Jual Beli Terlarang Secara Syara’

  • 16,737 views
Uploaded on

 

More in: Technology , Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
16,737
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
9

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
10
Likes
11

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Oleh: Izzuddin Abdul Manaf, Lc. MA. Konsultasimuamalat.com
  • 2. Prinsip-Prinsip Muamalat
    • Segala transaksi boleh dilakukan, asal tidak ada larangan.
    • Syarat dan rukun dalam transaksi/akad Jual Beli:
      • Klausula Akad (Shighoh)
      • Pelaku Akad (Penjual dan Pembeli)
      • Objek Akad (Barang dan harga)
    • Akad Jual Beli dinyatakan tidak sah, ketika unsur dari rukun dan syarat tersebut di atas tidak terpenuhi.
    • Selain itu, akad jual beli juga dilarang ketika ada sifat, persyaratan yang di larang dalam Syariah.
    Konsultasimuamalat.com
  • 3. Prinsip-Prinsip Muamalat:
    • Prinsip Transaksi dilarang:
      • Jenis akad-akad yang dilarang disebabkan karena adanya unsur kekurangan dari aspek shighoh.
      • Jenis akad-akad yang dilarang disebabkan karena adanya unsur kekurangan dari aspek Pelaku jual beli.
      • Jenis akad yang dilarang disebabkan karena adanya unsur kekurangan dari aspek objek akad (harga dan barang)
      • Jenis akad yang dilarang karena adanya komponen sifat, jenis dan persyaratan yang dilarang, ataupun adanya larangan dalam transaksi jual beli tersebut.
    Konsultasimuamalat.com
  • 4. Bai ‘Gharar = Taghrir
    • Segala bentuk jual-beli yang sifatnya tidak jelas (uncertainty dan spekulatif) sehingga dapat merugikan pihak yang bertransaksi, seperti menjual anak kambing yang masih berada pada perut induknya, jual beli buah yang belum matang yang masih di pohon, menjual kucing dalam karung, dsb.
    Konsultasimuamalat.com
  • 5. Gharar
    • 1.Bai’ ma’dum (barangnya tidak ada)
    • 2.Bai’ Ma’juzi at-Taslim (Jual beli barang yang barangnya sulit diserahkan)
    • 3. Bai’ majhul (kualitas, kuantitas barang dan harga tidak diketahui)
    Konsultasimuamalat.com
  • 6. Bai’ Ma’dum
    • Menjual anak onta yang masih dlm kandungan
    • Menjual buah yang masih di pohon (belum matang)
    • Menjual susu hewan yang masih di teteknya (Bisa kelihatan besar, ternyata isinya lemak, susunya carir), Di sini ada spekulasi, tidak jelas
    Jual beli barang yang tidak/belum ada Konsultasimuamalat.com
  • 7.
    • Pada dasarnya bai ma’dum tidak dibenarkan
    • Sesuai dengan hafits Nabi Saw.
    • لا تبع ما ليس عندك ( رواه الخمسة عن حكيم بن حزام )
    • “ Janganlah kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu” (H.R.Khamsah dari Hakim bin Hizam)
    Konsultasimuamalat.com
  • 8.
    • Hanafiyah tidak membolehkan seseorang menjual sesuatu yang belum sampai ke tangannya, karena rasulullah Saw melarang penjualan sesuatu yang belum ada dan belum berada dalam kekuasaannya.
    • Berdasarkan ini maka DSN MUI mengharamkan forward transaction, future trading, bursa komoditi.
    Konsultasimuamalat.com
  • 9.
    • Namun, jika barang yang tidak ada itu, bisa diukur dengan pasti dan penyerahannya bisa dipastikan sesuai ‘urf , maka ia dibolehkan
    • Karena itu Imam Malik membolehkan menjual susu hewan yang masih di payudara induknya, asalkan jelas kadarnya dan menurut ‘urf sulit meleset kualitasnya.
    Konsultasimuamalat.com
  • 10.
    • Ibnu Qayyim juga membolehkan bai’ ma’dum apabila barang menurut kebiasaan bisa diwujudkan. Jual beli yang dilarang adalah gharar di mana penjual memang tidak bisa (sulit) mengadakannya.
    • Jual beli ma’dum yang dilarang adalah jual beli yang menurut kebiasaan mengandung unsur spekulatif dan uncertanty.
    Konsultasimuamalat.com
  • 11. Bai Ma’juz at-Taslim
    • Jual beli motor yang hilang dan masih dalam pencarian
    • Jual beli HP yang masih dipinjam orang (teman) yang kabur
    • Jual-beli tanah properti yang belum jelas statusnya (pembebasannya)
    • Menjual burung piaraan (seperti merpati) yang mungkin kembali ke sarangnya, tetapi
    • Padat saat jual beli tidak ada di tempat.
    Konsultasimuamalat.com
  • 12.
    • Hanafiyah tidak membolehkan seseorang menjual sesuatu yang belum sampai ke tangannya, karena rasulullah saw melarang sesuatu yang berada dalam kekuasaannnya (belum qabath )
    • Maka Islam melarang future trading pada transaksi valas (forward transaction, swap dan options) sebab valas tersebut belum diterimanya saat itu, karena memang belum tiba waktunya.
    Konsultasimuamalat.com
  • 13. Bai’ Majhul
    • Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jenis, merek atau kuantitasnya
    • Seperti jual beli murabahah HP Nokia yang tidak dijelaskan tipenya.
    • Jual beli radio yang tidak dijelaskan merknya
    • Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar (tidak jelas, tidak pasti yang mana produk yang mau dibeli)
    Konsultasimuamalat.com
  • 14.
    • Jual beli majhul yang dilarang adalah jual beli yang dapat menimbulkan pertentangan (munaza’ah) antara pembeli dan penjual. Hukum jual belinya fasid
    • Apabila tingkat majhulnya kecil sehingga tidak menyebabkan pertentangan, maka jual beli sah (tidak fasid), karena ketidaktahuan ini tidak menghalangi penyerahan dan penerimaan barang, sehingga tercapailah maksud jual beli.
    Konsultasimuamalat.com
  • 15.
    • Di masa Jahiliyah cukup banyak praktek bisnis yang mengandung gharar
    • Di zaman modern sekarang ini praktek gharar masih tetap berlangsung dalam bentuk dan nama yang berbeda, baik di dunia pasar modal, bisnis valuta asing dan dunia hiburan
    Konsultasimuamalat.com
  • 16. Contoh Jual Beli Gharar di masa pra dan awal Islam
    • Mulamasah
    • Hashah
    • Hablul Habalah
    • Munabazah
    • Muzabanah
    • Muhaqalah
    • Mukhadharah (buah yang masih hijau)
    • Malaqih (menjual sperma)
    • Madhamin (menual janin hewan yang masih di perut induknya)
    Konsultasimuamalat.com
  • 17. Hablul Habalah = حبل الحبلة
    • Seseorang menjual seekor anak onta yang masih berada dalam perut induknya.
    • Jual beli semacam ini dilarang, karena mengandung gharar (ketidakpastian)
    Konsultasimuamalat.com
  • 18.
    • عن البن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلعم نهى عن بيع حبل الحبلة ( رواه البخاري و مسلم )
    • Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw telah melarang penjualan sesuatu (anak onta) yang masih dalam kandungan induknya (H.R.Bukhari Muslim)
    Konsultasimuamalat.com
  • 19. Contoh gharar
    • ان النبي صلعم نهى عن بيع العنب حتى يسود و عن الحب حتى يشد ( الكهلانى سبل السلام ص 47)
    • Sesungguhnya Rasul Saw melarang penjualan anggur sebelum hitam (matang) dan melarang menjual biji-bijian sebelum mengeras
    • Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar, ketidak pastian kualitas barang di masa depan.
    Konsultasimuamalat.com
  • 20. Jual-Beli yang dilarang
    • عن أنس رض قال : نهى رسول الله ص م عن المحاقلة والمحاضرة والملامسة والمنابذة والمزابنة ( رواه البخاري )
    Rasulullah melarang jual beli Muhaqalah, Mukhadharah, Mulamasah, Munabazah, Muzabanah. (H.R.Bukhari) Konsultasimuamalat.com
  • 21. Jual beli Muhaqalah
    • Yaitu : Menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di sawah.
    • Hal ini dilarang karena mengandung gharar
    Konsultasimuamalat.com
  • 22. Bai’ Mukhadharah
    • “ Menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen, seperti menjual buah durian yang masih mentah, rambutan yang masih hijau,
    • Jual-beli ini dilarang, karena mengandung gharar.
    Konsultasimuamalat.com
  • 23. Bai’ Mulamasah
    • Jual beli secara sentuh menyentuh. Misalkan seseorang menyentuh sebuah produk dengan tangannya di waktu malam atau siang hari, maka orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut
    • Jual beli ini dilarang jarena mengandung gharar. Tidak jelas barang mana yang disentuh
    Konsultasimuamalat.com
  • 24. Bai’ Munabazah
    • Jual beli secara lempar-melempar, sehingga objek barang tidak jelas dan tidak pasti, apakah barang A, B, C atau lainnya
    • Seperti seorang berkata, “Lemparkan padaku apa yang ada padamu, nanti kulemparkan pula padamu apa yang ada padaku”. Setelah terjadi saling melempar barang, maka terjadilah jual-beli
    • Jual beli ini juga dilarang krn mengandung gharar
    Konsultasimuamalat.com
  • 25. Bai Muzabanah (Barter buah-buahan)
    • Buah-buahan ketika masih di atas pohon yang masih basah (belum bisa dimakan) dijual sebagai alat pembayar untuk memperoleh kurma dan anggur kering (bisa dimakan). Penyerahannya di masa depan (future)
    • Jual beli ini dilarang karena buah yang di atas pohon belum bisa dipastikan kualitas dan kuantitasnya. Jadi hanya berdasarkan perkiraan/taksiran. Karena itu Rasul saw melarang
    • Karena dikhawatirkan salah satu pihak ada yang dirugikan. Jual beli ini juga mengandung gharar
    Konsultasimuamalat.com
  • 26. Bai’ Hashah = بيع الحصاة
    • عن أبي هريرة قال : نهى رسول الله عن بيع الحصاة وعن بيع الغرار ( رواه مسلم )
    • Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw melarang jual beli hashah dan jual beli gharar
    • Jual beli hashah (kerikil) ialah jual beli dimana pembeli menggunakan krikil dalam jual beli. Kerikil tersebut dilemparkan kepada berbagai macam barang penjual. Barang yang mengenai suatu barang akan dibeli dan kerika itu terjadilah jual beli.
    Konsultasimuamalat.com
  • 27.
    • Jual beli hashah ini juga termasuk gharar, karena sifatnya spekulatif.
    • Praktek ini di zaman sekarang banyak terdapat di pusat hiburan.
    Konsultasimuamalat.com
  • 28. Madhamin dan Malaqih
    • Madhamin ialah menjual sperma hewan,
    • di mana si Penjual membawa hewan pejantan kepada hewan betina untuk dikawinkan. Anak hewan dari hasil perkawinan itu menjadi milik pembeli.
    • Malaqih, Menjual janin hewan yang masih dalam kandungan
    Konsultasimuamalat.com
  • 29. Jual beli hutang ada 2 macam Bai al-dain dan Bai al-salam
    • Jual beli dengan cara berhutang dibolehkan (QS.2:282)
    • Ba’ al-Dain : Jual beli di mana Pembeli menerima barang secara spot, tetapi uang tangguh (nasiah).
    • Bai al-Salam, Jual beli di mana pembeli serahkan uang duluan secara spot, tetapi barang belakangan (nasiah).
    • Gabungan bai al dain dan bai salam disebut Kali bi Kal or bai al-dain bi al-dain or bai’ an-nasiah bi al-nasiah
    Konsultasimuamalat.com
  • 30. Bai’ Kali bi Kali Bai Kali bi Kali Bai al-Dain bi al Dain = Bai Nasiah bi al-Nasiah Konsultasimuamalat.com
  • 31. Bai’ Kali bi Kali بيع الكالى بالكالى بيع الدين بالدين = بيع النسيئة بالنسيئة Konsultasimuamalat.com
  • 32. Dalil Larangan Kali bi Kali
    • و زكر الشوكان الحديث الذي رواه ابن عمر ـن النبي صلعم نهى عن بيع الكالى با اكالي
    • Imam Asy-Syawkani menyebutkan sebuah hadits yangdiriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Nabi saw melarang bai kali bi kali.
    • Menurut Hikayat Imam Ahmad, semua ulama ijma’ tentang keharaman ba’i kali bi Kali
    • (Sumber : Buku Al-Aswaq al-Awraq Al-Maliyah karangan Samnir Abdul hamid Ridhwan,IIIT, 1996, hlm.343
    Konsultasimuamalat.com
  • 33. Dalam Kitab Subulus Salam :
    • الحديث يدل على تحريم ذالك واذا وقع يكون باطلا
    • Hadits itu menunjukkan keharaman bai kali- bi kali. Apabila ia terjadi, maka hukumnya batal
    • ابن القيم في اعلام الموقعين : قد ورد النهي عن بيع الكالي بالكالي . وكلاهما مؤخر . فهاذا لا يجوز بالاتفاق
    • Ibnu Qayyi, dalam kitab I’lam al-Muwaqqi’in mengatakan, Sesungguhnya ada larangan tentang bai kali bi kali. Keduanya (penjual dan Pembeli) menangguhkan barang dan harga. Ini tidak boleh menurut kesepakatan ulama
    Konsultasimuamalat.com
  • 34.
    • Ibnu Rusydi dalam Bidayah al-Mujtahid, “Ijma’ Ulama atas tidak bolehnya bai Dain bi al-Dain”. Nasiah dari dua pihak tidak boleh.
    • Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, “Jual beli hutang dengan hutang (bai al-dain di al-dain tidak shah. Ketentuan ini telah menjadi Ijma’ Ulama
    Konsultasimuamalat.com
  • 35. Talaqqi Rukban (Tallaqqi Jalab)
    • Praktek ini adalah sebuah perbuatan seseorang dimana dia mencegat orang-orang yang membawa barang dari desa dan membeli barang itu sebelum tiba di pasar. Rasulullah SAW melarang praktek semacam ini dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kenaikan harga. Rasulullah memerintahkan suplay barang-barang hendaknya dibawa langsung ke pasar hingga para penyuplai barang dan para konsumen bisa mengambil manfaat dari adanya harga yang sesuai dan alami.
    Konsultasimuamalat.com
  • 36. “ Janganlah kalian menemui para kafilah di jalan (untuk membeli barang-barang mereka dengan niat membiarkan mereka tidak tahu harga yang berlaku di pasar), seorang penduduk kota tidak diperbolehkan menemui penjual di desa. Dikatakan kepada Ibnu Abbas : “ apa yang dimaksud dengan larangan itu? ” Ia menjawab: ” Tidak menjadi makelar mereka ” . (HR. Muslim) [1]   [1] Imam Muslim, Shahih Muslim , Bab Buyu’, Riyadh, Darus Salam, 1998. No hadits 1521
    • لا تلقوا الركبان ولا يبيع حاضر لباد قال قات لابن عباس ما قوله : لا يبيع حاضر لباد ؟ قال لا يمكن له سمسارا ( رواه مسلم )
    Konsultasimuamalat.com
  • 37.
    • Praktek perdagangan seperti ini sangat potensial menekan penjual di desa dan juga pembeli di kota, sehingga harga semakin tinggi dan melambung. Praktek ini dilarang oleh Rasulullah SAW.
    • Praktek ini juga mirip dengan tallaqi al-rukban, dari sisi informasi harga
    Konsultasimuamalat.com
  • 38. Bai’ Hadhir Libad = بيع حاضر لباد
    • Jual beli yang dilakukan oleh seorang agen (penghubung, samsarah, calo, broker) terhadap produk pertanian desa yang dijual kepada pedagang kota
    • Dia mendapat komisi dari penjual (petani) dan pembeli (baik pedagang maupun konsumen) di kota.
    • Akibatnya harga menjadi tidak wajar dan jauh lebih mahal
    Konsultasimuamalat.com
  • 39. Petani Calo/Broker Pedagang Kota/ Atau Konsumen Samsarah (Perantara) Konsultasimuamalat.com
  • 40. Praktek Hadhir Libad
    • Yaitu di mana seseorang menjadi penghubung atau makelar antara orang Gurun Saraha/kampung dan pedagang atau konsumen yang hidup di kota. Makelar itu kemudian menjual barang-barang yang dibawa oleh orang-orang desa itu pada orang kota dan mengambil kuntungan yang besar karena ketidaktahuan mereka akan harga pasar.
    • Atau mekaler itu mengambil komisi yang demikian besar.
    • Dampaknya bisa melambungkan harga dari yang sewajarnya
    Konsultasimuamalat.com
  • 41.
    • Demikian pula sebaliknya, Islam juga melarang peran samsarah/calo penjulan produk kota kepada orang desa
    • Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Tidak boleh orang kota berperan sebagai samsarah/perantara dalam penjaualan suatu barang kepada orang luar kota”. Thawus bertanya kepada Ibnu Abbas apa maksud hadits tersebut. Ibnu Abbas menjawab bahwa maksud hadits itu ialah, tak seorang pun boleh menjadi perantara (samsarah) dengan menerima komisi
    Konsultasimuamalat.com
  • 42.
    • Saat ini negara-negara maju menggunakan Undang-Undang Pemasaran pertanian (Agricultural marketing Acts) untuk menghentikan kejahatan-kejahatan calon dengan melarang perbuatan perantara yang merugikan para petani,
    • Larangan ini telah dilakukan Rasulullah Saw lebih 14 abad yang lalu
    Konsultasimuamalat.com
  • 43.
    • Tujuan Rasulullah Saw melarang transaksi tersebut adalah untuk menghapuskan para perantara (broker), yang menerima komisi dari petani dan atau pembeli, sehingga memungkinkan para petani dan pembeli memperoleh keuntungan-keuntungan bersih dan harga yang layak.
    Konsultasimuamalat.com
  • 44.
    • Broker Asuransi ???? Hukumnya makruh Tanzih
    • Apa perbedaan broker dengan staf marketing ?
    • Broker di pasar modal ?
    • Calon Tiket di Pelabuhan Udara, Stasiun kereta ?
    Konsultasimuamalat.com
  • 45. Jual beli Mulja’
    • Yaitu orang yang terpaksa melakukan jual-beli agar hartanya habis dengan segera dengan tujuan agar terhindar dari kejahatan orang zalim.
    • Jual beli ini tidak sah menurut Hanafiyah dan pembeli wajib mengembalikan barang yang dibelinya.
    Konsultasimuamalat.com
  • 46. Bai Juzaf = Taksir
    • Menjual setumpuk makanan tanpa mengetahui takarannya secara pasti
    • Menjual setumpuk buah tanpa mengetahui beratnya
    • Menjual setumpuk ikan tanpa mengetahuai berapa kg
    • Menjual setumpuk pakaian tanpa mengetahui jumlahnya
    Bai Juzaf adalah jual beli barang yang biasa ditakar, ditimbang dan dihitung, tetapi dilakukan secara taksir/ perkiraan Konsultasimuamalat.com
  • 47. Dalil
    • Ibnu Umar menceritakan, “Kami biasa membeli makanan dari kafilah dagang dengan cara juzaf, lalu Rasul melarang kami membelinya sebelum kami memindahkannya dari tempatnya.
    • Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata, Aku pernah melihat para sahat di zaman Rasul saw membeli makanan secara juzaf, Mereka diberi hukuman pukulan bila menjualnya langsung di lokasi pembelian, kecuali mereka telah memindahkannya.
    Konsultasimuamalat.com
  • 48.
    • Karena itu, ulama Malikiyah mensyaratkan jual beli juzaf bahwa tanah tempat meletakkan barang itu harus rata, sehingga tidak terjadi unsur kecurangan.
    • Karena itu redaksi hadits mensyaratkan juga agar barang itu dipindahkan dulu dari tempatnya, karena khawatir ada penipuan dalam penempatannya.
    Konsultasimuamalat.com
  • 49. Bai Juzaf (Taksir)
    • Jual beli semacam ini sebenarnya masih mengandung unsur spekulasi, tetapi tingkat spekulasinya rendah. Sehingga para ulama membolehkanya, terutama Malikiyah.
    • Jual beli ini dibolehkan apabila telah menjadi urf dan dibutuhkan masyarakat, sepanjang tidak ada penipuan di dalamnya
    • Kebolehan ini juga atas dasar istihsan. .
    Konsultasimuamalat.com
  • 50.
    • Hanafiyah tidak membolehkan seseorang menjual sesuatu yang belum sampai ke tangannya, karena rasulullah Saw melarang penjaualan sesuatu yang belum ada dan belum berada dalam kekuasaannya.
    • Berdasarkan ini maka DSN MUI mengharamkan forward transaction, swap dan option.
    Konsultasimuamalat.com