Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Bagaimana cara allâh subhanahu wa ta

105 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bagaimana cara allâh subhanahu wa ta

  1. 1. BAGAIMANA CARA ALLÂH SUBHANAHU WA TA'ALA MENJAGA DAN MEMELIHARA AS-SUNNAH ? Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ‫ح‬َ‫ف‬ِ‫ظ‬َ‫ه‬ُِ ‫هللا‬ ‫ت‬ِ‫ع‬َِ‫ل‬ِ‫ى‬ Sebagai seorang Muslim kita wajib meyakini bahwa semua yang ada dalam al-Qur'an itu adalah haq, baik berupa kabar maupun janji-janji dan ancaman. Termasuk diantaranya adalah janji Allâh Azza wa Jalla untuk menjaga keaslian agama ini, dengan menjaga keaslian sumbernya yaitu al-Qur'an dan as- Sunnah. Sebagaimana firman-Nya : َِ‫ن‬َ‫ا‬ ‫ح‬َ‫ح‬ ُِْ‫ن‬ َِ‫ن‬ْ‫ع‬ ِ‫ِن‬‫ن‬ ‫ح‬ِ‫ذ‬َِّْْ‫ر‬‫َع‬ ‫ح‬َ‫ا‬ َِِِ‫ن‬ ‫ح‬َ‫ف‬ِ‫ع‬ ‫ح‬ِ‫ح‬َِ‫ظ‬َ‫ظ‬َُِِ‫ع‬ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9] Penjagaan terhadap al-Qur’ân‫ح‬ dalam‫ح‬ayat‫ح‬ini‫ح‬mencakup‫ح‬ penjagaan‫ح‬ terhadap‫ح‬ hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫-.ح‬red Kita sudah meyakini hal ini, namun terkadang ada pertanyaan yang dimunculkan oleh orang-orang tertentu dengan berbagai maksud dan tujuan. Diantara pertanyaan itu, "Bagaimana cara Allâh menjaga dan memelihara as-Sunnah ?" Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada saya, maka saya akan memberikan‫ح‬ jawaban‫ح‬ yang‫ح‬sangat‫ح‬mendasar‫ح‬ sekali‫ح‬dari‫ح‬para‫ح‬Ulama’‫ح‬ialah‫ح‬: Pertama : Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepada umat ini sebuah ilmu yang sangat besar lagi sangat agung yang telah menjadi kekhususan bagi umat ini. Karena memang Allâh Azza wa Jalla tidak pernah‫ح‬ memberikanya‫ح‬ kepada‫ح‬ umat‫ح‬umat‫ح‬sebelum‫ح‬umat‫ح‬Nabi‫ح‬Muhammad‫ح‬ Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح.ح‬ Ilmu ini menjadi kemuliaan secara khusus bagi umat ini. Ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu sanad atau isnad. Sebuah ilmu untuk mengetahui secara bersilsilah atau berantai jalanya orang-orang yang meriwayatkan suatu riwayat dari fulan ke fulan dan seterusnya. Sehingga dengan sebab isnad dapat dibedakan dengan jelas dan terang antara ayat-ayat al-Qur’an‫ح‬ dengan‫ح‬ hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح;ح‬Antara‫ح‬yang‫ح‬disandarkan‫ح‬ kepada‫ح‬ Nabi‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬dengan‫ح‬ yang‫ح‬disandarkan‫ح‬ kepada‫ح‬selain‫ح‬beliau‫ح‬n‫ح‬seperti‫ح‬yang‫ح‬disandarkan‫ح‬ kepada‫ح‬ para‫ح‬shahabat‫ح‬ atau‫ح‬tâbi’în‫ح‬ atau‫ح‬tâbi’ut tâbi’în‫ح‬dan‫ح‬seterusnya.‫ح‬Apabila‫ح‬sebuah‫ح‬ riwayat‫ح‬tidak‫ح‬ada‫ح‬sanad‫ح‬atau‫ح‬isnadnya‫ح‬maka‫ح‬para‫ح‬ imam ahli hadits seperti Bukhâri dan lain lain akan menolaknya dan tidak mau menerimanya. Dan mereka mengatakan bahwa riwayat ini tidak ada asal asulnya dan dimasukkan ke dalam golongan hadits-hadits palsu. Oleh‫ح‬karena‫ح‬itu‫ح‬dahulu‫ح‬ para‫ح‬Ulama’‫ح‬ kita‫ح‬mengatakan‫ح‬ – dan perkataan mereka ini merupakan kaidah yang sangat besar dalam Islam tentang ilmu riwayat atau naql. Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan : ‫ح‬َ‫إل‬َِ‫ن‬ْ‫ا‬‫د‬َْ ‫ح‬ِ‫ح‬ ََ ‫ح‬َ‫ْح‬ِّْ َ‫َعإل‬ ‫ح‬ِ‫و‬ ِِْ‫ع‬ ‫ح‬َ‫إل‬َِ‫ن‬ْ‫ا‬ َ‫َد‬ ‫ح‬ِ‫ق‬َِ‫ل‬ِ‫ع‬ ‫ح‬ْ‫ح‬َِ ‫ح‬ِ‫ا‬ََِ ََِ ‫ح‬ِ‫ا‬ََِ Isnad itu bagian dari agama. Kalau sekiranya tidak ada isnad, niscaya siapa saja dapat mengatakan apa saja saja yang ia mau katakan [Riwayat Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahîhnya]
  2. 2. Ya benar, kalau sekiranya tidak ada isnad, pastilah siapa saja dapat mengatakan apa yang dia mau katakan.‫ح‬Jika‫ح‬demikian,‫ح‬kita‫ح‬pasti‫ح‬tidak‫ح‬dapat‫ح‬membedakan‫ح‬ mana‫ح‬yang‫ح‬hadits‫ح‬Nabi‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬ sallam dan mana yang bukan ? Manakah riwayat-riwayat yang sah dan manakah riwayat-riwayat yang lemah atau sangat lemah atau bahkan palsu ? Kemudian, siapakah yang meriwayatkannya ?Apakah yang meriwayatkannya orang-orang yang terpercaya dalam masalah agama dan ilmunya ? Ataukah riwayat itu datang dari orang-orang yang fasiq, atau dari para pembohong yang biasa berbohong, atau dari para pemalsu hadits yang dengan sengaja memalsukan‫ح‬hadits‫ح‬atas‫ح‬nama‫ح‬Nabi‫ح‬yang‫ح‬mulia‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam.‫ح‬Dan‫ح‬ seterusnya‫ح‬dalam‫ح‬ segala cabang ilmu yang sampai kepada kita dengan jalan berita atau riwayat. Semuanya terjawab dengan ilmu yang mulia ini, yang menjadi kekhususan bagi umat ini. Oleh karena itu, ilmu hadits dan ahli hadits demikian mulianya. Namun sedikit sekali orang yang mengetahuinya, mempelajarinya dan mengajarkannya sebagaimana telah ditegaskan oleh Imam Bukhâri amîrul Mukminîn fil hadits dalam sebuah perkataan emasnya yang akan datang insyâ Allâhu. Kedua : Allâh Azza wa Jalla telah memberikan ilmu hadits yang sangat besar dan sangat mulia kepada sebagian Ulama kemudian membangkitkan mereka untuk memeriksa setiap riwayat atau hadits yang disandarkan‫ح‬ kepada‫ح‬ Nabi‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح.ح‬Merekalah,‫ح‬ para‫ح‬imam‫ح‬ahli‫ح‬hadits‫ح‬yang‫ح‬sangat‫ح‬ terhormat dan mulia kedudukan mereka dalam Islam. Karena merekalah yang dimaksud oleh Nabi yang mulia‫ح‬n‫ح‬atau‫ح‬yang‫ح‬mengambil‫ح‬ bagian‫ح‬ terbesar‫ح‬dari‫ح‬yang‫ح‬dimaksudkan‫ح‬beliau‫ح‬ thâ’ifah‫ح‬manshûrah.‫ح‬ Madzhab mereka terkenal dengan madzhab ahlu hadits, baik secara aqidah maupun fiqh dan seterusnya. Karena yang mereka ikuti tidak lain melainkan sunnah‫ح‬Nabi‫ح‬yang‫ح‬mulia‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬ sallam . Apabila hadits yang sampai kepada mereka telah sah, maka itulah madzhab mereka sebagaimana‫ح‬ telah‫ح‬ditegaskan‫ح‬ oleh‫ح‬imam‫ح‬Syâfi’i‫ح‬rahimahullah‫ح‬ ,‫ح‬salah‫ح‬seorang‫ح‬ pembesar‫ح‬ ahli‫ح‬hadits‫ح‬yang‫ح‬ dijuluki sebagai nâshirus sunnah (pembela sunnah). Apa yang saya katakan ini pada hakikatnya adalah perkataan‫ح‬ para‫ح‬Ulama’‫ح‬ kita‫ح‬yang‫ح‬dahulu‫ح‬ sebagaimana‫ح‬ yang‫ح‬telah‫ح‬di‫ح‬tegaskan‫ح‬oleh‫ح‬imam‫ح‬Bukhâri‫ح‬t‫ح‬dalam‫ح‬ sebuah perkataan emasnya, "Kaum Muslimin yang paling utama ialah seorang yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnah‫ح‬ Rasulullah‫ح‬ Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬yang‫ح‬telah‫ح‬mati.‫ح‬Maka‫ح‬bersabarlah‫ح‬ wahai ahli hadits , semoga Allâh merahmati kamu, karena sesungguhnya (jumlah) kamu adalah yang paling sedikit di antara manusia" [1] Seorang penyair pernah mengatakan tentang ahli hadits (yang artinya) : Sesungguhnya kami dahulu menghitung mereka (ahli hadits) sangat sedikit sekali. Maka‫ح‬seseungguhnya‫ح‬ sekarang‫ح‬ mereka‫ح‬lebih‫ح‬sedikit‫ح‬dari‫ح‬yan‫ح‬paling‫ح‬sedikit” Oleh karena itu di bawah ini saya ingin menerangkan sebagian dari para ahli hadits, yaitu ahli jarh wat ta’dîl,‫ح‬yang‫ح‬perkataan‫ح‬ mereka‫ح‬menjadi‫ح‬ dasar‫ح‬dan‫ح‬hujjah‫ح‬yang‫ح‬kuat.‫ح‬Kemudian‫ح‬ dari‫ح‬mereka,‫ح‬kita‫ح‬ mengetahui‫ح‬ mana‫ح‬rawi‫ح‬ yang‫ح‬tsiqah‫ح‬dan‫ح‬dha’îf‫ح‬dan‫ح‬seterusnya. Diantaranya‫ح‬ seperti‫ح‬Sa’îd‫ح‬bin Musayyab,‫ح‬Sa’îd‫ح‬bin‫ح‬Zubair,‫ح‬ Abdurrahman‫ح‬ bin‫ح‬Hurmuz‫ح‬yang‫ح‬terkenal‫ح‬ dengan nama al-A’raj,‫ح‬Abu‫ح‬Shâlih‫ح‬Dzakwân‫ح‬ as-Sammân, Hasan bin Abi Hasan yang terkenal dengan nama Hasan al-Bashri,‫ح‬Muhammad‫ح‬ bin‫ح‬Sirin,‫ح‬Anas‫ح‬bin‫ح‬Sirin,‫ح‬Abul‫‘ح‬Aliyah‫ح‬ar-Riyâhi yang namanya Rufai’‫ح‬ bin Mahrân, Mâlik bin Dinar, Amir bin Syarâhîl yang terkenal dengan nama asy-Sya’bi,‫ح‬Ibrahim‫ح‬ bin‫ح‬Yazid‫ح‬ bin Qais al-Aswad yang terkenal dengan nama Ibrahim an-Nakhâ’i,‫ح‬ Masrûq‫ح‬bin‫ح‬al-Ajda’‫ح‬ bin‫ح‬Mâlik,‫ح‬Rabi’‫ح‬ bin Hutsaim Abu Zaid, Hammad bin Abi Sulaiman, Sa’ad‫ح‬bin‫ح‬Ibrahim‫ح‬ az-Zuhri, Muhammad bin Muslim az- Zuhri yang terkenal dengan nama az-Zuhri atau Ibnu Syihab, Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtiyâni yang terkenal dengan nama al-A’mâsy.‫ح‬Mereka‫ح‬ semua‫ح‬yang‫ح‬saya‫ح‬sebutkan‫ح‬di‫ح‬atas‫ح‬adalah‫ح‬ dari‫ح‬kalangan‫ح‬ tâbi’în,‫ح‬baik tâbi’în‫ح‬dari‫ح‬thabaqah‫ح‬ kubra‫ح‬(tingkatan‫ح‬tâbi'în‫ح‬besar)‫ح‬ seperti‫ح‬Sa’id‫ح‬bin‫ح‬musayyab;‫ح‬Atau‫ح‬tâbi’în‫ح‬
  3. 3. dari‫ح‬thabaqah‫ح‬ wustha‫ح‬(tingkatan‫ح‬ tâbi’în‫ح‬yang‫ح‬sedang‫ح‬ atau‫ح‬tengah-tengah) seperti Hasan al-Bashri; Atau tâbi’în‫ح‬dari‫ح‬thabaqah‫ح‬ shughra‫ح‬ (tingkatan‫ح‬tâbi’în‫ح‬yang‫ح‬kecil) seperti al-A’masi. Kemudian‫ح‬ thabaqah‫ح‬ yang‫ح‬sesudahnya‫ح‬seperti‫ح‬Syu’bah‫ح‬bin‫ح‬Hajjaj,‫ح‬Sufyan‫ح‬ bin‫ح‬Said‫ح‬ats-Tsauriy yang terkenal dengan nama Sufyan ats-Tsauriy atau ats-Tsauriy saja, Abdurrahman bin Amr al-Auzâ’i‫ح‬yang‫ح‬ terkenal dengan nama al-Auzâ’i,‫ح‬Mâlik‫ح‬bin Anas yang terkenal dengan nama Mâlik bin al-Imâm, Husyaim bin‫ح‬Basyîr,‫ح‬Sufyân‫ح‬bin‫‘ح‬Uyainah,‫ح‬ Yahya‫ح‬bin‫ح‬Said‫ح‬al-Qahthân,‫ح‬ Abdullâh‫ح‬bin‫ح‬Mubârak,‫ح‬Waki’‫ح‬bin‫ح‬Jarrah,‫ح‬ Abdurrahman bin Mahdi, Muhammad bin Idris asy-Syâfi’i‫ح‬dan‫ح‬yang‫ح‬selain‫ح‬mereka‫ح‬banyak‫ح‬sekali.‫ح‬Semua yang‫ح‬saya‫ح‬sebutkan‫ح‬di‫ح‬atas‫ح‬adalah‫ح‬ dari‫ح‬kalangan‫ح‬ tâbi’ut‫ح‬tâbi’în,‫ح‬baik‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬dari‫ح‬thabaqah‫ح‬ kubra‫ح‬ (tingkatan‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬besar)‫ح‬seperti‫ح‬Sufyân‫ح‬ats-Tsauriy‫ح‬ dan‫ح‬Imam‫ح‬Mâlik;‫ح‬Atau‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬dari‫ح‬ thabaqah‫ح‬ wustha‫ح‬(tingkatan‫ح‬ tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬yang sedang atau tengah-tengah)‫ح‬ seperti‫ح‬Sufyân‫ح‬bin‫ح‬‘Uyainah;‫ح‬ Atau‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬dari‫ح‬thabaqah‫ح‬ shughra‫ح‬ (tingkatan‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬yang‫ح‬kecil)‫ح‬seperti‫ح‬Imam‫ح‬asy-Syâfi’i. Kemudian‫ح‬ thabaqah‫ح‬ yang‫ح‬sesudah‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în,‫ح‬yaitu‫ح‬yang‫ح‬mengambil‫ح‬ hadits‫ح‬dari‫ح‬tâbi’ut tâbi’în,‫ح‬mereka‫ح‬ tidak‫ح‬bertemu‫ح‬ dengan‫ح‬ Tâbi’în,‫ح‬seperti‫ح‬Imam‫ح‬Ahmad‫ح‬bin‫ح‬Hambal,‫ح‬ Ali‫ح‬bin‫ح‬Abdullah‫ح‬ bin‫ح‬Ja’far‫ح‬ al-Madîni yang terkenal‫ح‬dengan‫ح‬ nama‫ح‬Ali‫ح‬bin‫ح‬Madini,‫ح‬Yahya‫ح‬bin‫ح‬Ma’în,‫ح‬Abdurrahman‫ح‬ bin‫ح‬Ibrahim‫ح‬ ad-Dimasyqi yang terkenal dengan nama Duhaim, Ishaq bin Ibrahim ar-Râhuwaih, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Amr bin Ali al-Fallâs dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudahnya yaitu yang mengambil dari mereka seperti Muhammad bin Ismail al-Bukhari yang terkenal dengan al-Imam al-Bukhari, juga‫ح‬Imam‫ح‬Muslim,‫ح‬Abu‫ح‬Zur’ah‫ح‬ ‘Ubaidullah‫ح‬ bin‫ح‬ Abdul Karim ar-Râzi, Muhammad bin Idris Abu Hatim ar-Râzi, Abu Dawud dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaitu Tirmidzi, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Ibnu Mâjah, Abu Ya’lâ‫ح‬al-Maushiliy dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaitu Ibnu Khuzaimah, Ibnu Jarîr ath-Thabari, ad Dulâbi, Zakariya bin Yahya as-Sâji, Ibnul Jârud dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaiu ath-Thahâwi, al-‘Uqaili,‫ح‬ Ibnu‫ح‬Abi‫ح‬Hâtim‫ح‬dan‫ح‬yang‫ح‬selain‫ح‬ mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaitu Ibnu Hibbân, ath-Thabraniy,‫ح‬ Ibnu‫ح‬ ‘Adi‫ح‬dan‫ح‬yang‫ح‬selain‫ح‬ mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaitu ad-Daraquthniy, al-Hâkim, Ibnu Syâhin dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian thabaqah yang sesudah mereka yaitu al-Baihaqi, al-Khathîb al-Baghdadi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hazm dan yang selain mereka banyak sekali. Kemudian Imam Ibnul Jauzi, Imam al-Mundziri, Imam an-Nawawi, dan yang selain mereka banyak sekali [2]. Kemudian Imam al-Mizzi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, adz-Dzahabi, al-Birzâli, Ibnu Qayyim, Ibnu Abdil Hâdi, Ibnu Katsîr. Mereka ini adalah guru dan murid yang berkumpul di madrasah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  4. 4. Kemudian Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Imam al-‘Irâqi‫ح‬ (guru‫ح‬ al-Hafidz Ibnu Hajar), Imam az-Zailâ’i,‫ح‬ Imam‫ح‬ al-Haitsami. Kemudian‫ح‬ al‫ح‬Hafidz‫ح‬Ibnu‫ح‬ Hajar,‫ح‬Imam‫ح‬al‫‘ح‬Ainiy‫ح‬dan‫ح‬lain-lain. Kemudian Imam As Suyuthi dan lain-lain. Kemudian yang selain mereka dari zaman ke zaman. Kemudian yang ada pada zaman kita ini adalah dua orang Imam ahli hadits besar, mujtahid mutlak, Imam‫ح‬ahli‫ح‬jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil‫ح‬yaitu‫ح‬Syaikhul‫ح‬Imam‫ح‬Muhaddits‫ح‬Ahmad‫ح‬Muhammad‫ح‬ Syakir‫ح‬dan‫ح‬Syaikhul‫ح‬Imam‫ح‬ Muhammad bin Nashiruddin al-Albâni. Perkataan‫ح‬ para‫ح‬Imam‫ح‬ahli‫ح‬hadits‫ح‬yang‫ح‬saya‫ح‬sebutkan‫ح‬di‫ح‬atas‫ح‬dari‫ح‬tâbi’în‫ح‬dan‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬dan‫ح‬thabaqah‫ح‬ yang sesudahnya dan seterusnya semuanya dalam rangka membela dan mempertahankan Sunnah dan Hadits Nabi yang mulia n agar tidak dimasuki sesuatu yang bukan dari beliau n , baik dengan sengaja seperti perbuatan para pendusta dan pemalsu hadits, atau di sebabkan karena kekeliruan dan berbagai sebab‫ح‬lainnya.‫ح‬Mereka‫ح‬telah‫ح‬memberikan‫ح‬ pujian‫ح‬(ta’dîl)‫ح‬dan‫ح‬celaan‫ح‬(jarh)‫ح‬ terhadap‫ح‬ rawi-rawi hadits, mana diantara‫ح‬ mereka‫ح‬yang‫ح‬tsiqah‫(ح‬terpercaya‫ح‬ dalam‫ح‬agamanya‫ح‬ dan‫ح‬ilmunya)‫ح‬dan‫ح‬mana‫ح‬yang‫ح‬lemah‫ح‬(dha’if)‫ح‬ dengan berbagai macam cabang kelemahannya; misalnya kelemahan seorang rawi dimulai dari yang paling parah yaitu para pendusta yang telah memalsukan hadits-hadits atas nama Nabi kita yang mulia Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح,ح‬kemudian‫ح‬ mereka‫ح‬yang‫ح‬biasa‫ح‬berbohong‫ح‬ di‫ح‬dalam‫ح‬pembicaraannya.‫ح‬ Kemudian mereka yang fasiq yang mengerjakan dosa-dosa besar, selanjutnya para pengikut hawa nafsu dari‫ح‬ahli‫ح‬bid’ah yang‫ح‬mengajak‫ح‬ kepada‫ح‬bid’ahnya.‫ح‬ Kemudian‫ح‬ dari‫ح‬jurusan‫ح‬hafalannya,‫ح‬ apakah‫ح‬sering‫ح‬ salah, waham dan buruk hafalannya dan seterusnya. Semua yang mereka sampaikan itu kembali kepada satu tujuan yaitu pembelaan serentak secara besar- besaran terhadap sunnah Nabi yang mulia n . Dengannya kaum Muslimin dapat mengetahui dengan jelas dan terang, apakah hadits tersebut sah atau tidak ? MEMBELA SUNNAH ADALAH JIHAD[3] Ketahuilah‫ح‬ wahai‫ح‬saudaraku,‫ح‬ membela‫ح‬ dan‫ح‬mempertahankan‫ح‬ Sunnah‫ح‬ Nabi‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬ merupakan‫ح‬ jihad‫ح‬yang‫ح‬besar,‫ح‬khususnya‫ح‬pada‫ح‬ zaman‫ح‬kita‫ح‬sekarang‫ح‬ini.‫ح‬Kalau‫ح‬Yahya‫ح‬bin‫ح‬Ma’in‫ح‬seorang‫ح‬ amirul‫ح‬Mukminîn‫ح‬fil‫ح‬hadits,‫ح‬Imamnya‫ح‬jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil‫ح‬saja‫ح‬telah‫ح‬mengatakan‫ح‬ pada‫ح‬zaman‫ح‬beliau‫ح‬masih‫ح‬ hidup (beliau wafat pada tahun 233 H), "Mempertahankan dan mengadakan pembelaan terhadap Sunnah‫ح‬ (Nabi)‫ح‬ lebih‫ح‬utama‫ح‬dari‫ح‬jihad‫ح‬fi‫ح‬sabilillah‫(ح‬perang).” Lalu,‫ح‬sekarang‫ح‬…‫ح‬pada‫ح‬ zaman‫ح‬ini‫ح…ح‬Apakah‫ح‬yang‫ح‬akan‫ح‬kita‫ح‬katakan‫ح‬setelah‫ح‬berlalu‫ح‬ tiga‫ح‬belas‫ح‬abad‫ح‬dari‫ح‬ zaman‫ح‬Ibnu‫ح‬Ma’in‫ح‬?! Sekarang, simaklah dan perhatikanlah baik-baik sedikit dari sekian banyak pekataan para imam dalam menyingkap‫ح‬ keadaan‫ح‬ rawi,‫ح‬mana‫ح‬yang‫ح‬tsiqah‫ح‬dan‫ح‬mana‫ح‬yang‫ح‬dha’if‫ح‬ ? 1.‫ح‬Abdullah‫ح‬bin‫ح‬Mubârak‫ح‬ seorang‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬amîrul‫ح‬Mukminin‫ح‬fil‫ح‬hadits‫ح‬pernah‫ح‬ menerangkan‫ح‬ keadaan‫ح‬ seorang (rawi), lalu beliau rahimahullah‫ح‬ berkata,‫“ح‬Dia‫ح‬ itu‫ح‬seorang‫ح‬ pembohong.”‫ح‬ Kemudian‫ح‬beliau‫ح‬ ditegur‫ح‬ oleh seorang laki-laki,‫“ح‬Wahai‫ح‬Abu‫ح‬Abdirrahman,‫ح‬ kamu‫ح‬telah‫ح‬melakukan‫ح‬ghibah‫ح‬ (menggunjing)!” Abdullâh bin Mubârak kemudian mejawab dengan jawaban yang patut dicatat dengan tinta emas, karena jawaban‫ح‬ beliau‫ح‬ dikemudian‫ح‬ hari‫ح‬menjadi‫ح‬kaidah‫ح‬umum‫ح‬tentang‫ح‬ilmu‫ح‬jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil,‫"ح‬Diamlah‫ح‬ engkau!‫ح‬ Apabila kami tidak menjelaskan (keadaan rawi), bagaimanakah dapat diketahui yang haq dari yang bathil?”
  5. 5. Dalam riwayat lain, Abdullah bin Mubârak pernah menerangkan keadaan seorang rawi yang bernama al- Mu’alla‫ح‬bin‫ح‬Hilal,‫ح‬sebagai‫ح‬seorang‫ح‬ pembohong.‫ح‬ Lalu‫ح‬sebagian‫ح‬ dari‫ح‬kaum‫ح‬sufiyyah‫ح‬telah‫ح‬menegur‫ح‬ beliau,‫ح‬ "Hai Abu Abdirrahman, engkau telah melakukan ghibah!" Kemudian Abdullah bin Mubarak menjawab seperti di atas. 2. Kemudian dari Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal yang dijuluki oleh para Ulama sebagai Imam Ahlus‫ح‬Sunnah‫ح‬ wal‫ح‬Jama’ah‫ح‬ pernah‫ح‬ ditanya‫ح‬oleh‫ح‬seorang‫ح‬yang‫ح‬bernama‫ح‬ Muhammad‫ح‬ bin‫ح‬Bundar,‫ح‬"Wahai‫ح‬ Abu Abdillah, sesungguhnya sangatlah memberatkan saya untuk mengatakan bahwa si fulan itu adalah seorang‫ح‬ pendusta‫ح‬ ?” Imam Ahmad menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban Abdullah bin Mubarak yang patut dicatat‫ح‬dengan‫ح‬ tinta‫ح‬emas,‫ح‬karena‫ح‬ jawaban‫ح‬ beliau‫ح‬menjadi‫ح‬ kaidah‫ح‬umum‫ح‬tentang‫ح‬ilmu‫ح‬jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil,‫ح‬ "Apabila engkau diam dan akupun diam (dari menjelaskan tercelanya seorang rawi demikian juga ta’dilnya),‫ح‬maka‫ح‬kapankah‫ح‬ orang‫ح‬ yang‫ح‬jahil‫ح‬dapat‫ح‬mengetahui‫ح‬ (hadits)‫ح‬yang‫ح‬shahih‫ح‬dari‫ح‬(hadits)‫ح‬yang‫ح‬ sakit‫(ح‬dha’if).” Dan perbuatan ini bukanlah ghibah sebagaimana telah dituduhkan oleh orang-orang yang tidak tahu tentang ilmu yang mulia ini. Karena tujuan atau maksud dari para Imam ahli hadits dalam menjarh rawi adalah menyampaikan nasehat demi membela dan menjaga agama Islam agar tidak kemasukan sesuatu yang tidak berasal dari Agama. Ibnu‫ح‬ ‘Ulayyah‫ح‬pernah‫ح‬ berkata‫ح‬tentang‫ح‬jarh‫ح‬(menerangkan‫ح‬ cacat‫ح‬dan‫ح‬cela‫ح‬seorang‫ح‬ rawi‫ح‬hadits),‫ح‬ "Sesungguhnya‫ح‬ ini‫ح‬adalah‫ح‬amanat‫ح‬bukan‫ح‬ ghibah.” Abu‫ح‬Zur’ah‫ح‬ ad-Dimasyqi pernah mengatakan, "Aku pernah mendengar Abu Mushir ditanya tentang keadaan seorang rawi yang salah dan waham serta tashhif (salah tulis dalam hadits) ? Beliau menjawab, “Jelaskanlah‫ح‬ keadaannya‫ح‬ !”‫ح‬Lalu‫ح‬aku‫ح‬bertanya‫ح‬ kepada‫ح‬Abu‫ح‬Mushir,‫“ح‬Apakah‫ح‬kamu‫ح‬menganggap‫ح‬ yang‫ح‬ demikian‫ح‬itu‫ح‬perbuatan‫ح‬ ghibah‫ح‬?”‫ح‬Beliau‫ح‬menjawab,‫ح‬ “Tidak.” Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengatakan, "Abu Turab an-Nakhsyabiy pernah datang menemui bapakku (Imam Ahmad bin Hanbal), lalu bapakku mulai (menjelaskan keadaan rawi dengan) berkata bahwa,‫ح‬ “Si‫ح‬fulan‫ح‬dha’if‫ح‬ (lemah),‫ح‬ sedangkan‫ح‬ si‫ح‬fulan‫ح‬ tsiqah‫(ح‬terpercaya).” Lalu Abu‫ح‬Turab‫ح‬ menegurnya,‫ح‬ “Wahai‫ح‬Syaikh,‫ح‬janganlah‫ح‬ engkau‫ح‬ mengghibahkan‫ح‬ Ulama‫ح‬!”‫ح‬Kemudian‫ح‬ bapakku‫ح‬menoleh‫ح‬ kepadanya‫ح‬ dan‫ح‬menjawab,‫ح‬ "Kasihan‫ح‬kau‫ح!ح‬Ini‫ح‬nasehat‫ح‬bukan‫ح‬ghibah.”[4] Semua ini berpulang kepada satu kaidah besar dalam Islam, yaitu memulangkan sesuatu kepada ahlinya. Orang yang tidak ahli tidak boleh dan tidak dibenarkan berbicara tentang sesuatu disiplin ilmu yang ada dalam Islam. Karena hal itu akan menimbulkan kerusakan di atas kerusakan yang bertumpuk. Atau paling tidak kerusakannya jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Ini kalau kita perkirakan ada kemanfaatannya. Bagaimana halnya kalau semuanya adalah kerusakan dan kebinasaan !!! Kewajiban bagi orang yang tidak atau belum tahu adalah bertanya kepada ahlinya, bukan membantahnya atau menegurnya seperti orang yang menegur amîrul Mukminin fil hadits Abdullâh bin Mubârak dan Imam Ahmad bin Hambal ketika keduanya sedang menjelaskan mana rawi yang tsiqah dan mana rawi yang dha’if.‫ح‬Karena‫ح‬ kebodohan‫ح‬ yang‫ح‬mereka‫ح‬ diamkan,‫ح‬lalu‫ح‬mereka‫ح‬menuduh‫ح‬ para‫ح‬ Imam‫ح‬ahli‫ح‬hadits telah mengghibahkan manusia khususnya para Ulama !? Padahal perbuatan itu bukanlah ghibah!!! Akan tetapi sebuah nasehat Agama yang sangat besar sekali manfaatnya demi memelihara, menjaga serta mempertahankan‫ح‬ Sunnah‫ح‬Nabi‫ح‬yang‫ح‬mulia‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi wa sallam yang membuat iblis bersama bala tentaranya dan para pengikutnya dari para pemalsu hadits terkapar tidak berdaya berhadapan dengan para mujahid besar para Imam ahli hadits. Para Imam itu telah menghabiskan umur mereka
  6. 6. untuk membela dan mempertahankan‫ح‬ Sunnah‫ح‬ Nabi‫ح‬kita‫ح‬yang‫ح‬mulia‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬. Amat menakjubkan dan mengharukan saya apa yang telah dilakukan oleh seorang ahli hadits besar pada abad ini tanpa khilaf lagi, bahkan saya kira tidak berlebihan kalau saya sering mengatakan dan menjuluki beliau sebagai seorang amirul Mukminin fil hadits pada abad ini, yaitu Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau telah mentahqiq dan mentakhrij ulang kitab Targhîb wat Tarhîb karya besar al-Imam al-Mundziriy pada usia delapan puluh lima tahun sebagaimana beliau jelaskan sendiri di muqaddimah Shahih Targhib Wat Tarhib (hlm. 12). Saya katakan seperti itu tidaklah dengan serta merta, bukan taqlid buta seperti orang yang sedang memuji dan menyanjung seseorang padahal dia tidak mengetahui keadaan orang yang dipuji dan disanjungnya !!! Tetapi saya mengatakan seperti ini setelah saya mengadakan penelitian dan pendalaman yang terus-menerus dan berkepanjangan dalam safar ilmiyyah yang sangat melelahkan melihat kepada metoda takhrîj Syaikh Albani lebih dari seperempat abad lamanya. Kalau saudara bertanya kepada saya, misalnya tentang sebuah hadits, apakah hadits tersebut telah disahkan oleh al- Albani atau tidak ? Apakah hadits tersebut ada di kitab al-Albani dan di kitabnya yang mana? Tentu sebagiannya atau bahkan sebagian besarnya saya jawab, "Tidak tahu!" Tetapi kalau saudara bertanya kepada saya tentang metoda takhrîj hadits Albani dan ilmu hadits beliau yang demikian tingginya, maka – insyâ‫ح‬Allâhu‫ح‬Ta’ala- saya mampu menjawab sebagiannya atau sebagian besarnya, baik secara umum metoda takhrij hadits di kitab-kitab beliau yang ada pada saya dan dapat saya pelajari maupun secara khusus‫ح‬perkitab‫ح‬seperti‫ح‬Irwâ’‫ح‬ atau‫ح‬Silsilah‫ح‬dan‫ح‬lain-lain. Tetapi ingat! Kita tidak pernah memalaikatkan Albani sebagaimana pernah dituduhkan seperti itu kepada kami oleh seorang yang telah membantah imam besar ini tanpa ilmu kecuali memuntahkan apa yang ada padanya. Ketahuilah! Ini adalah sebuah penelitian dari Diraasah ilmiyyah bukan taqlid. Karena saya –insyâ Allâh - bukanlah muqallid bagi salah seorang imam atau salah satu madzhab. Karena memang demikianlah manhaj ilmiyyah para imam ahli hadits termasuk al-Albani pada abad ini. Meskipun kita mengetahui secara pasti bahwa beliau adalah imam besar seperti saudara-saudaranya sesama Ulama yang dapat salah‫ح‬dan‫ح‬benar‫ح‬karena‫ح‬ tidak‫ح‬ada‫ح‬yang‫ح‬ma’shum‫ح‬kecuali‫ح‬Rasulullah‫ح‬ Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫.ح‬ Begitulah para Imam ahli hadits dari zaman ke zaman sampai tubuh mereka yang telah tua renta tidak sanggup lagi membawa ilmu mereka. Dan itulah‫ح‬salah‫ح‬satu‫ح‬contoh‫ح‬dari‫ح‬seorang‫ح‬ imamul‫ح‬jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil‫ح‬ pada abad ini Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani semoga Allâh mengampuninya dan merahmatinya dan memasukkannya ke dalam surga firdaus. Alangkah besar pembelaannya terhadap hadits Nabi yang mulia Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫.ح‬ Bagaimana dengan para Imam ahli hadits sebelumnya seperti al-Hâfidz Ibnu Hajar rahimahullah, yang dikatakan bahwa para wanita tidak sanggup lagi melahirkan anak yang sepertinya. Kemudian bagaimana dengan adz-Dzahabiy Syaikhul jarh‫ح‬wat‫ح‬ta’dil.‫ح‬Al-Hâfidz Ibnu Hajar pernah meminum air zamzam memohon kepada Allâh Azza wa Jalla martabat hapalan seperti Imam adz- Dzahabi. Dan Dzahabiy sendiri pernah mngatakan dalam sebuah kitabnya setelah beliau menjelaskan thabaqatul muhadditsin (tingkatan‫ح‬para‫ح‬ahli‫ح‬hadits)‫ح‬mutaqaddimin‫ح‬ (yang‫ح‬terdahulu),‫ح‬ “‫ح‬Bahwa‫ح‬orang‫ح‬ yang‫ح‬ kecil‫ح‬hapalannya‫ح‬ pada‫ح‬zaman‫ح‬mereka‫ح‬adalah‫ح‬ orang‫ح‬ yang‫ح‬palingh‫ح‬hafizh‫ح‬ pada‫ح‬zaman‫ح‬kita!!!”‫ح‬ (yakni‫ح‬pada‫ح‬ zaman Dzahabiy). Padahal Dzahabiy pernah mengatakan tentang keutamaan gurunya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kalau ada hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyyah maka bukanlah hadits. Sebuah pujian yang benar bukan omong kosong. Pujian yang beralasan bukan isapan jempol. Pujian yang nyata bukan hayalan. Adz Dzahabiy sungguh telah menyaksikan Syaikhul Islam dengan mata kepalanya akan ketinggian ilmu haditsnya yang tidak ada tandingannya yang telah diakui kealimannya
  7. 7. oleh kawan maupun lawan, baik yang se zaman maupun yang sesudahnya. Meskipun demikian Dzahabiy‫ح‬mengatakan,‫ح‬ “Bahwa orang yang kecil hapalannya pada zaman mereka adalah orang yang palingh‫ح‬ hafizh‫ح‬pada‫ح‬zaman‫ح‬kita!!!”....‫ح‬Allahu‫ح‬Akbar‫!!!ح‬ Kita kembali ke pokok pembahasan. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa mengambil sesuatu dari ahlinya merupakan salah satu kaidah besar dalam Islam yang telah ditinggalkan, terutama pada zaman kita sekarang ini. Lebih khusus lagi dalam masalah hadits, sebuah masalah besarnya karena berfungsi sebagai penafsir al-Qur’an.‫ح‬ Sehingga‫ح‬ mustahil bagi seseorang untuk memahami al-Qur’ân‫ح‬ tanpa‫ح‬as-Sunnah‫ح‬ atau‫ح‬Hadits‫ح‬Nabi‫ح‬ Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬ wa sallam. Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla berikut ini : ََِ‫ع‬ِ‫أ‬ْ‫ا‬َِ‫ظ‬ ‫ح‬ِ‫ق‬ْ‫ل‬َِ ‫ح‬َ‫ذ‬َِّْْ‫ر‬‫َع‬ ‫ح‬ْ‫ح‬َ‫ا‬ ‫ح‬ْ‫ن‬َ‫ى‬ْ‫ن‬َِّ ‫ح‬ِ‫و‬ ‫ح‬ِ‫ح‬ََُِِْ‫ل‬ِ‫ى‬ Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (tentang nabi dan kitab-kitab) jika kamu tidak mengetahui, [An-Nahl/16:43] Juga‫ح‬ sabda‫ح‬Nabi‫ح‬Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬(yang‫ح‬artinya),‫ح‬"Sesungguhnya‫ح‬ al-Qur'ân ini tidak turun untuk mendustakan sebagian (ayat)nya dengan (ayat) lainnya, bahkan sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Maka apa yang kamu ketahui, amalkanlah ! Dan apa-apa yang tidak kamu ketahui, maka kembalikanlah kepada orang yang mengetahuinya (yang alim tentang al-Qur'ân)”. Hadits shahih yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Mâjah dan lain-lain. Sabda beliau Shallallahu‫ح‬ ‘alaihi‫ح‬wa‫ح‬sallam‫ح‬ini‫ح‬merupakan‫ح‬ kaidah‫ح‬besar‫ح‬dalam‫ح‬masalah‫ح‬keharusan‫ح‬ mengembalikan segala permasalahan kepada ahlinya. Sekarang kita sedang berbicara tentang jarh wa ta’dîl‫(ح‬celaan‫ح‬dan‫ح‬pujian‫ح‬ terhadap‫ح‬ rawi‫ح‬hadits)‫ح‬dan‫ح‬yang‫ح‬berhubungan‫ح‬ dengannya,‫ح‬ maka kewajiban kita adalah mengembalikan masalah ini kepada ahlinya, bukan kepada orang yang tidak tahu. Dari sini kita mengetahui, siapa saja yang berbicara tentang hadits sementara dia bukan ahlinya ,maka wajib ditolak dan tidak boleh diterima sama sekali serta wajib diumumkan di hadapan manusia bahwa dia orang yang tidak tahu menahu tentang hadits. Perhatikalah beberapa atsar di bawah ini ! a. Dari Abu Abdirrahman as-Sulamy (dia berkata), "Bahwasannya Ali pernah mendatangi seorang qadhi lalu bertanya kepadanya,‫ح‬ “Apakah‫ح‬engkau‫ح‬ mengetahui‫ح‬ nâsikh‫ح‬dan‫ح‬mansûkh‫ح‬?”‫ح‬Qadhi‫ح‬menjawab,‫ح‬ "Tidak.”‫ح‬ Kemudian‫ح‬ Ali‫ح‬Radhiyallahu‫ح‬ anhu‫ح‬ berkata,‫("ح‬berarti)‫ح‬ Engkau‫ح‬telah‫ح‬binasa‫ح‬dan‫ح‬membinasakan‫ح‬ (orang).”‫ح‬ [Riwayat Baihaqi dalam kitab sunannya ,10/117] b.‫ح‬Dari‫ح‬Mis’ar,‫ح‬ia‫ح‬berkata,‫ح‬"Aku‫ح‬pernah‫ح‬ mendengar‫ح‬ Sa’ad‫ح‬bin‫ح‬Ibrahim‫ح‬ berkata,‫ح‬'Tidak‫ح‬ boleh‫ح‬menceritakan‫ح‬ dari Rasûlullâh kecuali orang-orang‫ح‬ yang‫ح‬tsiqah‫(ح‬terpercaya).”‫ح‬ [Riwayat‫ح‬Imam‫ح‬Muslim‫ح‬dalam‫ح‬muqaddimah‫ح‬ Shahihnya (1/11-12)] c. Abu Zinâd mengatakan, "Aku jumpai di Madinah seratus orang, semuanya orang-orang yang amanat, (akan tetapi) tidak satupun hadits diambil dari mereka, dikatakan bahwa mereka bukan ahlinya (yakni bukan‫ح‬ahli‫ح‬hadits)”.‫[ح‬Riwayat‫ح‬Muslim‫ح‬di‫ح‬muqaddimah‫ح‬ Shahihnya‫ح‬ (1/11)] d. Dari Sulaiman bin Musa , dia berkata, "Aku bertemu dengan Thawus, lalu aku berkata kepadanya, 'Si fulan telah menceritakan kepadaku (hadits) ini dan itu, ((Bolehkah aku menerima riwayatnya) ?' Thâwus‫ح‬ menjawab,‫ح‬ "Jika‫ح‬temanmu‫ح‬itu‫ح‬seorang‫ح‬ rawi‫ح‬tsiqah,‫ح‬maka‫ح‬terimalah‫ح‬ riwayat‫ح‬darinya.”‫ح‬[Riwayat‫ح‬
  8. 8. Muslim di muqaddimah Shahîhnya (1/11)] e.‫ح‬Berkata‫ح‬Yahya‫ح‬bin‫ح‬Sa’id‫(ح‬al‫ح‬Qaththan),‫ح‬ "Aku‫ح‬pernah‫ح‬ bertanya‫ح‬kepada‫ح‬ Sufyan‫ح‬ats-Tsauri,‫ح‬ Syu’bah,‫ح‬ Malik dan Ibnu Uyainah tentang seorang Rawi yang tidak tsabit (tidak kuat atau lemah) dalam (riwayat) haditsnya. Kemudian datang seorang kepadaku bertanya tentang orang tersebut (yakni tentang rawi yang‫ح‬dha’if‫ح‬itu,‫ح‬apakah‫ح‬boleh‫ح‬ aku‫ح‬kabarkan‫ح‬kepadanya‫ح‬ bahwa‫ح‬ rawi‫ح‬ tersebut‫ح‬dha’if)‫ح‬ ?” Jawab‫ح‬ mereka,‫ح‬"Kabarkan‫ح‬ kepadanya‫ح‬ bahwa‫ح‬ orang‫ح‬ tersebut‫ح‬tidak‫ح‬tsabit‫(ح‬tidak‫ح‬kuat).”‫ح‬[Riwayat‫ح‬Muslim‫ح‬di‫ح‬ muqaddimah Shahîhnya (1/13)] f.‫ح‬Berkata‫ح‬Imam‫ح‬Malik,‫"ح‬Ilmu‫ح‬itu‫ح‬tidak‫ح‬boleh‫ح‬diambil‫ح‬kecuali‫ح‬dari‫ح‬ahlinya”.‫ح‬(Rijâlul‫ح‬ Muwaththa’‫ح‬ oleh‫ح‬Imam‫ح‬ Suyuthi) Ayat al-Qur’an‫ح‬ dan‫ح‬hadits‫ح‬di‫ح‬atas‫ح‬serta‫ح‬beberapa‫ح‬ atsar‫ح‬dari‫ح‬shahabat,‫ح‬tâbi’în‫ح‬dan‫ح‬tâbi’ut‫ح‬tâbi’în‫ح‬ menjelaskan kepada kita : Pertama : Memulangkan segala sesuatu kepada ahlinya, khususnya dalam urusan hadits yang merupakan masalah besar. Kedua : Ttidak boleh menceritakan dari Rasulullah kecuali orng-orang yang tsiqah. Tsiqah artinya adil dan Dhabith. Adil ialah orang yang baik agamanya, bukan orang fasiq dan tidak taat. Sedangkan dhabith ialah hafal hadits, baik hafalan luar kepala ataupun hafalan kitab, serta dia ahli dalam hadits, sebagaimana telah saya terangkan di kitab Mushtalahul hadits. Ketiga : Hadits tidak boleh diterima dari orang yang bukan ahlinya bahkan wajib ditolak. Keempat : Wajib mengumumkan orang-orang yang dha'if dan bodoh dalam hadits terlebih para ahli bid’ah‫ح‬yang‫ح‬senantiasa‫ح‬menentang‫ح‬ hadits. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271- 858196] _____ Footnote [1]. Al-Jami' li Akhlaqir Raawi wa Adabis Sami' oleh Imam al-Khathib al-Baghdadi 1/168, ditahqiq oleh Doktor Muhammad Ajaaj al-Khathib [2]. Bacalah muqaddimah al-Kamilfi Dhu'afaair Rijal oleh Ibnu 'Adi ak-Mu'in fi Thabaqatil Muhadditsin oleh Imam adz-Dzahabi; Muqaddimah Taqribut Tahdzib oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan muqaddimah al-Jarhu wat Ta'dil oleh Imam Abi Hatim [3]. Sub judul ini dari redaksi [4]. Semua riwayat diatas telah dijelaskan oleh Imam al-Khatib Baghdadi dalam kitab al-Kifaayah fi 'Ilmir Raayah. Lihat Syarah 'Ilal Tirmidzi oleh Ibnu Rajab 1/46 dan seterusnya ditahqiq oleh Doktor Nuruddin 'Itr.

×