Advertisement
Advertisement

More Related Content

Similar to Tata kelola perizinan dan teritorialisasi dalam ekspansi perkebunan kelapa sawit(20)

Advertisement

More from CIFOR-ICRAF(20)

Advertisement

Tata kelola perizinan dan teritorialisasi dalam ekspansi perkebunan kelapa sawit

  1. Tata Kelola Perizinan dan Teritorialisasi dalam Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit Faris Rahmadian OPAL Online Research Seminar Series - 23 Juni 2020 faris_rahmadian@apps.ipb.ac.id
  2. PENDAHULUAN • Luas lahan kelapa sawit Indonesia Tahun 2019 seluas 16,4 juta ha (Kementan, 2019) • Tahun 2017, produksi kelapa sawit Indonesia setidaknya berkontribusi 54% dalam konsumsi global (Iskandar, 2018) • Total ekspor perkebunan mencapai USD 28,1 milyar → Kelapa sawit menjadi salah satu kontributor paling utama (Ditjenbun, 2018)
  3. Permasalahan Ekspansi kelapa sawit tidak hanya mengancam biodiversitas, namun juga konflik hingga hilangnya penghidupan masyarakat (Dharmawan et al. 2020) 3,6 juta ha tutupan kelapa sawit berada tumpang tindih di dalam kawasan hutan (Bakhtiar et al. 2019) Sistem perizinan kelapa sawit Indonesia menghadapi permasalahan transparansi, sinergitas data dan antar lembaga, hingga akuntabilitas (KPK, 2016)
  4. Metodologi Lokasi Penelitian Kualitatif Analisis Data Dua Tahap • Kab. Kutai Kartanegara, Prov. Kalimantan Timur • Periode Pengambilan Data Primer: Juni 2016 s.d Desember 2017 • Observasi Langsung • Wawancara Semi-Terstruktur (Maximum Variation) • Kelompok Diskusi Terfokus • Analisis Reflektif • Analisis Kategoris
  5. Metodologi (BPS 2017)
  6. Apakah perizinan kelapa sawit secara inheren mampu “mengantisipasi” berbagai permasalahan terkait ekspansi perkebunan kelapa sawit?
  7. Tata Kelola Perizinan Izin Lingkungan Izin Lokasi Izin Prinsip Izin Pelepasan Hutan Izin Usaha Perkebunan Hak Guna Usaha (HGU) Ekspansi Kelapa Sawit
  8. Tata Kelola Perizinan Izin Lingkungan Izin Lokasi Izin Prinsip Izin Pelepasan Hutan Izin Usaha Perkebunan Hak Guna Usaha (HGU) Ekspansi Kelapa Sawit • Proses perizinan bukanlah sekedar dokumen, tetapi arena dialektika kepentingan dan kuasa
  9. TATA KELOLA PERIZINAN • UUD 1945 s.d.UU Perkebunan No. 39 Tahun 2014: masyarakat adalah subjek utama dari segala bentuk aktivitas ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam Tahun Bentuk Kebijakan Konteks Kebijakan Implikasi Makna Perizinan 1953 PP No. 8 tentang Penguasaan Tanah-Tanah Negara Lahan dan sumber daya alam di Indonesia statusnya dapat diubah, namun harus dimanfaatkan untuk mendukung UUD 1945 Pasal 33; (3) Instrumen Proteksi – Nasionalis 1960 UU No. 5 tentang Pokok- Pokok Agraria (UUPA) Mendorong redistribusi lahan dan jaminan hak atas tanah dan sumber daya alam untuk rakyat Instrumen Populis - Ideologis 1967 UU No. 1 tentang Penanaman Modal Asing Menginisiasi pembangunan Indonesia melalui ‘trickle down effect’; Investasi asing dan pemodal besar sebagai motor pembangunan Instrumen Modernisasi - Privatisasi 1970 PP No. 21 tentang Hak Pengusahaan Hutan Memposisikan hutan sebagai komoditas bisnis: “hutan perlu segera dimanfaatkan secara maksimal….” Instrumen Akumulasi Kapital 1986 INPRES No. 1 Tahun 1986 tentang PIR Trans Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengembangkan industri dan usaha-usaha perkebunan Instrumen Restrukturisasi - Penyokong Kapital
  10. TATA KELOLA PERIZINAN • Letter of Intent IMF (22 Juli 1999): ”Next on the agenda is the privatization of a large palm plantation and gold/nickel companies”
  11. TATA KELOLA PERIZINAN • Dua Momentum Ekspansi Kelapa Sawit di lokasi penelitian: 1) Implementasi otonomi daerah dan ‘perbaikan ekonomi’ pasca 1998, direspons melalui program kerja pembangunan daerah yang menekankan perkembangan sektor perkebunan dan pertambangan → PERDA Kutai Kartanegara No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Izin Usaha Perkebunan 2) Habisnya masa kejayaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), sehingga banyak peralihan kepemilikan lahan → Suksesi Lahan Korporasi
  12. TATA KELOLA PERIZINAN “Habis zaman HPH, tahun 1990-an masuk sawit dimana-mana... yang punya orang gede juga, yang kecil mah hidupnya sama aja” - AW, 70 Tahun, Pencari Ikan • Penguasaan Lahan PBS = 668,980,00 ha | Penguasaan Lahan Rakyat = 61,140,65 ha (Disbun Kukar 2018)
  13. Apa selanjutnya setelah diketahui bahwa diskursus “perizinan” cenderung melekat dalam makna “ekspansi” dan “privatisasi” skala besar?
  14. TATA KELOLA PERIZINAN • Perizinan usaha kelapa sawit merujuk pada Permentan No. 98 Tahun 2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan • Terdapat dua rezim utama dalam tata kelola perizinan kelapa sawit → Rezim Perkebunan (Daerah) dan Rezim ATR/BPN – Kehutanan (Pusat) “...diakui juga kita (dulu) banyak kecolongan, misalnya waktu pengajuan izin prinsip ternyata lahan yang diajukan tidak sama dengan yang nanti ditanami. Perusahaan nambah- nambah (lahan) sendiri. Atau juga misalkan rencana kerja perkebunan yang tidak sesuai antara dokumen dengan kenyataan.” - M, 56 Tahun, eks Kepala Disbun
  15. TATA KELOLA PERIZINAN • Benturan dua rezim dalam proses perizinan → ‘retakan’ dalam proses perizinan → Rezim Korporasi 1. Retakan dalam arti extralegal → “celah” dalam perizinan dikarenakan terdapat poin yang tidak diatur dan/atau tidak jelas (kerancuan) dalam peraturan perundangan. 2. Retakan dalam arti total ilegal → kemunculan “celah” dalam perizinan dikarenakan terdapat peluang untuk menyelewengkan atau mencurangi proses perizinan yang berlaku, meliputi penyuapan, pemalsuan dan/atau penipuan.
  16. TATA KELOLA PERIZINAN 1. Retakan Extralegal → Pasal 42 UU Perkebunan 2014 “Praktik usaha perkebunan dapat dilakukan jika memiliki HGU dan/atau IUP” → Penggunaan kata rancu yang selanjutnya dieksploitir 2. Retakan Total Ilegal: • Dokumen AMDAL Parsial → Proses assesment AMDAL tidak “sebenarnya” dilakukan, bahkan sebatas menggunakan template yang sudah ada • Penyelesaian Sengketa Pragmatis → FPIC dan diskusi terbuka partisipatif tidak dilakukan (atau sebatas pengurus / orang tertentu), dan warga sisanya direduksi menjadi ‘produk tanda tangan’ • Penyuapan / Pencurangan → Korupsi dan transaksi dibawah meja, dengan ‘biaya’ per-tanda tangan (untuk satu dokumen) puluhan/ratusan juta atau substitusi dengan barang-barang mewah
  17. Apakah “Rezim Korporasi” adalah hanya tentang perusahaan skala besar saja?
  18. TATA KELOLA PERIZINAN • Rezim Korporasi tidak bermakna perusahaan / swasta an sich, melainkan sebuah situasi multi-aktor dan “relasi kuasa” yang mampu memfasilitasi spirit kapitalisme dan merestukturisasi kebijakan ekonomi yang ekspansif (Robison, 2012) • Rezim Korporasi → Semangat privatisasi, pragmatisme dan gaya ekspansi skala besar • Program Satu Juta Sawit, Bantuan Bibit Sawit Gratis dsb. tanpa prasyarat dan pemantauan atas legalitas lahan dan usaha → Ekspansi bebas oleh masyarakat “Program (satu juta) sawit itu sudah tercapai, tetapi kenapa pemerintah mau terus menambah target ketika pusat hendak moratorium kelapa sawit? Apa memang masyarakat yang diuntungkan dari program itu? Karena hutan sampai kebun buah nenek moyang masyarakat hilang semua itu. Apa memang benar itu yang diinginkan masyarakat? WY, 31 Tahun, Politisi Lokal
  19. PENUTUP • Diskursus perzinan pemanfaatan sumber daya alam yang terbangun di Indonesia pasca 1967 cenderung melekat dalam narasi ekspansi dan privatisasi skala besar • Rezim korporasi tidak hanya mampu mengkooptasi ‘ruang spasial’, melainkan juga ‘ruang ideologi’ masyarakat → Pembentukan narasi tunggal atas nafkah • Mekanisme perzinan kelapa sawit belum mampu menutup celah dan kebocoran praktik ilegal kelapa sawit → Permasalahan bukan hanya di “dokumen perizinan”, tetapi “mekanisme, aktor dan proses perizinan” → Multi-Aktor • Perizinan seharusnya tidak berbasis ‘politik tanda tangan’, tetapi data objektif dan koheren berdasarkan fakta di lapangan→ Delegasikan kuasa perizinan pada masyarakat secara demokratis, dan masyarakat memiliki peran aktif dan mengawasi, bukan “konsultatif”
  20. TERIMA KASIH
Advertisement