Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kumpulan Pantun, Puisi, dan Syair Fajar Sany: Agustus 2015

4,947 views

Published on

Kumpulan pantun, puisi, dan syair buatan saya edisi Agustus 2015.

Published in: Entertainment & Humor
  • Dating direct: ❤❤❤ http://bit.ly/36cXjBY ❤❤❤
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Sex in your area is here: ❤❤❤ http://bit.ly/36cXjBY ❤❤❤
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

Kumpulan Pantun, Puisi, dan Syair Fajar Sany: Agustus 2015

  1. 1. KKUUMMPPUULLAANN PPAANNTTUUNN,, PPUUIISSII,, DDAANN SSYYAAIIRR FFAAJJAARR SSAANNYY AAGGUUSSTTUUSS 22001155
  2. 2. PANTUN Gak Nyangka Kamu Keren (3 Juni 2015) Dari Majalengka, Ke Pondok Aren Gak Nyangka, Kamu Keren Mandi Belerang (3 Juni 2015) Jalan-jalan ke Padalarang Jangan lupa ke rumah Agus Ada yang bilang kalo mandi belerang Bisa bikin kulit bagus Meski Disampingku Ada Dian (3 Juni 2015) Sore itu aku berjalan sendirian Langit mendung dipenuhi awan Aku tak malu mengaku kesepian Meski disampingku ada Dian Bagaimana Tidak Awet Muda (3 Juni 2015) Jalan-jalan ke Belanda Jangan lupa ajak Dinda Bagaimana kita tidak awet muda Kalau hidup tanpa bercanda Dahulu dan Sekarang (15 Juni 2015) Kapur barus, anti semut Dahulu kurus, sekarang gendut Jangan Enggan Minta Maaf (15 Juni 2015) Kalau kita pernah sekolah Pastinya kita pernah disetraf Kalau kita pernah berbuat salah Jangan enggan tuk minta maaf Kamu Terus Menggerutu (15 Juni 2015) Jalan-jalan ke Cipanas Karena dipaksa oleh si Restu Bagaimana telinga tidak panas Mendengar kamu terus menggerutu
  3. 3. Jangar Sanggeus Tidagor (19 Juni 2015) Mamapahan ka Bandung Tong hilap mésér batagor Kumaha kuring teu linglung Sirah jangar sanggeus tidagor Pilih Cap Nyonya Menir (20 Juni 2015) Jalan-jalan ke Tangkuban Perahu Jangan lupa beli suvenir Kalau mau beli jamu Pilih yang cap nyonya menir Neng Meuni Imut (21 Juni 2015) Balap ucing, balap siput Teu nyangka geuning, néng téh meuni imut Sarung si Kabayan (21 Juni 2015) Bukan takhta yang kucari Bukan pula harta kekayaan Aku hanya mencari Sarungnya si Kabayan Pecinta Alam (11 Juli 2015) Malam kemarin begitu kelam Karena ada hal yang menyeramkan Buat apa ngaku pecinta alam Kalau buang sampah sembarangan Jadi Dokter (11 Juli 2015) Malam kemarin begitu kelam Karena ada hal yang menyeramkan Buat apa ngaku pecinta alam Kalau buang sampah sembarangan Agus (12 Juli 2015) Jalan-jalan ke Amerika Awas ketemu Miley Cirus Kalo ngobrol sama si Rika Jangan ungkit nama si Agus Bajaj (12 Juli 2015) Nyari jeruk di Florida Eh ketemu Nicki Minaj Lagi asyik pacaran sama si Frida Eh malah diserempet bajaj
  4. 4. Ngadat (12 Juli 2015) Kata siapa Spiderman hebat Dia juga manusia biasa Yang pastinya dia bisa ngadat Sampe mulutnya berbusa
  5. 5. PUISI Kota Setan (30 September 2008) Disana terdengar suara-suara para pembohong yang merasa tidak berdosa Penuh dengan amarah, egoisme, kebencian, kedengkian, dan kemunafikan Yang ada hanyalah kekacauan dan kekacauan Disanalah, dikota setan Akhir dari Terpesona (9 April 2009) Terpesona itu pun berakhir Kamu bukan pemikatku lagi Aku mengalihkan pandanganku darimu Aku menghapus semua perasaanku darimu Ini adalah waktu dimana tirai itu terbuka Aku tahu dengan hatiku sendiri, yang benar dan yang salah Jadi jangan paksa aku untuk berdiri bersamamu Karena aku telah mengetahui dibalik tirai tersebut Hari ini, waktu dimana aku akan mengingatnya terus Ketika terpesona padamu itu berakhir Berjalan Tanpa Arah (31 Mei 2009) Dunia ini memang kejam dan keras Tapi suka tidak suka, aku harus menghadapinya Aku tahu kalau aku selalu sendirian, ya... begitulah aku Terkadang aku merasa, kalau aku berada dalam adegan “berjalan tanpa arah” Cerita Ini Mendekati Akhirnya (31 Mei 2009) Ada banyak masa lalu yang bisa kita ingat Ada banyak kesalahan yang dapat kita perbaiki Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam kabut kegelapan Ada banyak gambaran masa depan yang dapat kita lihat Kita tidak pernah tahu akan menjadi apa kita nantinya Tapi kita harus meninggalkan sisa-sisa waktu ini Tanpa perselisihan Singa-Singa yang Mulai Meraung (7 Mei 2011) Generasi baru telah lahir Bagaikan singa-singa muda yang mulai meraung Mengejutkan hati siapapun yang mendengarnya Dengan tenaga barunya, siap menerkam semua tantangan Berbaris bersama, untuk berlari ke depan Dengan darah yang panas, penuh energi!
  6. 6. Malam Kunjungan Ulang (22 Nopember 2011) Malam itu kamu kembali lagi Dari masa lalu yang gelap Yang diselimuti kabut kebencian Wajahmu muncul sambil menyeringai Niatmu, ingin menjilati kembali semua ludah Yang telah kamu semburkan ke mukaku waktu itu Tapi ludah-ludah itu sudah kubersihkan Sekarang, kamu ingin menjilatinya sendiri untuk membersihkannya Tapi, kamu tidak mungkin melakukannya Bagaimana caranya kamu menjilati semua ludahmu dimukaku Sedangkan itu semua sudah kubersihkan? Ternyata Kamu berniat melakukan hal yang sama seperti waktu itu Meludahi mukaku lagi, tapi sekarang kamu yang membersihkannya Demi membuat kesan, seakan-akan kamu melakukan tindakan terpuji Aku kagum dengan kecerdasanmu Tapi tidak dengan tingkah lakumu Meniti Jalan Menuju Kehancuran (24 Desember 2011) Mereka merasa aman Merasa tahu masa depan, dengan menetapkannya sendiri Membuat kepastian tentang takdir Mereka melakukan dan melakukannya sesuka hati Tidak peduli dengan yang lainnya Mereka pikir, mereka adalah mereka saja Hanya mereka, tidak ada yang lain Mereka menyebarkan penyakit Penyakit yang merusakan tatanan bersama Demi tatanan mereka sendiri Mereka meninggalkan jejak yang sulit untuk lenyap Mereka mencetak sejarah yang sulit untuk hilang Semua itu mereka anggap adalah kejayaan bagi mereka Tapi mereka tidak sadar, mereka sedang menipu diri mereka sendiri Tertipu oleh hawa nafsu yang berkilauan Bagai permata di lautan Mereka sedang meniti jalan menuju kehancuran Jalan yang indah, yang melintasi alam nan biru dan hijau Menuju lubang berapi
  7. 7. Beban Berat (6 Januari 2012) Cahaya terlihat, tapi masih pudar Aku mengetuk-ngetuk kepalaku, kemudian bertanya pada diriku sendiri Apakah ini nyata? Ya ini nyata! Sebuah cahaya jelas muncul dalam pandanganku Aku segera berlari untuk mengejarnya Lari dan lari hingga kehabisan tenaga Apakah aku tolol? Tentu saja lariku lambat dan berat Beban berat mengikat kedua kakiku Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak dapat melepaskannya Aku benar-benar tidak dapat melepaskannya! Raksasa Merah (26 Juni 2012) Hampir sampai, tinggal beberapa langkah lagi Lariku ini mampu menyamai kalian Tapi... lariku melambat, terus melambat Hingga akhirnya terhenti Kalian terus berlari, lalu tersenyum padaku Dan berkata, “Kami tidak dapat berhenti berlari, maafkan kami!” Dengan sekuat tenaga Aku berusaha berlari kembali Hingga aku hanya beberapa langkah dibelakang kalian Beberapa langkah untuk menyamai kalian Namun Tiba-tiba muncul di hadapanku Sesosok raksasa merah yang mengerikan Menghalangiku dari kalian Aku mencoba melewatinya Tapi dia tetap menghalangiku Dia pun menyeringai Kemudian memakanku Mengunyahku hidup-hidup
  8. 8. Tertawa Dalam Derita (11 Januari 2013) Mengapa aku harus terus tertawa, padahal sedang menderita? Menapaki jalan menuju kehancuran Sepertinya orang-orang disampingku tahu kemana mereka diseret Tapi kenapa mereka sama sepertiku Tertawa dan terus tertawa, pura-pura tidak tahu? Kenapa mereka menyalahkan jalan yang sedang mereka tapaki Kalau mereka tahu sedang diseret menuju kehancuran? Sepertinya aku juga sama seperti mereka Yang takut kepada para penyeret itu Aku ingin melawan Tapi terlalu lemah Tidak berdaya Sehingga terpaksa Aku harus tertawa dalam derita Begitu dan begitu seterusnya Sampai entah kapan Ingatan 17 Tahun yang Lalu (20 Mei 2015) Bulan inipun tiba 17 Tahun yang lalu Dimana tragedi itu terjadi Ketika kekacauan membuat kengerian Ketika kota itu menjadi lautan api dan darah Ketika udara menjadi bau busuk, dan langit menjadi hitam Aku masih kecil saat itu Aku belum mengerti apa yang terjadi Yang aku tahu hanyalah kekacauan Yang aku tahu hanyalah kekerasan Sekali lagi, 17 tahun yang lalu Dimana tragedi itu terjadi Semuanya masih menjadi misteri Tidak ada kejelasan yang pasti Tapi yang kuharapkan saat ini adalah Semoga tragedi itu tidak terulang kembali Ingatkah Kamu? (21 Mei 2015) Ingatkah kamu ketika masih duduk di singgasana itu? Ingatkah kamu bagaimana bisa sampai kesana? Ingatkah kamu bagaimana bertahan disana sekian lamanya? Kamu berkata kalau kamu telah lupa Atau kamu pura-pura lupa?
  9. 9. Merpati Kristal (21 Mei 2015) 2 tahun sudah berlalu Bukanlah waktu yang sebentar Namun terasa seperti baru kemarin Hari dimana, kamu bahagia, bersama kawan-kawanmu Kamu kenakan seragam itu Yang tampak elegan Memancarkan karisma Yang belum pernah kulihat dan kurasakan sebelumnya Pagi itu Mentari pun menyambut Tanda Tuhan tersenyum Atas semua bakti yang telah kamu lakukan Sebuah kertas pun diberikan padamu Sebagai tanda kemenangan Tak ada yang melarangmu tuk menari-nari Tapi kamu tidak melakukannya Kamu tahu etikanya Ohaya... aku tahu hari itu adalah hari yang sangat bahagia Ohaya... aku tahu hari itu seakan udara sejuk dan mentari akan terus ada Ohaya... aku tahu kamu pasti merindukanku Mengharap aku berada di sampingmu Tapi takdirnya Hari itu aku tidak bisa hadir Aku sangat menyesal Menyesal aku tidak bisa memberikan merpati kristal ini Sebagai ucapan selamatku padamu di hari itu Dan tanda hatiku Padamu di kehidupan ini Sekali, Kita Pernah Bersatu (22 Mei 2015) Dulu, kita pernah bersatu Membentangkan sayap, kemudian terbang tinggi ke atas awan Dulu, kita pernah bersatu Menyebarkan benih-benih cinta Dulu, kita pernah bersatu Menyuburkan tanah yang tandus Dulu, kita pernah bersatu Menebarkan senyum dan tawa untuk menghilangkan kesedihan Dulu, kita pernah bersatu Menyegarkan udara yang pengap
  10. 10. Dulu, kita pernah bersatu Dalam cita-cita, harapan, impian, kebersamaan, kreativitas, perjuangan, persahabatan, dan tekad Dan masa itupun tiba Dimana semuanya terjawab Atas semua yang telah kita lakukan Kesimpulan pun muncul Yang belum pernah aku, dia, kamu, kita, dan mereka duga Kini aku sadar, tidak ada keabadian dalam hal apapun di dunia ini Suka ataupun tidak suka Semuanya bisa berubah Ada satu hal diluar jangkauan manusia Yaitu kehendak Tuhan Jadi Semua itu telah menjadi masa lalu Sekali, kita pernah bersatu Selebrasi Keputusan (22 Mei 2015) Akhirnya Setelah 3 tahun berjalan, datanglah hari ini Hari dimana sebagian dari mereka berpesta Dan sebagian lainnya bersyukur Atas satu keputusan yang diberikan pada mereka Keputusan yang mungkin seperti hidup dan mati Patutkah mereka berpesta seakan waktu berhenti pada hari itu saja? Patutkah mereka berpesta seakan hari itu mereka menjadi pemenang kasta tertinggi? Patutkah mereka berpesta seakan semuanya merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan? Bukankah sebagai kaum yang berpendidikan Seharusnya mereka menyadari Bahwa tidak semua orang bisa merasakan apa yang mereka rasakan Mengalami apa yang mereka alami Apakah mereka tidak ingat, siapakah yang menghendaki keputusan itu datang kepada mereka? Maka sepatutnyalah mereka berselebrasi atas keputusan itu Dengan membagi-bagikan kebahagiaan mereka Sebagai wujud syukur Pada yang menghendaki keputusan itu Terkadang (23 Mei 2015) Terkadang, dalam keramaian aku merasa sepi Terkadang, di negeri sendiri aku merasa asing Terkadang, mereka yang tersenyum seakan cemberut Terkadang mereka menusuk punggungku setelahnya aku membalas salam mereka
  11. 11. Terkadang, mereka memusuhiku ketika aku berteman dengan mereka Terkadang, mereka menyuruhku memusuhi temanku sendiri Terkadang, mereka menyuruhku memusuhi orang yang tidak kukenal Terkadang, mereka menyuruhku berteman dengan orang yang memusuhiku Terkadang, mereka menyuruhku naik ke kapal ketika aku sedang terombang-ambing di lautan Terkadang mereka menendangku keluar dari kapal ketika aku sudah naik Terkadang aku mengerti Terkadang aku tidak mengerti Bocah (18 Juli 2015) Bocah, kau berlari kesana-kemari Mencari sesuatu yang tak pasti Bocah, kau beri senyum kesana-kesini Bahkan kepada yang mungkin tak berhati Bocah, aku tak tahu siapa sebenarnya kalian Tak tahu apakah musuh atau kawan Tapi membantu kalian adalah kewajiban Karena kalian sedang dalam kesusahan Kalau memang kalian bukan orang yang sedang sulit Kemudian kalian menari-nari sambil meniup peluit Biarkanlah Tuhan yang mengurusnya Aku tak ingin amalanku jadi sia-sia Aku hanya berharap pahala Dari Tuhan Yang Maha Esa Inginku (18 Juli 2015) Ingin ku teriak Ingin ku berontak Lepas dari semua belenggu Lepas dari para penipu Yang selalu memburu Yang selalu mengganggu Apakah mereka mendengar? Apakah mereka belajar? Tentang kemanusiaan? Tentang kehidupan? Mungkin tidak, mungkin iyah Tapi Ternyata dugaanku salah Bukan karena amarah Tapi karena kebodohanku Yang menjadi kelemahanku
  12. 12. Sang Jawaban Dari Harapan (16 Agustus 2015) Kami tidak pernah menduga kedatangannya Tapi dia bagaikan bulan yang menerangi kegelapan malam Gerak-geriknya seperti tak kasatmata Tapi akibatnya terasa nyata Seperti hujan di padang pasir Kami tidak kenal siapa lelaki ini Tapi sepertinya dia bukan orang sembarangan Namun bukan pula keturunan bangsawan Sebagian orang menjadi dengki padanya Yang menyeret pada kebencian Sehingga mendorong melakukan pengrusakan Dengan berbagai alasan untuk pembelaan Aku yakin dialah orangnya Yang terpilih untuk menyelesaikan semua masalah ini Tapi aku berharap tak berhenti di dia saja Ada sesudahnya yang melanjutkannya Kesatria Dari Para Eksodus (17 Agustus 2015) Apakah kamu mendengar tuntutan mereka? Apakah kamu merasakan penderitaan kita? Apakah kamu melihat bagaimana mereka menindas? Mungkin kami belum mengenalmu Siapa dirimu, apakah kami bisa mempercayaimu Kemudian, datanglah hari itu Dimana semuanya tampak suram Dimana hati serasa tak menentu Dimana air mata mengalir deras Haruskah kami meninggalkan tanah ini? Tanah yang telah membesarkan kami Ya, kami harus pergi! Tapi kami tinggalkan pada mereka reruntuhan! Kita pun tahu tak ada alasan lagi untuk menolak semua itu Tapi kamu berkata, masih ada harapan Walau hanya sedikit penerang bagi kegelapan ini Dan... terjadilah kejutan itu Menggetarkan hati kami dan mereka Membesarkan jiwa kami dan menyiutkan nyali mereka Kamu telah berubah menjadi abu, abu yang mulia Bersama mereka, para perampok itu, abu yang hina Sejak itulah kami mengenalmu Sejak itulah kami menangisi kepergianmu Sejak itulah kami merindukan orang sepertimu Dan mulai saat itulah kami takkan melupakanmu
  13. 13. Kami akan terus mengenangmu Kesatria dari para eksodus Semoga kamu tenang di alam sana Kerajaan yang Dijanjikan (20 Agustus 2015) Malam itu aku termenung Memandangi langit dengan berurai air mata Hatiku terus bertanya, kenapa? Aku tahu itu bukanlah akhir dari segalanya Itu hanya bagian dari cerita yang panjang Tentang sebuah kerajaan yang harus berganti masa Tapi Aku hanyalah manusia biasa Kejadian itu begitu mengguncangku Mengaburkan antara ilusi dan kenyataan Aku yakin, generasi pilihan itu pasti muncul Generasi terbaik yang akan menjadi penerus Yang akan berkuasa dengan keadilan Yang akan berkuasa melawan kelaliman Jika bukan sekarang... mungkin esok... atau lusa... atau nanti Ketika waktunya tiba Yang mengisi masa baru kerajaan itu Kerajaan yang dijanjikan Cerita Untuk Sekutu-Sekutuku (21 Agustus 2015) Terkadang, teringat masa-masa itu Yang gelap... tanpa arah... tanpa harapan Ketika kubandingkan dengan sekarang Aku sadar... aku patut bersyukur Betapa bodohnya aku jika ingin kembali ke masa itu Dan betapa sombongnya aku jika tidak mau mengambil pelajaran Sekutu-sekutuku, ketahuilah Aku menyampaikan cerita itu Supaya kalian tidak mengalami kegelapan yang sama denganku Dan mengambil hikmahnya Demi kebaikan kalian
  14. 14. SYAIR Bukan Seperti yang Dulu (20 Juni 2015) Lima tahun sudah kita berlalu Semuanya masih terasa pilu Apakah kita bisa kembali bersatu Tapi bukan seperti yang dulu Peristiwa yang Menanti (20 Juni 2015) Di hari nanti Akan Ada peristiwa yang menanti Di sebuah negeri Yang masih menjadi misteri Kau Sebut Mereka Alay (21 Juni 2015) Kau sebut mereka alay Tapi dirimu sendiri lebay Apakah kamu menyadarinya? Atau kamu enggan mengakuinya? Introspeksi dirimu sendiri Sebelum kekurangan orang kamu cari Mungkin Kau Bisa (21 Juni 2015) Mungkin kau bisa perkasa Mungkin kau bisa berkuasa Tapi ingatlah Tuhan Yang Maha Esa Sebuah Negeri (21 Juni 2015) Ada sebuah negeri Yang selalu dibenci Tapi yang bikin geli Negeri itu selalu dicari Bagaikan seorang puteri Yang matanya indah berseri Kulitnya cerah alami Memancarkan kecantikan dari hati Mengapa Tidak Menutup Telinga Kita Saja? (7 Juli 2015) Mereka selalu berkata buruk tentang kita Tapi ternyata itu bukan fakta Mereka selalu mengagung-agungkan diri mereka Tapi ternyata itu hanya realita Semua keburukan yang mereka tuduhkan pada kita Justru sebenarnya ada pada mereka
  15. 15. Jika kita tidak bisa menutup mulut mereka Mengapa tidak menutup telinga kita saja? Kisah Suatu Umat (11 Juli 2015) Ini kisah suatu umat Yang mengaku paling hebat Semua orang mereka embat Termasuk yang mereka anggap kerabat Tidak perlu susah mencari mereka Karena mereka hidup bersama kita Warna tubuh mereka sama dengan kita Hanya warna hatinya yang berbeda Mereka bagaikan serigala berbulu domba Yang senang mengadu domba Diantara kita-kita semua Demi kepentingan mereka saja Segala tindakan mereka seperti umpan Yang ujung-ujungnya menjerumuskan Karena mereka menganggap kita seperti ikan Yang lezat untuk dimakan Cepat sebelum terlambat Jangan bersikap lambat Segera atur siasat Kalau ingin selamat Yang Penting Kalian Mandiri (11 Juli 2015) Tak apa mereka sebut kalian penyendiri Yang penting kalian mandiri Terhindar dari penyakit dengki Yang menuntun kepada benci Mereka hanya ingin kalian terpuruk Sehingga mereka tak lagi dianggap buruk Kalian teruslah berlari Hingga mereka lelah mendengki Sangkalanku (11 Juli 2015) Aku tak pernah benci Itu hanya untuk melindungi diri Mereka yang duluan membuat gaduh Tapi malah aku yang dituduh merusuh Mereka juga menyebutku biang keladi Yang telah merusak silaturahmi Tapi sekali lagi Aku tak pernah benci
  16. 16. Karena mereka masih saudara-saudari Itu hanya untuk melindungi diri Semoga mereka berubah pikiran Tidak menuduhku sembarangan Perempuan Paruh Baya (13 Juli 2015) Ada seorang perempuan paruh baya Yang mulutnya terus berbicara Mengumpat yang disini dan disana Tak peduli siapa mereka Aku pun tak mengerti kenapa Mulutnya tak pernah dijaga Berkata sesuka hatinya Tak peduli walau itu dusta Semua orang berharap dia bertobat Sebelum semuanya terlambat Tapi dia tak peduli nasihat Karena menurutnya itu angin yang lewat

×