Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK CAIR
TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L)
...
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sayuran juga mengandung serat (fiber) yang mampu menjaga kesehatan sistem
pencerna...
3
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh interval waktu pemberian pupuk cair
terhadap pertumbuhan ...
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. SELADA (Lactuca sativa L)
(Lactuca sativa L.)
2.1.1. Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
Sel...
5
2.1.2. Taksonomi Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
Menurut Haryanto, Suhartini dan Rahayu (1996), klasifikasi tanaman
s...
6
Menurut Susila (2013), intensitas cahaya tinggi dan hari panjang dapat
meningkatkan laju pertumbuhan dan mempercepat per...
7
Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi
pertumbuhan yang optimal, maka potensi 7 ma...
8
Menurut Siregar (2015), nutrisi yang paling cocok untuk selada keriting
Grand Rapids adalah nutrisi goodplant dan nutri ...
9
Fajariyanti (2008), sinar matahari menghasilkan cahaya polikromatik yang
dapat dibiaskan menjadi cahaya monokromatik.
Ca...
10
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Obyek Penelitian
Objek penelitian ini adalah tanaman selada (Lactuca sativa L.) yang dit...
11
a.) Metode observasi, dengan melakukan pengamatan langsung ke tempat dimana
terdapat tanaman selada (Lactuca sativa L.)...
12
3.10. Alur Penelitian
Persiapan alatdan
bahan
Penanaman bibit
tanaman selada pada
rockwool
Rockwool
dipindahkan kedalam...
13
DAFTAR PUSTAKA
Febriani, Dwi Nur Shinta, Didik Indradewa, and Sriyanto Waluyo. "Pengaruh Pemotongan
Akar dan Lama Aeras...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Proposal Penelitian Pengaruh Interval Waktu Pemberian Pupuk Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca Sativa L) Secara Hidroponik Di Sma Negeri 6 Yogyakarta

2,411 views

Published on

Milik Siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta, Mau download? Publish? Boleh, sertakan sumbernya ya :) Terimakasih :)

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Proposal Penelitian Pengaruh Interval Waktu Pemberian Pupuk Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca Sativa L) Secara Hidroponik Di Sma Negeri 6 Yogyakarta

  1. 1. 1 PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L) SECARA HIDROPONIK DI SMA NEGERI 6 YOGYAKARTA DISUSUN OLEH : ARGA ZAHRAYENA AINASYA (05) ARLENDA ISKANDAR PUTRA (07) DHIARRAFII BINTANG MATAHARI (10) FATMA AMELIA HANDAYANI (14) SHAVIRA FERDHANI (26) SURYANINGGAR DAMAYANTI (27) XII IPA 5 SMA NEGERI 6 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017 Jl. C Simanjuntak 2 Yogyakarta Telp. (0274)513335, Fax. (0274)544660 Website: www.sman6-yogya.sch.id Email: sman6@sman6-yogya.sch.id
  2. 2. 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sayuran juga mengandung serat (fiber) yang mampu menjaga kesehatan sistem pencernaan manusia (Wardhani, 2004), sayuran juga bermanfaat dalam menambah ragam, rasa, warna dan tekstur makanan (Rubatzky et al., 1998). Salah satu sayuran hijau yang digemari masyarakat adalah selada. Di Indonesia, selada biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai lalapan, gado-gado atau untuk salad. Permintaan selada dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan produktivitas lahan terus mengalami penurunan. Maka sistem hidroponik dirasa menjadi salah satu jalan keluar untuk kendala ini. Di Jawa Barat, harga jual sayuran hidroponik menurut Fitriani (2008), rata-rata sekitar Rp 15.000/kg. Prospek selada sangat baik. Kendala pengembangan selada di Indonesia adalah peningkatan permintaan selada didalam negeri tidak diikuti dengan peningkatan produksinya. Apalagi dengan semakin menurunnya luasan lahan yang tersedia untuk budidaya pertanian yang menjadi kendala pada pertanaman selada konvensional. Menurut Maghfoer et al. (2007) sistem pertanaman hidroponik adalah salah satu pemecahannya. Hidroponik berasal dari kata hidro yang berarti air dan ponus yang berarti daya, sehingga hidroponik berarti memberdayakan air (Karsono et al., 2002). Hidroponik adalah sistem pertanaman tanpa tanah (soilless culture) yaitu sistem budidaya tanaman yang menggunakan media selain tanah, dapat berupa batubata, arang sekam, pasir, atau media buatan seperti rockwool atau perlite. Sejauh mana pengaruh dari interval waktu pemupukan cair terhadap pertumbuhan tersebut belum diketahui oleh karena itu perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interval waktu pemberian pupuk cair yang tepat terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L) yang ditanam secara hidroponik. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apakah ada pengaruh interval waktu pemberian pupuk cair terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L) secara hidroponik di SMA Negeri 6 Yogyakarta? 2. Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L) yang diberi pupuk cair dengan interval waktu yang berbeda-beda?
  3. 3. 3 1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh interval waktu pemberian pupuk cair terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L) secara hidroponik di SMA Negeri 6 Yogyakarta? 2. Untuk mengetahui bagaimanakah perbedaan pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L) yang diberi pupuk cair dengan interval waktu yang berbeda-beda? a. Manfaat Peneltian 1. Bagi Peneliti : Menambah wawasan tentang tanaman selada (Lactuca sativa L) dan penanaman hidroponik. 2. Bagi Sekolah : Mendukung program Adiwiyata dengan mengefektifkan pengelolaan tanaman-tanaman hidroponik di Green House SMA Negeri 6 Yogyakarta terkhusus pemberian pupuk nutrisi pada tanaman selada (Lactuca sativa L) agar didapatkan hasil tanaman yang baik. 3. Bagi Masyarakat : Sebagai alternatif penanaman dengan minimnya lahan dan pengefektifan interval waktu pemberian pupuk cair pada tanaman selada (Lactuca sativa L) agar didapatkan hasill tanaman yang baik. 4. Bagi Pemerintah : Mendukung program pemerintah yang terkait dengan penggunaan metode tanam hidroponik tanpa mempermasalahkan lahan yang sempit.
  4. 4. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. SELADA (Lactuca sativa L) (Lactuca sativa L.) 2.1.1. Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Selada merupakan tanaman yang berasal dari negara beriklim sedang. Tanaman selada sudah dibudidayakan sejak 500 tahun sebelum masehi. Peranan komoditas hortikultura berperan penting terhadap perkembangan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan petani, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis dan agroindustri, peningkatan ekspor dan pengurangan impor. Nilai ekonomi selada cukup tinggi sehingga tanaman ini menjadi salah satu tanaman prioritas nasional untuk mendukung perkembangan di Indonesia (Rukmana, 1994). Menurut Edi dan Bobihoe (2010), selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili compositae yang biasa dikonsumS/cmi sebagai lalapan atau salad. Menurut jenisnya, selada ada yang dapat membuat krop dan ada yang tidak. Jenis yang tidak membentuk krop daundaunnya berbentuk ”rosete”. Jenis selada yang banyak dibudidayakan adalah selada mentega dan selada krop. Selada mentega disebut juga dengan selada bokor atau selada daun, bentuk kropnya bulat lepas. Selada (heading lettuce) atau selada krop, bentuk krop bulat dan lonjong, kropnya padat atau kompak. Warna daun selada hijau terang sampai putih kekuningan.
  5. 5. 5 2.1.2. Taksonomi Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Menurut Haryanto, Suhartini dan Rahayu (1996), klasifikasi tanaman selada adalah sebagai berikut : Kingdom :Plantae Divisio :Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Lactuca Spesies : Lactuca sativa L. Menurut Cahyono, (2014) selada yang dibudidayakan dan dikembangkan saat ini memiliki banyak varietas diantaranya yaitu : 1. Selada kepala atau selada telur (Head lettuce) Selada yang memiliki ciri-ciri membentuk krop yaitu daun-daun saling merapat membentuk bulatan menyerupai kepala. 2. Selada rapuh (Cos lettuce dan Romaine lettuce) Selada yang memiliki ciri-ciri membentuk krop seperti tipe selada kepala. Tetapi krop pada tipe selada rapuh berbentuk lonjong dengan pertumbuhan meninggi, daunnya lebih tegak, dan kropnya berukuran besar dan kurang padat. 3. Selada daun (cutting lettuce atau leaf lettuce) Selada yang memiliki ciri-ciri daun selada lepas, berombak dan tidak membentuk krop, daunnya halus dan renyah. Biasanya tipe selada ini lebih enak dikonsumsi dalam keadaan mentah. 4. Selada batang (Asparagus lettuce atau stem lettuce) Selada yang memiliki ciri-ciri tidak membentuk krop, daun berukuran besar, bulat panjang, tangkai daun lebar dan berwarna hijau tua serta memiliki tulang daun menyirip. 2.1.3. Persyaratan Iklim Selada cultivar Grand Rapids baik ditanam di dataran rendah dengan suhu optimal 15–25oC. Jenis tanah yang baik adalah tanah lempung berdebu atau lempung berpasir dengan pH netral (Susila, 2006). Menurut Edi dan Bobihoe (2010), waktu tanam terbaik untuk tanaman selada adalah pada akhir musim hujan, walaupun demikian dapat juga ditanam pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup dengan pH 5-6,5.
  6. 6. 6 Menurut Susila (2013), intensitas cahaya tinggi dan hari panjang dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan mempercepat perkembangan luas daun. Selada yang dibudidayakan secara hidroponik dapat tumbuh dengan baik dan dapat dipanen lebih cepat. Penggunaan larutan hara dalam sistem hidroponik disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tanaman. Electrical Conductivity ( EC) yang sesuai untuk mendapatkan pertumbuhan optimal tanaman selada pada interval 1.09-1.5 mS/cm.cm-1 . 6 2.1.3 Manfaat Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Selada memiliki banyak kandungan gizi dan mineral. Menurut Lingga (2010), selada memiliki nilai kalori yang sangat rendah. Selada kaya akan vitamin A dan C yang baik untuk menjaga fungsi penglihatan dan pertumbuhan tulang normal. Kandungan nutrisi dalam daun selada dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Gizi dalam 100g Daun Selada Sumber Lingga, 2010 2.2. HIDROPONIK Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa tanah sebagai media tanamnya. Media tanam pada sistem hidroponik menggunakan air atau bahan porous lainnya seperti arang sekam, pecahan genting, pasir, kerikil, maupun gabus putih (Lingga, 2005). Sistem hidroponik pada dasarnya merupakan modifikasi dari sistem pengelolaan budidaya tanaman di lapangan secara lebih intensif untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta menjamin kontinyuitas produksi tanaman.
  7. 7. 7 Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal, maka potensi 7 maksimum untuk berproduksi dapat tercapai. Larutan nutrisi yang langsung diberikan pada zona perakaran, mengandung komposisi garam-garam organik yang berimbang untuk menumbuhkan perakaran dengan kondisi lingkungan perakaran yang ideal (Rosliani dan Sumarni, 2005). Menurut Persatuan Hidroponik Terengganu dalam Sibarani (2005), ada dua sistem hidroponik yaitu hidroponik pasif dan hidroponik aktif. Hidroponik aktif adalah sistem hidroponik yang larutan nutrisinya ditampung dalam tangki dan dialirkan ke tanaman. Larutan akan bersirkulasi selama masa tumbuh tanaman sampai tanaman bisa dipanen. Pada sistem hidroponik pasif, larutan nutrisi akan diam dalam bak penampung yang tepat berada di bawah tanaman. Sistem ini umum digunakan untuk tanaman jenis sayuran karena sistem ini hanya dapat digunakan dalam waktu pendek. Menurut Lingga, (2005) budidaya sayuran secara hidroponik memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan utama sistem ini adalah keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin. Kelebihan hidroponik yang lain yaitu : (1) perawatan lebih praktis dan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, (2) pemakaian pupuk lebih effisien, (3) tanaman dapat tumbuh lebih pesat dengan kebersihan yang terjamin, (4) penanaman dapat dilakukan terus menerus tanpa tergantung musim, (5) dapat dilakukan penjadwalan pemanenan sehingga dapat memproduksi tanaman secara kontinyu, serta (6) harga jual sayuran hidroponik lebih mahal. 2.2.1. Teknik Hidroponik Sistem Sumbu Teknologi hidroponik dengan sistem sumbu merupakan salah satu sistem budidaya tanaman secara hidroponik yang menggunakan media tanam. Teknologi ini dapat dioperasikan tanpa tergantung adanya energi listrik karena tidak memerlukan pompa untuk re-sirkulasi larutan hara. Hal ini menyebabkan sistem ini menjadi lebih sederhana, mudah dioperasikan, dan murah, sehingga berpotensi untuk dikembangkan pada tingkat petani kecil. Pada sistem ini, larutan nutrisi disampaikan ke akar tanaman melalui sumbu. Hidroponik dengan sistem ini cocok digunakan untuk budidaya tanaman rendah seperti sayuran. Budidaya selada dengan sistem hidroponik dapat dipanen setelah 4 minggu setelah tanam dengan menghasilkan produksi maksimal pada interval EC yang sesuai (Lingga, 2005). 2.2.2. Larutan Nutrisi
  8. 8. 8 Menurut Siregar (2015), nutrisi yang paling cocok untuk selada keriting Grand Rapids adalah nutrisi goodplant dan nutri mix. Kedua nutrisi ini lebih banyak mengandung unsur nitrogen (N) yang mampu memacu peningkatan jumlah daun dan tinggi tanaman. Menurut Perwtasari (2012), larutan nutrisi yang tepat untuk sayuran seperti pakcoy adalah larutan nutrisi goodplant dengan media tanam arang sekam. Dalam penelitiannya, pertumbuhan dan hasil produksi pakcoy terus mengalami peningkatan dan dapat dipanen pada 4 MST. Pertumbuhan sayuran yang diberi nutrisi goodplant dan media arang sekam menghasilkan rata-rata bobot, tinggi, dan indeks luas daun tertinggi. 9 Pertumbuhan tanaman dalam hidroponik salah satunya dipegaruhi oleh kandungan nutrisi yang diberikan. Semakin sesuai kandungan nutrisi, maka pertumbuhan dan hasil produksi tanaman semakin baik. Komposisi nutrisi yang umum digunakan dalam hidroponik seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi larutan hara yang digunakan dalam sistem hidroponik Sumber Susila, 2013 2.2.3. Intensitas Cahaya Tumbuhan hijau menghasilkan karbohidrat dari proses fotosintesis. Fotosintesis sangat bergantung pada intensitas cahaya yang diperoleh tanaman. Proses fotosintesis dapat berlangsung karena adanya organ pada tumbuhan yang disebut klorofil (klorofil A dan B). Menurut Handoko dan
  9. 9. 9 Fajariyanti (2008), sinar matahari menghasilkan cahaya polikromatik yang dapat dibiaskan menjadi cahaya monokromatik. Cahaya monokromatik inilah yang digunakan tanaman untuk berfoto sintesis. Klorofil mampu menangkap cahaya monokromatik dari matahari pada panjang gelombang tertentu. Cahaya yang mampu diserap tanaman pada kisaran panjang gelombang antara 400 sampai 700 nm. Klorofil A berfungsi 10 dengan baik dalam proses fotosintesis pada panjang gelombang 660 nm pada sinar merah dan paling buruk pada panjang gelombang 430 nm pada sinar biru. Sinar kuning dan hijau dipantulkan tanaman, namun jika diteruskan kembali ke tanaman akan terserap dan mampu membantu proses fotosintesis. 2.3. Hipotesis Tanaman Selada (Lactuca sativaL.) yang diperi berbagai perlakuan berupa pemberian nutrisi dengan berbagai macam interval waktu akan bepengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sehingga terdapat perbedaan pertumbuhan antara tanaman selada 1 dengan yang lain.
  10. 10. 10 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Obyek Penelitian Objek penelitian ini adalah tanaman selada (Lactuca sativa L.) yang ditanam secara hidroponik dengan system sumbu dan berumur 2 minggu. Jumlah objek penelitian dibagi menjadi 4 wadah; 1. Tanpa diberi nutrisi, 2. Diberi nutrisi 1 hari sekali, 3. Diberi nutrisi 2 hari sekali, 3. Diberi nutrisi 3 hari sekali. 3.2. LokasiPenelitian Lokasi penelitian dilakukan di Green House SMA Negeri 6 Yogyakarta dan di rumah peneliti. 3.3. WaktuPenelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli hingga saat ini masih berlangsung. 3.4. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Yang mana untuk mencapai tujuan akhir penelitian adalah mengetahui perbedaan kualitas tanaman yang tumbuh atau diihasilkan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar ekonomis, bobot segar akar, volume akar. 3.5. Variabel Penelitian a. Variabel bebas dalam penelitian yaitu variasi interval waktu pemberian nutrisi pada tanaman selada (Lactuca sativa L.) yang ditanam secara hidroponik dengan system sumbu. b. Variabel tetap dalam penelitian ini adalah tanaman selada (Lactuca sativa L.) yang ditanam secara hidroponik dengan system sumbu tanpa diberi nutrisi. c. Variabel respon dalam penelitian ini adalah kualitas tanaman yang tumbuh atau diihasilkan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar ekonomis, bobot segar akar, volume akar. 3.6. Teknik Pengumpulan Data
  11. 11. 11 a.) Metode observasi, dengan melakukan pengamatan langsung ke tempat dimana terdapat tanaman selada (Lactuca sativa L.) yang ditanam secara hidroponik dengan system sumbu yaitu di Green House SMA Negeri 6 Yogyakarta. b.) Metode eksperimen, yaitu dengan melakukan percobaan terkait penelitian dan mengambil data primer. c.) Studi pustaka (library research), yaitu dengan melakukan kajian terhadap berbagai literatur yang menyangkut penelitian ini, dan mengambil data sekunder. 3.7. Teknik Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Deskripsi kuantitatif digunakan untuk menguji pertumbuhan vegetatif tanaman selada dengan interval waktu pemberian pupuk yang berbeda-beda dan dengan nutrisi yang sama. 3.8. Alat dan Bahan  Alat: Gelas minuman bekas. Kain flannel/sumbu.  Bahan: Tanaman selada. Media tanam (rockwool) Air. Nutrisi. 3.9. AnggaranDana Nama Alat/Bahan Harga Gelas minuman plastik bekas Rp. 1.000,00 Kain flannel/sumbu Rp. 4.000,00 Tanaman selada Rp. 10.000,00 Media tanam (rockwool) Rp. 15.000,00 Nutrisi Rp. 30.000,00 Total Rp. 60.000,00
  12. 12. 12 3.10. Alur Penelitian Persiapan alatdan bahan Penanaman bibit tanaman selada pada rockwool Rockwool dipindahkan kedalam gelas plastik Pemberian nutrisi dengan interval waktu yang berbeda- beda PengamatanAnalisis data Evaluasi Tindak lanjuthasil evaluasi Selesai
  13. 13. 13 DAFTAR PUSTAKA Febriani, Dwi Nur Shinta, Didik Indradewa, and Sriyanto Waluyo. "Pengaruh Pemotongan Akar dan Lama Aerasi Media Terhadap Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) Nutrient Film Technique." Vegetalika 1.1 (2012): 123-134. http://digilib.unila.ac.id/13375/16/BAB%20II.pdf http://digilib.unila.ac.id/7317/16/BAB%20II.pdf

×