Pertimbangan dalam perumusan masalah

6,281 views

Published on

1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,281
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pertimbangan dalam perumusan masalah

  1. 1. Pertimbangan dalam perumusan masalah:<br />Pertimbangan objektif: Layak tidaknya untuk dijadinkan pertanyaan penelitian, Menyangkut kedalaman tingkat penelitian.<br />Pertimbangan subjektif: Kesesuaian dengan kriteria dan kualifikasi peneliti.<br />Syarat perumusan masalah penelitian (Kuantitatif)<br />Memiliki batasan yang jelas<br />Memiliki bobot dimensi operasional dari masalah tersebut<br />Dapat dihipotesiskan<br />Dapat diukur<br />Dapat diuji<br />Syarat perumusan masalah penelitian (Kualitatif)<br />Memiliki batasan yang jelas<br />Berangkat dari sebuah pengamatan fenomena<br />Memungkinkan bagi peneliti untuk mendapatkan data dan mengklarifikasinya<br />Teknik perumusan masalah<br />Masalah dapat dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda<br />Rumusan masalah hendaknya dapat mengungkap hubungan antara dua variabel atau lebih, kecuali jika penelitian bersifat deskriptif<br />Rumusan masalah hendaknya dinyatakan dalam kalimat tanya, atau bisa juga dalam sebuah paragraf yang menguraikan identifikasi masalah<br /> .1 Kerangka TeoriDalam penelitian ini yang dijadikan kerangka teori adalah teori perilaku kesehatan menurut LawrenceGreen, selanjutnya perilaku kesehatan ditentukan oleh tiga faktor; yaitu faktor predisposisi (predisposing factor), terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai. Faktor-faktor pendukung (enabling factor), terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan. Faktor-faktor pendorong (re-enforcing .factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan.Untuk lebih jelas di bawah ini digambarkan bagan kerangka teori sebagai berikut :Gambar 2.1. Bagan Kerangka Teori3.1 Kerangka KonsepKerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002). Berdasarkan kerangka teori yang ada, maka kerangka konsep yang digunakan sebagai berikut, Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep PenelitianDalam kerangka konsep di atas, peneliti akan melakukan penelitian tentang karakteristik akseptor KB Suntik pada masyarakat di Desa Kutoarjo Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Tataan Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Lampung Selatan dilihat dari umur, tingkat pengetahuan, pendidikan dan tingkat ekonomi<br />TEKNIK ANALISIS DATA DALAM PENELITIAN<br />Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.. setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementaramenjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.<br />Sehubungan dengan uraian tentang proses analisia dan penafsiran data di atas, maka dapat dijelaskan pokok-pokok persoalan sebagai berikut: Konsep dasar analisis data, Pemerosotan satuan, kategorisasi termasuk pemeriksahan keabsahan data, kemudian diakhiri dengan penafsiran data.<br />B. Konsep Dasar Analisi Data.<br />Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi: Analisis data proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.<br />Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama- tama mengorganisasikanm data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.<br />Akirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakjan secara intensif, yaitu sudah meninggalkan lapangan. Pekerjaan menganalisis data memerlukan usaha pemusatan perhatian dan pengerahan tenaga, pikiran peneliti. Selain menganalisis data. Peneliti juga perlu dan masih perlu mendalami kepustakaan guna mengkonfirmasikan teori atau untuk menjastifikasikan adanya teori baru yang barangkali ditemukan.<br />C. Pemrosesan Satuan<br />Uraian tentang pemerosotan satuan ini terdiri dari tipelogi satuan dan penyususnan satuan.<br />1. Tipelogi satuan.<br />Satuan atau unit adalah satuan suatu latar sosial. Pada dasarnya satuan ini merupakan alat untuk menghaluskan pencatatan data. Menurut Lofland dan Lofland, (!984) (dalam lexy 2002: 190), satuan kehidupan sosial merupakan kebulatan di mana seseorang mengajukan pertanyaan. Linciln dan Guba (1985: 344) menamakan satuan itu sebagai satuan informasi yang berfungsi untuk menentukan atau mendefinisikan kategori.<br />Sehubungan dengan itu, Patton, (1987: 306-310) membedakan dua jenis tipe satuan yaitu (1) tipe asli dan (2) tipe hasil konstruk analisis. Patton menyatakan bahwa tipe asli inilah yang menggunakan prespektif emik dan antropologi. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa prilaku sosial dan kebudayaan hendaknya dipelajari dari segi pandangan dari dalam dan definisi prilaku manusia. Jadi, konseptualisasi satuan hendaknya ditemukan dengan menganalisis proses kognitif orang-orang yang diteliti, bukan dari segi entnosentrisme peneliti. Pendekatan ini menuntut adanya analisis kategori verbal yang digunakan oleh subjek untuk merinci kompleksitas kenyataan ke dalam bagian-bagian. Patton, menyatakn bahwa secara fundamental maksud penggunaan bahasa itu penting untuk memberikan ”nama” sehingga membedakan dengan yang lain dengan ”nama” yang lain pula. Setelah ”label” tersebut ditemukan dari apa yang dikatakan oleh subjek, tahap berikutnya ialah berusaha menemukan ciri atau karakteristik yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.Untuk itu, tipelogi asli ini merupakan kunci bagi peneliti untuk memberikan nama sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dihayati oleh para subjek dan dihendaki oleh latar peneliti.<br />Penyusunan satuan<br />Lincoln dan Guba (1985: 345) mengatakan bahwa langka pertama dalam pemerosotan satuan ialah analisis hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul. Setelah itu, usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi. Peneliti memasukan ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukan ke dalam kartu indeks hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini analisis hendaknya jangan dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin dianggap tidak relevan.<br /> <br />Kategorisasi<br />Kategorisasi dalam uraian ini terdiri atas (1) funsi dan prinsip kategorisasi dan (2) langka-langkah kategorisasi yang diuraikan sebagai berikut.<br />1. Funsi dan prinsip kategorisasi<br />Kategorisasi berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran,intuisi, pendapat, atau kriteria tertentu.Selanjutnya Linclon dan Guba menguraikan kategorisasi adalah (1) mengelompokkan kartu-kartu yang telah dibuat kedalam bagian-bagian isi yang secara jelas berkaitan, (2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap kartu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data, dan (3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan yang lain megikuti prinsip taat asas.<br />2. Langkah-langkah kategorisasi<br />Metode yang digunakan dalam kategorisasi didasarkan atas metode analisis komparatif yang langkah-langkahnya dijabarkan atas sepuluh langka, yang mana langkah yang terakhir adalah analisis harus menelah sekali lagi seluruh kategori agar jangan sampai ada yang terlupakan. Setelah selesai di analisis, sebelum menafsirkan penulis wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keapsahan datanya, pemeriksaan itu dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data.<br />E. Keabsahan data<br />Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah terkumpul,perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data didasarkan pada kriteria deraja kepercayaan (crebility) dengan teknik trianggulasi,ketekunan pengamatan, pengecekan teman sejawat (Moleong, 2004).<br />Triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada (Moleong,200). Trigulasi yang digunakan adalah trigulasi dengan sumber, yaitu membandingkan data hasil obserfasi, hasil pekerjaan siswa dan hasil wawancara terhadap subjek yang ditekankan pada penerapan metode bantuan alat pada efektif membaca .<br />Ketekunan pengamatan dilakukan dengan teknik melakukan pengamatan yang diteliti, rinci dan terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara secara intensif terhadap subjek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengecekan teman sejawat/kolega dilakukan dalam bentuk diskusi mengenai proses dan hasil penelitian dengan harapan untuk memperoleh masukan baik dari segi metodelogi maupun pelaksanaan tindakan.<br />Jenis jenis teknik sampling dan sample<br />Ada beberapa cara teknik sampling ialah random dan non random<br />Stratified samplingCara mengambil sample dengan memperhatikan strata ( tingkatan ) di dalam populasi, non random -> stratified non random sampling.<br />Proportional samplingteknik sampling yang memperhatikan proporsi (perbandingan); sesuai dengan proporsi. mengahasilkan proporsional sample , kalau random namanya proposional random sampling.<br />Purposive samplingTujuan : purposive, purposive sampleCiri ciri : umum yang pada umumnya sudah disepakati, diketahui bersama<br />Quota sampling -> quota sampleteknik pengambilan sample dengan memperhatikan jumlahnya yang sudah ditentukan lebih dahulu<br />Cluster sampling -> cluster sampleteknik pengambilan sample dengan memperhatikan kelompok kelompok dalam populasi , tidak memperhatikan individu, namun kelompoknya.<br />Sample yang representatif :<br />Untuk memperoleh sample yang representatif terhadap populasi harus memperhatikan beberapa hal :<br />Variabilitas populasibervariasinya anggota sample di dalam populasi, ini tidak bisa di rubah atau memanipulasinya. Misal : dalam populasi terdiri dari macam macam individu tersebut dapat dipilih sebagai wakil atau sampleyang representatif<br />besarnya samplesemakin besar sample semakin mendekati kebenaran terutama bila populasinya heterogen. Bias : sampel yang bila dikenakan pada populasi tidak mengenai kebenaran. Besar kecilnya sample ikut menentukan kebenaran dari penelitian. bila sample kurang dari 100 maka sample dipakai semua, bila jumlah besar, misal 500, samplenya harus 20-25 % sampai dengan 10-15%. bila populasinyalebih besar lagi maka prosentase dapat dikurang 15-20% atau bisa kurang.<br />Teknik pengambilan sample : dengan cara random. Bila random, semakin sempurna, maka samplesemakin representatif terhadap hasil populasi<br />Kecermatan memasukkan nya dari populasimakin lengkap ciri ciri populasi yang dimaukkan dalam sample maka makintinggi representatifnyasample<br />Analisis Data<br />Data yang dikumpulkan lewat alat pengumpul diselediki terlebih dahulu reliabilitas dan validitasnya apakah sudah memenuhi syarat atau belum. Dengan menggunakan try out. Setelah itu baru diterjunkan untuk penelitian,  Untuk mengambl data bila alat tersebut sudah memnuhi syarat , datanya juga akan memenuhi syarat pula, pada umumnya meskipun alat pengambil datanya sudah valid, reliabel datanya soalyang belum dijawab / menjawab. Keliru sehingga data yang diperoleh harus diseleksi juga, memenuhi syarat  diatur dalam tabel agar memudahkan untuk pengolahan. Bial mungkin di buat dalam tabel induk, master tabel.<br />Untuk menganalisi data ada 2 macam cara<br />1. Statistik : Analisis data statistik digunakan bila datanya berwujud angka atau kuantitatif.<br />2. non statsitik  : Analisis non statistik digunakan bila datanya bukan berwujud angka, : berkategori, wujud, kualitas, dan bukan angka<br />

×