Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
ANTARA                  TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN IPS                            DI INDONESIA**                      ...
2   Kini reformasi sudah berlangsung sekitar 12 tahun. Upaya-upaya untuk memperbaikikualitas pendidikan ternyata belum mem...
3dilihat pada kejayaan nilai-nilai budaya dan bangunan Hindu-Budha, Wali Songo dannilai-nilai budaya masa Kerajaan Islam. ...
4Pengaruh Kapitalis Liberal ala Neoklasik       Relevan dengan uraian di atas, mengingatkan kita kepada sistem pendidikan ...
5pembangunan, menjadi terabaikan. Oleh karena itu krisis ekonomi dan moneter menjadiberkepanjangan, sehingga berlanjut men...
6sebenarnya merupakan pelajaran yang cukup komprehensif yang dapat menjadi salah satuinstrument untuk ikut memecahkan masa...
7menghargai, kerjasama, tanggung jawab. Terkait dengan ini, maka dalam pengembanganpendidikan karakter di sekolah,     gur...
8      Proses pembelalajaran IPS, harus dibangun sebagai sebuah proses transaksi kulturalyang harus mengembangkan karakter...
9pelaksanaannya justru terseret oleh arus Hellinisme, kapitalis liberal ala neoklasik yangsemakin mengkerdilkan makna pend...
10Nana Syaodih Sukmadinata, 1996. “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi dalam   Era Globalisasi: Suatu Kajian”, Makala...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tujuan dan social_studies

3,886 views

Published on

  • Be the first to comment

Tujuan dan social_studies

  1. 1. ANTARA TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN IPS DI INDONESIA** Oleh Sardiman AM (0811255660)Pendahuluan Menelaah tentang rumusan tujuan pendidikan nasional dikaitkan denganpenyelenggaraan pendidikan IPS di lapangan, sangatlah menarik. Dengan telaah inidiharapkan kita semua menjadi sadar tujuan, bahwa setiap aktivitas pendidikan yang kitalakukan itu perlu memperhatikan bagaimana arah dan tujuan yang telah ditetapkan.Tetapi kenyataannya jarang yang demikian. Di Indonesia, para pelaku pendidikan disekolah lebih banyak memperhatikan isi materi atau SK dan KD. Akibatnya, pedidikanitu kurang bermakna bagi kehidupan. Kenyataan itu menunjukkan bahwa kondisi pendidikan kita masih belum seperti yangdiharapkan. Pemerintah memang telah melakukan berbagai perbaikan, misalnya: adanyapeningkatan anggaran pendidikan, pembudayaan IT, adanya sekolah berstandarinternasional, dilaksanakannya ujian nasional (sekalipun ada pro dan kontra), programsertifikasi guru (yang belum sepenuhnya memenuhi sasaran sebagai upaya peningkatankualitas), juga adanya penyempurnaan kurikulum terkait dengan dikeluarkannya Permenno. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, dan Permen no. 23 tentang Standar KompetensiLulusan (SKL), yang kemudian melahirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP), termasuk sudah barang tentu untuk mata pelajaran IPS. Namun kenyataannya,perbaikan Standar Isi untuk bidang IPS belum begitu memuaskan bila dikaitkan denganhakikat pembelajaran IPS yang sesungguhnya. Pelajaran IPS tetap dipandang sebagaihal yang tidak penting dan disepelekan, oleh masyarakat, karena tidak di UN-kan.Pelajaran IPS terlalu sarat materi, bersifat kognitif dan hafalan. Karena bersifat hafalan,pembelajaran IPS menjadi menjemukan, tidak menarik dan justru dipandang sebagaibeban bagi peserta didik.
  2. 2. 2 Kini reformasi sudah berlangsung sekitar 12 tahun. Upaya-upaya untuk memperbaikikualitas pendidikan ternyata belum membuahkan hasil yang signifikan. Karena derasnyapengaruh lingkungan, kegiatan pendidikan umunya menghadapi kesulitan dalammembina peserta didik menjadi generasi muda yang cerdas dan sekaligus beriman,berakhlak mulia, serta berkepribadian Pancasila. Mengapa demikian, adakah yang salahdengan pendidikan kita? Dari pertanyaan-pertanyaan ini marilah kita membuat refleksi.Di Antara Dua Aliran Secara historis, bangsa Indonesia sejak era pra aksara sudah merintis perikehidupanyang menganut paham sosialisme-religius. Nilai-nilai dalam paham itu kemudian diakuisebagai bagian dari nilai-nilai keindonesiaan, yang oleh Bung Karno digali dandirumuskan menjadi bagian dari sila-sila Pancasila. Hal ini dapat dikatakan bahwaaslinya bangsa Indonesia itu memang religius. Oleh karena itu, para founding fatherstelah merumuskan rambu-rambu penyelenggaraan pendidikan juga tidak dapatmelepaskan dari aspek keagamaan. Sebagai bukti dapat kita lihat pada berbagai rumusantujuan pendidikan nasional. Sebagai contoh pada UU No. 20, tahun 2003 tentangSisdiknas, dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuandan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didikagar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggung jawab. Mencermati rumusan tujuan pendidikan tersebut, jelas ada keinginan besar agarkegiatan pendidikan melahirkan insan-insan yang seimbang antara kehidupan jasmanidan rohaninya, sebagai gambaran manusia Indonesia seutuhnya. Dalam bahasa yang lain,rumusan tujuan pendidikan nasional kita itu berada dia antara dua kontinum pahambudaya, Semitisme dan Hellenisme. (lih. M. Numan Soemantri, 2001: 3-4). BudayaSemitisme merupakan budaya yang memandang bahwa ”keimanan” lebih penting dari”pikiran” dan aktivitas fisik manusia. Kebenaran dan kepastian ditentukan oleh agama.Pengaruh dari budaya Semitisme ini dapat membangkitkan ruh pengembangan IPTEKSyang warisannya dapat disaksikan seperti di Andalusia (Spanyol). Di Indonesia dapat
  3. 3. 3dilihat pada kejayaan nilai-nilai budaya dan bangunan Hindu-Budha, Wali Songo dannilai-nilai budaya masa Kerajaan Islam. Sebaliknya budaya Hellinisme berpandanganbahwa pikiran manusia itu lebih penting dan menentukan, dibanding dengan ”keimanan”.Oleh karena itu, kebenaran tidak tergantung pada agama dan keimanan. KulturHellenisme ini telah mendorong berkembangnya rasionalisme, dan individualisme yangmelepaskan diri dari ikatan teologi. Transendensi diingkari dan imanensi menjadi mutlak.Spiritualisme rontok dan sekularisme merajalela. Format budaya ini memang telahberhasil membawa kemajuan yang begitu spektakuler di bidang sains, teknologi danseni, sehingga meningkatkan kebudayaan materiil sampai sekarang. Begitu juga bidangpendidikan telah terkena derasnya aliran Hellenisme. Namun bagi masyarakat Indonesiamenyadari betul bagaimana nilai-nilai keagamaan itu telah mengakar, sehingga para ahlipendidikan di Indonesia merumuskan tujuan pendidikan nasional secara seimbang antaraaspek fisik kebendaan dengan aspek-aspek psikis keruhanian. Sekalipun perkembanganpendidikan dunia telah dikuasai dan diwarnai oleh kekuatan Hellinisme, namun rumusantujuan pendidikan nasional di Indonesia tetap berlandaskan pada nilai-nilai moralspiritual, dengan menyeimbangkan aspek-aspek duniawi maupun ukhrowi. Rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia, merupakan tujuan pendidikanyang paling lengkap. Namun dalam praktek penyelenggarannya jauh dari ideal.Rumusan tujuan pendidikan nasional yang begitu komprehensif itu tidak sepenuhnyadipedomani. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia lebih pragmatis dengan tetapmenekankan pada penguasaan materi ajar. Pendidikan di Indonesia lebih banyak melatihotak kiri, sehingga pendidikan kita bersifat intelektualistik. Kurikulum yang dipandangsebagai komponen vital dalam keseluruhan sistem pendidikan, nampaknya belummenjadi instrumen efektif bagi terwujudnya pendidikan nasional yang ideal. KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga masih akrab dengan paradigma esensialisme(Wayan Lasmawan, 2009: 1). Implikasi dari pradigma ini, maka para pelaku pendidikandi sekolah, target yang dikejar adalah menaikkan kelas semua peserta didik danmeluluskan sebanyak-banyaknya, sebagai bentuk kepuasan sesaat.
  4. 4. 4Pengaruh Kapitalis Liberal ala Neoklasik Relevan dengan uraian di atas, mengingatkan kita kepada sistem pendidikan yangdipengaruhi oleh ideologi kapitalis liberal dan neoklasik. Penyelenggaraan pendidikandi suatu negara, termasuk Indonesia, memang tidak dapat terlepas dari main streampandangan ideologi yang sedang berkembang. Pada masa Orde Baru, sekalipun secararesmi ideologi Pancasila, tetapi dengan format pembangunan fisik dan ekonomi, telahmengantarkan kepada kecenderungan ideologi kapitalis liberal ala neoklasik (SultanHamengku Buwono X, 2006: 10-11). Menurut ideologi kapitalis liberal ala neoklasikini, sumber daya manusia merupakan output untuk modal utama pembangunan. SDMini sangat diperlukan untuk dipekerjakan sebagai instrumen teknostruktur di sektormoderen. Dalam hal ini SDM ini cenderung dijadikan mesin pekerja pembangunan,sehingga mereduksi nilai manusia menjadi sekedar alat pembangunan, "alat alatindustri." Sistem pendidikan ala Neoklasik merupakan proses halus dehumanisasi SDMyang dibungkus dengan retorika pembangunan dan dapat menggiring kepadakomersialisasi pendidikan di berbagai jenjang. Berbagai aktivitas pendidikan dikemasbagaikan perusahaan dengan mempertimbangkan untung rugi. Lembaga pendidikanyang paling baik adalah yang SDM lulusannya paling laku di dunia kerja. Implikasi darisistem penyelenggaraan pendidikan yang demikian itu, akan lebih banyak menghasilkanlulusan yang cenderung berpikir instan. Mereka itu lebih pragmatis- rasionalistis yangkadang tanpa akal budi. Pembangunan di era Orde Baru tidak sedikit melahirkan SDM yang berpikir instan,termasuk produk-produk tenaga kependidikan. Masyarakat cenderung berilaku pragmatisdan mengorbankan idealisme sebagai warga bangsa. Bidang pendidikan yang merupakankegiatan investasi masa depan, kurang mendapatkan porsi sebagaimana mestinya.Pendidikan lebih berorientasi pada inovasi dan eksperimentasi yang bersifat teknologis.Kemajuan dan kualitas masyarakat lebih diartikan sebagai perubahan dalam penggunaanalat-alat teknologi ketimbang kemajuan dan kualitas dalam arti tujuan kehidupan yangasasi. (Sodiq A. Kuntoro, 2008:4) Pendidikan kita lebih berorientasi kekinian, dari padamasa depan. Sebab dalam praktiknya peserta didik yang dipikir adalah praktisnya, yangpenting dapat mengerjakan soal, rapornya baik dan naik kelas, NEM nya baik dan lulus.Aspek-aspek moral dan karakter yang merupakan unsur fundamental dari kegiatan
  5. 5. 5pembangunan, menjadi terabaikan. Oleh karena itu krisis ekonomi dan moneter menjadiberkepanjangan, sehingga berlanjut menjadi krisis multidimensional yang kemudianbermetamorfosis menjadi krisis intelektual dan hati nurani atau krisis akhlak dan moral(Soemarno Soedarsono, 2009: 115). Bidang pendidikan yang sebenarnya merupakanaspek fundamental dalam memperkokoh karakter dan jati diri bangsa tidak dapatberlangsung dengan baik. Oleh karena itu, sangat tepat apa yang telah dicanangkanpemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tentang pendidikan budaya dankarakter bangsa. Dengan program pendidikan budaya dan karakter bangsa ini, diharapkandapat mengurai berbagai permasalahan, baik yang terkait dengan penyelenggaraanpendidikan maupun kegiatan pembangunan pada umumnya. Program pendidikan budayadan karakter bangsa ini merupakan manifestasi dari pelaksanaan pendidikan yangsesuai dengan tujuan pendidikan nasional.Posisi Pendidikan IPS Bagaimana posisi dan peran pendidikan IPS dalam pengembangan pendidikankarakter seperti diamantakan tujuan pendidikan nasional? Di Indonesia, IPS merupakankajian yang menunjuk pada ujud keterpaduan dari pembelajaran ilmu-ilmu sosial(integrated social sciences) (lih. Zamroni, 2010: 7). Jadi sifat keterpaduan ini menjadiciri pokok mata kajian yang disebut IPS. Oleh karena itu, S. Hamid Hasan (2010: 1)menegaskan bahwa IPS adalah studi integratif tentang kehidupan manusia dalamberbagai dimensi ruang dan waktu dengan segala aktivitasnya. Sementara itu kalaumengacu pada kajian Social Studies, National Council for Social Studies (NCSS)dijelaskan bahwa: "Social studies are the integrated study of the social sciences and humanities topromote civic competence. Within the school program, social studies providescoordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology,archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science,psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities,mathematics, and the natural sciences. The primary purpose of social studies is to helpyoung people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the publicgood as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world “(1994: 3). . Hakikat IPS dalam pengertian yang terpadu inilah yang diajarkan di tingkatpendidikan dasar (SD dan SMP). Dengan pengertian itu menunjukkan bahwa IPS
  6. 6. 6sebenarnya merupakan pelajaran yang cukup komprehensif yang dapat menjadi salah satuinstrument untuk ikut memecahkan masalah-masalah sosio-kebangsaan di Indonesia.Kalau demikian apa tujuan pembelajaran IPS itu? Tujuan pembelajaran IPS, secaraumum dapat dirumuskan antara lain untuk mengantarkan, membimbing danmengembangkan potensi peserta didik agar : (1) menjadi warga negara (dan juga wargadunia) yang baik; (2) mengembangkan pemahaman mengenai pengetahuan dasarkemasyarakatan , (3) mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan penuh kearifandan keterampilan inkuiri untuk dapat memahami, menyikapi, dan mengambil langkah-langkah untuk ikut memecahkan masalah sosial kebangsaan, (4) membangun komitmenterhadap nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai serta ikut mengembangkan nilai-nilailuhur dan budaya Indonesia, dan (5) mengembangkan kemampuan berkomunikasi danbekerja sama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, baik lokal, regional maupuninternasional. Memahami uraian tentang pengertian dan tujuan pembelajaran IPS di atas,nampaknya sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yangdapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti(lih. juga Darmiyati Zuchdi, 2008: 5) itu, memiliki arah dan tujuan yang sama dengantujuan pembelajaran IPS, yakni sama-sama bertujuan agar peserta didik dan warga belajarpada umumnya menjadi warga negara yang baik. Bahkan secara tegas Gross menyatakanbahwa Values Education as social studies “to prepare students to be well-fungtioningcitizens in democratic society” (dikutip dari Hamid Darmadi, 2007: 8). Dalam kontekstujuannya, keduanya memiliki banyak persamaan. Pembelajaran IPS diarahkan untukmenjadikan warga negara yang baik, melahirkan pelaku-pelaku sosial yang cerdas, arifdan bermoral. Dalam konteks pendidikan karakter, para peserta didik dengan potensiyang dimilikinya, difasilitasi untuk mengembangkan perilaku jujur, bertanggung jawab,santun, kasih sayang dan saling menghormati, berlatih berpikir kritis dan kreatif, percayadiri dan membangun kemandirian; memiliki semangat kebangsaan, dan bangga terhadaphasil karya budaya bangsa sendiri. Thomas Lickona (2000: 48) menyebutkan beberapanilai kebaikan yang perlu dihayati dan dibiasakan dalam kehidupan peserta didik agartercipta kehidupan yang harmonis di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.Beberapa nilai itu antara lain: kejujuran, kasih sayang, pengendalian diri, saling
  7. 7. 7menghargai, kerjasama, tanggung jawab. Terkait dengan ini, maka dalam pengembanganpendidikan karakter di sekolah, guru harus juga bekerja sama dengan keluarga atauorang tua/wali peserta didik. Bahkan menurut Cletus R. Bulach (2002: 80), orang tuadan guru perlu membuat kesepakatan tentang nilai-nilai utama apa yang perludibelajarkan misalnya: respect for self, others, and property; honesty; self-control/discipline. Uraian tersebut, menunjukkan begitu eratnya anatara makna pembelajaran danpendidikan IPS dengan tujuangn pengembangan pendidikan karakter. Dengan demikiandapat ditegaskan bahwa apabila pembelajaran IPS itu dilaksanakan sesuai denganmaksud dan tujuan pembelajaran IPS yang sebenarnya, maka proses pembelajaran itusecara tidak langsung merupakan proses pendidikan karakter. Pembelajaran IPS dapatberperan sebagai pendidikan nilai atau pendidikan karakter, karena dalam pembelajaranIPS juga membelajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai keindonesiaan. Pembelajaran IPS juga dapat menjadi kerangka untuk memantapkan rekayasasosial dalam pendidikan karakter. Bagaimana dalam proses pendidikan dan pembelajaranitu diarahkan agar peserta didik menjadi warga negara yang baik, dilatih untukmemahami aspek-aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa atas dasar nilai danmoralitas, memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Semuanya ini jelas terkaitdengan pendidikan karakter bangsa. Agar pembelajaran IPS itu dapat berperan dan menjadi instrumen penting bagipengembangan pendidikan karakter, maka perlu dilakukan pembenahan-pembenahanmendasar oleh para pelaku pendidikan dan institusi yang mengelola pendidikan IPS.Program pendidikan IPS harus menempatkan UU Sisdiknas terutama pasal 3 tentangtujuan pendidikan nasional sebagai rujukan utama dalam penyelenggaraan sistempendidikan nasional secara utuh. Penyelenggaraan pendidikan selama ini telahkehilangan ruh dan aspek moralitas, sehingga tidak jarang melahirkan kultur yang tidaksehat. Muncullah perilaku ketidakjujuran dalam pendidikan, seperti yang terjadi kasuspada UN, ijazah palsu, perjokian, plagiat, lemahnya internalisasi nilai kebaikan danterfragmentasikannya ranah-ranah pendidikan yang lebih didominasi ranah kognitif(ALPTKI, 2009: 2)
  8. 8. 8 Proses pembelalajaran IPS, harus dibangun sebagai sebuah proses transaksi kulturalyang harus mengembangkan karakter sebagai bagian tak terpisahkan dari pengembanganIPTEKS pada umumnya. Pelaksanaan pendidikan IPS saat ini yang lebih didominasioleh praktik pendidikan di tingkat individual yang cenderung kognitif-intelektualistik,perlu diarahkan kembali sebagai wahana pembelajaran masyarakat, wahanapengembangan pendidikan karakter bangsa, sebagai proses pembangunan kecerdasan,akhlak dan kepribadian warga belajar secara utuh sesuai dengan tujuan pendidikannasional. Dalam mendeisain kurikulum pendidikan IPS, termasuk dalam prosespembelajarannya, harus juga berangkat dari hakikat dan karakter peserta didik, bukanberorientasi pada materi semata (lih. Wayan Lasmawan, 2010: 2). Pendekatanesensialisme sudah saatnya untuk dimodifikasi dengan teori rekonstruksi sosial yangmengacu pada teori pendidikan interaksional (Nana Syaodih Sukmadinata, 1996: 6).Sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan kehidupan masyarakat, pembelajaranIPS harus dikembalikan sesuai dengan khitah konseptualnya yang bersifat terpadu yangmenekankan pada interdisipliner dan trasdisipliner, dengan pembelajaran yangkontekstual dan transformatif, aktif dan partisipatif dalam perpektif nilai-nilai sosialkemasyarakatan. Sesuai dengan maksud dan tujuannya, pembelajaran IPS harusmemfokuskan perannya pada upaya mengembangkan pendidikan untuk menjaminkelangsungan hidup masyarakat dan lingkungannya secara bermartabat.Penutup Tujuan pendidikan nasional dirumuskan berdasarkan nilai-nilai dasar kehidupanbangsa Indonesia. Dalam perkembangannya, rumusan itu semakin dimantapkan dengansekaligus sebagai respon dan jawaban atas dominasi dua main stream ideologi pemikiranSemitisme dan Hellenisme. Hellenisme dengan cepat merajai perkembangan pola pikirmanusia sedunia, bahkan kekuatannya semakin dahsyat setelah mendapat polesan darikapitalis neoklasik. SDM hasil lulusan institusi pendidikan sekedar teknisi dan mesinpekerja yang tereduksi harkat dan martabatnya sebagai manusia makhluk palingsempurna di jagad raya. Sekalipun para pemuka bangsa telah merumuskan tujuanpendidikan itu lebih menekan pembentukan karakter dan kepribadian bangsa. Namun
  9. 9. 9pelaksanaannya justru terseret oleh arus Hellinisme, kapitalis liberal ala neoklasik yangsemakin mengkerdilkan makna pendidikan nasional yang ditandai dengan pendidikanserba instan dan lunturnya nilai-nilai karakter bangsa. Program pendidikan budaya dankarakter bangsa yang terus digalakkan oleh pemerintah, diharapkan dapatmengembalikan proses pendidikan ke jalan yang lurus, sesuai dengan amanat tujuanpendidikan nasional. Pendidikan dan pembelajaran IPS memiliki peran penting dalammenopang proses pendidikan budaya dan katakter bangsa. Pendidikan karakter danpendidikan IPS sama-sama seiring sejalan untuk menciptakan suasana yang kodusifsehingga tercipta budi pekerti luhur dan berkembangnya nilai-nilai keindonesiaan dalamkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. DAFTAR PUSTAKAALPTKI, 2009. Pemikiran tentang Pendidikan Karakter dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional, Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.Bulach, Cletus R., 2002. “Implementing a Character Education CurricuAssessing Its Impact on Student Behavior”, ProQuest Education Journal, Dec.2002.Darmiyati Zuchdi, 2008. Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan Yang Manusiawi, Jakarta: Bumi Aksara.Doni Koesoema A. 2007. Pendidikan Karakter, Jakarta: Grasindo.Hamengku Buwono X, (2006), “Paradigma Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial, Pendekatan Teoritik dan Empirik”, Makalah, sebagai Keynote Speech dalam Seminar Internasional HISPISI-FISE UNY, Yogyakarta, 11 Agustus 2006.Hamid Darmadi, (2007). Konsep Dasar Pendidikan Moral, Bandung: Alfabeta.Lickona, Thomas, 2000. “Talks About Character Education”, wawancara oleh Early Chilhood Today”, ProQuest Education Journal, April, 2000, http://webcache.google usercontent.com., diunduh, 20 April 2010.Mastuhu, (2003). Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam abad 21, (Peny. M. Lukman), Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI UII.
  10. 10. 10Nana Syaodih Sukmadinata, 1996. “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi dalam Era Globalisasi: Suatu Kajian”, Makalah, disajikan dalam Seminar tentang Sistem Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Menyongsong Era Global oleh Pusbangkurandik-Balitbangdikbud. Jakarta: Balitbangdikbud.NCSS., (1994). Curriculum Standars for the Social Studies. Washington D.C.: National Council for the Social Studies.Numan Somantri, M. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS, Bandung: Rosda Karya.S. Hamid Hassan (2010), “Pendidikan IPS (Definisi,Tujuan, SKL, Konten, Proses dan Asesmen)” Panduan, Yogyakarta: HISPISI.Sodiq A. Kuntoro, 2008. “Sketsa Pendidikan Humanis Religius”, Makalah, disampaikan pada diskusi dosen FIP UNY, 5 April 2008.Soemarno Soedarsono, 2009. Karakter Mengantarkan Bangsa dari Gelab Menuju Terang. Jakarta: Kompas Gramedia.Wayan Lasmawan, 2009. ”Merekonstruksi Ke-IPS-an Berdasarkan Paradigma Teknohumanistik”, Makalah, disajikan pada Seminar tentang Pendidikan IPS oleh FIS Undiksa, 30 0ktober, 2009.Zamroni, (2010), ”Peran Ilmu-ilmu Sosial dalam Pembangunan Karakter Bangsa”, Makalah, disampaikan pada Seminar Internasional oleh HISPISI dan UNM di UNM Makasar, 13-14 Juli 2010.

×