LE M B A R   IN F O R M A S I WAL H I RIA U



PERJUANGAN MASYARAKAT KUALA CENAKU MEMPERTAHANKAN
                  TANAH U...
LE M B A R   IN F O R M A S I WAL H I RIA U



Dalam pelaksanaan di lapangan Inhutani mensubkontrakkan kepada
beberapa per...
LE M B A R   IN F O R M A S I WAL H I RIA U



Hari Senin tanggal 20 januari 2003 HUMAS PT. SBM Bapak Uli datang
menemui P...
LE M B A R   IN F O R M A S I WAL H I RIA U



Upaya Yang Dilakukan Masyarakat
Minggu, 26 Januari 2003, telah terbentuk wa...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Lembar Informasi 042003 Perjuangan Masyarakat Cenaku

717 views

Published on

Published in: Sports, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
717
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Lembar Informasi 042003 Perjuangan Masyarakat Cenaku

  1. 1. LE M B A R IN F O R M A S I WAL H I RIA U PERJUANGAN MASYARAKAT KUALA CENAKU MEMPERTAHANKAN TANAH ULAYAT Peradapan Desa Kuala Cenaku dimulai pada tahun 1870 yang dipimpin oleh ketua adat dan seorang penghulu. Penghulu pertama yang adalah Matjane yang memimpin dari tahun 1875-1900 dengan penduduk sekitar 12 KK dengan jumlah jiwa sekitar 47 jiwa. Pada saat itu kondisi alam masih asri, hutan masih perawan belum dijamah. Kayu – kayu di hutan diambil masyarakat hanya untuk membuat rumah dan berladang padi. Kehidupan masyarakat sepenuhnya masih bergantung kepada hutan, memelihara kayu sialang ( untuk bersarang lebah madu ), penangkapan ikan dan udang disungai, menyadap karet, mencari damar, kemenyan, gambir dan cenda, menanam dan mengambil rotan, mencari getah jelatung, getah merah, dan getah sundik. Tahun 1974 PT. Candra Dirgantara mulai melakukan eksplotasi di hutan di Desa Kuala Cenaku. Ini awal dari kehancuran hutan kuala cenaku dimana masyarakat mulai tertarik untuk bekerja membalak dengan memakai kampak dan parang sampai dengan chainsaw yang diberikan oleh PT. Chandra Dirgantara dengan cara menyicil tiap bulan. Tanggal 6 Juli 1994 pengelolaan hutan di Kuala Cenaku yang selama ini di kelola pleh PT. Chandra Dirgantara diserahkan kepada PT. Inhutani IV melalui surat Menteri Kehutanan No. 1000/ Menhut-IV/ 1994. Tanggal 6 Januari 1998 berdasarkan surat KEPMENHUT No. 09/ kpts-II/ 1998, PT. Inhutani IV diberikan HPHTI dengan sistem tebang pilih dan tanaman jalur dengan jenis Dipterocarpaceae seluas 27.100 Ha dan tebang habis dengan permudaan buatan dengan jenis jelutung seluas 9.510 Ha. Total luas areal hutan yang dikelola PT. Inhutani IV seluas 36.610 Ha dengan pembagian : - Hutan produksi tetap 15.750 Ha - Hutan produksi konversi 20.860 Ha. Luas tersebut termasuk didalamnya hutan ulayat masyarakat Kuala Cenaku yang sekarang telah terpecah menjadi beberapa desa (Desa Kuala Cenaku, Desa Kuala Mulia, Desa Tj. Sari). Dari awal beroperasinya PT. Inhutani terus mendapat penolakan oleh masyarakat, karena sejak pertama beroperasi telah melakukan tindakan kekerasan kepada masyarakat. Dengan membakar pondok masyarakat, nasi mereka dikencingi, chainsaw ditangkap, kayu masyarakat dipotong–potong dan itu terus berlangsung sampai saat sekarang walaupun telah berkurang sedikit semenjak era reformasi digulirkan.
  2. 2. LE M B A R IN F O R M A S I WAL H I RIA U Dalam pelaksanaan di lapangan Inhutani mensubkontrakkan kepada beberapa perusahaan diantaranya PT. Surya Buana Bersama (SBB), dan PT. Surya Buana Mandiri yang di beking langsung oleh ketua DPRD Inhu (Sugianto). Puncak penolakan masyarakat terjadi tanggal 2 Januari 2003 dengan tuntutan pengembalian hutan ulayat masyarakat yang mencakup 3 desa tersebut. Masyarakat melakukan aksi damai ke camp PT. Inhutani di Kuala Cenaku dan di dapat kesepakatan untuk mengadakan perundingan pada tanggal 11 Januari di Desa Kuala Cenaku. Perundingan tanggal 11 Januari tersebut ditandatangani oleh PT. Inhutani IV, Pemkab yang diwakili oleh camat, Tiga Kepala desa dan tokoh masyarakat, isi kesepakatan sebagai berikut : 1. Bahwa akan dibentuk tim tata batas yang melibatkan tiga desa, PT Inhutani, Pemerintah (BPN), Dishutbun dan bapemades 2. Penebangan dihentikan diwilayah ulayat 3 desa sampai ditentukan batas wilayah tiga desa 3. Proses pelangsiran kayu dari camp ke TPK/ logpond dihentikan sampai di tentukan batas wilayah tiga desa 4. Apabila kayu tetap dikeluarkan dan atau ditebang selama belum ada batas yang jelas, maka sebagai sanksi kayu tersebut akan disita oleh masyarakat dan menjadi milik masyarakat. 5. Kesepakatan ini mulai berlaku pada hari ini 11 januari 2003 Tanggal 17 Januari 2003 (jumat malam), pukul 23.30 WIB masyarakat menangkap kayu yang dikeluarkan oleh Inhutani IV berarti PT. Inhutani IV telah melanggar kesepakatan terdahulu dan sebelum hari penangkapan PT. Inhutani juga sudah dua kali mengeluarkan kayu. Siang harinya sabtu tanggal 18 Januari 2003, sekitar pukul 11.00, Humas PT. SBM (subkontrak PT. Inhutani IV), Camat, Babinsa dan KASAT INTEL serta beberapa intel POLRES INHU datang menemui Kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat di warung Pak Anes dan meminta agar kayu yang dangkap masyarakat dilepaskan segera dengan alasan bahwa kayu tersebut bukan dari wilayah ulayat masyarakat tapi dari Kecamatan Seberida. Pihak Inhutani juga tidak mengakui kesepakatan tersebut dengan alasan mereka dibawah tekanan masyarakat. Dan setelah dijanjikan, bahwa pihak Inhutani melalui subkontrak PT. SBM akan datang untuk melakukan perundingan pada hari senin dengan terpaksa kayu dilepaskan.
  3. 3. LE M B A R IN F O R M A S I WAL H I RIA U Hari Senin tanggal 20 januari 2003 HUMAS PT. SBM Bapak Uli datang menemui Pak Mursyid dan beberapa tokoh lain untuk berunding. Saat perundingan masyarakat 3 desa dipaksa untuk terima fee kayu sebesar 1,5 jt perbulan untuk tiga desa tapi masyarakat tetap tidak menerima fee tersebut. Pak Uli mengancam terima atau tidak kayu tetap dikeluarkan dan ditebang seandainya kayu yang dikeluarkan atau di tebang dihalangi masyarakat maka masyarakat akan berhadapan dengan Angkatan Laut. Tenaga preman digunakan Inhutani mengunakan tenaga preman untuk menghalangi aksi masyarakat dalam penuntutan hutan ulayat masyarakat dengan mengancam dan langsung mendatangi masyarakat satu persatu. Bentuk ancaman yang diterima masyarakat: 1. 1 Januari 2003 sekitar pukul 16.00 WIB disalah satu warung Desa Kuala Cenaku preman suruhan Sugianto (ketua DPRD INHU) bernama Pian Tato memanggil salah seorang masyarakat yang bernama Lim. Pian Tato menuduh Lim yang memprovokator masyarakat untuk melakukan demo ke PT. Inhutani IV tapi Lim menolak tuduhan tersebut. selang beberapa menit kemudian Pian Tato langsung menghujamkan sebilah pisau kepada si Lim namun berhasil dihindari. kejadian ini telah dilaporkan kepada kepolisian namun sampai sekarang tidak diproses, terbukti Pian tato masih saja berkeliaran disekitar desa. 2. Siang tanggal 20 Januari 2003 Humas PT. SBM (sub kontrak PT. Inhutani IV) Pak Uli mengancam kepala Desa Kuala Cenaku dan beberapa tokoh masyarakat, kalau ada masyarakat yang berupaya menghalangi mereka untuk mengeluarkan kayu maka mereka akan berhadapan langsung dengan Angkatan Laut.
  4. 4. LE M B A R IN F O R M A S I WAL H I RIA U Upaya Yang Dilakukan Masyarakat Minggu, 26 Januari 2003, telah terbentuk wadah perjuangan Independen masyarakat tiga desa untuk menuntut pengembalian hutan ulayat dengan susunan kepengurusan sebagai berikut : Ketua : 1. R. Burhanudin 2. R. Anes 3. R. Muchtar Sekretaris : 1. Irsal 2. Hendro Bendahara : H. Abdul Laza Koordinator desa : 1. Desa Kuala Cenaku : Zaburhan 2. Desa Kuala Mulia: Masuwar 3. Desa Tj. Sari : ………… Anggota : Seluruh Masyarakat tiga desa Sekretariat : Rumah R. Anes Jl. Lintas INHU–INHIL desa kuala mulia kecamatan Rengat Rencana tindak lanjut : 1. Mendesak Bupati, Camat, PT. Inhutani IV untuk sesegera mungkin merealisasikan tuntutan masyarakat sesuai dengan tuntutan dan kesepakatan 2. membangun kekuatan masyarakat dengan cara men- sosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat tentang tujuan pergerakan Rekomendasi : 1. Dibutuhkan segera, minimal seorang pendamping untuk membangun pergerakan masyarakat tiga desa 2. Memberikan bahan – bahan bacaan, Poster yang berhubungan dengan masalah mereka. (hak ulayat, hutan , sawit dll.) Kontak: Mursyid (Kepala Desa Kuala Cenaku Inhu) M. Teguh Surya (Walhi Riau; 0761-33716) **

×