SELAYANG PANDANG                                                            BALAI PERSUTERAAN ALAM                 DEPARTE...
SELAYANG PANDANG                                                     BALAI PERSUTERAAN ALAM                          KATA ...
SELAYANG PANDANG                                                                                        BALAI PERSUTERAAN ...
SELAYANG PANDANG                                                  BALAI PERSUTERAAN ALAM                            PENDAH...
SELAYANG PANDANG                                                 BALAI PERSUTERAAN ALAM                     SEJARAH PEMBEN...
SELAYANG PANDANG                                                   BALAI PERSUTERAAN ALAMDirektur RRL:    - Penyuluhan per...
SELAYANG PANDANG                                                BALAI PERSUTERAAN ALAMPada masa tahun 70-an, Balai Persute...
SELAYANG PANDANG                                                      BALAI PERSUTERAAN ALAM         GAMBARAN UMUM BALAI P...
SELAYANG PANDANG                                                                                                          ...
SELAYANG PANDANG                                                   BALAI PERSUTERAAN ALAM3.   Sarana Prasarana     1.   Ba...
SELAYANG PANDANG                                                BALAI PERSUTERAAN ALAM   6. Propinsi Jawa Tengah (Kab. Pat...
SELAYANG PANDANG                                           BALAI PERSUTERAAN ALAMGambar 2. Wilayah Pengembangan Persuteraa...
SELAYANG PANDANG                                                   BALAI PERSUTERAAN ALAMGambar 3. Wilayah Pengembangan Pe...
SELAYANG PANDANG                                                       BALAI PERSUTERAAN ALAM       PERKEMBANGAN KEGIATAN ...
SELAYANG PANDANG                                                      BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 2. Data Luas Tanaman Mur...
SELAYANG PANDANG                                                                BALAI PERSUTERAAN ALAM  Tabel 3. Data Perk...
SELAYANG PANDANG                                                   BALAI PERSUTERAAN ALAMPENYERAPAN TELURDalam mendukung b...
SELAYANG PANDANG                                                       BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 5. Data Perkembangan ju...
SELAYANG PANDANG                                                               BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 6. Data Perkemb...
SELAYANG PANDANG                                                       BALAI PERSUTERAAN ALAM   b. Produksi kokon sampai b...
SELAYANG PANDANG                                                BALAI PERSUTERAAN ALAM   Tabel 7. Data Produksi Kokon dan ...
SELAYANG PANDANG                                                     BALAI PERSUTERAAN ALAM             RENCANA PENGEMBANG...
SELAYANG PANDANG                                                     BALAI PERSUTERAAN ALAMPencapaian target pengembangan ...
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM23
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM24
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM25
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM26
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM27
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM28
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM29
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM30
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM31
SELAYANG PANDANG     BALAI PERSUTERAAN ALAM32
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Selayang pandang bpa 2010

1,667 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,667
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Selayang pandang bpa 2010

  1. 1. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL BALAI PERSUTERAAN ALAM BILI-BILI KEC. BONTOMARANNU KAB. GOWA SULAWESI SELATAN TEL. 0411-5069240, 8212509 FAX. 0411-875027 e-mail : balaiperrsuteraanalam@yahoo.co.id SELAYANG PANDANGBALAI PERSUTERAAN ALAM BILI-BILI, MARET 2010 0
  2. 2. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM KATA PENGANTARBalai Persuteraan Alam merupakan Unit Pelaksana Teknis DirektoratJenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial yang ditetapkanberdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.664 Tahun 2002.Salah satu tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) dari Balai Persuteraan Alamadalah pengelolaan sistem informasi persuteraan alam. Salah satubentuknya adalah penyediaan informasi tentang bagaimana sejarahpembentukan Balai Persuteraan Alam dan gambaran kegiatan-kegiatan dibidang persuteraan alam. Oleh karena itu disusunlah booklet tentangSelayang Pandang Balai Persuteraan Alam ini.Booklet ini diharapkan dapat berguna menambah wawasan bagi semuapihak yang ingin lebih mengenal tentang keberadaan Balai PersuteraanAlam.Kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan booklet inidiucapkan terima kasih. Bili-Bili, Maret 2010 Kepala Balai, Ir. Antonius T. Patandianan, MP NIP 19620428 199003 1 01 1
  3. 3. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM DAFTAR ISI Hal.KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ iDAFTAR ISI ............................................................................................................................................. iiPENDAHULUAN ..................................................................................................................................... 1SEJARAH PEMBENTUKAN BALAI PERSUTERAAN ALAM ............................................................... 4GAMBARAN UMUM BALAI PERSUTERAAN ALAM .......................................................................... 7PERKEMBANGAN KEGIATAN PERSUTERAAN ALAM Di DALAM dan DiLUAR PROP. SULAWESI SELATAN ...................................................................................................... 13RENCANA PENGEMBANGAN PERSUTERAAN ALAM DI PROP SULAWESISELATAN .................................................................................................................................................. 19 2
  4. 4. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM PENDAHULUANLATAR BELAKANGPembangunan Kehutanan pada dasarnya diarahkan untuk sebesar besarkemakmuran rakyat dan kelestarian fungsi hutan, dengan visi TerwujudnyaPenyelenggaraan Kehutanan untuk Menjamin Kelestarian Hutan danPeningkatan Kemakmuran Rakyat. Sejalan dengan visi diatas,makapembangunan kehutanan tidak hanya berorientasi pada produksi kayunamun juga pada sumber daya hutan yang lain dan diikuti denganpemberdayaan masyarakat. Untuk mewujudkan upaya tersebut disampingdipilih 8 kebijakan prioritas, juga dipertajam dalam fokus kegiatan yangsalah satu diantaranya pengembangan hasil hutan bukan kayu, dengan salahsatu komoditi yang menjadi sasaran adalah sutera alam.Pengembangan kegiatan persuteraan alam merupakan bagian daripembangunan bidang RLPS. Hal ini sesuai dengan visi, misi dan tujuanrehabilitasi lahan dan perhutanan sosial untuk menjadikan hutan dan lahandapat berfungsi optimal untuk kesejahteraan masyarakat, dengan jalanmemulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan,baik sebagai faktor produksi maupun sebagai penyangga sistem kehidupan.Balai Persuteraan Alam sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT)Direktorat Jenderal RLPS Departemen Kehutanan yang diserahi tugasmelaksanakan kegiatan pembinaan persuteraan alam yang ditetapkanberdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 664/Kpts-II/2002tanggal 7 Maret 2002 dengan wilayah kerja meliputi Sulawesi dansekitarnya. 3
  5. 5. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM SEJARAH PEMBENTUKAN BALAI PERSUTERAAN ALAMTahun 1970-anBalai Persuteraan alam masih berada di bawah Departeman Pertanian(Dirjen Kehutanan) dengan nama Proyek Pembinaan Persuteraan AlamProp. Sulawesi Selatan. Proyek ini merupakan hasil kerjasama dengan JapanInternational Cooperation Agency (JICA)Sebelum 1984Balai persuteraan Alam masih bernama Pusat Teknologi Persuteraan Alam(diresmikan oleh Presiden Suharto) yang melakukan kerjasama denganJICATugas yang diemban adalah : - Pembukaan lahan untuk penanaman murbei - Pengembangan petani sutera - Pemberdayaan masyarakat - Memiliki induk - Pembangunan bangunan pemeliharaan ulat - Produksi F1 secara massal - Produksi benang sutera - Penyiapan tenaga pendamping/penyuluh di masyarakatTahun 1984Pada tahun ini terbit Kepmenhut No. 097/Kpts-II/1984, yang menyebutkanbahwa Tupoksi Balai adalah sbb.: a. Melakukan produksi dan penyaluran ulat sutera b. Memberikan bimbingan teknis persuteraan alam c. Melakukan perakitan uji coba teknis persuteraan alamTahun 1986Dikeluarkan Instruksi Menhut No. 02/Menhut-II/86 tanggal 3 Januari 1986tentang Crash Program Penanganan Persuteraan Alam di Prop. SulawesiSelatan. Crash Program ini meliputi Direktorat RRL, Badan Litbang danPerum Perhutani. Adapun tugas masing – masing adalah sbb.: 4
  6. 6. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMDirektur RRL: - Penyuluhan persuteraan alam dan paket teknologi tepat guna - Sertifikasi bibit/telur ulat sutera - Monitoring dan evaluasiBadan Litbang: - Pemuliaan ulat dan pohon murbei - Pengendalian hama dan penyakit - Pengadaan dan pemeliharaan parent stock - Penciptaan teknologi baru persuteraan alamPerum Perhutani : - Pengusahaan sutera, yang meliputi produksi telur, peredaran telur , pemintalan dan pemasaranKonsekuensi dari Instruksi Menhut ini adalah : 1. Bili – Bili Centre dengan seluruh asetnya diserahkan kepada Badan Litbang 2. Sub Centre Soppeng, Wajo, dan Enrekang diserahkan pengelolaannya ke Perum Perhutani.Pada Tahun 1986 ini juga kemudian diterbitkan Keputusan Menhut No.122/KPts-I/86 tanggal 8 April 1986 tentang Pengaturan Pelaksanaan CrashProgram Penanganan Persuteraan Alam di Prop. Sulawesi SelatanTahun 2002Departemen Kehutanan mengeluarkan Kepmenhut No. 664/Kpts-II/2002tanggal 2 Maret 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai PersuteraanAlam. Pada Kepmenhut ini kemudian disebutkan Tupoksi Balai persuteraanAlam yang berlaku hingga sekarang.Tupoksi Balai : - Penyusunan rencana pengembangan persuteraan alam - Pemeliharaan bibit induk ulat sutera - Pengujian mutu dan penerapan teknologi persuteraan alam - Pemantauan produksi, peredaran dan distribusi bibit telur ulat sutera - Pelaksanaan sertifikasi dan akreditasi lembaga sertifikasi ulat sutera - Pengelolaan sistem informasi persuteraan alam 5
  7. 7. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMPada masa tahun 70-an, Balai Persuteraan Alam yang saat itu masihbernama Pusat Teknologi Persuteraan Alam, telah berhasil mengirimkanbeberapa pegawai/stafnya untuk mengikuti pelatihan di bidang persuteraanalam (sebagai counterpart) di Negara Jepang dan India dalam beberapatahap. Nama—nama pegawai yang pernah dikirim antara lain.: 1. Tahun 1976 (Jepang) a. Yus Ramelan Akub b. Baharuddin Alam 2. Tahun 1977 (Jepang) a. Muh. Noer Rasyid b. Lukman Amri K 3. Tahun 1978 (Jepang) a. Ir. Bambang Hartoko b. Zito Sumardjito c. Ir. Bertha Sampe d. Kusnan e. Ir. Akhmad Anwar h. Wariso f. Ir. Enjang Kuswiar g. Hatta Majid h. Amirullah Makka i. Ahmad Primon j. Hamdani k. Munassar Simbung l. Harmaeni S. Gellu m. Kamaruddin AM 4. Tahun 1980 (India) a. Ir. Bertha Sampe b. Munassar Simbung c. Nurdin Raja 6
  8. 8. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM GAMBARAN UMUM BALAI PERSUTERAAN ALAMKEDUDUKANBalai Persuteraan Alam merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) DirektoratJenderal RLPS Departemen Kehutanan yang melaksanakan kegiatanpembinaan persuteraan alam yang ditetapkan berdasarkan Surat KeputusanMenteri Kehutanan Nomor 664/Kpts-II/2002 tanggal 7 Maret 2002 denganwilayah kerja meliputi Sulawesi dan sekitarnya.TUGAS POKOK DAN FUNGSIBerdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 664/Kpts-II/2002, Balai Persuteraan Alam mempunyai tugas pokok melaksanakanpenyusunan rencana pengembangan persuteraan alam, pemeliharaanbibit induk ulat sutera, pengujian mutu, sertifikasi dan akreditasi lembagasertifikasi telur ulat sutera, serta pengelolaan sistem informasipersuteraan alam.Dalam melaksanakan tugas tersebut, Balai Persuteraan alammenyelenggarakan fungsi : 1. penyusunan rencana pengembangan persuteraan alam 2. pemeliharaan bibit induk ulat sutera 3. pengujian mutu dan penerapan teknologi persuteraan alam 4. pemantauan produksi, peredaran dan distribusi bibit telur ulat sutera 5. pelaksanaan sertifikasi dan akreditasi lembaga sertifikasi ulat sutera 6. pengelolaan sistem informasi persuteraan alam 7. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai 7
  9. 9. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMORGANISASI1. Struktur Organisasi KEPALA BALAI SELAKU KASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BALAI SELAKU KUASA PENGGUNA ANGGARAN BENDAHARA PENGELUARAN PEJABAT PENERBIT SPM Staf Sekretariat : PEJABAT PENGUJI KEUANGAN Urusan Pencatat Pembukuan dan Pembukuan Dokumen Pengeluaran/Penerimaan Urusan Pembuatan Daftar Gaji dan Pemegang Kas Gaji Pegawai ? PPABP Urusan Administrasi Keuangan Urusan Penelaah dan Pemverifikasi Dokumen Keuangan Urusan Pembuatan Dokumen Pengeluaran/Penerimaan Staf Penerbit SPM : Koordinator SAPP Urusan Perekaman Data dan Laporan SPM Operator/petugas SAPP Urusan Administrasi SPM Kepala Sub Bagian TU selaku KASIE Pengujian Persuteraan Alam KASIE Peredaran Persuteraan Alam KASIE Infromasi Persuteraan Alam Pejabat Penerbit SPM Selaku Selaku Selaku Penanggung jawab Kegiatan Penanggung jawab Kegiatan Pengujian PA Penanggung jawab Kegiatan Peredaran Penanggung jawab Kegiatan Informasi TU PA PA Pelaksana Teknis Kegiatan Pelaksana Teknis Kegiatan Pelaksana Teknis Kegiatan Pelaksana Teknis Kegiatan FUNGSIONAL PEH Gambar 1. Stuktur Organsisasi Balai Persuteraan Alam2. Sumber Daya Manusia Dalam pelaksanaan tugasnya, Balai Persuteraan Alam hingga bulan Mei 2009 mempunyai dengan pegawai sebanyak 105 orang yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil sebanyak 100 orang dan tenaga honorer sebanyak 5 orang. 8
  10. 10. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM3. Sarana Prasarana 1. Bangunan kantor di Bili-Bili, Malino dan Pakatto (Kab. Gowa), Tajuncu (Kab. Soppeng), Sabbangparu (Kab. Wajo), Datae (Kab. Sidrap) dan Sudu (Kab. Enrekang) 2. Sarana pemeliharaan ulat sutera di Bili-Bili dan Malino (Kab. Gowa) 3. Kebun murbei untuk produksi daun dan penyediaan stek, di Bili- Bili, Malino dan Pakatto (Kab. Gowa), Panjojo (Kab. Takalar), Tajuncu (Kab. Soppeng), Sabbangparu (Kab. Wajo), Datae (Kab. Sidrap) dan Tamangalle (Kab. Polman). Luas total kebun Murbei 48 Ha 4. Fasilitas refrigerator untuk penyimpanan telur ulat sutera dan kupu- kupu 5. Laboratorium hama penyakit, tanah dan pengawasan penyakit Pebrine 6. Fasilitas pengujian mutu kokon dan benang sutera4. Wilayah Kerja Balai Persuteraan Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor :664/Kpts-II/2002 tanggal 7 Maret 2002 wilayah kerjanya meliputi Sulawesi dan sekitarnya. Beberapa wilayah yang telah dilaksanakan pengembangan persuteraan alam adalah sbb.: 1. Propinsi Sumatera Utara 2. Propinsi Sumatera Selatan 3. Propinsi Sumatera BaraT 4. Propinsi Lampung 5. Propinsi Jawa Barat (Kab. Garut, Kab. Sukabumi, Kab. Majalengka, Kab. Tasikmalaya, Kab. Bandung, Kab. Bogor,Kab. Cianjur) 9
  11. 11. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM 6. Propinsi Jawa Tengah (Kab. Pati, Kab. Pemalang, Kab. Wonosobo, Kab. Pekalongan) 7. Propinsi DI Yogyakarta 8. Propinsi Bali (Kab. Tabanan, Kab. Bangli, Kota Denpasar, Kab. Karangasem) 9. Propinsi NTB (Kab. Lombok Barat) 10. Propinsi NTT 11. Propinsi Kalimantan Timur 12. Propinsi Sulawesi Selatan 13. Propinsi Sulawesi Barat 14. Propinsi Sulawesi Utara 15. Propinsi Sulawesi Tengah 16. Propinsi Sulawesi Tenggara 17. Propinsi PapuaWilayah pengembangan persuteraan alam yang menjadi wilayah kerja BalaiPersuteraan Alam dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3. 10
  12. 12. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMGambar 2. Wilayah Pengembangan Persuteraan Alam di Indonesia 11
  13. 13. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMGambar 3. Wilayah Pengembangan Persuteraan Alam di Propinsi Sulawesi Selatan 12
  14. 14. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM PERKEMBANGAN KEGIATAN PERSUTERAAN ALAM Di DALAM dan Di LUAR PROP. SULAWESI SELATANTANAMAN MURBEISecara kumulatif luas tanaman murbei di Prop. Sulawesi Selatan s/d BulanDesember 2009 mencapai 2.386,80 Ha yang tersebar pada 11 kabupaten.Sementara itu jumlah tanaman di luar Prop. Sulawesi SelatanMencapai 1.397,3 Ha yang tersebar di 13 propinsi pengembangan. Jenistanaman murbei yang ditanam antara lain Morus nigra, Morus cathayana,Morus alba, Morus multicaulis, Kanva, BNK 3 dan S.54. Sistem penanamanmasih dilakukan secara tradisional baik sebagai tanaman pekarangan,tumpang sari maupun tanaman murni dan belum seluruhnya dikeloladengan pola intensif.Tabel 1. Data Luas Tanaman Murbei Per Kabupaten di Prop. Sulawesi Selatan Luas Tanaman Murbei (Ha) No Kabupaten 2005 2006 2007 2008 2009 1 SOPPENG 405,00 426,00 520 610,75 610,75 2 WAJO 209,00 209,00 239,5 312,50 312,50 3 SIDRAP 35,00 35,00 18,5 21,25 21,25 4 BARRU 23,00 23,00 4,95 5,75 5,75 5 BONE 5,00 5,00 6 ENREKANG 576,00 576,00 617,5 937,25 937,25 7 TATOR 69,00 69,00 124,15 215,55 215,55 8 POLMAN 53,00 53,00 52 52 52 9 LUWU 0,00 0,00 2 27 27 10 GOWA 27,00 27,00 35,8 46,75 46,75 11 SINJAI 46,00 46,00 145 152 152 12 BULUKUMBA 0,00 0,00 4 4 4 13 MAROS 13,00 13,00 2 2 2 JUMLAH 1.461,00 1.482,00 1.765,4 2.386,80 2.386,80 13
  15. 15. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 2. Data Luas Tanaman Murbei Per Propinsi di Luar Prop. Sulawesi Selatan Luas Tanaman Murbei (Ha) No Propinsi 2005 2006 2007 2008 2009 1 Sulawesi Barat 52 2 Sulawesi Tenggara 4,75 3 Sulawesi Utara 246 4 Sulawesi Tengah 44,5 5 Jawa Barat 121 145 245 320,1 608,1 6 Jawa Tengah 273 7 DI Yogyakarta 19 8 NTT 95,5 9 Bali 10,4 10,4 32,45 10 NTB 8 8 8 12 11 Sumatera Barat 12 Sumatera Utara 10 13 Jawa Timur Jumlah 121 153 255 320,1 1.397,3PETANI BUDIDAYA ULAT SUTERAJumlah petani yang terlibat dalam budidaya ulat sutera di Prop. SulawesiSelatan hingga bulan Desember 2009 sebanyak 3,558 KK yang tersebar di 11kabupaten. Sementara di luar Prop. Sulawesi Selatan, jumlah petanimencapai 2.165 KK yang tersebar di 12 propinsi pengembangan. Sistempemeliharaan ulat sutera pada umumnya masih tradisional, kecuali padalokasi yang mendapat bantuan pemerintah. Pemeliharaan dilakukan secaratradisional yaitu dengan memanfaatkan kolong rumah untuk ulat kecil,bahkan tidak jarang dijumpai sistem pemeliharaan ulat kecil dan ulat besarberdekatan, sehingga peluang terjadinya kontaminasi penyakit cukup besar. 14
  16. 16. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM Tabel 3. Data Perkembangan Jumlah Petani di Prop. Sulawesi Selatan Jumlah Petani (KK) No Kabupaten 2005 2006 2007 2008 2009 1 SOPPENG 625 625 758 758 758 2 WAJO 373 373 442 696 696 3 SIDRAP 51 76 26 10 10 4 BARRU 42 42 17 21 21 5 BONE 14 14 0 6 ENREKANG 1.372 1.372 1.441 1.543 1.543 7 TATOR 192 192 265 356 356 8 POLMAN 119 119 95 9 LUWU 0 0 2 32 32 10 GOWA 35 35 71 93 93 11 SINJAI 62 62 165 166 166 12 BULUKUMBA 0 0 25 25 25 13 MAROS 26 26 2 JUMLAH 2.911 2.936 3.309 3.795 3.556Tabel 4. Data Perkembangan Jumlah Petani di Luar Prop. Sulawesi Selatan Jumlah Petani (KK)No Propinsi 2005 2006 2007 2008 2009 1 Sulawesi Barat 119 119 95 120 120 2 Sulawesi Tenggara 12 10 3 Sulawesi Utara 22 22 22 22 4 Sulawesi Tengah 25 25 5 Jawa Barat 439 439 945 945 6 Jawa Tengah 390 390 588 588 7 DI Yogyakarta 60 60 134 134 8 NTT 129 129 170 170 9 Bali 0 77 98 10 NTB 0 0 15 15 11 Sumatera Barat 31 12 Sumatera Utara 22 Jumlah 119 1.159 1.135 2.108 2.165 15
  17. 17. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMPENYERAPAN TELURDalam mendukung budidaya ulat sutera petani di propinsi Sulawesi Selatanpada umumnya telur ulat sutera disuplai dari KPSA Perum PerhutaniSoppeng, namun ada juga yang memesan ke PSA Candiroto. Sementarauntuk kebutuhan telur bagi petanidi luar Prop. Sulawesi Selatan sebagianbesar diambil dari PSA Candiroto. Dalam rangka mencegah serangan hamadan penyakit, maka terhadap telur sebelum disalurkan ke masyarakatterlebih dahulu dilakukan test Pebrine oleh Balai Persuteraan Alam.Berdasarkan kapasitasnya, kedua produsen telur F1 belum dapatmencapainya karena permintaan yang masih terbatas. Sebagai contoh,KPSA Perum Perhutani Soppeng mampu menyiapkan telur sebanyak 60.000boks per tahun, namun kapasitas ini belum pernah dicapai karenaterbatasnya permintaan petani. Hingga bulan Desember 2009 penyerapantelur ke petani kurang lebih 4.075 boks di 11 kabupaten di Prop. SulawesiSelatan. 16
  18. 18. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 5. Data Perkembangan jumlah penyerapan telur di Prop. Sulawesi Selatan 5 tahun terakhir Penyerapan Telur (Box) No Kabupaten 2005 2006 2007 2008 2009 1 SOPPENG 3.146 2.244 2.011,75 2.190 698 2 WAJO 2.446 2.044,75 1.196,25 1.321 502,25 3 SIDRAP 77 34 19,5 1 8 4 BARRU 48,5 13 12 2 3,5 5 BONE 5,5 0 6 ENREKANG 8.098 6.741 9.125 4.546 2.641 7 TATOR 481 254 378 217,5 148,5 8 POLMAN 72,5 82,50 9 LUWU 13 19 2 10 GOWA 86 70 1 2 0,75 11 SINJAI 19 18 20 20 9 12 BULUKUMBA 0 2 13 MAROS 36,5 6 2 JUMLAH 14.442,5 11.424,75 12.849 8.401 4.075Sementara data penyerapan telur untuk beberapa daerah/propinsi lain diluar Prop. Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 5. Selama tahun 2009hingga bulan Desember 2009 penyerapan telur kurang lebih 2.260 boksuntuk 12 propinsi pengembangan di luar Prop. Sulawesi Selatan. 17
  19. 19. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMTabel 6. Data Perkembangan jumlah penyerapan telur di luar Prop. Sulawesi Selatan 5 tahun terakhir Jumlah Petani (KK) No Propinsi 2005 2006 2007 2008 2009 1 Sulawesi Barat 51,5 85,5 72,5 82,5 28,5 2 Sulawesi Tenggara 10 3 Sulawesi Utara 82 290 357 4 Sulawesi Tengah 16 4 5 Jawa Barat 412 833 431 818 6 Jawa Tengah 1.142 2.055 330 1.021 7 DI Yogyakarta 74 74 95 1 8 NTT 6 14 10 9 Bali 3 6 11,5 10 NTB 18 18 11 Sumatera Barat 13 12 Sumatera Utara 3 13 Jawa Timur 3 Jumlah 51,5 1.801,5 3.079,5 1.282,5 2.260Selain bibit/telur ulat yang disiapkan oleh Perum Perhutani, saat ini adapula bibit yang disalurkan dari China yang belum mendapatkan legalitas dariPemerintah, sehingga untuk bibit ini tidak dilakukan uji sertifikasi oleh BalaiPersuteraan Alam.PRODUKSI KOKON DAN BENANG SUTERA 1. Produksi Kokon a. Tingkat produksi kokon hasil pemeliharaan petani sutera dengan telur F1 produksi Perum Perhutani masih sangat beragam, berkisar 25 – 33 kg per boks. 18
  20. 20. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM b. Produksi kokon sampai bulan Desember 2009 di Prop. Sulawesi Selatan sebanyak 99.318,53 kg. Sementara di propinsi pengembangan yang lain kurang lebih 67.800 boks.2. Produksi Benang Sutera Benang sutera (raw silk) yang dihasilkan terdiri dari hasil pintalan rakyat/tradisional dan pintalan mesin/pabrik. a. Kualitas benang sutera yang dihasilkan, khususnya pintalan rakyat, masih relatif rendah dan harganya lebih rendah dibandingkan hasil pintalan mesin. c. Di Sulawesi Selatan belum tersedia pabrik pemintalan benang sutera modern yang dapat menghasilkan benang sutera berkualitas tinggi. d. Produksi benang sutera di Sulawesi Selatan sampai bulan Desember 2009 sebanyak 15.797,69 kg. Sementara di propinsi pengembangan yang lain kurang lebih 8.271,94 kg. Tabel 6. Data Produksi Kokon dan Produksi Benang Sulawesi Selatan tahun 2005 – 2009 Produksi Kokon Produksi Benang No. Tahun (kg) (kg) 1. 2005 418.276 58.949 2. 2006 305.657 43.507 3. 2007 372.063,37 54.923 4. 2008 241.007,54 31.969,99 5. 2009 99.318,53 15.797,69 19
  21. 21. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM Tabel 7. Data Produksi Kokon dan Produksi Benang di Propinsi luar Sulawesi Selatan tahun 2005 – 2009 Produksi Kokon Produksi Benang No. Tahun (kg) (kg) 1. 2005 1.505 200 2. 2006 34.970,3 3.408,68 3. 2007 87.375 10.660,2 4. 2008 34.647,56 4.076,26 5. 2009 67.800 8.271,943. Perkembangan Harga a. Harga telur ulat sutera F1 produksi KPSA Perum Perhutani Soppeng saat ini adalah Rp. 80.000,- per boks (belum termasuk PPn 10 %), sementara produksi PSA CandirotoRp. 40.000 dengan jumlah telur + 25.000 butir per boks. b. Harga kokon masih berfluktuasi, saat ini berkisar Rp 20.000,- s/d Rp 27.000,- per kilogram. c. Harga benang sutera saat ini berkisar antara Rp 225.000,- s/d Rp 250.000,- per kilogram. 20
  22. 22. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM RENCANA PENGEMBANGAN PERSUTERAAN ALAM DI PROP SULAWESI SELATANPada tahun 2008, Balai Persuteraan Alam telah menyusun RencanaPengembangan Persuteraan Alam di Prop. Sulawesi Selatan. Dalam RencanaPengembangan ini tercantum antara lain target sasaran pengembanganpersuteraan alam baik di sektor hulu maupun hilir pada tahun 2010. Targetpengembangan produk sutera hulu dan hilir dalam skala nasionalditampilkan pada Tabel berikut. Tabel 8. Target Sasaran Pengembangan Produk Sutera Hulu (Nasional ) No Uraian Tahun 2005 Tahun 2010 1 Petani (KK) 6.342 13.235 2 Tanaman Murbei (Ha) 4.695 12.250 3 Produksi Kokon (Ton) 491 5.000 4 Penyerapan Tenaga Kerja (orang) 18.780 49.000 Tabel 9. Target Sasaran Pengembangan Produk Sutera Hilir ( Nasional ) No Uraian Tahun 2005 Tahun 2010 1 Produksi Benang Sutera DN (Ton) 81,2 625 2 Kebutuhan Benang sutera (Ton) 700 900 3 Import Benang sutera (Ton) 618,8 275 4 Kain sutera (juta meter) 6,18 44 5 Tenaga Kerja (orang) 207.120 235.868 6 Eksport (US $.000) 8.555 15.087 21
  23. 23. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAMPencapaian target pengembangan baik di sektor hulu maupun hilir dapatdilaksanakan dengan mempertimbangkan dan memanfaatkan berbagaipeluang dan potensi yang ada. Beberapa peluang pengembanganpersuteraan alam antara lain adalah: 1. Kebutuhan benang sutera secara Nasional masih banyak bergantung dari produk benang sutera dari luar 2. Saat ini banyak negara maju yang mengalihkan usahanya ke Industri termasuk China sehingga produsen kokon dan benang dari masyarakat cenderung menurun 3. Padat karya dan membuka lapangan kerja, utamanya tenaga keluarga dan kaum ibuSementara itu potensi pengembangan persuteraan alam di Indonesia antaralain: 1. Kegiatan persuteraan alam telah membudaya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan beberapa tempat di Jawa Barat. 2. Pada saat ini berkembang kegiatan persuteraan alam di Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB, Sulut, Sultra, Sulteng, Sumbar, Sumut dan Lampung. 3. Tersedia 39 jenis induk sebagai induk inti dan yang layak dikembangkan Ras Jepang (BN 18; BN 16) dan Ras China (BC 117; BC 107) yang dicirikan berat kokon >1,6 gr, jumlah telur 450 – 500 butir, umur 21 – 23 hari dan persentase kulit 23 % 4. Terdapat jenis spesifik dengan warna kokon kuning yaitu lokal kuning dan kuning muda jenis Daizo 5. Pada saat ini telah dilaunching jenis BS 07, 09 dan 10, namun hanya BS 09 yang segera dikembangkan 6. Permintaan bahan baku benang sutera cenderung meningkat baik di Sulawesi Selatan maupun di Jawa dan Bali 22
  24. 24. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM23
  25. 25. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM24
  26. 26. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM25
  27. 27. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM26
  28. 28. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM27
  29. 29. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM28
  30. 30. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM29
  31. 31. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM30
  32. 32. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM31
  33. 33. SELAYANG PANDANG BALAI PERSUTERAAN ALAM32

×