KEPEMIMPINAN IMAM SYAFI'I

1,709 views

Published on

Published in: Spiritual
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,709
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
16
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

KEPEMIMPINAN IMAM SYAFI'I

  1. 1. KARAKTER KEPEMIMPINAN IMAM ASY-SYAFI’I MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Leadership Dosen Pengampu : Suaha Bahtiar Oleh : Biyah Siti Murbiyyah NIM:00501018 SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM (STEI) AL- ISHLAH CIREBON 2011
  2. 2. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segenap puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan karunia ide dan buah pikiran yang menuntun penulis meyelesaikan penyusunan makalah ini proses demi proses. Karena kemurahan-Nyalah, makalah ini sampai di tangan pembaca semua. Shalawat dan salam tidak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi tauladan bagi seluruh umat islam umumnya dan juga menjadi inspirasi tersendiri bagi penulis pada khususnya, mengingat sejarah beliau sebagai seorang pedagang sukses dengan berbagai keterampilannya berniaga. Selanjutnya, dalam kesempatan ini penulis ingin megucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada beberapa pihak yang telah memberi sokongan terhadap penyelsaian makalah ini, diantaranya: Drs. Eben Sahlan M.Si, selaku ketua STEI AL-ISHLA H Dra. Endah Nurhawaeny, selaku ketua prodi Ir. Suaha Bahtiar M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Leadership Rekan – rekan mahasiswa STEI AL –ISHLAH Ayahanda dan ibunda di rumah yan selalu men-suport setiap usaha dan langkah penulis. Penulis sadar, bahwa makalah ini masih mengandung banyak kekurangan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menantikan saran dan kritik yang konstrukif bagi penyusunan makalah berikutnya. Akhir kata, penulis berharap makalah ini menjadi salah satu rekreasi membaca yang menyenangkan dan dapat menambah wawasan kita semua. Selamat berekreasi. Cirebon, Februari 2011 Penulis
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ·················································································· i DAFTAR ISI ······························································································ ii BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ··············································································· 1 2. Tujuan ··························································································· 1 3. Sistematika Penulisan ···································································· 3 BAB II KEPEMIMPINAN IMAM ASY-SYAFI’I ··············································· 4 1. Riwayat Singkat Imam Asy-Syafi’i ··················································· 4 2. Gagasan Imam Asy-Syafi’i tentang Leadership ································ 2 3. Karakter Kepemimpinan Imam asy-Syafi’i······································· 5 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ···················································································· 11 2. Saran ···························································································· 11 DAFTAR PUSTAKA ················································································· 12
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kepemimpinan atau leadership adalah suatu seni untuk mempengaruhi orang lain agar melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Kepemimpinan adalah sebuah keahlian, kepiawaian mengatur keadaan, keterampilan mengatasi permasalahan menyangkut sebuah organisasi atau perkumpulan, serta kesanggupan untuk menjadi corong utama dari sebuah tindakan nyata. Dikatakan sebagai seni, karena teori kepemimpinan meskipun dapat dipelajari secara klasikal, tetapi tidak demikian dalam prakteknya. Kenyataan di lapangan adalah, teori kepemimpinan yang tercatat dalam buku tidak serta merta bersinergi dengan kondisi real di lapangan , tetapi akan selalu berbenturan dengan keadaan atau sekelompok orang yang dipimpin. Hal ini wajar mengingat entitas yang dipimpin adalah terdiri dari beberapa komponen heterogen dengan berbagai kepentingan yang heterogen pula. Hal lainnya adalah, teori kepemimpinan yang dipelajari secara kasikal lebih cenderung berisi deskripsi mengenai karakter kepemimpinan yang telah ditemukan dan dilakukan oleh para pemimpin yang sukses dari pada ide-ide segar tentang cara memimpin yang baik. Kepemimpinan merupakan keahlian yang bisa saja hadir seperti adanya ( Taken For Granted) dikarenakan talenta yang dimiliki seseorang. Meskipun demikian, tetap saja jiwa kepemimpian selalu didukung oleh beberapa factor internal pemimpin itu sendiri. Factor – faktor tersebut dapat berupa pengalaman, keahlian di bidang tertentu, riwayat pendidikan, lingkungan, dan tingkat pengetahuan serta keilmuan sang pemimpin. Seperti yang kita kenal, Imam Asy-Syafi’I adalah salah satu tokoh ulama yang fatwanya hingga sekarang masih diikuti sebagian umat
  5. 5. islam. Kharisma ketokohannya yang Faqih dan berperan sebagai Decision Maker dalam bidang ilmu Fiqih sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, dalam hal kepemimpinan, tidak banyak literature yang mengupas secara tuntas dan gamblang tentang karakter kepemimpinan Imam Asy-Syafi’i. Namun bukan berarti Imam Asy-Syafi’I tidak memiliki kepakaran di bidang ini. Hal ini lebih disebabkan pada spesifikasi fiqih yang beliau geluti mendominasi bidang yang lainnya. Atas dasar pemikiran itulah penulis mencoba mengupas sekelumit saja dari karakter kepemimpinan Imam Asy-Syafi’i dalam makalah ini. 2. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah karakter kepemimpinan Imam Ay-syafi’i dengan sudut pandang beliau sebagai seorang Decision maker dalam bidang ilmu fiqih. 3. Sistematika Penulisan Makalah ini diawali dengan pendahuluan yang menjelaskan garis besar ini malalah pada Bab I, dilanjutkan dengan Bab II yang menjelaskan karakter Kepemimpinan Imam Asy-syafi’I dan ditutup dengan Bab III yang menguraikan kesimpulan dan saran berdasarkan uraian makalah di awal
  6. 6. BAB II KEPEMIMPINAN IMAM ASY-SYAFI’I 1. Riwayat Singkat Imam Asy-Syafi’i Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah. Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset. Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam. Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya: 1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun. 2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
  7. 7. 3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i. 4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun. Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang dini. Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah: 1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah 2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri 3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i 4. Sufyan bin Uyainah 5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain. Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah: 1. Malik bin Anas 2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany 3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya; 1.Mutharrif bin Mazin 2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya. Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
  8. 8. 1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak. 2.Ismail bin Ulayah. 3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya. Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah: 1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin. 2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani 3. Ishaq bin Rahawaih, 4. Harmalah bin Yahya 5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi 6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab AlUmm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi. Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).
  9. 9. Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam AsySyafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula. Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.” Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).” Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.” Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan AtsTsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.” Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.” Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.” Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau
  10. 10. demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam AsySyafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.” Ada kata –kata hikmah dari beliau yang berbunyi: “Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”. (Sumber: Majalah As-Salam Pernah dimuat di www.Ahlussunnah-jakarta.org, diposting oleh Abu Amr di milis Artikel_salafy@yahoogroups.com, dengan perubahan) 2. Gagasan Imam Asy-Syafi’i tentang Leadership Bagi Imam Asy-Syai’i, pemimpin adalah tugas yang sangat berat. Pemikiran beliau tentang kepemimpinan dapat dilihat dari beberapa Staement beliau Bahwa Selain beratnya beban menjadi seorang pemimpin, ketika menjadi pemimpin nyaris tidak ada waktu untuk menuntut ilmu, seperti perkataan Imam Asy-Syafi’i berikut ini (yang artinya) : “Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dengan keadaan serba kekurangan. Aku dahulu untuk mencari sehelai kertas pun sangat sulit.” Dalam perkataannya yang lain, Imam Syafi’I menyatakan bahwa : “Tidak mungkin seorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan (dengan) harga diri yang tinggi, lalu ia beruntung. Akan tetapi, seseorang menuntut ilmu dengan tunduk, kesempitan hidup, rendah hati, dan berkhidmat dengan ilmu. Pahamilah sebelum engkau menjadi pemimpin. Jika kamu telah memimpin, tidak ada lagi
  11. 11. jalan untuk mendalami ilmu. Barangsiapa yang menuntut ilmu, haruslah mendalam agar hal-hal terkecil dari ilmu itu tidak hilang darinya. Siapa yang tidak mencintai ilmu, tidak ada kebaikan padanya. Maka, janganlah kamu berteman atau berkenalan dengannya.” (Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughaat (I/75)) Kepemimpinan adalah suatu tugas yang memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban yang besar di dunia dan akhirat. Disamping itu, beliau berpendapat, bahwa selamanya sikap dan tindakan seorang pemimpin akan selalu bersinergi dengan satu golongan manusia di satu sisi dan berbenturan dengan golongan manusia lainnya. Hal ini di mata beliau adalah sebuah sunnatullah seperti yang terbersit dalam pernyataannya: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”. Untuk menyikapi hal ini, Imam Asy-Syafi’i memberikan solusi untuk tetap konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat dalam memimpin dan tdak terpengaruh oleh berbagai reaksi masyarakat yang menentang selama tindakan memimpin tersebut berada dalam kerangka yang benar. 3. Karakter Kepemimpinan Imam asy-Syafi’i Riwayat hidup dan gagasan pemikiran Imam asy-Syafi’I adalah cermin dari karakter kepemimpinan beliau. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, dalam usia yang relative muda, beliau sudah dipercaya menjadi seorang pemimpin agama. Alasan pengangkatan beliau adalah karena keunggulan beliau dalam bidang ilmu agama, kefasihannya, dan keshalihan prilakunya. Beliau adalah tipe pemimpin yang gemar belajar dan sangat menghormati ilmu.
  12. 12. Imam Asy-Syafi’i adalah sosok berilmu yang memiliki banyak guru, dengan demikian pola pikirnya menjadi lebih moderat dan peka terhadap berbagai persoalan di sekelilingnya. Dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada umatnya, beliau selalu memberikan pemecahan yang disesuaikan dengan kondisi umat yang bermasalah tersebut. Sehingga sangat wajar jika beberapa ulama terkemuka pada zamannya dan zaman sesudahnya mengakui keunggulan kebijaksanaannya dalam memimpin. dan kepakarannya, serta
  13. 13. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari uraian di bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa karakter kepemimpinan imam asy-Syafi’I adalah sebagai berikut : Tipe kepemimpinan Kharismatik, dengan pengangkatan berdasarkan keunggulan ilmu (expert) dan system kepemimpinan Parental demokratis, dengan prinsip kebenaran pada nilai- nilai keilahian. 2. Saran Mendalami dan mempelajari serta mempraktekan gaya kepeimpinan imam asy-Syafi’I dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa Indonesia saat ini. Dengan bercermin pada tokoh –tokoh salafushalih , kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk mengatasi berbagai konflik permanen yang menggerogoto bangsa Indonesia dari tahun ke tahun.
  14. 14. DAFTAR PUSTAKA milis Artikel_salafy@yahoogroups.com) http://Belajarislam.com http://ariefhikmah.com

×