SlideShare a Scribd company logo
1 of 252
Download to read offline
DALAM PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NARKOBA
2019
DALAM PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NARKOBA
POTENSI DESA
POTENSI DESA
POTENSI DESA DALAM PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NARKOBA
2019
PUSAT PENELITIAN, DATA, DAN INFORMASI
BADAN NARKOTIKA NASIONAL
2020
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
ISBN : 978-623-93034-6-4
POTENSI DESA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN
NARKOBA 2019
Copyright @2020
Tim Penyusun :
Pengarah			 : Drs. Agus Irianto, S.H., M.Si, M.H.
Penanggung Jawab		 : Dwi Sulistyorini, S.Si., M.Si
Ketua Tim Penyusun		 : Sri Haryanti, S.Sos., M.Si.
Anggota			 : Drs. Muhammad Dawam, M.P
.A.
				 Drs.Titut Yuli Prihyugiarto, M.Sc.PH.
				 Mario Ekoriano, S.Si., M.Si.
				 Mugia Bayu Rahardja, S.Si., M.Si.
				 Desy Nuri Fajarningtyas, S.Si., MAPS
			 	 Sukarno, S.Kom., MMSI.
				 Siti Nurlela Marliani, S.P
., S.H., M.Si
				 Sri Lestari, S.Kom., M.Si
				 Erma Antasari, S.Si
				 Novita Sari, S.Sos, M.H.
				 Armita Eki Indahsari, S.Si
				 Radityo Kunto Harimurti, S.Stat.
Desain Cover 	 		 : Tri Sugiharto, S.Kom
Desain Isi			 : Indoyanu Muhamad
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Gambar Cover diunduh via https://nuswantara.id
Penerbit :
Pusat Penelitian, Data, dan Informasi
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia
Jl. MT. Haryono No. 11 Cawang, Jakarta Timur
Email 		 : puslitdatin@bnn.go.id.
Call Center 	 : 184
SMS Center	 : 081221675675
Email		 : puslitdatin@bnn.go.id
Website	 : www.bnn.go.id
i
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Puji dan syukur kami panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
rahmat dan karunia-Nya Riset Potensi Desa
dalam Mendukung Program Pencegahan
dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Tahun 2019
dapat diselesaikan dengan baik dan tepat
waktu. Riset ini merupakan kerja sama antara
Pusat Penelitian, Data, dan Informasi BNN bekerja sama dengan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga
Sejahtera BKKBN sebagai sebuah wujud upaya pencegahan dan
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di
Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama bahwa penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba bukan hanya menyerang masyarakat
perkotaan tetapi juga menyasar pada masyarakat di lingkungan
perdesaan.
Untuk itu dalam upaya penanggulangan narkoba, BNN sebagai
leading sector pelaksanaan P4GN memiliki peranan penting dalam
mengkoordinasikan dan mensinergikan upaya kementerian/ lembaga
dan instansi terkait lainnya. Tanpa sinergitas dari kementerian/
lembaga dan instansi terkait lainnya baik di tingkat pusat maupun
daerah, upaya yang dilakukan tidak akan berjalan dengan maksimal.
Mengingat ancaman besar dan tidak ada satupun daerah di Indonesia
yang dapat dideklarasikan wilayahnya menjadi wilayah bebas narkoba,
maka menjadi penting menggali potensi dan tantangan yang dimiliki
setiap wilayah tidak terkecuali desa.
Desa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas wilayah serta berwenang untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
Kata Sambutan
i
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
ii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang
diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Dari definisi tersebut, desa merupakan salah satu
wilayah yang potensial untuk diberdayagunakan dalam Program P4GN.
Melalui riset ini dihasilkan informasi tentang potensi dan tantangan
yang akan dihadapi dalam pelaksanaan Program P4GN di wilayah
perdesaan.
Akhirnya selaku Kepala BNN, kami ucapkan terima kasih kepada
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dan seluruh
pihak yang telah membantu pelaksanaan riset. Riset ini diharapkan
dapat memberikan masukan membangun dan dapat menjadi alternatif
pengambilan kebijakan dalam pelaksanaan P4GN khususnya program
Desa Bersih Narkoba “Bersinar”.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
					 Jakarta, Februari 2020
				 Kepala Badan Narkotika Nasional
					 Drs. Heru Winarko, S.H
Kata Sambutan
ii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
iii
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat, rahmat serta hidayah-Nya yang sangat besar hingga kami dapat
menyelesaikan buku Potensi Desa dalam Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba tepat pada waktunya. Buku ini disusun berdasarkan hasil
riset “Potensi Desa dalam Mendukung Program Pencegahan dan
Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun
2019” yang dilaksanakan atas kerja sama antara Pusat Penelitian, Data,
danInformasiBadanNarkotikaNasionaldenganPusatPenelitianKeluarga
Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN. Dalam pelaksanaannya riset
ini dilaksanakan oleh Peneliti BNN dibantu oleh para Peneliti BKKBN.
Buku ini merupakan gambaran umum hasil riset yang bertujuan
untuk menggali potensi desa dalam upaya P4GN di wilayah perdesaan.
Riset tersebut melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, BNNP
,
BNNK, Kementerian/Lembaga, dinas terkait, informan, koordinator
lapangan, dan enumerator di 5 (lima) Provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa
Tengah, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta dan Banten. Dalam kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala BNN Drs. Heru Winarko,
S.H. dan Sekretaris Utama BNN Drs. Adhi Prawoto, S.H. atas arahan dan
bimbingannya selama menjalankan riset. Terima kasih tak lupa kami
ucapkan kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga
Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN, Zahrofa Hermiwahyoeni, SH.,
M.Si. atas bantuan dan kerjasamanya dalam mendukung pelaksanaan
seluruh tahapan riset. Tidak lupa juga kami sampaikan terima kasih
kepada seluruh mitra lokal dan seluruh jajaran BNN Provinsi Banten,
BNN Kabupaten Sleman, BNN Kabupaten Tulungagung, BNN Kabupaten
Kuningan dan BNN Kabupaten Magelang atas kesediaannya menjadi
lokasirisetsertamendukungkelancaranpelaksanaanpengumpulandata.
Kami berharap buku ini dapat menjadi kontribusi positif dan
bermanfaat bagi para pembacanya, khususnya sebagai alternatif dalam
pengambilan keputusan dan penyempurnaan Program P4GN di wilayah
perdesaan di Indonesia.
					 Jakarta, Februari 2020
				 Tim Penyusun
Kata Pengantar
iii
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
iv Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Upaya pemerintah Indonesia dalam melawan penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba sudah sangat keras, termasuk melalui
penjatuhan sanksi, baik berupa hukuman maupun denda. Meskipun
demikian dalam kenyataannya, jumlah pelaku penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkotika semakin meningkat. Hasil survei Badan
Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) pada tahun 2018 menunjukkan prevalensi penyalahgunaan
narkoba pada kelompok pelajar/mahasiswa sebesar 3,21 persen
atau setara dengan 2.297.492 pelajar/mahasiswa yang pernah
menyalahgunakan narkoba, sedangkan prevalensi penyalahgunaan
narkoba pada kelompok pekerja sebesar 2,1 persen atau setara dengan
1.514.037 orang yang pernah menyalahgunakan narkoba.
Data hasil survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan
narkoba tertinggi dijumpai pada remaja dengan kelompok umur 20-24
tahun sebesar 12 persen dan yang berdomisili di perdesaan sebesar 10
persen. Hal ini menunjukkan penyalahgunaan narkoba sudah semakin
banyak dilakukan di wilayah perdesaan. Data Badan Pusat Statistik
tentang Statistik Potensi Desa tahun 2018 mencatat pada tahun 2018
penyalahgunaan/ pengedaran narkoba terjadi di 12.579 wilayah dari
83.931 wilayah setingkat desa di seluruh Indonesia yang merupakan
kejadian tindak kejahatan dengan jumlah tertinggi kedua selama
setahun terakhir setelah tindak perjudian.
Melihat kondisi tersebut, BNN sebagai vocal point dalam upaya
PencegahandanPemberantasanPenyalahgunaandanPeredaranGelap
Narkoba (P4GN) mulai menyentuh desa sebagai salah satu sasaran
target program yang dijalankan. Sebagai upaya untuk mengantisipasi
penyalahgunaan narkoba di wilayah perdesaan, pada tahun 2019 BNN
bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga
Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN untuk melaksanakan Riset
Potensi Desa dalam Mendukung Program P4GN. Riset ini dilakukan
untuk menemukan dan menggali potensi desa dalam mendukung
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkoba. Subjek riset ini adalah ibu atau kepala keluarga yang berusia
Prolog
iv Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
v
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Prolog
v
18 tahun ke atas yang mengetahui kondisi keluarga secara lengkap.
Riset dilaksanakan di 5 (lima) provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah,
D.I Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten.
Temuan penting yang diperoleh dari hasil riset ini meliputi potensi
desa ditinjau dari berbagai aspek seperti gambaran permasalahan
sosial, pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat terhadap masalah
narkoba, konsistensi sistem kontrol keluarga terhadap anggota
keluarga, dan upaya P4GN di lingkungan perdesaan. Hasil riset
ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam
perumusan program/ kegiatan P4GN di masyarakat perdesaan,
khususnya dalam hal Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) P4GN;
pemanfaatan tenaga relawan P4GN; pendayagunaan agen pemulihan
P4GN; serta pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam P4GN.
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
vi Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
KATA SAMBUTAN
KATA PENGANTAR
PROLOG	
DAFTAR ISI	
DAFTAR TABEL		
DAFTAR GAMBAR	
I. PENDAHULUAN	
1.1.	 Latar Belakang	
1.2	 Permasalahan	
1.3. Tujuan Penelitian	
1.4.	 Manfaat Penelitian	
1.5.	 Keterbatasan Penelitian	
II. PENGERTIAN DAN DEFINISI	
2.1. Potensi Desa
2.2. Narkoba
2.3. Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)
2.4.	 Kawasan Rawan Narkoba 	
III. METODE RISET
3.1.	 Rancangan Riset
3.2.	 Populasi dan Sampel
3.3.	 Kerangka Sampling dan Pemilihan Sampel
3.4.	 Pengumpulan Data
3.5. Lokasi Riset
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN INFORMAN
4.1.	 Hasil Kunjungan
4.2.	 Karakteristik Anggota Keluarga
4.3.	 Karakteristik Responden
V. POTENSI DESA DALAM MENDUKUNG PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI 5 PROVINSI
Daftar Isi
vi
i
iii
iv
vi
viii
ix
1
3
6
7
8
8
9
11
11
12
16
19
21
22
23
23
24
25
27
29
30
33
43
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
vii
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Daftar Isi
vii
5.1.	 Aspek Sumber Daya Manusia (Masyarakat, Aparatur
	 Desa, Lembaga Sosial dan Institusi Masyarakat)
5.2.	 Aspek Sumber Daya Alam
5.3.	 Aspek Sumber Daya Ekonomi
5.4.	 Aspek Budaya/Tradisi
5.5.	 Ketersediaan Fasilitas Rehabilitasi Medis dan Sosial
5.6.	 Integrasi Sosial
5.7. Ketersediaan APBDes dan Corporate Social
	 Responsibility (CSR)
5.8.	 Ketersediaan Regulasi Terkait Pencegahan dan
	 Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran
	 Gelap Narkoba
5.9.	 Gambaran Umum Permasalahan Sosial
5.10. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Terhadap Masalah
	 Narkoba
5.11. Sikap Terhadap Kejadian Penyalahgunaan Narkoba
5.12. Perilaku Terhadap Bahaya Narkoba
5.13. Konsistensi Sistem Kontrol Keluarga Terhadap
	 Anggota Keluarga
5.14. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan
	 Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba
VI. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA BARAT
6.1.	 Profil dan Karakteristik Lokasi Riset	
6.2.	 Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa	
6.3.	 Gambaran Umum Permasalahan Sosial
6.4.	 Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
6.5.	 Upaya P4GN	
VII. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA TENGAH
7.1.	 Profil dan Karakteristik Lokasi Riset	
7.2.	 Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa	
7.3.	 Gambaran Umum Permasalahan Sosial
7.4.	 Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
7.5.	 Upaya P4GN		
46
50
53
55
58
60
62
64
67
72
81
84
91
96
107
109
110
120
126
128
137
139
144
150
152
153
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
viii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
VIII. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
8.1.	 Profil dan Karakteristik Lokasi Riset	
8.2.	 Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa	
8.3.	 Gambaran Umum Permasalahan Sosial
8.4.	 Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
8.5.	 Upaya P4GN
IX. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA TIMUR
9.1.	 Profil dan Karakteristik Lokasi Riset	
9.2.	 Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa	
9.3.	 Gambaran Umum Permasalahan Sosial
9.4.	 Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
9.5.	 Upaya P4GN
X. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI BANTEN
10.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset	
10.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa	
10.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial
10.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
10.5. Upaya P4GN
XI. PENUTUP
11.1. Kesimpulan
11.2. Rekomendasi
GLOSARY	
DAFTAR NAMA PENELITI
LAMPIRAN	
EPILOG	
DAFTAR PUSTAKA	
viii
157
159
160
167
169
170
175
177
180
187
189
195
199
201
204
207
207
208
211
213
215
218
220
222
231
232
Daftar Isi
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
ix
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 ix
Tabel 3.1 Lokasi Riset dan Status Desa
Tabel 4.1 Distribusi Sampel Hasil Kunjungan per Provinsi	
Tabel 4.2 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga
	 Berdasarkan Kelompok Umur (n = 3.559)
Tabel 4.3 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga
	 Berdasarkan Jenis Kelamin (n = 3.559)
Tabel 4.4 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga
	 Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n = 3.559)
Tabel 4.5 Distribusi Persentase Kelompok Umur Berdasarkan
	 Provinsi (n = 1.036)
Tabel 4.6 Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden (n = 1.036)
Tabel 4.7 Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden
	 Berdasarkan Kelompok Umur (n = 1.036)
Tabel 4.8 Distribusi Persentase Tingkat Pendidikan Responden
	 (n=1.036)
Tabel 4.9 Distribusi Persentase Rata-Rata Pengeluaran Keluarga
	 (n=1.036)
Tabel 4.10 Distribusi Persentase Jenis Keterampilan Responden
	 (n=349)
Tabel 4.11 DistribusiPersentaseJenisPekerjaanResponden(n=1.036)
Tabel 4.12 Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Tempat
	 Tinggal (n=1.036)
Tabel 4.13 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden
	 Berdasarkan Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (n=1.036)
Tabel 4.14 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden
	 Berdasarkan Aktivitas Sosial (n=1.036)
Tabel 4.15 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
	 Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal (n=1.036)
Tabel 5.1 Ketersediaan Fasilitas Medis dan Sosial sebagai Tempat
	 Rehabilitasi
Tabel 5.2 Distribusi Jumlah dan Persentase Ketersediaan Peraturan
	 Khusus yang Mengatur Perilaku Masyarakat (n=1.036)
Tabel 5.3 Distribusi Persentase Ketersediaan Peraturan tentang
	 Larangan Penggunaan Narkoba
Tabel 5.4 Distribusi Jumlah dan Persentase Permasalahan Sosial
	 Berdasarkan Klasifikasi Desa (n=1.036)
Tabel 5.5 Distribusi Jumlah dan Persentase Ketersediaan Peraturan
	 Khusus yang Mengatur Perilaku Masyarakat (n=1.036)
25
30
31
32
33
34
34
35
36
37
37
39
40
41
41
42
58
64
65
69
70
Daftar Tabel
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
x Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Daftar Tabel
Tabel 5.6 Distribusi Persentase Keterpaparan Program P4GN
	 (n=1.036)
Tabel 5.7 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat di Desa
	 TRN terkait Informasi Bahaya Narkoba (n=521)
Tabel 5.8 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat di Desa
	 RN terkait Informasi Bahaya Narkoba (n=515)
Tabel 5.9 Distribusi Persentase Sumber Informasi yang Diakses
	 oleh Masyarakat di Desa TRN (n=521)
Tabel 5.10 Distribusi Persentase Sumber Informasi yang Diakses
	 oleh Masyarakat di Desa RN (n=515)
Tabel 5.11 Distribusi Persentase Lokasi yang Dianggap Rawan
	 Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.12 Distribusi Persentase Masyarakat yang Mengetahui
	 Tempat Rehabilitasi (n= 35)
Tabel 5.13 Distribusi Persentase Jenis Tumbuhan yang Memiliki
	 Efek yang Sama dengan Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.14 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap terhadap
	 Kejadian Penyalahgunaan Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.15 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap Responden
	 terhadap Individu yang Melakukan Penyalahgunaan
	 Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.16 Distribusi Persentase Responden Menurut Tindakan
	 Jika Terdapat Masalah Narkoba di Lingkungan Tempat
	 Tinggal (n=1.036)
Tabel 5.17 Distribusi Jumlah dan Persentase Temuan Anggota
	 Masyarakat yang Menjadi Pengedar Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.18 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap Masyarakat
	 terhadap Pelaku Peredaran Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.19 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap
	 Pengedar Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.20 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap
	 Penyalahguna/ Pecandu Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.21 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap
	 Mantan Penyalahguna Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.22 Distribusi Persentase Sikap Pelaku Usaha terhadap
	 Mantan Penyalahguna Narkoba (n=1.036)
Tabel 5.23 Distribusi Persentase Petugas yang akan Dihubungi
	 Bila Terjadi Penyalahgunaan Narkoba (n=1.036)
74
75
76
76
77
78
80
81
81
82
83
83
84
87
88
89
89
90
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
x
xi
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Daftar Tabel
Tabel 5.24 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden
	 Berdasarkan Komunikasi Ketika Menghadapi Masalah
	 (n=1.036)
Tabel 5.25 Distribusi Persentase Rekan Bercerita Saat Menghadapi
	 Masalah (n=864)
Tabel 5.26 Distribusi Persentase Intensitas Interaksi Sosial dalam
	 Keluarga (n=1.036)
Tabel 5.27 Distribusi Persentase Tingkat Interaksi dalam Keluarga
	 Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n=1.036)
Tabel 6.1 Ketersediaan Fasilitas Medis dan Sosial sebagai Tempat
	 Rehabilitasi di Jawa Barat (n=201)
Tabel 6.2 Data Kasus Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap
	 Narkoba Tahun 2017 s.d 2019
Tabel 7.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Magelang berdasarkan
	 Jenis Kelamin dan Rasio Ketergantungan, BPS 2019
Tabel 7.2 Angka Kesakitan Penduduk Kabupaten Magelang,
	 Provinsi dan Nasional Tahun 2017
Tabel 7.3 Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan di Kabupaten
	 Magelang, 2015
Tabel 7.4 Statistik Potensi Desa Kecamatan Mertoyudan, 2018
Tabel 7.5 Distribusi Jumlah dan Persentase Permasalahan Sosial
	 di Desa (n=200)
Tabel 7.6 Distribusi Jumlah dan Persentase Pengalaman
	 Responden Melihat/ Mendengar Informasi Bahaya
	 Narkoba (n=200)
Tabel 8.1 Distribusi Persentase Tempat Pengaduan Masyarakat
	 Ketika Terjadi Penyalahgunaan Narkoba di Provinsi D.I.
	 Yogyakarta (n=220)
Tabel 9.1 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat tentang
	 Informasi Bahaya Narkoba (n=224)
Tabel 9.2 Distribusi Persentase Riwayat Penyalahgunaan Narkoba
	 Berdasarkan Status Desa dan Jenis Kelamin (n=224)
Tabel 9.3 Distribusi Persentase Sikap Masyarakat terhadap
	 Pemakai Narkoba Berdasarkan Tingkat Pendidikan
	 (n=224)
92
93
94
95
115
122
140
140
141
142
151
154
168
189
190
192
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 xi
xii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
xii
Gambar 5.1. 	 Tingkat Pendidikan Responden
Gambar 5.2. 	 Presentase Tingkat Pendidikan Responden
		 Berdasarkan Desa dan Kabupaten
Gambar 5.3. 	 Persentase Jumlah Anggota Keluarga Berstatus
		 Sekolah Menurut Umur Responden
Gambar 5.4. 	 Persentase Pekerjaan Responden Menurut
		Hubungan Keluarga
Gambar 5.5 	 Persentase Tradisi/ Budaya di Desa Menurut
		Responden
Gambar 5.6 	 Persentase Pernyataan Responden tentang
		 Menyajikan Minuman Beralkohol pada Pesta Desa
Gambar 5.7. 	 Interaksi Kegiatan Bersama yang Dilakukan Keluarga
		di Desa
Gambar 5.8. 	 Keberadaan Aturan tentang Perilaku dan Larangan
		Narkoba
Gambar 5.9.	 Keterpaparan Masyarakat tentang Informasi Bahaya
		Narkoba
Gambar 5.10. 	 Persentase Responden yang Mengetahui
		 Masyarakat Mengikuti Rehabilitasi
Gambar 5.11.	 Persentase Frekuensi Komunikasi dalam Keluarga
Gambar 5.12. 	 Persentase Frekuensi Makan Bersama dalam
		Keluarga
Gambar 5.13. 	 Isi /Konten Bahaya Narkoba Berdasarkan Pengakuan
		Responden
Gambar 5.14. 	 Persentase Kegiatan Pencegahan Narkoba yang
		Pernah Diikuti
Gambar 6.1. 	 Permasalahan Sosial di Kabupaten Kuningan
Gambar 7.1. 	 Peta Administrasi Kabupaten Magelang
Gambar 7.2. 	 Persentase Tradisi/ Budaya di Desa
Gambar 9.1. 	 Peta Kabupaten Tulungagung
Gambar 10.1 	 Peta Kabupaten Serang 	
46
47
48
53
56
56
61
66
73
79
86
86
98
101
121
139
148
177
202
Daftar Gambar
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Wayang Orang (Wong)
PENDAHULUAN
I
2 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
3
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
PENDAHULUAN
 
1.1. LATAR BELAKANG
Upaya pemerintah Indonesia dalam melawan penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba sudah sangat keras, salah satu upaya
hukum yang dilakukan adalah melalui penjatuhan sanksi dan hukuman
berat. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
disebutkan bahwa setiap orang yang tanpa hak atau menyalahi hukum
dalampenyalahgunaandanperedarannarkobaakanmendapatkansanksi
berupa pidana denda, pidana penjara sampai pidana mati. Namun, dalam
kenyataannyatindakpidanaNarkotikadidalammasyarakatmenunjukkan
kecenderungan yang semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak,
remaja, dan generasi muda pada umumnya.
Data pengungkapan kasus tindak pidana narkoba tahun 2018
menunjukkan sebanyak 40.553 kasus yang melibatkan 53.251 tersangka.
Barang bukti yang disita antara lain ganja sebanyak 41,3 ton; shabu
sebanyak 8,2 ton; dan ekstasi sebanyak 1,55 juta butir (Puslitdatin,
2018). Hasil penelitian Badan Narkortika Nasional (BNN) dan Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa prevalensi
penyalahgunaan narkoba pada kelompok pelajar/ mahasiswa sebesar
3,21 persen atau setara dengan 2.297.492 pelajar/ mahasiswa pernah
menyalahgunakan narkoba, sedangkan prevalensi penyalahgunaan
narkoba pada kelompok pekerja sebesar 2,1 persen atau 1.514.037
I
4 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
orang pernah menyalahgunakan narkoba (Puslitdatin, 2019). Nampaknya
penyalahgunanarkobajenisbaruatauNPS(NewPsychoactiveSubstance)
setiap tahun terus bertambah, data dari berbagai negara menunjukkan
terdapat 803 jenis NPS di dunia.
Beberapa pengungkapan kasus narkoba di wilayah perdesaan
dilaporkan oleh BNN, antara lain: kasus 1,7 ton ganja senilai 6 milyar
rupiah di Desa Nyangkoek Kabupaten Sukabumi pada Tahun 2009;
kasus penyelundupan 1 ton sabu dari Hotel Mandalika, Desa Anyer,
Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten; dan kasus penyelundupan
2 ton ganja kering asal Aceh dengan menggunakan truk kontainer di
Jalan Lintas Timur Sumatera KM 28 Desa Simpang Beringin Kecamatan
Seikijang Kabupaten Palelawan Riau yang akan dibawa masuk Jakarta.
Pengungkapan ketiga kasus tersebut turut memperlihatkan fenomena
bahwa desa sudah menjadi tempat peredaran narkoba.
Hasil Survei BKKBN Tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan
narkoba tertinggi dijumpai pada remaja yang berusia 20-24 tahun
sebanyak 12 persen dan yang berdomisili di perdesaan sebanyak 10
persen (BKKBN, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan
narkoba sudah semakin banyak dilakukan di wilayah perdesaan. Data
BadanPusatStatistiktentangStatistikPotensiDesaTahun2018mencatat
bahwa pada tahun 2018 penyalahgunaan dan pengedaran narkoba terjadi
di 12.579 wilayah dari 83.931 wilayah setingkat desa di seluruh Indonesia.
Angka kejadian penyalahgunaan dan peredaran narkoba ini merupakan
kejadian tindak kejahatan yang memiliki jumlah tertinggi kedua selama
setahun terakhir setelah tindak perjudian (BPS, 2018: 146-147).
Penyalahgunaan narkoba tidak terlepas dari peran orang tua
dalam keluarga. Dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga disebutkan
bahwa keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan
perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri,
memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung
jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut
Margaret Mead dalam Herien Puspitasari, 2018, keluarga adalah dasar
dari masyarakat yang berfungsi mengantarkan sejarah kebudayaan,
menanamkansistemnilaiyangdianut,danmelaksanakansosialisasipada
5
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
generasi penerus untuk menjadi manusia dan warga masyarakat yang
efektif dan produktif. Menurut Vosier (1996), Gelles (1995), menyatakan
bahwa keluarga adalah unit sosial ekonomi terkecil dalam masyarakat
yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, kelompok primer
yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi
inter personal hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi.
Menurut Bronfenbrenner (1979), keluarga adalah konteks utama
dalam sistem mikro tempat pembangunan terjadi. Hubungan antara
keluarga dengan pengaturan lain dalam pembangunan, seperti sekolah
merupakan meso sistem. Lingkungan ekternal tempat orang lain saling
berpartisipasi dan dapat memengaruhi anak maka disebut ekso sistem.
Mikro, meso, dan ekso sistem tertanam dalam sistem makro, norma
nilai ideologis luas dan pola kelembagaan dari budaya tertentu dan
membentuk cetak biru. Oleh karena itu untuk interaksi individu anggota
keluarga dengan lingkungan luar, seperti sekolah, masyarakat, institusi/
lembaga di desa, akan mempengaruhi perilaku anggota keluarga dan
keluarga dalam penyalahgunaan narkoba.
Keprihatinan ini menjadi latar belakang perlunya upaya pencegahan
dan pemberantasan narkoba tidak hanya di perkotaan tetapi juga di
wilayah perdesaan, dan sudah saatnya untuk menjaga ketahanan desa
dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Melihat
kondisi tersebut, BNN sebagai vocal point dalam upaya Pencegahan dan
Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)
menjadikan desa menjadi bagian dari sasaran target program yang
dijalankanBNN.Olehkarenaituinformasiyangterkaitpotensidesasangat
diperlukan. Potensi dimaksud adalah potensi sosial komunitas desa dan
potensi dalam semua aspek kesehatan, hukum, politik, keamanan, dan
beberapa aspek lainnya secara sinergis dan terkoordinasi.
Menurut Direktorat Advokasi BNN tahun 2018 berdasarkan
pengaturannya, Kepala Desa berkewajiban untuk melakukan
pembinaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa sekaligus
juga memberdayakan masyarakat desa termasuk dalam pencegahan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Desa, menurut persepsi
masyarakat awam merupakan wilayah pelosok, terisolir, minim dari
infrastruktur pembangunan sarana jalan, susah ditempuh kendaraan
6 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
umum, diwarnai dengan mata pencaharian pertanian, perkebunan,
pendidikan masyarakat relatif rendah dan jauh dari fasilitas modernisasi
serta pelayanan fasilitas umum. Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah
Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 43 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor6Tahun2014tentangDesa,menjelaskanbahwaDesaadalahdesa
dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut
desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat,
hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam
sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa secara
hukum memiliki kewenangan berdasarkan hak asal usul meliputi sistem
organisasi masyarakat adat, pembinaan kelembagaan masyarakat,
pembinaan lembaga dan hukum adat, pengelolaan tanah kas desa, dan
pengembangan peran masyarakat desa. Seiring dengan pembangunan
dan modernisiasi, desa yang memiliki potensi interaksi sosial dan kohesi
yang sangat kuat, dalam perkembangan mengalami perubahan baik
sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusianya, dimana
sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan dan
perkembangan baik potensi fisik maupun non fisik. Sejalan dengan
dinamika pembangunan desa, ancaman narkoba sudah menyerang
wilayah perdesaan. Hal yang memprihatinkan tidak hanya pemanfaatan
lahan desa untuk lokasi produksi narkoba, tetapi lebih dari itu sindikat
narkoba mampu mengendalikan aparat desa untuk membantu peredaran
narkoba.
1.2. PERMASALAHAN
Narkoba merupakan masalah kompleks dan berdampak kepada
seluruh lapisan masyarakat. Upaya penanggulangan narkoba telah
dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, namun jumlah kasus
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba terus meningkat
bahkan telah merambah ke wilayah perdesaan. Tingginya angka kasus
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di wilayah perdesaan
mengindikasikan belum optimalnya perangkat desa dalam melakukan
7
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
pembinaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa, serta
memberdayakan masyarakat desa dalam pencegahan penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba.
Demikian juga kasus remaja dan anggota keluarga yang terpapar
penyalahgunaan narkoba terus meningkat. Hal ini menunjukkan adanya
kerawanan sosial dalam keluarga dan kurangnya interaksi antara
anggota keluarga. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas
kesehatan dan fasilitas sosial di desa turut menambah tingginya
angka penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di perdesaan.
Peningkatan angka kejadian penyalahgunaan dan peredaran narkoba
di desa dapat dikaitkan dengan kurangnya atau rusaknya keterikatan
masyakarat dan komunitas di perdesaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, riset ini berupaya menggali dan
mengumpulkan data dan informasi tentang:
•	 Apa saja potensi desa yang dapat digunakan untuk mendukung
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran
gelap narkoba?
•	 Apakah sudah ada inisiatif, dukungan dan pemanfaatan program/
kegiatan dan dana desa dalam mendukung kegiatan pencegahan
danpemberantasanpenyalahgunaandanperedarangelapnarkoba?
•	 Bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga, perangkat
dan institusi masyarakat desa terhadap masalah narkoba?
•	 Bagaimana kondisi bahaya narkoba dan upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba?
•	 Bagaimana hubungan komunikasi keluarga dalam penyalahgunaan
narkoba?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
1.3.1.	 Tujuan Umum
Secara umum riset ini dilakukan untuk menggali potensi desa
dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan
dan peredaran gelap narkoba.
8 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
1.3.2.	 Tujuan Khusus
Riset Potensi Desa dalam Mendukung Program Pencegahan dan
Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun
2019 mempunyai tujuan khusus yaitu:
•	 Mengidentifikasi potensi desa yang meliputi aspek sumber daya
manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), sumber daya ekonomi
(SDE), budaya, fasiltas medis dan sosial, integrasi sosial, APB Desa,
dan institusi masyarakat perdesaan dalam mendukung pencegahan
dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba;
•	 Mengidentifikasi inisiatif, dukungan dan pemanfaatan program/
kegiatan dan dana desa dalam mendukung kegiatan pencegahan dan
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba;
•	 Mengidentifikasipengetahuan,sikapdanperilakukeluarga,perangkat
desa dan institusi masyarakat desa terhadap masalah narkoba;
•	 Mengidentifikasi masalah narkoba dan upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba; dan
•	 Mengidentifikasi hubungan komunikasi keluarga dalam
penyalahgunaan narkoba.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para
pengambil kebijakan untuk menyusun dan menetapkan program dan
kegiatan yang terkait dengan :
•	 Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) P4GN;
•	 Pemanfaatan tenaga relawan P4GN;
•	 Pendayagunaan agen pemulihan P4GN; dan
•	 Pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam P4GN.
1.5. KETERBATASAN PENELITIAN
Sehubungan dengan pendekatan penelitian, metode pemilihan
lokasi riset dan pemilihan sampel yang digunakan pada riset ini
terdapat beberapa keterbatasan di antaranya adalah hasil riset tidak
digunakan untuk melakukan generalisasi keadaan wilayah tetapi hanya
untuk melihat fenomena keunikan kejadian di masing-masing lokasi
riset, dan disamping itu riset ini tidak digunakan untuk mengevaluasi
program/ kegiatan P4GN.
9
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Wayang Cepak Cirebon
PENGERTIAN &
DEFINISI
II
10 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
11
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
PENGERTIAN DAN DEFINISI
2.1. POTENSI DESA
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa, desa adalah desa dan desa adat atau yang
disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk
mengaturdanmengurusurusanpemerintahan,kepentinganmasyarakat
setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau
hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan pada
Pasal 8 butir (3) huruf e dijelaskan bahwa dalam pembentukan desa
harus memenuhi beberapa kriteria, salah satunya adalah memiliki
potensi yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan
sumber daya ekonomi pendukung. Mengacu pada definisi tersebut
maka dalam riset ini yang dimaksud dengan potensi desa merupakan
segala SDM, SDA maupun SDE yang terdapat serta tersimpan di desa
yang dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan dan perkembangan desa.
2.2 NARKOBA
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan
Bahan Adiktif Lainnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis,
II
12 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-
golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang. Pengertian
Psikotropika berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997
tentang Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis
bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktivitas mental dan perilaku. Dan bahan adiktif adalah bahan/ zat yang
berpengaruh psikoaktif di luar narkotika dan psikotropika dan dapat
menyebabkan kecanduan. Narkotika merupakan zat atau obat yang
sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu,
jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar
pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi
perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda.
PeredarangelapnarkotikadanprekursornarkotikamenurutUndang-
Undang Nomor 35 Tahun 2009 pasal 1 adalah setiap kegiatan atau
serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan
hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana narkotika dan prekursor
narkotika
.
2.3 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN
DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN)
Pencegahan adalah upaya untuk membantu individu menghindari
memulaiataumencobamenyalahgunakannarkoba,denganmenjalanicara
dan gaya hidup sehat, serta mengubah kondisi kehidupan yang membuat
individu mudah terjangkit penyalahgunaan narkoba. Pencegahan
berupa suatu proses membangun yang disusun untuk meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial seseorang sampai
pada potensi maksimal, sambil menghambat atau mengurangi kerugian
yang mungkin timbul akibat penyalahgunaan narkoba, baik yang alamiah
maupun buatan (sintesis).
Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian obat dan zat yang
berbahaya lainnya dengan maksud bukan untuk tujuan pengobatan atau
penelitian, serta digunakan tanpa mengikuti aturan dosis yang benar.
13
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian narkoba di luar indikasi
medik,tanpapetunjuk/resepdokter,secarateraturatauberkalasekurang-
kurangnya satu bulan. Penggunaan narkoba terus menerus dan berlanjut
akan mengakibatkan ketergantungan (dependensi) dan kecanduan
(adiksi).
Pencegahan penyalahgunaan narkoba merupakan bagian penting
darikeseluruhanupayapenanggulangannarkoba,olehkarena“mencegah
lebihbaikdaripadamengobati”,dalamartibahwaupayapencegahanlebih
murahdanlebihhematbiayadaripadaupayalainnya(DirektoratAdvokasi
Deputi Bidang Pencegahan BNN RI, Panduan Umum Pencegahan 2015).
Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran
Gelap Narkoba (P4GN) adalah upaya sistematis berdasarkan data
penyalahgunaannarkobayangtepatdanakurat,perencanaanyangefektif
dan efisien dalam rangka mencegah, melindungi dan menyelamatkan
warga negara dari ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba.
Berdasarkan Peraturan Badan Narkotika Nasional Nomor 3 Tahun 2019
Tentang Organisasi dan Tata kerja BNN, dalam upaya penanggulangan
masalah bahaya narkoba di Indonesia, sesuai dengan tugas dan
wewenangnya BNN melaksanakan Program P4GN dengan perincian
sebagai berikut:
2.3.1.	Pencegahan
Tugas dan fungsi pencegahan adalah :
a.	 Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan
teknis P4GN di bidang pencegahan;
b.	 Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur
P4GN di bidang pencegahan;
c.	 Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi
pemerintah terkait dan komponen masyarakat dalam pelaksanaan
P4GN di bidang pencegahan;
d.	 Pembinaan teknis P4GN di bidang pencegahan kepada instansi
vertikal di lingkungan BNN; dan
e.	 Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional
P4GN di bidang pencegahan.
14 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
2.3.2.	 Pemberdayaan Masyarakat
Tugas dan fungsinya pemberdayaan masyarakat adalah :
a.	 Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan
teknis P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat;
b.	 Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur
P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat;
c.	Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan
instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat di bidang
pemberdayaan masyarakat;
d.	 Pelaksanaan fasilitasi dan pengkoordinasian wadah peran serta
masyarakat;
e.	 Pelaksanaan pemantauan, pengarahan, dan peningkatan kegiatan
masyarakat di bidang P4GN;
f.	 PembinaanteknisP4GNdibidangpemberdayaanmasyarakatkepada
instansi vertikal di lingkungan BNN; dan
g.	 Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional
P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat.
2.3.3.	Pemberantasan
Tugas dan fungsi pemberantasan adalah :
a.	 Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan
teknis P4GN di bidang pemberantasan;
b.	 Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur
kegiatan intelijen, penyelidikan dan penyidikan, interdiksi, penindakan
dan pengejaran, pengawasan tahanan, penyimpanan, pengawasan
dan pemusnahan barang bukti serta penyitaan aset;
c.	 Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi
pemerintah terkait dalam pemberantasan dan pemutusan jaringan
kejahatan terorganisasi penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkotika, psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya, kecuali
bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol;
d.	
Pelaksanaan administrasi penyelidikan dan penyidikan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan
prekursor serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk
tembakau dan alkohol;
e.	 Pelaksanaan pemutusan jaringan kejahatan terorganisasi di bidang
15
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
narkotika, psikotropika, dan prekursor serta bahan adiktif lainnya,
kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol;
f.	 Pembinaan teknis kegiatan intelijen, penyelidikan dan penyidikan,
interdiksi, penindakan dan pengejaran, pengawasan tahanan,
penyimpanan, pengawasan dan pemusnahan barang bukti serta
penyitaan aset kepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan
g.	 Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional
P4GN di bidang pemberantasan.
2.3.4.	Rehabilitasi
Tugas dan fungsi rehabilitasi adalah :
a.	 Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan
teknis P4GN di bidang rehabilitasi;
b.	 Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur
di bidang rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode
lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke
dalam masyarakat serta perawatan lanjutan penyalahguna dan/
atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya
kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol;
c.	 Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi
pemerintah terkait dan komponen masyarakat dalam pelaksanaan
P4GN di bidang rehabilitasi;
d.	 Pelaksanaan rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode
lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke
dalam masyarakat serta perawatan lanjutan bagi penyalahguna dan/
atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya,
kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol;
e.	 Pelaksanaan peningkatan kemampuan lembaga rehabilitasi medis
dan sosial bagi penyalahguna dan/ atau pecandu narkotika dan
psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk
tembakau dan alkohol, yang diselenggarakan oleh pemerintah
maupun masyarakat;
f.	 Pembinaan teknis rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi
berbasis komunitas terapeutik atau metode lain yang telah teruji
keberhasilannya dan penyatuan kembali ke dalam masyarakat serta
perawatan lanjutan bagi penyalahguna dan/atau pecandu narkotika
dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk
16 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
tembakau dan alkohol, kepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan
g.	 Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional
P4GN di bidang rehabilitasi.
2.4.	 KAWASAN RAWAN NARKOBA
Kawasan rawan narkoba adalah wilayah yang diidentifikasi dari
masyarakat dengan adanya budaya madat narkoba, pasar narkoba, bukti
terjadiperedarannarkobadarihasiloperasiaparatpenegakhukumseperti:
tempat kejadian perkara (TKP) atau lokus, modus dan jalur edar narkoba
dan tindak kejahatan narkoba di kawasan tersebut, baik di perkotaan,
perdesaan, jalur sungai, pesisir dan kawasan perbatasan (BNN, 2016: 17).
Kawasan rawan narkoba memiliki kriteria, sebagai berikut:
a.	 Adanya kasus narkoba;
b.	 Adanya tersangka;
c.	 Adanya barang bukti; dan
d.	 Kedekatan dengan potensi lokasi rawan peredaran gelap narkoba
(bandara, pelabuhan, dan terminal) maupun lokasi berkumpulnya
penyalahguna (tahanan, lapas, tempat rehabilitasi, dll)
Kawasan rawan narkoba di perdesaan adalah kawasan di perdesaan
atau di pinggiran hutan dan wilayah pegunungan yang patut diduga
sebagai lokasi rawan kultivasi ganja, penyalahgunaan dan peredaran
gelap narkoba atau pernah menjadi TKP kasus narkoba.
Kerawanan narkoba dibagi menjadi 3 indikator, sebagai berikut:
a.	 Kerawanan asal narkoba yang meliputi kerawanan di perdesaan
dalamkultivasiganja,dipesisirdanperbatasandalampenyelundupan
narkoba dan kawasan transisi (antara perdesaan dan perkotaan)
dalam produksi ATS;
b.	 Kerawanan peredaran gelap narkoba yang meliputi kawasan antara
asal narkoba hingga pangsa pasar narkoba. Pada kerawanan
kawasaniniyangberpotensiterjadinyapengantaran,transit,transaksi,
penimbunan, pengiriman dan penyelundupan narkoba, seperti:
bandara udara, pelabuhan laut, jalur sungai, terminal penumpang,
pergudangan, bongkar muat barang dan pintu dan tapal batas
negara. Di tempat tersebut terkonsentrasi pecandu, pengedar, barang
bukti narkotika yang siap diedarkan, diantarkan, dikirim, ditimbun, dan
17
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
dikemas. Salah satunya adalah kampung narkotika di perkotaan.
c.	Kerawanan penyalahgunaan narkoba meliputi kawasan yang
digunakan pecandu narkoba untuk berdomisili. Pada kawasan
ini berpotensi terjadinya produksi, transaksi, pasar narkoba dan
penyalahgunaan, seperti: warung narkoba di kampung narkoba,
tempat hiburan malam, kawasan yang berlokasi di sekitar tempat
tinggalnya para pecandu, seperti: tempat rehabilitasi, kampung di
sekitar hiburan malam, rutan dan lapas. Pada kawasan tersebut
terkonsentrasi orang-orang yang terpapar narkoba dan memicu
terjadinya sediaan dan permintaan narkoba. (BNN, 2016: 41)
Beberapa faktor penyebab kerawanan narkoba di lingkungan
perdesaan adalah:
•	 Gagal panen;
•	 Tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi;
•	 Sulitnya aparat hukum mengakses lokasi-lokasi kultivasi dan pabrik
shabu;
•	 Rendahnya pemahaman masyarakat tentang bahaya narkoba;
•	 Kurang pengawasan aktifitas orang asing di perdesaan;
•	 Kurang optimalnya sistem keamanan di perdesaan; dan
•	 Budaya masyarakat desa yang tertutup pada perubahan.
Modus operandi munculnya kawasan rawan narkoba di perdesaan,
antara lain:
•	 Menawarkan jasa menanam ganja saja;
•	 Mengepul ganja yang ditanam di luar wilayah perdesaan dan sekitar
lokasi kultivasi ganja;
•	 Memanfaatkan rendahnya pendapatan masyarakat;
•	 Adanya kegagalan petani dalam usaha taninya;
•	 Memanfaatkan pengangguran dan angka putus sekolah di desa;
•	 Memanfaatkan wanita-wanita desa yang menjadi TKI untuk dijadikan
kurir narkoba ke negara lain; dan
•	 Membeli usaha industri untuk mengelabuhi pendirian pabrik Sabu
(BNN, 2016: Hal 46-47).
Mengacu pada beberapa definisi konseptual yang telah dijabarkan
di atas, dapat ditarik gambaran bahwa terdapat dua macam potensi
desa yaitu potensi fisik dan non fisik. Potensi non fisik ini merupakan
18 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
potensi yang dimiliki desa dan lebih bersifat sosial. Untuk itu, dalam riset
ini dibentuk sebuah kerangka pemikiran tentang potensi desa dalam
mendukung Program P4GN seperti ilustrasi pada Gambar 2.1 berikut ini:
Gambar 2.1. Kerangka Pikir Potensi Desa dalam P4GN
Potensi desa dalam mendukung Program P4GN erat kaitannya
dengan peran dan kapabilitas desa dalam menjalankan upaya
melindungi masyarakatnya dari bahaya narkoba. Potensi desa dalam
mendukung Program P4GN pada riset ini mencakup :
a.	 Lembaga Swadaya Masyarakat/ Organisasi Masyarakat (LSM/
OM);
b.	 Sumber Daya Masyarakat (SDM) (termasuk aparatur desa);
c.	SDA;
d.	 Sumber Daya Ekonomi;
e.	 APB Desa;
f.	 Fasilitas Medis dan Sosial;
g.	Budaya (culture); dan
h.	 Integritas Sosial.
POTENSI DESA
FISIK
(SDA,SDM,SDE)
NON FISIK
(APARAT,LSM,
MASYARAKAT)
1.	KOMUNIKASI,
INFORMASI DAN
EDUKASI
2.	PEMANFAATAN
TENAGA RELAWAN
3.	PENDAYAGUNAAN
AGEN PEMULIHAN
4.	PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
PERDESAAN
P4GN
19
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Wayang Gambuh/Balih-Balihan, Bali
METODE RISET
III
20 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
21
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
METODE RISET
3.1 RANCANGAN RISET
Riset potensi desa ini dirancang untuk mendapatkan data dan
informasi tentang karakteristik masyarakat, perangkat desa, potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, masyarakat, budaya,
sumber perekonomian desa, dan potensi lainnya yang terkait dengan
narkoba. Data dan informasi ini diharapkan dapat digunakan bahan
dan masukan untuk mendukung pelaksanaan Program P4GN. Wilayah
pengumpulan data dari riset ini tidak dirancang untuk representatif
nasional maupun provinsi, karena pemilihan provinsi dilakukan secara
purposif berdasarkan atas tingkat kerawanan wilayah.
Riset ini merupakan penelitian deskriptif, metode pengumpulan
datanya mix-method menggabungkan pendekatan kualitatif dan
kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara
mendalam (indepth interview) dan diskusi kelompok terarah (Focus
Group Discussion) para informan. Wawancara dan FGD disertai
dengan panduan, sedangkan pengumpulan data dengan pendekatan
kuantitatif dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan
menggunakanserangkaianpertanyaantertutup,instrumenwawancara
tidak menggunakan kertas (paperless) tetapi menggunakan teknologi
smart phone.
III
22 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
3.2. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dari riset ini adalah keluarga dari rumah tangga yang
berada di desa rawan narkoba dan desa tidak rawan narkoba di
wilayah desa terpilih di 5 (lima) kabupaten terpilih yaitu Kabupaten
Kuningan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa
Tengah, Kabupaten Sleman Provinsi D.I.Yogyakarta, Kabupaten
Tulungagung Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Serang Provinsi
Banten. Desa rawan narkoba yaitu desa yang dikategorikan sebagai
desa sudah terpapar narkoba dan desa tidak rawan narkoba yaitu
desa yang dikategorikan sebagai desa belum terpapar narkoba.
Pemilihan kabupaten dilakukan secara purposif berdasarkan
peringkat kerawanan tertinggi menurut pemetaan kawasan rawan
narkoba oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN. Di
samping populasi keluarga, sasaran lain yang menjadi populasi riset
ini adalah perangkat desa, tokoh agama/ tokoh masyarakat, institusi
masyarakat/ lembaga swadaya masyarakat, dan aparat keamanan
dari desa terpilih.
Jumlah sampel keluarga yang menjadi sasaran pengumpulan
data kuantitatif adalah sebesar 1.000 keluarga dan anggota keluarga,
masing-masing kabupaten 200 keluarga. Responden dalam riset ini
adalah keluarga yaitu istri (apabila keluarga hanya pasangan suami-
istri) atau suami yang istrinya pergi melebihi periode riset atau janda/
duda yang memiliki anak. Responden juga mencakup keluarga lain
yang tinggal dalam satu rumah yang sama dengan keluarga kepala
rumah tangga. Responden merupakan sumber informasi yang
digunakan untuk melengkapi data dengan pendekatan kuantitatif.
Jumlah sampel informan untuk keperluan wawancara mendalam
(indepth interview) diperlukan 12 informan antara lain: Kepala BNN/
seksi di BNN Kabupaten, kepala/pelaksana Dinas PPKB dan PPPA
kabupaten, kepala/pelaksana Dinas Kesehatan, kepala/pelaksana
Dinas Sosial kabupaten, Kepala Kepolisian Resor, kepala/pelaksana
Puskesmas kecamatan/desa, dan relawan anti narkoba. Kegiatan
FGD dibagi menjadi 2 yaitu FGD perangkat desa sebanyak 7 orang
diantaranya adalah perwakilan perangkat desa/Kaur Kesra, Babinsa/
Babinkamtibmas, tokoh masyarakat (Ketua RT/RW), tokoh agama,
23
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
LSM/OMyangberkaitandenganmasalahnarkoba,PKKdanperwakilan
Karang Taruna/Organisasi Pemuda; dan FGD keluarga yang terdiri dari
6 orang perwakilan keluarga terpapar atau keluarga tidak terpapar
narkoba. Informan tersebut merupakan sumber informasi yang
digunakan untuk melengkapi data dengan pendekatan kualitatif.
3.3. KERANGKA SAMPLING DAN PEMILIHAN SAMPEL
Kerangka sampel yang digunakan dalam Riset Potensi Desa
dalam Mendukung Program P4GN Tahun 2019 terdiri dari 3 tahap,
yaitu:
a.	 Kerangka sampel tahap pertama adalah daftar Rukun Tetangga
(RT) dan Rukun Warga (RW) yang ada di desa terpilih (5 desa
tidak rawan narkoba dan 5 desa rawan narkoba) disertai dengan
estimasi jumlah keluarga di masing-masing RT.
b.	 Kerangka sampel tahap kedua adalah daftar rumah tangga dari
semua RT yang terpilih di desa terpilih.
c.	Kerangka sampel tahap ketiga adalah daftar keluarga yang
memenuhi (eligible) hasil listing yang ada di semua rumah tangga
terpilih.
Penarikan sampel dilakukan dengan stratified random sampling,
memilih beberapa RT sesuai Probability Proportionate to Size (PPS)
di masing-masing desa terpilih. Kemudian, koordinator lapangan
memilih 100 rumah tangga secara Systematic Random Sampling
(SRS) dari daftar rumah tangga hasil listing untuk diwawancara.
Seluruh 100 rumah tangga terpilih melalui SRS selanjutnya dapat
diunduh oleh pewawancara melalui aplikasi Open Data Kit (ODK)
Collect. Ketiga, pemilihan responden eligible berusia antara 18 s.d 64
tahun yang mengetahui kondisi keluarga.
3.4 PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan pada bulan September sampai
dengan Oktober 2019, sebelum proses pengumpulan data para
petugas wawancara dan koordinator lapangan diberi pelatihan dan
pembekalan tentang tujuan riset dan pedoman serta instrumen
24 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
riset, termasuk penggunaan sistem ODK dengan smartphone. Selain
diberikan materi substansi instrumen penelitian juga diberikan
pembekalan etika dan teknik wawancara.
Pengumpulan data kuantitatif dimulai dengan kegiatan listing
dan pemilihan sampel. Proses wawancara oleh enumerator dimonitor
oleh koordinator lapangan dan peneliti melalui kegiatan reinterview
dan disupervisi oleh perwakilan tim BNN dan BKKBN. Wawancara
dilakukan menggunakan smartphone dengan daftar pertanyaan
dirancang menggunakan program ODK. Penggunaan survei dengan
teknologi smartphone mempunyai kelebihan dibandingkan dengan
pemakaian metode konvensional. Kelebihannya antara lain:
•	 Data lebih berkualitas karena dapat dimonitor saat enumerator
mengumpulkan data dan lama wawancara. Perekaman data lebih
akurat karena didukung dengan perekaman posisi lokasi tempat
tinggal responden melalui Global Positioning System (GPS).
•	 Proses pengumpulan data dapat dilakukan lebih cepat karena
editing, entry, dan validasi sekaligus dapat dilakukan dengan
menggunakan smart phone, sehingga proses pengolahan data
lebih cepat.
•	 Penggunaan smart phone pada riset ini adalah ramah lingkungan,
karena tidak menggunakan kertas pada saat pengumpulan data.
Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara
mendalam dan FGD disertai daftar isu yang dibahas dalam diskusi
yang dipandu oleh peneliti dibantu dengan notulis.
3.5. LOKASI RISET
Riset dilaksanakan di 5 (lima) provinsi di Pulau Jawa yang dipilih
secara purposif didasarkan pada tingkat kerawanan narkoba yang
ditetapkan oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN.
Adapun kelima provinsi tersebut yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah,
D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Pada setiap provinsi yang
menjadi lokasi riset akan dipilih 2 desa yaitu 1 desa dengan kriteria
Rawan Narkoba (RN) sesuai dengan hasil pemetaan daerah rawan
narkoba dan 1 desa yang belum dikategorikan sebagai desa rawan
25
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
narkoba atau Tidak Rawan Narkoba (TRN) yang berlokasi di kabupaten
dan kecamatan yang sama.
Tabel 3.1. Lokasi Riset dan Status Desa
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Datahasilwawancarasetelahdiperiksaolehkoordinatorlapangan
dan peneliti kemudian dikirim ke server dan diterima oleh manajemen
data, tahap selanjutnya adalah cleansing data. Pengolahan data
dilakukan oleh Tim Peneliti BNN dan BKKBN. Pengolahan dan analisis
data dilakukan dengan cara mendeskripsikan variabel karakteristik
responden dan karakteristik keluarga, tabulasi silang variabel yang
diperlukan untuk menjelaskan potensi desa dan situasi desa, serta
melakukan uji signifikasi terhadap beberapa variabel.
Pada riset ini digunakan 3 (tiga) metode analisis data, yaitu:
a.	 Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran hasil
temuan di setiap komponen riset desa RN dan TRN.
b.	 Analisis inferensial digunakan untuk menguji signifikansi
(intensitas kegiatan bersama keluarga) antara desa desa RN dan
TRN.
No Provinsi Kebupaten Kecamatan Desa*
Status
Desa
1 Jawa Barat Kuningan Cilimus
A RN
B TRN
2 JawaTengah Magelang Mertoyudan
C RN
D TRN
3 DIYogyakarta Sleman Mlati
E RN
F TRN
4 JawaTimur Tulungagung Ngunut
G RN
H TRN
5 Banten Serang Padarincang
I RN
J TRN
26 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
c.	Analisis matriks digunakan untuk mendeskripsikan kondisi
potensi desa di lokasi riset.
27
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Wayang Kayu Timplong, Nganjuk Jawa Timur
KARAKTERISTIK
RESPONDEN &
INFORMAN
IV
28 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
29
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
KARAKTERISTIK RESPONDEN
DAN INFORMAN
4.1 HASIL KUNJUNGAN
Bagian ini ditulis untuk menjelaskan gambaran cakupan hasil
kunjungan yang dilakukan oleh tim peneliti selama proses pengumpulan
data. Penjelasan mencakup sampel yang berhasil diwawancara, sampel
di wilayah desa dan provinsi, alasan sampel yang non response, dan hasil
wawancara menurut provinsi.
a. Cakupan Sampel yang Berhasil Diwawancara
Sampel keluarga di 5 provinsi pada riset ini sebanyak 1.000 orang
responden. Dari rencana sampel yang akan diwawancara sebanyak 1.000
orang, responden yang berhasil ditemui sebanyak 1.064 responden (106,4
persen). Responden yang berhasil diwawancara melebihi target sampel
yang direncanakan karena pada rumah tangga eligible yang terdiri lebih
dari 1 keluarga maka seluruh perwakilan keluarga yang ada diwawancara.
b. Cakupan Sampel di Wilayah Desa dan Provinsi
Dari hasil kunjungan diketahui bahwa terdapat 1.071 calon
responden eligible untuk diwawancara, namun dari jumlah tersebut hanya
1.064 responden yang dapat ditemui 7 calon responden lainnya tidak
dapat ditemui sampai dengan 3 kali kunjungan dikarenakan responden
tidak ada di rumah. Distribusi responden yang selesai diwawancarai
IV
30 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
paling tinggi berada di Jawa Timur dengan jumlah 242 responden, diikuti
oleh D.I. Yogyakarta sebanyak 220 responden, Jawa Barat dan Jawa
Tengah sebanyak 201 responden dan paling sedikit di Banten sebanyak
200 responden. Gambaran hasil kunjungan dapat dilihat lebih rinci pada
Tabel 4.1. di bawah ini:
Tabel 4.1 Distribusi Sampel Hasil Kunjungan per Provinsi
c. Cakupan Hasil Wawancara Menurut Provinsi
Persentase cakupan hasil wawancara responden per provinsi
menunjukkan bahwa Jawa Barat, D.I. Yogyakarta dan Banten memiliki
cakupan yang tinggi (100 persen), kemudian diikuti oleh Jawa Tengah
(98,5 persen) dan Jawa Timur memiliki tingkat respon paling kecil (98,4
persen). Secara keseluruhan cakupan hasil wawancara sangat tinggi
(99,3 persen). Cakupan hasil wawancara ini cukup baik dan tidak ada
penolakan sama sekali hanya terdapat 7 responden (0,7 persen) tidak ada
di rumah sampai dengan berakhirnya waktu pengumpulan data.
Dari hasil wawancara 1.064 responden diambil data responden
yang berusia 18 s.d 65 tahun dengan mempertimbangkan akurasi data
dan kemungkinan jawaban yang tidak konsisten dikarenakan faktor usia,
sehingga data yang diolah adalah data yang berasal dari 1.036 responden
yang berada pada rentang usia 18 s.d 64 tahun.
4.2. KARAKTERISTIK ANGGOTA KELUARGA	
Karakteristik anggota keluarga digunakan untuk mengetahui
keragaman anggota keluarga berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin,
Provinsi
Hasil Kunjungan
Jumlah
Selesai
Tidak
Selesai
Ditangguh-
kan
Ditolak
Tidak di
Rumah
Jawa Barat 201 0 0 0 0 201
JawaTengah 201 0 0 0 3 204
DIYogyakarta 220 0 0 0 0 220
JawaTimur 242 0 0 0 4 246
Banten 200 0 0 0 0 200
Total 1.064 0 0 0 7 1.071
31
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
dan tingkat pendidikan. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan
gambaran jelas mengenai kondisi anggota keluarga dan kaitannya
dengan masalah dan tujuan riset.
a. Kelompok Umur
Berdasarkan data yang diberikan responden, diperoleh data tentang
keragaman anggota keluarga berdasarkan kelompok umur. Jumlah total
anggota keluarga riset ini adalah 3.559 orang. Total kelompok umur 35-
39 tahun lebih dominan dibandingkan total kelompok umur yang lain,
yaitu sebanyak 337 orang. Untuk total kelompok umur terendah terdapat
di kelompok umur 60 atau lebih sebanyak 218 orang. D.I. Yogyakarta
merupakan provinsi dengan jumlah anggota keluarga terbanyak
dibandingkan dengan 4 provinsi lainnya yaitu sebanyak 847 orang (23,8
persen). Secara terperinci data anggota keluarga berdasarkan kelompok
umur dapat ditunjukkan pada Tabel 4.2:
Tabel 4.2. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan
Kelompok Umur (n = 3.559)
Kelompok
Umur
Provinsi
Jumlah
Jabar Jateng DIY Jatim Banten
n % n % n % n % n % n %
0-4 52 7,1 44 6,3 52 6,1 48 6,9 33 5,6 229 6,4
5-9 63 8,7 61 8,8 77 9,1 60 8,6 53 8,9 314 8,8
10-14 71 9,8 63 9,0 78 9,2 52 7,5 40 6,7 304 8,5
15-19 76 10,4 44 6,3 78 9,2 53 7,6 47 7,9 298 8,4
20-24 57 7,8 47 6,7 58 6,8 45 6,5 49 8,3 256 7,2
25-29 47 6,5 54 7,7 57 6,7 48 6,9 44 7,4 250 7,0
30-34 37 5,1 46 6,6 51 6,0 57 8,2 55 9,3 246 6,9
35-39 57 7,8 70 10,0 68 8,0 72 10,4 70 11,8 337 9,5
40-44 59 8,1 51 7,3 68 8,0 53 7,6 62 10,5 293 8,2
45-49 65 8,9 62 8,9 64 7,6 67 9,7 45 7,6 303 8,5
50-54 68 9,3 54 7,7 62 7,3 45 6,5 46 7,8 275 7,7
55-59 52 7,1 40 5,7 67 7,9 48 6,9 29 4,9 236 6,6
60>= 24 3,3 61 8,8 67 7,9 46 6,6 20 3,4 218 6,1
Total 728 100,0 697 100,0 847 100,0 694 100,0 593 100,0 3.559 100,0
32 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
b. Jenis Kelamin
Salah satu karakteristik yang dicermati pada riset ini adalah jenis
kelamin anggota keluarga. Dari hasil riset diperoleh gambaran bahwa
anggota keluarga laki-laki sebanyak 1.769 orang (49,7 persen), jumlah
tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga
perempuan sebanyak 1.790 orang (50,3 persen). Tetapi, kondisi tersebut
ditemukan berbeda di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi Banten,
dimana jumlah anggota keluarga berjenis kelamin laki-laki lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga perempuan. Data anggota
keluarga berdasarkan jenis kelamin dapat ditunjukkan pada Tabel 4.3. :
Tabel 4.3. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan
Jenis Kelamin (n = 3.559)
c. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan anggota keluarga di 5 (lima) Provinsi didominasi
oleh pendidikan SD/MI sederajat sebanyak 1.099 orang (30,9 persen).
Provinsi Banten memiliki jumlah terbanyak untuk pendidikan SD/MI
sederajat, yaitu sebanyak 314 orang (53 persen). Untuk anggota keluarga
yang tidak sekolah hanya 10 persen dari jumlah keseluruhan anggota
keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa di 5 (lima) Provinsi peduli dengan
pendidikan, kondisi ini diperkuat dengan data jumlah anggota keluarga
berpendidikan setingkat akademi/ perguruan tinggi memiliki jumlah lebih
banyak dibanding tidak sekolah. Distribusi anggota keluarga berdasarkan
tingkat pendidikan dapat ditunjukkan pada Tabel 4.4. :
Provinsi
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
n % n % n %
Jawa Barat 354 48,6 374 51,4 728 100.0
JawaTengah 335 48,1 362 51,9 697 100.0
DIYogyakarta 431 50,9 416 49,1 847 100.0
JawaTimur 344 49,6 350 50,4 694 100.0
Banten 305 51,4 288 48,6 593 100.0
Total 1.769 49,7 1.790 50,3 3.559 100.0
33
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
4.3. KARAKTERISTIK RESPONDEN
Karakteristik responden digunakan untuk mengetahui keragaman
responden berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
jumlah pengeluaran keluarga, jenis keterampilan, jenis pekerjaan, tempat
tinggal, dan aktivitas sosial kepala keluarga. Karakteristik responden
diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dari
responden dan kaitannya dengan masalah dan tujuan riset tersebut.
a. Kelompok Umur
Jumlahtotalrespondenrisetiniadalah1.036orangyangtersebardi5
provinsiyangmenjadilokasiriset.Secaraumum,respondenberadadalam
kelompok usia 46 s.d 50 tahun (17,3 persen) dengan proporsi kelompok
usia ini pada Provinsi Jawa Barat sebesar 23,4 persen, merupakan paling
tinggi dibandingkan provinsi lain. Sedangkan provinsi Banten hanya
memiliki 13,1 persen dari seluruh total responden kelompok usia 46-50.
Atau secara lengkap, distribusi kelompok umur responden dapat dilihat
pada Tabel 4.5. berikut ini:
Provinsi
PendidikanTerakhir
Jumlah
Tidak
sekolah
SD/MI
sederajat
SMP/MTs
sederajat
SMA/MA
sederajat
Akademi/
PT
n % n % n % n % n % n %
Jawa Barat 69 9,5 190 26,1 131 18,0 259 35,6 79 10,9 728 100.0
JawaTengah 69 9,9 188 27,0 123 17,6 214 30,7 103 14,8 697 100.0
DIYogyakarta 93 11,0 185 21,8 146 17,2 280 33,1 143 16,9 847 100.0
JawaTimur 68 9,8 222 32,0 182 26,2 168 24,2 54 7,8 694 100.0
Banten 57 9,6 314 53,0 154 26,0 59 9,9 9 1,5 593 100.0
Total 356 10,0 1.099 30,9 736 20,7 980 27,5 388 10,9 3.559 100.0
Tabel 4.4. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga
Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n = 3.559)
34 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Tabel 4.5. Distribusi Persentase Kelompok Umur
Berdasarkan Provinsi (n = 1.036)
Enam puluh persen lebih responden berada pada rentang kelompok
umur antara 31 sampai dengan 55 tahun. Hal ini terkait kriteria
responden yang menyasar pada orang dewasa karena permasalahan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menjadi masalah yang
serius dan perlu perhatian orang tua.
b. Jenis Kelamin
Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan
persentase sebesar 77,5 persen, sedangkan laki-laki sebesar 22,5 persen.
Responden perempuan terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat dimana
responden perempuan sebesar 93 persen dan hanya 7 persen responden
laki-laki. Responden laki-laki banyak tersebar di Provinsi Jawa Tengah (41
persen) dan Banten (37,2 persen).
Tabel 4.6. Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden (n = 1.036)
Provinsi
Kelompok Umur
Jum-
lah
JmlhRe-
sponden
≤
19
20-
24
25-
29
30-
34
35-
39
40-
44
45-
49
50-
54
55-
59
≥
60
Jawa Barat 0,0 5,0 8,0 8,5 15,4 13,9 19,4 17,4 12,4 0,0 201 201
JawaTengah 0,5 2,5 9,5 14,0 15,0 13,0 19,0 14,5 10,5 1,5 204 200
DIYogyakarta 0,5 3,6 10,5 9,1 19,5 14,1 15,5 12,3 15,0 0,0 220 220
JawaTimur 0,9 4,9 8,0 14,3 16,1 11,6 17,9 10,3 8,5 7,6 246 224
Banten 1,0 4,2 9,4 15,7 18,3 18,8 10,5 12,0 6,8 3,1 200 191
Total 0,6 4,1 9,1 12,3 16,9 14,2 16,5 13,2 10,7 2,5 1.071 1.036
Provinsi
Jenis Kelamin
Total Jumlah
Laki-Laki Perempuan
Jawa Barat 7,0 93,0 100 201
JawaTengah 41,0 59,0 100 200
DIYogyakarta 21,8 78,2 100 220
JawaTimur 8,0 92,0 100 224
Banten 37,2 62,8 100 191
Total 22,5 77,5 100 1.036
35
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Di Provinsi Jawa Barat 93 persen lebih responden didominasi oleh
jenis kelamin perempuan diikuti provinsi Jawa Timur sebesar 92 persen,
sementaralaki-lakipalingbanyakdiProvinsiJawaTengahjumlahnyalebih
dari 40 persen diikuti oleh Provinsi Banten. Berdasarkan kelompok umur,
diketahui bahwa responden perempuan paling banyak pada kelompok 35-
39 tahun. Sedangkan responden laki-laki paling banyak pada kelompok
45-49 tahun.
Tabel 4.7. Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden Berdasarkan
Kelompok Umur (n = 1.036)
c. Tingkat Pendidikan
Sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SMA/MA
sederajat (32,5 persen), dan hanya sedikit yang memiliki ijazah perguruan
tinggi (13,6 persen). Responden dengan pendidikan terakhir SMA/MA
sederajat paling banyak berada di Provinsi D.I. Yogyakarta (43 persen).
Lulusan SD/MI sederajat juga cukup mendominasi responden riset yaitu
sebanyak 31,6 persen. Provinsi Banten memiliki responden lulusan SD/MI
sederajat paling banyak yaitu sebesar 65,4 persen.
Kelompok
Umur
Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan
n % n %
15-19 1 0.4 5 0.6
20-24 4 1.7 38 4.7
25-29 18 7.7 76 9.5
30-34 30 12.9 97 12.1
35-39 38 16.3 137 17.1
40-44 36 15.5 111 13.8
45-49 39 16.7 132 16.4
50-54 34 14.6 103 12.8
55-59 29 12.4 82 10.2
≥60 4 1.7 22 2.7
36 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
d. Jumlah Pengeluaran Keluarga
Hasilrisetdi5provinsiterpilihmenunjukkanbahwakategorirata-rata
pengeluaran keluarga per bulan paling tinggi adalah Rp 1.000.000,- s.d. Rp
2.000.000,- dengan persentase sebesar 37,9 persen, diikuti dengan 31,4
persen untuk kategori Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000,- ; 26,8 persen untuk
kategori Rp 2.000.000,- s.d. Rp 3.500.000,-; dan 3,9 persen untuk kategori
Rp 0,- s.d. Rp 500.000,-. dan D.I. Yogyakarta paling tinggi pada kategori
Rp 1.000.000,- s.d. Rp 2.000.000,-. Secara berturut-turut, persentase
responden dengan kategori rata-rata pengeluaran keluarga per bulan Rp
1.000.000- s.d. Rp 2.000.000,- di tiga provinsi tersebut antara lain Provinsi
Jawa Barat sebesar 42,8 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 40,5
persen, dan Provinsi D.I. Yogyakarta sebesar 41,4 persen. Sedangkan,
rata-rata pengeluaran keluarga per bulan di Provinsi Jawa Timur dan
Banten paling tinggi pada kategori Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000,- , yaitu
sebesar 56,7 persen untuk Provinsi Jawa Timur dan 46.6 persen untuk
Provinsi Banten.
Provinsi
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Responden
Tidak
sekolah
SD/MI
sedera-
jat
SMP/
MTs
sedera-
jat
SMA/MA
sedera-
jat
Aka-
demi/
PT
Jumlah
Persen
tase
Jawa Barat 0,0 27,9 21,9 38,3 11,9 100 201
JawaTengah 1,0 23,0 15,5 38,5 22,0 100 200
DIYogyakarta 0,5 14,1 19,5 43,2 22,7 100 220
JawaTimur 0,4 30,8 29,5 30,8 8,5 100 224
Banten 0,0 65,4 22,5 9,9 2,1 100 191
Total 0,4 31,6 21,9 32,5 13,6 100 1.036
Tabel 4.8. Distribusi Persentase Tingkat Pendidikan Responden
(n=1.036)
37
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
e. Jenis Keterampilan
Hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 349 responden
memiliki keterampilan yang digunakan untuk menghasilkan uang.
Jenis keterampilan yang paling banyak dimiliki oleh responden adalah
memasak/pengolahan makanan. Banyaknya responden yang memiliki
keterampilan memasak/pengolahan makanan yaitu sebanyak 131 orang,
sedangkan jenis keterampilan yang paling sedikit dimiliki oleh responden
adalah perawatan kesehatan serta reparasi komputer dan HP
. Banyaknya
responden yang memiliki dua jenis keterampilan tersebut masing-masing
yaitu sebanyak 2 orang.
Provinsi
Rata-rata Pengeluaran Keluarga Per Bulan
Jumlah
Responden
0-500.000
>500.000-
1.000.000
1.000.000-
2.000.000
2.000.000-
3.500.000
Jumlah
Persen
tase
Jawa Barat 3,0 15,4 42,8 38,8 100 201
JawaTengah 5,0 22,0 40,5 32,5 100 200
DIYogyakarta 2,7 15,5 41,4 40,5 100 220
JawaTimur 5,8 56,7 35,7 1,8 100 224
Banten 2,6 46,6 28,8 22,0 100 191
Total 3,9 31,4 37,9 26,8 100 1.036
Tabel 4.9. Distribusi Persentase Rata-Rata Pengeluaran Keluarga
(n=1.036)
Keterampilan
Respnden
Provinsi Jumlah
Responden
Jabar Jateng DIY Jatim Banten Jumlah
1. Bercocok tanam/
bertani/ berkebun
25,5 27,3 0,0 41,8 5,5 100 55
2. Berternak (unggas,
ikan, sapi, kerbau, dll)
12,9 12,9 41,9 32,3 0,0 100 31
3. Memasak/pengolahan
makanan
17,6 21,4 38,9 22,1 0,0 100 131
4. Menjahit/ tenun/
sulam/bordir pakaian
14,7 29,4 23,5 29,4 2,9 100 34
5.Potongrambut/
perawatankecantikantubuh
0,0 50,0 16,7 33,3 0,0 100 6
Tabel 4.10. Distribusi Persentase Jenis Keterampilan Responden (n=349)
38 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Dari 1.036 responden hanya 349 responden yang mempunyai
keterampilan tersebut di atas. Sebagian besar keterampilan yang dimiliki
oleh responden di Provinsi D.I. Yogyakarta adalah memasak/ pengolahan
makanan, hal ini terkait erat dengan jenis kelamin responden yang
mayoritas adalah perempuan. Selain itu, karena di sekitar lokasi banyak
mahasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi sehingga menjadi
peluang untuk usaha.
Di tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat
sebagian besar responden mempunyai keterampilan dibanding dua
provinsi lainnya. Delapan puluh persen lebih keterampilan para responden
berada di ketiga provinsi tersebut, hal ini mungkin disebabkan oleh
ekonomi, sosial dan budaya yang dibawa oleh provinsi tersebut.
Keterampilan
Respnden
Provinsi Jumlah
Responden
Jabar Jateng DIY Jatim Banten Jumlah
6. Pembuatan mebel/
perkayuan
0,0 33,3 50,0 16,7 0,0 100 6
7. Seni (lukis/ musik/tari/
rupa/dll)
0,0 33,3 33,3 33,3 0,0 100 6
8. Kontruksi bangunan
(membangun/mereno-
vasi bangunan)
0,0 100,0 0,0 0,0 0,0 100 11
9. Desain grafis (perceta-
kan, sablon, dll)
0,0 50,0 33,3 16,7 0,0 100 6
10.Perawatankesehatan
(pengobatan,konsultasi,dll)
0,0 0,0 0,0 100,0 0,0 100 2
11. Reparasi komputer
dan HP
0,0 50,0 0,0 50,0 0,0 100 2
12. Reparasi alat
elektronik (televisi, radio,
AC, dll)
33,3 33,3 16,7 0,0 16,7 100 6
13. Reparasi alat trans-
portasi (mobil, motor,
becak, dll)
11,1 33,3 44,4 11,1 0,0 100 9
14. Lainnya 11,4 29,5 15,9 40,9 2,3 100 44
Total 15,5 27,8 26,4 28,7 1,7 100 349
39
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
f. Jenis Pekerjaan
Sebagian besar dari responden riset ini tidak bekerja atau seorang
ibu rumah tangga (42,4 persen). Lebih dari separuh responden yang
berprofesi sebagai ibu rumah tangga berada di Provinsi Jawa Barat (60,7
persen) disusul oleh Provinsi Banten (54,5 persen) dan D.I. Yogyakarta
(40,0 persen).
g. Tempat Tinggal
Lokasi riset ini berada di daerah perdesaan yang tersebar di 5
Provinsi yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I.
Yogyakarta. Pada setiap provinsi terpilih sampel di 1 Desa RN dan TRN.
Sebaran sampel berdasarkan tempat tinggal responden di setiap provinsi
dapat terlihat pada tabel berikut ini.
Provinsi
Pekerjaan
Jum-
lah
Belum
Bekerja
Tidak
Bekerja/
IRT
Petani
Wiras-
wasta/
peda-
gang
PNS/
TNI/
POLRI/
BUMN
Pega-
wai
Swas-
ta
Pen-
siun
Pekerja
Lepas
Lain-
lain
Jawa Barat 0,0 60,7 1,5 20,4 4,0 9,0 0,0 4,0 0,5 100
JawaTengah 0,5 21,0 4,5 23,5 7,0 19,5 0,0 18,5 5,5 100
DIYogyakarta 0,0 40,0 0,5 25,9 6,8 10,5 0,5 13,6 2,3 100
JawaTimur 0,9 37,1 14,7 25,0 1,3 8,9 0,4 6,3 5,4 100
Banten 3,1 54,5 7,3 13,1 0,0 3,1 0,0 17,3 1,6 100
Total 0,9 42,4 5,8 21,8 3,9 10,2 0,2 11,8 3,1 100
Tabel 4.11. Distribusi Persentase Jenis Pekerjaan Responden (n=1.036)
40 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
h. Aktivitas Sosial Kepala Keluarga
Sebagian besar kepala keluarga memiliki aktivitas sosial sebagai
anggota masyarakat sebanyak 812 orang (78,4 persen) dan hanya sedikit
yang memiliki aktivitas sosial sebagai perangkat desa atau sebanyak 10
orang (1 persen). Kepala keluarga sebagai anggota masyarakat paling
banyak berada di Provinsi Jawa Barat (186 orang). Di provinsi Banten
tidak ada kepala kelurga yang memiliki aktivitas sosial sebagai pengurus
LSM.
Provinsi RN TRN Jumlah
Kode
Desa
RN TRN Jumlah
Jawa Barat 100 101 201 A 100 100
B 101 101
JawaTengah 98 102 200 C 98 98
D 102 102
DIYogyakarta 110 110 220 E 110 110
F 110 110
JawaTimur 109 115 224 G 109 109
H 115 115
Banten 98 93 191 I 98 98
J 93 93
Total 515 521 1.036 515 521 1.036
Tabel 4.12. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Tempat Tinggal
(n=1.036)
41
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Selanjutnya, pada riset ini juga ditinjau mengenai aktivitas sosial
yang dijalani oleh responden. Berikut ini merupakan tabel aktivitas sosial
yang dijalani oleh responden di desa terpilih.
Provinsi
Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (Ayah/ Ibu)
Jumlah
Perang-
kat Desa
Pengurus
lingkun-
gan(RT/
RW)
Tokoh
Anggota/
Pengurus
LSM/OM
Anggota Lainnya
n % n % n % n % n % n % n %
Jawa Barat 4 2,0 4 2,0 1 0,5 5 2,5 186 92,5 1 0,5 201 100
JawaTengah 2 1,0 9 4,5 1 0,5 57 28,5 130 65,0 1 0,5 200 100
DIYogyakarta 1 0,5 16 7,3 3 1,4 52 23,6 148 67,3 0 0,0 220 100
JawaTimur 2 0,9 3 1,3 1 0,4 53 23,7 165 73,7 0 0,0 224 100
Banten 1 0,5 4 2,1 3 1,6 0 0,0 183 95,8 0 0,0 191 100
Total 10 1,0 36 3,5 9 0,9 167 16,1 812 78,4 2 0,2 1.036 100
Tabel 4.13. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (n=1.036)
Provinsi
Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (Ayah/ Ibu)
Jumlah
Perang-
kat Desa
Pengurus
lingkun-
gan(RT/
RW)
Tokoh
Anggota/
Pengurus
LSM/OM
Anggota Lainnya
n % n % n % n % n % n % n %
Jawa Barat 3 1,5 3 1,5 0 0,0 5 2,5 188 93,5 2 1,0 201 100
JawaTengah 2 1,0 9 4,5 0 0,0 71 35,5 117 58,5 1 0,5 200 100
DIYogyakarta 0 0,0 9 4,1 1 0,5 63 28,6 147 66,8 0 0,0 220 100
JawaTimur 1 0,4 2 0,9 1 0,4 44 19,6 175 78,1 1 0,4 224 100
Banten 0 0,0 5 2,6 2 1,0 0 0,0 184 96,3 0 0,0 191 100
Total 6 0,6 28 2,7 4 0,4 183 17,7 811 78,3 4 0,4 1.036 100
Tabel 4.14. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Aktivitas Sosial (n=1.036)
42 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Sebagian besar responden memiliki aktivitas sosial sebagai anggota
masyarakat yaitu sebanyak 811 orang (78,3 persen) dan hanya sedikit
yang memiliki aktivitas sosial sebagai perangkat desa yaitu sebanyak 6
orang (0,6 persen). Responden yang menjalani aktivitas sosial sebagai
anggota masyarakat paling banyak berada di Provinsi Jawa Barat (188
orang). Di Provinsi Banten tidak ada responden yang memiliki aktivitas
sosial sebagai pengurus LSM.
i. Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal
Sebagian besar responden atau sebanyak 644 orang (62,2 persen)
mengakui bahwa status kepemilikan bangunan tempat tinggal mereka
adalahmiliksendiri.Di5provinsitidakadasatupunrespondenyangstatus
kepemilikan bangunan rumah dinas. Provinsi Banten merupakan provinsi
dengan jumlah responden terbanyak yaitu 185 orang (96,9 persen) yang
memiliki bangunan tempat tinggal milik sendiri. Dibandingkan dengan
keempat provinsi lainnya, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan
status tempat responden adalah kontrak/sewa dan bebas sewa yaitu
sebanyak 29 responden (14,5 persen) dan 59 responden (29,5 persen).
.
Provinsi
Status Kepemilikan BangunanTempatTinggal
Jumlah
Milik
Sendiri
Kontrak/
Sewa
Bebas
Sewa
Dinas Lainnya
n % n % n % n % n % n %
Jawa Barat 108 53,7 4 2,0 1 0,5 0 0,0 88 43,8 201 100,0
JawaTengah 110 55,0 29 14,5 59 29,5 0 0,0 2 1,0 200 100,0
DIYogyakarta 112 50,9 15 6,8 26 11,8 0 0,0 67 30,5 220 100,0
JawaTimur 129 57,6 2 0,9 0 0,0 0 0,0 93 41,5 224 100,0
Banten 185 96,9 0 0,0 0 0,0 0 0,0 6 3,1 191 100,0
Total 644 62,2 50 4,8 86 8,3 0 0,0 256 24,7 1.036 100,0
Tabel 4.15. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal (n=1.036)
43
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Wayang Krucil/Klithik Khas Blora, Jawa Tengah
POTENSI DESA DALAM
MENDUKUNG PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NARKOBA
DI 5PROVINSI
V
44 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
45
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
POTENSI DESA DALAM MENDUKUNG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN
NARKOBA DI 5 PROVINSI
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, belakangan ini
jumlah kasus penyalahgunaan narkoba di perdesaan mengalami
peningkatan. Meningkatnya kasus penyalahgunaan dan peredaran
narkoba di perdesaan diduga karena ruang gerak peredaran narkoba
di perkotaan semakin terbatas akibat pengawasan ketat aparat
(Siwa, 2019). Di samping itu, pendidikan masyarakat desa yang pada
umumnya rendah menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang
jenis dan bahaya narkoba. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat
perdesaan mudah terpengaruh dan terlibat dalam penyalahgunaan
narkoba. Dengan demikian aparat desa bersama dengan masyarakat,
termasuk para tokoh yang ada di desa memiliki peranan penting untuk
mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkoba di lingkungan
desa. Mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup terkait jenis
dan bahaya narkoba agar bisa berperan aktif dalam upaya pencegahan
penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
Penanggulangan masalah narkoba memerlukan upaya
komperehensif, artinya harus mempertimbangkan semua sumber daya
yang ada di suatu daerah dan melibatkan semua sektor terkait atau
sektor lain yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan narkoba.
Sumber daya bisa menjadi aset atau potensi yang mendukung upaya
V
46 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
penanggulangan narkoba. Dalam riset ini potensi desa yang diteliti
dibagi menjadi beberapa aspek yaitu sebagai berikut
.
5.1.	 ASPEKSUMBERDAYAMANUSIA(MASYARAKAT,APARATUR
	 DESA, LEMBAGA SOSIAL, DAN INSTITUSI MASYARAKAT)
Sumber daya manusia (SDM) merupakan aspek yang sangat
penting untuk mendukung pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Keberadaan SDM yang berkualitas di berbagai lapisan masyarakat
bisa membantu pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan
terkait narkoba. Kualitas SDM pada riset ini dilihat dari sisi masyarakat,
aparatur desa, lembaga sosial, dan institusi masyarakat. Dari hasil
pengumpulan data baik kuantitatif maupun kualitatif diketahui bahwa
potensi SDM di masing-masing desa yang menjadi lokus riset cukup
beragam.
Dari sisi masyarakat, SDM bisa dilihat dari indikator antara lain
pendidikandanjumlahanggotakeluargayangberstatussekolah.Secara
umum, rata-rata tingkat pendidikan responden di sepuluh desa dari
lima provinsi yang didatangi adalah pendidikan dasar dan menengah.
Persentase responden yang berpendidikan terakhir SD dan/atau tidak
sekolah tidak jauh berbeda dengan mereka yang berpendidikan SMA
dan sederajat, yaitu 32 persen dan 33 persen. Responden lainnya
berpendidikan perguruan tinggi 14 persen dan berpendidikan SMP 22
persen. (Gambar 5.1)
.
Gambar 5.1. Tingkat Pendidikan Responden
31,9%
21,9%
32,5%
13,6%
≤SD SMP SMA Akademi/PT
47
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat pendidikan responden
menunjukkan keragaman. Tingkat pendidikan di Kabupaten Serang
Banten terlihat paling rendah di antara kabupaten lainnya. Responden
paling banyak berpendidikan SD atau tidak sekolah, baik di Desa TRN
maupun RN di Provinsi Banten (masing-masing sebanyak 77 persen
dan 54 persen). Responden yang berpendidikan rendah juga banyak
ditemui di Desa TRN Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (39 persen)
dan Desa TRN Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (40 persen). Sementara
itu, responden berpendidikan SMA atau sederajat lebih banyak di desa
lokasi penelitian Provinsi Jawa tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Barat.
Gambar 5.2. Presentase Tingkat Pendidikan Responden Berdasarkan
Desa dan Kabupaten
Meskipun secara umum cukup banyak responden yang
berpendidikan SMA atau sederajat, namun responden yang
berpendidikanrendahjugamasihbanyak.Tingkatpendidikanresponden
di lokus riset yang bervariasi menunjukkan kualitas SDM yang berbeda-
beda. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan dalam
rangka penanggulangan masalah narkoba harus mempertimbangkan
tingkat pendidikan masyarakat.
Jumlah anggota keluarga yang berstatus sekolah juga menjadi
salah satu indikator SDM dari sisi masyarakat yang dianalisis dalam
risetini.Bersekolahmerupakansalahsatukegiatanyangbisamencegah
TRN
TRN
TRN
TRN
TRN
RN
RN
RN
RN
RN
Kuningan
Magelang
Sleman
Tulungagung
Serang
≤SD
SMP
SMA
Akademi/
PT
77,4 15,1 6,5 1,1
54,1 29,6 13,3 3,1
38,5 28,4 27,5 5,5
24,3 30,4 33,9 11,3
13,6 15,5 41,8 29,1
15,5 23,6 44,5 16,4
31,4 14,7 38,2 15,7
16,3 16,3 38,8 28,6
39,6 24,8 32,7 3,0
16,0 19,0 44,0 21,0
48 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan termasuk penyalahgunaan
narkoba, walaupun dalam pergaulan di sekolah memungkinkan
seseorang terpapar pengaruh negatif dari teman-temannya. Rentang
usia sekolah, terutama 14-18 tahun, merupakan usia yang rawan untuk
terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba (Gono, 2007). Maka dari itu,
pengawasan dari orang tua dan guru sangat diperlukan pada rentang
usia ini.
Dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang
sedang bersekolah, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba
kemungkinan bisa dilakukan lebih maksimal karena semakin banyak
anak yang dapat dialihkan perhatiannya untuk melakukan kegiatan
yang lebih bermanfaat di sekolah. Hasil riset menunjukkan responden
yang berusia antara 18-34 tahun dan responden usia 55 tahun ke atas
rata-rata hanya memiliki paling banyak dua anak yang masih bersekolah
(Gambar 5.3.). Meskipun begitu, jika dilihat dari semua kelompok umur
pada umumnya responden memiliki 3-5 anak yang masih bersekolah.
Dengandemikian,sasaranuntukprogrampencegahanpenyalahgunaan
narkoba hendaknya diarahkan kepada semua orang tua (responden),
tanpa memperhatikan kelompok umur mereka karena pada umumnya
mereka masih memiliki anak yang masih sekolah.
Gambar 5.3. Persentase Jumlah Anggota Keluarga Berstatus Sekolah
Menurut Umur Responden
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
≥60
≤2 3-5 ≥6
80,8 15,4 3,8
57,7 41,4 0,9
46,7 51,1 2,2
45,6 51,5 2,9
38,1 58,5 3,4
3,4
57,1
39,4
59,1 40,2 0,8
28,7
71,3
14,3
85,7
33,3
66,7
0
0
0
49
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Hasil pengumpulan data kualitatif menggambarkan kondisi SDM
di masing-masing lokus riset yang begitu beragam. Diperoleh informasi
bahwa SDM di lokus riset di Kabupaten Serang Provinsi Banten belum
mampu mendukung kemajuan dan mengembangkan potensi wilayah
yang ada. Dari tingkat pendidikan bisa dikatakan bahwa penduduk di
wilayah ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sebagian besar
hanya menyelesaikan SD, bahkan di desa lokasi penelitian juga ditemui
penduduk yang mengaku tidak pernah bersekolah. Hal ini sejalan
dengan temuan dari pengumpulan data kuantitatif.
Kondisi yang sedikit berbeda ditemui di lokasi riset di Kabupaten
Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta. Penduduk di wilayah ini banyak yang
merupakan pendatang dan menempati rumah kost. Kebanyakan dari
mereka adalah pekerja dan mahasiswa. Sementara itu, di Kabupaten
Kuningan Provinsi Jawa Barat kualitas SDM di wilayah ini banyak
yang belum mengetahui tentang narkoba. Tingkat pengetahuan
masyarakatnya terkait bahaya narkoba dilaporkan oleh aparat desa
masih cukup rendah, dimana hanya sekitar 30 persen penduduk saja
yang dirasa sudah mengetahui bahaya narkoba.
Dari informan aparat desa di Kabupaten Sleman sudah dibekali
dengan pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk program pencegahan
narkoba baik yang dilakukan oleh BNNP
, BNNK maupun instansi lain
seperti Dinsos dan instansi P3AP2KB. Di Kabupaten Serang, pengurus
desa di lokus riset belum mampu untuk mengembangkan potensi
ekonomi desanya. Kegiatan dan aktivitas yang selama ini dilakukan
hanya sebatas pada kegiatan rutin dan administrasi kependudukan.
Selanjutnya dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa
kepala desa, atau setidaknya lingkungan RT/ RW mendukung Program
P4GN. Beberapa LSM yang berperan dalam mendukung Program P4GN
antara lain Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba Tawuran dan Anarkis
(Gapenta) dan Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat).
Aparat desa di Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur bisa
dikatakan sangat sigap, dan koordinasi dengan aparat lain seperti
babinsa dan kamtibmas/polisi berjalan cukup baik. Hubungan dengan
organisasi masyarakat seperti ikatan pelajar NU, Muslimat, Fatayat,
50 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Ansor, dan Jamiah NU juga terjalin dengan baik. Ketika terdapat
permasalahan di masyarakat, mereka saling berkoordinasi. Begitu
juga jika ada kegiatan bersama seperti pengendalian pangan untuk
kelompok tani, aparat dan ormas selalu bekerjasama untuk menjaga
keamanan dan ketertiban.
Di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, kerja sama antara
aparat dengan Babinsa/ Babinkamtibmas sering dilakukan, antara lain
pada kegiatan sosialisasi dan penyuluhan terkait narkoba. Kelompok
di desa yang memilliki potensi dalam mendukung Program P4GN
antara lain kelompok organisasi wanita (PKK) di berbagai jenjang (desa
sampai dengan Dasa Wisma), kelompok pengajian, kelompok olah raga
(badminton, boxing/ tinju gaya bebas), kelompok kesenian (Kubra/ tari-
tarian), kelompok remaja karang taruna, dan kelompok remaja masjid.
Keberadaan relawan anti narkoba yang baru dilatih 2 bulan sebelum
wawancara belum membentuk program, kegiatan dan perkumpulan
penggiat anti narkoba di desa RN.
Informan aparat desa di Desa RN Kabupaten Kuningan Provinsi
Jawa Barat sebagian besar sudah memahami tentang bahaya
narkoba, begitu juga dengan aparat di Desa TRN. Namun, mereka
kurang mengerti tentang jenis narkoba. Aparat Desa TRN Kabupaten
Kuningan terlihat cukup peduli dengan permasalahan narkoba. Mereka
mengatakan bahwa korban penyalahgunaan narkoba membutuhkan
penanganan yang tepat yaitu rehabilitasi lengkap baik medis maupun
sosial. Selain itu, mantan pecandu harus diterima dengan baik di dalam
masyarakat dan didampingi agar mereka kembali produktif seperti
sedia kala. Di Desa RN Kabupaten Kuningan, SDM aparatnya diperkuat
dengan keberadaan institusi atau organisasi sosial seperti LPM, karang
taruna, organisasi masyarakat Pemuda Pancasila dan Linmas.
5.2.	 ASPEK SUMBER DAYA ALAM
Kondisi sumber daya alam (SDA) di masing-masing daerah bisa
menjadi pendukung dalam upaya penanggulangan permasalahan
terkait narkoba. Menurut informan di Kabupaten Sleman Provinsi D.I.
Yogyakarta, saat survei SDA (misalkan pengairan) di wilayah tersebut
memadai dan cukup untuk kebutuhan masyarakatnya meskipun di
51
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
tengah musim kemarau pada saat wawancara dilakukan. Faktor SDA
tidak memengaruhi kehidupan masyarakat karena mata pencaharian
telah mengalami pergeseran, dimana saat survei mereka tidak lagi
bertani yang sekaligus juga sangat mengandalkan SDA.
SDA di desa terpilih di Kabupaten Serang Provinsi Banten
nampaknya memiliki potensi yang bagus untuk mendukung kemajuan
pembangunandiwilayahtersebut.Desatersebuttermasukwilayahyang
subur, dengan sebagian besar penduduknya menggantungkan nasib
pada bidang pertanian dan hasilnya dapat langsung didistribusikan
ke wilayah lain yang terdekat seperti ke Lampung dan Jakarta. Selain
lahan yang subur, wilayah ini memiliki wilayah perbukitan yang memiliki
potensi pengembangan wilayah pariwisata. Namun demikian, kondisi
SDA yang sangat baik ternyata belum didukung oleh SDM yang
menjadi pendorong kemajuan serta perkembangan wilayah setempat
khususnya wilayah perdesaan.
Di wilayah riset di Provinsi Jawa Tengah, SDA kabupaten
(Kabupaten Magelang) dan desa tidak jauh berbeda yaitu merupakan
wilayah pertanian padi, tembakau, dan palawija. Potensi pertanian
sudah mulai berkurang karena beralih fungsi dari tanah pertanian
menjadi tanah non pertanian. Kondisi perekonomian sekitar (pusat
perdagangan, pertokoan, hiburan, pabrik otomotif (perakitan mobil)
menjadikan banyak remaja kurang berminat untuk menggarap
lahan pertanian, hal ini juga menjadi kekhawatiran generasi tua yang
berprofesi sebagai petani.
Salah satu desa terpilih di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa
Barat terletak di lereng gunung dan memiliki kawasan obyek wisata
alam. Masyarakat di desa tersebut membudidayakan ubi, cengkeh,
murbei, apel dan nilam. Desa lainnya berada di pusat kecamatan,
kehidupan masyarakatnya sudah bergeser ke arah gaya hidup
perkotaan. Walaupun demikian desa ini masih memiliki potensi alam
yang digunakan oleh sebagian masyarakatnya sebagai mata pencarian
di bidang pertanian yaitu te mbakau, padi, dan ubi.
Secara umum kondisi SDA di Tulungagung Provinsi Jawa Timur
cukup subur, karena banyak SDA, misalnya perikanan, banyak pantai
52 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
dan budidaya ikan baik perikanan laut maupun perikanan air tawar.
Beberapa pantai dan pelabuhan yang potensial antara lain Pantai
Demak, Pelabuhan Popoh, Gemah. Pelabuhan dan pantai tersebut
tidak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga sebagai tempat pariwisata.
Sementara itu dari aspek pertambangan, Tulungagung terkenal dengan
penghasil marmer (di wilayah Kecamatan Campurdarat). Sementara
itu, potensi SDA dari perkebunan, antara lain banyak menghasilkan
jambu, belimbing, jeruk, tembakau (Kecamatan Pakel), serta peternakan
ayam petelur dan pedaging. Di Desa G sendiri yang menjadi lokus
riset, potensi SDA tidak terlalu banyak diandalkan. Hanya sebagian
kecil penduduk yang hidupnya bergantung pada pertanian karena
sebagian besar penduduknya mengandalkan sektor industri yaitu
pabrik ataupun industri rumah tangga. Berbeda dengan Desa RN dan
TRN Kabupaten Tulungagung memiliki SDA yang cukup baik. Beberapa
hasil pertaniannya antara lain pertanian yang bersifat musiman, kebun
tebu, dan belimbing.
5.3.	 ASPEK SUMBER DAYA EKONOMI
Salah satu indikator sumber daya ekonomi (SDE) yang merupakan
potensi dalam upaya penanggulangan masalah narkoba adalah
pekerjaan. Antoro (2006) mengungkapkan bahwa pemakaian narkoba
salah satunya dipicu oleh faktor domestik, diantaranya adalah keluarga
yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua bekerja, rendahnya
pendapatan keluarga, kurangnya komunikasi antara anak dengan
orang tua, ketersediaan narkoba di lingkungan sekitar, dan kurangnya
prestasi dalam pendidikan. Sebagian faktor domestik yang tersebut di
atas banyak yang dipengaruhi oleh pekerjaan dalam mencari uang.
Hasil pengumpulan data kuantitatif menunjukkan lebih separuh
responden berstatus istri dan tidak bekerja atau ibu rumah tangga
(58 persen). Gambar 5.4. juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen
dari responden yang berstatus kepala keluarga bekerja sebagai
wiraswasta/pedagang. Meskipun dikatakan orang tua bekerja akan
kurang memberikan perhatian kepada anaknya, namun bukan berarti
dari hasil riset ini bisa disimpulkan bahwa anggota keluarga atau anak
dari sebagian responden kurang mendapat perhatian karena orang
tuanya sibuk berdagang. Sebaliknya, tidak selalu juga orang tua yang
53
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
biasa tinggal di rumah bisa memberikan perhatian yang cukup bagi
anak-anaknya.
Gambar 5.4. Persentase Pekerjaan Responden Menurut Hubungan
Keluarga
Di lain pihak, banyaknya orang tua (dalam hal ini istri) di lokus
riset yang tinggal di rumah/tidak bekerja bisa menjadi hal yang
menguntungkan karena pengawasan terhadap anak-anak lebih mudah
dilakukan. Selain itu, diharapkan orang tua yang tinggal di rumah
lebih mudah menjalin komunikasi lebih baik dengan seluruh anggota
keluarga. Oleh sebab itu, ibu rumah tangga harus menjadi sasaran
bagi berbagai kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang
bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait narkoba.
Selanjutnya, dari pengumpulan data kualitatif diperoleh gambaran
bahwa dilihat dari jenis pekerjaan, SDE masyarakat di desa yang
menjadi lokasi riset juga beragam. Di Kabupaten Serang Provinsi
Banten sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh tani karena
mereka tidak memiliki lahan pertanian atau perkebunan sendiri.
Sebagian lainnya bekerja di sektor jasa transportasi dan niaga karena
wilayahnya merupakan perlintasan jalur keluar dan masuknya migran
dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Di samping itu, kalangan muda di
wilayah ini banyak yang menganggur/ tidak bekerja karena lapangan
pekerjaan sangat terbatas. Mereka lebih memilih menganggur karena
tidak bersedia melanjutkan mata pencaharian yang sudah menjadi
tradisi di sana, yaitu sebagai buruh tani.
Lainnya
Pekerja Lepas
Pensiunan
Pegawai Swasta
PNS/TNI/POLRI/BUMN/Dan Lainnya
Wiraswasta/Pedagang
Petani
Tidak Bekerja/Ibu RumahTangga
Istri/Suami
Kepala Keluarga
2,8
3,7
4,7
26,0
0,1
0,3
7,9
15,0
4,2
3,0
4,5
9,0
17,3
34,0
58,4
9,0
54 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
Penggunaan Anggaran Dana Desa (ADD) di lokasi riset pada
umumnya mengutamakan pada pembangunan infrastruktur jalan dan
fasilitas umum lainnya. Sementara porsi anggaran yang digunakan
untuk pembangunan SDM dan kegiatan non fisik lainnya masih sangat
terbatas. Lokasi desa riset merupakan wilayah pertanian dan jauh dari
lokasi perindustrian, sehingga CSR untuk keperluan pembangunan
desa belum menjangkau wilayah ini.
Di Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur termasuk dalam
kategori ekonomi menengah, bahkan lebih maju dibandingkan daerah
lain (sebanyak 60 persen penduduknya termasuk kategori menengah
ke atas). Perputaran ekonomi cukup baik karena banyaknya buruh
migran (TKI/ TKW) yang menghasilkan devisa bagi kabupaten ini. Lebih
dari separuh masyarakat desa yang menjadi lokasi riset di Kabupaten
Tulungagung bekerja sebagai buruh migran ke luar negeri (TKI/
TKW). Sebagian kecil lainnya memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
berwiraswasta atau memiliki usaha sendiri.
Penduduk yang memiliki usaha ekonomi/ wiraswasta banyak
ditemukan di Desa RN, Kabupaten Tulungagung. Umumnya industri
yang ada adalah kerajinan alat rumah tangga, peralatan TNI/ Polri,
atribut TNI/ Polri, dan koper. Sementara, masyarakat yang tidak memiliki
usaha bekerja sebagai buruh di pabrik. Adapun penggunaan ADD di
Desa RN antara lain untuk pendidikan, infrastruktur, pemberdayaan,
pelatihan, dan kesehatan. Alokasi untuk pemberdayaan masyarakat
adalah sebesar sepuluh persen yang digunakan untuk mendukung
pelatihan usaha pembuatan makanan ringan, pemeliharaan ikan, dan
budidaya ikan lele. Dalam satu tahun dana ini bisa membiayai kurang
lebih 60 s.d 70 orang secara bergiliran tergantung masyarakat yang
membutuhkan. Di Desa H kondisinya sedikit berbeda dengan Desa RN.
Pendukung ekonomi yang utama di Desa TRN bersumber dari pertanian
dan perindustrian. Kondisi perekonomian masyarakatnya saat ini sudah
mengalami peningkatan karena ada bantuan dari pemerintah, dari 135
kepala keluarga (KK) yang dinyatakan miskin kini sudah berkurang
menjadi 75 (KK) miskin.
Di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, sebagian besar
penduduknya bekerja sebagai petani dan pedagang. Di Desa TRN
55
Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
mayoritas penduduknya merupakan petani ubi (boled) dan cengkeh.
Sebagian penduduk bekerja di luar kota dan sebagian lainnya bekerja
sebagai penggali pasir dan batu. Secara umum, masyarakat Desa
TRN berada di atas garis kemiskinan dan dana desa digunakan
untuk kegiatan fisik rutin seperti Rumah Layak Huni sehingga tidak
terdapat rumah yang tidak layak huni. Potensi ekonomi lain di Desa
RN Kabupaten Kuningan adalah perdagangan. Hal ini erat kaitannya
dengan keberadaan pasar terbesar di kecamatan. Potensi ekonomi
lainnya yang mulai dikembangkan di Desa RN adalah kerajinan atau
home industry yaitu pembuatan telor asin dan rengginang. Kerajinan
ini dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Des).
Hampir sama dengan di Kuningan Provinsi Jawa Barat, di
Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, SDE kabupaten banyak
didukung dari perdagangan dan hiburan. Kondisi perekonomian desa
sesuai dengan potensinya yang berskala lingkungan desa antara lain
pertanian, industri rumah tangga/ home industry, dan perdagangan.
Kondisi di Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta bisa
dikatakan agak berbeda dengan wilayah lain. Sebagian besar
penduduknya adalah pendatang dan berasal dari kalangan menengah
ke atas. Gambaran ini sama di kedua desa lokasi riset.
5.4.	 ASPEK BUDAYA/ TRADISI
Budaya dan tradisi yang ada di suatu daerah mempengaruhi
perilaku masyarakatnya. Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan
narkobaseharusnyabudayadantradisiyangberkembangdimasyarakat
bisa menjadi ‘benteng’ bagi pengaruh buruk dari luar lingkungan. Selain
SDM, SDA, dan SDE riset ini juga mengumpulkan beberapa informasi
terkait budaya dan tradisi yang berlaku di lokasi riset.
Pada riset ini responden ditanyakan apakah di desa mereka
terdapat tradisi yang umum ada di masyarakat Indonesia seperti
gotong royong, musyawarah, pesta rakyat atau pesta untuk merayakan
sesuatu, dan pesta atau hajatan. Hasil pengumpulan data menunjukkan
tradisi atau budaya yang paling banyak dilaksanakan di lokasi riset
adalah gotong royong, dimana hampir semua responden menyatakan
56 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
ada budaya gotong royong di desa tempat mereka tinggal (Gambar
5.5). Tradisi lainnya yang juga banyak ditemukan di desa terpilih adalah
musyawarah dan pesta rakyat.
Gambar 5.5 Persentase Tradisi/ Budaya di Desa Menurut Responden
Gambar 5.6 Persentase pernyataan responden tentang menyajikan
minuman beralkohol pada pesta desa
Menurut keterangan informan, secara umum di Kabupaten Sleman
Provinsi D.I. Yogyakarta tidak ada budaya masyarakat yang sifatnya
menyimpang. Akan tetapi, di daerah ini justru banyak masyarakat yang
mengkonsumsiminumankerasterjeratnarkobawalaupunsecaraumum
masyarakat sekitarnya menolak penggunaan narkoba. Di Kabupaten
Magelang Provinsi Jawa Tengah juga ditemukan bahwa budaya gotong
Pesta rakyat dengan minuman beralkohol
TRN
Kuningan
Magelang
Sleman
Tulungagung
Serang
TRN
TRN
TRN
TRN
RN
RN
RN
RN
RN
Tidak
Ya
Pesta rakyat
Musyawarah
Gotong Royong
9,4
78,2
96,8
99,6
100,0 0,0
99,0 1,0
87,8 12,2
76,1 23,9
96,4 3,6
100,0 0,0
73,5 26,5
85,7 14,3
92,1 7,9
97,0 3,0
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang  1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN

More Related Content

What's hot

Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbk
Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbkSambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbk
Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbkShintaDevi11
 
Seminar rancangan
Seminar rancanganSeminar rancangan
Seminar rancanganAbdul Ghany
 
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006 UU SP3K NO .16 TAHUN 2006
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006 vinasiringoringo
 
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018vie akbar
 
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-book
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-bookFaqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-book
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-bookMohammad Subhan
 
INSTRUMEN AKREDITASI
INSTRUMEN AKREDITASIINSTRUMEN AKREDITASI
INSTRUMEN AKREDITASIIndiSusanti
 
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019Nurohman Pkh Brebes
 
Pedoman umum posyandu
Pedoman umum posyanduPedoman umum posyandu
Pedoman umum posyanduSiMbah Dayoen
 
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografi
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografiKajian kesehatan menyongsong bonus demografi
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografidaldukpapua
 
Bahan ugm 13 agustus 2021
Bahan ugm 13 agustus 2021Bahan ugm 13 agustus 2021
Bahan ugm 13 agustus 2021baskoro3105
 
Rpjm ds hanum
Rpjm ds hanumRpjm ds hanum
Rpjm ds hanumpryagus
 
Contoh rancangan aktualisasi
Contoh rancangan aktualisasiContoh rancangan aktualisasi
Contoh rancangan aktualisasiAgus Triono
 
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015 Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015 Ditjen P2P Kemenkes
 
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)M. Adli
 

What's hot (20)

Aktualisasi ganesha
Aktualisasi ganeshaAktualisasi ganesha
Aktualisasi ganesha
 
Rudi candi labul agustus 2018
Rudi candi labul agustus 2018Rudi candi labul agustus 2018
Rudi candi labul agustus 2018
 
1. presentasi sekda lembata
1. presentasi sekda lembata1. presentasi sekda lembata
1. presentasi sekda lembata
 
Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbk
Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbkSambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbk
Sambutan sekda pencanangan zona integritas menuju wbk
 
Seminar rancangan
Seminar rancanganSeminar rancangan
Seminar rancangan
 
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006 UU SP3K NO .16 TAHUN 2006
UU SP3K NO .16 TAHUN 2006
 
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018
PEDOMAN UMUM PELAKSANA PADAT KARYA TUNAI DIDESA TAHUN 2018
 
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-book
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-bookFaqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-book
Faqs frequently asked questions reformasi birokrasi-e-book
 
Sdm sambutan sosialisasi
Sdm sambutan sosialisasiSdm sambutan sosialisasi
Sdm sambutan sosialisasi
 
INSTRUMEN AKREDITASI
INSTRUMEN AKREDITASIINSTRUMEN AKREDITASI
INSTRUMEN AKREDITASI
 
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019
Notulensi pelatihan kampung kb hotel anggraeni 2019
 
Pedoman umum posyandu
Pedoman umum posyanduPedoman umum posyandu
Pedoman umum posyandu
 
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografi
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografiKajian kesehatan menyongsong bonus demografi
Kajian kesehatan menyongsong bonus demografi
 
Bidan tiwi
Bidan tiwiBidan tiwi
Bidan tiwi
 
Bahan ugm 13 agustus 2021
Bahan ugm 13 agustus 2021Bahan ugm 13 agustus 2021
Bahan ugm 13 agustus 2021
 
Rpjm ds hanum
Rpjm ds hanumRpjm ds hanum
Rpjm ds hanum
 
Kampung sehat
Kampung sehatKampung sehat
Kampung sehat
 
Contoh rancangan aktualisasi
Contoh rancangan aktualisasiContoh rancangan aktualisasi
Contoh rancangan aktualisasi
 
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015 Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015
Daftar Informasi Publik Kemenkes Tahun 2015
 
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)
NOTULEN KKD B.12 (17 DES 2012 - 13 JAN 2013)
 

Similar to Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang 1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN

Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2AntiNarkoba.com
 
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2AntiNarkoba.com
 
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019AntiNarkoba.com
 
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527STISIPWIDURI
 
Mahasiswa dan Bahaya Narkotika
Mahasiswa dan Bahaya NarkotikaMahasiswa dan Bahaya Narkotika
Mahasiswa dan Bahaya NarkotikaAntiNarkoba.com
 
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...Luhur Moekti Prayogo
 
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...Arafah Pramasto, S.Pd.
 
Artikel membangun-remaja-bebas-narkoba
Artikel membangun-remaja-bebas-narkobaArtikel membangun-remaja-bebas-narkoba
Artikel membangun-remaja-bebas-narkobaJemmy Charles
 
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...AntiNarkoba.com
 
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia Dini
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia DiniBuku Pencegahan Narkoba Sejak Usia Dini
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia DiniAntiNarkoba.com
 
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdfWahyuPriambodo9
 
Teks moderator 14.9.19
Teks moderator 14.9.19Teks moderator 14.9.19
Teks moderator 14.9.19Maimunah Sibli
 
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018AntiNarkoba.com
 
NARKOBA 2 MARET 2021.pptx
NARKOBA 2 MARET 2021.pptxNARKOBA 2 MARET 2021.pptx
NARKOBA 2 MARET 2021.pptxRizkyAulia61
 
Ppt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaPpt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaHenry Kurniawan
 
Ppt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaPpt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaHenry Kurniawan
 
Bahan Sosialisasi
Bahan SosialisasiBahan Sosialisasi
Bahan Sosialisasimeilani48
 

Similar to Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang 1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN (20)

Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
 
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn   lipi ) 2
Survei prevalensi penyalahgunaan narkoba 2019 ( bnn lipi ) 2
 
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019
Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkoba 2019
 
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527
Insani vol 2_no_2_des_2015_sri_dwiyantari_dan_retor_aw_kaligis-63461-2142_527
 
hasil_lit_bnn_2015
hasil_lit_bnn_2015hasil_lit_bnn_2015
hasil_lit_bnn_2015
 
Mahasiswa dan Bahaya Narkotika
Mahasiswa dan Bahaya NarkotikaMahasiswa dan Bahaya Narkotika
Mahasiswa dan Bahaya Narkotika
 
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...
ESSAY DIKLAT KADER ANTI NAPZA 2020 - “Peran Mahasiswa Dalam Upaya Program Pen...
 
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...
RELASI KEYAKINAN BERAGAMA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA BAGI KELUAR...
 
Artikel membangun-remaja-bebas-narkoba
Artikel membangun-remaja-bebas-narkobaArtikel membangun-remaja-bebas-narkoba
Artikel membangun-remaja-bebas-narkoba
 
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...
Potret efektifitas rehabilitasi penyalahgunaan narkotika di lembaga permasyar...
 
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia Dini
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia DiniBuku Pencegahan Narkoba Sejak Usia Dini
Buku Pencegahan Narkoba Sejak Usia Dini
 
Panduan mpls 2018
Panduan mpls 2018Panduan mpls 2018
Panduan mpls 2018
 
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf
140-Article Text-4896-1-10-20220923.pdf
 
Teks moderator 14.9.19
Teks moderator 14.9.19Teks moderator 14.9.19
Teks moderator 14.9.19
 
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018
Buku Awas Narkoba Masuk Desa 2018
 
NARKOBA 2 MARET 2021.pptx
NARKOBA 2 MARET 2021.pptxNARKOBA 2 MARET 2021.pptx
NARKOBA 2 MARET 2021.pptx
 
BAHAN WORKHOP P4GN BNN.ppt
BAHAN WORKHOP P4GN BNN.pptBAHAN WORKHOP P4GN BNN.ppt
BAHAN WORKHOP P4GN BNN.ppt
 
Ppt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaPpt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkoba
 
Ppt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkobaPpt penyalahgunaan narkoba
Ppt penyalahgunaan narkoba
 
Bahan Sosialisasi
Bahan SosialisasiBahan Sosialisasi
Bahan Sosialisasi
 

More from AntiNarkoba.com

Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...
Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...
Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...AntiNarkoba.com
 
Heal th 2019 research on drugs abuse 2
Heal th 2019 research on drugs abuse 2Heal th 2019 research on drugs abuse 2
Heal th 2019 research on drugs abuse 2AntiNarkoba.com
 
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2AntiNarkoba.com
 
Health 2019 research on drugs abuse 2
Health 2019 research on drugs abuse 2Health 2019 research on drugs abuse 2
Health 2019 research on drugs abuse 2AntiNarkoba.com
 
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...AntiNarkoba.com
 
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2AntiNarkoba.com
 
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - EN
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - ENJurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - EN
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - ENAntiNarkoba.com
 
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - EN
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - ENJurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - EN
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - ENAntiNarkoba.com
 
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - EN
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - ENJurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - EN
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - ENAntiNarkoba.com
 
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - EN
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - ENJurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - EN
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - ENAntiNarkoba.com
 
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - EN
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - ENJurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - EN
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - ENAntiNarkoba.com
 
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan Narkoba
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan NarkobaBuku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan Narkoba
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan NarkobaAntiNarkoba.com
 
Buku Raih Prestasi Tanpa Narkoba
Buku Raih Prestasi Tanpa NarkobaBuku Raih Prestasi Tanpa Narkoba
Buku Raih Prestasi Tanpa NarkobaAntiNarkoba.com
 
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMA
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMAPencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMA
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMAAntiNarkoba.com
 
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan Anak
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan AnakBuku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan Anak
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan AnakAntiNarkoba.com
 
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri Sendiri
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri SendiriBuku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri Sendiri
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri SendiriAntiNarkoba.com
 
Pelajar dan Bahaya Narkotika
Pelajar dan Bahaya NarkotikaPelajar dan Bahaya Narkotika
Pelajar dan Bahaya NarkotikaAntiNarkoba.com
 
Alamat kantor BNN di Indonesia
Alamat kantor BNN di IndonesiaAlamat kantor BNN di Indonesia
Alamat kantor BNN di IndonesiaAntiNarkoba.com
 

More from AntiNarkoba.com (18)

Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...
Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...
Hasil survei penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar...
 
Heal th 2019 research on drugs abuse 2
Heal th 2019 research on drugs abuse 2Heal th 2019 research on drugs abuse 2
Heal th 2019 research on drugs abuse 2
 
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
 
Health 2019 research on drugs abuse 2
Health 2019 research on drugs abuse 2Health 2019 research on drugs abuse 2
Health 2019 research on drugs abuse 2
 
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...
Potrait of drug abuse rehabilitation effectiveness in correctional facility 2...
 
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2Village potential in drug abuse prevention 2019 2
Village potential in drug abuse prevention 2019 2
 
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - EN
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - ENJurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - EN
Jurnal Data P4GN 2015 - Edisi 2016 - EN
 
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - EN
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - ENJurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - EN
Jurnal Data P4GN 2014 - Edisi 2015 - EN
 
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - EN
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - ENJurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - EN
Jurnal Data P4GN 2013 - Edisi 2014 - EN
 
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - EN
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - ENJurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - EN
Jurnal Data P4GN 2012 - Edisi 2013 - EN
 
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - EN
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - ENJurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - EN
Jurnal Data P4GN 2011 - Edisi 2012 - EN
 
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan Narkoba
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan NarkobaBuku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan Narkoba
Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kewirausahaan Pada Kawasan Rawan Narkoba
 
Buku Raih Prestasi Tanpa Narkoba
Buku Raih Prestasi Tanpa NarkobaBuku Raih Prestasi Tanpa Narkoba
Buku Raih Prestasi Tanpa Narkoba
 
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMA
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMAPencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMA
Pencegahan Bahaya Narkoba Di Lingkungan SMP Dan SMA
 
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan Anak
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan AnakBuku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan Anak
Buku Kita Butuh Bicara Hubungan Orang Tua Dan Anak
 
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri Sendiri
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri SendiriBuku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri Sendiri
Buku Reflection Seni Berbicara Dengan Diri Sendiri
 
Pelajar dan Bahaya Narkotika
Pelajar dan Bahaya NarkotikaPelajar dan Bahaya Narkotika
Pelajar dan Bahaya Narkotika
 
Alamat kantor BNN di Indonesia
Alamat kantor BNN di IndonesiaAlamat kantor BNN di Indonesia
Alamat kantor BNN di Indonesia
 

Recently uploaded

Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3
Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3
Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3SatriaPamungkas18
 
Sobat Lemonilo - Konsultasi Manajemen Web dan Media Sosial
Sobat Lemonilo  - Konsultasi Manajemen Web dan Media SosialSobat Lemonilo  - Konsultasi Manajemen Web dan Media Sosial
Sobat Lemonilo - Konsultasi Manajemen Web dan Media SosialAdePutraTunggali
 
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1AdePutraTunggali
 
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadi
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadiLAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadi
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadiPatarMahadyThangShiH
 
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptx
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptxDaun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptx
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptxZulfatulAliyah
 
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa Azzuro
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa AzzuroKonsultasi - Nestle Indonesia_Najwa Azzuro
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa AzzuroAdePutraTunggali
 
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdf
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdfKonsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdf
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdfAdePutraTunggali
 
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptx
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptxOverview ANLS - Come on 2023-Finals.pptx
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptxJessyMariaJoltuwu
 
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...Kanaidi ken
 
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...teacher
 
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptx
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptxMATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptx
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptxwulandaritirsa
 
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWPOKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWKafe Buku Pak Aw
 
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosialpure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media SosialAdePutraTunggali
 
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..ppt
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..pptHIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..ppt
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..pptPermanaDewangga
 
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus Martosudiro
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus MartosudiroMartosudiro Dictionary-3252 | Kamus Martosudiro
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus MartosudiroProjectEngineer4
 
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...Kanaidi ken
 
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024Tata Naipospos
 
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media SosialB2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media SosialAdePutraTunggali
 
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdf
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdfEstetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdf
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdfHendroGunawan8
 
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story with Life Lessons (En...
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story  with Life Lessons (En...The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story  with Life Lessons (En...
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story with Life Lessons (En...OH TEIK BIN
 

Recently uploaded (20)

Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3
Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3
Penyusunan Paragraf Primakara Informatika IFPagi3
 
Sobat Lemonilo - Konsultasi Manajemen Web dan Media Sosial
Sobat Lemonilo  - Konsultasi Manajemen Web dan Media SosialSobat Lemonilo  - Konsultasi Manajemen Web dan Media Sosial
Sobat Lemonilo - Konsultasi Manajemen Web dan Media Sosial
 
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1
Eiger x Eiger Adventure Club - Konsultasi Tahap 1
 
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadi
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadiLAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadi
LAWYER PRENEURSHIP by patar mangimbur permahadi
 
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptx
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptxDaun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptx
Daun Majemuk dan Phillotaxis Daun Mortum.pptx
 
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa Azzuro
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa AzzuroKonsultasi - Nestle Indonesia_Najwa Azzuro
Konsultasi - Nestle Indonesia_Najwa Azzuro
 
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdf
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdfKonsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdf
Konsul - Chikita Fauzia ismardi_ 2210901013.pdf
 
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptx
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptxOverview ANLS - Come on 2023-Finals.pptx
Overview ANLS - Come on 2023-Finals.pptx
 
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...
Info ... Buku _"Effective INVENTORY and WAREHOUSING MANAGEMENT" & Bagaimana M...
 
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...
Aksi Nyata topik P5 SD Menentukan Tema, Topik, Dimensi, elemen dan sub-elemen...
 
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptx
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptxMATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptx
MATERI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA.KELOMPOK 5.pptx
 
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AWPOKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
POKOK BAHASAN DEMOKRASI MATAKULIA PKN - DJOKO AW
 
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosialpure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
pure beauty comunity-vilza- Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
 
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..ppt
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..pptHIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..ppt
HIKMAH PUASA Di Bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain..ppt
 
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus Martosudiro
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus MartosudiroMartosudiro Dictionary-3252 | Kamus Martosudiro
Martosudiro Dictionary-3252 | Kamus Martosudiro
 
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...
Ringkasan Isi & Pokok Bahasan_ Buku_ "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN da...
 
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024
Usulan Konsepsi SISKESWANNAS - Ditkeswan dan AIHSP - 15 Maret 2024
 
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media SosialB2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
B2W LAZAD - Konsultasi Manajemen Web dan media Sosial
 
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdf
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdfEstetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdf
Estetika Humanisme Ringkasan Pertemuan 1.pdf
 
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story with Life Lessons (En...
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story  with Life Lessons (En...The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story  with Life Lessons (En...
The Wolf, The Buffalo and The Shepherd ~ A Kids' Story with Life Lessons (En...
 

Daftar Isinya sebagai berikut:I. PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang 1.2 Permasalahan1.3. TujuanII. METODE PENELITIAN2.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian2.2. Lokasi Penelitian2.3. Populasi dan Sampel2.4. Instrumen Pengumpulan Data2.5. Teknik Pengumpulan Data2.6. Analisis DataIII. HASIL DAN PEMBAHASAN

  • 1. DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA 2019 DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA POTENSI DESA POTENSI DESA
  • 2.
  • 3. POTENSI DESA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA 2019 PUSAT PENELITIAN, DATA, DAN INFORMASI BADAN NARKOTIKA NASIONAL 2020
  • 4. Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 ISBN : 978-623-93034-6-4 POTENSI DESA DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA 2019 Copyright @2020 Tim Penyusun : Pengarah : Drs. Agus Irianto, S.H., M.Si, M.H. Penanggung Jawab : Dwi Sulistyorini, S.Si., M.Si Ketua Tim Penyusun : Sri Haryanti, S.Sos., M.Si. Anggota : Drs. Muhammad Dawam, M.P .A. Drs.Titut Yuli Prihyugiarto, M.Sc.PH. Mario Ekoriano, S.Si., M.Si. Mugia Bayu Rahardja, S.Si., M.Si. Desy Nuri Fajarningtyas, S.Si., MAPS Sukarno, S.Kom., MMSI. Siti Nurlela Marliani, S.P ., S.H., M.Si Sri Lestari, S.Kom., M.Si Erma Antasari, S.Si Novita Sari, S.Sos, M.H. Armita Eki Indahsari, S.Si Radityo Kunto Harimurti, S.Stat. Desain Cover : Tri Sugiharto, S.Kom Desain Isi : Indoyanu Muhamad Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Gambar Cover diunduh via https://nuswantara.id Penerbit : Pusat Penelitian, Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Jl. MT. Haryono No. 11 Cawang, Jakarta Timur Email : puslitdatin@bnn.go.id. Call Center : 184 SMS Center : 081221675675 Email : puslitdatin@bnn.go.id Website : www.bnn.go.id
  • 5. i Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya Riset Potensi Desa dalam Mendukung Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Tahun 2019 dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Riset ini merupakan kerja sama antara Pusat Penelitian, Data, dan Informasi BNN bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN sebagai sebuah wujud upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba bukan hanya menyerang masyarakat perkotaan tetapi juga menyasar pada masyarakat di lingkungan perdesaan. Untuk itu dalam upaya penanggulangan narkoba, BNN sebagai leading sector pelaksanaan P4GN memiliki peranan penting dalam mengkoordinasikan dan mensinergikan upaya kementerian/ lembaga dan instansi terkait lainnya. Tanpa sinergitas dari kementerian/ lembaga dan instansi terkait lainnya baik di tingkat pusat maupun daerah, upaya yang dilakukan tidak akan berjalan dengan maksimal. Mengingat ancaman besar dan tidak ada satupun daerah di Indonesia yang dapat dideklarasikan wilayahnya menjadi wilayah bebas narkoba, maka menjadi penting menggali potensi dan tantangan yang dimiliki setiap wilayah tidak terkecuali desa. Desa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah serta berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan Kata Sambutan i Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 6. ii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari definisi tersebut, desa merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk diberdayagunakan dalam Program P4GN. Melalui riset ini dihasilkan informasi tentang potensi dan tantangan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan Program P4GN di wilayah perdesaan. Akhirnya selaku Kepala BNN, kami ucapkan terima kasih kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dan seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan riset. Riset ini diharapkan dapat memberikan masukan membangun dan dapat menjadi alternatif pengambilan kebijakan dalam pelaksanaan P4GN khususnya program Desa Bersih Narkoba “Bersinar”. Sekian dan terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Jakarta, Februari 2020 Kepala Badan Narkotika Nasional Drs. Heru Winarko, S.H Kata Sambutan ii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 7. iii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat serta hidayah-Nya yang sangat besar hingga kami dapat menyelesaikan buku Potensi Desa dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba tepat pada waktunya. Buku ini disusun berdasarkan hasil riset “Potensi Desa dalam Mendukung Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun 2019” yang dilaksanakan atas kerja sama antara Pusat Penelitian, Data, danInformasiBadanNarkotikaNasionaldenganPusatPenelitianKeluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN. Dalam pelaksanaannya riset ini dilaksanakan oleh Peneliti BNN dibantu oleh para Peneliti BKKBN. Buku ini merupakan gambaran umum hasil riset yang bertujuan untuk menggali potensi desa dalam upaya P4GN di wilayah perdesaan. Riset tersebut melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, BNNP , BNNK, Kementerian/Lembaga, dinas terkait, informan, koordinator lapangan, dan enumerator di 5 (lima) Provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta dan Banten. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala BNN Drs. Heru Winarko, S.H. dan Sekretaris Utama BNN Drs. Adhi Prawoto, S.H. atas arahan dan bimbingannya selama menjalankan riset. Terima kasih tak lupa kami ucapkan kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN, Zahrofa Hermiwahyoeni, SH., M.Si. atas bantuan dan kerjasamanya dalam mendukung pelaksanaan seluruh tahapan riset. Tidak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada seluruh mitra lokal dan seluruh jajaran BNN Provinsi Banten, BNN Kabupaten Sleman, BNN Kabupaten Tulungagung, BNN Kabupaten Kuningan dan BNN Kabupaten Magelang atas kesediaannya menjadi lokasirisetsertamendukungkelancaranpelaksanaanpengumpulandata. Kami berharap buku ini dapat menjadi kontribusi positif dan bermanfaat bagi para pembacanya, khususnya sebagai alternatif dalam pengambilan keputusan dan penyempurnaan Program P4GN di wilayah perdesaan di Indonesia. Jakarta, Februari 2020 Tim Penyusun Kata Pengantar iii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 8. iv Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Upaya pemerintah Indonesia dalam melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sudah sangat keras, termasuk melalui penjatuhan sanksi, baik berupa hukuman maupun denda. Meskipun demikian dalam kenyataannya, jumlah pelaku penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika semakin meningkat. Hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2018 menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok pelajar/mahasiswa sebesar 3,21 persen atau setara dengan 2.297.492 pelajar/mahasiswa yang pernah menyalahgunakan narkoba, sedangkan prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok pekerja sebesar 2,1 persen atau setara dengan 1.514.037 orang yang pernah menyalahgunakan narkoba. Data hasil survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan narkoba tertinggi dijumpai pada remaja dengan kelompok umur 20-24 tahun sebesar 12 persen dan yang berdomisili di perdesaan sebesar 10 persen. Hal ini menunjukkan penyalahgunaan narkoba sudah semakin banyak dilakukan di wilayah perdesaan. Data Badan Pusat Statistik tentang Statistik Potensi Desa tahun 2018 mencatat pada tahun 2018 penyalahgunaan/ pengedaran narkoba terjadi di 12.579 wilayah dari 83.931 wilayah setingkat desa di seluruh Indonesia yang merupakan kejadian tindak kejahatan dengan jumlah tertinggi kedua selama setahun terakhir setelah tindak perjudian. Melihat kondisi tersebut, BNN sebagai vocal point dalam upaya PencegahandanPemberantasanPenyalahgunaandanPeredaranGelap Narkoba (P4GN) mulai menyentuh desa sebagai salah satu sasaran target program yang dijalankan. Sebagai upaya untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkoba di wilayah perdesaan, pada tahun 2019 BNN bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN untuk melaksanakan Riset Potensi Desa dalam Mendukung Program P4GN. Riset ini dilakukan untuk menemukan dan menggali potensi desa dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Subjek riset ini adalah ibu atau kepala keluarga yang berusia Prolog iv Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 9. v Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Prolog v 18 tahun ke atas yang mengetahui kondisi keluarga secara lengkap. Riset dilaksanakan di 5 (lima) provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Temuan penting yang diperoleh dari hasil riset ini meliputi potensi desa ditinjau dari berbagai aspek seperti gambaran permasalahan sosial, pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat terhadap masalah narkoba, konsistensi sistem kontrol keluarga terhadap anggota keluarga, dan upaya P4GN di lingkungan perdesaan. Hasil riset ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perumusan program/ kegiatan P4GN di masyarakat perdesaan, khususnya dalam hal Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) P4GN; pemanfaatan tenaga relawan P4GN; pendayagunaan agen pemulihan P4GN; serta pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam P4GN. Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 10. vi Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR PROLOG DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2 Permasalahan 1.3. Tujuan Penelitian 1.4. Manfaat Penelitian 1.5. Keterbatasan Penelitian II. PENGERTIAN DAN DEFINISI 2.1. Potensi Desa 2.2. Narkoba 2.3. Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) 2.4. Kawasan Rawan Narkoba III. METODE RISET 3.1. Rancangan Riset 3.2. Populasi dan Sampel 3.3. Kerangka Sampling dan Pemilihan Sampel 3.4. Pengumpulan Data 3.5. Lokasi Riset 3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN INFORMAN 4.1. Hasil Kunjungan 4.2. Karakteristik Anggota Keluarga 4.3. Karakteristik Responden V. POTENSI DESA DALAM MENDUKUNG PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI 5 PROVINSI Daftar Isi vi i iii iv vi viii ix 1 3 6 7 8 8 9 11 11 12 16 19 21 22 23 23 24 25 27 29 30 33 43 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 11. vii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Daftar Isi vii 5.1. Aspek Sumber Daya Manusia (Masyarakat, Aparatur Desa, Lembaga Sosial dan Institusi Masyarakat) 5.2. Aspek Sumber Daya Alam 5.3. Aspek Sumber Daya Ekonomi 5.4. Aspek Budaya/Tradisi 5.5. Ketersediaan Fasilitas Rehabilitasi Medis dan Sosial 5.6. Integrasi Sosial 5.7. Ketersediaan APBDes dan Corporate Social Responsibility (CSR) 5.8. Ketersediaan Regulasi Terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba 5.9. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 5.10. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Terhadap Masalah Narkoba 5.11. Sikap Terhadap Kejadian Penyalahgunaan Narkoba 5.12. Perilaku Terhadap Bahaya Narkoba 5.13. Konsistensi Sistem Kontrol Keluarga Terhadap Anggota Keluarga 5.14. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba VI. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA BARAT 6.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset 6.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa 6.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 6.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba 6.5. Upaya P4GN VII. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA TENGAH 7.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset 7.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa 7.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 7.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba 7.5. Upaya P4GN 46 50 53 55 58 60 62 64 67 72 81 84 91 96 107 109 110 120 126 128 137 139 144 150 152 153 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 12. viii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 VIII. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 8.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset 8.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa 8.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 8.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba 8.5. Upaya P4GN IX. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI JAWA TIMUR 9.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset 9.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa 9.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 9.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba 9.5. Upaya P4GN X. GAMBARAN UMUM POTENSI DESA DI PROVINSI BANTEN 10.1. Profil dan Karakteristik Lokasi Riset 10.2. Potensi Desa Tingkat Kabupaten dan Desa 10.3. Gambaran Umum Permasalahan Sosial 10.4. Reaksi Masyarakat Terhadap Penyalahgunaan Narkoba 10.5. Upaya P4GN XI. PENUTUP 11.1. Kesimpulan 11.2. Rekomendasi GLOSARY DAFTAR NAMA PENELITI LAMPIRAN EPILOG DAFTAR PUSTAKA viii 157 159 160 167 169 170 175 177 180 187 189 195 199 201 204 207 207 208 211 213 215 218 220 222 231 232 Daftar Isi Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 13. ix Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 ix Tabel 3.1 Lokasi Riset dan Status Desa Tabel 4.1 Distribusi Sampel Hasil Kunjungan per Provinsi Tabel 4.2 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Kelompok Umur (n = 3.559) Tabel 4.3 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Jenis Kelamin (n = 3.559) Tabel 4.4 Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n = 3.559) Tabel 4.5 Distribusi Persentase Kelompok Umur Berdasarkan Provinsi (n = 1.036) Tabel 4.6 Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden (n = 1.036) Tabel 4.7 Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden Berdasarkan Kelompok Umur (n = 1.036) Tabel 4.8 Distribusi Persentase Tingkat Pendidikan Responden (n=1.036) Tabel 4.9 Distribusi Persentase Rata-Rata Pengeluaran Keluarga (n=1.036) Tabel 4.10 Distribusi Persentase Jenis Keterampilan Responden (n=349) Tabel 4.11 DistribusiPersentaseJenisPekerjaanResponden(n=1.036) Tabel 4.12 Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Tempat Tinggal (n=1.036) Tabel 4.13 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (n=1.036) Tabel 4.14 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Aktivitas Sosial (n=1.036) Tabel 4.15 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal (n=1.036) Tabel 5.1 Ketersediaan Fasilitas Medis dan Sosial sebagai Tempat Rehabilitasi Tabel 5.2 Distribusi Jumlah dan Persentase Ketersediaan Peraturan Khusus yang Mengatur Perilaku Masyarakat (n=1.036) Tabel 5.3 Distribusi Persentase Ketersediaan Peraturan tentang Larangan Penggunaan Narkoba Tabel 5.4 Distribusi Jumlah dan Persentase Permasalahan Sosial Berdasarkan Klasifikasi Desa (n=1.036) Tabel 5.5 Distribusi Jumlah dan Persentase Ketersediaan Peraturan Khusus yang Mengatur Perilaku Masyarakat (n=1.036) 25 30 31 32 33 34 34 35 36 37 37 39 40 41 41 42 58 64 65 69 70 Daftar Tabel Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 14. x Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Daftar Tabel Tabel 5.6 Distribusi Persentase Keterpaparan Program P4GN (n=1.036) Tabel 5.7 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat di Desa TRN terkait Informasi Bahaya Narkoba (n=521) Tabel 5.8 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat di Desa RN terkait Informasi Bahaya Narkoba (n=515) Tabel 5.9 Distribusi Persentase Sumber Informasi yang Diakses oleh Masyarakat di Desa TRN (n=521) Tabel 5.10 Distribusi Persentase Sumber Informasi yang Diakses oleh Masyarakat di Desa RN (n=515) Tabel 5.11 Distribusi Persentase Lokasi yang Dianggap Rawan Narkoba (n=1.036) Tabel 5.12 Distribusi Persentase Masyarakat yang Mengetahui Tempat Rehabilitasi (n= 35) Tabel 5.13 Distribusi Persentase Jenis Tumbuhan yang Memiliki Efek yang Sama dengan Narkoba (n=1.036) Tabel 5.14 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap terhadap Kejadian Penyalahgunaan Narkoba (n=1.036) Tabel 5.15 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap Responden terhadap Individu yang Melakukan Penyalahgunaan Narkoba (n=1.036) Tabel 5.16 Distribusi Persentase Responden Menurut Tindakan Jika Terdapat Masalah Narkoba di Lingkungan Tempat Tinggal (n=1.036) Tabel 5.17 Distribusi Jumlah dan Persentase Temuan Anggota Masyarakat yang Menjadi Pengedar Narkoba (n=1.036) Tabel 5.18 Distribusi Jumlah dan Persentase Sikap Masyarakat terhadap Pelaku Peredaran Narkoba (n=1.036) Tabel 5.19 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap Pengedar Narkoba (n=1.036) Tabel 5.20 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap Penyalahguna/ Pecandu Narkoba (n=1.036) Tabel 5.21 Distribusi Persentase Sikap Responden terhadap Mantan Penyalahguna Narkoba (n=1.036) Tabel 5.22 Distribusi Persentase Sikap Pelaku Usaha terhadap Mantan Penyalahguna Narkoba (n=1.036) Tabel 5.23 Distribusi Persentase Petugas yang akan Dihubungi Bila Terjadi Penyalahgunaan Narkoba (n=1.036) 74 75 76 76 77 78 80 81 81 82 83 83 84 87 88 89 89 90 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 x
  • 15. xi Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Daftar Tabel Tabel 5.24 Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Komunikasi Ketika Menghadapi Masalah (n=1.036) Tabel 5.25 Distribusi Persentase Rekan Bercerita Saat Menghadapi Masalah (n=864) Tabel 5.26 Distribusi Persentase Intensitas Interaksi Sosial dalam Keluarga (n=1.036) Tabel 5.27 Distribusi Persentase Tingkat Interaksi dalam Keluarga Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n=1.036) Tabel 6.1 Ketersediaan Fasilitas Medis dan Sosial sebagai Tempat Rehabilitasi di Jawa Barat (n=201) Tabel 6.2 Data Kasus Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun 2017 s.d 2019 Tabel 7.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Magelang berdasarkan Jenis Kelamin dan Rasio Ketergantungan, BPS 2019 Tabel 7.2 Angka Kesakitan Penduduk Kabupaten Magelang, Provinsi dan Nasional Tahun 2017 Tabel 7.3 Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Magelang, 2015 Tabel 7.4 Statistik Potensi Desa Kecamatan Mertoyudan, 2018 Tabel 7.5 Distribusi Jumlah dan Persentase Permasalahan Sosial di Desa (n=200) Tabel 7.6 Distribusi Jumlah dan Persentase Pengalaman Responden Melihat/ Mendengar Informasi Bahaya Narkoba (n=200) Tabel 8.1 Distribusi Persentase Tempat Pengaduan Masyarakat Ketika Terjadi Penyalahgunaan Narkoba di Provinsi D.I. Yogyakarta (n=220) Tabel 9.1 Distribusi Persentase Pengetahuan Masyarakat tentang Informasi Bahaya Narkoba (n=224) Tabel 9.2 Distribusi Persentase Riwayat Penyalahgunaan Narkoba Berdasarkan Status Desa dan Jenis Kelamin (n=224) Tabel 9.3 Distribusi Persentase Sikap Masyarakat terhadap Pemakai Narkoba Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n=224) 92 93 94 95 115 122 140 140 141 142 151 154 168 189 190 192 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 xi
  • 16. xii Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 xii Gambar 5.1. Tingkat Pendidikan Responden Gambar 5.2. Presentase Tingkat Pendidikan Responden Berdasarkan Desa dan Kabupaten Gambar 5.3. Persentase Jumlah Anggota Keluarga Berstatus Sekolah Menurut Umur Responden Gambar 5.4. Persentase Pekerjaan Responden Menurut Hubungan Keluarga Gambar 5.5 Persentase Tradisi/ Budaya di Desa Menurut Responden Gambar 5.6 Persentase Pernyataan Responden tentang Menyajikan Minuman Beralkohol pada Pesta Desa Gambar 5.7. Interaksi Kegiatan Bersama yang Dilakukan Keluarga di Desa Gambar 5.8. Keberadaan Aturan tentang Perilaku dan Larangan Narkoba Gambar 5.9. Keterpaparan Masyarakat tentang Informasi Bahaya Narkoba Gambar 5.10. Persentase Responden yang Mengetahui Masyarakat Mengikuti Rehabilitasi Gambar 5.11. Persentase Frekuensi Komunikasi dalam Keluarga Gambar 5.12. Persentase Frekuensi Makan Bersama dalam Keluarga Gambar 5.13. Isi /Konten Bahaya Narkoba Berdasarkan Pengakuan Responden Gambar 5.14. Persentase Kegiatan Pencegahan Narkoba yang Pernah Diikuti Gambar 6.1. Permasalahan Sosial di Kabupaten Kuningan Gambar 7.1. Peta Administrasi Kabupaten Magelang Gambar 7.2. Persentase Tradisi/ Budaya di Desa Gambar 9.1. Peta Kabupaten Tulungagung Gambar 10.1 Peta Kabupaten Serang 46 47 48 53 56 56 61 66 73 79 86 86 98 101 121 139 148 177 202 Daftar Gambar Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 17. Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Wayang Orang (Wong) PENDAHULUAN I
  • 18. 2 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 19. 3 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 PENDAHULUAN   1.1. LATAR BELAKANG Upaya pemerintah Indonesia dalam melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sudah sangat keras, salah satu upaya hukum yang dilakukan adalah melalui penjatuhan sanksi dan hukuman berat. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika disebutkan bahwa setiap orang yang tanpa hak atau menyalahi hukum dalampenyalahgunaandanperedarannarkobaakanmendapatkansanksi berupa pidana denda, pidana penjara sampai pidana mati. Namun, dalam kenyataannyatindakpidanaNarkotikadidalammasyarakatmenunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan generasi muda pada umumnya. Data pengungkapan kasus tindak pidana narkoba tahun 2018 menunjukkan sebanyak 40.553 kasus yang melibatkan 53.251 tersangka. Barang bukti yang disita antara lain ganja sebanyak 41,3 ton; shabu sebanyak 8,2 ton; dan ekstasi sebanyak 1,55 juta butir (Puslitdatin, 2018). Hasil penelitian Badan Narkortika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok pelajar/ mahasiswa sebesar 3,21 persen atau setara dengan 2.297.492 pelajar/ mahasiswa pernah menyalahgunakan narkoba, sedangkan prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok pekerja sebesar 2,1 persen atau 1.514.037 I
  • 20. 4 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 orang pernah menyalahgunakan narkoba (Puslitdatin, 2019). Nampaknya penyalahgunanarkobajenisbaruatauNPS(NewPsychoactiveSubstance) setiap tahun terus bertambah, data dari berbagai negara menunjukkan terdapat 803 jenis NPS di dunia. Beberapa pengungkapan kasus narkoba di wilayah perdesaan dilaporkan oleh BNN, antara lain: kasus 1,7 ton ganja senilai 6 milyar rupiah di Desa Nyangkoek Kabupaten Sukabumi pada Tahun 2009; kasus penyelundupan 1 ton sabu dari Hotel Mandalika, Desa Anyer, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten; dan kasus penyelundupan 2 ton ganja kering asal Aceh dengan menggunakan truk kontainer di Jalan Lintas Timur Sumatera KM 28 Desa Simpang Beringin Kecamatan Seikijang Kabupaten Palelawan Riau yang akan dibawa masuk Jakarta. Pengungkapan ketiga kasus tersebut turut memperlihatkan fenomena bahwa desa sudah menjadi tempat peredaran narkoba. Hasil Survei BKKBN Tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan narkoba tertinggi dijumpai pada remaja yang berusia 20-24 tahun sebanyak 12 persen dan yang berdomisili di perdesaan sebanyak 10 persen (BKKBN, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba sudah semakin banyak dilakukan di wilayah perdesaan. Data BadanPusatStatistiktentangStatistikPotensiDesaTahun2018mencatat bahwa pada tahun 2018 penyalahgunaan dan pengedaran narkoba terjadi di 12.579 wilayah dari 83.931 wilayah setingkat desa di seluruh Indonesia. Angka kejadian penyalahgunaan dan peredaran narkoba ini merupakan kejadian tindak kejahatan yang memiliki jumlah tertinggi kedua selama setahun terakhir setelah tindak perjudian (BPS, 2018: 146-147). Penyalahgunaan narkoba tidak terlepas dari peran orang tua dalam keluarga. Dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga disebutkan bahwa keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Margaret Mead dalam Herien Puspitasari, 2018, keluarga adalah dasar dari masyarakat yang berfungsi mengantarkan sejarah kebudayaan, menanamkansistemnilaiyangdianut,danmelaksanakansosialisasipada
  • 21. 5 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 generasi penerus untuk menjadi manusia dan warga masyarakat yang efektif dan produktif. Menurut Vosier (1996), Gelles (1995), menyatakan bahwa keluarga adalah unit sosial ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi inter personal hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi. Menurut Bronfenbrenner (1979), keluarga adalah konteks utama dalam sistem mikro tempat pembangunan terjadi. Hubungan antara keluarga dengan pengaturan lain dalam pembangunan, seperti sekolah merupakan meso sistem. Lingkungan ekternal tempat orang lain saling berpartisipasi dan dapat memengaruhi anak maka disebut ekso sistem. Mikro, meso, dan ekso sistem tertanam dalam sistem makro, norma nilai ideologis luas dan pola kelembagaan dari budaya tertentu dan membentuk cetak biru. Oleh karena itu untuk interaksi individu anggota keluarga dengan lingkungan luar, seperti sekolah, masyarakat, institusi/ lembaga di desa, akan mempengaruhi perilaku anggota keluarga dan keluarga dalam penyalahgunaan narkoba. Keprihatinan ini menjadi latar belakang perlunya upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba tidak hanya di perkotaan tetapi juga di wilayah perdesaan, dan sudah saatnya untuk menjaga ketahanan desa dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Melihat kondisi tersebut, BNN sebagai vocal point dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) menjadikan desa menjadi bagian dari sasaran target program yang dijalankanBNN.Olehkarenaituinformasiyangterkaitpotensidesasangat diperlukan. Potensi dimaksud adalah potensi sosial komunitas desa dan potensi dalam semua aspek kesehatan, hukum, politik, keamanan, dan beberapa aspek lainnya secara sinergis dan terkoordinasi. Menurut Direktorat Advokasi BNN tahun 2018 berdasarkan pengaturannya, Kepala Desa berkewajiban untuk melakukan pembinaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa sekaligus juga memberdayakan masyarakat desa termasuk dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Desa, menurut persepsi masyarakat awam merupakan wilayah pelosok, terisolir, minim dari infrastruktur pembangunan sarana jalan, susah ditempuh kendaraan
  • 22. 6 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 umum, diwarnai dengan mata pencaharian pertanian, perkebunan, pendidikan masyarakat relatif rendah dan jauh dari fasilitas modernisasi serta pelayanan fasilitas umum. Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor6Tahun2014tentangDesa,menjelaskanbahwaDesaadalahdesa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa secara hukum memiliki kewenangan berdasarkan hak asal usul meliputi sistem organisasi masyarakat adat, pembinaan kelembagaan masyarakat, pembinaan lembaga dan hukum adat, pengelolaan tanah kas desa, dan pengembangan peran masyarakat desa. Seiring dengan pembangunan dan modernisiasi, desa yang memiliki potensi interaksi sosial dan kohesi yang sangat kuat, dalam perkembangan mengalami perubahan baik sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusianya, dimana sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan dan perkembangan baik potensi fisik maupun non fisik. Sejalan dengan dinamika pembangunan desa, ancaman narkoba sudah menyerang wilayah perdesaan. Hal yang memprihatinkan tidak hanya pemanfaatan lahan desa untuk lokasi produksi narkoba, tetapi lebih dari itu sindikat narkoba mampu mengendalikan aparat desa untuk membantu peredaran narkoba. 1.2. PERMASALAHAN Narkoba merupakan masalah kompleks dan berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat. Upaya penanggulangan narkoba telah dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, namun jumlah kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba terus meningkat bahkan telah merambah ke wilayah perdesaan. Tingginya angka kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di wilayah perdesaan mengindikasikan belum optimalnya perangkat desa dalam melakukan
  • 23. 7 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 pembinaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa, serta memberdayakan masyarakat desa dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Demikian juga kasus remaja dan anggota keluarga yang terpapar penyalahgunaan narkoba terus meningkat. Hal ini menunjukkan adanya kerawanan sosial dalam keluarga dan kurangnya interaksi antara anggota keluarga. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan dan fasilitas sosial di desa turut menambah tingginya angka penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di perdesaan. Peningkatan angka kejadian penyalahgunaan dan peredaran narkoba di desa dapat dikaitkan dengan kurangnya atau rusaknya keterikatan masyakarat dan komunitas di perdesaan. Sehubungan dengan hal tersebut, riset ini berupaya menggali dan mengumpulkan data dan informasi tentang: • Apa saja potensi desa yang dapat digunakan untuk mendukung pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba? • Apakah sudah ada inisiatif, dukungan dan pemanfaatan program/ kegiatan dan dana desa dalam mendukung kegiatan pencegahan danpemberantasanpenyalahgunaandanperedarangelapnarkoba? • Bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga, perangkat dan institusi masyarakat desa terhadap masalah narkoba? • Bagaimana kondisi bahaya narkoba dan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba? • Bagaimana hubungan komunikasi keluarga dalam penyalahgunaan narkoba? 1.3. TUJUAN PENELITIAN 1.3.1. Tujuan Umum Secara umum riset ini dilakukan untuk menggali potensi desa dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
  • 24. 8 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 1.3.2. Tujuan Khusus Riset Potensi Desa dalam Mendukung Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun 2019 mempunyai tujuan khusus yaitu: • Mengidentifikasi potensi desa yang meliputi aspek sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), sumber daya ekonomi (SDE), budaya, fasiltas medis dan sosial, integrasi sosial, APB Desa, dan institusi masyarakat perdesaan dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba; • Mengidentifikasi inisiatif, dukungan dan pemanfaatan program/ kegiatan dan dana desa dalam mendukung kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba; • Mengidentifikasipengetahuan,sikapdanperilakukeluarga,perangkat desa dan institusi masyarakat desa terhadap masalah narkoba; • Mengidentifikasi masalah narkoba dan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba; dan • Mengidentifikasi hubungan komunikasi keluarga dalam penyalahgunaan narkoba. 1.4. MANFAAT PENELITIAN Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para pengambil kebijakan untuk menyusun dan menetapkan program dan kegiatan yang terkait dengan : • Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) P4GN; • Pemanfaatan tenaga relawan P4GN; • Pendayagunaan agen pemulihan P4GN; dan • Pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam P4GN. 1.5. KETERBATASAN PENELITIAN Sehubungan dengan pendekatan penelitian, metode pemilihan lokasi riset dan pemilihan sampel yang digunakan pada riset ini terdapat beberapa keterbatasan di antaranya adalah hasil riset tidak digunakan untuk melakukan generalisasi keadaan wilayah tetapi hanya untuk melihat fenomena keunikan kejadian di masing-masing lokasi riset, dan disamping itu riset ini tidak digunakan untuk mengevaluasi program/ kegiatan P4GN.
  • 25. 9 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Wayang Cepak Cirebon PENGERTIAN & DEFINISI II
  • 26. 10 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 27. 11 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 PENGERTIAN DAN DEFINISI 2.1. POTENSI DESA Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengaturdanmengurusurusanpemerintahan,kepentinganmasyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan pada Pasal 8 butir (3) huruf e dijelaskan bahwa dalam pembentukan desa harus memenuhi beberapa kriteria, salah satunya adalah memiliki potensi yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya ekonomi pendukung. Mengacu pada definisi tersebut maka dalam riset ini yang dimaksud dengan potensi desa merupakan segala SDM, SDA maupun SDE yang terdapat serta tersimpan di desa yang dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan dan perkembangan desa. 2.2 NARKOBA Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif Lainnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, II
  • 28. 12 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan- golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang. Pengertian Psikotropika berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dan bahan adiktif adalah bahan/ zat yang berpengaruh psikoaktif di luar narkotika dan psikotropika dan dapat menyebabkan kecanduan. Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. PeredarangelapnarkotikadanprekursornarkotikamenurutUndang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 pasal 1 adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika . 2.3 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN) Pencegahan adalah upaya untuk membantu individu menghindari memulaiataumencobamenyalahgunakannarkoba,denganmenjalanicara dan gaya hidup sehat, serta mengubah kondisi kehidupan yang membuat individu mudah terjangkit penyalahgunaan narkoba. Pencegahan berupa suatu proses membangun yang disusun untuk meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial seseorang sampai pada potensi maksimal, sambil menghambat atau mengurangi kerugian yang mungkin timbul akibat penyalahgunaan narkoba, baik yang alamiah maupun buatan (sintesis). Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian obat dan zat yang berbahaya lainnya dengan maksud bukan untuk tujuan pengobatan atau penelitian, serta digunakan tanpa mengikuti aturan dosis yang benar.
  • 29. 13 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Penyalahgunaan narkoba adalah pemakaian narkoba di luar indikasi medik,tanpapetunjuk/resepdokter,secarateraturatauberkalasekurang- kurangnya satu bulan. Penggunaan narkoba terus menerus dan berlanjut akan mengakibatkan ketergantungan (dependensi) dan kecanduan (adiksi). Pencegahan penyalahgunaan narkoba merupakan bagian penting darikeseluruhanupayapenanggulangannarkoba,olehkarena“mencegah lebihbaikdaripadamengobati”,dalamartibahwaupayapencegahanlebih murahdanlebihhematbiayadaripadaupayalainnya(DirektoratAdvokasi Deputi Bidang Pencegahan BNN RI, Panduan Umum Pencegahan 2015). Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) adalah upaya sistematis berdasarkan data penyalahgunaannarkobayangtepatdanakurat,perencanaanyangefektif dan efisien dalam rangka mencegah, melindungi dan menyelamatkan warga negara dari ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan Peraturan Badan Narkotika Nasional Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Organisasi dan Tata kerja BNN, dalam upaya penanggulangan masalah bahaya narkoba di Indonesia, sesuai dengan tugas dan wewenangnya BNN melaksanakan Program P4GN dengan perincian sebagai berikut: 2.3.1. Pencegahan Tugas dan fungsi pencegahan adalah : a. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan teknis P4GN di bidang pencegahan; b. Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur P4GN di bidang pencegahan; c. Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat dalam pelaksanaan P4GN di bidang pencegahan; d. Pembinaan teknis P4GN di bidang pencegahan kepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan e. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional P4GN di bidang pencegahan.
  • 30. 14 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 2.3.2. Pemberdayaan Masyarakat Tugas dan fungsinya pemberdayaan masyarakat adalah : a. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan teknis P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat; b. Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat; c. Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat di bidang pemberdayaan masyarakat; d. Pelaksanaan fasilitasi dan pengkoordinasian wadah peran serta masyarakat; e. Pelaksanaan pemantauan, pengarahan, dan peningkatan kegiatan masyarakat di bidang P4GN; f. PembinaanteknisP4GNdibidangpemberdayaanmasyarakatkepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan g. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional P4GN di bidang pemberdayaan masyarakat. 2.3.3. Pemberantasan Tugas dan fungsi pemberantasan adalah : a. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan teknis P4GN di bidang pemberantasan; b. Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur kegiatan intelijen, penyelidikan dan penyidikan, interdiksi, penindakan dan pengejaran, pengawasan tahanan, penyimpanan, pengawasan dan pemusnahan barang bukti serta penyitaan aset; c. Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi pemerintah terkait dalam pemberantasan dan pemutusan jaringan kejahatan terorganisasi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol; d. Pelaksanaan administrasi penyelidikan dan penyidikan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan prekursor serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol; e. Pelaksanaan pemutusan jaringan kejahatan terorganisasi di bidang
  • 31. 15 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 narkotika, psikotropika, dan prekursor serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol; f. Pembinaan teknis kegiatan intelijen, penyelidikan dan penyidikan, interdiksi, penindakan dan pengejaran, pengawasan tahanan, penyimpanan, pengawasan dan pemusnahan barang bukti serta penyitaan aset kepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan g. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional P4GN di bidang pemberantasan. 2.3.4. Rehabilitasi Tugas dan fungsi rehabilitasi adalah : a. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakan teknis P4GN di bidang rehabilitasi; b. Penyusunan dan perumusan norma, standar, kriteria, dan prosedur di bidang rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke dalam masyarakat serta perawatan lanjutan penyalahguna dan/ atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol; c. Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dengan instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat dalam pelaksanaan P4GN di bidang rehabilitasi; d. Pelaksanaan rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke dalam masyarakat serta perawatan lanjutan bagi penyalahguna dan/ atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol; e. Pelaksanaan peningkatan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan/ atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol, yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat; f. Pembinaan teknis rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke dalam masyarakat serta perawatan lanjutan bagi penyalahguna dan/atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan adiktif untuk
  • 32. 16 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 tembakau dan alkohol, kepada instansi vertikal di lingkungan BNN; dan g. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan nasional P4GN di bidang rehabilitasi. 2.4. KAWASAN RAWAN NARKOBA Kawasan rawan narkoba adalah wilayah yang diidentifikasi dari masyarakat dengan adanya budaya madat narkoba, pasar narkoba, bukti terjadiperedarannarkobadarihasiloperasiaparatpenegakhukumseperti: tempat kejadian perkara (TKP) atau lokus, modus dan jalur edar narkoba dan tindak kejahatan narkoba di kawasan tersebut, baik di perkotaan, perdesaan, jalur sungai, pesisir dan kawasan perbatasan (BNN, 2016: 17). Kawasan rawan narkoba memiliki kriteria, sebagai berikut: a. Adanya kasus narkoba; b. Adanya tersangka; c. Adanya barang bukti; dan d. Kedekatan dengan potensi lokasi rawan peredaran gelap narkoba (bandara, pelabuhan, dan terminal) maupun lokasi berkumpulnya penyalahguna (tahanan, lapas, tempat rehabilitasi, dll) Kawasan rawan narkoba di perdesaan adalah kawasan di perdesaan atau di pinggiran hutan dan wilayah pegunungan yang patut diduga sebagai lokasi rawan kultivasi ganja, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba atau pernah menjadi TKP kasus narkoba. Kerawanan narkoba dibagi menjadi 3 indikator, sebagai berikut: a. Kerawanan asal narkoba yang meliputi kerawanan di perdesaan dalamkultivasiganja,dipesisirdanperbatasandalampenyelundupan narkoba dan kawasan transisi (antara perdesaan dan perkotaan) dalam produksi ATS; b. Kerawanan peredaran gelap narkoba yang meliputi kawasan antara asal narkoba hingga pangsa pasar narkoba. Pada kerawanan kawasaniniyangberpotensiterjadinyapengantaran,transit,transaksi, penimbunan, pengiriman dan penyelundupan narkoba, seperti: bandara udara, pelabuhan laut, jalur sungai, terminal penumpang, pergudangan, bongkar muat barang dan pintu dan tapal batas negara. Di tempat tersebut terkonsentrasi pecandu, pengedar, barang bukti narkotika yang siap diedarkan, diantarkan, dikirim, ditimbun, dan
  • 33. 17 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 dikemas. Salah satunya adalah kampung narkotika di perkotaan. c. Kerawanan penyalahgunaan narkoba meliputi kawasan yang digunakan pecandu narkoba untuk berdomisili. Pada kawasan ini berpotensi terjadinya produksi, transaksi, pasar narkoba dan penyalahgunaan, seperti: warung narkoba di kampung narkoba, tempat hiburan malam, kawasan yang berlokasi di sekitar tempat tinggalnya para pecandu, seperti: tempat rehabilitasi, kampung di sekitar hiburan malam, rutan dan lapas. Pada kawasan tersebut terkonsentrasi orang-orang yang terpapar narkoba dan memicu terjadinya sediaan dan permintaan narkoba. (BNN, 2016: 41) Beberapa faktor penyebab kerawanan narkoba di lingkungan perdesaan adalah: • Gagal panen; • Tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi; • Sulitnya aparat hukum mengakses lokasi-lokasi kultivasi dan pabrik shabu; • Rendahnya pemahaman masyarakat tentang bahaya narkoba; • Kurang pengawasan aktifitas orang asing di perdesaan; • Kurang optimalnya sistem keamanan di perdesaan; dan • Budaya masyarakat desa yang tertutup pada perubahan. Modus operandi munculnya kawasan rawan narkoba di perdesaan, antara lain: • Menawarkan jasa menanam ganja saja; • Mengepul ganja yang ditanam di luar wilayah perdesaan dan sekitar lokasi kultivasi ganja; • Memanfaatkan rendahnya pendapatan masyarakat; • Adanya kegagalan petani dalam usaha taninya; • Memanfaatkan pengangguran dan angka putus sekolah di desa; • Memanfaatkan wanita-wanita desa yang menjadi TKI untuk dijadikan kurir narkoba ke negara lain; dan • Membeli usaha industri untuk mengelabuhi pendirian pabrik Sabu (BNN, 2016: Hal 46-47). Mengacu pada beberapa definisi konseptual yang telah dijabarkan di atas, dapat ditarik gambaran bahwa terdapat dua macam potensi desa yaitu potensi fisik dan non fisik. Potensi non fisik ini merupakan
  • 34. 18 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 potensi yang dimiliki desa dan lebih bersifat sosial. Untuk itu, dalam riset ini dibentuk sebuah kerangka pemikiran tentang potensi desa dalam mendukung Program P4GN seperti ilustrasi pada Gambar 2.1 berikut ini: Gambar 2.1. Kerangka Pikir Potensi Desa dalam P4GN Potensi desa dalam mendukung Program P4GN erat kaitannya dengan peran dan kapabilitas desa dalam menjalankan upaya melindungi masyarakatnya dari bahaya narkoba. Potensi desa dalam mendukung Program P4GN pada riset ini mencakup : a. Lembaga Swadaya Masyarakat/ Organisasi Masyarakat (LSM/ OM); b. Sumber Daya Masyarakat (SDM) (termasuk aparatur desa); c. SDA; d. Sumber Daya Ekonomi; e. APB Desa; f. Fasilitas Medis dan Sosial; g. Budaya (culture); dan h. Integritas Sosial. POTENSI DESA FISIK (SDA,SDM,SDE) NON FISIK (APARAT,LSM, MASYARAKAT) 1. KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI 2. PEMANFAATAN TENAGA RELAWAN 3. PENDAYAGUNAAN AGEN PEMULIHAN 4. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERDESAAN P4GN
  • 35. 19 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Wayang Gambuh/Balih-Balihan, Bali METODE RISET III
  • 36. 20 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 37. 21 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 METODE RISET 3.1 RANCANGAN RISET Riset potensi desa ini dirancang untuk mendapatkan data dan informasi tentang karakteristik masyarakat, perangkat desa, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, masyarakat, budaya, sumber perekonomian desa, dan potensi lainnya yang terkait dengan narkoba. Data dan informasi ini diharapkan dapat digunakan bahan dan masukan untuk mendukung pelaksanaan Program P4GN. Wilayah pengumpulan data dari riset ini tidak dirancang untuk representatif nasional maupun provinsi, karena pemilihan provinsi dilakukan secara purposif berdasarkan atas tingkat kerawanan wilayah. Riset ini merupakan penelitian deskriptif, metode pengumpulan datanya mix-method menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) dan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) para informan. Wawancara dan FGD disertai dengan panduan, sedangkan pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakanserangkaianpertanyaantertutup,instrumenwawancara tidak menggunakan kertas (paperless) tetapi menggunakan teknologi smart phone. III
  • 38. 22 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 3.2. POPULASI DAN SAMPEL Populasi dari riset ini adalah keluarga dari rumah tangga yang berada di desa rawan narkoba dan desa tidak rawan narkoba di wilayah desa terpilih di 5 (lima) kabupaten terpilih yaitu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Sleman Provinsi D.I.Yogyakarta, Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Serang Provinsi Banten. Desa rawan narkoba yaitu desa yang dikategorikan sebagai desa sudah terpapar narkoba dan desa tidak rawan narkoba yaitu desa yang dikategorikan sebagai desa belum terpapar narkoba. Pemilihan kabupaten dilakukan secara purposif berdasarkan peringkat kerawanan tertinggi menurut pemetaan kawasan rawan narkoba oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN. Di samping populasi keluarga, sasaran lain yang menjadi populasi riset ini adalah perangkat desa, tokoh agama/ tokoh masyarakat, institusi masyarakat/ lembaga swadaya masyarakat, dan aparat keamanan dari desa terpilih. Jumlah sampel keluarga yang menjadi sasaran pengumpulan data kuantitatif adalah sebesar 1.000 keluarga dan anggota keluarga, masing-masing kabupaten 200 keluarga. Responden dalam riset ini adalah keluarga yaitu istri (apabila keluarga hanya pasangan suami- istri) atau suami yang istrinya pergi melebihi periode riset atau janda/ duda yang memiliki anak. Responden juga mencakup keluarga lain yang tinggal dalam satu rumah yang sama dengan keluarga kepala rumah tangga. Responden merupakan sumber informasi yang digunakan untuk melengkapi data dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel informan untuk keperluan wawancara mendalam (indepth interview) diperlukan 12 informan antara lain: Kepala BNN/ seksi di BNN Kabupaten, kepala/pelaksana Dinas PPKB dan PPPA kabupaten, kepala/pelaksana Dinas Kesehatan, kepala/pelaksana Dinas Sosial kabupaten, Kepala Kepolisian Resor, kepala/pelaksana Puskesmas kecamatan/desa, dan relawan anti narkoba. Kegiatan FGD dibagi menjadi 2 yaitu FGD perangkat desa sebanyak 7 orang diantaranya adalah perwakilan perangkat desa/Kaur Kesra, Babinsa/ Babinkamtibmas, tokoh masyarakat (Ketua RT/RW), tokoh agama,
  • 39. 23 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 LSM/OMyangberkaitandenganmasalahnarkoba,PKKdanperwakilan Karang Taruna/Organisasi Pemuda; dan FGD keluarga yang terdiri dari 6 orang perwakilan keluarga terpapar atau keluarga tidak terpapar narkoba. Informan tersebut merupakan sumber informasi yang digunakan untuk melengkapi data dengan pendekatan kualitatif. 3.3. KERANGKA SAMPLING DAN PEMILIHAN SAMPEL Kerangka sampel yang digunakan dalam Riset Potensi Desa dalam Mendukung Program P4GN Tahun 2019 terdiri dari 3 tahap, yaitu: a. Kerangka sampel tahap pertama adalah daftar Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) yang ada di desa terpilih (5 desa tidak rawan narkoba dan 5 desa rawan narkoba) disertai dengan estimasi jumlah keluarga di masing-masing RT. b. Kerangka sampel tahap kedua adalah daftar rumah tangga dari semua RT yang terpilih di desa terpilih. c. Kerangka sampel tahap ketiga adalah daftar keluarga yang memenuhi (eligible) hasil listing yang ada di semua rumah tangga terpilih. Penarikan sampel dilakukan dengan stratified random sampling, memilih beberapa RT sesuai Probability Proportionate to Size (PPS) di masing-masing desa terpilih. Kemudian, koordinator lapangan memilih 100 rumah tangga secara Systematic Random Sampling (SRS) dari daftar rumah tangga hasil listing untuk diwawancara. Seluruh 100 rumah tangga terpilih melalui SRS selanjutnya dapat diunduh oleh pewawancara melalui aplikasi Open Data Kit (ODK) Collect. Ketiga, pemilihan responden eligible berusia antara 18 s.d 64 tahun yang mengetahui kondisi keluarga. 3.4 PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data dilakukan pada bulan September sampai dengan Oktober 2019, sebelum proses pengumpulan data para petugas wawancara dan koordinator lapangan diberi pelatihan dan pembekalan tentang tujuan riset dan pedoman serta instrumen
  • 40. 24 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 riset, termasuk penggunaan sistem ODK dengan smartphone. Selain diberikan materi substansi instrumen penelitian juga diberikan pembekalan etika dan teknik wawancara. Pengumpulan data kuantitatif dimulai dengan kegiatan listing dan pemilihan sampel. Proses wawancara oleh enumerator dimonitor oleh koordinator lapangan dan peneliti melalui kegiatan reinterview dan disupervisi oleh perwakilan tim BNN dan BKKBN. Wawancara dilakukan menggunakan smartphone dengan daftar pertanyaan dirancang menggunakan program ODK. Penggunaan survei dengan teknologi smartphone mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pemakaian metode konvensional. Kelebihannya antara lain: • Data lebih berkualitas karena dapat dimonitor saat enumerator mengumpulkan data dan lama wawancara. Perekaman data lebih akurat karena didukung dengan perekaman posisi lokasi tempat tinggal responden melalui Global Positioning System (GPS). • Proses pengumpulan data dapat dilakukan lebih cepat karena editing, entry, dan validasi sekaligus dapat dilakukan dengan menggunakan smart phone, sehingga proses pengolahan data lebih cepat. • Penggunaan smart phone pada riset ini adalah ramah lingkungan, karena tidak menggunakan kertas pada saat pengumpulan data. Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan FGD disertai daftar isu yang dibahas dalam diskusi yang dipandu oleh peneliti dibantu dengan notulis. 3.5. LOKASI RISET Riset dilaksanakan di 5 (lima) provinsi di Pulau Jawa yang dipilih secara purposif didasarkan pada tingkat kerawanan narkoba yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN. Adapun kelima provinsi tersebut yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Pada setiap provinsi yang menjadi lokasi riset akan dipilih 2 desa yaitu 1 desa dengan kriteria Rawan Narkoba (RN) sesuai dengan hasil pemetaan daerah rawan narkoba dan 1 desa yang belum dikategorikan sebagai desa rawan
  • 41. 25 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 narkoba atau Tidak Rawan Narkoba (TRN) yang berlokasi di kabupaten dan kecamatan yang sama. Tabel 3.1. Lokasi Riset dan Status Desa 3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Datahasilwawancarasetelahdiperiksaolehkoordinatorlapangan dan peneliti kemudian dikirim ke server dan diterima oleh manajemen data, tahap selanjutnya adalah cleansing data. Pengolahan data dilakukan oleh Tim Peneliti BNN dan BKKBN. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan cara mendeskripsikan variabel karakteristik responden dan karakteristik keluarga, tabulasi silang variabel yang diperlukan untuk menjelaskan potensi desa dan situasi desa, serta melakukan uji signifikasi terhadap beberapa variabel. Pada riset ini digunakan 3 (tiga) metode analisis data, yaitu: a. Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran hasil temuan di setiap komponen riset desa RN dan TRN. b. Analisis inferensial digunakan untuk menguji signifikansi (intensitas kegiatan bersama keluarga) antara desa desa RN dan TRN. No Provinsi Kebupaten Kecamatan Desa* Status Desa 1 Jawa Barat Kuningan Cilimus A RN B TRN 2 JawaTengah Magelang Mertoyudan C RN D TRN 3 DIYogyakarta Sleman Mlati E RN F TRN 4 JawaTimur Tulungagung Ngunut G RN H TRN 5 Banten Serang Padarincang I RN J TRN
  • 42. 26 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 c. Analisis matriks digunakan untuk mendeskripsikan kondisi potensi desa di lokasi riset.
  • 43. 27 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Wayang Kayu Timplong, Nganjuk Jawa Timur KARAKTERISTIK RESPONDEN & INFORMAN IV
  • 44. 28 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 45. 29 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN INFORMAN 4.1 HASIL KUNJUNGAN Bagian ini ditulis untuk menjelaskan gambaran cakupan hasil kunjungan yang dilakukan oleh tim peneliti selama proses pengumpulan data. Penjelasan mencakup sampel yang berhasil diwawancara, sampel di wilayah desa dan provinsi, alasan sampel yang non response, dan hasil wawancara menurut provinsi. a. Cakupan Sampel yang Berhasil Diwawancara Sampel keluarga di 5 provinsi pada riset ini sebanyak 1.000 orang responden. Dari rencana sampel yang akan diwawancara sebanyak 1.000 orang, responden yang berhasil ditemui sebanyak 1.064 responden (106,4 persen). Responden yang berhasil diwawancara melebihi target sampel yang direncanakan karena pada rumah tangga eligible yang terdiri lebih dari 1 keluarga maka seluruh perwakilan keluarga yang ada diwawancara. b. Cakupan Sampel di Wilayah Desa dan Provinsi Dari hasil kunjungan diketahui bahwa terdapat 1.071 calon responden eligible untuk diwawancara, namun dari jumlah tersebut hanya 1.064 responden yang dapat ditemui 7 calon responden lainnya tidak dapat ditemui sampai dengan 3 kali kunjungan dikarenakan responden tidak ada di rumah. Distribusi responden yang selesai diwawancarai IV
  • 46. 30 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 paling tinggi berada di Jawa Timur dengan jumlah 242 responden, diikuti oleh D.I. Yogyakarta sebanyak 220 responden, Jawa Barat dan Jawa Tengah sebanyak 201 responden dan paling sedikit di Banten sebanyak 200 responden. Gambaran hasil kunjungan dapat dilihat lebih rinci pada Tabel 4.1. di bawah ini: Tabel 4.1 Distribusi Sampel Hasil Kunjungan per Provinsi c. Cakupan Hasil Wawancara Menurut Provinsi Persentase cakupan hasil wawancara responden per provinsi menunjukkan bahwa Jawa Barat, D.I. Yogyakarta dan Banten memiliki cakupan yang tinggi (100 persen), kemudian diikuti oleh Jawa Tengah (98,5 persen) dan Jawa Timur memiliki tingkat respon paling kecil (98,4 persen). Secara keseluruhan cakupan hasil wawancara sangat tinggi (99,3 persen). Cakupan hasil wawancara ini cukup baik dan tidak ada penolakan sama sekali hanya terdapat 7 responden (0,7 persen) tidak ada di rumah sampai dengan berakhirnya waktu pengumpulan data. Dari hasil wawancara 1.064 responden diambil data responden yang berusia 18 s.d 65 tahun dengan mempertimbangkan akurasi data dan kemungkinan jawaban yang tidak konsisten dikarenakan faktor usia, sehingga data yang diolah adalah data yang berasal dari 1.036 responden yang berada pada rentang usia 18 s.d 64 tahun. 4.2. KARAKTERISTIK ANGGOTA KELUARGA Karakteristik anggota keluarga digunakan untuk mengetahui keragaman anggota keluarga berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, Provinsi Hasil Kunjungan Jumlah Selesai Tidak Selesai Ditangguh- kan Ditolak Tidak di Rumah Jawa Barat 201 0 0 0 0 201 JawaTengah 201 0 0 0 3 204 DIYogyakarta 220 0 0 0 0 220 JawaTimur 242 0 0 0 4 246 Banten 200 0 0 0 0 200 Total 1.064 0 0 0 7 1.071
  • 47. 31 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 dan tingkat pendidikan. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai kondisi anggota keluarga dan kaitannya dengan masalah dan tujuan riset. a. Kelompok Umur Berdasarkan data yang diberikan responden, diperoleh data tentang keragaman anggota keluarga berdasarkan kelompok umur. Jumlah total anggota keluarga riset ini adalah 3.559 orang. Total kelompok umur 35- 39 tahun lebih dominan dibandingkan total kelompok umur yang lain, yaitu sebanyak 337 orang. Untuk total kelompok umur terendah terdapat di kelompok umur 60 atau lebih sebanyak 218 orang. D.I. Yogyakarta merupakan provinsi dengan jumlah anggota keluarga terbanyak dibandingkan dengan 4 provinsi lainnya yaitu sebanyak 847 orang (23,8 persen). Secara terperinci data anggota keluarga berdasarkan kelompok umur dapat ditunjukkan pada Tabel 4.2: Tabel 4.2. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Kelompok Umur (n = 3.559) Kelompok Umur Provinsi Jumlah Jabar Jateng DIY Jatim Banten n % n % n % n % n % n % 0-4 52 7,1 44 6,3 52 6,1 48 6,9 33 5,6 229 6,4 5-9 63 8,7 61 8,8 77 9,1 60 8,6 53 8,9 314 8,8 10-14 71 9,8 63 9,0 78 9,2 52 7,5 40 6,7 304 8,5 15-19 76 10,4 44 6,3 78 9,2 53 7,6 47 7,9 298 8,4 20-24 57 7,8 47 6,7 58 6,8 45 6,5 49 8,3 256 7,2 25-29 47 6,5 54 7,7 57 6,7 48 6,9 44 7,4 250 7,0 30-34 37 5,1 46 6,6 51 6,0 57 8,2 55 9,3 246 6,9 35-39 57 7,8 70 10,0 68 8,0 72 10,4 70 11,8 337 9,5 40-44 59 8,1 51 7,3 68 8,0 53 7,6 62 10,5 293 8,2 45-49 65 8,9 62 8,9 64 7,6 67 9,7 45 7,6 303 8,5 50-54 68 9,3 54 7,7 62 7,3 45 6,5 46 7,8 275 7,7 55-59 52 7,1 40 5,7 67 7,9 48 6,9 29 4,9 236 6,6 60>= 24 3,3 61 8,8 67 7,9 46 6,6 20 3,4 218 6,1 Total 728 100,0 697 100,0 847 100,0 694 100,0 593 100,0 3.559 100,0
  • 48. 32 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 b. Jenis Kelamin Salah satu karakteristik yang dicermati pada riset ini adalah jenis kelamin anggota keluarga. Dari hasil riset diperoleh gambaran bahwa anggota keluarga laki-laki sebanyak 1.769 orang (49,7 persen), jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga perempuan sebanyak 1.790 orang (50,3 persen). Tetapi, kondisi tersebut ditemukan berbeda di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi Banten, dimana jumlah anggota keluarga berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga perempuan. Data anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin dapat ditunjukkan pada Tabel 4.3. : Tabel 4.3. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Jenis Kelamin (n = 3.559) c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan anggota keluarga di 5 (lima) Provinsi didominasi oleh pendidikan SD/MI sederajat sebanyak 1.099 orang (30,9 persen). Provinsi Banten memiliki jumlah terbanyak untuk pendidikan SD/MI sederajat, yaitu sebanyak 314 orang (53 persen). Untuk anggota keluarga yang tidak sekolah hanya 10 persen dari jumlah keseluruhan anggota keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa di 5 (lima) Provinsi peduli dengan pendidikan, kondisi ini diperkuat dengan data jumlah anggota keluarga berpendidikan setingkat akademi/ perguruan tinggi memiliki jumlah lebih banyak dibanding tidak sekolah. Distribusi anggota keluarga berdasarkan tingkat pendidikan dapat ditunjukkan pada Tabel 4.4. : Provinsi Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan n % n % n % Jawa Barat 354 48,6 374 51,4 728 100.0 JawaTengah 335 48,1 362 51,9 697 100.0 DIYogyakarta 431 50,9 416 49,1 847 100.0 JawaTimur 344 49,6 350 50,4 694 100.0 Banten 305 51,4 288 48,6 593 100.0 Total 1.769 49,7 1.790 50,3 3.559 100.0
  • 49. 33 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 4.3. KARAKTERISTIK RESPONDEN Karakteristik responden digunakan untuk mengetahui keragaman responden berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran keluarga, jenis keterampilan, jenis pekerjaan, tempat tinggal, dan aktivitas sosial kepala keluarga. Karakteristik responden diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dari responden dan kaitannya dengan masalah dan tujuan riset tersebut. a. Kelompok Umur Jumlahtotalrespondenrisetiniadalah1.036orangyangtersebardi5 provinsiyangmenjadilokasiriset.Secaraumum,respondenberadadalam kelompok usia 46 s.d 50 tahun (17,3 persen) dengan proporsi kelompok usia ini pada Provinsi Jawa Barat sebesar 23,4 persen, merupakan paling tinggi dibandingkan provinsi lain. Sedangkan provinsi Banten hanya memiliki 13,1 persen dari seluruh total responden kelompok usia 46-50. Atau secara lengkap, distribusi kelompok umur responden dapat dilihat pada Tabel 4.5. berikut ini: Provinsi PendidikanTerakhir Jumlah Tidak sekolah SD/MI sederajat SMP/MTs sederajat SMA/MA sederajat Akademi/ PT n % n % n % n % n % n % Jawa Barat 69 9,5 190 26,1 131 18,0 259 35,6 79 10,9 728 100.0 JawaTengah 69 9,9 188 27,0 123 17,6 214 30,7 103 14,8 697 100.0 DIYogyakarta 93 11,0 185 21,8 146 17,2 280 33,1 143 16,9 847 100.0 JawaTimur 68 9,8 222 32,0 182 26,2 168 24,2 54 7,8 694 100.0 Banten 57 9,6 314 53,0 154 26,0 59 9,9 9 1,5 593 100.0 Total 356 10,0 1.099 30,9 736 20,7 980 27,5 388 10,9 3.559 100.0 Tabel 4.4. Distribusi Jumlah dan Persentase Anggota Keluarga Berdasarkan Tingkat Pendidikan (n = 3.559)
  • 50. 34 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Tabel 4.5. Distribusi Persentase Kelompok Umur Berdasarkan Provinsi (n = 1.036) Enam puluh persen lebih responden berada pada rentang kelompok umur antara 31 sampai dengan 55 tahun. Hal ini terkait kriteria responden yang menyasar pada orang dewasa karena permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menjadi masalah yang serius dan perlu perhatian orang tua. b. Jenis Kelamin Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 77,5 persen, sedangkan laki-laki sebesar 22,5 persen. Responden perempuan terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat dimana responden perempuan sebesar 93 persen dan hanya 7 persen responden laki-laki. Responden laki-laki banyak tersebar di Provinsi Jawa Tengah (41 persen) dan Banten (37,2 persen). Tabel 4.6. Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden (n = 1.036) Provinsi Kelompok Umur Jum- lah JmlhRe- sponden ≤ 19 20- 24 25- 29 30- 34 35- 39 40- 44 45- 49 50- 54 55- 59 ≥ 60 Jawa Barat 0,0 5,0 8,0 8,5 15,4 13,9 19,4 17,4 12,4 0,0 201 201 JawaTengah 0,5 2,5 9,5 14,0 15,0 13,0 19,0 14,5 10,5 1,5 204 200 DIYogyakarta 0,5 3,6 10,5 9,1 19,5 14,1 15,5 12,3 15,0 0,0 220 220 JawaTimur 0,9 4,9 8,0 14,3 16,1 11,6 17,9 10,3 8,5 7,6 246 224 Banten 1,0 4,2 9,4 15,7 18,3 18,8 10,5 12,0 6,8 3,1 200 191 Total 0,6 4,1 9,1 12,3 16,9 14,2 16,5 13,2 10,7 2,5 1.071 1.036 Provinsi Jenis Kelamin Total Jumlah Laki-Laki Perempuan Jawa Barat 7,0 93,0 100 201 JawaTengah 41,0 59,0 100 200 DIYogyakarta 21,8 78,2 100 220 JawaTimur 8,0 92,0 100 224 Banten 37,2 62,8 100 191 Total 22,5 77,5 100 1.036
  • 51. 35 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Di Provinsi Jawa Barat 93 persen lebih responden didominasi oleh jenis kelamin perempuan diikuti provinsi Jawa Timur sebesar 92 persen, sementaralaki-lakipalingbanyakdiProvinsiJawaTengahjumlahnyalebih dari 40 persen diikuti oleh Provinsi Banten. Berdasarkan kelompok umur, diketahui bahwa responden perempuan paling banyak pada kelompok 35- 39 tahun. Sedangkan responden laki-laki paling banyak pada kelompok 45-49 tahun. Tabel 4.7. Distribusi Persentase Jenis Kelamin Responden Berdasarkan Kelompok Umur (n = 1.036) c. Tingkat Pendidikan Sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SMA/MA sederajat (32,5 persen), dan hanya sedikit yang memiliki ijazah perguruan tinggi (13,6 persen). Responden dengan pendidikan terakhir SMA/MA sederajat paling banyak berada di Provinsi D.I. Yogyakarta (43 persen). Lulusan SD/MI sederajat juga cukup mendominasi responden riset yaitu sebanyak 31,6 persen. Provinsi Banten memiliki responden lulusan SD/MI sederajat paling banyak yaitu sebesar 65,4 persen. Kelompok Umur Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan n % n % 15-19 1 0.4 5 0.6 20-24 4 1.7 38 4.7 25-29 18 7.7 76 9.5 30-34 30 12.9 97 12.1 35-39 38 16.3 137 17.1 40-44 36 15.5 111 13.8 45-49 39 16.7 132 16.4 50-54 34 14.6 103 12.8 55-59 29 12.4 82 10.2 ≥60 4 1.7 22 2.7
  • 52. 36 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 d. Jumlah Pengeluaran Keluarga Hasilrisetdi5provinsiterpilihmenunjukkanbahwakategorirata-rata pengeluaran keluarga per bulan paling tinggi adalah Rp 1.000.000,- s.d. Rp 2.000.000,- dengan persentase sebesar 37,9 persen, diikuti dengan 31,4 persen untuk kategori Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000,- ; 26,8 persen untuk kategori Rp 2.000.000,- s.d. Rp 3.500.000,-; dan 3,9 persen untuk kategori Rp 0,- s.d. Rp 500.000,-. dan D.I. Yogyakarta paling tinggi pada kategori Rp 1.000.000,- s.d. Rp 2.000.000,-. Secara berturut-turut, persentase responden dengan kategori rata-rata pengeluaran keluarga per bulan Rp 1.000.000- s.d. Rp 2.000.000,- di tiga provinsi tersebut antara lain Provinsi Jawa Barat sebesar 42,8 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 40,5 persen, dan Provinsi D.I. Yogyakarta sebesar 41,4 persen. Sedangkan, rata-rata pengeluaran keluarga per bulan di Provinsi Jawa Timur dan Banten paling tinggi pada kategori Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000,- , yaitu sebesar 56,7 persen untuk Provinsi Jawa Timur dan 46.6 persen untuk Provinsi Banten. Provinsi Tingkat Pendidikan Jumlah Responden Tidak sekolah SD/MI sedera- jat SMP/ MTs sedera- jat SMA/MA sedera- jat Aka- demi/ PT Jumlah Persen tase Jawa Barat 0,0 27,9 21,9 38,3 11,9 100 201 JawaTengah 1,0 23,0 15,5 38,5 22,0 100 200 DIYogyakarta 0,5 14,1 19,5 43,2 22,7 100 220 JawaTimur 0,4 30,8 29,5 30,8 8,5 100 224 Banten 0,0 65,4 22,5 9,9 2,1 100 191 Total 0,4 31,6 21,9 32,5 13,6 100 1.036 Tabel 4.8. Distribusi Persentase Tingkat Pendidikan Responden (n=1.036)
  • 53. 37 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 e. Jenis Keterampilan Hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 349 responden memiliki keterampilan yang digunakan untuk menghasilkan uang. Jenis keterampilan yang paling banyak dimiliki oleh responden adalah memasak/pengolahan makanan. Banyaknya responden yang memiliki keterampilan memasak/pengolahan makanan yaitu sebanyak 131 orang, sedangkan jenis keterampilan yang paling sedikit dimiliki oleh responden adalah perawatan kesehatan serta reparasi komputer dan HP . Banyaknya responden yang memiliki dua jenis keterampilan tersebut masing-masing yaitu sebanyak 2 orang. Provinsi Rata-rata Pengeluaran Keluarga Per Bulan Jumlah Responden 0-500.000 >500.000- 1.000.000 1.000.000- 2.000.000 2.000.000- 3.500.000 Jumlah Persen tase Jawa Barat 3,0 15,4 42,8 38,8 100 201 JawaTengah 5,0 22,0 40,5 32,5 100 200 DIYogyakarta 2,7 15,5 41,4 40,5 100 220 JawaTimur 5,8 56,7 35,7 1,8 100 224 Banten 2,6 46,6 28,8 22,0 100 191 Total 3,9 31,4 37,9 26,8 100 1.036 Tabel 4.9. Distribusi Persentase Rata-Rata Pengeluaran Keluarga (n=1.036) Keterampilan Respnden Provinsi Jumlah Responden Jabar Jateng DIY Jatim Banten Jumlah 1. Bercocok tanam/ bertani/ berkebun 25,5 27,3 0,0 41,8 5,5 100 55 2. Berternak (unggas, ikan, sapi, kerbau, dll) 12,9 12,9 41,9 32,3 0,0 100 31 3. Memasak/pengolahan makanan 17,6 21,4 38,9 22,1 0,0 100 131 4. Menjahit/ tenun/ sulam/bordir pakaian 14,7 29,4 23,5 29,4 2,9 100 34 5.Potongrambut/ perawatankecantikantubuh 0,0 50,0 16,7 33,3 0,0 100 6 Tabel 4.10. Distribusi Persentase Jenis Keterampilan Responden (n=349)
  • 54. 38 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Dari 1.036 responden hanya 349 responden yang mempunyai keterampilan tersebut di atas. Sebagian besar keterampilan yang dimiliki oleh responden di Provinsi D.I. Yogyakarta adalah memasak/ pengolahan makanan, hal ini terkait erat dengan jenis kelamin responden yang mayoritas adalah perempuan. Selain itu, karena di sekitar lokasi banyak mahasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi sehingga menjadi peluang untuk usaha. Di tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat sebagian besar responden mempunyai keterampilan dibanding dua provinsi lainnya. Delapan puluh persen lebih keterampilan para responden berada di ketiga provinsi tersebut, hal ini mungkin disebabkan oleh ekonomi, sosial dan budaya yang dibawa oleh provinsi tersebut. Keterampilan Respnden Provinsi Jumlah Responden Jabar Jateng DIY Jatim Banten Jumlah 6. Pembuatan mebel/ perkayuan 0,0 33,3 50,0 16,7 0,0 100 6 7. Seni (lukis/ musik/tari/ rupa/dll) 0,0 33,3 33,3 33,3 0,0 100 6 8. Kontruksi bangunan (membangun/mereno- vasi bangunan) 0,0 100,0 0,0 0,0 0,0 100 11 9. Desain grafis (perceta- kan, sablon, dll) 0,0 50,0 33,3 16,7 0,0 100 6 10.Perawatankesehatan (pengobatan,konsultasi,dll) 0,0 0,0 0,0 100,0 0,0 100 2 11. Reparasi komputer dan HP 0,0 50,0 0,0 50,0 0,0 100 2 12. Reparasi alat elektronik (televisi, radio, AC, dll) 33,3 33,3 16,7 0,0 16,7 100 6 13. Reparasi alat trans- portasi (mobil, motor, becak, dll) 11,1 33,3 44,4 11,1 0,0 100 9 14. Lainnya 11,4 29,5 15,9 40,9 2,3 100 44 Total 15,5 27,8 26,4 28,7 1,7 100 349
  • 55. 39 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 f. Jenis Pekerjaan Sebagian besar dari responden riset ini tidak bekerja atau seorang ibu rumah tangga (42,4 persen). Lebih dari separuh responden yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga berada di Provinsi Jawa Barat (60,7 persen) disusul oleh Provinsi Banten (54,5 persen) dan D.I. Yogyakarta (40,0 persen). g. Tempat Tinggal Lokasi riset ini berada di daerah perdesaan yang tersebar di 5 Provinsi yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Pada setiap provinsi terpilih sampel di 1 Desa RN dan TRN. Sebaran sampel berdasarkan tempat tinggal responden di setiap provinsi dapat terlihat pada tabel berikut ini. Provinsi Pekerjaan Jum- lah Belum Bekerja Tidak Bekerja/ IRT Petani Wiras- wasta/ peda- gang PNS/ TNI/ POLRI/ BUMN Pega- wai Swas- ta Pen- siun Pekerja Lepas Lain- lain Jawa Barat 0,0 60,7 1,5 20,4 4,0 9,0 0,0 4,0 0,5 100 JawaTengah 0,5 21,0 4,5 23,5 7,0 19,5 0,0 18,5 5,5 100 DIYogyakarta 0,0 40,0 0,5 25,9 6,8 10,5 0,5 13,6 2,3 100 JawaTimur 0,9 37,1 14,7 25,0 1,3 8,9 0,4 6,3 5,4 100 Banten 3,1 54,5 7,3 13,1 0,0 3,1 0,0 17,3 1,6 100 Total 0,9 42,4 5,8 21,8 3,9 10,2 0,2 11,8 3,1 100 Tabel 4.11. Distribusi Persentase Jenis Pekerjaan Responden (n=1.036)
  • 56. 40 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 h. Aktivitas Sosial Kepala Keluarga Sebagian besar kepala keluarga memiliki aktivitas sosial sebagai anggota masyarakat sebanyak 812 orang (78,4 persen) dan hanya sedikit yang memiliki aktivitas sosial sebagai perangkat desa atau sebanyak 10 orang (1 persen). Kepala keluarga sebagai anggota masyarakat paling banyak berada di Provinsi Jawa Barat (186 orang). Di provinsi Banten tidak ada kepala kelurga yang memiliki aktivitas sosial sebagai pengurus LSM. Provinsi RN TRN Jumlah Kode Desa RN TRN Jumlah Jawa Barat 100 101 201 A 100 100 B 101 101 JawaTengah 98 102 200 C 98 98 D 102 102 DIYogyakarta 110 110 220 E 110 110 F 110 110 JawaTimur 109 115 224 G 109 109 H 115 115 Banten 98 93 191 I 98 98 J 93 93 Total 515 521 1.036 515 521 1.036 Tabel 4.12. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Tempat Tinggal (n=1.036)
  • 57. 41 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Selanjutnya, pada riset ini juga ditinjau mengenai aktivitas sosial yang dijalani oleh responden. Berikut ini merupakan tabel aktivitas sosial yang dijalani oleh responden di desa terpilih. Provinsi Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (Ayah/ Ibu) Jumlah Perang- kat Desa Pengurus lingkun- gan(RT/ RW) Tokoh Anggota/ Pengurus LSM/OM Anggota Lainnya n % n % n % n % n % n % n % Jawa Barat 4 2,0 4 2,0 1 0,5 5 2,5 186 92,5 1 0,5 201 100 JawaTengah 2 1,0 9 4,5 1 0,5 57 28,5 130 65,0 1 0,5 200 100 DIYogyakarta 1 0,5 16 7,3 3 1,4 52 23,6 148 67,3 0 0,0 220 100 JawaTimur 2 0,9 3 1,3 1 0,4 53 23,7 165 73,7 0 0,0 224 100 Banten 1 0,5 4 2,1 3 1,6 0 0,0 183 95,8 0 0,0 191 100 Total 10 1,0 36 3,5 9 0,9 167 16,1 812 78,4 2 0,2 1.036 100 Tabel 4.13. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (n=1.036) Provinsi Aktivitas Sosial Kepala Keluarga (Ayah/ Ibu) Jumlah Perang- kat Desa Pengurus lingkun- gan(RT/ RW) Tokoh Anggota/ Pengurus LSM/OM Anggota Lainnya n % n % n % n % n % n % n % Jawa Barat 3 1,5 3 1,5 0 0,0 5 2,5 188 93,5 2 1,0 201 100 JawaTengah 2 1,0 9 4,5 0 0,0 71 35,5 117 58,5 1 0,5 200 100 DIYogyakarta 0 0,0 9 4,1 1 0,5 63 28,6 147 66,8 0 0,0 220 100 JawaTimur 1 0,4 2 0,9 1 0,4 44 19,6 175 78,1 1 0,4 224 100 Banten 0 0,0 5 2,6 2 1,0 0 0,0 184 96,3 0 0,0 191 100 Total 6 0,6 28 2,7 4 0,4 183 17,7 811 78,3 4 0,4 1.036 100 Tabel 4.14. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Aktivitas Sosial (n=1.036)
  • 58. 42 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Sebagian besar responden memiliki aktivitas sosial sebagai anggota masyarakat yaitu sebanyak 811 orang (78,3 persen) dan hanya sedikit yang memiliki aktivitas sosial sebagai perangkat desa yaitu sebanyak 6 orang (0,6 persen). Responden yang menjalani aktivitas sosial sebagai anggota masyarakat paling banyak berada di Provinsi Jawa Barat (188 orang). Di Provinsi Banten tidak ada responden yang memiliki aktivitas sosial sebagai pengurus LSM. i. Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal Sebagian besar responden atau sebanyak 644 orang (62,2 persen) mengakui bahwa status kepemilikan bangunan tempat tinggal mereka adalahmiliksendiri.Di5provinsitidakadasatupunrespondenyangstatus kepemilikan bangunan rumah dinas. Provinsi Banten merupakan provinsi dengan jumlah responden terbanyak yaitu 185 orang (96,9 persen) yang memiliki bangunan tempat tinggal milik sendiri. Dibandingkan dengan keempat provinsi lainnya, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan status tempat responden adalah kontrak/sewa dan bebas sewa yaitu sebanyak 29 responden (14,5 persen) dan 59 responden (29,5 persen). . Provinsi Status Kepemilikan BangunanTempatTinggal Jumlah Milik Sendiri Kontrak/ Sewa Bebas Sewa Dinas Lainnya n % n % n % n % n % n % Jawa Barat 108 53,7 4 2,0 1 0,5 0 0,0 88 43,8 201 100,0 JawaTengah 110 55,0 29 14,5 59 29,5 0 0,0 2 1,0 200 100,0 DIYogyakarta 112 50,9 15 6,8 26 11,8 0 0,0 67 30,5 220 100,0 JawaTimur 129 57,6 2 0,9 0 0,0 0 0,0 93 41,5 224 100,0 Banten 185 96,9 0 0,0 0 0,0 0 0,0 6 3,1 191 100,0 Total 644 62,2 50 4,8 86 8,3 0 0,0 256 24,7 1.036 100,0 Tabel 4.15. Distribusi Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Kepemilikan Bangunan Tempat Tinggal (n=1.036)
  • 59. 43 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Wayang Krucil/Klithik Khas Blora, Jawa Tengah POTENSI DESA DALAM MENDUKUNG PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI 5PROVINSI V
  • 60. 44 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019
  • 61. 45 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 POTENSI DESA DALAM MENDUKUNG PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI 5 PROVINSI Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, belakangan ini jumlah kasus penyalahgunaan narkoba di perdesaan mengalami peningkatan. Meningkatnya kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba di perdesaan diduga karena ruang gerak peredaran narkoba di perkotaan semakin terbatas akibat pengawasan ketat aparat (Siwa, 2019). Di samping itu, pendidikan masyarakat desa yang pada umumnya rendah menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang jenis dan bahaya narkoba. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat perdesaan mudah terpengaruh dan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Dengan demikian aparat desa bersama dengan masyarakat, termasuk para tokoh yang ada di desa memiliki peranan penting untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkoba di lingkungan desa. Mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup terkait jenis dan bahaya narkoba agar bisa berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Penanggulangan masalah narkoba memerlukan upaya komperehensif, artinya harus mempertimbangkan semua sumber daya yang ada di suatu daerah dan melibatkan semua sektor terkait atau sektor lain yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan narkoba. Sumber daya bisa menjadi aset atau potensi yang mendukung upaya V
  • 62. 46 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 penanggulangan narkoba. Dalam riset ini potensi desa yang diteliti dibagi menjadi beberapa aspek yaitu sebagai berikut . 5.1. ASPEKSUMBERDAYAMANUSIA(MASYARAKAT,APARATUR DESA, LEMBAGA SOSIAL, DAN INSTITUSI MASYARAKAT) Sumber daya manusia (SDM) merupakan aspek yang sangat penting untuk mendukung pencegahan penyalahgunaan narkoba. Keberadaan SDM yang berkualitas di berbagai lapisan masyarakat bisa membantu pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan terkait narkoba. Kualitas SDM pada riset ini dilihat dari sisi masyarakat, aparatur desa, lembaga sosial, dan institusi masyarakat. Dari hasil pengumpulan data baik kuantitatif maupun kualitatif diketahui bahwa potensi SDM di masing-masing desa yang menjadi lokus riset cukup beragam. Dari sisi masyarakat, SDM bisa dilihat dari indikator antara lain pendidikandanjumlahanggotakeluargayangberstatussekolah.Secara umum, rata-rata tingkat pendidikan responden di sepuluh desa dari lima provinsi yang didatangi adalah pendidikan dasar dan menengah. Persentase responden yang berpendidikan terakhir SD dan/atau tidak sekolah tidak jauh berbeda dengan mereka yang berpendidikan SMA dan sederajat, yaitu 32 persen dan 33 persen. Responden lainnya berpendidikan perguruan tinggi 14 persen dan berpendidikan SMP 22 persen. (Gambar 5.1) . Gambar 5.1. Tingkat Pendidikan Responden 31,9% 21,9% 32,5% 13,6% ≤SD SMP SMA Akademi/PT
  • 63. 47 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat pendidikan responden menunjukkan keragaman. Tingkat pendidikan di Kabupaten Serang Banten terlihat paling rendah di antara kabupaten lainnya. Responden paling banyak berpendidikan SD atau tidak sekolah, baik di Desa TRN maupun RN di Provinsi Banten (masing-masing sebanyak 77 persen dan 54 persen). Responden yang berpendidikan rendah juga banyak ditemui di Desa TRN Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (39 persen) dan Desa TRN Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (40 persen). Sementara itu, responden berpendidikan SMA atau sederajat lebih banyak di desa lokasi penelitian Provinsi Jawa tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Barat. Gambar 5.2. Presentase Tingkat Pendidikan Responden Berdasarkan Desa dan Kabupaten Meskipun secara umum cukup banyak responden yang berpendidikan SMA atau sederajat, namun responden yang berpendidikanrendahjugamasihbanyak.Tingkatpendidikanresponden di lokus riset yang bervariasi menunjukkan kualitas SDM yang berbeda- beda. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan dalam rangka penanggulangan masalah narkoba harus mempertimbangkan tingkat pendidikan masyarakat. Jumlah anggota keluarga yang berstatus sekolah juga menjadi salah satu indikator SDM dari sisi masyarakat yang dianalisis dalam risetini.Bersekolahmerupakansalahsatukegiatanyangbisamencegah TRN TRN TRN TRN TRN RN RN RN RN RN Kuningan Magelang Sleman Tulungagung Serang ≤SD SMP SMA Akademi/ PT 77,4 15,1 6,5 1,1 54,1 29,6 13,3 3,1 38,5 28,4 27,5 5,5 24,3 30,4 33,9 11,3 13,6 15,5 41,8 29,1 15,5 23,6 44,5 16,4 31,4 14,7 38,2 15,7 16,3 16,3 38,8 28,6 39,6 24,8 32,7 3,0 16,0 19,0 44,0 21,0
  • 64. 48 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan termasuk penyalahgunaan narkoba, walaupun dalam pergaulan di sekolah memungkinkan seseorang terpapar pengaruh negatif dari teman-temannya. Rentang usia sekolah, terutama 14-18 tahun, merupakan usia yang rawan untuk terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba (Gono, 2007). Maka dari itu, pengawasan dari orang tua dan guru sangat diperlukan pada rentang usia ini. Dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang sedang bersekolah, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba kemungkinan bisa dilakukan lebih maksimal karena semakin banyak anak yang dapat dialihkan perhatiannya untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat di sekolah. Hasil riset menunjukkan responden yang berusia antara 18-34 tahun dan responden usia 55 tahun ke atas rata-rata hanya memiliki paling banyak dua anak yang masih bersekolah (Gambar 5.3.). Meskipun begitu, jika dilihat dari semua kelompok umur pada umumnya responden memiliki 3-5 anak yang masih bersekolah. Dengandemikian,sasaranuntukprogrampencegahanpenyalahgunaan narkoba hendaknya diarahkan kepada semua orang tua (responden), tanpa memperhatikan kelompok umur mereka karena pada umumnya mereka masih memiliki anak yang masih sekolah. Gambar 5.3. Persentase Jumlah Anggota Keluarga Berstatus Sekolah Menurut Umur Responden 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 ≥60 ≤2 3-5 ≥6 80,8 15,4 3,8 57,7 41,4 0,9 46,7 51,1 2,2 45,6 51,5 2,9 38,1 58,5 3,4 3,4 57,1 39,4 59,1 40,2 0,8 28,7 71,3 14,3 85,7 33,3 66,7 0 0 0
  • 65. 49 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Hasil pengumpulan data kualitatif menggambarkan kondisi SDM di masing-masing lokus riset yang begitu beragam. Diperoleh informasi bahwa SDM di lokus riset di Kabupaten Serang Provinsi Banten belum mampu mendukung kemajuan dan mengembangkan potensi wilayah yang ada. Dari tingkat pendidikan bisa dikatakan bahwa penduduk di wilayah ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sebagian besar hanya menyelesaikan SD, bahkan di desa lokasi penelitian juga ditemui penduduk yang mengaku tidak pernah bersekolah. Hal ini sejalan dengan temuan dari pengumpulan data kuantitatif. Kondisi yang sedikit berbeda ditemui di lokasi riset di Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta. Penduduk di wilayah ini banyak yang merupakan pendatang dan menempati rumah kost. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja dan mahasiswa. Sementara itu, di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat kualitas SDM di wilayah ini banyak yang belum mengetahui tentang narkoba. Tingkat pengetahuan masyarakatnya terkait bahaya narkoba dilaporkan oleh aparat desa masih cukup rendah, dimana hanya sekitar 30 persen penduduk saja yang dirasa sudah mengetahui bahaya narkoba. Dari informan aparat desa di Kabupaten Sleman sudah dibekali dengan pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk program pencegahan narkoba baik yang dilakukan oleh BNNP , BNNK maupun instansi lain seperti Dinsos dan instansi P3AP2KB. Di Kabupaten Serang, pengurus desa di lokus riset belum mampu untuk mengembangkan potensi ekonomi desanya. Kegiatan dan aktivitas yang selama ini dilakukan hanya sebatas pada kegiatan rutin dan administrasi kependudukan. Selanjutnya dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa kepala desa, atau setidaknya lingkungan RT/ RW mendukung Program P4GN. Beberapa LSM yang berperan dalam mendukung Program P4GN antara lain Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba Tawuran dan Anarkis (Gapenta) dan Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat). Aparat desa di Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur bisa dikatakan sangat sigap, dan koordinasi dengan aparat lain seperti babinsa dan kamtibmas/polisi berjalan cukup baik. Hubungan dengan organisasi masyarakat seperti ikatan pelajar NU, Muslimat, Fatayat,
  • 66. 50 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Ansor, dan Jamiah NU juga terjalin dengan baik. Ketika terdapat permasalahan di masyarakat, mereka saling berkoordinasi. Begitu juga jika ada kegiatan bersama seperti pengendalian pangan untuk kelompok tani, aparat dan ormas selalu bekerjasama untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, kerja sama antara aparat dengan Babinsa/ Babinkamtibmas sering dilakukan, antara lain pada kegiatan sosialisasi dan penyuluhan terkait narkoba. Kelompok di desa yang memilliki potensi dalam mendukung Program P4GN antara lain kelompok organisasi wanita (PKK) di berbagai jenjang (desa sampai dengan Dasa Wisma), kelompok pengajian, kelompok olah raga (badminton, boxing/ tinju gaya bebas), kelompok kesenian (Kubra/ tari- tarian), kelompok remaja karang taruna, dan kelompok remaja masjid. Keberadaan relawan anti narkoba yang baru dilatih 2 bulan sebelum wawancara belum membentuk program, kegiatan dan perkumpulan penggiat anti narkoba di desa RN. Informan aparat desa di Desa RN Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat sebagian besar sudah memahami tentang bahaya narkoba, begitu juga dengan aparat di Desa TRN. Namun, mereka kurang mengerti tentang jenis narkoba. Aparat Desa TRN Kabupaten Kuningan terlihat cukup peduli dengan permasalahan narkoba. Mereka mengatakan bahwa korban penyalahgunaan narkoba membutuhkan penanganan yang tepat yaitu rehabilitasi lengkap baik medis maupun sosial. Selain itu, mantan pecandu harus diterima dengan baik di dalam masyarakat dan didampingi agar mereka kembali produktif seperti sedia kala. Di Desa RN Kabupaten Kuningan, SDM aparatnya diperkuat dengan keberadaan institusi atau organisasi sosial seperti LPM, karang taruna, organisasi masyarakat Pemuda Pancasila dan Linmas. 5.2. ASPEK SUMBER DAYA ALAM Kondisi sumber daya alam (SDA) di masing-masing daerah bisa menjadi pendukung dalam upaya penanggulangan permasalahan terkait narkoba. Menurut informan di Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta, saat survei SDA (misalkan pengairan) di wilayah tersebut memadai dan cukup untuk kebutuhan masyarakatnya meskipun di
  • 67. 51 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 tengah musim kemarau pada saat wawancara dilakukan. Faktor SDA tidak memengaruhi kehidupan masyarakat karena mata pencaharian telah mengalami pergeseran, dimana saat survei mereka tidak lagi bertani yang sekaligus juga sangat mengandalkan SDA. SDA di desa terpilih di Kabupaten Serang Provinsi Banten nampaknya memiliki potensi yang bagus untuk mendukung kemajuan pembangunandiwilayahtersebut.Desatersebuttermasukwilayahyang subur, dengan sebagian besar penduduknya menggantungkan nasib pada bidang pertanian dan hasilnya dapat langsung didistribusikan ke wilayah lain yang terdekat seperti ke Lampung dan Jakarta. Selain lahan yang subur, wilayah ini memiliki wilayah perbukitan yang memiliki potensi pengembangan wilayah pariwisata. Namun demikian, kondisi SDA yang sangat baik ternyata belum didukung oleh SDM yang menjadi pendorong kemajuan serta perkembangan wilayah setempat khususnya wilayah perdesaan. Di wilayah riset di Provinsi Jawa Tengah, SDA kabupaten (Kabupaten Magelang) dan desa tidak jauh berbeda yaitu merupakan wilayah pertanian padi, tembakau, dan palawija. Potensi pertanian sudah mulai berkurang karena beralih fungsi dari tanah pertanian menjadi tanah non pertanian. Kondisi perekonomian sekitar (pusat perdagangan, pertokoan, hiburan, pabrik otomotif (perakitan mobil) menjadikan banyak remaja kurang berminat untuk menggarap lahan pertanian, hal ini juga menjadi kekhawatiran generasi tua yang berprofesi sebagai petani. Salah satu desa terpilih di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat terletak di lereng gunung dan memiliki kawasan obyek wisata alam. Masyarakat di desa tersebut membudidayakan ubi, cengkeh, murbei, apel dan nilam. Desa lainnya berada di pusat kecamatan, kehidupan masyarakatnya sudah bergeser ke arah gaya hidup perkotaan. Walaupun demikian desa ini masih memiliki potensi alam yang digunakan oleh sebagian masyarakatnya sebagai mata pencarian di bidang pertanian yaitu te mbakau, padi, dan ubi. Secara umum kondisi SDA di Tulungagung Provinsi Jawa Timur cukup subur, karena banyak SDA, misalnya perikanan, banyak pantai
  • 68. 52 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 dan budidaya ikan baik perikanan laut maupun perikanan air tawar. Beberapa pantai dan pelabuhan yang potensial antara lain Pantai Demak, Pelabuhan Popoh, Gemah. Pelabuhan dan pantai tersebut tidak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga sebagai tempat pariwisata. Sementara itu dari aspek pertambangan, Tulungagung terkenal dengan penghasil marmer (di wilayah Kecamatan Campurdarat). Sementara itu, potensi SDA dari perkebunan, antara lain banyak menghasilkan jambu, belimbing, jeruk, tembakau (Kecamatan Pakel), serta peternakan ayam petelur dan pedaging. Di Desa G sendiri yang menjadi lokus riset, potensi SDA tidak terlalu banyak diandalkan. Hanya sebagian kecil penduduk yang hidupnya bergantung pada pertanian karena sebagian besar penduduknya mengandalkan sektor industri yaitu pabrik ataupun industri rumah tangga. Berbeda dengan Desa RN dan TRN Kabupaten Tulungagung memiliki SDA yang cukup baik. Beberapa hasil pertaniannya antara lain pertanian yang bersifat musiman, kebun tebu, dan belimbing. 5.3. ASPEK SUMBER DAYA EKONOMI Salah satu indikator sumber daya ekonomi (SDE) yang merupakan potensi dalam upaya penanggulangan masalah narkoba adalah pekerjaan. Antoro (2006) mengungkapkan bahwa pemakaian narkoba salah satunya dipicu oleh faktor domestik, diantaranya adalah keluarga yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua bekerja, rendahnya pendapatan keluarga, kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua, ketersediaan narkoba di lingkungan sekitar, dan kurangnya prestasi dalam pendidikan. Sebagian faktor domestik yang tersebut di atas banyak yang dipengaruhi oleh pekerjaan dalam mencari uang. Hasil pengumpulan data kuantitatif menunjukkan lebih separuh responden berstatus istri dan tidak bekerja atau ibu rumah tangga (58 persen). Gambar 5.4. juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen dari responden yang berstatus kepala keluarga bekerja sebagai wiraswasta/pedagang. Meskipun dikatakan orang tua bekerja akan kurang memberikan perhatian kepada anaknya, namun bukan berarti dari hasil riset ini bisa disimpulkan bahwa anggota keluarga atau anak dari sebagian responden kurang mendapat perhatian karena orang tuanya sibuk berdagang. Sebaliknya, tidak selalu juga orang tua yang
  • 69. 53 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 biasa tinggal di rumah bisa memberikan perhatian yang cukup bagi anak-anaknya. Gambar 5.4. Persentase Pekerjaan Responden Menurut Hubungan Keluarga Di lain pihak, banyaknya orang tua (dalam hal ini istri) di lokus riset yang tinggal di rumah/tidak bekerja bisa menjadi hal yang menguntungkan karena pengawasan terhadap anak-anak lebih mudah dilakukan. Selain itu, diharapkan orang tua yang tinggal di rumah lebih mudah menjalin komunikasi lebih baik dengan seluruh anggota keluarga. Oleh sebab itu, ibu rumah tangga harus menjadi sasaran bagi berbagai kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait narkoba. Selanjutnya, dari pengumpulan data kualitatif diperoleh gambaran bahwa dilihat dari jenis pekerjaan, SDE masyarakat di desa yang menjadi lokasi riset juga beragam. Di Kabupaten Serang Provinsi Banten sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh tani karena mereka tidak memiliki lahan pertanian atau perkebunan sendiri. Sebagian lainnya bekerja di sektor jasa transportasi dan niaga karena wilayahnya merupakan perlintasan jalur keluar dan masuknya migran dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Di samping itu, kalangan muda di wilayah ini banyak yang menganggur/ tidak bekerja karena lapangan pekerjaan sangat terbatas. Mereka lebih memilih menganggur karena tidak bersedia melanjutkan mata pencaharian yang sudah menjadi tradisi di sana, yaitu sebagai buruh tani. Lainnya Pekerja Lepas Pensiunan Pegawai Swasta PNS/TNI/POLRI/BUMN/Dan Lainnya Wiraswasta/Pedagang Petani Tidak Bekerja/Ibu RumahTangga Istri/Suami Kepala Keluarga 2,8 3,7 4,7 26,0 0,1 0,3 7,9 15,0 4,2 3,0 4,5 9,0 17,3 34,0 58,4 9,0
  • 70. 54 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 Penggunaan Anggaran Dana Desa (ADD) di lokasi riset pada umumnya mengutamakan pada pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas umum lainnya. Sementara porsi anggaran yang digunakan untuk pembangunan SDM dan kegiatan non fisik lainnya masih sangat terbatas. Lokasi desa riset merupakan wilayah pertanian dan jauh dari lokasi perindustrian, sehingga CSR untuk keperluan pembangunan desa belum menjangkau wilayah ini. Di Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur termasuk dalam kategori ekonomi menengah, bahkan lebih maju dibandingkan daerah lain (sebanyak 60 persen penduduknya termasuk kategori menengah ke atas). Perputaran ekonomi cukup baik karena banyaknya buruh migran (TKI/ TKW) yang menghasilkan devisa bagi kabupaten ini. Lebih dari separuh masyarakat desa yang menjadi lokasi riset di Kabupaten Tulungagung bekerja sebagai buruh migran ke luar negeri (TKI/ TKW). Sebagian kecil lainnya memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berwiraswasta atau memiliki usaha sendiri. Penduduk yang memiliki usaha ekonomi/ wiraswasta banyak ditemukan di Desa RN, Kabupaten Tulungagung. Umumnya industri yang ada adalah kerajinan alat rumah tangga, peralatan TNI/ Polri, atribut TNI/ Polri, dan koper. Sementara, masyarakat yang tidak memiliki usaha bekerja sebagai buruh di pabrik. Adapun penggunaan ADD di Desa RN antara lain untuk pendidikan, infrastruktur, pemberdayaan, pelatihan, dan kesehatan. Alokasi untuk pemberdayaan masyarakat adalah sebesar sepuluh persen yang digunakan untuk mendukung pelatihan usaha pembuatan makanan ringan, pemeliharaan ikan, dan budidaya ikan lele. Dalam satu tahun dana ini bisa membiayai kurang lebih 60 s.d 70 orang secara bergiliran tergantung masyarakat yang membutuhkan. Di Desa H kondisinya sedikit berbeda dengan Desa RN. Pendukung ekonomi yang utama di Desa TRN bersumber dari pertanian dan perindustrian. Kondisi perekonomian masyarakatnya saat ini sudah mengalami peningkatan karena ada bantuan dari pemerintah, dari 135 kepala keluarga (KK) yang dinyatakan miskin kini sudah berkurang menjadi 75 (KK) miskin. Di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan pedagang. Di Desa TRN
  • 71. 55 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 mayoritas penduduknya merupakan petani ubi (boled) dan cengkeh. Sebagian penduduk bekerja di luar kota dan sebagian lainnya bekerja sebagai penggali pasir dan batu. Secara umum, masyarakat Desa TRN berada di atas garis kemiskinan dan dana desa digunakan untuk kegiatan fisik rutin seperti Rumah Layak Huni sehingga tidak terdapat rumah yang tidak layak huni. Potensi ekonomi lain di Desa RN Kabupaten Kuningan adalah perdagangan. Hal ini erat kaitannya dengan keberadaan pasar terbesar di kecamatan. Potensi ekonomi lainnya yang mulai dikembangkan di Desa RN adalah kerajinan atau home industry yaitu pembuatan telor asin dan rengginang. Kerajinan ini dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Des). Hampir sama dengan di Kuningan Provinsi Jawa Barat, di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, SDE kabupaten banyak didukung dari perdagangan dan hiburan. Kondisi perekonomian desa sesuai dengan potensinya yang berskala lingkungan desa antara lain pertanian, industri rumah tangga/ home industry, dan perdagangan. Kondisi di Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta bisa dikatakan agak berbeda dengan wilayah lain. Sebagian besar penduduknya adalah pendatang dan berasal dari kalangan menengah ke atas. Gambaran ini sama di kedua desa lokasi riset. 5.4. ASPEK BUDAYA/ TRADISI Budaya dan tradisi yang ada di suatu daerah mempengaruhi perilaku masyarakatnya. Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkobaseharusnyabudayadantradisiyangberkembangdimasyarakat bisa menjadi ‘benteng’ bagi pengaruh buruk dari luar lingkungan. Selain SDM, SDA, dan SDE riset ini juga mengumpulkan beberapa informasi terkait budaya dan tradisi yang berlaku di lokasi riset. Pada riset ini responden ditanyakan apakah di desa mereka terdapat tradisi yang umum ada di masyarakat Indonesia seperti gotong royong, musyawarah, pesta rakyat atau pesta untuk merayakan sesuatu, dan pesta atau hajatan. Hasil pengumpulan data menunjukkan tradisi atau budaya yang paling banyak dilaksanakan di lokasi riset adalah gotong royong, dimana hampir semua responden menyatakan
  • 72. 56 Potensi Desa Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 2019 ada budaya gotong royong di desa tempat mereka tinggal (Gambar 5.5). Tradisi lainnya yang juga banyak ditemukan di desa terpilih adalah musyawarah dan pesta rakyat. Gambar 5.5 Persentase Tradisi/ Budaya di Desa Menurut Responden Gambar 5.6 Persentase pernyataan responden tentang menyajikan minuman beralkohol pada pesta desa Menurut keterangan informan, secara umum di Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta tidak ada budaya masyarakat yang sifatnya menyimpang. Akan tetapi, di daerah ini justru banyak masyarakat yang mengkonsumsiminumankerasterjeratnarkobawalaupunsecaraumum masyarakat sekitarnya menolak penggunaan narkoba. Di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah juga ditemukan bahwa budaya gotong Pesta rakyat dengan minuman beralkohol TRN Kuningan Magelang Sleman Tulungagung Serang TRN TRN TRN TRN RN RN RN RN RN Tidak Ya Pesta rakyat Musyawarah Gotong Royong 9,4 78,2 96,8 99,6 100,0 0,0 99,0 1,0 87,8 12,2 76,1 23,9 96,4 3,6 100,0 0,0 73,5 26,5 85,7 14,3 92,1 7,9 97,0 3,0