Histoteknik Dasar

11,078 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
11,078
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
47
Actions
Shares
0
Downloads
488
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Histoteknik Dasar

  1. 1. ZULHAM DEPARTEMEN HISTOLOGI FKUSU DISAMPAIKAN PADA KULIAH PASCASARJANA ILMU BIOMEDIK FKUSU 8 OKTOBER 200 9 Histoteknik Dasar histologi.usu.ac.id
  2. 2. Tujuan Pertemuan <ul><li>Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan: </li></ul><ul><li>Mampu melaksanakan tissue processing; </li></ul><ul><li>Mampu melaksanakan pewarnaan HE . </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Histoteknik adalah metoda membuat sajian histologi dari spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk dianalisis. </li></ul><ul><li>Sumber Jaringan: </li></ul><ul><li>Manusia </li></ul><ul><li>Hewan </li></ul>
  4. 4. Rangkaian Proses <ul><li>Pengawetan ( Fixation ); </li></ul><ul><li>Dehidrasi ( Dehydration ); </li></ul><ul><li>Pembeningan ( Clearing ); </li></ul><ul><li>Pembenaman ( Infiltration/Impregnation/Embedding ); </li></ul><ul><li>Pengecoran ( Blocking/Casting ); </li></ul><ul><li>Pe ngirisa n Jaringan ( Sectioning ); </li></ul><ul><li>Pewarnaan ( Staining ); </li></ul><ul><li>Perekatan ( Mounting ); </li></ul><ul><li>Pelabelan ( Labelling ) </li></ul>
  5. 5. 1. Pengawetan <ul><li>Efek fiksasi terhadap jaringan yang diproses: </li></ul><ul><li>Menghambat proses pembusukan dan autolisis </li></ul><ul><li>Pengawetan jaringan </li></ul><ul><li>Pengerasan jaringan </li></ul><ul><li>Pemadatan koloid </li></ul><ul><li>Differensiasi optik </li></ul><ul><li>Pengaruh terhadap pewarnaan </li></ul><ul><li>Cara melakukan fiksasi: </li></ul><ul><li>Supravital/intravital; </li></ul><ul><li>Merendam dalam larutan fiksatif. </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Hal-hal yang harus diperhatikan dalam fiksasi jaringan histologi adalah: </li></ul><ul><li>Tebal irisan. </li></ul><ul><li>Volume larutan pengawet . </li></ul><ul><li>Jenis larutan pengawet. </li></ul>
  7. 7. Kelompok Zat Pengawet <ul><li>Formaldehyde </li></ul><ul><ul><li>Formaldehyde (Formalin), Paraformaldehyde, Glutaraldehyde, </li></ul></ul><ul><li>Picrates </li></ul><ul><ul><li>Picric Acid  Bouin’s Solution </li></ul></ul><ul><li>Mercurials </li></ul><ul><ul><li>Helly ‘s Fluid (Zenker Formol) </li></ul></ul><ul><li>Oxidizing Agents </li></ul><ul><ul><li>Osmium tetroxide </li></ul></ul><ul><li>Alcohol </li></ul><ul><ul><li>Methanol, Alcohol (etanol) </li></ul></ul><ul><li>Potassium Dichromate </li></ul><ul><ul><li>Muller </li></ul></ul>
  8. 8. JENIS CAIRAN FIKSATIF <ul><li>FORMALIN </li></ul><ul><li>MULLER </li></ul><ul><li>BOUIN </li></ul><ul><li>CARNOY </li></ul><ul><li>ZENKER FORMAL (CAIRAN HELLY) </li></ul><ul><li>ETANOL </li></ul><ul><li>ASAM ASETAT-ALKOHOL-FORMALIN (TELLYESNICZKY) </li></ul><ul><li>dll </li></ul>
  9. 9. FORMALIN <ul><li>Yg digunakan adalah bentuk monomer: dibuat dengan menetralkan/alkalis larutan </li></ul><ul><li>Mengakibatkan crosslink protein </li></ul><ul><li>Formal saline, formal calcium, 10% neutral buffered formalin, buffer formalin sukrosa </li></ul><ul><li>Kelebihan dan kekurangan </li></ul>
  10. 10. Human, 10% Formalin, HE 612x
  11. 11. BOUIN <ul><li>Mengandung asam pikrat, meledak kalau kering </li></ul><ul><li>Mudah dikenali saat pemotongan  warna kuning </li></ul><ul><li>Mempunyai daya penetrasi yang cepat dan merata </li></ul><ul><li>Jaringan mengalami pengerutan </li></ul>
  12. 12. Rat, Bouin’s Solution,HE, Testis 400x
  13. 13. Zenker Formol (Cairan Helly) <ul><li>Mengandung merkuri klorida </li></ul><ul><li>Daya fiksasinya cepat dan kuat, tetapi kecepatan penetrasinya berkurang setelah meresap sejauh beberapa milimeter pertama dan potongan jaringan yang melebihi ketebalan 5 mm pada umumnya cenderung untuk menjadi keras (rapuh), overfixed di bagian pinggir sementara di bagian tengah menjadi lunak karena underfixed </li></ul><ul><li>Fiksatif ini sangat baik untuk fiksasi sumsum tulang dan limpa , mitochondria. </li></ul>
  14. 14. Rat, Helly Fluid, HE 162x
  15. 15. Etanol <ul><li>Cytological fixatives </li></ul><ul><li>Etanol 95% </li></ul><ul><li>Digunakan untuk Pap test, swab </li></ul><ul><li>Mempertahankan antigenisitas  cocok IHC </li></ul>
  16. 17. LARUTAN CARNOY <ul><li>mengawetkan substansia Nissl dan glikogen </li></ul><ul><li>daya penetrasi yang cepat </li></ul><ul><li>Fiksasi ini sering digunakan apabila suatu diagnosis perlu ditegakkan dengan cepat, misalnya untuk diagnosis kanker pada saat pembedahan. Fiksasi umumnya selesai setelah 1-2 jam,sedangkan potongan kecil selesai difiksasi dalam 15 menit. </li></ul><ul><li>efek pengerutan: kuat </li></ul>
  17. 18. Mus musculus, Carnoy, Liver
  18. 19. <ul><li>Pasca fiksasi, jaringan yang keras mendapat perlakuan khusus </li></ul><ul><li>Tulang: dekalsifikasi  formic acid 8% </li></ul><ul><li>Kulit: teknik lendrum </li></ul><ul><ul><li>Cuci dengan air kran mengalir/alkohol 90% </li></ul></ul><ul><ul><li>Fenol 4% dalam akuades (v/v) selama 1 -3 hari </li></ul></ul>
  19. 20. dehidrasi <ul><li>Tahapan dehidrasi </li></ul><ul><li>Cara I </li></ul><ul><ul><li>Alkohol 70% 3 hari ( 3x ganti) </li></ul></ul><ul><ul><li>Alkohol 95% 3 hari ( 3x ganti) </li></ul></ul><ul><ul><li>Alkohol 100% 3 hari ( 3x ganti) </li></ul></ul><ul><li>Cara II </li></ul><ul><ul><li>Alkohol 70%, 80%, 90%, masing-masing 1 hari; </li></ul></ul><ul><ul><li>Alkohol 95% 2 hari ( 2x ganti); </li></ul></ul><ul><ul><li>Alkohol 100 % 2 hari ( 2x ganti). </li></ul></ul><ul><li>Sukrosa 20% (untuk cryostat): Sukrosa 20% selama 2 hari; </li></ul><ul><li>M etanol: jarang digunakan tetapi dapat digunakan seperti etanol; </li></ul><ul><li>Aseton : 3 x 20 menit. </li></ul>
  20. 21. PEMBENINGAN ( CLEARING ) <ul><li>Bahan yang digunakan : </li></ul><ul><ul><li>Cedar wood oil; </li></ul></ul><ul><ul><li>Chloroform; </li></ul></ul><ul><ul><li>Benzene/benzol; </li></ul></ul><ul><ul><li>Benzyl benzoat; </li></ul></ul><ul><ul><li>Methyl benzoat ; </li></ul></ul><ul><ul><li>Xylene/xylol; </li></ul></ul><ul><ul><li>Toluene </li></ul></ul>
  21. 22. Cedar W ood O il <ul><li>Keuntungan </li></ul><ul><li>Sifat clearing -nya paling baik. </li></ul><ul><li>Tak mengeraskan jaringan </li></ul><ul><ul><li>Jaringan yang halus sangat baik. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kadang digunakan untuk jaringan keras (kulit dan jaringan ikat padat) </li></ul></ul><ul><li>Dapat disimpan dalam waktu lama (berbulan-bulan) </li></ul>
  22. 23. C hloroform <ul><li>Keuntungan : </li></ul><ul><ul><li>Paling sering dipakai </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Bersifat toleran (dapat disimpan semalaman tanpa menjadi keras) </li></ul></ul></ul><ul><li>Kerugian </li></ul><ul><ul><li>Titik akhir tak dapat dilihat dengan mata </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Saat menjadi bening dan transparan tak jelas </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Cara mengatasi : waktu pembeningan diperpanjang </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Lebih mahal dari xylene dan benzene tetapi lebih murah dari cedar wood oil . </li></ul></ul>
  23. 24. Benzyl B enzoat e <ul><li>Metod a : </li></ul><ul><li>Benzyl benzoat I selama 24 jam hingga jaringan tenggelam. Jaringan menjadi bening dan transparan. </li></ul><ul><li>Benzyl benzoat II selama 2-3 jam. </li></ul><ul><li>Benzol-Paraffin selama ½ - 1 jam. Campuran benzol dan paraffin cair dengan perbandingan sama. </li></ul><ul><li>Masukkan ke dalam paraffin cair. </li></ul>
  24. 25. Methyl B enzoat e <ul><li>Metode : </li></ul><ul><li>Methyl benzoat I sampai jaringan tenggelam. </li></ul><ul><ul><li>Daya penetrasi lebih cepat dari benzol benzoat; </li></ul></ul><ul><ul><li>Jaringan mudah rapuh. </li></ul></ul><ul><li>Methyl benzoat II selama 1-2 jam. </li></ul><ul><li>Benzol-Paraffin. Campuran benzol dan paraffin dengan perbandingan sama. </li></ul><ul><li>Masukkan ke dalam paraffin cair. </li></ul>
  25. 26. Benzene dan X ylene <ul><li>Keuntungan </li></ul><ul><ul><li>Waktu clearing cepat : ½ - 1 jam. </li></ul></ul><ul><ul><li>Benzene lebih lambat dari xylene tetapi kerapuhan jaringan lebih berkurang dibanding xylene </li></ul></ul><ul><li>Kerugian </li></ul><ul><ul><li>Karsinogenik </li></ul></ul><ul><li>Metode </li></ul><ul><ul><li>Direndam dalam xylol 2 kali @ 1 menit hingga bening dan transparan </li></ul></ul><ul><ul><li>Volume 50 – 1000 kali volume jaringan </li></ul></ul><ul><ul><li>Setelah itu masukkan ke dalam paraffin cair </li></ul></ul>
  26. 27. Toluene <ul><li>Sama dgn xylene tetapi lebih lambat </li></ul><ul><li>Menimbulkan sedikit pengerasan dan distorsi jaringan </li></ul><ul><li>Mudah menguap </li></ul>
  27. 28. PEMBENAMAN <ul><li>Impregnasi adalah proses pengeluaran cairan pembening ( clearing agent ) dari jaringan dan menggantikannya dengan paraffin. </li></ul><ul><li>Dilakukan dengan menggunakan paraffin oven </li></ul><ul><li>Clearing agent yang tersisa dapat mengkristal dalam jaringan sehingga saat dipotong dengan mikrotom jaringan akan robek. </li></ul><ul><li>Teknik Pembenaman </li></ul><ul><ul><li>Paraffin/ paraplast I selama 2 jam; </li></ul></ul><ul><ul><li>Paraffin/ paraplast II selama 1 jam; </li></ul></ul><ul><ul><li>Paraffin/ paraplast III selama 2 jam. </li></ul></ul><ul><li>Setelah pembenaman, proses dilanjutkan dengan pengecoran ( blocking ). </li></ul>
  28. 29. PENGECORAN ( BLOCKING/CASTING ) <ul><li>Alat Cetak : </li></ul><ul><li>Besi potongan berbentuk L (Leuckhart) </li></ul><ul><li>Susun 2 buah potongan besi si atas lembaran logam sehingga membentuk ruang kubus; </li></ul><ul><li>Tuangkan sedikit paraffin cair di bagian pinggir agar tidak bocor; </li></ul><ul><li>Letakkan jaringan sesuai dengan keinginan saat jaringan diiris; </li></ul><ul><li>Tuangkan paraffin secukupnya agar menutupi jaringan seluruhnya; </li></ul><ul><li>Hindarkan terbentuknya air bubble . </li></ul><ul><li>Histoplate dari plastik ( casette ) dan piringan logam ( mold ). </li></ul><ul><li>Spatula untuk melekatkan blok paraffin. </li></ul><ul><li>Beri label identitas jaringan saat blocking . </li></ul>
  29. 30. PE NGIRIS AN JARINGAN ( SECTIONING ) Persiapan: - Microtome knive vs Microtome blade ( disposable ) Letakkan pisau pada mikrotom dengan sudut tertentu. Rekatkan blok paraffin yang akan dipotong pada holder dengan menggunakan spatula atau scalpel blade yang panas. Letakkan holder berikut blok preparat pada tempatnya di mikrotom. - Siapkan coated slides: Albumin (putih telur); Gelatin; SuperFrost  Poly-L-Lysine - Waterbath berisi air hangat 55 o C; - Sengkelit.
  30. 32. <ul><li>Teknik Pemotongan </li></ul><ul><li>ketebalan + 5 – 10  m (disesuaikan kebutuhan) </li></ul><ul><li>Atur jarak preparat yang dipegang oleh holder ke arah pisau sedekat mungkin; </li></ul><ul><li>Gerakkan rotor (putaran) pada mikrotom secara ritmis, </li></ul><ul><li>Buang pita-pita paraffin awal yang tanpa jaringan; </li></ul><ul><li>Setelah potongan mengenai jaringan, potong blok preparat secara hati-hati; </li></ul><ul><li>pindahkan secara hati-hati dengan sengkelit ke atas air di dalam waterbath yang diatur pada suhu 55 o C; </li></ul><ul><li>Setelah pita paraffin terkembang dengan baik, tempelkan paraffin ke kaca objek; </li></ul><ul><li>Simpan kaca objek berisi potongan paraffin dan jaringan sampai saatnya untuk diwarnai. </li></ul>
  31. 34. Pewarnaan ( Staining )
  32. 35. Pertimbangan Pewarnaan <ul><li>Unsur yang akan didemonstrasikan </li></ul><ul><ul><li>Pigmen pengganggu </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mis: melanin -> bleaching </li></ul></ul></ul><ul><li>Fixing fluid/fixatives </li></ul><ul><ul><li>Muller fluid -> jaringan dicuci dgn air mengalir selama 24 jam </li></ul></ul><ul><ul><li>Zenker -> lugol’s iodine -> larutan hypo </li></ul></ul>
  33. 36. Jenis Pewarnaan <ul><li>Hematoxylin & Eosin (Rutin) </li></ul><ul><li>Khusus </li></ul><ul><ul><li>PAS, PTAH, Impregnasi perak </li></ul></ul><ul><ul><li>Sudan -> lipid </li></ul></ul><ul><li>Sitologik </li></ul><ul><ul><li>Pap test </li></ul></ul><ul><ul><li>Blood smear </li></ul></ul><ul><ul><li>Swab mucosa </li></ul></ul><ul><li>Imunohistokimia </li></ul>
  34. 38. Hematoxylin dan Eosin <ul><li>Paling banyak digunakan -> rutin </li></ul><ul><li>HE dapat menunjukkan sebagian besar struktur histologi </li></ul><ul><li>Demonstrasi nuklei adalah penting </li></ul><ul><li>Variasi dalam hasil </li></ul>
  35. 39. <ul><li>Hematein ( oxidized hematoxylin ) adalah zat warna </li></ul><ul><li>Nucleus mengandung RNA dan DNA (bersifat asam) </li></ul><ul><li>Hematoxylin mewarnai nuclei </li></ul><ul><li>Afinitas hematein thd nuclei adalah jelek bila tanpa mordant. </li></ul><ul><ul><li>Mordant adalah penghubung haematoxyllin dan DNA </li></ul></ul><ul><ul><li>Logam: Al, Fe, tungsten, molybdenum, lead </li></ul></ul><ul><ul><li>Tipe mordant mempengaruhi tipe jaringan yang terwarnai dan hasil akhir pewarnaan </li></ul></ul><ul><li>Klasifikasi didasarkan jenis mordant yg digunakan </li></ul><ul><ul><li>Al; Iron; Tungsten haematoxyllin, etc & tanpa mordant </li></ul></ul>
  36. 40. <ul><li>Natural ripening vs artificial ripening </li></ul><ul><li>Artificial ripening: p enggunaan mordant ( Al , Fe , atau Pb ) </li></ul><ul><li>Warna pertama adalah merah gelap, menjadi biru ( blueing ) bila diperlakukan dgn alkali lemah (air kran atau lithium carbonate ) </li></ul><ul><li>Methods are </li></ul><ul><ul><li>regressive </li></ul></ul><ul><ul><li>Progressive causing pale nuclei or colour cytoplasm </li></ul></ul><ul><ul><li>Counterstain (IHC) </li></ul></ul>
  37. 41. Hematoxylin <ul><li>Penggunaan </li></ul><ul><ul><li>Pewarnaan Nuclei </li></ul></ul><ul><ul><li>Struktur selain nuclei </li></ul></ul><ul><li>Jenis formula hematoxylin untuk pewarnaan nuclei </li></ul><ul><ul><li>Dellafield (1885) </li></ul></ul><ul><ul><li>Ehrlich (1886) </li></ul></ul><ul><ul><li>Heidenhains (1896) </li></ul></ul><ul><ul><li>Harris (1900) </li></ul></ul><ul><ul><li>Mayer (1903) </li></ul></ul><ul><ul><li>Weigert (1904) </li></ul></ul><ul><ul><li>Carazzi (1911) </li></ul></ul><ul><ul><li>Cole (1943) </li></ul></ul>
  38. 42. Haematoxyllin M ixtures <ul><li>Connective tissue </li></ul><ul><ul><li>Mallory phosphotungstic acid haematoxyllin </li></ul></ul><ul><li>Elastic fibers </li></ul><ul><ul><li>Verhoeff’s method </li></ul></ul><ul><li>Myelin </li></ul><ul><ul><li>Kultschitzky </li></ul></ul><ul><ul><li>Loyez </li></ul></ul><ul><ul><li>Spielmeyer </li></ul></ul><ul><ul><li>Weigert </li></ul></ul><ul><li>Copper and lead </li></ul><ul><ul><li>Mallory </li></ul></ul><ul><ul><li>Parker </li></ul></ul><ul><li>Mucin </li></ul><ul><ul><li>Mayer’s mucihematein </li></ul></ul>
  39. 43. PEWARNAAN ( STAINING ) <ul><li>Formula Hematoxylin Mayer </li></ul><ul><ul><li>Haematoxylin kristal 1 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Akuades 1000 ml </li></ul></ul><ul><ul><li>Sodium Iodate 0,2 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Ammonium/potassium alum 50 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Citric acid 1 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Chloral hydrate 50 gr </li></ul></ul><ul><li>Cara pembuatan Hematoxylin Mayer </li></ul><ul><ul><li>Larutkan ammonium/potassium alum di dalam akuades. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tambahkan hematoxylin dan campurkan secara baik (aduk) . </li></ul></ul><ul><ul><li>Tambahkan sodium iodate , citric acid dan chloralhydrate . </li></ul></ul><ul><ul><li>Campur dan aduk hingga seluruhnya tercampur dengan baik. </li></ul></ul><ul><ul><li>Biarkan semalam dan saring dengan kertas saring besoknya. </li></ul></ul>
  40. 44. Eosin <ul><li>Zat warna xanthene </li></ul><ul><li>Ikatan Van der Waals </li></ul><ul><li>Paling cocok dikombinasikan dgn alum haematoxyllin </li></ul><ul><li>Memiliki nilai kemampuan differensiasi sendiri untuk membedakan antara sitoplasma dari tipe sel dan serabut jaringan ikat yang berbeda </li></ul><ul><li>Differensiasi terjadi selama dehidrasi oleh alkohol </li></ul><ul><li>Jenis eosin </li></ul><ul><ul><li>Eosin Y (yellowish), water soluble </li></ul></ul><ul><ul><li>Eosin B (Bluish) </li></ul></ul><ul><ul><li>Ethyl Eosin (eosin S, eosin alkohol absolut) </li></ul></ul>
  41. 45. Eosin Y <ul><li>water soluble </li></ul><ul><li>Paling banyak digunakan </li></ul><ul><li>Zat warna asam sehingga berikatan dgn protein (basa) </li></ul><ul><li>Dapat berpenetrasi pada struktur padat dan bersifat metakromatik </li></ul><ul><li>Terdapat dalam 2 bentuk </li></ul><ul><ul><li>Monomer: merah </li></ul></ul><ul><ul><li>Dimer : oranye-merah </li></ul></ul><ul><li>Hasil pewarnaan </li></ul><ul><ul><li>Sitoplasma: merah </li></ul></ul><ul><ul><li>Eritrosit : oranye-merah </li></ul></ul><ul><ul><li>Nukleus piknotik: ungu </li></ul></ul><ul><ul><li>Nucleolus: merah </li></ul></ul>
  42. 46. Eosin <ul><li>Formula Eosin </li></ul><ul><ul><li>Eosin-alkohol Stok 1% </li></ul></ul><ul><ul><li>Eosin y ws 1 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Distilled water 20 ml </li></ul></ul><ul><ul><li>Larutkan dan tambahkan alkohol 95% 80 ml </li></ul></ul><ul><li>Working Eosin Solution </li></ul><ul><ul><li>Eosin-alkohol stok 1 bagian </li></ul></ul><ul><ul><li>Alkohol 80% 3 bagian </li></ul></ul><ul><ul><li>Dibuat sesaat sebelum digunakan dan tambahkan asam asetat glasial 0,5 ml untuk setiap 100 ml larutan dan aduk dengan baik. </li></ul></ul>
  43. 47. Mewarnai Preparat <ul><li>Deparafinisasi dengan xylol (2 x 2 menit); </li></ul><ul><li>Hidrasi dengan alkohol 100% (2x2 menit) – 95% (2 menit) – 90%(2 menit) – 80% (2 menit) – 70% (2 menit) – air kran (3 menit); </li></ul><ul><li>Jaringan yang difiksasi dengan larutan yang mengandung merkuri klorida mengandung presipitat merkuri yang berwarna hitam. Deposit merkuri dapat dihilangkan sebelum pewarnaan. Irisan diinkubasi dalam larutan iodine 0,5% dalam etanol 70% selama 5 – 10 menit. Irisan dibilas dengan air lalu diinkubasi dalam sodium thiosulphate 5% selama 5 menit dan dicuci dengan air kran mengalir. </li></ul><ul><li>Inkubasi dalam larutan hematoxylin Mayer selama beberapa menit; </li></ul><ul><li>Cuci dalam air mengalir selama 15-20 menit; </li></ul><ul><li>Observasi di bawah mikroskop, Counterstaining dengan eosin working solution selama beberapa menit. Dehidrasi dalam serial alkohol dengan gradasi meningkat </li></ul><ul><li>Inkubasi dalam xylol 2x2 menit. </li></ul><ul><li>mounting dengan entelan  /balsam kanada. </li></ul><ul><li>labelling </li></ul>
  44. 50. Acid Alcohol Rinse <ul><li>Mengurangi warna biru hematoxyllin ( to differentiate nuclear staining ) </li></ul><ul><li>0.25 % acid rinse </li></ul><ul><ul><li>Akuades 975 ml </li></ul></ul><ul><ul><li>HCl 25 ml </li></ul></ul><ul><li>HCl 1% dalam alkohol 70% (v/v) </li></ul>
  45. 51. Blueing <ul><li>Air kran (yang alkalis) </li></ul><ul><ul><li>Jakarta: pH air kran adalah 7.8 </li></ul></ul><ul><li>Lithium carbonate </li></ul><ul><ul><li>Lithium carbonate……………….... 0,5 gr </li></ul></ul><ul><ul><li>Akuades……………………………… 1000 ml </li></ul></ul><ul><ul><li>Campurkan dengan baik. </li></ul></ul>
  46. 52. TERIMA KASIH PRAKTIKUM HISTOTEKNIK DASAR 14 DAN 15 OKTOBER 2009

×