SlideShare a Scribd company logo

Majikan yang Berbelas kasih

Cerita, buku, ebook, kelas, flashcard, video, dan halaman mewarnai gratis untuk anak-anak - www.freekidstories.org anak-anak, remaja, praremaja, remaja, cerita Alkitab, cerita Perjanjian Baru, perumpamaan tentang Yesus,

1 of 9
Download to read offline
Kisah Yang Yesus Ceritakan
Majikan yang Berbelas kasih
Perumpamaan tentang majikan yang berbelas kasih, atau, yang
lebih sering disebut sebagai, para pekerja di kebun angur,
adalah kisah yang Yesus ceritakan untuk mengekspresikan
beberapa aspek dari watak dan karakter Tuhan: kasih, rakhmat
dan belas kasih-Nya yang dengan kuat diperlihatkan melalui
keselamatan, sekaligus juga pemeliharaan dan upah-Nya yang
tidak henti-hentinya bagi mereka yang mengasihi dan melayani
Dia.
Perumpamaan ini, seperti perumpamaan lainnya yang Yesus
ceritakan, dimulai dengan kata-kata “Adapun hal Kerajaan
Sorga sama seperti …” Frase ini menyampaikan kepada
pendengarnya bahwa Yesus akan memberikan informasi
tentang Tuhan dan seperti apa Dia itu, dan tentang bagaimana
mereka yang hidup dalam kerajaan-Nya dan yang berserah
kepada pemerintahan-Nya hendaknya memberi penilaian.
“Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang
pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya”
(Matius 20:1).
Banyak dari para pemegang
rumah di abad pertama di
Palestina bertani di ladang yang
tidak jauh dari tempatnya.
Dalam kisah ini, sang tuan
rumah memiliki kebun anggur
yang cukup luas sehingga dia
membutuhkan pekerja ekstra
untuk membantunya sewaktu
pekerjaan harus diselesaikan
dengan segera, seperti
misalnya ketika tuaian
harus dipetik.
“Setelah ia sepakat
dengan pekerja-pekerja itu
mengenai upah sedinar
sehari, ia menyuruh
mereka ke kebun
anggurnya” (Matius 20:2).
Upah sedinar sehari
adalah upah standar
untuk pekerja di masa
itu. Bukan upah yang
tinggi, tetapi cukup
untuk menopang
keluarga.
Memerlukan pekerja yang bekerja untuk waktu yang singkat,
si empunya kebun pergi ke pasar di mana pekerja berkumpul
sambil berharap orang akan datang dan menawarkan
pekerjaan, bahkan jika hanya untuk sehari saja. Bekerja untuk
sehari saja pada saat itu adalah sesuatu yang sulit. Tidak ada
jaminan pekerjaan atau pendapatan jika mereka tidak
menemukan bekerja. Setiap malam mereka berhadapan
dengan keluarga entah dengan sukacita karena pulang
dengan membawa cukup uang untuk menyediakan makanan
di meja atau pulang dengan tangan kosong. Untuk mendapat
pekerjaan, mereka berdiri di alun-alun, tempat di mana orang
dapat melihat mereka dan tahu bahwa mereka tidak punya
pekerjaan. Ini memalukan, tetapi dipekerjakan dan dibayar
penting untuk kelangsungan hidup keluarga mereka.
Sang empunya kebun anggur pergi pagi-pagi benar untuk
mencari pekerja dan agar pekerja itu bekerja sepanjang hari
penuh. Ia memilih pekerja dan mengadakan tawar menawar
upah sehari. Karena orang tidak punya jam tangan, pekerjaan
dimulai ketika matahari terbit dan berakhir ketika bintang
yang pertama dapat terlihat di langit malam. Ini berarti kurang
lebih bekerja 12 jam sehari.
Ceritanya berlanjut dengan sang
empunya kebun kembali ke pasar
untuk mempekerjakan lebih banyak
lagi pekerja.
“Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar
pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang
lain menganggur di pasar. Katanya
kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke
kebun anggurku dan apa yang pantas
akan kuberikan kepadamu. Dan
merekapun pergi” (Matius 20:3–5).
Tuan itu pergi lagi ke pasar untuk
yang kedua kalinya sekitar pukul 9
pagi. Setibanya di sana, dia
mendapati beberapa orang masih
menunggu untuk dipekerjakan. Ia
memilih dan mempekerjakan
beberapa dari mereka serta
menyuruh mereka pergi ke kebun
anggurnya. Dia mengatakan kepada
mereka bahwa ia akan bersikap adil
ketika memberi mereka kompensasi.
Para pekerja itu menerima janjinya,
yang mana memberi kesan bahwa
sang empunya tanah dipercaya dan
dihormati di komunitas.
“Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga
petang ia keluar pula dan melakukan
sama seperti tadi” (Matius 20:5).
Tidak disebutkan apakah sang
empunya tanah mendiskusikan
berapa ia akan membayar pekerja-
pekerja tersebut.
“Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang
lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja
di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang
mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun
anggurku” (Matius 20:6-7)
Kita dapat membayangkan betapa besarnya keinginan orang-
orang ini untuk mendapat pekerjaan, dan tentunya sangat
mematahkan semangat bagi mereka berdiri di tempat umum
sepanjang hari sambil berharap akan dipekerjakan. Orang-orang
ini bertekad untuk mendapatkan pekerjaan atau jika tidak
demikian mereka tentunya tidak lagi menunggu dan berharap
di pasar. Sebentar lagi, mereka akan pulang ke rumah dengan
tangan kosong dan berhadapan dengan keluarga mereka.
Tidak ada indikasi kompensasi seperti apa yang akan diterima
oleh pekerja yang mulai bekerja pada pukul lima dan hanya
bekerja selama satu jam. Mungkin mereka merasa jika mereka
bersedia bekerja pada waktu yang demikian, tanpa
mengindahkan berapa pun bayarannya, sang empunya
perkebunan mungkin akan mempekerjakan mereka sepanjang
hari keesokan harinya. Tak lama kemudian pekerjaan untuk hari
itu sudah selesai dan sudah waktunya untuk membayar gaji.
Tak lama kemudian ia kembali lagi ke pasar untuk yang ke lima
kalinya, ketika yang tertinggal hanya satu jam lagi saja.
“Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah
pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka
yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka
datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka
menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang
masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi
merekapun menerima masing-masing satu dinar juga” (Matius 20:9-10)
Ketika pekerja yang bekerja sehari penuh melihat bahwa mereka
yang hanya bekerja satu jam menerima upah kerja sehari,
mereka mengira akan mendapat upah lebih banyak. Dari sisi
pandang mereka, itu masuk akal. Namun demikian, mereka
menerima satu dinar seperti halnya pekerja yang lain. Ini
membuat mereka merasa tertipu. Dan mereka mengemukakan
perasaan itu kepada sang empunya kebun.
“Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan
engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja
berat dan menanggung panas terik matahari” (Matius 20:11-12)
Mereka keberatan diberi upah sama dan diperlakukan sama
dengan mereka yang hanya bekerja satu jam saja dan menuduh
sang empunya kebun tidak adil dan memperlakukan mereka
dengan tidak adil. Sang empunya kebun menanggapi:
“Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita
telah sepakat sedinar sehari?” (Matius 20:13)
Kata “saudara” yang
digunakan di sini
diterjemahkan dari
kata dalam bahasa
Yunani yaitu hetairos,
yang mana juga
dipakai di dua ayat
lainnya di kitab
Matius: sekali ketika
orang tiba di pesta
perkawinan tidak
mengenakan pakaian
pesta, dan diusir dari pesta, kemudian ketika Yesus memanggil
Yudas “saudara,” ketika Yudas baru saja akan mengkhianati Dia
(Matius 22:12, 26:50). Yang empuya kebun anggur tidak
menyebut para pekerja itu “saudara” dari segi yang positif.
Pertanyaan yang diajukan oleh sang tuan hanya akan
membawakan tanggapan yang positif, sebab sedinar adalah
persisnya upah yang disepakati oleh para pekerja itu untuk
bekerja sehari. Karena sang empunya kebun memberikan
jumlah ini, ia memang menepati janjinya.
Sebagaimana kebanyakan kasus perumpamaan, poin yang
Yesus kemukakan dapat ditemukan di akhir perumpamaan
ketika sang empunya kebun berkata:
“Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang
yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas
mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah
engkau, karena aku murah hati?’’ (Matius 20:14-15)
Pekerja yang bekerja seharian itu tidak bersukacita karena orang
yang dipekerjakan terakhir memperoleh keberuntungan.
Sebaliknya, mereka dengan egois melihat kepada dirinya sendiri
dan apa yang mereka tanggapi sebagai perlakuan yang tidak
adil oleh tuan mereka.

Recommended

十二基石 – 第四課(上)- 對於年幼的孩 - 聆聽天堂的聲音.pdf
十二基石 – 第四課(上)- 對於年幼的孩 - 聆聽天堂的聲音.pdf十二基石 – 第四課(上)- 對於年幼的孩 - 聆聽天堂的聲音.pdf
十二基石 – 第四課(上)- 對於年幼的孩 - 聆聽天堂的聲音.pdfFreeChildrenStories
 
十二柱石 - 第四课(上)- 对于年幼的孩子 - 聆听天国的声音.pdf
十二柱石 - 第四课(上)- 对于年幼的孩子 - 聆听天国的声音.pdf十二柱石 - 第四课(上)- 对于年幼的孩子 - 聆听天国的声音.pdf
十二柱石 - 第四课(上)- 对于年幼的孩子 - 聆听天国的声音.pdfFreeChildrenStories
 
十二柱石 - 第三课 (下)- 对于年幼的孩子 - 祷告与赞美.pdf
十二柱石 -  第三课 (下)- 对于年幼的孩子 - 祷告与赞美.pdf十二柱石 -  第三课 (下)- 对于年幼的孩子 - 祷告与赞美.pdf
十二柱石 - 第三课 (下)- 对于年幼的孩子 - 祷告与赞美.pdfFreeChildrenStories
 
十二基石 – 第三課 (下)- 對於年幼的孩 - 禱告與讚美.pdf
十二基石 – 第三課 (下)- 對於年幼的孩 - 禱告與讚美.pdf十二基石 – 第三課 (下)- 對於年幼的孩 - 禱告與讚美.pdf
十二基石 – 第三課 (下)- 對於年幼的孩 - 禱告與讚美.pdfFreeChildrenStories
 
صيد السمك - كتاب التلوين
صيد السمك - كتاب التلوين صيد السمك - كتاب التلوين
صيد السمك - كتاب التلوين FreeChildrenStories
 

More Related Content

More from FreeChildrenStories

耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人
耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人 耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人
耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人 FreeChildrenStories
 
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人FreeChildrenStories
 
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdfFreeChildrenStories
 
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdfFreeChildrenStories
 
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...FreeChildrenStories
 
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子FreeChildrenStories
 
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子FreeChildrenStories
 
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)FreeChildrenStories
 
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adil
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adilPerumpamaan tentang hakim yang tidak adil
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adilFreeChildrenStories
 
مَثل الأرملة والقاضي
مَثل الأرملة والقاضي مَثل الأرملة والقاضي
مَثل الأرملة والقاضي FreeChildrenStories
 
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال FreeChildrenStories
 

More from FreeChildrenStories (20)

صيد السمك
صيد السمك صيد السمك
صيد السمك
 
奇迹捕鱼
奇迹捕鱼 奇迹捕鱼
奇迹捕鱼
 
Mukjizat Menangkap Ikan
Mukjizat Menangkap Ikan Mukjizat Menangkap Ikan
Mukjizat Menangkap Ikan
 
捕魚神蹟
捕魚神蹟 捕魚神蹟
捕魚神蹟
 
耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人
耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人 耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人
耶穌的比喻 - 好撒瑪利亞人
 
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人
耶稣讲的故事 - 好撒玛利亚人
 
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf
十二柱石- 第一课(下)- 对于年幼的孩子 - 背诵经文.pdf
 
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf
十二基石- 第一課(下)對於年幼的孩子 - 背誦經文.pdf
 
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...
12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1B (untuk anak yang lebih kecil) - Menghafal...
 
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子
上帝的话语 - 十二柱石第一课对于年幼的孩子
 
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子
上帝的話語 - 十二基石第一課(上)- 对于年幼的孩子
 
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)
Firman Allah - 12 FOUNDATION STONES – PELAJARAN 1A (untuk anak yang lebih kecil)
 
寡婦與法官的比喻
寡婦與法官的比喻 寡婦與法官的比喻
寡婦與法官的比喻
 
不义审判官的比喻
不义审判官的比喻 不义审判官的比喻
不义审判官的比喻
 
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adil
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adilPerumpamaan tentang hakim yang tidak adil
Perumpamaan tentang hakim yang tidak adil
 
مَثل الأرملة والقاضي
مَثل الأرملة والقاضي مَثل الأرملة والقاضي
مَثل الأرملة والقاضي
 
我们坚定的灵魂之锚.pdf
我们坚定的灵魂之锚.pdf我们坚定的灵魂之锚.pdf
我们坚定的灵魂之锚.pdf
 
穩定我們靈魂的錨.pdf
穩定我們靈魂的錨.pdf穩定我們靈魂的錨.pdf
穩定我們靈魂的錨.pdf
 
饒恕 - 兒童聖經經文
饒恕 - 兒童聖經經文饒恕 - 兒童聖經經文
饒恕 - 兒童聖經經文
 
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال
مغفرة - آيات الكتاب المقدس للأطفال
 

Majikan yang Berbelas kasih

  • 1. Kisah Yang Yesus Ceritakan Majikan yang Berbelas kasih Perumpamaan tentang majikan yang berbelas kasih, atau, yang lebih sering disebut sebagai, para pekerja di kebun angur, adalah kisah yang Yesus ceritakan untuk mengekspresikan beberapa aspek dari watak dan karakter Tuhan: kasih, rakhmat dan belas kasih-Nya yang dengan kuat diperlihatkan melalui keselamatan, sekaligus juga pemeliharaan dan upah-Nya yang tidak henti-hentinya bagi mereka yang mengasihi dan melayani Dia. Perumpamaan ini, seperti perumpamaan lainnya yang Yesus ceritakan, dimulai dengan kata-kata “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti …” Frase ini menyampaikan kepada pendengarnya bahwa Yesus akan memberikan informasi tentang Tuhan dan seperti apa Dia itu, dan tentang bagaimana mereka yang hidup dalam kerajaan-Nya dan yang berserah kepada pemerintahan-Nya hendaknya memberi penilaian. “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (Matius 20:1). Banyak dari para pemegang rumah di abad pertama di Palestina bertani di ladang yang tidak jauh dari tempatnya. Dalam kisah ini, sang tuan rumah memiliki kebun anggur yang cukup luas sehingga dia membutuhkan pekerja ekstra untuk membantunya sewaktu pekerjaan harus diselesaikan dengan segera, seperti misalnya ketika tuaian harus dipetik.
  • 2. “Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya” (Matius 20:2). Upah sedinar sehari adalah upah standar untuk pekerja di masa itu. Bukan upah yang tinggi, tetapi cukup untuk menopang keluarga. Memerlukan pekerja yang bekerja untuk waktu yang singkat, si empunya kebun pergi ke pasar di mana pekerja berkumpul sambil berharap orang akan datang dan menawarkan pekerjaan, bahkan jika hanya untuk sehari saja. Bekerja untuk sehari saja pada saat itu adalah sesuatu yang sulit. Tidak ada jaminan pekerjaan atau pendapatan jika mereka tidak menemukan bekerja. Setiap malam mereka berhadapan dengan keluarga entah dengan sukacita karena pulang dengan membawa cukup uang untuk menyediakan makanan di meja atau pulang dengan tangan kosong. Untuk mendapat pekerjaan, mereka berdiri di alun-alun, tempat di mana orang dapat melihat mereka dan tahu bahwa mereka tidak punya pekerjaan. Ini memalukan, tetapi dipekerjakan dan dibayar penting untuk kelangsungan hidup keluarga mereka. Sang empunya kebun anggur pergi pagi-pagi benar untuk mencari pekerja dan agar pekerja itu bekerja sepanjang hari penuh. Ia memilih pekerja dan mengadakan tawar menawar upah sehari. Karena orang tidak punya jam tangan, pekerjaan dimulai ketika matahari terbit dan berakhir ketika bintang yang pertama dapat terlihat di langit malam. Ini berarti kurang lebih bekerja 12 jam sehari.
  • 3. Ceritanya berlanjut dengan sang empunya kebun kembali ke pasar untuk mempekerjakan lebih banyak lagi pekerja. “Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi” (Matius 20:3–5). Tuan itu pergi lagi ke pasar untuk yang kedua kalinya sekitar pukul 9 pagi. Setibanya di sana, dia mendapati beberapa orang masih menunggu untuk dipekerjakan. Ia memilih dan mempekerjakan beberapa dari mereka serta menyuruh mereka pergi ke kebun anggurnya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa ia akan bersikap adil ketika memberi mereka kompensasi. Para pekerja itu menerima janjinya, yang mana memberi kesan bahwa sang empunya tanah dipercaya dan dihormati di komunitas. “Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi” (Matius 20:5). Tidak disebutkan apakah sang empunya tanah mendiskusikan berapa ia akan membayar pekerja- pekerja tersebut.
  • 4. “Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku” (Matius 20:6-7) Kita dapat membayangkan betapa besarnya keinginan orang- orang ini untuk mendapat pekerjaan, dan tentunya sangat mematahkan semangat bagi mereka berdiri di tempat umum sepanjang hari sambil berharap akan dipekerjakan. Orang-orang ini bertekad untuk mendapatkan pekerjaan atau jika tidak demikian mereka tentunya tidak lagi menunggu dan berharap di pasar. Sebentar lagi, mereka akan pulang ke rumah dengan tangan kosong dan berhadapan dengan keluarga mereka. Tidak ada indikasi kompensasi seperti apa yang akan diterima oleh pekerja yang mulai bekerja pada pukul lima dan hanya bekerja selama satu jam. Mungkin mereka merasa jika mereka bersedia bekerja pada waktu yang demikian, tanpa mengindahkan berapa pun bayarannya, sang empunya perkebunan mungkin akan mempekerjakan mereka sepanjang hari keesokan harinya. Tak lama kemudian pekerjaan untuk hari itu sudah selesai dan sudah waktunya untuk membayar gaji. Tak lama kemudian ia kembali lagi ke pasar untuk yang ke lima kalinya, ketika yang tertinggal hanya satu jam lagi saja.
  • 5. “Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga” (Matius 20:9-10) Ketika pekerja yang bekerja sehari penuh melihat bahwa mereka yang hanya bekerja satu jam menerima upah kerja sehari, mereka mengira akan mendapat upah lebih banyak. Dari sisi pandang mereka, itu masuk akal. Namun demikian, mereka menerima satu dinar seperti halnya pekerja yang lain. Ini membuat mereka merasa tertipu. Dan mereka mengemukakan perasaan itu kepada sang empunya kebun. “Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari” (Matius 20:11-12) Mereka keberatan diberi upah sama dan diperlakukan sama dengan mereka yang hanya bekerja satu jam saja dan menuduh sang empunya kebun tidak adil dan memperlakukan mereka dengan tidak adil. Sang empunya kebun menanggapi: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” (Matius 20:13)
  • 6. Kata “saudara” yang digunakan di sini diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani yaitu hetairos, yang mana juga dipakai di dua ayat lainnya di kitab Matius: sekali ketika orang tiba di pesta perkawinan tidak mengenakan pakaian pesta, dan diusir dari pesta, kemudian ketika Yesus memanggil Yudas “saudara,” ketika Yudas baru saja akan mengkhianati Dia (Matius 22:12, 26:50). Yang empuya kebun anggur tidak menyebut para pekerja itu “saudara” dari segi yang positif. Pertanyaan yang diajukan oleh sang tuan hanya akan membawakan tanggapan yang positif, sebab sedinar adalah persisnya upah yang disepakati oleh para pekerja itu untuk bekerja sehari. Karena sang empunya kebun memberikan jumlah ini, ia memang menepati janjinya. Sebagaimana kebanyakan kasus perumpamaan, poin yang Yesus kemukakan dapat ditemukan di akhir perumpamaan ketika sang empunya kebun berkata: “Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?’’ (Matius 20:14-15) Pekerja yang bekerja seharian itu tidak bersukacita karena orang yang dipekerjakan terakhir memperoleh keberuntungan. Sebaliknya, mereka dengan egois melihat kepada dirinya sendiri dan apa yang mereka tanggapi sebagai perlakuan yang tidak adil oleh tuan mereka.
  • 7. Berdasarkan standar kebanyakan perbuatan sang empunya kebun dianggap tidak adil. Dia bersikap adil dengan menepati janjinya yaitu membayar upah sesuai dengan kesepakatan. Mereka yang setuju untuk bekerja dengan upah yang sedemikian tidaklah dipedayai. Jika mereka diberi upah terlebih dahulu dan dengan demikian tidak menyadari berapa upah yang diterima oleh pekerja yang lainnya itu, mereka sudah berjalan pulang ke rumah ke keluarga mereka dengan hati yang gembira karena mengantongi upah sehari. Tetapi bagaimana dengan para pekerja yang lain? Mereka juga mempunyai keluarga yang perlu diberi makan. Mereka juga perlu menghadapi keluarga mereka dengan hati yang gembira, dan kini mereka dapat melakukannya. Mereka tidak layak menerima gaji sehari penuh sebab mereka tidak bekerja sepanjang hari. Namun demikian, karena kemurahan hati sang empunya kebun, mereka diberi upah dengan jumlah yang untuknya mereka tidak layak menerimanya. Sang empunya kebun adil, tetapi dia juga berbelas kasih. Perumpamaan ini menyampaikan kepada kita seperti itulah Tuhan. Tuhan itu adil dan Ia menepati janj-janji-Nya. Ia juga penuh dengan belas kasih. Berbelas kasih tidak ada hubungannya dengan keadilan. Belas kasih bukan berarti memberi kepada seseorang sesuai dengan apa yang dikerjakannya atau yang layak diterima olehnya. Itu adalah
  • 8. Perumpamaan ini melukiskan gambaran yang indah tentang panggilan Tuhan akan keselamatan. Ada yang menerima panggilan, atau peluang, di awal kehidupan mereka, ada yang menerimanya setelah itu, dan ada pula yang menerimanya ketika menjelang ajal. Tuhan, layaknya pemilik kebun, datang ke pasar berulang-ulang kali, untuk melihat siapa yang ada di situ, siapa yang sudah siap dan bersemangat. Apakah orang memperoleh keselamatan ketika masih awal atau setelah itu, semuanya menerima keselamatan yang sama. Hendaknya kita bersukacita menyadari bahwa setiap dari kita dikasihi dan diterima oleh Tuhan, bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi karena siapa Dia itu. Ia menyelamatkan kita bukan karena pekerjaan kita, tetapi karena kasih karunia dan kasih-Nya. Bukan karena usaha kita; melainkan karena belas kasih-Nya. Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat bekerja untuk memperoleh kasih, berkat atau pun upah-Nya. Kepada setiap dari kita telah diberikan jauh lebih banyak daripada apa yang layak kita terima oleh Bapa kita yang murah hati dan penuh kasih. Dan kapan saja mungkin, hendaknya kita meniru kasih dan belas kasih-Nya dalam interaksi kita dengan orang lain. perbuatan kasih. Itu adalah memberi kepada seseorang yang tidak layak menerimanya, yang mana seperti itulah persisnya kasih, karunia dan keselamatan Tuhan. Tuhan tidak terbatas pada apa yang kita sebagai manusia anggap adil. Jika demikian, maka tidak akan ada pengharapan untuk keselamatan, tidak ada pengampunan atas dosa. Jika kita hanya diberikan apa yang layak kita terima, kita semua celaka. Sebaliknya, seperti halnya para pekerja yang tidak layak menerima upah kerja sehari penuh, kita adalah orang-orang yang menerima kemurahan hati Tuhan, belas kasih, dan karunia-Nya melalui keselamatan.
  • 9. www.freekidstories.org Text © TFI. Images on pages 1 – 6 © LUMO project; used by permission. Image on page 7 by Teodor Manolov via Behance. Used under Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0) License.