Tuti Herawati Tugas Kurikulum Pembelajarannnnnn

4,222 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,222
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
100
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tuti Herawati Tugas Kurikulum Pembelajarannnnnn

  1. 1. Nama : Tuti Herawati Kelas : 2B - PE NIM : 2000210965 Judul Buku : Strategi Belajar Mengajar Tahun : 2006 Nama Pengarang : Drs. Syaiful Bahri Djamarah Drs. Aswan Zain IDENTITAS
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN <ul><li>Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan mengajarnya yang secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran. </li></ul><ul><li>Media sumber belajar adalah alat bantu yang berguna dalam kegiatan belajar mengajar. Alat bantu dapat mewakili sesutu yang tidak dapat disampaikan via kata-kata atau kalimat. Keefektifan daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang sulit dan rumit dapat terjadi dengan bantuan alat bantu. Kesulitan anak didik memahami konsep dan prinsip tertentu dapat diatasi dengan bantuan alat bantu. Bahkan alat bantu diakui dapat melahirkan umpan balik yang baik dari anak didik. Dengan memanfaatkan taktik alat bantu yang akseptabel, guru dapat menggairahkan belajar anak didik. </li></ul><ul><li>Pengembangan variasi mengajar yang dilakukan oleh guru pun salah satunya adalah dengan memanfaatkan variasi alat bantu, baik dalam hal ini variasi media pandang, variasi media dengar, maupun variasi media taktil. </li></ul>
  3. 3. KOMENTAR <ul><li>Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Maka dengan itu seorang guru harus bisa memahami anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu dari aspek intelektual, psikologis, dan biolgis. </li></ul><ul><li>Karena ketiga aspek tersebut diakui sebagai permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku aak didik disekolah. Hal ini mejadi tugas cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik. Maka salah satu caranya adalah dengan meminimalkan jumlah anak didik dikelas. Mengaplikasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas adaah upaya lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja, maka pendekata terpilh mutlak dilakukan guna mendukung pengelolaan kelas. </li></ul>
  4. 4. BAB II KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR <ul><li>Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum yang kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut : </li></ul><ul><li>Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku. </li></ul><ul><li>Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah </li></ul><ul><li>belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Menerapkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilan, yakni pengaturan proses belajar mengajar, dan pengajaran itu sendiri, dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. </li></ul>
  5. 5. KOMENTAR <ul><li>Untuk meningkatkan hasil belajar dalam bentuk pengaruh intuksional dan untuk mengarahkan pengaruh pengiring terhdap hal-hal positif dan berguna buat siswa, guru harus pandai memilih apa isi pengajaran serta bagaimana proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan disekolah. </li></ul><ul><li>Untuk menciptakan suasana yang menumbuhkan gairah belajar meniningkatkan prestasi belajar siswa, mereka memerlukan pengorganisasian proses belajar yang baik. Karena proses belajar mengajar merupakan suatu rentetan kegiatan guru menumbuhkan organisasi proses belajar mengajar yang efektif, yang meliputi tujuan pengajaran, pengaturan penggunaan waktu luang, pengaturan ruang dan alat perlengkapaan pelajaran dikelas, serta pengelompokan siswa dalam belajar. </li></ul>
  6. 6. BAB III HAKIKAT, CIRI, DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR <ul><li>A. Hakikat Belajar Mengajar </li></ul><ul><li>Dalam belajar mengajar anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Dalam belajar anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mecerna bahan, dan ada pula anak didk yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah ”perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru. </li></ul><ul><li>B. Ciri-Ciri Belajar Mengajar </li></ul><ul><li>Belajar mengajar memiliki tujuan yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu, ada suatu proseduryang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus, ditandai dengan aktivitas anak didik, dalam belajar mengajar guru guru berperan sebagai pembimbing, dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin, ada batas waktu, dan evaluasi. </li></ul><ul><li>C. Komponen-Kompone Belajar Mengajar </li></ul><ul><li>1. Tujuan </li></ul><ul><li>2. Bahan pelajaran </li></ul><ul><li>3. Kegiatan belajar mengajar </li></ul><ul><li>4. Metode & Alat </li></ul><ul><li>5. sumber pelajaran & evaluasi </li></ul>
  7. 7. KOMENTAR <ul><li>Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan. Maka tugas guru adalah berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua anak didik. Karena suasana belajar yang tidak menggairahkan dan menyenangkan bagi anak didik biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang harmonis. </li></ul><ul><li>Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dala melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual. Maka kegiatan belajar mengajar yang bagimana pun, juga ditentukan dari baik atau tidaknya program pengajaran yang telah dilakukan dan akan berpengaruh terhadap tujuan yang akan dicapai. </li></ul>
  8. 8. BAB IV BERBAGI PENDEKATAN DALAM BELAJAR MENGAJAR <ul><li>Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakn lingkungan yang bernilai edukatif dei kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahakan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik. </li></ul><ul><li>Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan ank didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segal hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didiksebagai individu dengan segala perbedaan, seningga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa pendekatan yang diajukan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalahdalam kegiatan belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Perlu diiktisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendididkan dan pengajaran, yaitu : 1) pendekatan individual , 2) pendekatankelompok, 3) pendekatan bervariasi, 4) pendekatan edukatif, 5) pendekatan pengalaman, 6)pendekatan pembiasaan, 7) pendekatan emosional, 8) pendekatn rasional, 9) pendekatan fungsional, 10) pendekatan keagamaan, 11) pendekatan kebermaknaan. </li></ul>
  9. 9. KOMENTAR <ul><li>Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar , baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik, harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas. </li></ul><ul><li>Dalam mengajar, guru harus menggunakn pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. </li></ul>
  10. 10. BAB V KEPENDUDUKAN PEMILIHAN DA PENENTUAN METODE DALAM PENGAJARAN <ul><li>A. Kedudukan Metode dalam Belajar </li></ul><ul><li>Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki, guru gunakan untuk bagaimana memersiapakan program pengajaran dengan baik dan sistematis. </li></ul><ul><li>Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah, bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata, dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru. </li></ul><ul><li>Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan. </li></ul><ul><li>B. Pemilihan dan Penentuan Metode </li></ul><ul><li>Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional khusus. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pengajaran, adalah : </li></ul><ul><li>Nilai strategis metode, </li></ul><ul><li>Efektifitas penggunaan metode, </li></ul><ul><li>Pentingnya pemilihan dan penentuan metode, </li></ul><ul><li>Faktor yang mempengaruhi pemilihan metode. </li></ul>
  11. 11. KOMENTAR <ul><li>Guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. </li></ul><ul><li>Guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran. </li></ul><ul><li>Guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar dilaksanakan dikelas. Efektifitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran, sebagai persiapan tertulis. </li></ul><ul><li>Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi jika pemilihan dan penentuaun metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing metode pengajaran. Karena itu, yang terbaik guru lakukan adalah mengeahui kelebihan dan kelemahan dari beberapa metode pengajaran yang akan dibahas dalam uraian-uraian selanjutnya. </li></ul>
  12. 12. BAB VI KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR <ul><ul><li>A. Pengertian Keberhasilan </li></ul></ul><ul><li>Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing0masing sejalan dengan filsafatnya. Namun, untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa “suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasi apabila tujun intruksional khususnya dapat tercapai. </li></ul><ul><li>Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai berikut : </li></ul><ul><li>Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok. </li></ul><ul><li>Perilaku yang digariskan dalm tujuan pengajaran /intuksional khusus telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok. </li></ul><ul><li>B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan </li></ul><ul><li>Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun tekadang, keberhasilan yang dicita-citakan, tetapi kegagalan yang ditemui disebabkan oleh berbagi faktor sebagi penghambatnya. Sebaiknya, jika keberhasilan itu menjadi kenyataan, maka berbagai faktor itu juga sebagai pendukungnya. Berbagai faktor dimaksud adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, alat evaluasi, bahan evaluasi, dan suasana evaluasi. </li></ul>
  13. 13. KOMENTAR <ul><li>Untuk mengetahui tecapai tidaknya tujuan intruksional khusus, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan intruksional khusus yang ingin dicapai. Karena fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remidial bagi siswa yang belum berhasil. </li></ul><ul><li>Karena itulah suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahwa tersebut. </li></ul><ul><li>Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi guru. Kepribadian guru diakui sebagai aspek yang tidak bisa dikesampingkan dari kerangka keberhasilan belajar mengajar untuk mengantarkan anak didik menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkepribadian. Dari kepribadian itulah mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas mengajar dikelas. </li></ul>
  14. 14. BAB VII PENGGUNAAN MEDIASUMBER BELAJAR DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR <ul><li>A. Pengertian Media </li></ul><ul><li>Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. </li></ul><ul><li>Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pegetahuan dan ketermpilan. </li></ul><ul><li>B. Media Sebagai Sumber Belajar </li></ul><ul><li>Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengelola sejumlah nilai untuk dikonsunsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana-nama; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Karena itu suber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. </li></ul><ul><li>Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan intruksional, dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri, dan sebagainya. </li></ul>
  15. 15. KOMENTAR <ul><li>Dalam proses belajar mengajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan, demikian anak didik lebih mudah mencerna baha dari pada tanpa bantuan media. </li></ul><ul><li>Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpangsiur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarrnya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran. </li></ul>
  16. 16. BAB VIII BEBERAPA TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK <ul><li>Umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pelajaran berlangsung ternyata bermacam-macam, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru. Rangsangan yang diberikan oleh guru bermacam-macam dengan tanggapan yang bermacam-macam pula dari anak didik. Rangsangan guru dalam bentuk tanya, maka tanggapan anak didik dalam bentuk jawab. </li></ul><ul><li>Sebagai orang yang menginginkan keberhasilan dalam mengajar, guru selalu mempertahankan agar umpan balik selalu berlangsung dalam diri anak didik. Umpan balik itu tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk mental yang selalu berproses untuk menyerap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. </li></ul><ul><li>Untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik diperlukan beberapa teknik yang sesuai dan tepat dengan diri setiap anak didik sebagai makhluk individual. Berikut adalah beberapa teknik untuk medndapatkan umpan balik dari anak didik : </li></ul><ul><li>Memancing aspirasi anak didik </li></ul><ul><li>Memanfaatkan taktik alat bantu yang akseptabel </li></ul><ul><li>Memilih bentuk motivasi yang akurat </li></ul><ul><li>Menggunakan metode yang bervariasi </li></ul>
  17. 17. KOMENTAR <ul><li>Menyadari akan kelemahan bahasa untuk menggambarkan suatu konsep secara tepat, guru berusaha memilih alternatif lain, yaitu memanfaatkan alat bantu pengajaran. Penggunaan alat bantu dapat membantu guruuntuk mengurangi verbalisme pada anak didik. Penggunaan alat bantu dapat mengembangkan dan meningkatakan umpan balik dari anak didik. Sehingga memudahkan pengertian anak didik tehadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. </li></ul><ul><li>Setiap anak didik mempunyai motivasi belajar yang berlainan. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk memahami hal ini agar kegiatan pengajaran yang dilakukan itu tidak asal-asalan. Guru yang mengabaikan masalah perbedaan motifasi dalam arti setiap anak didik cenderung mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugasnya mengajar dikelas. Maka adalah penting untuk memilih bentuk motivasi yang tepat guna membangkitkan gairah belajar anak didik. Penggunaan metode yang bervariasi adalah salah satu strategis untuk membangkitkan motivasi belajar anak didik sehingga umpan balik yang diharapkan dari anak didik terjadi dengan tepat. Strategi penggunaan metode itu guru lakukan untuk mempengaruhi gaya belajar anak didik agar sejalan dengan gaya mengajar anak didik. Kesesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar anak didik dapat menciptakan interaksi dua arah. Umpan balik pun berlangsung selama guru memberikan pengajaran kepada anak didik di kelas. </li></ul>
  18. 18. BAB XI PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR <ul><li>Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosanka adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian juga dalam proses belajar mengajar. Bila guru dalam proses belajar megajar tidak menggunakan variasi, maka ankan membosankan siawa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa. </li></ul><ul><li>Dalam proses belajar ada variasi bila guru dapat menunjukan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses dari pada produk. </li></ul><ul><li>Tujuan variasi mengajar : </li></ul><ul><li>Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses belajar </li></ul><ul><li>mengajar </li></ul><ul><li>Memberika kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi </li></ul><ul><li>Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah </li></ul><ul><li>Memberikankemungkinan pilihan dan faslitas belajar individual </li></ul><ul><li>Mendorong anak didik untuk belajar </li></ul>
  19. 19. KOMENTAR <ul><li>Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Penguasan metode mengajar yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode, tetapi lebih banyak dari itu. Karena diakui, penguasaan metode mengajar dalam jumlah yang banyak lebih memungkinkan guru untuk melakukan pemilihan metode mana yang akan dipakai dalam rangka menunjang tugasnya mengajar di kelas. </li></ul><ul><li>Tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan didalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. Karena itu, guru harus selalu memperhatikan variasi mengajarnya, agar dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum </li></ul><ul><li>Bahwa variasi mengajar sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Komponen-komponen variasi mengajar seperti variasi gaya mengajar , variasi media, dan bahan ajaran, dan variasi interaksi, mutlak dikuasi oleh guru guna menggairahkan belajar anak didik dalam waktu yang relatif lam dalam suatu pertemuan kelas. </li></ul>
  20. 20. BAB X PENGELOLAN KELAS <ul><li>Pengelolaan dapat diartikan sebagai salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolan kelas dimaksudkanuntuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umumu tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas-fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasan disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi kepada siswa. </li></ul><ul><li>Pengelolaan kelas yang efektif perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini : </li></ul><ul><li>Kelas adalah kelompok keja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi </li></ul><ul><li>oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru. </li></ul><ul><li>Dalam situasi kelas, guru buka tutor untuk satu anak pada waktu tertentu, tetapi bagi </li></ul><ul><li>semua anak atau kelompok. </li></ul><ul><li>Praktik guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa. </li></ul>
  21. 21. KOMENTAR <ul><li>Tugas seorang guru itu adalah harus memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif. Berdasarkan asumsi berarti seorang guru harus mampu membentuk dan mengaktifkan siswa bekerja sama adalam kelompok. Hal tersebut harus dilaksanakan secar efektif agar hasilnya lebih baik dari pada siswa belajar sehari-hari. Kegitan guru sebagai kelompok antara lain dapat diwujudkan berupa regu mengajar ynag bertugas membantu kelompok belajar. </li></ul><ul><li>Pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuranyang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka keberhasilan proses belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Seorang guru dituntut agar dapat berusaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-permasalaha yang terkait dengan semua problem pengelolaan kelas, seperti kurangnya kesatuan, tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, reaksi negatif terhadap anggota kelompok, moral rendah, kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, dan sebagainya. </li></ul>
  22. 22. KESIMPULAN <ul><li>Setelah mempelajari isi buku Strategi Belajar Mengajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai inetaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. </li></ul><ul><li>Dalam kegiatan belajar mengajar, guru akan menemui bahwa ank didiknya sebagian ada yang dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas dan ada pula anak didik yang kurang menguasi bahan pelajaran secara tuntas (mastery). Kenyataan tersebut merupakan persoalan yang perlu diatasi dengan segera dan mastery learning-lah sebagai jawabannya. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar yang bagaimana pun juga ditentukan dari baik atau tidaknya program pengajaran yang telah dilakukan dan akan berpengaruh terhadap tujuan yang akan dicapai. </li></ul><ul><li>Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK , guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa. Nilai formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai Tujuan Intruksional Khusus (TIK) yang dicapai. Fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan pelaksanaan program remedial bagi siswa yang belum berhasil. </li></ul>
  23. 23. TERIMA KASIH

×