itu, materi pembelajaran dalam pelatihan pun dapat dibuat fleksibeldisesuaikan dengan kebutuhan. Dengan kata lain, materi pembelajaran dapatdibuat tailor-made sesuai dengan kebutuhan setiap peserta pelatihan. Untuk materipembelajaran yang sudah dikuasai peserta pelatihan tidak perlu lagi diikuti. Pesertapelatihan hanya mengikuti metari pembelajaran yang dianggap penting dan belumdikuasainya. Model penyelenggaraan pelatihanberbasis e-pelatihan tersebut,divisualisasikan seperti berikut. e-training e-Administrasi e-Jadwal PTK Kurikulum e-Media e-Evaluasi Cms-Oms Media Pembelajaran P2PNFI Perangkat Tutorial dan dan Uji BPPNFI Kompetensi Koneksitas Mentor BPKB Desain Instruksional Pengembangan Sistem SKB-PSB-TUK Gambar 2.4. Model Penyelenggaraan e-Training di UPT-UPTD 2012 Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 15
  19. 19. Dengan demikian, kemajuan TIK dimanfaatkan untuk peningkatan mutu layanan PAUDNI. Karena memang tidak bisa dipungkiri, perkembangan TIK mempengaruhi kehidupan kita, termasuk mempengaruhi kegiatan pendidikan pada berbagai jalur dan jenjang pendidikan. Dunia pendidikan tidak bisa menutup diri dari pengaruh TIK. Ada banyak hal yang diubah dalam dunia pendidikan karena perkembangan TIK ini. Mengikuti perkembangan dengan memanfaatkan TIK untuk sebesar-besar kebaikan dunia pendidikan sudah dilakukan di berbagai penjuru dunia. TIK sudah menjadi bagian penting dari sarana pendidikan dan memberikan bantuan besar dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah pemanfaatan TIK ini untuk peningkatan mutu pendidikan, termasuk pendidikan nonformal dan informal. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,16 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  20. 20. BAB 3Konsep Pusat Sumber BelajarPendidikan Anak Usia Dini,Nonformal dan InformalA. Pengertian Pusat Sumber Belajar Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 17
  21. 21. Apakah Pusat Sumber Belajar (PSB) itu? Tempat, gedung, gagasan atau konsep? Ataukah PSB mencakup tempat, gedung, gagasan atau konsep yang di dalamnya menunjukkan adanya kegiatan pembelajaran pembelajaran? Pertanyaan dan penjelasan yang disampaikan Ducote (1970) Ducote bisa menjelaskan makna PSB. Selanjutnya Ducote menjelaskan, lebih tepat jika PSB dirumuskan sebagai integrasi media dan tempat untuk membangun lingkungan belajar. Dengan demikian, secara sederhana, PSB dapat diartikan sebagai ketersediaan informasi yang mudah diakses atau disimpan dalam berbagai media dan format. Sedangkan Centre for Educational Research and Innovation (2007:31-32) mengutip definisi yang dibuat UNESCO yang menyatakan PSB terbuka sebagai “menyajikan sumber belajar secara terbuka, yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, yang dipergunakan untuk konsultasi, dimanfaatkan dan dimodifikasi oleh komunitas pengguna untuk tujuan nonkomersial.” Namun, Centre for Educational Research and Innovation (2007:32) menegaskan, sekarang ini lebih banyak yang memaknai PSB sebagai “sumber pembelajaran terbuka yang berupa materi digital yang diberikan secara gratis dan terbuka untuk kalangan pendidik, siswa dan pembelajar mandiri untuk digunakan dan digunakan kembali dalam kegiatan pembelajaran dan penelitian.” PSB ini mencakup: 1. Konten pembelajaran, yang berupa materi pembelajaran, modul, bahan belajar, kumpulan tulisan dan jurnal 2. Perangkat lunak, yang menunjang pengembangan, penggunaan, pemanfaatan- ulang dan penyampaian bahan belajar termasuk penelusuran dan pengorganisasian konten, sistem manahemen pembelajaran dan bahan belajar, perangkat pengembangan konten, dan komunitas pembelajaran online. 3. Sumber implementasi, lisensi hak kekayaan intelektual untuk mendorong publikasi bahan belajar secara terbuka, desain prinsip-prinsip best practices dan muatan bahan belajar yang sesuai kebutuhan setempat. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,18 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  22. 22. Sumber daya Perangkat Konten Implementasi Sistem Perangkat Sumber Referensi Perangkat Best Manajemen Pengembangan Belajar Berlisensi Practices Konten Koneksi Koleksi • Creative • Arsip internet Commons CMU Perangkat • Google • GNU Free Pembelajaran Schooler Document • MIT OCW • Library of • ParisTech Congress • Tapan • Wilkis Perangkat Sistem Sosial Manajemen • Wilkis Pembelajaran Objek Interoperabilitas • HQO • Moodie Belajar • CMS • OSLO • Sakai • MERLOT • SCQRM Research • Connections • OKJKonsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Sumber: Centre for Educational Research and Innovation (2007: 32) Gambar 3.1. Peta Konseptual Pusat Sumber Belajar Terbuka19
  23. 23. Sumber belajar dibedakan menjadi 2 jenis : (a) sumber belajar yang direncanakan, yaitu semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional yang memfasilitasi pembelajaran yang terarah dan bersifat formal dan ; (b) sumber belajar yang menjadi sumber belajar karena dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, yaitu sumber-sumber yang tidak didesain secara khusus untuk keperluan pembelajaran namun tersedia, diterapkan dan digunakan untuk keperluan belajar. Sedangkan sumber belajar sendiri dapat dimaknai secara sempit dan luas, seperti yang dikemukakan Sudjana (1989). Secara sempit sumber belajar terfokus pada bahan-bahan cetak, sedangkan secara luas mencakup berbagai macam sumber daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar-mengajar, baik secara langsung maupun tidak. Dalam pandangan Percival & Ellington (1988), sumber belajar yang dipakai dalam pendidikan atau pelatihan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat sehingga memungkinkan peserta didik belajar secara individual. Sumber belajar inilah yang disebut media pendidikan atau media instruksional. Untuk menjamin bahwa sumber belajar adalah sumber belajar yang cocok dan tepat, maka sumber belajar tersebut harus memenuhi 3 persyaratan, yaitu: (a) harus dapat tersedia dengan cepat; (b) harus dapat memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri; (c) harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagi kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,20 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  24. 24. Sesungguhnya media pendidikan ini lebih dari sekedar sarana atau wahanauntuk menyimpan dan menyampaikan konten pendidikan. Dalam pandanganDanandjaja (2010:36) media pembelajaran ini sebenarnya mirip dengan mediadalam artian biotek yaitu tempat/bahan bertumbuhnya jaringan menjadi bibit. Jadidi sini, media sebenarnya menjadi wahana untuk perkembangan dan pertumbuhan.Bukan sekedar wahana untuk menyampaikan konten pendidikan. Dalam konsepPSB, oleh para pendidik media pembelajaran cenderung dipandang sebagai saranapembelajaran yang membuat kegiatan pembelajaran menjadi efektif. Menurut Seels & Richey (1994), sumber belajar adalah manifestasi fisik dariteknologi perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran, yang dapatdikategorikan dalam 4 jenis teknologi yaitu teknologi cetak, teknologi audiovisual,teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu. Masing-masing dari teknologitersebut dijabarkan sebagai berikut :1. Teknologi cetak, teknologi yang dipergunakan untuk memproduksi atau menyampaikan bahan seperti buku-buku dan bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis.2. Teknologi Audiovisual, teknologi yang dipergunakan memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyampaikan pesan-pesan audio dan visual3. Teknologi berbasis komputer, teknologi yang dipergunakan memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor.4. Teknologi terpadu, teknologi yang dipergunakan untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih materipembelajaran yang akan dijadikan sumber belajar, yaitu:1. Siapa yang menggunakan sumber belajar tersebut2. Muatan bahan belajar3. Desain pembelajaran4. Desain teknis5. Pertimbangan sosial Untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat sumber belajar itu, makadiperlukan suatu Pusat Sumber Belajar sebagai suatu unit yang mengintegrasikanpotensi-potensi sumber belajar dalam rangka menopang kegiatan dalam suatulembaga pembelajaran. Terkait PSB ini, Pusat Teknologi Informasi dan KomunikasiDepartemen Pendidikan Nasional (Pustekom, 2008), mendefinisikannya sebagai: Pusat Sumber Belajar adalah suatu unit dalam suatu lembaga (khususnyasekolah/universitas/perusahaan) yang berperan mendorong efektifitas sertaoptimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi yangmeliputi fungsi layanan (seperti layanan media, pelatihan, konsultansi pembelajaran, Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 21
  25. 25. dan lain-lain), fungsi pengadaan/pengembangan (produksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan Pusat Sumber Belajar (PSB) sebagai unit pada BPKB/SKB maka PSB merupakan suatu unit di dalam BPKB/SKB yang berperan mendorong efektivitas dan optimalisasi proses pembelajaran penyelenggaraan PAUDNI melalui berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan (seperti layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan, pemagangan perangkat pembelajaran: kurikulum, silabus, media, bahan ajar, evaluasi dan lain- lain), fungsi pengadaan/pengembangan (produksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektivitas dan efsiensi program PAUDNI terutama program unggulan sesuai potensi lokal. Sedangkan dalam kaitannya sebagai tempat pada BPKB/SKB, mengacu pada definisi yang disampaikan dalam makalah Pengembangan Pusat Sumber Belajar Di Sekolah, yaitu: A Resources Centre is a place (anything from a part of a room to an entire complex of buildings) that is set up specifically for the purpose of housing and using a collection of resources, usually in terms of instructional media. Resource centres may serve the needs of an individual department within a school or college, an entire institution, or even a collection of institutions, as for example, when several schools are served by a single central resources centre, ” (Sudarsono Sudirdjo, 2009) Dengan demikian, Pusat Sumber Belajar pada BPKB/SKB adalah tempat/ ruang/area khusus dalam sebuah BPKB/SKB yang didesain khusus untuk tujuan pemusatan dan pengumpulan berbagai sumber belajar yang terdiri dari media- media pembelajaran, layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan dan pemagangan. Pusat Sumber Belajar ini dalam aktivitas dan pengoptimalisasian fungsi dan manfaatnya dapat digunakan untuk melayani kebutuhan internal maupun eksternal BPKB/SKB. B. Fungsi dan Peran Pusat Sumber Belajar Fungsi dan peran PSB adalah sebagai berikut: 1. Tempat layanan konsultasi, pembelajaran, pelatihan, pembimbingan, pemagangan dan pengembangan program PAUDNI. 2. Tempat pengadaan, produksi, dan pemasaran berbagai bahan belajar serta media pembelajaran. 3. Media informasi dan komunikasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran/ pembimbingan/pelatihan/pemagangan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan warga belajar PAUDNI. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,22 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  26. 26. 4. Wahana belajar melalui forum diskusi antar pendidik dan tenaga kependidikan serta warga belajar, pendidik dengan pendidik, warga belajar dengan warga belajar, satuan dengan satuan, UPTD BPKB/SKB dengan satuan, UPTD BPKB/ SKB dengan UPTD BPKB/SKB, UPTD BPKB/SKB dengan sektor lain, UPTD BPKB/SKB dengan masyarakat yang berkaitan dengan pembelajaran. PENDIDIK WARGA BELAJAR TENAGA KEPENDIDIKAN Gambar 3.2 Interaksi Antar Komponen PSB5. Media unjuk kinerja berbagai inovasi dalam proses pembelajaran, layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan, dan pemagangan.C. Tujuan Pusat Sumber Belajar Secara umum tujuan diselenggarakan PSB adalah untuk meningkatkan fungsiUPTD BPKB/SKB sebagai tempat rujukan tentang penyelenggaraan, pembelajaran,pembimbingan, pelatihan maupun pemagangan program PAUDNI unggulanyang berbasis potensi lokal melalui layanan konsultasi dan komunikasi denganpenyediaan berbagai sumber belajar secara terorganisir agar pengetahuan, sikapdan keterampilan masyarakat meningkat secara efektif dan efisien. Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 23
  27. 27. Adapun tujuan khusus dari penyelenggaraan PSB pada BPKB/SKB adalah : 1. Meningkatkan kinerja UPTD BPKB/SKB dalam menyelenggarakan program PAUDNI unggulan berbasis potensi lokal yang dapat dijadikan rujukan oleh masyarakat. 2. Mewujudkan jejaring dan pola komunikasi yang efektif dan efisien antar/ inter UPTD BPKB/SKB melalui pemanfaatan teknologi informasi. 3. Mewujudkan iklim kerja yang kondusif dalam mengembangkan inovasi PAUDNI melalui kebersamaan antar pendidik, tenaga kependidikan, dan warga belajar dalam berbagi pengalaman. 4. Menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan pendidik, tenaga kependidikan, dan warga belajar di UPTD BPKB dan UPTD SKB dalam mengembangkan, menerapkan, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada. D. Kelembagaan Pusat Sumber Belajar Program pengembangan PSB di UPTD BPKB dan UPTD SKB melibatkan berbagai sektor seperti: Direktorat Jenderal PAUDNI, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, PPPAUDNI Regional I Bandung, BPPAUDNI, BPKB, dan SKB serta mitra-mitra terkait. DITJEN PAUDNI KEBIJAKAN UPTD ORMAS BPKB MASYARAKAT DINAS FORUM DINAS FORUM PENDIDIKAN PTK PNR PENDIDIKAN PTK PROV PROVINSI PSB KAB/KOTA KAB/KOTA INSTANSI INSTANSI TERKAIT TERKAIT PEMODELAN P2PNFI Regional I Bandung Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,24 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  28. 28. : Pembina : Pengguna antar lembaga : Pengguna perseorangan : Pengguna Forum PTK-PNFI Gambar 3.3. Mekanisme Organisasi PSB Mekanisme kerja antara sektor-sektor yang digambarkan dalam Gambar 2.3dijabarkan sebagai berikut :1. Ditjen PAUDNI memfasilitasi, dan memberikan pembinaan kebijakan dan mengkoordinasikan dengan dinas pendidikan propinsi dan kabupaten/kota.2. PP PAUDNI memfasilitasi, dan memberikan pembinaan teknis keberlangsungan PSB di UPTD BPKB/SKB dan mengkoordinasikan dengan UPTD propinsi dan UPTD kabupaten/kota lainnya di wilayah koordinasi kerja P2 PAUDNI Regional 1 Bandung.3. Dinas pendidikan propinsi memfasilitasi dan membina PSB di BPKB.4. Dinas pendidikan propinsi beserta BPKB mengkoordinasikan dan menyosialisasikan PSB kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.5. Dinas pendidikan kabupaten/kota memfasilitasi dan membina PSB UPTD SKB.6. Dinas pendidikan kabupaten/kota menyosialisasikan kepada Forum PTK PAUDNI, Dinas Terkait dan organisasi masyarakat.7. PSB BPKB/SKB memberikan layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan dan pemagangan program PAUDNI kepada Dinas terkait, Organisasi Masyarakat, Forum PTK PAUDNI, tokoh masyarakat, warga belajar dan masyarakat.8. UPTD BPKB/SKB di Wilayah koordiansi kerja P2 PAUDNI Regional I Bandung menjadi mitra dan sumber belajar pada PSB di UPTD BPKB/SKB.9. UPTD BPKB/SKB mengembangkan program-program unggulan yang menjadi konten PSB. Secara konseptual, program-program yang dapat diwadahi melalui PSB inidivisualisasikan melalui Gambar 3.4. Pada gambar tersebut fungsi yang diembanPSB dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta situasi dankondisi kewilayahan, lingkungan dan sosial budaya. Dengan demikian, fungsi PSBdilaksanakan tanpa terasing dari lingkungannya. Selanjutnya dengan memperhatikankondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat tersebut, PSB menjadi penyediasumber belajar untuk bidang-bidang yang menjadi garapan PAUDNI, sepertidivisualisasikan berikut: Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 25
  29. 29. PAUD PEMBERDAYAAN PKH/ PEREMPUAN WIRAUSAHA TU K E BU HA N YARAKAT MAS SO KU N GA N S IA L B U D AYA S PSB Layanan Konsultasi & Informasi Komunikasi: KESETARAAN KEAKSARAAN Pembelajaran, Pembimbingan, LING Pelatihan, Pemagangan Y Y Y Y Y KEW ILAYAHAN KEPEMUDAAN KELEMBAGAAN KURSUS Gambar 3.4. Program PAUDNI Yang Dapat Diselenggarakan di PSB Berbasis Potensi Wilayah Gambar 3.4. menunjukkan bagaimana PSB berbasis potensi wilayah dapat dikembangkan untuk menunjang program-program layanan PAUDNI. Karena berbasis potensi wilayah maka materi pembelajaran yang disediakan PSB akan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kewilayahan dalam lingkup wilayah layanan PAUDNI UPTD/SKB. Dengan demikian, maka PSB dapat menjadi pendorong perkembangan wilayah dan berperan penting dalam mengembangkan wilayahnya. PSB yang berbasis potensi lokal tersebut akan menyediakan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setenpat. Tidak terjebak dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat umum dan kurang membumi bagi satu wilayah. Bahan pembelajaran dapat dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata satu daerah sehingga bila terjadi pertukaran bahan pembelajaran antara satu PSB dengan PSB lain akan makin memperkaya khasanah pengetahuan dan bahan pembelajaran dalam konteksn PAUDNI. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,26 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  30. 30. BAB 4Konsep PSB Berbasis TIK untukPAUDNI Kita hidup di dunia yang sering dilukiskan sebagai menghadapi ledakaninformasi. Pertumbuhan informasi yang dihasilkan manusia berlangsung sangatcepat. Kini berbagai informasi tersebut tersimpan dalam berbagai bentuk mediapenyimpanan, mulai dari media konvensional seperti kertas sampai media mutakhiryang menyimpan informasi digital. Pertumbuhan cepat informasi dan pengetahuantersebut membuat manusia tidak bisa lagi menggantungkan pada perolehaninformasi dari pembelajaran tatap-muka dengan narasumber, karena tak mungkinlagi ada manusia yang tahu segalanya dan semuanya. Oleh karena itu akan sangatdibutuhkan manusia yang memiliki pembelajar mandiri atau pembelajar independen.Pembelajar mandiri inilah yang akan merumuskan sendiri pengetahuan apa atauinformasi apa yang diperlukannya dan di mana menelusuri informasi tersebut. PSB menyediakan kebutuhan informasi penggunanya. Hubungan antara PSBdan penggunanya dan komunitas pengguna akan terjalin dengan baik bila kebutuhanpengguna mampu dipenuhi PSB. Kebutuhan belajar pengguna diakomodasi dandipenuhi begitu juga gaya belajar dan etos belajar pengguna diikuti dengan baikoleh PSB. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada dasarnyadipergunakan untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya pada pengguna PSB. Perkembangan TIK memang mendorong manusia melakukan banyakperubahan dalam praktik kehidupan kesehariannya termasuk dalam cara menelusuri,memperoleh dan menyimpan informasi dan pengetahuan yang diperlukannya. Adaperubahan cara manusia dalam mendapatkan pengetahuan. Tidak lagi bergantung Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 27
  31. 31. pada bertemu atau tidaknya dengan narasumber. Sekarang ini perolehan pengetahuan akan terkait pada kemampuan manusia terhubungan dengan pusat- pusat ilmu pengetahuan yang salah satu di antaranya adalah PSB. Oleh sebab itu, kini dikenal istilah sumber belajar digital yang secara sederhana bisa dirumuskan sebagai perangkat pendidikan yang dapat dipergunakan untuk tujuan kegiatan belajar-mengajar dan untuk itu TIK dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan pembelajaran melalui produk, layanan dan proses yang berada di dalamnya. Sumber: http://as4796.http.sasm3.net/files/88/20111119/1321664812.jpg Kehadiran TIK ini mendorong berlangsung inovasi dalam proses pembelajaran. Bukan hanya pembelajaran tatap-muka di antara pembelajar melainkan juga memungkinkan penggunaan berbagai perangkat TIK untuk meningkat mutu proses pembelajaran. Termasuk juga membukakan kemungkinan untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran yang pembelajarnya tersebar di berbagai tempat. A. Penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis TIK 1. E-Learning a. Pengertian dan perkembangan e-leraning e-Learning singkatan dari electronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar- mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. Kegiatan belajar mengajar yang secara tradisional dilakukan secara tatap muka, saat ini banyak yang dilakukan dengan memanfaatkan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,28 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  32. 32. situs Web yang dikenal dengan sebutan e-Learning. Ada beberapa istilah serupauntuk e-Learning ini seperti on-line learning, internet-enabled learning, virtuallearning, atau web-based learning. Sumber: http://ibnuzaki.com/wp-content/uploads/2012/03/peta-sukses-belajar-1024x772.jpg Secara sederhana, e-Learning merupakan bagian pendidikan jarak jauh. Karenamerupakan pembelajaran jarak jauh maka akan diperlukan sarana atau media untukmenghubungkan pembelajar dan sumber belajar. Sarana untuk menghubungkanpembelajar dan sumber belajar itu dapat menggunakan internet, intranet atau mediajaringan komputer lain ( Hartley, 2001). Sedangkan menurut Rosenberg (2001),e-Learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan sejumlahmateri pembelajaran yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.Dengan demikian, dapatlah kita ringkaskan bahwa e-Learning itu pada dasarnyamerupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan perkembangan teknologiinformasi dan komunikasi. e-Learning sendiri sebenarnya merupakan istilah yang menunjukkan padasejumlah proses belajar secara elektronik yang berada di dalamnya. Sepertihalnya pembelajaran konvensional yang menggunakan ruang kelas dan bertatap-muka, yang di dalamnya ada sejumlah tujuan dan metode pembelajaran yangdipergunakan, begitu juga halnya dengan e-Learning. Dalam e-Learning ini dapatsaja diselenggarakan pelatihan yang biasa dinamakan e-Training. Bisa jugaberlangsung diskusi membahas satu masalah atau satu topik yang biasa dinamakane-Discussion. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 29
  33. 33. e-Learning e-Training i i e-Teaching T hi e-Discussion Di Gambar 4.1. e-Learning dan bagian kegiatannya Namun menurut batasan UNESCO, e-learning paling tidak harus didukung prasyarat yaitu ketersediaan software bahan belajar berbasis TIK, ketersediaan software aplikasi untuk menjalankan pengelolaan proses pembelajaran, ketersediaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang menguasai TIK, adanya infrastruktur TIK, ketersediaan akses internet, ketersediaan dukungan training, riset, dukungan daya listrik, dan dukungan kebijakan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran. Apabila prasyarat ini telah tersedia, maka program dan pengelolaan e-learning akan dapat dijalankan. Pembelajaran jarak jauh sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Namun e-learning mulai berkembang pesat pada tahun 1990-an seiring dengan perkembangan TIK. Karena TIK mampu menghasilkan berbagai produk bahan ajar yang jauh lebih menarik untuk dipelajari peserta didik. Selain itu, TIK juga memungkinkan dilakukannya penyampaian bahan ajar pada peserta didik tanpa batasan jarak dan waktu. Sumber: http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/Internet.jpg xx Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,30 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  34. 34. Awal pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran ini ditandai denganberkembangnya model computer-based learning/training (CBL/CBT). Berbagaipelatihan atau kelas menyediakan bahan belajar yang berupa modul elektronikyang berupa software edukasi dan softcopy berbagai modul cetak yang sudah adasebelumnya, atau dalam bentuk multimedia (audio dan video) dalam format digitalseperti mp3, mpeg, avi atau mov. CBL/CBT ini umumnya memanfaatkan komputeryang tak terhubungan dengan internet. Setelah jaringan internet makmin luas jangkauannya maka terjadi perluasanakses terhadap materi pembelajaran CBL/CBT. Bahan ajar tak hanya didistribusikandalam bentuk CD tapi juga disimpan di server dan dapat diakses melalui komputerberjaringan lokal maupun internet. Ini merupakan jembatan menuju apa yangkemudian dinamakan sebagai web-based learning. Pada model web-based learning, materi pembelajaran tersebut diunggah(upload) melalui website dan dapat dibaca atau diunduh (download) siapa pun.Dengan demikian siapapun dapat mempelajari materi pembelajaran tersebut kapanpun dan dimana pun. Pada sisi lain, bagi penyelenggara pendidikan, web-basedlearning ini dipergunakan untuk meluaskan layanan pendidikan bagi siapa un yangmembutuhkan layanan pendidikan tersebut. Fasilitas pembelajaran melalui web-based learning ini memungkinkan kegiatanpembelajaran bersifat interaktif meski tidak langsung saling bertatap muka. Pesertadidik bisa mengunduh bahan pembelajaran, mendiskusikannya dengan peserta didiklain atau dengan fasilitator pembelajaran. Interaksi tersebut bisa dilakukan secaralangsung melalui berbagai fasilitas messanger online seperti Yahoo Messenger,GoogleTalk, fasilitas chatting di facebook atau bisa juga melalui sms. Bisa jugadilakukan secara tertunda melalui e-mail. Evaluasi pembelajaran pun dapat dilakukansecara online melalui ujian online. Sekarang ini, sejalan dengan perkembangan TIK dan hadirnya ponsel cerdas(smartphone) maka kegiatan e-pembelajaran atau e-learning ini tidak hanya bisadilakukan melalui komputer namun bisa juga melalui ponsel atau komputer tablet.Karena itu, kini setelah istilah e-learning muncul pula istilah m-learning (mobilelearning) yang memanfaatkan kehadiran perangkat mobile seperti laptop, notebook,ponsel dan komputer tablet. Pada kegiatan pembvelajaran melalui fasilitas m-learningini proses pembelajaran bisa dimulai dengan mendistribusikan materi pembelajaran.Dilanjutkan dengan diskusi melalui fasilitas chatting/messenger dan/atau e-mail. Surjono (2006) mengilustrasikan perkembangan pembelajaran jarak jauh danpemanfaatan TIK itu seperti visualisasi berikut. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 31
  35. 35. Pembelajaran Jarak Jauh Pembelajaran Bermedia e-Pembelajaran Pembelajaran Bermedia Pembelajaran Online Lingkungan Pembelajaran CAI, CAL, CBT Berbasis Web WBI, WBT, WBL Adaptive Hypermedia AEH Other AHS Applications Sumber: Surjono (2006) Gambar 4.2. Perkembangan e-Learning b. Fungsi e-learning Menurut Siahaan (2002) e-leraning ini memiliki 3 (tiga) fungsi terhadap kegiatan pembelajaran konvensional yang berlangsung di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi). » Suplemen Materi-materi pembelajaran yang disediakan dalam fasilitas e-learning bersifat pilihan atau opsional sehingga peserta didik dapat memilih untuk memanfatkan atau tidak materi pembelajaran yang disediakan sesuai kebutuhan dan keinginannya. » Komplemen (tambahan) Manakala materi pembelajaran dalam e-learning ini sengaja dibuat untuk melengkapi pembelajaran yang diperoleh melalui pembelajaran konvensional, maka berjalanlah fungsi e-learning sebagai komplemen. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (penguat) atau remedial bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran elektronik dapat dikatakan sebagai enrichment (pengayaan), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pembelajaran (fast learner) yang disampaikan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,32 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  36. 36. melalui pembelajaran konvensional diberikan kesempatan mengakses materi pembelajaran elektronik yang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar makin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik atas materi pembelajaran yang disajikan secara konvensional di dalam kelas. Materi pembelajaran pun dapat dimanfaatkan sebagai program remedial. Peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pembelajaran (slow learner) yang disajikan secara tatap muka di kelas diberi kesempatan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang sirancang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan di kelas.» Substitusi (pengganti) Materi bahan belajar dalam e-learning dapat digunakan sebagai pengganti bahan ajar yang belum tersampaikan dalam kegiatan belajar tatap muka. Di samping itu, materi juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif model kegiatan pembelajaran bagi siswa/peserta didik. Tujuannya agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan belajarnya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain. Sumber: Dokumen Seksi Sarpras Uji Coba E-Training Pamong Belajarc. Bentuk interaksi dan komunikasi dalam e-learning TIK memang memfasilitasi terjadinya interaksi dan komunikasi antarmanusiatermasuk interaksi dan komunikasi dalam kegiatan dan proses pembelajaran. Dalamkonteks kegiatan e-learning bentuk interaksi antara manusia dan sistem dapatdikelompokan ke dalam tiga kategori, seperti berikut: Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 33
  37. 37. » Synchronous Learning » Self-directed Learning » Asynchronous (collaborative) Learning Menurut Widiartha, masing-masing kategori tersebut pada dasarnya mengacu pada bagaimana perasaan peserta didik pada saat melakukan proses belajar mengajar dengan fasilitas e-learning. Perasaan tersebut dapat berupa perasaan terisolasi atau menjadi bagian dari kelompok. • Synchronous Learning Pada pembelajaran synchronous kondisinya mirip dengan pembelajaran konvensional, hanya saja pada e-learning tidak ditandai dengan kehadiran secara fisik. Pada bentuk synchronous ini fasilitator, peserta didik dan rekan-rekannya melakukan pertemuan secara virtual (online) di internet, meski proses pembelajarannya seolah dilakukan seperti pada kelas konvensional. • Self-directed Learning Pada kategori ini peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri dengan mengakses berbagai referensi dan bahan ajar yang disediakan. Tidak ada fasilitator ataupun waktu khusus untuk berdiskusi dengan sesama peserta didik. Masing-masing peserta didik melakukan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing. • Asynchronous (collaborative) Learning Collaborative learning mengkombinasikan dua kategori di atas. Peserta didik belajar secara mandiri namun tetap berkomunikasi dengan peserta didik lainnya maupun dengan pendidik meski tidak dalam waktu khusus. Email, instan messagger, atau board pada forum digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi baik dengan pendidik atau sesama peserta didik. Ketiga kategori tersebut dengan karakteristiknya masing-masing dapat digunakan untuk situasi yang berbeda tergantung kebutuhan. Widiartha merinci detail karakteristik, kelebihan dan kelemahan masing-masing kategori di atas. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,34 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  38. 38. Tabel 4.1. Perbandingan Kategori Interaksi dan Komunikasi dalam e-Learning No Kategori Ciri Keunggulan Kelemahan 1 Synchronous • Dipandu • Mirip dengan • Memerlukan instruktur pembelajaran waktu khusus • Terjadwal konvensional • Ada biaya untuk • Kolaboratif • Adanya instruktur komunikasi antar • Memerlukan peserta didik bandwidth dan • Keberadaan kecepatan pendidik internet yang menjadikan memadai dan proses belajar setara untuk menjadi lebih semua peserta terjamin didik 2 Self-directed • Peserta didik • On demand • Tidak cocok belajar secara (proses belajar untuk peserta mandiri dapat dilakukan didik yang • Tidak terjadwal kapanpun) menyukai • Cocok untuk belajar secara peserta didik yang berkelompok memiliki rasa • Tidak adanya ingin tahun besar instruktur yang dan aktif mencari menjamin sumber belajar kualitas proses belajar 3 Asynchronous • Dipandu • Adanya instruktur • Tidak instruktur menjamin kualitas emndukung • Tidak terjadwal dari proses komunikasi sepenuhnya pembelajaran dengan cepat • Peserta karena tidak • Interaksi dan didik dapat adanya jadwal komunikasi tidak menentukan khusus. dalam waktu yang sama sendiri kebutuhan belajarnya dan referensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut • Masih memungkinkan pembelajaran secara kolaboratifSumber: Widiarta Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 35
  39. 39. Sedangkan dari sisi penyampaian pembelajaran ada dua hal yang penting diperhatikan. Pembelajaran dapat dilakukan melalui pemberian instruksi atau pengjaran. Namun juga dapat dilakukan dengan menyampaikan informasi yang akan memampukan pembelajaran untuk memahami apa yang dibelajarkan. Perbedaan di antara pengajaran dan pemberian informasi tersebut dapat dilihat pada ilustrasi berikut: Intruksi Informasi • Terfokus pada hasil belajar yang spesifik • Terfokus pada pengorganisasian konten yang spesifik • Tujuan pembelajaran dirumuskan oleh • Tujuan dirumuskan oleh pengguna perancang pembelajaran, para pengajar dan seterusnya • Didasarkan pada hasil diagnosis atas • Didasarkan pada karakteristik dari karakteristik dan kebutuhan pengguna, disiplin pengetahuan tertentu dan dan bertujuan untuk memenuhi pengguna yang menjadi sasaran kebutuhan spesifik tersebut • Dibuat menjadi beberapa bagian agar • Dibuat menjadi beberapa bagian agar bisa disimpan dalam memori secara menjadi acuan yang optimal optimal • Mengandung komponen-komponen • Terutama berpusat pada penyajian yang presentasi, praktik, umpan-balik, dan efektif penilaian Sumber: Rosenberg (2001:13) Gambar 4.5. Karakteristik Instruksi dan Informasi Dalam konteks e-Learning, penting untuk memperhatikan apa yang disarankan Rosenberg (2001 : 13) yang mengingatkan bahwa tantangan utama untuk kegiatan pembelajaran, terutama e-learning, adalah kemampuan membedakan kebutuhan atas informasi (manajemen pengetahuan) dan kebutuhan untuk pengajaran (pelatihan online). Selain itu juga perlu memahami bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan dan saling melengkapi. Oleh sebab itu, permasalahan berikutnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan e-learning adalah mana kebutuhan yang sesungguhnya yang harus dipenuhi. Apakah pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan atau pendekatan pembelajaran lain. 2. E-Training Bila pembelajaran dimaknai sebagai proses perolehan pengetahuan atau keterampilan baru untuk meningkatkan kinerja, maka pelatihan adalah salah satu pendekatan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kinerja. Melalui pelatihan dibentuk dan dipelajari keterampilan baru atau memanfaatkan pengetahuan baru dengan cara tertentu yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,36 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  40. 40. Menurut Rosenberg (2001:5) ada empat elemen pokok pelatihan, yaitu:a. Maksud penyelenggaraan pelatihan dalam meningkatkan kinerja yang biasanya dilakukan dengan terlebih dulu melakukan analisis kebutuhan dan tercermin dari rujuan pembelajaranb. Desain pelatihan yang tercermin dari strategi pembelajaranc. Sarana dan media yang menjadi wahana untuk menyampaikan pembelajarand. Assesment atau sertifikasi yang menunjukkan adanya akuntabilitas pelatihan Hal penting yang perlu diperhatikan mengenai pelatihan ini adalah terjadinyatransformasi pelatihan. Transformasi tersebut berlangsung sebagai akibatperkembangan dan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat, bisnis danteknologi yang membuat dampak pelatihan konvensional menjadi terbatas.Rosenberg (2001:7-9) menunjukkan transformasi tersebut sebagai berikut:a. Dari pelatihan menuju kinerja. Kini tidak lagi dinilai berapa banyak atau berapa lama pelatihan diikuti seseorang, karena kini yang diperhatikan adalah dampak pelatihan terhadap peningkatan kinerja.b. Dari pelatihan di dalam kelas menuju pelatihan yang berlangsung di mana dan kapan saja. Terjadi perubahan akses terhadap materi pelatihan. Tidak lagi hanya di dalam kelas melainkan pelatihan tersebut bisa berlangsung di mana pun dan kapan pun dengan memanfaatkan perkembangan TIK.c. Dari kertas menuju online. Kini kehidupan manusia makin bergantung pada apa yang tampak pada layar komputernya.d. Dari fasiulitas fisik ke fasilitas berjaringan. Sejalan dengan perkembangan era digital, maka jaringan digital menjadi berperan penting dalam penyelenggaraan pelatihan.e. Dari siklus waktu ke real time. Kini materi pelatihan bisa dimutakhirkan kapan saja sesuai dengan perkembangan, sehingga tidak ada lagi batas waktu antara perkembangan lingkungan dan penyelenggaraan pelatihan. Oleh sebab itu, maka kegiatan e-training atau e-pelatihan sekarang inimenjadi bagian penting dari kehidupan sebuah organisasi. Pengembanganfasilitas e-training akan diperlukan agar organisasi dan warga organisasitersebut dapat selalu terus meningkatkan kinerjanya. Prinsip e-training padadasarnya sama dengan prinsip e-learning, yang membedakan hanyalah tujuanpenyelenggaraannya saja. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kinerja stafmelalui pemberian pengetahuan baru yang diaplikasikan dalam kegiatan ataupelaksanaan pekerjaan selain memberikan keterampilan baru untuk meningkatkankemampuannya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Karena itu, dalam e-training berlaku juga apa yang dilakukan pada pelatihankonvensional atau pelatihan yang diselenggarakan di dalam kelas. Diawali denganmelakukan analisis kebutuhan pelatihan dilanjutkan dengan proses pelatihan dandiakhiri dengan penilaian hasil pelatihan. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 37
  41. 41. 3. Media Pembelajaran Pada dasarnya, media pembelajaran yang dipergunakan disusun dengan memperhatikan dan mempertimbangkan siapa pembelajarnya, bukan apa yang akan dibelajarkan melalui media pembelajaran tersebut. Oleh sebab itu, penggunaan media pembelajaran akan sangat dipengaruhi gaya belajar pembelajarnya. Dalam pembelajaran secara online, maka akan diperlukan informasi mengenai gaya belajar sebelum menentukan media pembelajaran yang akan dipergunakan. Di samping itu, penting juga memperhatikan karakteristik pembelajar masa kini. Menurut Oblinger (2004), pembelajar masa kini memiliki karakteristik: (a) melek teknologi digital, (b) perangkat komunikasi yang selalu on, (c) bersifat mobil, (d) eksperimental, dan (e) berorientasi pada komunitasnya. Dengan memperhatikan gaya belajar dan karakteristik pembelajarnya, maka kita bisa memperhatikan apa yang dinamaka Prinsip Multimedia. Prinsip Multimedia ini mempengaruhi desain dan pembelajaran mutimedia (Meyer, 2001:184). Prinsip Multimedia ini adalah sebagai berikut: a. Prinsip Multimedia: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik dengan adanya grafik atau gambar dibandingkan hanya dengan kata-kata. b. Prinsip hubungan spasial: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala hubungan kata-kata dan gambar disajikan berdekatan satu sama lain c. Prinsip hubungan temporal: Para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala hubungan kata-kata dan gambat disajikan secara bersamaan d. Prinsip koherensi: Para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala kata-kata, gambar dan suara yang tidak saling berkaitan dihilangkan e. Prinsip modalitas: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik dari namisasi dan narasi audio dibandingkan dengan animasi dan teks f. Prinsip redudansi: manusia memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses bahan belajar visual dan audio yang disajikan secara bersamaan, sehingga para pembelajar bisa belajar secara lebih baik dari animasi dan narasi dibandingkan dari kombinasi animasi dan teks yang tampil di layar g. Prinsip perbedaan-perbedaan individual: efek desain lebih kuat pada pembelajar berpengetahuan sedikit dibandingkan dengan pembelajar berpengetahuan banyak Sedangkan untuk penggunaan media pembelajaran, khususnya untuk pendidikan jarak jauh, penting untuk bisa mengenali taksonomi media pembelajaran. Dengan mengetahui dan memahami karakteristik masing-masing media dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat synchronous dan asynchronous, maka bisa ditetapkan mana media yang paling tepat atau paling sesuai dengan kebutuhan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Holden dan Westfall (2005:14) menunjukkan taksonomi media pembelajaran tersebut seperti pada berikut: Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,38 Pendidikan Nonformal Dan Informal
  42. 42. Sumber: http://media.web.britannica.com/eb-media/15/100415-004-88F039C2.jpg xxx Tabel 4.2. Taksonomi Media Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh Synchronous Asynchronous Visual • Korespondensi (tertulis) (termasuk grafik) • Rekaman video Audio Konferensi audio Rekaman audio Visual & Audio • Televisi pendidikan satelit • Rekaman video e-learning • Pembelajaran berbasis • Telekonferensi video komputer • Pembelajaran berbasis • Pembelajaran berbasis web yang bersifat Web yang bersifat synchronous Asynchronous • Audiografis • Televisi pendidikan Selanjutnya Holden dan Westfall (2005:30-31) pun menunjukkan strategi-strategi pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajarandalam pembelajaran jarak jauh. Tabel berikut menyajikan strategi pembelajaranyang bisa dipergunakan dalam pembelajaran jarak jauh, yang tentunya juga akanmenggunakan media pembelajaran yang diperlukan untuk penyampaian materi.Lebih dari itu, media pembelajaran pun juga menjadi tempat untuk menyemaikanpotensi yang dimiliki peserta didik menjadi kompetensi yang diperlukannya dalammenjalai kehidupan profesional dan sosialnya serta pengembangan individualnya. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 39
  43. 43. Tabel 4.3. Strategi Pembelajaran Strategi Deskripsi Pembelajaran Deskripsi/Narasi Memungkinkan terjadinya transfer pembelajaran melalui pernyataan dan pengungkapan pengetahuan. Bila terjadi interaksi, strategi ini memungkinkan terjadinya peneguhan perialku, pertanyaan spontan, dialog dan interaksi sosial dengan umpan-balik langsung. Demonstrasi Alih keterampilan melalui penggambaran tugas-tugas prosedural, peristiwa, proses dan lain-lain. Permainan Peran Melibatkan penciptaan ulang situasi yang terkait dengan permasalahan dunia nyata sehingga peserta bertindak dengan menjalankan berbagai peran. Mendorong tumbuhnya pemahaman terhadap posisi dan sikap orang lain selian memahami prosedur yang perlu digunakan untuk mendiagnosa dan memecahkan permasalahan. Para pembelajar bisa saja mengasumsikan karakter, organisasi, jabatan profesional tertentu dan seterusnya.. Diskusi Terpandu Menunjang lingkungan pembelajaran dialektis atau synchronous, melalui pertukaran informasi secara spontan dan lepas. Mendorong pembelajaran yang aktif dan partisipatif yang menunjang alih pengetahuan melalui dialog. Para pembelajar membahas materi diskusi secara lebih mendalam, bertukar wawasan dan pengalaman serta menjawab pertanyaan. Simulasi Membuat replikasi atau meniru kenyataan dan memungkinkan terjadinya pengamatan yang berkesinambungan. Simulasi melahirkan model realistis dari satu lingkungan atau situasi nyata. Ilustrasi Menggambarkan konsep abstrak dengan contoh yang nyata, gamblang dan tegas. Membayangkan Membayangkan adalah visualisasi mental atas objek, kejadian, dan apa yang dilihat. Membayangkan memungkinkan dilakukan ointernalisasi citra visual yang terkait dengan informasi yang dipelajari. Membayangkan membantu menciptakan atau menciptakan kembali pengalaman dalam benak pembelajar. Membayangkan melibatkan indra- indra penglihatan, peraba, pendengaran, dan penciuman. Pemodelan Versi yang tertata rapi dan sederhana atas ciri-ciri yang menonjol dari satu objek atau konsep. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,40 Pendidikan Nonformal Dan Informal

×