Kondisi pendidikan di Indonesia

3,200 views

Published on

kondisi pendidikan di Indonesia khususnya di daerah terpencil seperti Papua

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,200
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
92
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kondisi pendidikan di Indonesia

  1. 1. Kondisi Pendidikan di Indonesia Kelompok 2 Penyaji Danang Swandani Fakhri M. Gloria Aryani M. Haritz Rayi Pratama Salbiah
  2. 2. Pendidikan berperan penting dalam proses pembangunan suatu bangsa. Untuk membangunan suatu bangsa, peran sumber daya manusia merupakan modal utama. Dari hal tersebut, pendidikan merupakan wadah utama dalam memproduksi sumber daya manusia yang berkualitas. Keberadaan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri serta berpikir terbuka merupakan peluang besar bagi suatu bangsa dalam proses pembangunan. Dalam mencari data kondisi pendidikan di Indonesia, kami menggunakan APM sebagai acuan utama. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. APM juga merupakan indikatorAPM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan.
  3. 3. Hambatan geografis Masih terdapat banyak sarana pendidikan yang sulit untuk diakses karena kurangnya infrastruktur untuk menjangkaunya. Ketimpangan pembangunan ekonomi. Pembangunan fasilitas penunjang perekonomian antar daerah yang tidak merata berdampak pada pendapat masyarakat yang timpang. Hal ini menyebabkan tidak semua masyarakat dapat menikmati sarana pendidikan yang memadai karena sebagian masyarakat dengan pendapatan minim tidak mampu mencukupi kebutuhan. Insfrastruktur dan sarana yang rusak Keberadaan infrastruktur dan sarana di antara wilayah-wilayah Indonesia tidak semua dapat dimanfaatkan seperti yang diharapkan. Hal ini terjadi karena keberadaannya yang rusak dan menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat, mengakibatkan masih bercokolnya jumlah warga miskin dan berpendidikan rendah.
  4. 4. Sosial ekonomi yang kurang Tidak jarang orang tua merupakan hambatan bagi anak untuk memperoleh pendidikan. Rendahnya pengetahuan tentang pentingnya pendidikan ditambah minimnya pendapatan orang tua akan membatasi kesempatan belajar sehingga menimbulkan kesulitan pada anak. Banyak anak-anak dari keluarga tersebut yang lebih diminta untuk bekerja dari pada bersekolah. Mahalnya biaya pendidikan Walaupun pemerintah sudah memberlakukan wajib belajar 9 tahun dan membebaskan uang sekolah serta memberi berbagai kemudahan dan beasiswa, tapi kemiskinan membuat banyak keluarga memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya lebih lanjut. Hal ini dapat dipahami mengingat sekolah tidak hanya bayar uang sekolah tapi juga membeli seragam, biaya transpor, uang jajan dan pungutan sekolah. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik Banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi di daerah yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya. Selain itu, banyak pula sekolah yang tidak dapat menampung jumlah peserta didik karena sarana pendidikan yang rendah
  5. 5. Rendahnya Kualitas Guru Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Korupsi di lembaga pemerintahan Tidak jarang anggaran yang telah dicanangkan untuk kegiatan perbaikan kualitas pendidikan digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam lembaga pemerintahan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Hal tersebut menyebabkan tidak berkembangnya kualitas pendidikan.
  6. 6. Terhambatnya pembangunan Keberadaan manusia yang berkualitas merupakan modal utama dalam pembangunan. Kualitas yang dibutuhkan dapat diperoleh dari kualitas pendidikan yang tinggi. Meskipun terdapat jumlah penduduk yang besar, namun masih berada dibawah kualitas yang dibutuhkan, menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan tenaga ahli yang diperlukan dalam pembangunan. Hal ini menyebabkan ketergantunagan terhadap tenaga ahli dari luar daerah. Rendahnya penguasaan teknologi maju Kemajuan zaman menyebabkan segalanya harus bersifat efisien. Hal tersebut tentu saja memerlukan peran teknologi untuk memenuhinya. Dengan rendahnya kualitas pendidikan yang dimiliki, tidak jarang penguasaan teknologi masih sulit untuk dipenuhi. Hal ini menyebabkan didatangkannya para ahli di bidang teknologi yang berasal dari luar daerah.
  7. 7. Tidak teratasinya kemiskinan Kemiskinan merupakan akar dari permasalahan yang timbul di berbagai daerah. Cara yang tepat dalam mengatasi kemiskinan adalah pendidikan yang berkualitas dan relevan terhadap kebutuhan masyarakat. Pendidikan merupakan sarana mobilitas yang paling tepat dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pola pikir masyarakat yang sempit Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Masyarakat juga masih sulit menerima pentingnya peran pendidikan bagi kelangsungan hidup mereka.
  8. 8. Kesadaran pentingnya pendidikan Masyarakat telah menyadari bagaimana pendidikan berperan penting dalam kehidupan mereka. Dengan pendidikan, masyarakat dapat memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik. Maka para generasi tu tetap mempertahankan peran pendidikan terhadap generasi selanjutnya karena percaya dapat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama Keluarga dan pemerintah daerah beserta lembaganya memiliki rasa tanggung jawab bersama atas berjalannya sistem pendidikan di daerah tersebut. Kesadaran ini telah tertanam karena penanaman nilai dan moral yang didapat dalam proses pendidikan. Pola pikir masyarakat yang terbuka Keterbukaan masyarakat dalam menerima hal baru menyebabkan kesadaran akan pendidikan berkembang.
  9. 9. Fenomena tidak meratanya pendidikan di Indonesia dapat dikaitkan dengan Teori Modernisasi. Hal ini disebabkan karena faktor kendala dari mutu pendidikan sebagian besar merupakan faktor internal. Implikasi teori modernisasi dalam bidang pendidikan ini membuktikan perlunya bantuan dari pihak luar untuk membantu dalam memperbaki kondisi yang ada. Untuk provinsi NAD, modernisasi sudah terjadi pada masyarakat. Masyarakat sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya pendidikan serta kebutuhan berprestasi individu untuk pembangunan daerah. Kemudahan masyarakat dalam berinteraksi dengan daerah lain mendorong percepatan modernisasi dalam setiap individu. Selain itu, mobilitas masyarakat pun tergolong tinggi. Mereka tidak enggan untuk menetap di daerah lain untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik yang kemudian kembali ke daerahnya untuk di terapkan. Sedangkan pada provinsi Papua, modernisasi belum menyentuh masyarakat secara merata. Hal ini menyebabkan masih rendahnya masyarakat dalam mengartikan peran pendidikan. Selain itu, letak geografis Papua yang menghambat masyrakatnya untuk melakukan hubungan dengan daerah lain memperlambat mobilitas pada masyarakat. Masih sangat minimnya infrasturuktur yang memadai membuat masyarakat tidak dapat memperoleh pendidikan secara layak.
  10. 10. Faktor yang sangat memperanguhi rendahnya pendidikan di propinsi Papua adalah pemikiran masyarakat yang masih sangat tertutup dalam menerima pengalaman baru. Mereka cenderung memepertahankan apa yang sudah ada dalam masyarakat. Banyak dari mereka yang masih sulit menerima ilmu pengetahuan sehingga tidak dapat mengolah sumber daya alam. Dalam hal ini, Papua sangat membutuhkan bantuan dari luar untuk memperbaiki kondisi pendidikan yang ada. Seperti contoh, mendatangkan guru yang berkualitas dan kompeten dalam bidang pendidikan. Serta partisipasi pemerintah pusat dalam pengawasan kebijaka- kebijakan ndi bidabg pendidikan agar kelak masyarakat dapat memiliki kesdaran akan pentingnya pendidikan bagi pembangunan daerah dan nasional. Dikarnakan ketidak merataan dalam membagikan kue pembangunan bagi sekolah-sekolah yang ada di daerah terbelakang, ini mungkin yang menimbulkan kecemburuan sosial kepada masyarakat desa terhadap masyarakat kota, yang seharusnya pembagian kue ini merata sampai kepelosok negri, dalam hal ini, pemerintahan pusat sudah memberikan dana untuk pembangunan sarana-sarana pendidikan yang ada di daerah terbelakang, akan tetapi dana-dana yang dikucurkan oleh pemerintah pusat tidak sepenuhnya diterima oleh pemda-pemda setempat, karena ada oknum-oknum yang secara sembunyi-sembunyi ingin memperkaya dirinya sendiri tanpa melihat akibat yang dilakukanya. Pengawasan juga harus ditegaskan untuk tidak terjadi kesenjangan antara masyarakat desa dan masyarakat kota dalam menikmati kue pembangunan.
  11. 11. TERIMA KASIH

×