MAKALAH PENDEKATAN DAN PENERAPAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

15,834 views
15,570 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
15,834
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
244
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

MAKALAH PENDEKATAN DAN PENERAPAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

  1. 1. MAKALAH PENDEKATAN DAN PENERAPAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DISUSUN OLEH: Yusrina Fitriani (06121408005) Winda Efrializa (06121408017) Ratna Febiola (06121408023) PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
  2. 2. DAFTAR ISI Daftar Isi………………………………………….................................. BAB I Pendahuluan……………………………………………………………. 1. 2. 3. 4. Latar Belakang Tujuan Manfaat Rumusan Makalah BAB II Pembahasan…………………………………………………………… 1. 2. 3. 4. 5. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses Alasan Perlunya Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses Jenis- jenis Pendekatan Keterampilan Proses Keterkaitan Keterampilan Proses dengan CBSA dan CTL Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Matematika BAB III PENUTUP…………………………………………………………………….... 1. Kesimpulan 2. Saran REFERENSI…………………………………………………………….............
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Pembelajaran dalam konteks mempersiapkan sumber daya manusia abad 21 harus lebih mengacu pada konsep belajar yang dicanangkan oleh Komisi UNESCO dalam wujud the four pillars of education (Delors 1996:86), yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar hidup bersama sebagai dasar untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan orang lain dalam keseluruhan aktivitas kehidupan manusia (learning to life together), dan belajar menjadi dirinya (learning to be). Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar (Joice & Weil 1996:7), bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh siswa (Zamroni 2000:30; Semiawan 1998:13). Dan Berkenaan dengan model pembelajaran yang dibutuhkan diatas, model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses diharapkan dapat menjadi alternatif. Keterampilan proses adalah keterampilan memproses informasi yang diwarnai dengan prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif yang secara umum hampir sama dengan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) seperti termuat dalam Kurikulum 2004 dan 2006. Pada pembahasan kali ini, penyaji makalah mencoba memfokuskan pembahasan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) pada mata pelajaran Matematika. Hal tersebut dikarenakan rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga diindikasikan bahwa selama ini proses pembelajaran belum optimal. Selain hasil belajar yang rendah, kurangnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran juga menjadi problematika yang harus dipecahkan. Oleh karenanya penulis menyajika makalah ini berisi tentang keterkaitan penerapan PKP dalam pembelajaran Matematika, agar dapat memecahkan masalah yang diuraikan di atas 2. TUJUAN Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagi berikut : 1) menjelaskan mengenai Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) dan keterkaitannya dengan CBSA dan CTL. 2) Menjelasakan manfaat atau alasan pentingnya penerapan PKP dalam proses belajar. 3) menjelaskan bagaimana penerapan keterampilan proses di dalam pembelajaran Matematika.
  4. 4. 3. MANFAAT Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai PKP 2. Tugas mata kuliah Belajar Pembelajaran Prodi Pend. Matematika’12 kampus Palembang 3. Bahan diskusi mata kuliah Belajar Pembelajaran 4. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, ialah: 1. Apa Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses? 2. Mengapa Perlunya Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses ? 3. Apa Saja Jenis- jenis Pendekatan Keterampilan Proses? 4. Apa Keterkaitan Keterampilan Proses dengan CBSA dan CTL? 5. Bagaimana Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Matematika?
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN 1. Pendekatan Keterampilan Proses Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan, 2002). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Alasannya tentulah sederhana, yaitu agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar sains menggunakan pendekatan keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan sains yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya. a. Perinsip Pendekatan Keterampilan Proses Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu : (1) kemampuan mengamati, (2) kemampuan menghitung, (3) kemampuan mengukur, (4) kemampuan mengklasifikasi, (5) kemampuan menemukan hubungan, (6) kemampuan membuat prediksi (ramalan), (7) kemampuan melaksanakan penelitian (percobaan), (8) kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, (9) kemampuan menginterpretasikan data, dan (10) kemampuan mengkomunikasikan hasil. 2. Alasan Perlunya Penerapan Keterampilan Proses Semiawan dkk, (1985: 15-16) merinci alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatanketerampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari : 1. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa diberi bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.
  6. 6. 2. Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata. 3. Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri. 4. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar 100 %, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif. 5. Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak-anak didik. Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus dikaitkan. (Semiawan dkk, 1985 : 15-16) 3. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Terdapat berbagai keterampilan proses yang perlu diterapkan dalam pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Keterampilan Prose situ (conny semiawan, dkk, 1985: 19-43; Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993: 15-19) sebagai berikut : Observasi atau pengamatan Sebagai keterampilan ilmiah yang mendasar, mengobservasi atau mengamati adalah penggunaan semua alat indera (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium, dan atau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting dari yang kurang/tidak penting. Murid dalam kehuidupannya sehari-hari pasti banyak melihat benda, binatang, tumbuhan, dan atau orang di sekitarnya, atau mendengar kicauan burung, bunyi klakson kendaraan, dll itu hanya sepintas dan kurang saksama, sehingga kegiatan itu bukan observasi atau pengamatan. Prasyarat utama dalam observasi adalah pemusatan perhatian, ketelitian, dan kecermatan dalam melihat, mendenga, dan sebagainya sehingga dapat memilihkan yang penting dari yang lainnya. Murid seharusnya dilatih melalui pembelajaran untuk melakukan observasi atau pengamatan dengan cermat dan terarah, dan tidak sekadar melihat/mendengar sesuatu itu sepintas lalu. Penghitungan Menghitung merupakan keterampilan mendasar yang banyak sekali dipergunakan para ilmuwan dalam bekerja. Oleh karena itu, menghitung harus dilatihkan melalui pembelajaran di SD-MI, bukan hanya dalam pembelajaran matematika tetapi juga pembeljaran lainnya, seperti dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam (menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu pengetahuan sosial(menhitung jumlah anggota keluarga, penduduk satu wilayah), pembelajaran Bahasa Indonesia (menghitung jumlah kata dalam setiap kalimat, jumlah kalimat dalam satu alinea, dsb), dan lain-lain. Hasil perhitungan itu dapat dilaporkan dengan membuat table, grafik, dan atau histogram, tingkat kesulitan penghitungan itu harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan sederhana,
  7. 7. sedangkan untuk kelas-kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit. Pengukuran Keterampilan pengukuran adalah salah satu ketrampilan penting dan banyak dipergunakan para ilmuwan dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, keterampilan pengukuran harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran di SD-MI. Pengukuran didasarkan pada perbandingan, seperti membandingkan panjang, luas, volume dari benda, membandingkan kecepatan, suhu, dan sebagainya. Melatih murid melakukan berbagai pengukuran haruslah menjadi bagian penting dalam pembelajaran SD-MI. Pelatihan pengukuran itu dilakukan secara bertahap, pada awlanya hanya membandingkan panjang, besar, dll bertahap benda di sekitarnya, kemudian mulai diperkenalkan dengan ukuran seperti meter, gram, liter, dll yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid. Klasifikasi Keterampilan klasifikasi atau menggolong-golongkan sesuatu merupakan pekerjaan rutin serang ilmuwan, dan karena itu Murid SD-MI sejak harus diperkenalkan dengan keterampilan klasifikasi ini. Murid harus terlatih melihat persamaan dan perbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan cirri khusus, tujuan, maupun untuk kepentingan tertentu. Melalui pembelajaran, murid ditugaskan melakukan penggolongan berbagai benda di sekitarnya, umpama daunan berdasarkan bentuknya, dan sebagainya. Dengan demikian, murid akan terlatih mengamati sesuatu secara cermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda tersebut, serta mampu menggolong-golongkannya sesuai cirri-ciri khususnya masing-masing. Di kelas awalm, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin lanjut kelas dan dengan kemampuan murid yang mulai berkembang, tugas klasifikasi makin sulit, baik isi tugasnya maupun cara pengolahan hasil klasifikasi itu dalam pelaporan. Pengenalan Ruang dan Waktu serta Hubungan Keduanya Keterampilan berkaitan dengan pengenalan bentuk-bentuk ruang (lingkaran, persegi empat, segi tiga, kubus, silinder, dll termasuk keterampilan yang sering dipergunakan ilmuwan dalam bekerja. Olehb karena itu, keterampilan ini perlu dilatihkan kepada murid SD-MI melalui pembelajaran, seperti menetapkan bentuk suatu ruang benda, arah suatu gerakan, lamanya waktu yang dipakai untuk mengelilingi lapangan olahraga dengan berjalan kaki dan sebagainya. Pembuatan Hipotesis Pembuatan hipotesis merupakan keterampilan yang sangat penting bagi seorang ilmuwan. Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan ilmiah tentang pemecahan suatu masalah, penjelasan suatu keadaan, dll yang selanjutnya di uji kebenarannya melalui penelitian, eksperimen, dan sebagainya. Murid SD-MI perlu memperoleh latihan untuk membuat hipotesis yang kemudian di uji dengan eksperimen sederhana melalui berbagai pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh : karena setiap pembakaran memerlukan oksigen yang ada di udara, maka lilin yang menyala akan mati apabila ditutup rapat; atau lilin menyala yang penutupnya kecil akan padam lebih dahulu dari pada lilin menyala yang penutupnya lebih besar. Karena tanaman memerlukan air, maka tanaman yang disiram teraturakan lebih subur dari pada tanaman yang kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua tanaman itu ditempatkan pada tempat yang tidak kenahujan). Pembuatan dan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan
  8. 8. menumbuhkan/mengembangkan berbagai keterampilan mendasar seperti yang diperlukan para ilmuwan dalam bekerja, tetapi juga murid akan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ilmiah, serentak dengan itu, akan menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah. Perencanaan Penelitian/Eksperimen Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kebanyakan melakukannya secara trial and error saja. Demikian pula dengan anak, sering melakukan percobaan trial and error dengan mainannya, dengan binatang peliharaannya, dan sebagainya. Berbeda dengan kebanyakan orang, para ilmuwan melakukan eksperimen dalam rangka penelitian untuk menguji hipotesisnya. Para ilmuwan melakukan penelitian/eksperimen dilandasi oleh dasar teoritis, serta dilakukan secara sistematis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya. Oleh karena itu, pembelajaran di SD-MI seharusnya meningkatkan kemampuan murid yang biasa melakukan percobaan secara Trial and Error saja menjadi suatu eksperimen yang dipandu oleh suatu hipotesis yang dilandasi dasar teoritis, dan dilakukan secara sistematis dan terarah. Melalui pembelajaran, disamping seperti; jumlah anak dari setiap orang tua murid dikelasnya, tinggi badan seluruh murid dikelasnya dan sebagainya. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit, umpama hubungan antara tinggi badan seseorang dengan berat badan seseorang, hubungan antara tinggi badan dengan nomor sepatu yang dipakainya, dan sebagainya. Perlu ditekankan bahwa setiap penelitian harus didahului oleh perencanaan yang matang, sehingga perencanaan itu dapat berlangsung seperti yang diinginkan. Pengendalian Variabel Pengendalian variabel atau faktor yang berpengaruh dalam penelitian/eksperimen merupakan salah satu keterampilan mendasar yang dilakukan para ilmuwan dalam melaksanakan penelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel meliputi variabel bebas maupun variabel tergantung (variabel eksperimen). Pengendalian variabel, baik variabel bebas maupun variabel tergantung, sangat penting dalam setiap eksperimen. Dengan demikian, murid perlu segera diperkenalkan dengan keterampilan pengendalian variabel itu melalui pembelajaran di SD-MI. keterampilan pengendalian variabel dilatihkan secara langsung sewaktu murid melakukan eksperimen. Sebagai contoh eksperimen tentang pentingnya berbagai jenis pupuk bagi tanaman: variabel tergantung (variabel yang akan diteliti adalah pupuk), sedang variabel bebas adalah semua hal yang terkait dengan tanaman, kecuali pupuk, seperti bibit tanaman, tanahb tempat menanam, curah hujan atau penyiraman, sinar matahari, dan sebagainya. Dalam eksperimen, murid berlatih mengedalikan variabel bebas agar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan maupun tanaman lain sebagai pembanding), demikian juga dengan variabel tergantung (variabel yang akan dicobakan) yakni penggunaan berbagai jenis pupuk pada beberapa tanaman yang berbeda dan yang tidak dipupuk. Setelah beberapa minggu, keadaan tanaman yang dipupuk. Setelah beberapa minggu, keadaan tanaman yang dipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak dipupuk dibandingkan, sehingga akan dapat disimpulkan tentang -Pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanaman, dan -Jenis pupuk yang lebih menambah kesuburan tanaman. Dengan latihan pengendalian variabel dalam berbagai eksperimen, murid akan lebih menguasai keterampilan pengendalian variabel itu.
  9. 9. Interpasi Data Keterampilan menginterpretasi atau menafsirkan data adalah salah satu keterampilan kunci dalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian/eksperimen harus dapat diinterpensi/ditafsirkan dengan cara-cara sesuai kaidah ilmiah. Pembelajaran di SD-MI seyogiyanya melatih murid untuk menguasai keterampilan interpretasi data ini. Data yang telah dikumpulkan melalui berbagai kegiatan seperti: perhitungan, pengukuran, eksperimen, dan atau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara seperti : tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikan dalam berbagai kesimpulan. Umpamanya, pengukuran tinggi badan murid satu kelas itu, dan sebagainya. Dengan pembelajaran yang member peluang untuk berlatih menginterpretasi data, murid akan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan kaidah ilmiah, dan bukannya kesimpulan yang direka-reka saja. Kesimpulan Sementara Keterampilan membuat kesimpulan sementara atau referensi sering dipergunakan para ilmuwan dalam suatu penelitian, suatu kesimpulan yang masih akan diuji selanjutnya untuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulan sementara berdasarkan informasi atau data yang dimilikinya pada suatu waktu tertentu, yang masih akan diuji kembali dengan diperolehnya informasi/data tambahan. Umpamanya guru menyebutkan tiga ciri suatu hewan (seperti, berkaki empat, lebih besar dari kambing, biasa jadi pacuan), dan murid menebaknya (kuda). Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencari informasi atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah djinakkan dan sebagainya. Peramalan Baik ilmuwan maupun orang awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya terletak pada dasar peramalan itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan pada pengalamannya, seperti kalau menung akan terjadi hujan, kalau panen padi gagal akian terjadi harga beras naik dan sebagainya. Peramalan para ilmuwan biasanya didasarkan fakta atau data yang talah dikumpulkannya melalui observasi, pengukuran, eksperimen, dan lain-lain yang memperlihatkan suatu kecenderungan gejala tertentu. pembelajaran di SD-MI harus member peluang kepada murid untuk berlatih membuat peramalan yang didasarkan pada informasi atau data yang telah tersedia. Umpama dapat membuat peramalan benyaknya curah hujan bulan ybs tahun ini. Demikian pula dengan informasi lainnya yang tersedia dapat dijadikan dasar untuk membuat peramalan. Pengaplikasian Para ilmuwan pada umumnya menguasai keterampilan untuk mengaplikasikan suatu konsep, prinsip, dan atau teori untuk memcahkan suatu masalah, menjelaskan suatu peristiwa baru dan sebagainya. Pembelajaran di SD-MI seharusnya melatihb muridnya untuk menggunakan keterampilan penerapan ini, baik dengan langsung melakukannya maupun dengan menunjukkan bukti penerapan itu di sekitarnya. Beberapa contoh seperti konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanan dapat diterapkan dengan memompa ban sepeda agar dapat mengalir keseluruh bagian rumah (untuk cadangan air di rumah tinggal) atau keseluruh bagian kota ( untuk cadangan air Perusahaan Air Minum atau PDAM)
  10. 10. Komunikasi Keterampilan komunikasi selalu dipergunakan para ilmuwan untuk menyampaikan gagasan, hasil penelitian, penemuan, dan lain-lain kepada orang lain, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya dilengkapi dengan penyajian data dalam bentuk gambar, model, table, grafik, diagram dan sebagainya yang akan memudahkan orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Keterampilan komunikasi ini mutlak dikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan dan sejenisnya dapat tersebar luas dan diketahui orang lain. Murid SDMI perlu dibiasakan mengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen, dan sebagainya yang sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru, murid harus melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan dengan laporan itu, seperti gambar, table, grafik, dan lain-lain. Demikian juga keterampilan proses yang selalu dipakai oleh para ilmuwan untuk menguasai keterampilan komunikasi ini, baikn lisan maupun tertulis. 4. Keterkaitan Keterampilan Proses dengan CBSA dan CTL Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) adalah keterampilan memproses informasi yang diwarnai dengan prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) seperti termuat dalam Kurikulum 2004 dan 2006. . CBSA Sebagai suatu konsep, CBSA adalah suatu proses pembelajaran yang subjek didiknya terlibat secara fisik, mental-intelektual, maupun sosial dalam memahami ide-ide dan konsep-konsep pembelajaran (Ahmadi, 1991). Dengan kata lain, arah pembelajaran CBSA mengacu pada siswa atau “student oriented” yang bermakna pembentukan sejumlah keterampilan untuk membangun pengetahuan sendiri baik melalui proses asimilasi maupun akomodasi. Dalam proses pembelajaran yang seperti ini, siswa dipandang sebagai objek dan sekaligus sebagai subjek. CBSA adalah salah satu strategi pembelajaran yang menuntut aktivitas atau partisipasi peserta didik seoptimal mungkin sehingga mereka mampu mengubah tingkah lakunya dalam proses internalisasi secara lebih efektif dan efisien. Prinsip-prinsip yang harus muncul di dalam CBSA ada delapan, yaitu: (1) Motivasi siswa, (2) Pengetahuan prasyarat, (3) Tujuan yang akan dicapai, (4) Hubungan sosial, (5) Belajar sambil bekerja, (6) Perbedaan individu, (7) Menemukan, dan (8) Pemecahan masalah. b. CTL Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu: 1. Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.
  11. 11. 2. Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer). 3. Kerjasama dan diskursus: peserta didik belajar dari orang lain melalui kerjasama, diskursus (penjelasan-penjelasan) kerja tim dan mandiri (self reflection). 4. Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi. 5. Pengetahuan prasyarat: pengalaman awal peserta didik dan situasi pengetahuan yang didapat mereka akan berarti atau bernilai dan nampak sebagai dasar dalam pembelajaran. 6. Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan. 7. Mengarahkan sendiri (self-direction): peserta didik ditantang dan dimungkinkan untuk membuat pilihan-pilihan, mengembangkan alternatif-laternatif, dan diarahkan sendiri. Dengan demikian mereka bertanggung jawab sendiri dalam belajarnya (Siswono, 2004). Sedangkan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual ada tujuh, yaitu : (1) konstruktivis (constructivism), (2) inkuiri (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection) (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assestment). 5. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Matematika Penerapan pendekatan keterampilan proses di dalam pembelajaran matematika, diperlukan peralatan dan sumber-sumber pembelajaran yang mendukung pelaksanaan pembelajaran. Sumber-sumber ini diupayakan seminim dan sesederhana mungkin dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar siswa. Sumber-sumber yang bisa didapatkan di sekitar sekolah antara lain adalah referensi, lingkungan fisik, bahan siswa atau barang bekas yang dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat, peristiwa alam, dan pengalaman siswa. Penerapan yang dapat diterapkan dapat mengacu pada jenis-jenis Pendekatan Keterampilan Proses, seperti observasi, mengklasifikasi, mengukur, dan sebagainya. Sehingga diharapkan, proses pembelajaran tidak menjadi monoton dan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Serta proses pembelajarannya pun lebih melibatkan atau membuat siswa lebih aktif baik secara fisik maupun psikis. Contoh Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada Mata Pelajaran Matematika : Prinsip Keterampilan Uraian Kegiatan Pembelajaran Proses Standar Kompetensi: Menjelaskan sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun Kompetensi Dasar: Menyelidiki sifat-sifat kesebangunan dan simetri
  12. 12. · · · · Indikator: Siswa dapat menunjukkan kesebangunan antarbangun datar Materi Pokok: Kesebangunan Alat dan Bahan: Penggaris dan pensil Kertas karton atau kertas berpetak Gunting Benda-benda di sekitar Metode : Diskusi Kelompok Langkah-langkah Pembelajaran 1. Pendahuluan: a. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran b. Melakukan tanya jawab berkaitan dengan materi prasyarat, yaitu pembagian dua bilangan c. Menjelaskan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa di dalam kelompoknya 2. Kegiatan Inti: a. Siswa mengamati benda-benda yang ada di dalam kelas b. Siswa mengelompokkan benda-benda yang mempunyai permukaan datar dan tidak c. Siswa meramal dan membuat hipotesis tentang pasangan-pasangan benda yang sebangun, misalnya antara permukaan meja dan permukaan buku d. Siswa melakukan percobaan mengukur dan menghitung perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dari setiap pasangan benda e. Siswa mengukur sisi-sisi pada masing-masing pasangan benda f. Siswa menghitung perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian dari masing-masing pasangan benda g. Siswa mengendalikan variabel panjang sisi untuk menentukan perbandingan benda h. Siswa menentukan perbandingan yang senilai dan tidak senilai i. Siswa membuat tabel perbandingan sisi pasangan benda j. Berdasarkan tabel yang ada, siswa menafsirkan benda-benda yang sebangun dan tidak sebangun Observasi Klasifikasi Meramal dan membuat hipotesis Percobaan/Eksperimen Mengukur Menghitung Mengendalikan variabel Menemukan hubungan Komunikasi Interpretasi data 3. Penutup a. Merangkum hasil kegiatan b. Memberi PR Di atas merupakan contoh penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam mata pelajaran matematika. Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa melalui proses kegiatan inti yang kita desain dapat terwujuh berbagai jenis prinsip Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) bagi diri siswa.
  13. 13. BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang pada prinsipnya telah ada pada diri siswanya. PKP memiliki beberapa keunggulan. Keterampilan dasar yaitu mengamati, mengklasifikasikan, mengukur, memprediksi, dan menyimpulkan. Keterampilan terintegrasi yaitu mengenali variabel, membuat tabel, membuat grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyususn hipotesis, mendefinisikan variabel, merancang penelitian, dan bereksperimen. 2. SARAN Pembelajaran dengan pendekatan ini dapat dijadikan sebagai pedoman: Bagi guru matematika, hendaknya menggunakan pendekatan keterampilan proses sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika pada masa yang akan datang. Bagi sekolah, sebagai masukan dalam menentukan kebijakan tentang pendekatan yang dapat digunakan oleh guru sebagai upaya meningkatkan kualitas mutu pendidikan.
  14. 14. REFRENSI http://faizalnizbah.blogspot.com/2013/05/pendekatan-keterampilan-proses.html http://gindayinda.blogspot.com/2010/10/pendekatan-keterampilan-proses.html http://ichaledutech.blogspot.com/2011/09/penerapan-pendekatan-keterampilan.html http://mgmpmatoi.blogspot.com/2012/12/penerapan-pendekatan-keterampilan.html http://muinmenangis.blogspot.com/2012/04/pendekatan-keterampilan-proses.html http://www.google.com/url?q=http://ejurnal.ikipgunungsitoli.ac.id/index.php/dk/article/download/7/5&sa=U&ei=NOZEUsmeH8mArgeH84G 4Cw&ved=0CDEQFjAG&sig2=HVKMjG4oQtvmNqGmIHyiFQ&usg=AFQjCNHrsEXwlnyLDcXPxY KJoInjO3_BkA

×