TUGAS  BAHASAINDONESIA   Nama Kelompok:   1.   Berlinda Putri Asri Cahyani   2.   Naila Najiha   3.   Qonitah Khusnul Aziz...
“AKU” karya: Chairil AnwarKalau sampai waktuku       Luka dan bisa kubawaKu mau tak seorang kan    berlarimerayu          ...
Tema Puisi    Tema dalam puisi „AKU‟ ini adalahperjuangan seperti pada baris keempat dankelima :‘Biar peluru menembus kuli...
Diksi  Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali  penyair menggantikan kata yang dipergunakan  berkali-kali yang dirasa b...
Feeling atau RasaFeeling atau Rasa merupakan salah satu unsurisi yang dapat mengungkapkan sikap penyairpada pokok persoala...
Bahkan jika ia terluka, akan di bawalari sehingga perih lukanya itu hilang.Ia memandang bahwa dengan luka itu,ia akan lebi...
Majas  Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan  dengan sarana retorika yang berupa hiperbola,  dikombinasi dengan...
Aku ingin hidup seribu tahun lagiGaya tersebut disertai ulangan i-i yang lebih  menambah intensitas :  Luka dan bisa kubaw...
Pengimajinasian Melalui diksi, kata nyata, dan majas yang digunakannya, penyair berupaya menumbuhkan pembayangan para peni...
Versifikasi Ritme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf voc...
TipografiTipografi atau disebut juga ukiranbentuk. Dalam Puisi didefinisikanatau diartikan sebagai tatanan larik,bait, kal...
Makna puisi dan pesanpuisi    Amanat dalam Puisi „Aku‟ karya Chairil Anwar    yang dapat saya simpulkan dan dapat kita    ...
Unsur ekstrinsik puisi                  “Aku‟‟Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu  Kalau sampai waktuku  W...
Ku mau tak seorang kan merayu Pada kutipan inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa dengan menul...
Tidak perlu sedu sedan itu   Aku ini binatang jalang   Dari kumpulannya terbuangZaini, salah seorang Sahabat Chairil perna...
ia menggunakan kata „binatang jalang‟, karena iaingin menggambar seolah seperti binatang yang hidupdengan bebas, sekenakny...
Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitupistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untukmelukai sesuatu. Pada k...
Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari p...
Kesimpulan   Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur dari luar    karya sastra yang mempengaruhi isi karya sastra.    C...
Tugas bahasa indonesia menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi AKU karya Chairil Anwar
Tugas bahasa indonesia menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi AKU karya Chairil Anwar
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tugas bahasa indonesia menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi AKU karya Chairil Anwar

86,419 views

Published on

Tugas bahasa indonesia menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi AKU karya Chairil Anwar

Published in: Education
6 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
86,419
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
68
Actions
Shares
0
Downloads
714
Comments
6
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Tugas bahasa indonesia X-2 : bu Esti tanggal 20/10/2011
  • Tugas bahasa indonesia menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi AKU karya Chairil Anwar

    1. 1. TUGAS BAHASAINDONESIA Nama Kelompok: 1. Berlinda Putri Asri Cahyani 2. Naila Najiha 3. Qonitah Khusnul Azizah 4. Rizki Fajrina
    2. 2. “AKU” karya: Chairil AnwarKalau sampai waktuku Luka dan bisa kubawaKu mau tak seorang kan berlarimerayu BerlariTidak juga kau Hingga hilang pedih periTak perlu sedu sedan itu Dan aku akan lebih tidak perduliAku ini binatang jalangDari kumpulannya Aku mau hidup seributerbuang tahun lagiBiar peluru menembuskulitkuAku tetap meradangmenerjang
    3. 3. Tema Puisi Tema dalam puisi „AKU‟ ini adalahperjuangan seperti pada baris keempat dankelima :‘Biar peluru menembus kulitku’‘Aku tetap meradang menerjang’
    4. 4. Diksi Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Seperti pada baris kedua: bait pertama “Ku mau tak seorang ‟kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”. “kalau sampai waktuku” dapat berarti “kalau aku mati” “tak perlu sedu sedan“ dapat bererti “berarti tak ada gunannya kesedihan itu”. “Tidak juga kau” dapat berarti “tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku”.
    5. 5. Feeling atau RasaFeeling atau Rasa merupakan salah satu unsurisi yang dapat mengungkapkan sikap penyairpada pokok persoalan puisi. Pada puisi di atasmerupakan eskpresi jiwa penyair yangmenginginkan kebebasan dari semua ikatan.Di sana penyair tidak mau meniru ataumenyatakan kenyataan alam, tetapimengungkapkan sikap jiwanya yang inginberkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya” ,ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapunyang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnyasebagai “aku”.
    6. 6. Bahkan jika ia terluka, akan di bawalari sehingga perih lukanya itu hilang.Ia memandang bahwa dengan luka itu,ia akan lebih jalang, lebih dinamis,lebih vital, lebih bergairah hidup. Sebabitu ia malahan ingin hidup seribu tahunlagi. Uraian di atas merupakan yangdikemukakan dalam puisi ini semuanyaadalah sikap chairil yang lahir dariekspresi jiwa penyair.
    7. 7. Majas Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan akhir seperti telah dibicarakan di atas.Hiperbola tersebut : Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar perlu menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang ………
    8. 8. Aku ingin hidup seribu tahun lagiGaya tersebut disertai ulangan i-i yang lebih menambah intensitas : Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku ingin hidup seribu tahun lagi Dengan demikian jelas hiperbola tersebut penonjolan pribadi tanpa makin nyata disana ia mencoba untuk nyata berada di dalan dunianya.
    9. 9. Pengimajinasian Melalui diksi, kata nyata, dan majas yang digunakannya, penyair berupaya menumbuhkan pembayangan para penikmat sajak-sajaknya. Semakin kuat dan lengkap pembayangan yang dapat dibangun oleh penikmat sajak-sajaknya, maka semakin berhasil citraan yang dilakukan penyair. Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya : „Ku mau tak seorang ‟kan merayu (Imaji Pendengaran) „Tak perlu sedu sedan itu‟ (Imaji Pendengaran) „Biar peluru menembus kulitku‟ (Imaji Rasa) „Hingga hilang pedih perih‟ (Imaji Rasa).
    10. 10. Versifikasi Ritme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vocal ‘U’ dan ‘I’ Vokal ‘U’pada larik pertama dan ke dua, pengulangan berseling vokal a-u-a-u Larik pertama ‘Kalau sampai waktuku.’ Larik kedua ‘Ku mau tak seorang-’kan merayu. Larik kedua ‘Tidak juga kau’. Pengulangan vokal ‘I’: Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi
    11. 11. TipografiTipografi atau disebut juga ukiranbentuk. Dalam Puisi didefinisikanatau diartikan sebagai tatanan larik,bait, kalimat, frase, kata dan bunyiuntuk menghasilkan suatu bentukfisik yang mampu mendukung isi, rasadan suasana. Namun dalam sajak„Aku‟ karya Chairil Anwar tidakmenggunakan tipografi
    12. 12. Makna puisi dan pesanpuisi Amanat dalam Puisi „Aku‟ karya Chairil Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut : Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang. Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja. Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya.
    13. 13. Unsur ekstrinsik puisi “Aku‟‟Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu Kalau sampai waktuku Waktu yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah sampaian dari waktu atau sebuah tujuan yang dibatasi oleh waktu. Seperti yang telah tertulis di atas, bahwa Chairil adalah penyair yang sedang dalam pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat itu. Chairil juga memberikan awalan kata „kalau‟ yang berarti sebuah pengandaian. Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan ditandai keluarnya puisi tersebut.
    14. 14. Ku mau tak seorang kan merayu Pada kutipan inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia tak menanggapi pembuicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah yang dicarinya selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik selanjutnyaTidak juga kau Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Berbicara tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai baik atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya.
    15. 15. Tidak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuangZaini, salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita,bahwa ia pernah mencuri baju Chairil danmenjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatansahabatnya itu, Chairil hanya berkata, “Mengapa akubegitu bodoh sampai bisa tertipu oleh kau”. Inimenunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidakmempersoalkan baik-buruknya suatu perbuatan, baikitu dari segi ketetetapan masyarakat, maupun agama.Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemahatau kuatnya orang.
    16. 16. ia menggunakan kata „binatang jalang‟, karena iaingin menggambar seolah seperti binatang yang hidupdengan bebas, sekenaknya sendiri, tanpa sedikitpunada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatangliar. Karena itulah ia „dari kumpulannya terbuang‟.Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah ikatan, ia„dari kumpulannya terbuang‟ karena tidak inginmengikut ikatan dan aturan dalam kumpulannya.Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri
    17. 17. Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitupistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untukmelukai sesuatu. Pada kutipan diatas, bait tersebuttergambar bahwa Chairil sedang „diserang‟ denganadanya „peluru menembus kulit‟, tetapi ia tidakmempedulikan peluru yang merobek kulitnya itu, iaberkata “Biar”. Meskipun dalam keadan diserang danterluka, Chairil masih memberontak, ia „tetapmeradang menerjang‟ seperti binatang liar yangsedang diburu. Selain itu, lirik ini juga menunjukkansikap Chairik yang tak mau mengalah.Semua cacian dan berbagai pembicaraan tentang baikatau buruk yang tidak ia pedulikan dari sajak tersebutjuga akan hilang, seperti yang ia tuliskan pada lirikselanjutnya.
    18. 18. Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu ketidakpedulian. Pada kutipan diatas, bait ini seolah menjadi penutup dari puisi tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan harapan. Kesimpulannya adalah „Dan aku akan lebih tidak perduli‟, ia tetap tidak mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa yang diinginkannya.
    19. 19. Kesimpulan Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur dari luar karya sastra yang mempengaruhi isi karya sastra. Contoh unsur ekstrinsik adalah psikologi, sosial, Agama, sejarah, filsafat, ideologi, politik. Unsur ekstrinsik dalam puisi Aku ini adalah Psikologi pengarangnya, Chairil Anwar. Sajak Aku adalah sajak yang paling memiliki corak khas dari beberapa sajak Chairil lainnya. Sajak trsebut bersifat destruktif terhadap corak bahasa ucap yang biasa digunakan penyair Pujangga Baru seperti Amir Hamzah sekalipun. Idiom „binatang jalang‟ yang digunakan dalam sajak tersebut pun sungguh suatu pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang masih cenderung mendayu- dayu.

    ×