Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1
PENALARAN KARANGAN
Annisa Febriana (11150163000073)
A. LATAR BELAKANG
Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis m...
2
B. PEMBAHASAN
Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi
empirik) yang menghasilka...
3
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep yang abstrak. Lambangnya adalah kata,
Lambang proposisi Lambang beroposisi a...
4
penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yng
memaang benaar atau sesuatu yang mema...
5
5. Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan (alasan), argumentasi
(pembuktian), fenomena, dan justu...
6
Macam-macam generalisasi
 Generalisasi Sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpu...
7
dasarnya hanya membandingkan persamaan – persamaan dankemudian dicari
hubungannya. Maka sering kesimpulan yang diambil t...
8
Tujuan kausal terdapat dalam Hubungan Kausal Dapat berlangsung dalam tiga pola :
a. Sebab ke akibat
Dari peristiwa yang ...
9
Kesimpulan: (1) pengendara sepeda motor harus membiayai perbaikan mobil yang
ditabraknya.
(2) membayar denda atas kesala...
10
1. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses pengambilan keputusan/kesimpulan (konklusi) dari 2
macam premis yang ada seb...
11
Sekarang Hujan,
Jadi saya naik mobil.
b) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya ,
sepe...
12
Mn :menipumerugikan orang lain
K :menipu adalah dosa.
Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayo...
13
Peristiwa ketiga
Peristiwa pertama s.d ketiga dalam bentuk sorot balik atau flashback,
Kembali ke peristiwa terakhir da...
14
Urutan umum-khusus banyak dipergunakan dalamkarya ilmiah. Tulisan yang paragraf-
paragrafnya dikembangkan dalam urutan ...
15
Ungkapan generalisasi:
● terbesar, ter ... ● tidak pernah,
● paling besar, ● pada umumnya,
● semua, setiap ● secara kes...
16
3. Perbandingan dan Pertentangan
Perbandingan ialah membahas kesamaan dan kemiripan. Sedangkan pertentangan
ialah memba...
17
6) Menyebutkan/menjelaskan akibat yang ditimbulkan.
Kata atau ungkapan yang lazim digunakan:
● oleh sebab itu, dengan p...
18
Contoh:
Ia berdiri di depan kelas dengan wajah merah padam. Matanya melotot bagaikan Batara
Kala yang sedang marah. Lal...
19
→ ditaksir,
→ sangat mungkin,
→ boleh jadi,
→ anggapan,
→ dapat diproyeksikan,
→ mungkin,
→ diduga akan.
G. Simpulan
Da...
20
Jenis Salah Nalar:
1. Deduksi yang salah
Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak meme...
21
C. PENUTUP
Kesimpulan
Penalaran karangan ialah proses berpikir logis untuk mengkaji hubungan-hubungan
fakta yang terdap...
22
D. DAFTAR PUSTAKA
Anggota Ikapi. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo
Saryono, Djoko. 2013. Ba...
23
24
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah Penalaran Karangan

8,131 views

Published on

Penalaran Karangan

Published in: Education
  • Be the first to comment

Makalah Penalaran Karangan

  1. 1. 1 PENALARAN KARANGAN Annisa Febriana (11150163000073) A. LATAR BELAKANG Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur), kita selalu berfikir. Menulis merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berfikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya melamun. Kegiatan yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berfikir yang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar. Dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif. Berdasarkan uraian diatas mengenai penalaran maka dapat kita katakan penalaran merupakan proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Sementara dalam karangan penalaran berarti penggunaan pikiran untuk suatu kesimpulan yang tuangkan dalam bentuk tulisan atau tertulis. Dengan penalaran yang tepat, hal-hal yang akan dituangkan dalam karangan menjadi kuat. Penyajian materi karangan akan sesuai dengan jalan pikiran yang tepat. Aspek penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karangan ataupun jenis tulisan lainnya karena itu, seorang penulis harus mengenal kriteria dan mengetahui prinsip- prinsip proses penaksiran fakta dan kebenaran penarikan kesimpulan yang sah dalam tulisan yang dibacanya. Dengan begitu penalaran karangan bisa menjadi sumber pengetahuan baru. Oleh karena itu, setiap pengungkapan harus dipertimbangkan terlebih dahulu agar hal-hal yang tidak tepat tidak mask dalamkarangan.
  2. 2. 2 B. PEMBAHASAN Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis. Berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Kata “menalar” berasal dari kata bahasa Arab “nazar (ep/Ep-p)+ presfiks me-“ artinya melihat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa menalar artinya cara orang memandang sesuatu dari sudut logikanya. Dengan nalarnya, orang menghubungkan pengamatan (observasi berdasarkan empirik) dengan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Kemudian, pengamatan dan kejadian-kejadian tersebut menjadi suatu konsep dan pengertian baru. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. 1 Penalaraan memiliki beberapa pengertian, yaitu: (1) Proses berpikir logis, sistematis, terorgnisasi dalam urutan yang paling berhubungan sampai simpulan. (2) Menghubung- hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan, (3) Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian bare. (4) Dalam karangan terdiri dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan suatu simpulan. (5) Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.2 A. Konsep dan Lambang dalam Penalaran Penalaran juga merupakan aktivitas fikiran yang abstrak. Untuk mewujudkannya diperlukan lambang. Lambang yang digunakan untuk penalaran berbentuk bahasa sehingga wujud penalaran akan tampak berupa argumen. 1 Fitriyah, Mahmudah Z. A. & Ramlan Adbul Gani. Pembinaan Bahasa Indonesia. (Jakarta: Universitas IslamNegeri Pers, 2007), 144-145 2 Widjono Hs.2007.Bahasa Indonesia. (Jakarta: Grasindo, 2007), 209
  3. 3. 3 Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep yang abstrak. Lambangnya adalah kata, Lambang proposisi Lambang beroposisi adalah kalimat (kalimat berita) dan lambing penalaran. Argumentlah yang dapat menentukan kebeneran konklusi dari premis. Argumentlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dan premis. Berdasarkan paparan diatas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berfikir yang saling berkait. Tidak ada proporsi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersamaan dengan terbentuknya pengertian, perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Dengan kata lain, dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi, sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian. B. Syarat-syarat Kebenaran dalam Penalaran Jika seseorang melakukan penalaran,maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat diturunkan dari aturan- aturan berfikir yang tepat, sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat. 1. Metode Induktif Metode berfikir Induktif adalah metode yang digunakan dalam berfikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan pada fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berfikir induktif. 2. Metode Deduktif Jika dalam penalaran, konklusi lebih sempit dari premisnya, penalaran tersebut disebut dengan deduktif. C. Penalaran dan Macam-macamnya Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Suatu
  4. 4. 4 penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yng memaang benaar atau sesuatu yang memang salah. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar disini harus meliputi sesuatu yaang benar secara formal maupun material formal berarti penalaraan memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yaang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebaagai premis tepat.3 Berikut ialah merupakan unsur penalaran karangan ilmiah, yaitu: 1. Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian tertentu yang spesifik dan berisi sekurang- kurangnya dua variabel. 2. Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau kesalahannya. 3. Proposisi mempunyai beberapa jenis, antara lain: a. Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta, misalnya: Anak cerdas dapat memanfaatkan potensinya. b. Proposisi mutlak yaitu pembenaran yang tidak memerlukan pengujian. c. Proposisi hipotetik yaitu persyaratan hubungan subjek dan predikat yang harus dipenuhi. Misalnya: Jika dijemput, X akan ke rumah. d. Proposisi kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat. Misalnya: X akan menikahi Y. e. Proposisi positif universal yaitu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak. Misalnya: Semua hewan akan mati. f. Proposisi positif persial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut bersifat positif. Misalnya: Sebagian orang ingin hidup kaya. g. Proposisi negatif universal yaitu kebalikan dari proposisi positif universal. Misalnya: Tidak ada gajah tidak berbelalai. h. Proposisi negatif persial yaitu kebalikan dari proposisi positif persial. Misalnya: Sebagian orang hidup menderita. 4. Proses berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan. 3 Fitriyah, Mahmudah Z. A. & Ramlan Adbul Gani. Pembinaan Bahasa Indonesia. (Jakarta: Universitas IslamNegeri Pers, 2007), 145-146
  5. 5. 5 5. Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justufikasi (pembenaran). 6. Sistematika yaitu seperangkat proses atas bagian-bagian atau unsur-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan. 7. Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalamkarangan. 8. Variabel yaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis. 9. Analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain. 10. Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. 11. Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif dan deduktif. 12. Kesimpulan (simpulan) yaitu penafsiran atau hasil pembahasan, dapat berupa implikasi atau inferensi.4 D. Penalaran Induktif Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum. Penalaran yng bertolak dari pernyataan pernyataan khusus (premis) untuk menghasilkan kesimpulan yang umum. Kesimpulan ini dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas fakta yang bersifat khusus. Penalaran induktif pada dasarnya terdiri atas tiga macam, yaitu: generalisasi, analogi, dan sebab akibat. a. Generalisasi Generalisasi merupakan proses penalaraan yaang bertumpu padaa beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk menghasilkan kesimpulan umum. Contoh: Jika dipanaskan, kawat memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan , besi memuai. Jadi, jika dipanaskan, benda logam memuai. 4 Widjono Hs.2007.Bahasa Indonesia. (Jakarta: Grasindo, 2007), 210
  6. 6. 6 Macam-macam generalisasi  Generalisasi Sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Contoh: sensus penduduk  Generalisasi Tidak Sempurna Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon. Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Untuk mendapatkan kesimpulan yang terpercaya, dalam generalisasi harus diperhatikan sejumlah hal berikut. 1. Data harus memadai jumlahnya. 2. Data harus mewakili keseluruhan. 3. Pengecualian harus diperhitungkan karena data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat digunakan. 4. Melaksanakan pengujian, perbandingan, klasifikasi data. 5. Pernyataan generalisasi jelas, sederhana, menyeluruh padat, dan sistematis. b. Analogi Analogi adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaanya. Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan yang sebelumnya. Dalam berfikir Analogis, kita meletakan suatu hubungan baru berdasarkan hubungan-hubungan baru itu. Dan kita juga dapat menarik kesimpulan bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi, ada persamaan pula dalam bidang yang lain. Pada pembentukan kesimpulan dengan jalan analogi, jalan pikiran kita didasarkan atas persamaan suatu keadaan yang khusus lainnya. Karena pada
  7. 7. 7 dasarnya hanya membandingkan persamaan – persamaan dankemudian dicari hubungannya. Maka sering kesimpulan yang diambil tidak logis. Dari penjabaran diatas, dapat dikatakan bahwa penalaran analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan fakta atau kesamaan data. Analogi juga dapat dikatakan sebagai proses membandingkana dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. Contoh Analogi: Kita banyak tertarik dengan planel mars, karena banyak persamaannya dengan bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai atsmosfir seperti bumi. Temperaturnya hampir sama dengan bumi. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti bumi. Jika bumi ada mahluk. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup diplanet Mars. c. Hubungan Kausal Hubungan kausal adalah proses penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan dan prinsip sebab-akibat yang di haruri dan pasti antara gejala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya. Leucippus (filsuf Yunani) mengatakan bahwa tidak ada satu pun hal tanpa sebab. Untuk ini dapat dicontohkan metode agremen: jika dua atau lebih kasus dalam suatu gejala terdapat satu daan hanya satu kondisi yang dapat, maka kondisi itu dpat diterima sebagai penyebab. P Q R menghasilkan Y QS T menghasilkan Y Oleh karena itu Q menghasilkan Y Dapat pula dilakukan dengan metode deference. RT U menghasilkan Z RU tidak menghasilkan Z Maka T-lah yang menghasilkan Z Tujuan Kausal
  8. 8. 8 Tujuan kausal terdapat dalam Hubungan Kausal Dapat berlangsung dalam tiga pola : a. Sebab ke akibat Dari peristiwa yang dianggap sebagai sebab menuju kesimpulan sebagai efek. Sebab Akibat pada intinya berpola A dan menyebabkan B. Selain itu, Pola A dapat menyebabkan B,C,D dll. Jadi efek dari peristiwa bisa menjadi akibatnya. Contoh : Lemparan anak itu menyebabkan jambu jatuh. b. Akibat ke sebab Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat menuju sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat. Contoh : Yura ke Dokter dikarenakan sakit. c. Akibat ke akibat Dari akibat ke akibat yang lain tanpa menyebut sebab umum yang menimbulkan kedua akibat. Contoh : Kebakaran karena arus pendek itu menyebabkan adanya korban jiwa berjatuhan.5 Di bawah ini contoh dari penalaran Induktif: Seorang polisi lalu lintas mengamati proses peristiwa di tempat kejadian perkara suatu kecelakaan lalu lintas di perempatan Rawamangun Muka, persimpangan Rawamangun Muka-Utan Kayu dan Cililitan-Tanjung Priuk yang terjadi tanggal 10 juli 2000 pukul 12.30. Sebuah sepeda motor dari arah Tanjung Priuk menabrak mobil sehingga pintu di bagian kiri rusak, penyok sedalam 10 cm, dan sepeda motor tergeletak di dekat mobil yang ditabraknya. Seorang saksi mata menuturkan bahwa pengendara sepeda motor terkapar jatuh 1,5 meter di sebelah kiri sepeda motornya. Dalam pengamatannya, melalui proses perhitungan waktu polisi menyatakan bahwa pada saat mobil melintas dari arah Cililitan ke Rawamangun Muka lampu hijau menyala dan dibenarkan oleh para saksi. Polisi menyatakan bahwa, dalam keadaan lampu merah sepeda motor berkecepatan tinggi dari arah Tanjung Priuk menabrak mobil yang sedang berbelok dari arah selatan ke arah Rawamangun Muka. Hasil pengamatan, pengendara sepeda motor terbukti bersalah. 5 Saryono, Djoko. Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah. (Malang: UMM Press, 2013), 24
  9. 9. 9 Kesimpulan: (1) pengendara sepeda motor harus membiayai perbaikan mobil yang ditabraknya. (2) membayar denda atas kesalahannya. Karangan ilmiah kualitatif induktif dilandasi penalaran (1) observasi data, (2) menyusun estimasi (perkiraan data), (3) verifikasi analisis pembuktian, (4) pembenaran / komparasi konstan (terus-menerus dan berkelanjutan sampai suatu simpulan), (5) konfirmasi (penegasan dan pengesahan) melalui pengujian hipotesis, (6) hash generalisasi / induksi, (7) konklusi (simpulan: penafsiran atas hasil berupa implikasi atau inferensi). E. Penalaran Deduktif Penalaran deduktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai pembuktian khusus, dan diakhiri dengan simpulan khusus yang berupa prinsip. Karangan deduktif mempunyai bermacam-macam jenis berdasarkan teknik pengembangannya maupun uraian isinya. Karangan kualitatif sering digunakan dalam pembahasan masalah-masalah humaniora (sastra, kemanusiaan, cinta kasih, penderitaan, dan lain-lain). Namun, kualifikasi produk yang bernilai ekonomi, seperti: keindahan pakaian, kecantikan, keserasian, dan lain-lain dapat pula menggunakan jenis karangan ini. Dalam karangan (laporan penelitian) deduktif kuantitatif ditandai dengan penggunaan angka kuantitatif yang bersifat rasional. Secara rinci proses tersebut menguraikan: 1. Bidang observasi: berdasarkan bidang studi kajian, 2. Rumusan masalah: pertanyaan yang akan dibahas, 3. Kerangka teori: berisi pada pembahasan varibel. 4. Tujuan: tahap kegiatan yang hendak dicapai, 5. Rumusan hipotesis dan penjelasannya, 6. Deskripsi data: diperlukan untuk pengujian hipotesis, 7. Desain penelitian (metode penelitiana): proses pengumpulan data, pengolahan, hasil analisis data, sampai dengan simpulan, 8. Analisis data, 9. Hasil analisis, dan 10. Simpulan deduktif: interpretasi atas hasil Macam-macam Penalaran Deduktif:
  10. 10. 10 1. Silogisme Silogisme adalah suatu proses pengambilan keputusan/kesimpulan (konklusi) dari 2 macam premis yang ada sebelumnya. Sehingga kita dapat menarik kesimpulan dari 2 premis yang ada sebelumnya yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya. Contoh : Semua manusia pasti akan meninggal Yona adalah manusia Jadi : Yona pasti akan meninggal Bentuk-Bentuk Silogisme: a. Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua posisinya merupakan proposisi kategorik , demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal , sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya . Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya , tapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya dengan demikian satu pangalan umum dan satu pangkalan khusus dapat di hubungkan dengan berbagai cara tetapi hubungan itu harus di perhatikan kwalitas dan kantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi atau natijah yang valid. b. Silogisme Hipotesis adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidk memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi. Macam tipe silogisme hipotetik: a) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti: Jika hujan , saya naik mobil
  11. 11. 11 Sekarang Hujan, Jadi saya naik mobil. b) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya , seperti: Bila hujan , bumi akan basah Sekarang bumi telah basah. Jadi hujan telah turun c) Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa , maka kegelisahan akan timbul . Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa , Jadi kegelisahan tidak akan timbul d) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya , seperti: Bila mahasiswa turun kejalanan , pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan 2. Entimem Entimem merupakan suatu bentuk silogisme juga. Tetapi, di dalamentimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sa ma-sama diketahui. Contoh: Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain. Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua: a. Menipu adalah dosa b. Karena (menipu) merugikan orang lain. Kalimat a merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor(karena bersifat khusus). Maka silogisme dapat disusun:
  12. 12. 12 Mn :menipumerugikan orang lain K :menipu adalah dosa. Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kitaharus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva menipu´. Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yangmerugikan orang lain adalah dosa. Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kitacari dulu ke- simpulannya. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi,maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang dihilangkan. Bahasan topik karangan berdasarkan penelitian tersebut relatif rumit dan sulit. Namun, sebuah karangan dapat ditulis dalam bentuk yang sederhana dan mudah. Pengembangan topik dapat dilakukan berdasarkan urutan peristiwa, waktu, ruang, penalaran sederhana, sebab-akibat, deduksi sederhana, induksi sederhana, dan sebagainya.6 Urutan Logis Karangan disusun berdasarkan satu kesatuan konsep, dikembangan dalam urutan logis, sistematik, jelas, dan akurat. Urutan dapat disususn berdasarkan urutan peristiwa, waktu, ruang, penalaran (induksi, deduksi, sebab-akibat), proses, kepentingan, dan sebagainya. a. Urutan Peristiwa (Kronologis) Karangan dengan urutan peristiwa secara kronologis ialah menyajikan bahasan berdasarkan urutan kejadian. Peristiwa ini terjadi kemudian diuraikan lebih dulu, peristiwa yang terjadi kemudian diuraikan kemudian. Urutan dapat disajikan dengan pola sebagai berikut: Cara pertama: urutan kronologis secara alami. Peristiwa 1, Peristiwa 2, Peristiwa 3, dan seterusnya Cara kedua: urutan peristiwa dengan sorot barik flashback. 1. Peristiwa terakhir 2. Peristiwa pertama Peristiwa kedua 6 Anggota Ikapi. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. (Jakarta: Grasindo, 2007), 45-47
  13. 13. 13 Peristiwa ketiga Peristiwa pertama s.d ketiga dalam bentuk sorot balik atau flashback, Kembali ke peristiwa terakhir dan melanjutkan cerita. 1. Peristiwa terakhir Untuk menyusun kronologi peristiwa, perhatikan kata-kata dan frasa berikut ini. dalam peristiwa itu, peristiwa, kejadian, peristiwa itu diawali dengan, pertama, kedua, ketiga, selanjutnya, akhirnya, dewasa ini, setelah itu, diawali, lalu, kemudian, akhirnya sekarang ini, pada hari itu, pada waktu itu, selama itu, ketika itu, akan, sudah, sedang, bila, proses itu diawali, dilanjutkan dan diakhiri, sebelum, peristiwa itu diakhiri dengan, sementara, sejak itu, dalam peristiwa itu, lalu, mula-mula, akhirnya, selanjutnya b. Urutan Ruang Urutan ruang dipergunakan untuk menyatakan hubungan tempat atau ruang. Untuk menyatakan urutan ruang itu antara lain kita dapat mengguanakan ungkapan-ungkapan: di sana, di sini, di situ, berhadapan, di, pada, bertolak belakang dengan, di bawah, di atas, berseberangan, di tengah, melalui, belok kanan di utara, di selatan, belok kiri, ke depan, di depan, di muka, ke atas, ke samping, di belakang, di sisi, di seberang, di kiri, di kanan, di hadapan, di luar, di dalam, di persimpangan, c. Urutan Alur Penalaran Berdasarkan alur penalarannya, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan ini menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Dalamkarangan yang panjang terdiri beberapa bab akan menghasilkan bab simpulan.
  14. 14. 14 Urutan umum-khusus banyak dipergunakan dalamkarya ilmiah. Tulisan yang paragraf- paragrafnya dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipahami isinya. d. Urutan Kepentingan Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan ialah dari yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting atau sebaliknya. E. Salah Nalar Salah nalar yaitu gagasan, perkiraan, kepercayaan, atau kesimpulan yang keliru atau sesat. Di bawah ini, ada 10 macam salah nalar yang dapat disaksikan dalamkarangan. 1. Diduksi yang salah 2. Generalisasi yang terlalu luas 3. Pemikiran ‘atau ini, atau itu’ 4. Salah nilai atas penyebab 5. Analogi yang salah 6. Penyimpangan masalah 7. Pembenaran pokok masalah lewat pokok sampingan 8. Argumentasi Ad-Huminem 9. Imbauan pada keahlian yang disangsikan 10. Nonseguitur F. Isi Karangan Isi karangan dapat berupa sajian fakta (benda, kejadian, gejala, sifat atau ciri sesuatu, dan sebagainya), pendapat/sikap dan tanggapan, imajinasi, ramalan, dan sebagainya. Karya ilmiah berisi ilmu pengetahuan dan teknologi, membahas permasalahan, pembahasan, dan pembuktian. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, generalisasi, spekifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, sebab-akibat, analogi, dan perkiraan (ramalan). 1. Generalisasi dan Spesifikasi Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Di dalam pengambangan karangan, generalisasi perlu ditunjang pembuktian dengan fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus.
  15. 15. 15 Ungkapan generalisasi: ● terbesar, ter ... ● tidak pernah, ● paling besar, ● pada umumnya, ● semua, setiap ● secara keseluruhan, Ungkapan pendukung: ● cenderung, ● galibnya, ● pada umumnya, ● selalu, ● sebagian besar, ● dukungan kuantitatif (angka) Generalisasi yang mengemukakan fakta disebut generalisasi faktual atau opini. Generalisasi faktual lebih mudah diyakini oleh pembaca daripada generalisasi yang berupa pendapat atau penilaian (value judgement). Fakta mudah dibuktikan atau diuji. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut: (1) a. Kependudukan merupakan masalah pokok dunia. b. Baginya masalah itu terlalu remeh (2) a. Guru adalah tenaga kependidikan. b. Sudah selayaknya guru disoroti oleh masyarakat. Dengan segera dapat diketahui bahwa pernyataan-pernyataan a mengemukakan fakta, sedangkan b mengemukakan penilaian/pendapat. 2. Klasifikasi Klasifikasi adalah pengelompokan fakta berdasarkan atas ciri atau kriteria tertentu. Klasifikasi ada dua jenis, yaitu klasifikasi sederhana yang mengelompokkan objek menjadi dua kelompok, misalnya: manusia terdiri dari dua jenis yaitu pria dan wanita, dan klasifikasi kompleks yang mengelompokkan objek menjadi tiga kelompok atau lebih, misalnya: usia manusia dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok, yaitu anak balita, anak usia sekolah SD, SMP, dan SMU, orang dewasa, dan manula. Dalam pengembangan karangan, klasifikasi merupakan karangan sejenis generalisasi. Fakta mengemukakan dua macam generalisasi yaitu generalisasi biasa dan generalisasi klasifikasi. Contoh : a. Bahasa-bahasa di Madagaskar, Formosa, Filipina, dan Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia. (generalisasi klasifikasi). b. Semua mahasiswa mampu berpikir mandiri. (generalisasi).
  16. 16. 16 3. Perbandingan dan Pertentangan Perbandingan ialah membahas kesamaan dan kemiripan. Sedangkan pertentangan ialah membahas perbedaan dan ketidaksamaan. Kalimat-kalimat berikut merupakan dikator perbandingan dan pertentangan. → Dahulu di gunung kidul air sangat langka, sekarang mudah didapat. → Anak muda sekarang lebih bebas bergaul daaripada anak muda dahulu. → India adalah negara benua sedangkan Indonesia adalah negara maritim. → Perbedaan sistemliberal dan demokrasi Pancasila. Kata-kata/ungkapan yang dipergunakan untuk menyatakan untuk perbandingan dan pertentangan di antaranya: Untuk membandingkan: ● sama dengan, ● seperti, ● seperti halnya, ● menyerupai, ● hampir sama dengan, ● selaras dengan ● sesuai dengan ● tepat sama dengan ● demikian juga ● sama saja ● serupa dengan, ● sejalan dengan 4. Sebab dan Akibat Suatu peristiwa dapat menyebabkan serangkaian akibat sehingga timbullah serangkaian sebab-akibat. Berikut merupakan proses mengarang dengan penalaran sebab-akibat: 1) Menentukan topik, 2) Menentukan pola, 3) Menentukan sebab, 4) Mulai menulis dengan kalimat topik yang menjadi sebab, 5) Menjelaskan sebab-sebab tersebut, mengapa sebab-sebab itu terjadi, Untuk mempertentangkan: ● berbeda dengan, ● bertentangan dengan, ● berlawanan dengan, ● .... sedangkan ...., ● sebaliknya ● halnya dengan, ● meskipun, ● lain halnya dengan ● kurang dari ● tidak sama dengan ●akan tetapi
  17. 17. 17 6) Menyebutkan/menjelaskan akibat yang ditimbulkan. Kata atau ungkapan yang lazim digunakan: ● oleh sebab itu, dengan pertimbangan bahwa ● oleh karena itu, ● akibatnya, ● alhasil, jadi, ● sebab, ● dengan alasan itu, ● dengan alasan itu, pengalaman membuktikan bahwa, ● karena. 5. Analogi Analogi adalah bentuk suatu kias persamaan atau perbandingan dua atau lebih objek yang berlainan. Secara garis besar analogi dapat dibedakan atas: 1) Analogi sederhana ● Mudah dipahami karena mencari persamaan dua objek yang tidak menuntut penjelasan fakta secara mendalam. ● Mencari persamaan dua objek berdasarkan salah satu dari objek tersebut yang sudah diketahui. Contoh: Gadis itu bagaikan bunga mawar di kelas kami. 2) Analogi yang berupa kiasan ● Sulit dipahami karena bersifat subjektif. ● Mencari persamaan dengan menggunakan ungkapan atau kiasan. Contoh: Daya pikir mahasiswa itu tajam. Analogi berdasarkan pengungkapan Isi: 1) Analogi deklaratif ● Menjelaskan suatu objek yang belum dikenal berdasarkan persamaannya dengan objek yang sudah dikenal. ● Tidak menghasilkan simpulan. ● Tidak memberikan pengetahuan baru. ● Kata-kata yang digunakan dalam analogi deklaratif adalah bagaikan, laksana, seperti, bagai. ● se.... (kale keadaan, misalnya “seindah”).
  18. 18. 18 Contoh: Ia berdiri di depan kelas dengan wajah merah padam. Matanya melotot bagaikan Batara Kala yang sedang marah. Lalu, sambil meletakkan pistol dari tangan kirinya di meja, seperti militer siap tembak musuh. Ia memukul meja di hadapannya, sambil berteriak tak terkendali. Suaranya menggelegar, mengejutkan seperti guntur di musim panas. Semua orang yang hadir terdiam dan mengerut seperti bekicot disiram garam. 2) Analogi induktif ● Menjelaskan suatu objek yang dapat memberikan pengetahuan baru. ● Menghasilkan suatu kesimpulan induktif yang khusus (bukan generalisasi). ● Kesimpulan dapat dijadikan dasar pengetahuan bagi objek yang lain, berdasarkan persamaan ciri. ● Kata-kata yang sering digunakan: maka, dengan demikian, dengan begitu. Contoh: Pada pertengahan Juli 1981, Saya pergi ke kampus London University untuk mengikuti kuliah pagi. Masih ada waktu 30 menit untuk mengikuti kuliah tersebut maka Saya dapat berjalan santai sambil menikmati musim panas yang masih terasa sejuk. Di depan kampus, tiba-tiba Saya mendengar teriakan, “ Halo Indonesia “. Saya menengok ke arah suara, sambil bertanya, “ How do you know ? “ . Meraka bertiga menjawab dalam bahasa Indonesia, “ Mudah saja, walaupun Anda tampak seperti orang philipin, jalan Anda persis orang Indonesia. Santai ! “. Dengan pengalaman itu, saya perlu mengubah jalan Saya. Walaupun tidak secepat orang Inggris atau orang Eropa pada umumnya. Mereka benar. Orang berjalan santai berisiko dicopet, dipalak, atau sejenisnya. Tegasnya, Saya harus berjalan cepat seperti kebiasaan orang Eropa. 6. Ramalan dan Perkiraan Ramalan adalah semacam inferensi yang berisi pernyataan tentang sesuatu yang terjadi pada waktu yang akan datang. Ramalan dibedakan menjadi atas ramalan tidak ilmiah dan ramalan ilmiah. Ramalan tidak ilmiah adalah ramalan yang diperoleh melalui prosedur yang tidak ilmiah. Misalnya, sesuatu yang bersifat gaib. Ramalan ilmiah disusun berdasarkan hasil penalaran ilmiah, perhitungan atas fakta, pengalaman empirik, pengujian, atau analisis ilmiah. Kata-kata yang lazim digunakan dalam perkiraan: → memperkirakan/diperkirakan,
  19. 19. 19 → ditaksir, → sangat mungkin, → boleh jadi, → anggapan, → dapat diproyeksikan, → mungkin, → diduga akan. G. Simpulan Data yang dianalisis dan dievakuasi menghasilkan fakta. Fakta hasil analisis dapat diinterpretasikan menjadi suatu simpulan yang dapat barupa: perkiraan, implikasi, inferensi, atau tindakan. a. Implikasi adalah simpulan yang bersifat melibatkan data. Misalnya: Sore hari ini tidak hujan. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan fakta yang masih terlihat pada saat simpulan dibuat. b. Inferensi diambil berdasarkan analisis yang bersumber pada referensi atau rujukan. Misalnya: Majapahit adalah kerajaan di Jawa timur yang mengalami kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Simpulan tersebut didasarkan pada tanda-tanda atau sisa-sisa yang masih diamati sebagai argumentasi. c. Tindakan adalah simpulan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari suatu kajian. Misalnya: Setelah dilakukan studi yang mendalam, sebuah perusahaan hampir bangkrut karena mesin teknologi yang digunakan sudah usang. Alternatif solusi, menjual perusahaan dengan harga murah atau meminjam uang di bank untuk peremajaan mesin produks. H. Kesalahan dalam Bernalar Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.
  20. 20. 20 Jenis Salah Nalar: 1. Deduksi yang salah Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan. Contoh: Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas. Semua gelas akan pecah bila dipukul dengan batu. 2. Generalisasi terlalu luas Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Contoh: Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati. Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah. 3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada. Contoh : Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain. 4. Penyebab Salah Nalar Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Contoh: Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya. 5. Analogi yang Salah Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Contoh: Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. 6. Argumentasi Bidik Orang Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Contoh: Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak.
  21. 21. 21 C. PENUTUP Kesimpulan Penalaran karangan ialah proses berpikir logis untuk mengkaji hubungan-hubungan fakta yang terdapat dalam karangan sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru. Kemudian hasil atau simpulan dalam suatu karangan itu menghasilkan sebuah analisis induktif dan deduktif. Induktif dan deduktif pada dasarnya merupakan proses bernalar yang nantinya akan menghasilkan suatu simpulan. Dalam karangan terdapat isi karangan. Isi karangan tersebuta meliputi generalisasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, sebab dan akibat, analogi, ramalan dan perkiraan, dan simpulan.
  22. 22. 22 D. DAFTAR PUSTAKA Anggota Ikapi. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo Saryono, Djoko. 2013. Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah. Malang: UMM Press Fitriyah, Mahmudah Z. A. & Ramlan Adbul Gani. 2007. Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas IslamNegeri Pers Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah. Jakarta: Erlangga Widjono Hs.2007.Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo
  23. 23. 23
  24. 24. 24

×