Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Bab i

153 views

Published on

A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Pembelajaran
Belajar merupakan proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang dirancang dan diarahkan untuk mencapai tujuan dengan berbuat melalui berbagai pengalaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik (2011;27) yang mengemukakan bahwa “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (Learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing)”. Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Proses penyampaian itu sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Istilah mengajar bergeser pada istilah pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik, “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran” dikutip dari www.academia.edu/7330523/Pengertian_Proses_Pembelajaran tanggal 12 Maret 2015.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bab i

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Pembelajaran sifat-sifat cahaya merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Sifat - sifat cahaya penting untuk dipahami oleh siswa karena berkaitan erat dengan kehidupan siswa yaitu cahaya menyebabkan manusia dapat melihat benda yang ada disekitarnya. Menurut Pendapat Al-Kindi (http://fisikaoptik.blogspot.com/2013/03/teori-cahaya-parti.html) mengemukakan bahwa “penglihatan ditimbulkan daya pencahayaan yang berjalan dari mata ke obyek dalam bentuk kerucut radiasi yang padat”. Benda yang menghasilkan cahaya disebut sumber cahaya dan terbagi menjadi sumber cahaya alami dan sumber cahaya buatan. Cahaya memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu cahaya dapat merambat lurus cahaya dapat dipantulkan, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan dan cahaya dapat diuraikan. Banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan sifat - sifat cahaya. Pembelajaran sifat-sifat cahaya hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan kemampuan berfikir pada siswa. Siswa SD lebih mudah mengingat apa yang pernah dialaminya dibandingkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penjelasan saja. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme yang di kemukakan oleh Jean Piaget (Trianto, 2014:72), ‘bahwa anak membangun skemata-skemata dari pengalaman sendiri dengan lingkungannya’. Merujuk Piaget, anak adal ah pembelajar yang pada dirinya sudah memiliki motivasi untuk mengetahui dan akan memahami sendiri 1
  2. 2. 2 konsekuensi dari tindakan-tindakannya, pandangan konstuktivisme tentang pendidikan sejalalan dengan Ki Hadjar Dewanatara (Uyoh Sadulloh, 2007:3) mengemukakan bahwa ‘Mendidik adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya’. Menurut Permendiknas No. 22 tahun 2006 Paragraf 3 menyatakan: Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Oleh karena itu maka pembelajaran sifat-sifat cahaya harus melibatkan keaktifan peserta didik secara penuh (active learning) dengan cara guru dapat merealisasikan pembelajaran yang mampu memberi kesempatan pada peserta didik untuk melakukan keterampilan proses meliputi: mencari, menemukan, menyimpulkan, mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, nilai-nilai, dan pengalaman yang dibutuhkan. Berdasarkan studi pendahuluan di SDN Balandongan 1 peneliti mendapatkan data hasil pembelajaran sifat sifat cahaya tahun pelajaran 2013/2014 yang masih rendah dengan nilai rata-rata 65,6 diantaranya 27 siswa dinyatakan tuntas dan dapat memahami materi pembelajaran sifat-sifat cahaya dan 18 siswa memperoleh nilai dibawah kriteria ketuntansan minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu sebesar 65, maka dapat disimpulkan 60 % siswa yang telah mencapai dan
  3. 3. 3 memahami pembelajaran materi sifat-sifat cahaya dan 40% siswa yang belum mencapai dan memahami pembelajaran materi sifat-sifat cahaya. Penyebab rendahnya nilai diatas disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya proses belajar mengajar di SDN Balandongan 1 masih berpusat pada guru (teacher centered), dengan guru lebih banyak menerangkan materi pembelajaran dan peserta didik hanya berperan sebagai penyimak tanpa dilibatkan aktif dalam pembelajaran dengan demikian pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk menghafal informasi, peserta didik dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkanknya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari, selain dari itu jumlah siswa di kelas V SDN Balandongan 1 melebihi batas maksimal yang telah ditetapkan yaitu terdapat 45 siswa yang terdiri dari 21 laki-laki dan 24 perempuan, hal ini meneyebabkan peserta didik merasa kurang perhatian dan keseriusan selama mengikuti pembelajaran yang belangsung. Dari pemaparan diatas, menunjukan bahwa terdapat korelasi antara rendahnya hasil belajar dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Model belajar yang digunakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran kurang tepat dengan pembelajaran materi sifat-sifat cahaya. Maka dari itu guru harus lebih selektif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran. Menurut Joyce & Weil yang disitir Rahman (2011;7) ‘Mendefinisikan model pembelajaran (model of teaching) adalah suatu perencanaan yang digunakan dalam menyusun
  4. 4. 4 kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya’. Oleh karena itu peneliti memilih model Discovery Learning sebagai upaya peningkatan pembelajaran IPA khususnya pada materi sifat-sifat cahaya. Model Discovery Learning (Penemuan Terbimbing) adalah salah satu model pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk terbiasa menemukan, mencari, dan mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. Model pembelajaran ini mengutamakan peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang melibatkan peserta didik belajar secara aktif dan mandiri. Kegiatan pembelajaran menekankan agar peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengalami dan menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai. Model Discovery Learning akan membuat pembelajaran lebih bermakna karena akan mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif serta mengubah pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher oriented) ke dalam pembelaran berpusat pada murid (student oriented). Merujuk dari uraian diatas peneliti merasa tertarik untuk menggunakan model tersebut dalam pembelajaran sifat-sifat cahaya. Maka dari itu peneliti mengambil judul peneltian “Peningkatan Pembelajaran Sifat-Sifat Cahaya Melalui Model Discovery Learning Pada Siswa Kelas V SDN Balandongan 1 Parakansalak Sukabumi.
  5. 5. 5 B/ Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: 1/ Pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered) dan belum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif, dalam pembelajaran. 2/ Belum menggunakan model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran IPA khususnya materi sifat-sifat cahaya. 3/ Nilai rata-rata hasil pembelajaran masih rendah dan belum mencapai target kriteria ketuntasan minimal. C/ Batasan dan Rumusan Masalah Agar penelitian mengarah pada inti masalah yang sesungguhnya maka peneliti membatasi penelitian ini yaitu pada peningkatan pembelajaran sifat-sifat cahaya melalui model discovery learning pada siswa Kelas V SDN Balandongan 1 Parakansalak Sukabumi. Merujuk pada latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti merumuskan masalah utama dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: 1/ Apakah ada peningkatan perhatian siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dari siklus 1 ke siklus 2 ? 2/ Apakah ada peningkatan keseriusan siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dari siklus 1 ke siklus 2?
  6. 6. 6 3/ Apakah ada peningkatan kerjasama siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dari siklus 1 ke siklus 2 ? 4/ Apakah ada peningkatan keaktifan siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dari siklus 1 ke siklus 2 5/ Apakah ada peningkatan hasil belajar siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dari siklus 1 ke siklus 2? D/ Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. 1/ Tujuan Umum Sejalan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini secara umum adalah untuk meningkatkan pembelajaran sifat- sifat cahaya melalui Model Discovery Learning pada siswa kelas V SDN Balandongan 1. 2/ Tujuan Khusus Tujuan khusus penelitian ini ingin memperoleh deskripsi tentang hal-hal sebagai berikut : a/ Ingin memperoleh gambaran tentang perhatian siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya melalui model Discovery Learning.
  7. 7. 7 b Ingin memperoleh gambaran tentang keseriusan siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya melalui model Discovery Learning. c Ingin memperoleh gambaran tentang kejasama siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya melalui model Discovery Learning. d Ingin memperoleh gambaran tentang keaktifan siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya melalui model Discovery Learning. e Ingin memperoleh gambaran tentang hasil belajar siswa Kelas V SDN Balandongan 1 pada pembelajaran sifat - sifat cahaya melalui model Discovery Learning. E Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Manfaat teoritis Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan diperoleh suatu model pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran sifat - sifat cahaya yang nantinya dapat dijadikan sebagai refrensi bagi peneliti dan para pendidik.
  8. 8. 8 2 Manfaat Praktis a Bagi Peserta didik 1 Meningkatkan perhatian dan keseriusan siswa dalam pembelajaran materi sifat-sifat cahaya. 2 Mendorong peserta didik lebih aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan pendapat. 3 Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran materi sifat- sifat cahaya. b Bagi guru 1 Meningkatnya kemampuan guru dalam mengatasi kendala pembelajaran sifat-sifat cahaya. 2 Dapat memberikan inspirasi bagi guru untuk melakukan proses belajar pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan. 3 Melatih keprofesionalan seorang guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. c Bagi sekolah 1 Hasil penelitian dapat dijadikan acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para guru lain dalam mengajarkan materi. 2 Sebagai masukan dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara intensif dan menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif agar kualitas pembelajaran lebih efektif khususnya pada kualitas sekolah.
  9. 9. 9 F Anggapan Dasar Menurut Surakhmad dalam Arikunto (2010: 104) mengemukakan bahwa: Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Dikatakan selanjutnya bahwa setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik mungkin meragu-ragukan sesuatu anggapan dasar yang oleh orang lain diterima sebagai kebenaran”. Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah : 1 Pembelajaran materi sifat-sifat cahaya yang diajarkan di SDN Balandongan 1 adalah berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. 2 Guru masih menggunakan model konvensional dalam pembelajaran sifat- sifat cahaya 3 Penelitian Tindakan Kelas Menjadi alternative peningkatan proses dan hasil pembelajaran materi sifat-sifat cahaya 4 Model discovery learning dianggap efektif dalam pembelajaran materi sifat-sifat cahaya G Definisi Operasional Menurut Walizer & Wienir definisi operasional adalah: Seperangkat petunjuk yang lengkap tentang apa yang harus diamati serta bagaimana mengukur suatu variabel mauapun konsep definisi operasional tersebut dapat membantu kita untuk mengklasifikasi gejala di sekitar ke dalam suatu kategori khusus dari variable. Dikutip dalam http://www.pendidikanku.net/2015/02/10-definisi-dan-pengertian- operasional.html
  10. 10. 10 Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap istilah-istilah dalam judul penelitian tindakan kelas ini, maka penulis mendefinisikan secara operasional istilah yang terdapat dalam judul ini. 1 Peningkatan pembelajaran Peningkatan berasal dari kata tingkat yang berarti lapis atau lapisan yang membentuk susunan. peningkatan memiliki arti kemajuan dalam hal yang positif secara umum upaya untuk menambah derajat, tingkat dan kualitas maupun kuantitas. Sedangkan pembelajaran adalah kegiatan atau proses penyampaian pengetahuan dari guru kepada siswa berdasarkan mata pelajaran tertentu. Jadi Peningkatan pembelajaran dalam penelitian ini diartikan sebagai upaya seorang guru untuk menambahkan kompetensi siswa agar menjadi lebih baik. 2 Materi sifat-sifat cahaya Pembelajaran terjadi karena ada proses interaksi antara guru dengan peserta didik. Pembelajaran sifat-sifat cahaya merupakan pembelajaran yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat diamati oleh indra manusia, sifat-sifat cahaya adalah ciri khas yang dimiliki cahaya yaitu cahaya dapat merambat lurus, cahaya dapat menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, dan cahaya dapat dibiaskan. pembelajaran sifat-sifat cahaya merupakan sebuah konsep yang dapat diperoleh melalui metode dan sikap ilmiah. Untuk melihat sejauh mana peningkatan pembelajaran konsep yang telah dilaksanakan, dilakukan dengan pengamatan aktivitas peserta didik dan pendidik selama proses pembelajaran berlangsung, dan tes tertulis maupun lisan secara individual dalam bentuk pre test post test. Hasil pengamatan pre test dan post test nantinya akan dianalisi untuk
  11. 11. 11 melihat sejauh mana peningkatan yang terjadi dalam pembelajaran sifat-sifat cahaya, dan hasilnya dinyatakan secara deskriptif kualitatif. 3 Model Discovery Learning Model Discovery Learning (Penemuan Terbimbing) adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik agar secara aktif mengolah dan menemukan data atau informasi yang telah direkayasa oleh guru sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar utuh dan bermakna. 4 Siswa Kelas V SDN 1 Balandongan Siswa kelas V SD adalah siswa yang duduk di tingkat 5 pada jenjang pendidikan formal di tingkat pendidikan dasar. H Struktur Organisasi Hasil penelitian tindakan kelas ini akan dilaporkan dalam bentuk skripsi. Skripsi yang dimaksud terdiri dari 5 bab. BAB I Pendahuluan. Dalam bab ini berisi tentang latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian dan definisi operasional, dan sistematika penulisan BAB II Kajian Teori, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian. Dalam bab ini berisi tentang pengertian 1) Pembelajaran 2) Pembelajaran IPA sifat-sifat cahaya ( yang di dalamnya membahas: pengertian IPA, hakikat IPA dan tujuan pembelajaran IPA. c) Model Discovery Learning. Setelah itu diuraikan kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian.
  12. 12. 12 BAB III Metode Penelitian. Dalam bab ini diuraikan tentang lokasi dan subjek penelitian, metode dan model penelitian, prosedur penelitian, teknik penelitian dan analisis interpretasi data BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Dalam bab ini diurakan tentang penerapan Model Discovery Learning, penyajian data, analisis data tentang penerapan Model Discovery Learning dalam meningkatkan pembelajaran sifat- sifat cahaya di SD kelas V. BAB V Simpulan dan Rekomendasi. Dalam bab ini berisikan tentang simpulan dari hasil penelitian serta rekomendasi yang merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang ditemukan.

×