Successfully reported this slideshow.
Your SlideShare is downloading. ×

Ontology fix.ppt

Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Loading in …3
×

Check these out next

1 of 18 Ad

Ontology fix.ppt

Download to read offline

Ontologi Ilmu sebuah Tinjauan dibuat dengan mengutif dari beberapa referensi yang dicantunkan di daftar pustaka.
Ditujukan untuk para pembaca yang membutuhkan informasi terkait aspek ontologi filsafat.

Ontologi Ilmu sebuah Tinjauan dibuat dengan mengutif dari beberapa referensi yang dicantunkan di daftar pustaka.
Ditujukan untuk para pembaca yang membutuhkan informasi terkait aspek ontologi filsafat.

Advertisement
Advertisement

More Related Content

Advertisement

Ontology fix.ppt

  1. 1. Rosyidah Alfitri | Abigael Grace Prasetiani | Ashriady 28 September 2022 | Ruang Aula Sabdoadi Filsafat Ilmu Tugas Persentase Kelompok 4
  2. 2. Ontologi? Berasal dari bahasa Yunani: “Ontos’ adalah yang ada, “Logos” adalah ilmu. Sederhananya, ontologi merupakan ilmu yang berbicara tentang yang ada. Secara istilah, ontologi adalah cabang dari ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup tentang suatu keberadaan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada Ontologi kerap kali diidentikkan dengan metafisika. Ontologi merupakan cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat apa yang terjadi
  3. 3. Monoisme Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran yaitu pertama, Materialisme: Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan ruhani, tokohnya: Thales. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Kedua Idealisme, diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak, tokohnya: Plato Aliran ONTOLOGI
  4. 4. Aliran ONTOLOGI Pluralisme Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles. Dualisme Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Tokoh: Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern.
  5. 5. Nihilisme Berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Agnostisisme Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Aliran ONTOLOGI
  6. 6. 2 KAJIAN ONTOLOGI berkaitan Objek Ilmu Pertama, objek ilmu yang bersifat materi, maksudnya adalah objek ilmu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan. Contohnya: ilmu sains, ilmu eksak, ilmu politik, sosial, budaya, psikologi, dan lain sebagainya. 01 Kedua, objek ilmu yang bersifat non-materi, pada non-materi ini tidak bisa didengar, dilihat, dan dirasakan. Hasil akhir lebih sebagai kepuasan spiritual. Contohnya objek yang berbicara tentang ruh, sifat dan wujud Tuhan dan lain sebagainya. 02
  7. 7. Ilmu Ontologis dasarnya berbicara tentang hakikat “yang ada” ilmu pengetahuan, hakikat objek pengetahuan, dan hakikat hubungan subjek-objek ilmu Ontologi ilmu meliputi seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji melalui pancaindra manusia. Jika dilihat dari objek yang telah dikajinya, ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris dimana objek-objek yang berada di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang kajian keilmuan tersebut.
  8. 8. 2 Sudut Pandang Pertama, kuantitatif yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu berbentuk tunggal atau jamak 01 Kedua, kualitatif yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu mempunyai kualitas tertentu. Mis: daun yang berwarna hijau, bunga mawar yang berbau harum 02
  9. 9. Ilmu berasal dari suatu penelitian Adanya konsep pengetahuan empiris dan tidak ada konsep wahyu Pengetahuan bersifat rasional, objektif, sistematik, metodologis, observatif, dan netral Menghargai asas verifikasi (pembuktian), eksplanatif (penjelasan), keterbukaan dan dapat diulang kembali, skeptisisme yang radikal, dan berbagai metode eksperimen 01 02 03 04 Karakteristik Ontologi? ILMU PENGETAHUAN
  10. 10. Melakukan pembuktian bentuk kausalitas (causality) dan terapan ilmu menjadi teknologi Mengakui pengetahuan dan konsep yang relatif serta logika-logika ilmiah Memiliki berbagai hipotesis dan teori-teori ilmiah Memiliki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan 05 06 07 08 Karakteristik Ontologi? ILMU PENGETAHUAN
  11. 11. Ontologi Kepatuhan Pasien TB • Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (Kemenkes RI, 2018). Kepatuhan adalah fenomena yang kompleks dan dinamis dengan berbagai faktor sosial ekonomi yang berinteraksi yang berdampak pada perilaku kepatuhan pasien (Munro SA, 2007). • Perilaku kepatuhan pengobatan didefinisikan sebagai sejauh mana praktik seseorang dalam minum obat, mengikuti diet, dan atau menjalankan perubahan gaya hidup sesuai dengan rekomendasi yang disepakati dari penyedia layanan kesehatan (Chani K, 2010). • Indikator keberhasilan program pengobatan TB adalah angka penemuan kasus baru BTA positif (Case Detection Rate) dan angka keberhasilan pengobatan TB (Success Rate). Estimasi prevalensi kasus TB di Indonesia adalah sebesar 600.000 atau setara 281 per 100.000 penduduk dan estimasi insidensi berjumlah 450.000 kasus baru per tahun atau setara 187 kasus baru per 100.000 penduduk, dengan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 65.000 kematian per tahunnya (WHO, 2012). • Pasien dengan TB yang menunjukkan kepatuhan yang rendah terhadap pengobatan selama periode waktu tertentu memiliki risiko tinggi menjadi resistan terhadap obat yang diresepkan yang pada akhirnya dapat mengancam jiwa (CDC, 1999).
  12. 12. Kepatuhan Pasien TB Kepatuhan tinggi (Kesembuhan TBC meningkat) Kepatuhan Rendah (menyebabkan resiko resisten thd obat ) ONTOLOGI KEPATUHAN PASIEN TB
  13. 13. Ontologi Penyakit Menular di era COVID-19 (IDO ) Respons yang efektif terhadap keadaan darurat kesehatan masyarakat, seperti yang sekarang kita alami dengan COVID-19, membutuhkan berbagi data di berbagai disiplin ilmu dan sistem data. Ontologi menawarkan alat berbagi data yang kuat, dan ini berlaku terutama untuk ontologi yang dibangun di atas prinsip-prinsip desain Open Biomedical Ontologies Foundry. Prinsip-prinsip ini dicontohkan oleh Infectious Disease Ontology (IDO), serangkaian modul ontologi yang dapat dioperasikan yang bertujuan untuk memberikan cakupan semua aspek domain penyakit menular. Di pusatnya adalah IDO Core, ontologi netral penyakit dan patogen yang hanya mencakup jenis entitas dan hubungan yang relevan dengan penyakit menular secara umum. IDO Core diperluas oleh modul ontologi spesifik penyakit dan patogen. •Untuk membantu integrasi dan analisis data COVID-19, dan data penyakit menular virus secara lebih umum, kami baru-baru ini mengembangkan tiga ekstensi IDO baru: IDO Virus (VIDO); Coronavirus Infectious Disease Ontology (CIDO); dan perpanjangan CIDO yang berfokus pada COVID-19 (IDO- COVID-19). Mencerminkan fakta bahwa virus tidak memiliki bagian seluler, kami telah memperkenalkan ke dalam IDO Core istilah struktur seluler untuk menutupi virus dan entitas seluler lainnya yang dipelajari oleh ahli virologi
  14. 14. IDO menyediakan resep sederhana untuk membangun ontologi spesifik patogen baru dengan cara yang memungkinkan data tentang penyakit baru mudah dibandingkan, di sepanjang berbagai dimensi, dengan data yang diwakili oleh ontologi penyakit yang ada. Strategi IDO, terlebih lagi, mendukung koordinasi ontologi, menyediakan metode integrasi dan berbagi data yang kuat yang memungkinkan dokter, peneliti, dan organisasi kesehatan masyarakat untuk merespons dengan cepat dan efisien terhadap krisis kesehatan masyarakat saat ini dan di masa depan.
  15. 15. IDO (Infectious Disease Ontology) IDO (Infectious Disease Ontology) CIDO (Coronavirus Infectious Disease Ontology) VIDO (Virus Infectious Disease Ontology) IDO-COVID (CIDO yang berfokus pada COVID- 19 )
  16. 16.  Ontologi ini perlu bagi setiap manusia yang ingin mempelajari secara menyeluruh tentang alam semesta ini dan berguna bagi bidang studi ilmu empiris (fisika, sosiologi, antropologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, ilmu teknik dan lainnya).  Ontologi merupakan hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri.  Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek pengetahuan.  Ontologi merupakan spesifikasi dari sebuah konseptual, dengan kata lain ontologi merupakan penjelasan dari suatu konsep dan keterhubungannya dari ilmu tersebut KESIMPULAN ONTOLOGI ILMU
  17. 17. Daftar Pustaka 1. Mahfud, Mengenal Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dalam Pendidikan Islam, Cendekia: Jurnal Studi Keislaman, Vol. 4, No.1, 2018, 84 2. Novi Khomsatun, Pendidikan Islam Dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi, EDUCREATIVE: Jurnal Pendidikan Kreatif Anak, Vol. 4, No. 2, 2019, 229-231. 3. Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 69-74. 4. I Gusti Bagus Rai Utama, Filsafat Ilmu dan Logika Manajemen dan Pariwisata (Yogyakarta: Deepublish, 2021) 5. Dewi Rohmah, Ilmu dalam Tinjauan Filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi, CENDEKIA : Jurnal Studi Keislaman, Vol. 7, No. 2, Des. 2021, 172-186
  18. 18. Berilmu Tanpa Bijaksana Bagaikan Setumpuk Buku di Atas Punggung Keledai |Terima kasih atas waktunya

×