Makalah 17 okt 2012

16,286 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
16,286
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
133
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah 17 okt 2012

  1. 1. “HUTAN PENGHASIL JASA LINGKUNGAN” Oleh : ASRUL AMAR M11112001 FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012
  2. 2. DAFTAR ISIKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan MasalahBAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Lingkungan B. Pengertian ManusiaBAB III PEMBAHASAN A. Peran Hutan Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan B. Hutan Bagi Kehidupan C. Hutan Lindung Sebagai Pengatur Tata Air D. Identifikasi Para Pengguna Jasa Air E. Identifikasi Para Pengelola Kawasan Di Hulu Sebagai Penyedia Air F. Kompensasi Insentif Hulu Hilir Di Kawasan Lindung G. Hutan Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan H. Hutan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam I. Pelestarian Hutan J. Upaya Pelestarian HutanBAB IV PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran
  3. 3. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang MahaEsa karena dengan Rahmat dan Izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikanmakalah ini dengan judul “HUTAN PENGHASIL JASA LINGKUNGAN” Makalah ini disusun dengan maksud untuk memberikan pengetahuan barukepada semua pihak tanpa terkecuali. Adapun makalah ini mengacu pada prinsip-prinsip ilmiah dengan mengutamakan hal-hal yang real dan pemahaman teori-teoriyang bersifat ilmiah, Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak dapat luput dari kekurangan.Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat sayaharapkan demi penyempurnaan dan perbaikan makalah ini untuk kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkaitdalam pemeliharaan hutan, agar hutan dapat dirawat dan dilestarikan secara baikdan benar. Makassar, oktober 2012 Penulis
  4. 4. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Banyak pihak yang prihatin dan mengkaitkan banjir, longsor ataupun krisis airdengan semakin berkurangnya hutan yang pada giliran juga mengurangi jasalingkungan (baca : pengamanan) yang diberikan hutan bagi kita. Berkurangnyahutan bisa terjadi karena masih rendahnya “penghargaan” kita terhadap nilaihutan. Begitu pentingkah jasa lingkungan hutan (yang umumnya terletak di daerahhulu Daerah Aliran Sungai(DAS)) bagi kehidupan kita, khususnya bagi ma-syarakat yang berada di daerah tengah dan hilir DAS, yang umumnya sudah jadidaerah pemukiman dan pusat pertumbuhan ekonomi?. Berbicara tentang jasa lingkungan hutan, maka paling tidak ada empat jenisjasa lingkungan hutan yang sedang hangat dibicarakan saat ini, yaitu jasalingkungan hutan dalam menyediakan air (pemanfaatan jasa lingkungan hutansebagai pengatur tata air); pariwisata alam (pemanfaatan jasa lingkungan hutansebagai penyedia bentang alam); pemanfaatan jasa lingkungan hutan sebagaipenyerap dan penyimpan karbon dalam mengurangi global warming; dan pe-manfaatan jasa lingkungan hutan sebagai pelindung keanekaragaman hayati. Tulisan ini membatasi pembahasan hanya pada jenis pertama, yaitu jasalingkungan hutan dalam mengatur tata air, atau yang sering juga dikatakansebagai jasa hidrologis hutan, dan merupakan jasa lingkungan penting yangdihasilkan hutan. Suatu DAS dapat dibagi atas daerah hulu (umumnya didominasi hutan danmerupakan daerah pedesaan dengan topografi curam), daerah tengah dan daerah
  5. 5. hilir (topografi landai). DAS bagian hulu, pada umumnya dapat dipandangsebagai ekosistem pedesaan dengan komponen utama hutan, sawah/ladang/kebun,sungai dan desa, mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan ekosistemDAS, dari hulu hingga ke hilir. Bagian hulu DAS umumnya merupakan daerah resapan air yang setelahmenampung dan menyimpan air lalu mengalirkan airnya ke daerah tengah danhilir hingga muara. Bila hutan di daerah hulu masih baik, maka air hujan yangjatuh di hulu sebagian akan diserap oleh hutan, menjadi cadangan air dan me-ngalirkannya pada musim kemarau. Namun bila hutan di hulu sudah terbuka dan rusak, maka air hujan yang jatuhdi daerah hulu akanlangsung menjadi aliran permukaan, yang apabila jumlahnyamelebihi alur sungai, akan menjadi banjir. Sehingga keterkaitan hulu dan hilirDAS sangat erat. Daerah hilir tidak mungkin mendapatkan kesinambunganpasokan air dengan kuantitas dan kualitas yang memadai apabila kondisiekosistem daerah hulu (baca: hutan) yang menjadi daerah resapan airnyaterganggu atau rusak. Apabila terjadi gangguan terhadap ekosistem hulu yang menjadi resapan air,maka tanggung-jawab semestinya tidak hanya dipikul oleh masyarakat hulu akantetapi juga merupakan tanggung-jawab masyarakat hilirnya. Kenapa demikian? Aliran air yang keluar dari areal hutan, baik melaluisungai-sungai ataupun mata air, telah digunakan untuk memenuhi berbagaikebutuhan, misalnya untuk memenuhi kebutuhan air minum, irigasi pertanian,industri, sanitasi lingkungan, ekosistem dan sebagainya, dan berpengaruh terhadapkegiatan konsumsi dan ekonomi, walaupun banyak pihak pengguna air tidakmenyadarinya.
  6. 6. Besarnya nilai manfaat hidrologis hutan sampai kini belum banyak dihargaisecara semestinya oleh publik. Air dinilai sangat rendah karena dianggap sebagaibarang publik dengan akses terbuka (open access). Hal ini terlihat dengan me-ningkatnya degradasi hutan, bahkan kegiatan konservasi dianggap sebagai uangkeluar (cost center). Pengguna air banyak yang tidak menyadari nilai hidrologis hutan yang selamaini menyangga kehidupannya, bahkan oleh para pengguna air yang menggunakanair sebagai input utama dalam proses produksinya. Misalnya Perusahaan AirMinum, PLTA, pengusaha air isi ulang yang sekarang kian menjamur, jugapabrik-pabrik yang menggunakan air sebagai input utama dalam proses pro-duksinya. Pernahkah mereka memikirkan untuk melestarikan hutan sebagai daerah tang-kapan dan resapan air, yang akan menjadi sumber air kehidupan usahanya? Sa-darkah mereka bahwa bila hutan rusak artinya kelangsungan usahanya juga akanterancam?. Dengan makin pentingnya sumberdaya air, maka semestinya makinmenyadarkan para pengguna air tentang pentingnya kelestarian ekosistem hutansebagai processing area/catchment area yang menghasilkan air sebagai jasahidrologisnya. Para pengguna air harusnya ikut berkontribusi terhadap pelestarianhutan sebagai bentuk penghargaan mereka terhadap nilai jasa hutan yang telahmenyangga kehidupannya. Lalu berapakah nilai jasa hidrologis hutan? Orang yang pernah merasakandahsyatnya bahaya banjir dan longsor atau menderita karena kekeringan, secarasadar mereka akan akan menjawabnya: “berapa rupiahkah Anda mau membayar(willingness to pay) agar tempat tinggal anda tidak terkena banjir atau agar padamusim kemarau anda tidak sengsara karena kekurangan air”.
  7. 7. Willingness to pay (WTP) atau kesediaan membayar adalah salah satu proksiuntuk menaksir nilai ekonomi barang atau jasa yang “abstrak” seperti nilai jasahidrologis hutan, yang apabila respondennya cukup besar akan lebih mampumenyajikan taksiran nilainya (nilai ekonomi). Dilihat dari perspektif teori Ekonomi Sumber Daya Hutan, nilai hutan bisadiklasifikasikan menurut manfaatnya bagi kesejahteraan manusia. Pertama,manfaat yang dihasilkan berupa barang dan jasa komersial (yang bisa diperjualbelikan dipasar). Kedua, manfaat barang terutama jasa yang tidak laku atau tidakdiperjualbelikan di pasar komersial. Manfaat pertama antara lain adalah kayu, rotan, getah, dan sebagainya, yangnilainya bisa langsung ditaksir dengan nilai harga pasar komersialnya. Manfaatkedua sebagian besar memang tidak atau belum mampu diubah menjadi produkjasa dan barang komersial, dan peranannya dalam perekonomian bisa hanyaterlihat laksana satpam, yang kerjanya hanya duduk, jalan sedikit dan lihat-lihat. Sepintas, satpam nampak tidak produktif karena memang tidak bekerjamenghasilkan suatu produk tertentu, menggaji satpam sekilas menjadi merugikan.Namun apabila satpam dihilangkan dari tempat tugasnya, resiko gangguankeamanan yang dijaganya tentunya akan meningkat. Kalau itu terjadi nilaikerugian yang akan ditanggung bisa lebih besar daripada nilai gaji satpam. Demikian juga halnya manfaat hutan bagi manusia dalam hal jasa yang tidaklangsung mendatangkan manfaat komersial, misalnya dalam fungsinya sebagaipengatur tata air dan keseimbangan ekosistem pada suatu DAS sebagai jasalingkungan DAS, yang sangat sulit diukur kemanfaatannya bagi manusia. Analog dengan fungsi satpam tersebut, manfaat hutan sebagai pengatur tata airdan keseimbangan ekosistem akan sangat jelas terlihat apabila seluruh hutanterutama di daerah hulu DAS dirusak. Dampak kerusakan hutan tersebut pada
  8. 8. sistem perekonomian akan lebih besar daripada nilai komersial barang apapunyang bisa diperoleh dari hutan. Nilai kerugian yang ditimbulkannya dapat dikatakan sebagai nilai jasalingkungan hutan. Nilai manfaat kedua ini belum banyak diapresiasi masyarakat,karena tidak mudahnya meyakinkan masyarakat untuk menghargai seluruhbenda-benda yang merupakan kepentingan bersama (public goods), yang kalaurusak akan mendatangkan kesulitan bersama. Jadi, berapakah nilai jasa lingkungan hutan? Hal ini akan sangat tergantungkepada preferensi konsumen (Willingness to Pay – WTP) dan tingkat peradaban(kebudayaan) masyarakat. Semakin maju kebudayaan suatu bangsa, akansemakin tinggi juga penghargaan yang diberikan guna kelestarian publicgoods itu termasuk kepada hutan, sehingga kesediaan membayar (willingness topay) jasa hutan akan semakin besar. Darusman dan Widada (2004) menyebutkan bahwa terdapat lima prinsip yangmenegaskan sinergisitas antara kegiatan konservasi dengan pembangunanekonomi. Pertama, konservasi merupakan landasan pembangunan ekonomi yangberkelanjutan, tanpa adanya jaminan ketersediaan sumberdaya alam hayati, makapembangunan ekonomi akan terhenti. Kedua, ekonomi merupakan landasanpembangunan konservasi yang berkelanjutan, tanpa adanya manfaat ekonomi bagimasyarakat secara berkelanjutan, dapat dipastikan program konservasi akanterhenti karena masyarakat tidak peduli. Ketiga, kegiatan korservasi dan ekonomi, keduanya bertujuan meningkatkanmutu kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Keempat, dengan pengetahuankonservasi, maka manusia akan lebih mampu memahami kompleksitas ekosistemalami sehingga menyadari, bahwa sumberdaya alam perlu dikelola secara hati-hatidan dengan hati nurani agar tetap lestari meskipun sumberdaya alam tersebutdimanfaatkan secara terus menerus.
  9. 9. Kelima, dengan pengetahuan ekonomi, manusia akan mampu menentukanpilihan-pilihan aktifitas ekonomi yang paling rasional dalam menggunakansumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup danmeningkatkankesejahteraan secara berkelanjutan. Berdasarkan kelima prinsip tersebut, konservasi ekosistem hutan memilikiperanan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat sekaligusmempertahankan sistem penyangga kehidupan. Dan tentunya harus diapresiasidengan baik sehingga hutan bisa memberikan manfaat yang besar bagimasyarakat, terutama bagi masyarakat sekitar hutan.B. Rumusan Masalah Peran Hutan Sebagai Penyeia Jasa Lingkungan Upaya – Upaya Pelestarian Hutan
  10. 10. BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Pengertian Lingkungan Lingkungan hidup biasa juga disebut dengan lingkungan hidup manusia(human environment) atau dalam sehari-hari juga cukup disebut dengan"lingkungan" saja. Unsur-unsur lingkungan hidup itu sendiri biasa nya terdiri dari:manusia, hewan, tumbuhan, dll. Lingkungan hidup merupakan bagian yangmutlak dari kehidupan manusia. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak terlepasdari kehidupan manusia. Istilah lingkungan hidup, dalam bahasa Inggris disebutdengan environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan Millieu, sedangkandalam bahasa Perancis disebut dengan Ienvironment. Berikut ini adalah pengertian dan definisi lingkungan hidup menurut para ahli: 1) PROF DR. IR. OTTO SOEMARWOTO Lingkungan hidup adalah jumlah semua benda dan kondisi yang adadalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita 2) S.J MCNAUGHTON & LARRY L. WOLF Lingkungan hidup adalah semua faktor ekstrenal yang bersifat biologisdan fisika yang langsung mempengarui kehidupan, pertumbuhan, perkembangandan reproduksi organisme 3) MICHAEL ALLABY Lingkungan hidup diartikan sebagai: the physical, chemical and bioticcondition surrounding and organism. 4) PROF. DR. ST. MUNADJAT DANUSAPUTRO, SH Lingkungan hidup sebagai semua benda dan kondisi, termasuk didalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang tempatmanusia berada dan mempengaruhi hidup serta kesejahteraan manusia dan jasadhidup lainnya. 5) SRI HAYATI Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dankeadaan mahluk hidup. termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yangmelangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hiduplainnya 6) JONNY PURBA Lingkungan hidup adalah wilayah yang merupakan tempat berlangsungnyabermacam-macam interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanyadengan simbol dan nilai
  11. 11. Lingkungan adalah suatu media dimana makhuk hidup tinggal, mencaripenghidupannya, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang terkait secaratimbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutamamanusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks. Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya.Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial . Kita bernapas memerlukanudara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanyamemerlukan lingkungan. Pengertian lain dari lingkungan adalah segala sesuatuyang ada disekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusiabaik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jikakalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah,bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, jugaberbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang adadisekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara , meja kursi, papan tulis,gedung sekolah , dan berbagai macam benda mati yang ada disekitar. Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut jugasebagai lingkungan sosial . Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistempergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitarsubjek manusia yang terkait dengan aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan : tanah, udara, air, sumber daya alam, flora, fauna,manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkunganadalah manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikan sekumpulan aktifitasmerencanakan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lainuntuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan. Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yangdihadapi oleh seorang manager. Perbedaan dan kondisi lingkungan akanberpengaruh terhadap konsep dan teknik serta keputusan yang akan diambil. Adadua macam faktor lingkungan, yaitu : 1. Faktor Lingkungan Internal yaitu lingkungan yang ada didalamusahanya saja. 2. Faktor Lingkungan Eksternal yaitu unsur-unsur yang berada diluarorganisasi, dimana unsure-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahuiterlebih dahulu oleh manager, disamping itu juga akan mempengaruhi managerdidalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkunganeksternal organisasi contohnya yaitu perubahan ekonomi, paraturan pemerintah,
  12. 12. perilaku konsumen, perkembangan teknologi, politik dan lainnya. Lingkunganeksternal dibagi menjadi dua yaitu :  Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan manajemen yang terdiri atas penyedia, langganan, para pesaing, lembaga perbankan dan lainnya.  Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung, seperti kondisi perekonomian, perubahan teknologi, politik, sosial dan lain sebagainya.B. Pengertian Manusia Manusia adalah makhluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi danpotensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran,pertumbuhan, perkembangan, mati, dan seterusnya, serta terkait dan berinteraksidengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik positifmaupun negatif. Manusia adalah makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Ini karenamanusia memiliki perbandingan massa otak dengan massa tubuh terbesar diantarasemua makhluk yang ada di bumi. Walaupun ini bukanlah pengukuran yangmutlak, namun perbandingan massa otak dengan tubuh manusia memangmemberikan petunjuk dari segi intelektual relatif.Manusia atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baikitu menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latinuntuk manusia) yang merupakan sebuah spesies primata dari golongan mamaliayang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.Manusia juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentangapa yang menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akandiambil. Manusia pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungandan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.
  13. 13. BAB II PEMBAHASAN Hutan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena hutanmemberikan sumber kehidupan bagi kita semua. Hutan menghasilkan air danudara bersih (oksigen/O2) yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia. Hutanjuga memberikan beragam hasil hutan yang bermanfaat. Hutan menurut UU no. 41/ 1999 tentang Kehutanan adalah kesatuanekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yangdidominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan(?) lingkungannya, yang satudengan lainnya tidak dapat dipisahkan. (ada foto atau ilustrasi hutan) Beragam Manfaat Hutan1. Mengatur Iklim Hutan mengatur serapan dan pelepasan karbon yang mempengaruhi perubahan iklim. Hutan menyerap karbon dioksida (CO2/udara kotor) dan menghasilkan oksigen (O2/udara bersih).. Karbon dioksida mempunyai peranan penting dalam menjaga suhu bumi. Ilustrasi dalam kotak: hidung yang bernapas menghirup O2 (oksigen/udara bersih) dan hidung yang menghembuskan CO2 (karbon dioksida/udara kotor). Ilustrasi: efek rumah kaca Ketika matahari bersinar, pohon „memasak makanannya‟ dengan menghirup dan mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen (O2) ke alam. Makanan (karbohidrat) lalu disimpan dalam daun, ranting, cabang, batang, dan akar sehingga membuat pohon tumbuh makin besar dan tinggi. Hutan yang lestari dapat menyerap lebih banyak karbon (C). Ilustrasi: stok karbon di hutan2. Menyediakan Jasa Lingkungan Hutan juga memberikan jasa lingkungan ( seperti sumber air, penghasil oksigen, mencegah banjir)bagi kita. Hutan menyediakan udara yang kita hirup. Hutan juga mengatur keadaan cuaca.
  14. 14. Pohon-pohon hutan mengatur tata air. Hutan menyimpan air pada saat kemarau dan mencegah banjir musim musim penghujan. Di daerah pesisir, hutan menahan masuknya air asin ke daratan. Ini sangat penting untuk mendukung usaha pertanian di daerah pantai. Hutan rawa gambut yang terjaga mengandung 90% air tawar yang mampu „mendorong‟ air asin. (foto: hutan bakau – hutan gambut)3. Tempat hidup satwa Hutan merupakan tempat hidup beragam satwa liar. Diantaranya orangutan, bekantan, burung enggang. Hutan dengan keragaman satwa yang tinggi penting untuk menjaga kelestarian alam. (foto: orangutan )4. Menyediakan hasil hutan bukan kayu Hutan juga menyediakan hasil hutan selain kayu seperti buah, biji, pandan, rotan, damar, madu dan lain lain. Hasil hutan bukan kayu ini biasa dipungut untuk dimanfaatkan langsung oleh masyarakat setempat i ataupun untuk diperjualbelikan. Pandan misalnya, biasa dimanfaatkan oleh perempuan di sekitar hutan untuk membuat anyaman (tikar, bakul, tampi, capan dan penangkin) yang digunakan untuk keperluan sendiri maupun dijual untuk menambah penghasilan keluarga. (foto: tikar – tanaman pandan – perempuan pengrajin)5. Sumber makanan Hutan menyediakan makanan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hutan menyediakan sumber protein,bermacam buah dan biji. Berbagai jenis ikan yang ada di sungai dan danau di dalam dan sekitar hutan membantu pemenuhan kebutuhan protein hewani keluarga masyarakat yang hidup di sekitar hutan. Masyarakat juga memanen ikan-ikan sungai untuk dijual guna menambah penghasilan. (foto: orang nangkap ikan di sungai – ikan sungai hasil tangkapan)6. Penghasil obat-obatan Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya nabati, serta pengetahuan tradisional tentang tumbuhan obat. Di Indonesia, setidaknya terdapat 1000 jenis tumbuhan berkhasiat obat misalnya seperti jahe-jahean
  15. 15. (Zingerberacea) dan akar kelaik. Dukun atau bidan kampung memanen tanaman obat untuk melancarkan proses persalinan ataupun pengobatan anak. (foto atau ilustrasi contoh tanaman obat hutan)7. Bagian yang tak terpisahkan dari budaya Hutan menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Hutan dan beragam isinya merupakan bagian penting dalam tradisi dan budaya masyarakat adat Dayak. Masyarakat adat Dayak Kanayantn, Bidayuh dan Iban meyakini Jubata atau Puyang Gana (Roh Penguasa Alam) bersemayam di hutan. Pada adat berladang, adat penyembuhan dan adat berpantang, hutan menyediakan peralatan ritual adat dan bahan ramuan obat. Hutan juga diyakini merupakan tempat tinggal Roh-Roh para leluhur. Roh-roh ini tinggal dipepohonan besar dalam kawasan hutan yang lebat. Pada masyarakat adat Melayu, setelah panen padi akan dilakukan acara Sapat Taon, dimana petani ramai-ramai membuat ancak berisi ketupat yang diletakkan di hutan. Masyarakat adat juga membaca kondisi alam seperti suara burung dan angin, untuk menentukan waktu bercocok tanam maupun mengetahui tanda merebaknya wabah penyakit.8. Mengendalikan penyakit Hutan mengatur aliran air dan mengurangi genangan air sehingga membatasi pembiakan beberapa penyebab penularan penyakit tertentu, misalnya malaria.9. Menyediakan bahan bakar (kayu bakar)10. Menyediakan kayu untuk bahan baku bangunan Apa yang Terjadi Jika Hutan Hilang?1. Banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau. Tanpa hutan, tidak ada pohon yang dapat menahan air tanah. Akibatnya, pada saat musim hujan sungai-sungai akan meluap dan menyebabkan banjir. Di saat kemarau terjadi kekeringan. Sumur-sumur kering dan kita kesulitan mencari air bersih. Tiap musim kemarau, kita terpaksa mengangkut air dari tempat yang jauh untuk kebutuhan sehari-hari. (foto: antrian air di pematang)2. Masuknya air laut ke daratan (intrusi) Di daerah pantai, ini akan menyebabkan air tanah menjadi asin dan merusak tanaman pertanian. Kondisi yang paling parah adalah gagal panen.3. Hilangnya mata pencaharian masyarakat
  16. 16. Ketiadaan hutan akan menyebabkan hilangnya mata pencaharian masyarakat. Perempuan tidak bisa lagi mendapatkan tambahan penghasilan dari menganyam pandan. Menurunnya potensi ikan sungai dan danau yang merugikan nelayan. Pendapatan dari panen madu lebah hilang.4. Merebaknya hama yang bisa mengakibatkan gagal panen (contoh: belalang)5. Hilangnya budaya lokal Tanpa hutan acara-acara adat yang terkait dengan hutan tidak bisa dilakukan. Identitas suatu masyarakat adat pun pelan-pelan akan hilang.6. Hilangnya tempat tinggal satwa dan berbagai tumbuhan penting Hutan perlu dimanfaatkan secara bijaksana, agar manfaatnya dapat terus menerus dirasakan. Hutan yang terjaga akan menjamin kehidupan keturunan kita menjadi lebih baik. Jagalah hutan mulai sekarang, demi masa depan yang lebih baik.A. Peran Hutan Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan Kajian tentang peran hutan dalam pengendalian daur air dan longsor lahansangat diperlukan sebagai suatu proses dalam pengenalan dan pemahaman fungsihutan yang sangat beragam. Diharapkan mahasiswa semakin memahami bahwaperan dan fungsi hutan tidak hanya sebagai penghasil hasil hutan yaitu kayu sajaakan tetapi ada fungsi-fungsi lain dari hutan yang dapat memberikan manfaatlebih besar bagi lingkungan dan manusia itu sendiri. Peran hutan yang penting dan menjadi materi utama dalam bagian ini adalahsebagai penyedia jasa lingkungan melalui perannya dalam mengendalikan daur airkawasan dan perannya dalam mengendalikan longsor lahan. Sangat banyak harapan yang ditopangkan kepada hutan di dalam rangkapengendalian daur air suatu kawasan. Hal ini disebabkan karena secarakeseluruhan peran hutan dengan vegetasinya banyak yang bisa diharapkan,walaupun peran tersebut sangat dibatasi oleh beberapa faktor antara lain : 1. Sifat pertumbuhannya yang dinamik yang tergantung kepada waktu dan musim. 2. Nilai perannya juga ditentukan oleh struktur hutannya, luasnya, komposisi jenisnya, keadaan pertumbuhannya serta letaknya. 3. Nilai perannya untuk suatu keadaan ekosistem hutan tertentu juga dibatasi oleh iklim, keadaan geologi, geomorfologi dan watak tanahnya.Secara lebih rinci peran hutan dapat diterangkan sebagai berikut (Pusposutardjo,1984) :
  17. 17. 1. Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses : a. Evapotranspirasi b. Pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi. 2. Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses intersepsi. 3. Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat : a. Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan b. Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di permukaan. 4. Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan dinamika bahan organik ataupun adanya kenaikan kegiatan biologik di dalam tanah. Peranan kawasan hutan sebagai pengendali daur air dapat dilihat dari duasudut pandangan yaitu menyediakan air dengan konsep panen air (waterharvesting) dan dengan konsep menjamin penghasilan air (water yield). Jumlah airyang dapat dipanen tergantung pada jumlah aliran permukaan (run off) yang dapatdigunakan, sedang jumlah air yang dapat dihasilkan bergantung pada debit airtanah. Kedua tujuan tersebut memerlukan perlakuan yang berbeda. Untuk meningkatkan panenan air, infiltrasi dan perkolasi harus dikendalikan,sedang untuk meningkatkan penghasilan air, infiltrasi dan perkolasi justru yangharus ditingkatkan. Konsep penghasil air menjadi azas pengembangan sumber airdi kawasan beriklim basah, karena konsep panen air akan membawa resiko besar,berupa peningkatan erosi dan juga akan banyak memboroskan lahan untukmenampungnya.  Faktor Penyebab Longsor LahanBeberapa faktor yang menyebabkan suatu kawasan menjadi rawan longsor antaralain : 1. Faktor internal a. Genesis morfologi lereng (perubahan kemiringan dari landai ke curam) b. Geologi (jenis batuan, sifat batuan, stratigrafi dan tingkat pelapukan)  Jenis batuan/tanah  - Tanah tebal dengan tingkat pelapukan sudah lanjut c. Kembang kerut tanah tinggi : lempung  Sedimen berlapis (tanah permeabel menumpang pada tanah impermeabel)  Perlapisan tanah/batuan searah dengan kemiringan lereng.
  18. 18. d. Tektonik dan Kegempaan  Sering mengalami gangguan gempa  Mekanisme tektonik penurunan lahan2. Faktor luar (eksternal) a. Morfologi atau Bentuk Geometri Lereng  Erosi lateral dan erosi mundur (backward erosion) yang intensif menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng makin curam. Makin curam suatu kemiringan lereng, makin kecil nilai kestabilannya.  Patahan yang mengarah keluar lereng b. Hujan  Akibat hujan terjadi peningkatan kadar air tanah, akibatnya menurunkan ketahanan batuan.  Kadar air tanah yang tinggi juga menambah beban mekanik tanah.  Sesuai dengan letak dan bentuk bidang gelincir, hujan yang tinggi menyebabkan terbentuknya bahan gelincir. c. Kegiatan Manusia  Mengganggu kestabilan lereng misal dengan memotong lereng.  Melakukan pembangunan tidak mengindahkan tata ruang wilayah/tata ruang desa.  Mengganggu vegetasi penutup lahan sehingga aliran permukaan melimpah misal dengan over cutting, penjarahan atau penebangan tak terkendali, hal ini akan menyebabkan erosi mundur maupun erosi lateral.  Menambah beban mekanik dari luar misal penghijauan atau hasil reboisasi yang sudah terlalu rapat dan pohonnya sudah besar-besar di kawasan rawan longsor lahan dan tidak dipanen. Gambar Longsor Karakteristik kawasan rawan longsor antara lain :
  19. 19. a. Kawasan yang mempunyai kelerengan ≥20 % b. Tanah pelapukan tebal c. Sedimen berlapis : Lapisan permeabel menumpang pada lapisan impermeabel d. Tingkat kebasahan tinggi (curah hujan tinggi) e. Erosi lateral intensif sehingga menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng makin curam. f. Mekanisme tektonik penurunan lahan g. Patahan yang mengarah keluar lereng h. Dip Perlapisan sama dengan Dip Lereng i. Makin curam lereng, makin ringan nilai kestabilannya.  Pengendalian Longsor Lahan Pencegahan atau mengurangi longsor lahan dengan usaha-usaha antaralain : a. Menghindari atau mengurangi penebangan pohon yang tidak terkendali dan tidak terencana (over cutting, penebangan cuci mangkuk, dan penjarahan). b. Penanaman vegetasi tanaman keras yang ringan dengan perakaran intensif dan dalam bagi kawasan yang curam dan menumpang di atas lapisan impermeabel. c. Mengembangkan usaha tani ramah longsor lahan seperti penanaman hijauan makanan ternak (HMT) melalui sistem panen pangkas. d. . Mengurangi beban mekanik pohon-pohon yang besar-besar yang berakar dangkal dari kawasan yang curam dan menumpang di atas lapisan impermeabel. e. Penjarangan untuk Mengurangi Beban Tanah f. Membuat Saluran Pembuangan Air (SPA) pada daerah yang berhujan tinggi dan merubahnya menjadi Saluran Penampungan Air dan Tanah (SPAT) pada hujan yang rendah.
  20. 20. g. Mengurangi atau menghindari pembangunan teras bangku di kawasan yang rawan longsor lahan yang tanpa dilengkapi dengan SPA dan saluran drainase di bawah permukaan tanah untuk mengurangi kandungan air dalam tanah. h. Mengurangi intensifikasi pengolahan tanah daerah yang rawan longsor. i. Membuat saluran drainase di bawah permukaan (mengurangi kandungan air dalam tanah). j. Bila perlu, bisa dilengkapi bangunan teknik sipil/bangunan mekanik. Contoh jenis tanaman yang mempunyai akar tunggang dalam dan akarcabang banyak yang berakar tunggang dalam dengansedikit akar cabang sebagai berikut : A. Pohon-pohon yang mempunyai akar tunggang dalam dan akar cabang banyak. 1. Aleurites moluccana (kemiri) 2. Vitex pubescens (laban) 3. Homalium tomentosum (dlingsem) 4. Lagerstroemia speciosa (bungur) 5. Melia azedarach (mindi) 6. Cassia siamea (johar) 7. Acacia villosa 8. Eucalyptus alba 9. Leucaena glauca B. Pohon-pohon yang mempunyai akar tunggang dalam dengan sedikit akar cabang 1. Swietenia macrophylla (mahoni daun besar) 2. Gluta renghas (renghas) 3. Tectona grandis (jati) 4. Schleichera oleosa (kesambi) 5. Pterocarpus indicus (sono kembang) 6. Dalbergia sissoides (sono keling) 7. Dalbergia latifolia 8. Cassia fistula (trengguli) 9. Bauhinia hirsula (tayuman) 10. Tamarindus indicus (asam jawa) 11. Acacia leucophloea (pilang) Banjir bandang, erosi, tanah longsor dimusim hujan dan kekeringanberkepanjangan dimusim kemarau, sangat erat hubungannya dengan kesalahanpenanganan pengelolaan lahan daerah aliran sungai (DAS), terutama bagian huluyang kurang mengikuti kaidah konservasi tanah dan air. Sehingga dimusim hujan
  21. 21. sebagian besar air hujan sebagai aliran permukaan/limpasan yang tidaktertampung di dalam waduk atau sungai yang mengakibatkan terjadi banjirbandang di daerah hilir. Sementara dimusim kemarau akibat pasokan dancadangan air tanah menurun, menyebabkan terjadinya kekeringan yangberkepanjangan. Pengelolaan DAS bagian hulu sering kali menjadi fokus perhatian,mengingat dalam suatu kawasan DAS, bagian hulu dan hilir mempunyaiketerkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Misalnya kesalahan penggunaanlahan daerah hulu akan berdampak pada masyarakat di daerah hilir. Terbukanyalahan yang berbukit di daerah hulu baik karena penebangan hutan termasuk alihfungsi lahan ataupun penerapan cara pengelolaan tanah yang keliru menyebabkanterjadinya erosi dan tanah longsor. Sedimentasi tanah di sungai dan waduk akanmengurangi daya tampung sungai, yang menyebabkan terjadinya banjir di daerahhilir. Banjir bisa terjadi bila daya tampung sungai tidak mampu lagi menampungaliran air yang melalui sungai tersebut, volume limpasan air permukaan melebihidaya tampung, sehingga air menggenangi wilayah tempat aktivitas manusia. Banjir akan bisa menjadi lebih besar jika penyimpan air (water saving)tidak bisa menahan air limpasan. Hal ini bisa terjadi ketika hutan yang berfungsisebagai daya simpan air tidak mampu lagi menjalankan fungsinya. Hutan dapatmengatur fluktuasi aliran sungai karena peranannya dalam mengatur limpasan daninfiltrasi (Murdiyarso, D. Dan Kurnianto, S. 2007). Kejadian banjir ini, akanmenjadi kejadian tahunan daerah hilir yang rawan bencana apabila pengelolaanbagian hulu tidak diperbaiki dengan segera, baik melalui reboisasi/penghijauandan upaya konservasi tanah. Disamping itu karena pasokan air hujan ke dalamtanah (water saving) rendah dan cadangan air dimusim kemarau berkurang akanmenyebabkan terjadi kekeringan berkepanjangan dan hilangnya mata air sepertibanyak terjadi sekarang ini. Indonesia sebagai daerah tropis, erosi oleh air merupakan bentuk degradasitanah yang sangat dominan. Praktik deforesterisasi dan alih fungsi lahanmerupakan penyebab utamanya baik di hutan produksi ataupun di hutan rakyat.Disamping itu praktek usaha tani yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah
  22. 22. konservasi akan menyebabkan terjadinya kemerosotan sumberdaya lahan yangakan berakibat semakin luasnya lahan kritis kita. Terbukti pada tahun 1990-anluas lahan kritis di Indonesia 13,18 juta hektar, namun tahun 2005 diperkirakanmencapai lebih dari 23,24 juta hektar, sebagian besar berada di luar kawasanhutan (65%) yaitu di lahan milik rakyat dengan pemanfaatan yang sekedarnyaatau bahkan cenderung diterlantarkan. Keadaan ini justru akan membawa dampaklahan semakin krtis dan kekeringan panjang terjadi dimusim kemarau. Hal inimenandakan bahwa petani masih banyak yang belum mengindahkan praktekusaha tani konservasi. Kejadian lain di musim hujan, yaitu tanah longsor yang merupakanancaman bagi daerah berlereng, yang pada akhir-akhir ini banyak menelan korbanjiwa. Kejadian longsor selain disebabkan oleh kerusakan lingkungan jugadisebabkan oleh faktor alam yaitu curah hujan, jenis tanah (kedalaman lapisankedap air dan kekuatan tanah) dan topografi/lereng (kemiringan dan stabilitas).Bencana tanah longsor di Karanganyar yang menelan korban 67 jiwa dan jugaterjadi di daerah lainnya seperti Ngawi, Wonogiri dan Malang, merupakanperingatan bagi kita, akan arti pentingnya menjaga stabilitas lereng dan menjagalingkungan di daerah rawan longsor. Hujan lebat dengan volume tinggi akan menjadi penyebab tanah longsor didaerah lereng curam (rawan longsor). Semakin curam kemiringan lereng di suatukawasan, semakin besar kemungkinan terjadi longsor. Semua material bumi padalereng memiliki sebuah sudut di mana material ini akan tetap stabil. Bebatuankering akan tetap di tempatnya hingga kemiringan 30 derajat misalnya, akan tetapitanah yang basah akan lebih mudah meluncur pada kemiringan yang lebih kecil.Sehingga jika curah hujan tinggi, mengguyur dalam tempo lama, dengan drainaseyang kurang baik menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air, dan jika sudutlereng curam maka sangat rentan terjadi longsor. Pola aliran permukaan yangmengalir hanya lewat satu tempat sangat berpengaruh terhadap terjadinya tanahlongsor.
  23. 23. Beberapa tahun terakhir ini penjarahan hutan atau penebangan liar di kawasanhutan makin marak terjadi dimana-mana seakan-akan tidak terkendali. Ancamankerusakan hutan ini jelas akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasabesarnya karena adanya efek domino dari hilangnya hutan, terutama padakawasan-kawasan yang mempunyai nilai fungsi ekologis dan biodiversitas besar.Badan Planologi Departemen Kehutanan melalui citra satelit menunjukkan luaslahan yang masih berhutan atau yang masih ditutupi pepohonan di Pulau Jawatahun 1999/2000 hanya tinggal empat persen saja. Kawasan ini sebagian besar merupakan wilayah tangkapan air pada daerahaliran sungai (DAS). Akibat dari kejadian ini tidak saja hilangnya suatu kawasanhutan yang tadinya dapat mendukung kehidupan manusia dalam berbagai aspekmisal kebutuhan akan air, oksigen, kenyamanan (iklim mikro), keindahan(wisata), penghasilan (hasil hutan non kayu dan kayu), penyerapan carbon (carbonsink), pangan dan obat-obatan akan tetapi juga hilanglah biodiversity titipangenerasi mendatang. Saat ini di dunia internasional telah berkembang trend baru melaluiperdagangan karbon (CO2). Perdagangan karbon diawali dengan disepakatinyaKyoto Protocol bahwa Negara-negara penghasil emisi karbon harus menurunkantingkat emisinya dengan menerapkan teknologi tinggi dan juga menyalurkan danakepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampumenyerap emisi karbon secara alami misalnya melalui vegetasi (hutan). Indonesiadengan luas hutan tersebar ketiga di dunia, bisa berperan penting untukmengurangi emisi dunia melalui carbon sink. Hal ini bisa terjadi jika hutan yangada dijaga kelestariannya dan melakukan penanaman (afforestasi) pada kawasanbukan hutan (degraded land). Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yangrusak (degraded forest) dengan cara penghutanan kembali (reforestasi). Hutan Pinus di Indonesia sebagai salah satu hutan tanaman yang memilikinilai ekonomi strategis dan persebarannya yang cukup luas saat ini diandalkansebagai penghasil produk hasil hutan non kayu melalui produksi getahnya. Nilai
  24. 24. ekonomi hutan Pinus dianggap masih rendah apabila hanya dihitung dari nilaigetah dan kayunya saja, sudah saatnya dilakukan upaya penghitungan manfaathutan sebagai penyedia jasa lingkungan yang diharapkan mampu memberikannilai ekonomi lebih tinggi dengan mengetahui berbagai kemampuannya dalammenyediakan sumberdaya air, penyerap karbon, penghasil oksigen, jasa wisataalam, satwa, biodiversitas dan sebagainya.B. Hutan Bagi Kehidupan Peran hutan terhadap pengendalian daur air dimulai dari peran tajukmenyimpan air sebagai air intersepsi. Sampai saat ini intersepsi belum dianggapsebagai faktor penting dalam daur hidrologi. Bagi daerah yang hujannya rendahdan kebutuhan air dipenuhi dengan konsep water harvest maka para pengelolaDaerah Aliran Sungai (DAS) harus tetap memperhitungkan besarnya intersepsikarena jumlah air yang hilang sebagai air intersepsi dapat mengurangi jumlah airyang masuk ke suatu kawasan dan akhirnya mempengaruhi neraca air regional.Dengan demikian pemeliharaan hutan yang berupa penjarangan sangat pentingdilaksanakan sesuai frekuensi yang telah ditetapkan. Peran menonjol yang ke dua yang juga sering menjadi sumber penyebabkekawatiran masyarakat adalah evapotranspirasi. Beberapa faktor yangberperanan terhadap besarnya evapotranspirasi antara lain adalah radiasi matahari,suhu, kelembaban udara, kecepatan angin dan ketersediaan air di dalam tanah atausering disebut kelengasan tanah. Lengas tanah berperanan terhadap terjadinyaevapotranspirasiEvapotranspirasi punya pengaruh yang penting terhadap besarnyacadangan air tanah terutama untuk kawasan yang berhujan rendah, lapisan/tebaltanah dangkal dan sifat batuan yang tidak dapat menyimpan air. Peran ketiga adalah kemampuan mengendalikan tingginya lengas tanah hutan.Tanah mempunyai kemampuan untuk menyimpan air (lengas tanah), karenamemiliki rongga-rongga yang dapat diisi dengan udara/cairan atau bersifat porous.Bagian lengas tanah yang tidak dapat dipindahkan dari tanah oleh cara-cara alamiyaitu dengan osmosis, gravitasi atau kapasitas simpanan permanen suatu tanahdiukur dengan kandungan air tanahnya pada titik layu permanen yaitu padakandungan air tanah terendah dimana tanaman dapat mengekstrak air dari ruangpori tanah terhadap gaya gravitasinya. Titik layu ini sama bagi semua tanamanpada tanah tertentu (Seyhan, 1977). Pada tingkat kelembaban titik layu initanaman tidak mampu lagi menyerap air dari dalam tanah. Jumlah air yang
  25. 25. tertampung di daerah perakaran merupakan faktor penting untuk menentukan nilaipenting tanah pertanian maupun kehutanan. Peran ke empat adalah dalam pengendalian aliran (hasil air). Kebanyakanpersoalan distribusi sumberdaya air selalu berhubungan dengan dimensi ruang danwaktu. Akhir-akhir ini kita lebih sering dihadapkan pada suatu keadaan berlebihanair pada musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Sampai saat inimasih dipercayai bahwa hutan yang baik mampu mengendalikan daur air artinyahutan yang baik dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya dimusim kemarau. Kepercayaan ini didasarkan atas masih melekatnya dihatimasyarakat bukti-bukti bahwa banyak sumber-sumber air dari dalam kawasanhutan yang baik tetap mengalir pada musim kemarau. Pada kawasan hutan Pinus di Daerah Tangkapan Air Gunung Rahtawu,Kabupaten Wonogiri dengan luasan catchment area dengan luas 101,79 ha dengancurah hujan rata-rata berkisar antara 2900 – 3500 mm/tahun mampu menghasilkanpotensi sumberdaya air permukaan sebesar 2..232.000 m3/tahun. Kawasan inijuga mampu menghasilkan debit yang selalu tersedia untuk dimanfaatkan (debitandalan) sebesar 2 – 67 liter/detik. Dari potensi ini saja sebenarnya sudah dapatdiprediksi bahwa kawasan hutan Pinus ini mampu mendukung 900 – 2.000 jiwamasyarakat disekitar hutan Pinus yang rata-rata membutuhkan air bersih untukmemenuhi kebutuhan hidupnya sebesar 122 liter/orang/hari (Suryatmojo, H.,2004). Dari gambaran diatas, nampak jelas bahwa peran hutan sebagai penyedia jasalingkungan melalui kemampuannya sebagai regulator air memiliki nilai arti yangsangat penting dalam mendukung hajat hidup masyarakat disekitar hutan. 1) Hutan Sebagai Penyerap Karbon Siklus karbon di dalam biosfer meliputi dua bagian siklus penting, di daratdan di laut. Keduanya dihubungkan oleh atmosfer yang berfungsi sebagai faseantara. Siklus karbon global melibatkan transfer karbon dari berbagai reservoir(Tabel 1). Jika dibandingkan dengan sumber karbon yang tidak reaktif, biosfermengandung karbon yang lebih sedikit, namun demikian siklus yang terjadisangat dinamik di alam (Vlek, 1997). Tabel 1. Karbon di dalam berbagai reservoir dari siklus global Lokasi Satuan C (ton x 1010) Udara CO2-atmosfer 70 Darat Biomass 59 Bahan organik tanah 85 Produksi bersih/tahun 6.3 Pelepasan dari fosil 0.5
  26. 26. Laut Biomass 0.3 C-organik terlarut 100 C-anorganik (HCO3) 3.500 Produksi bersih/tahun 45 Sedimen C-anorganik (HCO3) 2.000.000 Batu bara dan minyak 1.000 Sejumlah besar kalsium karbonat dalam lebih dari 10 juta tahun yang lalutelah terlarut dan tercuci dari permukaan daratan. Sebaliknya, dalam jumlah yangsama telah terpresipitasi dari air laut ke dalam lantai dasar laut. Waktu tinggal(residence time) karbon di dalam atmosfer dalam pertukarannya dengan hidrosferberkisar antara 5 – 10 tahun, sedangkan dalam pertukarannya dengan sel tanamandan binatang sekitar 300 tahun. Hal ini berbeda dalam skala waktu dibandingkandengan residence time untuk karbon terlarut (ribuan tahun) dan karbon dalamsedimen dan bahan bakar fosil (jutaan tahun) (Vlek, 1997 dalam Herman Widjaja,2002). Dari hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia denganmenggunakan metoda IPCC 1996, diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi totalCO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61Gg, NOX sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Adapun penyerapanCO2 oleh hutan kurang lebih sebanyak 364,726 Gg, dengan demikian untuk tahun1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkatpenyerapannya. Indonesia sudah menjadi net emitter, sekitar 383,881 Gg padatahun 1994. Hasil perhitungan sebelumnya, pada tahun 1990, Indonesia masihsebagai net sink atau tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi.Berapapun kecilnya Indonesia sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnyakonsentrasi gas-gas rumah kaca secara global di atmosfer (Widjaja, 2002). Banyak pihak yang beranggapan bahwa melakukan mitigasi secarapermanen melalui penghematan pemanfaatan bahan bakar fosil, teknologi bersih,dan penggunaan energi terbarukan, lebih penting daripada melalui carbon sink.Hal ini dikarenakan hutan hanya menyimpan karbon untuk waktu yang terbatas(stock). Ketika terjadi penebangan hutan, kebakaran atau perubahan tata gunalahan, karbon tersebut akan dilepaskan kembali ke atmosfer (Rusmantoro, 2003). Carbon sink adalah istilah yang kerap digunakan di bidang perubahaniklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan sebagai penyerap (sink) danpenyimpan (reservoir) karbon. Emisi karbon ini umumnya dihasilkan darikegiatan pembakaran bahan bakar fosil pada sektor industri, transportasi danrumah tangga. Pada kawasan hutan Pinus di DTA Rahtawu dengan umur tegakan 30tahun mempunyai potensi penyimpanan karbon sebesar 147,84 ton/ha denganprosentase penyimpanan terbesar pada bagian batang (73,46%), kemudian cabang(16,14%), kulit (6,99%), daun (3,17%) dan bunga-buah (0,24%). Dari data diatas
  27. 27. dapat diprediksi kemampuan hutan pinus dalam menyimpan karbon melaluipendekatan kandungan C-organik dalam biomas memiliki potensi penyimpananmencapai 44% dari total biomasnya. Sehingga DTA Rahtawu dengan luasan101,79 ha memiliki potensi penyimpanan karbon dalam tegakan sebesar 15.048,5ton, penyimpanan karbon dalam seresah sebesar 510 ton dan dalam tumbuhanbawah sebesar 91 ton karbon. (Suryatmojo, H., 2004) 2) Hutan Sebagai Penyedia Sumberdaya Air Ketergantungan masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar hutanterhadap keberadaan hutan sangat tinggi. Kemampuan hutan sebagai regulator airmampu memberikan kontribusi dalam penyediaan air bagi masyarakat sekitarhutan. Hutan Pinus di DTA Rahtawu memiliki potensi yang cukup besar dalampenyediaan sumberdaya air. Potensi sumberdaya air di DTA Rahtawu dapatdidekati dengan mengetahui debit bulanan dan volume aliran bulanan, sedangkanuntuk memprediksi debit andalan yang selalu tersedia setiap saat dan dapatdipergunakan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan masyarakat sekitardidekati dengan pengolahan data sekunder dari hidrograf aliran untuk memperolehdebit minimumnya (debit andalan). Dari hasil penelitian diperoleh nilai debit andalan yang dapat dipergunakanpada musim kemarau sebesar 1,82 liter/detik yang terjadi pada bulan Agustus danSeptember, sedangkan pada musim penghujan debit yang dapat dimanfaatkansebesar 29,82 – 67,55 liter/detik (Suryatmojo, H., 2004). Masyarakat desaNgambarsari yang terletak di sekitar kawasan hutan pinus membutuhkan airbersih rata-rata/orang/hari adalah 0,0014 liter/detik atau 122 liter/orang/hari.Apabila potensi sumberdaya air tersebut akan dimanfaatkan oleh masyarakat desaNgambarsari, maka potensi air dari hutan pinus seluas 101,79 ha mampu untukmemenuhi kebutuhan air bersih bagi 900 – 2.000 orang atau 19 – 42% dari jumlahpenduduk Desa Ngambarsari yang berjumlah 4.749 orang. Dari hasil penelitian diatas, nampak bahwa sesungguhnya peran hutansangat besar dalam menyokong kehidupan manusia, salah satu diantaranya darikemampuan sebagai regulator air melalui berbagai proses dalam siklus hidrologiyang berlangsung di dalamnya. Tanpa keanekaragaman hayati tidak ada kehidupan. Ini adalah bagianyang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Peraturan dibidang iklim,pemurnian air, penyerbukan, kontrol hama, makanan, obat-obatan… merupakandaftar ketergantungan kita terhadap sumberdaya dan layanan yang disediakan olehekosistem hutan hujan tropis hingga terumbu karang, yang hampir tidak pernahberakhir. Keanekaragaman hayati merupakan kunci keberhasilan dari ekosistemkarena memberikan mereka fleksibilitas untuk beradaptasi dan terus berfungsi didalam dunia yang terus berubah. Tetapi masa depan kesehatan ekosistem
  28. 28. tersebut, dan sebagai konsekwensi kesehatan kita, masyarakat dan ekonomi,menjadi semakin tidak menentu dalam kaitannya dengan tingkat kehilangankeanekaragaman hayati yang terjadi di seluruh dunia. Hutan mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalammenunjang pembangunan nasional. Hutan mempunyai manfaat yang amat besarbagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Manfaat tersebut terdiri dari manfaat langsung dan manfaat tidak langsungserta manfaat hasil hutan yang berupa barang dan jasa. Manfaat langsung hutanberupa: kayu, buah-buahan, binatang untuk diburu,keindahan untuk rekreasi alam,udara yang segar untuk kenyamanan dan kesehatan. Sedangkan manfaat tidaklangsungnya berupa: pemeliharaan keanekaragaman hayati, pengendalian erosidan banjir, pengendalian penyakit tanaman atau tanah hutan industri. Hasil hutanberupa barang meliputi: kayu, rotan, getah, buah, kayu bakar, satwa liar, airbersih, dan sebagainya. Sedangkan hasil hutan berupa jasa meliputi: pemandanganalam, menyerap dan menyimpan karbon, iklim mikro/iklim setempat (lokal),memelihara kesuburan tanah, dan mengendalikan debit sungai, dan lainnya. Disamping memiliki manfaat yang disebut diatas, hutan juga memilikinilai fungsi yang berupa fungsi produksi/ekonomis, fungsi ekologis dan fungsisosial budaya. Fungsi produksi/ekonomis meliputi keseluruhan hasil hutan yang dapatdipergunakan untuk memenuhi kehidupan manusia dalam melakukan berbagaitindakan ekonomi seperti hasil hutan untuk bahan baku industri, kayu bakar sertahasil hutan yang berupa air bersih untuk dijual secara komersial. Fungsi ekologishutan berupa berbagai bentuk jasa hutan yang diperlukan dalam memelihara danmeningkatkan kualitas lingkungan seperti mengendalikan erosi, memeliharakesuburan tanah, habitat flora dan fauna serta mengendalikan penyakit tanamanpertanian. Fungsi sosial budaya dapat berupa barang dan jasa yang dihasilkan olehhutan yang dapat memenuhi kepentingan umum, terutama masyarakat di sekitarhutan untuk berbagai kepentingan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, sepertilapangan pekerjaan, lahan untuk bercocok tanam, persediaan kayu bakar,pendidikan, penelitian, budaya dan keagamaan. Hasil hutan yang dinilai secaraekonomis dan di masukkan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) hanya terbataspada beberapa jenis hasil hutan yang memiliki nilai komersial, yaitu nilai ekonomidalam arti sempit saja. Indonesia memiliki hutan seluas lebih kurang 144 juta ha, hanya saja yangmasih berupa hutan kira-kira 118 juta ha. Apabila hutan tersebut dikelola dandimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, akan memberikan dampak positif dalammenunjang pembangunan bangsa dan negara. Begitu juga sebaliknya jika hutantersebut tidak dilestarikan dan dipelihara maka akan menyebabkan dampak negatifbagi bangsa dan negara. Datangnya bencana alam seperti banjir dan tanah longsormerupakan dua dari banyak bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan hutan.
  29. 29. Oleh karena itu, sudah selayaknya lah kita menjaga dan melestarikan alam kita,karena itu adalah amanah dari Sang Pencipta. Mulailah berbuat dari yang terkecil,dari yang terdekat dengan kita seperti menanam pohon di pekaranganrumah/tempat tinggal kita. Apakah Anda peduli terhadap lingkungan? Berikut adalah cara Anda dapatikut terlibat dan membuat suatu perubahan. Di artikel lingkungan hidup ini Andaakan menemukan tips cara mengurangi limbah, menemukan produk ramahlingkungan, dan mendukung upaya masyarakat, pemerintah dan perusahaan untukmembantu melindungi dan melestarikan lingkungan. Hidup Hijau Mengurangi Pemanasan Global Menghemat EnergiC. Hutan Lindung Sebagai Pengatur Tata Air Kawasan lindung merupakan kawasan yang berfungsi untuk melindungikawasan yang berpotensi sebagai tangkapan air, pengatur tata air, perlindunganterhadap sumberdaya hayati dan perlindungan terhadap pencurian kayu. Airmemegang peranan penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnyaserta lingkungan. Sementara di lain pihak, banyaknya tekanan terhadap hutanlindung menyebabkan berkurangnya fungsi sebagai daerah tangkapan danpenyedia air. Permasalahan lain yang berkembang adalah banyaknya pihak yangterlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan air, baik sebagai penyedia maupunpengguna. Oleh karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanyapenanganan dan kesepakatan, baik antara pihak penyedia (pengelola kawasan)maupun pihak pengguna ( pengelola SDA). Para pemanfaat kawasan di hilirselayaknya memberikan kompensasi kepada pengelola kawasan di hulu sebagaiinsentif terhadap pengelolaan kawasan lindung. Kompensasi yang diberikan dapatberupa pembayaran jasa lingkungan dengan melakukan konservasi melaluitanaman jenis setempat dan menjaga kelestarian hutan Hutan merupakan faktor yang utama dalam menjaga kualitas danketersediaan air sehingga ada tuntutan dan keinginan agar hutan sebagai daerahtangkapan utama dan berfungsi sebagai pengatur tata air perlu dikelola denganbaik. Sebagai pengguna air baik pemerintah, swasta maupun masyarakatmempunyai tanggung jawab dalam melakukan kewajibannya untuk menjagakelestarian hutan berupa kontribusinya sebagai kompensasi agar kebutuhan akansumber air dapat terpenuhi. Dan pengguna merasa yakin bahwa dana yangdihimpun untuk pengelolaan sumber daya air digunakan dengan sebaikbaiknyauntuk menjaga dan meningkatkan kualitas jasa air. Sebagai penyedia air dalam halini instansi yang terkait dengan pengelolaan kawasan lindung hendaknya jugadapat memanfaatkan kompensasi tersebut dengan sebaik-baiknya.
  30. 30. Pemerintah selaku regulator dalam hal ini sangat berperan aktif terutamadalam mekanisme penyaluran dana jasa lingkungan. Agar mekanisme tranfer jasalingkungan dapat diterapkan dan berjalan dengan baik diperlukan lingkungankebijakan yang kondusif secara keseluruhan. Disamping itu segala hambatan perludiidentifikasi dan ditanggulangi seperti kurangnya kemauan politis, tidak adakerangka hukum yang mendukung,, sumber dana yang kurang, atau minat dankomitmen masyarakat yang kurang atau adanya ketidak sepahaman diantara parainstansi yang terkait. Dengan banyaknya instansi yang terkait dalam pengelolaanair maka akan berpotensi menimbulkan kompleksitas dalam proses negosiasiimbalan. Otonomi daerah berdampak juga terhadap regulasi sektor air terutamaintegrasi pengelolaan air baik diantara semua sektor maupun diantara parapemangku kepentingan. Berdasarkan undang-undang No.7 tahun 2004 pasal 77 dijelaskan bahwasumber dana untuk pengelolaan sumber daya air salah satunya adalah dari hasilpenerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Berkaitan dengan hal tersebutpihak penyedia air wajib menerima kompensasi jasa pemakaian air dari penggunaair sebagai biaya pemeliharaan / pengelolaan dikawasan lindung yang merupakandaerah tangkapan air (hulu sungai).D. Identifikasi Para Pengguna Jasa Air Kawasan lindung sumber air adalah kawasan yang memberikan fungsi lindungpada sumber air yaitu daerah sempadan sumber air, daerah resapan air dan daerahsekitar mata air. Pemanfaatan Sumber Daya Air (SDA) dapat digunakan untukberbagai kebutuhan, yaitu : Pemanfaatan air yang mempunyai nilai komersil (bernilai pasar) untuk kebutuhan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) dan Industri Pemanfaatan air non komersial ( bernilai non pasar) untuk kebutuhan pertanian dan rumah tangga. Instansi / stakeholder yang berfungsi sebagai pengelola SDA atau penyedia airyang mempunyai nilai komersil baik untuk kebutuhan Perusahaan Listrik Negara(PLN) serta Perusahaan Air Minum (PAM) maupun industri yang berskala besaradalah Perusahaan Jasa Tirta (PJT) yang penyalurannya berasal dari waduk.Sedangkan stakeholder yang berfungsi sebagai pengelola sumber mata air dikawasan hulu yang bersifat non komersil terutama untuk pemanfaatanperkebunan, irigasi persawahan, peternakan maupun rumah tangga adalah parapengelola kawasan. Pola pengelolaan sumber daya air menurut UU no 7merupakan dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau danmengevaluasi kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian kerusakanSDA. Sehingga pola ini perlu disusun secara terkoordinasi diantara instansi 2yang terkait berdasarkan azas kelestarian, keseimbangan fungsi sosial – ekonomi– lingkungan serta azas manfaat umum dan melibatkan peran masyarakat yang
  31. 31. selanjutnya dituangkan dalam rencana penyusunan program pengelolaansumberdaya air Ada 2 macam pemanfaatan air yaitu : pemanfaatan air komersialdan pemanfaatan air non komersial ( Nurfatriani, 2006 ).a. Pemanfaatan air komersial merupakan bentuk pemanfaatan SDA yang telahmemiliki harga pasar ( price market) yang ditetapkan dalam bentuk tarif yangditentukan pemerintah. Pemakai air yang berada di wilayah kerja PJT Imemberikan kontribusi terhadap biaya operasional pengelolaan SDA berupa tarifair yang ditetapkan oleh Menteri PU berdasarkan PP No 6/1981 tentang IuranEksploitasi dan Pemeliharaan Bangunan Prasarana Pengairan. Selanjutnyakewenangan PJT untuk menarik iuran tersebut ditetapkan dengan Keppres No58/1990 dengan tarif awal untuk PLN Rp16,67 /kwh, PDAM Rp Rp 50,00 /m3dan Industri Rp 100,00 /m3. Berdasarkan tarif dasar ini kontribusi terhadap biayaoperasional pengelolaan SDA hanya sebesar 44, 8 % dari kebutuhan dana OPsebesar Rp 101,6 milyar. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 . Dari jumlah biaya kontribusi yang diterima oleh pihak pengelola hanyasebagian kecil yang dikembalikan untuk biaya konservasi terutama didaerah hulubahkan selama lima tahun terakhir persentasenya menurun. Hal ini disebabkankarena volume pemakaian terus bertambah sedangkan tarif iuran tetap, disampingitu cukup tinggi biaya ( lebih dari 50 % biaya OP ) yang dikeluarkan untukpemeliharaan sarana dan prasarana terutama waduk.
  32. 32. b. Pemanfaatan air yang non komersial menggunakan metode pendekatanterhadap kesediaan membayar (WTA) individu/ masyarakat atas manfaat yangdiperoleh dari sumberdaya alam atau jasa lingkungan.Dengan melihat selisihantara jumlah yang dikonsumsi (jumlah yang dibayarkan) dan kesediaanmembayar maka dapat diukur tingkat kesejahteraan yang diperoleh konsumenatau disebut surplus konsumen. Surplus konsumen menunjukkan bahwakonsumen menerima atau mendapat nilai lebih dari harga yang dibayarnya. Darinilai surplus konsumen ini diharapkan juga dapat dikembalikan kepada pengelolakawasan hulu sebagai kompensasi atas jasa air yang digunakan. Namun tidakseluruh nilai surplus konsumen tersebut yang selayaknya dikembalikan, tapihanya sebagian kecil saja atau sebesar ± 20% dari masing-masing pengguna dapatmembayar kompensasinya kepada pengelola kawasan. Terlihat pada tabel 2bahwa besarnya kompensasi yang selayaknya diterima oleh para pengelolakawasan atas jasa air yang digunakan petani dan rumah tangga sebesarRp.4.067.525 / thn untuk para pengusaha pertanian di Tahura Suryo dan sebesarRp.55.008,80 / tahun untuk rumah tangga di TNBTS dan sebesar Rp. 679.510,40 /thn untuk rumah tangga di sekitar kawasan Perum Perhutani. Gambar 1: Distribusi Nilai Lingkungan Non Komersil Pemanfaatan air non komersial di kawasan hulu DAS Brantas digunakanuntuk pertanian yang berada di bawah pengelolaan Tahura Suryo. Pengusahapertanian yang menggunakan sumber mata air melalui pipa2 paralon dan tandon2antara lain : pengusaha bunga, pengusaha jamur dan pengusaha peternakan ayam.Penghijauan dan reboisasi yang dilakukan oleh para pengusaha disekitarkawasannya bekerjasama dengan instansi kehutanan dalam rangka melestarikankawasan disekitar sumber mata air. Sedangkan pemanfaatan air oleh masyarakat /petani dikawasan hulu DAS Brantas dibawah pengelolaan TNBTS terutama untukpetani sayuran dan kebutuhan untuk air minum dan MCK. Pemanfaatan lahan iniuntuk pertanian tidak lepas dari konflik yang terjadi antara masyarakat denganpengelola kawasan, karena topografi lokasi sangat rentan akan erosi. Sehinggadiperlukan kesepakan untuk kepentingan masing2 dimana masyarakatmembutuhkan sumber mata air dan pengelola perlu kelestarian lahan.Kesepakatan dilakukan melalui kegiatan penanaman jalur hijau ( green belt ).
  33. 33. E. Identifikasi Para Pengelola Kawasan Di Hulu Sebagai Penyedia Air Kawasan Lindung sebagai penyedia air merupakan kawasan yang perludilindungi dan dilestarikan serta dikelola dengan baik. Sebagai kawasan lindungada beberapa fungsi manfaat yang dapat diperoleh antara lain Good ForestGovernance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari 162 sebagai kawasanwisata, taman nasional, konservasi dan hutan lindung. Dari beberapa fungsitersebut ada beberapa pengelola / stakeholder yang bertanggung jawab dalampengelolaannya. Di kawasan hulu DAS Brantas ada 3 stakeholder yang mengelolalangsung kawasan tersebut yaitu Perum Perhutani sebagai pengelola hutanlindung, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Taman HutanRaya (ahura) Suryo, ketiga stakeholder tersebut berada di Kabupaten Malang. Kawasan Tahura R. Soeryo yang merupakan hulu DAS Brantas terdapat 2buah gunung yaitu G. Anjasmoro dan G. Arjuna dimana kawasan ini berbatasandengan hutan lindung dan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani.Luas kawasan Tahura yang merupakan hutan konservasi adalah 25 000 ha yangmeliputi 4 Kabupaten (Malang, Mojokerto, Pasuruan dan Jombang). Di KabMalang luas kawasan Tahura 8 928,1 ha dimana di kawasan tersebut terdapatArboretum yang dibangun oleh PJT I sebagai daerah tangkapan air (catchmentarea) seluas 40 ha dengan jenis tanaman kayu putih, kayu manis, cemara gunungdll. Kawasan ini juga merupakan sumber mata air sungai brantas dan merupakansalah satu sumber air yang mengairi waduk yang dikelola oleh PJT I melaluisungai Lesti dan Melamon. Lebih dari 5 sumber mata air yang ada di kawasanTahura baik air panas dan air dingin dan juga berfungsi sebagai obyek wisata.Selain itu ada beberapa perusahaan yang memanfaatkan air langsung dari kawasanini antara lain perusahaan jamur, perusahaan tanaman bunga dan perusahaanpeternakan. Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampaihilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. WilayahDAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baikuntuk air minum, rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. Didalam Kawasan Hutan lindung sumbersumber mata air dimanfaatkan langsungoleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadayadan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. Luas Kawasan HLdi wilayah SPH IV Malang sebesar 130 114,19 ha meliputi KPH Malang53.587,30 ha (15.438,60 ha atau 28,8% dikelola oleh TNBTS), Luas kawasanyang dapat berpotensi memanfaatkan jasa lingkungan seluas 69.372 ha. Pengelolaan hutan lindung selain sebagai kawasan perlindungan jugasebagai sumber air dan sumber mata pencaharian masyarakat sekitar. Hutanlindung di wilayah KPH Malang yang merupakan hulu DAS Brantas dan sebagaisumber air perlu dijaga kelestariannya agar tidak mencemari permukaan air KaliBrantas yang merupakan sumber air baku baik bagi masyarakat maupun industridan pembangkit tenaga listrik.. Hulu kali Brantas berada di wilayah Kabupaten
  34. 34. Malang tepatnya di Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo dan Taman NasionalBromo Tengger Semeru dan melintasi beberapa kabupaten hingga bermuara dikota SurabayaF. Kompensasi Insentif Hulu Hilir Di Kawasan Lindung Para pengelola kawasan lindung (Perum Perhutani, TNBTS dan TahuraSuryo) selayaknya menerima konpensasi dari para pemanfaat air dari hulu sampaikehilir, karena selaku pengelola kawasan sangat berpengaruh terhadapketersediaan dan kualitas air. Berapa manfaat yang harus diterima oleh pengelolakawasan dapat diketahui dengan menghitung berapa potensi debit air yang dapatdiproduksi dari masingmasing kawasan dengan nilai eksternal berupa nilaidampak terhadap lingkungan yang harus dikembalikan ke hulu. Berdasarkan hasilanalisa dengan Citra Landsat pada masing-masing Sub DAS dan Sub-sub DASmenunjukkan bahwa sebagai pengelola kawasan dibagian hulu dari ketigastakeholder terkait yang berpotensi dapat menghasilkan air antara lain PerumPerhutani (KPH Malang) dengan luas areal 5.274,72 ha , 2 975,94 ha untukkawasan TNBTS dan 6 224,85 ha untuk kawasan Tahura Suryo. Sedangkan rata-rata potensi produksi air yang dapat dihasilkan selama 3 tahun pengamatan adalah73,37 juta m3 untuk Perum perhutani, 41,48 juta m3 untuk TNBTS dan 83,88 jutam3 untuk Tahura Suryo (Kirsfianti 2006). Terlihat pada tabel 3 bahwa potensi poduksi air yang dapat dihasilkan darimasing-masing pengelola kawasan menunjukkan jumlah yang hampir sama besaruntuk setiap ha, Perbedaan yang relatif kecil hanya disebabkan oleh kondisi lahanatau tutupan lahan dari masing-masing pengelola seperti TNBTS kondisipenutupan lahan masih banyak tanaman pohon yang dapat menghasilkan air,berbeda dengan di Tahura Suryo penutupan lahan lebih digunakan untuk lahanpertanian begitu pula halnya dengan lahan Perum Perhutani digunakan sebagailahan garapan petani sebagai tanaman persawahan / pertanian. Lebih jelas terlihatdalam diagram berikut potensi produksi air masing-masing stakeholder.
  35. 35. Gambar 2 : Potensi Produksi Air Pengelola Kawasan Selanjutnya dari jumlah potensi produksi air dari masing-masing pengelolakawasan dapat dihitung berapa besar biaya yang seharusnya diterima sebagaikompensasi atas jasa air yang digunakan oleh para pemanfaat ( PDAM, PLN danIndustri ) dengan mengetahui tarif air / nilai lingkungan. Tarif ini dihitung denganmenggunakan analisa full costing dari seluruh komponen biaya yang dikeluarkanoleh pengelola sumberdaya air (PJT I). Hasil analisa biaya ini dapat diketahuijumlah nilai lingkungan dari para pemanfaat air yang mempunyai nilai pasar/komersil yaitu sebesar Rp.183.830.000.000 (Nurfatriani, 2006). Selanjutnya untukmengetahui berapa besar nilai lingkungan komersil ini didistribusikan kepadapengelola kawasan dihitung dengan mengalikan besarnya persentase proporsipotensi produksi air dari masing-masing pengelola dengan nilai lingkungan secarakeseluruhan. Lebih jelas distribusi biaya/nilai lingkungan baik komersil maupunnon komersil Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari165 sebagai kompensasi dari masing-masing pengelola kawasan dapat dilihat padatabel 3 berikut : Dari tabel 3 dapat diketahui besarnya biaya lingkungan yang seharusnyaditerima oleh masing-masing pengelola kawasan dimana Tahura Suryomenunjukkan nilai yang terbesar yaitu 8 691 085 /ha, terbesar kedua TNBTSsebesar Rp 2 052 400 / ha sedangkan Perum Perhutani sebesar Rp 978 349./ha.
  36. 36. Disamping itu PJT I Malang telah melakukan Program Pembayaran JasaLingkungan dalam upaya pengembangan hubungan hulu hilir bekerja samadengan Yayasan Pengembangan Pedesaan.yang dilakukan dalam dua tahap.Tahap pertama selama 6 bulan (Oktober 2004 s/d Maret 2005) di desa TlekungKota Batu seluas 17,5 ha dan desa Bendosari Kec Pujon seluas 8 ha denganjumlah anggaran sebesar Rp 44 000 000. Tahap kedua selama 3 bulan (Maret s/dMei 2005) di desa Bendosari dengan luas 16,5 ha dan biaya sebesar Rp 15 790000. Semua biaya berasal dari PJT I yang diberikan kepada petani yang telahmelakukan upaya konservasi sumberdaya air dan tanah didaerah hulu DASBrantas yang merupakan daerah tangkapan air ( catchments areas). Gambar 3: Distribusi Nilai Lingkungan Komersil Tujuan program ini adalah selain untuk membangun partisipasi dankesadaran masyarakat petani di daerah hulu sungai Brantas juga turut sertamenjaga kelestariannya juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petanimelalui penanaman. Mekanisme kompensasi ini disalurkan secara langsungkepada petani melalui pengadaan sapras dan bibit sesuai dengan kondisi lahansetempat. dan sesuai dengan kebutuhan. Disamping itu juga untuk membangunmekanisme kelembagaan hubungan antara masyarakat hulu dan hilir dalam halpembayaran jasa lingkungan. Ada dua mekanisme distribusi biaya jasa lingkungan yang diterapkan dalampemanfaatan jasa air : 1. Jasa lingkungan dapat diberikan langsung kepada pihak pengelola kawasan apabila pemanfaatan air langsung dari dalam kawasan lindung. 2. Jasa lingkungan dapat diberikan oleh pihak mitra atau pihak ketiga kepada pengelola kawasan apabila pemanfaatan air dilakukan oleh pihak swasta dan berfungsi sebagai stakeholder pengelola sumberdaya air.
  37. 37. Gambar 4 : Mekanisme distribusi biaya jasa lingkungan I. KONSEP KEBIJAKAN PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN DI KAWASAN LINDUNG Kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi atau kualitassumberdaya hutan sebagai penyedia manfaat ekonomi, ekologi dan sosial budayadi daerah hulu dan mengantisipasi terjadinya kerusakan fungsi hutan bagi daerahhilir. Konsep ini tertuang dalam “ Draft Raperda Pengelolaan Jasa LingkunganSumberdaya Hutan Propinsi Jawa Timur “. Para penyedia jasa lingkungan hutandi hulu yang terdiri dari kelompok tani dan pengelola kawasan hutan sangatmembutuhkan pendanaan dalam upaya melakukan konservasi dan rehabilitasihutan dan lahan. Manfaat jasa lingkungan sumberdaya hutan selama ini diperoleh secaracuma-cuma /gratis oleh pengguna jasa lingkungan di hilir dan tidak ada kontribusiyang dibutuhkan dalam rangka pengembalian nilai jasa lingkungan dalam bentukkonservasi atau rahabilitasi pengelolaan sumberdaya hutan di hulu secara lestari.
  38. 38. Kompensasi ini merupakan inovasi baru di kehutanan sehingga perlu payunghukum dan regulasi yang jelas. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana cara menilai jasa lingkunganhutan tersebut sebagai suatu peluang kontribusi di sektor kehutanan yang lebihberimbang. Disamping itu bagaimana mekanisme pembayaran atas manfaat jasalingkungan . Untuk itu diperlukan suatu institusi yang bersifat independen yangtidak terkait secara langsung dengan birokrasi di pemerintah propinsi/ daerah.Pemerintah hanya bersifat fasilitasi dan regulasi sehingga pengelolaan dana yangdihimpun dari pemanfaatan jasa lingkungan hutan dapat dipertanggung jawabkansecara transparan. Seperti yang tertuang dalam draft Raperda pasal 10 bahwaBadan Pengelola Jasa Lingkungan memenuhi syarat akuntabilitas, transparansidan partisipasi. Badan ini bersifat non struktural langsung dibawah Gubernur danberfungsi untuk melakukan fasilitasi pengumpulan dan penyaluran dana jasalingkungan. Dalam pasal 9 dijelaskan bahwa pengguna jasa lingkungan dalambentuk BUMN/BUMD, lembaga, perusahaan atau sektor swasta yangmendapatkan keuntungan dari pemanfaatan jasa lingkungan tersebut harusmengalokasikan 2,5% dari keuntungan yang diperileh sebagai kompensasi untukkelestarian sumberdaya hutan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaanterhadap lingkungan.G. Hutan Sebagai Penyedia Jasa Wisata AlamKeindahan bentang alam hutan diminati sebagai tempat rekreasi sekaligusrelaksasi. Dalam bentuk ekowisata, bentang alam hutan dengan keunikanpanoramanya ini merupakan jenis wisata alternatif yang menawarkan banyakkelebihan, antara lain: sifatnya yang alami, relatif murah dan tentu saja ramahlingkungan (Kirsfianti, 2006). Selain itu, hutan yang baik mampu menciptakaniklim mikro di dalamnya sehingga menjanjikan kenyamanan dan kesejukan bagipenikmat wisata alternatif ini.Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alamdan Kawasan Pelestarian Alam dijelaskan bahwa zona pemanfaatan TamanNasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam dapat dimanfaatkan untukkeperluan pariwisata alam dan rekreasi. Bahkan dalam kawasan SuakaMargasatwa kita bisa melakukan wisata alam terbatas melalui kegiatanberkunjung, melihat dan menikmati keindahan alam serta perilaku satwa didalamnya dengan syarat tertentu. Kegiatan wisata di kawasan konservasi ini tentusaja dapat dilakukan dengan tetap memegang teguh kaidah-kaidah konservasi.Promosi dan informasi yang kurang, terbatasnya sarana dan prasarana penunjang,serta minimnya pendidikan dan pelatihan dalam perencanaan maupunpenyelenggaraan pariwisata alam merupakan beberapa permasalahan yangmenghambat perkembangan sektor ini (Antara News, 2008). Jenis kegiatan yangpotensial untuk dikembangkan antara lain: tracking, hiking, interpretasi alam danlingkungan, outbound, susur gua, bird watching, sepeda gunung, dan fotografi.
  39. 39. Sedangkan untuk kawasan konservasi laut, kegiatannya meliputi: snorkling,diving, surfing, ski air, dan fotografi.H. Hutan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam Keindahan bentang alam hutan diminati sebagai tempat rekreasi sekaligusrelaksasi. Dalam bentuk ekowisata, bentang alam hutan dengan keunikanpanoramanya ini merupakan jenis wisata alternatif yang menawarkan banyakkelebihan, antara lain: sifatnya yang alami, relatif murah dan tentu saja ramahlingkungan (Kirsfianti, 2006). Selain itu, hutan yang baik mampu menciptakaniklim mikro di dalamnya sehingga menjanjikan kenyamanan dan kesejukan bagipenikmat wisata alternatif ini. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan SuakaAlam dan Kawasan Pelestarian Alam dijelaskan bahwa zona pemanfaatan TamanNasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam dapat dimanfaatkan untukkeperluan pariwisata alam dan rekreasi. Bahkan dalam kawasan SuakaMargasatwa kita bisa melakukan wisata alam terbatas melalui kegiatanberkunjung, melihat dan menikmati keindahan alam serta perilaku satwa didalamnya dengan syarat tertentu. Kegiatan wisata di kawasan konservasi ini tentusaja dapat dilakukan dengan tetap memegang teguh kaidah-kaidah konservasi.I. Pelestarian Hutan Membahas tentang hutan, biasanya akan berkaitan dengan pegunungan,sebab kawasan hutan adalah merupakan kawasan pegunungan . Lahan dipegunungan yang masih merupakan kawasan hutan adalah lahan yang sangatbanyak memberikan manfaat untuk pertanian , selain itu hutan juga sangat pentinguntuk menjaga fungsi lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan penyanggadaerah di bawahnya. Istilah pelestarian mengesankan penimbunan, seakan akan gagasantersebut hanyalah berarti persediaan tetap cadangan, sehingga ada sesuatu yangtertinggal untuk masa yang akan datang. Dalam pandangan masyarakat awamahli pelestarian terlalu sering digambarkan sebagai orang yang bersifat anti sosialyang menentang setiap macam pembangunan. Apa yang sebenarnya ditentangoleh para ahli pelestarian adalah pembangunan yang tanpa rencana yangmelanggar hukum ekologi dan hukum manusia. Pelestarian dalam pengertian yang luas merupakan salah satu penerapanyang penting dari ekologi. Tujuan dari pelestarian yang sebenarnya adalahmemastikan pengawetan kualitas lingkungan yang mengindahkan estitika dankebutuhan maupun hasilnya serta memastikan kelanjutan hasil tanaman, hewan,bahan-bahan yang berguna dengan menciptakan siklus seimbang antara panenandan pembaharuan (Odum, E. ?)
  40. 40. Kesadaran lingkungan harus ditumbuhkembangkan pada masyarakat sejakdini . Tekanan sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnyapada sumber daya alam dapat ditumbuhkembangkan melalui upaya pemberianinformasi tentang lingkungan sehingga akan meningkatkan kesadaran lingkunganmasyarakat. Menurut Djaenudin, D. 1994 kawasan hutan perlu dipertahankanberdasarkan pertimbangan fisik, iklim dan pengaturan tata air serta kebutuhansosial ekonomi masyarakat dan Negara. Hutan yang dipertahankan terdiri darihutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, hutan konservasi, hutan produksiterbatas dan hutan produksi. Berikut ini pengertian dari berbagai jenis hutantersebut, antara lain: (1) Hutan lindung adalah hutan yang perlu dibina dandipertahankan sebagai hutan dengan penutupan vegetasi secara tetap untukkepentingan hidroorologi, yaitu mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi,memelihara keawetan dan kesuburan tanah baik dalam kawasan hutanbersangkutan maupun kawasan yang dipengaruhi di sekitarnya; (2) Hutan suakaalam adalah hutan yang perlu dipertahankan dan dibina keanekaragaman jenistumbuhan dan satwa, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentinganplasma nutfah dan pengetahuan, wisata dan lingkungan; (3) Hutan wisata adalahhutan yang dipertahankan dengan maksud untuk mengembangkan pendidikan,rekreasi dan olahraga; (4) Hutan konservasi adalah hutan yang dipertahankanuntuk keberadaan keanekaragaman jenis plasma nutfah dan tempat hidup dankehidupan satwa tertentu; (5) Hutan produksi terbatas adalah kawasan hutanuntuk menghasilkan kayu hutan yang hanya dapat dieksploitasi secara terbatasdengan cara tebang pilih serta; (6) Hutan produksi adalah kawasan hutan yangdiperuntukkan sebagai kebutuhan perluasan, pengembangan wilayah misalnyatransmigrasi pertanian dan perkebunan, industry dan pemukiman dan lain-lain. Di dalam hutan-hutan tersebut di atas tidak boleh dilakukan kegiatan yangmengakibatkan terganggunya fungsi hutan tersebut. Hutan mempunyai fungsipelindung terhadap tanah dari tetesan hujan yang jatuh dari awan yangmempunyai energi tertentu, karena gerak jatuhnya itu dengan energi tertentutetesan hujan akan memukul permukaan tanah dan melepaskan butiran tanahsehingga akan terjadi erosi percikan. Air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah akan mengalir di ataspermukaan tanah, aliran air ini mempunyai energi tertentu juga, makin curam danpanjangnya lereng tempat air mengalir makin besar energinya, energi yang adapada aliran permukaan ini akan mengelupaskan permukaan tanah sehingga terjadierosi permukaan. Aliran permukaan dapat juga menyebabkan terbentuknya alurpermukaan tanah yang disebut dengan erosi alur. Jika ada hutan maka tetesan air hujan akan jatuh pada tajuk-tajuk tanamanyang ada di hutan tersebut, terlebih lagi bila tajuk tersebut berlapis-lapis sebagianair hujan tersebut, akan menguap kembali ke udara dan sebagian lagi akan jatuhke tanah melalui tajuk- tajuk tanaman dari yang teratas sampai ke tajuk tanaman
  41. 41. yang terendah, akibatnya energi kinetic air hujan tersebut di patahkan atauditurunkan kekuatannya oleh tajuk- tajuk tanaman yang berlapis tadi, hinggaakhirnya air hujan yang jatuh pada tanah dari tajuk yang terndah energinya hanyayang kecil saja sehingga kekuatan pukulan air hujan pada permukaan tanah tidakbesar, dengan demikian erosi percikan hanya kecil. Sebagian air yang jatuh di tajuk akan mengalir melalui dahan ke batangpokok dan selanjutnya mengalir ke bawah melalui batang pokok sampai ke tanah.Di dalam hutan di atas permukaan tanah terdapat seresah yaitu, daun, dahan dankayu yang membusuk. Seresah- seresah tersebut dapat menyerap air dan dapatmembuat tanah mejadi gembur dan membuat air mudah meresap ke dalam tanah.Karena penyerapan air oleh seresah dan air meresap ke dalam tanah aliran airpermukaan menjadi kecil dengan demikian erosi lapisan dan erosi alur jadi kecil. Apabila hutan tidak dipertahankan atau dilestarikan fungsi perlindunganhutan terhadap tanah akan hilang sehingga akan terjadi erosi bahkan longsorseperti yang banyak terjadi sekarang ini bila musim hujan datang. Erosi akansemakin besar dengan besarnya intensitas hujan serta makin curam danpanjangnya lereng. Akibat adanya erosi kesuburan tanah akan berkurang karenalapisan atas sudah terkikis dan terbawa oleh air sehingga akan menurunkanproduksi tanaman dan pendapatan petani (Sinukaban, N. 1994).J. Usaha, Cara Dan Metode Pelestarian Hutan Sumber masalah kerusakan lingkungan terjadi sebagai akibatdilampauinya daya dukung lingkungan, yaitu tekanan penduduk terhadap lahanyang berlebihan. Kerusakan klingkungan hanyalah akibat atau gejala saja , karenaitu penanggulangan kerusakan lingkungan itu sendiri hanyalah merupakanpenanggulangan yang sistematis, yaitu penanggulangannya harus dilakukan lebihmendasar yang berarti menanggulangi penyebab dari kerusakan lingkungan.Karena itu sebab keruskan lingkungan yang berupa tekanan penduduk terhadapsumber daya alam yang berlebih harus ditangani. Usaha, cara, dan metode pelestarian hutan dapat dilakukan denganmencegah perladangan berpindah yang tidak menggunakan kaidah pelestarianhutan , waspada dan hati- hati terhadap api dan reboisasi lahan gundul sertatebang pilih tanam kembali (Organisasi Komunitas dan Perpustakaan OnlineIndonesia, 2006). Perladangan berpindah sering dilakukan oleh masyarakat yang bermukimdi pedesaan. Pengaruhnya terhadap pelestarian hutan tidak akan besar karenamereka dalam melakukan kegiatan pada lahan yang tidak terlalu luas. Cara yangmereka gunakan biasanya masih tradisional dan usaha taninya bersifat subsistendan mereka tidak menetap . Namun untuk perladangan yang luas perlu dilakukanusaha tani yang memenuhi kaidah-kaidah pelestarian hutan dan harus adapencagahan perladangan berpindah.
  42. 42. Seringnya terjadi pembakaran hutan pada lahan-lahan perkebunan yangbesar memberikan dampak yang buruk pada hutan disekitarnya. Oleh sebab ituperlu dihindari pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan. Kebakaranhutan juga dapat terjadi bila tidak hati-hati terhadap api, membuang sisa rokokyang tidak pada tempatnya akan dapat menjadi sumber api, embakar sampah atausisa tanaman yang ada di ladang tanpa pengawasan dan penjagaan juga dapatmenjadi sumber kebakaran. Biaya yang dikeluarkan untuk reboisasi dan penghijauan sudah sangatbesar namun hasilnya tidak menggembirakan , banyak pohon yang ditanam untukpenghijauan dan reboisasi dimatikan lagi oleh penduduk karena perpindahanladang dan pembukaan lahan baru, untuk itu salah satu cara yang dapat dilakukanuntuk reboisasi adalah dengan sistem tumpang sari, dalam sistem ini peladangdiperbolehkan menanam tanaman pangan diantara larikan pohon denganperjanjian petani memelihara pohon hutan yang ditanam dan setelah kira-kira limatahun waktu pohon sudah besar petani harus pindah, namun dalam kenyataanpetani banyak tidak memelihara pohon atau bahkan mematikan pohon tersebutkarena dianggap mengganggu tanaman usaha taninya sehingga tidak jarangmereka menetap di tempat tersebut. Kegagalan penghijauan dan reboisasi dapat dimengerti, karenapenghijauan dan reboisasi itu pada hakikatnya menurunkan daya dukunglingkungan. Dalam hal penghijauan, pohon ditanam dalam lahan petani yangdigarap, pohon itu mengambil ruas tertentu sehingga jumlah luas lahan yangtersedia untuk tanaman petani berkurang. Lagipula pohon itu akan menaungitanaman pertanian dan akan mengurangi hasil. Oleh sebab itu, petani akanmematikan pohon atau memangkas pohon tersebut untuk mengurangi naungandan mendapatkan kayu bakar. Reboisasi mempunyai efek yang serupa seperti penghijauan yaitu,mengurangi luas lahan yang dapat ditanami oleh petani dan pengurangan produksioleh naungan pohon. Jadi jelas dari segi ekologi manusia penghijauan danreboisasi sukar untuk berhasil selama usaha itu mempunyai efek menurunkandaya dukung lingkungan dan menghilangkan atau mengurangi sumberpencaharian penduduk. Promosi dan informasi yang kurang, terbatasnya sarana dan prasaranapenunjang, serta minimnya pendidikan dan pelatihan dalam perencanaan maupunpenyelenggaraan pariwisata alam merupakan beberapa permasalahan yangmenghambat perkembangan sektor ini (Antara News, 2008). Jenis kegiatan yangpotensial untuk dikembangkan antara lain: tracking, hiking, interpretasi alam danlingkungan, outbound, susur gua, bird watching, sepeda gunung, dan fotografi.Sedangkan untuk kawasan konservasi laut, kegiatannya meliputi: snorkling,diving, surfing, ski air, dan fotografi.
  43. 43. BAB IV PENUTUPA. Kesimpulan Bumi ini hijau. Dengan hijaunya bumi menjadi salah satu indikator bahwakeseimbangan lingkungan selalu terjaga. Begitu banyak orang yang peduli denganbumi sehingga partisipasi pada hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April begitumenggeliat. Aksi penanaman sejuta pohon membuktikan bahwa masih danbahkan banyak orang yang peduli dengan lingkungan, begitu peduli denganbumi sebagai tempat hunian manusia di seluruh penjuru dunia. Sudah selayaknyabukan bumi ini menjadi perhatian manusia? Mengingat bila keseimbangan lingkungan di bumi rusak maka efeknya yangpaling utama akan langsung dirasakan oleh penghuni bumi, salah satunyamanusia. Maka manusia itu selain sebagai faktor penggerak keseimbanganlingkungan di bumi, manusia juga menjadi korban dari ketidakseimbanganlingkungan dan sekaligus juga bisa menjadi faktor penyebab dari rusaknyakeseimbangan lingkungan di bumi ini. Bila keseimbangan lingkungan terganggu maka akan berimbas padakeseluruhan sistem yang ada. Bukan rahasia lagi kalau hutan memiliki fungsiyang begitu besar dalam keseimbangan lingkungan. Dengan adanya hutan, sistemtata air menjadi seimbang, akar-akar tanaman yang terdapat dalam hutan sangatberperan dalam menyerap kelebihan air, terutama pada musim penghujansehingga banjir dapat dicegah. Fungsi hutan sebagai penampung zat karbondioksida sangat dirasakan olehsemua penghuni bumi, seperti manusia dan tumbuh-tumbuhan.Mengapa?Tentunya kita mengetahui bahwa karbondioksida merupakan zatberacun. Zat ini sangat dibutuhkan oleh tumbuhan dalam melakukan fotosintesis.Secara kimia, reaksi fotosintesis akan menghasilkan glukosa dan oksigen.Oksigen yang dihasilkan dalam fotosintesis begitu dibutuhkan oleh manusia untukbernafas. Maka dapat disimpulkan betapa pentingnya keberadaan hutan, salahsatunya melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan. Namun, sungguh amat disayangkan bila di media publikasi tergambar bahwahutan mulai terkikis. Kehijauan hutan yang menjadi pesonanya mulai terusik.Adanya tangan-tangan tak bertanggungjawab yang menjamahnya secara liar, tanpa pernah memikirkan efek yang dahsyat dikemudian hari. Yang ada dipikiranpara penjamah hanyalah keuntungan sesaat dan sepihak. Tangan-tangan yang tak bertanggungjawab ini sesukanya melakukanpenebangan hutan secara liar. Ya..pasti, telinga kita tak akan asing lagi dengankata illegal logging, atau pembalakan liar. Pembalakan liar atau yang dikenal dengan sebutan illegal logging merupakantindakan yang memiliki efek yang sangat signifikan terhadap lingkungan sekitar.Mengapa? ini berkaitan dengan fungsi hutan yang sangat penting yaitu salahsatunya berperan dalam pengaturan tata air.
  44. 44. Pemikiran sederhananya adalah begini, ketika kita tak sengaja menumpahkanair di meja makan atau di lantai keramik, maka selama kita tak segeramemberhentikan aliran air tersebut, maka air yang tertumpah ini akan terusmengalir ke seluruh permukaan meja atau lantai. Akan sampai dimana aliran airitu berhenti?jawabannya tak jelas, selama air itu masih terus mengalir bisa jadi keseluruh permukaan yang tertumpah tadi. Bisa dibayangkan bila tumpahan air iturelatif banyak! Wah..tak terbayangkan bagaimana basahnya area tersebut. Begitu juga di dunia nyata. Sama kasusnya seperti air yang tertumpah tersebut.Ketika turun hujan, atau pada musim hujan, pasti banyak sekali aliran air darilangit. Nah..kalau banyak hutan yang mengalami pembalakan liar, kira-kira aliranair hujan itu akan tertimbun kemana?Tak ada lagi hutan yang menyerap kelebihanair hujan tersebut. Maka apakah yang akan terjadi??Secara kasat mata, banjirlahkemungkinan yang akan memenuhi pandangan mata.B. Saran Dari pemikiran sederhana saja, kita semua dapat memahami betapapentingnya hutan bagi kehidupan kita semua. Keberadaan hutan menyebabkankelebihan air dapat diserap. Tak akan ada air yang tergenang di permukaan bumiyang dalam skala besar dapat menyebabkan banjir. Dengan adanya hutan, makafungsi keseimbangan lingkungan akan terjaga, seperti yang telah dipaparkan padaparagraf-paragraf di atas. Hijaunya hutan pun menjadi pemandangan yang sedapdi mata. Dan bukan tak mungkin dapat dijadikan sumber pendapatan negara,contoh sederhana, salah satunya sebagai hutan wisata. Kasus pembalakan liar seperti digambarkan pada paragraf sebelumnyamerupakan otoritas pemerintah untuk menanganinya. Kita, sebagai penduduk dinegeri ini tak dapat berbuat banyak untuk mencegah atau bahkan menghakimitindakan para pelaku. Akan tetapi, sebagai bagian dari penduduk bumi, kita bisaikut berperan dalam menghijaukan bumi ini, contoh sederhananya adalah denganikut berpartisipasi dalam penanaman pohon. Hal yang sederhana bukan? Saya yakin, tak perlu seorang yang ahli untuk menanam sebuah tanaman, tiaporang pasti bisa asal mereka mau belajar. Menanam saja sangat berarti bagihijaunya bumi ini. Tak perlu kita berkoar-koar menghujat para pelaku pembalakanliar, yang akibat tindakan mereka begitu berimbas pada semua penduduk bumi.Namun, kita cukup memiliki kesadaran dari diri sendiri untuk ikutmenghijaukan bumi, meski hanya sebuah tanaman. Kelak, dengan berjalannyawaktu satu buah tanaman ini akan tumbuh dan berkembang menjadi pohon besaryang bermanfaat bagi hijaunya bumi. Bayangkan! Bila satu orang saja memiliki kesadaran ini, efeknya pasti dapatdirasakan. Bagaimana bila tiap-tiap individu di negeri ini memiliki kesadaranyang serupa?Pasti hijaunya bumi bukanlah angan-angan semata, lambat laun hijautersebut akan menjadi realita. Dan, bila bumi ini menjadi hijau, siapa lagi yangakan merasakan keuntungannya secara langsung?jawabnya, pasti semuamengetahuinya:) Ya, kita semua sebagai penghuni bumi ini yang secara langsungdapat merasakannya.
  45. 45. DAFTAR PUSTAKASylviani, 2006 Kajian Distribusi Biaya Dan Manfaat Hutan Lindung SebagaiPenyedia Air.Tim Evaluasi Tarif Dasar. 2002. Usulan Komperehensif Pembiayaan PengelolaaSumberdaya Air di Wilayah Sungai (WS) Kali Brantas. Tim Evaluasi Tarif DasarIuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan-DeptKimpraswil. Tidak Diterbitkan.Dinas Kehutanan Jatim. Bahan Konsultasi Publik Draft Raperda Pengelolaan JasaLingkungan Sumberdaya Hutan. Kerjasama dengan MFP dan DFID, 2006Kirsfianti, 2006 Kajian Optimal Luas, Jenis dan Proporsi Vegetasi serta PosisiHutan Lindung Terhadap Produksi Air di DASAnonim. 2008. Mengoptimalkan Kawasan Konservasi sebagai Tujuan WisataAlam. Jakarta: Antara NewsGinoga, Kirsfianti. 2006. Imbalan Jasa Lingkungan Hutan: Dari Inisiatif Lokal keRealisasi Nasional. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi IV tahun 2006Rusmantoro, W., 2003. Hutan Sebagai Penyerap Karbon. Artikel Internet dalamSpektrum Online.Suryatmojo, Hatma. 2005. Peran Hutan Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan.Yogyakarta: Publikasi Penelitian Fakultas Kehutanan UGMKodoatie, R.J. 2005. Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu. Andi Offset.Yogyakarta.Morison Guciano, 2009. Ihwal Komitmen Pelestarian Hutan. Harian Kompas.http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/11/30/(http://afand.abatasa.com/post/detail/2405/lingkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-linkungan-dan-pelestarian-.htm)

×