Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tuberkulosis ppt

37,046 views

Published on

Created by the students of class 2A-Stikes PPNI Mojokerto.... hope u'll get some knowledge about tubercoli... have a nice rading

Published in: Health & Medicine
  • Follow the link, new dating source: ❤❤❤ http://bit.ly/2Q98JRS ❤❤❤
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Dating for everyone is here: ❶❶❶ http://bit.ly/2Q98JRS ❶❶❶
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Hi! Get Your Professional Job-Winning Resume Here! 👉 http://bit.ly/rexumtop
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • bahan bagus utk penyuluhan. Selamat.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Tuberkulosis ppt

  1. 1. OLEH : 2A / S1 KEPERAWATAN
  2. 2. DEFINISI  Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe (Somantri, 2009). Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi.
  3. 3.
  4. 4. ETIOLOGI  Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
  5. 5. Etiologi  Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut.
  6. 6.
  7. 7. PATOFISIOLOGI 
  8. 8.
  9. 9. Tanda & Gejala Klinis Gejala pada tuberkulosis terbagi menjadi dua, yaitu :1. Gejala Respiratorik Batuk-batuk lama lebih dari 3 minggu Dahak yang mukoid sampai mukopurulan Nyeri dada, sampai batuk darah Sesak napas (bila ada tanda-tanda penyebaran ke rongga lain)2. Gejala Sistemik Malaise, anoreksia, BB menurun, keringat malam Akut: demam tinggi, menggigil Millier: demam akut, sesak napas, sianosis
  10. 10.
  11. 11. Penatalaksanaan  Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari. Pencegahan (profilaksis) primer Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+). INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-). Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
  12. 12. Penatalaksanaan  Pencegahan (profilaksis) sekunder Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC. Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazina mid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kap reomisin dan Kanamisin.
  13. 13. Penatalaksanaan  Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat Dosis harian Dosis 2x/minggu Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari) INH 5-15 (maks 300 mg) 15-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. 900 mg)Rifampisin 10-20 (maks. 600 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-20 (maks. 600 mg)Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 15-30 (maks. 3 g) Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)Streptomisin 15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)
  14. 14. Penatalaksanaan  Pengobatan TBC pada orang dewasa Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). Diberikan kepada:  Penderita baru TBC paru BTA positif.  Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3 Diberikan kepada:  Penderita kambuh.  Penderita gagal terapi.  Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Diberikan kepada:  Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.
  15. 15. Penatalaksanaan  Pengobatan TBC pada anak Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu: 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:
  16. 16. Penatalaksanaan TB tidak beratINH : 5 mg/kgbb/hariRifampisin : 10 mg/kgbb/hariTB berat (milier dan meningitis TBC)INH : 10 mg/kgbb/hariRifampisin : 15 mg/kgbb/hariDosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)
  17. 17.
  18. 18. Asuhan KeperawatanPengkajian Riwayat Perjalanan Penyakit Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari. Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan. Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
  19. 19.  Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. Objektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan takberdaya/tak ada harapan. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung. Riwayat Penyakit Sebelumnya:• Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.• Pernah berobat tetapi tidak sembuh.• Pernah berobat tetapi tidak teratur.• Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru.• Daya tahan tubuh yang menurun.• Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.
  20. 20.  Riwayat Pengobatan Sebelumnya: • Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. • Jenis, warna, dosis obat yang diminum. • Berapa lama. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. • Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. Riwayat Sosial Ekonomi: • Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja, jumlah penghasilan. • Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikisi dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang marnpu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus harapan. Faktor Pendukung: • Riwayat lingkungan. • Pola hidup. • Nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur, kebersihan diri. • Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya.
  21. 21.  Pemeriksaan Diagnostik: • Kultur sputum • Tes Tuberkulin • Photo torak • Bronchografi • Darah • Spirometri
  22. 22. Diagnosa Kep. Tanggal Tanggal No. Dx Keperawatan muncul Teratasi Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret 1  darah, Kelemahan, upaya batuk buruk. Edema trakeal/faringeal.s Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, Kerusakan membran alveolar kapiler, Sekret yang 2 kental, Edema bronchial. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang inmenetap, Kerusakan jaringan 3 akibat infeksi yang menyebar, Malnutrisi, Terkontaminasi oleh lingkungan, Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: 4 Kelelahan, Batuk yang sering, adanya produksi sputum, Dispnea, Anoreksia, Penurunan kemampuan finansial. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan 5 dengan: Tidak ada yang menerangkan, Interpretasi yang salah, Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, Terbatasnya pengetahuan/kognitif .
  23. 23. Intervensi
  24. 24. No No. Dx Tujuan Kriteria Hasil Tindakan Rasional1. Pasien a. Mempertahank Mandiri Mandiri memperlihat an jalan napas 1. Kaji fungsi pernapasan : Bunyi napas, 1. Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, kan px. kecepatan, irama dan kedalaman, dan ronki indikasi akumulasi frekuensi b.Mengeluarkan penggunaan otot aksesori. secret/ketidakmampuan membersihkan jalan pernapasan sekret tanpa 2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret napas sehingga otot aksesori digunakan dan yang efektif. bantuan. c. Menunjukkan perilaku untuk 3.  atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, kerja pernapasan meningkat. 2. Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka memperbaiki/ Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi mempertahank dalam. lanjut. an napas. 4. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction 3. Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi d.Berpartisipasi bila perlu. maksimal membuka area atelektasis dan dalam program 5. Pertahankan intake cairan minimal 2500 peningkatan gerakan sekret agar mudah 1 pengobatan, ml/hari kecuali kontraindikasi. dikeluarkan. dalam tingkat Kolaborasi 4. Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan kemampuan/ 1. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. situasi. 2. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, 5. Membantu mengencerkan secret sehingga e. Mengidentifika kortikosteroid sesuai indikasi. mudah dikeluarkan. si potensial 3. Bantu inkubasi darurat bila perlu. Kolaborasi komplikasi & 1. Mencegah pengeringan membran mukosa, melakukan membantu pengenceran sekret. tindakan tepat. 2. Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas 3. Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. dengan edema laring atau perdarahan paru akut.
  25. 25. Implementasi
  26. 26. No. TTD+NamaNo. Tindakan Respon Px Dx Prwt.1. Mandiri a. Bunyi napas px menurun, mengi menurun, a. Mengobservasi fungsi pernapasan : Bunyi jalan napas berangsur bersih, kerja otot  napas, kecepatan, irama dan kedalaman, dan aksesori pernapasan menurun. penggunaan otot aksesori. b. Mencatat kemampuan untuk mengeluarkan b. Px mengeluarkan sekret atau batuk sekret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis. c. Memberikan pasien posisi semi atau Fowler, c. Px dalam posisi semi fowler, berlatih napas Membantu/ mengajarkan batuk efektif dan dalam danbatuk efektif. latihan napas dalam. 1 d. Membersihkan sekret dari mulut dan trakea, d. Px bersedia dilakukan suction karena tidak bisa mengeluarkan sekret. suction bila perlu. e. Px bersedia menerima intake cairan. e. Mempertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Kolaborasi Kolaborasi a. Membran mukosa px tetap terjaga a. Melembabkan udara/oksigen inspirasi kelembabannya. Sekret sedikit demi sedikit mengencer. b. Memberikan obat: agen mukolitik, b. Px minum obat teratur dan sesuai dosis bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi. sehingga memudahkan pembersihan jalan napas, ukuran lumen meningkat, tahanan aliran udara turun.
  27. 27. EvaluasiNo. No. Dx  SOAP1. S : Px mengeluh sesak napas, kesulitan tidur pada malam hari, kelemahan tubuh, batuk. O : Adanya ronki, dispnea, frekuensi pernapasan, 1 irama, kedalaman tak normal, batuk tidak efektif, tidak mampu mengeluarkan sekret. A : Bersihan jalan napas efektif kembali P : Lakukan intervensi nomor a,
  28. 28. Thank you 4 attention ^^

×