PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURADAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA               DIREKTORAT PEN...
KATA PENGANTAR       Pengembangan           Agroindustri        Perdesaan        Berbasis      Komoditas        Hortikultu...
DAFTAR ISI   PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN                              PENGEMBANGAN AGROINDUS...
B     KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN             PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA DI             ...
DAFTAR LAMPIRAN     Lampiran 1.................................... ..........................................................
I. PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG    Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pendapatan petani    adalah me...
B. PENGERTIAN     Dalam rangka menyamakan pengertian, definisi dan persepsi, dalam pedoman     teknis ini, digunakan beber...
C. TUJUAN   1) Sebagai acuan teknis bagi petugas/pelaksana/pelaku usaha dalam upaya         mengembangkan/mengoperasikan U...
mesin pengolahan serta rumitnya tingkat teknologi sehingga memerlukan     perhatian tersendiri.     Peningkatan sarana dan...
II.       PENGUATAN KELEMBAGAAN POKTAN/GAPOKTAN    A. Pengorganisasian Gapoktan               Pada dasarnya organisasi Gap...
2. Sedangkan bila lokasi terpilih terdapat beberapa Gapoktan, maka dipilih           satu atau dua Gapoktan yang terbaik. ...
Poktan/Gapoktan terpilih, wajib:a. Mempunyai rekening tersendiri atas nama lembaga untuk pengelolaan dana bantuan  sosial ...
Penentuan CP/CL dilakukan oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dengan menilaipotensi dan usulan/proposal rencana usahanya. Propo...
Rencana usaha kelompok (RUK) merupakan daftar kebutuhan saranapengolahan hasil yang disesuaikan dengan kebutuhan gapoktan ...
b. Perhitungan/analisis kelayakan ekonomi (financial penggunaan alat dan              mesin pengolahan)        c. Pembukua...
Perjanjian pendayagunaan alsin pengolahan dilakukan langsung antara Kepala      Dinas pertanian propinsi dengan Gapoktan. ...
III. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN                       PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKAKomoditas Hortik...
hilir, untuk itu diperlukan suatu kebijakan yang mendukung upaya-upaya pencapaiannilai tambah dan daya saing dalam satu si...
kinerja pengolahan hasil hortikultura khususnya untuk kelompok sayuran dantanaman hias perlu terus menjadi perhatian agar ...
2.     Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan              Biofarmaka           Ditujukan seb...
Input          : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil                               Hortikultura da...
B. KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI                                          HORTIKULTURA                  DAN      BIOF...
maka perlu upaya-upaya yang strategis dan sistematis yang dapat           mengangkat citra dan tampilannya. Untuk itu sela...
Tujuan         :    Meningkatkan kemampuan pengelola UPH dan Pembina                                 pengolahan hasil di t...
-    Demonstrasi dan promosi penggunaan jasa alat dan mesin                          pengolahan serta praktek lapangan    ...
-     Kegiatan pendampingan yang meliputi rencana kerja dan realisasi                           kegiatan pengembangan agro...
2) Melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi lintas sektoral di tingkat                      propinsi dalam rangka pengadaa...
Tabel 1. Lokasi Pengembangan Agroindustri Perdesaan Berbasis Kawasan                                 Hortikultura Tahun 20...
35      KALSEL          Kab. Hulu Sungai Sltn         Sayuran             Pengembangan agroindustri hortikultura  36      ...
Tabel 3. Kebutuhan Peralatan Pengolahan Beberapa Komoditas HortikulturaNo          Komoditas                Produk Olahan ...
Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik                                 Dodol                  Mesin Blender Buah         ...
Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik                                 Manisan Basah          Alat pengupas              ...
IV. TEKNOLOGI DAN SARANA PENGOLAHANA. NENAS    Rasa buah nenas adalah manis sampai agak masam menyegarkan, sehingga disuka...
b. Sari Nenas                                                 Nenas                                                Pemilih...
c. Selai/Jam Nenas                                                     Nenas                                              ...
d. Manisan Kering                                                    Nenas                                               P...
e. Kripik Nenas                                               Pemilihan Bahan                                             ...
f. Candy                                                          Buah Nenas                                              ...
2. Alat/Sarana Pengolahan     a. Sari Buah dan Juice Nenas           1) Alat Pengupas Nenas                 Spesifikasi:  ...
2) Blancher                Spesifikasi:                - Bahan                                     :    Stainless SteelPed...
3) Extractor                Spesifikasi:                -     Penggerak                              :     Motor Listrik  ...
4) Alat Pasteurisasi                Spesifikasi:                -     Kapasitas                              :     25 Lite...
5) Mesin Penutup Botol                Spesifikasi:                    - Penggerak : Motor Listrik                    - Pow...
Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 |   39
2. Selai Nenas       1) Alat Pengupas Nenas                Spesifikasi:                - Bahan                            ...
2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer                Spesifikasi:                - Disk pisau                      :    Baja ...
3) Blender               Spesifikasi:               -    Pisau                                    :     Ulir Stainless Ste...
4) Mesin Pemasak dan Pengaduk               Spesifikasi:               - Bahan frame & tabung luar                  :    b...
5) Sterilizer                Spesifikasi:                - Bahan body                                 :    stainlees steel...
6) Mesin Penutup Botol                Spesifikasi:                    - Penggerak : Motor Listrik                    - Pow...
3. Manisan Kering/Setengah Kering          1) Alat Pengupas Nenas                Spesifikasi:                - Bahan      ...
2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer                Spesifikasi:                - Disk pisau                      :    Baja ...
3) Oven Pengering               Spesifikasi:               - Sumber pemanas                           : steam            b...
4) Sealer Plastik                    Spesifikasi:                    -     Tipe                    : FPR 400              ...
4. Keripik Nenas       1) Alat Pengupas Nenas                Spesifikasi:                - Bahan                          ...
2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer                Spesifikasi:                - Disk pisau                      :    Baja ...
3) Vacuum frying               Spesifikasi:               Ruang penggoreng                             :               - B...
4) Mesin Peniris Minyak/ Spinner                 Spesifikasi:                - Bahan frame                           : pip...
Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 |   54
5) Sealer Plastik                    Spesifikasi:                    -     Tipe                    : FPR 400              ...
5. Candy          1) Alat Pengupas Nenas                Spesifikasi:                - Bahan                               ...
2) Blancher                Spesifikasi:                - Bahan                                     :    Stainless SteelPed...
3) Blander               Spesifikasi:               -    Pisau                                    :     Ulir              ...
4) Mesin Pemasak dan Pengaduk                Spesifikasi:                - Bahan frame & tabung luar                  :   ...
5)      Oven Pengering                Spesifikasi:                - Bahan dinding dlm ruang pengering                     ...
6) Alat Pencetak                Spesifikasi:                - Bahan Wadah                                                 ...
7) Sealer Plastik                    Spesifikasi:                    -    Tipe                                            ...
B. PISANG   Tanaman pisang ditanam di dataran rendah atau dibawah 1.000 m dpl, dengan pH   antara 4,5-7,5. Beberapa jenis ...
b. Sale Pisang                                      Buah Pisang                                        Dikupas            ...
c. Tepung Pisang                                                      Buah Pisang                                         ...
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti

2,072 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,072
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
142
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

5.2 pedoman teknis-agroindustri-horti

  1. 1. PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURADAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA DIREKTORAT PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN JAKARTA, 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Pengembangan Agroindustri Perdesaan Berbasis Komoditas Hortikulturamerupakan salah satu agenda Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran HasilPertanian yang merupakan bagian dari Program Peningkatan NTDS dan ekspor. Kegiatandilaksanakan dalam bentuk Tugas Pembantuan (TP) kepada beberapa daerah sentraproduksi Pedoman teknis ini diperuntukkan bagi seluruh stakeholder yang terlibat di dalamkegiatan pengolahan yaitu Petugas Dinas, Gapoktan, dan Instansi Terkait. Pedoman Teknisini mencakup kegiatan pengolahan secara teknis (alur proses) dan peralatan yangdigunakan sesuai dengan kebutuhan. Pedoman Teknis Pengolahan Hasil Hortikulturamerupakan salah satu dokumen yang melengkapi Pedoman Umum Direktorat JenderalPengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Pedoman Teknis ini disusun untuk memberikan panduan bagi para pelaksana diProvinsi/Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengembangan agroindustrihortikultura. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan salah satupedoman guna pengembangan agroindustri pedesaan berbasis komoditas hortikultura. Atas perhatian dan kerjasama berbagai pihak disampaikan terima kasih. Jakarta, Januari 2012 Direktur Pengolahan Hasil Pertanian Ir. Nazaruddin, MM NIP. 19590504.198503.1.001 i Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka
  3. 3. DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKAKATA PENGANTAR..................................................................................................................... iDAFTAR ISI................................................................................................................................... iiDAFTAR LAMPIRAN.................................................................................................................. iv I. PENDAHULUAN................................................................................................................ 1 A LATAR BELAKANG................................................................................................... 1 B PENGERTIAN............................................................................................................. 2 C TUJUAN.................................... ................................................................................... 3 D SASARAN.................................... ................................................................................ 3 E INDIKATOR KEBERHASILAN................................................................................ 3 F POLA PIKIR PENCAPAIAN SASARAN……………….............................................. 3 II PENGUATAN KELEMBAGAAN POKTAN/GAPOKTAN ......................................... 5 A PENGORGANISASIAN GAPOKTAN....................................................................... 5 B PEMILIHAN DAN PENETAPAN GAPOKTAN..................................................... 5 C KRITERIA GAPOKTAN PENERIMA SARANA PENGOLAHAN ....................... 6 D MEKANISME PELAKSANAAN DANA BANTUAN SOSIAL TUGAS PEMBANTUAN ………………………………………............................................................... 7 III PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA ............................................... 12 A KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN BIOFARMAKA DI PROPINSI................................................................................. 14 1. Bimbingan Teknis dan Manajemen Pengolahan Hasil Hortikultura 14 dan Biofarmaka...................................................................................................... 2. Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka........................................................................................................ 15 a. Inisiasi Pembentukan Asosiasi Pengolahan......................................... 15 b. Optimalisasi/Revitalisasi Unit Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka ........................................................................................... 15 c. Pembinaan Pengemasan dan Pelabelan................................................ 16 ii Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka
  4. 4. B KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA DI 17 KABUPATEN/KOTA................................................................................................. 1. Optimalisasi/Revitalisasi Unit Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka .............................................................................................................. 17 2. Fasilitasi Perbaikan Kemasan dan Pelabelan Hortikultura dan 17 Biofarmaka..................... 3. Bimbingan Teknologi dan sarana Pengolahan Hasil Hortikultura dan 18 Biofarmaka........ 4. Pengawalan Kegiatan Tugas Pembantuan..................................................... 20 C LOKASI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKA..................................... 22IV TEKNOLOGI DAN SARANA PENGOLAHAN............................................................... 28 A NENAS.................................... .................................... ................................................ 28 B PISANG........................................................................ ................................................ 61 C MANGGA.................................... .................................... ............................................ 75 D JERUK.................................... .................................... ................................................. 82 E SALAK.................................... ..................................................................................... 108 F BAWANG MERAH..................................................................................................... 122 G CABE......................................................................... ................................................... 133 H KENTANG.................................... .................................... .......................................... 147 I BIOFARMAKA.......................................... ................................................................. 158V KOORDINASI, MONITORING, DAN EVALUASI........................................................ 172 A KOORDINASI......................................................................... ................................... 172 B EVALUASI.................................... .................................... ......................................... 172 C MONITORING.................................... .................................... ................................... 172VI PELAPORAN........................................................................ ............................................. 173VII PENUTUP……………………………………………………………………………………………….... 174 iii Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka
  5. 5. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.................................... ................................................................................... 175 Bahan Tambahan Pangan (BTP).................................... .......................................... 175 Lampiran 2.................................... .................................... .............................................. 181 RAB ALAT PENGOLAHAN HASIL HORTIKULTURA............................................... 181 LAMPIRAN 3..................................................................................................................... 191 Pengukuran Realisasi Fisik Kegiatan Pembangunan Pengolahan Hasil ..... 191 Lampiran 4....................................................................................................................... 198 PEKERJAAN BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN BARANG………..... 198 Lampiran 5....................................................................................................................... 200 PEKERJAAN BERITA ACARA SERAH TERIMA HASIL PEKERJAAN......................... 200 Lampiran 6..... ................................................................................................................. 201 Form Pelaporan................................................................................................................................... 201 Lampiran 7..... ........................................................................ .... .................................... 202 JADWAL PALANG KEGIATAN........................................................................................................ 202 TIM PENYUSUN........................................................................ ....................................... 203iv Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka
  6. 6. I. PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pendapatan petani adalah melalui “Peningkatan Nilai Tambah” (added value). Upaya peningkatan nilai tambah umumnya dilakukan melalui pengembangan usaha-usaha pengolahan dalam rangka pengembangan agroindustri di pedesaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian melalui Sub-direktorat Pengolahan Hasil Hortikultura melaksanakan kegiatan ”Pengembangan Agroindustri Perdesaan Berbasis Komoditas Hortikultura”. Kegiatan ini merupakan program tahunan dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian yang merupakan bagian dari Program Pengembangan Agroindustri. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk Tugas Pembantuan (TP) dan Dekosentrasi kepada beberapa daerah sentra produksi. Dalam rangka pelaksanaan kegiatan tersebut diterbitkan Pedoman Teknis. Pedoman Teknis diperuntukkan kepada seluruh stakeholder yang terlibat di dalam kegiatan pengolahan yaitu Petugas Dinas, Gapoktan, dan Instansi Terkait. Pedoman Teknis ini mencakup kegiatan pengolahan secara teknis (alur proses) dan peralatan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu Pedoman Teknis ini juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dapat dipergunakan dalam proses pengolahan pangan. Pedoman teknis ini dibuat sebagai petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan- kegiatan pengembangan pengolahan hasil hortikultura baik dengan pola kemitraan maupun pola reguler lainnya. Didalam tahun anggaran 2012 digunakan pola bantuan sosial (bansos) yang diberikan langsung kepada kelompok, oleh karena itu pedoman ini sangat penting dipedomani oleh seluruh petugas yang terlibat dalam pencapaian target yang telah ditetapkan melalui proses kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari pengukuhan CP/CL sampai dengan bansos diterima kelompok, pengawalan dan bimbingan teknisnya.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 1
  7. 7. B. PENGERTIAN Dalam rangka menyamakan pengertian, definisi dan persepsi, dalam pedoman teknis ini, digunakan beberapa istilah antara lain :1) Pengolahan Hasil Pertanian adalah suatu kegiatan mengubah bahan hasil pertanian menjadi beraneka ragam bentuk dan macamnya dengan tujuan untuk memperpanjang daya simpan, dan meningkatkan nilai tambah.2) Unit Pengolahan Hasil (UPH) adalah kelompok usaha yang bergerak di bidang pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.3) Agroindustri adalah kegiatan yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate-product) maupun produk akhir (end-product).4) Alat dan mesin pengolahan adalah peralatan dan mesin yang dioperasikan dengan motor penggerak maupun tanpa motor penggerak untuk kegiatan penanganan pengolahan hasil pertanian.5) Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) adalah organisasi gabungan kelompok tani di suatu wilayah/daerah sentra produksi yang bergerak di bidang usahatani, pengolahan dan pemasaran yang anggotanya terdiri dari kelompok tani/petani.6) Kelompok tani (Poktan) adalah organisasi di suatu wilayah/ daerah yang mempunyai kegiatan di bidang usahatani, pengolahan dan pemasaran yang anggotanya terdiri dari para petani.7) Calon petani penerima dan calon lokasi (CP/CL) adalah calon penerima bantuan/kegiatan.8) Pengawalan adalah suatu kegiatan untuk memonitor kegiatan yang sedang dan sudah berjalan, sehingga menuju kepada keberhasilan.9) Dana bantuan sosial adalah stimulasi dana untuk mengatasi kendala keterbatasan kemampuan dan modal usaha poktan/gapoktan agar selanjutnya mampu mengakses modal dari lembaga permodalan secara mandiri.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 2
  8. 8. C. TUJUAN 1) Sebagai acuan teknis bagi petugas/pelaksana/pelaku usaha dalam upaya mengembangkan/mengoperasikan UPH agroindustri hortikultura. 2) Memberikan arahan kegiatan pengolahan yang sesuai dengan kaidah GMP dan keamanan pangan (food safety).D. SASARAN Terlaksana dan terkelolanya dengan baik dana APBN di Propinsi/Kabupaten/Kota penerima dana tugas pembantuan TA 2012, mulai proses pengadaan barang hingga operasionalisasi usaha oleh masyarakat (Poktan/Gapoktan) di lapangan.E. INDIKATOR KEBERHASILAN 1. Terserapnya tenaga kerja pada Sub sektor Pengolahan Hasil Pertanian 2. Terbukanya peluang usaha pengolahan pertanian 3. Meningkatnya nilai tambah dan daya saing berbasis GMP 4. Terpenuhinya bahan baku untuk industri olahan 5. Terpenuhinya permintaan pasar domestik, ekspor dan substitusi impor. Melalui upaya pengolahan sampai dengan tahun 2015 ditargetkan akan tercapai minimal 50% produk segar dapat terolah menjadi produk-produk jadi, dan produk setengah jadi untuk memenuhi pangsa pasar lokal, domestik bahkan berkemampuan eksporF. POLA PIKIR PENCAPAIAN SASARAN Dalam pengembangan usaha pengolahan hasil pertanian salah satu fokus perhatian adalah input tetap (fixed cost) yang berupa alat dan mesin pengolahan. Fokus tersebut sangat diperlukan karena di tingkat petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), alat dan mesin pengolahan merupakan kendala utama. Hal tersebut disebabkan masih tingginya biaya dan harga alat danPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 3
  9. 9. mesin pengolahan serta rumitnya tingkat teknologi sehingga memerlukan perhatian tersendiri. Peningkatan sarana dan teknologi pengolahan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil panen, menurunkan kehilangan/susut hasil, meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk. Namun demikian kenyataan di lapangan alat dan mesin pengolahan merupakan barang mewah bagi petani, kelompok tani atau Gapoktan, bahkan untuk teknologi tertentu belum dikuasai dengan baik oleh para petani . Berdasarkan kenyataan tersebut, untuk keberhasilan UPH oleh masyarakat, disamping perlunya penyediaan sarana pengolahan yang tepat juga sangat penting dilakukan pembinaan yang intensif dan berkesinambungan kepada masyarakat.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 4
  10. 10. II. PENGUATAN KELEMBAGAAN POKTAN/GAPOKTAN A. Pengorganisasian Gapoktan Pada dasarnya organisasi Gapoktan adalah organisasi yang berorientasi bisnis, bukan organisasi yang bersifat sosial. Dalam pengembangan Gapoktan diarahkan untuk memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Gapoktan harus mempunyai struktur organisasi yang dilengkapi dengan uraian tugas dan fungsi secara jelas dan disepakati semua anggota. 2. Pengurus dipilih secara demokratis oleh anggota, bertanggung jawab kepada anggota, dan pertanggungjawabannya disampaikan dalam rapat anggota gapoktan yang dilakukan secara periodik. 3. Mekanisme dan tata hubungan kerja antar anggota gapoktan disusun secara partisipatif. 4. Proses pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dan dituangkan dalam berita acara atau risalah rapat yang ditandatangani oleh pengurus dan diketahui oleh unsur pembina atau instansi terkait. 5. Anggota melakukan pengawasan terhadap pengembangan usaha Gapoktan. 6. Gapoktan membangun kerjasama kemitraan dengan pihak terkait. 7. Pengembangan Gapoktan diarahkan menuju terbangunnya lembaga ekonomi seperti koperasi atau unit usaha berbadan hukum lainnya. 8. Kepemilikan alat dan sarana pengolahan adalah milik gapoktan (bukan milik perorangan) dan dioperasionalkan oleh gapoktan. B. Pemilihan dan Penetapan Gapoktan Penerima bantuan sosial adalah masyarakat dan atau kelompok masyarakat/petani (poktan/gapoktan) yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota. Dalam pemilihan penerima bantuan sosial perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Bila di lokasi terpilih belum ada Gapoktan perlu dibentuk Gapoktan baru sesuai kebutuhan.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 5
  11. 11. 2. Sedangkan bila lokasi terpilih terdapat beberapa Gapoktan, maka dipilih satu atau dua Gapoktan yang terbaik. 3. Bantuan sosial dalam bentuk transfer dana langsung ke rekening Gapoktan/Poktan. Rekening ditanda tangani oleh Ketua bersama 1 orang Gapoktan/Poktan. 4. Bantuan sosial dalam bentuk transfer barang ke Gapoktan/Poktan, pengadaanya dilaksanakan oleh Dinas terkait dengan berpedoman pada Perpres No 54 tahun 2010. 5. Barang yang diadakan baik oleh Dinas maupun Gapoktan memperhatikan skala ekonomis UPH, peralatan yang diberikan bisa merupakan tambahan/pelengkap/penyempurnaan terhadap UPH yang sudah ada. C. Kriteria Gapoktan Penerima Sarana Pengolahan Kriteria penerima sarana agroindustri tanaman pangan adalah: 1. Telah atau akan berusaha di bidang agroindustri tanaman pangan. 2. Mempunyai aturan organisasi yang disepakati oleh seluruh anggota. 3. Mempunyai dana operasional dan manajemen usaha yang baik. 4. Mempunyai sumberdaya manusia yang memadai dan terampil. 5. Mempunyai pengurus aktif minimal Ketua, Sekretaris dan Bendahara. 6. Mempunyai potensi dan prospek pasar yang jelas. 7. Mempunyai proposal kegiatan dan rencana penggunaan anggaran/rencana usaha kegiatan kelompok (RUKK) yang disyahkan oleh petugas pendamping dan diketahui oleh Kepala dinas lingkup pertanian kabupaten/kota untuk mengembangkan agroindustri Tepung 8. Lolos seleksi CP/CL dan disetujui oleh tim teknis Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. 9. Bersedia mengikuti Pedoman/pembinaan dari Dinas Pertanian.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 6
  12. 12. Poktan/Gapoktan terpilih, wajib:a. Mempunyai rekening tersendiri atas nama lembaga untuk pengelolaan dana bantuan sosial dan ditanda tangani oleh Ketua dan 1 orang pengurus lainnya.b. Melakukan kontrak perjanjian kerja sama pemanfaatan dana dan pelaksanaan kegiatan antara Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang bersangkutan dengan Ketua Kelompok Penerima Bantuan Sosial.D. Mekanisme pelaksanaan dana bantuan sosial tugas pembantuan 1. Pembentukan Tim Teknis (Februari) Tim teknis adalah petugas/staf teknis yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Propinsi yang melibatkan petugas propinsi dan kabupaten kota dengan tugas melakukan pengawalan dan memberikan arahan baik teknis maupun adminstrasi kepada kelompok sasaran bantuan dana Tugas Pembantuan dan berkompetensi di bidang pengolahan Tugas Tim Teknis : melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan teknis, memberikan petunjuk dan arahan terhadap permasalahan, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan, bertanggung jawab sepebuhnya terhadap pelaksanaan kegiatan, melakukan koordinasi secara terpadu dengan SKPD terkait dalam rangka kelancaran teknis pelayanan, melakukan pemeriksaan lapangan terhadap lokasi, membuat berita acara pemeriksaan lokasi, memberikan pertimbangan teknis. Masa tugas Tim Teknis adalah sejak ditanda tangani SK s/d 31 Desember 2012. Setelah pengesahan SK maka Tim Teknis dapat menerima honor sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Persyaratan Anggota yang dapat direkrut menjadi tim teknis: a. Pejabat Pembina Pengolahan Hasil di tingkat Propinsi dan Kabupate b. Perekayasa Alat dan Mesin Pengolahan c. Dapat melibatkan Lembaga Penelitian d. Dapat bekerja secara optimal 2. Penentuan Calon Penerima/Calon Lokasi (CP/Cl) (Maret) Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 7
  13. 13. Penentuan CP/CL dilakukan oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dengan menilaipotensi dan usulan/proposal rencana usahanya. Proposal rencana usaha minimalmemuat diskripsi usaha saat ini, sumberdaya sarana yang dimiliki, potensi yangdapat dikembangkan, rencana usaha yang akan dilakukan dan kelayakan usahanya.Agar usulan ini dapat diterima, maka pendampingan perlu dilakukan oleh LSM, PTdan lainnya. Hasil seleksi dari Tim Teknis dituangkan dalam berita acara. Mekanismepelaksanaan dana bantuan sosial tugas pembantuan dapat dilihat pada Gambar 1. Dinas Propinsi dan atau Dinas Kabupaten/Kota 1 TIM TEKNIS 1. Petugas Teknis 2 Propinsi 2. Petugas Teknis Kabupaten 4 5 3 GAPOKTAN Gambar 1. Mekanisme pelaksanaan dana bantuan sosial tugas pembantuanKeterangan :1. Dinas Provinsi membentuk tim teknis yang terdiri dari unsur Provinsi dan atau kabupaten/kota.2. Tim Teknis melakukan pendampingan gapoktan dalam pelaksanaan dana bansos Tugas Pembantuan TA 20123. Tim teknis melakukan verifikasi (CP/CL) dan menetapkan gapoktan yang akan diusulkan sebagai calon penerima dana bansos TP TA 20124. Gapoktan mengusulkan RUKK (Rencana Usulan Kegiatan Kelompok) ke Tim Teknis untuk dinilai kelayakannya.5. Tim Teknis menyetujui RUKK yang diusulkan gapoktan untuk diproses pencairan dana TP setelah disetujui oleh KPA.3. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK) (Maret)Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 8
  14. 14. Rencana usaha kelompok (RUK) merupakan daftar kebutuhan saranapengolahan hasil yang disesuaikan dengan kebutuhan gapoktan atas dasarpersetujuan anggota yang didasarkan pada proposal yang telah diajukan keKabupaten/ Kota. RUK perlu disusun secara bersama-sama melalui musyawarahanggota kelompok dengan bimbingan Dinas Kabupaten/kota atau Tim Teknis. RUKdisusun oleh Gapoktan dan ditanda tangani oleh Ketua Gapoktan dan Pembina Teknisbidang pengolahan hasil di Kabupaten/Kota.Secara garis besar RUK berisi :- Rincian jenis alat /bahan/material atau jenis pekerjaan yang akan diasdakan/dibutuhkan dalam rangka bantuan sosial.- Satuan dan volume alat/bahan/material atau jenis pekerjaan bantuan sosial.- Harga satuan dan jumlah harga alat/bahan/material atau pekerjaan komponen bantuan sosial.4. Pembelian Alat Bansos (April-Juni) Merujuk kepada Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Sosial Tahun 2012 DitjenPPHP5. Bimbingan/Pelatihan (Juli-September) Bimbingan Teknis adalah kegiatan di tingkat Gapoktan yang dilakukan oleh TimTeknis untuk meningkatkan pemahaman terhadap teknis pengelolaan pengolahanhasil di tingkat Gapoktan. Materi Pelatihan dan Bimbingan Teknis Pemanfaatan Alatdan Mesin Pengolahan meliputi :1) Kelompok Teknis : a. Standar operasional prosedur (SOP) pengoperasiann alat dan mesin pengolahan b. Cara-cara perawatan dan perbaikan alat dan mesin pengolahan c. Manajemen perbengkelan2) Kelompok Usaha a. Analisis kebutuhan alat dan mesin pengolahan di suatu wilayah/daerahPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 9
  15. 15. b. Perhitungan/analisis kelayakan ekonomi (financial penggunaan alat dan mesin pengolahan) c. Pembukuan dan pencatatan usaha jasa, alat dan mesin pengolahan d. Akses sumber-sumber permodalan seperti skim, pelayanan, pembiayaan pertanian (SP3), kredit perbankan, dll yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan alat dan mesin pengolahan serta prosedur pemanfaatannya e. Manajemen pemasaran Demonstrasi dan promosi penggunaan jasa alat dan mesin pengolahan serta praktek lapangan3) Kelompok Manajemen Usaha a. Perencanaan usaha jasa alat dan mesin pengolahan b. Pengorganisasi usaha alat dan mesin pengolahan c. Manajemen pemasaran d. Kerjasama/kemitraan usaha e. Peningkatan kemampuan manajerial kelompok usaha f. Kewirausahaan4) Pengorganisasi alat dan mesin pengolahan secara bisnis Dalam pelaksanaan usaha jasa alat dan mesin pengolahan kepada petani/kelompok tani dan gapoktan di suatu wilayah/daerah perlu dilakukan penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang baik dan benar. Setiap gapoktan berupaya untuk mencapai kapasitas kerja alat dan mesin pengolahan yang optimal dengan cara bekerja sama/bermitra dengan petani/kelompok tani/dealer/perusahaan alat dan mesin pengolahan, dan lembaga keuangan/perbankan, industri dan pasar di daerah.6. Operasional Alat (September-Oktober)a. Operasional Alat sepenuhnya merupakan tanggung jawab Gapoktan. Sebagai penerima alat dan mesin Gapoktan perlu diberikan pendampingan/ pengawalan. Penyuluhan, peltihan bimbingan teknis agar dapat melakukan usahanya secar optimal mandiri dan profesional.b. Perjanjian pendayagunaan alatPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 10
  16. 16. Perjanjian pendayagunaan alsin pengolahan dilakukan langsung antara Kepala Dinas pertanian propinsi dengan Gapoktan. Perjanjian pendayagunaan alsin tersebut dilaksanakan segera setelah penyerahan alat dan mesin pengolahan dilakukan dan diketahui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. (Contoh surat perjanjian terlampir)7. Evaluasi Dan Pelaporan (Desember) Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pastiapakah pencapaian hasil kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaanrencana kegiatan dapat dinilai dan diplajari untuk perbaikan pelaksanaan dimasayang akan datang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output), hasil (outcome),dampak (impact) pelaksanaan kegiatan. Untuk kegiatan pengolahan hasil pertanaianmaka evaluasi dan pelaporan dilakukan dalam kurun waktu triwulanan ditujukankepada Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian Ditjen Pengolahan dan PemasaraanHasil Pertanian Kementrian Pertanian.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 11
  17. 17. III. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BIOFARMAKAKomoditas Hortikultura terdiri dari buah-buahan khususnya buah tropika (jeruk,pisang, manggis, salak, mangga); sayuran (bawang merah, kentang, tomat dan cabe);Biofarmaka (rimpang, daun, akar) serta tanaman hias dan bunga (melati, mawar, sedapmalam dan kenanga) dipilih sebagai penghela tumbuhnya industri perdesaan dengankomoditi prioritas yang dikelompokkan ke dalam kelompok emerging products yangmempunyai peluang pasar luas baik internasional maupun domestik dan kelompokproduk yang diarahkan untuk substitusi seperti jeruk. Pemilihan jenis komoditas inidiharapkan dapat mewakili dari kelompok komoditi yang ada, mempunyai potensiuntuk peningkatan dayasaing dan nilai tambah yang tinggi serta mempunyai multipliereffect yang luas terhadap peningkatan industri perdesaan.Secara khusus program peningkatan dayasaing dan nilai tambah komoditashortikultura difokuskan kepada kegiatan off farm melalui program aksi yang berkaitandengan peningkatan nilai tambah komoditas seperti penanganan pasca panen danpengolahan primer.Program peningkatan dayasaing dan nilai tambah komoditas tidak bisa berdiri sendiri,tertapi harus terintegrasi dan tidak terpisahkan dengan kegiatan hulu yang berkaitandengan budidaya hortikultura untuk peningkatan produksi dan produktivitas sampaidengan kegiatan hilir yang merupakan program penghela terciptanya peningkatandayasaing dan nilai tambah.Program peningkatan dayasaing dan nilai tambah komoditas hortikultura terdiri dariprogram aksi yang secara langsung bersentuhan dengan program penguat yangmerupakan prasyarat maupun penghela peningkatan dayasaing dan nilai tambahkomoditas.Peningkatan dayasaing dan nilai tambah dapat dicapai dengan syarat bahwa programpenguat tersebut ada dan dilaksanakan secara lintas sektoral dengan kementerianterkait maupun pemangku kepentingan lainnya seperti asosiasi dan pelaku usaha.Demikian juga dengan strategi insentif untuk mendorong tumbuhnya industriperdesaan harus ada dan dilaksanakan secara terintegrasi dan lintas sektoral.Sebagai satu komoditas, hortikultura memiliki nilai yang strategis untuk memenuhikebutuhan konsumsi dalam negeri maupun industri - industri di sub sektor yang lebihPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 12
  18. 18. hilir, untuk itu diperlukan suatu kebijakan yang mendukung upaya-upaya pencapaiannilai tambah dan daya saing dalam satu sistem agribisnis dengan program yangterintegrasi dari hulu ke hilir ditopang dengan subsektor penunjang sepertiinfrastruktur dan suprastukturnya.Permentan No.18/Permentan/OT.140/2/2010 tentang Blue Print Peningkatan NilaiTambah dan Daya Saing Produk Pertanian dengan memberikan insentif teknologi danpermodalan bagi tumbuh kembangnya agroindustri berbasis komoditas hasilhortikultura di tingkat perdesaan menjelaskan bahwa komoditas yang bernilai tambahdan berdaya saing tinggi dan berpeluang ekspor yang besar ditentukan adalahkelompok buah tropika, sayuran, Biofarmaka dan tanaman hias, sehingga pada tahun-tahun mendatang Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertaniandiarahkan pada upaya penanganan agribisnis hortikultura yang terintegrasi dalamsistim Agribisnis mulai dari subsistem down stream, supporting dan upstreamnya Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan AgroindustriBiofarmaka selama kurun waktu lima (lima tahun) pada RPJM I sesungguhnya sudahdapat diandalkan sebagai usaha yang patut diperhintungkan bagi peningkatan nilaitambah dan daya saing. Untuk produksi hortikultura tercatat bahwa selama lima tahun(2005-2009) rata-rata tingkat pertumbuhan sayuran (cabe, bawang merah, tomat dankentang) mengalami pertumbuhan sebesar 5,7%; buah tropika yang terdiri darimangga, pisang, manggis, salak, jeruk dan sukun mengalami tingkat pertumbuhan2,3%; tanaman hias yang terdiri dari bunga mawar, sedap malam dan melatimengalami tingkat pertumbuhan (-1,3%) terkecuali pada jenis melati (Jasminumsambac) mengalami tingkat pertumbuhan 0,6% per tahun, untuk Biofarmaka yangterdiri dari jahe, lengkuas, kencur, kunyit memiliki angka produksi sebesar 349.196ton (tahun 2009).Kinerja pembangunan pengolahan hasil hortikultura secara nasional dapatditunjukkan oleh besarnya pertumbuhan volume neraca perdagangan ekspor-imporproduk hortikultura menurut data BPS (2010, diolah) pada masing-masing kelompok:bunga dan tanaman hias mengalami pertumbuhan (0,33%) per tahun; tingkatpertumbuhan produksi sayuran mencapai 0,30% per tahun; sedangan untuk kelompokbuah-buahan (0,12%) per tahun. Rata-rata Volume Neraca perdagangan ekspor-imporrata-rata untuk komoditas hortikultura per tahun mencapai (0,05%), dengan demikianPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 13
  19. 19. kinerja pengolahan hasil hortikultura khususnya untuk kelompok sayuran dantanaman hias perlu terus menjadi perhatian agar volume neraca perdagangan ekspor-impornya mendapatkan posisi yang lebih baik.Kinerja pengolahan hasil hortikultura tersebut didukung oleh keberadaan unit usahapengolahan hasil hortikultura yang terdiri dari usaha besar, menengah, kecil danrumah tangga sebanyak 791 unit .Untuk mendukung upaya tersebut diharapkan tingkat pertumbuhan pelaku usahapengolahan hasil hortikultura terdiri dari usaha kecil menengah dapat dilaksanakansebanyak 10–15 pelaku usaha per propinsi per tahun.A. KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN BIOFARMAKA DI PROPINSI 1. Bimbingan Teknis dan Manajemen Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka Kegiatan ini merupakan bimbingan yang dilakukan dengan metode pertemuan teknis dalam rangka mendukung pelaksanaan Tugas Pembantuan di Kabupaten. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan outcome bimbingan penerapan GMP di tingkat Gapoktan. Input : Anggaran Bimbingan Teknis dan Manajemen Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012 Output : Terbimbingnya Gapoktan Pengolahan Hortikultura dan Biofarmaka di Kabupaten dalam penerapan GMP. Outcome : Meningkatnya kemampuan teknis Gapoktan Benefit : Meningkatnya penerapan teknologi berbasis GMP Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan BiofarmakaPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 14
  20. 20. 2. Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka Ditujukan sebagai kegiatan pendukung dana TP di Kabupaten terdiri dari : a. Inisiasi Pembentukan Asosiasi Pengolahan Karakter kegiatan ini berbentuk pertemuan untuk mendorong para pelaku usaha dapat membentuk asosiasi pengolahan hortikultura seperti asosiasi pengolahan buah, sayur, tanaman hias/bunga dan Biofarmaka. Khususnya Jawa Barat , Sulawesi Selatan tersedia dana workshop yang akan digunakan sebagai pertemuan regional wilayah Barat dan Timur. Input : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012. Output : Terbentuknya calon Asosiasi Pengolahan Outcome : Terorganisirnya pelaku usaha pengolahan hasil hortikultura dan Biofarmaka Benefit : Meningkatnya peran serta pelaku usaha dalam peningkatan nilai tambah dan daya saing. Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan Biofarmaka Hasil output Inisisasi akan dilaporkan dalam pertemuan workshop regional diwilayah Barat di Jawa Barat pada triwulan ke II dengan Peserta Sumatera- Jawa, Bali, NTB, NTT, workshop regional Wilayah Timur pada triwulan ke III dengan Peserta Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. b. Optimalisasi/revitalisasi Unit Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka Ditujukan sebagai upaya membangun sinergitas kebutuhan pelaku usaha dalam rangka mengoptimalisasikan dan merevitalisasi fungsi-fungsi peralatan yang tidak berjalan optimal atau memerlukan perbaikan fungsi sehingga dapat berjalan optimal. Karakter kegiatan ini adalah berupa Pertemuan Teknis di Propinsi.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 15
  21. 21. Input : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012. Output : Beroperasinya secara optimal unit pengolahan hasil hortikultura dan Biofarmaka Outcome : Terbangunnya sinergitas kebutuhan pelaku usaha dalam rangka optimalisasi dan revitalisasi fungsi peralatan. Benefit : Meningkatnya produktivitas unit pengolahan hasil hortikultura dan Biofarmaka Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan Biofarmaka c. Pembinaan Pengemasan dan Pelabelan Kegiatan ini ditujukan bagi peningkatan perbaikan tampilan produk olahan , maka para pelaku usaha perlu difasilitasi dengan kemasan dan design yang baik, untuk itu perlu diadakan Pertemuan Pembinaan Pengemasan dan pelabelan di Tingkat Petani. Input : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012. Output : Terlaksananya pembinaan dan berkembangnya teknologi pengemasan/pelabelan pada Unit usaha Gapoktan Outcome : Meningkatnya jumlah unit - unit usaha pengolahan hortikultura yang menggunakan teknologi pelabelan dan pengemasan yang mengacu kepada kaidah GMP Benefit : Meningkatnya penggunaan kemasan dan pelabelan yang baik dan benar di tingkat Gapoktan yang mengacu kepada kaidah GMP di tingkat Gapoktan Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan BiofarmakaPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 16
  22. 22. B. KEGIATAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN BIOFARMAKA DI KABUPATEN/KOTA Merupakan kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk segar melalui usaha-usaha pengolahan hasil ditingkat Gapoktan, kegiatan ini berbentuk fisik (pengadaan peralatan) dan non fisik (Pembinaan dan Bimtek). Dalam rangka mengoptimalisasikan koordinasi peralatan yang ada maka pada lokasi – lokasi penempatan peralatan sebelum tahun 2012, dapat dimungkinkan untuk direvitalisasi sehingga kinerja peralatan menjadi lebih baik lagi. 1. Optimalisasi/ Revitalisasi Unit Olahan Hortikultura dan Biofarmaka Revitalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan olah Unit Pengolahan Hasil Hortikultura. Sasarannya adalah untuk mengoperasikan dan mengoptimalkan Unit Pengolahan Hasil Hortikultura yang tersebar di Kabupaten/Kota untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk olahan hortikultura sesuai dengan kaidah GMP. Ruang lingkup kegiatan merupakan kegiatan bimbingan manajemen dan teknis di tingkat propinsi . Input : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012. Output : Beroperasinya secara optimal unit pengolahan hasil hortikultura dan Biofarmaka ditingkat Gapoktan penerima bantuan Outcome : Terbangunnya sinergitas kebutuhan Gapoktan dalam rangka optimalisasi dan revitalisasi fungsi peralatan. Benefit : Meningkatnya produktivitas unit pengolahan hasil hortikultura dan Biofarmaka Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan Biofarmaka 2. Fasilitasi Perbaikan Kemasan Dan Pelabelan Hortikultura dan Biofarmaka Pembinaan dan Pengembangan Kemasan Pengolahan Hasil Hortikultura Dalam rangka meningkatkan daya saing produk olahan produksi dalam negeri khususnya yang diproduksi oleh industri rumahan dan industri kecilPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 17
  23. 23. maka perlu upaya-upaya yang strategis dan sistematis yang dapat mengangkat citra dan tampilannya. Untuk itu selain penerapan GMP dan penerapan sistem jaminan mutu secara konsisten oleh pelaku usaha juga perlu adanya fasilitasi perbaikan tampilan kemasan produk olahan hasil pertanian khususnya bagi agroindustri perdesaan binaan Kementerian Pertanian Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian. Metode pelaksanaan yang dilakukan dengan cara : a. Pemilihan produk olahan UPH hortikultura yang akan diberikan fasilitasi perbaikan kemasan. b. Pengiriman produk UPH hortikultura yang akan difasilitasi perbaikan desain dan kemasan kepada disainer c. Pembuatan rencana disain dan kemasan d. Pembahasan disain dan kemasan antara disainer dan pelaku pengolah e. Perbanyakan kemasan f. Pengiriman kemasan ke produsen olahan Input : Anggaran Pertemuan Koordinasi, Sosialisasi Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka tahun 2012. Output : Terlaksananya pembinaan dan berkembangnya teknologi pengemasan/pelabelan pada Unit usaha Gapoktan Outcome : Meningkatnya jumlah unit - unit usaha pengolahan hortikultura yang menggunakan teknologi pelabelan dan pengemasan yang mengacu kepada kaidah GMP Benefit : Meningkatnya penggunaan kemasan dan pelabelan yang baik dan benar di tingkat Gapoktan penerima bantuan yang mengacu kepada kaidah GMP di tingkat Gapoktan Impact : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing olahan hortikultura dan Biofarmaka 3. Bimbingan Teknologi Dan Sarana Pengolahan Hasil Hortikultura dan Biofarmaka Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dialokasikan dalam dana Dekon propinsi. Ruang lingkup kegiatan adalah pelatihan teknis, petugas kabupaten dan pengelola UPH yang dibantu sarana dan prasaranannya pada tahun 2012Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 18
  24. 24. Tujuan : Meningkatkan kemampuan pengelola UPH dan Pembina pengolahan hasil di tingkat kabupaten Sasaran : Pembina pengolahan di tingkat propinsi dan Kabupaten Output : Terbinanya 27 propinsi dan 60 kabupaten/kota pembina pengolahan hortikultura dan Biofarmaka Outcome : Meningkatnya kualitas SDM pembina pengolahan hasil Hortikultura dan Biofarmaka pada 27 propinsi dan 60 Kabupaten/kota. Impact : Meningkatnya Pendapatan kelompok pengolahan hortikultura dan Biofarmaka di 27 propinsi dan 60 Kabupaten/kota Benefit : Meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk olahan Hortikultura dan Biofarmaka Mekanisme pelaksanaan adalah sebagai berikut : a. Materi Pelatihan 1) Kelompok Teknis : - Standar operasional prosedur (SOP) pengoperasian alat dan mesin pengolahan - Perawatan peralatan dan mesin pengolahan 2) Kelompok Usaha - Analisis kebutuhan alat dan mesin pengolahan di suatu wilayah/daerah - Perhitungan/analisis kelayakan ekonomi (financial penggunaan alat dan mesin pengolahan) - Pembukuan dan pencatatan usaha jasa, alat dan mesin pengolahan - Akses sumber-sumber permodalan seperti skim, pelayanan, pembiayaan pertanian (SP3), kredit perbankan, dll yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan alat dan mesin pengolahan serta prosedur pemanfaatannya. - Manajemen pemasaranPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 19
  25. 25. - Demonstrasi dan promosi penggunaan jasa alat dan mesin pengolahan serta praktek lapangan 3) Kelompok Manajemen Usaha - Perencanaan usaha jasa alat dan mesin pengolahan - Pengorganisasi usaha alat dan mesin pengolahan - Manajemen pemasaran - Kerjasama/kemitraan usaha - Peningkatan kemampuan manajerial kelompok usaha - Kewirausahaan 4) Narasumber Narasumber yang diundang berasal dari akademisi/perguruan tinggi yang menguasai teknologi pertanian, instansi terkait (Perindustrian, Depkes, Badan POM) serta Pelaku usaha yang sudah berpengalaman dibidang teknologi/penegmasan hasil pertanian. 5) Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan kegiatan usaha pengolahan yang dilakukan oleh Gapoktan. Kegiatan evalusi ini juga sekaligus untuk mengetahui kendala yang dihadapi Gapoktan penerima bantuan alat mesin pengolahan sehingga pemanfaatan dapat lebih terarah dan bermanfaat bagi petani di daerah. Evaluasi yang dilakukan mencakup : - Perkembangan usaha dan pemanfaatan alat dan mesin pengolahan, serta permasalahan yang dihadapi. - Perkembangan kelembagaan dan manajemen usaha Gapoktan 6) Pelaporan Perkembangan pelaksanaan kegiatan Pengembangan agroindustri hortikultura harus dilaporkan secara berkala, pelaporan mencakup : - Pelaksanaan pengadaan barang dan distribusinya. Perkembangan usaha pengadaan oleh Gapoktan, meliputi produksi, pemasaran, dan masalah/kendala yang dihadapi. - Analisis usaha pengolahanPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 20
  26. 26. - Kegiatan pendampingan yang meliputi rencana kerja dan realisasi kegiatan pengembangan agroindustri 4. Pengawalan Pengawalan dan pembinaan pemanfaatan alat dan mesin agroindustri pengolahan hasil hortikultura dilakukan secara berkelanjutan sehingga Gapoktan mampu menggunakan alat dan mesin pengolahan tersebut dengan baik. Pengawalan dan pembinaan pemanfaatan alat dan mesin pengolahan tersebut perlu didukung dana pembinaan lanjutan yang bersumber dari APBN dan APBD. Pengawalan dan pembinaan pemanfaatan alat dan mesin pengolahan perlu dilakukan baik oleh Petugas Penerima dari Pelaksanan dari Pusat maupun Dinas Propinsi dan Kabupaten. Dalam hal ini peran Dinas Pertanian Propinsi dan Kabupaten/Kota sangat menentukan keberhasilan kegiatan yang bersangkutan. Dalam kegiatan pengawalan dan pembinaan pemanfaatan alat dan mesin pengolahan, masing-masing tingkat mempunyai tugas sebagai berikut : a. Tingkat Pusat. 1) Menyusun pedoman teknis untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan 2) Menggalang kerjasama kemitraan dengan propinsi dan kabupaten/kota dalam melaksanakan advokasi, pengendalian, pemantauan dan evaluasi. 3) Melaksanakan pemantauan, evaluasi dan pembinaan pemanfaatan alat dan mesin pengolahan. 4) Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan pengembangan agroindustri hortikultura kepada Direktur Jenderal PPH. b. Tingkat Propinsi. 1) Menyusun Juklak Pengadaan Alat dan mesin Pengolahan di provinsi yang mengacu pada Pedoman Teknis Pusat.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 21
  27. 27. 2) Melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi lintas sektoral di tingkat propinsi dalam rangka pengadaan alat mesin pengolahan di provinsi. 3) Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis dan manajemen alat dan mesin pengolahan. 4) Melakukan pemantauan dan pengendalian serta menyampaikan laporan ke Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian. c. Tingkat Kabupaten/Kota. 1) Menyusun Petunjuk Teknis (JUKNIS) dengan mengacu kepada Pedoman Teknis dan Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) disesuaikan dengan kondisi teknis, ekonomi, sosial budaya setempat (spesifik lokasi). 2) Melakukan sosialisasi dan seleksi calon Gapoktan penerima alat dan mesin pengolahan. 3) Melakukan pembinaan, pelatihan, bimbingan teknis dan manajemen penggunaan alat dan mesin pengolahan di daerahnya. 4) Melakukan pemantauan, pengendalian dan evaluasi 5) Menyusun dan melaporkan hasil pemantauan, pengendalian dan evalusi kepada Dinas Pertanian Propinsi dan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian. C. LOKASI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI HORTIKULTURA DAN BIOFARMAKA (KABUPATEN) Kegiatan Pengembangan Agroindustri Perdesaan Berbasis Komoditas Hortikultura pada tahun 2012 difokuskan pada 10 komoditas berupa fasilitasi sarana/peralatan pengolahan ke beberapa Propinsi/Kabupaten/Kota seperti pada Tabel 1.Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 22
  28. 28. Tabel 1. Lokasi Pengembangan Agroindustri Perdesaan Berbasis Kawasan Hortikultura Tahun 2012NO PROVINSI KAB/KOTA KOMODITAS KEGIATAN1 NAD Kab. Pidie Cabe Pengembangan agroindustri hortikultura2 SUMUT Kab. Deli Serdang Cabe Pengembangan agroindustri hortikultura3 SUMUT Kab. Tapanuli Selatan Manggis Pengembangan agroindustri hortikultura4 SUMUT Kab. Batu Bara Cabe Pengembangan agroindustri hortikultura5 SUMBAR Kab. Solok Kentang Pengembangan agroindustri hortikultura6 RIAU Kab. Indragiri Hulu Nenas Pengembangan agroindustri hortikultura7 RIAU Kab. Kampar Nenas Pengembangan agroindustri hortikultura8 RIAU Kab. Siak Nenas Pengembangan agroindustri hortikultura9 JAMBI Kab. Muaro Jambi Jeruk Pengembangan agroindustri hortikultura10 SUMSEL Kota Pagar Alam Buah Pengembangan agroindustri hortikultura11 SUMSEL Kab. Ogan Ilir Buah Pengembangan agroindustri hortikultura12 BENGKULU Kab. Bengkulu Utara Salak Pengembangan agroindustri hortikultura13 BENGKULU Kab. Rejang Lebong Kentang Pengembangan agroindustri hortikultura14 BENGKULU Kab. Bengkulu Tengah Durian Pengembangan agroindustri hortikultura15 LAMPUNG Kab. Lampung Selatan Pisang Pengembangan agroindustri hortikultura16 LAMPUNG Kab. Lampung Tengah Semangka Pengembangan agroindustri hortikultura17 LAMPUNG Kab. Pesawaran Pisang Pengembangan agroindustri hortikultura18 LAMPUNG Kota Bandar Lampung Pisang Pengembangan agroindustri hortikultura19 JABAR Kab. Bogor buah2 an Pengembangan agroindustri hortikultura20 JABAR Kota Sukabumi Pengembangan agroindustri BIOFARMAKA BIOFARMAKA JATENG Kab. Cilacap Pengembangan agroindustri Biofarmaka21 BIOFARMAKA22 JATENG Kab. Magelang Salak Pengembangan agroindustri hortikultura23 JATENG Kab. Pati Buah Pengembangan agroindustri hortikultura24 JATENG Kab. Pekalongan Bw. Merah Pengembangan Grading Packing25 JATENG Kab. Pemalang Buah buahan Pengembangan agroindustri hortikultura26 JATENG Kab. Sukoharjo Biofarmaka Pengembangan agroindustri Biofarmaka27 JATENG Kota Semarang Biofarmaka Pengembangan agroindustri Biofarmaka28 D.I.Y Kab. Gunung Kidul Pisang Pengembangan agroindustri hortikultura29 JATIM Kab. Nganjuk Sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura30 JATIM Kab. Ponorogo Pisang Agroindustri hortikultura31 JATIM Kab. Tuban cabe Pengembangan agroindustri hortikultura32 KALBAR Kab. Sambas Jeruk Pengembangan agroindustri hortikultura33 KALBAR Kab. Kubu Raya Nenas Pengembangan agroindustri hortikultura34 KALSEL Kab. Banjar Sayuran Pengembangan Grading PackingPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 23
  29. 29. 35 KALSEL Kab. Hulu Sungai Sltn Sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 36 SULUT Kab. Minahasa Bw. Merah Pengembangan agroindustri bw. merah 37 SULUT Kota Bitung Biofarmaka Pengembangan Agroindustri Biofarmaka 38 SULUT Kota Tomohon Biofarmaka Pengembangan Agroindustri Biofarmaka 39 SULTENG Kab. Donggala Bw. Merah Pengembangan agroindustri bw. merah 40 SULTENG Kota Palu Bw. Merah Pengembangan agroindustri bw. merah 41 SULTENG Kab. Sigi Bw. Merah Pengembangan agroindustri bw. merah 42 SULSEL Kab. Bantaeng Sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 43 SULSEL Kab. Gowa Sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 44 SULSEL Kota Makassar Biofarmaka Pengembangan agroindustri Biofarmaka 45 SULSEL Kab. Toraja Utara Buah buahan Pengembangan agroindustri hortikultura 46 SULTRA Kab. Konawe Selatan Jeruk Pengembangan agroindustri hortikultura 47 SULTRA Kab. Bombana Pisang Pengembangan agroindustri hortikultura 48 BALI Kab. Bangli Jeruk Pengembangan agroindustri hortikultura 49 BALI Kab. Buleleng Kentang Pengembangan agroindustri hortikultura 50 NTT Kab. Manggarai Barat Biofarmaka Pengembangan agroindustri Biofarmaka 51 PAPUA Kab. Mimika Bw. Merah Pengembangan agroindustri bw. merah 52 PAPUA Kota Jayapura sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 53 MALUT Kab. Halmahera Barat sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 54 BANTEN Kab. Pandeglang sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 55 BANTEN Kota Cilegon sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura 56 BABEL Kab. Belitung Timur Manggis Pengembangan agroindustri hortikultura 57 KEPRI Kab.Bintan Buah Agroindustri hortikultura Buah Naga 58 PAPUA Kab. Manokwari Sayuran Pengembangan agroindustri hortikultura BARAT 59 SULBAR Kab. Majene sayuran Agroindustri hortikultura 60 SULBAR Kab. Mamasa Markisa Pengembangan agroindustri hortikulturaTabel 2. Fokus Komoditas Hortikultura Dalam Pengembangan Agroindustri Perdesaan Tahun 2012 Pola Reguler dan Kemitraan. NO PROVINSI KAB/KOTA KOMODITAS KEGIATAN Pengembangan Agroindustri hortikultura 1 JABAR Kab. Kuningan Bw. Merah HACCP 2 JATIM Kota. Malang Buah Agroindustri keripik(two in one) Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 24
  30. 30. Tabel 3. Kebutuhan Peralatan Pengolahan Beberapa Komoditas HortikulturaNo Komoditas Produk Olahan Peralatan 1 Pisang Keripik Alat perajang/ Slicer Vacuum frying Mesin Sealer Plastik Sale Blancher Alat pemipih pisang Oven pengering Mesin Sealer Plastik Tepung Alat Penepung Alat pengering Mesin Pengatus Minyak Sealer Plastik2 Nenas Juice dan Sari Alat pengupas/ Slicer Buah Nenas Blancher Alat juicer/blender/ ekstraktor Alat Pasteurisasi/ Sterilizer Alat pemasak Mesin Penutup Botol Jam/ Selai Alat pengupas Slicer Blender Alat pemasak Sterilizer Mesin Penutup Botol Dried Fruit Alat pengupas Alat pemotong Alat Pengering Sealer Plastik Keripik Slicer/ Alat perajang Vacuum frying Sealer Plastik Candy Alat Pengupas Blender Alat Penyaring Alat pemasak Tepung Alat perajang Dics Milling3 Mangga Juice dan Sari Alat pengupas Buah Blancher Extraktor Alat juicer/Blender Mesin Pemasak Sterilizer Mesin Pengemas Semi Automatic Cup Sealer Manisan kering/ Alat pengupas setengah kering Alat Pengiris/ Slicer Oven Pengering Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 25
  31. 31. Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik Dodol Mesin Blender Buah Mesin Pengaduk dan pembuat dodol Candy Alat pengupas Blender/Pulper Alat Pemasak/pengaduk Oven Pengering Mesin Pencetak Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik4 Bw. Merah Bw. Goreng Alat Pengiris/ Perajang Alat Penggoreng/ Vacum Frying Alat Peniris Minyak/ Spinner Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik Tepung Bawang Alat perajang Oven Pengering Mesin Penepung Mesin Pengayak/ Penyaring/Dics Milling Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik5 Cabe Cabe Bubuk Blancher Oven Pengering Blender Mesin Pengemasan Continue/ Sealer Plastik Saos Cabe Blancer Pulper Extraktor/ Blender Saringan (Sentrifuse) Mesin Pemasak Mesin Pencuci Botol Mesin Sterilisasi Botol Mesin Pengisi Botol Mesin Penutup Botol6 Kentang Keripik Alat Perajang/ Slicer Vacuum Frying Mesin Peniris Minyak / Spinner Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik French Fries Mesin Pengupas Kentang Alat Perajang/ Slicer Vacuum Frying Alat Pengemasan Continue/ Sealer Plastik7 Jeruk Juice dan Sari Blancher Buah Ekstractor Mesin Pemeras Jeruk Mesin Pasteurisasi Mesin Pengemas Semi Automatic Cup Sealer8 Salak Keripik Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer Vacuum frying Spinner Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 26
  32. 32. Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik Manisan Basah Alat pengupas Slicer Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik Dodol Mesin Blender Buah Mesin Pemasak dan Pengaduk Dodol Alat Pencetak Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik9 Biofarmaka Minuman Instan Mesin Pencuci Alat Perajang/ Slicer Empon-Empon Mesin Pemarut Empon-Empon Oven Pengering Mesin Penepung Mesin Pengemas Sachet/ Sealer Sachet Simplisia Mesin Penyortir Mesin Pencuci Mesin Perajang/ Slicer Slicer Oven pengering Mesin Pengemas Continue/ Sealer Plastik Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 27
  33. 33. IV. TEKNOLOGI DAN SARANA PENGOLAHANA. NENAS Rasa buah nenas adalah manis sampai agak masam menyegarkan, sehingga disukai oleh masyarakat luas. Di samping itu, buah nenas memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap. Kandungan gizi pada 100 gram buah nenas segar terdiri dari: kalori (52,00 kal), protein (0,40 g), lemak (0,20 g), karbohidrat (16,00 g), fosfor (11,00 mg), zat besi (0,30 mg), vitamin A (130,00 mg), vitamin B1 (0,80 mg), vitamin C (24,00 mg), air (85,30 g) dan bagian yang dapat dimakan (bdd) sebesar 53,00%. Selain kandungan gizi tersebut di atas, nenas juga mengandung enzim bromelain, deksterosa, laevulosa, manit, sakarosa, asam organik, ergosterol peroksida, asam ananasat, asam sitrat, dan gula. Buah nenas bukan hanya dimakan sebagai buah segar, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan olahan dan minuman. Teknologi untuk beberapa pengolahan tersebut antara lain dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini.1. Teknologi Pengolahan a. Juice Nenas Pengupasan Pencucian Pemotongan Penghancuran Penyaringan Pasteurisasi Pembotolan Juice Nenas Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 28
  34. 34. b. Sari Nenas Nenas Pemilihan Pengupasan Kulit Pencucian Pemotongan Pemarutan -Gula pasir Pemasakan -Air - Benzoat Pengemasan Sari Buah NenasPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 29
  35. 35. c. Selai/Jam Nenas Nenas Kupas dan cuci Parut Pektin Gula Campurkan Didihkan As. Sitrat Teruskan Pemanasan SelaiPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 30
  36. 36. d. Manisan Kering Nenas Pemilihan Bahan Pengupasan Pencucian I Pemotongan/Pembelahan Perendaman dalam air kapur Pencucian II Perebusan (Blancing) Dinginkan Pemasakan dalam larutan gula dan bahan tambahan makanan Pengeringan I Penambahan gula pasir Pengeringan II Pengemasan Manisan Kering NenasPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 31
  37. 37. e. Kripik Nenas Pemilihan Bahan Pemilihan Bahan Pengupasan Pengupasan Perendaman dalam Larutan Na-Bisulfit Perajangan Penggorengan I Pendinginan I Pemberian Bumbu Penggorengan II Pendinginan II PengemasanPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 32
  38. 38. f. Candy Buah Nenas Dicuci lalu kupas Blender daging buah Tambahkan : Gula (3 : 4) & Margarin Saring Panaskan sambil diaduk sampai kental Tuang dalam loyang bermentega Setelah dingin dipotong sesuai selera Gulingkan dalam gula pasir DikemasPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 33
  39. 39. 2. Alat/Sarana Pengolahan a. Sari Buah dan Juice Nenas 1) Alat Pengupas Nenas Spesifikasi: - Bahan : Stainless Steel Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 34
  40. 40. 2) Blancher Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 35
  41. 41. 3) Extractor Spesifikasi: - Penggerak : Motor Listrik - Bahan : stainless steel - Sistem pengatusan : sentrifusePedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 36
  42. 42. 4) Alat Pasteurisasi Spesifikasi: - Kapasitas : 25 Liter/ Proses - Bahan : stainless steel - Dimensi : 118 x 75 x 160 cm - Listrik : 450 Watt, 220 V - Kecepatan Mixer : 70 – 100 rpm - Tabung : Double jacket (air/ minyak)Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 37
  43. 43. 5) Mesin Penutup Botol Spesifikasi: - Penggerak : Motor Listrik - Power Supply : 220-240 V/300W - Power : 0.37 KW - Sealing Speed : 1200 bottle/ hr - Sealing Width : 10-35 mm - Diameter Suitable : 20-40 mm - Height of Bottle : 100-300 mm - Type of Cover : Plastik Cover - Machine Size : 560 x 200 x 920 mm - Machine Weight : 65 kgPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 38
  44. 44. Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 39
  45. 45. 2. Selai Nenas 1) Alat Pengupas Nenas Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 40
  46. 46. 2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer Spesifikasi: - Disk pisau : Baja - Pisau : Stainless Steel - Frame : Besi - Hopper : Stainless Steel - Posisi disk : Horizontal - Penggerak : ElektromotorPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 41
  47. 47. 3) Blender Spesifikasi: - Pisau : Ulir Stainless Steel - Penggerak : Motor Listrik - Bahan Tabung silinder : stainless steel - Bahan frame : besi - Bahan pisau : stainless steelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 42
  48. 48. 4) Mesin Pemasak dan Pengaduk Spesifikasi: - Bahan frame & tabung luar : besi - Bahan tabung bagian dalam : stainless steel - Bahan as pengaduk : stainless steel - Penggerak : Motor Listrik - Sumber pemanas : LPG - Pengatur suhu : panel otomatisPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 43
  49. 49. 5) Sterilizer Spesifikasi: - Bahan body : stainlees steel - Sistem pemanasan : LPG - Kapasitas : 1 ton - Panjang : 2000 mm - Diameter : 500 mm - Tekanan Uap : 0 – 2kg / cm² - Temperatur Uap : 115 – 130 º CPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 44
  50. 50. 6) Mesin Penutup Botol Spesifikasi: - Penggerak : Motor Listrik - Power Supply : 220-240 V/300W - Power : 0.37 KW - Sealing Speed : 1200 bottle/ hr - Sealing Width : 10-35 mm - Diameter Suitable : 20-40 mm - Height of Bottle : 100-300 mm - Type of Cover : Plastik Cover - Machine Size : 560 x 200 x 920 mm - Machine Weight : 65 kgPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 45
  51. 51. 3. Manisan Kering/Setengah Kering 1) Alat Pengupas Nenas Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 46
  52. 52. 2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer Spesifikasi: - Disk pisau : Baja - Pisau : Stainless Steel - Frame : Besi - Hopper : Stainless Steel - Posisi disk : Horizontal - Penggerak : ElektromotorPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 47
  53. 53. 3) Oven Pengering Spesifikasi: - Sumber pemanas : steam boiler tipe horisontal - Bahan Dinding dlm ruang : stainless steel pengering - Bahan dinding luar ruang : besi pengering - Bahan troli : besi - Bahan penyangga rak & : stainless steel rakPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 48
  54. 54. 4) Sealer Plastik Spesifikasi: - Tipe : FPR 400 - Listrik : 420 watt - Panjang seal : 40 cm - Heating time : 0.2-2 second - Berat : 7.5 kgPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 49
  55. 55. 4. Keripik Nenas 1) Alat Pengupas Nenas Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 50
  56. 56. 2) Alat Pengiris/ Perajang/ Slicer Spesifikasi: - Disk pisau : Baja - Pisau : Stainless Steel - Frame : Besi - Hopper : Stainless Steel - Posisi disk : Horizontal - Penggerak : ElektromotorPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 51
  57. 57. 3) Vacuum frying Spesifikasi: Ruang penggoreng : - Bahan : plat stainless stell - Sistem pemanas : kompor LPG - Sensor suhu : thermokopel - Kontrol suhu : otomatis - Wadah bahan : plat ss berlubang - Sensor suhu : thermokopel - Kontrol suhu : otomatis - Seal tabung : silicon Sistem pemvakuman - Pompa 400 W : - Sistem sirkulasi : Continue Sistem pendingin : kondensor dengan air Dilengkapi Spinner : elektro motorPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 52
  58. 58. 4) Mesin Peniris Minyak/ Spinner Spesifikasi: - Bahan frame : pipa besi - Bahan silinder : stainless steel - Bahan keranjang : vorporasi Stainless steel - Daya : 125 -500 watt - Penggerak : Elektro motorPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 53
  59. 59. Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 54
  60. 60. 5) Sealer Plastik Spesifikasi: - Tipe : FPR 400 - Listrik : 420 watt - Panjang seal : 40 cm - Heating time : 0.2-2 second - Berat : 7.5 kgPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 55
  61. 61. 5. Candy 1) Alat Pengupas Nenas Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 56
  62. 62. 2) Blancher Spesifikasi: - Bahan : Stainless SteelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 57
  63. 63. 3) Blander Spesifikasi: - Pisau : Ulir - Penggerak : Motor Listrik - Bahan Tabung silinder : stainless steel - Bahan frame : besi - Bahan pisau : stainless steelPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 58
  64. 64. 4) Mesin Pemasak dan Pengaduk Spesifikasi: - Bahan frame & tabung luar : besi, - Bahan tabung bagian dalam : stainless steel - Bahan as pengaduk : stainless steel - Penggerak : Motor Listrik - Sumber pemanas : LPG - Pengatur suhu : panel otomatisPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 59
  65. 65. 5) Oven Pengering Spesifikasi: - Bahan dinding dlm ruang pengering : stainless steel - Bahan dinding luar ruang pengering : besi - Bahan Troli : besi - Bahan Penyangga rak & Rak : stainless steel - Burner : LPGPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 60
  66. 66. 6) Alat Pencetak Spesifikasi: - Bahan Wadah : Plastik - Bahan Pemotong (pisau) : Stainless StellPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 61
  67. 67. 7) Sealer Plastik Spesifikasi: - Tipe : FPR 400 - Listrik : 420 watt - Panjang seal : 40 cm - Heating time : 0.2-2 second - Berat : 7.5 kgPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 62
  68. 68. B. PISANG Tanaman pisang ditanam di dataran rendah atau dibawah 1.000 m dpl, dengan pH antara 4,5-7,5. Beberapa jenis pisang komersial yang di kenal di Indonesia antara lain: pisang barangan, raja, raja sere, raja uli, raja jambe, raja kul, raja tahun, raja bulu, kepok, tanduk, mas, ambon lumut, ambon putih, nagka, kidang, lampung & tongkat langit. Selain dapat dimakan dalam bentuk segar, buah pisang juga dapat dioleh menjadi : tepung, keripik, gaplek, sale, pisang kalengan, selai, saribuah, dll. Teknologi untuk beberapa pengolahan tersebut dapat dilihat pada bagan alir berikut ini, dan alat/sarana pengolahan yang digunakan untuk mendukung teknologi proses pengolahan tersebut. 1. Teknologi Pengolahan a. Kripik Pisang Pemilihan Bahan Pemilihan Bahan Pengupasan Pengupasan Perendaman dalam Larutan Na-Bisulfit Perajangan Penggorengan I Pendinginan I Pemberian Bumbu Penggorengan II Pendinginan II Pengemasan Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 63
  69. 69. b. Sale Pisang Buah Pisang Dikupas Diiris Dijemur/dioven Zat Pewarna Pengawet : -Asam Cuka 25 % - Asam Sitrat Digoreng Sale Pisang Pedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 64
  70. 70. c. Tepung Pisang Buah Pisang Pemilihan Bahan Kupas Pisang dan dipotong-potong 1 cm Rendam pisang dalam larutan asam sitrat 3% dengan perbandingan pisang dan larutan asam sitrat 1:2 selama 10 menit dan tanpa perendaman larutan asam Keringkan dengan oven pada suhu 50 OC selama 6 jam Haluskan dengan Grinder dan ayak dengan ayakan ukuran 60 mesh Pengamatan warna tepung, uji kemampuan membentuk gel, rendemenPedoman Teknis Pengembangan Agroindustri Hortikultura dan Pengembangan Agroindustri Biofarmaka TH.2012 | 65

×