Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kasih berarti mempercayai seseorang

57 views

Published on

Gratis cerita, buku, presentasi, video, dan halaman mewarnai untuk anak-anak dari segala usia - www.freekidstories.org

Published in: Self Improvement
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Kasih berarti mempercayai seseorang

  1. 1. Kasih berarti mempercayai seseorang
  2. 2. Anak Lelaki Yang Duduk di Sebelah Saya Edmond Sichrovsky Harusnya ini mudah, pikir saya sambil bersiap-siap untuk memasuki SMU. Saya merasa tidak akan ada masalah berteman atau berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Sayangnya, kepercayaan diri itu hancur berantakan pada hari pertama mulai sekolah, ketika saya bertemu dengan anak lelaki yang duduk di sebelah saya di kelas. Sean tingginya seperti saya tetapi dua kali lebih berat. Dia sangat sembrono dalam pelajaran, tidak pernah belajar menjelang ujian, dan berteriak dan mengutuk guru dan murid-murid lainnya. Tidak henti-hentinya menyombong tentang permainan komputer yang penuh dengan kekerasan yang dimainkannya, dan pengaruh dari permainan komputer itu jelas terlihat pada sikap Sean yang lekas marah dan merusak. Dengan segera saya berandai-andai saya tidak harus duduk di sebelahnya. Minggu-minggu berlalu, dan Sean nampaknya semakin parah. Dia gagal hampir pada setiap ujian, berkelahi setiap hari dengan teman sekelas lainnya, dan tidak berteman. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap sopan tetapi menjaga jarak. Pada suatu hari ketika jam makan siang, satu-satunya tempat duduk yang kosong di kantin adalah di sebelah Sean. Dengan segan saya duduk, dan kami mengobrol. Selama percakapan singkat itu, saya mendapati bahwa ayah Sean meninggal ketika dia masih kecil, dan ibunya bekerja hingga larut malam. Akibatnya, setiap malam dia sendirian dan hanya menghabiskan waktu dengan ibunya di akhir pekan.
  3. 3. Saya merasa malu karena menilai Sean dengan kejam dan bertekad untuk berteman dengannya, meskipun itu bertentangan dengan keinginan wajar saya. Mula-mula, usaha saya ditanggapi dengan ejekan penolakan dan caci maki. Saya baru tahu bahwa dulu Sean menjadi sasaran gertakan, jadi nampaknya dalam upaya melindungi dirinya, dia mengembangkan sisi luar yang keras dan tak berperasaan. Tidak mudah mengikut-sertakan Sean apabila kami membuat tim, dan sukar berteman dengannya ketika usaha saya ditanggapi dengan komentar sinis. Seringkali saya tergoda untuk menjadi marah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sepadan dengan kesulitan yang saya alami. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, secara perlahan-lahan Sean bertumbuh menjadi lebih ramah. Kemudian, sekitar empat bulan setelah percakapan yang pertema itu, Sean bersikeras untuk menjadi pasangan saya dalam aktivitas kelas. Saya terkejut. “Kamu selalu bilang tidak mau melihat saya lagi,” kata saya kepadanya. “Tidak benar!” jawabnya, sambil tersenyum lebar. “Kamu adalah satu- satunya teman saya—orang yang peduli dengan saya. Saya ingin agar kita selalu berteman.” Hari itu, saya bukan saja memperoleh pertemanan yang berkelanjutan, tetapi saya juga mendapati kebenaran yang luar biasa: Tanpa mempedulikan bagaimana tindakan seseorang, penampilannya, atau perilakunya, setiap orang menginginkan dan membutuhkan kasih dan penerimaan. Di balik penampilan luar seseorang yang keras bagaikan batu seringkali terdapat kuncup yang sedang menanti untuk berkembang. Kata-kata ramah dan perbuatan kasih bagi manusia bagaikan sinar matahari bagi bunga.
  4. 4. Diperlukan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan terkadang berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk melihat hasil dari usaha kita mendapat imbalan, tetapi pada suatu hari nanti orang itu akan mekar. Ketika Yesus mengatakan “kasihilah sesamamu manusia,” Dia bukan hanya berbicara tentang orang yang tinggal di sebelah rumah Anda. Dia ingin agar kita berbagi kasih-Nya dengan siapa saja yang membutuhkan perhatian dan kepedulian kita, entah itu tukang pos, pegawai administrasi, atau penggertak di sekolah yang duduk di sebelah kita.
  5. 5. Kekuatan Buah Persik ​Selama Perang Dunia 2, Tomas ditangkap oleh balatentara Itali, dan beserta rekan-rekan sesama serdadu dia dibawa ke Italia. Para serdadu yang menawan mereka memamerkan tawanan di jalan-jalan dan berbuat sebisa mungkin untuk menghina para tawanan. Orang-orang yang berlalu lalang turut bergabung, mengejek para tawanan, meludahi, dan melepaskan amarah serta kebencian. Tiba-tiba, dari kerumunan orang yang mencemooh itu, “seorang gadis kecil maju ke muka, menempatkan buah persik ke dalam tangan saya, kemudian pergi berlari sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih,” Tomas itu melanjutkan. “Itu adalah buah persik yang paling enak yang pernah saya makan.” ​Veteran itu sudah berusia tujuhpuluhan, tetapi matanya bersinar-sinar ketika ia mengisahkan cerita tentang gadis kecil bangsa Italia yang telah memperlihatkan kebaikan hati kepadanya ketika masa-masa penuh kebencian yang mendalam dan permusuhkan antara kedua negara yang
  6. 6. berperang itu. Ketika saat-saat di mana dia merasa dipermalukan dan patah semangat, gadis yang tidak diketahui namanya itu menentang tekanan sosial dan menjangkau dengan pemberian kasih sayang yang sederhana namun tulus. Ia melihat melampaui statusnya sebagai seorang prajurit dari negara musuh dan melihatnya sebagai seseorang yang terluka yang memerlukan kebaikan hati. Ia tidak pernah melupakan buah persik itu di sepanjang masa- masa sulit setelah itu ketika perlahan-lahan perang mulai berakhir, dan setelah itu manakala dia membutuhkan kekuatan untuk bertahan akan pengharapan, untuk meninggalkan kepedihan dan kesakitan, dan memulai hidup yang baru. Gadis itu mungkin tidak banyak berpikir tentang pemberiannya; lagi pula itu “hanyalah” buah persik. Ia mungkin tidak pernah mengira bahwa prajurit itu akan mengenang kebaikan hatinya di sepanjang hidupnya, dan kisah itu akan ditampilkan dalam film dokumenter yang mungkin telah memberi inspirasi kepada orang lain yang meneruskan cerita ini. Semoga kita membawakan damai sejahtera dengan berbagi “buah persik” kasih dan belas kasihan, bahkan jika itu beresiko atau tidak biasa, sebab “buah”— jiwa yang lelah dikuatkan, hati yang sedih menjadi gembira, yang kesepian dikasihi—sepadan dengan harga yang harus dibayar.
  7. 7. Kerajinan Perak yang Dicuri Karya sastra klasik karangan Victor Hugo Les Misérables mengisahkan cerita tentang Jean Valjean, yang sudah jatuh tertimpa tangga oleh karena satu keputusan yang diambilnya ketika mencuri sebatang roti untuk memberi makan keponakannya yang kelaparan. Sebagai konsekwensi, dia melewatkan 19 tahun berikutnya di dalam penjara yang terkenal, Bagne di Toulon. Kesulitan mendapat pekerjaan setelah keluar dari penjara karena mantan narapidana, Valjean memohon di rumah pastori uskup Digne, yang kemudian memberinya makan dan mengizinkannya menginap semalam. Namun Valjean, karena merasa sangat putus asa akan apa yang nampaknya masa depan yang gelap, terjatuh ke dalam pencobaan, mencuri beberapa kerajinan perak sang uskup, dan melarikan diri di tengah malam. Dia belum pergi jauh ketika ia tertangkap dan dibawa kembali ke rumah sang uskup. Menyadari apa yang akan menimpa Valjean jika dia diadili untuk yang kedua kalinya, uskup yang baik hati itu mengambil peluang akan Valjean dan mengatakan kepada polisi, “Saya memberikan kerajinan perak itu kepadanya.” Valjean terbebas dari konsekwensi hukum karena perbuatannya, tetapi belum terbebas dari kebiasaan buruknya. Setelah dia mencuri lagi, dia terdesak untuk mengambil keputusan lagi, dan kali ini dia bertobat, dan sejak saat itu dia berubah. Dia melalui pergolakan dan menghadapi banyak keputusan yang sulit di tahun-tahun yang berikutnya, tetapi dia tetap bertahan di jalan yang baru yang dijalankannya dengan pertolongan Tuhan.
  8. 8. Tiga Cangkir Teh Alexander Sichrovsky Begitu lulus SMU, saya dan dua orang teman memutuskan untuk berkelana ke sekitar bagian barat Mediterania. Tahun 1969, dan jalan-jalan di Eropa penuh dengan anak-anak muda yang mengembara dan mencari-cari arti dari hidup. Kami menumpang kereta api ke Napel bagian selatan Italia, kemudian menumpang kapal kecil semalaman yang membawa kami ke Tunis. Berikutnya, kami berkelana di sepanjang pantai Afrika Utara, menumpang truk atau mobil yang melintas. Pada suatu ketika, kami terdampar di pedalaman dan tidak bisa menemukan kota atau pun desa di dekat situ. Ketika malam tiba, kami memutuskan untuk pergi ke pantai dan melewatkan malam itu dengan tidur di pasir yang hangat menggunakan kantung tidur kami. Keesokan paginya, ketika mengemas barang-barang, seorang bapak tua berjalan perlahan-lahan menghampiri kami. Memperhatikan sekeliling, saya melihat ada sebuah gubug kecil sedikit lebih jauh dari pantai; kami pasti tidak melihatnya karena sudah gelap di malam sebelumnya. Orang tua yang berpakaian lusuh itu membawa sebuah nampan. Ia pasti menjajakan sesuatu, pikir saya. Akan tetapi, ketika ia semakin dekat, saya melihat bahwa bapak itu membawakan tiga cangkir teh panas dengan rasa pepermin.
  9. 9. Pada waktu itu saya baru berusia delapan belas tahun, baru saja lulus sekolah, belum dewasa dan tidak berpengalaman, namun saya benar-benar tersentuh. Mengapakah orang tua ini, yang mungkin hampir-hampir tidak bisa bertahan hidup, membuatkan teh untuk orang asing? Dia tidak kenal kami dan belum pernah bertemu sebelumnya, namun ia menganggap adalah tugasnya untuk memperlihatkan kebaikan hati. Dengan rasa syukur kami meneguk teh manis yang wangi itu, dan berusaha memikirkan cara untuk membalas kebaikan orang tua itu. Menawarkan uang tentunya akan merupakan penghinaan, mencari-cari di tas, kami menemukan makanan kalengan yang kami berikan kepada bapak itu sebagai balasan. Kami tidak bisa banyak berbicara, sebab bahasa Perancisnya tidak begitu baik dan bahasa Perancis kami bahkan lebih buruk lagi, jadi setelah mengucapkan terima kasih, kami melanjutkan perjalanan. Kami bertiga tidak banyak berbicara sepanjang pagi itu, pikiran kami masih dipenuhi oleh bapak yang baik hati itu tadi dan kesan yang ditinggalkannya. Yang dimilikinya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kami, namun ia bersedia untuk berbagi dari kekurangannya itu. Kami berasal dari negara lain dan berbicara dengan bahasa yang berbeda, namun kepedulian dan hati yang gemar memberi menjembatani semuanya itu.
  10. 10. Image Credits: Cover art copyright TFI. The Boy Sitting Next to Me: Image 1: Kirimatsu via DeviantArt.com; used under CC license. Image 2: Flamespeedy via DeviantArt.com; used under CC-NC license. The Power of a Peach Image 1: National Geographic; used under Fair Use guidelines. Image 2: Patrick via Flickr; used under Creative Commons-Attribution-Non Commercial license. Stolen Silver Image courtesy of http://lesmiserablesshoujocosette.wikia.com/wiki/The_Silver_Candlesticks. Three Cups of Tea Image 1: In public domain. Image 2: Courtesy of Wikimedia Commons www.freekidstories.org

×