basis data lanjut modul

6,257 views

Published on

modul basis data lanjut

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,257
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
401
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

basis data lanjut modul

  1. 1. MATA KULIAH BASIS DATA LANJUT POLITEKNIK PIKSI GANESHA By Hendra Jatnika, S.Kom MATERI 1. Review Database 1 ( ER-Model,Normalisasi, SQL dan Relasional ) 2. Design Basis Data 3. Query Lanjut 4. Optimasi Query 5. Database Trigger 6. Basis data Client Server 7. Basis Data Terdistribusi 8. Basis Data Internet 9. Basis Data Warehousing & Decision Support 10.Data Mining “Pendalaman Materi dan Latihan diberikan pada waktu kuliah” By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  2. 2. 1 Bab1 Review Database 1 POKOK BAHASAN: Pendahuluan ER-Model Model Relasional Structured Query Language Normalisasi TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Memahami Database Management System dan komponen utamanya Memahami ER-Model dan dapat menggunakannya sebagai desain awal dari database Memahami SQL dan apa saja yang tercakup dalam bahasa SQL Memahami konsep normalisasi dan dapat melakukan normalisasi data 1.1. PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini, kesuksesan suatu organisasi bergantung pada kemampuannya menangkap data secara akurat dan tepat waktu, dalam hal pengoperasian, pengaturan data secara efektif, maupun penggunaan data untuk keperluan analisis. Kemampuan untuk mengatur atau mengolah sejumlah data, dan kecepatan untuk mencari informasi yang relevan, adalah aset yang sangat penting bagi suatu organisasi. Untuk mendapatkan himpunan data yang besar dan kompleks, user harus memiliki alat By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  3. 3. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 2 bantu (tools) yang akan menyederhanakan tugas manajemen data dan mengekstrak informasi yang berguna secara tepat waktu. Basis data adalah kumpulan data, yang dapat digambarkan sebagai aktifitas dari satu atau lebih organisasi yang berelasi. Sebagai contoh, basis data universitas berisi informasi mengenai : Entiti , semisal mahasiswa, fakultas, mata kuliah, dan ruang kelas Relasi diantara entitas, seperti pengambilan kuliah yang dilakukan oleh mahasiswa, staf pengajar di fakultas, dan penggunaan ruang perkuliahan. Manajemen Sistem Basis Data (Database Management System – DBMS) adalah perangkat lunak yang didesain untuk membantu dalam hal pemeliharaan dan utilitas kumpulan data dalam jumlah besar. DBMS dapat menjadi alternatif penggunaan secara khusus untuk aplikasi, semisal penyimpanan data dalam file dan menulis kode aplikasi yang spesifik untuk pengaturannya. Tujuan dari pengajaran mata kuliah basis data adalah untuk memberikan suatu pendahuluan mengenai sistem manajemen basis data, dengan penekanan pada baagimana cara mengorganisasi suatu informasi dalam DBMS, untuk memelihara informasi tersebut dan melakukan pengambilan informasi secara efektif, dan bagaimana cara mendesain suatu basis data dan menggunakan suatu DBMS secara efektif pula. Penggunaan DBMS untuk suatu aplikasi tergantung pada kemampuan dan dukungan DBMS yang beroperasi secara efisien. Sehingga agar bisa menggunakan DBMS dengan baik, perlu diketahui cara kerja dari DBMS tersebut. Pendekatan yang dilakukan untuk menggunakan DMBS secara baik, meliputi implementasi DBMS dan arsitektur secara mendetail untuk dapat memahami desain dari suatu basis data. 1.2. ER-MODEL Pada ER Model, gambaran dunia nyata diistilahkan dalam obyek dan relasinya. ER model biasa digunakan untuk mengembangkan inisial dari desain basis data. ER model menyediakan suatu konsep yang bermanfaat yang dapat mengubah deskripsi informal dari apa yang diinginkan oleh user menjadi hal yang lebih detail, presisi, dan deskripsi detail tersebut dapat diimplementasikan ke dalam DBMS. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  4. 4. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 3 Pada konteks yang lebih luas, ER model digunakan dalam fase desain basis data konseptual. 1.2.1. ENTITI, ATRIBUT, DAN HIMPUNAN ENTITI Entiti adalah obyek dunia nyata yang dapat dibedakan dari obyek yang lain. Entiti digambarkan (dalam basis data) dengan menggunakan himpunan atribut. Himpunan entiti yang sejenis disimpan dalam himpunan entiti. Himpunan entity : Kumpulan entity yang sejenis. Gambar 1-1: Entiti Pegawai (Employee) Misal : himpunan data pegawai o Semua entity dalam himpunan entity memiliki himpunan atribut yang sama o Tiap himpunan entity memiliki kunci (key) o Tiap atribut memiliki domain. 1.2.2. RELASI DAN HIMPUNAN RELASI Relasi adalah asosiasi diantara dua atau lebih entity Misal : Ani bekerja di Departemen Farmasi Gambar 1-2: Relasi antar Entiti By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  5. 5. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 4 Himpunan Relasi : Himpunan dari relasi-relasi yang sejenis Himpunan relasi n-ary R berelasi dengan sejumlah himpunan entity n E1 … En Himpunan entity yang sama dapat berpartisipasi dalam himpunan relasi yang berbeda, atau mempunyai peran yang berbeda dalam suatu himpunan yang sama. Gambar 1-3: Self Relationship 1.2.3. FITUR TAMBAHAN UNTUK ER-MODEL Berikut ini dibahas beberapa fitur tambahan untuk ER-Model : Batasan Kunci (Key Constraints) • Pada suatu contoh kasus, seorang pegawai dapat bekerja pada beberapa departments; sebuah departement memiliki banyak pegawai • Sebaliknya, tiap departement hanya memiliki seorang manager, yang berhubungan dengan key constraint pada Manages. Gambar 1-4: Contoh Key Constraint antar Entiti By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  6. 6. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 5 Gambar 1-5: Macam-macam Key Constraint Batasan Partisipasi (Participation Constraints) • Apakah setiap departemen mempunyai seorang manager ? o Jika semua departemen pasti mempunyai manager maka partisipasi Departements dalam Manages dapat dikatakan total. Sebaliknya jika tidak semua departement memiliki manager maka partisipasinya adalah partial. Gambar 1-6: Contoh Participation Constraint Entiti Lemah (Weak Entity) • Entiti lemah dapat diidentifikasi secara unik jika terdapat peran kunci utama (primary key) yang berasal dari atau dimiliki oleh entity yang lain (owner). o Himpunan entity owner dan entity lemah harus berartisipasi dalam himpunan relasi one-to-many (satu owner, banyak entity lemah). By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  7. 7. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 6 Gambar 1-7: Contoh Weak Entity 1.2.4. HIRARKI KLAS Seperti pada C++, dan bahasa pemrograman yang lain, suatu atribut dapat diturunkan. Jika kita deklarasikan A ISA B, setiap entity A juga termasuk entity B. ♦ Overlap constraints : Bolehkah seorang pegawai mempunyai status sebagai pegawai dengan hitungan gaji perjam (Hourly_Emps) sama halnya seperti pegawai dengan perjanjian kontrak (Contract_Emps) ? (Boleh/Tidak) ♦ Covering constraints : Apakah setiap entity Employees juga merupakan entity Hourly_Emps dan Contract_Emps ? Gambar 1-8 : Hirarki Klas Alasan menggunakan ISA : ♦ Untuk menambahkan deskripsi atribut yang lebih spesifik pada subclass. ♦ Untuk mengidentifikasi entity yang berpartisipasi dalam suatu relasi. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  8. 8. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 7 1.2.5. AGGREGASI Aggregasi digunakan pada saat kita perlu memodelkan apa saja yang terlibat dalam suatu himpunan relasi. Aggregasi membolehkan kita untuk memperlakukan suatu himpunan relasi sebagai himpunan entity untuk tujuan partisipasi dalam relasi yang lain. Gambar berikut menunjukkan bahwa Monitors adalah relasi yang distinct dengan deskripsi atribut. Juga dapat dikatakan bahwa tiap sponsorship dimonitor oleh seorang pegawai. Gambar 1-9: Contoh Aggregasi 1.3. MODEL RELASIONAL Basis Data Relasional adalah himpunan relasi. Suatu relasi adalah himpunan kolom atau tupel (semua barisnya bersifat distinct/unik). Sedangkan relasi itu sendiri terdiri dari dua bagian yaitu : ♦ Instance : table dengan baris dan kolom #baris = kardinalitas, #kolom/fields = degree/arity ♦ Skema : menentukan nama relasi, plus nama dan tipe kolom Contoh relasi misal : Students(sid : string, name : string, login : string, age : integer, gpa : real). By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  9. 9. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 8 Gambar 1-10 : Contoh Instance dari Relasi Students Pada gambar, contoh instance dari relasi Students memiliki kardinalitas = 3, degree = 5, semua baris bersifat distinct. (Pertanyaan : Apakah semua kolom dalam instance relasi juga harus distinct ? ) Kekuatan utama dari model relasional adalah kesederhanaannya, dan kelebihannya adalah dalam melakukan query atas data. Query dapat ditulis secara intuitif, dan DBMS bertanggungjawab untuk mengevaluasinya secara efisien. Kita dapat melakukan query pada beberapa table yang saling berelasi. Contoh pada table berikut jika terdapat table Enrolled yang berelasi dengan table Students sebelumnya dengan key field sid : Kemudian diberikan query : SELECT S.name, E.cid FROM Students S, Enrolled E WHERE S.sid=E.sid and E.grade=”A” Maka table yang dihasilkan dari query tersebut adalah : Yaitu mencari data Students (nama Students dan mata kuliah yang diikutinya) yang mendapat nilai “A”. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  10. 10. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 9 1.3.1. BATASAN INTEGRITAS (INTEGRITY CONSTRAINT) Batasan Integritas adalah suatu kondisi yang harus bernilai benar untuk suatu instance dalam basis data, misal : batasan domain ♦ Dispesifikasi saat skema didefinisikan ♦ Diperiksa pada saat suatu relasi dimodifikasi Instance dari relasi disebut legal jika bisa memenuhi semua batasan integritas (integrity constraints) yang telah dispesifikasi. Batasan integritas juga digunakan untuk menghindari kesalahan dari entry data Berikut akan dibahas satu persatu batasan integritas dalam model relasional. Batasan Kunci Primer (Primary Key Constraints) Himpunan suatu fields merupakan suatu key dari suatu relasi jika : ♦ Tidak ada dua tupel yang distinct yang mempunyai nilai yang sama untuk semua key fields, dan ♦ Key tersebut tidak memiliki subset. o Pernyataan 2 salah ? bagaimana dengan superkey o Jika terdapat lebih dari satu key untuk suatu relasi, maka salah satu dari key tersebut akan dipilih oleh DBA untuk menjadi primary key. Misal : sid adalah key untuk relasi Students. (Bagaimana dengan name), himpunan key (sid,gpa) adalah merupakan superkey. Primary dan Candidate Key dalam SQL : • Dari kemungkinan banyak candidate keys (dispesifikasi dengan menggunakan UNIQUE), salah satunya dapat dipilih menjadi primary key. • Seorang Students dapat mengambil suatu course dan hanya menerima satu nilai untuk grade dari course yang diikutinya. Berikut contoh penggunaan batasan kunci primer : CREATE TABLE Enrolled ( sid CHAR(20), cid CHAR(20), grade CHAR(2), PRIMARY KEY (sid,cid) By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  11. 11. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 10 CREATE TABLE Enrolled (sid CHAR(20), cid CHAR(20), grade CHAR(2), PRIMARY KEY (sid) UNIQUE(cid,grade)) Foreign Keys Foreign key adalah himpunan fields dalam satu relasi yang digunakan untuk melakukan referensi ke tupel pada relasi yang lain (Harus berkorespondensi dengan primary key pada relasi yang kedua). Berlaku seperti logical pointer Misal sid adalah foreign key yang direfer dari relasi Students : o Enrolled(sid : string, cid : string, grade : string) Foreign Keys dalam SQL : • Hanya Students yang terdaftar dalam relasi Students yang diperbolehkan untuk mengikuti suatu perkuliahan (course). CREATE TABLE Enrolled (sid CHAR(20), cid CHAR(20), grade CHAR(2), PRIMARY KEY(sid,cid), FOREIGN KEY(sid) REFERENCES Students) Referential Integrity Misal pada relasi Students dan Enrolled; sid dalam Enrolled adalah foreign key yang mereferensi relasi Students. Apa yang harus dilakukan jika tupel Enrolled dengan suatu data Students yang tidak terdaftar dalam relasi Students disisipkan ? (Hindari hal ini). By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  12. 12. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 11 Apa yang harus dilakukan jika tupel Students di-hapus ? o Hapus juga semua tupel Enrolled yang merefer ke tupel Students yang dihapus tersebut o Tidak mengijinkan dilakukan penghapusan jika tupel tersebut merefer ke tupel pada relasi yang lain (alternatif lain dari yang pertama) o Ubah sid dalam tupel Enrolled menjadi default sid (alternatif yang lain lagi). o (Dalam SQL, juga dapat dilakukan setting pada tupel Enrolled yang direfer oleh tupel Students yang dihapus tersebut dengan memberikan nilai khusus yaitu null, yang artinya ‘tidak diketahui’ (unknown atau inapplicable). Sama halnya jika primary key dari tupel Students dilakukan perubahan (update). SQL/92 mendukung pilihan berikut untuk perintah delete dan update : o Default-nya adalah tidak dilakukan apa-apa (pembatalan perintah delete/update). o CASCADE (juga men-delete semua tupel yang merefer ke tupel yang di- delete). o Set nilai NULL/DEFAULT (Set nilai foreign key dari tupel yang direferensi). Contoh pembuatan referential integrity : CREATE TABLE Enrolled (sid : CHAR(20), cid : CHAR(20), grade : CHAR(2), PRIMARY KEY(sid,cid), FOREIGN KEY(sid) REFERENCES Students ON DELETE CASCADE ON UPDATE SET DEFAULT) By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  13. 13. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 12 1.4. STRUCTURED QUERY LANGUAGE Structured Query Language (SQL) adalah bahasa database relasional yang dibuat berdasarkan suatu standart. Bentuk dasar dari SQL adalah sebagai berikut : SELECT [DISTINCT] select-list FROM from-list WHERE qualification Setiap query dalam SQL harus memiliki klausa SELECT, yang menentukan kolom yang akan ditampilkan pada hasil, dan klausa FROM yang menentukan cross product table. Klausa optional WHERE menentukan syarat-syarat seleksi pada table yang ditunjukkan oleh FROM. Berikut ini akan dibahas sintaksis query SQL dasar dengan lebih mendetail : • from list pada klausa FROM adalah daftar nama table. Nama tabel dapat diikuti oleh nama alias; nama alias berguna ketika nama tabel yang sama muncul lebih dari sekali pada from list • select-list adalah daftar nama kolom (termasuk ekspresinya) dari tabel-tabel yang tercantum pada form list. Nama kolom dapat diawali dengan nama alias dari tabel. • Kualifikasi pada klausa WHERE merupakan kombinasi boolean atau pernyataan kata sambung logika dari kondisi yang menggunakan eksepresi yang melibatkan operator pembanding. Sedangkan ekspresi itu sendiri dapat berupa nama kolom, konstanta atau aritmatika dan string. • Kata kunci distinct bersifat pilihan yang menghapus duplikat dari hasil query. SQL menyediakan tiga konstruksi set-manipulation yang memperluas query dasar, yaitu UNION, INTERSECT dan EXCEPT. Juga operasi set yang lain seperti : IN (untuk memeriksa apakah elemen telah berada pada set yang ditentukan), ANY dan ALL (untuk membandingkan suatu nilaid engan elemen pada set tertentu), EXISTS (untuk memeriksa apakah suatu set kosong atau isi). Operator IN dan EXISTS dapat diawali dengan NOT. Fitur SQL yang lain yaitu NESTED QUERY, artinya query yang memiliki query lain di dalamnya, yang disebut dengan subquery. Nested query digunakan jika terdapat suatu nilai yang tidak diketahui (unknown values). By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  14. 14. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 13 SQL mendukung lima operasi aggregat yang diterapkan pada sembarang kolom yaitu : • COUNT : untuk menghitung cacah • SUM : menghitung jumlah seluruh nilai • AVG : menghitung rata-rata nilai • MAX : mencari nilai paling besar • MIN : mencari nilai paling kecil. Kadangkala operasi aggregat diperlukan pada sekeompok grup dari baris pada relasi. Untuk menulis query semacam itu, dibutuhkan klausa GROUP BY. Dan penambahan klausa HAVING jika kita ingin menerapkan suatu kondisi terhadap data yang sudah dikelompokkan dengan GROUP BY. 1.5. NORMALISASI Normalisasi adalah perbaikan skema database. Latar belakang diperlukannya normalisasi adalah karena adanya penyimpanan informasi yang redundan. Istilah normalisasi berasal dari E.F. codd, salah seorang perintis teknologi basis data. Normalisasi adalah proses untuk mengubah suatu relasi tertentu ke dalam dua buah relasi atau lebih. Berikut ini akan dijelaskan proses Normalisasi sampai dengan bentuk normal ketiga. Bentuk Normal Pertama (1NF) Suatu relasi dikatakan dalam bentuk normal pertama jika dan hanya jika setiap atribut bernilai tunggal untuk setiap atribut bernilai tunggal untuk setiap baris contoh: Tabel 1. sebelum bentuk normal pertama NIP Nama Hoby 10113024 Endang C Permana Olahraga Baca Buku 10113025 Samsul Dengar Musik Makan Table 2. yang sudah dalam bentuk normal pertama By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  15. 15. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 14 NIP (Primary Key) Nama Hoby 10113024 Endang C Permana Olahraga 10113024 Endang C Permana Baca Buku 10113025 Samsul Dengar Musik 10113025 Samsul Makan Bentuk Normal Kedua (2NF) Suatu relasi dikatakan dalam bentuk normal kedua jika berada dalam normal pertama dan setiap atribut bukan kunci memiliki ketergantungan sepenuhnya terhadap kunci primer contoh: Tabel 3. sebelum bentuk normal kedua NIP (Primary Key) Nama Kd_Mata_kuliah Nilai 10113024 Endang C Permana001 70 10113024 Endang C Permana002 90 10113025 Samsul 003 100 10113025 Samsul 004 60 Table 4. yang sudah dalam bentuk normal kedua NIP (Primary Key) Kd_Mata_kuliah (Primary Key) Nilai 10113024 001 70 10113024 002 90 10113025 003 100 10113025 004 60 Table 5. NIP (Primary Key) Nama 10113024 Endang C Permana 10113025 Samsul Bentuk Normal Ketiga (3NF) By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  16. 16. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 15 Suatu relasi dikatakan dalam bentuk normal ketiga jika berada dalam normal kedua dan setiap atribut bukan kunci tidak memiliki ketergantungan transitif terhadap kunci primer contoh: Tabel 6. sebelum bentuk normal ketiga Kode_proyek Nama Alamat_kota 001 Endang C Permana Bandung 002 Endang C Permana Ebandung 003 Samsul Jakarta 004 Samsul Jakarta Table 7. yang sudah dalam bentuk normal ketiga Kode_Proyek Nama 001 Endang C Permana 002 Endang C Permana 003 Samsul 004 Samsul Table 8. Nama Alamat_kota Endang C Permana Bandung Samsul jakarta RINGKASAN: • Basis data adalah kumpulan data, yang dapat digambarkan sebagai aktifitas dari satu atau lebih organisasi yang berelasi. • Manajemen Sistem Basis Data (Database Management System – DBMS) adalah perangkat lunak yang didesain untuk membantu dalam hal pemeliharaan dan utilitas kumpulan data dalam jumlah besar. • Pada ER Model, gambaran dunia nyata diistilahkan dalam obyek dan relasinya dan digunakan untuk mengembangkan inisial dari desain basis data. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  17. 17. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 16 • Kelebihan dari model relasional adalah kesederhanaannya dalam melakukan query atas data. Query dapat ditulis secara intuitif, dan DBMS bertanggungjawab untuk mengevaluasinya secara efisien. • Batasan Integritas adalah suatu kondisi yang harus bernilai benar untuk suatu instance dalam basis data • Structured Query Language (SQL) adalah bahasa database relasional yang dibuat berdasarkan suatu standart, dan memiliki bentuk dasar : SELECT [DISTINCT] select-list FROM from-list WHERE qualification • Normalisasi adalah perbaikan skema database yang dibuat dengan tujuan untuk menghindari penyimpanan informasi yang redundan. LATIHAN SOAL : 1. Gambarlah sebuah diagram ER yang mengungkapkan informasi ini. Perusahaan rekaman Notown memutuskan untuk menyimpan semua informasi mengenai musisi yang mengerjakan albumnya (seperti halnya data perusahaan lain) dalam sebuah database. Pihak perusahaan menyewa anda sebagai desainer database (dengan biaya konsultasi sebesar $2.500 / hari). • Tiap musisi yang melakukan rekaman di Notown mempunyai SSN, nama, alamat dan nomer telpon. Para musisi yang dibayar lebih rendah akan mendapatkan alamat yang sama dengan musisi lain, dan satu alamat mempunyai satu nomer telpon. • Tiap instrumen yang digunakan untuk merekam berbagai macam lagu di Notown mempunyai nama (contoh : gitar, sinthesizer, flute) dan kunci musik (contoh : C, B-flat, E-flat). • Tiap album yang dicatata di Notown mempunyai judul rekaman, tanggal copyright, format (contoh : CD atau MC) DAN SEBUAH INDENTIFIKASI ALBUM. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  18. 18. BAB 1 REVIEW DATABASE 1 17 • Tiap lagu yang di catat di Notown mempunyai judul dan pengarang lagu • Tiap musisi mungkin memainkan beberapa instrumen, dan tiap instrumen dapat dimainkan oleh beberapa musisi • Tiap album mempunyai beberapa lagu di dalamnya tapi tidak ada lagu yang muncul bersamaan dalam satu album. • Tiap lagu dibawakan oleh satu atau lebih musisi dan seorang musisi bisa membawakan beberapa lagu. • Tiap album dibawakan seorang musisi yang berperan sebagai produser. Seorang musisi bisa menghasilkan beberapa album. 2. Perhatikan skema relasional berikut ini : Emp(eid:integer, ename : string, age : integer, salary: real) Works(eid:integer, did:integer, pct_time: integer) Dept(did:integer, dname: string, budget: real, managerid: integer) Berikan contoh constraint foreign key yang melibatkan relasi Dept. Apa saja pilihan yang ada untuk melaksanakan constraint ini pada saat user berusaha untuk menghapus record pada Dept ? 3. Untuk skema relasional pada nomer 2, definisikan relasi Dept pada SQL sehingga setiap department dipastikan memiliki seorang manajer. 4. Untuk skema relasional pada nomer 2, tuliskan pernyataan SQL untuk menampilkan karyawan yang bekerja di department ‘IT’. 5. Untuk skema relasional pada nomer 2, tuliskan pernyataan SQL untuk menampilkan karyawan yang bekerja di department ‘IT’ dan memiliki usia yang lebih dari usia rata-rata orang-orang yang bekerja di department ‘IT’ 6. Lakukan normalisasi data pada tabel Kuliah yang memiliki atribut : kode kuliah, nama kuliah, sks, semester, nama dosen, waktu kuliah, ruang. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  19. 19. 18 Bab2 Desain Basis Data POKOK BAHASAN: Pendahuluan Aturan Sistem Informasi dalam Organisasi Proses Desain Basis Data TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Memahami aturan system informasi dalam organisasi Memahami proses desain basis data 2.1 PENDAHULUAN Aktifitas desain basis data menggunakan proses yang sistematis yang disebut metodologi desain, dimana target basis data diatur dengan RDBMS, ORDBMS atau ODBMS. Metodologi desain menggunakan alat Bantu seperti Designer 2000 dari Oracle, ERWin, BPWin dan Paradigm Plus oleh Platinum Technology dan lain sebagainya. Biasanya, desain basis data kecil sekitar 20 pemakai tidak perlu sangan kompleks. Tetapi untuk ukuran medium atau basis data besar yang melayani beberapa grup alikasi yang luas, puluhan sampai ratusan pemakain, pendekatan sistematis menjadi sangat perlu untuk melakukan desain basis data. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  20. 20. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 19 Basis data yang besar dengan data beberapa puluh sampai gigabyte dan skema dengan lebih dari 30 sampai 40 tipe entity yang berbeda, dapat memenuhi array yang besar dari basis data pemerintahan, industri dan institusi financial dan komersial. Sektor industri termasuk di dalamnya bank, hotel, airline, asuransi, utilitas dan komunikasi menggunakan basis data untuk operasi setiap hari 24 jam, 7 hari per minggu atau operasi 24 kali 7. Sistem aplikasi untuk basis data tersebut disebut system pemrosesan transaksi untuk volume transaksi besar. 2.2ATURAN SISTEM INFORMASI DALAM ORGANISASI 2.2.1 Organizational Context untuk Penggunaan Sistem Basis Data Sistem basis data menjadi bagian dari sistem informasi dari beberapa organisasi. Tahun 1960 an sistem informasi didominasi dengan sistem file, tetapi sejak awal 1970 an organisasi mulai berpindah ke sistem basis data. Untuk mengakomodasi sistem, beberapa organisasi menbuat posisi administrator basisi data (DBA) auntuk mengontrol aktifitas basis data. Kemudian, information resource management (IRM) juga diperkenalkan oleh organisasi yang besar sebagai kunci kesuksesan manajemen bisnis. Terdapat beberapa alasan : • Data dianggap sebagai resource yang bekerjasama, dan manajemen dan kontrol dilakukan terpusan untuk pekerjaan yang lebih efisien dalam organisasi • Fungsi dalam organisasi dikomputerisasi, sebagai kebutuhan ketersediaan data yang besar dan up to date. • Seiring pertumbuhan data dan aplikasi relasi yang lebih kompleks dari data perlu dimodelkan dan diatur. • Terdapat konsolidasi dari information resource pada beberapa organisasi. Sistem basis data memenuhi 4 kebutuhan seperti dijelaskan sebelumnya dalam ukuran besar. Dua karakteristik tambahan dari sistem basis data yang juga sangat bernilai : • Data independence mem-proteksi program aplikasi dari perubahan dalam organisasi logika dan akses fisik dan struktur penyimpan. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  21. 21. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 20 • External shemas (views) memungkinkan data yang sama digunakan untuk beberapa aplikasi dengan setiap aplikasi mempunyai pandangan sendiri terhadap data. Sistem basis data menyediakan aplikasi baru yaitu : • Integritas data pada multiple aplikasi ke dalam basis data tunggal. • Pengembangan yang simple dengan menggunakan bahasa tingkat tinggi seperti SQL. • Kemungkinan didukung untuk browsing dan query oleh manajer dalam pemrosesan transaksi level produksi yang besar. Sejak awal 1970 sampai pertengahan 1980, perubahan pembuatan data repository tersentral yang besar dengan DBMS tunggal tersentral. Selama 10 sampai 15 tahun, pengembangan basis data meliputi : 1. Personal computer dan produk software seperti basis data, seperti EXCEL, FOXPRO, MSSQL, ACCESS atau SQL 2. DBMS terdistribusi dan client-server sebagai pembuka pilihan mendistribusikan basis data ke banyak sistem komputer untuk kontrol yang lebih baik dan proses lokal yang lebih cepat. Alat bantu pengembangan aplikasi seperti POWERBUILDER atau Developer 2000 (oleh Oracle) lebih mudah digunakan dengan fasilitas built-in untuk menghubungkan aplikasi ke server basis data. 3. Beberapa organisasi sekarang menggunakan sistem data dictionary atau information repository, yaitu DBMS min yang mengatur metadata yaitu data yang menggambarkan struktur basis data, constraints, aplikasi, autorisasi dan sebagainya. Sistem data dictionary menyimpan dan mengatur informasi berikut : a. Deskripsi skema sistem basis data. b. Informasi detail dari desain fisik basis data, seperti struktur penyimpan, akses path, ukuran file dan record. c. Deskripsi pemakai basis data, tanggung jawab dan hak akses. d. Deskripsi tingkat tinggi dari transaksi basis data dan aplikasi dan relasi pemakai ke transaksi. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  22. 22. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 21 e. Relasi antara transaksi basis data dan data item yang dirujuk. Hal ini sangat berguna untuk menentukan transaksi mana yang diakibatkan jika definisi data diubah f. Penggunakan stasitik seperti frekuensi query dan transaksi dan jumlah akses ke basis data 2.2.2 Siklus Sistem Informasi Pada organisasi yang besar, sistem basis data adalah baigan dari sistem informasi, di dalamnya termasi semua resource yang dilibatkan dalam koleksi, manajemen, penggunaan dan disseminasi information resource dari organisasi. Pada sistem komputerisasi, resoruce adalah data itu sendiri, perangkat lunak DBMS, perangkat keras komputer siste, media penyimpan, personal yang menggunakan dan mengatur data (DBA, pemakai akhir, dan pemakai dsb), perangkat lunak aplikasi yang mengakses dan mengubah data dan programmer aplikasi yang mengembangkan aplikasi. Siklus sistem informasi disebut siklus makro, dimana siklus sistem basis data dirujuk ke siklus mikro. Siklus makro meliputi beberapa tahap yaitu : 1. Feasibility analysis : tahap ini berhubungan dengan analisa area aplikasi potensial, mengidentifikasi sisi ekonomi dari information gathering and dissemination, membentuk studi keuntungan awal, menentukan kompleksitas data dan proses, mengatur prioritas aplikasi. 2. Requirement collection and analysis : Kebutuhan detai dikumpulkan dengan interaksi dengan pemakai potensial dan kelompok pemakai untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan khusus. Ketergantungan aplikasi, komunikasi dan prosedur pelaporan diindetifikasi. 3. Desain : Tahanp ini mempunayi dua aspek yaitu mendesain sistem basis data dan mendesain sistem aplikasi (program) yang menggunkaan dan memproses basis data. 4. Implementasi : Sistem informasi diimplementasi, basisi data dibentuk dan transaksi basis data diimplementasikan dan diujicoba. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  23. 23. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 22 5. Validation and acceptance testing : Tingkat akses dari sistem dalam memenuhi kebutuhan pemakai dan kriteria performansi divalidasi. Sistem diujicoba dengan kriteria performanisi dan spesifikasi kelakukan. 6. Deployment, operation and maintenance : Pada tahap ini dilakukan konversi pemakai dari sistem lama ke sistem baru melalui training. Tahap operasional mulai jika semua fungsi sistem dioperasikan dan divalidasi. Jika kebutuhan baru atau aplikasi bertambah, maka harus melalui semua tahap sebelumnya sampai semua divalidasi dan berhubungan dengan sistem. Monitoring performansi sistem dan pemeliharaan sistem merupakan aktifitas yang penting selama tahap operasi. 2.2.3 Siklus Sistem Aplikasi Basis Data Aktifitas yang berhubungan dengan siklus sistem aplikasi basis data meliputi tahap berikut : 1. System definition : Scope dari sistem basis data, pemakai dan aplikasi didefinisikan. Antarmuka untuk pemakai, batasan response time dan kebutuhan penyimpan dan pemrosesan diidentifikasi. 2. Database design : Pada akhir dari tahap ini , desain logika dan fisik dari sistem basisi data dari DBMS sudah siap. 3. Database implementation : Tahap ini meliputi proses menentukan definisi basis data konseptual, eksternal dan internal, membuat file basis data kosong dan implementasi aplikasi perangkat lunak. 4. Loading or data conversion : Basis data dipopulasikan denan menyimpan data langsung atau mengubah file yang sudah ada ke format sistem basis data. 5. Application conversion : aplikasi perangkat lunak dari sistem pendahulu dikonversikan ke sistem baru. 6. Testing and validation : sistem baru diuji coba dan divalidasi 7. Operation : sistem basis data dan aplikasi dioperasikan. Biasanya sistem lama dan baru dioperasikan secara paralel dalam beberapa waktu. 8. Monitoring and maintenance : selama tahap operasional, sistem secara tetap dimonitor dan dipelihara. Perubahan dan pengembangan dapat terjadi baik By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  24. 24. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 23 pada isi data maupun aplikasi perangkat lunak. Modifikasi dan reorganisasi diperlukan dari waktu ke waktu. 2.3 PROSES DESAIN BASIS DATA Sekarang kita fokuskan ke siklus sistem aplikasi basisi data yaitu desain basis data. Tujuan desain basis data adalah : • Memenuhi kebutuhan isi informasi dari pemakai dan aplikasi tertentu. • Menyediakan struktur informasi alami dan mudah dipahami. • Mendukung kebutuhan pemrosesan dan performansi obyektif seperti response time, processing time dan storage space. Terdapat enam tahap utama pada proses desain basis ata yaitu : 1. Koleksi dan analisa kebutuhan 2. Desain basis data konseptual 3. Pemilihan DBMS 4. Pemetaan model data (disebut juga desain basis data logika) 5. Desain basis data fisik. 6. Implementasi dan tuning sistem basis data Proses desain terdiri dari dua aktifitas paralel seperti pada Gambar 2-1. Aktifitas pertama meliputi desain data content dan struktur basis data, kedua berhubungan dengan aplikasi basis data. Enam tahap diatas tidak diproses secara berurutan. Pada beberapa kasus mungkin memodifikasi desain dari awal tahap selama tahap kemudian. Feedback loop antar tahap juga dalam tahap sering terjadi. Summary tahap 2, 4, dan 5 adalah berikut : • Desain basis data konseptual (Tahap 2) : Tujuan dari tahap ini adalah memproduksi skema konseptual untuk basis data yang independen dari DBMS tertentu. Biasanya menggunakan model data tingkat tinggi seperti model ER atau EER. • Pemetaan model data (Tahap 4) : Selama tahap ini yang djuga disebut desain basis data logika, dilkaukan pemetaan skema konseptual dari model data tingkat tinggi ke model data DBMS. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  25. 25. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 24 • Desain basis data fisik (Tahap 5) : Selama tahap ini, didesain spesifikasi basis data yang disimpat dalam hal struktur penyimpan fisik, penempatan record dan indeks. Hal ini berhugungan dengan terminologi arsitektur DBMS 3 level. • Implementasi sistem basis data dan tuning (Tahap 6) : Selama tahap ini , basis data dan program aplikasi diimplementasikan, diuji cobakan dan diatur layanannya. Gambar 2-1: Tahap perancangan basis data untuk basis data besar By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  26. 26. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 25 2.3.1 Tahap 1 : Koleksi dan Analisa Kebutuhan Sebelum melakukan desain basis data, harus mengetahui dan menganalisa keinginan pemakai terhadap suatu basis data sedetail mungkin. Proses ini disebut koleksi dan analisa kebutuhan. Untuk menentukan kebutuhan, pertama kali harus diidentifikasi bagian lain dari sistem informasi yang berhubungan dengan sistem basisi data. Termasuk di dalamnya pemakai dan aplikasi baru dan yang sudah ada, kemudian kebutuhan dikoleksi dan dianalisa. Aktifitas yang merupakan bagian dari tahap ini adalah : 1. Area aplikasi mayor dan kelompok pemakai yang akan menggunakan basis data atau pekerjaan apa yang akan diakibatkan diidentifikasi. 2. Dokumen yang sudah ada yang berhubungan dengan aplikasi dipelajari dan dianalisa. Dokumen lain seperti police manual, form, report dan diagram organisasi di-review untuk menentukan apakah terdapat tambahan pada koleksi kebutuhan dan spesifikasi proses. 3. Lingkungan operasi saat ini dan rencana penggunaan informasi dipelajari. Termasuk di dalamnya analisa tipe transaksi dan frekuensi penggunaannya dan aliran informasi dalam sistem. Karakteristik geografi seperti pemakai, transaksi asli, tujuan pelaporan dipelajari. Data input dan output untuk transaksi ditentukan. 4. Penulisan respon untuk menentukan pertanyaan terkadang dikelompokkan dari pemakai basis data potensial atau kelompok pemakai. Pertanyaan ini melibatkan prioritas pemakai dan tempat yang penting untuk suatu aplikasi. Individu dilakukan interview untuk menolong dalam memperoleh informasi yang berharga dan setting prioritas. Analisa kebutuhan dibawa ke user akhir atau pelanggan sistem basis data oleh tim ahli analis kebutuhan. Kebutuhan awal lebih informal, tidak lengkap, tidak konsisten dan sebagian tidak benar. Perlu pekerjaan yang lebih banyak untuk mentransformasi keebutuhan awal ke aplikasi yang lebih spesifik yang dapat digunakan oleh pengembangan sebagai langkah awal untuk menulis implementasi dan uji coba. Untuk transformasi kebutuhan ke struktur yang lebih baik, teknik spesifikasi kebutuhan digunakan. Misalnya OOA (object-oriented analysis) dan DFD (data flow By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  27. 27. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 26 diagram). Metode tersebut menggunakan teknik diagram untuk mengorganisasi dan menampilkan kebutuhan proses informasi. Dokumentasi tambahan dalam bentuk teks, tabel, grafik dan keputusan melengkapi diagram tersebut. 2.3.2 Tahap 2 : Desain Basis Data Konseptual Tahap kedua dari perancangan basis data melibatkan dua aktifitas paralel. Aktifitas pertama yaitu desain skema konseptual, menentukan kebutuhan data yang dihasilkan pada tahap 1 dan menghasilkan skema basis data konseptual. Aktifitas kedua, desain transaksi dan aplikasi, menentukan analisa aplikasi basis data pada tahap 1 dan menghasilkan spesifikasi level tinggi untuk aplikasi tersebut. Tahap 2a : Desain Skema Konseptual Skema konseptual diproduksi dari tahap ini terdiri dari model data tingkat tinggi DBMS-independent dengan beberapa alasan : 1. Tujuan desain skema konseptual adalah skema lengkap tentang struktur basis data, semantik, interrelationship dan constraint. Hal ini tergantung dari DBMS yang digunakan. 2. Skema konseptual tidak tersedia sebagai deskripsi stabil dari isi basis data. Pemilihan DBMS dan keputusan desain dapat berubah tanpa mengubah skema konseptual DBMS-independent. 3. Skema konseptual yang baik sangat penting untuk pemakai basis data dan desainer. Penggunaan model data tingkat tingga lebih ekspresif dan umum daripada model data dari DBMS. 4. Deskripsi diagram dari skema konseptual dapat menawarkan kendaraan komunikasi yang baik diantara pemakai basis data, desainer dan analyst. Karena model data level tinggi biasanya berbentuk konsep dan mudah untuk mengerti daripada model data DBMS yang level lebih rendah, atau definisi sintak data, komunikasi yang berhubungan dengan desain skema menjadi lebih kelihatan. Pada tahap desain basis data, perlu menggunakan model data konseptual level tinggi dengan karakteristik : 1. Expressiveness : model data cukup ekspresif untuk membedakan perbedaan tipe data, relationship dan constraint. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  28. 28. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 27 2. Simplicity and understandability : model cukup sederhana untuk pemakai yang tidak mengerti dan menggunakan konsep tersebut. 3. Minimality : model mempunyai sejumlah kecil konsep dasar yang berbeda dan tidak overlapping. 4. Diagrammatic representation : model dalam bentuk notasi diagram untuk menampilkan skema konseptual yang mudah diintepretasikan. 5. Formality : skema konseptual ditampilkan dalam model data aharus merepesentasikan spesifikasi formal data. Sehingga, konsep model harus ditentukan secara akurat dan tidak berganda. Pendekatan ke Desain Skema Konseptual Untuk desain skema konseptual, harus diidentifikasi komponen dasar dari skema : tipe entiti, tipe relationship dan atribut. Harus juga menentukan key attributes, cardinality dan participation constraint, weak entity dan hierarki spesification / generatization. Terdapat dua pendekatan untuk merancang skema konseptual, yang diturunkan dari kebutuhan yang dikoleksi. Pendekatan pertama adalah pendekatan desain skema terpusat (one-shot), dimana kebutuhan dari aplikasi yang berbeda dan kelompok pemakai pada tahap 1 digabungkan ke dalam satu himpunan kebutuhan sebelum desain skema dimulai. Suatu skema berhubungan digabungkan ke himpunan kebutuhan kemudian dilakukan desain. Jika terdapat banyak pemakai dan banyak aplikasi, penggabungan semua kebutuhan dapat menghabiskan waktu. Asumsikan DBA bertanggung jawab untuk menentukan bagaimana menggabungkan kebutuhan dan untuk merancang skema konseptual untuk keseluruhan basis data. Jika suatu skema konseptual dirancang dan final, skema eksternal untuk kelompok pemakai dan aplikasi dapat ditentukan oleh DBA Pendekatan kedua adalah pendekatan view integration, dimana kebutuhan tidak digabungkan. Suatu skema dirancang untuk setiap kelompok user atau aplikasi berdasarkan kebutuhan masing-masing. Kemudian dikembangkan skema level tinggin (view) untuk setiap kelompok user atau aplikasi. Selama tahap view integration, skema bagian digabungkan ke dalam skema konseptual global untuk keseluruhan basis data. Individual view dapat dibentuk sebagai skema eksternal setelah view integration. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  29. 29. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 28 Perbedaan kedua pendekatan terletak pada tujuan dimana banyak view atau kebutuhan dari banyak pemakai dan aplikasi digabungkan. Pada pendekatan terpusat, rekonsiliasi dilakukan secara manual oleh DBA. Hal ini dapat mengakibatkan terjadi konflik pada staff DBA. Permasalahan ini dipecahkan dengan menggunakan konsultan luar. Pada pendekatan view integration, setiap kelompok pemakai merancang skema konseptual (EER) masing-masing. Kemudian proses integrasi diaplikasikan pada skema ini (view) oleh DBA untuk membentuk skema integrasi global. Meskipun view integration dapat dilakukan manual, aplikasi ini adalah basis data besar yang melibatkan puluhan kelompok pemakai membutuhkan suatu metodologi dan penggunaan alat bantu otomatis untuk integrasi. Korespondensi antara atribut, tipe entiti dan relasionship harus ditentukan sebelum integrasi dapat dilakukan. Strategi untuk Desain Skema Terdapat beberapa stategi untuk merancang skema, yaitu : 1. Top-down strategy : Dimulai dengan skema yang berisi abstraksi level tinggi dan kemudian mengaplikasikan ketentuan top-down. Sebagai contoh, tentukan hanya beberapa tipe entiti level tinggi dan kemudian lakukan pembagian ke dalam tipe entiti level lebih rendah dan relationship. 2. Bottom-up strategy : Mulai dengan skema yang berisi abstraksi dasar dan kemudian kombinasikan atau tambahkan abstraksi tersebut. Sebagai contoh, mulai dengan atribut dan kelompok ke dalam tipe entiti dan relationship. Tambahkan relasi baru pada tipe entiti selama proses perancangan. 3. Inside-out strategy : Merupakan kasus khusus dari bottom-up strategi, dimana atensi difokuskan pada himpunan konsep terpusat yang lebih nyata. Model kemudian diisi dengan konsep baru pada konsep yang sudah ada. Kita dapat tentukan beberapa tipe entiti nyata dalam skema dan dilanjutkan dengan menambah tipe entiti dan relasi yang berhubungan. 4. Mixed strategy : Kebutuhan dibagi berdasarkan top-down strategy, bagian skema dirancang untuk setiap partisi berdasarkan bottom-up strategy. Jadi strategi ini mengkombinasikan beberapa skema. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  30. 30. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 29 Gambar 2-2 dan 2-3 menggambarkan top-down strategy dan bottom-up strategy. Contoh top-down didekomposisi dari tipe entiti ke dalam beberapa tipe entiti. Gambar 2-2(a) menunjukkan COURSE dibagi dalam COURSE dan SEMINAR, dan relasi TEACHES dihubungkan terpisah dalam TEACHES dan OFFERS. Gambar 2-2(b) terlihat tipe entiti COURSE_OFFERING dibagi dalam dua tipe entiti COURSE dan INSTRUCTOR dan relasi antar keduanya. Gambar 2-3(a) memperlihatkan bottom-up strategy dari generalisasi relasi baru diantara tipe entiti. Bottom-up menggunakan kategory (tipe union) yang diilustrasikan pada Gambar 2-3(b) dimana konsep baru Gambar 2-2: Strategi top-down. (a) membangkitkan tipe entiti baru. (b) dekomposisi tipe entiti ke dalam dua tipe entiti dan relasi By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  31. 31. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 30 VEHICLE_OWNER ditemukan dari tipe entiti yang sudah ada yaitu FACULTY, STAFF dan STUDENT. Skema Integrasi (View) Untuk basis data yang besar dengan pemakai dan aplikasi yang diharapkan, pendekatan view integration untuk merancang skema individan dan kemudian menggabungkannya. Karena individual view relatif kecil, perancangan skema lebih sederhana. Tetapi diperlukan metodologi untuk integrasi view ke skema basis data global. Skema integrasi dibagi ke dalam beberapa bagian : Gambar 2-3: Contoh strategi bottom-up. (a) menemukan dan menambah relasi baru. (b) menemukan katagori baru (tipe union) dan menghubungkannya. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  32. 32. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 31 1. Indentifikasi korespondensi dan konflik diantara skema : Karena skema dirancang individual, perlu menentukan konstruksi khusus dalam skema yang merepresentasikan konsep dunia nyata yang sama. Korespondensi diidentifikasi sebelum integrasi diproses. Selama proses tersebut, beberapa tipe konflik diantara skema ditemukan, antara lain : a. Naming conflict : Terdapat dua tipe synonym dan homonym. Synonym terjadi jika dua skema menggunakan nama yang berbeda dan menggambarkan konsep yang sama, misalnya, tipe entiti CUSTOMER pada satu skema mungkin digunakan sama dengan konsep tipe entiti CLIENT pada skema lain. Homonym terjadi jika dua skema menggunakan nama yang sama untuk enggambarkan konsep yang berbeda, sebagai contoh tipe entiti PART merepresentasikan perangkat komputer dalam skema satu dan perangkat mebel dalam skema dua. b. Type conflicts : Konsep yang sama kemungkinan direpresentasikan dalam dua skema dengan konstruksi pemodelan yang berbeda. Sebagai contoh, konsep DEPARTMENT mungkin tipe entiti dalam skema satu dan atribut dalam skema lain. a. Domain (value set) confict : Suatu atribut berbeda domain dalam dua skema. Sebagai contoh, SSN dideklarasikan sebagai integer dalam skema satu dan karakter string dalam skema lain. Konflik unit pengukuran dapa terjadi jika satu skema merepresentasikan WEIGHT dalam pon dan lainnya dalam kilogram. b. Konflik diantara constraint : Dua skema mungkin mempunyai constrain berbeda, sebagai contoh, key pada tipe entiti mungkin berbeda setiap skema. Contoh lain melibatkan constraint terstruktur yang berbeda pada relasi seperti TEACHES; satu skema mungkin direpresentasikan 1:N sementara lainnya M:N. 2. Modifikasi view untuk kesesuaian dengan lainnya : satu skema dimodifikasi sehigga sesuai dengan skema lainnya. Beerapa konflik diidentifikasi sebagai hal perama yang harus dipecahkan. 3. Menggabungkan view : Skema global dibuat dengan menggabungkan skema individu. Konsep yang berhubungan direpresaentasikan hanya sekali dalam By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  33. 33. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 32 skema global dan pemetaan antara view dan skema global ditentukan. Hal ini merupakan langkah yang sulit untuk melakukan pada basis data yang sebenarnya yang melibatkan ratusan entiti dan relasi. Hal ini melibatkan sejumlah intervensi manusia dan negosiasi untuk memecahkan konflig dan mendapatkan solusi yang dapat diterima untuk skema global. 4. Restrukturisasi : sebagai langkah akhir, skema global dianalisa dan direstrukturisasi untuk memindahkan redundansi dan konpleksitas yang tidak perlu. Beberapa ide diatas dapat dilihat pada contoh sederhana Gambar 2-4 dan 2-5. Gambar 2-4, dua view digabungkan untuk membuat basis data bibliografi. Selama identifikasi dari korespondensi antara dua view, ditemukan RESEARCHER dan AUTHOR adalah synonym, demikian juga CONTRIBUTED_BY dan WRITTEN_BY. Kemudian, menentukan modifikasi VIEW 1 untuk memasukan SUBJECT untuk ARTICLE, seperti Gambar 2-4, untuk konfirmasi ke VIEW 2. Gambar 2-5 menunjukkan hasil penggabungan sebagai MODIFIED VIEW 1 dengan VIEW 2. Generalisasi tipe entiti ARTICLE dan BOOK ke dalam tipe entiti PUBLICATION, dengan atribut umum Title. Relasi CONTRIBUTED_BY dan WRITTEN_BY digabungkan, demikian juga tipe entiti RESEARCHER dan AUTHOR. Atribut Publisher diaplikasikan hanya pada tipe entiti BOOK dimana atribut Size dan relasi tipe PUBLISHED_IN diaplikasikan hanya ke ARTICLE. Tahap 2b : Desain Transaksi Tujuan dari tahap 2b, dimana proses dilakukan paralel dengan tahap 2°, untuk mendesain karaktersitik transaksi basis data yang diketahui (aplikasi) dengan cara DBMS-independent. Jika suatu sistem basis data dirancang, perancang sadar beberapa aplikasi yang diketahui (atau transaksi) yang akan dijalankan dalam basis data diimplementasikan. Bagian terpenting dari perancangan basis data adalah menentukan karakteristik fungsi transaksi tersebut sebelumnya dalam proses perancangan. Hal ini menjamin skema basis data akan memasukan semua informasi yang dibutuhkan oleh transaksi tersebut. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  34. 34. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 33 Gambar 2-4: Modifikasi view untuk konfirmasi sebelum integrasi. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  35. 35. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 34 Teknik yang umum digunakan untuk menentukan transaksi pada level konseptual adalah mengidentifikasi input/output dan functional behavior. Dengan menentukan parameter input dan ouput dan aliran fungsi internal, desainer dapat mennetukan transaksi secara konseptual dan dengan cara system-independent. Transaksi dikelompokkan dalam tiga kategori : (1) Retrieval transaction, yang digunakan untuk menampilkan data ke layar atau untuk produksi pelaporan. (2) Update transaction, yang digunakan untuk memasukkan data baru atau memodifikasi data yang sudah ada pada basis data. (3) Mixed transaction, yaitu digunakan untuk aplikasi yang komplek yang melakukan retrieval dan update. Sebagai contoh, misalnya basis data pemesanan tiket pesawat (airline reservation). Retrieve transaction menampilkan daftar semua pesawat pagi antara dua kota. Update transaction berupa booking tempat duduk pada jalur tertentu. Mixed transaksi pada penampilan beberapa data seperti menampikan reservasi pelanggan pada beberapa penerbangan, dan kemudian mengubah basis data seperti membatalkan reservasi dengan menghapusnya, atau menambah segmen penerbangan untuk reservasi yang sudah ada. Transaksi (aplikasi) dapat menggunakan POWER BUILDER atau Developer 2000 (Oracle). Gambar 2-5: Skema terintegrasi setelah menggabungkan view 1 dan view 2. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  36. 36. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 35 2.3.3 Tahap 3 : Pemilihan DBMS Pemilihan DBMS berdasarkan beberapa faktor, beberapa hal teknis, ekonomi dan kebijakan organisasi. Faktor teknis berhubungan dengan ketepatan DBMS yang dipilih. Yang termasuk faktor teknis adalah tipe DBMS (relational, object-relational, object, lainnya), struktur penyimpan dan akses path yang didukung DBMS, ketersediaan antar muka pemakai dan pemrogram, tipe bahasa query tingkat tinggi, ketersediaan alat bantu pengembangan, kemampuan berhubungan dengan DBMS lain melalui media standatd, pilihan arsitektur yang berhubungan dengan operator client-server dan lain sebagainya. Faktor non teknis termasuk di dalamnya status finansial dan dukungan organisasi terhadap vendor. Hal-hal yang harus dipertimbangkan secara ekonomi dan faktor organisasi adalah ; 1. Software acquisiton cost : Merupakan harga ”up-front” dalam pembelian perangakt lunak, termasuk pilihan bahasa, pilihan antar muka seperti form, menu dan antar muka Web berbasis GUI, pilihan recovery/backup, metode akses khusu dan dokumentasi. Versi DBMS yang tepat untuk sistem operasi harus dipilih Biasanya, alat bantu pengembangan, alat bantu desain dan dukungan bahasa tambahan tidak termasuk dalam harga dasar. 2. Maintenance cost : Berhubungan dengan harga layanan pemeliharaan standart dari vendor dan untuk menjaga versi DBMS tetap up to date. 3. Hardware acquisition cost : perangkat keras baru mungkin diperlukan, seperti memory, terminal, disk drive dan controller baru, atau penyimpan DBMS khusus. 4. Database creation and conversion cost : Berhubungan dengan biaya pembuatan sistem basis data dari konversi sistem yang sudah ada ke perangkat lunak DBMS baru. Operasi sistem yang sudah ada dilakukan paralel dengaan sistem baru sampai semua aplikasi diimplementasikan penuh dan diujicoba. 5. Personal cost : Akuisisi perangkat lunak DBMS untuk pertama kali oleh organisasi biasanya dilakukan dengan reorganisasi departemen data processing. 6. Training cost : Karena DBMS biasanya berupa sistem komplek, personal harus ditraining menggunakan dan memprogram DBMS. Training diperlukan pada semua level, termasuk programming, pengembangan aplikasi dan administrasi basis data. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  37. 37. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 36 7. Operating cost : Biaya operasi lanjutan dari sistem basis data biasanya tidak termasuk dalam evaluasi. Keuntungan DBMS tidak mudah diukur dan dihitung. DBMS mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan sistem file, seperti mudah penggunaan, konsolidasi informasi perusahaan yang lebih luas, ketersediaan data yang lebih luas, dan akses yang lebih cepat ke informasi. Dengan akses berbasis Web, bagian data dapat dibuat akses global seperti pemakai luar. Keuntungan lainnya adalah mengurangi biaya pengembangan aplikasi, mengurangi redudancy data dan keamanan dan kontrol yang lebih baik. Basis data sudah digunakan pada banyak organisasi, keputusan berpindah dari aplikasi berbasis file ke basis data terpusat dikarenakan faktor-faktor berikut : 1. Kompleksitas data : Relasi data menjadi lebih kompleks, memerlukan DBMS yang kuat. 2. Sharing diantara aplikasi : Semakin besar sharing antar aplikasi, semakin banyak redundansi file dan lebih besar kebutuhan akan DBMS 3. Perumbuhan dan perubahan data secara dinamis : Jika data berubah secara konstan, lebih mudah untuk melakukan perubahan dengan DBMS dibandingkan dengan sistem file. 4. Frekuensi permintaan ad hoc data : Sistem file tidak cukup tepat untuk penampilan data ad hoc 5. Voleme data dan kebutuhan untuk kontrol : Volume data yang besar dan kebutuhan mengontrol memerlukan DBMS Beberapa faktor ekonomi dan organisasi yang berakibat pemilihan suatu DBMS: 1. Organization-wide adoption of a certain philosopy : Biasanya merupakan faktor dominan yang berakibat pada penerimaan model data (misalnya, relational versus obyek), vendor, metodologi pengembangan dan alat bantu (misalnya, penggunaan analisa berorientasi obyek dan alat bantu desain dan methodologi dibutuhkan oleh semua aplikasi baru. 2. Familiarity of personnel with the system : Jika staff programming dalam organisasi familiar dengan DBMS tertentu, dapat mengurangi biaya training dan waktu pembelajaran. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  38. 38. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 37 3. Availability of vendor service : ketersediaan asisten vendor dalam pemecahan permasalahan dengan sistem sangat penting, karena perubahan dari non-DBMS ke lingkungan DBMS kebanyakan membutuhkan bantuan vendor pada awalnya. Beberapa DBMS sekarang mempunyai versi yang berjalan pada beberapa konfigurasi perangkat keras / perangkat lunak (platform). Kebutuhan aplikasi untuk backup, recovery, performansi, integritas dan sekuriti harus juga dipertimbangkan. Beberapa DBMS sekarang dirancang sebagai solusi total untuk pemrosesan informasi dan manajemen sumber daya informasi yang diperlukan dalam organisasi. Kebanyakan vendor DBMS mengkombinasikan produk mereka dengan pilihan berikut : • Editor teks dan browser • Pembangkit laporan dan daftar utilitas • Perangkat lunak komunikasi • Entri data dan menampilkan form, layar, dan menu dengan pengeditan otomatis • Alat bantu untuk mengakses World Wide Web • Alat bantu merancang basis data grafis. 2.3.4 Tahap 4 : Pemetaan Model Data (Desain Basis Data Logika) Tahap berikutnya dari perancangan basis data adalah membuat skema konseptual dan skema eksernal damal model data dari DBMS terpilih dengan memetakan skema tersebut. Proses pemetaan dalam dua bentuk : 1. System-independet mapping : Pada bentuk ini, pemetaan tidak mempertimbangkan karakteristik khusus datau kasus khusus yang diaplikasikan ke implementasi DBMS dari model data. 2. Tailoring the schemas to aspecific DBMS : DBMS yang berbeda mengimplementasikan model data dengan menggunakan pemodelah khusus. Hasil dari tahap ini berupa pernyataan DDK dalam bahasa DBMS terpilih yang merupakan skema level konseptual dan eksternal dalam sistem basis data. Tetapi jika pernyataan DDL termasuk beberapa parameter rancangan fisik, spesifikasi DDL yang lengkap harus menuggu setelah tahap rancangan basis data fisik selesai. Beberapa alat bantu CASE (computer-assisted software engineering) otomatis dapat membangkitkan DDb untuk sistem komersial dari rancangan skema konseptual. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  39. 39. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 38 2.3.5 Tahap 5 : Desain Basis Data Fisik Perancangan basis data fisik adalah proses memilih struktur penyimpan khusus dan mengakses path untuk file basis data untuk mendapatkan performansi yang baik pada aplikasi basis data. Setiap DBMS menawarkan berbagai pilihan organisasi file dan akses path. Termasuk di dalamnya berbagai tipe pengindeksan, clustering record yang berhubungan melalui pointer dan berbagai tipe hashing. Bila suatu DBMS dipilih, proses perancangan basis data fisik dibatasi pada struktur yang tepat utuk file basis data melalui pilihan yang ditawarkan DBMS. Kriteria berikut biasanya digunakan untuk menuntun pemilihan rancangan basis data fisik : 1. Waktu respon : Merupakan waktu antara pengiriman transaksi basis data untuk eksekusi dan penerimaan respon. 2. Utilitas ruang penyimpan : Merupakan jumlah ruang penyimpan yang digunakan file basis data dan struktur akses path pada disk, termasuk pengindeksan dan akses path lain. 3. Transaction throughput : Merupakan jumlah transaksi rata-rata yang dapat diproses per metnin, merupakan parameter kritis dari sistem transaksi seperti yang digunakan pada reservasi pesawat atau bank. Hasil dari rancangan basis data fisik dalam tahap ini merupakan ketentuan awal dari struktur penyimpan dan akses path untuk file basis data. Juga selalu diperlukan modifikasi rancangan berdasarkan observasi performansi setelah sistem basis data diimplementasikan. Aktifitas tahap berikutnya adalah tuning basis data. 2.3.6 Tahap 6 : Implementasi Basis Data dan Tuning Setelah rancangan logika dan fisik selesai, kita dapat mengimplementasikan sistem basis data. Hal ini merupakan tanggung jawab DBA bersama desainer basis data. Pernyataan dalam DDL (data definition language) termasuk SDL (storage definition language) dari DBMS terpilih dikompilasi dan digunakan untuk membuat skema basis data dan file basis data (kosong). Basis data dapat kemudian dipopulasikan dengan data. Jika data diubah dari sistem komputerisasi sebelumnya, rutin konversi diperlukan untuk format kembali data untuk menyimpan ke basis data baru. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  40. 40. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 39 Transaksi basis data harus diimplementasikan dengan aplikasi yang dibuat programming berdasarkan spesifikasi konseptual dari transaksi dan kemudian menulis dan melakukan uji coba kode porgram dengan perintah DML. Jika transaksi siap dan data disimpan ke basis data, tahap rancangan dan implementasi selesai dan tahap operasi dari sistem basis data dimulai. RINGKASAN: • Terdapat aturan system informasi dalam organisasi, system basis data dilihat sebagai bagian system informasi dalam aplikasi berskala besar. • Basis data sebagai manajemen resourse informasi dalam organisasi dan kelangsungan hidupnya harus tetap berjalan. • Terdapat 6 tahap dalam proses perancangan. Tiga tahap yang umum dalam rancangan basis data adalah rancangan konseptual, rancangan logika (pemetaan model data) dan rancangan fisik. Sedangkan tahap inisial adalah koleksi dan analisa kebutuhan yang biasanya termasuk dalam tahap pra desain. • Ada beberapa criteria organisasi dalam pemilihan DBMS • Jika permasalahan performansi terdeteksi dan aplikasi baru diaplikasikan, rancangan harus dimodifikasi • Pada basis data relasional, factor yang berakibat pada keputusan rancangan basis data fisik dan mnyediakan tuntunan pemilihan alternative rancangan desain By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  41. 41. BAB 2 DESAIN BASIS DATA 40 LATIHAN SOAL : 1. Sebutkan 6 tahap perancangan basis data! 2. Manakah dari 6 tahap tersebut sebagai aktifitas utama dalam proses perancangan basis data ? Mengapa ? 3. Mengapa perancangan skema dan aplikasi dilakukan secara parallel ? 4. Mengapa digunakan model data implementation-independent selama perancangan skema konseptual ? 5. Mengapa diperlukan koleksi dan analisa kebutuhan ? 6. Buatlah aplikasi actual dari suatu system basis data. Tentukan kebutuhan dari level pemakai yang berbeda dalam hal kebutuhan data, tipe query dan transaksi yang diproses. 7. Bagaimana karakteristik dari model data untuk rancangan skema konseptual harus diproses ? 8. Apa perbedaan dua pendekatan utama dalam rancangan skema konseptual 9. Strategi apa yang digunakan untuk merancang skema konseptual dari kebutuhan ? 10. Sebutkan langkah-langkah view integration ke rancangan skema konseptual. 11. Sebutkan factor untuk memperlancar pemilihan paket DBMS untuk system informasi dalam organisasi. 12. Apa yang dimaksud pemetaan data model system-independent ? Apa perbedaannya dengan system-dependent ? By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  42. 42. 41 Bab3 Query Lanjutan POKOK BAHASAN: Subquery dan penggunaannya Subquery dengan banyak kolom Pairwise Comparison SubQuery NonPairwise Comparison SubQuery Penggunaan Query dalam Klausa FROM Ekspresi Scalar Korelasi SubQuery dan penggunaannya Penggunaan Query dengan Klausa WITH TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan : Dapat menulis subquery dengan banyak kolom Dapat menggambarkan dan menjelaskan karakteristik dari subqueries pada saat didapatkan nilai NULL Dapat menulis subquery dalam klausa FROM Dapat menggunakan scalar subqueries dalam SQL Dapat menggambarkan tipe dari persoalan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan sub query yang berkorelasi. Dapat menulis subquery yang berkorelasi. Melakukan Update dan Delete baris dengan menggunakan subqueries yang berkorelasi. Dapat menggunakan operator EXISTS dan NOT EXISTS Dapat menggunakan klausa WITH By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  43. 43. BAB 3 QUERY LANJUTAN 42 3.1. TABEL YANG DIGUNAKAN PADA PEMBAHASAN Bagian ini menjelaskan mengenai tabel yang digunakan pada pembahasan bab ’Query Lanjutan’. Ada 3 buah tabel yang digunakan masing-masing memiliki struktur sebagai berikut : 1. Tabel DEPARTMENTS 2. Tabel EMPLOYEES By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  44. 44. BAB 3 QUERY LANJUTAN 43 3. Tabel JOB_HISTORY 3.2. APA ITU SUBQUERY ? Bagian ini membahas tentang penggunaan subquery dalam Query Lanjutan. Apa yang disebut dengan SubQuery ? Subquery adalah statement SELECT yang dilampirkan sebagai klausa dalam SQL Statement yang lain. Gambar 3-1: Subquery dalam Main Query Pada gambar diatas, subquery (inner query) dijalankan sekali sebelum main query. Kemudian hasil dari subquery digunakan oleh main query (outer query). Berikut posisi penulisan subquery dalam SQL command : SELECT ... FROM ... WHERE ... (SELECT ... FROM ... WHERE ...) MainMain queryquery SubquerySubquery SELECT select_list FROM table WHERE expr operator (SELECT select_list FROM table); By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  45. 45. BAB 3 QUERY LANJUTAN 44 3.3 PENGGUNAAN SUBQUERY Subquery mengembalikan nilai ke main query. Subquery digunakan untuk menyelesaikan persoalan dimana terdapat suatu nilai yang tidak diketahui (unknown values). Berikut ini diberikan contoh penggunaan subquery. Query diatas akan menampilkan nama pegawai yang gajinya lebih dari pegawai dengan nomer pegawai 149. Sebelumnya, gaji dari pegawai dengan nomer pegawai 149 tidak diketahui, untuk itu kita tempatkan sebagai subquery agar nilai yang tidak diketahui tersebut dapat diketahui dan pada ilustrasi gambar diatas nilai gaji dari pegawai 149 adalah 10500. 3.4. SUBQUERY BANYAK KOLOM Pada subquery dengan banyak kolom, tiap baris dari main query dibandingkan dengan nilai dari subquery multiple-row dan multiple-column. Berikut ini contoh pembandingan dengan banyak kolom dan baris : SELECT last_name FROM employees WHERE salary > (SELECT salary FROM employees WHERE employee_id = 149) ; 1050010500 Main query WHERE (MANAGER_ID, DEPARTMENT_ID) IN Subquery 100 90 102 60 124 50 By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  46. 46. BAB 3 QUERY LANJUTAN 45 3.5. PEMBANDINGAN KOLOM Pembandingan kolom dalam subquery banyak kolom dapat berupa : • Pembandingan berpasangan (Pairwise Comparison SubQuery) • Pembandingan tidak berpasangan (NonPairwise Comparison SubQuery) 3.5.1. PAIRWISE COMPARISON SUBQUERY Berikut contoh pembandingan berpasangan untuk menampilkan detail dari data pegawai yang dimanajeri oleh manajer dan department yang sama dengan yang dimiliki oleh nomer pegawai 178 3.5.2. NONPAIRWISE COMPARISON SUBQUERY Berikut contoh pembandingan tidak berpasangan untuk menampilkan detail dari data pegawai yang dimanajeri oleh manager yang sama dengan pegawai dengan nomer pegawai 174 atau 141 dan bekerja dalam departement yang sama dengan pegawai yang memiliki nomer pegawai 174 atau 141. SELECT employee_id, manager_id, department_id FROM employees WHERE (manager_id, department_id) IN (SELECT manager_id, department_id FROM employees WHERE employee_id IN (178,174)) AND employee_id NOT IN (178,174); SELECT employee_id, manager_id, department_id FROM employees WHERE manager_id IN (SELECT manager_id FROM employees WHERE employee_id IN (174,141)) AND department_id IN (SELECT department_id FROM employees WHERE employee_id IN (174,141)) AND employee_id NOT IN(174,141); By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  47. 47. BAB 3 QUERY LANJUTAN 46 3.6. PENGGUNAAN QUERY DALAM KLAUSA FROM Query bisa diletakkan di dalam klausa FROM untuk membentuk tabel temporer. Query semacam ini dikenal juga dengan istilah inline view, karena tidak membentuk object database. Berikut ini contoh penggunaan Query dalam klausa FROM. Query diatas menampilkan nama dan gaji dari pegawai yang gajinya lebih besar dari rata-rata gaji pegawai pada departemen tempat dia bekerja. 3.7. EKSPRESI SCALAR SUBQUERY Ekspresi scalar subquery adalah subquery yang mengembalikan hanya satu nilai kolom dari satu baris. Scalar subquery pada standart SQL-92 hanya terbatas pada : • SELECT Statement (klausa FROM dan WHERE saja) • Daftar VALUE dari statement INSERT Pada standart SQL-99, scalar subqueries dapat diguanakan dalam : • Kondisi dan ekspresi sebagai bagian dari perintah DECODE dan CASE. • Semua klausa dari SELECT Statement kecuali GROUP BY. SELECT a.last_name, a.salary, a.department_id, b.salavg FROM employees a, (SELECT department_id, AVG(salary) salavg FROM employees GROUP BY department_id) b WHERE a.department_id = b.department_id AND a.salary > b.salavg; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  48. 48. BAB 3 QUERY LANJUTAN 47 Berikut ini contoh penggunaan scalar subquery dalam ekspresi CASE : Berikut ini contoh penggunaan scalar subquery dalam klausa ORDER BY : 3.8. KORELASI SUBQUERY Korelasi SubQuery digunakan untuk pemrosesan baris per baris. Tiap-tiap subquery dijalankan sekali untuk setiap baris dari outer query. Prosesnya sebagai berikut : Gambar 3-2 : Proses Korelasi Subquery SELECT employee_id, last_name, (CASE WHEN department_id = THEN 'Canada' ELSE 'USA' END) location FROM employees; (SELECT department_id FROM departments WHERE location_id = 1800) 2020 SELECT employee_id, last_name FROM employees e ORDER BY (SELECT department_name FROM departments d WHERE e.department_id = d.department_id); AMBIL Baris dari outer query JALANKAN inner query dengan menggunakan nilai baris kandidat GUNAKAN Nilai dari inner query untuk qualify / disqualify baris kandidat By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  49. 49. BAB 3 QUERY LANJUTAN 48 Pada gambar 3-2, proses korelasi dimulai dengan mengambil baris dari outer query, kemudian inner query dijalankan dengan menggunakan nilai baris kandidat, kemudian nilai dari inner query digunakan untuk melakukan kualifikasi atau mendiskualifikasi baris kandidat. Berikut ini cara penulisan dari Korelasi SubQuery : Pada gambar diatas, subquery merefer ke kolom dari tabel yang ada pada parent atau outer query. Berikut ini contoh penggunaan korelasi subquery untuk mencari pegawai yang penghasilannya melebihi rata-rata penghasilan pada departemen tempat mereka bekerja. Berikut ini contoh yang lain dari korelasi subquery yaitu untuk menampilkan pegawai yang pernah berganti job maksimal dua kali. SELECT column1, column2, ... FROM table1 WHERE column1 operator (SELECT colum1, column2 FROM table2 WHERE expr1 = .expr2); outer outer SELECT last_name, salary, department_id FROM employees outer WHERE salary > Setiap saat baris dari outer query diproses, maka inner query dievaluasi. (SELECT AVG(salary) FROM employees WHERE department_id = outer.department_id) ; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  50. 50. BAB 3 QUERY LANJUTAN 49 Korelasi Subquery juga dapat digunakan untuk meng-update baris pada satu table berdasarkan pada baris dari table yang lain, korelasi seperti itu dinamakan dengan Korelasi Update. Berikut cara penulisan Korelasi Update : Lakukan denormalisasi pada table EMPLOYEES dengan menambahkan satu kolom pada tabel EMPLOYEES untuk menyimpan nama departemen. Kemudian isi dari kolom nama departemen didapatkan dari tabel DEPARTMENTS dengan menggunakan Korelasi Update : SELECT e.employee_id, last_name,e.job_id FROM employees e WHERE 2 <= (SELECT COUNT(*) FROM job_history WHERE employee_id = e.employee_id); UPDATE table1 alias1 SET column = (SELECT expression FROM table2 alias2 WHERE alias1.column = alias2.column); By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  51. 51. BAB 3 QUERY LANJUTAN 50 Korelasi Subquery juga dapat digunakan untuk menghapus baris pada satu table berdasarkan pada baris dari table yang lain, korelasi seperti itu dinamakan dengan Korelasi Delete. Berikut cara penulisan Korelasi Delete : Berikut contoh penggunaan Korelasi DELETE untuk menghapus baris-baris dari tabel EMPLOYEES yang juga terdapat pada tabel EMP_HISTORY. 3.9. PENGGUNAAN OPERATOR EXIST DAN NOT EXIST Operator EXISTS dan NOT EXIST digunakan untuk menguji keberadaan dari baris dalam himpunan hasil dari subquery. Jika ditemukan, maka : • pencarian tidak dilanjutkan dalam inner query dan kondisi ditandai TRUE. Jika tidak ditemukan, maka : • Kondisi ditandai FALSE dan kondisi pencarian dilanjutkan dalam inner query. Berikut penggunaan operator EXISTS untuk mencari pegawai yang memiliki sedikitnya satu orang bawahan. DELETE FROM table1 alias1 WHERE column operator (SELECT expression FROM table2 alias2 WHERE alias1.column = alias2.column); DELETE FROM employees E WHERE employee_id = (SELECT employee_id FROM emp_history WHERE employee_id = E.employee_id); By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  52. 52. BAB 3 QUERY LANJUTAN 51 Berikut contoh penggunaan operator NOT EXIST untuk menampilkan semua departemen yang tidak mempunyai pegawai. 3.10. PENGGUNAAN KLAUSA WITH Dengan menggunakan klausa WITH, kita dapat menggunakan blok query yang sama dalam statement SELECT pada saat terjadi lebih dari sekali dalam complex query. Klausa WITH mendapatkan hasil dari blok query dan menyimpannya dalam tablespace temporer kepunyaan user. Klausa WITH dapat meningkatkan performansi. SELECT employee_id, last_name, job_id, department_id FROM employees outer WHERE EXISTS ( SELECT 'X' FROM employees WHERE manager_id = outer.employee_id); SELECT department_id, department_name FROM departments d WHERE NOT EXISTS (SELECT 'X' FROM employees WHERE department_id = d.department_id); By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  53. 53. BAB 3 QUERY LANJUTAN 52 Berikut ini contoh penggunaan klausa WITH : Contoh penggunaan klausa WITH diatas digunakan untuk menampilkan nama departemen dan total gaji untuk tiap departemen yang memiliki total gaji lebih besar dari gaji rata-rata pada sembarang department. RINGKASAN: Subquery digunakan untuk menyelesaikan persoalan dimana terdapat suatu nilai yang tidak diketahui (unknown values) Pada subquery dengan banyak kolom, tiap baris dari main query dibandingkan dengan nilai dari subquery multiple-row dan multiple-column. Pembandingan kolom dalam subquery banyak kolom dapat berupa pembandingan berpasangan (pairwise comparison) dan tidak berpasangan (nonpairwise comparison). Query bisa diletakkan di dalam klausa FROM untuk membentuk tabel temporer, dan dikenal juga dengan istilah inline view. Korelasi SubQuery digunakan untuk pemrosesan baris per baris. Klausa WITH dapat menggunakan blok query yang sama dalam statement SELECT pada saat terjadi lebih dari sekali dalam complex query. WITH dept_costs AS ( SELECT d.department_name, SUM(e.salary) AS dept_total FROM employees e, departments d WHERE e.department_id = d.department_id GROUP BY d.department_name), avg_cost AS ( SELECT SUM(dept_total)/COUNT(*) AS dept_avg FROM dept_costs) SELECT * FROM dept_costs WHERE dept_total > (SELECT dept_avg FROM avg_cost) ORDER BY department_name; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  54. 54. BAB 3 QUERY LANJUTAN 53 LATIHAN SOAL : 1) Buat query untuk menampilkan nama, nomer departemen, dan gaji dari pegawai yang yang memiliki nomer departemen dan gaji yang sama dengan nomer departemen dan gaji dari pegawai yang memiliki komisi. 2) Buat query untuk menampilkan nama pegawai, nama departemen, dan gaji dari pegawai yang memiliki gaji dan komisi yang sama dengan gaji dan komisi dari pegawai yang memiliki location ID 1700. 3) Buat query untuk menampilkan nama pegawai, tanggal mulai masuk kerja (hire date), dan gaji untuk semua pegawai yang memiliki gaji dan komisi seperti yang dimiliki oleh pegawai yang bernama Kochhar. Note: Data Kochhar tidak ditampilkan dalam hasil query. 4) Buat query untuk menampilkan detail dari nomer pegawai, nama pegawai dan nomer pegawai yang sama dengan pegawai yang bertempat tinggal di kota yang nama kotanya diawali dengan huruf T. 5) Buat query untuk menampilkan data semua pegawai yang memiliki gaji yang lebih dari rata-rata gaji pada departemen tempat mereka bekerja. Data yang ditampilkan yaitu nama pegawai, gaji, nomer departemen, dan rata-rata gaji pada departemen tempat mereka bekerja. Urutkan berdasarkan rata-rata gaji. 6) Tampilkan semua pegawai yang bukan supervisor a. Cara pertama gunakan operator NOT EXISTS. b. Apakah persoalan dapat dipecahkan dengan menggunakan operator NOT IN? Jika bisa bagaimana caranya, dan jika tidak bisa mengapa ? (Supervisor adalah pegawai yang punya bawahan pegawai yang lain => employee_id nya menjadi manager_id dari pegawai yang lain) 7) Buat query untuk menampilkan nama pegawai yang gajinya kurang dari rata-rata gaji pada departemen tempat dia bekerja. 8) Buat query untuk menampilkan nama dari pegawai yang memiliki satu atau lebih kolega (teman satu departemen) dimana kolega tersebut masuk lebih akhir tapi memiliki gaji lebih tinggi. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  55. 55. BAB 3 QUERY LANJUTAN 54 9) Buat query untuk menampilkan nomer pegawai, nama pegawai dan nama departemen dari semua pegawai yang ada. Note: Gunakan scalar subquery untuk mendapatkan nama departemen dalam statemen SELECT. 10) Buat query untuk menampilkan nama departemen dari tiap departemen yang memiliki total gaji diatas 1/8 dari total gaji keseluruhan pada perusahaan. Gunakan klausa WITH untuk menulis query tersebut. Beri nama SUMMARY. 11) Buat query untuk menampilkan peagwai yang memiliki gaji yang lebih tinggi dari gaji semua sales managers (JOB_ID = 'SA_MAN'). Urutkan berdasarkan jumlah gaji dari tinggi ke rendah. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  56. 56. 55 Bab4 Optimasi Query POKOK BAHASAN: Optimasi Perintah SQL Informasi Jalur Akses Query Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan akses data TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Memahami latar belakang diperlukannya optimasi query Memahami cara melakukan optimasi perintah SQL Memahami faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan akses data 4.1. PENDAHULUAN Data yang tersimpan dalam database semakin lama akan semakin besar ukuran atau volumenya. Kalau tidak didukung dengan kecepatan akses yang memadai maka akan semakin menurun unjuk kerjanya. Ukuran unjuk kerja dalam hal ini kecepatan akses data dipengaruhi oleh banyak faktor. Pada bab ini akan membahas tentang optimasi query serta faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap optimalisasi kecepatan akses data. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  57. 57. BAB 4 OPTIMASI QUERY 56 4.2. OPTIMASI PADA PERINTAH SQL Desain aplikasi saja tidak cukup untuk meningkatkan unjuk kerja harus didukung dengan optimasi dari perintah SQL yang digunakan pada aplikasi tersebut. Dalam mendesain database, seringkali lokasi fisik data tidak menjadi perhatian penting. Karena hanya desain logik saja yang diperhatikan. Padahal untuk menampilkan hasil query dibutuhkan pencarian yang melibatkan struktur fisik penyimpanan data. Inti dari optimasi query adalah meminimalkan “jalur” pencarian untuk menemukan data yang disimpan dalam lokasi fisik. Index pada database digunakan untuk meningkatkan kecepatan akses data. Pada saat query dijalankan, index mencari data dan menentukan nilai ROWID yang membantu menemukan lokasi data secara fisik di disk. Akan tetapi penggunaan index yang tidak tepat, tidak akan meningkatkan unjuk kerja dalam hal ini kecepatan akses data. Misal digunakan index yang melibatkan tiga buah kolom yang mengurutkan kolom menurut kota, propinsi dan kode pos dari tabel karyawan, sebagai berikut : CREATE INDEX idx_kota_prop_kodepos ON karyawan(kota, propinsi, kode_pos) TABLESPACE INDX; Kemudian user melakukan query sebagai berikut : SELECT * FROM karyawan WHERE propinsi=’Jawa Barat’; Pada saat melakukan query ini, index tidak akan digunakan karena kolom pertama (kota) tidak digunakan dalam klausa WHERE. Jika user sering melakukan query ini, maka kolom index harus diurutkan menurut propinsi. Selain itu, proses pencarian data akan lebih cepat jika data terletak pada block tabel yang berdekatan daripada harus mencari di beberapa datafile yang terletak pada block yang berbeda. Misal pada perintah SQL berikut ini : SELECT * FROM karyawan WHERE id BETWEEN 1010 AND 2010; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  58. 58. BAB 4 OPTIMASI QUERY 57 Query ini akan melakukan “scan” terhadap sedikit data block jika tabel karyawan diatas diurutkan berdasarkan kolom id. Untuk mengurutkan berdasarkan kolom yang berbeda-beda maka tabel disimpan dalam flat file, kemudian tabel diekspor dan diurutkan sesuai kebutuhan. Alternatif yang lain, bisa digunakan perintah untuk membuat tabel lain yang memiliki urutan yang berbeda dari tabel asal, seperti perintah SQL berikut : CREATE TABLE karyawan_urut AS SELECT * FROM karyawan ORDER BY id; Pada SQL diatas, tabel karyawan_urut berisi data yang sama dengan tabel karyawan hanya datanya terurut berdasarkan kolom id. 4.3. PERENCANAAN EKSEKUSI Bagaimana cara melihat jalur akses yang akan digunakan database saat melakukan query ? Pada Database Oracle, informasi ini dapat dilihat dengan menggunakan perintah explain plan, yang akan memberi informasi tentang rencana eksekusi dari suatu query. Informasi ini disimpan dalam tabel PLAN_TABLE yang terdapat di schema user yang mengeksekusi perintah tersebut. Sebelum melakukan perintah explain plan, terlebih dahulu buat table PLAN_TABLE dengan menggunakan script utlxplan.sql yang diambil dari %ORACLE_HOME%RDBMSADMIN. Setelah itu table PLAN_TABLE dapat digunakan seperti contoh berikut : SQL> explain plan Set statement_id=’test1’ Into plan_table for Select * from karyawan where gaji=2000000; Dalam PLAN_TABLE rencana eksekusi diatas dikenal dengan nama test1 yang terdefinisi pada kolom statement_id. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  59. 59. BAB 4 OPTIMASI QUERY 58 Untuk melihat rencana eksekusi dari test1, digunakan perintah SELECT berikut : SELECT LPAD(’ ’,2*Level)||Operation||’ ’||Options||’ ’||Object_Name Q_Plan FROM plan_table WHERE statement_id=’test1’ CONNECT BY PRIOR id=parent_id AND statement_id=’test1’ START WITH id=0 AND statement_id=’test1’; Contoh hasil dari eksekusi query tersebut : Q_PLAN -------------------------------------------------------------------- SELECT STATEMENT TABLE ACCESS FULL KARYAWAN Output tersebut dibaca mulai dari yang indent-nya paling dalam yaitu : TABLE ACCESS FULL KARYAWAN. Dikarenakan klausa WHERE melibatkan kolom gaji namun kolom gaji tidak ada index-nya, maka Oracle melakukan full table scan. Setelah seluruh tabel karyawan selesai dibaca, selanjutnya adalah SELECT STATEMENT yang berfungsi untuk menampilkan hasil query. 4.4. FAKTOR LAIN YANG BERPENGARUH TERHADAP KECEPATAN AKSES DATA Faktor lain yang berpengaruh terhadap kecepatan akses data, tidak hanya terletak pada optimasi perintah SQL, tapi terhadap hal-hal lain yang berpengaruh. Diantaranya adalah optimasi aplikasi dan penggunaan cluster dan index. Hal yang akan dibahas dalam optimasi query berikut ini tidak melibatkan penggunaan komponen yang ada dalam Arsitektur database engine, misal pada database Oracle kecepatan akses data dipengaruhi oleh penyesuaian pada shared pool, buffer cache, redo log buffer dan sistem operasi yang digunakan. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  60. 60. BAB 4 OPTIMASI QUERY 59 4.4.1. OPTIMASI APLIKASI Dalam pembuatan aplikasi, yang perlu mendapat perhatian adalah apakah akses terhadap data sudah efisien. Efisien dalam hal penggunaan obyek yang mendukung kecepatan akses, seperti index atau cluster. Kemudian juga bagaimana cara database di- desain. Apakah desain database sudah melakukan normalisasi data secara tepat. Kadangkala normalisasi sampai level yang kesekian, tidak menjamin suatu desain yang efisien. Untuk membuat desain yang lebih tepat, kadang setelah melakukan normalisasi perlu dilakukan denormalisasi. Misalnya tabel yang hubungannya one-to- one dan sering diakses bersama lebih baik disatukan dalam satu tabel. 4.4.2. CLUSTER DAN INDEX Cluster adalah suatu segment yang menyimpan data dari tabel yang berbeda dalam suatu struktur fisik disk yang berdekatan. Konfigurasi ini bermanfaat untuk akses data dari beberapa tabel yang sering di-query. Penggunaan cluster secara tepat dilaksanakan setelah menganalisa tabel-tabel mana saja yang sering di-query secara bersamaan menggunaan perintah SQL join. Jika aplikasi sering melakukan query dengan menggunakan suatu kolom yang berada pada klausa WHERE, maka harus digunakan index yang melibatkan kolom tersebut. Penggunaan index yang tepat bergantung pada jenis nilai yang terdapat dalam kolom yang akan diindex. Dalam RDBMS Oracle, index B-Tree digunakan untuk kolom yang mengandung nilai yang cukup bervariasi, sedangkan untuk nilai yang tidak memiliki variasi cukup banyak, lebih baik menggunakan index bitmap. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  61. 61. BAB 4 OPTIMASI QUERY 60 RINGKASAN: • Data yang tersimpan dalam jumlah yang sangat besar, Terdapat aturan system informasi dalam organisasi, system basis data dilihat sebagai bagian system informasi dalam aplikasi berskala besar. • Untuk meningkatkan unjuk kerja tidak hanya desain logik saja yang diperhatikan tapi juga struktur fisik penyimpanan data. • Penggunaan Index pada database secara tepat, dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan akses data. • Informasi tentang jalur akses yang digunakan oleh database untuk melaksanakan query dalam database Oracle dapat dengan menggunakan perintah explain plan. • Selain optimasi perintah SQL, faktor lain yang berpengaruh terhadap kecepatan akses data adalah optimasi aplikasi dan penggunaan cluster dan index. • Pada sebuah database engine semisal pada database Oracle kecepatan akses data dipengaruhi oleh beberapa komponen arsitektur pembentuknya seperti shared pool, buffer cache, dan redo log buffer. • Optimasi aplikasi tergantung pada efisiensi penggunaan obyek yang mendukung kecepatan akses seperti index atau cluster, dan normalisasi data pada desain database. LATIHAN SOAL : 1. Apa latar belakang dari diperlukannya optimalisasi kecepatan akses data ? 2. Optimasi query dalam hubungannya dengan desain database melibatkan dua hal, yaitu ….. dan …… 3. Proses pencarian data yang telah diindeks akan lebih cepat jika data yang dicari terletak pada ……………… 4. Bagaimana cara melihat jalur akses yang akan digunakan database saat melakukan query ? Tunjukkan tahap-tahap yang digunakan untuk melakukan hal tersebut ! 5. Sebutkan factor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kecepatan akses data selain optimasi pada perintah SQL ! 6. Beberapa database engine melibatkan komponen pada arsitekturnya untuk disesuaikan agar akses data lebih cepat dan efisien, berikan contohnya ! By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  62. 62. 61 Bab5 Database Trigger POKOK BAHASAN: Pembuatan dan Penggunaan Trigger Statement trigger Row Trigger Menggunakan Old dan New Qualifiers Klausa WHEN pada trigger Perintah-perintah umum pada Trigger TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Memahami macam-macam tipe trigger Memahami trigger dan penggunaannya Dapat membuat database trigger Memahami database trigger yang dapat mengaktifkan sebuah aturan Menghapus database trigger 5.1. PENDAHULUAN Trigger adalah blok PL/SQL atau prosedur yang berhubungan dengan table, view, skema atau database yang dijalankan secara implicit pada saat terjadi sebuah event. Tipe dari trigger adalah : • Application trigger : diaktifkan pada saat terjadi event yang berhubungan dengan sebuah aplikasi • Database trigger : diaktifkan pada saat terjadi event yang berhubungan dengan data (seperti operasi DML) atau event yang berhubungan dengan sistem (semisal logon atau shutdown) yang terjadi pada sebuah skema atau database. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  63. 63. BAB 5 DATABASE TRIGGER 62 5.2. PENGGUNAAN TRIGGER Trigger dibuat sesuai dengan keperluan. Ada kalanya trigger perlu dibuat, dan kadangkala tidak perlu dibuat. Trigger perlu dibuat pada saat : • membentuk sebuah aksi tertentu terhadap suatu event • Memusatkan operasi global Trigger tidak perlu dibuat, jika : • Fungsionalitas yang diperlukan suatu ada pada Oracle server • Duplikat atau sama dengan fungsi trigger yang lain. Prosedur bisa dibuat dalam database, kemudian prosedur tersebut dipanggil pada trigger. Jika penggunaan trigger terlalu berlebihan, maka akan menyebabkan terjadi sifat ketidaktergantungan yang terlalu kompleks sehingga akan mempersulit pemeliharaan dari aplikasi yang besar. Gambar berikut ini menunjukkan ilustrasi dari penggunaan trigger : Gambar 5.1. Penggunaan Trigger Pada gambar tersebut, database trigger CHECK_SAL memeriksa nilai gaji pada saat suatu aplikasi mencoba untuk memasukkan baris baru ke dalam table By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  64. 64. BAB 5 DATABASE TRIGGER 63 EMPLOYEES. Nilai yang terletak pada jangkauan diluar kategori pekerjaan akan diabaikan. Sintak penulisan dari database trigger, berisi komponen berikut : 1. Trigger timing : a. Untuk tabel : BEFORE, AFTER b. Untuk view : INSTEAD OF 2. Trigger event : INSERT, UPDATE atau DELETE 3. Nama tabel : yaitu nama tabel atau view yang berhubungan dengan trigger 4. Tipe trigger : Baris atau Pernyataan (statement) 5. klausa WHEN : untuk kondisi pembatasan 6. trigger body : bagian prosedur yang dituliskan pada trigger 5.3. KOMPONEN TRIGGER Komponen dari sebuah trigger ada 6 (enam), yaitu : trigger timing, trigger event, nama tabel, tipe trigger, klausa WHEN, dan trigger body. Berikut ini penjelasan komponen dari trigger. Trigger timing adalah waktu kapan trigger diaktifkan. Ada tiga macam trigger timing, yaitu : • BEFORE : trigger dijalankan sebelum DML event pada tabel • AFTER : trigger dijalankan setelah DML event pada tabel • INSTEAD OF : trigger dijalankan pada sebuah view. Trigger event ada 3 kemungkinan : INSERT, UPDATE atau DELETE. Pada saat trigger event UPDATE, kita dapat memasukkan daftar kolom untuk mengidentifikasi kolom mana yang berubah untuk mengaktifkan sebuah trigger (contoh : UPDATE OF salary ... ). Jika tidak ditentukan, maka perubahannya akan berlaku untuk semua kolom pada semua baris. Tipe trigger ada 2 macam, yaitu : • Statement : trigger dijalankan sekali saja pada saat terjadi sebuah event. Statement trigger juga dijalankan sekali, meskipun tidak ada satupun baris yang dipengaruhi oleh event yang terjadi. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  65. 65. BAB 5 DATABASE TRIGGER 64 • Row : trigger dijalankan pada setiap baris yang dipengaruhi oleh terjadinya sebuah event. Row trigger tidak dijalankan jika event dari trigger tidak berpengaruh pada satu baris pun. Trigger body mendefinisikan tindakan yang perlu dikerjakan pada saat terjadinya event yang mengakibatkan sebuah trigger menjadi aktif. 5.4. CONTOH PEMBUATAN TRIGGER Contoh berikut ini akan mengaktifkan sebuah trigger pada saat sebuah baris tunggal dimanipulasi pada tabel : Misal diberikan perintah DML untuk menyisipkan baris baru ke dalam tabel sebagai berikut : INSERT INTO departments (department_id, department_name, location_id) VALUES (400, 'CONSULTING', 2400); Ilustrasi dari trigger timing untuk event tersebut adalah sebagai berikut : Gambar 5.2. Ilustrasi timing pada Trigger Jika DML statement berlaku untuk lebih dari satu baris yang ada pada tabel (multiple row), semisal : UPDATE employees SET salary = salary * 1.1 WHERE department_id = 30; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  66. 66. BAB 5 DATABASE TRIGGER 65 Maka ilustrasi dari trigger timing untuk event tersebut adalah sebagai berikut : 5.5. DML STATEMENT TRIGGER Berikut ini sintak atau cara penulisan untuk pembuatan DML Statement trigger : CREATE [OR REPLACE] TRIGGER trigger_name timing event1 [OR event2 OR event3] ON table_name trigger_body Berikut contoh pembuatan DML Statement trigger : CREATE OR REPLACE TRIGGER secure_emp BEFORE INSERT ON employees BEGIN IF (TO_CHAR(SYSDATE,'DY') IN ('SAT','SUN')) OR (TO_CHAR(SYSDATE,'HH24:MI') NOT BETWEEN '08:00' AND '18:00') THEN RAISE_APPLICATION_ERROR (-20500,'Penyisipan data pada table EMPLOYEES hanya diperbolehkan selama jam kerja'); END IF; END; / Contoh trigger diatas akan membatasi penyisipan baris baru ke dalam table EMPOYEES diperbolehkan hanya pada jam kerja mulai hari Senin sampai Jum’at. Jika By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  67. 67. BAB 5 DATABASE TRIGGER 66 user menyisipkan baris baru diluar ketentuan tersebut, missal pada hari SAbtu maka akan tampil pesan kesalahan. Perintah berikut ini akan menguji trigger SECURE_EMP dengan memberikan perintah SQL berikut ini pada jam diluar jam kerja, sebagai berikut : INSERT INTO employees (employee_id, last_name,first_name, email, hire_date, job_id, salary, department_id) VALUES (300, 'Smith', 'Rob', 'RSMITH', SYSDATE,'IT_PROG', 4500, 60); Perintah tersebut akan memberikan pesan kesalahan : 5.6. MENGKOMBINASIKAN EVENT PADA TRIGGER Beberapa event pada trigger bisa dikombinasikan dalam sebuah trigger dengan menggunakan predikat kondisional INSERTING, UPDATING dan DELETING. Berikut ini akan dibuat trigger yang menggunakan predikat kondisional INSERTING, UPDATING dan DELETING untuk membatasi manipulasi data pada tabel EMPLOYEES hanya diperbolehkan pada setiap jam kerja mulai hari Senin sampai Jum’at. BEFORE INSERT OR UPDATE OR DELETE ON employees BEGIN IF (TO_CHAR (SYSDATE,'DY') IN ('SAT','SUN')) OR (TO_CHAR (SYSDATE, 'HH24') NOT BETWEEN '08' AND '18') THEN IF DELETING THEN RAISE_APPLICATION_ERROR (-20502,'You may delete from EMPLOYEES table only during business hours.'); ELSIF INSERTING THEN RAISE_APPLICATION_ERROR (-20500,'You may insert into EMPLOYEES table only during business hours.'); ELSIF UPDATING ('SALARY') THEN By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  68. 68. BAB 5 DATABASE TRIGGER 67 RAISE_APPLICATION_ERROR (-20503,'You may update SALARY only during business hours.'); ELSE RAISE_APPLICATION_ERROR (-20504,'You may update EMPLOYEES table only during normal hours.'); END IF; END IF; END; 5.7. ROW TRIGGER Berikut ini sintak atau cara penulisan untuk membuat Row Trigger : CREATE [OR REPLACE] TRIGGER trigger_name timing event1 [OR event2 OR event3] ON table_name [REFERENCING OLD AS old | NEW AS new] FOR EACH ROW [WHEN (condition)] trigger_body Contoh berikut ini akan dibuat row trigger dengan timing BEFORE untuk membatasi operasi DML pada table EMPLOYEES hanya diperbolehkan untuk pegawai yang memiliki kode pekerjaan ‘AD_PRES’ dan ‘AD_VP’ serta memiliki gaji kurang dari 15000. CREATE OR REPLACE TRIGGER restrict_salary BEFORE INSERT OR UPDATE OF salary ON employees FOR EACH ROW BEGIN IF NOT (:NEW.job_id IN ('AD_PRES', 'AD_VP')) AND :NEW.salary > 15000 THEN RAISE_APPLICATION_ERROR (-20202,'Employee cannot earn this amount'); END IF; END; / Jika kita mencoba memberikan perintah SQL sebagai berikut, maka akan ditampilkan pesan kesalahan : By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  69. 69. BAB 5 DATABASE TRIGGER 68 UPDATE employees SET salary = 15500 WHERE last_name = 'Russell'; 5.8. MENGGUNAKAN OLD DAN NEW QUALIFIERS Pada Row Trigger, nilai dari kolom sebelum dan sesudah perubahan data dapat dirujuk dengan menggunakan OLD dan NEW qualifier. OLD dan NEW hanya digunakan pada Row Trigger. OLD dan NEW menggunakan prefiks (:) untuk pernyataan dalam perintah SQL. Jika qualifier ini terlibat dalam pembatasan kondisi pada klausa WHEN, maka tidak digunakan prefiks (:). Row triggers akan menurunkan unjuk kerja jika banyak dilakukan update pada table yang cukup besar. Contoh Trigger berikut ini menggunakan OLD dan NEW qualifier pada Row Trigger : CREATE OR REPLACE TRIGGER audit_emp_values AFTER DELETE OR INSERT OR UPDATE ON employees FOR EACH ROW BEGIN INSERT INTO audit_emp_table (user_name, timestamp, id, old_last_name, new_last_name, old_title, new_title, old_salary, new_salary) VALUES (USER, SYSDATE, :OLD.employee_id, :OLD.last_name, :NEW.last_name, :OLD.job_id, :NEW.job_id, :OLD.salary, :NEW.salary ); END; / Untuk memeriksa hasil dari pembuatan trigger diatas, diberikan perintah SQL sebagai berikut : INSERT INTO employees (employee_id, last_name, job_id, salary, ...) VALUES (999, 'Temp emp', 'SA_REP', 1000, ...); UPDATE employees SET salary = 2000, last_name = 'Smith' WHERE employee_id = 999; By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  70. 70. BAB 5 DATABASE TRIGGER 69 Hasil dari perintah SQL tersebut adalah akan disimpan record perubahan pada table AUDIT_EMP_TABLE sebagai hasil dari operasi Trigger : SELECT user_name, timestamp, ... FROM audit_emp_table 5.9. PENGGUNAAN KLAUSA WHEN PADA TRIGGER Untuk membatasi operasi trigger hanya pada baris yang memenuhi kondisi tertentu, maka digunakan klausa WHEN. Berikut ini akan dibuat trigger pada tabel EMPLOYEES yang menghitung komisi yang diterima oleh seorang pegawai pada saat sebuah baris ditambahkan ke dalam tabel EMPLOYEES, atau pada saat dilakukan modifikasi pada gaji pegawai. CREATE OR REPLACE TRIGGER derive_commission_pct BEFORE INSERT OR UPDATE OF salary ON employees FOR EACH ROW WHEN (NEW.job_id = 'SA_REP') BEGIN IF INSERTING THEN :NEW.commission_pct := 0; ELSIF :OLD.commission_pct IS NULL THEN :NEW.commission_pct := 0; ELSE :NEW.commission_pct := :OLD.commission_pct + 0.05; END IF; END; / Pada klausa WHEN, penggunaan OLD dan NEW qualifier tidak dengan prefiks (:). Untuk menggunakan NEW qualifier, gunakan BEFORE Row Trigger, jika timing BEFORE pada trigger diatas diganti dengan AFTER, maka akan didapat pesan kesalahan : CREATE OR REPLACE TRIGGER derive_commission_pct* ERROR at line 1: ORA-04084: cannot change NEW values for this trigger type By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  71. 71. BAB 5 DATABASE TRIGGER 70 5.10. PERINTAH UMUM Berikut ini perintah-perintah umum yang digunakan pada trigger. Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan database trigger, digunakan perintah : ALTER TRIGGER trigger_name DISABLE | ENABLE Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan semua trigger yang berlaku untuk sebuah tabel, digunakan perintah : ALTER TABLE table_name DISABLE | ENABLE ALL Untuk melakukan kompilasi ulang sebuah trigger, digunakan perintah : ALTER TRIGGER trigger_name COMPILE Untuk menghapus trigger dari database, digunakan perintah : DROP TRIGGER trigger_name Catatan : Semua trigger yang berlaku pada sebuah tabel akan dihapus pada saat tabel tersebut dihapus dari database. RINGKASAN: • Trigger adalah blok PL/SQL atau prosedur yang berhubungan dengan table, view, skema atau database yang dijalankan secara implicit pada saat terjadi event. • Tipe dari trigger adalah : Application trigger (diaktifkan pada saat terjadi event yang berhubungan dengan sebuah aplikasi) dan database trigger (diaktifkan pada saat terjadi event yang berhubungan dengan data) • Trigger dibuat pada saat yang tepat jika diperlukan yaitu untuk membentuk sebuah aksi tertentu terhadap suatu event dan memusatkan operasi global • Penggunaan trigger yang terlalu berlebihan akan menyebabkan terjadi sifat ketidaktergantungan yang terlalu kompleks sehingga akan mempersulit pemeliharaan dari aplikasi yang besar. • Trigger berisi komponen-komponen : trigger timing, trigger event, nama tabel, tipe trigger, klausa WHEN dan trigger body. • Beberapa event pada trigger bisa dikombinasikan dalam sebuah trigger dengan menggunakan predikat kondisional INSERTING, UPDATING dan DELETING • Pada Row Trigger, nilai dari kolom sebelum dan sesudah perubahan data dapat dirujuk dengan menggunakan OLD dan NEW qualifier. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  72. 72. BAB 5 DATABASE TRIGGER 71 LATIHAN SOAL : 1. Perubahan pada data hanya diperbolehkan selama jam kerja dari jam 8:45 pagi sampai 17.30 , dari Senin hingga Jum’at. Buat stored procedure dengan nama SECURE_DML untuk mencegah DML statement dijalankan diluar dari jam kerja, dengan menampilkan pesan “Perubahan pada data hanya diperbolehkan hanya pada jam kerja” 2. Buat statement trigger pada tabel JOBS untuk memanggil prosedur diatas. 3. Implementasikan trigger berikut pada table JOBS sehubungan dengan kenaikan gaji pegawai. Buat stored procedure dengan nama UPD_EMP_SAL untuk mengupdate jumlah gaji. Prosedur ini menerima dua parameter : job id dari gaji yang akan diubah dan nilai minimum salary yang baru. Prosedur ini dijalankan dari trigger yang dibuat pada table JOBS. 4. Lanjutan dari soal nomer 3, buat row trigger dengan nama UPDATE_EMP_SALARY pada table JOBS yang memanggil prosedur UPD_EMP_SAL, pada saat minimum gaji pada table JOBS diubah untuk suatu job ID tertentu. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  73. 73. 72 Bab6 Basis Data Client / Server POKOK BAHASAN: Pendahuluan Arsitektur Client-Server Pengaksesan Query pada Basis Data Client-Server TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Memahami konsep basis data client-server. Memahami arsitektur client- server Memahami pengaksesan query pada basis data client-server dan bagaimana perangkat lunak client-server. 6.1 PENDAHULUAN Aplikasi basis data terdistribusi dikembangkan dalam bentuk arsitektur client- server. Teknologi client-server berkembang secara cepat sebagai teknologi lanjut. Pada beberapa waktu yang lalu, sangat sulit memprediksikan status saat ini teknologi client- server yang terjadi saat ini. Hal ini sama sulitnya dengan memprediksi teknologi untuk beberapa tahun ke depan. Beberapa faktor yang berpengaruh pada fungsi client atau server atau keduanya, melibatkan perangkat keras dan perangkat lunak, protocol network, teknologi LAN/WAN dan komunikasi. Penurunan biaya dari beberapa faktor tersebut menyebabkan semakin besar kemungkinan mempunyai sistem yang kuat. By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id
  74. 74. BAB 6 BASIS DATA CLIENT-SERVER 73 6.2 ARSITEKTUR CLIENT-SERVER Saat ini arsitektur client-server yang banyak digunakan dalam industri disebut two-tier architecture. Pada arsitektur ini, server mengirim data dan client mengakses data. Server memainkan peranan yang dominan pada arsitektur ini. Keuntungan sistem ini adalah kesederhanaan dan kompatibilitas dengan sistem yang legal. Arsitektur client-server yang dikembangkan kemudian adalah three-tier architecture. Pada model ini, layer direpresentasikan sebagai host, server dan client. Server memainkan peranan sebagai penengah dengan mengirim aturan bisnis (prosedur atau constraint) yang digunakan untuk mengakses data dari host. Client berisi antar muka GUI dan beberapa aplikasi tambahan mengenai aturan bisnis. Kemudian server bertindak sebagai conduit of passing memproses data dari host ke client dimana kemudian diproses atau difilter dan dipresentasikan ke pemakai dalam format GUI. Antar muka pemakai, aturan dan pengaksesan data bertindak sebagai three tiers. Cient biasanya dihubungkan ke server melalui LAN dan server dihubungkan ke host melalui WAN. Client melakukan remote yang dihubungkan ke server melalui WAN juga. Sistem ini sangat cocok untuk perusahaan besar dimana basis data terpusat dapat disimpan dalam host dan biaya pembangunan LAN dan WAN dapat diatur dan dioptimasi menggunakan teknologi yang baru untuk setiap bagian yang berbeda dalam organisasi. 6.3 PENGAKSESAN QUERY PADA BASIS DATA CLIENT-SERVER Bagaimana membagi fungsi DBMS antara client dan server tidak ada ketentuan. Sehingga banyak pendekatan yang berbeda ditawarkan. Satu kemungkinan adalah memasukkan fungsi dari DBMS terpusat pada level server. Sejumlah DBMS relasional menggunakan pendekatan ini, dimana SQL server disediakan untuk client. Setiap client harus menggunakan query SQL yang tepat dan menyediakan antar muka pemakai dan fungsi antar muka untuk bahasa pemrograman. Karena SQL adalah bahasa standard relasional, berbagai SQL server, meskipun disediakan oleh vendor yang berbeda, dapat menerima perintah SQL. Client juga merujuk pada data dictionary yang didalamnya By HendraNet http://www.hendra-jatnika.web.id

×