Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
PERBANDINGAN FAKTOR KLIMATIK PADA DAERAH YANG
TERNAUNGI DAN DAERAH YANG TERDEDAH DI HUTAN KOTA
BABAKAN SILIWANGI BANDUNG
L...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Hutan Babakan Siliwangi Bandung seluas 3,8 hektar diisi dengan
berbagai tumbu...
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana perbandingan profil klimatik pada daerah yang ternaungi dan
daerah yang terdedah di Hutan Ko...
profil yang diamati yaitu di Hutan Kota Babakan Siliwangi. Waktu
pengamatan juga dibatasi yaitu pukul 08.00-14.00.
Adapun ...
Beberapa variasi suhu dapat dilihat berdasarkan :
a. Komposisi dan warna tanah, makin terang warna tanah makin banyak
pana...
Pengertian Kelembaban udara (humidity gauge) adalah jumlah
uap air diudara (atmosfer). Kelembaban adalah konsentrasi uap a...
2.1.3.Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya atau kandungan energi merupakan aspek cahaya
terpenting sebagai faktor lingkunga...
menentukan suhu lingkungan. Keadaan udara di suatu tepat dipengaruhi oleh
cahaya matahari,kelembaban, dan juga temperatur ...
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode
deskri...
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel bebas : keadaan daerah yang ternaungi dan terdedah
3.3.2 Variabel terikat : suhu, i...
Alat Jumlah
Anemometer 1 buah
Lux meter 2 buah
Termometer 3 buah
Higrometer 3 buah
Alat tulis 1 set
Kamera digital 1 buah
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Tabel Hasil Pengamatan
1. Intensitas Cahaya
Tabel 1.1 Hasil Pengukuran Inten...
Tabel 1.2 Rata-rata Intensitas Cahaya pada Daerah Ternaungi dan
Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung
Intensita...
0,00 0,01 0,00 0,00 0,00 0,02
Rata-
rata
0 0,016667 0,006667 0 0 0,01
Ternaungi : 0,002222 Terdedah : 0,005556
Tabel 2.2 R...
Tabel 3.2 Rata-rata Suhu pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan
Kota Babakan Siliwangi Bandung
Suhu (o
C)
WAKTU TERNA...
11.00 91,67 88,16
13.00 86,3 90,86
4.2 Grafik Hasil Pengamatan
1. Intensitas Cahaya
Grafik 1.1 Rata-Rata Intensitas Cahaya...
3. Suhu
Grafik 3.1 Rata-rata Suhu pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota
Babakan Siliwangi Bandung
4. Kelembaban...
4.2 Analisis Data Hasil Pengamatan
4.2.1 Normalitas:
Jika Sig. > 0,05 maka distribusi data dikatakan normal.
1. Intensitas...
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Ternaungi Terdedah
N 3 3
Normal Parametersa,b
Mean .00407433 .00514833
Std.
Deviation
....
4. Suhu
Descriptive Statistics
N Mean Std.
Deviation
Minimum Maximum
Suhu_Ternaun
gi
3 24.5000 .92677 23.50 25.33
Suhu_Ter...
4.2.2 Uji Komparasi Independent (T-test)
1. Intensitas Cahaya
Group Statistics
Tempat_Penelitia
n
N Mean Std.
Deviation
St...
2. Kecepatan Angin
Group Statistics
Tempat_Penelitian
4
N Mean Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Data Kecepatan
Angin
1.00000...
3. Kelembaban
Group Statistics
Tempat_Penelitian
3
N Mean Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Data
Kelembaban
1.0000 3 .882133 ...
4. Suhu
Group Statistics
Tempat_Penelitian
2
N Mean Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Data Suhu
1.00 3 24.5000 .92677 .53507
...
Berdasarkan data analisis data menggunakan statistik komparatif tersebut, dapat
dibuat tabel sebagai berikut:
Data Sig. Ko...
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi dan pengambilan data di 3 titik daerah
pengukuran di Hutan Kota Babakan Siliw...
di udaranya sehingga tingkat kelembaban udara nya akan rendah. Intensitas
cahaya juga mempengaruhi suhu, karena cahaya mat...
c. Pada pukul 13.00 di tempat terdedah 26,66667 di tempat ternaungi
25.3333
Dan kondisi kelembabannya (%) ialah:
a. Pada p...
BAB VI
PENUTUP
6.1 Simpulan
1. Intensitas cahaya pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah
di Hutan Kota Babakan...
DAFTAR PUSTAKA
Aminudin,Wafa Ahmad. 2013. Wahana Rekreasi Kebun Binatang bandung
[Online] Tersedia: http://www.ragamtempat...
LAMPIRAN
Gambar 1. Daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Gambar 1. Daerah yang ternaungi di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Laporan klimatik kel 4 a
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Laporan klimatik kel 4 a

mini riset untuk melihat adanya perbedaan faktor klimatik pada daerah yang terdedah dan ternaungi.

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Laporan klimatik kel 4 a

  1. 1. PERBANDINGAN FAKTOR KLIMATIK PADA DAERAH YANG TERNAUNGI DAN DAERAH YANG TERDEDAH DI HUTAN KOTA BABAKAN SILIWANGI BANDUNG LAPORAN disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi Umum yang diampu oleh Rini Solihat, M.Pd Dr. Amprasto, M.Si Oleh: Kelompok 4 Kelas Pendidikan Biologi A Agi Azkya 1300416 Audya Nur Fadhillah 1301282 Fitri Agustiani Azis 1300247 Novela Tri Lesatri 1300294 Rizky Ayu Kania 1301315 Ziar Lazuardi Fitriana 1301406 Irene Astri 1000101 DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2016
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hutan Babakan Siliwangi Bandung seluas 3,8 hektar diisi dengan berbagai tumbuhan yang melengkapi ekosistem yang ada. Babakan Siliwangi bahkan dinobatkan sebagai hutan kota dunia pada tanggal 27 September 2011. Hal ini menunjukkan pentingnya fungsi Babakan Siliwangi, tidak hanya bagi Bandung, namun bagi warga dunia pada umumnya. Babakan Siliwangi menjadi pemasok oksigen bagi warga Bandung yang berjumlah ribuan. Kondisi klimatik merupakan kondisi cuaca yang terjadi secara terus menerus sehingga menghasilkan sebuah pola keteraturan cuaca. Faktor iklim dapat meliputi cahaya matahari, suhu, kelembaban udara, dan angin. Suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari (Ghozaliq, 2013). Mengetahui peran Hutan Kota Babakan Siliwangi yang begitu penting bagi Kota Bandung, kami tertarik untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kondisi klimatik di Hutan Kota tersebut. Selain itu, terdapat hal menarik yang mendorong kami memutuskan untuk melakukan penelitian disana, yaitu adanya perbedaan daerah yang ternaungi oleh pepohonan dan daerah yang terdedah (tidak ternaungi oleh pepohonan), kondisi tersebut mungkin dapat menyebabkan adanya perbedaan intensitas cahaya yang dapat tembus dan membuat kami beranggapan bahwa perbedaan intensitas cahaya tersebut dapat membentuk kondisi klimatik yang berbeda. Hal ini membawa kami untuk melakukan sebuah penelitian kecil, hasil penelitian tersebut akan kami tuangkan ke dalam sebuah laporan penelitian. Besar harapan kami bahwa penelitian ini dapat menjawab atau membuktikan kebenaran dari dugaan kami mengenai adanya perbedaan kondisi klimatik di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung akibat adanya pengaruh perbedaan intensitas cahaya.
  3. 3. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana perbandingan profil klimatik pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung? 1.3 Pertanyaan Penelitian 1.3.1 Bagaimana perbandingan intensitas cahaya pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Silwangi Bandung? 1.3.2 Bagaimana perbandingan suhu udara pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung? 1.3.3 Bagaimana perbandingan kelembaban udara pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Silwangi Bandung? 1.3.4 Bagaimana perbandingan kecepatan angin pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi dan Kebun Binatang Bandung? 1.3.5 Bagaimana perbedaan faktor klimatik pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi dan Kebun Binatang Bandung? 1.4 Hipotesis Terdapat perbedaan profil klimatik pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung. 1.5 Tujuan Untuk mengetahui perbandingan profil klimatik pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung. 1.6 Pembatasan Masalah Pengamatan yang kami lakukan dibatasi yaitu hanya mengukur hal-hal yang telah dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Dibatasi juga bahwa
  4. 4. profil yang diamati yaitu di Hutan Kota Babakan Siliwangi. Waktu pengamatan juga dibatasi yaitu pukul 08.00-14.00. Adapun waktu pengambilan data dilakukan pada jam 09.00, 11.00 dan 13.00 pada hari Sabtu, 20 Februari 2016. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komponen Faktor Klimatik Ekosistem merupakan komponen yang tersusun dari komponen biotik dan abiotik. Faktor abiotik merupakan faktor fisik yang sangat berpengaruh terhadap tumbuhan dan hewan. Salah satu komponen yang akan dibahas dalam pengamatan ini yaitu faktor klimatik yang meliputi intensitas cahaya matahari, tempratur udara, arah dan kecepatan angin serta curah hujan (Bareja, 2011). Komponen abiotik yang meliputi faktor klimatik, yaitu : 2.1.1.Suhu Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup, termasuk tumbuhan. Suhu dapat memberikan pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Rai dkk (1998) suhu dapat berperan langsung hampir pada setiap fungsi dari tumbuhan dengan mengontrol laju proses-proses kimia dalam tumbuhan tersebut, sedangkan berperan tidak langsung dengan mempengaruhi faktor-faktor lainnya terutama suplai air. Suhu akan mempengaruhi laju evaporasi dan menyebabkan tidak saja keefektifan hujan tetapi juga laju kehilangan air dari organisme. Terjadi juga variasi dari suhu ini dalam ekosistem, misalnya dalam hutan dan ekosistem perairan. Perbedaan yang nyata antara suhu pada permukaan kanopi hutan dengan suhu di bagian dasar hutan akan terlihat dengan jelas. Demikian juga perbedaan suhu berdasarkan kedalaman air. (Juliantara, 2009).
  5. 5. Beberapa variasi suhu dapat dilihat berdasarkan : a. Komposisi dan warna tanah, makin terang warna tanah makin banyak panas yang dipantulkan, makin gelap warna tanah makin banyak panas yang diserap. b. Kegemburan dan kadar air tanah, tanah yang gembur lebih cepat memberikan respon pada pancaran panas daripada tanah yang padat, terutama erat kaitannya dengan penembusan dan kadar air tanah, makin basah tanah makin lambat suhu berubah. c. Kerimbunan Tumbuhan, pada situasi dimana udara mampu bergerak dengan bebas maka tidak ada perbedaan suhu antara tempat terbuka dengan tempat tertutup vegetasi. Tetapi kalau angin tidak menghembus keadaan sangat berlainan, dengan kerimbunan yang rendah mampu mereduksi pemanasan tanah oleh pemancaran sinar matahari. Ditambah lagi kelembaban udara dibawah rimbunan tumbuhan akan menambah banyaknya panas yang dipakai untuk pemanasan uap air, akibatnya akan menaikan suhu udara. Pada malam hari panas yang dipancaran kembali oleh tanah akan tertahan oleh lapisan kanopi, dengan demikian fluktuasi suhu dalam hutan sering jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan fluktuasi di tempat terbuka atau tidak bervegetasi. d. Iklim mikro perkotaan, perkembangan suatu kota menunjukkan adanya pengaruh terhadap iklim mikro. Asap dan gas yang terdapat di udara kota sering mereduksi radiasi. Partikel- partikel debu yang melayang di udara merupakan inti dari uap air dalam proses kondensasinya uap air inilah yang bersifat aktif dalam mengurangi pengaruh radiasi matahari tadi. Kemiringan lereng dan garis lintang. e. Kemiringan lereng sebesar 50 dapat mereduksi suhu sebanding dengan 450 km perjalanan arah ke kutub (Ramli, 1989). 2.1.2.Kelembaban udara
  6. 6. Pengertian Kelembaban udara (humidity gauge) adalah jumlah uap air diudara (atmosfer). Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembaban absolut, kelembaban spesifik atau kelembaban relative. Kelembaban udara merupakan tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh. Kelembaban tinggi adalah jumlah uap air yang banyak diudara, sedangkan kelembaban rendah adalah jumlah uap air yang sedikit diudara. Kelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban udara absolut, kelembaban nisbi (relatif): a. Kelembaban absolut adalah kandungan uap air yang dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya per satuan volume (kg/m3).Kelembaban nisbi (relatif) adalah perbandingan kandungan (tekanan) uap air actual dengan keadaan jenuhnya (g/kg). b. Kelembaban spesifik Kelembaban spesifik adalah metode untuk mengukur jumlah uap air di udara dengan rasio terhadap uap air di udara kering. Kelembaban spesifik diekspresikan dalam rasio kilogram uap air, mw, per kilogram udara, ma . Rasio tersebut dapat ditulis sebagai berikut: 3. Kelembaban relatif / Nisbi Kelembaban Relatif / Nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan yang terkandung di udara pada suhu yang sama. c. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau apda kapasitas udara untuk menampung uap air.
  7. 7. 2.1.3.Intensitas Cahaya Intensitas cahaya atau kandungan energi merupakan aspek cahaya terpenting sebagai faktor lingkungan, karena berperan sebagai tenaga pengendali utama dari ekosistem. Intensitas cahaya ini sangat bervariasi baik dalam ruang/ spasial maupun dalam waktu/temporal. Intensitas cahaya dalam suatu ekosistem adalah bervariasi. Kanopi suatu vegetasi akan menahan dann mengabsorpsi sejumlah cahaya sehingga ini akan menentukan jumlah cahaya yang mampu menembus dan merupakan sejumlah energi yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dasar. Intensitas cahaya yang berlebihan dapat berperan sebagai faktor pembatas. Cahaya yang kuat sekali dapat merusak enzim akibat foto- oksidasi, ini menganggu metabolisme organisme terutama kemampuan di dalam mensisntesis protein (Juliantara, 2009). 2.1.4.Kecepatan Arah Angin Angin merupakan salah satu faktor klimatik pada komponen abiotik. Angin sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dunia tumbuhan (Bareja, 2011). Angin dapat bergerak horizontal atau vertikal dengan kecepatan bervariasi atau berfluktuasi dinamis. Faktor yang menyebabkan adanya gerakan massa udara adalah adanya perbedaan tekanan udara dari satu tempat ke tempat lain yang merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berbeda di permukaan bumi (Alam, 2012). 2.2 Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Suhu dan Kelembaban Intensitas cahaya merupakan kadar banyak tidaknya cahaya sebagai yang ada dalam suatu wilayah. Intensitas cahaya merupakan salhsatu faktor abiotik yang mempengaruhi kehidupan dan lingkungan. Cahaya ini memainkan pera sebagai tenaga pengendali utama dari ekosistem. Intensitas cahaya ini sangat bervariasi baik dalam ruang maupun dalam waktu atau temporal. Cahaya yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup adalah sinar matahari. Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari
  8. 8. menentukan suhu lingkungan. Keadaan udara di suatu tepat dipengaruhi oleh cahaya matahari,kelembaban, dan juga temperatur (suhu). Banyak tidaknya cahaya dapat ditentukan dari intensitas cahaya yang yang ada pada suatu wilayah yang sedang kita amati. Intensitas cahaya matahari yang diterima oleh suatu area akan mempengaruhi kelembaban atau kadar uap air di udara. Hal tersebut terjadi karena, kalor atau panas dari cahaya matahari dapat menyebabkan peningkatan temperatur udara. Adanya perbedaan temperatur ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara, sehingga udara mengalir atau bergerak membentuk angin. Secara tidak langsung faktor cahaya yang mempengaruhi suhu tentu akan merambat dan berhubungan erat pula dengan terjadinya perubahan kelembapan udara, karena kelemabapan udara ataupun uap air dipengaruhi tinggi rendahnya suhu di suatu wilayah. Keberadaan uap air di udara ini akan mempengaruhi kecepatan penguapan air dari permukaan tubuh organisme(Pratiwi, 2012). 2.3 Profil Hutan Kota Babakan Siliwangi Berdasarkan status informasi dan wisata Bandung (2016). Hutan Babakan Siliwangi merupakan salah satu hutan kota di Bandung dengan lahan seluas 3,8 hektar. Hutan Kota ini terletak di Jalan Siliwangi, Bandung, Jawa Barat dan berada di ketinggian 791 mdpl. Hutan Kota ini lebih dikenal dengan istilah Baksil (Babakan Siliwangi). Hutan ini merupakan hutan kota yang diresmikan sebagai hutan kota dunia pertama di Indonesia. Peresmian dilakukan pada 27 September 2011 dimana pada saat itu bersamaan dengan Konferensi Lingkungan Anak dan Pemuda yang dihadiri Wakil Presiden Boediono serta duta besar dari negara sahabat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengakui keberadaan hutan kota tersebut, sebagai satu-satunya hutan yang ada saat ini. Keberadaannya saat ini merupakan penghasil oksigen bagi kota Bandung. Sebab lahan seluas 3.8 hektar ini adalah area resapan air yang sanggup memasok oksigen untuk 15 ribu orang dalam sehari serta memiliki fungsi ekologis, sosial dan budaya tergolong cukup besar di Bandung (Ulin, 2013).
  9. 9. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu penelitian untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir;1998 dalam Witasari;2013). 3.2 Teknik Sampling Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling untuk mengambil sampel di Hutan Kota Babakan Siliwangi. Pengertian purposive sampling menurut Sugiyono (2008:122) adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sehingga data yang diperoleh lebih representatif dengan melakukan proses penelitian yang kompeten dibidangnya. Luas daerah penelitian yang diambil yaitu 2400 m2 dengan panjang 120 m x 20 m. Dengan mengambil tiga titik daerah pengukuran, jarak pengambilan titik tersebut dilakukan dengan mengukur rentang jarak setiap titik sejauh 40 m. Daerah Hutan Kota Babakan Siliwangi yang Dipilih sebagai Titik Tempat Pengambilan Data 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 120 m Luas area= 1/3 x 2400 m2 = 800 m2 (6 kotak) Kotak yang diblok merupakan titik yang dipilih secara acak. 20 m
  10. 10. 3.3 Variabel Penelitian 3.3.1 Variabel bebas : keadaan daerah yang ternaungi dan terdedah 3.3.2 Variabel terikat : suhu, intensitas cahaya, kelembaban, dan kecepatan angin 3.4 Pelaksanaan Praktikum Hari/tanggal : Sabtu, 20 Februari 2016 Waktu : 08.00 – 14.00 Tempat : Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung 3.5 Alur Penelitian Bagan 1. Alur Penelitian Faktor Klimatik 3.5 Alat dan Bahan Tabel 1. Alat yang digunakan
  11. 11. Alat Jumlah Anemometer 1 buah Lux meter 2 buah Termometer 3 buah Higrometer 3 buah Alat tulis 1 set Kamera digital 1 buah
  12. 12. BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Tabel Hasil Pengamatan 1. Intensitas Cahaya Tabel 1.1 Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Titik 1 Titik 2 Titik 3 Waktu Ternaungi Terdedah Ternaungi Terdedah Ternaungi Terdedah Pukul 09.00 286,5 2581 273,4 761 1381 579 255,0 2089 205,4 758 1381 570 259,6 1532 200,4 772 1485 574 Rata- rata 267,03 2067,3 226,4 763,67 1415,67 574,3 Ternaungi : 636,3667 Terdedah : 1135,09 Pukul 11.00 408 2803 219,2 3859 861 1542 412 3058 212,8 3883 765 1667 431 2949 220,6 3881 748 1609 Rata- rata 417 2936,67 217,53 3874,3 791,3 1606 Ternaungi : 475,2646 Terdedah : 2805,657 Pukul 13.00 196,7 2340 242,8 3483 742 1438 204,2 3622 215,3 3446 778 1448 227,2 3980 276,5 3846 609 1462 Rata- rata 209,37 3314 244,87 3591,67 709,67 1449.3 Ternaungi : 387,97 Terdedah : 2784,99
  13. 13. Tabel 1.2 Rata-rata Intensitas Cahaya pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Intensitas Cahaya (cd) WAKTU TERNAUNGI TERDEDAH 09.00 636,37 1135,09 11.00 475,27 2805,66 13.00 387,97 2784,99 2. Kecepatan Angin Tabel 2.1 Hasil Pengukuran Kecepatan Angin pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Titik 1 Titik 2 Titik 3 Waktu Ternaungi terdedah Ternaungi terdedah Ternaungi Terdedah Pukul 09.00 0,00 0,03 0,00 0,00 0,00 0,01 0,00 0,01 0,00 0,03 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Rata- rata 0 0,013 0 0,01 0,003333 0,003333 Ternaungi : 0,001111 Terdedah : 0,007667 Pukul 11.00 0,01 0,00 0,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,00 0,00 0,00 0,01 0,00 0,00 0,02 0,00 0,01 0,00 Rata- rata 0,003333 0,003333 0,02 0 0,003333 0,003333 Ternaungi : 0,00889 Terdedah : 0,002222 Pukul 13.00 0,00 0,02 0,02 0,00 0,00 0,00 0,00 0,02 0,00 0,00 0,00 0,01
  14. 14. 0,00 0,01 0,00 0,00 0,00 0,02 Rata- rata 0 0,016667 0,006667 0 0 0,01 Ternaungi : 0,002222 Terdedah : 0,005556 Tabel 2.2 Rata-rata Kecepatan Angin pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Kecepatan Angin (m/s) WAKTU TERNAUNGI TERDEDAH 09.00 0,001111 0,007667 11.00 0,00889 0,002222 13.00 0,002222 0,005556 3. Suhu Tabel 3.1 Hasil Pengukuran Suhu pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Titik 1 Titik 2 Titik 3 Waktu Ternaungi terdedah Ternaungi terdedah Ternaungi terdedah Pukul 09.00 24 27 25 27 25 25 Ternaungi : 24,6667 Terdedah : 26,3333 Pukul 11.00 23 24,5 23,5 25,5 24 25 Ternaungi : 23,5 Terdedah : 25 Pukul 13.00 25,5 27 25 26,5 25,5 26,5 Ternaungi : 25.3333 Terdedah : 26,66667
  15. 15. Tabel 3.2 Rata-rata Suhu pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Suhu (o C) WAKTU TERNAUNGI TERDEDAH 09.00 24,67 26,33 11.00 23,5 25 13.00 25,33 26,67 4. Kelembaban Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Kelembaban pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Titik 1 Titik 2 Titik 3 Waktu Ternaungi terdedah Ternaungi terdedah Ternaungi terdedah Pukul 09.00 84 % 92 % 84 % 92 % 92 % 92 % Ternaungi : 86.67 % Terdedah : 92 % Pukul 11.00 92 % 92,5 % 91 % 84,5 % 92 % 87, 5 % Ternaungi : 91.67 % Terdedah : 88.16 % Pukul 13.00 92 % 69 % 83 % 84 % 84 % 92,6 % Ternaungi :86.3 % Terdedah : 90,86 % Tabel 4.2 Rata-rata Kelembaban pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung Kelembaban (%) WAKTU TERNAUNGI TERDEDAH 09.00 86,67 92
  16. 16. 11.00 91,67 88,16 13.00 86,3 90,86 4.2 Grafik Hasil Pengamatan 1. Intensitas Cahaya Grafik 1.1 Rata-Rata Intensitas Cahaya pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung 2. Kecepatan Angin Grafik 2.1 Rata-rata Kecepatan Angin pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung 1135,09 2805,66 2748,99 636,37 475,26 387,97 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 09.00 11.00 13.00 Terdedah Ternaungi 0,0076 0,0022 0,0055 0,0011 0,0088 0,0022 0 0,002 0,004 0,006 0,008 0,01 09.00 11.00 13.00 Terdedah Ternaungi
  17. 17. 3. Suhu Grafik 3.1 Rata-rata Suhu pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung 4. Kelembaban Grafik 4.1 Rata-rata Kelembaban pada Daerah Ternaungi dan Terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung 26,33 25 26,67 24,67 23,5 0,0055560 5 10 15 20 25 30 09.00 11.00 13.00 Terdedah Ternaungi 92 88,16 90,86 86,67 91,67 86,3 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 09.00 11.00 13.00 Terdedah Ternaungi
  18. 18. 4.2 Analisis Data Hasil Pengamatan 4.2.1 Normalitas: Jika Sig. > 0,05 maka distribusi data dikatakan normal. 1. Intensitas Cahaya Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Ternaungi 3 499.8700 126.01393 387.97 636.37 Terdedah 3 2241.9133 958.59284 1135.09 2805.66 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Ternaungi Terdedah N 3 3 Normal Parametersa,b Mean 499.8700 2241.9133 Std. Deviation 126.01393 958.59284 Most Extreme Differences Absolute .244 .381 Positive .244 .278 Negative -.194 -.381 Kolmogorov-Smirnov Z .423 .660 Asymp. Sig. (2-tailed) .994 .776 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. 2. Kecepatan Angin Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Ternaungi 3 .00407433 .004207323 .001111 .008890 Terdedah 3 .00514833 .002745296 .002222 .007667
  19. 19. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Ternaungi Terdedah N 3 3 Normal Parametersa,b Mean .00407433 .00514833 Std. Deviation .004207323 .002745296 Most Extreme Differences Absolute .337 .226 Positive .337 .190 Negative -.241 -.226 Kolmogorov-Smirnov Z .583 .391 Asymp. Sig. (2-tailed) .886 .998 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. 3. Kelembaban Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Ternaungi 3 .8833 .03215 .86 .92 Terdedah 3 .9033 .02082 .88 .92 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Ternaungi Terdedah N 3 3 Normal Parametersa,b Mean .8833 .9033 Std. Deviation .03215 .02082 Most Extreme Differences Absolute .328 .292 Positive .328 .212 Negative -.234 -.292 Kolmogorov-Smirnov Z .567 .506 Asymp. Sig. (2-tailed) .904 .960 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
  20. 20. 4. Suhu Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Suhu_Ternaun gi 3 24.5000 .92677 23.50 25.33 Suhu_Terdedah 3 26.0000 .88255 25.00 26.67 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Ternaungi Terdedah N 3 3 Normal Parametersa,b Mean 24.5000 26.0000 Std. Deviation .92677 .88255 Most Extreme Differences Absolute .239 .312 Positive .193 .224 Negative -.239 -.312 Kolmogorov-Smirnov Z .415 .541 Asymp. Sig. (2-tailed) .995 .931 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
  21. 21. 4.2.2 Uji Komparasi Independent (T-test) 1. Intensitas Cahaya Group Statistics Tempat_Penelitia n N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Data Intensitas Cahaya 1.00 3 499.8700 126.01393 72.75418 2.00 3 2241.9133 958.59284 553.44383 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Data Intensitas Cahaya Equal variances assumed 11.882 .026 -3.121 4 .035 -1742.04333 558.20538 -3291.86993 -192.21674 Equal variances not assumed -3.121 2.069 .085 -1742.04333 558.20538 -4068.55349 584.46682
  22. 22. 2. Kecepatan Angin Group Statistics Tempat_Penelitian 4 N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Data Kecepatan Angin 1.000000 3 .00407433 .004207323 .002429099 2.000000 3 .00514833 .002745296 .001584997 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Data Kecepatan Angin Equal variances assumed 1.170 .340 -.370 4 .730 -.001074 .002900472 -.009127001 .006979001 Equal variances not assumed -.370 3.442 .733 -.001074 .002900472 -.009669298 .007521298
  23. 23. 3. Kelembaban Group Statistics Tempat_Penelitian 3 N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Data Kelembaban 1.0000 3 .882133 .0299927 .0173163 2.0000 3 .903400 .0197211 .0113860 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Data Kelembaban Equal variances assumed 1.241 .328 -1.026 4 .363 -.0212667 .0207242 -.0788064 .0362731 Equal variances not assumed -1.026 3.457 .371 -.0212667 .0207242 -.0825520 .0400187
  24. 24. 4. Suhu Group Statistics Tempat_Penelitian 2 N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Data Suhu 1.00 3 24.5000 .92677 .53507 2.00 3 26.0000 .88255 .50954 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Data Suhu Equal variances assumed .000 1.000 -2.030 4 .112 -1.50000 .73887 -3.55144 .55144 Equal variances not assumed -2.030 3.990 .112 -1.50000 .73887 -3.55337 .55337
  25. 25. Berdasarkan data analisis data menggunakan statistik komparatif tersebut, dapat dibuat tabel sebagai berikut: Data Sig. Komparatif Keterangan Kesimpulan Intensitas Cahaya 0,026 <0,05 Ho ditolak, Ha diterima Kecepatan Angin 0,340 > 0,05 Ho diterima, Ha ditolak Kelembaban 0,328 >0,05 Ho diterima, Ha ditolak Suhu 1 >0,05 Ho diterima, Ha ditolak Ho: Terdapat varian yang sama Ha: Tidak terdapat varian yang sama Jika Sig. < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ha penelitian : Terdapat perbedaan profil klimatik pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung. (Ditolak)
  26. 26. BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan pengambilan data di 3 titik daerah pengukuran di Hutan Kota Babakan Siliwangi, dari ketiga titik tersebut terdapat perbedaan faktor klimatik yang meliputi intensitas cahaya, suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Dari keempat faktor yang diobservasi, faktor yang paling mencolok (perbandingannya) dan yang mempengaruhi faktor-faktor lainnya ialah intensitas cahaya. Pada daerah yang ternaungi intensitas cahaya lebih kecil dibandingkan di daerah yang terdedah, hal tersebut dikarenakan banyaknya jumlah pohon yang menaungi 3 titik pengambilan data sehingga cahaya yang tembus atau masuk ke titik tersebut tidak banyak (teduh). Sedangkan pada daerah yang terdedah, masih terdapat pohon-pohon disekitarnya namun tidak sebanyak di daerah yang ternaungi sehingga cahaya yang tembus atau masuk ke titik pengambilan data sangatlah banyak (terang benderang). Perbedaan waktu pengambilan (09.00, 11.00 dan 13.00) juga mempengaruhi intensitas cahaya yang didapat, pada daerah yang terdedah semakin siang (semakin banyak cahaya matahari yang tembus) maka intensitas cahaya akan semakin besar. Namun rata-rata intensitas cahaya pada pukul 13.00 mengalami penurunan dibandingkan pada pengambilan data pukul 11.00. Hal tersebut dikarenakan sempat terjadi hujan di Hutan Kota Babakan Siliwangi, sehingga intensitas cahaya yang pada awalnya besar menjadi kecil. Kondisi langit yang awalnya cerah pada pukul 13.00 menjadi mendung dan berawan, maka intensitas cahaya nya pun dipastikan berkurang. Intensitas cahaya juga mempengaruhi faktor-faktor klimatik lainnya seperti suhu dan kelembaban. Intensitas cahaya berbanding terbalik dengan kelembaban udara, semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin rendah kelembaban udaranya. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi intensitas cahaya yang didapatkan oleh tanaman maka akan semakin rendah tingkat kandungan air
  27. 27. di udaranya sehingga tingkat kelembaban udara nya akan rendah. Intensitas cahaya juga mempengaruhi suhu, karena cahaya matahari menyebabkan peningkatan suhu atau temperature udara. Berdasarkan hasil pengamatan di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung pada tanggal 20 Februari 2016, rata-rata kecepatan anginnya (m/s) ialah : a. Pada Pukul 09.00, di tempat terdedah 0,007667 dan di tempat ternaungi : 0,001111 b. Pada pukul 11.00, di tempat terdedah : 0,002222 dan di tempat ternaungi Ternaungi : 0,00889 c. Pada pukul 13.00, di tempat terdedah : 0,005556 dan di tempat Ternaungi : 0,002222. Perbedaaan ini terjadi karena pada pagi hari kondisi angin tidak terlalu kencang, sedangkan saat menjelang siang karena kondisi hujan, angin di hutan kota ini cukup kencang dibandingkan di pagi hari. Keadaan yang demikian juga mempengaruhi terhadap intensitas cahaya di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung, Karena wilayah yang teramati ialah titik yang terdedah dan yang ternaungi oleh banyaknya pohon. Rata-rata intensitas cahanya (Cd) ialah: a. Pada pukul 09.00, di tempat terdedah 1135,09 , di tempat ternaungi 636,3667 b. Pada pukul 11.00 di tempat terdedah 2805,657 di tempat ternaungi 475,2646 c. Pada pukul 13.00 di tempat terdedah 2784,99 di tempat ternaungi 387,97 Dengan intensitas cahaya yang tinggi maka tentu saja berpengaruh pada keadaan suhu dan kelembaban derah pengamatan tersebut. Intensitas cahaya yang tinggi maka suhunya pun akan tinggi. Keadaan suhu ini pun selanjutnya akan mempengaruhi terhadap kelembaban suatu daerah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, Rata-rata kondisi suhunya (0 C) ialah: a. Pada pukul 09.00, di tempat terdedah 26,3333, di tempat ternaungi 24,6667 b. Pada pukul 11.00 di tempat terdedah 25 di tempat ternaungi 23,5
  28. 28. c. Pada pukul 13.00 di tempat terdedah 26,66667 di tempat ternaungi 25.3333 Dan kondisi kelembabannya (%) ialah: a. Pada pukul 09.00, di tempat terdedah 92, di tempat ternaungi 86.67 b. Pada pukul 11.00 di tempat terdedah 88.16 di tempat ternaungi 91.67 c. Pada pukul 13.00 di tempat terdedah 90,86 di tempat ternaungi 86.3 Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan yaitu jika suhu pada suatu daerah tinggi maka kelembapannya akan rendah, begitupun sebaliknya. Sedangkan dari data yang diperoleh pada pukul 09.00 daerah terdedah memiliki kelembaban yang lebih tinggi dari daerah yang ternaungi, hal tersebut dapat disebabkan karena faktor embun. Dimana pada pukul 09.00 embun di daerah yang terdedah lebih banyak dan intensitas cahaya yang masuk lebih besar, sehingga proses penguapan lebih cepat terjadi dan menyebabkan tingkat kelembaban di daerah yang terdedah lebih tinggi. Hal yang serupa terjadi pada pukul 13.00, hal tersebut disebabkan karena pukul 12.00-12.45 terjadi hujan, dan pada saat dimana berakhirnya hujan (12.45) tim mulai memasang Thermohygometer. Kemungkinan yang terjadi ialah tetes air sisa hujan jatuh mengenai bagian yang seharusnya kering. Namun, jika berdasarkan hasil analisis data statistik komparatif. Data yang memiliki perbedaan hanyalah data dari pengukuran intensitas cahaya, karena memiliki nilai Sig. 0,026 (lebih kecil dari 0,05). Sedangkan untuk kecepatan angin, kelembaban dan suhu memiliki data yang relatif sama, karena nilai Sig. yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara daerah yang terdedah dan ternaungi di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung.
  29. 29. BAB VI PENUTUP 6.1 Simpulan 1. Intensitas cahaya pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Silwangi Bandung memiliki perbedaan. 2. Suhu udara pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung relatif sama. 3. Kelembaban udara pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Silwangi Bandung relatif sama. 4. Kecepatan angin pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi dan Kebun Binatang Bandung relatif sama. 5. Tidak terdapat perbedaan faktor klimatik yang signifikan pada daerah yang ternaungi dan daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi dan Kebun Binatang Bandung. 6.2 Saran Penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan, berdasarkan kendala yang dirasakan. Maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Sebaiknya alat pengukur faktor klimatik yang digunakan dalam penelitian ini dikondisikan agar kuantitas dan kualitasnya memadai. 2. Akan lebih mudah jika penelitian ini didukung dengan studi literatur yang lengkap dan jurnal-jurnal penelitian yang sesuai. 3. Pengukuran dan pengambilan data di lapangan harus didukung oleh jumlah peneliti yang memadai.
  30. 30. DAFTAR PUSTAKA Aminudin,Wafa Ahmad. 2013. Wahana Rekreasi Kebun Binatang bandung [Online] Tersedia: http://www.ragamtempatwisata.com/2013/07/wahana- rekreasi-kebun-binatang-bandung.html Juliantara, I Ketut Putra. 2009. Ekologi Tumbuhan (Cahaya, Suhu, Dan Air). Tersedia [Online] : Http://Www.Kompasiana.Com/Ikpj/Ekologi-Tumbuhan- Cahaya-Suhu-Dan-Air_54ff4049a33311954a50fa24 Pratiwi, A..dkk.(2007).Biologi SMA Jilid 1 Kelas X.Jakarta : Erlangga Pusat Informasi dan Wisata kota Bandung.2016. [Online] Tersedia: http://bandung.panduanwisata.id/babakan-siliwangi-hutan-kota-yang- menyejukkan/ Ramadhan, 2015. Pengertian Kelembaban. Tersedia [Online] Http://Documents.Tips/Documents/Pengertian-Kelembaban.Html Ramli, D. 1989. Ekologi. Jakarta : Pplp Tenaga Kependidikan. Ulin 2013. Hutan Kota Babakan Siliwangi. [online] Tersedia: http://www.bandungview.info/2013/07/babakan-siliwangi-area-hijau- bandung.html Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta. Ulin 2013. Hutan Kota Babakan Siliwangi. [online] Tersedia: http://www.bandungview.info/2013/07/babakan-siliwangi-area-hijau- bandung.html
  31. 31. LAMPIRAN Gambar 1. Daerah yang terdedah di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung (Dokumentasi Pribadi, 2016)
  32. 32. Gambar 1. Daerah yang ternaungi di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung (Dokumentasi Pribadi, 2016)

×