Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Contoh kasus budaya di suatu lembaga

1,354 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Contoh kasus budaya di suatu lembaga

  1. 1. Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
  2. 2. Edward B. Taylor, menyatakan kebudayaan adalah segenap pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan kebiasaan lain yang dikerjakan oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat. Koentjaraningrat, menyatakan kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.Clifford Geertz, menyatakan kebudayaan adalah sesuatu yang diperoleh manusia melalui proses belajar (pendekatan simbolik/ interpretatif/satu arah).
  3. 3.  Non Material Kepercayaan Nilai Norma  Material Hasil teknologi dari yang sederhana sampai mutakhir/kompleks
  4. 4. Mencontek adalah perbuatan curang yg dilakukan oleh orang yg memiliki sifat tidak jujur demi mendapatkan nilai tinggi. Biasanya mencotek dilakukan disaat ulangan ataupun ujian. Mencontek biasanya dilakukan dg cara melihat jawaban teman atau melihat catatan yg sudah dipersiapkan sebelumnya.
  5. 5. HUBUNGAN ANTARA MENCONTEK DENGAN KEBUDAYAAN Budaya merupakan hasil dari cara berpikir dan kebiasaan seseorang dan kelompok. Ketika seseorang melakukan kegiatan itu secara kontinu sehingga terbiasa, hal itu akan menjadi suatu budaya. Predikat yang dapat orang lain sematkan adalah sebagai budaya orang tersebut. Lalu ketika seseorang mencontek, secara tak langsung prosesnya juga berlangsung relatif sama dengan proses budaya . Anda melakukannya dan anda ketagihan kemudian melakukannya secra kontinu dan akhirnya itu menjadi budaya anda. Budaya Mencontek memang itu tidak disadari oleh orang
  6. 6. FAKTOR YANG MENYEBABKAN MENCONTEK DIRI SENDIRI GURU ORANG TUA SISTEM PENDIDIKAN
  7. 7. •Dari pihak pengajar atau guru, harus bertidak tegas saat ujian dengan cara benar-benar mengawasi murid-muridnya saat ujian serta memberikan sangsi yang tegas dan membuat jera baik kepada yang mencontek dan yang memberikan contekan. •Lebih sering mengadakan ujian lisan. dengan begitu murid-muridnya tidak mempunyai pilihan lain selain belajar dan percaya pada diri sendiri. Mungkin dengan begitu lama kelamaan para murid jadi lebih terbiasa untuk percaya pada dirinya sendiri. •Untuk para muridnya, jangan takut melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh teman. Karena ada beberapa murid yang tidak mau melaporkan temannya yang mencontek karena alasan solidaritas dan sebagainya. •Untuk orang tua dan guru, harus menanamkan sikap jujur dan percaya diri sejak dini kepada anak. Tetapi bukan cuma sekedar teori, tetapi juga menunjukkan teladan atau contoh yang baik.
  8. 8. Menurut, Dien F. Iqbal, dosen Fakultas Psikologi Unpad Orang mencontek disebabkan faktor dari dalam dan di luar dirinya. Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut konsep diri dan harga diri. Konsep diri merupakan gambaran apa yang orang-orang bayangkan, nilai dan rasakan tentang dirinya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa, "Saya adalah orang pintar". Anggapan itu lalu akan memunculkan kompenen afektif yang disebut harga diri. Namun, anggapan seperti itu bisa runtuh, terutama saat berhadapan dengan lingkungan di luar pribadinya. Di mana sebagai kelompok, maka harus sepenanggungan dan senasib. Senang bersama, duka mesti dibagi.
  9. 9. Menurut Vegawati, Oki dan Noviani, (2004) Pada saat dorongan tingkah laku mencontek muncul, terjadilah proses atensi, yaitu muncul ketertarikan terhadap dorongan karena adanya harapan mengenai hasil yang akan dicapai jika ia mencontek. Pada proses retensi, faktor-faktor yang memberikan atensi terhadap stimulus perilaku mencontek itu menjadi sebuah informasi baru atau digunakan untuk mengingat kembali pengetahuan maupun pengalaman mengenai perilaku mencontek, baik secara maya (imaginary) maupun nyata (visual). Proses selanjutnya adalah reproduksi motorik, yaitu memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya mengenai perilaku mencontek untuk memprediksi sejauh mana kemampuan maupun kecakapannya dalam melakukan tingkah laku mencontek tersebut. Dalam hal ini, ia juga mempertimbangkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika perilaku tersebut muncul. Dalam proses ini, terjadi mediasi dan regulasi kognitif, di mana kognisi berperan dalam mengukur kemungkinan-kemungkinan konsekuensi apa yang akan diterimanya bila ia mencontek.

×