Makalah sosiologi pendidikan

2,386 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,386
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
52
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah sosiologi pendidikan

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi. Salah satu di antara ajaran Islam tersebut adalah, mewajibkan kepada ummat Islam untuk melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia serta akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan kehidupannya. Terlebih lagi Islam adalah merupakan agama ilmu dan agama akal karena Islam selalu mendorong umatnya untuk mempergunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan, agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dapat menyelami hakikat alam, dapat menganalisa segala pengalaman yang telah dialami oleh umat-umat yang telah lalu dengan pandangan ahli-ahli filsafat yang menyebut manusia sebagai Homo sapiens, yaitu sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan, dan dengan dasar itu manusia ingin selalu mengetahui dengan apa yang ada di sekitarnya.
  2. 2. 2 B. Rumusan masalah 1. Pendidikan : kewajiban dalam Islam. 2. Kebebasan dan Demokrasi dalam pendidikan Islam. 3. Konsep fitrah dan kebebasan dalam pendidikan Islam. 4. Wanita : kesetaraan dalam pendidikan Islam. 5. Pembentukan masyarakat Islam pertama : sebuah ilustrasi. C. Tujuan Agar para Mahasiswa mengetahui tentang kewajiban pendidikan dalam Islam, kebebasan dan demokrasi dalam pendidikan Islam, konsep fitrah dan kebebasan dalam pendidikan Islam dan juga kesetaraan wanita pendidikan Islam dalam serta mengetahui bagaimana gambaran atau ilustrasi terbentuknya masyarakat Islam pertama.
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN A. Pendidikan (Kewajiban dalam Islam) Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi. Salah satu di antara ajaran Islam tersebut adalah, mewajibkan kepada ummat Islam untuk melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia serta akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan kehidupannya. Terlebih lagi Islam adalah merupakan agama ilmu dan agama akal karena Islam selalu mendorong umatnya untuk mempergunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan, agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dapat menyelami hakikat alam, dapat menganalisa segala pengalaman yang telah dialami oleh umat-umat yang telah lalu dengan pandangan ahli-ahli filsafat yang menyebut manusia sebagai Homo sapiens, yaitu sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan, dan dengan dasar itu manusia ingin selalu mengetahui dengan apa yang ada di sekitarnya. Bertolak dari itu pula manusia dapat dididik dan diajar Kewajiban akan pendidikan dalam pandangan Islam sangat banyak diantaranya yakni dalam Alquran dan Alhadis.
  4. 4. 4 Sebagaimana ayat Alquran dalam surah al-alaq berikut, Artinya:”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dari ayat tersebut jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan diteruskan dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Islam di samping menekankan kepada umatnya untuk belajar juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Jadi Islam mewajibkan umatnya belajar dan mengajar. Melakukan proses belajar dan mengajar adalah besifat manusiawi, yakni sesuai dengan harkat kemanusiaannya, sebagai makhluk Homo educandus, dalam arti manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Di dalam hadist nabi juga menerangkan kewajiban tentang pendidikan sebagai berikut, ” menuntut Ilmu pengetahuan itu adalah kewajiban bagi setiap muslim pria dan wanita.”
  5. 5. 5 “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat” “ barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu, dan barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia berilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah berilmu.” Dengan adanya ayat Alquran serta beberapa hadis maka dapat disimpulkan bahwa agama Islam sangat mewajibkan akan pendidikan atau menuntut ilmu pengetahuan kepada seluruh kaum muslimin baik pria maupun wanita sepanjang hidupnya, sejak lahir sampai meninggal dunia. Allah sangat mendorong hambanya untuk belajar dan mengajar dan sangat menghargai orang yang berilmu pengetahuan, bahkan akan mengangkat martabat atau derajat mereka ketempat yang terpuji. B. Kebebasan dan Demokrasi dalam Pendidikan Islam Acuan pemahaman demokrasi pendidikan dalam pandangan ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Selain itu demokrasi pendidikan Islam merupakan implementasi prinsip-prinsip demokrasi Islam terhadap pendidikan Islam, adanya demokrasi dalam pendidikan Islam sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadis berikut, . ” menuntut Ilmu pengetahuan itu adalah kewajiban bagi setiap muslim pria dan wanita.”
  6. 6. 6 Dari hadis tersebut dapat dilihat bahwa pendidikan itu harus disebarluaskan hingga meliputi segenap lapisan masyarakat, baik itu laki-laki ataupun perempuan masing-masing memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu selain itu juga mempunyai kebebasan dalam meraih pendidikan. Adapun bentuk demokrasi dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut, 1. Kebebasan bagi pendidik dan peserta didik Kebebasan di sini meliputi : (1) kebebasan berkarya, (2) kebebasan mengembangkan potensi dan, (3) kebebasan berpendapat a. Kebebasan berkarya Kebebasan dalam berkarya yaitu kebebasan dalam berfikir tanpa terpaku pada pendapat orang lain, sehingga dapat menentukan secara bebas masa depannya sendiri berdasarkan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. b. Kebebasan mengembangkan potensi Masing-masing individu memiliki kebebasan dalam mengembangkan potensinya, pengembangan potensi ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan yang mampu menghantarkan seorang individu menjadi hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi ini dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ilahiyyah. c. Kebebasan berpendapat
  7. 7. 7 Dalam hal ini pendidik dituntut untuk menghargai pendapat peserta didik, dan peserta didik dituntut pula untuk menghargai pendapat pendidik dan sesama peserta didik, karena menghargai pendapat merupakan salah satu kebutuhan dalam melaksanakan pendidikan. 2. Persamaan terhadap peserta didik dalam pendidikan Islam Islam memberikan kesempatan yang sama bagi semua penganutnya untuk mendapatkan pendidikan atau belajar. Abuddin Nata menyatakan bahwa peserta didik yang masuk di lembaga pendidikan tidak ada perbedaan derajat atau martabat, karena penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dalam suatu ruangan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dari pendidik. Pendidik harus mengajar anak orang yang tidak mampu dengan yang mampu secara bersama atas dasar penyediaan kesempatan belajar yang sama bagi semua peserta didik. Dalam pendidikan Islam juga tidak ada sistem sekolah unggul karena hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip demokrasi pendidikan Islam sebab bersifat diskriminasi atau membedakan terhadap peserta didik. Dalam pendidikan Islam yang ada adalah sistem pelayanan unggul, dimana setiap peserta didik dibimbing mengembangkan potensinya secara maksimal. 3. Penghormatan akan martabat individu dalam pendidikan Islam Demokrasi sebagai penghormatan akan martabat orang lain, maksudnya ialah seseorang akan memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya sendiri. Secara historis prinsip penghormatan akan martabat individu telah ditunjukan oleh Nabi
  8. 8. 8 Muhammad SAW dalam praktek pembebasan kaum tertindas di Mekkah seperti memerdekakan budak. Dalam proses pendidikan pendidik menghargai pendapat peserta didik, tanpa membedakan dari mana asalnya. Pendidik dapat menimbulkan sikap saling menghargai pendapat di antara sesama peserta didik. Pendidik dalam memberikan ganjaran atau hukuman kepada peserta didik harus yang bersifat mendidik, karena dengan cara yang demikian akan tercipta situasi dan kondisi yang demokratis dalam proses belajar mengajar. C. Konsep Fitrah dan Kebebasan dalam Pendidikan Islam Kata fitrah berasal dari kata "fathara" (menciptakan), kata “fitrah” merupakan isim masdar, berarti sifat dasar yang telah ada pada saat diciptakannya atau "asal kejadian". Pendapat Al-Gazali mengenai fitrah yakni bahwa arti fitrah adalah beriman kepada Allah SWT yaitu mengakui ke EsaanNya, yang mana kata fitrah dalam pandangan Islam dinamakan dengan ketauhidan, karena manusia diciptakan atas dasar iman(tauhid). Sebagaimana dalam hadist nabi berikut, Artinya:” dari abu hurairah, nabi saw. Bersabda :” setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya kedua orangtuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi”
  9. 9. 9 Fitrah dapat diartikan sebagai suatu dorongan ingin tahu kepada kebenaran yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu dorongan untuk mencari kebenaran tersebut, diberikan kepada setiap individu. Adapun fitrah dari segi pandangan pendidikan diartikan sebagai “potensi”. Manusia sebagai makhluk paedagogik yang diciptakan Allah swt. Terlahir membawa potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi, sebagai pendukung dan pengembang kebudayaan yang mana mereka dilengkapi dengan fitrah Allah berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Menurut Ibnu Taimiyah membagi fitrah manusia kepada dua bentuk, yaitu: 1. Fitrah al gharizat Merupakan potensi dalam diri manusia yang dibawanya sejak lahir. Bentuk fitrah ini berupa nafsu, akal, dan hati nurani. Fitrah (potensi) ini dapat dikembangkan melalui jalan pendidikan. 2. Fitrah al munazalat Merupakan potensi luar manusia. Adapun fitrah ini adalah wahyu ilahi yang diturunkan Allah untuk membimbing dan mengarahkan fitrah al gharizat berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif. Semakin tinggi interaksi antara kedua fitrah tersebut, maka akan semakin tinggi pula kualitas manusia.
  10. 10. 10 Potensi manusia yang dapat dididik dan mendidik memiliki kemungkinan untuk berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya dapat melampaui kemampuan maupun perkembangan fisiknya yang tidak berkembang, maka dari itu demi berkembangnya potensi tersebut maka perlu lah dikembangkan dan pengembangan tersebut senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan, di dalam proses pendidikan itulah maka potensi tersebut akan berkembang sebagaimana mestinya. Oleh karena itu pendidikan Islam bertugas membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia tersebut sehingga terbentuk seorang yang berkepribadian muslim. Adapun kebebasan dalam pendidikan Islam, bahwasanya pendidikan Islam memberi kebebasan untuk memilih, karena kebebasan merupakan syarat mutlak untuk pengembangan potensi fitrah manusia serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, akan tetapi Kebebasan bukan sesuatu yang sederhana, kebebasan mengandung resiko yang besar. Dalam Islam Allah telah mempertaruhkan tentang kebebasan, termasuk kebebasan memilih yang baik, dan yang tidak baik. Karena hanya manusia makhluk Tuhan yang berani bertaruh untuk memikul tanggung jawab ini. Karena itu kebebasan yang diberikan oleh Allah kepada manusia harus dimanfaatkan secara bijaksana dan konstruktif atau bersifat membina. Sebagaimana firman Allah swt. Berikut,
  11. 11. 11 Artinya :”tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Karena adanya kebebasan maka manusia memiliki dinamika dan daya adaptasi terhadap lingkungan serta daya kreatifitas hidup sehingga kehidupan dan lingkungan hidupnya menjadi bervariasi dengan memilih jalan yang tepat agar nantinya semua pilihan, penentuan dan tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu berakibat baik dan menguntungkan bagi manusia itu sendiri. Adapun kebebasan tersebut terbatas, sebagaimana petunjuk yang Allah berikan melalui agama, di dalam petunjuk (Alquran) tersebut diungkapkan beberapa batasan serta akibat-akibatnya, dengan adanya kebebasan dan petunjuk yang diterima maka akan mudah dalam mencapai kesempurnaan hidup. D. Wanita (Kesetaraan dalam Pendidikan Islam) Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan baik sebagai manusia, maupun sebagai muslimah di dalam undang-undang, untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya. Apa yang dapat dicita- citakan kaum laki-laki, maka kaum wanitapun dapat mencita-citakannya.
  12. 12. 12 Sebagaimana ayat Alquran berikut, ...... .... Artinya:”... bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. ...” Dari pengertian ayat tersebut, maka jelaslah adanya emansipasi(persamaan hak antara laki-laki dan perempuan) dalam terjun keberbagai usaha termasuk mengikuti program pendidikan sesuai dengan fitrah dan kemampuannya. Adanya persamaan hak dalam pendidikan bagi wanita dapat dilihat pada hadis nabi berikut, ” menuntut Ilmu pengetahuan itu adalah kewajiban bagi setiap muslim pria dan wanita.” Senada dengan hadis tersebut, Diriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwa rasulullah saw. Bersabda:”barangsiapa mengurus suatu urusan anak-anak perempuan ini lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari siksaan neraka. (HR. Bukhari dan Muslim).
  13. 13. 13 Maka dari itu dalam lapangan pendidikan wanita berhak mendapat pendidikan dan pengajaran, mulai dari pra sekolah, sampai kepada perguruan tinggi, dan memilih berbagai jurusan, serta memperdalam dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, sesuai dengan bakat dan kemampuannya. E. Pembentukan Masyarakat Islam Pertama (Sebuah Ilustrasi) Mengenai masyarakat yang Islami, maka akan terbayang pada masyarakat Islam pertama di Madinah pada awal-awal perkembangan Islam dibawah bimbingan dan kepemimpinan dari Rasulullah saw. dimana beliau benar-benar berhasil membangun masyarakat yang madani, yang belum ada duanya di dunia ini. Di Madinah Rasulullah telah mencontohkan dan membuktikan serta memperlihatkan kepada seluruh dunia tatanan masyarakat yang sempurna, dimana seluruh anggota masyarakat yang heterogen (beraneka ragam) itu hidup damai, sejahtera, saling tenggang rasa, aman dan saling mencintai hidup rukun berdampingan walaupun mereka berbeda suku, bangsa, keyakinan dan ideologi. Pembentukan masyarakat Islami untuk pertama kalinya, dikerjakan sendiri oleh Rasulullah saw. Beliau memberi pelajaran kepada semua ummatnya bagaimana seharusnya masyarakat Islam itu terbentuk, langkah- langkah apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membina masyarakat Madinah yang heterogen itu, menjadi satu keluarga besar, yang
  14. 14. 14 memperhatikan seluruh anggota masyarakatnya tanpa memandang asal suku dan kabilahnya. Itulah keluarga Islam "masyarakat Islam". Berikut penjelasan beberapa langkah praktis yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membentuk masyarakat Islam sebagai berikut, 1. Membangun mesjid Di dalam masyarakat Islam mesjid berkedudukan sebagai pusat pembinaan mental spiritual dan phisik material, tempat berhubungan dengan Tuhan sepanjang zaman, yang akan melahirkan hubungan yang kokoh antara hamba dengan Tuhannya dan akan menjadi sumber kekuatan individu-individu muslim. Bagaimana tidak kaum muslimin diwajibkan melakukan kejama'ahan shalat fardu yang lima di mesjid-mesjid, dan shalat jum'at berjama'ah setiap minggu. Kejam'ahan shalat di mesjid inilah yang akan membentuk jama'ah (masyarakat) Islam yang solid, menjadi kultur (adat istiadat) perkampungan kaum muslimin, sehingga terwujud masyarakat yang "la khaufun 'alaihim walahum yahzanun". Selain itu mesjid bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, tetapi juga menjadi sekolah bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran dan bimbingan-bimbingan Islam, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa Jahiliyah, sebagai tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.
  15. 15. 15 Kemudian diantara sistem dan prinsip Islam adalah tersebarnya mahabba dan ukhuwah sesama kaum muslimin, tetapi ikatan ini tidak akan terjadi kecuali dalam mesjid, dengan bertemunya kaum muslimin berkali- kali dalam sehari dimana kedudukan, kekayaan dan status sosial lainnya terhapuskan. 2. Pembinaan melalui persaudaraan kaum muslimin (kaum anshar dan muhajirin) Sebagai langkah selanjutnya, Rasulullah mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar. Sebab masyarakat manapun, tidak akan berdiri tegak, kokoh tanpa adanya kesatuan dan dukungan anggota masyarakatnya. Sedangkan dukungan dan kesatuan tidak akan lahir tanpa adanya persaudaraan dan saling mencintai. Suatu masyarakat yang tidak disatukan oleh tali ikatan kasih sayang dan persaudaraan yang sebenarnya, tidak mungkin bersatu pada satu prinsip. Persaudaraan itu harus didasari oleh aqidah yang menjadi idiologi dan faktor pemersatu. Oleh sebab itu Rasulullah menjadikan aqidah Islamiyah yang bersumber dari Allah swt. Sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabatnya. 3. Perjanjian kaum muslimin dengan orang-orang di luar Islam (piagam madinah) Setelah Rasulullah mengokohkan persatuan kaum Muslimin, dan telah berhasil memancangkan sendi-sendi masyarakat Islam yang baru, dengan menciptakan kesatuan aqidah, politik dan sistem kehidupan di
  16. 16. 16 antara orang-orang Muslim, maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan perjanjian damai kepada golongan atau pihak di luar Islam. Secara garis besar perjanjian antara rasulullah dengan golongan di luar Islam yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah, dapat disebutkan empat prisip hukum yang terkandung di dalamnya, yaitu : Pertama, pada pasal pertama disebutkan bahwa Islam adalah satu- satunya faktor yang dapat menghimpun kesatuan kaum muslimin dan menjadikan mereka satu ummat. Semua perbedaan akan sirna di dalam kerangka kesatuan yang integral ini. Ini merupakan asas pertama yang harus diwujudkan untuk menegakkan masyarakat Islam yang kokoh dan kuat. Kedua, Pada pasal kedua dan ketiga disebutkan bahwa di antara ciri khas terpenting dari masyarakat Islam ialah, tumbuhnya nilai solodaritas serta jiwa senasib dan sepenanggungan antar kaum Muslimin. Setiap orang bertanggungjawab kepada yang lainnya baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Ketiga, Pada pasal keenam disebutkan betapa dalamnya asas persamaan sesama kaum muslimin. Ia bukan hanya slogan, tetapi merupakan salah satu rukun syari'at yang terpenting bagi masyarakat islam yang harus diterapkan secara detil dan sempurna. Ini berarti bahwa jaminan seorang Muslim, siapapun orangnya, harus dihormati dan tidak boleh diremehkan. Keempat, Pada pasal kesebelas disebutkan bahwa hakim yang adil bagi kaum Muslimin, dalam segala perselisihan dan urusan mereka, hanyalah
  17. 17. 17 syari'at dan hukum Allah swt yaitu apa yang terkandung di dalam kitab Allah swt dan sunnah Rasul-Nya. Jika mereka mencari penyelesaian bagi problematika mereka kepada selain sumber ini maka mereka berdosa dan terancam kesengsaraan di dunia dan siksa Allah swt di akhirat. Adapun ciri-ciri masyarakat Islam yang ideal adalah diantaranya sebagai berikut, 1. Masyarakat yang dibangun atas dasar tiang iman kepada Allah, Nabi, Rasul, kitab-kitab samawi, hari kiamat, hari kebangkitan, perhitungan dan pembalasan. 2. Masyarakat yang memandang tinggi nilai-nilai akhlak serta tata susila,dan memberikan perhatian utama terhadap ilmu dan pendidikan. 3. Masyarakat yang saling hormat menghormati jga saling menghargai (toleransi) dan lain-lain
  18. 18. 18 BAB III PENUTUP Kesimpulan Agama Islam sangat mewajibkan akan pendidikan atau menuntut ilmu pengetahuan kepada seluruh kaum muslimin baik pria maupun wanita sepanjang hidupnya, sejak lahir sampai meninggal dunia. Dan agama Islam juga memberikan kesempatan yang sama bagi semua penganutnya untuk mendapatkan pendidikan atau belajar. Sebagaimana hadis nabi tentang kewajiban menuntut ilmu itu wajib bagi laki-laki dan perempuan bahwa kewajiban menuntut ilmu itu terletak pada pundak muslim laki-laki dan perempuan, tanpa kecuali dan tidak ada seorangpun yang tidak mendapatkan pendidikan. Fitrah dapat diartikan sebagai suatu dorongan ingin tahu kepada kebenaran yang dibawa sejak lahir. Fitrah dari segi pandangan pendidikan diartikan sebagai “potensi” Menurut Ibnu Taimiyah membagi fitrah manusia kepada dua bentuk, yaitu: a. Fitrah al gharizat b. Fitrah al munazalat Kebebasan dalam pendidikan Islam, bahwasanya pendidikan Islam memberi kebebasan untuk memilih, karena kebebasan merupakan syarat mutlak untuk pengembangan potensi fitrah manusia serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
  19. 19. 19 Dalam lapangan pendidikan wanita berhak mendapat pendidikan dan pengajaran, mulai dari pra sekolah, sampai kepada perguruan tinggi, dan memilih berbagai jurusan, serta memperdalam dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Pembentukan masyarakat Islami untuk pertama kalinya, dikerjakan sendiri oleh Rasulullah saw. Beberapa langkah praktis yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membentuk masyarakat Islam sebagai berikut, a. Membangun mesjid b. Pembinaan melalui persaudaraan kaum muslimin (kaum anshar dan muhajirin) c. Perjanjian kaum muslimin dengan orang-orang di luar Islam (piagam madinah)
  20. 20. 20 DAFTAR PUSTAKA Ali, H.B Hamdani, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta, Kota Kembang, 1986. Arifin, H.M, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Akasara bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag, 1992. Chabib Thoho, HM., Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 1996. Djafar, Muhammad, Membina Pribadi Muslim, Jakarta, Kalam Mulia, 1994. Drajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, Cet. IV, 2000. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Jakarta, PT Al-Husna Zikra, Cet. III, 1995, http://gagaskarya.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-manusia-dalam-pendidikan- islam/. diakses pada 4 april 2012, 09:45 am. http://www.stidnatsir.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=112 :pembinaan masyarakat-di-masa-rasulullah-saw-sebuah-tatanan- masyarakat-modren-pertama-di-dunia&catid=29:artikel&Itemid=86 diakses pada 14 april 2012 08:55 Ibnu Rusn, Abidin, Pemikiran Al-Gazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1998. Juhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1992. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, Cet. VI, 2008. Syuqqah, Abu, Jati Diri Wanita Menurut Alquran dan Alhadis, Bandung, Al- Bayan, Cet. II, 1994. Zainuddin, dkk., Seluk-beluk Pendidikan dari Al-Gazali, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

×