WWW.YOURCOMPANY.COM
Outline
Persentasi
Pendahuluan
Latar belakang ekonomi, sosial dan ekologi
1
Permasalahan
• Masalahan ekonomi, sosial, ekologi
• Dinamika tata kelola kelapa sawit2
Metode penelitian
• Lokasi penelitian
• Metode pengumpulan dan analisis data3
5 Penutup
Kesimpulan dan implikasi kebijakan
4 • Kegagalan tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan
• Perubahan tutupan lahan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit
Pembahasan
WWW.YOURCOMPANY.COM
Pendahuluan
5
Sawit: komoditas yang efisien
• Kelapa sawit merupakan flex crop dapat
digunakan food, feed, fuel, industrial material
(Borras 2013, Alonso-Fradejas et al. 2015)
• Sawit merupakan komoditas minyak nabati
yang lebih efisien (produktifitas tinggi dan
biaya rendah) dari pada minyak nabati lain
seperti soybean dan rapeseed (laksono et al.
2019)
Peningkatan luas KBNK
• KBNK meningkat karena
pelepasan kawasan hutan
untuk perkebunan kelapa
sawit melalui prosedur legal,
angka luasan kawasan hutan
yang telah berubah menjadi
areal perkebunan kelapa
sawit yaitu 5.418.413 ha
pada tahun 2018 (Wibowo
et al. 2019)
Sawit berperan pada ekonomi
nasional, regional dan lokal
• Nilai ekspor meningkat dari tahun 2010
sebesar 15,4 miliar USD menjadi 20,8 miliar
USD pada tahun 2017 (Maryadi et al, 2019)
• Peningkatan serapan tenaga kerja, dari tahun
2010 sejumlah 5 juta menjadi 8,4 juta orang
pada tahun 2015 (PASPI 2016)
• Peningkatan pendapatan masyarakat lokal
(Wicke et al. 2011, Irawan et al. 2013, Jelsma
et al. 2017)
Sawit: komoditas pertanian yang
banyak diusakan masyarakat lokal
• Terbentuknya beragam relasi organisasi
produksi dari ekonomi kelapa sawit
(Colchester dan Chao 2011, Ndraha et al.
2014)
• Integrasi masyarakat adat ke sektor
perkebunan kelapa sawit (Colchester dan
Chao 2011, Mardianingsih et al. 2018)
Peningkatan kesempatan perempuan
di sektor publik
• Kelapa sawit memberikan kesempatan
perempuan untuk bekerja di sektor publik
(Azzahra et al. 2017, Samosir 2017,
Purwaningsih et al. 2019)
WWW.YOURCOMPANY.COM
6
Masalah Ekonomi dan sosial
Masalah Ekologi
Masalahanyangditimbulkankelapasawit
• Persoalan perubahan lanskap ekologi yang memberikan konsekuensi pada deforestasi (Fitzherbert et al.
2008, Adams 2009, Tarigan et al. 2015, Setiawan et al. 2016, Bennett et al. 2018) terdapat 3,4 juta Ha
kebun kelapa sawit di kawasan hutan (KEHATI 2019),
• Fragmentasi habitat (Fitzherbert et al. 2008)
• Hilangnya biodiversitas (Koh dan Wilcove 2008, Fitzherbert et al. 2008)
• Peningkatan emisi karbon (Saswattecha et al. 2017)
• Penurunan jasa lingkungan (Abram et al. 2014, Bakkegaard 2017, Fedele et al. 2017)
• Pencemaran air (Mol 2017)
• Penunggalan sumber nafkah (Yulian et al. 2017)
• Kerentanan nafkah (Amalia 2016, Azzahra et al. 2017, Mardianingsih et al. 2018)
• Pergeseran pola hidup masyarakat yang semula subsisten menjadi berorientasi pada pasar (Zunariyah
2012)
• Peningkatan ketimpangan sosial dan pendapatan (Euler et al. 2017)
• Penyebab timbulnya konflik lahan antar petani, antara petani dan masyarakat adat dengan pemegang
HGU, taman nasional dan kawasan konservasi dengan (Koczberski dan Curry 2005, Abram et al. 2017,
Wibowo et al. 2019).
• Persoalan pekerja anak dan perempuan terkait beban kerja terlampau tinggi, upah murah, dan status
hubungan kerja rentan (Sawit Watch 2018, KBS 2018)
Kemiskinan Kebakaran
lahan
Marak
pembala
kan liar
dan
usaha
perkebun
an tanpa
ijin
Kebijakan
nasional
Tahun
Masalah
• Inpres 1/
1986 PIR-
TRANS
• Kepmen
Pertanian
333/Kpts/KB
.510/6/1986
Tata Cara
Pelaksanaan
PIR-TRANS
Kepmen LH
40/MenLH/
1997
Koordinasi
Nasional
Pengenda-
lian
Kebakaran
Hutan dan
Lahan
1980an 1994-
1995 2013 2014 2015 2016 2018 2019
Permen-
tan
11/2015
ISPO
•Perpres
9/2016
Percepatan
Pelaksanaan
Kebijakan
Satu Peta
•Permen LHK
P.83/2016
Perhutanan.
Sosial
• Inpres 8/ 2018
Penundaan dan
Evaluasi
Perizinan
Perkebunan
Kelapa Sawit
• Permen LHK
Nomor
P.97/2018
tentang tukar
Menukar
Kawasan Hutan
• Permen LHK
P.17/2018
TORA
• Inpres 5/2019
Penghentian
Pemberian Izin
Baru &
Penyempur-naan
Tata Kelola Hutan
Alam Primer &
Lahan Gambut
• Inpres 6/ 2019
RANKSB
• Permen LHK
P.42/2019 TORA
• : Kepmentan
883/KPTS/SR.02
0/M/12/2019 luas
tutupan kelapa
sawit Indonesia
PP
71/2014
Perlindu-
ngan dan
Pengelola
an
Ekosistem
Gambut
UU
18/2013
Pencega-
han dan
Pembe-
rantasan
Perusa
kan
Hutan
Per-
mentan
19/
2011
ISPO
PP 4/2001
Pengendalian
Kerusakan
dan/atau
Pencemaran
LH berkaitan
dengan
kebakaran
hutan
dan/atau
lahan
Perpres
44/2020
ISPO
Isu
keberlan
jutan
sawit
Kebijakan
Internasional RSPO
RED I: target of
20% by 2020
2004 20102009
ISCC
2011 20201997
1998-
2000
Energy for
future: target
of 12% by 2010
RED I:
targetof 30%
by 2021-2030
Isu lingkungan dan
keberlanjutan kelapa sawit
Krisis moneter,
perambahan hutan,
kebakaran lahan
Kebakaran lahan
gambut
Tumpang tindih atas ruang dan
konflik tenurial, dan keefektifan
ISPO
DinamikaTataKelolaSawit
WWW.YOURCOMPANY.COM
Mengapa sistem tata kelola
kelapa sawit berkelanjutan
(Permentan 11/2015) tidak efektif
dalam mengendalikan ekspansi
kelapa sawit di kawasan hutan?
Pertanyaan
WWW.YOURCOMPANY.COM
Pendekatan
penelitian
• Kuantitatif Survey menggunakan questioners
• Kualitatif In-depth interview
Analisis tutupan
lahan
• Ground check 14-28 Feb 2018
• Citra Landsat 1990-2017
Companion
Modelling
• Tingkat Desa
• Tingkat Provinsi
• Tingkat Nasional
Lokasi penelitian • Desa Sabintulung,
Kecamatan Muara Kaman,
Kukar
• Desa Gunung Sari,
Kacamatan Tabang, Kukar
Jumlah responden • Pra-survey 5-11 Feb
2017
• Survey I dan wawancara
mendalam (14-28 Feb
2018) = 31 smallholders
• Survey II dan wawancara
mendalam (17-26 Feb
2019 ) = 31 smallholders
• Pra-survey 5-11 Feb
2017
• Survey I dan wawancara
mendalam (14-28 Feb
2018) = 44 smallholders
• Survey II dan wawancara
mendalam (17-26 Feb
2019)= 32 smallholders
MetodePenelitian
WWW.YOURCOMPANY.COM
Menganalisis efektifitas sistem tata kelola kelapa
sawit berkelanjutan dalam mengendalikan
ekspansi kelapa sawit
Indikator yang diukur dan diamati pada efektifitas sistem tata kelola kelapa sawit
1. Agensi (Stakeholders yang terlibat dalam sistem ekonomi kelapa sawit, Peran
stakeholders dalam sistem ekonomi kelapa sawit dan Kepentingan stakeholders
dalam sistem ekonomi kelapa sawit
2. Doxa dalam permen ISPO 2015 (kepatuhan petani pada PnC ISPO 2015 dan
kebijakan yang mendukung pada level mikro, meso dan makro)
3. Capital (pengetahuan)
4. Practice (ekspansi perkebunan kelapa sawit perubahan tutupan lahan)
WWW.YOURCOMPANY.COM
Agensidalamarenaperkebunankelapasawit
No Agensi Peran Kepentingan Potensi merusak sistem ISPO
1 Petani • Melakukan usaha pertanian • Mendapatkan income Tinggi (afiliasi pada kelompok
Perambah hutan)
2 Perusahaan sawit
dengan kebun
• Mengekspansi kelapa sawit
• Melakukan kemitraan plasma dan non plasma
• Mendapatkan profit
• Memastikan pasokan TBS mencukupi
• Memastikan konflik teredam melalui kemitraan
Rendah
3 Perusahaan sawit
tanpa kebun
• Membeli TBS • Mendapatkan profit
• Memastikan pasokan TBS mencukupi
Tinggi (penadah TBS dari
unclear area)
4 Koperasi • Melakukan kemitraan dengan petani
• Melakukan kemitraan dengan perusahaan
kelapa sawit
• Memastikan TBS anggota koperasi terjual Sedang
5 Tengkulak • Membeli TBS
• Memberikan pinjaman untuk petani
• Mendapatkan profit Tinggi (penadah TBS dari
unclear area)
6 Pemerintah lokal • Melegitimasi pembukaan kebun • Mendapatan kepercayaan dari masyarakat Rendah
7 Pemerintah regional • Mengeksekusi peraturan ISPO di tingkat petani
dan perusahaan
• Mendapatkan citra baik pada pemerintah
nasional
Rendah
8 Pemerintah nasional • Membuat regulasi pengaturan perkebunan
kepala sawit berkelanjutan (ISPO)
• Memastikan ISPO dapat diimplementasikan
• Mendapatan kepercayaan dari masyarakat
• Mendapatkan citra baik pada di forum
internasional
Rendah
9 Bank • Memberikan pendanaan (pinjaman) pada
perusahaan dan petani
• Mendapatkan profit Rendah
0,0
1,0
2,0
3,0
4,0
Tingkat pengetahuan
tentang sistem
sertifikasi ISPO
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan sertifikat
lahan
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan STDB
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan SPPL
Tingkat pengetahuan
tentang Pedoman
Teknis Budidaya
Kelapa Sawit
Tingkat pengetahuan
tentang Teknis
Pengamatan dan
Pengendalian Hama
Terpadu
Desa Gunung Sari
Aktual Ideal
0,0
1,0
2,0
3,0
4,0
Tingkat pengetahuan
tentang sistem
sertifikatifikasi ISPO
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan sertifikat
lahan
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan STDB
Tingkat pengetahuan
tentang prosedur
pengurusan SPPL
Tingkat pengetahuan
tentang Pedoman
Teknis Budidaya
Kelapa Sawit
Tingkat pengetahuan
tentang Teknis
Pengamatan dan
Pengendalian Hama
Terpadu
Desa Sabintulung
Aktual Ideal
• Teradapat gap pengetahuan petani terkait dengan sistem sertifikasi dan norma Indonesian
Sustainable Palm Oil (ISPO) karena ketiadaan sosialisasi dan pendampingan dari pemerintah
kapasitas pemerintah yang rendah (kurangnya finansial dan kuantitas SDM)
Capital:Pengetahuanpetanitentangnormakelapasawitberkelanjutan
WWW.YOURCOMPANY.COM
Practices:Ketundukanpetanipadanormakelapasawitberkelanjutan
Kepemilikan
legalitas lahan
(SHM)
Kepemilikan
Legalitas usaha
(STD-B)
Keikutsertaan
kelompok tani
Keikutsertaan
koperasi
Penanaman bibit
bersertifikat
Kepemilikan
legalitas lingkungan
(SPPL)
Ds. Sabintulung (n=31) 0% 0% 55% 10% 58% 0%
Ds. Gunung Sari (n=32) 0% 0% 66% 75% 63% 0%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Persentasekepatuhan
PnC
• Ketidaklengkapan ketundukan pada norma ISPO karena proses pengurusan STDB, SPPL, dan SHM
sulit dijalankan, mahal dan membutuhkan waktu yang lama
• Ketidaksesuaian norma petani dengan norma ISPO Gap antara pertanian tradisional yang
dilakukan oleh petani dengan pertanian sesuai norma ISPO
Desa Gunung Sari Desa Sabintulung
• Ekspansi di Desa Gunung Sari terjadi secara menyebar karena derajat integrasi petani dengan perusahaan
kuat melalui kemitraan plasma dan non plasma dan institusi formal (koperasi) di dalam desa
• Ekspansi di Desa Sabintulung terjadi secara mengelompok karena derajat integrasi petani dengan
perusahaan lemah dimana kemitraan plasma dikelola secara “satu atap” serta ketiadaan institusi formal
(koperasi) di dalam desa
Practices:Ekspansiperkebunankelapasawitdanperubahantutupanlahan
• Kecepatan ekspansi di Desa Gunung Sari lebih cepat dari pada kecepatan di Desa Sabintulung karena banyaknya
pendatang (Kecepatan ekspansi pendatang lebih tinggi dari pada penduduk asli), agensi intra dan ekstra desa
(tengkulak), afiliasi dengan kelompok perambah hutan, dan petani formal utilitarian rationality-illegal
0%
20%
40%
60%
80%
100%
1990 1995 2000 2005 2009 2016
Desa Gunung Sari
Awan Badan Air
Belukar Hutan
Lahan Terbuka Pemukiman
Perkebunan kelapa sawit
0%
20%
40%
60%
80%
100%
1990 1995 2000 2005 2009 2016
Desa Sabintulung
Badan Air Belukar
Belukar Rawa Hutan
Hutan Rawa Hutan Tanaman Industri
Ladang Lahan Terbuka
Pemukiman Rawa
Perkebunan kelapa sawit
Practices:Ekspansiperkebunankelapasawitdanperubahantatagunalahan
Defective governanceConspiracy of silence
1. Tindakan agensi yang
tidak komplit dalam
memenuhi PnC
2. Tidak ada penindakan
hukum
3. Ketidaksesuaian norma
dan nilai
4. Ketidakandalan PnC
5. Kegagalan dalam
mengelola jaringan
interorganisasi
1. Keterkaitan antar
agensi
2. Dilakukan secara
sembunyi-sembunyi
3. Dilegitimasi
4. Dibiarkan oleh Negara
tetapi tidak direstui
oleh negara
KonseptualisasiGagasan
WWW.YOURCOMPANY.COM
18
ISPO tidak efektif dalam menekan ekspansi kelapa sawit di kawasan hutan
Kesimpulan
• Agensi tidak tunduk dan berpotensi merusak sistem sertifikasi ISPO
• Capital pengetahuan tentang ISPO di level lokal terlalu minim
• Doxa berupa PnC ISPO tidakandal (tergantung pada aturan-aturan lain di lintas
lembaga) dan tidak cocok dengan norma lokal, serta kebijakan yang mendukung
ISPO di level regional yang terlambat dan di level lokal terjadi kekosongan
• ISPO tidak mampu menghabituasi/membuat tunduk agensi pada norma
keberlanjutan praktik ketidakteraturan dalam ekspansi perkebunan kelapa
sawit
WWW.YOURCOMPANY.COM
19
2
4
1
3
Program Klinik ISPO
Kurangnya pengetahuan dan ketundukan
petani pada PnC ISPO, dapat
ditingkatkan melalui pendampingan di
tingkat lokal melalui klinik ISPO yang
tersedia di tiap-tiap desa sentra kebun
kelapa sawit
Implikasi
Kebijakan
Mewujudkan Reforma Agraria
Insentif harga perlu diberlakukan untuk
kelapa sawit yang sudah tersertifikasi
agar ISPO tidak hanya menjadi beban
tambahan. Selain itu, penegakan hukum
yang tegas perlu diberlakukan agar
praktik-praktik ekspansi melalui jalur-
jalur illegal tidak dilakukan kembali
Sinkronisasi kebijakan
nasional, regional dan lokal
Kebijakan-kebijakan terkait perkebunan
kelapa sawit di level regional dan lokal
yang kontra produktif dengan ISPO,
harus segera dihapuskan dan segera
dibuat kebijakan regional dan lokal
untuk mendukung implementasi ISPO
Penegakan reward dan
punishment
Masalah tenurial di tingkat lokal
mendesak diselesaikan, tanpa legalitas
lahan maka petani tidak akan bisa
memproses syarat pra kondisi ISPO
lainnya (STDB dan SPPL)
5
Sistem sertifikasi pada
tata rantai
Tengkulak dan koperasi menjadi unit
usaha yang harus disertifikasi
WWW.YOURCOMPANY.COM
Rizka Amalia
PENDIDIKAN
1. S3 di Institut Pertanian Bogor: Program Studi Sosiologi Pedesaan
2. S2 di Institut Pertanian Bogor: Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan
3. S1 di Institut Pertanian Bogor: Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
PUBLIKASI TERBARU
• Bioenergy Policy: The Biodiesel Sustainability Dilemma in Indonesia (2020)
http://www.iieta.org/journals/ijsdp/paper/10.18280/ijsdp.150414
• Perubahan Tutupan Lahan Akibat Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit: Dampak Sosial, Ekonomi dan Ekologi (2019)
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/view/22511/pdf
• Strategi Adaptasi Sosial Ekonomi dan Ekologi Rumahtangga Petani di Daerah Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit:
Studi Kasus di Dua Desa di Kalimantan Tengah (2018)
https://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/download/23226/15169
amalrizka@apps.ipb.ac.id