Presentasi tgs baru

617 views

Published on

Published in: Technology, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
617
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Karena kedua faktor diatas yaitu kebutuhan akan bandwidth yang besar dan QoS, diterapkanlah LTE (Long Term Evolution) sebagai generasi penerus jaringan mobile 3.5G. Mampukah LTE menjawab tantangan tersebut? Seperti yang kita ketahui bahwa paket loss ratio (PLR) dan delay merupakan faktor yang sangat berpengaruh untuk jaringan mobile, dimana bentuk perilaku dari link radio yang tak terduga..
  • - Ini merupakan tujuan utama dari teknologi yang ditawarkan. Karena untuk teknologi yang bersifat komersil, tanpa adanya kepuasan dari sisi konsumen (Tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen) otomatis sehebat apapun produk yang ditawarkan tidak akan laku. Itulah sebabnya Quality of Experience menjadi faktor yang paling utama selain keuntungan yang didapat oleh produsen itu sendiri.
  • 3rd Generation Partnership Project (3GPP). Dari sisi kompatibilitas, LTE Advanced kompatibel dengan LTE dan menggunakan band frekuensi yang sama, sendangkan LTE tidak kompatibel dengan teknologi 3G yang merupakan pendahulunya.LTE secara praktis merupakan pengembangan dari teknologi jaringan sebelumnya (GSM/W-CDMA/HSPA) yang telah diterapkan saat ini. LTE dengan kemampuannya yang bisa menawarkan throughput dengan data rate yang lebih tinggi dan juga arsitekturnya yang sudah IP-based.
  • dkk: dan kawan-kawan
  • Setiap TTI, menetapkan RBs menggunakan algoritma PF dengan mempertimbangkan kebutuhan bandwidth pada FLS.
  • Hi(z) = kanalZ^-1 = delay
  • Nilai ini dihitung dengan menggunakan masukan pada kualitas saluran yang dikirim oleh UE dalam TTI sebelumnya
  • Untuk telepon internet, penundaan selama 100ms dianggap sebagai batas untuk kualitas yang dirasakan baik. Keterlambatan harus kurang dari 300ms untuk kualitas yang memuaskan.Sedangkan untuk interaktif video penundaan 200ms masih dianggap baik
  • Presentasi tgs baru

    1. 1. PENJADWALAN DOWNLINK DUA TINGKAT UNTUK LAYANAN MULTIMEDIA REAL-TIMEPADA JARINGAN LTE (LONG TERM EVOLUTION) Disusun oleh: ARI ENDANG JAYATI 2210203008 MULYONO 2210203007
    2. 2. Latar Belakang Kebutuhan akan layanan real-time multimedia. Kebutuhan akan akses yang dapat dilakukan dimanapun.
    3. 3. Permasalahan Kebutuhan bandwidth yang semakin besar. Quality of Service (QoS).
    4. 4. Tujuan Kepuasan pengguna akhir yaitu Quality of Experience (QoE).
    5. 5. Metodologi LTE (Long Term Evolution) LTE didefinisikan dalam standar 3GPP Release 8 menjadi evolusi dari jaringan GSM dan juga bagian dari roadmap standar 3GPP2. LTE memberikan kecepatan data puncak tinggi yaitu: - Downlink 100Mbps. - Uplink 50Mbps. - Bandwidth 1.4MHz - 20MHz.
    6. 6.  Selain itu LTE juga dirancang untuk menyediakan: Efisiensi spektrum yang lebih baik. Peningkatan kapasitas radio. Biaya operasional yang lebih murah bagi operator. Layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk pengguna.
    7. 7. Gambar 1. Road map generasi jaringan telekomunikasi bergerak
    8. 8.  Layanan LTE pertama di dunia dibuka oleh TeliaSonera di dua kota Skandinavia yaitu Stockholm dan Oslo pada 14 Desember 2009.
    9. 9. Materi Penunjang Dalam papernya piro, dkk, juga mengulas tentang: Maximum Throughput (MT) PF Weighted Round Robin Adaptive Token Bucket Aturan Log Exp
    10. 10. Metode Yang Diusulkan Gambar 2. Algoritma Penjadwalan Dua Level
    11. 11.  Pada pendekatan ini waktu dilihat sebagai urutan frame yang tak ada habisnya, yang selanjutnya dibagi dalam interval waktu. Frame level scheduler (FLS): Mengevaluasi, dengan skema loop kontrol tertutup, quota dari data, ui(k), bahwa sumber real time i-th harus dikirim dalam k-th frame untuk memenuhi kendala QoS. Ui(k) dihitung dan didefenisikan untuk memberikan batasan-batasan delay untuk aliran real time seperti gambar 3.
    12. 12. Gambar 3. Loop Pengaturan pada Algoritma Scheduler Upper LayerBerdasarkan gambar 3, maka didapatkan persamaan :Dimana :qi (k) adalah panjang antrian ke–i pada waktu tk,iqi (k+1) adalah panjang antrian ke–i pada waktu tk+1,iui(k) adalah jumlah data yang ditransmisikan selama frame ke–kdi (k) adalah jumlah data yang mengisi antrian selama frame ke–k
    13. 13.  Mendefenisikan frame demi frame sejumlah data dengan sumber yang real time harus ditransmit untuk memenuhi kendala delay. Dengan kata lain, FLS mendefenisikan dalam jangka panjang (yaitu, dalam satu frame) berapa banyak data yang harus ditransmisikan oleh masing-masing sumber data.
    14. 14.  Lower scheduler : Mengalokasikan blok sumber dalam tiap- tiap TTI untuk mencapai trade-off antara fairness dan system throughput. Menentukan jumlah TTI/RBs dimana setiap sumber real time benar-benar akan mengirimkan paket tersebut. Memberikan sumber daya radio sesuai dengan algoritma Proportional Fair (PF) sesuai kendala oleh FLS.
    15. 15.  Sedangkan link adaptation berfungsi untuk mengevaluasi saluran untuk memberikan data rate maksimum pada setiap UE. Gambar 4. Contoh skema pengalokasian sumber
    16. 16. Kinerja Kinerja dari algoritma yang diusulkan telah diuji menggunakan simulator open source untuk jaringan LTE, yaitu LTE-Sim.
    17. 17. Gambar 4. Skenario Simulasi Gambar 5. Skenario Simulasi LTE dengan 19 Cell dan Cluster dengan 4 Cell
    18. 18. Simulation ResultGambar 6. Perbandingan Packet Loss Ratio antara aliran video dan aliran VoIP dengan berbagai variasi UE
    19. 19. Gambar 7. Goodput dari Aliran Gambar 8. Indeks Fairness dari FTP dengan Variasi UE Skenario Best Effort dengan Variasi UE
    20. 20. Gambar 9. PSNR dari Komponen Y Aliran Video dengan Variasi UE
    21. 21. Kesimpulan Metode yang digunakan dalam paper ini cukup baik karena selain mempertimbangkan kualitas juga mempertimbangkan efisiensi daya. Dari hasil simulasi yang dilakukan oleh Piro dan rekan-rekan menunjukkan kualitas yang lebih baik dibanding dengan metode LOG dan EXP. Kinerja dari algoritma tidak akan optimal bila kondisi saluran sangat buruk.
    22. 22. Referensi G. Piro. L.A. Grieco, G. Boggia, R. Fortuna, & P. Camarda, “Two-level downlink scheduling for real-time multimedia services in LTE networks,” IEEE Trans. on Multimedia, vol. 13, no. 5, pp. 1052-1065, Oct. 2011. G. Piro, L. A. Grieco, G. Boggia, F. Capozzi, and P. Camarda, “Simulating LTE cellular systems: an open source framework,” IEEE Trans. Veh. Technol., 2010, to be published. Jepri, “Basic LTE”, Posted on 8 September 2010: http://jfkoernia.wordpress.com/2010/09/08/basic-lte- part-1-short-introduction/

    ×