BAB VI

                                                               SPESIFIKASI TEKNIS


A. PETUNJUK UMUM

(1)         ...
d.            “Kontraktor”, berarti Perusahaan / Badan yang ditunjuk oleh Pemilik
                            Proyek untuk...
C. SETTING OUT

(1)           Lokasi proyek ini telah disurvey/diukur oleh pihak Pemilik Proyek dengan
              hasil...
D.        L I NGK UP P EK E RJ AAN


Bangunan-bangunan pada Proyek GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan
meliputi :

1.GEDUNG MAS...
DAN PENGUNCI
                           XXI.              PEKERJAAN ATAP
                           XXII.             PEKE...
E . U RAI AN / PE NJE L ASAN P E K E RJAAN

          I. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
          Sebelum pekerjaan Pembangun...
VI.PENGGALIAN PONDASI & URUGAN

       PENGGALIAN PONDASI

       Sebelum Pekerjaan galian dilakukan, seluruh areal yang a...
(5) Permukaan dasar galian pondasi harus bersih dan bebas dari material-
           material yang dapat menyebabkan berkur...
VII.PEMADATAN

(1)           Untuk mendapatkan hasil pemadatan sebesar 90 % Standart Proctor maka
              perlu dise...
IX.PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON

                                                                         Pasal 1
          ...
penerimaan. Kantung-kantung semen yang kosong harus segera dikeluarkan
              dari lapangan.


(6)           Kontra...
(2)           Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus
              disediakan oleh Kontraktor ...
(3)           Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk
              adukan, baik dengan me...
(3)           Semen dengan type dan asal yang berbeda harus disimpan pada tempat yang
              berbeda pula. Semen da...
dalam pekerjaan sebelum mendapat persetujuan dari Engineer. Untuk
              selanjutnya komposisi adukan beton yang di...
pertimbangan kondisi pelaksanaan. Semua hasil pemeriksaan kubus
              (crushing test) harus sesegera mungkin disam...
(3)           Air untuk pencampur adukan beton dapat diberikan sebelum dan sewaktu
              pengadukan dengan kemungk...
mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. Methode yang dipakai harus
              menjaga jangan sampai terjadi pemi...
(5)           Tidak diperkenankan melakukan pengecoran untuk suatu bagian dari
              pekerjaan beton yang bersifat...
harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi keperluan
              pekerjaan pengecoran yang dilakukan. K...
X.BEKISTING (ACUAN BETON)


                                                                          Pasal 1
            ...
Engineer, harus segera disingkirkan untuk tidak dapat dipergunakan lagi
              atau bilamana mungkin diperbaiki aga...
XI.PEKERJAAN BESI BETON


                                                                         Pasal 1
               ...
didudukkan pada support dari beton atau besi ataupun dengan hanger agar
              posisinya tidak berubah selama prose...
XII.          PEKERJAAN PANCANG (BORE PILE)
              TIANG BOR BETON COR LANGSUNG DITEMPAT (BORE PILE)

             ...
pada beton yang belum mengeras, sama dengan atau lebih besar dari tekanan air
                tanah, sampai beton tersebut...
Pas a l 2
                                                                       Sta ndar d L o ad T est

                ...
dengan skala sepanjang garis beban yang diberikan. Regangkan kawat atau
                material lain yang ekivalen, tegak...
Pas a l 6
                                                                       Pr os e dur P embac a an


              ...
3.                           T E S T I ANG DI NAM I K


                Tes tiang dinamik harus dilakukan menggunakan sebu...
Kontraktor harus bekerjasama untuk menjamin bahwa jadual untuk
                pelaksanaan uji tiang bor ini dapat diikuti...
a.             Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
                                           per...
jumlah, ukuran serta peralatan lain yang diperlukan/ digunakan
                                           dalam pekerjaan ...
-             A.V. 1941
              -             Peraturan/ persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan
       ...
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

spek teknis perpustakaan daerah

12,496 views

Published on

1 Comment
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
12,496
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
336
Comments
1
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

spek teknis perpustakaan daerah

  1. 1. BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS A. PETUNJUK UMUM (1) Sifat pekerjaan Dalam pelaksanaan proyek pembangunan GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan secara keseluruhan, hal-hal yang memerlukan perhatian adalah Konstruksi bangunan, agar para pengguna gedung ini merasa aman dan nyaman. Tercakup dalam pengertian pekerjaan struktur disini, adalah meliputi pembangunan, penyelesaian dan pemeliharaan pekerjaan dan penyediaan tenaga kerja, material, alat-alat pelaksanaan, pekerjaan sementara dan segala sesuatu yang secara permanen atau temporer diperlukan dalam pembangunan, penyelesaian dan pemeliharaan,ditentukan dalam Kontrak. (2)Syarat Umum Pelaksana Pekerjaan “Alat-alat Pelaksanaan”, berarti semua peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan dalam pembangunan, penyelesaian ataupun pemeliharaan pekerjaan atau Pekerjaan Sementara, akan tetapi tidak termasuk material ataupun barang lainnya yang dipergunakan untuk membentuk pekerjaan atau sebagian dari pekerjaan tetap. Dalam Pelaksaan Pekerjaan Proyek Pembangunan GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan ini, Kontraktor wajib memiliki Peralatan dan Pekerja minimum sebagai berikut : a. Peralatan minimal yang digunakan : 1 (Satu) Alat Pengaduk bahan Beton yaitu Molen Alat-alat penunjang pekerjaan bidang beton maupun kayu ( Meteran, Bor, Ketam, Palu, Tang, Obeng, Siku, Linggis, Sendok Semen, Cangkul, Sekop, dll. ) b. Personil minimal yang digunakan : 2 (Dua) Orang berpendiikan STM (3) Pihak-pihak yang terkait dalam Pelaksaan Proyek adalah sebagai berikut : a. “Owner”, berarti Perusahaan / Badan atau perorangan sebagai Pemilik Proyek. ( Pemerintah Kota Balikpapan ) b. “Konsultan”, berarti Perusahaan / Badan atau perorangan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk melakukan perencanaan pada proyek ini, khususnya dalam hal ini adalah Perencanaan Konstruksi. c. “Engineer”, berarti Perusahaan / Badan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk melakukan Pengawasan atau menjadi Management Konstruksi untuk pekerjaan pembangunan proyek ini. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 64
  2. 2. d. “Kontraktor”, berarti Perusahaan / Badan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk mengerjakan pembangunan proyek ini. B. ACUAN PENGENDALIAN SELURUH PEKERJAAN (1) Seluruh pelaksanaan pembangunan proyek ini harus mengacu pada standard dan peraturan-peraturan sebagai berikut : a) Peraturan-peraturan standar setempat yang biasa dipakai. b) Peraturan Semen Portland Indonesia, 1972, NI-8. c) Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat. d) Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Pemborongan Pekerjaan Umum (AV) No. 9, tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No. 1457. e) Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan Perencana/M.K. f) Standar Normalisasi Jerman (DIN). g) American Society for Testing and Material (ASTM). Dan peraturan-peraturan lain yang berlaku dan dipersyaratkan berdasarkan normalisasi di Indonesia yang belum tercantum di atas, serta mendapat persetujuan Perencana dan Pengawas. (2) Kontraktor harus melaksanakan seluruh pekerjaan menurut dokumen kontrak, instruksi-instruksi tertulis dari Perencana. (3) Pengawas berhak memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor pada setiap saat, kelalaian Perencana dalam pengontrolan / pengawasan terhadap kesalahan yang dilakukan Kontraktor. Kntraktor tetap bertanggung jawab untuk memperbaiki sampai dengan disetujui Perencana dengan seluruh biaya ditanggung Kontraktor. (4) Pekerjaan yang tidak memenuhi syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) atau gambar-gambar dan instruksi tertulis dari Perencana atau Pengawas harus diperbaiki dengan semua biaya yang diperlukan untuk ini menjadi tanggung jawab Kontraktor. (5) Semua bahan yang akan dipakai atau digunakan untuk proyek ini harus mendapat persetujuan dari Perencana. (6) Ukuran yang tertera dan terulis pada gambar dan spesifikasi ini adalah ukuran jadi, bukan ukuran bahan baku. (7) Apabila terdapat perbedaan antara gambar dengan spesifikasi ini maka, Kontraktor wajib melaporkannya dengan tertulis kepada Perencana untuk dibuatkan putusannya. Kontraktor tidak diperkenankan mengambil keputusan sendiri. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 65
  3. 3. C. SETTING OUT (1) Lokasi proyek ini telah disurvey/diukur oleh pihak Pemilik Proyek dengan hasil sebagaimana tertera dalam gambar Rencana yang diberikan kepada Kontraktor pada saat pemberian surat Perintah Kerja. (2) Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diwajibkan melakukan pengukuran ulang untuk mencocokkan areal proyek dengan apa yang tertera pada gambar rencana. Survey ulang tadi harus mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Posisi patok-patok dilapangan, jarak horisontal dan perbedaan tinggi antara tiap patok. b. Bangunan konstruksi-konstruksi lain, dan benda-benda yang berada dalam daerah proyek, bentuk denah tanah (land configuration), dan hal lain yang perlu. (3) Kontraktor wajib memberi report tertulis tentang hasil survey ulang yang dilakukannya. Bila terjadi perbedaan-perbedaan, maka semua perbedaan tadi wajib dilaporkan kepada Engineer untuk menentukan langkah selanjutnya, sedang peng-koreksian gambar pengukuran harus dilakukan oleh kontraktor dengan diperiksa dan disetujui Engineer. (4) Sebagai patokan dasar dari ketinggian lantai bangunan, maka peil Arsitektur lantai dasar ditentukan ketinggiannya adalah ± 0.00 cm dari tanah dasar. (5) Posisi, ketinggian, dan letak bangunan harus sesuai dengan gambar rencana, dengan tidak ada bagian yang menyimpang dari posisi dan poros-poros bangunan. (6) Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan ukuran tersebut dan selalu harus berkonsultasi dengan Engineer untuk mendapatkan persetujuannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 66
  4. 4. D. L I NGK UP P EK E RJ AAN Bangunan-bangunan pada Proyek GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan meliputi : 1.GEDUNG MASA UTAMA 2.GEDUNG MASA PENERIMA 1 3.GEDUNG MASA PENERIMA 2 4.RUANG. POMPA, GENSET, GROUND TANK & TANKI AIR Lingkup Pekerjaan secara keseluruhan : I. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI II. PENGUKURAN & PEMASANGAN BOWPLANK III. MEMBUAT SEROBONG KERJA IV. PEMBONGKARAN BANG. YG AKAN DISAMBUNG V. PENYEDIAAN AIR KERJA VI. PENGGALIAN PONDASI / URUGAN VII. PEMADATAN VIII. PEMBUANGAN , MENDATANGKAN MATERIAL & DRAINASE IX. PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON X. PEKERJAAN BEKISTING XI. PEKERJAAN BESI BETON XII. PEKERJAAN TIANG PANCANG XIII. PEKERJAAN RAILING XVI. PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING XVII PEKERJAAN DINDING XVIII. PEKERJAAN LANTAI XIX. PEKERJAAN KOSEN & PINTU XX. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 67
  5. 5. DAN PENGUNCI XXI. PEKERJAAN ATAP XXII. PEKERJAAN PLAFOND XXIII. PEKERJAAN PENGECATAN XXIV. MEKANIKAL & ELEKTRIKAL XXV. PEKERJAAN SANITARY D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 68
  6. 6. E . U RAI AN / PE NJE L ASAN P E K E RJAAN I. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI Sebelum pekerjaan Pembangunan Operation Room dilaksanakan, persiapan- persiapan yang perlu dilakukan adalah Penyediaan sarana tranportasi guna penunjang pelaksanaan pekerjaan proyek. II. PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOUWPLANK Setelah lokasi selesai di survey hal yang perlu dilakukan adalah mengadakan pengukuran lapangan dan pemasangan bowplank yang di sesuaikan dengan gambar rencana dari pihak Perencana. Bila ada ketidak sesuaian antara gambar dan lokasi, Kontraktor Tidak berhak merubah sendiri rencana tanpa persetujuan Perencana, dan Kontraktor wajib memberi laporan kepada pihak Perencana untuk dicarikan Penyelesaiannya. III. MEMBUAT SEROBONG KERJA Untuk lebih memudahkan dalam proses pelaksanaan proyek ini hal yang perlu dipikirkan adalah penempatan material maupun kantor sementara untuk Pelaksana. Hak ini perlu agar bongkar muat material untuk pelaksanaan proyek dapat dilakukan dengan mudah dan sebisa mungkin tempat kerja sementara maupun tempat penyimpanan material tidak mengganggu aktifitas kerja kantor yang dibangun, dan yang paling penting mempercepat kerja IV. PEMBONGKARAN BANGUNAN YANG AKAN DISAMBUNG (1) Sebelum pekerjaan bongkaran dilaksanakan pelaksana harus benar-benar memperhatikan gambar rencana renovasi yang telah ada, agar tidak terjadi kesalahan bongkaran ruang yang akan direnovasi. (2) Bila dalam pekerjaan pembongkaran dijumpai pipa-pipa saluran yang sudah tidak dipergunakan lagi, maka pipa-pipa tadi sedapat mungkin dibongkar, dan bila tidak mungkin harus harus disumbat, yang kesemua langkah ini harus sepengetahuan dan seijin Engineer. Sedangkan bila dijumpai instalasi-instalasi yang masih berfungsi seperti pipa air minum, pipa gas, jaringan listrik, jaringan telepon dll, maka kontraktor wajib secepatnya melaporkan hal tersebut kepada Engineer dan pihak berwenang lainnya untuk mendapat petunjuk-petunjuk lebih lanjut dalam menanganinya. (3)Pelaksanaan pekerjaan pembongkaran tersebut haruslah sedemikian rupa sehingga menjamin barang-barang berharga yang berada di ruang yang akan di reovasi tidak rusak. Bila terjadi kerusakan maka biaya reparasi ditanggung oleh pihak kontraktor. V.PENYEDIAAN AIR KERJA Meliputi penyediaan Air untuk kebutuhan pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung Perpustakaan Balikpapan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 69
  7. 7. VI.PENGGALIAN PONDASI & URUGAN PENGGALIAN PONDASI Sebelum Pekerjaan galian dilakukan, seluruh areal yang akan dipakai untuk tempat kerja harus dibersihkan dari pohon, tanggul kayu, semak, bekas-bekas bangunan, dan benda-benda yang tidak diperlukan sebelum memulai pekerjaan. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti mengenai posisi bangunan untuk mengamankan patok-patok sumbu bangunan sebelum memulai pekerjaan pondasi khususnya penentuan patok-patok untuk galian pondasi. (1) Semua penggalian pondasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (a) Penggalian biasa Penggalian biasa adalah penggalian pada jenis-jenis tanah seperti tanah liat, lanau, pasir, campuran tanah dengan koral atau batu yang agak besar (boulders), tetapi bukan tipe rock atau weathered rock. (b) Penggalian pada Weathered Rock (batuan pelapukan) Penggalian pada weathered rock adalah penggalian pada semua material yang memerlukan penghancuran terlebih dahulu, dengan alat berat atau alat pemecah khusus lainnya, untuk dapat dilakukan penggalian dengan effisien. (c) Penggalian pada Rock Penggalian pada rock adalah penggalian pada material yang tidak dapat digali tanpa melakukan peledakan (blasting) untuk memecah dan menghaluskan batuan tadi (rock foundation atau rock fragment). Khusus untuk proyek ini, semua jenis penggalian adalah termasuk type (a). (2) Penggalian harus dilakukan dengan teliti sesuai gambar dan syarat-syarat yang sudah ditentukan, baik mengenai kedalaman atau pun dimensinya harus sesuai dengan gambar rencana yang disetujui Engineer. Lubang galian harus digali dengan kemiringan yang seperlunya untuk keperluan stabilitas lereng galian, atau ditentukan lain oleh Engineer. (3) Penggalian pada kedalaman dibawah muka air tanah, harus dilakukan dengan bantuan turap-turap kayu atau besi untuk menjaga kemungkinan longsornya dinding galian. Harga satuan untuk penggalian jenis ini harus sudah termasuk semua material, upah, dan semua biaya untuk penurapan, pompa dll. (4) Semua ukuran-ukuran dan dasar galian harus diselesaikan dengan teliti hingga mencapai ukuran-ukuran, ketinggian-ketinggian, dan kemiringan- kemiringan yang direncanakan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 70
  8. 8. (5) Permukaan dasar galian pondasi harus bersih dan bebas dari material- material yang dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah dalam mendukung beban yang direncanakan. Kondisi dari dasar galian ini, bila dianggap perlu harus diperiksa oleh Engineer. (6) Semua perubahan volume dalam pekerjaan penggalian pondasi yang diakibatkan modifikasi rencana pondasi, dapat mempengaruhi jumlah nilai pekerjaan untuk pekerjaan-pekerjaan galian, beton, bekisting, dan urugan kembali, tetap didasarkan pada harga satuan pekerjaan yang tercantum dalam Bill of Quantities. (7) Bila kondisi tanah pada kedalaman rencana ternyata tidak baik dari segi daya dukung tanah, Engineer dapat memerintahkan penggalian diteruskan atau memperbaiki kondisi tanah tadi dengan batu pecah atau lapisan koral tebal 15 cm yang dipadatkan dengan baik. (8) Bila Kontraktor melakukan penggalian pondasi melebihi kedalaman rencana atau ukuran lebar yang melebihi ukuran rencana, maka terhadap dasar galian pondasi ataupun dinding galian pondasi harus dilakukan langkah perbaikan dengan lapisan gravel seperti tersebut di atas atau memperbesar dimensinya, dengan beban biaya Kontraktor sendiri. URUGAN (1) Seluruh pengurugan dan pemadatan harus dibawah pengawasan Engineer, yang harus menyetujui seluruh bahan pengisi lebih dahulu sebelum digunakan. Engineer juga akan mempersiapkan macam-macam test yang diperlukan sesuai standart ASTM dibawah pengawasan seorang ahli atau laboratorium Mekanika Tanah yang ditunjuk. Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pengurugan tanpa seijin dari Engineer. (2) Kecuali ditentukan lain oleh Engineer, urugan kembali dari galian pondasi baru dapat dimulai paling cepat 48 jam setelah pembongkaran bekisting beton pondasi selesai dilakukan. (3) Material untuk urugan kembali bekas galian pondasi harus bermutu baik untuk bahan urugan, yang didapat dari bekas galian itu sendiri ataupun mendatangkan dari tempat lain yang kesemuanya harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Engineer. Urugan harus dilakukan dengan lapis demi lapis yang dipadatkan dengan baik, dan tebal lapisan maximum 30 cm. Pemadatan harus dilakukan dengan menggunakan peralatan mekanis yang disetujui Engineer, dengan pemadatan minimumnya mencapai nilai 90 % standart proctor. (4) Kontraktor harus memperhatikan secara benar peil rencana urugan sesuai dengan gambar rencana. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 71
  9. 9. VII.PEMADATAN (1) Untuk mendapatkan hasil pemadatan sebesar 90 % Standart Proctor maka perlu disediakan alat-alat percobaan : a. Speedy moisture test b. Cone penetrometer Pengambilan sampel pada setiap jarak 10 (sepuluh) meter dengan jumlah minimal 2 (dua) buah. VIII.PEMBUANGAN, MENDATANGKAN MATERIAL, DAN DRAINASE (1) Material yang dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai bahan urugan, harus segera dibuang ke luar sesuai pengarahan Engineer. (2) Kelebihan material bekas galian setelah pengurugan kembali, harus diratakan dengan mengaturnya secara baik sekitar pondasi. Sedangkan kelebihan material yang didatangkan untuk urugan kembali harus dikeluarkan dari daerah tersebut atas biaya Kontraktor sendiri. (3) Kontraktor diwajibkan membuat saluran darurat selama pelaksanaan pekerjaan untuk mengalirkan air dari lokasi proyek dengan tidak mengganggu lingkungannya setempat, sesuai gambar rencana ataupun sebagaimana diinstruksikan oleh Engineer. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 72
  10. 10. IX.PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON Pasal 1 STANDARDS Semua ketentuan baik mengenai material maupun metode pemasangan dan juga pelaksanaan pekerjaan beton harus mengikuti semua ketentuan dalam SK-SNI T- 15-1991-03, terkecuali bila dinyatakan atau diinstruksikan lain oleh Engineer. Bila terdapat hal-hal yang tidak tercakup dalam Peraturan tadi, maka ketentuan- ketentuan berikut ini dapat dipakai dengan terlebih dahulu memberitahukan dan memintakan ijin dari Engineer. Adapun ketentuan-ketentuan tadi adalah sebagai berikut : ASTM C 150 Portland Cement ASTM C 33 Concrete Agregates ASTM C 494 Chemical Admixtures for Concrete ASTM A 615 Deformad and Plain Reinforcing Bars for Concrete Reinforcement ASTM A 185 Welded Steel Wire Fabric for Concrete Reinforcement Pasal 2 SEMEN (1) Kecuali ditentukan lain oleh Engineer, semen yang digunakan adalah semen Type I sesuai ASTM C 150, dan segala sesuatunya harus mengikuti ketentuan SK-SNI T-15-1991-03. Semen yang digunakan harus merupakan produk dari satu pabrik yang telah mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. (2) Kontraktor harus menunjukkan sertifikat dari produsen untuk setiap pengiriman semen, yang menunjukkan bahwa produk tadi telah memenuhi sesuatu test standard yang lazim digunakan untuk material itu. (3) Engineer berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan untuk menerima atau tidak semen-semen tersebut. (4) Kontraktor harus menyediakan tempat/gudang penyimpanan semen pada tempat-tempat yang baik sehingga semen-semen tersebut senantiasa terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak, terutama sekali lantai tempat penyimpanan tadi harus kuat dan berjarak minimal 30 cm dari permukaan tanah. (5) Semen dalam kantung-kantung semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari dua meter. Tiap-tiap penerimaan semen harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat dibedakan dengan penerimaan-penerimaan sebelumnya. Pengeluaran semen harus diatur secara kronologis sesuai dengan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 73
  11. 11. penerimaan. Kantung-kantung semen yang kosong harus segera dikeluarkan dari lapangan. (6) Kontraktor harus mengambil pengelola gudang yang cakap, yang mengawasi gudang-gudang semen dan mengadakan catatan-catatan yang cocok dari penerimaan dan pemakaian semen seluruhnya. Tindasan dari catatan-catatan harus disediakan untuk Engineer bila dikehendaki, yaitu jumlah semen yang digunakan selama hari itu ditiap bagian kerja. Pasal 3 AIR UNTUK ADUKAN (1) Air yang digunakan untuk bahan adukan beton, adukan pemasangan dan grouting, bahan pencuci agregat, dan untuk curing beton, harus air tawar yang bersih dari bahan-bahan yang berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak, alkali, sulfat, bahan organis, garam, silt (lanau), Kadar Silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak boleh lebih dari 2 % dalam perbandingan beratnya. Kadar sulfat maximum yang diperkenankan adalah 0.5 % atau 5 gr/lt, sedangkan kadar chloor maximum 1,5 % atau 15 gr/lt. (2) Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, sumber air yang berlumpur. Tempat pengambilan harus dapat menjaga kemungkinan terbawanya material-material yang tidak diinginkan tadi. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0.5 meter dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi. (3) Apabila diadakan perbandingan test beton antara beton yang diaduk dengan aquadest dibandingkan dengan beton yang diaduk menggunakan air dari suatu sumber, dan hasilnya menunjukkan indikasi ketidakpastian dalam mutu beton walaupun telah digunakan semen yang sama telah disetujui; maka air dari sumber tadi tidak dapat dipakai bila hasil perbandingan test tadi menunjukkan harga-harga yang berbeda lebih kecil dari 10 persen. Test tadi dapat dibandingkan dari mutu kekuatan, dan juga dari waktu pengerasannya. Dallam keadaan ditolak ini, Pemborong diwajibkan mencari sumber lain yang lebih baik dan dapat diterima dan disetujui Engineer. Pasal 4 AGREGAT HALUS (PASIR) (1) Di dalam spesifikasi ini dipakai bermacam-macam jenis untuk pekerjaan bangunan yang ditetapkan sebagai berikut : a. Pasir buatan:Pasir yang dihasilkan dari mesin pemecah batu. b. Pasir alam:Pasir yang disediakan oleh kontraktor dari sungai atau pasir alam yang didapat dari persetujuan Engineer. c. Pasir paduan:Paduan pasir buatan dan pasir alam dengan perbandingan campuran sehingga dicapai gradasi (susunan butiran) yang dikehendaki. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 74
  12. 12. (2) Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus disediakan oleh Kontraktor dan dapat diperoleh dari sungai atau tempat lain sumber alam yang disetujui. Jika pasir alam didapat dari sumber-sumber yang tidak dimiliki atau tidak dikuasai Kontraktor, Kontraktor harus mengadakan persetujuan yang perlu dengan pemiliknya dan harus membayar semua sewa atau lain-lain biaya yang bersangkutan dengan hal tersebut. (3) Persetujuan untuk sumber-sumber pasir alam tidak dimaksudkan sebagai persetujuan keseluruhan untuk semua bahan yang diambil dari alam tersebut, dan kontraktor harus bertanggung jawab untuk kualitas satu demi satu dari bahan sejenis yang dipakai dalam pekerjaan. (4) Pasir untuk beton, adukan dan grouting harus merupakan pasir alam, pasir hasil pemecahan batu dapat pula digunakan untuk mencampur agar didapat gradasi pasir yang baik. Pasir yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil, dan harus terdiri dari butiran yang keras, padat, tidak terselaput oleh material lain. (5) Pasir yang ditolak oleh Engineer, harus segera disingkirkan dari lapangan kerja. Dalam membuat adukan baik untuk beton, plesteran ataupun grouting, pasir tidak dapat digunakan sebelum mendapat persetujuan Engineer mengenai mutu dan jumlahnya. (6) Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat, alkali, bahan-bahan organik dan kotoran-kotoran lainnya yang merusak. Berat subtansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5 %. (7) Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan persyaratan pada SK-SNI T-15-1991-03. Pasal 5 AGREGAT KASAR (KORAL) (1) Agregat kasar untuk beton dapat berupa koral dari alam, batu pecah, atau campuran dari keduanya. Koral yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil. Sebagaimana juga pada pasir, koral keras, padat, tidak porous, dan tidak terselaput material lain. Dalam penggunaannya koral harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar didapat gradasi sesuai yang dikehendaki, mempunyai modulus kehalusan butir antara 6 sampai 7.5 atau bila diselidiki dengan saringan standart harus sesuai dengan SK-SNI T-15- 1991-03 dan material yang halus yaitu yang lebih kecil dari 5 mm harus disingkirkan. (2) Koral yang sudah tersedia tidak dapat langsung digunakan sebelum mendapat persetujuan dari Engineer baik mengenai mutu ataupun jumlahnya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 75
  13. 13. (3) Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk adukan, baik dengan menimbang ataupun volume, agar dapat dicapai mutu beton yang direncanakan, memberikan kepadatan maximum, baik workability-nya, dan memberikan kondisi watercement ratio yang minimum. Pasal 6 BAHAN PENCAMPUR (ADMIXTURES) (1) Penggunaan bahan admixture harus dengan harus dengan ijin tertulis dari Engineer, dan admixtures ini harus merupakan bagian yang integral dari adukan beton yang dibuat. Pasal 7 BAJA TULANGAN (1) Baja tulangan harus memenuhi ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03 dengan mutu U-39 (tegangan leleh karakteristik = 3900 kg/cm2) untuk diameter lebih besar dari 12 mm; sedangkan untuk diameter yang lebih kecil digunakan mutu U-24 (tegangan leleh karakteristik = 2400 kg/cm2). (2) Semua baja tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : - Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak/minyak, karat, dan tidak bercacat seperti retak dll. - Untuk mutu U-39 harus digunakan profil baja tulangan deformed (deformed-bar). (3) Kontraktor harus mengadakan pengujian mutu beton baja yang akan dipakai sesuai dengan petunjuk dari Engineer. Batang percobaan diambil dengan disaksikan Engineer sejumlah minimum 3 (tiga) batang untuk tiap-tiap jenis baik mutu maupun pengiriman massal atau bilamana terjadi keraguan terhadap mutu baja yang dikirim ke proyek. Semua biaya-biaya percobaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Sedangkan panjang setiap benda uji adalah 100 cm. Pasal 8 TRANSPORTASI DAN PENIMBUNAN MATERIAL (1) Pengangkutan semen harus diusahakan sedemikian rupa sehingga terlindung dari lembab dan sinar matahari. Semen harus dikirim ke lapangan dalam jumlah yang harus mendapat ijin dari Engineer terlebih dahulu, dengan memperhatikan kemajuan pekerjaan beton. (2) Segera setelah tiba dilapangan, semen harus disimpan dalam tempat penyimpanan yang kering, terlindung, bebas pengaruh cuaca, mempunyai ventilasi baik. Lantai tempat penimbunan sedikitnya harus berada 50 cm diatas tanah. Semua kelengkapan dari tempat penyimpanan harus mendapat persetujuan Engineer dan memungkinkan dilakukannya pemeriksaan dengan mudah. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 76
  14. 14. (3) Semen dengan type dan asal yang berbeda harus disimpan pada tempat yang berbeda pula. Semen dalam kantung-kantung harus ditumpuk dengan tinggi tumpukan tidak lebih dari 13 kantung untuk periode sampai dengan 30 hari, atau tinggi tumpukan maximumnya 7 untuk periode-periode yang lebih panjang. Semen harus secepatnya digunakan segera setelah tiba dilapangan dan pengambilannya dari tempat penyimpanannya harus berurutan hingga dapat dihindari tersimpannya semen secara lama. Semen yang sudah rusak atau terkena lembab harus dengan segera disingkirkan dari lapangan. (4) Agregat yang berbeda harus disimpan secara terpisah dengan mempertimbangkan kemungkinan terkena kotoran. (5) Agregat yang telah tercemar ataupun berubah gradasinya akibat transportasi, harus disingkirkan dan diganti dengan material yang lebih baik atas biaya kontraktor. (6) Baja tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat dihindarinya baja tulangan mengenai tanah. Bila baja tulangan telah mengalami kemunduran dalam mutu akibat dari karat ataupun hal-hal lain akibat transportasi atau penyimpanan, maka baja tadi tidak dapat digunakan. Batang baja dengan mutu dan ukuran yang berbeda harus disimpan secara terpisah dan diberi label tentang mutunya dari test pabrik. Pasal 9 PERBANDINGAN ADUKAN (1) Kontraktor harus bertanggung jawab atas mutu adukan beton yang di buatnya, dan harus merencanakan perbandingan adukan agar didapatkan hasil sesuai yang diminta dalam spesifikasi. (2) Sedikitnya 8 minggu sebelum dimulainya pekerjaan pengecoran beton, kontraktor mengajukan usulan komposisi adukan yang akan digunakannya pada Engineer. Asal usul dan gradasi dari agregat, komposisi adukan, metode pengadukan yang dipakai, metode pengecoran, harus turut diberitahukan kepada Engineer. Setelah itu kontraktor harus mengadakan trial test (percobaan pendahuluan), dengan membuat suatu percobaan adukan yang hasilnya dapat diketahui sebelum pelaksanaan pekerjaan pengecoran. Test yang diadakan harus dilakukan dengan diawasi Engineer, dan menggunakan peralatan, bahan, metode yang sesuai dengan kondisi yang akan dipakai nantinya dalam pelaksanaan pekerjaan. (3) Adukan percobaan harus dimodifikasi dan diulangi sampai pihak Engineer puas dengan kenyataan bahwa material dan prosedur yang digunakan akan menghasilkan beton dangan kekuatan dan kondisi sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Kekuatan dari beton yang disyaratkan harus dibuktikan dengan mengambil kubus test untuk ditest di laboratorium; yang kesemuanya harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15- 1991-03. Tidak satupun komposisi adukan beton yang dapat digunakan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 77
  15. 15. dalam pekerjaan sebelum mendapat persetujuan dari Engineer. Untuk selanjutnya komposisi adukan beton yang digunakan harus berdasar pada hasil adukan percobaan yang telah disetujui. (4) Komposisi adukan dapat diubah dalam periode pelaksanaan pekerjaan oleh Engineer dengan berdasar pada hasil test pada agregat dan test beton yang sudah selesai dikerjakan. (5) Penggunaan material dan komposisi adukan yang konsisten, harus diterapkan agar tercapai hal-hal sebagai berikut : i) Kekuatan beton rencana yaitu beton K-225. ii) Beton yang padat, kedap air, dan tahan terhadap pengaruh cuaca dan lingkungan. iii) Pengaruh kembang susut yang kecil. (6) Pada penggunaan adukan beton “ready mix”, Kontraktor harus mendapat ijin lebih dahulu dari Engineer, dengan terlebih dahulu mengajukan calon nama dan alamat supplier untuk beton ready mix tadi. Dalam hal ini Kontraktor tetap bertanggung jawab penuh bahwa adukan yang disupply benar-benar memenuhi syarat-syarat dalam spesifikasi ini serta menjamin homogenitas dan kualitas yang kontinu pada setiap pengiriman. Segala test kubus yang harus dilakukan dilapangan harus tetap dijalankan, dan Engineer akan menolak supply beton ready mix bilamana diragukan kualitasnya. Semua resiko dan biaya sebagai akibat dari hal tersebut di atas, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Pasal 10 TESTING (1) Testing mutu beton harus dilakukan Kontraktor dengan diawasi Engineer. Kontraktor harus menyiapkan segalanya agar semua proses pengawasan dan pengambilan sample dapat diawasi Engineer dengan mudah dan dapat diawasi dengan baik dan mudah didekati selama periode proyek. Pengambilan sample harus sesuai dan mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Benda uji yang dipergunakan harus berupa kubus 15 x 15 x 15 cm3, dimana cetakan untuk benda uji ini harus terbuat dari besi sehingga bisa didapat benda uji yang sempurna. (2) Evaluasi dari kualitas beton akan dilakukan oleh Engineer untuk dapat dinyatakan suatu pekerjaan beton mutunya dapat memenuhi Spesifikasi, dan juga untuk menolak pekerjaan beton yang sudah dilakukan, dan termasuk menentukan perlu atau tidaknya merubah komposisi adukan beton. (3) Pengujian beton yang dilakukan adalah meliputi test kekuatan (crushing test) dan slump test. Kesemua test ini harus mengikuti ketentuan dalam SK- SNI T-15-1991-03. Tentang jumlah dan waktu pelaksanaan pengambilan kubus test, selain mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991- 03, juga harus dilakukan bilamana ditentukan oleh Engineer demi D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 78
  16. 16. pertimbangan kondisi pelaksanaan. Semua hasil pemeriksaan kubus (crushing test) harus sesegera mungkin disampaikan kepada Engineer. (4) Slump test harus dilakukan pada setiap akan memulai pekerjaan pengecoran, dan dilakukan sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Toleransi dalam kekentalan adukan harus dalam batas-batas sebagai berikut : 10 mm untuk nilai Slump yang ditentukan kurang dari 80 mm 5 mm untuk nilai Slump yang ditentukan 80 mm atau lebih Nilai Slump yang disebutkan dalam 10.(4) harus dicapai dalam pelaksanaan sesungguhnya di pelaksanaan pengecoran. (5) Bila ternyata hasil test kubus beton menunjukkan tidak tercapainya mutu yang disyaratkan, maka Engineer berhak untuk memerintahkan hal-hal sebagai berikut : a. Mengganti komposisi adukan untuk pekerjaan yang tersisa. b. Memperlama proses penjagaan dalam masa pengerasan beton. c. Non-destructive testing. d. Core drilling. e. Test-test lain yang dianggap relevan dengan masalahnya. Perlu diperhatikan bahwa semua prosedur dan ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03 harus tetap diikuti. (6) Apabila setelah dilakukan langkah-langkah sebagaimana disebutkan diatas, dan ternyata mutu beton memang tetap tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Engineer berhak memerintahkan pembongkaran beton yang dinyatakan tidak memenuhi syarat tadi sesegera mungkin. (7) Semua biaya pengambilan sample, pemeriksaan, pembongkaran, pekerjaan perbaikan, dan pekerjaan pembuatan kembali konstruksi beton yang dibongkar tadi, sepenuhnya menjadi beban kontraktor. Pasal 11 PENGADUKAN (1) Kontraktor harus menyediakan, memelihara dan menggunakan alat pengaduk mekanis (beton mollen) yang harus selalu berada dalam kondisi baik; sehingga dapat dihasilkan mutu adukan yang homogen. Jumlah tiap bagian dari komposisi adukan beton harus diukur dengan teliti sebelum dimasukkan ke dalam alat pengaduk, dan diukur dapat berdasarkan berat atau volume. (2) Pengadukan beton harus dilakukan dengan alat pengaduk yang mempunyai kapasitas minimum 0.2 m3 dengan waktu tidak kurang dari 1 ½ menit setelah semua bahan adukan beton dimasukkan dengan segera, kecuali air yang dapat dimasukkan sebagian lebih dahulu. Engineer berhak untuk memerintahkan memperpanjang proses pengadukan bila ternyata hasil adukan yang ada gagal menunjukkan beton yang homogen seluruhnya, dan kekentalannya tidak merata. Adukan beton yang dihasilkan dari proses pengadukan tadi harus mempunyai komposisi dan kekentalan yang merata untuk keseluruhannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 79
  17. 17. (3) Air untuk pencampur adukan beton dapat diberikan sebelum dan sewaktu pengadukan dengan kemungkinan penambahan sedikit air pada waktu proses pengeluaraan dari adukan yang dapat dilakukan berangsur-angsur. Penambahan air yang berlebihan yang dimaksudkan untuk menjaga kekentalan yang disyaratkan, tidak dapat dibenarkan. Mesin pengaduk yang menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, harus segera diperbaiki atau diganti dengan yang baik lainnya. Pada alat pengaduk yang ditempatkan secara sentral, atau pada mixing plants, Kontraktor harus menyediakan sarana agar proses pengadukan dapat diawasi dengan baik dari tempat yang tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pengadukan. Alat pengaduk tidak boleh digunakan untuk mengaduk adukan dengan volume yang melebihi kapasitasnya, kecuali diinstruksikan Engineer. (4) Alat pengaduk yang digunakan harus menunjukkan dengan jelas data-data dari pabriknya yang menunjukkan : a. Gross volume dari ruang pengaduk. b. Maximum kecepatan pengadukan. c. Minimum dan maximum kecepatan pengadukan dengan disertai data- data tentang ruang pengaduk, sirip pengaduk dll. (5) Alat pengaduk (beton molen) harus benar-benar kosong dan bersih sebelum diisi bahan-bahan untuk mengaduk beton, dan harus segera dicuci bersih setelah selesai mengaduk pada suatu pengecoran. Pada saat memulai adukan yang pertama pada suatu pengecoran dengan beton mollen yang sudah bersih, pengadukan yang pertama harus mengandung koral dengan jumlah perbandingan separuh dari jumlah perbandingan normalnya untuk menjaga adanya material halus dan semen yang tertinggal melekat pada bagian dalam beton mollen. Juga lama pengadukan dengan kondisi pertama ini harus dilakukan dengan sedikitnya satu menit lebih lama dari waktu pengadukan normal. (6) Pengadukan adukan dengan cara manual tidak diperkenankan, terkecuali untuk suatu jumlah yang kecil sekali dan hal inipun diperkenankan setelah mendapat persetujuan dari Engineer. Pengadukan dengan manual (hand mixing) ini harus dilakukan pada suatu platform yang mempunyai tepi-tepi penghalang. Pada proses pengadukan ini, bahan-bahan yang akan diaduk harus diaduk dulu secara kering dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan, untuk kemudian air pencampurnya disemprotkan dengan selang air, dan setelah itu dilakukan pengadukan kembali dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan sampai didapat suatu adukan yang benar-benar merata. Dalam pengadukan kembali ini kekentalannya dapat dinaikkan dengan 10 persen, serta tidak diperkenankan melakukan pengadukan dengan cara ini untuk suatu jumlah yang lebih dari ½ m3 diaduk sekaligus. Pasal 12 TRANSPORTASI (1) Adukan beton dari tempat pengaduk harus secepatnya diangkut ketempat pengecoran dengan cara yang sepraktis mungkin yang metodenya harus D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 80
  18. 18. mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. Methode yang dipakai harus menjaga jangan sampai terjadi pemisahan bahan-bahan campuran beton (segregation), kehilangan unsur-unsur betonnya, dan harus dapat menjaga tidak timbulnya hal-hal negatif yang diakibatkan naiknya temperatur ataupun berubahnya kadar air pada adukan. Adukan yang diangkut harus segera dituangkan pada formwork (bekisting) yang sedekat mungkin dengan tujuan akhirnya untuk menjaga pengangkutan lebih lanjut; serta pula penuangan adukan tidak boleh dengan menjatuh bebaskan adukan dengan tinggi jetuh lebih dari satu meter. (2) Alat-alat yang digunakan untuk mengangkut adukan beton harus terbuat dari metal, permukaannya halus dan kedap air. (3) Adukan beton harus sampai ditempat dituangkan dengan kondisi benar- benar merata (homogen). Slump test yang dilakukan untuk sample yang diambil pada saat adukan dituangkan ke bekisting, harus tidak melewati batas-batas toleransi yang ditentukan pada pasal 10.(4) Pasal 13 PENGECORAN (1) Sebelum adukan beton dituangkan pada acuannya, kondisi permukaan dalam dari bekisting atau tempat beton dicorkan harus benar-benar bersih dari segala macam kotoran. Semua bekas-bekas beton yang tercecer pada baja tulangan dan bagian dalam bekisting harus dengan segera dibersihkan. (2) Juga air tergenang pada acuan beton atau pada tempat beton akan dicorkan harus segera dihilangkan. Aliran air yang dapat mengalir ketempat beton dicor, harus dicegah dengan mengadakan drainage yang baik atau dengan metode lain yang disetujui Engineer, untuk mencegah jangan sampai beton yang baru dicor menjadi terkikis pada saat atau setelah proses pengecoran. (3) Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum kondisi bekisting, tempat beton dicor, kondisi permukaan beton yang berbatasan dengandaerah yang akan dicor, dan juga keadaan pembesian selesai diperiksa dan disetujui oleh Engineer. Setelah diperiksa dan disetujui Engineer, maka pekerjaan yang dapat dilakukan hanyalah pekerjaan dalam atau terhadap bekisting sampai selesainya pengecoran beton pada daerah yang telah disetujui; terkecuali dengan seijin Engineer. (4) Pada tiap pengecoran, Kontraktor diwajibkan menempatkan seorang tenaga pelaksananya yang berpengalaman baik dalam pekerjaan beton, dan pelaksana ini harus hadir, mengawasi, dan bertanggung jawab atas pekerjaan pengecoran. Sedang semua pekerjaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga-tenaga pekerja yang terlatih, yang jumlahnya harus mencukupi untuk menangani pekerjaan pengecoran yang dilakukan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 81
  19. 19. (5) Tidak diperkenankan melakukan pengecoran untuk suatu bagian dari pekerjaan beton yang bersifat permanen tanpa dihadiri Engineer atau wakil dari Engineer (inspector). (6) Kontraktor harus mengatur kecepatan kerja dalam menyalurkan adukan beton agar didapat suatu rangkaian kecepatan baik mengangkut, meratakan, dan memadatkan adukan beton dengan suatu kecepatan yang sama dan menerus. (7) Mengencerkan adukan beton yang sudah diangkut sama sekali tidak diperkenankan. Adukan beton yang sudah terlanjur agak mengeras tapi belum dicorkan, harus segera dibuang. (8) Seluruh pekerjaan pengecoran beton harus diselesaikan segera sebelum adukan betonnya mulai mengeras. Dan segala langkah perlindungan harus segera dilakukan terhadap beton yang baru dicor, dimulai saat-saat beton belum mengeras. (9) Dalam hal terjadi kerusakan alat pada saat pengecoran, atau dalam hal pelaksanaan suatu pengecoran tidak dapat dilaksanakan dengan menerus, Kontraktor harus segera memadatkan adukan yang sudah dicorkan sampai suatu batas tertentu dengan kemiringan yang merata dan stabil saat beton masih dalam keadaan plastis. Bidang pengakhiran ini harus dalam keadaan bersih dan harus dijaga agar berada dalam keadaan lembab sebagaimana juga pada kondisi untuk construction joint, sebelum nantinya dituangkan adukan yang masih baru. Bila terjadi penyetopan pekerjaan pengecoran yang lebih lama dari satu jam, pekerjaan harus ditangguhkan sampai suatu keadaan dimana beton sudah dinyatakan mulai mengeras yang ditentukan oleh pihak Engineer. (10) Beton yang baru selesai dicor, harus dilindungi terhadap rusak atau terganggu akibat sinar matahari ataupun hujan. Juga air yang mungkin mengganggu beton yang sudah dicorkan harus ditanggulangi sampai suatu batas waktu yang disetujui Engineer terhitung mulai pengecorannya. Tidak sekalipun diperkenankan melakukan pengecoran beton dalam kondisi cuaca yang tidak baik untuk proses pengerasan beton tanpa suatu upaya perlindungan terhadap adukan beton, hal ini bisa dalam terjadi baik dalam keadaan cuaca yang panas sekali, atau dalam keadaan hujan. Perlindungan yang dilakukan untuk mencegah hal-hal ini harus mendapat persetujuan Engineer. Pasal 14 PEMADATAN DAN ADUKAN BETON (1) Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang maximum sehingga didapat beton yang terhindar dari rongga-rongga yang timbul antara celah-celah koral, gelembung udara, dan adukan tadi harus benar- benar memenuhi ruang yang dicor dan menyelimuti seluruh benda yang seharusnya tertanam dalam beton. Selama proses pengecoran, adukan beton D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 82
  20. 20. harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Kekentalan adukan beton dan lama proses pemadatan harus diatur sedemikian rupa agar dicapai beton yang bebas dari rongga, pemisahan unsur-unsur pembentuk beton. (2) Beton yang sedang mengeras harus selalu dibasahi mulai dari selesai pengecoran dengan sedikitnya selama 2 (dua) hari. Pembasahan harus dilakukan dengan menutup permukaan beton dengan kain atau material lain yang basah agar tetap lembab. Air yang digunakan untuk keperluan ini harus sama mutunya dengan air untuk bahan adukan beton. Pasal 15 PERBAIKAN BETON (1) Segera setelah bekisting dibuka, kondisi beton harus diperiksa Engineer. Bila dianggap oleh Engineer perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan atau pembongkaran, maka langkah tadi harus sepenuhnya dikerjakan atas beban biaya Kontraktor. (2) Langkah-langkah perbaikan beton harus dilakukan oleh tenaga yang benar- benar ahli. Hal-hal yang perlu diperbaiki antara lain yang menyangkut hal- hal yang kurang baik pada permukaan beton terutama untuk kebutuhan finishing. Kecuali dinyatakan lain, maka pelaksanaan pekerjaan perbaikan ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam semenjak pembukaan bekisting. Tonjolan di permukaan beton harus dihilangkan. (3) Kondisi beton yang ternyata rusak akibat adanya rongga yang membahayakan dan permukaan cekung yang berlebihan, dapat mengakibatkan perintah dibongkarnya beton tadi untuk kemudian dilakukan pembersihan dan pengecoran ulang. Batas-batas daerah yang harus dibongkar tadi akan ditentukan oleh pihak Engineer, begitu juga langkah pengecoran dan material yang akan digunakan. Pasal 16 JOINTS (1) Lokasi dan type dari construction joints harus sesuai dengan pada gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Engineer. Penambahan construction joint yang dikehendaki Kontraktor demi pertimbangan pelaksanaan, harus mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. Penentuan letak joint tadi harus memperhatikan pola gaya-gaya yang bekerja ataupun untuk menghindari terjadinya retak. (2) Pengecoran beton harus dilakukan secara menerus tanpa berhenti. Bila terjadi penghentian dalam pengecoran pada suatu lokasi dimana pada pengecoran nantinya, beton baru tidak akan dapat tercampur dengan beton lama, maka batas tadi harus diperlakukan seperti construction joints, dimana permukaan construction joints harus dikasarkan, dibersihkan dengan air hingga bersih. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 83
  21. 21. X.BEKISTING (ACUAN BETON) Pasal 1 UMUM (1) Kontraktor harus menyerahkan kepada Engineer semua perhitungan dan gambar rencana bekistingnya untuk mendapat persetujuan bilamana diminta Engineer, Sebelum pekerjaan di lapangan dimulai. Dalam hal bekisting ini, walaupun Engineer telah menyetujui untuk digunakannya suatu rencana bekisting dari kontraktor, segala sesuatunya yang diakibatkan oleh bekisting tadi tetap sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Pasal 2 MATERIAL (1) Material untuk bekisting dapat dibuat dari tripleks 9 mm, kayu, besi, atau material lain yang disetujui oleh Engineer. Semua type material tadi bila digunakan tetap harus memenuhi kebutuhan untuk bentuk, ukuran, kualitas dan kekuatan, sehingga didapat hasil beton yang halus, rata, dan sesuai dimensi yang direncanakan. (2) Bekisting yang digunakan untuk beton exposed, harus benar-benar mempunyai permukaan yang halus.Jika digunakan bekisting multipleks, sambungan antara tepi-tepi bekisting harus dibuat dengan diprofil hingga didapat permukaan dalam bekisting yang benar-benar rata sesuai yang direncanakan. Pasal 3 PELAKSANAAN (1) Bekisting harus benar-benar menjamin agar air yang terkandung dalam adukan beton tidak hilang atau berkurang. Konstruksi bekisting harus cukup kaku, dengan pengaku-pengaku (bracing) dan pengikat (ties) untuk mencegah terjadinya pergeseran ataupun perubahan bentuk yang diakibatkan gaya-gaya yang mungkin bekarja pada bekisting tadi. Hubungan-hubungan antara bagian bekisting harus menggunakan alat-alat yang memadai agar didapat bentuk dan kekakuan yang baik. Pengikatan bagian bekisting harus dilakukan yang baik. Pengikatan bagian bekisting harus dilakukan horisontal dan vertikal. Semua bekisting harus direncanakan agar dalam proses pembukaan tanpa memukul atau merusak beton. Untuk pengikatan dalam beton harus menggunakan batang besi dan murnya. (2) Semua material yang selesai digunakan sebagai bekisting harus dibersihkan dengan teliti sebelum digunakan kembali, dan bekisting yang telah digunakan berulang kali dan kondisinya sudah tidak dapat diterima D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 84
  22. 22. Engineer, harus segera disingkirkan untuk tidak dapat dipergunakan lagi atau bilamana mungkin diperbaiki agar kembali sempurna kondisinya. (3) Semua pekerjaan sudut-sudut beton, bilamana tidak dinyatakan lain dalam gambar harus ditakik 25 mm. Pasal 4 PEMBASAHAN & MEMINYAKI BIDANG BEKISTING (1) Bagian dalam dari bekisting besi dan kayu boleh dipoles dengan non- staining mineral oil dengan sepengetahuan Engineer. Pelumasan tadi harus dilakukan dengan hati-hati agar cairan tadi tidak mengenai bidang dasar pondasi dan juga pembesian. (2) Bekisting kayu bilamana tidak dipoles minyak seperti tersebut diatas, harus dibasahi hingga benar-benar basah sebelum pengecoran beton. Pasal 5 PEMBONGKARAN BEKISTING (1) Secara umum, kecuali dinyatakan lain oleh Engineer, semua bekisting harus disingkirkan dari permukaan beton. Untuk memungkinkan tidak terganggunya kemajuan pekerjaan dan dapat dengan segera dilakukan langkah perbaikan, bila perlu bekisting harus secepatnya dibongkar segera setelah beton mempunyai kekerasan dan kekuatan seperlunya. Bekisting untuk bagian atas dari bidang beton yang miring, harus segera dibongkar setelah beton mempunyai kekakuan untuk mencegah berubahnya bentuk permukaan beton. Bilamana diperlukan perbaikan pada bidang atas beton yang miring, maka perbaikan tadi harus sesegera mungkin, dan dilanjutkan dengan langkah-langkah penjagaan pada proses pengerasan beton (curing). (2) Pembukaan bekisting tidak diperkenankan dilakukan sebelum beton mencapai umur sesuai daftar dibawah ini setelah pengecorannya dan sebelum beton mengeras untuk menahan gaya-gaya yang akan ditahannya. Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah timbulnya kerusakan pada beton. Bilamana timbul kerusakan pada beton pada saat pembongkaran bekisting, maka langkah perbaikannya harus sesegera mungkin dilakukan. Daftar ketentuan diperkenankannya dibuka suatu bekisting bila dihitung sejak selesai pengecoran - Sisi-sisi balok, dinding & kolom yang tidak dibebani 2 hari - Plat beton (penyangga tidak dibuka) 3 hari - Tiang-tiang penyangga plat bila plat tidak mendapat beban 14 hari - Tiang-tiang penyangga balok yang tidak dibebani 21hari - Tiang-tiang penyangga cantilever28 hari Untuk kondisi-kondisi dimana plat dan balok yang masih ada sistim lantai diatasnya, maka pembukaan bekisting dan penyangganya harus dengan persetujuan Engineer, dimana dalam hal ini segala kemungkinan beban yang akan bekerja serta umur beton yang terbebani harus ditinjau dengan teliti. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 85
  23. 23. XI.PEKERJAAN BESI BETON Pasal 1 UMUM (1) Pemasangan besi tulangan beton harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Besi beton harus dipasang sebagaimana pada gambar rencana atau seperti yang diinstruksikan Engineer. Terkecuali sebagaimana yang dinyatakan pada gambar atau diinstruksikan Engineer, pengukuran pada pemasangan besi tulangan harus dilakukan terhadap as dari besi tulangan. Besi tulangan yang terpasang harus sesuai ukuran, bentuk, panjang, posisi, dan banyaknya, dan akan diperiksa setelah kondisi terpasang. Pasal 2 PEMBERSIHAN (1) Sebelum besi dipasang, besi beton harus dalam keadaan bersih, bebas dari karat, kotoran lemak, atau material lain yang seharusnya tidak melekat pada besi beton tadi dan dapat mengurangi atau menghilangkan lekatan antara beton dan besi beton. Dan kebersihan ini harus tetap dijaga sampai proses pengecoran beton. Pasal 3 PEMBENGKOKAN (1) Besi beton harus dibentuk dengan teliti hingga tercapai bentuk dan dimensi sesuai gambar rencana atau bending schedules yang disiapkan oleh Kontraktor dan disetujui Engineer. Semua proses pembengkokan harus dilakukan dengan cara lambat, tekanan yang konstan. Kesemua ujung-ujung pembesian harus mempunyai kait sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Pembengkokan dengan cara dipanasi hanya dapat dibenarkan apabila telah mendapat ijin dari Engineer. Pasal 4 PELURUSAN (1) Besi tulangan tidak boleh dibengkokan dengan cara yang dapat menyebabkan kerusakan pada besi beton. Besi tulangan dengan kondisi yang tidak lurus atau dibengkok dengan tidak sesuai gambar tidak diperkenankan dipakai. Pasal 5 PEMASANGAN (1) Besi beton harus dipasang dengan teliti agar sesuai dengan gambar rencana, dan harus diikat dengan kuat dengan menggunakan kawat pengikat dan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 86
  24. 24. didudukkan pada support dari beton atau besi ataupun dengan hanger agar posisinya tidak berubah selama proses pemasangan dan pengecoran. Pengikat dan tumpuan dari besi tadi tidak boleh menyentuh bidang bekisting dalam hal beton yang dicor adalah beton exposed. Bila besi tulangan didudukan pada blok beton kecil, blok tadi harus dibuat dari beton yang mutunya sama dengan beton rencana dan bentuknya harus menjamin didapatnya permukaan beton yang baik. Kekakuan pada pemasangan besi beton harus menjamin agar tidak berubah bentuk dan tempat bila pekerja berjalan atau memanjat pembesian tadi. Ujung-ujung dari kawat pengikat harus ditekuk kearah dalam beton dan tidak diperkenankan mengarah keluar. Selama proses pengecoran beton, Kontraktor harus menyediakan tenaga-tenaga pekerja yang khusus mengawasi dan memperbaiki pembesian dari kemungkinan tergeser atau berubah bentuk karena hal-hal yang mungkin timbul; dan hal-hal tadi harus cepat diperbaiki sebelum pengecoran mencapai daerah tersebut. Pemasangan besi beton harus mengingat syarat jarak bersih antar tulangan, atau antar tulangan dan angkur, atau antara benda-benda metal tertanam sebagaimana yang ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Pasal 6 SELIMUT BETON (1) Besi beton harus dipasang dengan minimum selimut beton (concrete cover) sebagaimana gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Engineer. Dalam segala hal tebal selimut beton tidak boleh diambil kurang dari 20 mm. Pasal 7 SAMBUNGAN LEWATAN (SPLICING) (1) Sambungan lewatan harus dibuat sesuai gambar rencana instruksi Engineer, atau minimal mengikuti ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. (2) Bilamana dirasa perlu untuk melakukan sambungan lewatan pada posisi lain dari posisi pada gambar rencana, posisi tersebut harus ditentukan oleh Engineer. Sambungan ini tidak diperkenankan diletakkan pada lokasi tegangan yang maximum, dan penyambungan pada besi beton yang letaknya bersebelahan agar dilaksanakan dengan bergeser posisinya (staggered). Bilamana dikehendaki suatu panjang yang tanpa sambungan, panjang dari batang tadi harus dibuat sepanjang yang bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan panjang sambungan lewatan sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03 terkecuali ditentukan lain. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 87
  25. 25. XII. PEKERJAAN PANCANG (BORE PILE) TIANG BOR BETON COR LANGSUNG DITEMPAT (BORE PILE) Pasal 1 Umum Contoh bahan yang digali harus disimpan untuk semua tiang bor. Pengujian penetrometer untuk bahan dilapangan harus dilakukan selama penggalian dan pada dasar tiang bor sesuai dengan yang diminta oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan ini harus selalu dilakukan pada tiang bor pertama dari tiap kelompok Pasal 2 Pengeboran Tiang Bor Beton Lubang-lubang harus dibor sampai kedalaman seperti yang ditunjukkan dalam gambar atau ditentukan berdasarkan pengujian hasil pengeboran. Semua lubang harus diperiksa, bilamana diameter dasar lubang kurang dari setengah diameter yang ditentukan, pekerjaan tersebut akan ditolak. Sebelum pengecoran beton, semua lubang tersebut harus ditutup sedemikian rupa hingga keutuhan lubang dapat terjamin. Dasar selubung (casing) harus dipertahankan tidak lebih dari 150 cm dan tidak kurang dari 30 cm di bawah permukaan beton selama penarikan dan operasi penempatan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan. Sampai kedalaman 3 m dari permukaan beton yang dicor harus digetarkan dengan alat penggetar. Sebelum pengecoran, semua bahan lepas yang terdapat lubang bor harus dibersihkan. Air bekas pengeboran tidak diperbolehkan masuk kedalam lubang. Sebelum pengecoran, semua air yang terdapat dalam lubang bor harus dipompa keluar. Selubung (casing) harus digetarkan pada saat pencabutan untuk menghindari menempelnya beton pada dinding casing. Pengecoran beton dan pemasangan baja tulangan tidak diijinkan sebelum mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pasal 3 Pengecoran Beton Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi beton. Dimanapun beton digunakan harus dicor kedalam suatu lubang yang kering dan bersih. Beton harus dicor melalui sebuah corong dengan panjang pipa. Pengaliran harus diarahkan sedemikian rupa hingga beton tidak menimpa baja tulangan atau sisi-sisi lubang. Beton harus dicor secepat mungkin setelah pengeboran dimana kondisi tanah kemungkinan besar akan memburuk akibat terekspos. Bilamana elevasi akhir pemotongan berada dibawah elevasi muka air tanah, tekanan harus dipertahankan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 88
  26. 26. pada beton yang belum mengeras, sama dengan atau lebih besar dari tekanan air tanah, sampai beton tersebut selesai mengeras. Pasal 4 Pengecoran Beton di Bawah Air Bilamana pengecoran beton didalam air atau pengeboran lumpur, semua bahan lunak dan bahan lepas pada dasar lubang harus dihilangkan dan cara tremie yang telah disetujui harus digunakan. Cara tremie harus mencakup sebuah pipe yang diisi dari sebuah corong diatasnya. Pipa harus diperpanjang sedikit dibawah permukaan beton baru dalam tiang bor sampai diatas elevasi air/Lumpur. Bilamana beton mengalir keluar dari dasar pipa, maka corong harus diisi lagi dengan beton sehingga pipa selalu penuh dengan beton baru. Pipa tremie harus kedap air, dan harus berdiameter paling sedikit 15 cm. Sebuah sumbat harus ditempatkan didepat beton yang dimasukkan pertama kali dalam pipa untuk mencegah pencampuran beton dan air. Pasal 5 Penanganan Kepala Tiang Bor Beton Tiang bor umumnya harus dicor sampai kira-kira satu meter diatas elevasi yang akan dipotong. Semua beton yang lepas, kelebihan dan lemah harus dikupas dari bagian puncak tiang bor dan baja tulangan yang tertinggal harus mempunyai panjang yang cukup sehingga memungkinkan pengikatan yang sempurna kedalam pur atau struktur diatasnya. Pasal 6 Tiang Bor Beton yang Cacat Tiang bor harus dibentuk dengan cara dan urutan sedemikian rupa hingga dapat dipastikan bahwa tidak terdapat kerusakan yang terjadi pada tiang bor yang dibentuk sebelumnya. Tiang bor yang cacat dan diluar toleransi harus diperbaiki atas biaya Kontraktor. 2. L AT E RAL L OA D T E ST Pas a l 1 P er s y ar ata n Umu m • Kontraktor harus mensuplai semua material, buruh dan peralatan lain yang dianggap penting untuk pelaksanaan, rekaman, dan pengukuran dari test pembebanan dan penurunan yang terjadi. • Test pembebanan yang dilaksanakan adalah untuk single pile D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 89
  27. 27. Pas a l 2 Sta ndar d L o ad T est Beban percobaan lateral total harus sebesar 200% dari beban desain lateral dan dilakukan sesuai standar ASTM D 3966-81 dengan cyclic loading. Pas a l 3 P er al a tan un tuk P em be ba na n Pe m be ba na n dil a ku ka n de ngan s u atu j ack ya ng m em p unyai k ap as it a s ti da k b oleh le bi h kec il da ri 1 25% d ar i be ba n mak s im u m yan g d it e ra pk an . Se la nj ut n ya Kon tr a kt or ha rus menga j u kan t e rl ebi h da hu l u re nca na pl atf orm da n k on s tr uk s i u nut k l oa d t e s t i n i u nt uk me ndap a t per se tuj ua n Di re ks i / Penga wa s Lap an ga n. Pas a l 4 P er al a tan unt uk P eng u kur an Se tt l e ment • Acuan (referensi) pengukuran settlement yang berupa balok (beams) dan kawat (wires) harus secara terpisah ditahan oleh penopang yang benar- benar tertanam di dalam tanah pada jarak yang tidak boleh lebih kecil dari 3 m diluar sistem yang akan dibebani dengan beban lateral. Acuan pengukuran ini harus mempunyai kekakuan lateral dan aksial yang cukup guna mendapatkan titik acuan yang stabil untuk pengukuran defleksi pile. • Dial gauge stems harus bisa bergerak sekurangnya 75 mm dan sejumlah blok gauge yang memadai harus disediakan untuk untuk bisa bergerak hingga jarak terjauh yang diharapkan. Gauge harus memiliki ketelitian sekurangnya 0.25 mm. Permukaan bantalan yang licin harus tegak lurus terhadap arah gerakan stem gaugeuntuk semua stem gauge. Skala yang harus digunakan untuk pembacaan pergerakan hingga 0.25 mm, sedangkan batang target (target rod) hingga 0.3 mm. • Tanda dengan jelas semua dial gauges, skala, dan titik referensi dengan angka atau tulisan agar memudahkan dan mendapatkan pencatatan yang akurat. Susun semua gauge, skala, atau titik referensi dengan kokoh sehingga tidak bergerak relatif terhadap penahan selama test. • Dua dial gauge harus diletakkan untuk memonitor pergerakan horizontal searah beban. Satu dial gauge tambahan harus diletakkan tegak lurus terhadap dua dial gauge untuk mengukur pergerakan horizontal dalam arah tegak lurus beban. • Satu alat pencatat yang lain dan terpisah menggunakan kabel, cermin dan skala harus disediakan sesuai dengan ASTM D 3968-90. Susun cermin dan skala pada bagian tengah atas pile yang ditest atau pada suatu bracket yang disusun sepanjang garis dari beban yang diberikan pada sisi pile yang ditest D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 90
  28. 28. dengan skala sepanjang garis beban yang diberikan. Regangkan kawat atau material lain yang ekivalen, tegaklurus terhadap garis pemberian beban dan melewati permukaan skala. Letakkan kawat tidak lebih dari 25 mm dari muka skala dan penyokong, pasang alat yang cocok untuk menjaga tegangan kawat sepanjang test sedemikian hingga jika kawat ditarik, kawat akan kembali ke posisi semula. Jika skala dan kawat diletakkan pada pile di sisi yang berlawanan terhadap titik pemberian beban, ruang yang cukup bebas harus disediakan antara pile dan kawat untuk mengantisipasi pergerakan lateral pile. • Ke s e l uru ha n a la t -ala t t es t ha ru s di li ndun gi te rh a da p pe ru ba ha n s u hu. Pas a l 5 P ro s edu r P e mbe ba na n Pembebanan lateral ini dilakukan dalam 4 cycles sesuai dengan standar ASTM D 3966-90. Siklus beban Lama Pembacaan Perpindahan (% x WL) Pembebanan Lateral (menit) 0 - - 25 10 0-5-10 50 (siklus 1) 10 0-5-10-15-20 25 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 75 20 0-5-10-15-20 100 (siklus 2) 20 0-5-10-15-20 50 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 100 10 0-5-10 125 20 0-5-10-15-20 150 (siklus 3) 20 0-5-10-15-20 75 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 100 10 0-5-10 150 10 0-5-10 170 20 0-5-10-15-20 180 20 0-5-10-15-20 190 20 0-5-10-15-20 200 (siklus 4) 60 0-10-20-30—40-50-60 150 10 0-5-10 100 10 0-5-10 50 10 0-5-10 0 10 0-5-10 D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 91
  29. 29. Pas a l 6 Pr os e dur P embac a an Pembacaan harus dilakukan sesuai prosedur berikut: - Sebelum dan sesudah setiap penambahan beban - Sebelum dan sesudah setiap penurunan beban - Setiap 5 menit - Pada saat beban puncak (200%) pembacaan dilakukan sebagai berikut: i. Setiap 10 menit untuk 2 jam pertama ii. Setiap ½ jam kemudian hingga selama 10 jam iii.Sesudah itu dilakukan setiap 1 jam Pas a l 7 K r it eri a F ai l ure Tes dianggap telah mencapai failure apabila perpindahan maksimum lateral melebihi 12 mm pada beban maksimum sebesar dua kali beban desain. Pas a l 8 K e gag al an Pe kerj aan • Apabila terjadi kegagalan pada tiang pada saat tes dilakukan, penambahan tiang pada lokasi yang berdekatan sebagaimana ditentukan oleh Engineer harus dilakukan dan dites kembali jika dianggap penting oleh Engineer. Dalam kasus ini, kontraktor harus melakukan pemasangan tiang lagi guna memastikan keamanan struktur yang dilakukan dengan menggunakan rejected piles. Semua jenis pekerjaan ini dilakukan dengan tanggungan kontraktor. • Apabila pekerjaan tes tiang gagal untuk mencapai beban kerja (full W.L), maka 2 (dua) buah tes lebih lanjut harus dilakukan oleh Kontraktor dengan tiang yang lain pada lokasi yang sama yang dipilih oleh Engineer, dengan tanggungan Kontraktor. Pas a l 9 P embe rs i ha n Ko nt ra kt o r ha rus m e mi nda hka n dan m e ngel ua r ka n s em ua r er un tu ha n, da n s isa -s is a ba han -ba han la i nn ya ke l ua r l ok as i ke t e mpa t yan g d i tu n j uk oleh M a na ge r Kons t r uks i d en ga n t a np a t a mba ha n bia ya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 92
  30. 30. 3. T E S T I ANG DI NAM I K Tes tiang dinamik harus dilakukan menggunakan sebuah Pile Driving Analyzer (PDA) serupa dengan yang dibuat oleh Pile Dynamics Incorporated baik peralatan transduser maupun rekamannya dan dengan diawasi seorang Engineer. Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis menggunakan program komputer CAPWAP atau dengan metode yang serupa. Kontraktor harus memberikan usulan sistem pemancangan beserta kriterianya kepada seorang Engineer untuk mendapatkan persetujuan. Usulan sistem dan criteria pemancangan harus dilakukan menggunakan stress wave procedure atau metode serupa. Semua instrumentasi yang dipasang pada tiang bor untuk pengukuran tegangan dan pergerakan tiang, dan semua peralatan untuk penerimaan dan pemrosesan data harus sesuai dengan tujuan pekerjan ini. Peralatan yang dibutuhkan untuk dipasang pada tiang bor harus dipasang secara benar dan mendapat persetujuan seorang Engineer. Palu dan semua peralatan yang digunakan harus mampu memberikan gaya yang cukup untuk melaksanakan tes uji beban ini tanpa mengakibatkan kerusakan pada tiang bor. Tes beban dinamik ini harus dilakukan pada waktu yang tepat dan telah disetujui setelah instalasi tiang telah dilakukan. Waktu antara selesainya instalasi dan pemancangan atau pengujian tiang normalnya harus lebih dari 12 jam. Untuk tiang bor yang dibuat di tempat, harus dijamin bahwa tiang tidak mengalami kerusakan akibat tegangan pada saat pemancangan atau pengujian dilakukan. Integritas dan perkiraan kapasitas daya dukung tiang bor harus dievaluasi dengan prosedur yang telah dikembangkan di Case Western Reserve University, Ohio, USA. Kontraktor harus memasang dua set transduser regangan dan accelerometer di dekat ujung setiap tiang bor yang akan di uji, dan harus menyediakan sistem pengukuran dan perekaman yang diperlukan seperti tape recorder dan oscilloscope. Kontraktor harus menganalisis semua hasil pengukuran dan memberikannya pada Engineer dalam tempo 24 jam setalah pengujian selesai dilakukan, mencakup informasi seperti: a) Perkiraan kapasitas daya dukung statik b) Maksimum energi yang diberikan ke tiang bor c) Maksimum gaya yang diberikan pada kepala tiang bor d) Maksimum percepatan palu dan kecepatan kepala tiang bor e) Integritas tiang bor D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 93
  31. 31. Kontraktor harus bekerjasama untuk menjamin bahwa jadual untuk pelaksanaan uji tiang bor ini dapat diikuti/dilaksanakan dengan menyediakan semua akses dan bantuan yang diperlukan sehingga memungkinkan perusahaan pelaksana pengujian melaksanakan pekerjaan ini. Untuk tiang yang telah diuji, Engineer dapat memilih hasil rekaman pengukuran lapangan yang akan dianalisis menggunakan program analisis penjalaran gelombang tegangan CAPWAP atau yang serupa. Hasil analisis harus mencakup tahanan static tiang bor baik friksi maupun ujung, perilaku beban-penurunan dan integritas tiang. Perusahaan yang melaksanakan pengujian harus memberikan sebuah laporan lengkap kepada Engineer dalam jangka waktu 10 hari setelah pengujian selesai. Laporan harus mencakup semua informasi mengenai ttiang bor dan palu, tangal pengujian, jumlah pukulan untuk analisis CAPWAP, beban uji yang dicapai, pergerakan kepala tiang bor saat beban desain ekivalen dan beban pengujian yang diberikan maksimum. Detail spesifik meliputi: a) Tanggal instalasi tiang bor b) Tanggal pengujian c) Identifikasi dan lokasi tiang bor d) Panjang tiang bor di bawah permukaan tanah e) Panjang total tiang bor, termasuk proyeksinya di atas permukaan tanah setiap saat. f) Panjang tiang bor dari posisi instrumentasi ke ujung bawah tiang g) Tipe palu, tinggi jatuh dan detail informasi relevan lainnya h) Jumlah pukulan i) Beban uji yang dicapai j) Pergerakan kepala tiang bor saat beban verifikasi desain ekuivalen k) Pergerakan kepala tiang saat beban verifikasi desain ekuivalen + 50% beban kerja l) Pergerakan kepala tiang saat beban uji maksimum m) permanent residual movement dari kepala tiang setelah setiap pukulan n) temporary compression Kontraktor harus menyediakan semua detail informasi yang ada mengenai kondisi tanah, dimensi tiang, dan metode konstruksi kepada perusahaan spesialis yang melakukan pengujian ini berkaiatan dengan interpretasi dari pengujian yang dilakukan. XIII.PEKERJAAN RAILING (1) Pekerjaan Railing Tangga 1. Lingkup Pekerjaan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 94
  32. 32. a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Meliputi pekerjaan railing dilakukan untuk seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. Tangga - Terbuat dari bahan Stainless Steel (SS) H 950 mm & (SS) H 840 mm dengan tebal 1.2 mm ex Hessel atau produk setara & Finishing dipoles, dan disetujui oleh Direksi Pengawas. - Bentuk/ ukuran sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Stenless Steel harus mempunyai kekuatan tarik minimum 41 kgf/mm2 (402 N/mm2) dan batas ulur minimum 24 kgf/mm2 (235 N/mm2). b. Tebal Tiang plat besi 12 mm finish duco dan disetujui oleh Direksi Pengawas. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Seluruh pekerjaan dibengkel harus merupakan pekerjaan yang berkualitas tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat dilapangan. b. Pemeriksaan pekerjaan dibengkel dapat dilakukan bila dikehendaki sewaktu-waktu oleh Direksi Pengawas dan tidak ada pekerjaan yang dikirim ke lapangan sebelum diperiksa dan disetujui Direksi Pengawas. c. Setiap pekerjaan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak dan Kontraktor harus mengganti segera tanpa tambahan biaya. d. Sebelum pekerjaan di bengkel dimulai Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua komponen, panjang serta ukuran las, D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 95
  33. 33. jumlah, ukuran serta peralatan lain yang diperlukan/ digunakan dalam pekerjaan ini. e. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran yang tercantum pada gambar. f. Pekerjaan pengelasan harus dibawah pengawasan personel yang memiliki persiapan teknis pekerjaan tersebut. g. Untuk bagian konstruksi baja harus dilakukan dengan las listrik serta pengelasannya sudah melalui test & harus memiliki ijasah yang menetapkan kualifikasi, jenis pengelasan yang diperkenankan padanya h. Bagian konstruksi yang setara akan dilas harus dibersihkan dari bekas cat, karat, lemak dan kotoran. i. Pengelasan konstruksi, baik secara keseluruhan maupun merupakan pengelasan-pengelasan bagian-bagiannya hanya boleh dilakukan setelah diperiksa bahwa hubungan-hubungan yang akan di las sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk konstruksi itu. j. Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus menjamin situasi yang paling aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan. k. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan,baikbekas lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja dibersihkan dari kerak (slak) dan kotoran lainnya. l. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan yang terdahulu harus dibersihkan dari kerak (slak) dan percikan-percikan logam sebelum memulai dengan lapisan las yang baru. Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama sekali. XIV.PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING Pasal 1 PENJELASAN & SPESIFIKASI UMUM (1) Pekerjaan instalasi plumbing ini harus dilaksanakan oleh Instalatur Pipa yang telah mempunyai surat pengakuan (P.A.S) golongan III dari PAM setempat dan SIBP klas A dari Pemerintah Daerah. (2) Pada dasarnya untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi plumbing ini, disamping Rencana Kerja dan syarat-syarat ini, berlaku : D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 96
  34. 34. - A.V. 1941 - Peraturan/ persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik dimana mesin, peralatan dan material tersebut dibuat. - Peraturan/ persyaratan lainnya yang berlaku sah di Indonesia. (3) Semua gambar-gambar kerja atau shop drawing yang dibuat oleh Kontraktor/ Instalatur Plumbing maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan Pengawas/ Contrustion Management. (4) Setelah pekerjaan selesai, Kontraktor/ Instalastur diharuskan menyerahkan gambar instalasi yang telah direvisi dan disahkan oleh PAM setempat, dalam rangkap 5 (lima) dilampiri surat tanda keur dari PAM yang menyatakan bahwa pemasangan instalasi telah memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan. (5) Dalam perhitungan biaya penawaran, harus sudah termasuk : - Biaya perizinan dan pengetesan untuk bahan-bahan dan peralatan- peralatan yang dipasang. - Biaya keur dan biaya tanggungan instalasi. - Semua biaya yang diakibatkannya dan biaya resiko pecah/rusaknya sanitary fixtures. - Biaya penyimpanan/gudang untuk sanitary fixtures. - Biaya penyambungan PAM. (6) Semua instalasi, peralatan-peralatan dan mesin-mesin yang telah terpasang, sebelum diserahkan harus ditest mengenai kemampuan bekerjanya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan. Pasal 2 RUANG LINGKUP PEKERJAAN (1) Pekerjaan Air Bersih - pengadaan dan pemasangan secara sempurna unit-unit peralatan utama yang diperlukan dalam sistem penyediaan air bersih berupa pompa-pompa, panel pompa beserta perlengkapan. - Pengadaan dan pemasangan sistem pemipaan beserta perlengkapan yang meliputi pemipaan reservoir, pemipaan pada instalasi pompa dan pemipaan distribusi pada setiap titik pengeluaran. - Pemasangan pipa distribusi kesetiap peralatan sanitary seperti halnya closed, wastafel, urinal dan lain-lain. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 97

×