1                                        BAB I                                    PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah   ...
2        Prevalensi Bell’s Palsy di Indonesia, secara pasti sulit ditentukan. Data yang   dikumpulkan dari empat Rumah Sak...
31.3 Rumusan Masalah      Berdasarkan masalah yang timbul pada Bell’s Palsy maka penulis ingin   mengetahui:  1. Bagaimana...
41.5 Manfaat Penelitian      1.5.1   Bagi Peneliti                     Menambah wawasan bagi penulis khususnya dalam penel...
5                                       BAB II                               KAJIAN TEORITIS2.1 Bell’s Palsy  2.1.1 Defini...
62.1.2   Etiologi            Menurut etiologi artinya ilmu tentang penyebab penyakit (Dachlan,2001).        Ada beberapa t...
7             selanjutnya menambah kompresi terhadap suplai darah, menambah             iskemia dan menjadikan parese nerv...
8      tersebut terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang      menyebabkan otot-otot wajah mengalami ke...
9b) Lesi di canalis facialis dan mengenai nervus korda timpani :        Tanda dan gejala sama seperti penjelasan pada poin...
10        f) Lesi di tempat keluarnya nervus facialis dari pons :                 Tanda dan gejala sama seperti di atas di...
11     Gejala sisa yang ditimbulkan paska serangan Bell’s Palsy yaitu sindromaair mata buaya (crocodile tears syndrome) ya...
122.2 Anatomi dan Fisiologi 2.2.1   Anatomi Nervus Facialis         Nervus Facialis terdiri dari dua nucleus motoris di ba...
13mastoidea. Bagian saraf yang berada didalam canalis falopii pars timpanidisebut nervus facialis pars horizontalis, sedan...
14         yang bersifat sekreto-motorik yang menuju ke kelenjar liur         submaksilaris dan sublingualis (Chusid, 1983...
152.2.2   Otot-Otot Wajah              Otot-otot pada wajah berserta fungsinya masing-masing dapat dilihat        pada tab...
166    M. Depresor anguli Menarik ujung mulut ke       N. Fasialis     oris                  bawah7    M. Zigomaticum     ...
17Sedangkan gambar otot-otot wajah dari lateral dapat dilihat pada gambar 2. 3dibawah ini:                            Gamb...
18Keterangan Gambar 2.2         1.     M.Frontalis                          7. M. Zygomaticum mayor         2.     M.Corru...
19   durasi panjang, sedang fase kedua intensitas tinggi dan durasi   pendek. Berfrekwensi sekitar 50 cycle/detik. Durasi ...
20   membantunya terutama kontraksi otot yang terhambat oleh   nyeri atau injury yang baru, dimana stimulasi dapat   membe...
21        bergerak memberikan cukup beban. Dalam hal ini        stimulasi dapat meningkatkan kekuatan otot.     (5) Memper...
22             otot dari grup otot berkontraksi bersama sehingga sangat             efektif untuk mendidik otot yang beker...
23diberikan yaitu stroking, effleurage, finger kneading dantapping.      Stroking atau gosokan ringan adalah manipulasi ya...
24        Tapping adalah manipulasi yang diberikan dengan tepukan   yang ritmis dengan kekuatan tertentu, untuk daerah waj...
25Gerakan massage dapat diamati dari gambar berikut ini :                   Gambar 2.5  Arah gerakan Massage pada wajah (M...
262.3 Konsep Kerangka Berfikir        Bell’s palsy adalah sebuah kelainan dan ganguan neurologi pada nervus   cranialis VI...
27selain itu memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah.Stroking memiliki efek penenangan dan dapat men...
282.4 Skema Kerangka Berpikir                                     Bell’s Palsy                            Etiologi tidak d...
29                                       III                       METODOLOGI PENELITIAN3.1 Tempat dan Waktu Penelitian  3...
30   alasan memperluas ruang lingkup penelitian serta ingin mendapatkan hasil yang   lebih akurat, sehingga hanya mengambi...
311. Anamnesis umum            Anamnesis umum berisi tentang identitas pasien secara  lengkap. Dalam anamnesis ditemukan d...
32             4) Riwayat pribadi                           Riwayat pribadi adalah hal-hal atau kegiatan sehari-          ...
33   digunakan untuk mengetahui apakah ada hipertensi, hipotensi,   tacikardi, obesitas dan sebagainya.b. Inspeksi        ...
34f. Pemeriksaan Gerak          Meliputi pemeriksaan gerak aktif, pasif, isometrik   melawan tahanan.      Pada pemeriksaa...
35                  3) interpersonal adalah kemampuan bagaimana berhubungan                     dengan orang lain disekita...
36     Ada 4 penilaian dalam % untuk posisi tersebut antara lain :     a) 0 % (zero)           : Asimetris Komplit, tidak ...
37       3)   Manual Muscle Testing (MMT) otot-otot wajah            Untuk menilai kekuatan otot fasialis yang mengalami p...
383.3.5 Intervensi Fisioterapi             Untuk mengatasi masalah yang muncul pada kondisi Bell’s     Palsy maka dipilih ...
39          perlengketan jaringan pada kondisi Bell’s Palsy ini dapat          dicegah.       b. Electrical Stimulation (E...
40    1. Tujuan Jangka Pendek            Tujuan jangka pendek berkaitan dengan keadaan pasien atau       hal yang dianggap...
413.3.8 Evaluasi             Evaluasi pada kasus Bell’s Palsy ini diambil setelah pasien     dilakukan terapi sebanyak 6 k...
42                                      BAB IV                                    PENUTUP       Pasien Bell’s palsy pada a...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Proposal bell's palsy

8,128 views

Published on

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

Proposal bell's palsy

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Kecantikan dan ketampanan adalah idaman setiap manusia. Karena dengan kecantikan dan ketampanan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Banyak usaha untuk mencapai hal itu, misalnya dengan cara perawatan, facial, dan operasi plastik. Walau harus mengeluarkan uang yang cukup banyak mereka tidak masalah yang penting bisa mempercantik atau mempertampan diri. Akhir-akhir ini banyak orang terkena penyakit bell’s palsy. Bell’s palsy adalah sebuah kelainan dan ganguan neurologi pada nervus cranialis VII (saraf facialis) di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Paralyse Bell ini hampir selalu terjadi unilateral, namun demikian dalam jarak satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh, yang menyebabkaan kelemahan atau paralisis, ketidak simetrisan kekuatan/aktivitas muscular pada kedua sisi wajah (kanan dan kiri), serta distorsi wajah yang khas. Hal ini sangat menyiksa diri karena membuat orang menjadi kurang percaya diri. Wajah kelihatan tidak cantik karena mulut mencong, mata tidak bisa berkedip, mata berair, dll (Attaufiq,2011). Kata Bell’s Palsy itu sendiri diambil dari nama seorang dokter dari abad 19, Sir Charles Bell, orang pertama yang menjelaskan kondisi ini dan menghubungkan dengan kelainan pada saraf wajah.
  2. 2. 2 Prevalensi Bell’s Palsy di Indonesia, secara pasti sulit ditentukan. Data yang dikumpulkan dari empat Rumah Sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s Palsy sebesar 19,55% dari seluruh kasus neuropati dan terbanyak pada usia 21–50 tahun, peluang untuk terjadinya pada wanita dan pria sama. Tidak didapati perbedaan insiden antara iklim panas maupun dingin, tetapi pada beberapa penderita didapatkan adanya riwayat terkena udara dingin atau angin berlebihan (Annsilva,2010). Untuk mengatasi hal itu dibutuhkan peran fisioterapi. Karena itu penulis tertarik untuk mengangkat judul karya tulis ilmiah ”PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELL’S PALSY SINISTRA DENGAN MODALITAS ELECTRICAL STIMULATION DAN MASSAGE”.1.2 Identifikasi Masalah Functional impairment, yaitu adanya kelemahan pada otot (paralysis) pada salah satu sisi wajah, gangguan sensorik (sensasi rasa), asimetris antara kedua sisi wajah, dan hipotonus ( penurunan kekuatan otot). Limitation in activity, yaitu lebih mencakup pada kemampuan fungsionalnnya, seperti : ketidakmampuan menggerakkan beberapa otot pada salah satu sisi wajah. Participant restriction, yaitu lebih mengarah pada permasalahan bersosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya, seperti : kurang percaya diri untuk mengikuti kegiatan di lingkungan masyarakat.
  3. 3. 31.3 Rumusan Masalah Berdasarkan masalah yang timbul pada Bell’s Palsy maka penulis ingin mengetahui: 1. Bagaimanakah pemberian Electrical Stimulation dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dan mendidik otot secara individual pada wajah sebelah kiri ? 2. Bagaimanakah pemberian massage dapat memelihara sifat fisiologis otot, Mengurangi rasa kaku pada wajah, dan mencegah spasme pada sisi yang sehat ?1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian proposal ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan Umum Untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan ujian akhir semester lima pada mata kuliah Metodologi Riset (Met. riset) 2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui pengaruh Electrical Stimulation dan Massage terhadap permasalahan dari pasien dengan kondisi Bell’s Palsy seperti kelemahan otot-otot wajah pada sisi kiri yang mengakibatkan adanya keterbatasan fungsi yang melibatkan otot-otot wajah.
  4. 4. 41.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti Menambah wawasan bagi penulis khususnya dalam penelitan tentang Penatalaksanaan Bell’s Palsy dengan modalitas Electrical Stimulation dan Massage. . 1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di perpustakaan atau sebagai bahan referensi berkaitan dengan kondisi Bell’s Palsy dengan modalitas Electrical Stimulation dan Massage.. 1.5.3 Bagi masyarakat Dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien, keluarga, masyarakat sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran Bell’s Palsy dan fisioterapi dapat mengatasinya dengan modalitas Electrical Stimulation dan Massage.
  5. 5. 5 BAB II KAJIAN TEORITIS2.1 Bell’s Palsy 2.1.1 Definisi Bell’s palsy adalah suatu kelumpuhan facialis perifer akibat proses non supuratif, non neoplasmatik, non degeneratif primer tetapi sangat dimungkinkan akibat dari adanya oedema jinak pada bagian nervus facialis di foramen stilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramen stilomastoideus, yang mulainya akut dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan (Sidharta, 1999). Bell’s Palsy adalah suatu kelumpuhan akut nervus facialis perifer yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Penyakit ini biasanya hanya mengenai satu sisi wajah (unilateral), tetapi dapat pula mengenai kedua sisi wajah yang sehat dengan bilateral Bell’s Palsy ( Jimmi Sabirin, 1996). Istilah Bell’s Palsy (kelumpuhan bell) biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus facialis jenis perifer yang timbul secara akut, yang penyebabnya belum diketahui, tanpa adanya kelainan neurologik lain. Pada sebagian besar penderita Bell’s Palsy kelumpuhannya akan sembuh, namun pada beberapa diantara mereka kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa (Lumbantobing, 2006).
  6. 6. 62.1.2 Etiologi Menurut etiologi artinya ilmu tentang penyebab penyakit (Dachlan,2001). Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang penyebab Bell’s Palsy antara lain sebagai berikut: 1. Teori Infeksi Virus Herpes Zoster Salah satu penyebab munculnya Bell’s Palsy adalah karena adanya infeksi virus herpes zoster. Herpes zoster hidup didalam jaringan saraf. Apabila radang herpes zoster ini menyerang ganglion genikulatum, maka dapat melibatkan paralisis pada otot-otot wajah sesuai area persarafannya. Jenis herpes zoster yang menyebabkan kelemahan pada otot-otot wajah ini sering dikenal dengan Sindroma Ramsay-Hunt atau Bell’s Palsy (Duus Peter, 1996). 2. Teori Iskemia Vaskuler Menurut teori ini, terjadinya gangguan sirkulasi darah di kanalis falopii, secara tidak langsung menimbulkan paralisis pada nervus facialis. Kerusakan yang ditimbulkan berasal dari tekanan saraf perifer terutama berhubungan dengan oklusi dari pembuluh darah yang mengaliri saraf tersebut, bukan akibat dari tekanan langsung pada sarafnya. Kemungkinan terdapat respon simpatis yang berlebihan sehingga terjadi spasme arterioral atau statis vena pada bagian bawah dari canalis fasialis, sehingga menimbulkan oedema sekunder yang
  7. 7. 7 selanjutnya menambah kompresi terhadap suplai darah, menambah iskemia dan menjadikan parese nervus facialis (Esslen, 1970). 3. Teori herediter Teori herediter mengemukakan bahwa Bell’s Palsy yang disebabkan karena faktor herediter berhubungan dengan kelainan anatomis pada canalis facialis yang bersifat menurun (Hamid, 1991). 4. Pengaruh udara dingin Udara dingin menyebabkan lapisan endotelium dari pembuluh darah leher atau telinga rusak, sehingga terjadi proses transdusi (proses mengubah dari suatu bentuk kebentuk lain) dan mengakibatkan foramen stilomastoideus bengkak. Nervus facialis yang melewati daerah tersebut terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang menyebabkan otot-otot wajah mengalami kelemahan atau lumpuh.2.1.3 Patofisiologi Patologi berarti ilmu tentang penyakit, menyangkut penyebab dan sifat penyakit tersebut. Patologi yang akan dibicarakan adalah mengenai pengaruh udara dingin yang menyebabkan Bell’s Palsy (Dachlan, 2001) Udara dingin menyebabkan lapisan endotelium dari pembuluh darah leher atau telinga rusak, sehingga terjadi proses transdusi dan mengakibatkan foramen stilomastoideus bengkak. Nervus facialis yang melewati daerah
  8. 8. 8 tersebut terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang menyebabkan otot-otot wajah mengalami kelemahan atau kelumpuhan.2.1.4 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala motorik yang dijumpai pada pasien Bell’s Palsy adalah: adanya kelemahan otot pada satu sisi wajah yang dapat dilihat saat pasien kesulitan melakukan gerakan-gerakan volunter seperti, (saat gerakan aktif maupun pasif) tidak dapat mengangkat alis dan menutup mata, sudut mulut tertarik ke sisi wajah yang sehat (mulut mencong), sulit mecucu atau bersiul, sulit mengembangkan cuping hidung, dan otot-otot yang terkena yaitu m. frontalis, m. orbicularis oculi, m. orbicularis oris, m. zygomaticus dan m. nasalis. Selain tanda-tanda motorik, terjadi gangguan pengecap rasa manis, asam dan asin pada ⅔ lidah bagian anterior, sebagian pasien mengalami mati rasa atau merasakan tebal-tebal di wajahnya. Tanda dan gejala klinis pada Bell’s Palsy menurut (Chusid ,1983) adalah: a) Lesi diluar foramen stilomastoideus : Muncul tanda dan gejala sebagai berikut : mulut tertarik ke sisi mulut yang sehat, makanan terkumpul di antara gigi dan gusi, sensasi dalam pada wajah menghilang, tidak ada lipatan dahi dan apabila mata pada sisi lesi tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus-menerus.
  9. 9. 9b) Lesi di canalis facialis dan mengenai nervus korda timpani : Tanda dan gejala sama seperti penjelasan pada poin diatas, ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah ⅔ bagian anterior dan salivasi di sisi lesi berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnnya nervus intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan nervus facialis di canalis facialis.c) Lesi yang tinggi dalam canalis facialis dan mengenai muskulus stapedius : Tanda dan gejala seperti penjelasan pada kedua poin diatas, ditambah dengan adanya hiperakusis (pendengaran yang sangat tajam).d) Lesi yang mengenai ganglion genikuli : Tanda dan gejala seperti penjelasan pada ketiga poin diatas, disertai dengan nyeri dibelakang dan didalam liang telinga dan dibelakang telinga.e) Lesi di meatus akustikus internus : Tanda dan Gejala sama seperti kerusakan pada ganglion genikuli, hanya saja disertai dengan timbulnya tuli sebagai akibat terlibatnya nervus vestibulocochlearis.
  10. 10. 10 f) Lesi di tempat keluarnya nervus facialis dari pons : Tanda dan gejala sama seperti di atas disertai tanda dan gejala terlibatnya nervus trigeminus, nervus abducens, nervus vestibulococlearis, nervus accessorius dan nervus hypoglossus.2.1.5 Komplikasi Komplikasi atau complication berarti penyakit yang timbul kemudian sebagai tambahan pada penyakit yang sudah ada (Dachlan, 2001). Komplikasi yang muncul pada pasien Bell’s Palsy merupakan kumpulan gejala sisa paska terjadinya kelemahan otot-otot wajah. Lumbantobing (2006) menjelaskan bahwa beberapa di antara penderita Bell’s Palsy, kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa yang berupa kontraktur, sinkenesis dan spasme spontan. Kontraktur terlihat jelas saat otot wajah berkontraksi yang ditandai dengan lebih dalamnya lipatan nasolabial dan alis mata lebih rendah dibandingkan sisi yang sehat. Sinkenesis (assosiated movement) dapat terjadi karena kesalahan proses regenerasi sehingga menimbulkan gerakan otot wajah yang berasosiasi dengan gerakan otot lain. Misalnya saat mata ditutup, sudut mulut ikut terangkat. Sedangkan spasme spontan pada otot wajah terjadi bila pasien Bell’s Palsy mengalami penyembuhan yang inkomplit. Otot-otot wajah bergerak secara spontan, tidak terkendali. Hal ini disebut juga tic fasialis.
  11. 11. 11 Gejala sisa yang ditimbulkan paska serangan Bell’s Palsy yaitu sindromaair mata buaya (crocodile tears syndrome) yang merupakan kesalahanregenerasi saraf salivarius menuju ke glandula lakrimalais. Manifestasinyaberupa keluarnya air mata pada sisi lesi saat pasien makan (Djamil, 2003).
  12. 12. 122.2 Anatomi dan Fisiologi 2.2.1 Anatomi Nervus Facialis Nervus Facialis terdiri dari dua nucleus motoris di batang otak, yang terdiri dari: (1) Nucleus Motorik Superior yang bertugas menerima impuls dari gyrus presentralis kortek serebri kedua belah sisi kanan-kiri dan mengirim serabut-serabut saraf ke otot-otot mimik di dahi dan orbikularis occuli. (2) Nucleus Motoris Inferior yang bertugas menerima impuls hanya dari gyrus presentralis dari sisi yang berlawanan dan mengirim serabut- serabut saraf ke otot-otot mimik bagian bawah dan platisma (Chusid, 1983). Serabut-serabut nervus facialis didalam batang otak berjalan melingkari nucleus nervus abducens sehingga lesi di daerah ini juga diikuti dengan kelumpuhan nervus abducens. Setelah keluar dari batang otak, nervus facialis berjalan bersama nervus intermedius yang bersifat sensoris dan sekretorik. Selanjutnya berjalan berdekatan dengan nervus oktavus bersama-sama masuk ke dalam canalis austikus internus dan berjalan ke arah lateral, masuk ke canalis falopii (pars petrosa). Kemudian nervus facialis masuk ke dalam cavum timpani setelah membentuk ganglion genikulatum. Di dalam cavum timpani nervus facialis membelok tajam ke arah posterior dan horizontal (pars timpani). Saraf ini berjalan tepat di atas foramen ovale, kemudian membelok tegak lurus ke bawah (genu eksternum) di dalam canalis falopii pars
  13. 13. 13mastoidea. Bagian saraf yang berada didalam canalis falopii pars timpanidisebut nervus facialis pars horizontalis, sedang yang berjalan didalam parsmastoidea disebut nervus facialis pars vertikalis atau desenden. Saraf inikeluar dari tulang tengkorak melalui foramen stylomastoideus. Setelah keluardari foramen stylomastoideus, syaraf ini bercabang-cabang dan berjalan diantara lobus superfisialis dan profundus glandula parotis dan berakhir padaotot-otot mimik di wajah.Dalam perjalanan nervus facialis memberikan cabang : 1) Dari ganglion genikulatum mengirimkan serabut saraf melalui ganglion sfenopalatinum sebagai saraf petrosus superfisialis mayor yang akan menuju glandula lakrimalis. 2) Cabang lain dari ganglion genikulatum adalah saraf petrosus superficialis minor yang melalui ganglion otikum membawa serabut sekreto-motorik ke kelenjar parotis. 3) Dari nervus facialis pars vertikalis, memberikan cabang-cabang : a) Saraf stapedius yang mensarafi m.stapedius. Kelumpuhan saraf ini menyebabkan hiperakusis. b) Saraf korda timpani yang menuju ⅔ lidah bagian depan dan berfungsi sensorik untuk perasaan lidah (rasa asam, asin dan manis). Selain itu saraf korda timpani juga mempunyai serabut
  14. 14. 14 yang bersifat sekreto-motorik yang menuju ke kelenjar liur submaksilaris dan sublingualis (Chusid, 1983)Perjalanan nervus facialis dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Gambar 2.1 Perjalanan nervus facialis (Putz dan Pabst, 2006)
  15. 15. 152.2.2 Otot-Otot Wajah Otot-otot pada wajah berserta fungsinya masing-masing dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.1 Otot-Otot Wajah Beserta Fungsinya No Nama Otot Fungsi Persarafan 1 M.Frontalis Mengangkat alis N. Temporalis 2 M.Corrugator Mendekatkan kedua N. Zigomatikum dan supercili pangkal alis N.Temporalis 3 M.Procerus Mengerutkan kulit antara N. Zigomatikum, kedua alis N.Temporalis, N. Buccal 4 M. Orbicularis Menutup kelopak mata N.Fasialis, Oculli N.Temporalis, N. Zigomatikus 5 M. Nasalis Mengembang N. Fasialis Kan cuping hidung
  16. 16. 166 M. Depresor anguli Menarik ujung mulut ke N. Fasialis oris bawah7 M. Zigomaticum Tersenyum N. Fasialis mayor dan M. Zigomatikum minor8 M. Orbicularis oris Bersiul N. Fasialis N. Zigomatikum9 M. Buccinator Meniup sambil menutup N. Fasialis, mulut N. Zigomatikum, N. Mandibular, N. Buccal10 M. Mentalis Mengangkat dagu N. Fasialis dan N. Buccal11 M. Platysma Meregangkan kulit leher N. Fasialis
  17. 17. 17Sedangkan gambar otot-otot wajah dari lateral dapat dilihat pada gambar 2. 3dibawah ini: Gambar 2.2 Otot – otot wajah dilihat dari lateral (Putz dan Pabst, 2006
  18. 18. 18Keterangan Gambar 2.2 1. M.Frontalis 7. M. Zygomaticum mayor 2. M.Corrugator supercili 8. M.Zygomaticum minor 3. M.Procerus 9. M.Orbicularis oris 4. M.Orbicularis oculi 10. M.Buccinator 5. M.Nasalis 11. M.Mentalis 6. M.Depresor anguli oris 12. M.Platysma 2.2.3 Metode dan Teknik Intervensi Fisioterapi Modalitas yang dipilih untuk mengurangi problematika fisioterapi pada kasus Bell’s Palsy karena pengaruh udara dingin Electrical Stimulation dan Massage. 1. Electrical Stimulation dengan Arus Faradik a. Definisi Arus faradik adalah arus listrik bolak-balik yang tidak simetris yang mempunyai durasi 0.01-1 ms dengan frekuensi 50- 100 cy/detik (Akademi Fisioterapi Surakarta, 1998). b. Fisika dasar arus faradik Istilah faradik mula-mula digunakan untuk arus yang keluar dari faradik coil, suatu induction coil. Arus ini merupakan bolak-balik yang tidak simetris. Tiap cycle terdiri dari dua fase yang tidak sama. Fase pertama dengan intensitas rendah dan
  19. 19. 19 durasi panjang, sedang fase kedua intensitas tinggi dan durasi pendek. Berfrekwensi sekitar 50 cycle/detik. Durasi fase kedua sekitar 1 milisecond (0,001 detik).c. Modifikasi Arus faradik pada umumnya dimodifikasi dalam bentuk surged atau interupted (terputus-putus). Bentuk surged faradik dapat diperoleh dari mesin-mesin modern. Pengontrol durasi surged sebaiknya terpisah dengan pengontrol interval sehingga diperoleh kontraksi yang efektif dari masing-masing penderita. Bentuk – bentuk surged juga bermacam-macam antara lain trapezoid, trianguler, saw tooth dan sebagainya.d. Efek fisiologis Efek fisiologis terhadap sensoris akan menimbulkan rasa tertusuk halus dan efek vasodilatasi dangkal, sedangkan efek terhadap motorik adalah kontraksi tetanik yang akan lebih mudah menimbulkan kontraksi. Arus faradik lebih enak bagi pasien karena durasinya pendek.e. Efek terapeutik (1) Fasilitasi kontraksi otot. Apabila otot mengalami kesulitan untuk mengadakan kontraksi, stimulasi elektris dapat
  20. 20. 20 membantunya terutama kontraksi otot yang terhambat oleh nyeri atau injury yang baru, dimana stimulasi dapat memberikan fasilitas lewat mekanisme muscle spindel.(2) Mendidik kembali kerja otot Stimulasi faradik diberikan untuk mendapatkan kontraksi dan membantu memperbaiki perasaan gerak. Otot hanya mengenal gerak, sehingga stimulasi diberikan untuk menimbulkan gerakan yang normal. Stimulasi ini merupakan permulaan latihan-latihan aktif.(3) Melatih otot-otot yang paralysis Pada kasus saraf perifer, impuls dari otak tidak sampai pada otot yang disarafi. Akibatnya kontraksi voluntari hilang. Apabila saraf belum mengalami degenerasi, stimulasi dengan arus faradik disebelah distal kerusakan akan menimbulkan kontraksi. Dengan demikian stimulasi dengan arus faradik dapat digunakan untuk melatih otot-otot yang paralisis.(4) Penguatan dan hypertrofi otot-otot Untuk mendapatkan penguatan dan hypertrofi, otot perlu berkontraksi dalam jumlah yang cukup serta beban (tahanan). Kelenturan-kelenturan tersebut harus dipenuhi bila stimulasi dimaksudkan untuk penguatan. Apabila suatu otot sangat lemah berat dari bagian tubuh yang
  21. 21. 21 bergerak memberikan cukup beban. Dalam hal ini stimulasi dapat meningkatkan kekuatan otot. (5) Memperbaiki aliran darah dan lymfe Aliran darah dapat dipelancar oleh adanya pemompaan dari otot yang berkontraksi dan relaksasi. Efek yang ditimbulkan akan diperoleh secara maksimal dengan menggunakan arus faradik. (6) Mencegah dan melepaskan perlengketan jaringan Apabila terjadi offusi kedalam jaringan maka perlengketan jaringan akan mudah terjadi. Perlengketan tersebut dapat dicegah dengan selalu mengerakan struktur- struktur didaerah tersebut. Jika latihan latihan-latihan aktif tidak dimungkinkan, stimulation electrical dapat diberikan. Perlengketan yang telah terjadi dapat dibebankan dan diulur dengan kontraksi otot (Akademi Fisioterapi Surakarta, 1998).f) Metode pelaksanaan arus faradik (1) Stimulasi secara group Pada metode ini semua otot dari suatu group otot berkontraksi bersama. Satu elektrode dipasang pada nerve trunk atau daerah origo, sedangkan satu lagi dipasang pada daerah motor point atau ujung dari muscle belly. Semua
  22. 22. 22 otot dari grup otot berkontraksi bersama sehingga sangat efektif untuk mendidik otot yang bekerja secara group. (2) Stimulasi motor point Keuntungan menggunakan metode motor point adalah masing-masing otot berkontraksi sendiri-sendiri dan kontraksinya optimal. Sedangkan kerugian metode ini ialah apabila otot yang dirangsang banyak, maka sulit untuk mendapatkan jumlah kontraksi yang cukup untuk masing-masing otot.2. Massage a. Definisi Massage adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu manipulasi yang dilakukan dengan tangan yang ditujukan pada jaringan lunak tubuh, untuk tujuan mendapatkan efek baik pada jaringan saraf, otot, maupun sirkulasi (Gertrude, 1952). b. Teknik-teknik massage Ada beberapa teknik massage, seperti: stroking, effleurage, petrissage, kneading, finger kneading, picking up, tapping, friction dan tapotemen (hacking, claping, beating, pounding). Pada kasus Bell’s Palsy teknik massage yang
  23. 23. 23diberikan yaitu stroking, effleurage, finger kneading dantapping. Stroking atau gosokan ringan adalah manipulasi yangringan dan halus dengan menggunakan seluruh permukaantangan satu atau permukaan kedua belah tangan dan arahgerakannya tidak tentu. Efek stroking adalah penenangan danmengurangi rasa nyeri. (Tappan, 1988) Effleurage adalah manipulasi gosokan dengan penekananyang ringan dan halus dengan menggunakan seluruh permukaantangan, sebaiknya diberikan dari dagu ke atas ke pelipis dan daritengah dahi turun ke bawah menuju ke telinga. Ini harusdikerjakan secara gentle dan menimbulkan rangsangan padaotot-otot wajah. Efek dari effleurage adalah membantupertukaran zat-zat dengan mempercepat peredaran darah danlimfe yang letaknya dangkal, menghambat proses peradangan. Finger kneading adalah pijatan yang dilakukan denganjari-jari dengan cara memberikan tekanan dan gerakanmelingkar, diberikan ke seluruh otot wajah yang terkena lesidengan arah gerakan menuju ke telinga. Efek dari fingerkneading adalah memperbaiki peredaran darah dan memeliharatonus otot.
  24. 24. 24 Tapping adalah manipulasi yang diberikan dengan tepukan yang ritmis dengan kekuatan tertentu, untuk daerah wajah dilakukan dengan ujung-ujung jari. Efek dari tapping adalah merangsang jaringan dan otot untuk berkontraksi.c. Aplikasi massage Pemberian massage wajah pada kondisi Bell’s Palsy bertujuan untuk mencegah terjadinya perlengketan jaringan dengan cara memberikan penguluran pada jaringan yang superfisial yakni otot-otot wajah. Dengan pemberian massage wajah ini akan terjadi peningkatan vaskularisasi dengan mekanisme pumping action pada vena sehingga memperlancar sirkulasi darah dan limfe. Efek rileksasi dapat dicapai dan elastisitas otot dapat tetap terpelihara serta mencegah timbulnya perlengketan jaringan dan kontraktur otot dapat dicegah (Douglas, 1902). Massage dilakukan selama 5-10 menit, 2-3 kali sehari. Massage ini membantu mempertahankan tonus otot wajah agar tidak kaku (Chusid 1983).
  25. 25. 25Gerakan massage dapat diamati dari gambar berikut ini : Gambar 2.5 Arah gerakan Massage pada wajah (Maxwell,1987).d. Indikasi Massage Beberapa kondisi yang merupakan indikasi pemberian massage, antara lain: spasme otot, nyeri, oedema, kasus-kasus perlengketan jaringan, kelemahan otot jaringan, dan kasus- kasus kontraktur.e. Kontra Indikasi Massage Masssage tidak selalu dapat diberikan pada semua kasus, ada beberapa kondisi yang merupakan kontra indikasi pemberian massage, yaitu: darah yang mengalami infeksi, penyakit-penyakit dengan ganguan sirkulasi, seperti: tromboplebitis, arteriosclerosis berat, adanya tumor ganas, daerah peradangan akut, jerawat akut,sakit gigi, dan luka bakar.
  26. 26. 262.3 Konsep Kerangka Berfikir Bell’s palsy adalah sebuah kelainan dan ganguan neurologi pada nervus cranialis VII (saraf facialis) di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Paralyse Bell ini hampir selalu terjadi unilateral, namun demikian dalam jarak satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh, yang menyebabkaan kelemahan atau paralisis, ketidak simetrisan kekuatan/aktivitas muscular pada kedua sisi wajah (kanan dan kiri), serta distorsi wajah yang khas. Hal ini sangat menyiksa diri karena membuat orang menjadi kurang percaya diri. Wajah kelihatan tidak cantik karena mulut mencong, mata tidak bisa berkedip, mata berair, dll (Attaufiq,2011). Evaluasi dari pemberian modalitas Electrical Stimulation arus Faradik diharapkan dapat menimbulkan kontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerak yang normal serta bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot. Pada kasus Bell’s Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk menimbulkan kontraksi otot. Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya. Massage diberikan dengan tujuan memberikan penguluran pada otot-otot wajah yang letaknya superfisial sehingga perlengketan jaringan dapat dicegah,
  27. 27. 27selain itu memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah.Stroking memiliki efek penenangan dan dapat mengurangi nyeri, Efflurage dapatmembantu pertukaran zat-zat dan melancarkan metabolisme denganmempercepat peredaran darah, Finger Kneading berfungsi untuk memperbaikiperedaran darah dan memelihara tonus otot. Sedangkan tapping dengan ujung jaridapat merangsang jaringan otot untuk berkontraksi. Dengan massage tersebutmaka efek relaksasi dapat dicapai dan elastisitas otot tetap terjaga dan potensialtimbulnya perlengketan jaringan pada kondisi Bell’s Palsy ini dapat dicegah.
  28. 28. 282.4 Skema Kerangka Berpikir Bell’s Palsy Etiologi tidak diketahui jelas Faktor Intrinsik Faktor Ekstrinsik Ischemic Vaskuler Virus Herpes Zoster Herediter Paparan udara dingin Permasalahan kapasitas fisik Penurunan kekuatan otot Gangguan sensorik (paralysis Potensial terjadinya atrofi pada otot wajah sisi kiri Potensial terjadinya spasme otot pada sisi wajah kanan (sehat) Permasalahan keterbatasan fungsi mata kiri tidak bisa menutup rapat, berkumur dan minum mengalami kebocoran, makanan cenderung mengumpul disisi kiri saat mengunyah Electrical Stimulasi Evaluasi MMT Skala Ugo Fisch Massage Hasil Meningkatkan kekuatan otot Mencegah spasme otot Memperbaiki ganggaun sensorik Memperbaiki kosmetika
  29. 29. 29 III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian pada pasien Bell’s Palsy sebelah Sinistra dilakukan di RSUP Bukittinggi. 3.1.2 Waktu Waktu penelitian studi kasus ini dilaksanakan pada 18 desember 2012.3.2 Rancangan Studi Kasus Pada penelititan ini metode yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal disini berarti mengambil satu sampel yang di analisa secara mendalam baik dari segi keadaan kasus, faktor penyebab, kejadian yang berhubungan dengan kasus serta tindakannya (Notoadnodjo). Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang di teliti. Pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa agar diperoleh sampel yang benar-benar dapat berfungsi sebagai gambaran keadaan populasi yang sebenarnya. Dengan demikian sampel harus refresentatif (Ari Kunto, 2002). Sampel dalam studi kasus ini adalah satu orang dengan karakteristik dari keseluruhan pasien yang menderita Bell’s Palsy. Teknik ini diambil dengan
  30. 30. 30 alasan memperluas ruang lingkup penelitian serta ingin mendapatkan hasil yang lebih akurat, sehingga hanya mengambil sampel dengan jumlah yang lebih kecil. Penelitian ini dilakukan sebanyak 6 kali tindakan terapi dengan menggunakan modalitas Electrical Stimulation dan Massage dan harapannya adalah dapat memperbaiki kosmetika dan meningkatkan kekuatan otot-otot wajah.3.3 Uraian Studi Kasus Tindakan pemeriksaan untuk kondisi Bell’s Palsy disamping informasi dari bagian medik, terapi juga membutuhkan informasi dari pasien untuk dapat mengetahui pencetus Bell’s Palsy sehingga akan memudahkan dalam penanganan. Data yang dapat dikumpulkan untuk menegakkan diagnosis diperoleh melalui : 3.3.1 Anamnesis Anamnesis merupakan pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan sumber data. Dengan anamnesis dapat diperoleh data-data yang dibutuhkan dalam menentukan diagnosa dan terapi latihan yang akan diberikan. Anamnesis dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : a. Autoanamnesis adalah anamnesis yang dilakuakn lagsung kepada pasien yang bersangkutan. b. Heteroanamnesis adalah anamnesis yang dilakukan kepada orang lain, dilakukan jika sulit melakukan anamnesis langsung kepada pasien. Anamnesis dapat diklasifikasikan menjadi anamnesis umum dan anamnesis khusus.
  31. 31. 311. Anamnesis umum Anamnesis umum berisi tentang identitas pasien secara lengkap. Dalam anamnesis ditemukan data seperti (1) nama, (2) umur, (3) jenis kelamin, (4) agama, (5) pekerjaan, (6) alamat. Data yang diperoleh akan digunakan untuk tujuan terapi akhir yang diprogramkan dan disesuaikan dengan kegiatan keseharian dari pasien. 1) Keluhan Utama Keluhan utama merupakan satu atau lebih gejala dominan yang mendororng pasien mencari pertolongan atau pengobatan. 2) Riwayat Penyakit Sekarang Adalah pertanyaan yang mewakili keadaan pasien sekarang mulai dari awal kejadian penyakit, hal-hal yang dirasakan pasien saat awal kejadian penyakit sampai pasien tersebut mencari pengobatan. Adapun keluhan utama pada pasien dengan Bell’s Palsy, yaitu rasa kaku atau tebal di satu sisi wajah dan sulit menggerakkan otot-otot wajah. 3) Riwayat Penyakit Dahulu Adalah pertanyaan yang diarahkan kepada penyakit- penyakit yang berkaitan dengan munculnya penyakit atau keluhan sekarang (Mardiman, 1994).
  32. 32. 32 4) Riwayat pribadi Riwayat pribadi adalah hal-hal atau kegiatan sehari- hari yang dilakukan pasien menyangkut hobi atau kebiasaan yang berkaitan dengan penyebab bell’s palsy. 5) Riwayat penyakit keluarga Riwayat keluarga adalah penyakit-penyakit yang bersifat menurun dari orang tua atau keluarga yang lain (Heredo Familial), yang berhubungan dengan bell’s palsy. 2. Anamnesis khusus Anamnesis khusus merupakan data informasi tentang keluhan utama pasien, dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang belum diungkapkan penderita dan untuk melengkapi anamnesis yang belum tercakup diatas, antara lain: kepala dan leher, Kardiovaskuler, Respirasi, Gastrointestinal, Urogenitalis, Muskuloskeletal, Nervorum.3.3.2 Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien meliputi pemeriksaan Vital Sign, Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi, Pemeriksaan Gerak, serta Kemampuan Fungsional dan lingkungan aktivitas. a. Pemeriksaan Vital Sign Tanda-tanda vital terdiri dari (1) tekanan darah, (2) denyut nadi, (3) pernapasan, (4) temperatur. Data tersebut
  33. 33. 33 digunakan untuk mengetahui apakah ada hipertensi, hipotensi, tacikardi, obesitas dan sebagainya.b. Inspeksi Inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Ada dua macam yaitu inspeksi statis dan inspeksi dinamis. 1) Inspeksi statis adalah inspeksi dimana pasien dalam keadaan diam. 2) inspeksi dinamis adalah inspeksi dimana pasien dalam keadaan bergerak.c. Palpasi Palpasi adalah suatu pemeriksaan yang secara langsung kontak dengan pasien, dengan meraba, menekan, dan memegang bagian tubuh pasien untuk mengetahui nyeri tekan dan suhu.d. Perkusi Perkusi adalah cara pemeriksaan dengan jalan mengetuk/vibrasi, seperti mengetuk untuk mengetahui keadaan suatu rongga pada bagian tubuh tertentu.e. Auskultasi Auskultasi adalah cara pemeriksaan dengan menggunakan indera pendengaran, biasanya menggunakan alat bantu stetoskop untuk mengetahui Ronki,denyut jantung
  34. 34. 34f. Pemeriksaan Gerak Meliputi pemeriksaan gerak aktif, pasif, isometrik melawan tahanan. Pada pemeriksaan gerak aktif yang diperiksa adalah sisi yang lemah, meliputi kemampuan mengerutkan dahi, bersiul, tersenyum dan menutup mata. Pada pemeriksaan gerak pasif yang diperiksa adalah sisi wajah yang sakit, yaitu menutup mata, mengerutkan dahi dan tersenyum. Pada pemeriksaan gerak pasif yang dilakukan pada sisi yang lesi atau kanan gerakan mengerutkan dahi, mendekatkan kedua alis, mencucu,bersiul, menutup mata, mengkerutkan hidung ke atas, dan tersenyum.g. Kemampuan aktivitas fungsional Kemampuan fungsional yaitu kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sedangkan lingkungan aktivitas adalah keadaan lingkungan sekitar yang berhubungan dengan kondisi pasien.h. Pemeriksaan kognitif, intrapersonal dan interpersonal. 1) Kognitif merupakan pengetahuan seseorang atau perilaku manusia yang dikaitkan dengan susunan saraf otak. Kognitif meliputi komponen atensi, konsentrasi, memori pemecahan masalah, pengambilan sikap dan perilaku, orientasi ruang dan waktu. 2) Intrapersonal adalah kemampuan pasien dalam memahami keadaan dirinya, motivasi dirinya.
  35. 35. 35 3) interpersonal adalah kemampuan bagaimana berhubungan dengan orang lain disekitarnya.2. Pemeriksaan spesifik Selain pemeriksaan gerak diperlukan juga diperlukan pemeriksaan spesifik untuk lebih memperjelas permasalahan yang dihadapi. Untuk kasus ini pemeriksaan spesifik yang dilaksanakan berupa : Tanda bell, skala “Ugo Fisch” dan penilaian kekuatan otot wajah dengan menggunakan skala “Daniel’s and Worthingham Manual Muscle Testing”. 1) Tanda Bell’s Tanda bell yang terlihat pada pasien yaitu saat mengkerutkan dahi, lipatan kulit dahi hanya terlihat pada sisi lesi, dan saat memejamkan mata, bola mata masih terlihat sedikit pada sisi yang sehat. 2) Ugo Fisch scale Ugo Fisch scale bertujuan untuk pemeriksaan fungsi motorik dan mengevaluasi kemajuan motorik otot wajah pada penderita bell’s palsy. Penilaian dilakukan pada 5 posisi, yaitu saat istirahat, mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum, dan bersiul. Pada tersebut dinilai simetris atau tidaknya antara sisi sakit dengan sisi yang sehat. (Lumbantobing 2006)
  36. 36. 36 Ada 4 penilaian dalam % untuk posisi tersebut antara lain : a) 0 % (zero) : Asimetris Komplit, tidak ada gerakan volunter sama sekali. b) 30 % (poor) : Simetris ringan, kesembuhan cenderung ke asimetris, ada gerakan volunter. c) 70 % (fair) : Simetris sedang, kesembuhan cenderung normal. d) 100 % (normal) : Simetris komplit (normal). Angka prosentase masing-masing posisi harus dirubah menjadiscore dengan kriteria sebagai berikut : 1) Saat istirahat : 20 point 2) Mengerutkan dahi : 10 point 3) Menutup mata : 30 point 4) Tersenyum : 30 point 5) Bersiul : 10 point Pada keadaan normal untuk jumlah kelima posisi wajahadalah 100 point. Hasil penilaian itu diperoleh dari penilaian angkaprosentase dikalikan dengan masing-masing point. Nilai akhirnyaadalah jumlah dari 5 aspek penilaian tersebut.
  37. 37. 37 3) Manual Muscle Testing (MMT) otot-otot wajah Untuk menilai kekuatan otot fasialis yang mengalami paralisis digunakan skala Daniel and Worthinghom’s Manual Muscle Testing, Yaitu : a) Nilai 0 (zero) : Tidak ada kontraksi yang tampak b) Nilai 1 (trace) : Kontraksi minimal c) Nilai 3 (fair) : Kontraksi sampai dengan simetris sisi normal dengan maksimal d) Nilai 5 (normal) : Kontraksi penuh, terkontrol dan simetris.3.3.3 Problem Fisioterapi Permasalahan atau problem fisioterapi yang ditemukan pada kondisi Bell’s Palsy pada umumnya adalah rasa tebal pada wajah dan kesulitan menggerakkan otot-otot wajah.3.3.4 Diagnosis Fisioterapi Diagnosis Fisioterapi dapat ditegakkan melalui anamnesis yang meliputi gangguan gerak dan fungsi, gerakan pencetus, jaringan atau organ yang terkena dan disebabkan oleh patologi.
  38. 38. 383.3.5 Intervensi Fisioterapi Untuk mengatasi masalah yang muncul pada kondisi Bell’s Palsy maka dipilih modalitas terapi Electrical Stimulation dan Massage. 1. Teknologi Alternatif : a. IR (Infra Red) b. SWD (Short Wave Diathermy) c. MWD (Micro Wave Diathermy) d. US (Ultra Sound), Massage, ES (Electricel Stimulation) 2. Teknologi Yang Dilaksanakan : a. Massage Wajah Massage diberikan dengan tujuan memberikan penguluran pada otot-otot wajah yang letaknya superfisial sehingga perlengketan jaringan dapat dicegah, selain itu memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah. Stroking memiliki efek penenangan dan dapat mengurangi nyeri, Efflurage dapat membantu pertukaran zat-zat dan melancarkan metabolisme dengan mempercepat peredaran darah, Finger Kneading berfungsi untuk memperbaiki peredaran darah dan memelihara tonus otot. Sedangkan tapping dengan ujung jari dapat merangsang jaringan otot untuk berkontraksi. Dengan massage tersebut maka efek relaksasi dapat dicapai dan elastisitas otot tetap terjaga dan potensial timbulnya
  39. 39. 39 perlengketan jaringan pada kondisi Bell’s Palsy ini dapat dicegah. b. Electrical Stimulation (ES) arus Faradik Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkan kontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerak yang normal serta bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot. Pada kasus Bell’s Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk menimbulkan kontraksi otot. Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya.3.3.6 Tujuan Pelaksanaan Fisioterapi Tujuan hasil pelaksanaan fisioterapi adalah hasil yang ingin dicapai dengan pelayanan fisioterapi pada pasien atau klien dan direncanakan untuk mengurangi problematika yang timbul dalam diagnosa fisioterapi. Tujuan pelaksanaan terapi terbagi menjadi :
  40. 40. 40 1. Tujuan Jangka Pendek Tujuan jangka pendek berkaitan dengan keadaan pasien atau hal yang dianggap bersifat penting dalam kelangsungan hidup pasien dan penampilannya. 2. Tujuan Jangka Panjang Tujuan jangka panjang adalah hasil yang diharapkan dari kelanjutan tujuan jangka pendek dan berkesinambungan dan membutuhkan waktu yang relatif lama.3.3.7 Penatalaksanaan Fisioterapi Penatalaksanaan fisioterapi adalah layanan yang dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi. Penatalaksanaan fisioterapi harus berdasarkan rencana yang telah ditetapkan atau dengan melakukan modifikasi dosis menururt pedoman yang telah ditetapkan dalam program dengan tetap mengkomunikasikan dengan pihak-pihak terkait dan mendokumentasikan hasil dan pelaksanaan metodologi serta program, termasuk mencatat evaluasi sbelum, selama dan sesudah pelaksanaan fisioterapi dan respon dari pasien.
  41. 41. 413.3.8 Evaluasi Evaluasi pada kasus Bell’s Palsy ini diambil setelah pasien dilakukan terapi sebanyak 6 kali, yang terdiri dari : a. Evaluasi hasil intervensi terdiri dari : 1) tanggal, 2) metode, teknik dan dosis, 3) hasil pengukuran, 4) rekomendasi yang berdasarkan tentang hasil yang telah dilakukan apakah perlu perbaikan dari intervensi yang telah diberikan. b. Kesimpulan Sementara Kesimpulan Sementara berisikan tentang hasil intervensi yang di dapatkan selama 6 kali dilakukan terapi.
  42. 42. 42 BAB IV PENUTUP Pasien Bell’s palsy pada awalnya merasakan ada kelainan pada mulut yangtampak mencong ke satu sisi, salah satu kelopak mata tidak dapat dipejamkan, muluttidak dapat mencucu, apabila berkumur atau minum maka air akan tumpah melaluisalah satu sisi mulut yang lesi. Keadaan tersebut disebabkan adanya paralisis otot-otot wajah pada sisi yang sakit. Kondisi ini merupakan permasalahan yang dialamipasien sehingga peran fisioterapis diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebutdengan meningkatkan kekuatan dan kemampuan fungsional otot- otot wajah sertamencegah komplikasi lebih lanjut. Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkankontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerakyang normal serta bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot. Massage diberikan dengan tujuan memberikan penguluran pada otot-ototwajah yang letaknya superfisial sehingga perlengketan jaringan dapat dicegah, selainitu memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah. Strokingmemiliki efek penenangan dan dapat mengurangi nyeri, Efflurage dapat membantupertukaran zat-zat dan melancarkan metabolisme dengan mempercepat peredarandarah, Finger Kneading berfungsi untuk memperbaiki peredaran darah danmemelihara tonus otot. Sedangkan tapping dengan ujung jari dapat merangsangjaringan otot untuk berkontraksi. Dengan massage tersebut maka efek relaksasi dapatdicapai dan elastisitas otot tetap terjaga dan potensial timbulnya perlengketanjaringan pada kondisi Bell’s Palsy ini dapat dicegah.

×