Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
MAKALAH
BA’I BI TSAMAN AJIL DAN BAI’ AL WAFA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Masail al-Fiqhiyah al-Ha...
KATA PENGANTAR
Segala puji adalah bagi Allah yang telah menunjukan kita kepada hal ini,
kami tidak akan memperoleh petunju...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Qawaid Ushuliyyah (kaidah ushuliyah) adalah kaidah yang berkaitan
dengan bahasa. Dan k...
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kaidah Ushuliyah
1. Pengertian Kaidah Ushuliyah
Qaidah ushuliyah merupakan gabungan dari kata Qaidah ...
Dari beberapa pengertian mengenai kaidah ushuliyah di atas penulis
simpulkan bahwa kaidah ushuliyah itu merupakan sejumlah...
7. Kaidah :
‫ﺠﺘﻬﺎﺩ‬ ‫ﻠﻼ‬ ‫ﻻﻤﺴﺎﻍ‬‫ﺍﻠﻨﺹ‬ ‫ﻤﻭﺭﻭﺩ‬ ‫ﻔﻰ‬
Artinya : “Tidak dibenarkan berijtihad dalam masalah yang ada nash-nya...
hukum harus jelas dan tegas, kenyataannya petunjuk(dilalah) lafazh-lafazh yang
terdapat dalam nash syara ‘itu beraneka rag...
Pembagian lafazh itu sebenarnya dilihat dari segi mungkin atan tidaknya di-takwil
atau di-nasakh. Dilihat dari peringkat k...
diamalkannya sesuai petunjuk lafazh itu sendiri sepanjang tidak ada dalil yang
mentakhsisnya, men-takwil-nya atau me-nasak...
“ Suatu nama untuk sesuatu yang terbuka dan dapat diketahui maksudnya dengan
jelas serta tidak ada kemungkinan ditakwil.”
...
2.2 Kegunaan Pembagian Lafazh Menurut Kejelasannya dan Pengaruhnya
terhadap penetapan Hukum
2.2.1 Pertentangan antara zhah...
Hadis riwayat pertama berbentuk Nash, sedangkan hadis riwayat yang kedua
berbentuk mufassar. Sehingga harus mendahulukan h...
sama, seperti pencopet, pencuri barang-barang dalam kuburan, korupsi, maka
lafazh itu sendiri menjadi tidak tegas.
3.1.2 M...
Mutasyabih menurut bahasa adalah sesuatu yang mempunyai kemiripan dan atau
simpang siur. Atau lafazh yang tidak ditunjukka...
2. Bentuk-bentuk lafadz ‘am
Lafadz ‘am mempunyai bentuk (sighah) tertentu, diantaranya:
a. LAFADH ‫كل‬ (setiap) dan ‫جامع‬...
f. Isim nakirah dalam susunan kalimat nafi> (negatif), seperti kata َ‫ح‬‫َا‬‫ن‬ُ‫ج‬ َ‫َل‬ dalam ayat
berikut:
َّ‫ن‬ُ‫ه‬َ‫و...
Yang dimaksud adalah seluruh jenis hewan melata, tanpa kecuali.
b. Lafadz ‘am tetapi yang dimaksud adalah makna khusus kar...
maksud makna yang lain. Sebagai contoh hadits Nabi yang berbunyi:
ٌ‫ة‬‫َا‬‫ش‬ ً‫ة‬‫َا‬‫ش‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬ِ‫ع‬َ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ ِ‫ل‬ُ‫...
5. Syafe’i, Prof. DR. Rahmat.Ilmu Ushul Fiqh,Pustaka Setia, Bandung,1999.
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah kaidah ushuliyah

8,421 views

Published on

untuk Mata Kuliah Jurusan PAI

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Makalah kaidah ushuliyah

  1. 1. MAKALAH BA’I BI TSAMAN AJIL DAN BAI’ AL WAFA Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Masail al-Fiqhiyah al-Haditsah Dosen Pengampu : A. Saefullah, Drs., M.Pd.I. Oleh : SITI NURLAELA ROSMIATI FAKULTAS TARBIYAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID) CIAMIS - JAWA BARAT 2014
  2. 2. KATA PENGANTAR Segala puji adalah bagi Allah yang telah menunjukan kita kepada hal ini, kami tidak akan memperoleh petunjuk kalau sekiranya Allah menunujukan kami akan hal ini. Shalawat dan salam adalah untuk Rasulullah yang telah diutus oleh Allah untuk menyampaikan syari’at yang pasti, yang lurus dan toleran. Asas syari’at ini adalah kemudahan kepada manusia, penghilangan kesulitan dari mereka. Juga shalawat dan salam untuk para keluarganya, dan sahabat-sahabatnya yang menggantikan Beliau dalam memelihara Syari’atnya dan membimbing umatnya. Adapun materi makalah ini tentang ”Ba’i Bi tsaman Ajil dan Bai’ Al Wafa’ ”. Dengan dituliskannya makalah ini, diharapkan kepada semua yang membacanya dapat memahami secara mendalam tentang hal yang berkaitan dengan materi yang di kaji dalam makalah kami ini yang pembahasannya tentang Masail al-Fiqhiyah al-Haditsah. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, kepada para pembaca mengaharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah kami ini pada penulisan selanjutnya. Demikianlah pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga Allah memberi taufik kepada orang yang menghendaki kebenaran, dan menunjukkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus. Penulis,
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Qawaid Ushuliyyah (kaidah ushuliyah) adalah kaidah yang berkaitan dengan bahasa. Dan kaidah ushuliyah ini juga merupakan kaidah yang sangat penting, karena kaidah ushuliyah merupakan media/ alat untuk menggali kandungan makna dan hukum yang tertuang dalam nash Al-Qur’an dan As- Sunnah, sehingga dengan kaidah ushuliyah ini, merupakan modal utama dalam memproduk fiqih. Tanpa kaidah ushuliyah, pengamalan hukum Islam cenderung belum semuanya. Karena pentingnya hal tersebut, sehinggga merupakan suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa yang akan meneruskan perjuangan pendahulu- pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam untuk mempelajari hal ini. Karena banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaid ushuliyah . Oleh karena itu penting bagi seorang mujtahid maupun calon mujtahid untuk menggali sebuah hukum dengan mempelajari kaidah ushuliyyah ini. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian kaidah ushuliyah ? 2. Apa saja lafadz dan dalalahnya ? 3. Apa yang dimaksud al Amm ? 4. Apa yang dimasud al Khas ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian kaidah ushuliyah ? 2. Untuk mengetahui lafadz dan dalalahnya ? 3. Untuk mengetahui al Amm ? 4. Untuk mengetahui al Khas ?
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN A. Kaidah Ushuliyah 1. Pengertian Kaidah Ushuliyah Qaidah ushuliyah merupakan gabungan dari kata Qaidah dan ushuliyah, kaidah dalam bahasa Arab ditulis dengan qaidah, artinya patokan, pedoman dan titik tolak. Ada pula yang mengartikan dengan peraturan. Bentuk jamak qa’idah (mufrad) adalah qawa’id. Adapun ushuliyah berasal dari kata al-ashl, artinya pokok, dasar, atau dalil sebagai landasan. Jadi, qaidah ushuliyah adalah pedoman untuk menggali dalil syara’, titik tolak pengambilan dalil atau peraturan yang dijadikan metode penggalian hukum, kaidah ushuliyah disebut juga sebagai kaidah Istinbathiyah atau ada yang menyebut sebagai kaidah lughawiyah, kaidah ushuliyah adalah dasar-dasar pemaknaan terhadap kalimat atau kata yang digunakan dalam teks atau nash yang memberikan arti hukum tertentu dengan didasarkan kepada pengamatan kebahasaan dan kesusastraan Arab. Dalil syara’ itu ada yang bersifat menyeluruh, universal dan global (kuli dan mujmal) dan ada yang hanya di tujukan bagi suatu hukum tertentu dari suatu cabang hukum tertentu pula. Dalil yang besifat menyeluuh itu di sebut pula qaidah ushuliyyah. Dari pengetian ushul fiqih yang telah di kemukakan di atas terkandung maksud bahwa objek bahasan ushul fiqih antara lain adalah qaidah penggalian hukum dari sumbenya. Dengan demikian yang di maksud dengan qaidah ushuliyyah adalah sejumlah peraturan untuk menggali hukum. Qaidah ushuliyah itu umumnya berkaitan dengan ketentuan dalalah lafadz atau kebahasaan.(Rachmat Syafi’i: 147: 1999) Dr. Jailany mendefinisikan sebagai:” hukum kulli (bersifat umum) yang berdiri diatasnya furu’ fiqhiyah yang di bentuk dengan bentuk umum dan akurat”. Defenisi ini belummaani’ karena kaidah-kaidah fiqh masih masuk didalamnya. Kaidah-kaidah ushuliyah menurut Prof. Dr. Muhammad Syabir adalah sebagai suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al-Far’iyyah dan dalil-dalilnya yang terperinci.
  5. 5. Dari beberapa pengertian mengenai kaidah ushuliyah di atas penulis simpulkan bahwa kaidah ushuliyah itu merupakan sejumlah peraturan untuk menggali dalil-dalil syara’ sehingga didapatkan hukum syara’ dari dalil-dalil tersebut. Seperti disebutkan diatas, bahwa qaidah ushuliyah itu berkaiatan dengan bahasa. Dalam pada itu, sumber hokum adalah wahyu yang berupa bahasa. Oleh karena itu qaidah ushuliayah berfungsi sebagai alat untuk menggali ketentuan hukum yang terdapat dalam bahasa (wahyu) itu. Mengetahaui qaiadah ushuliayh dapat mempermudah faqih untuk mengetahuai hukum allah dalam setiap peristiwa yang dihadapinya. Adapun contoh-contoh qaidah ushuliyyah yang dipaparkan oleh prof. Dr. Rachmat Syafe’i,MA. adalah sebagai berikut: 1. Kaidah : ‫ﺍﻠﺴﺒﺏ‬ ‫ﻻﺒﺨﺼﻭﺹ‬ ‫ﺍﻠﻠﻔﻅ‬ ‫ﺒﻌﻤﻭﻡ‬ ‫ﺍﻠﻌﺒﺭﺓ‬ Artinya: “Yang dipandang dasar (titik talak) adalah petunjuk umum dasar lafazh bukan sebab khusus (latar belakang kejadian). 2. Kaidah : ‫ﺍﻠﻤﺎﻨﻊ‬ ‫ﻗﺩﻡ‬ ‫ﻭﺍﻠﻤﺎﻨﻊ‬ ‫ﺍﻠﻤﻘﺘﻀﻰ‬ ‫ﺍﺠﺘﻤﻊ‬ ‫ﺍﺫﺍ‬ Artinya : “Bila dalil yang menyuruh bergabung dengan dalil yang melarang maka didahulukan dalil yang melarang.” 3. Kaidah : ‫ﺍﻠﺘﺼﺭﻴﺢ‬ ‫ﻤﻘﺎﺒﻠﺔ‬ ‫ﻔﻲ‬ ‫ﻠﻠﺩﻻﻠﺔ‬ ‫ﻻﻋﺒﺭﺓ‬ Artinya: “Makna implisit tidak dijadikan dasar bila bertentangan dengan makna eksplisit.” 4. Kaidah : ‫ﺍﻠﻌﻤﻭﻡ‬ ‫ﺘﻔﻴﺩ‬ ‫ﺍﻠﻨﻔﻲ‬ ‫ﻤﻘﺎﻡ‬ ‫ﻔﻲ‬ ‫ﺍﻠﻨﻜﺭﺓ‬ Artinya : “Lafazh nakirah dalam kalimat negatif (nafi) mengandung pengertian umum.” 5. Kaidah : ‫ﺍﻠﻅﺎﻫﺭ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻤﻘﺩﻡ‬ ‫ﺍﻠﻨﺹ‬ Artinya : “Petunjuk nash didahulukan daripada petunjuk zahir.” 6. Kaidah : ‫ﺍﻠﻭﺠﻭﺏ‬ ‫ﻴﻔﻴﺩ‬ ‫ﺍﻻﻤﺭ‬ Artinya : “Petunjuk perintah (amr) menunjukan wajib.”
  6. 6. 7. Kaidah : ‫ﺠﺘﻬﺎﺩ‬ ‫ﻠﻼ‬ ‫ﻻﻤﺴﺎﻍ‬‫ﺍﻠﻨﺹ‬ ‫ﻤﻭﺭﻭﺩ‬ ‫ﻔﻰ‬ Artinya : “Tidak dibenarkan berijtihad dalam masalah yang ada nash-nya.” 8. Kaidah : ‫ﺍﻠﻤﻘﻴﺩ‬ ‫ﻴﺤﻤﻝ‬ ‫ﺍﻠﻤﻁﻠﻕ‬ Artinya : “Dalalah lafazh mutlak dibawa pada dalalah lafazh muqayyah.” 9. Kaidah : ‫ﻀﺩﻩ‬ ‫ﻋﻥ‬ ‫ﻨﻬﻲ‬ ‫ﺒﺎﻠﺸﻴﺊ‬ ‫ﺍﻻﻤﺭ‬ Artinya : “Perintah terhadap sesuatu berarti larangan atas kebalikannya. LAFAZH DAN DALALAHNYA 1. Pengertian Mujmal dan Mubayyan Hampir delapan puluh persen penggalian hukum syariah menyangkut lafazh. Agar tidak membingungkan para pelaku hukum, maka lafazh–lafazh yang menunjukkan
  7. 7. hukum harus jelas dan tegas, kenyataannya petunjuk(dilalah) lafazh-lafazh yang terdapat dalam nash syara ‘itu beraneka ragam, bahkan ada yang kurang jelas (khafa). Suatu lafazh yang tidak mempunyai kemungkinan makna lain disebutmubayyan atau nash. Bila ada dua makna atau lebih tanpa diketahui yang lebih kuat disebut mujmal. Namun bila ada makna yang lebih tegas dari makna yang ada disebut zhahir. Dengan demikian yang disebut mujmal adalah lafazh yang cocok untuk berbagai makna, tetapi tidak ditentukan makna yang tidak dikehendaki, baik melalui bahasa maupun menurut kebiasaan pemakaiannya (Al-ghazali:145). Sifat mujmal itu dapat terjadi pada kosa kata (mufradat), seperti lafazh guru’ bisa berarti suci dan haid, dapat juga terjadi pada kata majemuk (munkkab)seperti mukhathab yang terdapat pada surat Al-baqarah: 237, yang bisa berarti suami atau wali. Terdapat juga pada kata kerja seperti lafazh asas yang bisaberarti menghadap dan membelakangi, pada huruf seperti pada wauataf bisa berarti memulai dan menyambungkan (dan). Hukum melaksanakan lafazh mujmal bergantung pada bayan atau penjelasan. Untuk mengungkap lafazh tersebut dapat digunakan beberapa teori yang telah di ungkapkan oleh para ulama terdahulu. Demikian juga terdapat beberapa teori ulama tentang tingkat kejelasan lafazh dan cara memadukan antara tingkatan-tingkatan jelas tidaknya suatu lafazh.Hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut. 2. Tingkatan Lafazh dari Segi Kejelasannya. Ada dua kelompok pendapat tentang tingkat dilalah Lafazh dari segi kejelasan, Golongan Hanafiyah dan Golongan Mutakalimin. Masing-masing digambarkan dengan bagan berikut:
  8. 8. Pembagian lafazh itu sebenarnya dilihat dari segi mungkin atan tidaknya di-takwil atau di-nasakh. Dilihat dari peringkat kejelasan lafazh itu Menurut golongan Hanafiyah, dimulai dari yang jelasnya bersifat sederhana (Zhahir),cukup jelas (nash), sangat jelas (mufassar), dan super jelas (muhkam). 2.1 Pembagian Lafazh dari Segi Kejelasannya menurut Ulama Hanafiah 2.1.1 Zhahir Berikut beberapa definisi tentang Zahir: “Suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk lafazh itu sendiri.” ( Bazdawi, 1307 H. I:46) “Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa harus dipikirkan lebih dahulu.” ( As-Sarakhsi, 1372, I:164) Untuk memahami zhahir itu tidak memerlukan petunjuk lain, melainkanlangsung dari rumusan lafazh itu sendiri. Namun, lafazh itu tetap mempunyai kemungkinan lain, sehingga Muhammad Adib Salih menyimpulkan bahwa zhahir itu adalah: “Suatu lafazh yang menunjukan suatu makna dengan rumusan lafazh itu sendiri tanpa menunggu qarinah yang ada diluar lafazh itu sendiri ,namun mempunyai kemungkinan ditakhsis, ditakwil, dan dinasakh.(Muhammad Adib Salih,1984,I : 143) Contoh : ” Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Ayat tersebut petunjuknya jelas, yaitu mengenai halalnya jual beli dan haramnya riba. Petunjuk tsb diambil dari lafazh itu sendiri tanpa memerlukan Qarinah lain. Masing-masing dari lafazh al-bay‘ dan ar-riba merupakan lafazh ‘amm yang mempunyai kemungkinan di-takhsis. Kedudukan lafazh zhahir adalah wajib
  9. 9. diamalkannya sesuai petunjuk lafazh itu sendiri sepanjang tidak ada dalil yang mentakhsisnya, men-takwil-nya atau me-nasakh-nya. 2.1.2 Nash Nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. Menurut bahasa, Nash adalah raf ‘u asy-syai atau munculnya segala sesuatu yang tampak, sering disebut manashahat, menurut istilah didefinisikan sebagai berikut: “ Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahir bila ia dibandingkan dengan lafazh zhahir.” (Ad-Dabusi) “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari sipembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.” (Al-Bazdawi) Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud Nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum yang jelas, yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakhsish dan ditakwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Selain itu, ia dapat dinasakh pada zaman risalah (zaman Rasul).” Sebagai Contoh, pada contoh Zahir sebelumnya, dilalahnya tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Disini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Kedudukan hukum lafazh Nash sama dengan hukum lafazh zhahir, yaitu wajib diamalkan petunjuknya atau dilalah-nya asal tidak ada dalil yang menakwilkan, mentakhsis atau menasakhnya. Perbedaan antara zhahir dan nash adalah kemungkinan takwil, takhsis, atau nasakh pada lafazh nash lebih jauh dari kemungkinan yang terdapat pada lafazh zhahir. Oleh sebab itu, apabila terjadi pertentangan antara lafazh zhahir dengan lafazh nash, maka lafazh nash lebih didahulukan pemakaiannya dan wajib membawa lafazh zhahir pada lafazh Nash. 2.1.3 Mufassar Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang tegas dan jelas, sehingga petunjuknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis, namun pada masa Rasullullah masih bisa dinasakh. Menurut (As- Sarakhsi, 372 H. I: 165 ):
  10. 10. “ Suatu nama untuk sesuatu yang terbuka dan dapat diketahui maksudnya dengan jelas serta tidak ada kemungkinan ditakwil.” Dengan definisi ini maka kejelasan petunjuk mufassar lebih tinggi daripada petunjuk zhahir dan nash. Sebab pada petunjuk zhahir dan nash masih terdapat kemungkinan ditakwil atau ditaksis, sedangkan pada lafazh mufassar kemungkinan tersebut sama sekali tidak ada. Sebagai contoh firman Allah SWT: “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuannya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang- orang yang bertakwa.” ( QS. At-Taubah : 36 ) Dilalah mufassar wajib diamalkan secara qath’i, sepanjang tidak ada dalil yang me-nasakh-nya. Apabila terjadi pertentangan antara dilalah mufassar dengan dilalah Nash dan zhahir maka dilalah mufassar harus didahulukan. Lafazh mufassar tidak mungkin dipalingkan artinya dari zhahir-nya, karena tidak mungkin ditakwil dan ditakhsis, melainkan hanya bisa di-nasakh atau diubah apabila ada dalil yang mengubahnya. 2.1.4 Muhkam Muhkam menurut bahasa diambil dari kata ahkama, yang berarti atqama, yaitu pasti dan tegas. Secara istilah menurut As-Sarakhsi “Muhkam itu menolak adanya penakwilan dan adanya nasakh.” Sehingga Muhkam adalah suatu lafazh yang menunjukan makna dengan dilalah tegas dan jelas serta qath’i, dan tidak mempunyai kemungkinan di-takwil, di-takhsis, dan dinasakh meskipun pada masa Nabi, lebih–lebih pada masa setelah Nabi. Misalnya firman Allah SWT berikut yang sangat jelas dan tegas dan tidak mungkin diubah : ” Dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.” Apabila lafazh Muhkam khash, tidak bisa di-takwil dengan arti lain. Dan apabila lafazhnya ‘amm, tidak bisa di-takhsis dengan makna khash. Contoh Firman Allah SWT, tentang haramnya menikahi janda Rasullullah. Sehubungan dengan lafazh muhkam itu tidak bisa di-nashakh, maka muhkam itu terbagi kepada dua, ada muhkam dzat dan muhkam ghair dzat. Karena terkadang nasakh itu bisa dari nash itu sendiri atau dari luar nash. Dilalah muhkam wajib diamalkan secara qath’i, tidak boleh dipalingkan dari maksud asalnya dan tidak boleh dihapus. Dilalah muhkam lebih kuat daripada seluruh macam dilalah yang disebut diatas. Jika terjadi pertentangan maka yang harus didahulukan adalah dilalah muhkam.
  11. 11. 2.2 Kegunaan Pembagian Lafazh Menurut Kejelasannya dan Pengaruhnya terhadap penetapan Hukum 2.2.1 Pertentangan antara zhahir dan nash Misalnya dihalalkannya menikahi wanita tanpa dibatasi jumlahnya (Zhahir) ”dan dihalalkan bagi kamu apa yang dibelakang (selain) demikian itu bahwa kamu mencari dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.”(QS. An-Nisa :24) yang bertentangan dengan halalnya menikahi wanita itu dengan dibatasi empat orang saja (Nash). ”Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap anak2 yatim (perempuan), maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi dua, tiga, empat.Maka jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (hendaklah cukup satu saja, atau kawinilah budak –budak yang kamu miliki…..” (QS. An-Nisa : 3). Dilalah yang diambil adalah yang kedua, sebab dilalah yang kedua itu dilalah nash, dan dilalah nash lebih kuat daripada dilalah zhahir. 2.2.2 Pertentangan antara Muhkam dengan Nash Misalnya, surat An-Nisa : 3 yang menghalakan menikahi wanita dengan dibatasi empat orang (Nash). Dengan Al-Ahjab ayat 53: ”Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasullullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya sesudah ia wafat selama- lamanya……” (QS. Al- Ahzab : 53) Walaupun dihalakan menikahi wanita mana saja termasuk janda Rasullullah dengan syarat tidak melebihi empat. Namun ayat Al-Ahjab ayat 53 mengharamkan mengawini janda Rasullullah .Dengan demikian maka harus diambil dilalah ayat yang kedua, karena dilalah ayat ini muhkam. 2.2.3 Pertentangan antara Nash dengan Mufassar Dari ‘Aisyah, ia berkata “Fatimah binti Abu Hubaisy datang kepada Rasullullah dan ia berkata “sesungguhnya aku ini dalam keadaan mustahadah, sehingga aku tidak bisa bersuci, apakah aku harus meninggalkan shalat ?” Rasullullah menjawab. “tidak, Karena mustahadah bukan darah haid. Jauhilah shalat pada waktu haidmu, kemudian mandilah dan berwudulah untuk setiap shalat, dan shalatlah sekalipun dalam keadaan mustahadah.”( As-Syaukani, I : 299 ). Dalam riwayat lain memakai ungkapan, “berwudulah setiap waktu shalat.”(Az- Zayla’i, I, t,t : 125). Pada hadits pertama wanita mutahadah wajib berwudu untuk setiap shalat, sekali saja. sedangkan hadis riwayat kedua, untuk waktu seluruh shalat, sehingga berlaku untuk beberapa kali, dengan satu wudu selama waktu untuk melakukan shalat itu masih ada.
  12. 12. Hadis riwayat pertama berbentuk Nash, sedangkan hadis riwayat yang kedua berbentuk mufassar. Sehingga harus mendahulukan hadis kedua, karena termasuk mufassar. 2.2.4 Pertentangan antara Mufassar dengan Muhkam “..dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu” ( QS. Ath- Thalaq : 2) dengan surat An – Nur ayat 4: “….dan janganlah kamu terima persaksian mereka buat selama-lamanya” Ayat pertama termasuk mufassar, diterimanya kesaksian yang adil dari siapa saja. Ayat kedua termasuk muhkam. Ayat ini menunjukkan tidak bisa diterima kesaksian orang yang menuduh zina (qadzaf ), sungguhpun ia bertobat. Dalam hal ini menurut sebagian ulama digunakan ayat yang kedua. 2.3 Tingkatan- Tingkatan Kejelasan Lafazh menurut Mutakalimin (Syafi’iyyah) Menurut Imam Syafi’i tingkatan Kejelasan Lafazh hanya dua, yang tidak membedakan antara zhahir dengan nash. Pada perkembangan selanjutnya, setelah Imam Asy-Syafi’i, nash dan zhahir ini dibedakan pengertian masing- masing, Nash adalah suatu lafazh yang tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, sedangkan zhahir mempunyai kemungkinan untuk ditakwil. Seperti yang diungkapkan oleh Al-Gazali,“Suatu lafazh yang sama sekali tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, baik takwil dekat maupun takwil jauh.“ Dan ” Lafazh yang tidak mungkin ditakwil, yang diterima serta muncul dari dalil. Adapun kemungkinan yang didukung dengan dalil maka lafazh itu tidak keluar dari lafazh nash.” (Al–Gazali, I, 1322 H, : 385- 386). 3. Tingkatan Lafazh menurut Ketidakjelasannya. 3.1 Tingkatan Lafazh menurut Ketidakjelasan menurut Hanafiyah 3.1.1 khafi Menurut bahasa adalah tidak jelas atau tersembunyi, sedangkan menurut istilah, ”suatu lafazh yang maknanya menjadi tidak jelas karena hal baru yang ada diluar lafazh itu sendiri, sehingga arti lafazh itu perlu diteliti dengan cermat dan mendalam.” (Al-Dabusi) ”suatu lafazh zhahir yang jelas maknanya, tetapi lafazh itu sendiri menjadi tidak jelas karena ada hal baru yang mengubahnya, sehingga untuk mengatasinya tidak ada jalan lain, kecuali dengan penelitian yang mendalam.” (Muhammad Adib Salih, 1982 : 230). Sebagai contoh pengertian lafazh as-sariq yang tegas pada orang yang mengambil harta berharga milik orang lain secara diam-diam untuk dimiliki, pada tempat yang terpelihara. Jika pengertian ini diterapkan pada masalah lain yang
  13. 13. sama, seperti pencopet, pencuri barang-barang dalam kuburan, korupsi, maka lafazh itu sendiri menjadi tidak tegas. 3.1.2 Musykil Musykil menurut bahasa ialah sulit, atau sesuatu yang tidak jelas perbedaannya, sedangkan menurut istilah, ”suatu lafazh yang tidak jelas artinya dan untuk mengetahuinya diperlukan dalil dan qarinah”. (As-Sarakhsi, I, 1372 H : 168). ”yang dimaksud musykil adalah suatu lafazh yang tidak jelas maksudnya karena ada unsur kerumitan, sehingga untuk mengetahui maksudnya diperlukan adanya qarinah yang dapat menjelasan kerumitan itu,dengan jalan pembahasan yang mendalam.” (Muhammad Adib Salih,1982,I:254). Perbedaan antara khafi dan musykil itu terletak pada dzatiah lafazh itu sendiri. Oleh sebab itu, musykil lebih tinggi kadar kemubhamannya daripada khafi. Sebagai contoh kata an-na pada surat Al Baqarah : 223 yang berarti: kaifa, aina, dan mata. Mana yang lebih cocok dari ketiga makna tersebut. Para ulama ada yang mengambil pengertian kaifa, seperti Ibnu Abbas dan Ikrimah dan lain- lain. Mereka mengartikan ayat itu adalah boleh menggauli istri bagaimana maunya, kecuali pada dubur dan diwaktu haid. Ada yang mengartikan, selagi ia menghendakinya. 3.1.3 Mujmal Mujmal dalam bahasa adalah global atau tidak terperinci. Menurut istilah, ”lafazh yang tidak bisa dipahami maksudnya, kecuali bila ada penafsiran dari pembuat mujmal (Syari’)” (As-Sarakhsi,I,1372H :168) Jadi mujmal itu adalah suatu lafazh yang dzatiahnya khafi, tidak bisa dipahami maksudnya, kecuali bila ada penjelasan dari syara’. Ketidakjelasannya dapat karena peralihan lafazh dari makna yang jelas pada makna khusus yang dikehendaki syara’, karena sinonim lafazh itu sendiri, ataupun karena lafazh itu ganjil artinya. Karena penjelasan mujmal diperoleh dari syara’bukan hasil ijtihad sehingga mujmal lebih tinggi kadar khafa-nya daripada musykil. Contohnya lafazh shalat, menurut bahasa berarti doa, tetapi menurut istilah syara’adalah ibadah khusus yang segala sesuatunya dijelaskan oleh Rasullullah. Namun keharusan adanya penjelasan dari syara’tentang lafazh mujmal itu timbul masalah, yaitu sejauh manakah penjelasan syara’ itu. Sunnah dapat memberikan penjelasan mujmal sepanjang tidak ada penjelasan nash Al-Quran. Oleh sebab itu untuk mencari penjelasan mujmal terlebih dahulu harus melihat nash Al-Quran. 3.1.4 Mutasyabih
  14. 14. Mutasyabih menurut bahasa adalah sesuatu yang mempunyai kemiripan dan atau simpang siur. Atau lafazh yang tidak ditunjukkan oleh lafazhnya itu sendiri kepada maksudnya itu dan tidak terdapat qarinah luar yang menerangkannya. 3 Menurut istilah, berdasarkan pendapat sebagian ulama adalah ”suatu lafazh yang maknanya tidak jelas dan juga tidak ada penjelasan dari syara, baik Al-Quran maupun Sunah, sehingga tidak bisa diketahui oleh semua orang, kecuali orang- orang yang mendalam ilmu pengetahuannya” (Asy-Syarakhsi, I, 1372 H.: 169). 3.2 Pembagian Lafazh Ditinjau dari Segi Ketidakjelasannya menurut Ulama Mutakallimin Pendapat golongan Mutakallimin (syafi’iyyah) secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mujmal adalah suatu lafazh yang menunjukkan makna yang dimaksud, tetapi petunjuknya tidak jelas, sehingga makna yang dimaksud lafazh itu memerlukan penjelasan, seperti,lafazh shalat dan zakat. Sebagian mereka ada yang menyamakan lafazh mutasyabih dengan mujmal, yaitu suatu lafazh yang tidak jelas maknanya, dan ada pula yang membedakan antara mujmal dan Mua’wwal. Hanya saja perbedaan antara mujmal dengan Mua’wwal terletak pada kuat (rajih) dan lemah (marjuh) makna yang di maksud. Makna yang dimaksud pada lafazh muawwal adalah lemah (marjuh), sedangkan makna yang terdapat pada lafazh mujmal adalah kuat (rajih). Jadi dalam hal ini dalam lafazh mutasyabih adalah lemah (marjuh), Al-asnawi menegaskan bahwa lafazh mutsayabih itu tidak mempunyai makna yang kuat. Dari aspek ini, lafazh mutsayabih sama dengan mu’awwal atau mempunyai makna yang sama dari berbagai makna, sehingga dari aspek ini ia termasuk lafazh mujmal. Oleh karena itu, mutsayabih lebih umum daripada lafazh mujmal dan mu’awwal. B. LAFADZ ‘AM 1. Pengertian Lafadz ‘am ‘Am menurut bahasa artinya merata, yang umum; dan menurut istilah adalah “LAFADH yang memiliki pengertian umum, terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadh itu “. Dengan pengertian lain, ‘am adalah kata yang memberi pengertian umum, meliputi segala sesuatu yang terkandung dalam kata itu dengan tidak terbatas.
  15. 15. 2. Bentuk-bentuk lafadz ‘am Lafadz ‘am mempunyai bentuk (sighah) tertentu, diantaranya: a. LAFADH ‫كل‬ (setiap) dan ‫جامع‬ (seluruhnya). Misalnya firman Allah: ِ‫ت‬ ْ‫و‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ُ‫ة‬َ‫ق‬ِ‫ئ‬‫ا‬َ‫ذ‬ ٍ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ُّ‫ل‬ُ‫ك‬ “Tiap-tiap yang berjiwa akan mati”. (Ali ‘Imran, 185) Dan sabda Rasulullah SAW: ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫ي‬ِ‫ع‬َ‫ر‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ٌ‫ل‬ُ‫ؤ‬ْ‫س‬َ‫م‬ ٍ‫اع‬ َ‫ر‬ ُّ‫ل‬ُ‫ك‬ “Setiap pemimpin diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya” ‫ا‬ً‫ع‬‫ي‬ِ‫م‬َ‫ج‬ ِ‫ض‬ ْ‫ر‬َ ْ‫اْل‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ َ‫ق‬َ‫ل‬َ‫خ‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َ‫ُو‬‫ه‬ “Dialah Allah yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi secara keseluruhan (jami’an)”. (Al-Baqarah:29) LAFADH ‫كل‬ dan ‫حامع‬ tersebut di atas, keduanya mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas jumlahnya. b. Kata jamak (plural) yang disertai alif dan lam di awalnya. Seperti: ِ‫ْن‬‫ي‬َ‫ل‬ِ‫م‬‫َا‬‫ك‬ ِ‫ْن‬‫ي‬َ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫ح‬ َّ‫ن‬ُ‫ه‬َ‫د‬ َ‫َل‬ ْ‫و‬َ‫أ‬ َ‫ن‬ْ‫ع‬ ِ‫ض‬ ْ‫ر‬ُ‫ي‬ ُ‫ات‬َ‫د‬ِ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ْ‫ال‬ َ‫و‬ “Para ibu (hendaklah) meenyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. (Al-Baqarah:233) Kata al-walidat dalam ayat tersebut bersifat umum yang mencakup setiap yang bernama atau disebut ibu. c. Kata benda tunggal yang di ma’rifatkan dengan alif-lam. Contoh: ‫ا‬َ‫ب‬ ِ‫الر‬ َ‫م‬ َّ‫ر‬َ‫ح‬َ‫و‬ َ‫ْع‬‫ي‬َ‫ب‬ْ‫ال‬ ُ َّ‫اَّلل‬ َّ‫ل‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫و‬ “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al_baqarah: 275). LAFADH al-bai’ (jual beli) dan al-riba adalah kata benda yang di ma’rifatkan dengan alif lam. Oleh karena itu, keduanya adalah lafadz ‘am yang mencakup semua satuan- satuan yang dapat dimasukkan kedalamnya. d. LAFADH Asma’ al-Mawshu>l. Seperti ma, al-ladhi>na, al-lazi dan sebagainya. Salah satu contoh adalah firman Allah: ْ‫ل‬ُ‫ظ‬ ‫ى‬َ‫َام‬‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬ َ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ْ‫م‬َ‫أ‬ َ‫ن‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ َ‫ن‬‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬‫ا‬ ً‫ير‬ِ‫ع‬َ‫س‬ َ‫ن‬ ْ‫و‬َ‫ل‬ْ‫ص‬َ‫ي‬َ‫س‬َ‫و‬ ‫ا‬ ً‫َار‬‫ن‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫ن‬‫و‬ُ‫ط‬ُ‫ب‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ن‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ا‬ً‫م‬ “Sesungguhnya orang-orang yang (al-ladzina) memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sebeenarnya mereka itu menelan api sepenuh perut dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”. (An- Nisa:10) e. LAFADH Asma’ al-Syart} (isim-isim isyarat, kata benda untuk mensyaratkan), seperti kata ma, man dan sebagainya. Misalnya: َ‫س‬ُ‫م‬ ٌ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫د‬ َ‫و‬ ٍ‫ة‬َ‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ ٍ‫ة‬َ‫ب‬َ‫ق‬ َ‫ر‬ ُ‫ير‬ ِ‫ر‬ ْ‫َح‬‫ت‬َ‫ف‬ ً‫أ‬َ‫ط‬َ‫خ‬ ‫ا‬ً‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ َ‫ل‬َ‫ت‬َ‫ق‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬‫وا‬ُ‫ق‬َّ‫د‬َّ‫ص‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ٌ‫ة‬َ‫م‬َّ‫ل‬ “dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah”.(An-Nisa’:92)
  16. 16. f. Isim nakirah dalam susunan kalimat nafi> (negatif), seperti kata َ‫ح‬‫َا‬‫ن‬ُ‫ج‬ َ‫َل‬ dalam ayat berikut: َّ‫ن‬ُ‫ه‬َ‫ور‬ُ‫ج‬ُ‫أ‬ َّ‫ن‬ُ‫ه‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ي‬َ‫ت‬َ‫آ‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬ُ‫ه‬‫و‬ُ‫ح‬ِ‫ك‬ْ‫ن‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫ح‬‫َا‬‫ن‬ُ‫ج‬ َ‫َل‬ َ‫و‬ “dan tidak ada dosa atas kamu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya”. (Al-Mumtahanah:10). 3. Dalalah Lafadz ‘am Jumhur Ulama, di antaranya Syafi’iyah, berpendapat bahwa lafadz ‘am itu dzanniy dalalahnya atas semua satuan-satuan di dalamnya. Demikian pula, lafa{dz ‘am setelah di-takhshish, sisa satuan-satuannya juga dzanniy dalalahnya, sehingga terkenallah di kalangan mereka suatu kaidah ushuliyah yang berbunyi: َ‫ص‬ ِ‫ص‬ُ‫خ‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ ٍ‫ام‬َ‫ع‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ “Setiap dalil yang ‘am harus ditakhshish”. Oleh karena itu, ketika lafadz ‘am ditemukan, hendaklah berusaha dicarikan pentakhshishnya. Berbeda dengan jumhur ulama’, Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa lafadz ‘am itu qath’iy dalalahnya, selagi tidak ada dalil lain yang mentakhshishnya atas satuan-satuannya. Karena lafadz ‘am itu dimaksudkan oleh bahasa untuk menunjuk atas semua satuan yang ada di dalamnya, tanpa kecuali. Sebagai contoh, Ulama Hanaifiyah mengharamkan memakan daging yang disembelih tanpa menyebut basmalah, karena adanya firman Allah yang bersifat umum, yang berbunyi: ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ِ َّ‫اَّلل‬ ُ‫م‬ْ‫س‬‫ا‬ ِ‫َر‬‫ك‬ْ‫ذ‬ُ‫ي‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ ‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫َأ‬‫ت‬ َ‫َل‬ َ‫و‬ “dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya”. (Al-An`âm:121) Ayat tersebut, menurut mereka, tidak dapat ditakhshish oleh hadits Nabi yang berbunyi: ‫ال‬)‫داود‬ ‫أبو‬ ‫(رواه‬ . ِ‫م‬َ‫س‬ُ‫ي‬ َ‫لم‬ ْ‫و‬َ‫أ‬ ‫ى‬َّ‫م‬َ‫س‬ ِ‫هللا‬ ِ‫ْم‬‫س‬‫ا‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ح‬َ‫ب‬ْ‫ذ‬َ‫ي‬ ُ‫م‬ِ‫ل‬ْ‫س‬ْ‫م‬ “Orang Islam itu selalu menyembelih binatang atas nama Allah, baik ia benar-benar menyebutnya atau tidak.” (H.R. Abu Daud) Alasannya adalah bahwa ayat tersebut qath’iy, baik dari segi wurud (turun) maupun dalalah-nya, sedangkan hadits Nabi itu hanya dzanniy wurudnya, sekalipun dzanniy dalalahnya. Ulama Syafi’iyah membolehkan, alasannya bahwa ayat itu dapat ditakhshish dengan hadits tersebut. Karena dalalah kedua dalil itu sama-sama dzanniy. Lafadz ‘am pada ayat itu dzanniy dalalahnya, sedang hadits itu dzanniy pula wurudnya dari Nabi Muhammad SAW. 4. Macam-macam lafadz ‘am a. Lafadz ‘am yang dikehendaki keumumannya karena ada dalil atau indikasi yang menunjukkan tertutupnya kemungkinan ada takhshish (pengkhususan). Misalnya: ٍ‫ب‬‫َا‬‫ت‬ِ‫ك‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ٌّ‫ل‬ُ‫ك‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ع‬َ‫د‬ ْ‫َو‬‫ت‬ْ‫س‬ُ‫م‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬َّ‫ر‬َ‫ق‬َ‫ت‬ْ‫س‬ُ‫م‬ ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ق‬ ْ‫ز‬ ِ‫ر‬ ِ َّ‫اَّلل‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ ِ‫ض‬ ْ‫ر‬َ ْ‫اْل‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ٍ‫ة‬َّ‫ب‬‫ا‬َ‫د‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ٍ‫ن‬‫ي‬ِ‫ب‬ُ‫م‬ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).( Hud:6).
  17. 17. Yang dimaksud adalah seluruh jenis hewan melata, tanpa kecuali. b. Lafadz ‘am tetapi yang dimaksud adalah makna khusus karena ada indikasi yang menunjukkan makna seperti itu. Contohnya: ‫وا‬ُ‫ب‬َ‫غ‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫و‬ ِ َّ‫اَّلل‬ ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ‫وا‬ُ‫ف‬َّ‫ل‬َ‫خ‬َ‫ت‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ب‬‫ا‬ َ‫ْر‬‫ع‬َ ْ‫اْل‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫ح‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ِ‫ة‬َ‫ن‬‫ي‬ِ‫د‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ ِ‫ْل‬ َ‫ن‬‫َا‬‫ك‬ ‫ا‬َ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ِ‫ب‬ Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. (At-Taubah: 120). Yang dimaksud ayat tersebut bukan seluruh penduduk Mekah, tapi hanya orang- orang yang mampu. c. Lafadz ‘am yang terbebas dari indikasi yang dimaksud makna umumnya atau sebagian cakupannya. Contoh: ٍ‫ء‬‫و‬ُ‫ر‬ُ‫ق‬ َ‫ة‬َ‫ث‬ َ‫َل‬َ‫ث‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ِ‫ب‬ َ‫ن‬ْ‫ص‬َّ‫ب‬َ‫َر‬‫ت‬َ‫ي‬ ُ‫ات‬َ‫ق‬َّ‫ل‬َ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ال‬ َ‫و‬ Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.( Al- Baqarah: 228). Lafadz ‘am dalam ayat tersebut adalah al-muthallaqat (wanita-wanita yang ditalak), terbebas dari indikasi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah makna umum atau sebagian cakupannya. C. LAFADH KHASH 1. Pengertian lafaz khas Khas ialah lafadz yang menunjukkan arti yang tertentu, tidak meliputi arti umum, dengan kata lain, khas itu kebalikan dari `âm. Menurut istilah, definisi khas adalah: “Al-khas adalah lafadh yang diciptakan untuk menunjukkan pada perseorangan tertentu, seperti Muhammad. Atau menunjukkan satu jenis, seperti lelaki. Atau menunjukkan beberapa satuan terbatas, seperti tiga belas, seratus, sebuah kaum, sebuah masyarakat, sekumpulan, sekelompok, dan lafadh-LAFADH lain yang menunjukkan bilangan beberapa satuan, tetapi tidak mencakup semua satuan- satuan itu”. 2. Dalalah Khash Dalalah khas menunjuk kepada dalalah qath’iyyah terhadap makna khusus yang dimaksud dan hukum yang ditunjukkannya adalah qath’iy, bukan dzanniy, selama tidak ada dalil yang memalingkannya kepada makna yang lain. Misalnya, firman Allah: ِ‫ج‬َ‫ح‬ْ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ٍ‫ام‬َّ‫ي‬َ‫أ‬ ِ‫ة‬َ‫ث‬ َ‫َل‬َ‫ث‬ ُ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ ِ‫ص‬َ‫ف‬ ْ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ف‬ Tetapi jika ia tidak menemukan binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji..(Al-Baqaarah :196) LAFADH tsalatsah (tiga) dalam ayat di atas adalah khas, yang tidak mungkin diartikan kurang atau lebih dari makna yang dikehendaki oleh lafadh itu. Oleh karena itu dalalah maknanya adalah qath’iy dan dalalah hukumnya pun qath’iy. Akan tetapi, apabila ada qarinah, maka lafadh khas harus ditakwilkan kepada
  18. 18. maksud makna yang lain. Sebagai contoh hadits Nabi yang berbunyi: ٌ‫ة‬‫َا‬‫ش‬ ً‫ة‬‫َا‬‫ش‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬ِ‫ع‬َ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ ِ‫ل‬ُ‫ك‬ ْ‫ي‬ِ‫ف‬ “pada setiap empat puluh kambing, wajib zakatnya seekor kambing”. Menurut jumhur ulama, arti kata empat puluh ekor kambing dan seekor kambing, keduanya adalah lafadh khas. Karena kedua lafadh tersebut tidak mungkin diartikan lebih atau kurang dari makna yang ditunjuk oleh lafadh itu sendiri. Dengan demikian, dalalah lafadh tersebut adalah qath’iy. Tetapi menurut Ulama Hanafiyah, dalam hadits tersebut terdapat qarinah yang mengalihkan kepada arti yang lain. Yaitu bahwa fungsi zakat adalah untuk menolong fakir miskin. Pertolongan itu dapat dilakukan bukan hanya dengan memberikan seekor kambing, tetapi juga dapat dengan menyerahkan harga seekor kambing yang dizakatkan. Khallaf, Wahhab Abdul, Ilmu Ushul Fikih, cet.1,Pustaka Amani, Jakarta: Shafar 1421 H/ April 2003 M Muchlis Usman, Kaidah Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah Pedoman Dasar Dalam Istinbath Hukum Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta:1993. Muliadi Kurdi, Ushul Fiqh Sebuah Pengenalan Awal, cet.1, Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS), Banda Aceh: 2011 Mukhtar Yahya, Fathur Rahman, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, cet.1, Alma’rif, Bandung: 1986. Al-qur’an dan Terjemahannya, Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thibaat al Mush-haf, Madinah al Munawwarah, 1994. Jazuli, A, Ushul Fiqh (Metodologi Hukum Islam), Jakarta, PT. Raja Grafido Persada, 2000. Rifa’i, Moh, Ushul Fiqh,Jakarta, PT.Al-Ma’arif, 1979. Satria Effendi, Prof.Dr.H, M.Zein, Ushul Fiqh, Jakarta, Prenada Media, 2005. Idrus bin Ali bin Abdul kadir bin Hasan al- Jufri,http://idrusali85.wordpress.com/2007/08/08/masalah-ijtihad-ijtihad-istinbathi-dan-ijtihad- tathbiqi/ 2. http://grethought.blogspot.com/2007/08/tafsir-dan-takwil.html 3. http://grethought.blogspot.com/2007/08/tafsir-dan-takwil.html 4. Khallaf, Syekh Abdul Wahab, Ilmu Ushul Fiqh,Rineka Cipta, Jakarta, 2005
  19. 19. 5. Syafe’i, Prof. DR. Rahmat.Ilmu Ushul Fiqh,Pustaka Setia, Bandung,1999.

×