Materi kuliah Hukum Acara Pidana PPT

49,072 views

Published on

Published in: Education
6 Comments
17 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
49,072
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
238
Actions
Shares
0
Downloads
1,405
Comments
6
Likes
17
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Materi kuliah Hukum Acara Pidana PPT

  1. 1. HUKUM ACARA PIDANA GATOT SUGIHARTO copy right Gatot Sugiharto
  2. 2. Pengertian Hukum Acara PidanaUndang-undang tidak memberikan pengertianresmi mengenai hukum acara pidana, yangada adalah berbagi pengertian mengenaibagian-bgian tertentu dari hukum acarapidana, misalnya penyelidikan, Penyidikan,penangkapan dan lain sebagainya.
  3. 3. Prof. MULYATNOmenyebutkan bahwa HAP (HukumAcara Pidana) adalah bagian darikeseluruhan hukum yang berlakudisuatu negara yang memberikandasar-dasar dan aturan-aturan yangmenentukan dengan cara apa danprosedur macam apa, ancamanpidana yang ada pada suatuperbuatan pidana dapat dilaksanakanapabila ada sangkaan bahwa orangtelah melakukan perbuatan pidana.
  4. 4. intinya bahwa Hukum Acara Pidanaadalah Keseluruhan aturan hukum yangberkaitan dengan penyelenggaraanperadilan pidana serta prosedurpenyelesaian perkara pidana meliputiproses pelaporan dan pengaduan,penyelidikan, penyidikan, penuntutan,pemeriksaan di sidang pengadilan,putusan dan pelaksanaan putusanpidana
  5. 5. Hukum Pidana Perbuatan Apa yang dikatakanApa ? Tindak pidana Hukum Pidana MateriilSiapa ? Siapa Yang dapat dikatakan sebagai PelakuBagaimana ? Bagaimana Cara Memproses Hukum Pidana pelaku jika Formil terjadi tindak pidana
  6. 6. Hukum Acara Pidana Indonesiaada di dalam UU Nomor 8 Tahun 1981
  7. 7. Fungsi dan Tujuan Hukum Acara PidanaFungsi RepresifFungsi Preventif
  8. 8. Fungsi Represifyaitu Fungsi Hukum acara pidanaadalah melaksanakan dan menegakkanhukum pidana. artinya jika adaperbuatan yang tergolong sebagaiperbuatan pidana maka perbuatantersebut harus diproses agar ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalamhukum pidana dapat diterapkan.
  9. 9. Fungsi Preventifyaitu fungsi mencegah dan mengurangitingkat kejahatan. fungsi ini dapat dilihatketika sistem peradilan pidana dapatberjalan dengan baik dan ada kepastianhukumnya, maka orang akan berpikirkalau akan melakukan tindak pidana.
  10. 10. dengan demikian maka dapat ditunjukkan bahwa antara hukum acara pidana dan hukum pidana adalah pasangan yang tidak dapat dipisahkan dan mempunyaihubungan yang sangat erat, diibaratkan sebagai Dua sisi mata uang
  11. 11. T ujuan hukum acara pidana dalam pedoman pelaksanaan KUHAP“ Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencaridan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekatikebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana denganmenerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujurdan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelakuyang tepat didakwakan melakukan suatu pelanggaranhukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan danputusan dari pengadilan guna menemukan apakahterbukti bahwa tindak pidana telah dilakukan dan apakahorang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.
  12. 12. jika memperhatikan rumusan di atas maka tujuan hukumpidana dapat dikatakan bahwa tujuan hukum acara pidana meliputi tiga hal yaitu : mencari dan mendapatkan kebenaran melakukan penuntutan melakukan pemeriksaan dan memberikan putusan namun dari ketiga hal tersebut dapat pula ditambahkan yangkeempat yaitu melaksanakan (Eksekusi) putusan hakim
  13. 13. Siapa Yang berhak mencari dan menemukan kebenaran ?menurut hukum acara pidana yangbertugas mencari dan menemukankebenaran adalah pihak kepolisiandalam hal ini adalah penyelidik danpenyidik. kebenaran yang dimaksudkanadalah keseluruhan fakta-fakta yang terjadiyang ada hubungannya dengan perbuatanpidana yang terjadi.
  14. 14. T ujuan melakukan penuntutanadalah menjadi tugas darikejaksaan yang dilakukan oleh JPUpenuntutan harus dilakukan secermatmungkin sehingga penuntutan itumerupakan penuntutan yang tepat danbenar. sebab kesalahan penuntutan akanberakibat fatal yaitu gagalnya penuntutanyang berakibat pelaku bebas.
  15. 15. tujuan ketiga yakni melakukan pemeriksaan dan membuat dan menemukan putusan menjadi tugas hakim dipengadilan.pemeriksaan harus jujur dan tidakmemihak serta putusannya pun harusputusan yang adil bagi semua pihak.
  16. 16. Adil, Subyektif Sifatnya: Keadilan Substantif Keadilan Prosedural
  17. 17. T ujuan te r akhir dari HAP adalah melaksanakan eksekusi putusan hakim ,secara administratif dilakukan oleh jaksaakan tetapi secara operasionalnyadilakukan dan menjadi tugas lembagapemasyarakatan kalau putusan itu putusanpidana penjara, namun jika putusanya pidanamati maka langsung dilakukan oleh regutembak yang khusus disiapkan untuk itu.
  18. 18. Secara Sederhana ProsesBeracara Di Pengadilan dapatdigambarkan melalui bagan di bawah ini
  19. 19. SISTEM PERADILAN PIDANA SUB SISTEM SPPIn Put Kasus Polisi JPU PN LPOu Penyelidika Penuntutan Pemeriksaa Eksekusit n dan Membuat n perkara danPut SP3 pembinaa Penyidikan pidana n MASYARAKAT
  20. 20. Ilmu-ilmu bantu Hukum Acara Pidanauntuk mencapi tujuan hukum acara pidanatidak mudah dilakukan tanpa ada ilmu-ilmuyang membantu dalam menemukankebenaran. ilmu-ilmu ini akan sangatberguna bagi aparat penegak hukum (polisi,jaksa, pengacara ,hakim maupun petugaslembaga pemasyarakatan) oleh karena itubagi aparat penegak hukum wajibmembekali diri dengan pengetahun dariberbagai ilmu bantu.
  21. 21. ilmu-ilmu bantu yang dimaksud adalah: Logika . Ilmu bantu logika sangat dibutuhkan dalam proses penyidian dan proses pembuktian disidang pengadilan. kedua proses ini memerlukan cara-cara berpikir yang logis sehingga kesimpulan yang dihasilkan pun dapat dikatakan logis dan rasional.
  22. 22.  Psikologi sesuai dengn materi pokok ilmu ini, mak ilmu ini dapat berguna didalam menyentuh persoalan-pesoalan kejiwaan tersangka. hal ini sangat membantu penyidik dalam proses interograsi. dan hakim dapat memilih bagaimana dia harus mengajukan pertanyaan sesuai dengan kondisi kejiwaan terdakwa.
  23. 23.  Kriminalistik Peranan ilmu bantu kriminalistik ini sangat berguna bagi proses pembuktian terutama dalam melakukan penilaian fkta-fkta yang terungkap didalam sidang, dan dengan ilmu ini maka dapat dikonstruksikan dengan sistematika yang baik sehingga proses pembuktian akan lebih dapat dipertanggungjawabkan. ilmu ini yang banyak dipakai adalah ilmu tentang sidik jari, jejak kaki, toxikologi (ilmu racun) dan sebagainya.
  24. 24.  Ked o kteran Kehakiman dan Psikiatri kedokteran kehakiman dan psikiatri sangat membantu penyidik,JPU dan hakim didalam menangani kejahatan yang berkaitan dengan nyawa atau badan seseorang atau keselamatan jiwa orang.dalam hal ini hakim memerlukan keterangan dari kedokteran dan psikitri. dan ketika da yang menjelaskan tentang istilah istilah medis hakim jaksa dn pengacara tidak terlalu buta.
  25. 25.  Kriminologi Ilmu ini mempelajari seluk beluk tentang kejahatan baik sebab sebab dan latar belakang kejahatanya maupun mengenai bentuk-bentuk kejahatan. ilmu ini akan membantu terutma pada hakim dalam menjatuhkan putusan tidak membabi buta, harus melihat latar belakang dan sebab sebab yang menjadikan pelaku melakukan tindak pidana.
  26. 26.  Penologi Ilmu ini sangat membantu hakim dalam menentukan alternatif penjatuhan hukuman termasuk juga bagi petugas pemasyarakatan jenis pembinaan apa yang tepat bagi nara pidana.
  27. 27. Victimologi Ilmu Yang mempelajari seluk beluk korban Kejahatan. Ilmu ini sangat membantu dalam menentukan tindakan apa yang tepat untuk dapat memberikan santunan kepada korban.
  28. 28. Istilah-Istilah umum dalam KUHAPistilah-istilah umum dalam hukum acarapidana ada disebutkan secara rincidalam pasal 1 UU Nomor 8 Tahun1981 atau KUHAP.
  29. 29. Asas-asas dalam Hukum Acara PidanaAsas-asas yang berlaku dalam Hukum acara Pidana ada yang bersifat umum dan bersifat Khusus. yang bersifat umum berlaku pada seluruh kegiatan peradilan sedangkan yang bersifat khusus berlaku hanya didalam persidangan saja.
  30. 30. Asas-asas Umumberlaku pada seluruh kegiatan peradilan
  31. 31. Asas Kebenaran Materiilbahwa pada pemeriksaan perkara pidana lebih mementingkan kepada penemuan kebenaran materiil, yakni kebenaran yang sungguh sungguh sesuai dengan kenyataan.prinsip ini terlihat dalam proses persidangan, bahwa walaupun pelku sudah mengakui kesalahannya namun belum cukup dijadikan alasan untuk menjatuhkan alasan. beda dengan di amerika.
  32. 32. Asas Peradilan Cepat, sederhana dan biaya murah. peradilan cepat artinya. dalam melaksanakan peradilan diharapkan dapat diselenggarakann sesederhana mungkin dan dalam waktu yang sesingkat- singkatnya.Sederhana mengandung arti bahwa agar dalam penyelenggaraan peradilan dilakukan dengan cara simple singkat dan tidak berbelit-belit.Biaya murah berarti, penyelenggaraan peradilan ditekan sedemikian rupaagar terjangkau bagi pencari keadilanhal ini ada didalam Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan Kehakiman pada pasal 4 ayat (2).
  33. 33. Asas Praduga TakBersalah (Presumtion of inocene) Asas praduga tak bersalah ini menghendaki agar setiap orang yang terlibat dalam perkara pidana harus dianggap belum bersalah sebelum adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. pada semua tingkatan berlaku hal yang sama, implementasinya dapat ditunjukan ketika tersangka dihdirkan disidang pengadilan dilakukan dengan tidak diborgol
  34. 34. prinsip ini dipatuhi karena telah tertunagdalam UU No. 4 tahun 2004 pasal 8yang mengatkan “ setiap orang yangdisangka, ditangkap, ditahan dituntut dndihadapkan didepan pengadilan wjibdianggap tidak bersalah sebelum adputusan yang menyatakan kesalahannyadan telah memperoleh kekuatan hukumtetap. Asas lain yang sungguh berbeda dengan asas ini adalah asas praduga bersalah (Presumtion of Qualty) asas ini menjelaskan sebaliknya.
  35. 35. Asas Inquisitoir dan Accusatoir asas Inquisitoir adalah asas yang menjelaskan bahwa setiap pemeriksan yang dilakukan harus dengan cara rahasia dan tertutup. asas ini menempatkan tersangka sebagai obyek pemeriksaan tanpa memperoleh hak sama sekali. seperti Bantuan hukum dan ketemu dengan keluarganya.asas accusatoir menunjukkan bahwa seorang tersangka/tersangka yang diperiksa bukan menjadi obyek tetapi sebagai subyek. asas ini memperlihatkan pemerinsaan dilakukan secara terbuka untuk umum. dimana setiap orang dapat menghadirinya.
  36. 36. Indonesia Memakai yang Mana ?Di Indonesia memakai asas Inquisatoiryang diperlunak atau dapat puladikatakan Campuran. karena terdakwamasih menjadi obyek pemeriksaannamun dapt dilakukan secara terbukadan terdakwa dapat berargumen untukmembela diri sepanjang tidak melanggarundang-undang, dan prinsip ini ada padaasas accusatoir.
  37. 37. Asas Legalitas dan a sas oportunitas asas legalitas adalah asas yang menghendaki bahwa penuntut umum wajib menuntut semua perkara pidana yang terjadi tanpa memandang siapa dan bagaimana keadaan pelakunya.asas oportunitas adalah memberi wewenang pada penuntut umum untuk menuntut atau tidak menuntut seorang pelaku dengan alasan kepentingan umum. inilah yang dianut Indonesia contohnya seseorang yang memiliki keahlian khusus, dan hanya dia satu-satunya di negara itu maka dengan alasan ini JPU boleh memilih untuk tidak menuntut.
  38. 38. Asas-asas Khususasas khusus ini hanya berlakudidalam persidangan saja. asas-asasyang dimaksud adalah:
  39. 39. Asas sidang terbuka untuk umum maksud dari asas ini adalah bahwa dalam setiap persidangan harus dilakukan dengan terbuka untuk umum artinya siapa saja bisa menyaksikan, namun dalam hal ini ada pengecualianya yaitu dalam hal kasus-kasus kesusilaan dan kasus yang terdakwanya adalah ank dibawah umur. dalam hl ini dapat dilihat dalam pasal 153 (3 dan 4) KUHAP yang mengatakan “ untuk keperluan pemeriksaan hakim ketua sidang membuka sidang dn menytakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan tau terdakwanya nk-anak”.“tidakdipenuhinya ketentuan ayat (2) dan ayat (3) mengakibatkan putusan batal demi hukum”.
  40. 40. Peradilan dilakukan oleh hakim oleh karena jabatannya. A sas ini menghendaki bahwa tidak ada sutu jabatan yang berhak untuk melakukan peradilan atau pemeriksaan hingga mengambil putusan kecuali hanya diberikan pada hakim.
  41. 41. Asas Pemeriksaan langsung Prinsip ini menghendaki agar pemeriksaan yang dilakukan itu harus menghadapkan terdakw didepan sidang pengadilan, termasuk pula menghdapkan seluruh saksi-saksi yang ditunjuk. langsung artinya hakim dan terdakwa ataupun para saksi berada dalam sidang yang tidak dibatasi oleh suatu tabir apapun..namun dengan perkembangan tegnologi hal ini mungkin saja disimpangi krena sekarang sudah ada telekomfren.
  42. 42. BAB II PEMERIKSAAN PENDAHULUAN Penyelidikan Penyidikan Penangkapan Penahanan Penggeledahan Penyitaan
  43. 43. BAB II PEMERIKSAAN PENDAHULUAN Hukum acara pidana mengenal beberapa tahapan dalam menyelesaiakan perkara pidana, sekalipun secara tegas tidak ditentukan didalam KUHAP, namun berdasarkan rumusan pasal-pasal yang ada dalam KUHAP maka beberapa ahli hukum acara pidana yang ditemukan dalam berbagai literatur membagi tahapan itu menjadi 3 (tiga) tahapan yaitu: Tahapan pemeriksaan Pendahuluan, Tahapan Penuntutan dan Tahapan pemeriksaan disidang pengadilan.
  44. 44. Menurut S Tanusubroto yang dimaksud denganPemeriksaan pendahuluan adalah pemeriksaanpenyidikan atau pemeriksaan sebelum dilakukan dimuka persidangan pengadilan. Seperti halnyadengan yang disampaikan oleh Soedjono D. yaituPemeriksaan yang dilakukan apabila adapersangkaan, baik tertangkap tangan atau tidak, yangdilakukan sebelum pemeriksaan dimuka persidanganpengadilan.
  45. 45. Tentang Penyelidikan. Definisi dari Penyelidikan adalah ada di dalam ketentuan umum Pasal 1 butir 5 yang menjelaskan bahwa Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menemukan dapat atau tidaknya dilakukan penyelidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini (KUHAP).
  46. 46. pertanyaannya sekarang adalah siapa yang berwenang melakukan penyelidikan itu ?jika memperhatikan pasal 4 KUHAP yangberwenang melakukan fungsi penyelidikanadalah “setiap Pejabat polisi negara RepublikIndonesia”. dalam pasal ini ditegaskan hanyapolisi yang mempunyai kewenangan untukmelakukan penyelidikan dan pejabt diluarkepolisian tidak diperkenankan oleh undang-undang begitu pula jaksa.
  47. 47. D alam pasal 5 KUHAP diatur kewenangan penyelidik meliputi : Kewenangan berdasarkan Kewajiban (Hukum) Kewenangan berdasarkan Perintah Penyidik.
  48. 48. Kewenangan berdasarkan Kewajiban (Hukum) Menerima laporan dan pengaduan dari seseorang tentng adanya tindak pidana; mencari keterangan dan barang bukti; menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dn menanyakan serta memeriksa tnda pengenal diri; mengadakn tindkan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.
  49. 49. A.d.a. Kewenangan menerima laporan dan pengaduan informasi awal adanya tindak pidana biasanya berasal dari masyarakat, sehingga dengan dasar inilah penyelidik mengambil tindakan berikutnya sesuai kewenangannya. jika ada laporan atau pengaduan m aka penyelidik wajib untuk menerimanya.
  50. 50. B eberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan laporan dan pengduan yang harus dipenuhi yaitu: jika laporan dan pengaduan dilakukan secara tertulis maka harus ditandatangni oleh pelapor dan pengadu; jika laporan dan pengaduan diajukan secara lisan harus dicatat oleh penyelidik dan ditandatangani oleh pelapor/pengadu dan penyelidik; jika pengadu dan pelapor tidak dapat menulis, hal itu harus dicatat dalam laporan atau pengaduan (pasal 103)
  51. 51. yang membedakan antara laporan dan pengaduan ? Laporan dapat disampaikan oleh setiap orang dan merupakan kewajibannya, sementara pengaduan hanya dapat diajukan oleh orang tertentu saja buka kewajibanny tapi merupakan hak. dari segi obyeknya, laporan obyeknya adalah setiap delik/tindak pidana yang terjadi tidak ada pengecualiannya, jadi hal ini berkenaan dengan delik biasa. sementara pengaduan, obyeknya terbatas pada delik-delik aduan saja. Dari segi isinya, laporan berisi tentang pemberitahuan tanpa disertai permohonan, sedangkan pengaduan isinya pemberitahuan disertai dengan permohonan untuk segera melakukan tindakan hukum. Dari segi Pencabutan, Laporan tidak dapat dicabut kembali sementara pengaduan dapat dicabut kembali.
  52. 52. Wewenang Mencari Keterangan dan barang buktimencari keterangan dan barang bukti iniadalah dalam rangka mempersiapkan bahan-bahan berupa fakta sebagai landasan hukumguna memulai proses penyidikan.dalam mencari dan memperoleh barang buktihendaknya dilakukan dengan cara-cara yangprofesional dan berdasarkan ilmu penyelidikandan tidak terkesan yang penting untukmengejar target penyelidikan saja.
  53. 53. Apa yang dimaksud dengan Barang Bukti ?barang bukti adalah barang yangdigunakan untuk melakukan atau yangberkaitan dengan tindak pidana.Barang Bukti dengan Alat BuktiSama atau Tidak ?
  54. 54. A lat bukti disebutkan dalam pasal 184 KUHAP yaitu: Keterangan saksi Keterangan ahli Surat petunjuk keterangan terdakwa
  55. 55. Kewenangan menyuruhberhentikewenangan ini penting dimiliki oleh penyelidik , karenaberkaitan dengan adanya orang yang dicurigai yangmengharuskan penyelidik mengambil tindakanmemberhentikan guna melakukan pemeriksaan danmeminta keterangan.namun dalam hal orang yang dicurigai tidakmengindahkan peringatan penyelidik maka penyelidikpun tidak dapat melakukan upaya paksa yangdibenarkan undang-undang. karena kalau akanmelakukan penangkapan harus ada syarat-syarattertentu yang harus dipenuhi misalnya adanya suratperintah penangkapan.
  56. 56. Kewenangan penyelidik mengenai melakukan tindakan lain. Kewenangan ini dalah kewenangan yang kabur dan tidak jelas dalam pasal 5 ayat 1 huruf a angka 4 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tindakan lain adalah tindakan dari penyelidik guna kepentingan penyelidikan dengan syarat: tidak bertentangan dengan aturan hukum selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukanny tindakan jabatan tindkan itu harus patut dan masuk akal dan termasuk dalam lingkungan jabatannya atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan memaksa menghormati hak asasi manusia. meskipun telah dijelaskan dalam penjelasan tersebut namun belum memberikan penjelasan yang memuaskan, dan par ahli hukum pun msih berbeda-beda untuk memberikan contoh konkritnya.
  57. 57. Kewenangan berdasarkan Perintah Penyidik. Kewajiban dan wewenang penyelidik ini muncul manakala ada perintah dari penyidik.T indakan-tindakan yang dimaksud berupa: penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan. pemeriksaan dan penyitaan surat mengambil sidik jari dan memotret seseorang membawa dan menghadapkan seseorang pada penyelidik.
  58. 58. Tentang Penyidikan Kata Penyidikan hampir mirip dengan penyelidikan namun sesungguhnya itu sangat berbeda. penyidikan diatur dalam pasal 102-136 bagian kedua BAB XIV KUHAP, penyidik dan penyidik pembantu diatur dalam pasal 6-13 bagian kesatu dan kedua BAB IV KUHAP.
  59. 59. perbedaan antara penyelidikan dan penyidikan dilihat dari sudut pejabat yang melaksanakannya . penyelidikan pejabat yang melaksanakanya adalah yang terdiri dari pejabat POLRI saja, sedangkan Penyidikan, pejabat yang terdiri POLRI dan Pejabat Pegawai Negeri sipil (PPNS) tertentu.
  60. 60.  dari segi penekanannya tugasnya Penyelidikan penekanannya pada “mencari dan menemukan sesuatu peristiwa” yang diduga sebagai tindakan pidana. sedangkan Penyidikan penekanannya pada tindakan “mencari serta mengumpulkan bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan menjadi terang,
  61. 61.  dari segi pangkat pejabat polri, penyelidikan adalah mereka yang memiliki pangkat Letnan dua, sedangkan untuk Penyidik adalah Letnan satu keatas.
  62. 62. A dapun kewenangan penyidik dalam melakukan penyidikan dapat ditemukan dalam pasal 7 ayat (1) KUHAP sebagai berikut: menerima laporan dan pengaduan dari seseorang tentang danya tindak pidana melakukan tindakan pertama pada saat ditempatkejadian TKP menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tnda pengenal diri tersangka; melakukan penangkapan,penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat mengmbil sidik jari dan memotretseseorang; mendatangkan orang ahli diperlakukan dalam hubungannya dengan pemeriksan perkara; mengadakan penghentian penyidikan mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.kewenangan penyidik ini terlihat lebih luas dari kewenangan penyelidik
  63. 63. yang perlu dijelaskan disini adalah mengenai Penghentian penyidikan, dan dalam hal apakah seorang penyidik mengentikan penyidikannya ? pertanyaan ini dapat dijawab dengn pasal 109 ayat (2) KUHAP, berdasarkan psal ini dapat dikemukakan bahwa penyidik harus menghentikan penyidikan jika: apabila ternyata tidak cukup bukti untuk melnjutkan pekerjaannya kepengdilan untuk diadili; apabila tindakan yang dialakukan oleh seorang tersangka itu ternyata bukan merupakan suatu tindak pidana dan; (Apa yang dimaksud Tindak Pidana?) apabila penyidikan tersebut memang perlu dihentikan demi hukum.
  64. 64. dengan adanya penghentian penyidikan ini mengandung konsekuensi yuridis, sebab orang yang yang disangka telah melakukan tindak pidana tersebut kemudian diberi hak oleh undng-undang untuk dapat: mengajukan permintaankepada ketua pengadilan negeri untuk memeriksa sah dan tidaknya penghentian penyidikan yang telah dilakukan penyidik terhadap dirinya. mengjukan permintaan kepada ketua pengadilan negeri untuk mendapatkan gnti rugi dan atau rehabilitasi sebagai akibat dri sahnya penghentian penyidikan yang telah diajukan kepada ketua pengadilan negeri tersebut (pasal 81 KUHAP)
  65. 65. Tentang Penangkapan
  66. 66. pejabat yang berwenangPenangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang- undang hukum acara pidana (pasal 1 butir 20).berdasarkan bunyi pegertian diatas maka yang berwenang melakukan penangkapan adalah penyidik, namun dalam pasal 16 ayat (1) penyelidik dapat juga melakukan penangkapan asalkan terdapat perintah dari penyidik.
  67. 67. Tujuan dan alasan penangkapantujuan penangkapan disebutkan dalam 16 KUHAP yakni untuk kepentingan penyelidikan atau untuk kepentingan penyidikan,sementara itu alasan penangkapan ditentukan dalam pasal 17 KUHP yaitu: adanya dugaan keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.( bukti permulaan yang cukup minimal satu alat bukti dan satu barang bukti)
  68. 68. Syarat sahnya penangkapan dengan menunjukkan surat tugas penangkapan yang dikeluarkan oleh penyidik atau penyidik pembantu; dengan memberikan surat perintah penangkapan kepada tersangka yang mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang disangkakan serta tempat ia diperiksa; surat perintah penangkapan tersebut harus dikeluarkan oleh pejabat kepolisian negara republik Indonesia yang berwenang dalam melakukan penyidikan didaerah hukumnya; dengan menyerahkan tembusan surat perintah penangkapan itu kepada keluarga tersangka segera setelah penangkapan dilakukan
  69. 69. Bagaimana Kalau Tertangkap tangan ?dalam hal tertangkap tanganmaka penangkapan tidak perlupakai surat perintah, denganketentuan bahwa penangkapharus segera menyerahkantertangkap beserta barang buktiyang ada kepada penyidik ataupenyidik pembantu.
  70. 70. Batas waktu penangkapanpenangkapan ditentukan dalam pasal 19 ayat (1) yaitu dilakukan maksimum satu hari. jika lebih dari stu hari maka sudah terjadi pelangaran hukum dan dengan sendirinya penangkapan dianggap tidak sah. atau jika batas waktu itu dilanggar maka tersangka, keluarganya, penasehat hukumnya dapat memintakan pemeriksaan kepada praperadilan. dan sekaligus dapat menuntut ganti rugi.
  71. 71. namun akan jadi masalah jika kasusnya ada dipedalaman, maka untuk jalan keluarnya penangkapanharus dilakukan oleh penyidik sendiri agarpemeriksaannya dapat dilakukan sesegera mungkinditempat terdekat. atau kalau tidk begitu dapatdilakukan surat perintah menghadap bukan suratperintah penangkapan.
  72. 72. Tentang Penahanan
  73. 73. A lasan penahananAlasan penahanan dibagi dua yaitu alasan obyektif dan alasan subyektifAlasan Obyektifyaitu: karena undang-undang sendiri yang menentukan tindak pidana mana yang akan dikenakan penahanan; hal ini ditentukan dalam pasal 21 ayat 14 ayat (4) KUHAP yaitu:  perbuatan pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih;  perbuatan pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 335, 351 dan sebagainya.
  74. 74. Alasan Subyektifyaitu: alasan yang muncul dari penilaian subyektif pejabat yang menitikberatkan pada keadaan dan keperluan penahanan itu sendiri. hal ini ditentukan dalam pasal 21 ayat (1) KUHAP yaitu:  adanya dugaan keras bahwa tersangka terdakwa melakukan tindak pidana berdsarkan bukti permulaan yang cukup;  adanya keadaan yang menimbulkan kekawatiran bahwa tersangka dan terdakwa akan melarikan diri;  adanyakekawatiran tersangka atau terdakwa merusak dan atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana.
  75. 75. Siapa yang berwenang melakukan penahanan ? Pejabat yang berwenang melakukan penahanan adalah: Penyidik Penuntut umum Hakim pengadilan negeri Hakim pegadilan Tinggi Hakim mahkamah Agung
  76. 76. waktu penahanan dan perpanjangannya dapat dirangkum dalam tabel dibawah ini:No Pejabat Lama Pejabat Lama Jumla Penahanan Penahanan Perpanjangan Perpanjanga h n1 Penyidik 20 H Penuntut umum 40 H 60 H2 Penuntut 20 H Ket. PN 30 H 50 H umum3 hakim PN 30 H Ket. PN 60 H 90 H4 Hakim PT 30 H Ket. PT 60 H 90 H5 Hakim MA 50 H Ket. MA 60 H 110 H Total 400 H
  77. 77. penahanan tersebut pada masing-masing tingkatan masihmungkin diperpanjang lagi sebagaimana diatur dalam pasal 29 KUHAP. dalam hal ini perpanjangan dilakukan dalam hal: Tersangka atau tedakwa menderita gangguan fisik atau mental berat, yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter, atau perkara yang diperiksa diancam penjara sembilan tahun atau lebih.
  78. 78. yang memberikan perpanjangan berbeda dengan pada saatpertama, dapat digmbarkan dalam tabel dibawah ini:No Pejabat Penahanan Pejabat Perpanjangan Jumlah Perpanjangan Jumlah Perpanjangan Jumlah Pertama Kedua1 Penyidik Ket. PN 30 H 30 H 60 H2 Penuntut Ket. PN 30 H 30 H 60 H umum3 Hakim PN Ket. PT 30 H 30 H 60 H4 Hakim PT MA 30 H 30 H 60 H5 Hakim MA Ket. MA 30 H 30 H 60 H Total 300 H
  79. 79. Penagguhan Penahananpenangguhan penahanan ini sifatnya permohonan, sehingga dikabulkan dan tidaknya sangat tergantung pada pejabat yang menahannya. penangguhan penahanan dalam undang=undang dapat dilakukan dengan jaminan maupun tidak dengan jaminan namun hampir disetiap praktek tidak pernah ada penangguhan yang tidak pakai jaminan.
  80. 80. KUHAP membagi jenis penahanan menjadi 3 yaitu: Penahanan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Penahanan Rumah Penahanan Kota (pasal 22 ayat (1))  pada tahanan rumah tahanan negara maka masa penahanan itu dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan,  untuk tahanan kota pengurangan tersebut seperlima (1/5) dari jumlah lamanya waktu penahanan,  sedangkan dalam tahanan rumah dikurangkan sepertiga (1/3)
  81. 81. PerhitungannyaPidana yang dijatuhkan = 10 bulanTahanan Rutan = 3 bulanPerhitungannya 10 - 3 bulanSisa Hukuman = 7 bulanPidana yang dijatuhkan = 10 bulanTahanan Rumah = 3 bulanPerhitungannya 10 – (1/3 x 3) bulan = 9 bulanpidana yang dijatuhkan = 10 bulantahanan kota = 3 bulanperhitungannya 10 – (1/5 x 3) bulan 10 – (1/5 x 90 hari) 10 – (90/5) 10 – (18) = 9 bulan,12 hari
  82. 82. LatihanJoni sebagai tersangka penganiayaan di kab bantul,tertangkap dan ditahan di tingkat kepolisian selama 30 harikemudian berkas dilimpahkan ke kejaksaan dan joni ditahanselama 15 hari, setelah selesai proses di kejaksaan makakasus joni dilimpahkan kepengadilan dan joni ditahan olehpengadilan negeri selama 15 hari pula. Setelah melaluiproses pemeriksaan di Pengadilan Joni terbukti secara sahdan meyakinkan telah melakukan tindak pidanapenganiayaan dan dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Joniketika ditahan dengan status tahanan kota,PertanyaanyaBerapa hukuman yang masih harus dijalani joni setelahdikurangi dengan masa tahanannya ?
  83. 83. PerhitungannyaHitung masa Hukumanya Berapa ?2 Tahun = 24 BulanHitung Total Penahanan yang dilakukan !Polisi = 30 hariJaksa = 15 hariHakim = 15 hariTotal = 60 hari = 2 BulanJenis PenahananTahanan Kota = 1/5Rumus:Jumlah Hukuman – (Jenis Penahanan x Jumlah Penahanan)
  84. 84. Next24 – (1/5 x 2 bulan)Kalau sulit, hitung pakai hari saja !24 – (1/5 x 60 hari )24 – (1x60 : 5 )24 – (60 : 5)24 – 1224 = 720 hari – 12 hari=708 hari (bisa dibulankan kembali)
  85. 85. Tentang Penggeledahan
  86. 86. pada prinsipnya tak seorangpun yang boleh dipaksamenjalani gangguan secara sewenang-wenang dantidak sah terhadap kekuasaan pribadinya, keluarganya,rumahnya atau surat menyuratnya. sekalipun demikianundang-undang memberikan kewenangan kepadapenyidik untuk melakukan penggeledahan demikepentingan penyidikan. KUHAP membagi penggeledahan menjadi dua yaitu: penggeledahan rumah dan penggeledahan pakaian dan badan. kedua penggeledahan tersebut harus dilakukan oleh oleh penyidik atau penyelidik atas perintah penyidik. dan dalam pelaksanaanya harus memperhatikan prinsip-prinsip atau syarat-syarat yang telah ditentukan undang-undang.
  87. 87. Prinsip atau syarat yang harus diperhatikan dalam melakukan penggeledahan rumah adalah bahwa: Penyidik harus mempunyai surat izin dari ketua pegadilan negeri setempat ( pasal33 ayat (1)) setiap memasuki suatu rumah, seseorang penyidik harus menunjukkan tanda pengenal (pasal 125) jika penggeledahan itu dilakukan atas perintah tertulis penyidik maka penyelidik yang menjalankan perintah itu harus menunjukkan surat tugas; Penyidik harus ditemani oleh dua orang saksi dalam hal tersangka ataupenghuninya menyetujuinya, jika yang terakhir ini menolak atau tidak hadir penyidik harus disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan serta dua orang saksi (pasal 33 ayat (3)) pelaksanaan dan hasil dari penggeledahan rumah itu, penyidik harus membuat suatu berita acara dalam dua hari dan turunannya di sampaikan kepada pemilik atau penghuni rumah yang bersangkutan (pasal 33 ayat (5)).
  88. 88. Tempat-tempat yang dikcualikan dantidak diperkenankan untukmemasukinya adalah:Ruang dimana sedang berlangsung sidang MPR dan DPRtempat dimana sedang diadakan /berlangsung ibadah dan atau upacara keagamaan;ruang dimana sedang berlangsung sidang pengadilan.
  89. 89. Penggeledahan badan, undang-undangtidak menjelaskan,Namun dalam hal penggeledahanbadan ini termasuk juga pada ronggabadan. penggeledahan seorang wanitadilakukan oleh seorang wanita
  90. 90. Tentang Penyitaan
  91. 91. Penyitaan berbeda denganpenggeledahan walaupunsama-sama merupakan upayapaksa,Jika penggeledahan tujuanya untuk kepentinganpenyelidikan atau untuk kepentinganpemeriksaan penyidikan, sedangkanpenyitaan tujuanya untuk kepentinganpembuktian terutama ditujukan untuk barang buktidimuka sidang.
  92. 92. penyitaanadalah tindakan hukum yang dilakukan padatahap penyidikan. sesudah lewat tahappenyidikan tak dapat lagi dilakukan penyitaanuntuk dan atas nama penyidik. karena pasal38 menegaskan bahwa yang berwenangmelakukan penyitaan adalah penyidik.
  93. 93. Bentuk-bentuk penyitaan dapat dibagi menjadi 3 yaitu: penyitaan biasa atau umum; penyitaan dalam keadaa perlu dan mendesak; penyitaan dalam keadaan tertangkap tangan.
  94. 94. Penyitaan biasa penyitaan biasa adalh penyitaan yang menggunakan atau memlalui perosedur biasa yang merupakan aturan umum penyitaan.adapun tata cara pelaksanaan penyitaan bentuk yang biasa atau umum dilakukan dengan cara: harus ada surat izin penyitaan dari pengadilan negeri; memperlihatkan atau menunjukkan tanda pengenal; memperlihatkan benda yang akan disita; penyitaan dan memperlihatkan benda sitaan harus disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan dan dua orang saksi; membuat berita acara penyitaan membungkus benda sitaan.
  95. 95. Penyitaan dalam keadaan perlu dan mendesakcara ini sebagai pengecualian dari penyitaan biasa, pasal 38ayt 2 memberikan pengecualian untuk memungkinkanmelakukan penyitaan tanpa menggunakan prosedur bakuataudengan memperoleh surat izin dari PN, hal inidiperlukan untuk memberikan kelonggaran bagi penyidikuntuk bertindak cepat sesuai dengan keadaan yangdiperlukan.dalam hal penyitaan tanpa menggunakan izin ini ataudengan kata lain penyitaan dalam keadaan perlu danmemaksa, ini hanya dilakukan terhadap benda bergerakdan untuk itu wajib segera dilaporkan kepada ketuapengadilan untuk mendapatkan persetujuan (pasal 38 ayat(2)).
  96. 96. Penyitaan dalam hal tertangkap Tanganjenis ini juga pengecualian dari penyitaan biasa. penyitaan dalam keadaan tertangkap tangan ini berdasarkan pasal 40 dapt dikenaklan terhadap benda dan alat: yang ternyata digunakan untuk melakukan tindak pidana atau benda dan alat yang “patut diduga” telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana; atau benda lain yang dapt dipakai sebagai barang bukti.
  97. 97. Berkenaan dengan benda benda sitaan ini perlu juga memperhatikan ketentuan pasal 45 KUHAP sebagai berikut: Dalam hal benda sitaan tediri dari benda yang mudah lekas rusak atau membahayakan, sehingga tidak mungkin untuk disimpan terlalu lama sampai adanya putusan pengadilan, sehingga dalam kondisi seperti ini sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat mengambil tindakan sebagi berikut:  apabila perkara masih ada ditangan penyidik atau penuntut umum, benda tersebutdapat dijual lelang atau diamankan oleh penyidik atau penuntut umum dengan disaksikan oleh tersangka dan kuasanya;  apabila perkara sudahditangan pengadilan, maka benda tersebut dapat dijual oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan yang disaksikan terdakwa dan kuasanya.
  98. 98. Next  hasil pelelangan benda yang bersangkutan yang berupa uang dipakai sebagai barang bukti;  guna kepentingan pembuktian sedapat mungkin disisihkan sebagian kecil dari benda;  benda sitaan yang bersifat terlarang atau dilarang untuk diedarkan, tidak termasuk ketentuan ini misalnya narkoba.adapun tempat penyimpanan barang sitaan adalah rumah penyimpanan benda sitaan negara ataudisingkat dengan sebutan RUPBASAN.
  99. 99. BAB IIIPERIHAL TAHAPAN PENUNTUTAN
  100. 100. Ketika pemeriksaan pendahuluan selesai, makauntuk selanjutnya adalah tahapan penuntutan.tahapan ini merupakan rangkaian dalampenyelesaian perkara pidana sebelum hakimmemeriksanya di sidang pengadilan.penuntutan itu sendiri adalah kegiatanmelimpahkan perkara pidanakepengadilan. didalam melimpahkanperkara itu tidak sekedar membawaperkara kepengadilan tapi ada beberapahal yang dilakukan sebelum perkara itudisampaikan kepengadilan.
  101. 101. menurut martiman prodjohamidjoyo, sebelum jaksa melimpahkan perkara pidana kepengadilan dankemudian melakukan penuntutan, ia wajib mengambil langkah-langkah seperti: menerima dan memeriksa berkas perkara; mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan segera mengembalikan berkas kepada penyidik dengan memberikan petunjuk untuk penyempurnanya; ( waktunya 7 hari untuk wajib memberi tahukankekurangannya) memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik; membuat surat dakwaan
  102. 102. Next melimpahkan perkara kepegadilan; menyampaikan pemberitahuan kepada ersangka tentang ketentuan persidangan dengan disertai panggilan, kepada tedakwa maupun saksi-saksi; melakukan penuntutan; menutup perkara demi kepentingan hukum; melakukan tindakan lain dalam ruang lingkup dan tanggungjawab sebagi penuntut umum; melaksanakan putusan hakim.
  103. 103. Pra Penuntutanistilah Pra penuntutan ada dalam pasal 14 KUHAP “ mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikanketentuan pasal 110 ayat (3) dan (4) dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaanya penyidikan dari penyidik.waktu yang diberikan kepada penuntut umum untuk “meneliti dan mempelajari” adalah 7 hari.
  104. 104. PenuntutanPenuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkar pidna kepengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurt cara yang diatur oleh undang-undang dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim disidang pengadilan.menurut Wirjono menuntut seorang tedakwa dimuka hakim pidana adalah menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas perkaranya kepada hakim, dengan permohonan, supaya hakim memeriksa dan kemudian memutuskan perkara pidana itu terhadap terdakwa.
  105. 105. Tujuan melakukan penuntutanadalah untuk mendapatkan penetapan dari penuntutumum, tentang adanya alasan yang cukup untukmenuntut seseorang terdakwa dimuka hakim.penuntut umumberwenang melakukan peuntutanterhadap siapa saja yang didakwa melakukan suatutindak pidana dalam daerah hukumnya denganmelimpahkan perkara kepengadilan yang berwenangmengadili (pasal 237)
  106. 106. yang dimaksud dengan “daerah hukum” daerah dimana menjadi kewenangannyadalam melakukan penuntutan. daerah hukum atau wilayah hukum kejaksaan negeri adalah sama dengan daerah hukum atau wilayah hukum pengadilan negeri. wilayah suatu pengadila negeri adalah Kabupaten/kota.
  107. 107. pasal 141 menentukan bahwa penuntut umum dapat menggabungkan perkara dan membuatnya satu surat dakwaan, apabila pada waktu dan saat yang sama atu hampir bersamaan ia menerima beberapa berkas. syarat yang ditentukan oleh undang-undang. yaitu: beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan hlangan terhadap penggabungannya; beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang lain; beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang lain itu ada hubungannya, yang dlam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan.
  108. 108. bahwa yang dimasud dengan bersangkut paut satu dengan yang lain itu apabila tindak pidana tersebut dilakukan: oleh lebih dari seorang yang bekerjasama dan dilakukan pada saat yang bersamaan; oleh lebih dari seorang pada saat dan tempat yang berbeda tetapi merupakan pelaksanaan dari permufakatan jahat yang dibuat mereka sebelumnya;
  109. 109. Namun dalam pasal 142Memungkinkan melakukan pemisahan perkara, dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa perkara. seperti kasus terorieme dan korupsi yang melibatkan banyak pejabat misalnya
  110. 110. Menghentikan Penuntutanmenghentikan penuntutan berarti telahterjadi penuntutan namun karena terdapatbeberapa hal seperti terdapat dalam pasal140 ayat (2),karena tidak cukup bukti, ternyata bukanmerupakan tindak pidana, dan perkaraditutup demi hukum.
  111. 111. Surat DakwaanKetika penuntut umum telah menentukan bahwa dari hasil pemeriksaan penyidikan dapat dilakukan penuntutan, ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwan dan setiap penuntut umum melimpahan perkara kepengadilan selalu disertai dengan surat dakwaan sebagai dasar pemeriksaan yang dilakukan oleh hakim dipengadilan.
  112. 112. KUHAP tidak menyebutkan pengertian surat dakwaan, KUHAP hanya menyebutkan ciri dan isi dari surat dakwaanseperti disebutkan dalam pasal 143 ayat (2) yakni.... surat dakwaan yang diberi tangal dan ditandatangani serta berisi: nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka; uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu (Tempus Delicty) dan tempat tindak pidana itu dilakukan (Locus Delicty).
  113. 113. Bentuk Surat Dakwaan surat dakwaan dapat disusun dalam berbagai bentuk tergantung kepeda perkara yang terjadi. oleh karena itubentuk dakwaan dapat dibagi menjadi empat macam:
  114. 114. Macam-macam Dakwaan Dakwan yang disusun secara tunggal (dakwaan tunggal) dakwaan ini dibuat untuk menuntut satu orang atu lebih yang dituduh melakukan satu perbuatanpidana saja, misalnya terdakwa hanya melakukan perbuatan pencurian (biasa) pasal 362 KUHP; Dakwaan Kumulatif dakwaan ini dibuat untuk menuntut seorang terdakwa atau lebih yang melakukan lebih dari satu perbuatan pidana, misalnya: disamping i melakukan perbuatan pencurian, ia pula membawa senjata api tanpa izin yang berwajib, artinya terdakwa (terdakwa-terdakwa) didakwa melakukan dua macam perbuatan pidana sekaligus. biasanya dakwaan ini ditandai dengan memberikan nomor urut dari dakwaan misalnya kesatu, kedua dan seterusnya.
  115. 115. Dakwaan Secara Alternatifdakwaan ini menurut Prof. Bambang Purnomo dibuat untuk menentukan perkara pidana yang terdapat keraguraguan mengenai jenis perbuatan pidana mana yang paling tepat, sehingga dalam penuntutan diserahkan kepada pengadilan untuk memilih secara tepat berdsarkan hasil pembuktian sidang agar mendapat putusan satu jenis perbuatan pidana saja dari beberapa jenis yang dituduhkan. misalnya keragu-raguan untuk menuduh dengan dakwaan “kejahatan pencurian “ ataukah “kejahatan penggelapan”, dengan menunjuk kata “atau” di antara perbuatan- perbuatan yang dituduhkan dari dua pokok perbuatan.
  116. 116. Dakwaan secara Subsidairdakwaan ini disusun untuk menuntut perkara pidana lebihdari satu dakwaan yang disusun dengan mempertimbangkan bobot pidana, pidana yang berat ditempatkan pada deretan pertama yang disebut sebagai dakwaan primer, kemudian disusul dengan dakwan yang lebih ringan sebagai dakwan subsidair. mungkin masih ada lagi yang lebih ringan dengan dakwaan Lebih subsidair dan seterusnya.sebagai contoh dakwaan subsidair dalam kejahatan yang serupa, misalnya: untuk kasus “pembunuhan berencana” yang bobotnya lebih tinggi/tertinggi, ditempatkan lebih dahulu sebagai dakwaan primer. kemudian untuk “pembunuhan dengan sengaja”yang bobotnya lebih rendah ditempatkan pada dakwaan subsidair, seterusnya untuk “penganiayaan yang mengakibatkan mati” bobotnya lebih rendah lagi ditempatkan sebagai dakwaan lebih Subsidair.penempatan dakwaan primer, subsidair dan lebih subsidair dimaksudkan agarhakim memeriksa dakwaan primer dahulu, dan jika dakwaan primersudah terbukti maka dakwaan yang lain tidak perlu dibuktikan, namun jika dakwaan primer tidak terbukti maka hakim harus memeriksa dakwaan subsidair begitu seterusnya.
  117. 117. BAB IVPERIHAL PEMERIKSAAN DAN PUTUSAN PENGADILAN
  118. 118. Kompetensi Pengadilan Pidanakompetensi pengadilan pidana atau sering disebut juga wewenang pengadilan untuk mengadili perkara pidana yang diajukan kepadanya. kompetensi pengadilan dalam teori dibagi dalam dua bagian yakni kompetensi absolut dan kompetensi relatif.
  119. 119. Kompetensi Absolutkompetensi absolut adalah kewenangan pengadilan untuk mengadili perkara berdasarkan atas tingkatan pengadilan lain. tingkatan pengadilan sebagaimana yang dikenal selama ini adalah pengadilan tingkat pertama (PN) dan pengadilan tingkat kedua (PT dan MA) sementara jenis-jenis pengadilan adalah Peradilan Umum, peradilan militer, PTUN dan Pengadilan Agama.
  120. 120. next atas dasar tingkatan dan jenis pengadilan inilah maka kewenangan masing-masing pengadilan itu berbeda satu dengan yang lain tedapat beberapa prinsip yang memperlihatkan kewenangan masing-masing. prinsip pertama: Pengadilan Negeri (PN) berwenang mengadili semua perkara pidana yang belum pernah diadili dan belum memperoleh putusan Prinsip kedua: Pengadilan tinggi (PT) berwenang mengadili perkara yang sudah diputus oleh pengadilan negeri. Prinsip ketiga: Mahkamah Agung (MA) berwenang mengadili perkara pidana yang dimintakan kasasi kepadanya.
  121. 121. Kompetensi Relatifkompetensi relatif adalah kewenangan pengadilan mengadili perkara berdasarkan wilayah kekuasaanya hukum. wilayah hukum dari satu pengadilan negeri adalah satu wilayah kabupaten/kota.didalam kompetensi relatif terdapat prinsip- prinsip untuk menentukan adanya kewenangan mengadili. prinsip-prinsip tersebut dapat diketemukan dalam berbagi pasal dalam KUHAP yakni sebagai berikut:
  122. 122. Prinsip Pertamaprinsip ini dapat dijumpai didalam pasal 84 KUHAP yaitu: Pengadilan Negeri berwenang mengadili segala perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam daerah hukumnya. Pengadilan negeri yang dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat tinggal, berdiam terakhir, di tempat ia diketemukan atau ditahan, hanya berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut, apabila tempat kediaman sebagaian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada pengadilan negeri itu daripada tempat kedudukan pengadilan negeri yang di dalam daerahnya tindak pidana itu dilakukan;
  123. 123. Next apabila seorang terdakwa melakukan beberapa tindak pidana dalam daerah hukum berbagai pengadilan negeri, maka tiap pengadilan negeri tiu masing-msing berwenang mengadili perkara pidan itu; terhadap beberapa perkara pidana yang satu sama lain ada sangkutpautnya dan dilakukan oleh orang yang sama dalam derah hukum berbgi pengadilan negeri, diadili oleh masing-msing pengadilan negeri dengan ketentuan dibuka kemungkinan penggabungan perkara tersebut.
  124. 124. Prinsip keduaprinsip kedua ini ada dalam pasal 85 KUHAPpasal ini menentukan bahwa didalam halkeadaan daerah tidak mengijinkan suatupengadilan untuk mengadili suatu perkara,maka atas usul ketua pengadilan negeri ataukepala kejaksaan negeri yang bersangkutan,mahkamah agung mengusulkan kepadamenteri kehakiman (menteri yang berwenangkalau tidak ada menteri kehakiman mislnyamenteri Hukum dan HAM) untuk menetapkanatau menunjuk pengadilan negeri lain.
  125. 125. Prinsip KetigaPrinsip ketiga ini menentukan bahwa pengadilanyang berwenang mengadili perkara pidana yangdilakukan diluar negeri adalah pengadilannegeri jakarta pusat. hal tersebut dapat dilihatdalam ketentuan pasal 86 KUHAP yangbunyinya: apabila seseorang melakukan tindakpidana diluar negeri yang diadili menurt hukumRepublik Indonesia maka pengadilan negerijakarta pusat yang berwenang mengadilinya.
  126. 126. Pemeriksaan disidang pengadilanProses pemeriksaan perkara disidang pengadilan dapat dilakukan dengan menggunakan tiga macam pemeriksaan perkara tergantung pada berat dan ringannya perkaranya yaitu:  Pemeriksaan dengan acara biasa;  pemeriksaan dengan acara singkat;  Pemeriksaan dengan Acara cepat.
  127. 127. Tahap pemeriksaan dengan acara biasa Tahap pemanggilan Tahap pembacaan surat dakwaan Tahap eksepsi Tahap pembuktian Tahap requisitoir/tuntutan pidana Tahap Pledoi/pembelaan Tahap replik/duplik Tahap putusan hakim.
  128. 128. Tahap Pemanggilanketika berkas perkara sudah sampai kePengadilan, ketua pengadilan menunjukhakimyang akan memeriksa perkara tersebut.selanjutnya hakim yang ditunjuk menetapkanhari sidang dan memerintahkan kepadapenuntut umum supaya memanggil terdakwadan saksi-saksi yang akan diajukan kepersidangan
  129. 129. Pasal 152 ayat (2) KUHAPmengatakan bahwa pemanggilan terdakwa dan saksidilakukan dengan suratpemanggilan oleh penuntutumum secara sah, dan harus sudah diterima olehterdakwa dalam jangka waktu sekurang-kurangnyatiga hari sebelum sidang dimulai. Selanjutnya dalampasal 146 ayat (1,2) menyatakan bahwa suratpanggilan memuat tanggal, hari serta jam dan untukperkara apa mereka dipanggil.
  130. 130. sementara menurut ketentuan pasal 145 KUHAP bahwa surat panggilan tersebut hanya dapat dipandang sebagai surat panggilan yang sah apabila surat: panggilan itu disampaikan kepada terdakwa dialamat tempat tinggalnya atau apabila tempat tinggalnya tidak diketahui, maka disampaikan dialamat kediamannya terakhir; apabila terdakwa tidak ada ditempat tinggalnya atau ditempat kediaman terakhir, surat panggilan disampaikan melalui kepala desa yangbedaerah hukum tempat tinggal terdakwa atau tempat kediaman terakhir; dalam hal terdakwa ada dalam tahanan surat panggilan disampaikan kepadanya melalui pejabat rumah tahanan negara; penerimaan surat pangilan oleh terdakwa sendiri ataupun oleh orang lain, dilakukan dengan tand penerimaan; apabila tempat tinggal maupun tempat kediaman terakhir tidak dikenal, surat panggilan ditempelkan pada tempat pengumuman digedung pengadilan negeri yang berwenang mengadilinya.
  131. 131. Apakah setelah dipanggil tersangka pasti hadir ?dalam hal tersangka tdak hadir, makahakim ketua sidang meneliti apakahterdakwa sudah dipanggil secara sah.jika terdakwa tidak di-panggil secara sahhakim ketua sidang menunda sidangdan memerintahkan supaya tedakwadipanggil sekali lagi.
  132. 132. jika terdakwa ternyata telah dipanggil secara sah namun tidak hadir tanpa alasan yang sah pulapemeriksaan perkara tersebut tidak dapat dilakukan dan hakim memerintahkan agr terdakwa dipanggil sekali lagi. setelah dipanggil sekali lagi tidak hadir juga maka hakim ketua sidang memerintahkan agr terdakwa dihadirkan dengan paksa pada sidang pertama berikutnya.
  133. 133. Tahap Pembukaan dan Pemeriksaan identitas terdakwa Hakim, penuntut umum dan penasehat hukum menempati tempat duduknya masing-masing; hakim ketua kemudian membuka sidang (dengan ketentuan asas sidang dibuka dan terbuka untuk umum) kecuali dalam hal kasus kesusilaan dan terdakwanya anak kecil. Menghadirkan tersangka Pemeriksaan identitas yaitu: Nama, umur, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal terakhir, agama, pekerjaan. setelah itu hakim ketua kemudian bertanya apakah tedakwa dalam keadaan sehat dan siap diperiksa,
  134. 134. Tahap Pembacaan Surat Dakwaan Hakim ketua memerintahkan kepada jaksa penuntut umum untuk membacakan surat dakwaan, dengan dibacakannya surat dakwaan ini maka proses pemeriksan telah dimulai.Secara singkat Surat dakwaan itu harus memuat secara jelas tentang:  Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, agama dan pekerjaan tersangka;  uraian secara singkat, jelas dan lengkap perbuatan pidana yang dilakukan dengan menyebutkan waktu dan tempat perbuatan pidana dilakukan.
  135. 135. Untuk proses lengkapnya bisa di copy!!
  136. 136. Pemeriksaan dengan Acara singkat Pada prinsipnya hampir sama dengan acara biasa, hanya saja terdapat sedikit perbedaan yaitu:  Penuntut umum tidak perlu membuat surat dakwaan secara tertulis (cukup dengan lisan)  Putusan hakim cukup di tuliskan dalam berta acara persidangan, dan tidak perlu di buat seperti putusan pada umumnya, (putusan ini sidah memiliki kekuatan hukum tetap)
  137. 137. Pemeriksaan dengan acara cepat. Cara ini terdapat perbedaan dengan kedua acara sebelumnya; Pemeriksaan dengan acara cepat dibagi dua menurut KUHAP yaitu:  Pemeriksaan tindak pidana ringan (Tipiring) yatu tndak pidana yang diancam hukuman kurungan paling lama tiga bulan dan atau denda sebanyak- banyaknya tujuh ribu lima atus rupiah dan penghinaan ringan.  Pelanggaran lalu lintas
  138. 138. Next Penyidik atas kuasa penuntut umum, dalam waktu tiga hari sejak berita acara pemeriksaan selesai dibuat, menghadapkan terakwa dan barang bukti dan jika ada saksi juga dihadirkan; Dilakukan oleh hakim tunggal Saksi tidak mengucpakan sumpah, kecuali hakim menganggap perlu; Dalam hal kasus pelanggaran lalu lintas tidak perlu ada berita acara , pe,eriksaan dapat dilakukan meskipun terdakwa diwakili ole orang lain.
  139. 139. Putusan hakim
  140. 140. Yang harus termuat dalam putusan hakim (pasal 197 KUHAP) Kepala putusan yang berbunyi: DEMI KEADILAN BERASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA; Nama Lengap, Tmpat tingal, agama dan kepercayaan terdakwa; Dakwaan, sebagaimana yang terdapat dalam surat dakwaan; Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta berupa alat bukti yang dperoleh dalam pemeriksaan sidang; Tuntutan pidana yang ada dalam surat tuntutan; Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal yang menjadi dasar hukum dari putusan disertai hal yang memberatkan dan meringankan
  141. 141. Next Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara diperiksa hakim tunggal; Pernyataan kesalahan tedakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan perbuatan pidana; Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan; Hati dan tanggal putusan, nama penuntut umum, hakim yang memutus dan nama panitera.
  142. 142. Upaya Hukum Upaya hukum Biasa Banding Kasasi Upaya hukum Luar biasa Peninjauan Kembali (PK) Jika terdapat bukti baru (Novum)
  143. 143. Terima kasihSampai jumpa di ujian akhir semester

×