Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali

8,411 views

Published on

Materi Kuliah

Published in: Education
1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
8,411
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
53
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali

  1. 1. 38 BAB I Teori Keterampilan Menyimak dan BerbicaraA. Keterampilan Menyimak1. Pengertian Menyimak Dalam kehidupan sehari-hari kata simak sering kita jumpai, dipakai didalam ucapan sehari-hari. Pada orang tua sering kita dengar memberi nasihatkepada putra-putrinya. “Kalau orang tua sedang menasihati, jangan hanyamendengar saja, masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tetapisimaklah baik-baik, masukkan ke dalam hati”. Demikian juga antara muda-mudisering terdengar main-main, tetapi sebenarnya bermakna dalam, yaitu “Janganpermainkan saya Bung, simaklah apa yang saya ucapkan, jangan hanyamendengarkan saja!”Dari dua contoh di atas sudah menggambarkan kepada kita bahwa: 1) digunakan kata dengar dan mendengar 2) digunakan kata simak dan menyimak 3) kedua kata itu, dengar dan simak, atau mendengar, mendengarkan atau menyimak, jelas mempunyai arti yang berbeda.Jika dikaji maka didapatkan pengertian sebagai berikut. 1. Mendengar , yaitu proses mendengarkan tidak dengan disengaja. 2. Mendengarkan, yaitu proses mendengarkan dengan sengaja, tetapi tidak sampai memahami, hanya sebatas tahu. 3. Menyimak , yaitu proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Definisi lain tentang menyimak juga dikemukakan oleh beberapa tokoh,yaitu sebagai berikut. 1. Menyimak menurut Tarigan, adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  2. 2. 38 pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. 2. Underwood mendefinisikan menyimak adalah kegiatan mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan orang, menangkap dan memahami makna dari apa yang didengar. Jadi dengan demikian menyimak adalah keterampilan dalam mencari makna dari bunyi-bunyi dan pola-pola kalimat yang sampai ke telinga. 3. Bauer mengemukakan menyimak adalah kemampuan seseorang untuk menyimpulkan makna suatu wacana lisan yang didengar tanpa harus menerjemahkan kata demi kata. 4. Urbana mengatakan menyimak adalah suatu proses penulisan bahasa yang dimaknai ke dalam pikiran (Listening the process by which spoken language is converted to meaning in the mind). Jika demikian, maka menyimak adalah proses bahasa yang terdiri dari bunyi-bunyi yang dimaknai atau dipahami yang diproses lewat pikiran atau syaraf pendengaran seseorang.2. Pengertian Keterampilan Menyimak Bahasa Bali Keterampilan menyimak merupakan keterampilan menangkap bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan atau yang dibacakan orang lain dan diubah menjadibentuk makna untuk terus dievaluasi, ditarik kesimpulan dan ditanggapi. Hal inisudah jelas merupakan salah satu kegiatan komunikasi (berbahasa) untuk sanggupdan mampu atau terampil menerima sejumlah informasi dari orang lain. Dalamkaitannya dengan bahasa Bali, maka keterampilan menyimak bahasa Balimerupakan keterampilan untuk mendengar dan memahami pembicaraanberbahasa Bali dari orang lain.3. Unsur-Unsur Menyimak Adapun unsur-unsur menyimak tersebut adalah sebagai berikut. 1) Pembicara, yaitu orang yang menyampaikan pesan berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak melalui bahasa lisan.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  3. 3. 38 2) Penyimak, yaitu orang yang menerima pesan berupa informasi dari pembicara melalui bahasa lisan. 3) Bahan simakan, yaitu pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak melalui bahasa lisan.4. Tahap-tahap Menyimak Dalam kegiatan menyimak ada tahapan yang harus dilakukan olehpenyimak agar penyimak benar-benar memahami informasi yang disimaknya.Dalam buku Developing Language Skills karya Harry A. Greene dan Walter T.Petty (1959: 153, Boston: Allyn and Bacon), empat langkah proses/tahapanmenyimak itu adalah (1) mendengar, (2) mengerti, (3) mengevaluasi, dan (4)menanggapi.5. Tujuan Menyimak Tujuan utama menyimak menurut Tarigan adalah untuk memperolehinformasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendakdisampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Tujuan yang bersifat umumtersebut dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspektertentu yang ditekankan. Adapun tujuan menyimak menurut klasifikasinya adalahsebagai berikut. 1. Mendapatkan fakta Mendapatkan fakta dapat dilakukan melalui penelitian, riset, eksperimen, dan membaca. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menyimak melalui radio, TV, dan percakapan. 2. Menganalisis fakta Fakta atau informasi yang telah terkumpul dianalisis. Kaitannya harus jelas pada unsur-unsur yang ada, sebab akibat yang terkandung di dalamnya. Apa yang disampaikan penyimak harus dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman penyimak dalam bidang yang sesuai. 3. Mendapatkan inspirasi Dapat dilakukan dalam pertemuan ilmiah atau jamuan makan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ilham. Penyimak tidak memerlukan fakta baru.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  4. 4. 38 Mereka yang datang diharapkan untuk dapat memberikan masukan atau jalan keluar berkaitan dengan masalah yang dihadapi. 4. Menghibur diri Para penyimak yang datang untuk menghadiri pertunjukkan sandiwara, musik untuk menghibur diri. Mereka itu umumnya adalah orang yang sudah jenuh atau lelah sehingga perlu menyegarkan fisik, mental agar kondisinya pulih kembali.6. Jenis-jenis Menyimak Menurut Dawson dalam Tarigan, jenis menyimak dapat diklasifikasikanmenjadi dua bagian, yaitu: (1) menyimak ekstensif, dan (2) menyimak intensif. 1. Menyimak Ekstensif Menyimak ekstensif merupakan kegiatan menyimak yang berhubungandengan hal-hal yang umum dan bebas terhadap suatu bahasa. Dalam prosesnya disekolah tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya tidakterlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perludipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang pentingsaja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat, yaitu sebagai berikut. a. Menyimak sekunder Menyimak sekunder adalah sejenis mendengar secara kebetulan, maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu. b. Menyimak estetik Dalam menyimak estetik penyimak duduk terpaku menikmati suatu pertunjukkan misalnya, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan karakter dari setiap pelaku. c. Menyimak pasif Menyimak pasif merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak pada saat belajar dengan teliti. Misalnya, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam kurun waktu dua atau tiga tahun berikutnya orang itu sudah dapat berbahasa daerah tersebut.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  5. 5. 38 d. Menyimak sosial Menyimak ini berlangsung dalam situasi sosial, misalnya orang mengobrol, bercengkrama mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang. 2. Menyimak Intensif Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang harus dilakukandengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi untuk menangkap makna yangdikehendaki. Menyimak intensif ini memiliki ciri-ciri yang harus diperhatikan,yakni: (a) menyimak intensif adalah menyimak pemahaman, (b) menyimakintensif memerlukan konsentrasi tinggi, (c) menyimak intensif ialah memahamibahasa formal, (d) menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan.Adapun yang tergolong menyimak intensif ada lima, yaitu sebagai berikut. a. Menyimak kritis Menyimak dengan cara ini bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, dan informasi dari pembicara. b. Menyimak konsentratif Menyimak konsentratif merupakan kegiatan untuk menelaah pembicaraan/ hal yang disimaknya. Hal ini diperlukan konsentrasi penuh dari penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik. c. Menyimak kreatif Menyimak kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu. d. Menyimak interogatif Menyimak interogatif merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  6. 6. 38 e. Menyimak eksploratori Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak dengan tujuan menemukan; 1) hal-hal baru yang menarik, 2) informasi tambahan mengenai suatu topik, 3) isu, pergunjingan atau buah bibir yang menarik.7. Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk menyimak Untuk dapat menyimak dengan baik hendaknya si penyimakmemperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Alat dengar si penyimak dan alat bicara si pembicara harus baik. Artinya alat dengar sebagai alat penerima bunyi, dan alat bicara sebagai sumber bunyi itu harus baik. Tidak mungkin orang yang alat dengarnya rusak (tuli) mampu manyimak. Atau sebaliknya betapapun baiknya alat dengar si penyimak, tetapi kalau bunyi bahasa yang disimaknya tidak jelas, tidak menentu, tetap tidak akan dapat disimak dengan baik. 2) Situasi dan lingkungan pembicaraan itu harus baik. Dengan kata lain ekologi bahasa harus baik. Sebab, mana mungkin kita dapat menyimak dengan baik, seandainya disekeliling kita sangat gaduh, menimbulkan ekologi bahasa yang kurang baik. Kita tidak akan dapat menyimak dengan baik, seandainya bunyi-bunyi bahasa yang sedang kita simak sangat tersaingi oleh bunyi-bunyi lain yang membuat kebisingan. 3) Konsentrasi penyimak kepada pembicaraan. Konsentrasi dalam artian pemusatan pikiran ke arah pikiran pembicaraan. Konsentrasi yang terus- menerus, tidak terputus sehingga alur pikiran pembicaraan pun tidak terputus diterimanya. Konsentrasi atau pemusatan pikiran dari awal sampai akhir dan tidak terpengaruh oleh kemungkinan kurang teraturnya pokok- pokok pikiran pembicaraan. 4) Pengenalan tujuan pembicaraan, artinya kita akan lebih mudah menyimak itu, seandainya pembicaraan sudah diketahui sebelumnya. Tujuan pembicaraan ini mungkin secara langsung dikemukakan oleh si pembicara, ataupun secara intuitif oleh si penyimak itu sendiri.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  7. 7. 38 5) Pengenalan paragraf atau bagian pembicaraan dan pengenalan kalimat- kalimat inti pembicaraan. Paragraf merupakan ungkapan atau gagasan yang mengandung satu pokok pikiran, yang mengandung satu kebulatan ide, dan mengandung satu tema. Kita sebagai penyimak bukan merupakan kaset rekorder yang akan merekam seluruh isi pembicaraan. Melainkan kita sebagai manusia yang mampu menyimak. Yang kita simak bukanlah seluruh kata-kata si pembicara, melainkan seluruh pokok-pokok pikiran yang kita pahami, dan pokok-pokok pikiran ini terdapat di dalam tiap-tiap paragraf yang diucapkan si pembicara. 6) Kesanggupan menarik kesimpulan dengan tepat. Mungkin kesimpulan ini secara eksplisit diucapkan si pembicara, atau mungkin juga kesimpulan itu harus dirumuskan oleh si penyimak dengan kata-kata sendiri. 7) Mempunyai intelegensi yang baik. Keseluruhan, 1 sampai 6 di atas, baru dapat dicapai dengan baik andai kata si penyimak itu mampu berbahasa dengan baik, didukung dengan kemampuan berbahasa yang memadai serta mempunyai intelegensi yang cukup baik. hal ini dapat kita pahami, sebab mana mungkin kita dapat menyimak pembicaraan seseorang seandainya bahasa pengantar yang dipakai pembicaraan tidak kita pahami. Demikian pula mana mungkin mampu menyimak dengan baik seandainya integensi penyimak itu sangat rendah, termasuk kelompok debil, idiot, dan sebagainya. 8) Faktor lain, yaitu latihan yang cukup. Kita selalu ingat bahwa menyimak merupakan keterampilan, yakni keterampilan berbahasa. Mana mungkin keterampilan tanpa didukung dengan latihan yang memadai.8. Faktor yang Mempengaruhi Menyimak Faktor yang mempengaruhi menyimak menurut Hunt dalam Tarigan(1990:97) adalah: sikap, motivasi, pribadi, situasi kehidupan, dan peranan dalammasyarakat. Sementara Logan (dalam Tarigan 1990: 98) mengemukakan bahwa yangmempengaruhi menyimak adalah faktor lingkungan, fisik, psikologios, danpengalaman.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  8. 8. 38 Selain itu, Webb (Tarigan 1990: 97) menambahkan bahwa perbedaan jeniskelamin juga mempengaruhi menyimak. Jadi faktor yang mempengaruhi menyimak adalah sikap, motivasi, pribadi,situasi kehidupan, peranan dalam masyarakat, faktor lingkungan, fisik, psikologis,pengalaman, dan perbedaan jenis kelamin. 9. Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Menyimak Menurut (Tarigan, 1989: 34) ada empat faktor untuk menentukankeberhasilan menyimak yaitu: 1. Faktor Pembicara Ada enam tuntutan yang harus dipenuhi pembicara yaitu sebagai beikut: a. Penguasaan materi Pembicara harus menguasai materi yang akan disampaikan. Pembicara dalam menyampaikan materi harus menguasai, memahami, menghayati apa yang disampaikan pada penyimak. b. Berbahasa baik dan benar Pembicara dalam menyampaikan isi pembicaraan harus menggunakan ucapan yang jelas, intonasi yang tepat, kalimat yang sederhana dan istilah yang tepat. Selain itu isi pembicaraan harus sesuai dengan tarap penyimaknya. c. Percaya diri Pembicara harus percaya diri, tampil dengan mantap serta menyakinkan penyimak. d. Berbicara sistematis Pembicaraan yang disampaikan harus sistematis dan bahan yang disampaikan mudah dipahami. e. Gaya menarik Pembicara harus tampil menarik dan simpatik, tidak bertingkah laku berlebihan karena akan membuat penyimak beralih dari isi pesan ke tingkah laku yang dianggap aneh. f. Kontak dengan penyimak Dalam berbicara, pembicara harus kontak dengan penyimak dan menghargai, menghormati serta menguasai para penyimak.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  9. 9. 38 2. Faktor Pembicaraan a. Aktual Pembicaraan yang disampaikan harus baru atau hangat, karena ini akan menarik dan diminati oleh penyimaknya. b. Bermakna Pembicaraan yang disampaikan harus bermakna dan berguna bagi penyimaknya Dalam hal ini setiap materi yang disampaikan tidaklah semua bermakna bagi penyimaknya, ini tergantung dari kebutuhan penyimaknya. c. Sistematis Dalam berbicara, pembicaraan yang disampaikan harus sistematis agar mudah dipahami oleh penyimaknya. d. Seimbang Taraf kesukaran pembicaraan harus seimbang dengan taraf kemampuan Penyimak yaitu mudah dipahami dan berguna bagi penyimaknya. 3. Situasi Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam situasi proses menyimak. a. Ruangan Dalam menyimak, ruangan perlu diperhatikan yaitu ruangan yang memenuhi persyaratan. Misalnya penerangan, tempat duduk, tempat pembicara, luas ruangan dan alat-alatnya. b. Waktu Waktu sangat penting dalam menyimak karena ini akan mempengaruhi si penyimak. Pilihlah waktu yang tepat misalnya; pada pagi hari saat menyimak masih segar dan rilek. c. Tenang Suasana dan lingkungan yang tenang serta nyaman sangat mempengaruhi proses menyimak. Apabila suasana kurang tenang, maka proses penyimakan pun kurang berhasil dengan baik. d. PeralatanKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  10. 10. 38 Peralatan yang digunakan dalam menyimak harus mudah dioperasikan karena kalau tidak dapat digunakan dan tidak baik akan mengganggu penyimak. 4. Penyimak Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menyangkut diri si penyimak. a. Kondisi Dalam menyimak, kondisi dan mental penyimak harus baik karena ini sangat menunjang dalam menyimak. b. Konsentrasi Penyimak harus memusatkan perhatian terhadap bahan simakan. Hindari hal-hal yang mengganggu konsentrasi penyimak. c. Bertujuan Dalam menyimak, penyimak harus mempunyai tujuan agar dalam merumuskan tujuan secara tegas mempunyai arah dan keinginan dalam menyimak. d. Berminat Penyimak dalam menyimak harus berminat atau berusaha meminati. Bahan yang disimak dikembangkan melalui bimbingan dan latihan yang intensif. 10. Teknik Pembelajaran Menyimak Untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan menyimak dan agarpembelajarannya menarik, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalamproses belajar mengajar. Teknik-teknik itu antara lain sebagai berikut ini. 1. Simak Ulang-Ucap Teknik simak-ulang ucap digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasadengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas. Guru dapat mengucapkan ataumemutar rekaman buyi bahasa tertentu seperti fonem, kata, kalimat, idiom,semboyan, kata-kata mutiara, dengan jelas dan intonasi yang tepat. Siswamenirukan. Teknik ini dapat dilakukan secaea individual, kelompok, dan klasikal. 2. Identifikasi Kata KunciKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  11. 11. 38 Untuk menyimak kalimat yang panjang siswa perlu mencari kalimatintinya. Kalimat inti itu dapat dicari melalui beberapa kata kunci. Kata kunciitulah yang mewakili pengertian kalimat. 3. Parafrase Guru menyiapkan sebuah puisi dan dibacakan atau diperdengarkan.Setelah menyimak siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi puisi tadidengan kata-katanya sendiri. 4. Merangkum Guru menyiapkan bahan simakan yang cukup panjang. Materi itudisampaikan secara lisan kepada siswa dan siswa menyimak. Setelah selesaimenyimak siswa disuruh membuat rangkuman. 5. Identifikasi Kalimat Topik Setiap paragraf dalam wacana minimal mengandung dua unsur yaitu:(a) kalimat tipok, (b) kalimat pengembang. Posisi kalimat topik dapat di awal,tengah, dan akhir. Setelah menyimak paragraf siswa disuruh mencari kalimattopiknya. 6. Menjawab Pertanyaan Untuk memahami simakan yang agak panjang, guru dapat mengajukanpertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali pemahaman siswa. 7. Bisik Berantai Suatu pesan dapat dilakukan secara berantai. Mulai dari guru membisikkanpesan kepada siswa pertama dan dilanjutkan kepada siswa berikutnya sampaisiswa terakhir. Siswa terakhir harus mengucapkannya dengan nyaring. Tugas guruadalah menilai apakah yang dibisikkan tadi sudah sesuai atau belum. Jika belumsesuai, bisikan dapat diulangi, jika sudah sesuai bisikan dapat diganti dengantopik yang lain. 8. Menyelesaikan Cerita Guru memperdengarkan suatu cerita sampai selesai. Setelah siswa selesaimenyimak, guru menyuruh seseorang untuk menceritakan kembali dengan kata-Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  12. 12. 38katanya sendiri. Sebelum selesai bercerita, guru menghentikan cerita siswa tadidan menggantikan dengan siswa lain yang bertugas menyelesaikan.11. Ciri-ciri Penyimak yang Baik Setiap manusia yang lahir dalam keadaan yang normal tentu sudahmempunyai potensi yang baik untuk menyimak. Potensi ini perlu dipupuk dandikembangkan melalui bimbingan dan latihan yang intensif. Tetapi kebiasaanmenyimak yang baik hendaknya dipahami oleh seorang penyimak, sehingga dapatmenghilangkan kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang mereka lakukan dalamproses menyimak. Adapun ciri-ciri penyimak yang baik menurut Anderson adalahsebagai berikut. 1) Siap fisik dan mental Penyimak yang baik ialah penyimak yang betul-betul mempersiapkan diri untuk menyimak. Ia memiliki kesiapan fisik dan mental misalnya, dalam kondisi yang sehat, tidak lelah, mental stabil, dan pikiran jernih. 2) Konsentrasi Penyimak yang baik dapat memusatkan perhatian dan pikirannya terhadap apa yang disimak. Bahkan ia dapat menghubungkan bahan yang disimak dengan apa yang sudah diketahui. 3) Bermotivasi Penyimak yang baik mempunyai motivasi atau mempunyai tujuan tertentu. Misalnya; ingin menambah pengetahuan, ingin mempelajari sesuatu. Ada tujuan atau motivasi ini tentunya untuk memotivasi penyimak untuk sungguh-sungguh menyimak. 4) Objektif Penyimak yang baik adalah penyimak yang selalu tahu tentang apa yang sedang dibicarakan dan sebaiknya penyimak selalu menghargai pembicara, walaupun pembicara kurang menarik penampilannya atau sudah dikenal oleh penyimak. 5) Menyimak secara utuh (menyeluruh)Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  13. 13. 38 Penyimak yang baik akan menyimak secara utuh atau keseluruhan. Si penyimak tidak hanya menyimak yang disukai tetapi menyimak secara keseluruhan. 6) Selektif Penyimak yang baik dapat memilih bagian-bagian yang dianggap penting dari bahan simakan. Tidak semua bahan simakan diterima begitu saja, tetapi ia dapat menentukan bagian yang dianggap penting. 7) Tidak mudah terganggu Penyimak yang baik tidak mudah terganggu oleh suara-suara yang lain di luar bunyi yang disimaknya. Andaikata ada gangguan yang membedakan perhatiannya, dengan cepat ia kembali kepada bahan yang disimaknya. 8) Menghargai pembicara Penyimak yang baik adalah penyimak yang menghargai pembicara. Penyimak tidak boleh menganggap remeh terhadap pembicara. 9) Cepat menyesuaiakan diri dan kenal arah pembicaraan Penyimak yang baik dapat dengan cepat menduga ke arah mana pembicaraan bahkan mungkin ia dapat menduga garis besar isi pembicaraan. 10) Tidak emosi Penyimak yang baik dapat menyimak dengan baik terhadap pokok pembicaraan serta dapat mengendalikan emosinya dan tidak mencela pembicara. 11) Kontak dengan pembicara Penyimak yang baik mencoba mengadakan kontak dengan pembicara. Misalnya dengan memperhatikan pembicara, memberikan dukungan kepada pembicara melalui mimik, gerak atau ucapan tertentu. 12) Merangkum Penyimak yang baik dapat menangkap isi pembicaraan atau bahan simakan. Misalnya dengan membuat rangkuman dan menyajikan atau menyampaikannya sesudah selesai menyimak. Namun perlu diingat, selama menyimak jangan hanya asyik membuat catatan-catatan. ApabilaKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  14. 14. 38 mencatat semua yang diucapkan atau semua yang disampaikan pembicara, sehingga pesan pembicara tidak lagi dapat dipahami. 13) Menilai Penyimak yang baik ialah proses penilaian terhadap materi yang disampaikan. Pada saat ini penyimak mulai menimbang, memeriksa, membandingkan apakah pokok-pokok pikiran yang dikemukakan si pembicara dikaitkan atau dihubungkan dengan pengalaman atau pengetahuan si penyimak, sehingga ia dapat menilai kekuatan bahan simakan tersebut. 14) Mendengarkan tanggapan Bagian terakhir dari proses menyimak ialah mengevaluasi bahan simakan. Penyimak mengemukakan tanggapan atau reaksi misalnya, dengan mengemukakan komentar. Reaksi akan terlihat dalam bentuk bahasa dan terpancar dari ucapan-ucapan yang pendek seperti; wah, menarik sekali, bagus, setuju, sependapat dan sebagainya.12. Kendala dalam Menyimak Menurut Russel dan Black dalam Tarigan (1990: 82-86), menyatakanbahwa ada beberapa kendala dalam menyimak, yaitu sebagai berikut. 1. Keegosentrisan 2. Keengganan ikut terlibat 3. Ketakutan akan perubahan 4. Keinginan menghindari pertanyaan 5. Puas terhadap penampilan eksternal 6. Pertimbangan yang prematur 7. Kebingungan semantik.13. Cara Meningkatkan Prilaku Menyimak Menurut Mc. Cabe dan Bender dalam Tarigan, ada beberapa langkahuntuk meningkatkan keterampilan menyimak, yaitu sebagai berikut. a. Menerima keanehan sang pembicara Penyimak rela atau mau menerima keanehan atau keganjilan yang terdapat pada penampilan pembicara.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  15. 15. 38 b. Memperbaiki sikap Penyimak tidak berpura-pura menyimak pikirannya telah melayang ke mana-mana. c. Memperbaiki lingkungan Pilihlah tempat yang memungkinkan untuk menyimak lebih baik, jangan memilih tempat duduk dekat pintu tempat para partisipan keluar masuk. d. Meningkatkan pembuatan catatan Dalam menyimak sebaiknya apa yang disimak harus dicatat inti-intinya saja. Catatan yang baik dan bermutu tidak tergantung pada panjangnya catatan, tetapi pada ketepatan memilih butir-butir gagasan yang penting dalam kalimat. e. Menyaring tujuan menyimak yang spesifik Menetapkan tujuan khusus dalam menyimak akan membantu kita memusatkan perhatian pada kegiatan menyimak. Andaikata kita menyimak mempunyai tujuan menangkap garis besar argumen utama sang pembicara, maka sebaiknya kita memusatkan perhatian ke arah yang dituju. f. Memanfaatkan waktu secara bijaksana Kecepatan dalam menyimak jauh lebih cepat daripada kecepatan berbicara. Oleh karena itu perlu direncanakan penggunaan waktu secara diferensial. Arahakanlah penyimakan kepada sang pembicara dan ramalkanlah ide-idenya yang baru. Gunakanlah waktu semaksimal mungkin untuk menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung. g. Menyimak secara rasional Dalam menyimak harus disadari kadangkala kita mereaksi emosional, ini dapat mempengaruhi kegiatan menyimak. Oleh sebab itu kita harus menahan emosi dengan cara memusatkan perhatian pada pembicaraan yang sedang berlangsung. h. Berlatih menyimak bahan-bahan yang sulit Dalam menyimak biasakanlah berlatih menyimak bahan atau materi sulit yang diutarakan pembicara. Perluaslah wawasan dengan menerima tantangan karena dengan tantangan maka pengetahuan akan bertambah.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  16. 16. 38B. Keterampilan Berbicara1. Pengertian Berbicara Seperti telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan menyimak aktivitas kitaawali dengan mendengarkan dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi.Kegiatan berbicara tidak demikian. Kegiatan berbicara diawali dari suatu pesanyang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesanagar penerima pesan dapat menerima atau memahami isi pesan itu. Manusiasebagai makhluk sosial memerlukan hubungan dan kerja sama dengan manusialain. Hubungan dengan manusia lainnya itu antara lain berupa menyampaikan isipikiran dan perasaan, menyampaikan suatu informasi, ide atau gagasan sertapendapat atau pikiran dengan suatu tujuan. Dalam menyampaikan pesanseseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu bahasa, dalam hal ini bahasalisan. Seorang yang akan menyampaikan pesan tersebut mengharapkan agarpenerima pesan dapat memahaminya. Pemberi pesan disebut juga pembicara danpenerima pesan disebut penyimak atau pendengar. Peristiwa proses penyampaianpesan secara lisan seperti itu disebut berbicara. Untuk lebih rincinya, dapat dilihatbeberapa pendapat di bawah ini. • Berbicara adalah beromong, bercakap, berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan (KBBI, 2005: 165). • Menurut Tarigan (tanpa tahun: 15), menjelaskan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide yang dikombinasikan. • Menurut Djago Tarigan, dkk (1998: 34), menjelaskan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. • Menurut Suhendar dan Supinah (1992: 16), berbicara merupakan suatu peristiwa penyampaian maksud (ide, pikiran, gagasan, perasaan) seseorangKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  17. 17. 38 kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan (ujaran) sehingga maksud tersebut dipahami orang lain. Kesimpulan: Berbicara merupakan suatu peristiwa mengekspresikan, mengutarakan, menyatakan, serta menyampaikan ide, gagasan, pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan (ujaran) kepada orang lain. Kalau diamati dalam kehidupan sehari-hari, banyak didapati orang yangberbicara. Namun tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuanyang baik di dalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapatdimengerti sesuai dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orangmemiliki kemampuan yang baik didalam menyelaraskan atau menyesuaikandengan detail yang tepat antara apa yang ada dalam pikiran atau perasaannyadengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain yang mendengarkannya dapatmemiliki pengertian dan pemahaman yang pas dengan keinginan si pembicara. Untuk penyampaian hal-hal yang sederhana mungkin bukanlah suatumasalah, akan tetapi untuk menyampaikan suatu ide/gagasan, pendapat,penjelasan terhadap suatu permasalahan, atau menjabarkan suatu tema sentral,biasanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi seorang pembicarayang belum terbiasa, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya denganbaik. Dibutuhkan suatu keterampilan atau kecakapan dengan proses latihan yangsecukupnya untuk dapat tampil dengan baik menjadi seorang pembicara yanghandal. Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orangyang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arahmaupun yang timbal balik ataupun keduanya. Keterampilan berbicara menunjangketerampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik mampu memberikan contohagar dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara yang baik mampumemudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan. Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yangmenuntut keterampilan berbicara. Contohnya dalam lingkungan keluarga, dialogselalu terjadi, antara ayah dan ibu, orang tua dan anak, dan antara anak-anak itusendiri.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  18. 18. 38 Di luar lingkungan keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetanggadengan tetangga, antar teman sepermainan, rekan kerja, teman perkuliahan dansebagainya. Terjadi pula pembicaraan di pasar, di swalayan, di pertemuan-pertemuan, bahkan terkadang terjadi adu argumentasi dalam suatu forum. Semuasituasi tersebut menuntut agar kita mampu terampil berbicara. 2. Pengertian Keterampilan Berbicara Bahasa Bali Keterampilan berbicara bahasa Bali berarti mempunyai kemampuan untukmengekspresikan, mengutarakan, menyatakan, serta menyampaikan ide, gagasan,pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa Bali yang baik dan benar.Baik, dalam arti menggunakan pilihan kata-kata (diksi) yang indah dan mampumemikat hati orang yang mendengar. Benar, dalam arti tepat dalam penempatankata-kata sesuai dengan anggah-ungguhing basa Bali. 3. Unsur Dasar Berbicara Di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat yaitu: a. pembicara b. isi pembicaraan c. saluran d. penyimak, dan e. tanggapan penyimak 4. Konsep Dasar Berbicara Kemampuan berbicara setiap orang berbeda-beda tergantung darikarakteristik dan latar belakang lingkungannya. Sehubungan dengan hal tersebutpengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagaisarana berkomunikasi. Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilanhal, yakni: a. berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal, b. berbicara adalah proses individu berkomunikasi, c. berbicara adalah ekspresi kreatif, d. berbicara adalah tingkah laku, e. berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  19. 19. 38 f. berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman, g. berbicara sarana memperluas cakrawala, h. kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat, i. berbicara adalah pancaran kepribadian (Logan dkk., 1972:104-105). 5. Tujuan berbicara Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pastimempunyai tujuan, ingin mendapatkan respons atau reaksi. Respons atau reaksiitu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraansangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara.Secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut: a. mendorong atau menstimulasi, b. meyakinkan, c. menggerakkan, d. menginformasikan, dan e. menghibur. Tujuan suatu uraian dikatakan mendorong atau menstimulasi apabilapembicara berusaha memberi semangat dan gairah hidup kepada penyimak.Reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan inpirasi atau membangkitkan emosipara penyimak. Misalnya, sambutan Ketua Porsenijar Karangasem di hadapanpeserta yang akan berlomba di Denpasar bertujuan agar peserta Porsenijarmemiliki semangat berlomba yang tinggi dalam rangka menjaga nama baikKarangasem. Tujuan suatu uaraian atau ceramah dikatakan meyakinkan apabilapembicara berusaha mempengaruhi keyakinan, pendapat atau sikap parapenyimak. Alat yang paling penting dalam uraian itu adalah argumentasi. Untukitu diperlukan bukti, fakta, dan contoh konkret yang dapat memperkuat uraianuntuk meyakinkan penyimak. Reaksi yang diharapkan adalah adanya persesuainkeyakinan, pendapat atau sikap atas persoalan yang disampaikan. Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan apabila pembicaramenghendaki adanya tindakan atau perbuatan dari para penyimak. Misalnya,berupa seruan persetujuan atau ketidaksetujuan, pengumpulan dana,Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  20. 20. 38penandatanganan suatu resolusi, mengadakan aksi sosial. Dasar dari tindakan atauperbuatan itu adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi. Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara inginmemberi informasi tentang sesuatu agar para penyimak dapat mengerti danmemahaminya. Misalnya: seorang guru menyampaikan pelajaran di kelas, seorangdokter menyampaikan masalah kebersihan lingkungan, seorang polisimenyampaikan masalah tertib berlalu lintas, dan sebagainya. Tujuan suatu uraian dikatakan menghibur, apabila pembicara bermaksudmenggembirakan atau menyenangkan para penyimaknya. Pembicaraan seperti inibiasanya dilakukan dalam suatu resepsi, ulang tahun, pesta, atau pertemuangembira lainnya. Humor merupakan alat yang paling utama dalam uraian sepertiitu. Reaksi atau respons yang diharapkan adalah timbulnya rasa gembira, senang,dan bahagia pada hati pendengar. Misalnya, dialog dalam kegiatan sendratari,drama, wayang kulit, dan lain sebagainya. 6. Jenis-jenis Kegiatan Berbicara Berbicara bahasa Bali dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) berbicara formal (resmi), dan (2) berbicara informal (tidak resmi). Dengan adanya perbedaan kegiatan berbicara tersebut, maka menyebabkanadanya dua jenis bahasa, yaitu basa pakraman dan basa pasuitrayan. BasaPakraman adalah bahasa Bali yang digunakan untuk berbicara di dalampertemuan-pertemuan resmi seperti di dalam peparuman adat, di dalam upacaraagama, dan pengajaran bahasa Bali di kelas. Dalam lingkup ini ada aturan tertentuyang relatif lebih ketat, misalnya pakaian, situasi, tema, kosa kata,dan gaya berbicara dikemas dalam lingkup resmi. Adapun bentuk berbicara dengan menggunakan basa pakraman (resmi)tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pidarta (pidato); (2) Sambrama Wacana (sambutan); (3) Dharma Wacana (ceramah/kotbah); (4) Atur Piuning (laporan); (5) Dharma Tula (diskusi);Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  21. 21. 38 (6) Widya Tula (diskusi tentang ilmu pengetahuan); dan (7) Pakeling (pengumuman). Basa Pasuitrayan adalah bahasa Bali yang digunakan untuk berbicara didalam pergaulan sehari-hari atau tidak resmi (informal). Kegiatan berbicarainformal lebih banyak kelonggarannya. Situasinya lebih familier, bahasanyabebas, pakaiannya tidak diatur, demikian pula format dan gaya pembicaraannya.Berbicara informal meliputi bertukar pikiran, percakapan, penyampaian berita,bertelepon, dan memberi petunjuk. 7. Metode Berbicara Ada empat cara atau teknik yang dapat atau biasa digunakan orang dalammenyampaikan pembicaraan (H.G. Tarigan), yaitu sebagai berikut. (a) Metode Impromptu ‘Serta Merta’ Dalam hal ini pembicara tidak melakukakan persiapan lebih dulu sebelumberbicara, tetapi secara serta merta atau mendadak berbicara berdasarkanpengetahuan dan pengalamannya. Pembicara menyampaikan pengetahuannyayang ada, dihubungkan dengan situasi dan kepentingan saat itu. (b) Metode Menghafal Pembicara sebelum melakukan kegiatannya melakukan persiapan secaratertulis, kemudian dihafal kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dalampenyampaiannya pembicara tidak membaca naskah. Ada kecenderunganpembicara berbicara tanpa menghayati maknanya, berbicara terlalu cepat. Hal itudapat menjemukan, tidak menarik perhatian penyimak. Mungkin juga adapembicara yang berhasil dengan metode ini. Metode ini biasanya digunakan olehpembicara pemula atau yang masih belum biasa berbicara di depan orang banyak. (c) Metode Naskah Pada metode ini pembicara sebelum berbicara terlebih dulu menyiapkannaskah. Pembicara membacakan naskah itu di depan para penyimaknya. Hal inidapat kita perhatikan pada atur piuning (laporan) ketua panitia pelaksanaankegiatan pasraman remaja kepada Bapak bupati Karangasem. Pembicara harusmemiliki kemampuan menempatkan tekanan, nada, intonasi, dan ritme. Cara iniKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  22. 22. 38sering kurang komunikatif dengan penyimaknya karena mata dan perhatianpembicara selalu ditujukan ke naskah. Oleh karena itu, apabila akan menggunakanmetode harus melakukan latihan yang intensif. (d) Metode Ekstemporan Dalam hal ini pembicara sebelum melakukan kegiatan berbicara terlebihdahulu mempersiapkan diri dengan cermat dan membuat catatan penting ataucatatan kecil tentang topik pembicaraan. Catatan itu digunakan sebagai pedomanpembicara dalam melakukan pembicaraannya. Dengan pedoman itu pembicaradapat mengembangkannya secara bebas. 8. Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berbicara Keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktorpenunjang utama, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orangtersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis). Faktor pisik adalah menyangkutdengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicaramisalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranyaadalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), caraberfikir dan tingkat intelegensi. Faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkunganpergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklahsecara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudahmemiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik.Kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalanmengasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  23. 23. 38 BAB II Anggah-Ungguhing Basa Bali Basa Bali sinalih tunggil basa daérahé ring Indonésia sané maderbéwangun masor singgih. Sor singgih basa Baliné, mangkin kawastanin Anggah-ungguhing Basa Bali (parinama manut Pasamuhan Agung Basa Bali, warsa 1974ring Singaraja). J. Kersten S. V. D., maosang antuk istilah Warna-warna BahasaBali. Taler wénten sané maosang antuk “Unda-usuk Basa Bali” olih Tim PenelitiFakultas Sastra Unud warsa 1978/1979, miwah “Sor Singgih Basa” olih I NengahTinggen. Uratian ngeninin indik basa Bali taler nudut kayun Ida Bagus UdaraNarayana makarya skripsi sane mamurda “Anggah-ungguhing Basa Bali dalamKehidupan Masyarakat Bali” duk warsa 1983. Kawéntenan anggah-ungguhing basa sajeroning basa Bali taler nganutinpakibeh jagat Baliné, sané kantos mangkin kantun manggeh mawit sangkaningkawéntenan palapisan masyarakat Bali minakadi palapisan masyarakat Bali Purwa(tradisional) miwah masyarakat Bali Anyar (modérn). Palapisan masyarakat Bali Purwa (tradisional) metu saking pamijilanutawi (keturunan). Sangkaning pamijilan krama Baliné, wénten Tri Wangsamiwah Wangsa Jaba. Sané kabaos Tri Wangsa inggih punika tetiga wangsanésané kabaos sang singgih, minakadi; Brahmana, Ksatria, miwah Wésia. Raris sanékabaos Wangsa Jaba saha kabaos sang sor wantah sameton Baliné sané mawitsaking Sudra Wangsa. Salanturnyané sajeroning palapisan masyarakat Bali Anyar(modérn) wénten Sang Singgih sané kabaos prakanggé utawi prayayi minakadisang maraga guru wisésa (pejabat), majikan, direktur, manajer, réktor, dosén,guru, bendésa, sulinggih miwah sané lianan. Sané kabaos Sang Sor inggih punikaanaké sané madué linggih soran ring prakanggéné i wawu minakadi: tukang sapu,sopir, tukang ketik surat, pegawai, buruh, murid, mahasisia, parekan, panyroan(pembantu), miwah sané lianan. Majalaran ring kawéntenan pabinayan linggih punika raris metu tatakrama mabebaosan sané waluyané pinaka uger-uger sajeroning mabaos Bali,sakadi puniki.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  24. 24. 38 1) Wangsa Jaba ri kalaning mabaos utawi maatur-atur ring sang maraga Tri Wangsa kapatutang nganggén basa Alus. Upami: I Madé ring Ida Bagus matur (Bs.alus) I Dolar ring Gusti Patih matur (Bs. Alus) 2) Tri Wangsa ri kalaning mabebaosan ring sang maraga Wangsa Jaba kangkat mabaos Andap (mabasa biasa, nénten Alus). Upami: Raja Tua ring I Dadab mabaos (Bs. Andap) Ida Bagus ring I Madé mabaos (Bs. Andap) 3) Para pegawé utawi jadma sané linggihnyané soran, ri kalaning mabaos ring sang maraga prakanggé utawi prayayi patut mabaos Alus. Upami: sopir ring Réktor matur (Bs. Alus) Pegawai ring Bupati matur (Bs. Alus) 4) Prakanggé utawi prayayi , ri kalaning mabaos ring sang sané soran kangkat mabaos ngangén basa Andap utawi basa Biasa. Upami: Diréktur ring nupekon mabaos (Bs. Andap) Majikan ring buruh mabaos (Bs. Andap) A. Wirasan Kruna Basa Bali Malarapan antuk kawéntenan linggih krama Baliné punika, metu kruna-kruna basa Bali sané taler maderbé wirasa matios-tiosan. Manut wirasannyané,kruna-kruna basa Baliné kapalih dados pitung soroh, inggih punika: (1) krunaandap, (2) kruna mider, (3) kruna alus mider (Ami), (4) kruna alus madia (Ama),(5) kruna alus singgih (Asi), (6) kruna alus sor (Aso), lan (7) kruna kasar. 1) Kruna AndapKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  25. 25. 38 Duké nguni, kruna andap puniki kawastanin kruna lepas hormat utawi Kruna Kapara, inggih punika kruna-kruna sané wirasan basannyané andap (éndép), nénten alus miwah nénten kasar. Kruna-kruna puniki kanggén mabaos antuk anaké sané sesamén wangsa, sesamén linggih utawi olih sang singgih ring sang sor. Conto Kruna Andap: suba - teka - ngenceh mara - payu - madaar dingeh - aba - batis ngigel - jemak - kemu panak - beli - baang eda - alih - tunden 2) Kruna Mider Kruna Mider inggih punika kruna-kruna basa Baliné sané maderbé wangun wantah asiki, nénten maderbé wangun alus, nénten maderbé wangun tiosan, mawinan dados maideran sajeroning bebaosan. Binanipun ring kruna alus mider; alus mider maderbé wangun andap, nanging kruna mider nénten maderbé wangun andap utawi wangun sané tiosan. Sapunika taler, Kruna Mider matiosan ring Kruna Andap. Yéning Kruna Mider nénten maderbé wangun tiosan, nanging Kruna Andap maderbé wangun alus. Conto Kruna Mider: kija - tembok - laptop nyongkok - celana - kabel spidol - radio - abulih bunter - gilik - akuda sendeh - galak - angkid sepatu - pulpen - mslKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  26. 26. 38 3) Kruna Alus Mider (Ami) Kruna Alus Mider inggih punika kruna-kruna basa Bali alus sané wirasan basannyané madué wiguna kekalih, dados kanggén nyinggihang sang maraga singgih, sapunika taler dados kanggén ngasorang sang maraga sor. Tiosan ring punika kruna alus mider taler madué wangun andap. Conto Kruna Alus Mider (Ami): Kruna Andap Kruna Ami nawang - uning teka - rauh suba - sampun inget - éling meli - numbas ngadep - ngadol uli - saking krana - duaning 4) Kruna Alus Madia (Ama) Kruna Alus Madia inggih punika kruna-kruna basa Bali alus sané wirasan basannyané manengah. Kruna Alus Madia puniki makanten pinaka variasi kruna alus tiosan (Bagus, 1979: 179). Tiosan ring puniki, kamulan wénten kruna-kruna sané rasa basannyané alus madia, kruna alus sané kirang becik yéning kanggén mabebaosan sane alus. Conto Kruna Alus Madia: Kruna Andap Kruna Ama Kruna Ami ené, ento - niki nika - puniki, punika suba - ampun - sampun iang - tiang - titiang nah - nggih - inggih kéto - kénten - sapunika tusing - ten - néntenKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  27. 27. 38 5) Kruna Alus Singgih (Asi) Kruna Alus Singgih inggih punika kruna-kruna basa Bali alus sané kanggén nyinggihang sang singgih. Kruna alus singgih puniki pinaka panegep Kruna Alus Mider, santukan Kruna Alus Singgih nénten maderbé wangun Alus Mider. Conto Kruna Alus Singgih: Kruna Andap Kruna Asi Kruna Aso mati - séda, lina, - padem ndéwata, lebar beling - mobot - abot Ia - Ida, Dané - ipun nepukin - manggihin - ngantenang madan - mapeséngan - mawasta 6) Kruna Alus Sor (Aso) Kruna Alus Sor inggih punika kruna-kruna basa Baliné sané mawirasa alus, kanggén ngasorang raga utawi ngasorang anaké tiosan sané linggihnyané sor utawi andap. Conto Kruna Alus Sor: Kruna Andap Kruna Aso Kruna Asi ngenceh - mabanyu - mawarih ningeh - miragi - mireng keneh - manah - kayun ngomong - mapajar, matur - mabaos, ngandika ngamaang - ngwéhin, ngaturin - ngicénin baan - antuk - olih 7) Kruna KasarKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  28. 28. 38 Kruna Kasar inggih punika kruna-kruna basa Baliné sané wirasan basannyané kaon, saha ketah kanggén ri kalaning brangti, ri kalaning marebat utawi mamisuh. Conto Kruna Kasar: Kruna Andap Kruna Kasar mati - bangka madaar - nidik, ngléklék, ngamah, mantet icang - aké cai/nyai - iba, nani sirep - medem, mamelud B. Wirasan Lengkara Basa Bali Lengkara inggih punika pupulan kruna sané madué teges sampun jangkep. Kawéntenan lengkara basa Baliné majanten kawangun antuk kruna-kruna sané masor-singgih sakadi sané sampun kabaos ring ajeng. Duaning asapunika lengkara-lengkara sané metu taler madué wirasa matios-tiosan manut ring kruna-kruna sané ngwangun lengkara punika. Malarapan antuk rasa basannyané punika, lengkara sajeroning basa Bali kaepah dados nenem, inggih punika: (1) lengkara alus singgih, (2) lengkara alus madia, (3) lengkara alus sor, (4) lengkara alus mider, (5) lengkara andap, miwah (6) lengkara kasar. Mungguing sané kanggén minayang soang-soang lengkara basa Baliné punika, inggih punika saking kruna pangentos sané kanggén sajeroning lengkara punika, sakadi: - Ida, Dané (alus singgih); - Titiang, ipun (alus sor); - Tiang, jero (alus madia); - Iraga, druéné (alus mider); - Icang, cai/nyai, ia (andap); lan - Iba, siga, nani, kola, waké (kasar). 1) Lengkara Alus Singgih Lengkara alus singgih madué wirasa alus sané kanggén nyinggihang sang singgih, yadiastun nénten makasami kruna-Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  29. 29. 38 krunannyané saking kruna alus singgih. Lengkara alus singgih sering kawangun antuk kruna-kruna: alus singgih, kruna alus mider, miwah kruna mider. Upami: a. Ida kari makarya panggul. (asi, ami, ami, mider) b. Dané Gusti Patih nénten mireng baos okanné. (asi, ami, asi, asi, asi) c. Pak Bupati sampun lunga ka Jakarta. (asi, ami, ami, mider, mider) d. Pak Gama pinaka ketua STKIP. (asi, ami, mider, mider) 2) Lengkara Alus Madia Lengkara alus madia inggih punika lengkara Bali alus sané maderbé wirasa makanten kirang alus utawi kantun madia. Lengkara alus madia puniki akeh nganggén kruna-kruna alus madia. Sajaba punika taler maweweh kruna alus mider, kruna alus sor, kruna mider, miwah kruna andap. Upami: a) Tiang nunasang antuk linggih jeroné? (ama, aso, aso, ami, ama) b) Tiang ten uning unduké nika. (ama, ama, ami, andap, ama) c) Tiang kantun ngalap ron. (ama, ami, andap, mider) d) Pak saking Abang, nggih? (ama, ami, mider, ama) 3) Lengkara Alus Sor Lengkara alus sor inggih punika lengkara sané ngwetuang wirasa alus saha kanggén ngasorang raga utawi ngasorang anaké sané patut kasorang duaning linggihnyané pinaka sang sor. Lengkara alus sor punikiKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  30. 30. 38 kawangun antuk kruna-kruna alus sor, alus mider, andap, miwah kruna mider. Upami: a) Titiang manyama sareng lelima. (aso, andap, ami, mider) b) Ipun kantun numbas celana ring Hardy’s. (aso, ami, ami, mider, ami, mider) c) Bapak titiangé wawu rauh saking bangket. (aso, ami, ami, ami, ami) d) Pekak titiange sampun padem. (aso, ami, aso) 4) Lengkara Alus Mider Lengkara alus mider inggih punika lengkara alus sané kanggén mabaos antuk sang mabaos masarengan sang kairing mabaos. Lengkara alus mider puniki akéhan kawangun antuk kruna-kruna alus mider maweweh kruna mider. Lengkara alus mider sering nganggén kruna pangentos (kata ganti) iraga utawi druéné, duaning kanggén maosang indik kawéntenan sang mabaos miwah sang kairing mabaos (bahasa bersama/mengajak/persuasif). Upami: a) Ngiring iraga sareng-sareng ngastiti Ida Hyang Widhi Wasa! (ami, ami, ami, ami, asi) b) Ida-dané sareng sami ngiring mangkin kawitin paruman druéné! (asi, ami, ami, ami, ami, ami, ami, ami) c) Dumogi iraga sareng sami mangguh karahajengan. (ami, ami, ami, ami, ami, ami) d) Parikrama puniki prasida labda karya antuk utsaha druéné. (ami, ami, ami, ami, ami, ami, ami) 5) Lengkara AndapKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  31. 31. 38 Lengkara andap inggih punika lengkara basa Baliné sané wirasannyané biasa, nénten kasar taler nénten alus. Lengkara andap puniki kawangun antuk kruna-kruna sané andap miwah kruna mider. Upami: a) Ia mara majalan ngabaang sampinné padang. (andap, andap, andap, andap, mider) b) Nyén adan timpal caine? (andap, andap, andap, andap) c) Icang lakar mayah montor ka dealer malu. (andap, andap, andap, mider, mider, mider, andap) d) Dija tongos mayah listrik jani? (mider, andap, andap, mider, andap) 6) Lengkara Kasar Lengkara kasar inggih punika lengkara sané madué wirasa sané kaon. Yadiastun asapunika nénten ja makasami kruna-kruna sané ngwangun lengkara kasar punika saking kruna kasar. Taler maweweh kruna andap miwah kruna mider. Upami: a) Yén suba betek basangné pragat suba mamelud di pedemanné. (andap, andap, kasar, andap, andap, andap, kasar, andap, kasar) b) Depang suba pang bangka polonné. (andap, andap, andap, kasar, kasar) c) Men cai, ngléklék di sanggah ngae WC! (andap, andap, kasar, andap, andap, andap, mider) d) Mula bungut ibane galir, data-data petang iba! (andap, kasar, kasar, mider, andap, kasar, kasar) C. Wirasan Basa Bali Sané kabaos basa ring paplajahan puniki inggih punika bebaosan sanékawangun antuk pupulan kruna-kruna sané panjang, lintangan ring napi sanékabaos lengkara. Yéning mirengang anak mabaos, bebaosan punika pacangKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  32. 32. 38makanten sor-singgih, wénten sané alus, wénten sané madia, wénten sané andap,taler wénten sané ,mawirasa kasar. Punika sami wantah sangkaning linggih sang sané mabaos, sapasira sanékairing mabaos miwah sapasira sané kabaosang. Malarapan ring wirasannyané,basa Baliné kapalih dados: (1) basa kasar, (2) basa andap, (3) basa basa madia,miwah (4) basa alus. 1. Basa Kasar Basa kasar inggih punika basa Baliné sané wirasannyané kaon, seringkanggén marebat miwah mamisuh. Kanggén mabaos antuk anaké ri sedek duka,brangti, wiroda (jengah), miwah kroda. Basa kasar kapalih malih dados kekalih:(1) basa kasar pisan, miwah (2) basa kasar jabag. (1) Basa Kasar Pisan Basa kasar pisan inggih punika basa Baliné sané wirasannyané yukti-yukti kaon, saha sering kanggén marebat utawi mamisuh. Conto Basa Kasar Pisan: “Ih cicing, delikang matan ibané! Apa léklék iba mai ah? Awak beduda pangkah nagih nandingin geruda. Yén awak beduda, kanggoang to soroh tainé urek! Mai iba nuké anyud, patigrépé polon ibané mai ngalih somah timpal. Dasar ibi cicing bengil, pongah ngentut. Tuh kelik-kelik matan ibané, waluya matan buaya, matan sundel. Magedi iba uli dini! Yén sing nyak iba magedi, to cicing borosané lakar nyétsét clekotokan ibané!” (2) Basa Kasar Jabag Basa kasar jabag inggih punika basa Baliné sané kawangun antuk basa andap, taler ring asapunapiné maweweh kruna-kruna alus madia, nanging kanggén mabaos ring sang singgih utawi kanggén maosang indik sang singgih. Dadosnyané, basa andap sané kanggén mabaos ring sang singgih miwah kanggén maosang sang singgih punika sané kabaos basa kasar jabag. Conto Basa Kasar Jabag: “Ih Désak, payu malali bin mani? Yén Sak kal payu milu, ingetang liunang ngaba bekel nah! Saya sing kal ngaba apa. Désak kar cagerang. Yén Sak sing ngelah pis, Aku kal meliang malu. Kala ingetang nyen kamu ngulihang nah!”Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  33. 33. 38 2. Basa Andap Basa andap inggih punika basa Baliné sané wirasannyané biasa, nénten kasar taler nénten halus. Basa andapé puniki kanggén mabebaosan antuk anake sané linggihnyané pateh utawi papadan (sesamén wangsa), miwah antuk anaké sané linggihnyané singgihan ring sang sané soran. Minakadi:  Reraosan I bapa sareng I mémé,  Bebaosan ida aji sareng Ida biang,  Raos I bapa miwah I mémé ring pianaknyané,  Raos embok/beli ring adinipun,  Raos bapak/ibu guru ring muridnyané,  Baos raja ring patih, panyroan, parekan,  Baos patih ring parekan/panyroan,  Baos majukan ring buruh,  Baos pejabat ring pegawénnyané,  Baos sang triwangsa ring wangsa jaba. Conto Basa Andap: “Luh ……. Luh Sunari. Tegarang ja tolih i padang, liglig ia kameranan, angajap-ajap kritisan ujan ané marupa tresnan luhé. Bedak layah ia ngulatiang sukalegan idep luhé apanga ia sida nu maurip dini di guminé. Tan péndah ia i tuké anyud, patigrépé ngalih paenjekan. Tulya i tabia dakep ané nyaratang tungguhan apanga sida nu idup di guminé”. Puniki raos I Wayan Duria ring tunanganipun Luh Sunari. Conto Basa Andap Tiosan: Pupuh Ginada Eda ngadén awak bisa, depang anaké ngadanin, geginané buka nyampat, anak sai tumbuh luu, ilang luu buké katah, yadin ririh,Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  34. 34. 38 liu enu paplajahan. 3. Basa Madia Basa madia inggih punika basa Baliné sané makanten sakadi basa alus, nanging wirasannyané kantun madia, santukan akéh kawangun antuk kruna-kruna alus madia. Basa madia puniki pinih akéh katemuang ring bebaosan Bali sajeroning pagubugan maparajana. Sapatutnyané maosang sampun, kabaos ampun, patutnyané maosang inggih kabaos nggih, patutnyané maosang nénten kabaos ten, miwah selanturnyané. Sajaba punika, basa madiané puniki sering kanggén mabebaosan antuk sameton Baliné sané durung pada kenal, sané ketah mabaos matiang-jero. Pinaka conto basa madia pacang kaunggahang kekalih lagu pop Bali ring sor puniki, inggih punika lagu Pop Bali Rajapala miwah Bungan Sandat. RAJAPALA Jero-jero … anak lanang bagus genjing, wantah titiang widiadari, Kén Sulasih parab titiang. Napi wénten … ngambil busanan tiangé, titiang nyadia mangentosin, antuk jinah mas tur mirah. Rajapala parab titiang truna lara, yéning suéca pakayunan makronan, ratu ayu sareng titiang truna lara. Mangkin wénten … pinunas tiang ring beli, yéning wénten putra adiri, titiang mapamit ring beli.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  35. 35. 38 BUNGAN SANDAT Yen gumanti bajang Tan bina ia pucuk nedeng kembang Disubane layu tan ada ngrunguang ngemasin makutang Becik malaksana da gumanti dadi kembang bintang mentik di rurunge makejang mangempok raris kaentungang Ia i bungan sandat salayu-layu layunne miik ‘to ia nyandang tulad sauripe malaksana becik Para truna-truni mangda saling asah asih asuh manyama braya ‘to kukuhin rahayu kapanggih 4. Basa Alus Basa Bali alus inggih punika basa Baliné sané wirasannyané alus utawi nyinggihang. Manut tata krama mabaos Bali, basa alusé puniki kanggén mabebaosan antuk anaké sané linggihnyané sor ring sang singgih. Minakadi: • atur parekan ring raja, • atur panyroan ring patih, • atur murid ring guru, • atur pegawé ring pejabat, • atur buruh ring majikan , msl. Basa Baliné sané wirasannyané alus puniki malih kapalih dados tigang soroh, inggih punika: (1) basa alus singgih, (2) basa alus sor lan (3) basa alus mider. (1) Basa Alus SinggihKeterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  36. 36. 38 Basa alus singgih inggih punika basa Baliné sané wirasannyané alus saha kanggén nyinggihang sang singgih sané kairing mabaos utawi sané sedek kabaosang. Wangsa jaba sané mabaos ring tri wangsa utawi maosang indik tri wangsa patut nganggén basa alus singgih. Conto Basa Alus Singgih: “Ratu déwa agung, makadi pranagata, nadak sara cokoridéwa ngeséngin sikian titiang mangda titiang pedek tangkil rahinané mangkin. Samaliha sapamedal cokoridéwa makanten ucem remrem tatwadana druéné, tan péndah kadi sekar pucuké kaulet. Punapi manawi wénten sané sungsutang cokoridéwa ring sajeroning pikayunan? Inggih durus-durus cokoridéwa mawecana, mabaos ring panjaké sami!” (2) Basa Alus Sor Basa alus sor inggih punika basa Baliné sané mawirasa alus, kanggén ngasorang raga utawi ngasorang sang sané patut kasorang. Sang sapasira ugi sané sedek mabebaosan ring bebaosan pakraman (resmi) kapatutang ngasorang raga nganggén basa alus sor. Conto basa alus sor: “Ida Dané sané baktinin titiang, sadurung titiang nglantur matur ring Ida Dané sareng sami, lugrayang riin titiang nyinahang déwék. Mungguing wastan titiang I Wayan Jatiyasa. Titiang wit saking Banjar Tumingal, Désa Tiyingtali, Abang, Karangasem. Titiang manyama sareng lelima samaliha durung maderbé somah” Ring conto punika, titiang matur ring sang sareng akéh, minakadi pamilet penataran. Titiang ngasorang raga nganggén basa alus sor. Titiang nénten maosang mapeséngan, nanging mawasta. Titiang nénten maosang angga, nanging déwék. Titiang nénten maosang masameton, nanging manyama. Taler nénten maosang durung madué rabi, nanging durung maderbé somah. Conto basa alus sor sané tiosan Pupuh Sinom Titiang jadma suniantara, nista lacur manumadi, malarapan suka legawa,Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  37. 37. 38 catur bekel titiang pasti, suka duka lara pati, nika wantah titiang tikul, titiang mawasta I Tamtam, nyadia titiang tangkil mangkin, ring Sang Ayu, sané telas tunas titiang. Punika atur I Tamtam majeng ring Diah Adnyasuari, putrining jagat Mesir. Duaning I Tamtam madéwék Jaba, ipun matur ring Sang Ayu Adnyasuari nganggén basa alus sor, kaanggén ngasorang déwék ipuné. (3) Basa Alus Mider Basa alus mider inggih punika basa Baliné sané mawirasa alus, sering kanggén mabebaosan sajeroning peparuman, matur-atur ring sang sareng akéh. Bebaosan punika ngeninin sang mabaos miwah sang sané kairing mabaos. Kruna pangentos sané kanggén lumrahnyané kruna iraga utawi druéné. Conto basa alus mider kadi ring sor puniki: “Inggih Ida Dané krama banjar sané dahat wangiang titiang, duaning panamayané sampun nepek ring sané kacumawisang, ngiring mangkin kawitin paparuman druéné. Sakéwanten sadéréngé, ngiring sinarengan ngastiti bakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, nunas pasuécan Ida mangda asung ngicénin iraga karahajengan, gumanti punapa-punapi sané pacang kabaosang malih ajebos prasida sidaning don miwah labda karya. Ngiring sinarengan nyakupang kara kalih saha ngojarang pangastungkara, Om Swastiastu”Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd
  38. 38. 38 DAFTAR PUSTAKABagus, I Gusti Ngurah. 1979. Perubahan Pemakaian Bentuk Hormat dalam Masyarakat Bali. Sebuah Pendekatan Etnografi Berbahasa. Jakarta.Balai Bahasa Denpasar, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin. Denpasar.http://colinawati.blog.uns.ac.id/2010/05/10/9.html.http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2010/04/keterampilan-menyimak.htmlhttp://ngomongo.blogspot.com.html.http://prabareta.blogspot.com/2009/01/keterampilan-menyimak.html.http://www.slideshare.net/NASSuprawoto/pembelajaran-berbicara.html.Suwija, I Nyoman dan Manda, I Gede. 2009. Widia Sari. Basa lan Sastra Bali 3. Sebuah Buku Pelajaran Bahasa Bali Kelas XII SLTA. Denpasar.Suwija, I Nyoman. 2007. Pupulan Pidarta Basa Bali Alus. Denpasar: Pelawa Sari.Suwija, I Nyoman. 2007. Kamus Anggah-ungguhing Basa Bali. Denpasar: Sanggar Ayu Suara.Suhendar, M.E dan Supinah, Pien. 1992. Bahasa Indonesia. Pengajaran dan Ujian Keterampilan Menyimak & Keterampilan Berbicara. Bandung: CV. Pionir Jaya.Tarigan, Henry Guntur. 1987. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.Tinggen, I Nengah. Sor Singgih Basa Bali. Singaraja: Rhika Dewata.Yuwono, Trisno dan Abdulah, Pius. 1994. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis. Surabaya: Arkola.Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali I Wayan Jatiyasa, S.Pd

×