SYAHWAT KEKUASAAN DI GARUT                      Kata Pengantar        Kabupaten Garut kerap disebut-sebut sebagai miniatur...
dihabiskan untuk merebut kekuasaan baik dalam jabatan politik,penanganan masalah hukum maupun perebutan jabatan dilingkung...
Dari kubu partai Islam, rumah KH. Anwar Musadad diJalan Ciledug, juga dijadikan tempat kursus politik. Salah satujebolanny...
permukaan berdasarkan catatan dan pengalaman yang penulisperoleh. Bahkan dalam hal ini penulis ingin menyampaikanucapan te...
Daftar Isi:   1.    Profil Penulis   2.    Jelang Tumbangnya Rezim Orde Baru   3.    Babak Baru di Era Reformasi   4.    B...
29.   Memo - Dedi tak Ambil Peluang30.   Memo vs Hasanudin31.   Manggungnya Independen32.   Aceng-Diky tak Penuhi Syarat33...
Profil Penulis:     Nama pemberian orang tua adalah Mustofa, namunkemudian ditambah dengan nama kakek yang bernamaMuhammad...
Tahun 1986 semasa bupati Garut H. Taufik Hidayat,akibat berita yang selalu mengkritisi kebijakan bupati yangmerugikan raky...
yang terbit di awal reformasi, milik Wakil Walikota BandungEnjang Darsono.      Selain aktif di Suara Publik, sempat pula ...
Tahun 2008 ikut lagi seleksi calon anggota KPU danberhasil masuk lima besar yang ditetapkan oleh Tim Seleksidari KPU Propi...
Jelang Tumbangnya Rezim Orde Baru      Tahun 1996 gerakan penumbangan rezim orde barusemakin kencang. Kelompok pro-demokra...
Kehadiran Sri Bintang Pamungkas, ternyata diikutiaparat intelejen dari Jakarta karena setelah dari Garutlangsung terbang k...
pemda Garut, Kohar membentuk kekuatan yang waktu itudikenal dengan istilah MARKODOTOH         (Mardjuki, KoharSomantri, Do...
wewenangnya menandatangani pencarian dana bantuansosial sebelum APBD Garut disahkan.      Keluhan Wowo Wibowo mengemuka se...
juga yang memihak pa Iman”. Begitu dikeluhkan HilmanFaridz. (*)Babak Baru di Era Reformasi      Akhirnya Mei 1998 tumbangl...
Garut. Dan dari kalangan DPRD nama H. Rukman yang ketuaDPRD maju juga menjadi kandidat.      Pertarungan sengit terjadi an...
mengalir ke kocek anggota DPRD, dan akhirnya Dede Satibi-lah yang memenangkan pertarungan tersebut namun kubuDede Hidayat ...
Bupati terpilih Dede Satibi, memang tokoh birokratsejati karena malang melintang di pemda Garut hingga jadiMantri Polisi s...
mengatur jabatan dan proyek. Siapa dekat dengan kelompoktersebut, maka jabatan dan proyek pun dapat diraihnya.      Kepala...
Kendati Iman Alirahman kurang disenangani bupatiDede Satibi namun Iman selalu menunjukan kinerjanyadengan     baik,   teru...
penting dana APBD mengalir ke koceknya. Siasat Dede Satibimemang luar biasa cerdiknya karena ia berkeinginan majulagi dipe...
Iyos Somantri akibat kasus APBD Gate dan Agus Supriadimemenangkan konvensi Partai Golkar.       Perebutan kekuasan di kabu...
dekatnya. Kemudian yang mengawinkan Rudi-Mahyar,termasuk penulis ada di dalamnya melalui serangkaianpertemuan di salah sat...
dan Memo Hermawan yang kemudian disetujui oleh AgusSupriadi.      Memang pemberian suara sifatnya rahasia, namundalam poli...
guru sukwan di kecamatan Bayongbong yang secarakebetulan kakak kandungnya pejabat di KPU Garut. (*)Gugatan di Peradilan TU...
hampir setiap minggu harus mengikuti persidangan diBandung.     Tidak ada putusan apa pun dalam gugatan tersebut,karena ma...
mendapatkan kendaraan politik bagi Agus Supriadi supayabisa maju menjadi calon bupati dan kesuksesanmengawinkannya dengan ...
keamanan. Keluarga Zaenal Arifin sendiri diungsikan kepadaorang tuanya di Kadungora.     Peralihan kekuasaan dari Dede Sat...
Kasus Memo sangat melelahkan, begitu diungkapkanKepala SMEA PGRI Zaenal Arifin kepada penulis. Ia tidakmenyangka buntut da...
belakang Agus Supriadi. Ketika Agus-Memo dilantik menjadibupati dan wakil bupati, memang pilihan menduduki jabatansekda ja...
Melalui perbincangan santai antara Memo Hermawan-Penulis dan Daba Tabrani di salah satu ruangan di HotelAugusta awal Desem...
mengkonsultasikan apa yang dikehendaki oleh Memo kepadakakaknya DR. Adang Hambali, dosen di Universitas IslamNegeri (UIN) ...
Adang Hambali, adiknya Zaenal Arifin, Penulis dan DabaTabrani semata-mata hanya ingin masalah di Garut cepatselesai sehing...
Setiap muncul aksi unjuk rasa, maka yang dibuat sibukdan menguras tenaga pikiran serta ongkos politik adalahIman Alirahman...
Seringkali pemikiran positif muncul dari benaknya,termasuk mengajak penulis untuk menemui calon wakil bupatiterpilih Memo ...
menelan korban. Itulah yang menjadi pemicu Daba TabraniZeboa mau menemui Memo Hermawan bersama penulis. (*).Memo dan Kepal...
karena tidak pernah ada hubungan lagi. Penulis pun dibawaoleh mereka ke rumah dinas wakil bupati yang berada diJalan Sudir...
Beberapa karyawan pemda Garut yang merupakanlulusan SMEA PGRI menggagas acara re-uni. Penulis masukdalam jajaran panitia r...
Sony meminta kepada penulis menjadi pemimpinRedaksi Surat Kabar Umum Garoet Pos. Di belakang KoranGaroet Pos itu ada Memo ...
disediakan oleh Wawan Nurdin dan kawan-kawan termasukpara pegawainya.     Tanggal 17 Maret 2005, Surat Kabar Umum Groet Po...
tahun 2003 pasca pemilihan bupati Garut yang dimenangkanpasangan Agus Supriadi-Memo Hermawan.     Tandatangannya ternyata ...
tahun 2004 karena dipastikan hanya calon bupati terpilih sajayang memperoleh Surat Keputusan Menteri Dalam Negeriyang berh...
Korupsi (KPK) tengah melakukan penggeledahan di kantorBadan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Garut, yang waktuitu Kepala B...
Penulis dimintai bantuan oleh Kepala Bawasda HengkiHermawan untuk meyakinkan isteri mudanya karena setiapsaat selalau mene...
Kepemimpinan Agus Supriadi yang sarat kontroversi,tentu saja menjadi buruan wartawan. Tidak heran, beritatentang bupati Ag...
Geng liar itu kebanyakan dari kalangan luar yangmemang tidak terorganisir rapi seperti sehingga terkesanseperti “calo jaba...
di Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) serta sejumlahpejabat lainnya.       Pengunduran diri Iman Alirahman dan kawan-k...
tersebut, bahkan Kepala Bawasda (Drs. Hengki Hermawan)mengaku ketakutan dan tidak pernah lepas dari senjata apiyang dimili...
lingkungan pemda Garut atas ancaman yang disebut-sebutpernah diungkapkan Agus Supriadi.      Hasanudin berhasil meluluhkan...
kekuatan di jajaran birokrasi yang dimotori oleh ImanAlirahman dan Anton Heryanto serta Wawan Nurdin.     Sejumlah pejabat...
kecerdikan Memo dalam berpolitik, atau pura-pura tidak tahusehingga tidak dijadikan program dan strategi bahasanbersama bu...
dari gedung Pendopo. Iman menyampaikan keputusannyabahwa ia sudah mundur dari jabatan Kepala Bappedalangsung disampaikan k...
Setelah gelombang aksi massa terus melakukan unjukrasa ke kantor pemda, gedung DPRD, alun-alun bahkanmengepung gedung Pend...
Melalui telepon genggam milik Ketua APDESI yang saatitu berada bersama bupati Agus Supriadi di kamartahanannya menelpon pe...
dan Ujang Saeful (Ujang Geren) dengan kelompok Dabo-Ribo-nya.      Nama Ujang Geren adalah salah seorang aktivis yangkomit...
Birokrat, Jaringan Politik dan Hukum     Naiknya Agus Supriadi dan Memo Hermawan sebagaibupati dan wakil bupati tidak pern...
kelompok Memo-Iman. Bahkan Anton harus mengalami nasibterburuk yaitu digelandang di Kejaksaan Negeri Garut hinggake persid...
namun bukan dari kelompoknya. Yang terkahir ini, jika sukseslolos dari jeratan hokum maka secara otomatis harus tundukdan ...
disebut-sebut mendapat dukungan dari Gubernur Jawa baratmelalui jaringan partai tertentu.       Jalan Hilman menuju jabata...
Sosok Iman Alirahman, memang sangat disegani selainusianya relatif masih muda dibandingkan pejabat birokrasieselon II lain...
Beberapa pergantian pejabat di lingkungan pemdaGarut dalam kepemimpinan bupati Aceng HM Fikri tidakterlepas dari peranan W...
diam-diam membangun jaringan dengan wakil bupati GarutMemo Hermawan melalui peranan Iman Alirahman-WawanNurdin-Anton Herya...
Ahmad Bajuri diuntungkan oleh Peraturan PemerintahNo. 16 Tahun 2010 sebagai implementasi dari UU No. 27Tahun 2009 Bahwa ya...
Wajah DPRD Garut periode 2009-2014 dari segi kualitasjauh berbeda dengan periode sebelumnya yang memilikisejumlah anggota ...
Pemilihan Kecamatan (PPK) Karangpawitan Asep Irvan yangmengatur perolehan suara sehingga Agus Ridwan menyalipperolehan sua...
Begitulah percaturan politik dalam merebut kekuasaanmenghalalkan segala cara, termasuk menari di ataspenderitaan temannya ...
Selanjutnya Hasanudin bekerja untuk Hilman denganmenggunakan lobi-lobi intensif di Polres Garut. Hasilnya,kasus Hilman dip...
Sekretariat KPU sempat diperiksa sebagai saksi setelah Hj.Tinnekeu ditetapkan sebagai tersangka.      Lagi-lagi istilah “p...
Anggota dewan yang satu ini terbilang vokal sehinggameminta petugas dari kepolisian itu untuk tidak memintaketerangannya d...
Pendidikan setangguh Komar Mariyuana yang dikenal dekatdengan aparat penegak hukum.      Kerja ekstra keras berpulang kepa...
yang nilainya 1,8 milyar rupiah diraih oleh Hasanudin denganmengusung bendera PT. Mangle Panglipur.      Hasanudin pernah ...
orang yang meminta bagian dari fee proyek buku DAK itu,termasuk sejumlah wartawan. (*)Desakan PAW      DPRD Garut hasil pe...
ditempuh berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku.      Setahu penulis bahwa mekanisme PAW diawali daripengusu...
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap

10,679 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
10,679
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
7
Actions
Shares
0
Downloads
176
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Syahwat kekuasaan di garut testimoni mustofa fattah versi lengkap

  1. 1. SYAHWAT KEKUASAAN DI GARUT Kata Pengantar Kabupaten Garut kerap disebut-sebut sebagai miniaturpolitik di Jawa Barat. Tidak heran, jika banyak kalangan datangberguru ke Garut. Dalam banyak hal Kabupaten Garut memangunik dan menarik. Sebagai daerah yang berkatagori tertinggal,ternyata sangat dinamis namun sarat intrik dan konflikkepentingan. Penulis yang sejak tahun 1983 berprofesi sebagaiwartawan, banyak mencatat hiruk pikuknya dinamikaperpolitikan di wilayah Kabupaten Garut. Dari catatan secaraumum melalui penulusuran, dan catatan khusus karena penulissering masuk ke wilayah kekuasaan mencoba menuangkannyadalam sebuah buku yang diberi judul“SYAHWAT KEKUASAAN DI GARUT”. Buku tersebut penulis berharap memberi gambaran,bahwa betapa Kabupaten Garut yang unik dan menarik tidakmau beranjak dari ketertinggalannya di satu sisi, namun di sisiyang lain justru sangat berkembang pesat terutama dalamberebut kekuasaan untuk menguasai jaringan pemerintahan,politik dan hukum. Kemajuan dalam berebut kekuasaan memang tidakberbanding lurus dengan upaya meningkatkan pembangunanuntuk mencapai kesejahteraan rakyat. Energi dan ongkos politik 1
  2. 2. dihabiskan untuk merebut kekuasaan baik dalam jabatan politik,penanganan masalah hukum maupun perebutan jabatan dilingkungan birokrasi. Celakanya, ongkos politik dan tanpa disadari justrudiongkosi oleh rakyat dengan cara mengatur AnggaranPendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara rapih, teraturdan lolos dari jamahan hukum. Tokoh wartawan senior H. Usep Romli, yang jugasastrawan terkemuka sekaligus kiayi dalam tulisannya di SuratKabar Umum Garoet Pos menyebutkan, bahwa Garut adalahtempat kursus politik. Sejumlah tokoh nasional dari berbagaibidang berasal dari Garut baik di masa lampau maupun masasekarang. Sebut saja tokoh masa lampau sepertiProf. DR. KH. Anwar Musadad yang merintis berdirinyaUniversitas Islam Negeri (UIN) Bandung, KH. Yusuf Taudjiri,ulama pejuang. Prof. DR. Ihromi, ahli bahasa Ibroni yangkemudian pernah menjadi Ketua Dewan Gereja Indonesia (DGI).Lalu ada Arudji Kartawinata, tokoh Partai Syarikat IslamIndonesia dan pernah menduduki jabatan Ketua DPR-RI. H. Usep Romli mencatatkan, rumah tokoh partainasionalis Bubu Burhan Mustafa di Jalan Bank no. 14 dijadikantempat kurus politik, yang melahirkan politisi-politisi handal yangberasal dari kalangan pendidikan, seperti Drs. Sopandi guru SPGNegeri dan Jajang Kurniadi, guru SMP Negeri I Garut. 2
  3. 3. Dari kubu partai Islam, rumah KH. Anwar Musadad diJalan Ciledug, juga dijadikan tempat kursus politik. Salah satujebolannya adalah Omo Suntama, seorang guru SPG Negeri yangkemudian aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), danmengantarkan KH. Sulaeman Afif menjadi anggota DPR-MPR.Faktanya, Kabupaten Garut memang tidak terbantahkan lagisebagai tempat kurus politik yang melahirkan politisi-politisihandal. Tak heran, jika kemudian generasi sekarangmemunculkan nama Memo Hermawan dari PDIP danDedi Suryadi dari PPP, tercatat sebagai politisi lokal yang cerdikdan hebat. Tokoh masa sekarang ada Prof. Soleh Solahudin, yangpernah menjadi Menteri Pertanian semasa presiden BJ.Habibie,Burhanudin Abdullah, mantan Menko Ekuin semasa presidenGusdur yang kemudian menjadi Gubernur BI. (alm) AndungNitimiharja, mantan menteri Perindustrian era presiden SusiloBambang Yudhoyono. Sederet tokoh lainnya yang mewarnai percaturan politikdi Indonesia berasal dari Garut. Di PDIP ada Jajang Kurniadi, diPKB ada Prof. Cecep Syarifudin, di PPP ada Maksum Djaeladri, diPartai Golkar ada Asep Ruhimat Sudjana. Kalau kemudianH. Usep Romli menyebutnya sebagai tempat kursus politik,memang Kabupaten Garut layak menyandang sebutan tersebutkarena hingga kini masih tetap menjadi tempat penggojloganpolitisi-politisi handal. Tanpa bermaksud menyudutkan siapa pun dan kelompokmanapun, semata-mata penulis hanya mengangkat ke 3
  4. 4. permukaan berdasarkan catatan dan pengalaman yang penulisperoleh. Bahkan dalam hal ini penulis ingin menyampaikanucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yangsecara langsung maupun tidak langsung telah membantuterselesaikannya buku ini. Kepada kedua anak saya tercinta, sahabat dan teman-teman pers yang bertugas di Kabupaten Garut dari media cetakdan elektronik terutama keluarga besar Surat Kabar UmumGaroet Pos, penulis haturkan terima kasih atas dorongan morilserta bantuannya dalam banyak hal sehingga memungkinkanbagi penulis menyelesaikan buku ini. Di saat menyelesaikan buku ini, dalam waktu bersamaanjustru penulis menghadapi banyak masalah yang berkaitandengan berkecamuknya pendapat pro-kontra tentang pentingtidaknya buku ini diterbitkan. Alhamdulillah penulis diberikekuatan mental, kesabaran dan ketabahan serta kekihlasandalam menghadapinya sehingga tidak menjadi penghambatuntuk terus menyelesaikan buku ini. Hanya kepada Allah-lah, penulis memohon bimbingansekaligus berserah diri atas segala hal yang selama ini menjadibahagian dari perjalanan hidup. Hanya do’alah yangmemungkinkan semuanya bisa teratasi. Terima kasih ya Allah,Engkau telah membimbing hamba yang tdak punya kekuatanapa pun selain hanya karena Engkau ya Allah. (*)Salam hormat dan salam hangat untuk semuaGarut, Mei 201 Penulis : MUSTAFA FATAH 4
  5. 5. Daftar Isi: 1. Profil Penulis 2. Jelang Tumbangnya Rezim Orde Baru 3. Babak Baru di Era Reformasi 4. Birokrat Orde Baru Kuasai Pemerintahan 5. Gugatan di Peradilan T.U.N 6. Tentara Kembali Rebut Pemerintahan 7. Bungalau 12 8. Bertindak dengan Hati 9. Memo dan Kepala SMK PGRI 10. Jabatan tidak Digenggam 11. Pejabat dan Dunia Hiburan 12. Media Massa dan Kejatuhan Agus Supriadi 13. Kalau Tidak, Ikut Mundur 14. Agus Tawari Iman jadi Sekda 15. Birokrat, Jaringan Politik dan Hukum 16. Politisi Rebut Pemerintahan 17. Wajah Wakil Rakyat (DPRD Garut) 18. Skandal Seks yang Di peti es kan 19. Anggota DPRD Diincar Penegak Hukum 20. Aktivis dan Proyek D.A.K Buku 21. Desakan P.A.W 22. Tebang Pilih Penanganan Hukum 23. Jabatan Sekda Dipolitisir 24. Jurus Perbup Jerat Hilman 25. Iman Putera Mahkota Bupati Momon 26. Terparkirnya Pejabat Birokrasi 27. Mafia Jabatan 28. Dua Sosok Politisi Cerdik 5
  6. 6. 29. Memo - Dedi tak Ambil Peluang30. Memo vs Hasanudin31. Manggungnya Independen32. Aceng-Diky tak Penuhi Syarat33. Aceng Fikri Orang Parpol34. Dana Pengamanan Pemilu 200935. Pileg Syarat Pelanggaran36. Potret Suram Pembangunan di Garut37. Tiga Bupati tak Mampu Wujudkan G.O.R38. Kabupaten Garut Selatan39. Jelang Pemilukada 201340. Kepercayaan Pusat41. Birokrat Sulit Diatur42. Pejabat Pemda Dibidik Penegak Hukum43. Bisnis CPNSD 6
  7. 7. Profil Penulis: Nama pemberian orang tua adalah Mustofa, namunkemudian ditambah dengan nama kakek yang bernamaMuhammad Fatah sehingga dalam akta kelahiran tertulismenjadi Mustafa Fatah. Lahir tanggal 24 Juli 1959 di desa Bojong KecamatanBungbulang Kabupaten Garut. Setelah menamatkan sekolahdi SMP Negeri Bungbulang (sekarang SMP Negeri IBungbulang), melanjutkan ke SMEA Muhammadiyah di kotaGarut. Pilihan sekolah bertentangan dengan keiinginan orangtua agar masuk ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Menjadiguru bukan pilihan, tetapi sekolah ekonomi pun nyaris tanpatujuan yang jelas. Selepas SMEA berkeiinginan melanjutkan kuliah, namundalam waktu bersamaan harus berbarengan dengan kakakyang kebetulan lulus seleksi masuk ke IKIP Bandung(sekarang UPI). Akhirnya mengalah untuk tidak melanjutkankuliah, karena keterbatasan orang tua dalam pembiayaannya,dan lebih mendorong kakak agar kelak menjadi seorang gurumelanjutkan cita-cita ayah. Tahun 1983 ikut seleksi calon wartawan di HarianUmum Mandala yang sedang naik daun karena maraknyapemberitaan seputar kasus penembakan misterius (petrus)terhadap orang-orang yang meresahkan masyarakat(preman). 7
  8. 8. Tahun 1986 semasa bupati Garut H. Taufik Hidayat,akibat berita yang selalu mengkritisi kebijakan bupati yangmerugikan rakyat akhirnya di persona non grata (diusir dariwilayah Garut). Perseteruan dengan bupati sempat pula dimuat diMajalah Tempo, dan pengusiran tidak jadi dilakukan.Menjelang pergantian bupati dari Taufik Hidayat ke bupatiMomon Gandasasmita terjadilah islah (saling memaafkan). Tahun 1989 Harian Mandala diambil alih oleh GrupKompas, dan ketika dilakukan seleksi oleh manajemenKompas dinyatakan lolos dan terus bergabung hinggaberakhirnya pengambilalihan Harian Mandala oleh Kompastahun 1990. Tahun 1990-1992 lolos seleksi di Surat Kabar SurabayaMinggu yang manajemennya diambil alih pengusaha suksesYakob Hendrawan beralamat di Jalan KH. Mas MansyurNo. 55 Tanah Abang Jakarta Pusat. Tahun 1992 kembali lagi ke Garut membuka PerwakilanSurat Kabar Sunda “Kudjang” setelah diajak oleh Alvertoeng,mantan Pemimpin Redaksi salah satu surat kabar milik grupMedia Indonesia dan terjadilah kerjasama dengan pemerintahdaerah Kabupaten Garut melalui bupatiH. Momon Gandasasmita. Koran Kudjang ditinggalkan dan kembali lagi ke KoranMandala hingga akhirnya ke Surat kabar Harian Suara Publik 8
  9. 9. yang terbit di awal reformasi, milik Wakil Walikota BandungEnjang Darsono. Selain aktif di Suara Publik, sempat pula menjadideklarator Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Garutbersama sejumlah tokoh dari Muhammadiyah. Turut mendeklarasikan Forum Pemuda Pelajar danMahasiswa Garut (FPPMG) bersama Agustiana, yangkemudian melahirkan sejumlah aktivis seperti Arif RahmanHidayat, SE.,Ak (mantan ketua STIE Yasa Anggana), OimAbdurohim (mantan anggota DPRD Garut/mantan calon wakilbupati Garut 2008), Hasanudin (sekarang pengurus DPNRefdem) dan lain-lain. Pada Pemilu pertama era reformasi, yaitu tahun 1999maju menjadi calon anggota DPRD dari daerah pemilihanKecamatan Cisewu. Tahun 2001 mengundurkan diri dari PAN dalam posisisebagai salah satu sekretaris DPD Kabupaten Garut, karenalebih memilih tetap menjadi wartawan yang sejak tahun 2000lolos seleksi di Harian Metro Bandung (sekarang Tribun Jabar-Grup Kompas). Tahun 2003 ikut seleksi calon Anggota KPU Garut danlolos ke 10 besar, namun gugur di lima besar. Tahun 2005sampai sekarang menjadi Pemimpin Umum dan PemimpinRedaksi Surat Kabar Umum Garoet Pos. 9
  10. 10. Tahun 2008 ikut lagi seleksi calon anggota KPU danberhasil masuk lima besar yang ditetapkan oleh Tim Seleksidari KPU Propinsi Jawa Barat. Selain aktif di organisasi profesi yaitu PersatuanWartawan Indonesia (PWI), juga aktif di organisasikemasyarakatan, antara lain Muhammadiyah, IkatanCendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan di organisasisepak bola PSSI Pengcab Garut. Beberapa wartawan senior dan wartawan mudadilahirkan melalui tangan penulis, seperti Tisna Wibawa(wartawan Koran BOM/Majalah Cermin Harian), Ridwan, S.Pd,Taofik Rahman, S.Sos, Yosep Nasrullah, S.Ag, Tata Ansori(Garoet Pos), Asep Hamdani (Harian Radar/Ketua APDESIGarut), Rommy Rusyana (mantan wartawan SINDO), JamjamJamaludin (Harian Radar), Indra Prasasti (Trans TV), DeniMuhammad Arif (Indosiar) dan lain-lain. (*). 10
  11. 11. Jelang Tumbangnya Rezim Orde Baru Tahun 1996 gerakan penumbangan rezim orde barusemakin kencang. Kelompok pro-demokrasi bermunculandimana-mana termasuk di kabupaten Garut yang dimotorimahasiswa dan aktivis. Para aktivis pro demokrasi dari kalangan kampus padatahun yang sama mendatangkan tokoh penentang orde baru,yaitu DR. Ir. Sri Bintang Pamungkas, dosen Fakultas TeknikUniversitas Indonesia dalam kegiatan seminar ekonomi yangdigagas oleh SENAT Mahasiswa STIE Garut diketuai Hasanuddinbekerjasama dengan PWI Perwakilan Garut. Kehadiran Sri Bintang Pamungkas ke Garut tidakdihendaki oleh penguasa di Kabupaten Garut. Bahkan seluruhpengelola gedung yang biasa menyewakan tempatnyamendadak tidak mau memberikannya dengan berbagai alasan. Akhirnya seminar digelar di halaman gedung Korpri JalanPatriot Garut, dilanjutkan di Sekretariat PWI Garut JalanPembangunan. Saat itu jumlah personil keamanan baik yangterbuka maupun tertutup, justru lebih banyak ketimbang pesertaseminar yang kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa danaktivis. Tokoh ulama, politisi, sekaligus pemilik pondok pesantrenDarussalam Wanaraja KH. Cholid Taujiri mendaulat Sri BintangPamungkas dan membawanya ke Pontrennya untuk bicarapanjang lebar dihadapan santri dan warga sekitarnya. 11
  12. 12. Kehadiran Sri Bintang Pamungkas, ternyata diikutiaparat intelejen dari Jakarta karena setelah dari Garutlangsung terbang ke Jerman menghadiri seminar sekaligussebagai pembicara di sana. Sri Bintang Pamungkas, langsungditangkap penguasa orde baru dan dijebloskan ke penjara diJakarta, bahkan statusnya sebagai dosen PNS di UniversitasIndonesia dipecat/diberhentikan. Tidak lama berselang, tokoh gerakan pro demokrasiAgustiana digelandang ke penjara di Tasikmalaya atastuduhan sebagai dalang kerusuhan Tasikmalaya, dan sebelumditangkap sempat menggelar jumpa pers di sekretariat PWIGarut. Sekretariat Forum Pemuda Pelajar (FPPMG) yangdikomandani Agustiana beralamat di Jalan Ranggalawebersebelahan dengan tempat tinggal penulis. Pasukan keamanan dari TNI, Polisi dan Satuan PolisiPamongpraja lengkap dengan senjatanya mengepungsekretariat FPPMG, dan Komandan Intelejen Kodim (KasiIntel- Lettu. Inf. Anan Taryana) berada di rumah penulis. Tembok pemerintah daerah Kabupaten Garut saat itumemang sangat kuat dan kokoh. Salah satu tokoh kunci yangmembentengi pemda Garut adalah Letkol. Inf. KoharSomantri, mantan Kepala Staf Kodim 0611 Garut yangdiangkat sebagai Kepala Kantor Sosial Politik (Sospol) PemdaGarut. Letkol. Inf. Kohar Somantri, selaku Kepala Kantor SosialPolitik Pemda Garut sangat disegani dan ditakui oleh semuakalangan. Dalam mengendalikan pemerintahan di lingkungan 12
  13. 13. pemda Garut, Kohar membentuk kekuatan yang waktu itudikenal dengan istilah MARKODOTOH (Mardjuki, KoharSomantri, Dodi Soemartawijaya, Toto Rahmat). Mardjukiadalah seorang Letkol TNI yang menjadi Kepala DinasPekerjaan Umum Kabupaten (PUK), Kohar Somantri (KepalaSospol), Dodi Soemartawidjaya (Kepala Bagian Kepegawaian),Toto Rahmat (Kepala Dispenda). Kalau sekarang di tubuh pemda Garut ada kelompokgeng, memang bukan hal baru karena sudah merupakantradisi (warisan) dari orang-orang yang memiliki pengaruh dilingkungan pemda Garut. Tidak heran, kelompok tersebutsangat dominan dalam penempatan sejumlah pejabat yangloyal kepada kelompok geng dimaksud. Sekarang di lingkungan birokrasi pemda Garut dikenaldengan geng-nya Iman Alirahman, dan itu tidak bisaterbantahkan karena geng tersebut memiliki kekuatan yangsignifikan dalam berbagai hal. Bahkan sangat disadari olehWowo Wibowo dan Hilman Faridz ketika naik menjadi SekdaGarut. Wowo Wibowo tidak mampu bertahan lama menjadisekda, karena ia banyak melakukan penekanan terhadapsejumlah pejabat di lingkungan pemda Garut yang merupakangeng-nya Iman Alirahman. Kekuatan geng tersebut menyeret Wowo ke ranahhukum, yang kemudian sempat mendekam di sel tahananMapolda Jabar dengan tuduhan menyalahgunakan 13
  14. 14. wewenangnya menandatangani pencarian dana bantuansosial sebelum APBD Garut disahkan. Keluhan Wowo Wibowo mengemuka setelah ia dengankewenangannya pernah melakukan tindakan tegas kepadabeberapa pejabat padahal pejabat tersebut adalah geng-nyaIman Alirahman. Sebut saja Kepala Bagian Umum waktu ituDadi Jakaria dan staf-stafnya. Tindakan tegas Wowo merupakan pemicu diungkitnyapersoalan dirinya saat menjadi Kepala BPKD yang dituduhmenggelontorkan dana bansos sebelum APBD disahkan. Wowo kemudian digelandang oleh Polda Jabar dansempat mendekam beberapa bulan lamanya di sel tahanan.Penulis sendiri berkesempatan melayat Wowo di Polda,namun ternyata sosok Wowo terlihat tegar, tenang dan penuhkeikhlasan menghadapinya. Hal yang sama dialami Hilman Faridz, sekda yangmenggantikan Wowo itu sempat menyampaikan keluhannyakepada penulis, bahwa untuk beberapa hal ia tidak bisanyambung/sinergis dengan sejumlah pejabat di bawahnya.Misalnya dengan Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD)sewaktu dijabat Drs. H. Djadja Sudardja, M.Si. Menurut Hilman, setiap kebijakan yang diambilnya selalumendapat hambatan dan tantangan dari pejabat di bawahnyayang memang gengnya Iman Alirahman. “Anda tahu sendiri ditubuh birokrasi terpecah, ada yang memihak saya dan ada 14
  15. 15. juga yang memihak pa Iman”. Begitu dikeluhkan HilmanFaridz. (*)Babak Baru di Era Reformasi Akhirnya Mei 1998 tumbanglah rezim orde baru, dan diKabupaten Garut bertepatan dengan akan berakhirnya masajabatan bupati Drs. H. Toharudin Gani, yang diangkat menjadibupati hasil penunjukan dari pihak Gedung Sate,menggantikan Momon Gandasasmita yang telah dua kalimenjabat bupati. DPRD Garut hasil pemilu 1997 atau pemilu terakhir erarezim orde baru merupakan “DPRD transisisisi”, karena tahun1999 digelar pemilu pertama masa reformasi. Tentu sajaanggota DPRD yang berjumlah 45 orang itu memanfaatkanpemilihan bupati sebagai ajang mendulang uang dari paracalon bupati. Perebutan kekuasaan menjelang pemilihan bupati punterasa memanas, seluruh petinggi pemda Garut, yaitu bupatiDrs. H. Toharudin Gani, Wakil Bupati Mamad Suryana, danSekretaris Daerah Iing Kosim maju mencalonkan diri sebagaibupati. Dari luar pemda Garut muncul nama Dede Satibi, yangmasih menjabat Wakil Bupati Kabupaten Bekasi, Letkol. Pol(sekarang AKBP) Dede Hidayat Jayalaksana, mantan Kapolres 15
  16. 16. Garut. Dan dari kalangan DPRD nama H. Rukman yang ketuaDPRD maju juga menjadi kandidat. Pertarungan sengit terjadi antara Dede Satibi dan DedeHidayat Jayalaksana. Anggota DPRD Garut yang akanmenentukan pilihannya menjadi terpecah. Kelompok aktivis,dan tokok-tokoh ulama terpecah pula. Ada yang berada dikubu Dede Jayalaksana dan ada di kubu Dede Satibi. DedeJayalaksana sangat dikenal luas di Garut, karena selainpernah menjadi Kapolres Garut, perwira muda itu sebagaisosok santun dan lebih mengedepankan pola kemitraandalam menangani masalah keamanan dan ketertiban diwilayah Kabupaten Garut. Dede Hidayat Jayalaksana mendapat dukungan daritokoh-tokoh aktivis, seperti Toni Munawar, Gunadi dan aktivismahasiswa. Dari kalangan pengusaha ada H. Heri Sunardiyang menguasai perkebunan Condong. Sedangkan tokohulamanya ada KH. Uhom Hamdani, pemimpin pondokPesantren Sarohan Bayongbong dan tokoh Partai PersatuanPembangunan (PPP). Sementara Dede Satibi mendapat dukungan dari DewanHarian Daerah (DHD) Angkatan 45, Warga Indonesia AsalGarut (WI-ASGAR), Angkatan 66 dan tokoh ulama yangdimotori KH Abdul Halim, pemimpin pondok pesantren Al-Bayyinah dan salah satu putera dari ulama besar KH. AnwarMusadad. Pertarungan sengit terjadi antara kubu Dede Satibi dankubu Dede Jayalaksana. Disebut-sebut uang jago pun 16
  17. 17. mengalir ke kocek anggota DPRD, dan akhirnya Dede Satibi-lah yang memenangkan pertarungan tersebut namun kubuDede Hidayat Jayalaksana tidak terima kekalahannya lalumenyandera seluruh Anggota DPRD sekaligus menguasaigedung wakil rakyat berhari-hari lamanya. Kemenangan Dede Satibi nyaris saja digagalkan, kalausaja Dede Hidayat Jayalaksana tidak segera meyakinkanpendukungnya untuk menerima hasil yang menyakitkannyaitu. Seorang tokoh ulama PPP sekaligus pimpinan PondokPesantren Sarohan Bayongbong KH. Uhom Hamdani adalahyang paling kecewa atas kekalahan Dede HidayatJayalaksana. Kiayi yang dikenal berani itu pun kemudianmeninggal dengan membawa kekecewaan yang sangatmendalam. Gelombang aksi tandingan dari kubu Dede Satibiberdatangan ke gedung DPRD, yang sebelumnya dilakukanserangkaian pertemuan di komplek pesantren Al-Mussadadiyah. Penulis termasuk yang ikut dalam pertemuan itu, dandiminta oleh peserta pertemuan masuk dalam penyusunmateri tuntutan yang akan disampaikan ke DPRD danberbagai pihak sebagai pemangku kepentingan. Dalam aksi tandingan dari kubu Dede Satibi, tampil KHAbdul Halim sebagai penyampai orasi dan mendesak DPRDGarut segera melantiknya karena sudah dinyatakan sebagaipemenang. 17
  18. 18. Bupati terpilih Dede Satibi, memang tokoh birokratsejati karena malang melintang di pemda Garut hingga jadiMantri Polisi sebelum pindah ke Kabupaten Tangerang danKabupaten Bekasi. Dalam mengendalikan pemerintahannya,Dede Satibi tidak berkehendak didampingi Wakil BupatiMamad Suryana sebagai pesaing di pemilihan bupati. Dalam masa kepemimpinan Dede Satibi tidakdidampingi Wakil Bupati karena Mamad Suryana ditarik olehPemerintah Propinsi Jawa Barat dan menduduki jabatansebagai Kepala Dispenda Jawa Barat. Sementara Sekda Iing Kosim yang sebenarnyadidukung jajaran birokrasi dengan Korps Pegawai Negeri-nya(KORPRI) gagal meraih kemenangan. Ia kemudian hengkangdari Garut karena mendapat tawaran sebagai Wakil BupatiKabupaten Subang. Jabatan sekda Garut, akhirnya diisi pejabat karir daripemda Garut, yaitu Rahman Ruhendar yang waktu itumenjabat Ketua Bappeda (sekarang namanya KepalaBappeda). Rahman Ruhendar tidak lama menjabat sekda keburumeninggal dunia, dan Dede Satibi mengajak sohibnyaRachmat Sudjana dari Kabupaten Sukabumi (Ketua Bappeda)untuk mengisi jabatan sekda. Kekuasaan Dede Satibi dimasuki kakak kandungnyaH. Hafid, yang kemudian mumunculka kelompok/geng dilingkungan pemda Garut yang berkepentingan dalam 18
  19. 19. mengatur jabatan dan proyek. Siapa dekat dengan kelompoktersebut, maka jabatan dan proyek pun dapat diraihnya. Kepala Diparda, Hilman Faridz adalah salah satudiantara yang masuk kelompok H Apit, makanya jabatannyadipindahkan menjadi Ketua Bappeda yang ditinggalkanRachman Ruhendar. Kepala Diparda diisi oleh Iman Alirahmanyang semula Kepala Dinas Kebersihan. Iman Alirahman adalah pejabat muda yang kurangdisenangi bupati Dede Satibi, namun justru bagi ImanAlirahman dijadikan pintu masuk untuk menjalin hubungandengan banyak kalangan. Salah satu yang mulai dekatdengan Iman Alirahman adalah Ketua PHRI Garut MemoHermawan, Manager Hotel Augusta Garut. Geng yang dimotori kakak kandung bupati Dede Satibiitu, semakin memperkuat posisi Asda III yang dipercayakankepada Drs. Yaya S. Permana dengan kewenangannya dibidang keuangan dan kepegawaian. Penulis pun sempatmenitipkan anak dari keluarga miskin masuk menjadi TenagaKerja Kontrak (TKK) tahun 2001, dan sekarang sudahdiangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yaya S. Permana, sebagai pejabat yang mengurusikeuangan dibantu oleh Kepala Bagian Keuangan Ny. FaridaSusilawati, SH (sekarang Sekretaris DPRD) dengan staf-stafnya antara lain Totong, SE.,M.Si (sekarang KepalaDPPKA), Anton Heryanto (mantan Kabid Anggaran),Dra. Aneu Hayati, M.Si (sekarang Kabid Perimbangan diDPPKA). 19
  20. 20. Kendati Iman Alirahman kurang disenangani bupatiDede Satibi namun Iman selalu menunjukan kinerjanyadengan baik, terutama dalam mengelola bidangkepariwisataan. Iman juga mulai menyusun kekuatan dilingkungan birokrasi dengan mncetak kader-kadernya, antaralain Komar Mariyuana (terakhir Kadisdik), Arus Sukarna(terakhir Asda I), Wawan Nurdin (sekarang KepalaPerpustakaan Daerah), Farida Susilawati (Sekretaris DPRD),Elka Nurhakimah (Sekarang Kepala Dinas Pendidikan) sertasejumlah pejabat birokrat lainnya. (*).Birokrat Orde Baru Kuasai Pemerintahan Selama kepemimpinan Bupati Garut Dede Satibi, tokohsentral di lingkungan pemda Garut terutama yang berkaitandengan masalah keuangan dipercayakan kepada Drs. Yaya S.Permana, selaku Asisten Daerah (Asda) III bersama-samadengan Sekda Rahmat Sudjana. Sedangkan nama ImanAlirahman sama sekali tidak memiliki akses atau jaringandalam mengatur kebijakan di pemerintah daerah. DPRD, di bawah kepemimpinan Ir. Iyos Somantri danDedi Suryadi adalah politisi handal dan cerdik, sehinggabupati dan jajarannya kerap tidak mampu membendungkeiinginan DPRD termasuk aliran dana APBD demikepentingan DPRD. Dede Satibi tidak kalah cerdiknya, jebakan-jekabakanpun mulai dimainkan dan DPRD tidak menyadarinya yang 20
  21. 21. penting dana APBD mengalir ke koceknya. Siasat Dede Satibimemang luar biasa cerdiknya karena ia berkeinginan majulagi diperiode kedua pada pemilihan bupati tahun 2003. Nama Iyos Somantri-Dedi Suryadi, disebut-sebutsebagai pasangan paling berpeluang dalam pemilihan bupati,dan itu menjadi batu sandungan bagi Dede Satibi. Akhirnyamelalui Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut KH AbdulHalim mengendus dugaan penyimpangan dana APBD olehDPRD Garut yang kemudian dikenal dengan istilah APBD-Gatehanya beberapa bulan menjelang pemilihan bupati. Iyos Somantri, selain sebagai Ketua DPRD juga KetuaDPD Golkar Garut, dan Dedi Suryadi adalah Wakil Ketua DPRDsekaligus Ketua DPC PPP. Dede Satibi sangat sadar, bahwauntuk mengalahkan pasangan Iyos-Dedi di pemilihan bupatisangat tidak mungkin apalagi yang akan memilihnya punanggota DPRD yang berjumlah 45 orang. Berkat peranan Ketua MUI yang melaporkan kasusAPBD Gate ke Kejaksaan, maka Iyos-Dedi ditetapkan sebagaitersangka. Kedua tokoh yang sejak awal sudah dipersiapkanmaju sebagai pasangan calon menjadi berantakan, Iyosbahkan terpental di konvensi partainya sendiri. Fraksi PPP diDPRD terpecah belah, karena ketua Fraksinya Wawan Syafe’idigaet oleh Dede Satibi sebagai pasangannya. Dedi Suryadi tidak patah arang, ia pun tak kalah sengitdengan menggaet Sekda Rahmat Sudjana sebagai pasanganwakil bupatinya. Kemudian muncul kuda hitam Letkol. Inf.Agus Supriadi, yang berhasil memanfaatkan keterpurukan 21
  22. 22. Iyos Somantri akibat kasus APBD Gate dan Agus Supriadimemenangkan konvensi Partai Golkar. Perebutan kekuasan di kabupaten Garut yang diawalidari pemilihan bupati, memang sangat unik dan penuh intrik.Dede Satibi yang terpental dari Partai Golkar, berkat kekuatankeluarga besar Nahdatul Ulama (NU) berhasil menggunakanPKB sebagai kendaraan politiknya untuk maju menjadi calonbupati bersama Wawan Safe’i dari PPP. Untuk meyakinkan PKB agar menyerahkan partainyasebagai tunggangan Dede Satibi, maka tokoh NU punmendatangkan KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) ke PondokPesantren Al-Wasilah miliknya KH. Tantowi Djauhari. Hampir seluruh partai dengan Fraksi-nya di DPRD tidakterhindar dari konflik. Golkar yang diincar Iyos dan DedeSatibi ternyata jatuh ke Agus Supriadi, PKB yang mestinyamemajukan Ketua DPC-nya Ali Rohman malah diberikankepada Dede Satibi. PPP pecah, sebagian ke Dedi Suryadi,sebagian lagi ke Wawan Syafe’i. PAN yang akanmenyandingkan Rudi Gunawan dengan Ate Tohi, tiba-tibaMahyar Suara protes. Hanya PDIP yang nyaris tanpa konflikkarena hanya menyalonkan Memo Hermawan selaku KetuaDPC-nya. Majunya empat pasangan calon bupati tidak terlepasdari peranan para “pemain” di luar gedung DPRD dan di luarpartai politik. Yang mengawinkan Dede Satibi-Wawan Syafe’iadalah sejumlah Kiayi NU, yang mengawinkan Agus Supriadi-Memo adalah mereka dari kalangan politisi dan kawan-kawan 22
  23. 23. dekatnya. Kemudian yang mengawinkan Rudi-Mahyar,termasuk penulis ada di dalamnya melalui serangkaianpertemuan di salah satu hotel di kawasan wisata Cipanas. Begitu juga yang mengawinkan/memaketkanpasangan Dedi Suryadi-Rahmat Sudjana, tidak terlepas dariperanan kalangan tertentu yang kemudian dikenal denganistilah Tim Sukses. Maka empat pasangan resmi maju dipemilihan bupati. Mereka adalah 1. Dede Satibi-WawanSyafei. 2. Rudi Gunawan-Mahyar Suara. 3. Agus Supriadi-Memo Hermawan. 4. Dedi Suryadi-Rahmat Sudjana. Di putaran pertama, pasangan Dedi-Rahmat dan Rudi-Mahyar harus terpental, dan hanya pasangan Dede Satibi-Wawan Syafe’i dan Agus Supriadi-Memo Hermawan yangmasuk ke putaran kedua pasangan Agus Supriadi-MeoHermawan keluar sebagai pemenangnya dengan selisih suarayang sangat tipis, yaitu hanya tiga suara saja. Kemenangan Agus Supriadi – Memo Hermawan lebihditentukan oleh solidnya suara PDIP yang pada saat akandigelarnya pemilihan terlebih dahulu dilakukan pergantianantar waktu (PAW) dua anggota Fraksi yang dianggapmbalelo, yaitu Gunrana dan Wan Gunawan Husen, digantikanoleh Dikdik Darmika dan Slamet Rianto. Secara matematis suara yang diperoleh Agus-Memoberasal dari Fraksi Golkar 14 suara dan suara Fraksi PDIP 6suara. Kemudian mendapat tambahan suara 4 dari Fraksi PPPyang diawali dengan komitmen politik antara Dedi Suryadi 23
  24. 24. dan Memo Hermawan yang kemudian disetujui oleh AgusSupriadi. Memang pemberian suara sifatnya rahasia, namundalam politik tidak selamanya 1 ditambah 1 menjadi 2, bisasaja menjadi 1 atau 3. Akan halnya suara yang diperolehAgus-Memo, konon 6 dari PDIP, 13 dari Golkar karena satusuara Golkar diberikan ke Dede Satibi, dan sisanya lima suaradari Fraksi PPP yang jumlahnya 9 kursi dan 5 suara PPPmenjadi milik Dede Satibi. Kendati Dede Satibi kalah dalam pemilihan bupati,namun menjelang akhir jabatannya ia sukses menggiringkelompoknya duduk di kursi Komisi Pemilihan Umum (KPU)Kabupaten Garut. Diawali dengan penunjukan Tim Seleksi yng terdiri dariKetua MUI KH. Abdul Halim, Asda I Drs. Kusnaeni, M.Si.Sekretaris PGRI Alit Burhanudin, S.Sos. KH. Deden dari unsurulama dan Prof. Ikeu Sartika dari unsur Perguruan Tinggi. Lima orang anggota KPU Garut ditetapkan oleh KPUJawa Barat, mereka adalah Aja Rowikarim, M.Ag yang tiadalain adalah mahasiswanya KH. Abdul Halim, Lia Juliasih, S.IPyang masih keluarga dari isterinya KH. Abdul Halim dan isteridari tokoh aktivis Garut Arif Rahman Hidayat, SE.,Ak. Kemudian H. Mohamad Iqbal Santoso, tokoh PersatuanIslam (Persis), Ny. Hj. Yayah Hidayah, isteri dari KH. Dedensalah seorang dari Tim seleksi. Hanya Dadang Sudrajat, S.Pdyang bukan bagian dari kelompok Dede Satibi, ia berasal dari 24
  25. 25. guru sukwan di kecamatan Bayongbong yang secarakebetulan kakak kandungnya pejabat di KPU Garut. (*)Gugatan di Peradilan TUN Sejumlah peserta seleksi calon anggota KPU menggugatTim seleksi yang telah meloloskan 10 orang calon ke KPUProvinsi untuk menentukan lima anggota terpilih. Dimotori Hasanudin, yang terpental dalam seleksi calonanggota KPU yang diawali dari ketidaksenangannya atassebuah pertanyaan oleh Ketua Tim Seleksi KH. Abdul Halim Lcsaat tes wawancara dengan meminta agar Hasanudinmembacakan Surat Al-Fatihah lengkap dengan terjemahnya.Hasanudin sempat berdebat atas pertanyaan tersebut, danmerasa ketidaklolosannya akibat dari perdebatan sengittersebut. Pucuk dicinta ulam tiba, Hasanudin menemukankejanggalan dalam keputusan Tim Seleksi yang meloloskanHj. Yayah Hidayah dan Undang Fadhita yang masih berstatusPegawai Negeri Sipil. Materi gugatan ke Pengadilan TataUsaha Negara (Peratun) di Bandung salah satunya tentangstatus calon anggota KPU yang belum mengambil person dariPNS. Tim Seleksi bersama Sekretariat KPU Garut dibuat gerahakibat gugatan Hasanudin dan kawan-kawan itu, karena 25
  26. 26. hampir setiap minggu harus mengikuti persidangan diBandung. Tidak ada putusan apa pun dalam gugatan tersebut,karena masing-masing pihak mogok di tengah jalan. Akhirnyaperkara menjadi menggantung sedangkan lima anggota KPUGarut yang ditetapkan oleh KPU Provinsi Jawa Baratmenjalankan tugas-tugasnya sebagai komisoner denganmenyelenggarakan pemilihan umum Tahun 2004. (*)Tentara Kembali Rebut Pemerintahan Kabupaten Garut memang lain dari yang lain.umbangnya rezim orde baru telah memunculkan sikap antipati terhadap tentara. Dimana-mana tentara selalu dihujat,tetapi di Garut sebaliknya. Hal itu terbukti ketika Letkol. Inf.Agus Supriadi maju mencalonkan dirinya sebagai bupati Garutjustru disambut suka cita. Kehadiran Agus Supriadi mengembalikan ingatan wargaGarut akan keberhasilan Letkol. Kav. Taufik Hidayat yangsukses membawa kabupaten Garut ke arah yang berubah.Biarlah di tempat lain tentara itu dihujat, tapi toh untukkabupaten Garut masih memerlukan sosok tentara sebagaibupatinya. Selain tekad keras Agus Supriadi sebagai putra daerah,juga didukung kepiawaian Tim Suksesnya diawalimemenangkan pertarungan di konvensi partai Golkar untuk 26
  27. 27. mendapatkan kendaraan politik bagi Agus Supriadi supayabisa maju menjadi calon bupati dan kesuksesanmengawinkannya dengan Ketua DPC PDIP Garut MemoHermawan. Letkol Inf. Agus Supriadi tampil memimpin Garut setelahterpilih melalui pemilihan di DPRD tanggal 18 Nopember2008. Diawal terpilihnya sempat tergonjang-ganjing olehpersoalan hukum yang mendera wakil bupatinya MemoHermawan yang diduga menggunakan ijazah palsu. Suhu politik di Garut kembali memanas akibatterkatung-katungnya penetapan bupati dan wakil bupatiterpilih. Gelombang demo nyaris tiap hari ke gedung DPRDdari kubu Agus Supriadi-Memo Hermawan. Sedangkan kubuDede Satibi diam-diam mengamankan Kepala SMEA (SMK)PGRI Garut Drs. Zaenal Arifin sebagai pihak yang dianggaptelah mengeluarkan keterangan ijazah bagi Memo Hermawan. Kepala SMK PGRI itu, selain berada di bawahpenguasaan Dede Satibi dan kubunya, seperti Kepala DinasPendidikan Drs. Darjo Sukarja, Ketua PGRI Drs. H. AminMinadipura, Asda I Pemda Garut Drs. Kusnaeni. Seluruhdokumen sekolah yang berkaitan dengan kepentingan Memodiamankan oleh pihak Dinas Pendidikan. Yang tersisa menurut Zaenal Arifin hanya stempelsekolah dan tiga lembar kertas ber-kop sekolahnya. Zaenalsendiri selalu diawasi dan kerap diajak jalan-jalan oleh kubuDede Satibi ke Bandung dan Tasikmalaya. Sementara rumahtinggal Zaenal Arifin secara bergiliran dijaga oleh aparat 27
  28. 28. keamanan. Keluarga Zaenal Arifin sendiri diungsikan kepadaorang tuanya di Kadungora. Peralihan kekuasaan dari Dede Satibi kepada AgusSupriadi nyaris tidak berjalan mulus. Memo Hermawan selakuKetua DPC PDIP dengan kekuatan penuh kadernya, termasukkekuatan Satgas partainya yang terkenal pemberani siapberdarah-darah kalau pimpinan partainya tidak dilantikmenjadi wakil bupati. Agus Supriadi sendiri tidak tinggal diam, dibantu olehjajaran Partai Golkar yang dikomandani oleh Drs. H. RuhiyatPrawira, M.Si terus berjuang agar kemenangannya segeraditetapkan sekaligus dilantik setelah keluarnya SuratKeputusan dari Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. Karena rumitnya persoalan yang melilit MemoHermawan, maka orang-orang disekeliling Agus Supriadimelakukan upaya agar yang dilantik cukup bupati saja. Kubu Memo, tentu saja tidak terima perlakuan tidak adilitu apalagi pemilihan bupati satu paket dengan wakilbupatinya. Masalah Memo tidak pernah berhenti terus dibawake ranah hukum. Beberapa guru yang pernah mengajar di SMEA PGRIdan teman-teman sekolah Memo tidak luput dari pemeriksaanpihak kepolisian untuk dimintai keterangan sekitar kesahihanMemo bersekolah di SMEA PGRI Garut. 28
  29. 29. Kasus Memo sangat melelahkan, begitu diungkapkanKepala SMEA PGRI Zaenal Arifin kepada penulis. Ia tidakmenyangka buntut dari pemilihan bupati akan menyeretdirinya. Zaenal Arifin benar-benar menjadi “bintang” yangdiperebutkan oleh percaturan politik pasca pemilihan bupati.Kubu Dede Satibi memanfaatkannya agar dapat membatalkanhasil pemilihan. Namun sikap Zaenal Arifin yang pendiampunya prinsip yang sangat kuat, yaitu ingin memberikan yangterbaik bagi kepentingan kabupaten Garut sehingga lolos darikemungkinan terburuk. Misalnya terjadi huru-hara yangmeluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Kemenangan pasangan Agus-Memo mengakibatkanterpecah belahnya birokrasi. Sebagian ada yang tetap beradadi kubu Dede Satibi karena masih menjabat bupati, sebagianlagi ada yang berpihak kepada Agus-Memo. Kepala Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) AchmadMuttaqien dan Asda I Wawan Dermawan, dan Kepala DipardaIman Alirahman tegas menyatakan dirinya berada di kubuAgus-Memo. Bahkan Iman Alirahman dalam berbagaikesempatan breefing dengan bupati Dede Satibi tidak sedikitpun menunjukan keberpihakan kepada atasannya yang masihberkuasa itu. Sikap tegas Iman Alirahman semata-mata karena iaadalah orangnya Memo Hermawan, dan memiliki targetmerebut jabatan sekretaris daerah. Target serupa jugamenjadi incaran Achmad Muttaqien yang setia berada di 29
  30. 30. belakang Agus Supriadi. Ketika Agus-Memo dilantik menjadibupati dan wakil bupati, memang pilihan menduduki jabatansekda jatuh ke Achmad Muttaqien. Pertarungan kekuasaan sudah mulai diperlihatkan olehbupati Agus Supriadi dan Wakil Bupatinya Memo Hermawandari perebutan jabatan sekda. Memo kalah telak karena gagalmengusung Iman Alirahman. Namun bukan Memo kalau tidakmampu memainkan bidak-bidak catur politiknya. Maka melaluiperanan Iman-lah kemudian tanpa disadari oleh Agus Supriadibahwa sebenarnya ia sedang terancam. Ancaman itu terbukti ketika kemarahan dan kekesalanMemo semakin memuncak, yang akhirnya meletuslahgelombang demontrasi yang diawali oleh kehadiran Tim dariKomisi Pemberantasan Korupsi melakukan penyelidikan dipemda Garut bulan Juni 2007. (*)Bungalau 12 Ada apa dengan Bungalau No 12 Hotel Sumber Alam.Terkesan seperti bercanda, padahal peristiwa politik yangtidak mungkin bisa dilupakan oleh para pelakunya. Sebelumterjadi sesuatu di Bungalau tersebut, penulis bersama sdr.Daba Tabrani Zeboa, salah seorang aktivis di Garut sempatmendatangi Memo Hermawan untuk sekedar diskusi berkaitandengan terkatung-katungnya pelantikan bupati dan wakilbupati. 30
  31. 31. Melalui perbincangan santai antara Memo Hermawan-Penulis dan Daba Tabrani di salah satu ruangan di HotelAugusta awal Desember 2003, terungkaplah pernyataanMemo yang mengejutkan sekaligus miris. Kenapa tidak, waktuitu Memo tegas menyatakan “bagi saya dilantik atau tidakdilantik tidak jadi masalah tetapi kalau gedung DPRD, gedungpemda dan pusat kota Garut hancur lebur saya siapmenanggung semua resiko hukuman mati sekali pun”. Penulis bertanya “sebenarnya apa yang menyebabkansemua itu”. Dijawab oleh Memo, kuncinya ada di Kepala SMKPGRI Zaeanal Arifin. Jika ada surat pernyataan yang dibuatKepala SMK PGRI maka pihak Departemen Dalam Negeri akansegera memproses pengangkatan Agus-Memo sebagai bupatidan wakil bupati Garut. Penulis dan Daba Tabrani Zeboa, tentu saja dibuatkaget dan miris jika apa yang diungkapkan Memo menjadikenyataan. Penulis dan sdr. Daba kemudian berinisiatifmenghubungi Kepala SMK PGRI tanpa pamrih apa pun,semata-mata demi penyelamatan Garut saja. Dalam pembicaraan di rumah pak Zaenal Arifin, di JalanMustofa Kamil Tarogong dibahas kemungkinan-kemungkinanterburuk yang bakal menimpa Garut. Salah satunya adalahkehancuran infrastruktur yang sudah terbangun dengan baik,seperti gedung DPRD, gedung Pemda dan pusat pertokoan dikota Garut. Pak Zaenal terkaget-kaget dengan kemungkinantersebut, dia pun mengajak penulis dan Daba Tabrani 31
  32. 32. mengkonsultasikan apa yang dikehendaki oleh Memo kepadakakaknya DR. Adang Hambali, dosen di Universitas IslamNegeri (UIN) Bandung. DR. Adang Hambali bersedia datang ke Garut, danpenulis mengatur pertemuan di Bungalau No.12 Hotel SumberAlam sekitar pertengahan Desember 2003. Di Bungalautersebut, ternyata DR. Adang Hambali sudah sangat pahamdengan kondisi kabupaten Garut dan dia pun menyatakan apayang diinginkan oleh Memo Hermawan tidak ada masalahyang penting adiknya Zaenal Arifin siap membuat keterangandari sekolah yang dipimpinnya. Redaksional pernyataan dari Zaenal Arifin dibuatmasing-masing oleh penuis, Zaenal Arifin dan MemoHermawan sendiri. Isinya menyatakan bahwa benar MemoHermawan adalah lulusan SMK PGRI Garut. Waktu itu jugaMemo melalui telepon gengangamnya (HP)mengkonsultasikan redaksional dengan Kepala Biro OtdaPemprop Jabar Drs. Tjatja. Tjatja memandu Memo secara redaksional yangdikehendaki sebagai persyaratan mempercepat SK dariMendagri. Kesimpulannya redaksional versi Tjatja-lah yangterpakai dan penulis yang membuatnya di komputer milikpenulis. Kopinya di dalam disket karena waktu itu masihjarang menggunakan flashdisk. Pertemuan di Bungalau No.12 berakhir tanpa adakomitmen apa pun dengan Memo Hermawan jika yangbersangkutan benar-benar dilantik menjadi wakil bupati. DR. 32
  33. 33. Adang Hambali, adiknya Zaenal Arifin, Penulis dan DabaTabrani semata-mata hanya ingin masalah di Garut cepatselesai sehingga tidak terjadi tindakan yang merugikanmasyarakat. Tanggal 13 Januari 2004 ketika penulis sedang rapat dikantor Redaksi Harian Metro Bandung (sekarang TribunJabar), karena waktu itu penulis masih menjadi wartawanMetro Bandung ditelepon oleh Memo agar pulang ke Garutuntuk menyelesaikan naskah pernyataan dari Kepala SMKPGRI versi Tjatja. Menurut Memo, esok harinya tanggal 14 Januari 2004 iaditunggu oleh Direktur Jenderal Otonomi Daerah Depdagri(sekarang Kemendagri) Oentarto Sindung Mawardi untukmenyerahkan surat keterangan/pernyataan dari Kepala SMKPGRI dalam kepentingan dikeluarkannya Surat KeputusanPengangkatan dirinya sebagai Wakil Bupati Garut. Tanggal 20 Januari 2004 SK Mendagri keluar, namundalam waktu hampir bersamaan Memo Hermawan dikabarkanditangkap pihak Polda Jabar atas tuduhan pemalsuan ijazah.Perkembangan politik memang berjalan sangat cepat, Memopun dipulangkan dan hari Jum’at tanggal 23 Januari 2004dilantiklah Agus Supriadi-Memo Hermawan oleh GubernurJawa Barat Danny Setiawan. Memo Hermawan boleh dilantik bersama Agus Supriadi,namun masalah hukum Memo terus berjalan. Nyaris setiapsaat Memo digoyang aksi demonstrasi agar penggunaanijazahnya yang diduga palsu terus diusut. 33
  34. 34. Setiap muncul aksi unjuk rasa, maka yang dibuat sibukdan menguras tenaga pikiran serta ongkos politik adalahIman Alirahman dan kawan-kawan. Anton Heryanto tampilsebagai eksekutor karena memang memiliki otoritas dalampenggunaan dana APBD. Memang sulit ditelusuri aliran dana dalam penanganankasus Memo, atau memang tidak ada niat dari aparatpenegak hukum menelusurinya. Padahal ketika Erlan Rivanditetapkan sebagai tersangka mulai terbuka aliran dana APBDmasuk kemana-mana. (*)Bertindak dengan Hati Wajah boleh seram dan terkesan bengis, apalagi sehari-harinya bergaul dengan tahanan dan narapidana di LembagaPemsayarakatan (LP) Garut ternyata hatinya luluh juga. ItulahDaba Tabrani Zeboa, blasteran ayah dari Pulau Nias SumateraUtara dan ibu dari Garut asli. Suara yang selalu keras dalam berbagai hal, terutamajika berdialog atau diskusi, namun Kepeduliannya terhadapkabupaten Garut sangat luar biasa. Ketika gonjang-ganjingdan terkatung-katungnya pelantikan bupati dan wakil bupatiGarut terpilih (Agus Supriadi-Memo Hermawan) ia tidakmenginginkan suasana kabupaten Garut kacau balau apalagiterjadi pertumpahan darah dan bakar-bakaran. 34
  35. 35. Seringkali pemikiran positif muncul dari benaknya,termasuk mengajak penulis untuk menemui calon wakil bupatiterpilih Memo Hermawan karena tersiar kabar bahwa Memodengan kader PDIP-nya akan melakukan tindakan keras jikaMemo gagal dilantik sebagai wakil bupati. Kala itu Daba Tabrani sempat mengemukanpendapatnya “ janganlah dari konflik politik melebar menjadikerusuhan yang tidak ada artinya, bahkan hanya akanmerugikan masyarakat. Semua aturan hukum dan politikadalah produk manusia yang bisa diubah-ubah kecualiAl-Qur’an”. Berangkat dari pemikiran itulah ia bersama penulis inginmeyakinkan Memo Hermawan seputar kebenaran kabar yangmerebak di tengah-tengah masyarakat. Faktanya, terkatung-katungnya pelantikan bupati dan wakil bupati terselesaikanjuga setelah melalui serangkaian pembicaraan antara MemoHermawan dengan Kepala SMK PGRI Zaenal Arifin yangdifasilitasi Daba Tabrani Zeboa dan penulis. Daba Tabrani memang bukan seorang aktivis yang selalu“memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan”, karena tohia tidak “dibayar” oleh siapa pun semata-mata sebagai bentukkepedulian kepada Garut agar tidak mengalami kehancuranhanya karena tidak dilantiknya pasangan calon bupati danwakil bupati terpilih. Semua tindakan harus dengan hatibukan dengan perasaan. Jika dengan hati maka semuapersoalan akan terselesaikan dengan baik tanpa harus 35
  36. 36. menelan korban. Itulah yang menjadi pemicu Daba TabraniZeboa mau menemui Memo Hermawan bersama penulis. (*).Memo dan Kepala SMK PGRI Tanggal 23 Januari 2004 Agus Supriadi dan MemoHermawan resmi menjadi bupati dan wakil bupati Garut masabakti 2004-2009. Dua pemimpin berbeda latar belakang ituharus mengendalikan pemerintahan dengan segudangpermasalahannya. Agus Supriadi dengan latar belakang militer, tentu sajapenerapan disiplin merupakan prioritas utamanya. Di satu sisiharus mendisiplinkan jajarannya, namun di lain sisi bupatiAgus Supriadi membuat kebijakan yang bertentangan denganprinsip-prinsip disiplin. Salah satunya adalah memberikankepercayaan penuh kepada Anton Heryanto, seorangpelaksana pada Bagian Keuangan Sekretariat Daerah. Sekitar setahun perjalanan kepemimpinan Agus-Memo,penulis tidak pernah berhubungan dengan kekuasaantermasuk dengan Memo Hermawan. Penulis punberkonsentrasi dengan profesi sebagai wartawan dan selalumengkritisi kebijakan bupati yang dianggap tidak sesuaiharapan rakyat. Anton Heryanto, dan Wawan Nurdin, yang dikenalsebagai geng di jajaran birokrasi datang ke rumah penulisdengan maksud akan mengislahkan penulis dengan Memo 36
  37. 37. karena tidak pernah ada hubungan lagi. Penulis pun dibawaoleh mereka ke rumah dinas wakil bupati yang berada diJalan Sudirman (Depan Bekas Mapolwil Priangan, sekarangMapolres Garut). Waktu itu penulis minta kepada Anton Heryanto danWawan Nurdin, jika ingin mempertemukan penulis denganMemo Hermawan harus menyertakan pula Kepala SMK PGRIZaenal Arifin. Alasan penulis, tidak ingin ada kesalahpahaman terlebihsuuzdon bahwa seakan-akan saya ada deal-dealan denganMemo Hermawan. Misalnya diberi fasilitas karena sudahmenjadi wakil bupati. Pertemuan di rumah dinas Wakil Bupati itu berlangsungsantai dan hangat, diselingi senda gurau nyaris tidak adabatasan antara wakil bupati dengan rakyatnya. Ketika itu Memo berjanji akan membantu SMK PGRI,yang memang tengah kesulitan dalam hal sarana sertaprasarana. Bahkan ruangan kelas pun tidak memadai,termasuk sangat kurangnya guru berstatus PNS. Melalui Anton Heryanto, SMK PGRI mendapat bantuanberupa pembangunan tiga unit ruang belajar. Sedangkanpenulis yang terlanjur memiliki ikatan bathin dengan KepalaSMK PGRI serta Memo Hermawan menerima permintaanKepala SMK agar mau menjadi Ketua Komite Sekolah. 37
  38. 38. Beberapa karyawan pemda Garut yang merupakanlulusan SMEA PGRI menggagas acara re-uni. Penulis masukdalam jajaran panitia re-uni, termasuk di dalamnya pejabatBank Jabar Drs. Yamin Abdul Latif dan Drs. Dedi (sekarangKabid PMG) di Dinas Pendidikan Garut. Secara politis Memo Hermawan mendapat pengakuanyang luar biasa, karena didaulat menjadi Ketua Alumni SMEAPGRI. Namun demikian tidak mematahkan persoalanhukumnya karena kasusnya terus menggelinding kendatibelakangan dikabarkan sudah dihentikan perkaranya. Memang ada kekecewaan di diri penulis karena tidakberhasil meyakinkan geng Memo di Pemda Garut agarmemberikan penghargaan kepada Zaenal Arifin, setidak-tidaknya ia dipromosikan dalam jabatan sebagai Kepala SMKNegeri atau dalam jabatan yang sama baik di SMP maupun diSMA. Masalahnya, Zaenal Arifin adalah seoarang PNS yangdari persyaratan sudah terpenuhi. Hanya saja, nasib ZaenalArifin tidak seperti yang lain. Hingga berakhirnya MemoHermawan dari jabatan Wakil Bupati, tetap saja Zaenal Arifinmenjadi Kepala SMK PGRI. Ironis, memang….. Dalam waktu bersamaan, sekitar di awal tahun 2005,penulis dihubungi Sony MS, salah seorang wartawan yangjuga guru SMP namun sangat dekat hubungan secarapersonalnya dengan Memo Hermawan dan Iman Alirahman. 38
  39. 39. Sony meminta kepada penulis menjadi pemimpinRedaksi Surat Kabar Umum Garoet Pos. Di belakang KoranGaroet Pos itu ada Memo Hermawan, Iman Alirahman, AntonHeryanto dan Wawan Nurdin. Selain mengajak penulis, atas permintaan MemoHermawan, Iman Alirahman dan Wawan Nurdin, diajak pulaAsep Burhannudin (Ketua KNPI), Asep Irvan Setiawan (KetuaPHRI) yang penulis ketahui ketika berkumpul di rumah makanCopong dan turut hadir waktu itu Ajengan Mimih Haeruman,seoarang aktivis yang merupakan tokoh kerusuhanTasikmalaya Tahun 1996. Kenapa Ketua KNPI harus dilibatkan?. Alasannya, karenaKNPI memiliki jaringan sampai ke pelosok pedasaan. SeluruhKetua KNPI tingkat kecamatan dilibatkan dalam mengelolaSurat Kabar Umum Garoet Pos baik sebagai distributormaupun kontributor. Di awal berdirinya Surat Kabar Umum Garoet Pos,jabatan Asep Burhannudin adalah Pemimpin Perusahaan,sedangkan Asep Irvan Setiawan sebagai Direktur UtamaPT. Garut Cahaya Cemerlang, sebuah perusahaan yangmenerbitkan Surat Kabar Umum Garoet Pos. Penulis yang masih terikat sebagai wartawan HarianMetro Bandung (sekarang Tribun Jabar-Grup Kompas) tidakmampu menolak tawaran tersebut. Berlokasi di Jalan Pasundan 47, penulis resmi menjadiPemimpin Redaksi yang segala sarana serta fasilitas sudah 39
  40. 40. disediakan oleh Wawan Nurdin dan kawan-kawan termasukpara pegawainya. Tanggal 17 Maret 2005, Surat Kabar Umum Groet Posresmi diterbitkan perdana dan lounchingnya di rumah makanAdirasa dihadiri langsung oleh bupati Agus Supriadi dan wakilbupati Memo Hermawan setelah mengikuti upacara Hari JadiGarut di lapangan Otto Iskadardinata (alun-alun Garut). (*)Jabatan Tidak Digenggam Drs. Zaenal Arifin adalah seorang pribadi yang nyantri,santun, dan lembut. Kelembutannya membuat orang laintidak akan menyangka kalau ia seoarang pahlawan dalampergolakan politik di kabupaten Garut. Ia dipercaya mengelola SMK (dulu SMEA) PGRI dalamkeadaan yang sangat memprihatinkan. Kenapa tidak, lokasisekolahnya saja diusir oleh sebuah Yayasan Gereja Pasundandi Jalan Bratayudha. Zaenal Arifin memutar otaknya untuk menyelamatkananak didik, yang kemudian mendapatkan lokasi baru di JalanKaracak berupa tanah kosong bekas lahan pesawahan. Iapontang-panting membangun ruang belajar tanpa bantuandari pemerintah. Tidak terbetik dalam pikiran Zaenal Arifin, sekolah yangdipimpinnya akan menjadi pusat perhatian publik pada akhir 40
  41. 41. tahun 2003 pasca pemilihan bupati Garut yang dimenangkanpasangan Agus Supriadi-Memo Hermawan. Tandatangannya ternyata dipalsukan oleh seseorangyang pernah bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di SMEAPGRI di masa jayanya. Pemalsu tandatangan tersebutbernama Isur Suryana yang mendapat perintah dari Drs.Duden Suherman, pejabat di Dinas Pendidikan KabupatenGarut yang tiada lain adalah sohibnya Memo Hermawan. Isur diperintahkan membuat Surat Keterangan dari SMKPGRI untuk memenuhi persyaratan Memo Hermawan saatakan maju menjadi calon wakil bupati Garut mendampingicalon bupati Agus Supriadi. Entah apa yang mendorong Isursehingga berani memalsukan tandatangan Kepala SMK PGRIZaenal Arifin demi kepentingan Memo Hermawan. Isur Suryana dijatuhi hukuman oleh Pengadilan NegeriGarut dalam proses persidangan yang sama sekali tidakmenyentuh Memo Hermawan dan Duden Suherman. Yangpasti pengacaranya kecewa karena dua nama tersebut hanyasebagai saksi saja. Zaenal Arifin, ternyata baru mengetahui tandatangannyadipalsukan setelah pemilihan bupati yang tiba-tiba ia menjadi“bintang” yang diperebutkan oleh kelompok yang bertikaipasca pemilihan bupati. Kalau saja Zaenal Arifin konsisiten tidak maumengeluarkan Surat Keterangannya bagi kepentingan MemoHermawan, maka karir politik Memo sudah berakhir pada 41
  42. 42. tahun 2004 karena dipastikan hanya calon bupati terpilih sajayang memperoleh Surat Keputusan Menteri Dalam Negeriyang berhak memimpin Kabupaten Garut. Pahlawan penyelamat kabupaten Garut itu hingga kinimasih tetap menjadi Kepala SMK PGRI, padahal iaberkeinginan berkarir sebagai Kepala SMK atau SMP Negeri dilingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Boleh jadi karena Zaenal Arifin sebagai pribadi yangmendapat jabatan tanpa harus melalui mafia jabatan ataudengan cara tidak halal, misalnya mengeluarkan uang pelicin.Padahal melalui penulis sudah disampaikannya kepada MemoHermawan ketika masih menjadi wakil bupati dan kepadaIman Alirahman serta Wawan Nurdin yang dikenal ahli dalammengatur jabatan. Geng Memo Hermawan, yang terdiri dari ImanAlirahman, Wawan Nurdin, Komar Mariyuana, Jaja Sudarja,Hengki Hermawan hanya butuh Zaenal Arifin dalammemuluskan perebutan kekuasaan saja, sementarapengorbanan seorang Zaenal Arifin sama sekali tidakdihargainya padahal ia tidak meminta fasilitas apa pun kecualiingin berkarir menjadi Kepala SMK atau SMP Negeri saja. (*)Pejabat dan Dunia Hiburan Pejabat dan wakil rakyat di kabupaten Garut identikdengan dunia hiburan. Ketika tim dari Komisi Pemberantasan 42
  43. 43. Korupsi (KPK) tengah melakukan penggeledahan di kantorBadan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Garut, yang waktuitu Kepala BPKD-nya Komar Mariyuana, justru sejumlahpejabat, wakil rakyat dan aktivis berkumpul di rumah makanCopong. Penulis termasuk salah satu yang ikut hadir di rumahmakan tersebut hingga menjelang waktu Isya. Yang hadirwaktu itu sepakat melanjutkan pertemuannya di HotelImperium Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo Bandung. Penulisberangkat belakangan menggunakan mobil kepunyaanHasanudin, salah seorang aktivis Garut. Di Hotel yang tersedia ruangan karaokean ternyatasudah menunggu beberapa pejabat dan wakil rakyat, antaralain Asda III Kuparman, anggota DPRD Lucky Lukmansyah,Anton Heryanto, Wawan Nurdin dan sejumlah staf dari BPKD. Di ruang karaokean sudah disiapkan wanita yangberprofesi sebagai Pemandu Lagu (PL) secara berpasang-pasangan. Penulis juga sudah disediakan dan satu ruangan(room) bersama Wawan Nurdin dan Anton Heryanto. Malam itu dihabiskan hanya untuk bersenang-senangdan dipastikan menguras kocek yang tidak sedikit. Yang pasti,penulis meninggalkan hotel itu sekira jam 3.00 pagi. Kegiatan serupa, dilakukan pula menjelangpenangkapan Agus Supriadi oleh KPK. Beberapa pejabat dariBPKD, Bawasda (Inspektorat) dan DPRD berkumpul lagi diHotel Golden Boutique Jalan Gunung Sahari Jakarta Pusat. 43
  44. 44. Penulis dimintai bantuan oleh Kepala Bawasda HengkiHermawan untuk meyakinkan isteri mudanya karena setiapsaat selalau meneleponnya. Sangat boleh jadi, isterinya itupencemburu sehingga selalu memantau aktivitas suaminya diJakarta. Demi keselamatan keluarga Hengki Hermawan, penulismau membantunnya dengan meyakinkan isterinya, bahwasuaminya Hengki Hermawan belum bisa pulang cepat-cepatke Garut karena setiap hari harus memenuhi panggilan kekantor KPK di Jakarta. Aktivitas di Hotel Golden Boutique yang tarifnya cukupmahal itu, selain untuk memudahkan KPK melakukanpemeriksaan terhadap sejumlah pejabat menjelangpenangkapan Agus Supriadi, selebihnya memang dijadikanajang hiburan. Kenapa tidak, di hotel tersebut tersediaberbagai fasilitas hiburan termasuk wanita-wanitapenghiburnya, selain wanita lokal ada pula wanita asingseperti dari China, Hongkong dan Korea. (*).Media Massa dan Kejatuhan Agus Supriadi Sosok Agus Supriadi terbilang dekat dengan kalanganpers. Ketika proses pencalonannya sebagai bupati Garutselalu dikerubuti wartawan ketika ia dan keluarganya tinggaldi rumah kontrakan di Jalan Pajajaran Garut. 44
  45. 45. Kepemimpinan Agus Supriadi yang sarat kontroversi,tentu saja menjadi buruan wartawan. Tidak heran, beritatentang bupati Agus Supriadi selalu menghiasi halaman suratkabar dan menjadi gunjingan di kalangan masyarakat. Keberanian Agus Supriadi semakin kentara ketikamengancam akan menggergaji pipa kilang gas bumi Darajatyang dikelola PT. Chevron Texaco Energi Indonesia (CTEI),sebuah perusahaan asing milik Amerika Serikat sebelumpersoalan yang berkaitan dengan bagi hasil bagi pemerintahdaerah belum diselesaikan secara baik dan menguntungkanbagi Kabupaten Garut. Gaya kepemimpinannya yang keras, tegas dan disiplinmembuat gerah para petinggi birokrasi di lingkungan pemdaGarut, apalagi tersiar kabar bahwa untuk mendapatkanpromosi jabatan harus menyetorkan sejumlah uang. Pejabat di lingkungan pemda Garut tidak bisamenerima gaya kepemimpinan Agus Supriadi yang penuhdisiplin itu, karena mereka sudah terbiasa dipimpin bupatiyang berasal dari sipil selama tiga periode, yaitu periodeMomon Gandasasmita (1988-1993), Toharudin Gani (1993-1998) dan Dede Satibi (1998-2003). Kendati tidak senang dengan gaya kepemimpinannya,namun masalah jabatan tetap menjadi incarannya parabirokrat. Dalam kepemimpinan bupati Agus Supriadi,keberadaan geng birokrasi tidak menonjol justru geng-gengliar memanfaatkan nama bupati. 45
  46. 46. Geng liar itu kebanyakan dari kalangan luar yangmemang tidak terorganisir rapi seperti sehingga terkesanseperti “calo jabatan” tidak seperti di era kepemimpinanDede Satibi dan kepemimpinan sekarang (bupati Aceng HMFikri). Kondisi pemerintahan seperti itu menimbulkanprasangka buruk dari kalangan elit di Kabupaten Garut,bahkan sering muncul menjadi berita panas di salah satustasiun radio lokal yang menampung aspirasi pendengarnya. Tentu saja gonjang-ganjing dari kabar yang memanasitu menjadi buruan wartawan untuk diinvestigasi yangkemudian munculah pemberitaan yang kerap membuatbanyak kalangan terutama kalangan elit tidak menyenangigaya kepemimpinan Agus Supriadi. Namun demikian, sosok Agus Supriadi tidak pernahmenekan apalagi menakut-nakuti wartawan kendati dirinyaberlatarbelakang tentara. Agus justru menempatkanwartawan sebagai mitranya, dan melalui peranan AntonHeryanto selalu mengeluarkan kocek APBD guna membantutugas-tugas wartawan. Ketika perseteruan elit, terutama yang dimotori wakilbupati Garut Memo Hermawan maka gelombangketidaksenangan terhadap Agus Supriadi semakin menguat.Awal kejatuhannya dipicu ketika Kepala Bappeda ImanAlirahman menyatakan mundur dari jabatanya yang kemudiandiikuti oleh Anton Heryanto, sebagai Kepala Bidang Anggaran 46
  47. 47. di Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) serta sejumlahpejabat lainnya. Pengunduran diri Iman Alirahman dan kawan-kawanmembuat sejumlah surat kabar menempatkan berita tersebutdi halaman muka. Akibatnya, tidak lama berselang gelombangaksi menurunkan Agus Supriadi nyaris tidak pernah berhentibahkan gedung pendopo pun sempat dikepung parademonstran. Mundurnya Anton Heryanto, ternyata mendapatdukungan dari seluruh Fraksi di DPRD Garut. Bahkan FraksiPKS yang kurang baik hubungannya dengan Anton Heryantomendadak menyatakan dukungannya. Tidak hanya kalangan DPRD, tokoh keras seperti KetuaMUI Garut KH. Abdul Halim mendukung Anton Heryanto. Kiayigalak itu selalu berkomunikasi dengan Anton pascamundurnya dari jabatan di Bagian Keuangan, padahalsebelumnya tidak pernah terjalin hubungan dekat antara KHAbdul Halim dengan Anton Heryanto. Ketika gelombang aksi semakin memanas, dalam waktubersamaan tim dari Komisi Pemberantasan Korupsi justrutengah melakukan penyelidikan dugaan terjadinyapeyimpangan keuangan di pemda Garut. Para pejabat pemda Garut pun hampir dua pekanberada di Jakarta, dan membooking beberapa kamar di hotelGolden Boutique Jalan Gunung Sahari Jakarta Pusat.Sejumlah anggota DPRD Garut pun kerap muncul di hotel 47
  48. 48. tersebut, bahkan Kepala Bawasda (Drs. Hengki Hermawan)mengaku ketakutan dan tidak pernah lepas dari senjata apiyang dimilikinya untuk berjaga-jaga dari kemungkinanterburuk yang menimpa dirinya. Keberadaan sejumlah pejabat pemda Garut di Jakartauntuk memudahkan komunikasi dan pemeriksaan-pemriksaanyang dilakukan pihak KPK. Yang lumayan lama berada diJakarta adalah para pejabat dari Badan Pengelola KeuanganDaerah (BPKD) dan dari Bawasda (sekarang InspektoratDaerah). Akhirnya Agus Supriadi dipanggil KPK ke Jakartatanggal 27 Juli 2007, dan tidak pernah kembali lagi hinggasekarang karena diganjar hukuman 10 tahun penjara olehPengadilan Tindak Pidana korupsi (Tipikor). Ketika Agus Supriadi baru berada di tahanan MapolresMetro Jakarta Selatan sekitar dua pekan, seorang aktivisGarut Hasanudin mengajak penulis mengunjungi AgusSupriadi di tahanan. Sesampainya di Mapolres Metro Jakarta Selatan, penulistidak masuk dan hanya mengantarkan Hasanudin saja.Selanjutnya Hasanudin tetap berada di Jakarta dan ditempatkan di salah satu hotel bersama ajudan bupati AgusSupriadi yaitu Bambang. Kiprah Hasanudin di Jakarta, ternyata di luar dugaanmampu merubah kondisi yang dialami sejumlah pejabat di 48
  49. 49. lingkungan pemda Garut atas ancaman yang disebut-sebutpernah diungkapkan Agus Supriadi. Hasanudin berhasil meluluhkan Agus Supriadi, diawalidari kedatangan Wakil Bupati Memo Hermawanmenjenguknya di tahanan. Sejak itu pula para pejabat pemdaGarut bergiliran mendatangi Agus Supriadi, sehingga saat ituruang tahanan yang dihuni Agus Supriadi sekaligus menjaditempat beraktivitas Agus Supriadi karena masih bersatatussebagai bupati, seperti menandatangani surat-surat ataudokumen. (*)Agus Supriadi Anggap Enteng Memo Bupati Garut Agus Supriadi yang tampil elegan sebagaisosok perwira menengah TNI-AD sangat disegani olehkalangan birokrat, namun secara politis Agus Supriadi belumteruji karena lebih banyak bertugas di pasukan tempurketimbang di teritorial. Ketika ia memasuki ranah politik dan harus berhadapandengan para politisi terutama wakil bupatinya MemoHermawan, kurang cermat menghitung kalkulasi politiknyasehingga membiarkan Memo sekaligus memperlakukanseperti “anak bawang”. Memo nyaris tidak diberi peran dalam mengelolapemerintahan dan pembangunan, bahkan dalam banyak halMemo dibiarkan liar. Padahal Memo diam-diam menggalang 49
  50. 50. kekuatan di jajaran birokrasi yang dimotori oleh ImanAlirahman dan Anton Heryanto serta Wawan Nurdin. Sejumlah pejabat di lingkungan pemda Garut banyakyang mengakui kehebatan Memo walau pun Memo seringdisebut-sebut tidak jelas sekolahnya. Ir Widyana CES, jebolanIPB dan pernah lama di lingkungan pemda Bekasi yangkemudian beberapa kali menduduki jabatan eselon II dipemda Garut, adalah salah satunya yang mengakuikecerdikan, kepintaran dan kehebatan Memo Hermawan. Memo memang bukan politisi yang jago pidato (orator),melainkan jago dalam hal strategi. Ia piawai membangunjaringan dengan berbagai kelompok, tidak heran jikakelompok yang menyerangnya berkaitan dengan dugaanpenggunaan ijazah palsunya justru berbalik menjadipendukung Memo. Hal itu tidak disadari oleh Agus Supriadi, karena bolehjadi Agus Supriadi tetap beranggapan bahwa Memo tidakjelas sekolahnya dan tidak membahayakan dirinya, karenamemang orang bodoh. Kalau saja orang-orang dekat AgusSupriadi, terutama staf ahlinya memberi masukan bagaimanabahayanya seorang Memo Hermawan, maka dapat dipastikanbupati Agus Supriadi tidak akan jatuh di tengah jalan. Staf ahli bupati saat itu dari kalangan politisi adaMachyar Suara, dari akademisi ada Prof.DR. Ali Ramdani, darikalangan aktivis ada Usep Sobar. Bahkan satu lagi darikalanga aktivis yang tidak terstruktural yaitu Agustiana. Parastaf ahli itu tidak mungkin tidak memiliki referensi tentang 50
  51. 51. kecerdikan Memo dalam berpolitik, atau pura-pura tidak tahusehingga tidak dijadikan program dan strategi bahasanbersama bupati Agus Supriadi. Atau sangat boleh jadimembiarkan Memo dengan bola panasnya karena staf ahlipun menghendaki agar bupati Agus Supriadi jatuh di tengahjalan. (*).Kalau Tidak Ikut Mundur “Kalau saja waktu itu saya tidak ikut mundur, saya jaminpak Agus Supriadi tidak mungkin jatuh dari jabatannyasebagai bupati.” Demikian diungkapkan Anton Heryantokepada penulis. Anton Heryanto yang saat itu tengah disibukan denganmasalah keuangan, pada hari Jum’at (lupa tanggalnya) dibulan Juli 2007 pagi hari datang Iman Alirahman ke ruangankerjanya. Iman bicara panjang lebar tentang situasi dipemerintahan, salah satunya adalah bekerja seperti robot dansapi perahan oleh bupati Agus Supriadi. Iman menyampaikanniatnya kepada Anton untuk mengundurkan diri darijabatannya sebagai Kepala Bappeda pada Jum’at sore hari ituyang kebetulan akan mengikuti breefing bersama bupati AgusSupriadi. Betul juga, setelah breefing Iman kembali menemuiAnton di kantornya yang hanya berjarak beberapa meter saja 51
  52. 52. dari gedung Pendopo. Iman menyampaikan keputusannyabahwa ia sudah mundur dari jabatan Kepala Bappedalangsung disampaikan ke bupati. Anton menyatakan siap mengikuti langkah Iman, yaitumundur juga dari jabatannya dan akan menggelar jumpa persesok harinya (hari Sabtu). Sejumlah media massa sontak memuat pernyataanIman dan Anton yang mengundurkan dari jabatannya masing-masing. Hari Senin di acara apel pagi, bupati Garut AgusSupriadi sangat marah kepada Iman dan Anton yangdisampaikannya dalam pidato di depan peserta Apel. “Si Imandan si Anton adalah pengkhianat karena sudah mundur darijabatannya.” Situasi setelah mundurnya Iman dan Anton semakinmemanas. Wakil Bupati Memo Hermawan, yang memilikikedekatan secara personal dengan pejabat di KomisiPemberantasan Korupsi meminta saran bagaimana menyikapidugaan korupsi yang dilakukan bupati Agus Supriadi melaluihubungan telepon selular yang dikeluarkan suaranya(loudspeaker) disaksikan Anton Heryanto. Pejabat KPK menyarankan untuk mempercepatpenangkapan bupati Agus Supriadi adalah dengan caradilakukannya aksi unjuk rasa. Memo bersama Anton, Imandan pejabat pemda lainnya mengumpulkan sejumlah logistikguna menggalang aksi unjuk rasa menuntut bupati AgusSupriadi mundur. 52
  53. 53. Setelah gelombang aksi massa terus melakukan unjukrasa ke kantor pemda, gedung DPRD, alun-alun bahkanmengepung gedung Pendopo sekaligus rumah dinas bupati,maka akhirnya tanggal 27 Juli 2007 KPK memanggil bupatiAgus Supriadi ke Jakarta dan tidak kembali lagi (dilakukanpenahanan). (*)Agus Tawari Iman jadi Sekda Bupati Agus Supriadi yang dikenal keras dan disiplinternyata memiliki catatan tersendiri terhadap birokratbawahannya yang mempunyai kemampuan dalam kinerjanya.Salah satunya ia memuji kecerdasan Iman Alirahman yangjustru menjadi pemicu jatuhnya Agus Supriadi dari jabatannyasebagai bupati. Ketika Agus Supriadi berada di sel tahanan Polres MetroJakarta Selatan atas peranan Hasanudin tiba-tiba antipatiterhadap Achmad Muttaqien, yang saat itu masih menjabatsekretaris daerah. Bupati Agus Supriadi secara tegas akan segeramencopot Achmad Muttaqien, namun ia masih kesulitanmencari penggantinya sebagai pejabat pelaksana tugas (Plt)sekda. Dengan berbagai pertimbangan yang sekaligusdidiskusikan dengan Hasanudin dan Ketua APDESI AsepHamdani menjatuhkan plihannya ke Iman Alirahman. 53
  54. 54. Melalui telepon genggam milik Ketua APDESI yang saatitu berada bersama bupati Agus Supriadi di kamartahanannya menelpon penulis agar menghubungi ImanAlirahman guna menyampaikan tawarannya mau menjadipejabat pelkasana tugas sekda Garut. Menurut Agus Supriadi,nama Iman Alirahman sangat pantas menjadi sekda. Penulis lalu menemui Iman Alirahman di kantor Bappedamenyampaikan pesan dan amanat dari bupati Agus Supriadi.Kebetulan di ruang kerja Iman Alirahman sudah ada WawanNurdin. Iman menyatakan akan piker-pikir dulu sekaligusmengonsultasikannya dengan Wakil Bupati Memo Hermawan. Memo Hermawan yang kemungkinan sudah mendapatlaporan dari Iman Alirahman kemudian menelpon penulisdengan menyatakan bahwa Iman Alirahman jangan maumenerima tawaran dari bupati Agus Supriadi tersebut. Memomengkhawatirkan tawaran itu sebagai sebuah jebakan dariAgus Supriadi, kendati Memo tidak menjelaskan secara rincibentuk dan akibat dari jebakan Agus Supriadi. Bupati Agus Supriadi akhirnya secara resmimemberhentikan Achmad Muttaqien dari jabatan sekda,sekaligus mengangkat Budiman sebagai pelaksana tugassekda. Waktu itu yang sudah merapat ke Agus Supriadi agarmengangkatnya sebagai sekda antara lain Yaya.S Permana,Wowo Wibowo dan Hilman Faridz. Agus Supriadi memang tidak sendirian dalammenentukan pilihannya mengangkat Plt sekda, karena darikalangan aktivis selalu didampingi oleh Dadan, Deni Ramdani 54
  55. 55. dan Ujang Saeful (Ujang Geren) dengan kelompok Dabo-Ribo-nya. Nama Ujang Geren adalah salah seorang aktivis yangkomitmennya dengan Agus Supriadi sangat tinggi. Iamempertaruhkan segala-galanya dalam membela AgusSupriadi, bahkan selalu mengawal Agus Supriadi dalam setiappersidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Ketika Agus Supriadi mengusung Budiman sebagai PltSekda, justru Kepala Badan Kepagawaian Daerah (BKD) AraKoswara menjadi tumbalnya karena dipecat oleh MemoHermawan. Padahal Ara Koswara salah satu pejabat pemdaGarut yang sangat setia membantu logistik bagi kepentinganAgus Supriadi setelah mendekam di tahanan. Ara Koswara dipersalahkan mengangkat Tenaga KerjaKontrak (TKK) dengan imbalan uang pelicin. Padahal uangpelican tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang tertentudengan menjual nama bupati. Sebut saja Hasanudin ikutmenitipkan beberapa orang TKK, dan penulis termasuk yangmenitipkan kakak sepupu yang berprofesi sebagai guru danperawat sebagai TKK melalui Hasanudin. Dari kasus pengangkatan TKK, Ara Koswara pernahberurusan dengan aparat penegak hukum di Polres danKejaksaan Negeri Garut. Hanya saja kasusnya tidak berlanjut,dan Ara sendiri kini menjadi pejabat fungsional alias tidakdiberi jabatan apa pun setelah diberhentikan dari jabatannyasebagai Kepala BKD. (*). 55
  56. 56. Birokrat, Jaringan Politik dan Hukum Naiknya Agus Supriadi dan Memo Hermawan sebagaibupati dan wakil bupati tidak pernah lepas dari persoalanhukum. Apalagi Memo Hermawan sejak awal memang sudahbermasalah dengan hukum. Birokrasi yang secara de jure berada di bawahkekuasaan bupati namun faktanya de facto berada di bawahkendali Wakil Bupati Memo Hermawan dengan ImanAlirahman sebagai motornya. Kuatnya dominasi Memodengan Iman Alirahman, semakin memperkuat kelompokbirokrasi yang di bawahnya ada nama Hengki Hermawan,Anton Heryanto, Wawan Nurdin, Erlan Rivan, Kuparman danKomar Mariyuana. Setumpuk persoalan hukum yang melilit Memo danjajaran pejabat birokrasi lainnya selalu dapat diselesaikandengan menggunakan kekuatan politik. Kekuatan tersebuttidak terlepas pula dari ajang perebutan kekuasaan, sehinggaada kelompok yang diuntungkan secara hukum namun adapula kelompok yang justru jatuh karena hukum. Sebut sajaKetua DPD Partai Golkar Garut, Drs. H. Ruhiyat Prawira MSi,adalah bukti dari kekuatan politik yang tidak pernah mengenalkompromi ketika sudah berhadap-hadapan dengankepentingan kekuasaan. Ketika Memo Hermawan naik menjadi Penjabat BupatiGarut, saat itu pula peta perpolitikan Garut merubah 360derajat. Anton Heryanto yang merupakan tokoh kunci dantokoh pada jamannya Agus Supriadi justru didepak dari 56
  57. 57. kelompok Memo-Iman. Bahkan Anton harus mengalami nasibterburuk yaitu digelandang di Kejaksaan Negeri Garut hinggake persidangan di Pengadilan Negeri Garut. Korban berikutnya adalah sekda Garut Drs. WowoWibowo, yang terpaksa selain dicopot dari jabatannya malahsempat meringkuk di sel tahanan Mapolda Jawa Barat.Beruntung Wowo Wibowo dinyatakan bebas oleh MajelisHakim Pengadilan Negeri Garut. Jaringan birokrasi yang dimotori Memo Hermawan,dengan tangan kanannya Iman Alirahman dan WawanNurdin terbukti sukses memuluskan pasangan Aceng HMFikri-Diky Candra terpilih menjadi bupati dan wakil bupatiGarut periode 2009-2014, dan mengantarkan MemoHermawan menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. ImanAlirahman sendiri dipercaya menjadi pejabat sementara sekdaGarut setelah ditinggalkan Wowo Wibowo. Sosok Wawan Nurdin sebagai birokrat memiliki jaringanyang sangat luar biasa luasnya di institusi penegakan hukum,yaitu di Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Ia memilikikemampuan mengatur pejabat dan politisi yang tersandungmasalah hukum, sehingga kasusnya bisa terhenti ataumenggantung. Pejabat dan politisi yang dibantunya terdiri dari duakelompok, Pertama mereka yang memiliki dana kuat danmerupakan kelompoknya, sehingga secara politis harusmengikuti permainan Wawan Nurdin bersama kelompoknya.Kedua, yaitu pejabat dan politisi yang hanya memiliki dana 57
  58. 58. namun bukan dari kelompoknya. Yang terkahir ini, jika sukseslolos dari jeratan hokum maka secara otomatis harus tundukdan masuk kelompok Wawan Nurdin. Wawan Nurdin pernah bercerita kepada penulis tentangmasalah hukum yang dihadapi mantan Kasubbag Keuangan diBPKD Erlan Rivan. Wawan Nurdin mau membantunya asalada uang tidak lebih dari satu milyar rupiah. Dana sebesar itutidak ada artinya dibandingkan dengan jabatan dankehormatan. Erlan ternyata meragukan kemampuan Wawan Nurdin,akhirnya mencari jalan sendiri dan menurut Wawan Nurdindana yang dikeluarkan Erlan Rivan hingga diputus olehPengadilan diperkirakan mencapai lebih dari dua milyarrupiah, atau jauh lebih besar jika diurus oleh Wawan Nurdin.(*).Politisi Rebut Pemerintahan Lengsernya Wowo dari jabatan sekda, semula akanmemuluskan Iman Alirahman sebagai penggantinya. Namunlagi-lagi sandiwara perebutan kekuasaan tidak terhindarkan.Birokrat senior Hilman Faridz tiba-tiba menyodok denganmendapat dukungan dari banyak kalangan termasuk parapolitisi. Kelompok Iman dengan kekuatan kekuatan politiknyamenyadari bahwa kekuatan Hilman semakin besar bahkan 58
  59. 59. disebut-sebut mendapat dukungan dari Gubernur Jawa baratmelalui jaringan partai tertentu. Jalan Hilman menuju jabatan sekda tak terelakan lagi,namun kubu Iman tidak tinggal diam jauh-jauh hari sudahdipersiapkan perangkat untuk menghentikan langkah Hilman,yaitu dengan keluarnya Peraturan Bupati Garut No. 131Tahun 2009 Tentang Pembatasan usia pensiun bagi pejabatdi lingkungan pemda Garut. Korban pertama dari Perbup tersebut, tentu saja adalahHilman Faridz. Ia hanya menjabat sebagai sekda selamasembilan saja karena keburu terkena Peraturan Bupati.Sedangkan dua pejabat pemda lainnya yaitu Kadisdik KomarMariyuana dan Asda I Arus Sukarna melenggang maniskarena mendapat perpanjangan sebelum Peraturan Bupatiditerbitkan. Politisi di Garut memang piawai dan cerdik dalammerebut kekuasaan di pemerintahan. Politisi pendukungHilman harus diapresiasi karena mereka cerdik mengantarkanHilman kendati belum berkuasa secara penuh karena hanyasembilan bulan. Politisi yang berada di belakang Iman Alirahman, jugaharus diapresiasi karena mereka tidak pernah memudarsemangatnya untuk menjadikan Iman sebagai penguasa dipemerintahan. Iman Alirahman memang sangat dikehendakioleh bupati Aceng HM Fikri dan Wakil Bupati Diky Candra,karena pemimpin muda itu akan merasakan nyamandidampingi oleh sekdanya sekelas Iman Alirahman. 59
  60. 60. Sosok Iman Alirahman, memang sangat disegani selainusianya relatif masih muda dibandingkan pejabat birokrasieselon II lainnya juga memiliki kemampuan luar biasa dalammembangun jaringan baik jaringan politik maupun jaringanhukum. Iman memiliki seseorang yang sangat dipercayainya,yaitu Wawan Nurdin yang sudah bersahabat ketika Imanmenjadi Camat Bayongbong dan Wawan Nurdin waktu itumenjadi Kepala Desa Bayongbong. Persahabatannya berlanjuthingga Wawan Nurdin diangkat menjadi pegawai negeri sipil(PNS) di lingkungan pemda Garut. Iman Alirahman dan Wawan Nurdin layaknya “gula danmanis-nya” yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.Sebagai uji coba, Wawan Nurdin sempat diangkat menjadiKepala Bidang Pemerintahan Desa di Badan PemberdayaanMasyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) menjelangperhelatan akbar pemilihan umum (Pemilu) Legislatif danpemilu Presiden dan Wakil Presiden. Jabatannya itu, justru sebagai sarana untukmenggalang kepala desa menyukseskan calon anggota DPRDJawa Barat Bagus Wiwaha dan Mayjen (Purn) YahyaSacawinata untuk DPR dari partai Demokrat. Nama YahyaSacawinta, waktu itu disebut-sebut bakal menjadi MenteriDalam Negeri jika SBY terpilih kembali menjadi presiden RI.Setelah pemilu selesai Wawan Nurdin kembali ke habitatnya,yaitu menjadi pejabat fungsional (jafung) di DinasPendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA). 60
  61. 61. Beberapa pergantian pejabat di lingkungan pemdaGarut dalam kepemimpinan bupati Aceng HM Fikri tidakterlepas dari peranan Wawan Nurdin dalam menempatkansejumlah pejabat dari mulai eselon IV hingga eselon II.Kongkritnya, Wawan Nurdin adalah sosok birokrat yangsangat cerdik dalam menjabarkan sekaligusmengaktualisasikan pola yang dirancang Iman Alirahmandalam menguasai pemerintahan, politik dan hukum. (*)Wajah Wakil Rakyat (DPRD Garut) Wakil rakyat di DPRD Kabupaten Garut pascatumbangnya rezim orde baru, memang menjadi sangatberkuasa. Jika periode pertama reformasi 1999-2004 yangdiketuai Ir. Iyos Somantri dan Dedi Suryadi sangat ditakutieksekutif. Apa yang diminta pimpinan DPRD tidak pernah adayang ditolaknya. Bupati Dede Satibi dengan sekdanya Rahmat Sudjana,dan penguasa anggaran waktu itu Drs. Yaya S. Permanasebagai Asda III mampu mengatur semua keiinginan danpermintaan DPRD kendati pada akhirnya wakil rakyattersandung masalah hukum, menyusul terendusnyapenyimpangan dana APBD yang dikenal dengan APBD-gate. DPRD periode 2004-2009 semakin menguat setelahDedi Suryadi (PPP) naik menjadi Ketua DPRD mengalahkanKohar Somantri didukung oleh bupati Garut Agus Supriadi.Dedi Suryadi sebagai politisi muda yang cerdik dan energik 61
  62. 62. diam-diam membangun jaringan dengan wakil bupati GarutMemo Hermawan melalui peranan Iman Alirahman-WawanNurdin-Anton Heryanto dari pihak birokrasi, diperkuatHasanudin dari kelompok aktivis yang dikenal dekat denganDedi Suryadi. Kocek DPRD mengalir terus dari dana APBD baik yangmengalir secara normatif berdasarkan ketentuan yang adamaupun yang dilakukan “di belakang layar”, terutama dalammemuluskan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban(LKPJ) yang selalu diselesaikan secara “adat” jika kemudiandiketahui ada yang tidak sesuai dengan kehendak DPRD. Memo Hermawan sebagai Wakil Bupati, dan DediSuryadi sebagai Ketua DPRD adalah dua sosok politisi yangtersandung masalah hukum. Jika kasus Memo masih terusmenggantung di Polda dan Kejaksaan Tinggi (jalan ditempat), sementara kasus Dedi Suryadi sudah masuk keMahkamah Agung. Berkat jaringan politik dan hukum yang dilakukan parabirokrat cerdik, maka kedua kasus tersebut pun dalamterselesaikan “secara adat”. Memo hingga kini tetap “aman”dan Dedi Suryadi sendiri justru dalam Putusan PeninjauanKembali (PK) di Mahkamah Agung dinyatakan bebas. Memoakhirnya melenggang ke gedung DPRD propinsi sebagaianggota periode 2009-2014, sedangkan Dedi Suryadi terhentimelenggang ke Senayan (gedung DPR-RI) karena perolehansuaranya tidak signifikan dalam pemilu legislatif tahun 2009. 62
  63. 63. Ahmad Bajuri diuntungkan oleh Peraturan PemerintahNo. 16 Tahun 2010 sebagai implementasi dari UU No. 27Tahun 2009 Bahwa yang berhak menjadi Ketua DPRD adalahdari partai pemenang pemilu. Akhirnya Lucky Lukmansyahharus rela di posisi sebagai Wakil Ketua DPRD. Golkar dan PDIP mendapat jatah pula untuk posisi wakilKetua, yaitu Drs H. Ruhiyat Prawira dan Dedi Hasan Bahtiar.Penunjukan Dedi Hasan Bahtiar dari PDIP semata-matakarena condongnya Memo terhadap Dedi Hasan, yangsebelumnya Memo pun sempat meminta pendapat danpandangan kepada Penulis jika Dedi Hasan menjadi WakilKetua DPRD. Pasca pemilu legislatif 2009 dengan kemenangan partaiDemokrat, maka berubah pula wajah DPRD Garut karenapolitisi anak bawang Ahmad Bajuri tiba-tiba naik menjadiKetua DPRD padahal yang dikehendaki penguasa dipemerintahan kabupaten Garut adalah politisi PPP. Bahkanfungsionaris partai Demokrat, yaitu H. Gunadi BSc menggebu-gebu memperjuangkan agar Ir. Lucky Lukmansyah Trengganasebagai Ketua DPRD. Penulis sempat dihubungi H. Gunadi untukmemperjuangkan Lucky. Penulis, yang juga anggota KPUmenyampaikan pendapat kepada H. Gunadi bahwa Luckytidak mungkin bisa naik menjadi Ketua DPRD karenamekanismenya sudah diatur oleh PP No. 16 Tahun 2010 dantidak ada mekanisme pemilihan pimpinan DPRD melainkanpenunjukan sesuai perolehan kursi hasil pemilu 2009 63
  64. 64. Wajah DPRD Garut periode 2009-2014 dari segi kualitasjauh berbeda dengan periode sebelumnya yang memilikisejumlah anggota sekelas Dedi Suryadi, Kohar Somantri,Haryono, Dikdik Darmika, Gaos Syamdani, Ali Rohman. Di periode 2009-2014 hampir semua pemain baru,kecuali yang tersisa antara lain Lucky Lukmansyah, AhmadBajuri, Dedi Hasan Bahtiar dan Yogi Yudawibawa. Semuanyabelum teruji sehingga bisa sekelas dengan wajah anggotaDPRD periode sebelumnya. Hanya Lucky Lukmansyah yanglumayan teruji. Sedangkan Ahmad Bajuri masih harus banyakbelajar, sehingga ia tidak pernah bisa lepas dari ketiakWawan Nurdin dan Bagus Wiwaha. Wajah DPRD Garut sedikit tertolong dengan masuknyamantan pejabat pemda Garut, H Sobirin dari partai Demokrat.Sosok Sobirin memang cukup berpengalaman, maka tidakheran jika ia diposisikan sebagai Ketua Komisi C yang salahsatunya membidangi masalah keuangan. Sobirin banyak terlibat di Panitia Anggaran (Panggar),yang setidak-tidaknya bias mengimbangi pihak eksekutif yangjago-jago dalam hal perhitungan anggaran. Dua anggota DPRD Garut terpilih dari Partai Golkar(Agus Ridwan, SH) dan dari PAN (Usep Jumhur) memperolehkursinya dengan mengorbankan seniornya di partai masing-masing. Agus Ridwan mendepak Ojo Sukmana di DaerahPemilihan Garut I berkat bantuan salah satu anggota Panitia 64
  65. 65. Pemilihan Kecamatan (PPK) Karangpawitan Asep Irvan yangmengatur perolehan suara sehingga Agus Ridwan menyalipperolehan suara Ojo Kusmana. Padahal faktanya suara OjoKusmana jauh di atas suara yang diperoleh Agus Ridwan. Asep Irvan nyaris dipidanakan, namun penulis yangjuga anggota KPU menyarankan kepada Ketua KPU Garut AjaRowikarim, M.Ag sebaiknya Asep Irvan dipecat saja darianggota PPK Kecamatan Karangpawitan. Asep Irvan akhirnyadipecat dan dalam pemilihan Umum Presiden dan WakilPresiden 2009 tidak lagi ikut serta dalam kegiatan kepemiluandi PPK Kecamatan Karangpawitan. Sedangkan Usep Jumhur dari PAN merebut kursi DPRDsetelah calon terpilih urutan peraih suara terbanyak pertamaH. Gaos Syamdani meninggal dunia sebelum pelantikandilaksanakan. Mestinya pengganti H. Gaos Syamdani adalahHj. Tinnekeu, namun isteri mantan Ketua DPD PAN Garut H.Sofwy Irvan itu dilaporkan ke Polres Garut dengan tuduhanpenggunaan ijazan palsu SMA-nya. Akhirnya Hj. Tinnekeu menyatakan mengundurkan diridari calon anggota DPRD dan belakangan sekaligus mundurdari keanggotaannya sebagai kader Partai berlambangmatahari. Mundurnya Hj. Tinnekeu memuluskan Usep Jumhuryang berada di posisi ketiga menjadi anggota DPRD Garutperiode 2009-2014, dan di internal PAN masa bakti UsepJumhur hanya 2,5 Tahun karena berikutnya akan diganti olehcalon urutan ke 3 Haris. 65
  66. 66. Begitulah percaturan politik dalam merebut kekuasaanmenghalalkan segala cara, termasuk menari di ataspenderitaan temannya sendiri yang penting kekuasaan dapatdigenggamnya. ( *).Skandal Seks yang Di peti es kan Adalah satu-satunya anggota DPRD Garut dari PartaiGerinda, Hilman Yudiswara tersandung masalah pelecehanseksual karena membawa gadis di bawah umur ke salah satuhotel di kawasan wisata Cipanas. Hilman dilaporkan oleh orang tua gadis yangdikencaninya ke polisi. Hilman pun ditetapkan sebagaitersangka, namun kasusnya hingga kini lenyap ditelan bumi(dipeti es kan). Dipetieskannya kasus Hilman berawal ketika Hilmanbersama ayahnya menemui penulis di kantor Redaksi GaroetPos. Mereka meminta bantuan penulis agar kasusnya dapatdiselesaikan tanpa harus berlanjut ke ranah hukum. Alasanmenemui penulis karena penulis salah satu anggota KPU. Penulis menyarankan agar menemui Hasanudin (aktivis)yang diketahui penulis punya kedekatan khusus denganKapolres Garut waktu itu AKBP. Amur Candra danKasatreskrim AKP. Oon Suhendar. Penulis kemudianmempertemukan Hilman dan ayahnya dengan Hasanudin direstoran Pujasega. 66
  67. 67. Selanjutnya Hasanudin bekerja untuk Hilman denganmenggunakan lobi-lobi intensif di Polres Garut. Hasilnya,kasus Hilman dipetieskan bahkan sekarang Hilmanmelenggang menjadi Ketua DPC Partai Gerinda KabupatenGarut. Hasanudin sempat mengeluhkan kekecewaannyakepada penulis setelah sukses membantu Hilman yang kasuspidananya tidak berlanjut. Hilman dianggap politisi kemarinsore yang tidak komit atas penyelesaian kasusnya. BahkanHasanudin menyatakan politisi seperti Hilman tidak bisadiandalkan. Hal yang sama dialami oleh Bendahara DPD PAN Garut,Hj Tinekeu yang dilaporkan oleh kader PAN ke Polres dengandugaan menggunakan ijazah palsu dalam pencalonannyasebagai anggota DPRD Garut pada Pemilu 2009. Hj. Tinekeu adalah calon anggota DPRD Garut dariDaerah Pemilihan Garut 2 meliputi kecamatan TarogongKaler, Tarogog Kidul, Banyuresmi, Samarang dan Pasirwangi.Ia seharusnya menggantikan H. Gaos Syamdani yangmeninggal dunia sebelum pelaksanaan pelantikan anggotaDPRD Garut hasil pemilu 2009. Hj. Tinnekeu tidak dikehendaki menggantikan GaosSyamdani, maka didongkel-lah dugaan penggunaan ijazahpalsunya. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Garut kerja kerasmenangani proses pergantian antar waktu (PAW), dananggota KPU Garut M. Iqbal Santoso dan pegawai di 67
  68. 68. Sekretariat KPU sempat diperiksa sebagai saksi setelah Hj.Tinnekeu ditetapkan sebagai tersangka. Lagi-lagi istilah “politik itu kejam”, memang benar dandialami oleh Hj Tinnekeu yang harus menyatakan mundur daripencalonannya sebagai anggota DPRD Garut terpilih karenaada deal politik tidak akan dilanjutkan perkaranya dikepolisian. Terbukti sudah, setelah Hj Tinnekeu menyatakanmundur lalu DPRD dan KPU memproses pergantian antarwaktu (PAW), kemudian keluarlah surat keputusan GubernurJawa Barat yang menetapkan dan mengangkat Usep Jumhursebagai pengganti Hj Tinnekeu maka kasusnya di Polres Garuthingga kini raib ditelan bumi alias dipeti es kan.(*)Anggota DPRD Diincar Penegak Hukum Penegak hukum terutama dari Polres Garut mulaimengincar dan membidik anggota DPRD, yang didugamenerima aliran bantuan sosial (bansos) dan dana alokasikhusus (DAK) di Dinas Pendidikan. Anggota Fraksi Partai Demokrat Ny. Euis Komariahkepada penulis mengaku didatangani sejumlah anggota polisiberseragam ke gedung DPRD Garut meminta keteranganseputar aliran DAK dari Disdik, karena diduga sejumlahanggota dewan mendapat jatah proyek yang didanai dari DAKtersebut. 68
  69. 69. Anggota dewan yang satu ini terbilang vokal sehinggameminta petugas dari kepolisian itu untuk tidak memintaketerangannya di gedung DPRD melainkan secara resmi diMarkas Kepolisian Resort Garut dengan berita acarapemeriksaan. Dengan begitu, menurut Ny. Euis Komariah bisaleluasa berbicara apa adanya berkaitan data dan keteranganyang dibutuhkan pihak kepolisian. Namun ternyata tidak ada kelanjutannya, dan masihmenurut Ny Euis Komariah yang biasa dipanggil denganpanggilan “bunda” itu padahal dirinya sudah sangat siap.Namun belakangan malah Ketua Komisi D, dr. Helmi Budimanyang membidangi pendidikan dan kesehatan sudah dimintaiketerangannya. Dana Alokasi Khusus (DAK) di Dinas Pendidikanmemang sangat besar, selain ada proyek pengadaan buku,ada juga proyek pembangunan dan rehabilitasi sekolah-sekolah. Kabar yang merebak proyek-proyek tersebut sudahada yang memegang oleh pihak-pihak yang memiliki aksestermasuk di kalangan anggota DPRD. Karena menumpuknya proyek di Dinas Pendidikanmengakibatkan bupati Garut Aceng HM Fikri mengalamikesulitan mencari penggganti Kepala Dinas Pendidikan yangditinggalkan Komar Mariyuana setelah resmi pensiun. Kesulitan tersebut sangat boleh jadi berkaitan denganpengamanan proyek yang terlanjur sudah didistribusikan kebanyak pihak, karena sangat sulit mencari figur Kepala Dinas 69
  70. 70. Pendidikan setangguh Komar Mariyuana yang dikenal dekatdengan aparat penegak hukum. Kerja ekstra keras berpulang kepada sekda Garut ImanAlirahman untuk mengamankan semua persoalan yang ada dilingkungan pemda Garut, tidak terkecuali masalah yangmenumpuk di Dinas Pendidikan, termasuk yang melibatkananggota DPRD. Lagi-lagi Iman diuji kemampuannya, kepiawaianmenggalang jaringan dan kekuatan hukumnya agar semuapersoalan tersebut dapat diselesaikan dengan baik sepertimotto Pegadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.(*)Aktivis dan Proyek D.A.K Buku Jika anggota DPRD bermain dalam proyek yang didanaidari Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan sudah tidak anehlagi. Kalau seorang aktivis bermain dalam proyek yang sama,memang aneh apalagi melibatkan pejabat penegakan hukumuntuk memuluskan perolehan proyeknya. Adalah Direktur Pusat Informasi dan StudiPembangunan (PISP) Hasanudin, dengan menggaet KepalaSatuan Reserse Polres Garut AKP. Oon Suhendar berhasilmelumpuhkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten GarutKomar Mariyuana dan jajarannya sehingga proyek D.A.K buku 70
  71. 71. yang nilainya 1,8 milyar rupiah diraih oleh Hasanudin denganmengusung bendera PT. Mangle Panglipur. Hasanudin pernah bercerita kepada penulis bagaimanakerasnya “berperang” melawan pesaing-pesaingnya dalammemperebutkan proyek tersebut bahkan tangan kanan bupatiGarut Isur Suryana yang membawa pengusaha kuat harusterpental oleh kepiawaian Hasanudin dengan gayanya yangkhas memanfaatkan ketakutan jajaran birikrat di DinasPendidikan oleh pejabat di Polres Garut. Hasanudin mengakukecewa karena pengusaha dari Jakarta yang meminjambendera PT. Mangle Panglipur tidak konsisiten atas komitmenyang disepakatinya menyangkut “komitmen fee” sebesarsepuluh (10) persen dari nilai proyeknya. Dari fee yang diperoleh Hasanudin dialirkan kebeberapa pihak, terutama ke pejabat di Polres Garut, pejabatdi Dinas Pendidikan, pejabat di pemda Garut yang terlibatdalam panitia lelang, seperti Kepala Bagian PengendalianPembangunan Heri Suherman, SE. Penulis sendiri kecipratan sebesar tiga juta rupiah,karena saat itu Hasanudin tahu bahwa penulis sedangkesulitan uang untuk membayar sewa kontrak kantor RedaksiSKU Garoet Pos yang sudah habis masa kontraknya danpemiliknya hampir tiap hari mempertanyakan apakah akandilanjutkan atau tidak sewa kontraknya. Hasanudin yang kebetulan numpang aktivitasnya dikantor penulis mengaku kewalahan menghadapi sejumlah 71
  72. 72. orang yang meminta bagian dari fee proyek buku DAK itu,termasuk sejumlah wartawan. (*)Desakan PAW DPRD Garut hasil pemilihan umum 2009 terus digoyangkelompok masyarakat tertentu, menyusul beberapa anggotaDPRD yang bermasalah hukum, terutama tiga anggotanyadari Fraksi partai Golkar, yaitu Wakil Ketua DPRD H. RuhiyatPrawira, Ketua Fraksi Rajab Prinaldi, dan Agus Ridwan. DPRD kerap didatangi kelompok masyarakat yangmendesak agar tiga anggota DPRD tersebut diberhentikankarena dianggap sudah tidak memenuhi syarat setelahdinyatakan bersalah oleh pengadilan sebelum yangbersangkutan dilantik menjadi wakil rakyat. Sekretaris DPRD Garut Ny. Farida Susilawati mengakuiberdatangannya kelompok masyarakat yang mendesakdilakukannya pergantian antar waktu (PAW) anggota DPRDitu. Hal yang sama dibenarkan oleh anggota Fraksi partaiDemokrat Ny. Euis Komariah. Bahkan menurut Ny. EuisKomariah kelompok masyarakat yang mendesak PAW itumenuding KPU menerima uang pengamanan dari anggotaDPRD yang bermasalah agar tidak di-PAW. Tentu saja KPU Garut tidak terima tuduhan yangmenyakitkan itu, karena bagi KPU tidak pernah menunda-nunda Pergantian Antar Waktu (PAW) jika prosesnya 72
  73. 73. ditempuh berdasarkan peraturan perundang-undangan yangberlaku. Setahu penulis bahwa mekanisme PAW diawali daripengusulan partai politik ke DPRD untuk memprosesPergantian Antar Waktu (PAW), yang surat dan dokumen-dokumen lainnya ditandatangani oleh ketua dan sekretarispartai bersangkutan. Selanjutnya DPRD mengusulkan ke KPUagar melakukan verifikasi, dan pihak KPU membentukKelompok Kerja PAW, dengan anggota pokjanya selain dariKPU juga melibatkan unsur pemerintah daerah dan sekretariatDPRD. Jika hasil verifikasi sudah terpenuhi maka KPUmengajukan usulan ke Gubernur Jawa Barat untukmenerbitkan surat keputusan pemberhentian danpengangkatan anggota DPR yang terkena pergantian antarwaktu (PAW). Kelompok penekan/pressur PAW ke DPRD Garut, didugakuat ada muatan-muatan politis tertentu tanpa memahamiprosedur yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan sehingga dengan arogan dan kejinya menuduh KPUmain mata dengan tuduhan menerima aliran dana darianggota DPRD yang bermasalah. KPU Garut baru menyelesaikan satu kali pergantianantar waktu (PAW) dari Partai Amanat Nasional (PAN), itu punprosesnya memakan waktu cukup lama karena permasalahandi internal partai cukup alot juga sehingga pemberkasanbolak-balik antara KPU-DPRD dan PAN. (*). 73

×