Advertisement
Advertisement

More Related Content

Advertisement

More from CIFOR-ICRAF(20)

Advertisement

Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan dinamika sosio-ekologis pedesaan

  1. Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dan Dinamika Sosio-ekologis Pedesaan Virtual meeting room, Kamis 23 Juli 2020 Oil Palm Adaptive Landscape Online Research Seminar Series Hosted by: CIFOR-IPB Bayu Eka Yulian bayueka@apps.ipb.ac.id
  2. Outline Presentasi 1. Pendahuluan 2. State of problem 3. Pendekatan teori dan metode 4. Potret perubahan lanskap sosio-ekologis 5. Penunggalan nafkah dan ekspansi senyap 6. Refleksi dan diskusi
  3. 1 Pendahuluan
  4. Realitas Kini • Ekspansi perkebunan kelapa sawit adalah keniscayaan. • Tren terus meningkat sejak 1980  demand menyumbang GDP 429 Triliun (Migas hanya 365 Triliun). • Total ekspansi saat ini 2019 16,3 juta hektar (Kepmentan 338/2019). • Persentase aktor perkebunan kelapa sawit: 55% PBS, 5% PBN, dan 40,28% smallholders. • Kelapa sawit menjadi primadona Indonesia, dan sekaligus memberi tantangan dalam pengelolaannya.
  5. Kelapa Sawit: Berkah atau Masalah? • Memberi manfaat ekonomi • Alternatif bahan bakar (non fosil)/ energi masa depan • Biogas  Pembangkit Listrik (contoh: di Kab. Kukar mengaliri 3 kecamatan) • Komoditas yang tidak menghasilkan sampah (zero waste); Kompos  sisa TBS Namun, di sisi lain ada masalah: Sisi sosial: 1. Land grabing  eksklusi 2. Potensial konflik agraria 3. Monokulturisasi sumber nafkah rumah tangga pedesaan Sisi lingkungan: 1. Deforestasi-degradasi hutan 2. Monokulturisasi tanaman 3. Biodiversity lost
  6. 2 State of Problem
  7. State of Problem
  8. 3 Pendekatan Teoritis dan Metode
  9. Pendekatan Teoritik Akses VS Hak Ribot dan Peluso (2003); Ostrom (1999) Myers and Hansen (2019); Teritorialisasi, Inklusi VS Eksklusi Vandergeest dan Peluso (1995) Sikor dan Lund (2009) Hall, et, al., (2011) Crop Boom, Land cover and land use change (Fitzhherbert, et al., 2008; McCarthy, 2010; Rist, et al., 2010; Obidzinki, et. al., 2012; Sayer, et al., 2012; Orsato et al., 2013; Lee, 2013; dan Potter, 2015) Agriculture Expansion (Barralough dan Ghimire, 2000) Ekspansi dan Proses Kebijakan Perkebunan (Sunito dan Yulian, 2013) Perkebunan Kelapa Sawit Livelihood Changed Dharmawan (2007; Scoones (2015)
  10. Metode • Sequential Mix Method (Creswell, 2009) • Metode kualitatif yang dididukung data kuantitatif • Kualitatif  Wawancara mendalam, participant observation, dan FGD. • Kuantitatif  Survey nafkah rumah tangga pedesaan • Anaisis peta tutupan lahan. • Companion Modeling  Role play game, lanskap board game. • Lokasi penelitian  Desa MKU, MKI, LBH, PPN, Kutai Kartanegara, Kaltim • Social engangement peneliti dan masyarakat sudah terbangun sejak 2012. • Melibatkan asisten peneliti/ mahasiswa/alumni  Universitas Kutai Kartanegara, Universitas Mulawarman, dan IPB University
  11. Companion Modeling (ComMod) • Role playing game dengan board game. • Board game  mewakili lanskap ekologis • Aktor dengan role-nya  pemain. Terlibat dalam konteks lanskap (bentang alam). • Menduga skenario pemanfaatan bentang alam via melalui analisis perubahan board game.
  12. 4 Potret Perubahan Lanskap Sosio-ekologis
  13. Perubahan Tutupan Lahan Level Kabupaten
  14. Perubahan Tutupan Lahan Level Desa
  15. Perubahan Tutupan Lahan Level Desa
  16. Perubahan lanskap sosio-ekologis • Bukan sekedar perubahan tutupan lahan • Perubahan terkait: man, nature, and culture. • Monocroop boom expansions • Ekspansi perkebunan  perubahan tutupan lahan  perubahan land use dan struktur agraria. • Akibat tekanan supra desa (global demand dan kebijakan ijin perkebunan/HGU). A B
  17. 5 Penunggalan Nafkah dan Ekspansi Senyap
  18. Struktur Nafkah Rumah Tangga Pedesaan 1997 2017 • Tragedi nafkah menuju  fenomena single source of income • Terekspose dalam sirkuit produksi perkebunan kelapa sawit
  19. Memahami eskpansi by Smallhodlers Dokumentasi via ComMod
  20. Now, hunting for land? Berburu-meramu Berladang berpindah Budidaya/domestikasi Berburu lahan
  21. The Silent Expansions (Ekspansi Senyap) • Di belakang panggung legal negara (HGU/STD-B)  illegal – unregulated – uncontrol • Slow but sure; tebas – bakar  mudah dan murah • Fragmented, kecil-kecil. • Potensial menyebabkan deforestasi. • Oleh petani/pekebun didukung “Big Man” (man behind the Smallholders)  Small scale 0,5 Ha – 25 Ha  The hungerer of land
  22. Pelanggengan Ekspansi Senyap • Rendahnya law enforcement, kontrol terhadap state property right lemah. Tragedy of the commons. • Ada pasarnya. • Ada pemodalnya (big man). • Ada middle man (tengkulak) dalam rantai tata niaga. • Ada pabrik tanpa kebun. • Ada program pemberdayaan masyarakat/CSR via bagi-bagi bibit  ditanam dimana bibit itu?
  23. Pelanggengan Ekspansi Senyap Bibit sudah siap, mau ditanam dimana? Tengkulak siap jemput TBS Ada barang, ada uang
  24. 6 Penutup: Refleksi dan Diskusi
  25. Refleksi • Proses monokulturisasi lanskap dengan tanaman monokultur  singgle source of income di pedesaan. • Perubahan struktur agraria di pedesaan, akibat kekuatan supra desa (ijin perkebunan/HGU). • Moratorium sawit “ke depan” akan menghadapi persoalan rumit (wicked problem) terkait permasalahan the silent expansions. • Perlu upaya melihat kembali ekspansi dan carrying capacity dari ruang ekologis dan ruang hidup masyarakat.
  26. Diskusi • Implikasi kebijakan. • Orkestrasi kelembagaan tata kelola seperti apa untuk mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan.
  27. TERIMA KASIH
Advertisement