Bab ii telaah pustaka

9,102 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
9,102
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
62
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab ii telaah pustaka

  1. 1. II. TELAAH PUSTAKA Lingkungan hidup merupakan suatu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup terdiri atas faktor abiotik, biotik dan budaya (kultur sosial) yang ketiganya merupakan satu kesatuan yang berinteraksi satu sama lainnya dan saling mempengaruhi dan membutuhkan sehingga kerusakan pada salah satu faktor akan berdampak pada faktor lainnya. Kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup memiliki dampak yang positif dan negatif yang timbul secara bersamaan dimana pengelolaan yang berlebihan oleh manusia akan sumberdaya untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya akan berdampak pada penurunan mutu lingkungan dan manfaat lingkungan serta meningkatkan resiko lingkungan yang merupakan dampak negatif yang tidak diinginkan oleh makhluk hidup terutama manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan penanggulangan dan pelestarian perlu dilakukan sehingga dapat menjaga maupun mengembalikan lingkungan pada keadaan yang kurang lebih sama dan pencemaran lingkungan dapat di minimasi. Sampah merupakan sebagian benda atau hasil dari kegiatan manusia yang tidak dipakai, tidak disenangi, dan sedemikian rupa sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali, dimana keberadaannya tidak diinginkan kembali sehingga dapat mengganggu kelangsungan hidup (Daryanto, 2009). Sampah
  2. 2. 13 pada dasarnya masih dapat digunakan kembali oleh masyarakat jika dilakukan suatu tindakan atau upaya untuk memanfaatkan kembali fungsinya yang tersisa ataupun yang lain sehingga memiliki fungsi baru atau tambahan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia seperti mekanisme meminimasi sampah seperti 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan 1D (Disposal). Kegiatan meminimasi sampah yang dilakukan berdasarkan konsep 3R tersebut sejalan dengan isi Undang Undang RI No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pengolahan atau treatment terhadap sampah dilakukan berdasarkan jenis dan komposisinya yang diantaranya dapat berupa transformasi fisik, pembakaran, pembuatan kompos maupun energy recovery yang telah banyak dilakukan dibeberapa negara maju (Sejati, 2009). Negara berkembang seperti Indonesia masih memiliki paradigma lama yaitu melakukan open dumping dan sanitary landfill karena relatif lebih murah dalam pelaksanaannya dan pengelolaannya (Scott et al., 2005). Paradigma pengelolaan sampah yang digunakan oleh pemerintah tersebut menimbulkan berbagai kasus. Kasus yang mungkin terjadi adalah munculnya berbagai penyakit baru, bau menyengat yang mengakibatkan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), pencemaran air permukaan dan air tanah oleh lindi (leachate) dimana terkandung logam berat berbahaya didalamnya hingga pada masalah estetika dan terganggunya kenyamanan penduduk (Kjeldsen et al., 2002). Logam-logam berat yang terkandung di dalam lindi seperti kadmium, merkuri, timbal dan arsen merupakan unsur berbahaya bagi manusia,
  3. 3. 14 terutama Pb dan Cd yang memiliki tingkat toksisitas lebih tinggi jika dibandingkan Hg dan As pada kadar tertentu (Wardhana, 2001). Logam berat dalam jumlah yang berlebih memiliki toksisitas yang tinggi bagi manusia karena dapat terakumulasi pada jaringan dan merusak kinerja enzim dalam tubuh manusia. Salah satu logam berat yang berbahaya ialah timbal (Pb), dimana logam berat Pb tersebut dapat ditemukan pada sampah domestik dan industri (Yu et al., 2011). Logam berat tersebut terkandung pada sampah seperti pelapis kabel PVC (polyvinyl chloride), campuran pipa plastik, ban bekas, keramik, dan ada pula yang digunakan sebagai salah satu bahan campuran dalam kosmetik (Daryanto, 2009). Bahan logam berat seperti timbal ini dapat mengkontaminasi air sungai maupun air tanah, dimana kontaminan sumber air tersebut berasal dari proses perembesan atau infiltrasi air pencucian limbah padat berbahaya (leachate) yang berasal dari suatu TPAS. Upaya untuk mengidentifikasi pencemaran air sungai oleh lindi dilakukan dengan menggunakan parameter fisik, kimia dan biologi sesuai dengan kadar baku mutu air yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Kandungan beberapa unsur dan logam berat pada lindi menentukan bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh sebuah TPAS. Hal tersebut mengacu pada Undang Undang RI No.18 Tahun 2008 tentang Pengeloaan Sampah yang menyatakan didalamnya mengenai arahan bentuk pengelolaan sampah terhadap beberapa kandungan yang terdapat pada lindi. Pengadaan sistem
  4. 4. 15 pengolahan lindi (leachate) sangat diperlukan untuk mengurangi beban pencemaran terhadap badan air penerima seperti air sungai (Galavi et al., 2010). Lindi yang telah terkumpul diolah terlebih dahulu, sehingga mencapai standar aman untuk kemudian dibuang ke dalam badan air penerima. Hal tersebut diharapkan setelah dilakukan pengolahan tidak terjadi pencemaran terhadap lingkungan sekitar seperti pada air sungai maupun air tanah sehingga kualitasnya kembali atau jauh lebih baik dari sebelumnya. Pengelolaan terhadap lindi yang dilakukan pada sebuah TPAS selalu memberikan dampak pada masyarakat yang berada di TPAS itu sendiri ataupun masyarakat disekitarnya. Dampak yang timbul terhadap masyarakat menghasilkan suatu bentuk perilaku masyarakat terhadap dibangunnya sebuah TPAS, dimana dampak tersebut kemungkinan dapat menghasilkan pengaruh negatif maupun positif baik secara langsung atau tidak langsung bagi masyarakat di sekitar TPAS dan begitu pula dengan perilaku yang dihasilkan di masyarakat. Penurunan kualitas air sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar TPAS kemungkinan memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku kesehatan masyarakat dikarenakan terjadi beberapa dampak kesehatan bagi masyarakat yang memanfaatkan air sungai yang kemungkinan besar telah terkontaminasi. Perilaku pada hakikatnya adalah suatu aktivitas daripada manusia itu sendiri sehingga memiliki bentangan yang luas hingga pada kegiatan internal seperti berfikir, persepsi dan emosi (Notoatmodjo, 2003). Bentuk dari
  5. 5. 16 perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau individu terhadap ransangan (stimulus) dari luar objek tersebut. Respon tersebut dapat bersifat pasif seperti berpikir, berpendapat dan bersikap (pengetahuan dan sikap), lalu dapat bersifat aktif yaitu melakukan tindakan (praktik). Sedangkan respons dalam bentuk pengalaman beserta interaksinya menyangkut pengetahuan dan sikap mengenai kesehatan lalu tindakannya untuk memperbaiki kualitas kesehatannya serta dampak penyakit adalah perilaku kesehatan (Sarwono, 2007). Pengalaman dan interaksi masyarakat dalam pemanfaatan air sungai yang kemungkinan telah terkontaminasi lindi akibat keberadaan TPAS kemungkinan mempengaruhi pengetahuan dan sikap terhadap pemanfaatan air sungai tersebut, kemudian akan membentuk suatu praktik atau tindakan dalam upayanya memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kondisi kesehatannya serta memperoleh kesembuhan, dimana tindakan-tindakan tersebut dinamakan sebagai perilaku sehat dan sakit (Sarwono, 2007). Perilaku kesehatan masyarakat di sekitar TPAS dapat mencakup 3 domain perilaku yaitu pengetahuan (kognitif) pada tingkat tahu (know) dan memahami (comprehension), sikap (afektif) pada tingkat memahami (receiving) dan merespons (responding), kemudian praktik (psikomotorik) pada tingkat persepsi (perception) dan respon terpimpin (guided respons) mengenai keberadaan TPAS. Pengetahuan dan sikap tentang kesehatan masyarakat mengenai keberadaan TPAS kemudian mempengaruhi perilaku
  6. 6. 17 sehat dan sakit masyarakat dalam bentuk praktik atau tindakannya untuk mengatasi dan meningkatkan kualitas lingkungan dan sosial budayanya.

×