Successfully reported this slideshow.
Your SlideShare is downloading. ×

Allahuakbar.docx

Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Loading in …3
×

Check these out next

1 of 5 Ad

More Related Content

Recently uploaded (20)

Advertisement

Allahuakbar.docx

  1. 1. “Allahuakbar... Allahuakbar”. Terdengar merdu suara kumandang adzan subuh dari sebuah masjid yang berdiri kokoh tepat di depan pantai. Suara kumandang adzan itu menyelinap masuk ke dalam rumah-rumah para warga. Membuat para warga yang tinggal di sekitar pantai terbangun. Seorang gadis remaja yang tinggal di rumah kayu sederhana terbangun. Kumandang adzan subuh barusan ikut menyelinap masuk ke dalam telinganya. Menimbulkan sebuah getaran pada gendang telinga yang merespon otak untuk membuka mata. Gadis itu bangkit. Merenggangkan tubuh di atas ranjang rotannya untuk menghilangkan rasa ngantuk. Ia kemudian beranjak. Berjalan pergi meninggalkan kamar. Langkahnya patah-patah. Berjalan perlahan menuju sebuah sumur yang berada di belakang rumah. Gadis itu mengambil sebuah ember. Sebuah ember sumur berwarna hitam yang terlilit pada tali penimba. Wushh... Ember hitam itu dicampakkan ke dalam sumur. Gadis itu mulai menimba. Sebanyak delapan kali. Air timbaan kemudian dipindahkan ke dalam sebuah tong biru berukuran besar yang berada di sebelah sumur. Dengan tenaga yang sedikit terkumpul, Gadis itu mengangkat tong biru berukuran besar tadi ke dalam kamar mandi kecil di dalam rumah.13 Ia kemudian mengambil sebuah handuk. Lalu segera pergi mandi, berwudhu, dan menyikat gigi. Air sumur di pagi hari terasa sangat dingin. Bak batu es yang baru mencair beberapa menit. Gadis itu mengguyur sekujur tubuhnya. Membuatnya menggigil kedinginan. Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang bergetar dahsyat. Gadis itu berjalan. Hendak menuju kamar. Rahangnya bergetar. Kedua tangannya dikepalkan. Berusaha menghilangkan rasa dingin. Ia mengambil sebuah mukena berwarna hijau gelap yang terlipat rapi di atas lemari kayu tua di dalam kamarnya. Kemudian mengenakan mukena tersebut dengan tergesa-gesa. Tubuhnya sangat kedinginan. Ia lalu bergegas melaksanakan sholat subuh. Usai melaksanakan sholat, Gadis itu buru-buru beranjak mengambil sebuah tas sekolah berwarna coklat tua yang tergantung di sebuah paku pada dinding kamarnya. Mengeluarkan tiga buah buku pelajaran dari dalam tas tersebut. Gadis itu kembali ke ranjang rotannnya. Masih mengenaknan mukena hijau yang ia kenakan untuk sholat. Ia. juga membawa tiga buah buku pelajaran yang diambil dari tas cokelat tadi. Waktu menunjukkan pukul 04.47 WITA. Gadis itu perlahan-lahan mulai membuka lembar demi lembar ketiga buku pelajaran yang ia bawa. Teng... Terdengar nyaring bunyi sebuah jam antik kayu yang berdiri tepat di depan kamar Gadis itu. Menandakan bahwa waktu telah menunjukkan pukul 06.00 WITA. Gadis itu mulai menutup satu persatu buku pelajaran yang ia bawa. Menumpuk menjadi satu. Tertulis sebuah nama di bagian sampul buku pelajaran itu bertulis, "ZAHRA DANIA AVILIANA". Sebuah nama sosok perempuan. Nama sosok perempuan itu tertulis pada ketiga buku yang ia bawa.2 Gadis itu menatap tegas nama perempuan yang tertulis di ketiga sampul buku pelajarannya. Ia bergumam di dalam hati "Dania, kau pasti bisa menang Jum'at nanti!". "UDAH SHOLAT?" Bentak seorang wanita tua dari dalam kamar yang tertutup tirai tipis lusuh.
  2. 2. "Udah, Bu." Dania menjawab dengan lembut. Sedikit merasa takut. Wanita tua yang membentak Dania itu adalah ibu dari Dania. Namanya adalah Sarah. Ia adalah seorang wanita tua yang memiliki permasalahan dalam mengatur emosionalnya. Dania bergegas menyiapkan buku-buku untuk dibawa ke sekolah. Ia memasukkan kembali 3 buku yang dikeluarkannya tadi ke dalam tas. "UDAH MAKAN?" Bentak Sarah kembali. Dania terdiam. Menelan ludah. Tak tahu ingin menjawab apa kepada Sarah. Ekonomi keluarga Dania sangat buruk. Bahkan untuk sarapan setiap harinya saja sangat sulit untuk menghemat persediaan makanan. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan perekonomian keluarganya. "Udah, Bu." Dania berbohong. Merasa takut. Emosi Sarah benar-benar sedang tak terkontrol saat itu. SREET!!! Sarah menarik kasar tirai penutup kamar Dania, "CEPAT KAMU BERANGKAT!" Tangannya menunjuk ke pintu keluar. Dania terkejut. Menundukkan kepala. "I-iya bu. Ini Dania mau berangkat." Gadis itu buru-buru beranjak keluar. Mengambil sepatu sekolah.Dania berjalan keluar rumah. Langsung bergegas berangkat ke sekolah. Ia sungguh malas menghadapi Sarah ketika emosi wanita tua itu sedang tak terkontrol. Dania sering mendapat perlakuan kasar dari Sarah seperti tadi. Ia paham bahwa ibunya sangat kasar seperti itu dikarenakan suatu sebab. Namun lama- kelamaan ia juga merasa lelah dengan ibunya. Sarah memiliki sebuah masalah pada kesehentan mentalnya. Semua itu disebabkan ulah suami dan anak laki-lakinya sendiri. Yaitu ayah dan abang Dania. Dulu Sarah adalah seorang wanita yang lemah lembut. Semuanya seketika berubah saat abang Dania mulai lulus SMA. 3 tahun yang lalu. Tahun 2015. Sarah menabung begitu banyak uang untuk menguliahkan abang Dania di sebuah universitas negerti setelah lulus SMA. Dan pada akhirnya uang yang telah ia tabung tersebut berujung hangus begitu saja. Sarah telah mengeluarkan banyak uang tabungannya untuk membayar uang masuk kuliah anak laki-lakinya itu. Abang Dania telah dimasukkan ke sebuah universitas negeri di Sulawesi Tengah. Dan Pria itu sendiri-lah yang meminta Sarah untuk dikuliahkan di sana. Tak ada angin, tak ada hujan. Entah apa yang terjadi. Setelah Sarah membayarkan uang berjuta-juta hasil tabungannya untuk membayar uang masuk, tiba-tiba saja Abang Dania tak mau untuk berkuliah. Pria itu memang anak laki-laki yang sangat keras kepala. Padahal ia sendiri yang meminta Sarah untuk dikuliahkan. Namun ia sendiri juga yang menolak untuk kuliah setelah itu. Sarah benar-benar sangat murka dan marah kepada abang Dania. Ia memarahi abang Dania habis-habisan. Namun Abang Dania justru melawan. Menimbulkan kericuhan parah di dalam rumah. Dania hanya menutup kuping di dalam kamar. Tak sanggup mendengarkan keributan ibu dan abangnya sendiri. Hatinya terasa tergores. Dan pada akhirnya, Sarah-lah mengalah. Ia pasrah melihat kebiadaban anak laki-lakinya itu. Ribuan air mata, keringat, bahkan tetesan darah yang telah Sarah perjuangkan bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang kuliah Abang Dania itu sirna begitu saja. Ia benar-benar tidak mendapatkan sepeser pun kembalian dari hasil perjuangannya itu. Abang Dania berujung menjadi seorang pengangguran yang menghambur-hamburkan penghasilan Sarah. Ia
  3. 3. tak segan mengambil uang Sarah diam-diam. Dan uang itu akan ia gunakan untuk bersenang-senang bersama seorang gadis yang dijadikannya sebagai seorang pacar. Semakin berjalannya hari, Sarah semakin stress. Ia lelah dan pasrah menghadapi anak laki-lakinya itu. Sarah bahkan sampai tak berani lagi untuk berurusan dengan anak laki-lakinya sendiri. Ayah?, Ayah Dania bagaimana? Ayah Dania adalah seorang pecandu minuman keras. Seorang pemabuk! Ia tak memiliki pekerjaan tetap yang dapat menafkahi keluarga kecilnya. Ayah Dania mendapatkan uang dari hasil jasa membantu para nelayan yang baru pulang menangkap ikan di lautan. Ia membantu mengangkati hasil tangkapan para nelayan ke sebuah truk besar pengantar ikan-ikan ke pasar besar di kota Palu. Namun upah yang diterima Ayah Dania jumlahnya hanya sedikit. Dan biasanya uang itu langsung ia habiskan untuk membeli rokok dan mabuk-mabukan. Ayah Dania juga sering pulang malam dalam keadaan mabuk. Kadang Pria itu juga sering melakukan kekerasan yang tak diduga-duga kepada Dania dan Sarah ketika sedang tak sadarkan diri. Hal ini membuat Sarah semakin tertekan. Sarah sebenarnya adalah seorang wanita yang pandai menabung dan berhemat. Sangat bertolak belakang dengan anak laki-laki dan suaminya itu. Sarah bekerja sebagai pencuci pakaian dibeberapa rumah. Walau hanya menjadi seorang pencuci, penghasilan yang Sarah dapatkan mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, Ayah dan Abang Dania membuat perekonomian keluarga mereka menjadi tidak stabil. Uang penghasilan Sarah sering kali di ambil oleh anak laki-laki dan suaminya itu. Sarah melampiaskan seluruh kekesalan yang ia rasakan kepada anak gadisnya yang cantik dan pintar itu. Ya, Dania! Ia adalah seorang gadis cantik dan pintar. Meski hidup dari keluarga yang tidak berkecukupan, ia tetap tumbuh menjadi sosok gadis yang pintar. Dania selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Walau begitu, keahlian Dania dalam bidang akademik sama sekali tidak membuat Sarah merasa senang. Sarah sama sekali tidak pernah senang dengan prestasi apapun yang Dania dapatkan. Semua itu disebabkan oleh masalah yang terjadi pada keluarganya. Dania adalah anak perempuan yang sopan dan lembut. Ia sungguh tak suka dibentak dan dikasari. Terutama oleh keluarganya sendiri. Oleh ayahnya ataupun ibunya. Seluruh kekesalan Sarah ia lampiaskan pada anak gadis satu-satunya itu. Sarah melampiaskan kekesalannya kepada Dania dengan membentak dan memarahinya. Hal ini justru berpengaruh pada mental anak gadisnya yang lembut itu. Dania terus dipaksa menjadi dewasa dengan keadaan. Kini kapasitas kedewasaan Dania sudah sangat penuh berdasarkan usia yang ia pijakkan. Ia merasa sangat trauma dengan apa-apa yang sudah terjadi pada keluarganya. Satu hal yang Dania harapkan dari dulu adalah, menjalani kehidupan dengan tenang. ..... "DANIAA!" Seorang Gadis berambut hitam panjang berteriak. Berdiri di balik pintu kelas Dania. Dania tersenyum sinis. Menatap kesal Gadis itu. Ia buru- buru melepaskan sepatu. Berjalan masuk ke dalam kelas. Dania malu. Halaman sekolah saat itu sedang sangat ramai. Gadis barusan memanggilnya dengan sangat kencang.
  4. 4. "Veniiiiii!" Dania mencubit pergelangan tangan Gadis yang memanggilnya itu. Merasa sedikit kesal dan malu. "Au—au. Iya, iya! Maaf, Dan!" Lirih Gadis berambut panjang itu. Dania melepaskan cubitannya. Sosok Gadis cantik yang baru saja berteriak memanggil Dania itu adalah Veni. Seorang sahabat Dania. "Ngapain sih teriak-teriak, Ven? Bikin malu aja," Dania menatap sinis ke wajah Veni. Berbisik pelan. Veni menarik lengan Dania, membawa Gadis itu masuk ke dalam kelas. "Kamu udah belajar, Dan? Gila itu yang fisika kayanya bakalan susah banget deh." Veni mengalihkan pembicaraan. "Aku udah belajar sih, tapi ada beberapa yang belom ngerti di biologi. Fisika emang susah, tapi kalo kamu belajarnya bener- bener pasti bisa." Balas Dania. "Ya udah deh, nanti kita kan bakal belajar bareng bu Tari lagi. Sama Althar juga! Oh my god, nggak sabar banget!" Pekik Veni sambil tersenyum mencurigakan. Dania tertawa. "Syukur banget loh kita sekelompok sama Althar. Agama, bahasa inggris, sama fisikanya dia bagus. Jadi bisa lengkapin kekurangan kita." Seru Dania. Sembari meletakkan tas yang ia bawa ke atas meja. "Entar aku ke kelasnya Althar deh. Biar aku yang ngajak dia buat belajar bareng." Senyum Veni melebar. Menatap Dania dengan raut yang mencurigakan. "Mau belajar kapan emang?" Dania mengerutkan kening. Berpikir. "Kapan ya? Kalo bu Tari sih bebas orangnya. Abis pulang sekolah aja deh. Di kelas ini!" Gadis itu menunjuk ke arah lantai. "Ah, ga asik kalo di sekolah! Bosen tau! Di tempat lain kek. Di mana gitu?" Protes Veni dengan cepat. Tak setuju dengan usulan Dania. Dania menatap kesal. Mendekatkan wajahnya ke wajah sahabatnya itu, "Inget ya Ven! Althar itu Cowok baik-baik. Nggak mungkin dia mau kalo kita ajak keluar. Palingan dia mau kalo ada event lomba doang. Belajar di sekolah aja sih! Biar si Althar—nya mau." Wajah Veni menyemberut, "Ya udah deh disini aja." Sahutnya pasrah. Gadis cantik bernama Veni itu adalah sahabat Dania dari kecil. Mereka telah berteman sejak masih duduk di bangku SD. Saat kelas 6 SD, Veni dan Dania pernah berjanji untuk melanjutkan sekolah bersama ketika naik ke bangku SMP dan SMA. Namun Tuhan selalu memiliki rencana terbaik untuk mereka. Tuhan memberi Dania dan Veni kesempatan untuk tetap bersatu hingga SMA. SD Dania dan Veni dulu memberikan beasiswa untuk melanjutkan SMP dan SMA gratis di sebuah sekolah ternama di kota Palu. Beasiswa itu akan diberikan pihak sekolah kepada 3 siswa dengan nilai terbaik satu angkatan. Dan ya! Kedua gadis pintar itu mendapatkan dua dari tiga beasiswa tersebut. Kepribadian kedua sahabat itu sebenarnya sangat berbeda. Mereka memiliki sifat yang terbilang cukup bertolak belakang. Namun perbedaan tersebutlah yang membuat Dania dan Veni tetap bersatu hingga detik ini. Veni adalah seorang perempuan yang bawel, berisik, centil, heboh, dan sangat ribet. Sedangkan Dania adalah perempuan yang lembut dan pendiam. Keduanya-pun sama-sama cantik. Dan yang pastinya juga pintar.
  5. 5. Dania dan Veni sama-sama dibesarkan dari keluarga yang kurang berkecukupan. Rumah Veni juga tidak terlalu jauh dari rumah Dania. Hanya berjarak 2 kilometer. Keduanya tinggal di tepi pantai. Dringg... Bel istirahat berbunyi. Para siswa berlarian keluar kelas. Veni dan Dania tidak pergi ke kantin. Mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Jangankan mendapat uang jajan dari orang tua, untuk makan sehari-hari saja mereka harus sangat menghemat. Kedua perempuan itu hanya diam di kelas. Sibuk memainkan ponsel masing-masing. Mereka hanya mengandalkan air putih untuk mengganjal perut. Dan itu sudah terasa lebih dari cukup. "Eh! Temenin aku ke 12 B dong Dan!" Ucap Veni tiba-tiba. Menghantam meja belajarnya. Membuat Dania terkaget. Dania mengerutkan kening, "Mau ngapain?" Veni tiba-tiba tersenyum. Wajahnya berseri merah. "Mau ngajak Althar, kan?" "Hwuuh,". Dania menghebuskan napas. "Kamu aja deh, aku mager!" Jelasnya sambil fokus menatap layar ponsel. "Okey!" Veni mengangguk. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Dania. Menuju kelas 12 B. Gadis itu hendak menemui sosok laki-laki. Seorang teman laki-laki yang di- sekelompokkan dengan Dania dan Veni untuk mengikuti sebuah lomba cerdas cermat. Sosok laki-laki itu bernama Althar. Ia merupakan mantan anak pesantren yang asalnya dari Jakarta. Hafalan Al-qur'an Pria itu sudah sangat banyak. Sekitar 25 juz. Begitupun dengan banyaknya ilmu agama yang ia pahami. Althar bisa dikatakan seorang pria yang cukup soleh. Selain paham banyak mengenai ilmu agama, Althar juga seorang pria yang sangat tampan. Badannya lumayan tinggi, hidungnya mancung, alisnya tajam, dan kulitnya putih bersih. Pria itu adalah seorang keturunan Arab. Althar juga merupakan murid yang cerdas. Ia merupakan peringkat satu di kelas 12 B. Tak heran sekali mengapa Veni sangat semangat untuk bertemu dengan Pria itu. Ya, Veni memang menyukai Althar. Althar sangat banyak memiliki penggemar di SMA itu. Banyak sekali murid perempuan yang menaksir dengannya. Mulai dari teman sekelas, teman satu angkatan, adik kelas, bahkan kakak kelas yang sudah menjadi alumni. Namun Althar adalah seorang pria yang soleh. Ia sama sekali tidak pernah merespon dan menanggapi para penggemarnya di SMA itu. Ia sangat sering mendapatkan hadiah dari berbagai murid perempuan. Namun Althar hanya menanggapi dengan ucapan "terima kasih". Tak lebih dari itu. Althar bahkan sudah beberapa kali diajak berpacaran oleh murid perempuan. Sudah puluhan siswi yang mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Pria itu. Namun Althar selalu menolak. Pria itu berusaha menjaga dirinya dari perbuatan zina. Termasuk berpacaran.

×