Kestabilan ion kompleks

5,063 views

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,063
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
230
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Hal inidikarenakandengan
  • karenakecenderunganlogamuntukmenarikpasanganelektron yang didonasikanolehliganakanlebihkuat.
  • karenakecenderunganlogamuntukmenarikpasanganelektron yang didonasikanolehliganakanlebihkuat.
  • Kestabilan ion kompleks

    1. 1. • Analisis Kualitatif AgCl + 2NH3 [Ag(NH3)2]+ + Cl-• Industri fotografi AgBr + 2S2O32- [Ag(S2O3)2]3- + Br-
    2. 2. • Dalam mempelajari suatu sistem reaksi dan senyawa kimia, ada dua pendekatan yang bisa digunakan , yaitu Termodinamik senyawa kimia dapat dikatakan stabil atau tidak stabil. Kinetik senyawa dapat dikatakan sebagai suatu senyawa yang labil, atau senyawa inert.
    3. 3.  keadaan awal dan akhir dari sistem beberapa besaran yang dibahas dalam pendekatan termodinamika adalah konstanta kesetimbangan, energi ikatan, potensial reduksi,dsb G = H – T S = - RT ln K Untuk senyawa kompleks, Biltz (1927) menggolongkan senyawa kompleks menjadi kompleks stabil dan kompleks tidak stabil. Stabil  mampu bertahan Tidak stabil  mudah terurai
    4. 4. • Menitikberatkan pada mekanisme yang terjadi pada reaksi dan kecepatan berlangsungnya reaksi.• Besaran yang berpengaruh : energi aktivasi, konstanta laju reaksi, dan pembentukan kompleks intermediate.• Taube (1950) telah mengklasifikasikan senyawa kompleks menjadi kompleks labil dan kompleks inert berdasarkan laju pertukaran ligan kompleks tersebut. labil  mengalami pertukaran ligan dengan cepat inert pertukaran ligan berlangsung dengan sangat lambat /tidak berlangsung sama sekali.
    5. 5. • Karena tinjauan yang digunakan dalam aspek kinetika dan termodinamika berbeda, maka bukan tidak mungkin suatu kompleks yang stabil secara termodinamika jika ditinjau secara kinetika merupakan kompleks yang labil. Sebaliknya, suatu kompleks yang tidak stabil mungkin saja merupakan kompleks inert.• Stabilitas suatu senyawa bergantung pada energi reaksinya, sedangkan labilitas senyawa bergantung pada energi aktivasi dari senyawa tersebut.
    6. 6. • Kompleks logam terbentuk dalam larutan melalui tahap-tahap reaksi, dan konstanta kesetimbangan dapat ditulis untuk masing-masing tahap. Misalnya untuk reaksi pembentukan Cu(NH3)42+ :Termodinamik
    7. 7. • Tetapan stabilitasnya dapat dituliskan dalam suatu persamaan. Misalkan pembentukan kompleks MLn, terbentuk melalui sejumlah n tahapan. Tetapan stabilitas untuk setiap tahapan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut : M+L ML,K1 = [ML] [M][L] ML + L ML2, K2 = [ML2] [ML][L] MLn-1 + L MLn Kn = [MLn] [MLn-1][L] K1, K2, …., Kn  stepwise stability constants K1 > K2 > K3 > …> Kn
    8. 8. M+L ML, β1 = [ML] [M][L] M + 2L ML2, β2 = [ML2] [M][L]2 M + nL MLn βn = [MLn] [M][L]nβ1, β2, …, βn  overall stability constants L adalah ligan monodentat n adalah B.K. atom logam M
    9. 9. • Harga K dan β dari suatu kompleks saling berhubungan satu sama lain. Misalkan saja pada suatu kompleks MLn, harga β3nya adalah• βn = K1 x K2 x …. x Kn• log βn = log K1 + log K2 + …….. + log Kn Harga βn merupakan ukuran dari stabilitas suatu senyawa kompleks. Makin besar harga βn, makin stabil kompleks tersebut.
    10. 10. Dipengaruhi oleh logam pusatDipengaruhi oleh ligan
    11. 11. Ukuran dan Muatan Ion PusatLi+ (r = 0,60Ǻ) > Na+ (r = 0,95Ǻ) > K+ (r = 1,33 Ǻ) > Rb+ (r = 1,48Ǻ) > Cs+ (r= 1,69Ǻ) Jari-jari ion logam stabilitasnya Th4+ (r = 0,95Ǻ) > Y3+ (r = 0,93Ǻ) > Ca2+ (r = 0,99Ǻ) > Na+ (r = 0,95Ǻ) Muatan ion stabilitasnya harga q/r yang makin besar medan listrik dari logam pusat semakin besar pula.
    12. 12. Pengaruh CFSE• CFSE  meningkatkan kestabilan kompleks, so, K maks dapat diramalkan akan diperoleh pada kompleks dengan logam pusat yang memiliki konfigurasi elektron d3 dan d8, karena konfigurasi ini akan memberikan harga CFSE yang paling besar.• urutan stabilitas kompleks berdasarkan konfigurasi elektron pada orbital d mengikuti urutan sebagai berikut :• d0 < d1 < d2 < d3 4 < d5 < d6 < d7 < d8 d9 < d10 d
    13. 13. Elektronegativitas dan Kemampuan Polarisasi Logam• Kompleks yang terbentuk dari logam dengan elektonegativitas yang tinggi akan menghasilkan kopmpleks yang lebih stabil,• Dalam hal yang sama, logam dengan kemampuan polarisasi yang lebih besar juga akan menghasilkan kompleks yang lebih stabil.
    14. 14. Logam jenis a dan b1. Logam kelas a : logam-logam yang lebih elektropositif, (alkali dan alkali tanah, logam transisi pertama, logam pada deret Lantanida dan Aktinida)  stabil dg ligan unsur periode 2 (N,O,F)2. Logam kelas b : logam-logam yang lebih elektronegatif, seperti Pt, Au, Hg, Pb, logam-logam transisi ringan dengan bilangan oksidasi yang rendah  stabil dg ligan periode ketiga (P,S,Cl)
    15. 15. Beberapa factor dari ligan yang mempengaruhi kestabilankompleks Ukuran dan muatan ligan Momen Dipol dari Ligan Sifat Basa Ligan Efek Sterik Efek Khelat Kemampuan membentuk ikatan π
    16. 16. • kompleks yang stabil akan terbentuk dari ligan yang berukuran kecil dan memiliki muatan yang besar.• makin besar momen dipol dari suatu ligan, stabilitas kompleks yang terbentuk makin besar amina > etilamin > dietilamin > trietilamin• makin basa suatu ligan, kompleks yang terbentuk akan semakin stabil F- > Cl-> Br- > I- > NH3 > H2O > HF• ligan-ligan yang dapat membentuk ikatan π dengan logam membentuk kompleks yang lebih stabil. Misalnya saja ligan CN-, CO, PR3, dan alkena.• Adanya efek sterik dapat melemahkan ikatan logam dengan ligan.• Ligan yang merupakan suatu ligan pengkhelat membentuk kompleks yang lebih stabil dibandingkan ligan bukan khelat
    17. 17. A+B C Kc = [C] / [A] [B] Kc = tetapan stabilitas Harga K dapat dicari jika kons. mula – mula zat yang bereaksi dan zat pada saat kesetimbangan diketahui. Kesukaran penentuan harga K disebabkan :1. Akan terbentuk pula kompleks lain.2. Penentuan masing - masing spesi sering mengganggu kesetimbangan [Co(OH2)6]2+ + Cl- [Co(OH2)5Cl]+ + H2O1. Tetapan stabilitas sebenarnya bergantung kepada aktivitas, bukan kepada konsentrasi.Ka = aC / aA . aB = c C / cA. cB ɤ sulit ditentukana = c .ɤ Koef.aktivitaskonsentrasi
    18. 18. • Konsentrasi spesi dalam lar. Dapat dilakukan dengan cara1. Spektroskopi Untuk menetapkan konsentrasi senyawa kompleks berwarna, dimana ketajaman warna sebanding dengan konsentrasi. Hk.Lambert-Beer Log I / Io = o.d = €. c. L  od (optical density) diketahui dg septofotometer Contoh : Fe3+ + NCS- ↔ *Fe(NCS)+2+ Kc = [Fe(NCS)]2+ / [Fe3+ ][NCS-]1. Elektrolisa Untuk menentukan kc dimana kesetimbangan dipengaruhi oleh pH. Besrnya H+ ditentukan oleh pH meter. Misal pada pembentukan kompleks [Ag(NH3)2]+ Ag+ + NH3 ↔ *Ag(NH3)]+ K1 [Ag(NH3)]+ + NH3 ↔ *Ag(NH3)2]+ K2
    19. 19. • Stabilitas suatu senyawa bergantung pada energi reaksinya, sedangkan labilitas senyawa bergantung pada energi aktivasi dari senyawa tersebut• Harga βn merupakan ukuran dari stabilitas suatu senyawa kompleks. Makin besar harga βn, makin stabil kompleks tersebut.• Kestabilan kompleks dipengaruhi oleh atom pusat dan ligan

    ×