LOGOSosiologi Pembangunan
BAB VI
Hasil Kajian Teori Dependensi
Klasik
Penyaji Kelompok 5
ᴥ Abdurahman Mujahid
ᴥ Djanatul Y...
ISI MATERI
Kolonialisme di India
Tumbuhnya Imperialisme di Asia Timur
Ketergantungan dan Keterbelakangan di Indonesia
Tena...
Baran meneliti kolonialisme yang terjadi di India yang
dilakukan oleh Inggris Raya. Pada abad ke-18 adalah masa
masa kejay...
Kebijaksanaan ini dilaksanakan dengan berbagai cara:
 Diperintahkan agar pengrajin India bekerja di pabrik-pabrik yang
di...
“Pemerintahan kolonial tidak dan tidak akan pernah
dibentuk dengan tujuan untuk membangun ekonomi
negara pinggiran”
Baran ...
Beberapa dampak dan tujuan negatif dari
kolonialisme di India tersebut adalah:
Mengeksploitasi hasil kekayaan alam India
M...
Landsberg: Tumbuhnya
Imperialisme di Asia Timur
Dalam mengamati pelaksanaan dan hasil
kebijaksanaan indusrialisasi dengan orientasi ekspor
(IOE) di Korea, Taiwan, Singapu...
Pertama, karena lemahnya dasar-dasar pengembangan industri, negara Dunia Ketiga
menggunakan devisa besar untuk mengimpor b...
Karena faktor diatas, strategi industrialisasi substitusi impor
(ISI) dirumuskan dengan harapan dapat membantu negara
Duni...
Ketiga, walaupun mengurangi atau bahkan
menghilangkan ketergantungan impor barang konsumsi
tetapi strategi ISI mempercepat...
Karakteristik IEO: Siapa mengekspor kepada siapa
Landsberg menjawab pertanyaan diatas dengan
menyebutkan, hanya sedikit ne...
Lahirnya IOE
Landsberg menyebutkan berbagai alasan mengapa kebijaksanaan
subkontrak internasional tumbuh.
Pertama, adanya ...
Secara ringkas, Landsberg menyimpulkan bahwa
sekalipun IOE “membantu tumbuhnya industri dan
tersedianya lapangan kerja di ...
Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan
dan Keterbelakangan di Indonesia
Karya Sritua Arief dan Adi Sasono dapat dikatakan sebagai karya
generasi awal, kalau bukan pertama, di Indonesia yang seca...
Lebih dari itu, Arief dan Sasono secara tegas menunjuk
betapa besarnya peranan pemerintah lokal dalam
membantu “keberhasil...
Mereka melihat bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai Indonesia telah
dibarengi dengan semakin lebarnya jurang pemis...
Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan
dan Keterbelakangan di Indonesia
#2: Penyerapan
Tenaga Kerja
Indonesia memilik...
Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan
dan Keterbelakangan di Indonesia
#4: Pembiayaan
Pembangunan
Karena sifat pertu...
Secara ringkas, setelah memperhatikan kelima tolak
ukur yang digunakan (dengan perkecualian tolak ukur kelima),
Arief dan ...
Tenaga Teori Dependensi Klasik &
Kritik terhadap Teori Dependensi
Klasik
Dalam kajian yang membahas tentang kekuatan teori dependensi
dalam mengarahkan pola pikir peneliti, para perencana
kebijak...
Ketergantungan Ekonomi
Dimensi ekonomi kolonialisme seperti program deindustrialisasi,
ekspor produk pertanian, pemindahan...
Sejak tahun 1970-an, teori dependensi klasik telah demikian
banyak menerima kritik. Pada dasarnya kritik yang mereka ajuka...
Kategori Teoritis
Teori dependensi menyatakan, bahwa situasi ketergantungan yang
terjadi di Dunia Ketiga lahir sebagai aki...
TERIMA KASIH

Dependensi Klasik
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Dependensi Klasik

905 views

Published on

Published in: News & Politics
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
905
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Dependensi Klasik

  1. 1. LOGOSosiologi Pembangunan BAB VI Hasil Kajian Teori Dependensi Klasik Penyaji Kelompok 5 ᴥ Abdurahman Mujahid ᴥ Djanatul Yoga ᴥ Gloria Aryani ᴥ Yohana Feberia
  2. 2. ISI MATERI Kolonialisme di India Tumbuhnya Imperialisme di Asia Timur Ketergantungan dan Keterbelakangan di Indonesia Tenaga Teori Dependensi Klasik Kritik terhadap Teori Dependensi Klasik
  3. 3. Baran meneliti kolonialisme yang terjadi di India yang dilakukan oleh Inggris Raya. Pada abad ke-18 adalah masa masa kejayaan negara India karena produksi perdagangan dan industri pakainnya. Melihat hal ini Inggris merasa tersaingi karena pada saat itu Inggris juga mulai mengembangkan industri pedesaannya. Kebijakan deindustrialisasi dirasa sangat tepat dan sesuai dengan rencana Inggris. Inggris menekankan pelaksanaan kebijaksanaan untuk menjadikan industri India sepenuhnya mengabdi untuk kepentingan Inggris Raya, dan mendesak India menanam dan menyediakan bahan mentah yang diperlukan oleh Inggris.
  4. 4. Kebijaksanaan ini dilaksanakan dengan berbagai cara:  Diperintahkan agar pengrajin India bekerja di pabrik-pabrik yang dimiliki oleh Inggris  Perdagangan lokal diatur dengan ketat, dan di saat yang sama diberlakukan aturan tarif impor ekspor barang, kecuali untuk sutera India dan barang katun dari Inggris. Seletelah Inggris berhasil menguasai India, pemerintah lokal mulai melakukan rekayasa sosial untuk membuat masyarakat di negara jajahan tersebut seperti secara sukarela membantu usaha pencapaian kepentingannya. Lebih daripada itu Inggris juga berencana untuk membuat pendidikan India berada dalam kebiadaban dan kegelapan. Menurut Baran hal ini dilakukan agar pemerintah kolonial Inggris mengorganisir dan mengendalikan sistem pendidikan India, dengan tujuan untuk tidak berkembangnya budaya ilmiah dan sikap industrialis di kalangan mereka.
  5. 5. “Pemerintahan kolonial tidak dan tidak akan pernah dibentuk dengan tujuan untuk membangun ekonomi negara pinggiran” Baran berpendapat bahwa hampir semua masalah pokok yang timbul sekarang ini muncul dan tumbuh pada masa pemerintahan kolonial Inggris dan sebagai akibat langsung dari kebijaksanaan yang diterapkannya. Kolonialisme dikatakan sebagai faktor penjelas utama dari lahirnya kelatarbelakangan India, maka munculnya imperialisme baru disebut juga sebagai keadaan yang sedang berlangsung di wilayah Asia Timur.
  6. 6. Beberapa dampak dan tujuan negatif dari kolonialisme di India tersebut adalah: Mengeksploitasi hasil kekayaan alam India Menghilangkan India sebagai saingan kokohnya di bidang tekstil Menjadikan industri India sepenuhnya mengabdi utntuk kepentingan Inggris Raya Menghancurkan sektor agraria Mengikat petani untuk tetap miskin dan terikat utang Membuat India tetap mengabdi kepada kepentingan kolonial
  7. 7. Landsberg: Tumbuhnya Imperialisme di Asia Timur
  8. 8. Dalam mengamati pelaksanaan dan hasil kebijaksanaan indusrialisasi dengan orientasi ekspor (IOE) di Korea, Taiwan, Singapura, dan Hongkong, Landsberg mengajukan pertanyaan tunggal yakni apakah negara-negara ini akan atau harus dijadikan model pembangunan negara Dunia Ketiga. Namun, setelah menguji konteks sejarah, karakteristik, munculnya, dan akibat dari gelombang industrialisasi di Asia Timur ini, Landsberg menyimpulkan, IOE merupakan salah satu bentuk baru imperialiasi, yang nantinya negara Dunia Ketiga hanya akan menjadi Negara industri yang tergantung bukan Negara industri yang mandiri.
  9. 9. Pertama, karena lemahnya dasar-dasar pengembangan industri, negara Dunia Ketiga menggunakan devisa besar untuk mengimpor barang konsumsi. Kedua, karena membutuhkan devisa, Dunia Ketiga terpaksa mengandalkan pengumpulan dana melalui ekspor produk primer (gula,the,kopi,dll) yang mudah terpengaruh terhadap fluktuasi pasar internasional Ketiga, kurangnya kemampuan negara-negara Dunia Ketiga untuk mengumpulkan devisa sehingga akan terjebak dalam lilitan utang luar negeri dan mempermudah terjadi dominasi asing. Konteks Sejarah Bagi Landsberg, dominasi asing di negara-negara Dunia Ketiga tidak begitu saja berakhir setelah Perang Dunia II. Masih banyak faktor yang berkaitan dan berantai yang menyebabkan pembangunan negara Dunia Ketiga tetap memperihatinkan.
  10. 10. Karena faktor diatas, strategi industrialisasi substitusi impor (ISI) dirumuskan dengan harapan dapat membantu negara Dunia Ketiga lepas dari ketergantungan pada ekspor produk primer. Namun demikian, logika imperialisme tetap menghalangi keberhasilan pelaksanaan strategi ISI. Pertama, negara Dunia Ketiga masih dalam keadaan miskin, pasar domestik tidak tersedia dan lambat berkembang. Karenanya produk hasil industri hanya disebarkan di pasar pasar perkotaan saja. Kedua, borjuis domestik tidak mempunyai cukup modal dan tekhnologi untuk memulai industri yang sudah dicanangkan. Akibatnya negara tergantung akan modal asing dan lahir industri yang bergantung pada dominasi asing, dan derasnya arus modal asing yang masuk ke negara Dunia Ketiga.
  11. 11. Ketiga, walaupun mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan impor barang konsumsi tetapi strategi ISI mempercepat laju impor modal asing dan tekhnologi. Arus yang masuk ke dalam negeri ini diikuti arus keluar berupa laba yang dikeruk oleh perusahaan transnasional dari negara modal asing dan tekhnologi maju tersebut berasal. Akibatnya terjadi ketimpangan neraca perdagangan dan berlanjut dengan beban deficit yang selalu bertambah besar.
  12. 12. Karakteristik IEO: Siapa mengekspor kepada siapa Landsberg menjawab pertanyaan diatas dengan menyebutkan, hanya sedikit negara Dunia Ketiga yang mampu menghasilkan sebagian besar barang-barang hasil industri yang diekspor ke negara maju. Dari negar pengekspor ini landsberg membagi dalam dua kategori yaitu negara A dan kategori negara B. Negara A adalah yang mempunyai sumber daya alam yang sangat besar, dan sebelumnya telah mempunyai dasar-dasar, sekaligus memeiliki pasar potensial dalam negeri yang besar dan memiliki prasarana yang relative cukup kuat untuk mengembangkan industri. Negara B adalah mempunyai spesialisasi yang terbalik dari negara kategoi A, mereka hanya memiliki pasar potensial yang kecil bahkan bisa dibilang hampir tidak ada sumber daya alam, dan tahun 1960-an secara relatif mereka tidak memiliki prasarana dasar yang cukup.
  13. 13. Lahirnya IOE Landsberg menyebutkan berbagai alasan mengapa kebijaksanaan subkontrak internasional tumbuh. Pertama, adanya perluasan pasar, dalam pengertian wilayah daya beli ,barang barang konsumsi di Negara maju. Sehingga perusahaan transnasional bersaing untuk merebut pangsa pasar baru ini. Kedua, adanya peningkatan biaya produksi di Negara maju. Ketiga, penemuan penemuan yang mengagumkan dalam bidang teknologi komunikasi dan transportasi memfasilitasi pertumbuhan usaha subkontrak internasional. Landsberg menunjukkan bahwa “dengan peningkatan pelayanan pengiriman udara, pengiriman peti kemas, dan telekomunikasi, perusahaan transnasional dapat memindahkan keseluruhan atau sebagian komponen barang yang dihasilkannya dengan lebih cepat, murah, dan aman.” Keempat, usaha subkonrtak internasional ternyata mampu menghasilkan laba yang sangat tinggi.
  14. 14. Secara ringkas, Landsberg menyimpulkan bahwa sekalipun IOE “membantu tumbuhnya industri dan tersedianya lapangan kerja di Dunia Ketiga, strategi IOE tidak akan mampu menumbuhkan tejadinya akumulasi modal dan pembangunan ekonomi yang mandiri dan tangguh. semakin parahnya persoalan stagnasi yang sedang melanda Negara sentral dari tatanan ekonomi kapitalis ini, akan menghambat keberhasilan strategi pembangunan yang berorientasi pada pasar ekstern, dan pada gilirannya nanti akan meyebabkan kemiskinan dan penderitaan yang lebih pada para pekerja dan petani di Negara dunia ketiga.”
  15. 15. Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan dan Keterbelakangan di Indonesia
  16. 16. Karya Sritua Arief dan Adi Sasono dapat dikatakan sebagai karya generasi awal, kalau bukan pertama, di Indonesia yang secara jelas menggunakan teori dependensi untuk menjelaskan persoalan pembangunan politik-ekonomi Indonesia. Hampir seluruh proses kajian ini, sejak dari pertanyaan penelitian yang dirumuskan, hipotesis yang diajukan, sampai pada kesimpulan yang disodorkan, tidak jauh berbeda dengan penelitian yang biasanya ditawarkan oleh teori dependensi klasik. Kajian ini dimulai dengan menguji kembali warisan kolonial Belanda yang ditinggalkan. Setelah mengutip hasil penelitian yang menyebutkan tentang pendapatan ekspor pemerintah kolonial Belanda yang diperoleh dari operasi tanam paksa, lebih lanjut mereka menyimpulkan, bahwa selama masa tersebut telah terjadi pengalihan surplus ekonomi dari Indonesia ke Belanda dalah jumlah yang amat besar.
  17. 17. Lebih dari itu, Arief dan Sasono secara tegas menunjuk betapa besarnya peranan pemerintah lokal dalam membantu “keberhasilan” sistem tanam paksa.”Dalam proses eksploitasi ini telah terjalin aliansi antara pemerintah kolonial Belanda di Indonesia ... dan pihak- pihak penguasa feodal di Indonesia...” Untuk mengamati pembangunan ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru, Arief dan Sasono menggunakan lima tolak ukur, yakni sifat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, proses industrialisasi, pembiayaan pembangunan, dan persediaan bahan makanan.
  18. 18. Mereka melihat bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai Indonesia telah dibarengi dengan semakin lebarnya jurang pemisa antara si kaya dan si miskin. Pada periode tahun 1970-76, Arief dan Sasono berpendapat bahwa “golongan miskin ternyata bertambah miskin,” dan oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan misalnya, bahwa mereka “tidak menikmati pertumbuhan ekonomi” yang selama ini telah dinyatakan cukup memadai. #1: Pertumbuhan Ekonomi
  19. 19. Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan dan Keterbelakangan di Indonesia #2: Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia memiliki tingkat pengangguran yang tinggi dan dengan percepatan yang tinggi pula. Ini terjadi karena industri yang dikembangkan dengan semangat teknologi padat modal ternyata “tidak banyak menyerap tenaga.” #3: Proses Industrialisasi Arief dan Sasono melihat bahwa proses industrialisasi yang terjadi di Indonesia adalah proses industrialisasi yang oleh Amin disebut sebagai industri ekstraversi. Industri substitusi imporyag dikembangkan memiliki sifat ketergantungan modal dan teknologi asing yang tinggi.
  20. 20. Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan dan Keterbelakangan di Indonesia #4: Pembiayaan Pembangunan Karena sifat pertumbuhan ekonomi yang dimiliki dan karena model industrialisasi yang dipilih, Indonesia, mau tidak mau, hanya memiliki satu pilihan, yakni kebutuhan untuk selalu memperoleh modal asing. Jika situasi ini berlanjut, maka tidak berlebihan, jika kemudian Indonesia, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, akan mengalami apa yang disebut dengan ketergantungan keuangan. #5: Ketersediaan Bahan Makanan Sekalipun telah sejak lama disadari betapa pentingnya, secara ekonomis maupun politis, memiliki kemampuan swasembada pangan, khususnya beras, sampai dengan akhir tahun 1970-an Indonesia belum mampu mencapainya (dan kemudian baru pada pertengahan kedua tahun 1980-an, atau tepatnya pada tahun 1985, untuk pertama kali sejak kemerdekaannya, Indonesia mencapai swasembada beras).
  21. 21. Secara ringkas, setelah memperhatikan kelima tolak ukur yang digunakan (dengan perkecualian tolak ukur kelima), Arief dan Sasono menyimpulkan bahwa situasi ketergantungan dan keterbelakangan sebagian besar telah atau sedang meewujud di Indonesia. Tesis teori depedensi, “sebagian besar telah terbukti dapat menerangkan dan menganalisis proses ekonomi Indonesia, sebagai negara bekas jajahan, dan sebagai suatu negara yang mengandung banyak unsur yang tidak egalitarian...”
  22. 22. Tenaga Teori Dependensi Klasik & Kritik terhadap Teori Dependensi Klasik
  23. 23. Dalam kajian yang membahas tentang kekuatan teori dependensi dalam mengarahkan pola pikir peneliti, para perencana kebijaksanaan, dan pengambil keputusan untuk mengikuti tesis- tesis yang diajukan yang telah dibahas dalam ketiga hasil kajian yakni tentang kolonialisme di India, imperialisme baru di Asia Timur, dan ketergantungan dan keterbelakangan di Indonesia dalam persoalan pembangunan Dunia Ketiga. Ketergantungan dan Faktor Luar Dilihat dari hasil kajian tentang kolonialisme di India, Baran menjelaskan Inggris yang menjadikan India menjadi Negara terbelakang dengan merampok kekayaan, deindustrialisasi, dan penghapusan budaya lokal. Kesimpulan hasil dari Landsberg menegaskan bahwa perusahaan transnasional mampu menguasai dan mengendalikan perencanaan produk sampai pemasarannya.
  24. 24. Ketergantungan Ekonomi Dimensi ekonomi kolonialisme seperti program deindustrialisasi, ekspor produk pertanian, pemindahan surplus ekonomi lebih dilihat sebagai faktor munculnya pelapisan sosial di India. Di Asia Timur, Landsberg penyebab munculnya industrialisasi yakni tingginya upah buruh di Negara maju disbanding di Negara sendiri, inovasi teknologi transportasi dan komunikasi. Ketergantungan dan Pembangunan Hasil kajian ini, Baran menyimpulkan tentang ketergantungan yang terjadi di India mengganggu pembangunan setelah memperoleh kemerdekaan. Landsberg menyebutkan, IOE tidak akan mampu menumbuhkan pembangunan yang berkelanjutan dan mandiri.
  25. 25. Sejak tahun 1970-an, teori dependensi klasik telah demikian banyak menerima kritik. Pada dasarnya kritik yang mereka ajukan mendasarkan diri pada ketidakpuasan mereka terhadap metode kajian, konsep, dan sekaligus implikasi kebijaksanaan yang selama ini dimiliki oleh teori dependensi klasik. Metode Pengkajian Teori dependensi banyak menuai kritikan terutama dari teori modernisasi. Dalam kritikannya teori dependensi dianggap hanya merupakan alat propaganda politik dari ideologi revolusioner Marxisme, sehingga dianggap bukan sebagai karya ilmiah namun pamphlet politik. Teori modernisasi mengatakan, bahwa teori dependensi mengesampingkan kajian ilmiah dan beralih ke persoalan-persoalan yang bersifat retorika.
  26. 26. Kategori Teoritis Teori dependensi menyatakan, bahwa situasi ketergantungan yang terjadi di Dunia Ketiga lahir sebagai akibat desakan faktor eksternal. Para penganut neo-Marxisme banyak melakukan kritik terhadap teori dependensi karena sangat berlebihan menekankan pentingnya pengaruh faktor eksternal dan melupakan dinamika sosial. Implikasi Kebijaksanaan Dalam hal ini, pemberi kritik berdiri pada posisi sebaliknya. Mereka mengatakan, bahwa ketergantungan tidak selalu mengalami keterbelakangan. Disamping itu, pemberi kritik mengajukan rumusan kebijaksanaan yang diajukan teori dependensi klasik tidak jelas karena menghilangkan imperialism bisa saja mendatangkan kesejahteraan nasional, demikian pula revolusi sosialis belum tentu memenuhi janji.
  27. 27. TERIMA KASIH 

×